18 September 2017

Skandal Korupsi Pejabat Agama di Wilayah Bandung




Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi

Pada 1910, Surat Kabar Mingguan (SKM) Medan Prijaji telah memasuki tahun penerbitan yang keempat. Sejumlah perubahan dilakukan. Di antaranya pergantian Redaktur Biro Perwakilan Priangan yang sebelumnya dijabat R. Djojo Sepoetro (pensiunan Demang Mester Cornelis) digantikan oleh Raden Ngabehi Tjitro Adhi Winoto. Nama terakhir sebelumnya bekerja sebagai Kepala Redaktur "Pewarta Hindia".

Biro Perwakilan Priangan ini beralamat di kantor N.V. Medan Prijaji yang terletak di Alun-Alun Bandung, menempati gedung bekas kantor kadaster. Sedangkan yang bertindak sebagai Kepala Redaktur S.K.M. Medan Prijaji saat itu adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang berkantor di Bogor. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam S.K.M. Medan Prijaji ini diumumkan dalam edisi No.1 tahun keempat yang diterbitkan pada tanggal 8 Januari 1910.

Medan Prijaji adalah salah satu surat kabar penting dalam sejarah Indonesia. Diinisiasi oleh Tirto, Medan Prijaji dengan lekas menjadi surat kabar terkemuka karena terhitung berani menyuarakan kepentingan publik di hadapan struktur birokrasi kolonial Hindia Belanda. Tirto menjadikan Medan Prijaji sebagai pengawal kepentingan publik dan tak segan-segan menghantam aparat birokrasi.

Aksi-aksi pembelaan lewat media yang telah dilakukan Tirto itu merupakan wujud jurnalisme advokasi, dan Tirto adalah orang Indonesia pertama yang melakukannya, bahkan sejak ia masih bekerja untuk Pembrita Betawi pada kurun 1901 hingga 1903. Tirto juga orang Indonesia pertama yang memiliki dan menerbitkan media sendiri, yakni Soenda Berita, selepas undur diri dari Pembrita Betawi. Setelah Soenda Berita, Tirto menggagas penerbitan Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan pada 1907.

Dua koran inilah yang lantas menegaskan pilihan jurnalistik Tirto, yakni memberikan pembelaan warga lewat tulisan, dan jika diperlukan disediakan pula bantuan hukum untuk korban penindasan, tidak hanya oleh pemerintah kolonial tapi juga golongan penindas lainnya. Ruang pengaduan pembaca bahkan menjadi salah satu kekuatan utama Medan Prijaji.

Tidak hanya menghajar pejabat-pejabat Eropa, Medan Prijaji juga tidak segan mengkritik pejabat-pejabat bumiputera. Salah satunya, namun relatif jarang dibicarakan, adalah soal dugaan korupsi dana kas Masjid Raya Bandung.

Dana Kas Masjid yang Dipotong dari Bawah

Setelah menduduki jabatan sebagai Redaktur Biro Perwakilan Priangan, R. Ng. Tjitro Adhi Winoto langsung membuat laporan tulisan yang sangat mengejutkan. Dalam laporan investigatif yang dimuat dalam Medan Prijaji No. 3 tanggal 22 Januari 1910, Tjitro Adhi Winoto menurunkan berita mengenai penyelewengan dana kas Masjid Agung Bandung. Tahun 1910, Bandung sedang dilanda wabah kolera. Di tengah suasana itulah Medan Prijaji  -- melalui tangan Tjitro-- menurunkan laporannya.

Penghulu Bandung memperoleh informasi bahwa telah terjadi kecurangan yang dilakukan oleh beberapa naib dan juru tulis zakat di beberapa onderdistrik (distrik bawahan). Berdasarkan keterangan awal bahwa telah terjadi tindakan korupsi, Kepala Penghulu lantas melakukan pemeriksaan pada distrik-distrik bawahannya. Akhirnya diketahui adanya tindak penyelewengan di sebuah distrik berinisial P.S.

Tindakan penggelapan ini dilakukan dengan cara merobek lembaran buku catatan (register) cerai, rujuk dan nikah yang menjadi tanggung jawab naib. Setidaknya dua lembar buku catatan yang dirobek (artinya: dihilangkan) memuat 100 nomor perkara laporan cerai, rujuk dan nikah. Besarnya kerugian yang ditimbulkan perilaku curang ini kurang lebih sebesar f 200 karena untuk setiap perkara nikah pasangan pengantin harus membayar sebesar f2.

Menyusul temuannya itu, Kepala Penghulu kemudian memeriksa catatan distrik-distrik bawahan Bandung lainnya. Ia juga memeriksa bawahan-bawahannya di Masjid Agung Bandung, karena tidak mungkin akan terjadi penyelewengan jika tidak ada permufakatan jahat antara naib pencatat keuangan distrik bawahan dengan petugas pencatat di Masjid Agung Bandung.

Kecurigaan awal telah terjadinya penggelapan didasarkan pada semakin menurunnya jumlah dana kas masjid. Padahal telah terdapat aturan ketat dari Asisten Residen saat itu dalam mengatur dana kas masjid.

Menurut peraturan tersebut, berbagai dana setoran yang diserahkan oleh distrik-distrik bawahan Kabupaten Bandung dimasukkan ke dalam brankas di sebuah bank. Kunci brankas tersebut masing-masing dipegang oleh Kepala Penghulu, Bupati dan beberapa pimpinan Dewan Komite, untuk mempersulit terjadinya pembobolan.

Di awal tulisannya Tjitro pun mengutip mengenai peraturan dana kas masjid yang bertujuan untuk menjelaskan kepada publik yang masih beranggapan bahwa dana keuangan masjid seluruhnya dipegang oleh Kepala Penghulu. Sehingga mudah terjadi tindak penggelapan dana.

Terjadi Pada Masa Hasan Mustapa 

Dalam tulisan yang membuat malu institusi yang sama-sama berada di lingkungan Alun-alun Bandung, Tjitro tidak menyebutkan siapa nama Kepala Penghulu Bandung saat peristiwa memalukan tersebut terjadi. Namun berdasarkan tahun kejadian kasus tersebut, yaitu 1910, orang yang sedang menduduki posisi Hoofd Penghulu Bandung adalah Haji Hasan Mustapa.

Hasan Mustapa menjadi Kepala Penghulu Bandung sejak 9 September 1895 hingga 1818. Sebelumnya ia menjabat sebagai Hoofd Penghulu Aceh 1893-1895. Kepala Penghulu yang namanya melegenda di Bandung karena beberapa tindakannya yang dianggap nyeleneh ini memang memiliki syarat khusus saat dirinya akan ditempatkan di Aceh atas rekomendasi sahabatnya, Christian Snouck Hugronje. Salah satu permintaan khusus tersebut adalah jika posisi kepala Penghulu Bandung kosong, Hasan Mustapa menginginkan dirinya dipindahkan dari Aceh ke Bandung.
Namun kejadian yang membuat malu itu bukanlah yang pertama terjadi di masa kepemimpinan PHH Mustapa yang juga dikenal sebagai sastrawan Sunda terkemuka ini. Hasan Mustapa juga pernah mendapat teguran dari Asisten Residen mengenai penggunaan dana kas (baitul mal) Masjid Agung.

Teguran dari Asisten Residen itu kemudian dituliskan oleh Hasan Mustapa dalam salah satu bukunya yang terkenal membahas adat kebiasaan orang Priangan dan Sunda yaitu "Bab Adat-adat Urang Priangan jeung Sunda Lianna ti Eta" (1913). Sedangkan isi teguran dari Asisten Residen itu adalah: "Pihak gubernemen sudah dapat laporan, bahwa selama bulan puasa di masjid Kaum Bandung, orang cuma pesta-pesta saja."

Ada problem pemahaman kebudayaan di sini. Yang dimaksud Asisten Residen dengan "pesta-pesta" tadi bukanlah pesta-pesta macam di Kamar Bola atau Gedung Societet. Yang terjadi sebenarnya adalah penyediaan, atau suguhan, makanan berbuka puasa yang disediakan oleh Masjid Agung. Sekarang hal itu lazim disebut "takjil".

Selain itu, ada juga makanan teman ngopi bagi mereka yang melakukan tadarusan di Masjid Agung Bandung, biasanya setelah salat tarawih. Istilah untuk makanan tersebut adalah "jajabur" (di beberapa daerah, misalnya di Cirebon, disebut "jaburan"), yaitu makanan berupa kue-kue dan makanan yang manis-manis. Penyediaan makanan tadi menggunakan dana khusus yang sudah ditentukan. Sebenarnya banyak pula makanan yang merupakan kiriman dari rumah-rumah di sekitar masjid.

Menurut Haryoto Kunto dalam bukunya Ramadhan di Priangan, dana khusus tadi didapat dari setoran zakat hasil bumi (in natura) yang melimpah. Adapun barang zakat hasil bumi yang disetorkan ke kas Masjid Agung saat itu, berdasarkan buku karya Hasan Mustapa yang berjudul Buku Leutik Jadi Pertelaan Adatna Jalma-jalma di Pasundan (1916) terdiri dari padi, kopi dan hasil bumi lain, seperti jagung, ketela dan kelapa.

Sedangkan Asisten Residen hanya berpatokan pada Surat Sekretaris Gubernemen yang Pertama No. 1893 bertanggal 4 Agustus 1893 tentang "Aturan Kas Mesjid, Zakat Dan Fitrah". Surat itu berisi:

"Dimana telah menjadi adat, bahwa sebagian dari pada uang zakat dan fitrah itu harus dimasukkan ke dalam kas mesjid, maka pemerintah harus mengawasi dengan keras, baik tentang hal itu ada peraturan yang tertulis, baik pun tidak, supaya barang atau uang itu hanyalah dipakai buat keperluan agama Islam saja dan supaya isi kas itu jangan lebih daripada keperluan agama di tempat itu."

Kesalahpahaman pemerintah kolonial dalam melihat adat kebiasaan penggunaan dana kas masjid, yang pada dasarnya dipicu oleh ketidakmampuan memahami adat dan kebiasaan setempat, coba diperbaiki dengan keluarnya Bijblad No. 1892 dan No. 6200 yang berbunyi:

"Menurut kejadian yang terdengar oleh Tuan Besar Gubernur Jenderal maka nyatalah bahwa amtenar Eropa acapkali salah mengerti tentang sifatnya dan maksudnya uang dan barang yang dikumpulkan oleh Bumiputera yang beragama Islam, baik derma itu diberikan dengan kehendaknya sendiri, maupun dengan paksaan sedikit; dari sebab itu kadang-kadang amtenar Eropa itu membuat aturan yang berlawanan dengan maksud uang dan barang itu, sedang sebaliknya kerap kali diadakan pengawasan yang kurang cukup atas banyaknya pungutan yang diminta oleh ulama dari rakyat yang beragama Islam begitu pula atas pembagian peroleh itu dan atas urusannya." (Mohammedaans Indlandse Zaken).

Kekayaan Para Pejabat Agama Bandung 

Besarnya penghasilan pejabat keagamaan saat itu, yang terdiri dari Kepala Penghulu, Penghulu, naib, amil, khatib dan modin, dijelaskan oleh Nina Lubis dalam bukunya Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Gaji Kepala Penghulu saat itu adalah sebesar f 135.  Besarnya gaji tersebut masih ditambah dengan penghasilan khusus bagi pejabat keagamaan yang  berbentuk  uang, berbentuk barang komoditas pertanian (in natura) serta dalam bentuk tenaga kerja.

Penghasilan berupa uang yang terdiri dari uang ipekah, yaitu uang untuk mengurus perkawinan, uang waris yang diambil sebesar 10% dari jumlah harta waris yang dibagikan dan uang pajak perhiasan emas yang besarnya 2 real emas atau 20 real perak.

Penghasilan yang bukan berupa uang (in natura) di antaranya adalah zakat hasil sawah yang berupa padi. Walaupun pada awalnya zakat ini bersifat sukarela namun seiring berjalannya waktu sifatnya berubah menjadi keharusan. Selanjutnya adalah penghasilan dalam statusnya sebagai amil zakat dari zakat fitrah hasil ladang yang dibayarkan setiap akhir Ramadhan maupun berupa zakat ternak yang populer di Bandung berupa hewan kerbau (munding).

Menurut kesaksian Andries de Wilde, pemilihan zakat kerbau ini untuk mencegah pembegalan yang sering terjadi di awal abad XIX saat kondisi keamanan wilayah Bandung masih rawan kejahatan. Setidaknya jika zakat dalam bentuk hewan ternak berupa kerbau tidak akan mudah dibawa begitu saja oleh pencoleng dibandingkan dengan zakat dalam bentuk uang.

Selain berbentuk uang dan barang pertanian dan peternakan, pejabat kegamaan juga memperoleh penghasilan dalam bentuk tenaga manusia. Biasanya mereka yang melakukan pernikahan diwajibkan untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu sebagai pajak pernikahan.

Pendapatan khusus tadi dikumpulkan dari berbagai distrik bawahan suatu kabupaten. Pengumpulan dilakukan petugas amil yang melaporkan pada juru tulis zakat yang memberikan laporannya pada penghulu distrik. Kemudian penghulu distrik memberikan laporan pencatatan pada kepala penghulu di ibukota kabupaten.

Masing-masing pejabat keagamaan memperoleh persentase tertentu sesuai dengan jabatan yang diembannya. Menurut Nina Lubis pembagian pendapatan zakat padi sepertiga bagian diberikan untuk petugas pengairan, naib, amil dan juru tulis distrik. Sedangkan dua per tiga sisanya dibagikan pada kepala penghulu, kalipah dan juru tulis zakat kabupaten. Bahkan dari dana tersebut ada bagian yang diperuntukan kepala pesantren, khatib dan modin kabupaten, fakir miskin dan tamu kabupaten serta tamu distrik.

Mencuri di Institusi yang Mestinya Suci

Haryoto Kunto kurang lebih menyatakan hal yang sama dengan Nina Lubis mengenai pembagian dana zakat yang berupa uang, hasil bumi dan kerbau. Menurutnya 90% dana yang terkumpul dimasukan dalam dana kas masjid agung. Sedangkan 10% sisanya dibagikan untuk kepala penghulu dua pertiga bagian, sisanya untuk petugas amil.

Sedangkan menurut R. Ngabehi Tjitro Adhi Winoto dalam tulisannya di Medan Prijaji, sisa dana yang masuk ke kas Masjid Agung Bandung hanya sebesar 5%. Dana kas yang disetorkan tersebut adalah dana setelah dipotong untuk pendapatan golongan Kaum yang mengurusi bidang keagamaan. Sedikitnya dana yang masuk ke dalam kas masjid membuat keuangan baitul mal menjadi kurang kuat.

Hal tersebut masih diperparah penyelewengan yang dilakukan oleh naib di distrik bawahan Bandung. Sehingga dana kas Masjid Agung Bandung semakin hari semakin berkurang. Besarnya penghasilan pejabat keagamaan yang didukung oleh aturan yang ketat yang dibuat oleh pemerintah kolonial nyatanya tidak menjamin intstitusi suci ini lepas dari masalah korupsi.

Jika coba melihat pada kondisi saat ini yang terjadi tidaklah berbeda dengan masalah uang kas Masjid Agung Bandung tadi. Sebutlah korupsi dana Al-Quran dan korupsi dana haji di Kementerian Agama yang bahkan menyeret nama pemimpin departemen yang mengurusi agama di negeri ini. Fenomena ini membuktikan bahwa kelakuaan miring bisa dilakukan oleh siapa pun, termasuk oleh mereka yang bekerja di institusi-intitusi keagamaan. (tirto.id - arw/zen)

Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 3 Juli 2017 

10 September 2017

Kisah Asisten Rumahtangga




Satu keluarga Amerika Serikat melakukan perjalanan panjang ke Iran. Mereka hendak mencari keluarga mantan pembantu rumahtangganya. Sentimen antar kedua negara mewarnai perjalanan, namun berkat rasa rindu yang dalam, akhirnya mereka berhasil bertemu dengan apa yang mereka tuju. Terence Ward, salah satu anak keluarga Amerika tersebut, menuliskan kisah perjalanan itu dalam buku The Hidden Face of Iran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judulnya aslinya Searching for Hassan: a journey to the heart of Iran.

Pertemuan dua keluarga beda negara yang telah dipisahkan waktu selama lebih dari 29 tahun berlangsung mengharukan. Kemesraan kemanusiaan menyengat dari perjumpaan itu. Dalam satu fragmen, Terence Ward menuliskan percakapannya dengan Hassan, pembantu yang pernah menemaninya tumbuh ketika ia tinggal di Iran.

“Bahkan orang yang bersaudara pun tidak akan melakukan apa yang kalian lakukan. Aku menceritakan ini kepada salah seorang temanku, dan dia merasa terharu. Aku mengatakan kepadanya bahwa tiga puluh tahun yang lalu, aku bekerja untuk ibu dan ayahmu, dan mereka pergi ke tempat yang jauh. Lalu, mereka kembali, melewati lautan dan melintasi gurun. Aku mengatakan padanya bahwa cuaca sangat panas, gurun sangat panas, dan mereka tetap datang. Dia berkata, ‘Oh, aku tak bisa memercayainya,’” ujar Hassan.

Mojezeh, Fatimeh (istri Hassan) mengatakannya kepadaku kemarin,” sambungnya.

“Apa maksudnya?” Tanya Tery (panggilan akrab Tertence Ward)

“Sama seperti ketika seorang pria meninggal dan Isa menghidupkannya kembali, inilah mojezeh.”

“Bangkit dari kematian?”

“Ya.”

“Aku merasakan bulu kudukku meremang. Hassan menatap mata kami,” sambung Tery.
Kemudian Hassan berkata, “Dalem barayeh shoma tang meshavad, aku benar-benar merindukan kalian.”

Pembantu rumahtangga (PRT) atau sekarang sebagian orang menyebutnya asisten rumahtangga (ART), kerap mewarnai perjalanan hidup sebuah keluarga. Profesi yang bersentuhan langsung dengan lingkungan keluarga tersebut tak jarang melampaui sekadar transaksional ekonomi. Dari ijab ini, dalam perjalanannya sering kali ada ikatan emosional yang dalam. ART tak jarang dianggap sebagai keluarga sendiri, seperti yang ditulis Terence Ward di atas.

Karena keunikan hubungan ini, profesi ART sering melahirkan kisah yang tak sederhana. Di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya, kisah hubungan ART dan keluarga tempat mereka melakukan kewajibannya—kecuali kekerasan dan tindak kriminal lainnya, jarang diangkat ke permukaan. Untuk mengisi kekosongan itulah kisah ini dituliskan.

Ropiatu Jaliah yang akrab dipanggil Oppi, adalah seorang ibu muda yang bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia tinggal di Rancaekek. Sekali waktu ia kelimpungan karena ART-nya pergi tanpa pesan. Suatu hari, Umi—nama ART-nya, tidak muncul. Yang datang malah ibunya Umi dan mengabarkan bahwa anaknya tidak bisa bekerja seperti biasanya karena kabur ke Tasikmalaya. Umi pergi karena tidak mau dijodohkan dengan teman bapaknya.

Sebagai seorang blogger, Oppi kemudian curhat, menuliskan kejadian tersebut.

“Satu bulan yang lalu adalah termasuk masa-masa kelam aku sekeluarga, karena kita semua tiba-tiba ditinggal Umi pergi. Pergi begitu saja, tanpa alasan tanpa sepatah kata pun. Cuma lewat ibunya yang datang pagi itu memberi kabar kalau Umi kabur dari rumah. Ouch! Kita semua shock,” tulisnya di laman blog opipolla.com yang bertitimangsa 14 September 2016.

Oppi telah dua kali ganti ART. Umi adalah yang kedua, dan telah bekerja selama dua tahun. Umi seperti juga pendahulunya, tinggal tidak jauh dari rumah Oppi. Ia bekerja dari pagi sampai petang, sampai Oppi dan suaminya pulang kerja. Dihubungi via salah satu aplikasi pesan, Oppi mengatakan bahwa ia dan keluarga, dalam keseharian sudah dekat dengan Umi. Rasa rikuh hampir tidak ada. Oppi juga kenal dan dekat dengan orangtua Umi. Maka ketika Umi pergi, Oppi sangat kaget.

You know kan ya mencari dan mengganti nanny itu ga semudah ganti baju. Tinggal lep. Ngga. Apalagi nanny yang sudah ikut kita selama dua tahun lamanya dan mengurus Endo sejak dia usia empat bulan. Umi udah kaya ibu keduanya Endo. Umi sudah masuk ke list orang yang Endo sayangi dan salah satu sumber kebahagiaan Endo. Iya, Endo tanpa Umi sudah kaya ambulance tanpa uwiw uwiw. Sepi,” sambungnya.

Kedekatan Umi dengan Endo (anak Oppi) dikisahkannya dengan liris. Setiap kali bangun dari tidur, Endo mencari Umi. Bocah itu mencarinya ke dapur, kamar setrika, dan berakhir melamun di jendela sambil menangis. Ia menunggu Umi, pengasuhnya yang telah pergi ke Tasikmalaya.     

Awalnya Oppi mau mencoba menyusul Umi ke Tasikmalaya, namun ia dan ibunya Umi tak tahu alamat lengkapnya. “We had no clue,” tulisnya. Ia akhirnya hanya bisa menunggu, siapa tahu Umi akan balik. Namun setelah cukup lama Umi tak juga kembali. Oppi akhirnya memutuskan untuk mencari pengasuh lain.

Tulisan yang diberi tajuk Umi Pergi itu mendapatkan respon dari para pembaca yang hampir semuanya pernah mengalami apa yang menimpa Oppi.

“Saya juga sudah pernah dua kali ditinggal pergi pengasuh anak. Sedih dan BT-nya memang bikin putus asa banget. Semoga si Bami (ART barunya) beneran lebih baik dari Umi ya,” tulis seorang pembaca bernama Tatats.

Sementara pembaca lain yang bernama Eva Sri Gustiya menulis, “Baca tulisan Oppi, aku merasa bersyukur mertua bersedia mengasuh, walaupun kadang dibawa mawa gas, balanja ka langgan, dibawa ka sakola, hahahaha... Racing pisan weh.”

***

Joko Suseno, seorang bankir di salah satu bank swasta nasional punya kisah yang agak berbeda degan Oppi. Ia tinggal di Jalan Haji Gofur, perbatasan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Istrinya sekantor dengan Oppi. Ia telah berganti ART sebanyak tiga kali. Meski ia dan keluarga kecilnya dekat dengan ART, namun tak ada yang bertahan lama.

“Nya, paling lila dalapan bulanlah,” ujarnya via WhatsApp.

Para ART yang bekerja di rumah Joko semuanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat. Mereka berhenti bekerja dengan alasan yang sama, yaitu hendak menikah lagi. Ya, ART yang bekerja di rumah Joko memang semuanya janda. 

Joko menambahkan bahwa yang paling utama dari kehadiran ART bagi keluarganya adalah membantu pekerjaan rumah. Ia dan istrinya yang seharian bekerja di kantor kerap sudah kelelahan ketika pulang ke rumah.

Sejak ART terakhir keluar, anaknya yang masih kecil dijaga oleh mertuanya. Kini ketika mertuanya sudah meninggal dunia, pekerjaan rumah dan menjaga anak dilakukan oleh adik mertuanya.    

***

“Dari tiga kali ganti, ada yang paling deket sampai kenal dengan keluarganya. Kalau pulang kampung dianterin balik ke Cimahi sama keluarganya dan dibawain oleh-oleh dari kampung yang buanyaakkk banget,” ujar Elisabeth Hennida, warga Kebon Kopi, Cimahi.

Ia biasa dipanggil Ibeth. Menurutnya, para ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Purwokerto dan Cianjur. Salah satunya pernah bekerja sampai lima tahun. Namun kini ketiganya sudah keluar dengan alasan mau menikah.

“Mereka memang masih muda-muda,” tambahnya.

Kini Ibeth dan keluarganya mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah.
***
Fina Bhakti Pertiwi kini tinggal di Sukabumi. Sebelumnya ia pernah bermukim di Sarijadi, Bandung. Dalam dua puluh bulan, ia telah berganti ART sebanyak delapan kali.

“Ada yang baru kerja dua minggu tapi sudah keluar,” katanya.

ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Ciamis, Banjar, Banjar Sari, Tasikmalaya, dan Bandung.

Ketika ia dan suaminya masih bekerja, pergantian ART ini tentu sangat merepotkan. Anaknya masih kecil, sementara pekerjaan tak bisa berlama-lama ditinggalkan. Setiap kali ART-nya keluar, ia didera stres. Selain itu, pernah sekali dua ia mendapatkan ART yang masih muda. Ia sering mendapati ART-nya lebih sibuk bercakap di telpon dengan pacar dibanding mengerjakan kewajibannya.

Alasan ART-nya keluar cukup beragam: hendak menikah, disuruh pulang oleh suami ART, mau ngurus anak, mau kerja di toko, sakit, sampai ada yang merasa takut karena konon melihat hantu.

Semua ART yang bekerja di rumahnya digaji tak kurang dari satu juta rupiah. Jika mereka hendak pulang kampung, Fina memberinya ongkos pergi-pulang. Selain itu, ia pun membelikan keperluan kosmetik para ART-nya. Namun apa yang diberikannya ternyata tak mampu menahan para ART untuk pamit berhenti bekerja.

***

Setelah ditinggal para ART—kecuali Oppi—Joko, Ibet, dan Fina, meski tak melakukan perjalanan seperti keluarga Terence Ward, semuanya mengaku kadang masih berhubungan via telpon dengan beberapa mantan ART-nya.

“Say hello saja,” ujar Fina.

Kisah beberapa keluarga di Bandung Raya dengan asisten rumahtangganya, setidaknya seperti yang dipaparkan di atas, mencuatkan sebuah kesadaran tentang liku keinginan manusia. ART meski bekerja di sektor informal dan kerap dipandang sebelah mata, tetap seperti orang kebanyakan: ia punya hasrat membangun keluarga, menaikkan derajat hidup, dan punya persoalan pribadi yang rumit.

Secara kebetulan ART dalam bahasa Inggris artinya seni. Dalam konteks ini, kiranya tak berlebihan jika ART dan segala persoalannya adalah seni. Ya, seni memahami dan memperlakukan manusia.

Dalam penutup buku catatan perjalanannya Terence Ward mengutip Rumi:

“Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Aku akan menemuimu di sana.”

Menemui di mana? Barangkali di tanah yang bernama kemanusiaan. (preanger.id -irf)