12 November 2017

Melayu dalam Warisan Raja Ali Haji


“Apa memang karena kuping Melayu/ suka yang sendu-sendu/ lagu cinta melulu/ Kita memang benar-benar Melayu/ suka mendayu-dayu...”

Lirik lagu tersebut, yang didendangkan kelompok musik tempatan Jakarta, mungkin menggambarkan Melayu bagi generasi belakangan adalah kebudayaan yang terpencil di sempadan zaman. Ia kerap dipersepsikan sebagai irama semenanjung belaka. Jelas keliru dan menyesatkan.

Pada Oktober yang didapuk sebagai bulan sumpah bahasa dan sumpah yang lainnya, tak silap kiranya apabila menengok lagi kisah Raja Ali Haji—seorang tokoh bahasa Melayu dari pulau Penyengat di kepulauan Riau, sebagai pengingat bahwa bahasa Melayu sebagai lingua franca atau bahasa pergaulan yang sudah berabad-abad hadir di Nusantara, adalah tulang punggung bahasa Indonesia.

“Sastra melayu pada masa silam dihasilkan dan digunakan (dibaca, dibacakan dan terutama didengarkan) di seluruh Kepulauan Nusantara. Tempat-tempat hidupnya sastra itu yang disebut-sebut dalam buku ini meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, malah juga Bali. Teks-teks yang dibahas berlalu-lalang dari Aceh ke Maluku. Sastra Melayu selama kurun waktu antara abad ke-14 sampai ke-19, mempersatukan berbagai suku Indonesia, yang waktu itu terpecah-pecah atas berbagai negeri dan kerajaan, sekalipun negeri dan kerajaan itu kadang berperang satu sama lain,” tulis Henri Chambert-Loir dalam Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir, dan Kawan-kawan: Limabelas Karangan tentang Sastra Indonesia Lama.

Awal abad ke-19, tepatnya tahun 1809, Raja Ali Haji lahir di pulau Penyengat dari perkawinan antara putri Selangor bernama Hamidah dan Raja Ahmad anak Raja Haji (yang gugur dalam peperangan melawan Belanda tahun 1784). Seperti dijelaskan di buku Dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall yang disusun oleh Jan van der Putten & Al Azhar, tahun lahir ini diperoleh dari salah satu karyanya, Tuhfat al-Nafis yang salah satu bagiannya menjelaskan bahwa Raja Ali menunaikan ibadah haji saat berusia 19 tahun pada 1828. Sepulang dari tanah suci inilah kemudian nama Haji dilekatkan di belakang namanya menjadi Raja Ali Haji.

Karya pertama Raja Ali Haji di bidang linguistik yaitu Bustan al-Katibin lis-Subyan al-Muta’allimin atau lebih dikenal dengan Bustanul Katibin saja. Kitab kompilasi juru tulis bagi kanak-kanak ini secara umum mendeskripsikan tata cara penulisan bahasa Melayu yang sesuai dengan ejaan Arab-Melayu. Hasan Junus dalam Raja Ali Haji: Budayawan di Gerbang Abad XX menerangkan bahwa buku ini pertama kali dicetak pada tahun 1875 dengan teknik litografi (percetakan batu) dan dicetak ulang di Singapura. Bustanul Katibin pernah dialihbahasakan ke dalam bahasa Belanda oleh Ph. S. van Ronkel dan dimuat dalam sebuah jurnal Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap XLIV/1909.

10 pasal utama dalam buku ini dimulai dengan mukadimah atau pendahuluan yang menjelaskan tentang kaitan antar bahasa dengan adat, adab, dan budi pekerti. Untuk memahami buku ini, Raja Ali Haji mensyaratkan kepada pembacanya lima perkara, yaitu al-himmah (kesungguhan), al-mudarasah(analisa), al-muhafazah (penghafalan), al-mudzakarah (kajian lebih lanjut), dan al-muthala’ah (kajian lebih mendalam). Lima syarat ini kiranya menunjukkan semangat keilmuan dan kerendahhatian Raja Ali Haji terhadap karya yang dibuatnya.

Buku selanjutnya yang ditulis oleh Raja Ali Haji di bidang linguistik yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa yang merupakan kamus bahasa Melayu, yang mula-mula terbit pada tahun 1929 di Singapura. Dalam Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia, Hasan Junus menjelaskan bahwa penulisan kamus ini memakai teknik persajakan (menjelaskan arti sebuah lema, dengan cara mengambil sebuah bait syair atau pantun yang mengandung lema yang dimaksud kemudian dijelaskan, sehingga penjelasan sesuai dengan konteks kalimat bait itu) dan teknik kaufah, yakni melihat entri kamus dari persamaan suku kata pertama dan terakhir. 

Sebagai contoh penulisan lema dan artinya—seperti dikutip laman rajaalihaji.com, Hasan Junus mengambil kata “Arung/Harung” yang mempunyai dua makna. Pertama, arung: berjalan di dalam air, dalamnya sekurang-kurangnya lepas bukulali/matakaki. Dan kedua, makna harung itu datang kepada pinggang orang yang ramping cantik seperti kata syair Melayu disindirkan kepada perempuan yang cantik dengan katanya:

“dadanya bidang pinggangnya harung – menentang wajahnya berahi terkurung
tunduk menyeling pandangan serong – manisnya seperti sakar sekarung”

Sementara dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sebagai perbandingan gaya penulisan kamus, kata “Arung” bermakna sebagai berikut: 

arung, mengarung: berjalan menyeberang (sungai, hutan, dsb)
mengarungi: berjalan menyeberangi
arung-arungan: bagian sungai yang dangkal tempat orang menyeberang.

Selain kedua karya di atas, Raja Ali Haji juga menulis Tuhfat al-Nafis, Gurindam 12, dan beberapa syair, di antaranya Syair Sinar Gemala Mestika Alam dan Syair Nasehat Kepada Anak.

Gurindam 12 yang merupakan karyanya yang paling populer ditulis Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Riau, pada 1847 dalam usia 38 tahun. Karya ini terdiri dari 12 pasal dan dikategorikan sebagai Syair al-Irsyadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk hidup yang diridai Allah.     

Secara penulisan, seperti dijelaskan dalam pengantar buku Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji yang diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama tahun 2012, “Gurindam biasanya terdiri dari sebuah kalimat majemuk yang dibagi menjadi dua baris bersajak. Tiap-tiap baris itu merupakan sebuah kalimat dan hubungan antara kalimat biasanya merupakan hubungan anak kalimat dan induk kalimat. Jumlah suku tiap-tiap baris tidak ditentukan, demikian pula iramanya tidak tetap.”

Sementara Raja Ali Haji menerangkan gurindam sebagai “perkataan yang bersajak pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya.”

“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.”(pasal kelima Gurindam 12)

Penulis Melayu Pasca Tradisi Tanpa Kolofon

Sebelum abad ke sembilanbelas, tradisi tulis Melayu di Riau menafikan para penulis naskah. Beberapa naskah yang berhasil diselamatkan biasanya diistilahkan sebagai “tradisi istana Melayu”. Para penulis hanya bekerja tanpa diketahui identitasnya. Setiap naskah, baik syair, prosa, hikayat, dan puisi dibuat tanpa kolofon. Semua karya tulis dianggap sebagai milik tradisi bukan milik individu. 

Dengan demikian, pencapaian individual seorang penulis tidaklah ikut berperan di dalamnya. Sastra atau tulisan mendasari dan mengajukan kepentingan umum keluarga diraja. Karena itulah tidak ada alasan bagi seorang penulis atau penyalin memperkenalkan diri mereka, termasuk menandai karya itu dengan namanya.

“Dalam tradisi ini karya-karya asli dibuat dan naskah-naskah yang semula ada disalin oleh orang-orang yang dipekerjakan raja dan atau oleh kerabat diraja itu sendiri. Para penulis tidak hanya menghasilkan hikayat dan syair, jenis prosa dan puisi Melayu paling lazim yang menghidangkan berbagai topik sebagai hiburan dan sarana pembelajaran bagi masyarakat. Mereka juga mengurus pembukuan istana dan menulis surat-surat resmi serta maklumat untuk rakyat. Di samping itu, mereka juga menyusun dan menyalin teks-teks agama (dikenal sebagai ‘kitab’) dan kronik-kronik penting tentang keluarga diraja untuk merekam dan mengabsahkan perkembangan dan sejarah kerajaan.” (Dalam Berkekalan Persahabatan, hal. 11)

Memasuki abad ke sembilanbelas, salah satunya berkat dorongan makin tumbuhnya perhatian Belanda terhadap alam Melayu, tradisi ini perlahan mengalami perubahan. Istana tidak lagi memonopoli naskah dan tradisi tulis, namun mulai direcoki pihak kolonial. Orang-orang Eropa, khususnya Belanda, dengan alasan filologis menganggap penting identitas penulis setiap naskah. Mereka berkepentingan untuk mengetahui beberapa hal, seperti bilamana, di mana, dan oleh siapa suatu naskah ditulis atau disalin.

Dalam buku surat-menyurat antara Raja Ali Haji dengan Hermann Von de Wall, hal ini dilakukan karena pejabat pemerintah Belanda di Batavia dan di Den Haag menganggap bahwa pengetahuan yang memadai di bidang bahasa dan tradisi tempatan sangatlah mendesak, pasca mereka berhasil merebut kembali kendali kekuasaan di Nusantara dari Inggris di awal abad ke sembilanbelas.

Di periode perubahan tradisi tulis Melayu inilah Raja Ali Haji lahir dan menulis, hingga karya-karyanya sampai kepada generasi sekarang dengan identitas beliau, tunak diperbanyak dan dipelajari sebagai warisan literasi Melayu yang mustahak dijaga dan dilestarikan.

Persahabatan dengan Hermann Von de Wall

Dari 1857 sampai akhir 1872, Raja Ali Haji melakukan korespondensi dengan Hermann Von de Wall—seorang sarjana kelahiran Jerman, pegawai pemerintah Hindia Belanda yang bertugas menyusun kamus bahasa Melayu-Belanda. Surat-menyurat yang dilakukan selama limabelas tahun ini memberi gambaran keseharian seorang penulis Melayu masyhur dengan hubungannya dengan para pegawai kolonial Belanda. Hal ini barangkali bisa menepis anggapan tradisional masyarakat tentang Raja Ali Haji yang dianggap membenci Belanda.

Sebagai salah satu proyek pemerintah, penyusunan kamus Melayu-Belanda tentu ditopang oleh pendanaan yang cukup. Hal ini karena pada pengerjaannya melibatkan beberapa juru tulis. Terlebih Raja Ali Haji sebagai seorang ahli dan informan dalam penyusunan kamus tersebut, juga mendapat tunjangan.

Meski demikian, pada awalnya hubungan antara keduanya belum didasarkan pada landasan formal, artinya imbalan yang diterima oleh Raja Ali Haji belum berupa uang tunai, melainkan berbentuk hadiah-hadiah yang sifatnya barang seperti sepucuk senapan, buku-buku yang dipesan, dan penjilidan buku dengan kulit yang bagus.

Surat-menyurat yang berlangsung belasan tahun ini kemudian mengikat keduanya dalam persahabatan yang karib. Dalam beberapa suratnya Raja Ali Haji menyampaikan bahwa ia menganggap sarjana Eropa tersebut sebagai seorang saudara yang dapat menyimpan rahasia kehidupan pribadinya.

“Inilah sebenar-benarnya khabar kita. Itupun daripada sangat ikhlasnya serta putih hati kita kepada paduka sahabat kita maka kita terangkan hal kita ini, karena pada perasaan kita yang sahabat kita itu saudaralah kepada kita. Pasti sahabat kita tutup juga mana-mana yang jadi kemaluan atas kita adanya,” tulis Raja Ali Haji. (Surat 22 April 1862, baris 44-49)

Komunikasi dan persahabatan Raja Ali Haji dengan pegawai kolonial dalam upaya menyusun kamus Melayu-Belanda, apalagi kemudian ia dibayar secara profesional, barangkali mengundang antipati dari sebagian masyarakat yang menganggap sikap tersebut sebagai laku kompromi dengan kaum kolonial. Namun, tentu ia juga mempunyai pertimbangan kontekstual di zamannya.     

Di Gurindam 12 pasal ketujuh beliau menulis, “Apabila kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat”. Barangkali sikap ini adalah salah satu siasat tersebut. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 6 November 2017

08 November 2017

J.E. Tatengkeng, Pramoedya, dan Sastra Bernapas Kristen


Di mata air, di dasar kolam,
Kucari jawab teka-teki alam.
Di kawan awan kian kemari,
Di situ juga jawabnya kucari.
Di warna bunga yang kembang,
Kubaca jawab, penghilang bimbang.
Kepada gunung penjaga waktu,
Kutanya jawab kebenaran tentu.
Pada bintang lahir semula,
Kutangis jawab teka-teki Allah.
Ke dalam hati, jiwa sendiri,
Kuselam jawab! Tiada tercerai.

Begitu tulis Jan Engelberth Tatengkeng pada 1934 yang terangkum dalam buku kumpulan sajak Rindu Dendam.

Judul buku sajak itu barangkali masih lamat-lamat teringat oleh beberapa generasi, sebagai informasi amat pendek di buku-buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tentang karya penyair kelahiran Sangihe, Sulawesi Utara.

Sepanjang hayatnya, memang Rindu Dendam inilah yang lekat dengan J.E. Tatengkeng. Beberapa puisinya yang lain dimuat di majalah Pujangga Baru dan majalah yang lain. Pada 2016, Rindu Dendam masih diterbitkan oleh Pustaka Jaya, sebagai sebuah ikhtiar untuk tidak cepat melupakan penyair yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Indonesia Timur pada 1949-1950 ini.

J.E. Tatengkeng dilahirkan di Kolongan, Sangihe, pada 19 Oktober 1907. Sejak kecil, ia dididik secara Kristen. Ayahnya seorang guru Injil yang merangkap sebagai kepala sekolah Zending. Saat berumur delapan tahun, ia bersekolah di Zendingsvolkschool atau sekolah rakyat yang dikelola oleh gereja Kristen. Di sekolah inilah bakatnya sebagai pengarang mulai nampak, khususnya mengarang pantun.

Selepas itu, ia melanjutkan ke HIS (Hollands Inlandsche School) Zending di Manganitu. Bakat mengarangnya terus tumbuh karena di sekolah ini terdapat pelajaran berpidato dan mengarang yang diberikan secara teratur dan baik. 

Pada 1925, seperti ditulis Moeljono dalam buku Drs. J.E. Tatengkeng: Karya dan Pengabdiannya, ia melanjutkan sekolah ke Christelijke Middagkweekschool di Bandung, yaitu sekolah guru (Kweekschool) berdasar agama Kristen. 

Setelah selesai di Bandung, ia melanjutkan lagi Christelijke Hervormde Kweekschool Surakarta. Pada 1932, ia menjadi guru bahasa Melayu di Tahuna. Selain mengajar, kegiatannya yang lain adalah memimpin surat kabar pemuda Kristen, Tuwo Kona, yang berarti tumbuh setinggi-tingginya. Ia juga membantu surat kabar Soeara Oemoem (Surabaya), Soeloeh Kaoem Moeda (Tomohon), dan Pemimpin Zaman (Tomohon). Di tahun yang sama, J.E. Tatengkeng menikah.

Setelah menikah, ia kemudian pindah ke Waingapu, Sumba, bekerja pada Gereformeerde Zending, menjadi kepala sekolah dan guru bahasa Melayu pada Zendingstandaardschool yang terdapat di Payeti, Sumba. Selama bekerja di sini, ia sering berkorespondensi dengan Soetan Takdir Alisjahbana dan mengirimkan karya-karyanya ke majalah Pujangga Baru. Waktu tinggal di sinilah Rindu Dendam, karyanya yang paling populer diterbitkan oleh lembaga penerbitan Kristen bernama Djawi di Surakarta.

Kiprahnya di dunia pendidikan terus berlangsung, bahkan ketika Perang Dunia II meletus dan Jepang datang pada awal 1940an. Sambil ikut di badan perjuangan yang bernama Barisan Nasional Indonesia, ia tetap menjalankan pekerjaannya sebagai pendidik. Ketika pemerintahan Indonesia berbentuk federal, J.E. Tatengkeng menjabat sebagai perdana menteri merangkap menteri pengajaran Negara Indonesia Timur.

Didikan Kristen yang amat lekat pada dirinya sedari kecil sampai akhir hayat (6 Maret 1968 di Rumah Sakit Angkatan Darat Pelamonia, Makassar) membuatnya tak bisa lepas dari napas Kristen. Termasuk dalam sajak-sajaknya. Meski beberapa sajaknya dihiasi pertanyaan dan kegelisahan, pada akhirnya ia pasrah menerima kasih Tuhan. 

Untuk menelisik sajak J.E. Tatengkeng, Ajip Rosidi dalam Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari sempat membandingkannya dengan karya Sanusi Pane, Madah Kelana.

“Sebagai penyair yang seperti Sanusi Pane tak henti-hentinya mencari kedamaian dan ketenangan, Tatengkeng pun mencoba mencari jawaban atas kegelisahan hatinya itu... Dia tak habis-habisnya bertanya... Tapi kalau Sanusi Pane menemukan kedamaian yang dicarinya itu dalam hatinya sendiri seperti dapat kita ikuti dalam Madah Kelana, maka Tatengkeng menemukannya dalam Tuhan,” tulis Ajip.

“Masuklah, ya, Tuhan dalam hatiku!” tulis si penyair dalam "Panggilan Pagi Minggu." 

Sementara itu, dalam puisi "Akhir Kata", ia menulis:

O, Tuhanku
Biarkan aku menjadi embunmu
Memancarkan terangmu
Sampai aku hilang lenyap olehnya...
Soli Deo Gloria!”

Sebagai penyair angkatan Pujangga Baru yang sajak-sajaknya banyak menyuarakan rohani Kristen, J.E. Tatengkeng relatif tidak terlalu terkenal. Meski demikian, wacana kesusastraan Kristen di Indonesia sebenarnya pernah dicoba dibahas oleh Pramoedya Ananta Toer dalam majalah Star Weekly 7 Januari 1956 dengan judul "Kesusastraan Kristen di Indonesia: Mengajak Mempertimbangkan Suatu 'Persoalan yang Tak Pernah Terdengar di Indonesia'—Untuk kawan Tatengkeng."

Pram menyoroti ihwal fungsi sastra Kristen yang menurutnya semestinya bisa melepaskan diri dari hanya “agama ke pokok pembicaraan dan dari pokok pembicaraan ke agama”, melainkan mesti ditulis individu bermoral Kristen untuk tiap orang, bukan sifatnya tulisan antar kita belaka.

“Kegiatan agama seyogyanya bukanlah hanya menarik pengikut dan beribadah dan memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka, tetapi ia harus pula dapat menciptakan koral agama agar kegiatan itu tiada menjadi tandus bagi pergaulan bersama,” tambahnya.

Penulis yang kemudian terkenal dengan roman Tetralogi Pulau Buru itu menyebut sastra Kristen di Indonesia sebagai sesuatu yang masih beku, dan baru sampai pada taraf penyebaran pekabaran Injil saja. Cara seperti ini menurutnya benar-benar tidak memikat mereka yang berada di luar agama Kristen.

Pram lalu memberikan contoh kesusastraan Kristen yang hidup, tak beku, yang berhasil menjadi persoalan kita. Ia menyebut The Matter of The Affair karya Graham Greene dan Cry the Beloved Country buah tangan Alan Paton. Menurutnya, dalam karya Alan Paton, kegalauan dan kebangkrutan orang kulit hitam dalam berhadapan dengan ekspansi orang kulit putih, moral Kristen terdengar nyaring. 

“Ia tak membeku dalam melebarkan pekabaran Injil di dalam romannya ini. Ia memberi iklim moral Kristen ini dalam persoalan yang bergalau. Ia juga berkhotbah di dalam romannya ini, tetapi bukanlah berkhotbah antara kita belaka, tetapi kepada bangsa kulit hitam, bangsa kulit putih dan seluruh dunia Kristen, seluruh umat manusia, untuk ikut memikirkan nasib bangsa kulit hitam yang terusir dari negeri tumpah darahnya sendiri,” tulisnya.

Pada 1935, dalam majalah Pujangga Baru edisi No.1 bulan Juli, J.E. Tatengkeng sejatinya pernah menulis esai dengan judul "Penyelidikan dan Pengakuan". Dalam tulisan tersebut, jika mengacu contoh yang disodorkan Pram, ia menyadari tentang pentingnya referensi pengarang asing dalam proses mengembangkan kesusastraan Indonesia.

“Kesusastraan Indonesia akan tumbuh sebaik-baiknya, kalau ia tidak dipagarkan dalam lingkungan tanah kita saja. Seni, kesusastraan kita, harus mendapat ilham dari seluruh alam. Tidak benar yang pengaruh asing itu melemahkan saja. Kita harus berakar sedalam-dalamnya di tanah kita, tetapi juga kita harus mengembangkan cabang-cabang ke kiri, ke kanan dan ke atas supaya kita peroleh udara yang sesehat-sehatnya yang dibawa angin dari segala penjuru alam,” tulisnya.

Namun demikian, tampaknya sampai 1956—ketika Pram menulis tentang kesusastraan Kristen—dalam amatan Pram, tidak ada karya J.E. Tatengkeng dan para pengarang Kristen lainnya yang keluar dari pagar pekabaran Injil semata. 

Maka dari itu, setelah memberikan beberapa contoh karya pengarang asing, Pram kemudian menulis: 

“Akhir-akhirnya agama bukan hanya suatu keimanan dan keibadahan kepada Tuhan belaka, tetapi secara positif juga mengatur pengikutnya dalam perhubungan antara manusia. Bukan hanya karena agama menyuruh, tetapi pertama-tama karena ada kesadaran, ada tanggungjawab terhadap baiknya perhubungan antara manusia.” (tirto.id - irf/msh)

Tayang pertama kali di tirto.id 
tanggal 4 November 2017 

07 November 2017

Saya Enggan Menulis Obituari

“Rima ini kurancang untuk menentang mitos
hegemoni rezim dewa logos.”

Di ruang depan rumah kontrakan saya, televisi masih menyalak untuk mengabarkan warta-warta buruk yang membosankan. Masyarakat di suatu kecamatan di daerah Jakarta Barat sedang cemas karena terancam digusur akibat putusan hukum mengatakan bahwa sertifikat tanah mereka tidak absah. Rakyat di Sidoarjo sudah setahun dilahap lumpur akibat pekerjaan buruk korporat yang hanya mencari untung tanpa mau memikirkan akibatnya pada lingkungan. Dan “kocokan arisan” jabatan menteri di kabinet baru saja menemukan pemenang-pemenang baru serta menyingkirkan para pecundang. Saya tak menonton kabar-kabar via televisi malam ini. Selain karena saya sibuk mengetik naskah ini, juga karena saya tak sedikit pun merasa perlu menyaksikan peristiwa-peristiwa yang hanya akan membuat saya semakin merasa nelangsa hidup di negeri yang orang-orangnya doyan korupsi. Saya sempat menguping warta olahraga, tapi saya kembali tak peduli karena yang saya dengar justru soal kekalahan tim nasional sepak bola Indonesia. Mungkin mereka hanya akan menang jika bertanding melawan kesebelasan hansip tukang intip janda kembang, itu juga kalau para pengurus organisasinya bisa membedakan mana tukang intip dan mana Manchester United.

Saya memang tak pernah berpikir tentang negara. Saya lahir di sebuah negara yang bahkan aturan-aturannya tidak pernah saya ikuti pembuatannya. Negara raib ketika tagihan listrik rumah saya tiba-tiba naik luar biasa padahal saya jarang menyalakan lampu-lampu dan memusuhi televisi. Saya tak bertemu dengan negara ketika, seperti yang sering dikatakan oleh para penerbit buku, harga kertas naik tajam, tata niaga perbukuan berantakan, dan biaya kirim barang via kantor pos ternyata sangatlah mahal. Tapi negara ujug-ujug muncul saat saya harus bikin KTP, bayar pajak, atau balapan dengan konvoi patroli polisi. Ternyata saya, juga Anda tentunya, selalu diintai oleh negara.

Negara ini, setahu saya, bukan keturuan bangsa Arya yang dalam runut silsilah versi Hitler adalah kaum terbaik sejagat raya. Masyarakat di Indonesia lebih mengenal nasi basi daripada Nazi fasis. Galibnya, di negeri ini tak mungkin ada orang berlagak mirip Goebbels yang membakar buku-buku di zaman logo swastika mengalahkan singa Britania. Tapi saya wajib untuk bertanya kenapa sebuah acara diskusi di toko buku saja sampai harus didemonstrasi oleh kelompok yang merasa paling tahu sejarah bangsa? Buat apa si Pam diciduk aparat hanya karena ikut diskusi soal gerakan kiri internasional? Kenapa seorang pemuda yang menulis novel sampai harus dianggap kafir oleh orang-orang yang seagama dengannya? Saya pikir cukuplah lagu-lagu pop patriotic-romantik yang bicara soal “zamrud Khatulistiwa nan elok dan sejahtera”. Biarkan aparat desa saja yang bilang soal “jalan kelurahan segera diaspal” padahal cuma akan ditempeli pasir dan koral. Saya tak merasa perlu ikut-ikutan hipokrit. Entah kalau Anda.

Negara ini kocak, para pemimpinnya sibuk bermimpi, masyarakatnya pura-pura baik, dan semuanya menjemukan. Lantas saya berusaha mencari jalan via hiburan di TV yang katanya bisa melupakan kebosanan kita hidup di Indonesia. Saya tonton Extravaganza dan saya mual: ada yang mencontek acting Jim Carey, ada yang tampak sangat senang menjadi artis, ada yang merampok gaya lelucon Srimulat, sisanya adalah barisan pelawak gagap. Saya pindah saluran, menonton talk show yang kabarnya sangatlah lucu. Ternyata garing. Pun ketika bolak-balik saya diajak kembali ke laptop.

Lalu malam ini saya menyelesaikan tahap akhir penulisan. Awalnya buku ini diniatkan untuk tidak seserius seperti bayangan banyak kawan. Saya menggarapnya hanya karena senang pada apa yang saya anggap punya nilai hiburan. Menulis, buat saya, juga relaksasi. Termasuk untuk lepas dari hal-hal yang saya tulis dalam empat paragraf di atas.

Tapi buku ini juga lahir dari provokasi. Saya adalah korban provokasi beberapa penerbit buku. Bukan kebetulan pula jika mereka adalah kawan-kawan saya sehingga dengan santainya menyuruh saya menulis soal sejarah dan perkembangan penerbitan di Jogja. Isinya diharapkan menjadi semacam gambaran tentang dinamika para penerbit Jogja yang keberadaan dan perbincangannya sudah muncul sejak awal kelahiran mereka. Percakapan dan diskusi-diskusi soal mereka sebelumnya memang banyak muncul dalam berita-berita di media massa, obrolan-obrolan sambil lalu, juga diskusi di berbagai milis perbukuan. Namun sampai kini belum ada buku utuh yang mengungkap ihwal mereka. Kawan-kawan saya yang energi kreatifnya berbanding lurus dengan libido terhadap bini-bini mereka itu merasa semua hal tersebut lebih baik dicatatkan dalam bentuk penulisan buku. Sejak awal saya sadar bahwa kesediaan saya menulis tentang penerbit Jogja berbanding lurus dengan kemungkinan sulitnya saya memposisikan “diri-sebagai-penulis” dan “diri-sebagai-subyek tulisan”. Semoga ketika akhirnya penulisan ini terselesaikan maka belitan tersebut bisa dilepaskan dan posisi saya cukup tampak jaraknya.

Semula agitasi mereka tidak lantas mendorong saya untuk segera menulis. Saya justru mengingat kembali apa yang saya dan kawan-kawan dekat dulu memulainya. Termasuk fase ketika sebuah obrolan ringan yang dilakukan di pinggir Selokan Mataram akhirnya meletupkan gagasan sok keren dalam ungkapan: “Bagaimana kalau kita mendirikan penerbitan?” Secara pribadi, saya selama tujuh tahun menggeluti pekerjaan buku namun tak pernah berpikir untuk mencatatkan pengalaman itu dalam semacam reportase, retrospeksi, kritik-diri, apologi pseudo-ilmiah, ataupun bela diri dan silat lidah. Saya merasa bekerja di dunia buku tidaklah berbeda dengan orang-orang yang berjibaku mencari nafkah dan kepuasan diri di bidang yang lain. Sudah lama saya menganggap bahwa tidak ada yang perlu ditulis-ulang atau dibicarakan tentang kerja penerbitan di Jogja. Kisah-kisah buruknya tercatat dalam memori media, para penulis yang kecewa, penerjemah yang dibayar tidak lumrah, petinggi wacana yang merasa dilangkahi, kaum akademisi yang ilmunya dicuri, juga orang-orang yang mencintai buku tapi menyayangkan kesompralan cara bekerja para penerbit Jogja. Semua itu sudah terekam sebagai kotoran kalkun bertumpuk duri, banyak orang yang sudah mencium baunya, lewat gosip maupun berita, dari kabar burung ataupun laporan cuaca, yang entah pada siapa harus dirunut kebenarannya.

Tak ada maksud saya untuk meluruskan apa yang mucul dalam warta di luar sama. Seperti ingatan saya pada seruputan kopi Mas Arif di rumah Pak Ong sambil menjentik abu sigaret dan berkata: “Ini bukan soal benar dan salah lho, Bung!” Saya menolak caranya mengadopsi gaya sapaan “Bung” ala Tan Malaka rembugan revolusi dengan Djamaludin Tamin, tapi saya bersepakat dengan Mas Arif soal tujuh kata di depan Bung. Pak Ong terkekeh sambil meneruskan kenangan romantiknya pada era pra-JUC. Saya menyabot rokok si pimpinan toko buku dan berpikir: apa yang mesti diluruskan ketika sejatinya kita hidp di kawasan negeri berpagar kapas yang patok-patoknya kebanyakan bengkok, melengkung, patah, dan rubuh. Masih pentingkah seseorang memberitahu yang “katanya benar” di tengah masyarakat yang menyaksikan “katanya salah” nyaris dalam setiap dengus napas berat dan lenguh mulut berbusa peluh? Jari telunjuk itu hanya empat senti dari jempol, dan kita lebih sering memanjakan telunjuk untuk mendakwa daripada mengizinkan ibu jari mengacung tanda apresiasi.

Saya sendiri merasa tidak perlu menambahi daftar teriak para pemberontak, rockstar yang lelah dengan lirik agitatif, seniman kritis yang berkarya secara estetik-argumentatif, juga berkisah soal penerbitan dengan gaya lelakon epos Perang Peloponesos dalam gambaran Thucydides. Cukup Kiansantang yang merasa diri jagoan kanuragan namun berkeringat sebanyak air di kolah mushola hanya untuk mencabut tongkat yang ditancapkan Syekh Ali di Mekkah. Hidup tak selalu harus dianggap sama definitifnya dengan bualan para aktivis bisnis multi-level. Jagat penerbitan di Jogja adalah ruang yang tak harus sama gelapnya dengan kamar cuci-cetak tukang foto keliling, atau sama remangnya dengan warung-warung nafsu di jalan raya sepanjang Indramayu. Mencoba menerangkan yang gelap atau menggelapkan yang terang adalah pekerjaan yang sama mudharatnya dengan guru SD yang menyuruh anak didiknya menghitung jumlah bintang di langit milik Tuhan. Kalau netra hanya sampai di horison, kita tak perlu pura-pura tahu letak ruang ganti tujuh bidadari yang berniat mandi di kali. Dan saya merindukan Bojing yang khatam bicara perihal “proposisi” dan “proporsi” dalam cara ungkap yang melebihi Gorrys Keraf menulis buku Komposisi.

Saya tak tertarik pada lampu pijar bikinan Thomas Alfa Edison yang sekarang faedahnya dirasakan umat sejagat, tapi saya lebih memilih untuk membaca kisah Benjamin Franklin yang hampir mati tersengat petir. Saya tidak menganggap piramida besar di Mesir sebagai karya agung peradaban pra-modern. Segitiga gunung gadungan itu adalah cemooh kaum budak yang ikhlas mengangkat batu-batu seukuran banteng karena mereka senang disuruh membangun kuburan Ramses sang proto-diktator. Saya tidak gumun dengan selebrasi kaum urban hari ini yang melahap buku layaknya gulali impor bernama Wrigley’s. Tapi saya selalu membungkuk seperti samurai ketika saya melihat ibu-ibu di lingkungan kantor penerbitan kawan saya sibuk mengangkat, melipat, dan menyusun kertas hasil cetakan sambil bercanda tentang harga beras yang katanya naik lebih gesit dibanding ongkos pasang togel langganan suami mereka. Kerja buku, setidaknya menurut saya, adalah kolektif bebas-kelas, komune non-dominasi, persekutuan diam-diam, dan ibadah kaum tabah. Demokrasi sudah lama diteorikan, kita tinggal mencari tahu rumusannya dalam diktat-diktat sekolahan atau sajak-sajak Wiji Thukul. Tapi kita bisa langsung merasakan nuansanya jika mau menyaksikan alur kerja buku, bukan dalam konteks produk melainkan pada etos pekerjaan. Mulai sekarang kita sepertinya tidak wajib untuk takjub ketika barang segi empat berbahan kertas atau biasa kita sebut buku itu bisa juga mampir ke tangan lentik Bunga Citra Lestari.

Saya sebenarnya sering malas berbincang dan menulis perihal jagat pustaka yang sering saya kira sangat tinggi dan luar biasa seram. Apalagi saya masih sangat menikmati dunia dalam madat keentengan yang terasa kontras dengan keseriusan lingkungan perbukuan. Wajar kiranya jika saya lebih suka masuk venue macam-macam gig, menyimak album terbaru Children of Bodom, atau silaturahmi ke rumah Pak Dukuh sebagai kedok bagi saya yang tak pernah ikut ronda. Ketika akhirnya saya memulis naskah buku ini, maka alasan saya (kalau memang setiap aktivitas harus punya alasan) adalah ketertarikan personal pada etos kerja para pekerja buku yang setia pada pilihannya. Bukan apa-apa, di luar sana para pemuda hedon lebih banyak dikusi soal Jack Daniels daripada Jacques Derrida. Leher saya pasti menengok ke samping jika di sebelah saya sekumpulan orang sedang bercakap tentang cara menyetrika baju paling mutakhir: lipat di bawah bantal, lalu tiduri sambil bermimpi menjadi model majalah Maxim. Saya menyukai yang sepele tapi gede.

Niat saya semakin kuat karena saya tahu bahwa sebagian besar dari para penerbit itu adalah kalangan muda dengan semangat ala Vasco da Gama yang terus saja mengangkat sauh dan mengarungi semua lautan di dunia. Saya selalu berminat pada orang-orang yang vitalitasnya melebihi takaran obat kuat. Saya juga tahu bahwa basis kemanusiaan mereka tak akan membuat mereka selalu sama hebatnya dengan ekspedisi barbarian bangsa Viking menuju Anglo. Saya sadar bahwa menulis tentang penerbitan Jogja tidak akan menghasilkan bacaan seperti tambo Perang Kartago yang khas para hero di zaman kuno. Kerja buku di Jogja juga ternyata bisa selugu Sayuti, sebingung Paman Kikuk, sedangkal kolom di koran kuning, sekritis Bart Simpson, seberani lirik lagu Teknoshit, serugi PT KAI, seuntung bisnis duren Haji Sanusi, selucu cara jalan Mbok Tenong dari Pasar Kranggan, sepintar Eka Anash meniru dandanan The Strokes, dan sesabar padi yang diperkosa belalang tiap hari. para penerbit Jogja membangun identitas sebanyak jumlah kata dalam kamus Echols-Shadily.

Tidak seperti para penerbit buku itu, saya enggan membicarakan perubahan-perubahan dalam peradaban dunia karena saya justru konsisten menikmati isinya. Bahkan saya tidak setiap saat memeluk buku seperti yang dilakukan kawan-kawan saya yang pintar itu. Saya lebih suka membaca majalah Metal Hammer daripada jurnal politik. Saya lebih memilih untuk meyakini Lennonisme daripada Leninisme. Saya juga malas berbincang tentang Syekh Siti Jenar yang namanya rajin sekali muncul dalam diskusi-diskudi di kalangan penerbitan. Tapi saya lantas mahfum karena dengan segala keterbatasannya para penerbit Jogja sebenarnya telah mengambil-alih beberapa peran negara dalam “memberi makan” warga negara melalui bacaan. Saya juga lalu memaklumi kalau mereka amat sibuk memikirkan dunia penerbitan. Setidaknya begitulah yang saya lihat karena saya pun menjadi bagian dari para pekerja buku di Jogja. Sayangnya, mereka punya banyak problem serius yang bisa menghambat kerja-kerja apik penerbitan.

Lalu, apa yang tidak menarik dari sebuah kota yang menyimpan banyak kisah tentang penerbitan buku? Kisah tentang lahirnya sekian banyak penerbit yang tidak terjadi di kota-kota lain. Fakta tentang keberanian mereka mencetak buku-buku yang susah dijual. Bukti kemunculan orang-orang yang menjadi representasi gerakan estetika sampul buku. Kisah sukses buku-buku Kahlil Gibran pasca-Pustaka Jaya. Heboh nasional akibat efek penerbitan Jakarta Undercover. Cerita unik tentang sebuah penerbit yang dipantau hampir sebulan oleh orang-orang dari partai politik tertentu karena dianggap menerbitkan buku dengan sampul yang membunuh karakter tokoh besar panutan mereka. Kota yang memunculkan sederet penulis muda berdaya ledak tinggi. Fenomena Yusuf Agency yang bikin miris para penerbit dan toko buku. Juga cerita-cerita muram perihal “perang” antara penerbit versus distributor, konflik penerbit versus penulis, intrik antar-penerbit, dan sebagainya.

Di dunia kecil bernama Jogja, penerbitan menjadi medan koalisi dan konfrontasi, kesenangan dan pertengkaran, serta banyaknya silang jalan yang memaksa niat apik harus berpamitan pada deretan angka di kalkulator kusam yang menyeringai sambil berkata: “Masih mau jadi pendekar atau ikut saya di jalur financial?” Hingga hari ini saya masih terus bertanya: untuk apa kita membela sesuatu yang sering kali membuat kita senang dan kecewa, sebanyak peristiwa yang membuat kita tetap melakoninya? Saya, mungkin juga beberapa kawan yang hidup dari dan menghidupi penerbitan, sepertinya punya semacam “keimanan” yang berbeda dari orang kebanyakan. Suatu kepercayaan pada pilihan untuk mengerjakan tugas rumit di jagat buku yang tentu saja menarik tapi tidak menjadi pilihan semua orang. Dari zaman sampul buku mirip gombal rombeng hingga era Rieke Dyah Pitaloka kegirangan di Matabaca bahwa “Dunia Penerbitan Itu, Menggiurkan!” Buku adalah pijakan yang bertumpu pada “pilihan” dan bukan “kewajiban”. Dan bagi para penerbit Jogja, eksistensi tidak butuh sejumlah pasukan.

Memori saya ikut terloncat di depan segelas teh hangat dan batangan rokok yang menemani saya di depan komputer ketika mengetik pengantar ini. Serpihan ingatan berkelojotan di muka saya. Tentang sepuluh tahun kreativitas kawan-kawan saya yang tak bosan mendiami kamar belakang sebuah rumah bernama Indonesia, tanpa tahu kapan mereka bisa duduk di ruang depan sambil menikmati makan malam dengan menu berbahan organik bebas wereng coklat yang diambil dari lumbung padi milik sendiri. Saya selalu ingat pada Brent yang menghisap sisha di Jalan Solo sambil berkata: “That’s irony, fella! But you’ve to do your choosen job. There’s no enemy, just irony.” Tiba giliran Sudjud menghisap, lalu berkisah tentang subkultur pasca-Hebdige dan serangan gadget. Widi minum dan menimpali, “Opo sih bedane royalti buku karo kaset, Dhe? Kok royalti album bandku gak jelas yo!” Saya harap para penerbit buku tetap bekerja, pun ketika tak semua orang memahaminya dan negara masih tak mengindahkannya.

Di titik ketika saya memutuskan untuk meneruskan penulisan buku ini, saya merasa ada banyak hal yang bisa dicatatkan tentang mereka. Penulisan buku ini sudah digagas sejak 2005 ketika beberapa penerbit merasa perlu untuk mengevaluasi dan melihat-kedalam segi-segi penerbitan yang mereka kelola. Namun seperti penyakit saya yang lainnya, saya selalu tidak bisa fokus untuk menggarapnya. Waktu itu saya pikir banyak hal lain yang harus dilakukan daripada menulis kisah tentang orang-orang yang setiap hari mengurusi buku di negeri yang warganya lebih betah nonton sinetron dan enggan untuk menemukan pengetahuan. Seberapa menarik sebuah buku yang isinya ihwal buku bagi masyarakat yang tak dekat dengan buku? Buat apa orang-orang mengetahui perkembangan pabrik-pabrik buku di Jogja sementara perut setiap orang di negeri ini belum terisi karena jatah makan mereka dikorupsi?

Saya akhirnya terlecut untuk merampungkan naskah buku ini, tentunya untuk kepentingan pribadi saya juga. Saya kembali membongkar dokumentasi kliping koran dan majalah yang pernah dikumpulkan, melakukan wawancara dengan para pekerja buku, juga mengutak-atik file naskah awal buku ini yang lama teronggok di komputer. Lalu saya mendatangi orang-orang yang memprovokasi itu, meminta nasihatnya yang kuno dan sangat membosankan, serta merayu mereka untuk membantu proof-reading. Saya menderetkan kembali nama orang-orang yang harus menjadi narasumber penulisan. Beberapa di antaranya cukup membuat saya malas mewawancarainya, bukan karena tak punya waktu melainkan karena dari awal saya tahu cara pandang dan pola pikirnya berbeda dengan saya. Tapi harus memakluminya, toh saya juga bagian dari mereka walau saya letih dengan basa-basi dalam segala bentuk penulisan buku yang harus sering berkompromi dengan pihak-pihak yang ada di dalamnya. Termasuk dalam fase ini adalah intensitas saya berkumpul dengan kawan-kawan dalam lokus “Toga mas School” (in humorous personal relation means, not a kind of publishers serious cluster in town!)

Saya lumayan kesulitan untuk menulis buku ini karena banyak seklai hal yang muncul dan penting untuk disebutkan dari keberadaan mereka. Apalagi dalam beberapa hal perlu memasukkan perkembangan terbaru yang terjadi di Jogja. Tentu saja karena kebaruan aspek-aspek perbukuan serta penerbitan secara umum maupun khusus. Itulah kenapa saya berusaha memadatkannya dengan melihat aspek-aspek yang menonjol dalam dinamika penerbit Jogja, sejak awal kemunculan mereka di era 1990-an, pasca-Soeharto, hingga perkembangan mutakhir mereka tahun 2007. Saya tidak cukup punya daya untuk menuliskannya selengkap sebuah kronik sejarah atau kaleidoskop bahkan eksiklopedia nan komprehensif. Buku ini mungkin bukan proyek dokumentasi yang mumpuni melainkan lebih tampak sebgai semacam catatn untuk kepentingan refleksi dan progresi kolektif penerbit buku di Jogja. Tentu saja publik umum bisa ikut menikmatinya sebagai pengetahuan tentang kisah sebuah kawsan perbukuan yang menjadi bagian dariindustri penerbitan di negeri ini.

Nyaris setiap hari saya masih bertemu dengan mereka: para penerbit buku di Jogja yang selalu sibuk dengan ide penerbitan di otaknya, sebanyak jumlah angka dan hitungan uang yang berputar di pikiran mereka. Saya menyaksikan kawan-kawan dengan semangat dan kerja yang luar biasa. Buku-buku baru menggelontor dari kamar-kamar produksi serupa botol-botol C4 yang diimpor untuk adonan bom. Para pemasar bersaing dengan becak-becak es krim Wall’s yang berkeliaran di setiap sudut kota. Para penggagas tema terbitan adalah Dr Faust yang sibuk mengaduk pengetahuan. Sementara penata acara-acara pameran buku bekerja selincah para mekanik Williams Renault. Dunia buku sepertinya tak pernah menemukan ujung di Jogja. Bahkan mungkin kota ini bisa mati jika urat penerbitan tidak lagi berdenyut. Saya menyaksikannya dan mengagumi mereka sepenuh rasa hormat saya. Kalaupun kelak saya akan menulis lagi, saya enggan menulis obituari.

Dengan segala keterbatasannya semoga buku ini bisa bermanfaat untuk siap pun yang merasa perlu tahu tentang jagat buku dan penerbitan di Jogja. Khususnya tentang para penerbit Jogja generasi 1990-an dan pasca-Soeharto. Saya menuliskannya, silakan Anda semua membacanya tanpa pernah merasa diajari oleh saya.

Jogja, Mei 2007

Pengantar Adhe Maruf untuk buku karyanya yang berjudul Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)

27 October 2017

Nashar Memasrahkan Hidupnya untuk Melukis


“Habiskanlah seluruh waktu hidupmu untuk melukis. Kalau cari uang, carilah sekadarnya saja, selebihnya serahkan hidupmu untuk seni lukis,” ujar Affandi, maestro seni lukis kelahiran Cirebon.

Dalam diri Nashar, pelukis yang berkali-kali dibilang tidak berbakat oleh Sudjojono (seniman Lekra), sikap hidup itu terpatri dan melembaga dalam dirinya, dipegang erat dan dibawanya sampai lampus. Khalayak seni rupa mengenal Nashar sebagai seorang pelukis dengan konsepsi Tiga Non dalam berkarya: nonestetik, nonkonsep, dan nonteknik. Karena itu -- pada masanya -- lukisannya jarang laku. 

Tapi apa pedulinya? Bagi Nashar melukis adalah bernapas.

“Aku melukis siang-malam. Memang meletihkan sekali, tapi aku tak peduli. Perasaan seperti sedang berburu, tapi tidak tahu apa yang diburu,” tulisnya dalam salah satu surat malam bertitimangsa 1968.

Dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain yang isinya kumpulan obituari, Ajip Rosidi menjelaskan, “Dia melukis terus, melukis apa yang dia suka menurut cara yang dianggapnya sendiri paling baik, tanpa mempedulikan apakah lukisannya akan dibeli orang ataukah tidak, disukai orang ataukah tidak. Bagi Nashar melukis adalah kebutuhan hidup seperti bernapas. Kalau tidak dilakukan dia merasa pegal-pegal dan ngilu seperti dia tulis dalam salah satu surat-surat malamnya.”

Masa remaja, ketika Jepang masuk dan keadaan menjadi gawat, Nashar berhenti sekolah. Tepatnya diberhentikan oleh ayahnya. Ia kemudian disuruh menjaga toko ayahnya. Kerjanya hanya menyapu lantai, membersihkan kursi-kursi dan meja-meja. Sesekali menerima telepon. 

Ia merasa bosan. Amat bosan. Ia mencoba mengadu kepada pamannya, mengutarakan keinginannya untuk sekolah lagi, namun pamannya menggeleng.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahmu terlalu keras dan tidak pernah mau mendengarkan kata orang, sekalipun oleh orang yang paling dekat seperti aku ini,” kata pamannya.

Dalam beberapa catatannya yang dihimpun di buku Nashar oleh Nashar, ia memberi contoh tentang betapa keras ayahnya. Sesekali Nashar membaca koran, namun dengan perasaan takut, sebab bentakan ayahnya selalu terngiang: “Anak kecil tidak boleh membaca koran!” 

Sikap keras itu tidak hanya dirasakan Nashar. Menurut Nashar sendiri, ibunya mengalami kelemahan saraf karena sikap ayahnya yang terlalu keras.

Nashar dilahirkan pada 3 Oktober 1928 di Pariaman, Sumatera Barat. Sejak kecil ia sudah dibawa orangtuanya merantau. Pada masa pendudukan Jepang, orangtuanya tinggal di Jakarta. Karena keadaan semakin gawat, ia sekeluarga kemudian pindah ke Yogyakarta. Di kota inilah Nashar mulai berkenalan luas dengan para pelukis.

Hasrat menjadi pelukis sebetulnya timbul ketika ia masih berada di Jakarta. Ketika ia tengah mengantuk menjaga toko ayahnya, tiba-tiba seorang kawannya yang bernama Taufik lewat, dan kawannya itu ternyata tengah belajar melukis. Detik itu pula, mungkin karena bosan yang terlampau mendera, Nashar menyatakan keinginannya untuk ikut belajar melukis.

Tempat belajar melukis Nashar dan kawannya dipimpin Sudjojono yang oleh murid-muridnya dipanggil Pak Jon. Mulanya Nashar tidak berani masuk ke sanggar lukis tersebut, ia hanya melihat kawannya belajar dari luar. Baru pada hari ke sembilan ia beranikan diri menemui Sudjojono.

“Cobalah bawa ke sini gambar-gambar kau yang di rumah, supaya saya bisa lihat,” ujar Sudjojono kepadanya.

Esoknya ia bawa beberapa gambarnya ke sanggar. Sudjojono menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Kau tidak punya bakat, Nas. Tapi cobalah bikin lagi,” ujarnya.

Dengan perasaan tidak menentu, Nashar pulang ke rumahnya dan segera menggambar lagi. Esoknya ia bawa lagi ke sanggar, dan jawaban Sudjojono sama seperti hari sebelumnya. Sama persis. Presisi di setiap kata, “Kau tidak punya bakat, Nas. Tapi cobalah bikin lagi.”

Pada kesempatan lain, Sudjojono berkata kepadanya, “Nas, lebih baik kau bekerja kantoran saja, atau mendaftar menjadi Heiho karena untuk menjadi pelukis harus punya bakat. Kau tidak punya bakat.”

Ucapan Sudjojono itu terus-menerus menimbulkan keberanian baginya untuk menggambar dan menggambar lagi. Meski di satu sisi kalimat “Kau tidak punya bakat, Nas” mematahkannya, namun di sisi lain kalimat “Tapi cobalah bikin lagi” mendorongnya untuk tak patah arang.

Apalagi setelah beberapa kali bolak-balik ke sanggar dan tetap dianggap tak berbakat, akhirnya Sudjojono berkata, “Kau memang tidak punya bakat, tapi kau boleh coba-coba ikut berlatih di sini.”

“Aku yang telah berulang kali datang menunjukkan kesanggupanku menggambar dan selalu ditolak oleh Sudjojono dengan alasan aku tidak punya bakat, tentu saja atas kesempatan yang diberikannya kepadaku itu, aku merasa bangga dan merasa menang atas perjuanganku, paling tidak perasaan itu untuk diriku sendiri. Aku merasa ada sebuah pintu terbuka untuk hari depanku,” tulis Nashar.

Di Yogyakarta, Nashar bertemu dengan Moh. Sahid, kawan belajar melukis ketika masih di Jakarta. Lewat kawannya inilah ia kemudian bergaul dengan Affandi. Ia juga bertemu dengan A. Wakidjan, Zaini, dan Trubus, kawan-kawannya yang sama-sama belajar melukis pada Sudjojono. Sementara dengan para pelukis senior, ia bertemu dengan Hariyadi S. Suromo, Surono, Sudarso, dan lain-lainnya.
Minggat dari Rumah dan Tinggal Nomaden
Karena sifat ayahnya keras, Nashar minggat dari rumah. Ia kemudian nomaden. Meski bukan seorang pamong atau guru sekolah Taman Siswa, namun Nashar pernah tinggal di Jalan Garuda 66, Jakarta—tempat tinggal guru-guru Taman Siswa yang sudah berkeluarga. Ia tinggal di rumah Sutiksna, salah seorang pamong yang tiap hari Ahad rumahnya digunakan sebagai tempat melukis para anggota GPI (Gabungan Pelukis Indonesia).

“Palukis Nashar meskipun bukan pamong, entah mengapa, tinggal di situ juga, kalau malam, ia menggelar tikar di ruang makan keluarga Sutiksna,” tulis Ajip dalam otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan.

Nashar juga pernah tinggal cukup lama bersama Ajip Rosidi. Meski usia keduanya terpaut 10 tahun—Ajip lebih muda, namun mereka mempunyai kecocokan dalam berkawan. Hal ini pula yang kemudian membuat keduanya terbuka dan tidak saling perhitungan.      

Ajip berkisah, bahwa banyak kawannya yang sering berkunjung ke rumahnya di Kramatpulo, kadang-kadang mereka menginap di atas tikar di lantai, dan kalau ngobrol sampai larut malam. Nashar malah kemudian tinggal di rumahnya, tidur menggelar tikar atau di atas ranjang bergantian dengan Ayatrohaedi (adik Ajip) dan Karsita (kerabat Ajip dari pihak ayah).

Sekali waktu ketika Ajip dan istrinya memutuskan untuk pindah ke Jatiwangi, Majalengka, rumah yang ia sewa tetap diperpanjang. Hal itu dimaksudkan untuk tempat tinggal Ayatrohaedi yang masih sekolah di SMA Muhammadiyah dan untuk keperluannya kalau sekali-kali ke Jakarta. Nashar juga terus tinggal di situ bersama Ayatrohaedi.
Ketika akhirnya Ajip Rosidi tidak memperpanjang sewa rumahnya yang di Kramatpulo, Nashar kemudian tinggal bersama pelukis Alimin di rumah petak di kawasan Setiabudi yang baru dibuka.

Selanjutnya Nashar tinggal di Balai Budaya. Ia selalu melukis pada malam hari. Kalau lelah mendera, ia tidur dekat lukisannya di atas sehelai tikar atau kertas koran sebagai alas di atas tegel yang dingin.

“Pelukis itu hidupnya tak bisa berpisah dari cahaya matahari. Tapi coba lihat Nashar, sekarang sudah pukul sebelas lewat, dia masih tidur!” ujar Sudjojono sekali waktu.

“Nashar dunia wisma. Tinggal di ruang-ruang budaya di Jakarta. Ada artikel yang menulis Nashar si pelukis miskin,” ujar Jeffrey Hadler (sejarawan dari University of California, Barkeley) dalam sebuah diskusi tentang Nashar di ruang pertemuan dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada 22 Juli 2014, dikutip oleh laman padangkita.com.

Sebagai salah satu kawan dekatnya, Ajip Rosidi berkomentar bahwa menurutnya Nashar adalah contoh yang monumental tentang dedikasi seniman terhadap keseniannya.

“Demi kesenian, Nashar bersedia mengurbankan apa saja: kesenangan duniawi, hidupnya sendiri, keluarganya... semua tak dia pedulikan, karena dia ingin memusatkan pengabdiannya pada melukis. Belasan tahun lamanya setelah bercerai dengan isterinya dia tinggal di Balai Budaya,” tulis Ajip.
Menikah dan Golok di Malam Pertama
Meski hidup dengan serba kekurangan, namun keinginan berumah tangga siapa yang bisa membendung? Begitu pula yang terjadi pada Nashar. Di usianya yang sudah lewat 30 tahun, sekali waktu ketika sudah tinggal bersama pelukis Alimin, Nashar menemui Ajip Rosidi dan mengutarakan rencananya untuk menikah.

“Dia dengan bangga menceritakan bahwa dia menemukan calon istrinya dengan cara yang luar biasa,” tulis Ajip.

Ajip menambahkan, menurut penuturan Nashar, ada seorang wanita tua tetangganya di Setiabudi, sering bertanya kepada Nashar dan Alimin ihwal mengapa mereka belum juga menikah. Nashar bergurau menjawab, “Belum ketemu calon yang cocok.” Wanita itu lalu menawari akan mencarikan calon yang cocok.

“Mereka akan datang satu demi satu dipertemukan dengan Nashar dan Alimin. Mereka akan pura-pura lewat depan rumah, sedang Nashar dan Alimin melihat dari dalam. Kalau ada yang cocok, baru akan diajak berkenalan. Maka Nashar dan Alimin yang bagaikan pangeran yang akan memilih puteri setiap hari duduk melihat ke luar memperhatikan wanita yang disuruh pura-pura lewat oleh wanita tua itu,” tulis Ajip.   

Setelah lama memilih, akhirnya Nashar ketemu yang cocok: janda, mantan istri seorang tukang becak.

Selain Ajip Rosidi, pernikahan Nashar juga dihadiri oleh Toto Sudarto Bachtiar (penyair kelahiran Cirebon) dan Wakidjan (pelukis). Menjelang salah asar, mereka pamit pulang. Ajip pulang ke rumah Dodong Djiwapradja untuk suatu keperluan. Sebelum subuh, pintu rumah Dodong diketuk dengan keras. Karena Ajip tidur di kamar depan, maka ia yang membukakan pintu.

Ketika pintu dibuka, Nashar berdiri di baliknya. Setelah diajak masuk, ia lalu bercerita bahwa iparnya bertengkar dengan ayahnya sampai mengamuk dan menenteng golok: menantang ayahnya berkelahi. Dalam suasana genting seperti itu, istri Nashar berbisik agar ia pergi menyelamatkan diri menuju Jakarta. Karena tahu Ajip menginap di rumah Dodong, maka ia menuju ke sana.

“Jadi, lu belum melaksanakan malam pertama, dong!” kata Ajip bergurau.

“Habis takut kena golok!” ujar Nashar sambil tersenyum kecut.

Sepanjang yang diketahui Ajip, Nashar tak pernah kembali ke rumah istrinya tersebut.
Tuna Uang dan Pencarian Diri
Selalu kekurangan uang, itulah hidup Nashar. Kondisi ini tentu hadir, salah satunya, dari sikapnya terhadap lukisan yang tidak dijadikan sebagai barang dagangan, melainkan sebagai jalan hidup, kebutuhan dasar yang mesti dipenuhinya. 

Menurut Jeffrey Hadler, yang menulis buku tentang Minangkabau, Nashar memang tak suka menjual lukisannya. Jika ia butuh uang, ia lemparkan ke mahasiswa untuk membeli lukisannya berapa pun duit adanya.

Sementara Ajip Rosidi, baik dalam otobiografinya (Hidup Tanpa Ijazah), maupun dalam buku kumpulan suratnya (Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002), menuturkan relasi kedekatan antara Nashar dengan dirinya sampai ke masalah keuangan.

Agar Nashar bisa terus melukis, selama di Jepang Ajip kerap mengirim uang kepada Nashar. Sebaliknya, jika Ajip sedang libur ke Indonesia ia sering membawa lukisan Nashar yang dianggapnya menarik hati. Suatu saat Ajip beberapa kali memimpikan kawan-kawannya yang telah meninggal. Dan Ajip teringat akan kematian. Lalu ia menulis surat dari Osaka untuk Nashar bertitimangsa 15 Januari 1992.

Inti dari surat itu adalah ajakan Ajip kepada Nashar untuk saling mengikhlaskan ihwal uang dan lukisan yang selama ini terkait di antara keduanya.  

“Teringat akan urusan kita berdua. Memang selama ini antara kita berdua tak pernah ada perhitungan. Gua kebetulan punya rejeki, dapat mengirimkan uang sekadarnya (hampir) saban bulan kepadamu. Dan kalau gua melihat ada lukisanmu yang menarik, gua ambil. Gua kira baik lu maupun gua sama-sama ikhlas. Karena dasarnya bukan mau jual-beli,” tulis Ajip di salah satu alinea.

Menurut Ajip, Nashar pun setuju dengan ajakannya. Bahkan Nashar berkata, “Lu ambil saja lukisan gua semua, gantungkan di dinding rumah lu!”

13 April 1994, Nashar meninggal di Jakarta di tengah kondisi keuangan yang sulit. Ia meninggalkan jejak sikap yang barangkali kontroversial. Namun jika menilik lagi catatan-catatannya di buku Nashar oleh Nashar, sidang pembaca akan bisa melihat dan mungkin meraba pedalaman kalbunya.

Melukis bagi Nashar bukan soal menuangkan cat di atas kanvas, namun lebih dalam dari itu. Ada pergolakan, kegelisahan, renungan, dan pencarian diri yang paling tersembunyi. Semuanya ia lakukan di titian waktu yang berparade dan berderap, dilumuri ragam peristiwa yang berkali-kali menghunjam jiwanya.     

Dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan, tepatnya surat keenam belas ia menulis: “Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Dan rasa-rasanya, pikiran tak mungkin bisa menjangkaunya. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya.” (tirto – irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 21 Oktober 2017

24 October 2017

Melarung Bro di Nantalu (Oleh: Martin Aleida)


Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis.
Angan-angan kami adalah sebuah istirahat kubur yang damai di bawah langit biru di lingkungan hutan hujan. Betapa bahagianya kami nanti dari dalam liang lahad bisa menyaksikan air yang menderu tak habis-habisnya, berebutan jatuh meluncur membasuh tebing. Akangkah nikmatnya menyaksikan hablur air yang deras menghanyutkan jutaan kiambang buih ke Selat Malaka, meninggalkan jejak pelangi di pucuk-pucuk pohon.
Tetapi, apa mau dikata, cita-cita yang sudah berusia lebih setengah abad itu hanyut sudah. Sekarang aku berdiri seorang diri di tubir sungai ini, di Nantalu. Hati terluka, karena apa yang dulu telah bulat kami tancapkan sebagai niat tinggal angan-angan hampa belaka. Paling tidak untuk Bro, kawanku….
Dulu, ketika baru balig, tak pernah kami bayangkan bahwa kematian tidak selamanya harus berakhir di liang persegi panjang di sebidang tanah. Agama yang kami anut tidak memungkinkan khayal kami untuk berpikir tentang akhir hayat seperti itu. Yang tidak memerlukan tanah barang sejengkal pun sebagai kuburan. Dan bahwa dengan panasnya tungku krematorium, tulang dan daging seonggok jasad bisa tinggal hanya segumpal debu. Namun, justru jalan kematian yang berapi seperti itulah yang telah ditempuh Bro, setelah dia mengembara berpuluh tahun di dua daratan benua.
Sendirian aku di tepi sungai ini. Di kakiku air berkecipak berlomba ke muara. Di tanganku telentang cawan seputih gading. Di dalamnya tertumpuk jasad Bro yang hanya tinggal abu, seujung tajuk bunga kamboja banyaknya. Dari Prancis, anaknya, Suilien, memohon agar aku berkenan melarung abu ayahnya itu di sungai ini, di tumpah darahnya ini. Suilien tak bisa datang. Bukan karena tak ada waktu untuk sang ayah. Masalahnya, dia membayangkan betapa dia takkan kuasa menahan getirnya perasaan melihat mulut-mulut yang mencibir, yang ditujukan kepadanya. “Cis najis, cucu berdarah iblis….” Begitulah mungkin umpat semua mata begitu menyaksikan kedatangannya.
Suilien ingat bagaimana jasad atoknya, ayah dari ayahnya, 45 tahun lalu, dibiarkan dingin membatu, sampai-sampai cairan tubuhnya sudah merembes dari celah kuku. Lalat dan belatung mengerubung, tapi tak ada warga yang mau merapat. Tak ada yang ridho menguburkannya baik-baik, dengan doa, walau hanya selenting. Dendam yang sesat telah menjadikan orang tua itu lebih hina daripada ikan patin yang terapung membusuk. Padahal, dia yang terbujur itu bukanlah pembangkang Tuhan. Dia pernah menjadi anggota parlemen, berulang-ulang naik kapal laut untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layak dimakamkan, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.

Beberapa tahun sebelum peristiwa berdarah yang menjungkirbalikkan jalannya sejarah negeri ini, Bro dan istrinya bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran yang baik, menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Malang, hanya sekejap dia menikmati hidup sebagai seorang guru besar. Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, “Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,”hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas. Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok. Bukan cuma kaum komunis yang dicap jadi borjuis di negeri itu saja yang jadi sasaran. Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tak bisa kembali ke kampung, kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.

Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk. Bersama kawan-kawannya, dia digiring ke pedesaan. Dia dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah selama ini. Bro yang semasa kecil di kota kami ikut mengejek dan melempari apek, yaitu Cina tua dan papa yang sedang membuang kotoran manusia ke sungai, sekarang nyahok. Dia dipaksa memungut kotoran manusia untuk disiramkan ke tanaman sebagai pupuk, semacam pembenaran terhadap petuah Ketua Mao bahwa pabrik pupuk terbesar di dunia ada di perut manusia.

Akhirnya, Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepanjangan. Melalui perjalanan darat beribu kilometer, yang tak pernah dia bayangkan, sampailah dia di Paris. Di kota itu dia bertemu dengan seorang kawan yang juga tak bisa pulang ke Jakarta, kecuali siap ditangkap, disiksa, dan dibunuh.

Museum yang mengagumkan, restoran-restoran dengan bangunan antik yang menggiurkan, menyaksikan Bro dan kawan-kawan yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang tubuh Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju. Sambil berjalan, hernianya kerap kumat. Untung di Paris. Orang-orang di sini takkan melirik pisak celananya yang menjendol sebesar kelapa. Di kota kami, penyakit itu akan menjadi olok-olok. Akan ada orang yang iseng, membeli jeruk purut, dibubuhi garam, diperas, dan ditiupkan jampi dari kejauhan, bikin kantong buah pelir membengkak, gatal tak karuan.

Pada sebuah daun pintu, di sebelah gereja tua, harap-harap cemas dua sahabat sepenanggungan itu mengetuk dengan kepala merunduk. Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia. Turis rupa-rupa bangsa, yang mencari-cari makanan eksotis, menemukan yang mereka buru di situ. Mereka yang dikejar-kejar pemerintah Indonesia menjadikan restoran yang taplak mejanya berwarna merah itu sebagai pusat temu kangen. Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari. Seperti ada wabah lepra di situ.

Restoran bertaplak merah itu menarik perhatian Jio, teman Bro ketika masih di Jakarta. Jio yang tak tahan menanggung siksa membelot menjadi interogator terhadap para tahanan politik yang adalah kawan-kawannya sendiri. Dia pelukis, dan dialah yang memberikan ilham jahat kepada penguasa militer, bahwa di pedestal, di atas tempat patung Dirgantara akan ditempatkan, yang lancip berdiri diperempatan Pancoran, Jakarta, adalah patung pencungkil mata. Untuk membangkitkan amarah masyarakat terhadap pembunuhan jenderal, koran-koran yang berada di bawah kontrol militer, yang bernafsu untuk menjatuhkan Soekarno dengan membantai para pendukungnya, melansir berita bahwa para jenderal, setelah dibunuh, dimutilasi dalam seribu potong. Dicungkil matanya. Patung pencungkil mata itu buktinya.

Sebelum meninggal karena dibunuh kencing manis, Jio berniat memata-matai restoran bertaplak merah itu. Tak sulit buatnya. Kekuasaan dekat ketiaknya. Duit, apalagi. Dia pun terbang ke Paris. Bro kaget ketika melihat Jio sudah berdiri di depan hidungnya. Nama Jio dan seluruh kelakuannya sudah lama jadi bahan cemooh di kalangan mereka yang terdampar di Eropa. “Apakah sudah sejauh ini tugas yang diterima kawan ini…?” tanya Bro di dalam hati.

Tenang, dengan keramahan setengah hati, dia melayani tamu istimewanya hari itu. Yang tidak bisa dia patuhi adalah ketika Jio ingin menginap di apartemennya. “Apakah sebagai interogator dan intel, tugasnya termasuk memenggal kepalaku selagi tidur?” teriak Bro di dalam hati.

“Ingat kau,” tiba-tiba dia berbicara dalam nada tinggi, tak tahan membendung amarah. “Ini bukan Kota Paris, sarang lonte di Senen, Jakarta. Ini Paris, ibu kota negara di mana hukum jadi ukuran peradaban. Ini bukan negaramu, negara hukuman…!” Sebagai warga negara Prancis, Bro tentu tak bisa disentuh seorang pendurhaka semacam Jio.

Bro adalah sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, yang tiada tara. Bertahun menetap di Beijing. Dihinakan Revolusi Kebudayaan. Kehilangan istri di sini. Melompati Tembok Besar, melarikan diri ke Eropa. Berpuluh tahun hidup bukan dari buku, tetapi dari ulekan sambal di dapur.

Semasa anak-anak, kami sepengajian. Kuingat benar, tiga kali kami tamat membaca Alquran. Tiga kali pula diupah-upah berbarengan. Tapi, ah…. Lututku lemas. Empat tahun sebelum Bro jatuh terduduk dan tak bangun-bangun lagi di restoran bertaplak merah itu, agama yang sama-sama kami yakini ternyata dia tinggalkan. Ke mana pun pergi, sebentuk salib perak menggantung pas di tentang jantungnya. Apakah perjalanan hidup yang kelabu, yang dia tempuh berpuluh tahun, sama menyiksanya dengan yang dialami kawan-kawannya di tahanan dan di pulau pembuangan Indonesia, di mana para penceramah agama dan Pancasila menyumpahi mereka sebagai komunis, biang kufur?! Membuat iman si pesakitan guncang?!

“Seberat apa pun cobaan, pantang kami menyerahkan iman.” Itu kata penyair Aceh, sahabat Bro, begitu mendengar kabar terakhir tentang dirinya. Pengusung salib sejati Bro juga tidak. Dia bersahabat dengan seorang pendeta Buddha yang sama-sama ditindas komunis radikal di Tiongkok tempo hari. Cahaya persahabatan itulah yang di kemudian hari mengilhami Bro dalam mengatasi kemusykilan ketika akan menuliskan wasiat kepada anaknya, dengan jalan bagaimana dia akan kembali kepada pencipta-Nya. Sebab, dia ingin jasadnya yang sudah ditinggalkan rohnya—ibarat rumah yang sudah kosong—tidak hanya berada di Paris, tetapi juga ada di Amsterdam, Beijing, Berlin, dan Nantalu. Bro memilih jalan kematian seorang Buddhis: kremasi.

Bro telah menulis beberapa buku kenang-kenangannya semasa dia masih berada di Indonesia. Dalam bayanganku, Bro tentulah akan menulis sebuah buku dengan kisah yang merenggut perhatian, juga simpati, apabila dia menceritakan perjalanan hidupnya di daratan jauh. Dan menumpahkan pengakuan bagaimana kepercayaan, juga iman, telah menjadi permainan yang lapuk dalam sebuah perjalanan hidup yang buruk dan tak pernah dia mimpikan.

Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna “yang kalah,” air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. “Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.” Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga… [ ]

Tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010