Pages

Thursday, November 24, 2016

Rajapati di Pananjung: Kasih Tak Sampai, Kegembiraan, dan Kematian

Penulis : Ahmad Bakri
Penerbit : Kiblat Buku Utama
Halaman : 89
Tahun Terbit : April 2010 (Cetakan ke-2)

“Basisir simpé, laut éndah, bulan ngebrak, mamanahan mudal ku deudeuh jeung asih, ninggang di anu bolostrong. Puguh-puguh pangajak sétan, pajarkeun téh cenah haréwos asmara… Mangga manah…”

Rajapati di Pananjung adalah sebuah cerita berbahasa Sunda yang dibuka oleh rencana sekelompok anak muda yang hendak bervakansi ke Pangandaran. Di perjalanan dalam kereta api, anak-anak muda ini bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang menceritakan kehidupannya yang getir. Pertemuan itu terjadi selintas lalu, namun tersusun dalam satu bingkai cerita yang utuh.

Adalah Yoyo, salah seorang dari sekelompok anak muda itu yang pada mulanya enggan turut dalam perjalanan. Ia mempunyai kenangan pahit yang kerap merawankan hatinya. Pantai dan debur ombak selalu membawanya kembali ke masa lampau di mana cintanya bersemi, tumbuh subur, sebelum akhirnya direnggut sang takdir.

Dulu, di bibir pantai itu, di tengah semilir angin dan air yang berebut mencium pasir, Yoyo berbisik kepada kekasihnya, “Lamun engkang bisa hiber, eulis rék dibawa ngapung, diteundeun di méga malang. Mana teuing tibrana haté, taya karisi karingrang eulis nu engkang sorangan, moal rempan jungjunan diiwat batur.” Setelah itu, ia memasukkan sebuah cincin ke jari kekasihnya. Sebuah cincin pusaka, peninggalan ibunya. Ya, tapi itu dulu. Kenangan yang tak hendak ia ungkit kembali.

Sehari setelah ia dan kawan-kawannya tiba di Pangandaran, mereka kemudian pergi ke cagar alam Pananjung, lalu menuju bibir pantai. Ketika kawan-kawannya berlarian, berlomba menikmati panorama dan suasana pesisir yang indah, Yoyo malah ragu-ragu dan tertegun. Bayangan masa lalunya kembali berkelebat, membuka luka lama yang belum lama kering.

Ketika tengah melamun, tiba-tiba dari belakang ada yang memanggilnya. Yoyo terhenyak, ternyata yang memanggilnya itu adalah mantan kekasihnya yang kini telah menjadi istri orang dan tengah mengandung. Dalam rikuh dan perasaan sedih yang mengepung, kekasihnya yang tengah mengandung itu meminta maaf sambil mengembalikan cincin:

“Kang Yoyo, ieu nyanggakeun kagungan téa. Hapunten, teu énggal-énggal diwangsulkeun. Tadina mah badé dianggo jimat, étang-étang wakil, nanging diémut-émut nambihan waé panyakit, unggal karérét unggal kasuat. Mangga ieu nyanggakeun…”

Malamnya harinya, suasana memanas. Suami mantan kekasihnya mendatangi penginapan Yoyo dan kawan-kawan untuk menanyakan cincin. Dari sana kemudian masa lalu yang selama ini ditutup rapat olehnya terbongkar semua. Pertengkaran terjadi. Yoyo dituduh masih menyimpan perasaan, dan hendak merusak rumah tangga orang. Yoyo naik pitam, ia menggebrak meja, lalu berucap: 

“Keur naon dipake nyeri, alam dunya lega, hayam jago megar dibarengan ku bikangna, jelema hirup dituturkeun ku jodona. Lalakon jeung Nining itung-itung impian riwan, méméh srangéngé meleték gé geus poho deui!”     

Setelah suami mantan kekasihnya pergi, Yoyo kemudian pergi ke sebuah pojok halaman penginapan, tak jauh dari bibir pantai. Ia merenung, mencoba melepaskan semua gundah. Ketika malam hampir larut, ia melihat sesosok bayangan berkelebat mendekatinya. Yoyo terkesiap, sementara malam kian gelap, dan debur ombak makin bergemuruh.

Esoknya, terdengar ada yang meminta tolong dari kejauhan. Seorang nelayan menemukan sesosok mayat tergeletak kaku di sebuah perahu dengan bilur biru dan bengkak di bagian leher. Mayat itu adalah suami mantan kekasihnya!

Siapa pelaku pembunuhan tersebut? Bagaimana kelanjutan kisah Yoyo dan kawan-kawannya? Ahmad Bakri dengan gaya berbahasa yang kocak dan trengginas dalam bertutur, membuat cerita ini mengundang penasaran, dan pembaca digiringnya untuk terus melahap sampai ke penghujung. Aroma kasih tak sampai, kegembiraan, dan kematian: menguar dari kisah Rajapati di Pananjung. [irf] 

Friday, November 11, 2016

Mengenal Blok Tempe Bersama Komunitas Aleut

Minggu (6/11/2016), saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan untuk mengunjungi Blok Tempe. Komunitas Aleut adalah sekelompok anak muda yang punya minat terhadap sejarah dan pariwisata, khususnya di Kota Bandung. Komunitas ini berdiri tahun 2006, dan sampai sekarang masih konsisten berkegiatan. Tiap pekannya, minimal mereka punya empat kegitaan rutin, yaitu: nonton film bareng (Selasa), Kamisan yang isinya konsolidasi internal (Kamis), Kelas Literasi (Sabtu), dan Ngaleut (Minggu).

Ngaleut diambil dari kata “aleut”, yaitu sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya berjalan beriringan, persis seperti kalau kita berjalan di pematang sawah. Mengapa dinamakan demikian? Hal ini karena kegiatannya adalah mengunjungi setiap pojok Kota Bandung dengan cara berjalan kaki. “Karena dengan berjalan kaki, kita bisa melihat lebih banyak tempat yang sering terlewatkan kalau kita memakai kendaraan,” terang Arya Vidya Utama, salah seorang koordinator komunitas tersebut. Maka dengan berjalan kaki pulalah, Minggu itu, kami berkunjung ke Blok Tempe.  

Blok Tempe adalah sebuah kampung kota yang sudah cukup lama menjadi populer setelah Ridwan Kamil (Walikota Bandung sekarang), bersama pemuda setempat melakukan banyak kegiatan posistif yang bersifat sosial. Secara administratif, Blok Tempe berada di Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler. Kampung kota ini mulanya dikenal sebagai daerah tempat tinggal para mantan narapidana yang dipandang sinis oleh warga sekitar. Sampai sekarang, banyak pemudanya yang bertato: sebuah simbol yang kerap diidentikkan dengan premanisme.

Setelah menyusuri banyak sekali gang, akhirnya kami (saya dan Komunitas Aleut) tiba di sebuah bale di Blok Tempe. Kami diterima oleh kang Miki (ketua pemuda), dan rekan-rekannya. Sambutan mereka begitu ramah dan penuh canda. Kami lalu berkumpul, duduk melingkar di bale tersebut. setelah saling berkenalan, obrolan pun mengalir dengan santai. “Kami mah dulu memang dipandang sebelah mata oleh warga.  Karena terus terang saja, dulu kami ini sekumpulan tukang mabuk, dan kerap tawuran dengan kampung sebelah,” ujar Kang Iwan, salah seorang pemuda setempat.

Ia kemudian melanjutkan, “Masih ingat kasus pembunuhan sopir angkot? Itu pelakunya ya anak sini, sampai sekarang dia masih di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Bojongwaru.”

Blok Tempe berangsur menjadi kampung yang “normal” setelah salah satu tokoh pemuda setempat, Regi Munggaran, melakukan pendekatan kepada para pemuda tersebut. “Kang Regi itu, dulu, kalau ngobrol sama kita, ya ikut lebur, ikut minum juga,” kata Kang Miki menjelaskan. Proses pendekatan tersebut pelan-pelan membuat para pemuda yang rata-rata mantan narapidana, mulai mengubah sikapnya ke arah yang lebih baik.

Seperti juga yang dituturkan oleh pemuda yang lainnya, Ketua RT pun kemudian melakukan pendekatan dengan cara yang kesannya tidak menggurui dan menasihati. “Pak RT juga dulu mah malah suka sengaja beli minuman kalau mau ngobrol sama kita,” ujar Kang Iwan. Hal ini dilakukan karena para pemuda tidak suka dengan obrolan-obrolan yang bersifat ceramah. Beberapakali ada tokoh masyarakat yang malah diusir karena cenderung menggurui. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi Ridwan Kamil untuk ikut terlibat dalam pembenahan Blok Tempe, baik secara mental maupun fisik.     

Hari semakin siang ketika kami akhirnya harus berpamitan. “Jangan kapok ya, lain waktu main-main lagi ke sini,” ujar Kang Miki. Kami pun lalu menuju ke rumah salah seorang penggiat Komunitas Aleut yang berada di daerah Pagarsih. Setiap selesai ngaleut, rekan-rekan Komunitas Aleut mengadakan sharing, yang isinya berbagi pengalaman sepanjang mekalukan kegiatan ngaleut.

“Kita sering mendengar idiom ‘mental tempe’ yang artinya lembek. Tapi justru di Blok Tempe, saya menemui hal sebaliknya,” ujar Alex, salah seorang penggiat Komunitas Aleut. [irf]

Monday, October 3, 2016

Ngaleut Kampung Dobi

Pertengahan 2015, bertepatan dengan peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-60, di Babakan Siliwangi-Bandung (tak jauh dari sebuah mata air) diadakan acara mimbar terbuka yang tema utamanya adalah menolak segala bentuk privatisasi air. Hadir dalam acara itu, salah satunya adalah perwakilan dari masyarakat Padarincang-Banten yang daerahnya terancam oleh invasi kapital yang akan memprivatisasi sumber air yang selama ini digunakan oleh warga.
Kota Bandung yang hari ini telah berkembang sedemikian rupa hanya menyisakan sedikit sekali mata air yang benar-benar terjaga. Ci Kapundung sebagai urat nadi yang membelah kota telah renta: alirannya kotor dan susut. Meskipun beberapa titik sumber air di Kota Bandung secara resmi tidak dikuasai oleh privat, namun gerak pembangunan telah mengurangi volume dan kejernihannya. Ada beberapa kasus baru di perkampungan kota yang berkisah tentang konflik air antara pemodal yang membangun hotel, apartemen, dll dengan warga yang sekitar yang tiba-tiba sumber airnya berkurang.
Jauh sebelum itu, ada juga beberapa pembangunan yang perlahan membuat sumber air kota menjadi memprihatinkan, kampung Cikendi di Hegarmanah dan Ciguriang di Kebon Kawung sebagai contohnya. Dulu di Cikendi terdapat “pancuran tujuh”, yaitu mata air yang ditampung ke dalam sebuah kolam dengan tujuh pancuran bambu di tepinya. Kini mata air tersebut susut dan pancurannya tidak deras lagi setelah lahan hijau di daerah Ciumbuleuit digusur dijadikan perumahan. Sedangkan Ciguriang mulai kekurangan air sejak bekas pekuburan Belanda di Kebon Jahe dijadikan gelanggang olahraga Pajajaran.
Ketika sumber-sumber air ini masih terjaga, ada kisah-kisah dari masa lalu yang menarik untuk disimak lagi. Menurut catatan Haryoto Kunto (alm), di awal abad XX ketika air Ci Kapundung masih deras dan bersih, mata air Ciguriang di Kebon Kawung menjadi salah satu tempat mencuci pakaian yang banyak dikunjungi warga dari hampir setiap penjuru Kota Bandung. Mereka yang datang umumnya para binatu yang hendak mencuci baju di Ciguriang dari malam hari sampai pagi. Dengan hanya membayar satu sen, para binatu tersebut bisa menggunakan air sepuasnya.
Malam merayap di Kebon Kawung tempo dulu yang masih sunyi, ditingkahi bunyi bertalu-talu dari bantingan cucian para binatu di atas batu, juga nyanyian berbahasa Sunda yang lamat-lamat. Di bawah nyala obor, mereka bekerja sambil bersenandung sampai tiba waktu subuh. Romantik memang, namun setidaknya kisah ini mengabarkan satu hal bahwa sumber air bersih yang dulu setia memenuhi kebutuhan warga kota, perlahan hilang seiiring kisah-kisah masa lalu yang juga ikut terkubur dari ingatan.
Maka Ngaleut Kampung Dobi selain hendak menelusuri kembali jejak mata air dan aliran Ciguriang serta menggali serpihan kisah yang mungkin masih tersisa, sejatinya adalah mencoba menyuburkan kembali kesadaran tentang air—terutama di kota besar seperti Bandung, yang kondisi dan ketersediaannya semakin memprihatinkan. Dan kami percaya, dalam konteks sosial, kesadaran tentu tidak datang begitu saja dari langit, tapi melalui proses pembacaan literatur dan pengalaman langsung datang ke lapangan: berinteraksi dengan warga, merasakan bau menyengat sungai, menyusuri aliran air, mendokumentasikan sumber air yang compang-camping, dll.
Pembangunan kota dan sumber air terus-menerus “konflik”. Masa lalu terus meyakinkan kondisi ideal, masa kini terus menghamparkan kondisi sebaliknya. Dan di antara keduanya kami mencoba hadir. Romantisme masa lalu kami hayati untuk menggali informasi dan menghangatkan jiwa, sedangkan kondisi hari ini kami akrabi untuk menjaga terus api kesadaran. [irf]

Semangat Pramoedya dan Gerakan Literasi

Almanak mewartakan bahwa pekan pertama Oktober ditandai oleh dua tanggal peringatan yang keduanya sedikit banyak beririsan dengan buku, atau lebih khusus lagi dengan seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan dunia literasi. Penghujung September adalah gempa politik paling hebat pasca revolusi kemerdekaan. Dan lima hari setelahnya, militer sebagai pemenang dari pertikaian tersebut berulangtahun. Kita tahu bahwa hari-hari setelah kejadian itu adalah parade panjang tentang tumpas-kelor, pembersihan, dan pembangunan ketakutan yang berlapis-lapis. Mereka yang kalah, di lapangan kehidupan apapun, terpuruk sampai titik nadir. Dan di ranah literasi kita mengenal nama Pramoedya Ananta Toer.
Karya-karya Pram dibakar dan dilarang oleh militer dan pemerintah. Satu wajah purba tentang bibliosida. Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengoreksi pendapat sebagian kalangan yang menyangka bahwa penghancuran buku terjadi hanya karena ketidaktahuan awam dan kurangnya pendidikan, menurutnya yang terjadi justru sebagian besar dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Apa yang menimpa Pram adalah bukti sahih pendapat Fernando Baez ini. Militer (revolusi dan pasca kemerdekaan) dan Jaksa Agung membakar dan melarang beberapa naskah dan bukunya. Belum lagi beberapa naskah yang tak jelas nasibnya di tangan para penerbit.
“Di Tepi Kali Bekasi” yang pertama kali terbit tahun 1951 adalah sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada Agresi Militer Belanda I. “Perburuan” yang memenangkan sayembara Balai Pustaka dicekal oleh pemerintah karena dicurigai bermuatan komunisme. “Panggil Aku Kartini Saja” yang bisa kita baca hari ini sejatinya hanyalah bagian I dan II saja dari total naskah, sebab bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965. Angkatan Darat sebagai ujung tombak pembersihan orang-orang yang dianggap komunis rupanya punya andil besar dalam menghanguskan buku-buku Pram. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu matra di tubuh TNI ini juga membakar naskah “Kumpulan Karya Kartini”, “Wanita Sebelum Kartini”, “Sejarah Bahasa Indonesia: Satu Percobaan” dan jilid 2 dan 3 dari cerita bersambung “Gadis Pantai” yang hari ini hanya tersisa jilid satunya saja. “Sepoeloeh Kepala Nica”, “Mari Mengarang”, dan “Lentera” tak jelas rimbanya di tangan berbagai penerbit. Dan yang paling terkenal, Tetralogi Buru, tak bosan dilarang oleh Jaksa Agung.
Tanpa melupakan satu episode ketika Pram—di tengah situasi politik yang condong ke kiri, pernah begitu trengginas menyerang dan menghajar lawan-lawan ideologisnya, namun kiranya dia juga adalah salah satu yang paling kenyang ditindas secara fisik dan politik, juga karya-karyanya diperlakukan sedemikian buruk. Jika kita menilik bobliografinya, akan didapati jejak kerja yang dilakukan terus menerus. Pram tahu karya-karyanya dibakar, dilarang, dan hilang berkali-kali, namun ia seolah tidak kapok untuk terus menulis dan menulis lagi.
Kepada tentara yang datang menggeledah ruang perpustakaannya ia berkata, “Kalau negara mau, ambillah. Suatu saat akan berguna untuk kepentingan bangsa. Tapi tolong jangan dibakar.” Namun aparat yang mengangkut ratusan atau bahkan ribuan naskah dan dokumennya itu malah membakarnya. Sesuatu yang membuat Pram naik pitam setiap kali mengingatnya. “Saya terbakar amarah sendirian,” ucapnya. Ya, Pram memang terkenal juga sebagai seorang dokumentator yang ulet. Dia mengkliping apa saja yang terkait dengan Indonesia. Dapur Tetralogi Buru adalah arsip dan dokumentasinya yang gigantik itu.
Hari-hari ini ketika September hampir habis dan Oktober telah menunggu di muka, kiranya pelbagai titimangsa peristiwa bersejarah mengingatkan kembali kita kepada Pram dan dunia literasinya yang rontok berkali-kali, namun tumbuh lagi dan hidup seolah tak mati-mati. Berpijak dari sini kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-62 hendak mengusung tema. Pram adalah simbol kerja keras dan keras kepala dari seorang kerani partikelir yang amat peduli dengan dokumentasi sejarah bangsanya. Ia juga adalah salah satu pengingat bahwa ancaman pelarangan buku—seperti beberapa bulan ke belakang cukup marak, akan selalu ada dan membuat kita waspada. Di atas segalanya, Pram dan literasi adalah wujud nyata dari kerja. “Semua orang yang bekerja itu adalah mulia, yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan,” begitu kata Ibunda Pram sekali waktu. [irf]

Monday, September 5, 2016

Mengingat Mimpi, Membangun (lagi) Imajinasi

Masa kecil begitu jauh sekaligus dekat. Jauh dicekik saat yang terus bergerak. Dekat karena jejaknya berarak di lereng ingatan. Masa kecil juga selalu menjadi lonceng yang kerap berdentang: mengingatkan kita bahwa berkurangnya usia berparalel dengan tanggungjawab yang kian menggantang, beban hidup yang mulai terasa, dan orang-orang tercinta yang diambil waktu satu-persatu. 

Dulu, barangkali mimpi serupa kupu-kupu yang beterbangan, selaksa warna, dan mengeram di kepala. Imajinasi berpendaran, berlesatan, tentang pertempuran hebat dengan senapan pelepah pisang, terbang ke bulan dengan pesawat kertas, menjadi putri dengan Barbie di tangan, atau mengangankan seorang pangeran penguasa kastil.

Usia kanak dan  teman masa kecil di dalamnya, kata Milan Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Ia dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Mungkin Kundera tak sepenuhnya benar, karena ternyata mimpi dan imajinasi kita di masa kecil perlahan menyusut, mengerut, bahkan hilang: sebuah dunia yang semakin tak tergenggam. 

Tanggal 10-11 September 2016, Komunitas Aleut berencana mengadakan kemping ke Kapulaga-Subang. Sebuah kegiatan yang dirancang--dengan terutama untuk bersenang-senang: merayakan persahabatan, menyesap alam, kontemplasi sederhana (kalau ada), dan bisa juga untuk meretas “jalan pulang”, menengok lagi mimpi dan imajinasi yang terlanjur compang-camping. 

Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin komunitas yang sebisa-bisa tak pernah jeda, mencoba memadu-padankan tema. Ada kumpulan naskah cerita masa kecil karya kawan-kawan yang terbuhul dalam buku “Memento”. Para penulis telah bersedia membuka kisah masa lalunya ke khalayak ramai. Tentu tujuannya bukan untuk menenggelamkan diri di masa yang telah lewat, namun belajar mengguratkan kisah dalam jejalin aksara. Selain itu, yang paling penting adalah mengapresiasi sepenggal jenak, bahwa kita hari ini sejatinya adalah sebangun rangkaian gerbong, dan masa kecil mempunyai saham di dalamnya.

Mestikah kita menutup katup jenak itu? Masa lalu-masa kini-masa depan adalah rangkaian kesejarahan yang membentuk pribadi kita. “Belajarlah dari masa lalu, cermati masa kini, dan bangunlah masa depan. Bukan sekadar dilanjutkan, melainkan membuat pilihan dan mengambil prakarsa, itulah hidup,” begitu kata Fuad Hasan. 

Maka Kelas Literasi kali ini mencoba meraba kembali hal tersebut. Atau bila dirasa terlampau normatif, kiranya mari bersenang-senang saja. Sambil bertukar senda di tengah nafas alam, mari mengingat lagi mimpi-mimpi masa kecil, siapa tahu kita masih berhasrat untuk mewujudkannya. Dan imajinasi, selamanya bagi manusia, adalah penanda bahwa kita tak sepenuhnya takluk oleh batas ruang dan waktu. “Orang-orang yang tak memiliki imajinasi adalah orang-orang palsu” demikian sabda TS. Elliot. [irf]⁠⁠⁠⁠

Wednesday, August 31, 2016

Memopulerkan Sejarah Bersama Historia


Edisi perdana Historia terbit pada bulan April 2012. Mengusung tagline “Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia”, Historia hadir menyapa para pembaca dengan tulisan-tulisan sejarah yang “tak biasa”. Majalah tersebut menghadirkan fakta-fakta yang kerap luput dari narasi arus utama. Dalam catatan redaksi di nomor 13 tahun 2013, Historia menjelaskan hal tersebut, “Sedari mula kami memang ingin menjadikan Historia sebagai alat penyadaran, versi tandingan dalam bentuknya yang terbaik dari sejarah versi resmi.” Majalah yang dinakhodai oleh Bonnie Triyana—seorang sarjana sejarah dari Universitas Diponegoro, dalam kata-kata David T. Hill, ahli Indonesia dari Murdoch University sebagai “very nice operation.” Ya, operasi bukan publikasi.

Sejak kelahirannya empat tahun silam, Historia—meski banyak menuai pujian, namun dari segi penjualan kiranya belum memperlihatkan angka yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari seringnya majalah tersebut memberikan diskon sebesar 50% untuk nomor-nomor lawasnya, yang artinya stok majalah tersebut begitu melimpah sebagai efek langsung dari rendahnya penjualan. Di beberapa toko buku besar pun Historia sering kali sulit dijumpai, hal ini seolah mengabarkan hal lain tentang lemahnya sistem distribusi. Meski disertai juga dengan historia.id (lini daring) sebagai bentuk memperluas jangkauan, namun Historia belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat.

Komunitas Aleut sebagai kelompok belajar yang salah satu minat terbesarnya yaitu sejarah, sejak awal telah membaca dan beririsan dengan Historia. Indra Pratama, salah seorang pegiat Aleut sempat menjadi kontributor majalah tersebut untuk wilayah Bandung. Selain itu, seorang pegiat lain atas pemintaan Historia pernah meliput acara Monolog Tan Malaka yang digelar di IFI Bandung. Meski pada akhirnya—dengan pertimbangan teknis, tulisan liputan tersebut tidak jadi tayang, namun setidaknya komunikasi tetap terjaga. Dan baru-baru, kegiatan #NgoJak atau Ngopi (di) Jakarta sebagai sayap Komunitas Aleut di Jakarta, diliput juga oleh Historia dan tayang di lini daring.

Beberapa hal tersebut di atas kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mengusung Historia sebagai tema Kelas Literasi sabtu ini (3 September 2016). Beberapa majalah berbeda edisi telah dan tengah dibaca oleh para pegiat Aleut untuk diresensi dan didiskusikan pada Sabtu mendatang. Aleut yang selama ini berikhtiar mengenalkan sejarah popoler—meski secara konten berbeda, kiranya seturut dengan Historia untuk bersama-sama menghadirkan sejarah dengan wajah yang berbeda kepada masyarakat. Selain itu, mengingat kondisi Historia yang belum sepopuler majalah lain, anggap saja apa yang kami lakukan di Kelas Literasi ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kami terhadap Historia yang tak surut mengabarkan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa kini.

“Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Sukarno. Di titik ini, Historia menurut hemat kami telah dan tengah merawat amanat itu dengan sebaik-baiknya. [irf]      

Tuesday, August 30, 2016

Air

Di Cisanti, di hulu Sungai Ci Tarum tersebut air sebenar bening keluar dari sesela bebatuan, ditampung dalam sebuah danau, lalu dialirkan ke sungai yang memanjang sampai Laut Jawa dan kaya akan sejarah kehidupan manusia. Tidak terlalu jauh dari sumbernya, air telah bersalin rupa: berwarna dan bau. Berlaksa limbah pabrik dan rumahtangga memperkosa keasliannya. Jika hujan datang, air tersebut menjadi sumber bencana. Banjir dirayakan dengan sepenuh kutuk dan serapah. “Ulah nyalahkeun Citarum, da ti dieuna mah pan hérang jeung alit ngocorna gé. Salah manusa wé éta mah, bongan saha caina diraruksak (Jangan salahkan Citarum, kan dari sininya bening dan alirannya kecil. Salah manusia sendiri, suruh siapa airnya dirusak),” begitu kata seorang warga yang kami temui di Situ Cisanti.    

Selain nama tempat yang diawali dengan suku kata “Ci” seperti Cisanti dan Ci Tarum, dalam masyarakat Sunda mata air disebut dengan “Séké”. Kata ini kemudian menjadi toponimi di beberapa daerah seperti Sékéloa dan Sékélimus. Hal ini tentu menyuratkan dan menyiratkan satu hal bahwa air memang tak bisa dipisahkan dari hayat.

Di awal pendiriannya di Indonesia, sebuah perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) banyak menuai tawa dan sindiran dari masyarakat, “Orang gila macam apa yang hendak menjual air di negara dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun seperti Indonesia ini?” begitu kira-kira. Puluhan tahun kemudian perusahaan tersebut menuai hasil yang gemilang dan berhasil membungkam ketidakpercayaan masyarakat. Namun hal ini menimbulkan masalah, karena air yang seyogyanya dilindungi oleh undang-undang dasar dan redaksinya tertulis dengan jelas di pasal 33 ayat 3, kemudian banyak dikuasai privat sehingga publik tak lagi leluasa mengaksesnya.

Setahun yang lalu, Watcdoc merilis sebuah film dokumenter berjudul “Belakang Hotel”. Film ini berkisah tentang derita warga di Yogyakarta yang kekurangan air setelah di lingkungannya berdiri sebuah hotel. Warga telah berkali-kali mengajukan protes terhadap pengelola hotel dan mengadukannya ke pemerintah, yang didukung data riset kondisi air pra dan pasca hotel tersebut didirikan. Namun hal tersebut belum memberikan hasil seperti apa yang diharapkan warga. Film yang diproduksi tahun 2014 menjelentrehkan betapa pentingnya air bagi kehidupan.

Perilaku masyarakat, sikap korporasi, dan kebijakan pemerintah berkelindan menciptakan sebuah kondisi yang memosisikan air sebagai sumber daya melimpah di satu sisi, namun kerap menjadi kambing hitam bencana dan akses pemanfaatan yang kiat sempit. Air di bumi yang selamanya 100 persen seolah surut, berkurang, dan sesekali berlebih untuk meluluhlantakkan.

Dalam timbangan kehidupan berbangsa, kita juga menyebut “tanah air” untuk kata lain dari negara. Semua agama dan sistem religi, kami kira punya perhatian yang sama akan pentingnya air. Sekadar contoh, dalam Al Quran sebagai kitab suci orang Islam, ada dua ayat yang mendedahkan hal ini : “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang memancar.” (86 : 5-6)

Ya, air adalah hidup itu sendiri. [Irf]

Foto : Tegar Aji Sukma Bestari