Pages

Tuesday, August 23, 2016

Mencatat Perjalanan

Barangkali bepergian dalam hidup adalah cermin dari hidup itu sendiri: sebuah perjalanan tanpa tiket pulang, persis seperti lakon dalam film “Le Grand Voyage” dan “Into The Wild”. Setidaknya dari dua film ini, perjalanan tak hanya sewujud piknik namun parade meniti ruang dan waktu yang kudus dan sakral. Pergi tanpa (kepastian) kembali adalah sebenar-benar riwayat manusia yang mesti dipersiapkan dan dijalani dengan kesungguhan ikhtiar. Chairil Anwar menulisnya dengan kalimat “sekali berarti sudah itu mati.”

Bila tensinya agak diturunkan, perjalanan tetaplah sebuah rekreasi yang fungsinya untuk (terutama) menyegarkan rohani yang teresidu oleh rutinitas kehidupan yang kerap menumpulkan kesadaran dan memburamkan mata batin. Dari perjalanan Soe Hok Gie ke puncak-puncak gunung sampai darma wisata anak-anak SMP yang ceria menelan hidup usia muda, semuanya tak bisa lepas dari upaya “pembersihan” ruang penat dan bosan yang mungkin hampir berjelaga. Ya, perjalanan memang bukan hal baru, telah terlalu tua malah. Dalam risalah keagamaan pun hal ini begitu jelas ditatah oleh para nabi dan orang-orang suci lainnya.

Di kehidupan hari ini, perjalanan kembali menjadi sebuah laku populer yang banyak dijalani oleh banyak orang. Tua-muda berlomba lari dari rutinitas demi keindahan yang tak-tepermanai. Jika menilik para penulis catatan perjalanan, kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga.

Hal tersebut memang tak salah, toh pada rekreasi seperti itu pun porsi menyegarkan rohani punya haknya. Namun jika ditilik ulang, kehidupan manusia sebetulnya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan keindahan alam. Bagaimana misalnya para nelayan yang tak peduli dengan senja, petani kentang yang menghela hidup sedepa demi sedepa, guru SD yang mesti menyeberangi jembatan ringkih demi mencapai sekolah, nenek-nenek pemecah batu, dan masih banyak lagi. Manusia dengan segala dinamika hidupnya terkadang lebih puitis dari pesona alam yang dijejakinya.

Namun demikian, catatan ini tak hendak membuat polarisasi, hanya sekadar menawarkan dua sisi mata hidup dalam perjalanan, yaitu mencoba meraba alam dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Kedua hal tersebut selamanya adalah teman sejati bagi setiap pejalan, petualang, pengembara, dan mungkin para pecundang yang tak berani menghunus pedang di medan laga kehidupan.

Komunitas Aleut sebagai sebuah kelompok yang berminat dan berkhidmat pada sejarah kota, alam, dan dinamika manusia, juga adalah sekumpulan orang yang sering melakukan perjalanan. Setidaknya seminggu sekali, dengan metode jalan kaki dalam berbagai penelusuran, sudah banyak mengalami  perjalanan dan menuangkannya dalam catatan. Mencatat, seturut mantra “scripta manent verba volant” bisa jadi bukanlah jalan abadi, namun setidaknya ada proses pewarisan risalah yang bisa dibaca ulang oleh generasi selanjutnya. Dalam catatan ada spasi perenungan yang bisa dihela dan dibaca perlahan.

Dari sini sebuah pertanyaan kemudian menyeruak, catatan perjalanan seperti apa yang kira-kira tak hanya menawarkan pesona, namun juga bisa memberikan petunjuk jalan yang akurat agar bisa dinapaktilasi oleh para pembaca? Hal terpenting tentu saja keterangan rute dan tempat. Sehimpunan data dan informasi selayaknya menjadi pengiring yang setia dari setiap narasi yang hendak dihiperbola, misalnya. Pada semburat langit jingga mesti ada juga keterangan di mana lokasinya, cahaya rembulan keemasan pun memerlukan nama ruang jejaknya, bahkan jika terjebak dalam sebuah wilayah konflik pun tetap harus ada asma siapa saja yang bertikai dan di mana kejadiannya. Mencatat perjalanan tak hanya rentetan deskripsi pesona dan tragedi, namun juga presisi.

Dari rumusan inilah kemudian Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin Komunitas Aleut yang Sabtu ini akan masuk pekan ke-57, mencoba mendiskusikan hal-hal tersebut di atas. Dengan beberapa buku catatan perjalanan sebagai bahan pembanding dan inspirasi, kami hendak belajar dan mengevaluasi apa-apa yang telah dan tengah dikerjakan. Jeda untuk mengakrabi teks seperti biasa tidak terlalu leluasa, sebab seminggu dengan bauran kesibukan di dalamnya tentu bukan waktu yang ideal untuk benar-benar memahami ratusan halaman catatan perjalanan. Tapi seperti pekan-pekan sebelumnya, sesempit apapun, kami tetap mencoba melakoninya.   

Muara dari tema yang diusung pekan ini tentu saja pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Adapun perjalanan, seperti yang telah diurai pada alinea-alinea sebelumnya, apakah itu sebagai laku suci dan sakral, ritus penyegaran rohani, atau hanya sekadar bersenang-senang tanpa tendensi apapun, selalu menggoda untuk kita jalani lagi dan lagi. Dan di ruang literasi yang kita jalankan bersama, kiranya perjalanan tak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dijalani dan selesai, namun juga disimpan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk catatan. [irf]   

Tuesday, August 16, 2016

Para Penggagas dan Penatah Indonesia

17 Agustus sudah di muka. Inilah titimangsa itu. Pintu gerbang yang dicitakan, sekaligus ada ragu di seselanya, yang lahir dari masa darurat di waktu berat. Jauh sebelumnya, kemerdekaan yang ditandai dengan sesobek esai pendek bertenaga yang bernama proklamasi, adalah jalan terjal dan berliku yang dipanggul oleh beragam wajah, aneka ideologi, jutaan anak revolusi, namun satu semangat yaitu terbebas dari neraka horizontal yang bernama kolonial. Merdeka narasi tunggal di satu sisi, namun penggagas dan penatahnya adalah rupa bhineka yang tak hanya sewujud bintang dan bulan sabit, palu dan arit, atau wajah bumi dan langit.

Jika sejarah pada akhirnya ditulis oleh rezim dengan kekuatan politiknya dan hanya mempolarisasi antara pahlawan dan pembangkang, atau malaikat dan setan, namun riwayat yang tercatat tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Kita—generasi yang lahir dan tumbuh di tengah doktrin rezim, kini punya kesempatan untuk menggeledah dan mengkoreksi narasi itu, meski mungkin tak sepenuhnya. Kita bisa mengunyah kisah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan para pahlawan lainnya, sekaligus juga bisa memamah cerita Aidit, Njoto, Daud Beureuh, Sam, Musso, dll yang kadung dicap pemberontak dan pengkhianat republik.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,” begitu kata Nyai Ontosoroh dalam prosa terkenal Pramoedya Ananta Toer. Kiranya pepatah ini bisa juga ditujukan kepada kita dalam membaca, menilai, dan mengapresiasi manusia-manusia pelopor yang telah berkalang tanah di taman luas sejarah republik yang bernama Indonesia. Di titik ini masalalu, mestinya, tak lagi berwujud sebuah lukisan hitam-putih yang mudah diadili dan divonis mati, namun barangkali bisa menyorongkan juga sikap bijak-bestari dalam memandang risalah kemerdekaan dan ke-Indonesia-an.

Dari pemetaan inilah kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut yang masuk pekan ke-56 mencoba mengusung tema. Beberapa teks telah dipilih, dan kami memutuskan untuk menjadikan TEMPO dengan buku serialnya sebagai media untuk menyelami sejarah itu. Dari perspektif pemilihan sumber bacaan keputusan ini mungkin bukan yang terbaik, sebab TEMPO dengan segala kontroversi yang menyertainya tidak bisa dijadikan rujukan tunggal tentu saja. Namun kami pun telah menimbang beberapa hal: Pertama, TEMPO menulis sejarah dengan mata pisau reportase jurnalisme sastrawi yang kemudian menghadirkan tulisan-tulisan sejarah yang mudah dikunyah. Kedua, TEMPO tidak hanya menghamparkan masalalu, tapi juga masakini yang terpahat dalam penelusurannya terhadap jejak-jejak yang tersisa. Dua hal itulah yang kami rasa sesuai dengan kondisi para pegiat Komunitas Aleut—yang meski terbiasa menyuntuki sejarah, namun tak banyak yang mengakrabi periode di sekitar kemerdekaan.     

Baru-baru tersiar kabar bahwa lukisan karya Galam Zulkifli yang terpasang di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta diturunkan karena disinyalir menyertakan wajah Aidit. Lukisan berjudul “The Indonesia Idea” itu menghamparkan 600-an wajah anak bangsa yang hadir berparade dalam titian sejarah republik. Zulkifli sepenuh sadar bahwa Indonesia sejatinya adalah proyek coba-coba yang tak hanya diusung oleh para “pahlawan”, namun juga “pemberontak” yang kalah bertaruh dan tersisih dari arus utama. Kasus ini menabalkan satu hal, bahwa tantangan masih menggantang, tentang phobia yang masih menggelapkan mata dan logika. Indonesia dalam banyak benak, seolah digagas dan ditatah oleh para pemenang saja. Doktrin ternyata belum sepenuhnya luruh dan pudar. Kelas Literasi pekan ini kiranya adalah sebuah ikhtiar untuk menyigi “ruang gelap” itu. [irf]

Monday, August 15, 2016

Surat untuk Alina yang Ditulis dari Ranca Bayawak

Alina sayang…

Ketiadaan alamat membuat semua surat untukmu tak memiliki tempat. Anggaplah kamu telah menjadi semesta, tidakkah siang itu kamu melihatku tengah berdiri di atap masjid itu?

Burung-burung kuntul dan blekok beterbangan dan hinggap di rumpun-rumpun bambu. Kepak mereka begitu menawan, membawa kabar jutaan mil jarak tempuh yang telah dilalui. Siapa bilang jarak begitu bekhianat? Ketiadaanmu melebihi jarak, waktu, dan segala.

Kampung berpenghuni ratusan jiwa manusia ini telah dikepung proyek-proyek raksasa. Batas-batasnya begitu jelas dan menganga. Alat berat berdiri kokoh di kejauhan, dan patok-patok wilayah setegas garis sungai yang mati itu.

Alina bara apiku…

Di sini, di kampung Rawa Bayawak yang jaraknya tak sampai satu jam dari pusat Kota Bandung, warga kini tengah berjuang sekuat yang mereka bisa, untuk menghalau para penawar tanah moyangnya. Ya, tanah yang ini juga dari dulu, tempat kawanan burung itu merasa nyaman untuk singgah dan menetap di rumpun-rumpun bambu.

Pagi kala semburat mentari menerobos pohon-pohon selong, dan rembang petang saat adzan magrib berkumandang, kawanan burung-burung itu pergi dan pulang. Langit berhiaskan ratusan kepak sayap, sebuah pemandangan indah yang ingin aku kerat untukmu, Alinaku.

Alina manisku…

Jika suatu waktu yang entah kapan kamu main ke sini, bercengkramalah dengan warganya. Mereka punya beberapa kuliner khas yang mungkin kamu sukai. Bicaralah dan dengar keluhan serta harapan-harapan mereka, lalu kabarkan kepada orang-orang, bahwa di tengah gelisah pembangunan kota, masih tersisa sekerat harapan warga dan ruang hayat bagi kawanan burung-burung itu. [irf]

Thursday, August 11, 2016

Teror Kampus, Muhidin, dan “Jalan Sesat”

Ruangan student centre penuh dengan asap rokok dan gelas plastik berisi kopi. Saya dan kawan-kawan sedang rapat persiapan menyambut mahasiswa baru angkatan 2003. Siang itu agendanya adalah pemilihan ketua pelaksana OSPEK jurusan. Seperti juga yang lain, saya bolos dari kelas. Mata kuliah Kewirausahaan ditinggalkan. Rapat memutuskan saya sebagai ketua pelaksana. Buat saya, ini adalah keputusan yang kurang nyaman. Selama aktif di organisasi kemahasiswaan saya selalu memosisikan diri di belakang layar: dari Himpunan sampai BEM. Departemen Kajian Strategis selalu menjadi pos pilihan. Sekali ini tantangan hadir di muka, saya mesti menjadi sosok paling depan. Keputusan sudah diambil, dan saya tak boleh mundur.

Selesai rapat, kelas sudah bubar. Seorang kawan datang menghampiri, “Bung, tugas Kewirausahaan sudah bikin?” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya singkat. Dia kemudian melanjutkan bahwa tugas itu sudah dikumpulkan ke dosen yang bersangkutan, dan saya mesti segera menyetorkannya. Saya bergegas menuju ruangan dosen di lantai dua. Di ambang pintu saya berhenti dan mendapati ruangan telah kosong. Dengan tugas di tangan, saya masuki ruangan dosen lalu meletakkannya di di atas tumpukan tugas kawan-kawan yang lain.

Besoknya saya dipanggil dosen Kewirausahaan dan dicecar kemarahan tanpa ampun karena ia mendapati mejanya berantakan. Saya bilang, benar saya kemarin bolos dan terlambat mengumpulkan tugas, tapi saya tak membuat kekacaun. Saya hanya menyimpan beberapa lembar makalah saja. “Kalau kamu yang terakhir masuk ruangan dan tidak mengaku, lalu siapa lagi? Masa sama hantu!” Urusan semakin rumit karena dosen itu kemudian melebar ke sikap saya yang kerap “menyerangnya” selama di kelas.

Satu hal memang benar: selama kuliah saya adalah sosok menyebalkan bagi sebagian orang. Di kelas, jika ada diskusi, saya selalu bertanya dengan maksud menguji sejauh mana pengetahuan kawa-kawan, dan bukan bermaksud ingin tahu jawabannya. Begitu pula ke semua dosen, saya kerap “menyerang” para pengemban risalah pendidikan itu dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Dosen yang satu ini, yang konon mejanya saya acak-acak itu, adalah juga yang kerap saya “serang”.

“Kamu sebenarnya mau apa? Setiap saya di kelas, kamu selalu menyerang saya seperti hendak mempermalukan!” Saya pikir, jawaban apapun tak akan meredakan amarahnya yang tengah muntab. Saya memilih diam. “Kamu mau DO?!” Sambaran yang cukup mengejutkan. Saya pribadi sejujurnya tidak takut DO, tapi apa kabar dengan orangtua di kampung. Tak terbayang reaksi mereka sekiranya tahu anaknya yang ditatah dengan segenap do’a dan biaya malah kalah di gelanggang pendidikan. Saya lemas dan cemas. “Tunggu keputusannya Senin, kamu mesti menghadap Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan, sebelum akhinya kamu resmi DO!” Ancaman itu kembali menyambar.

Setelah itu saya menghubungi kawan-kawan dan menyampaikan semuanya. Kepada Ketua Himpunan saya bilang, “Bung, saya teracam DO, sementara saya juga harus memimpin OSPEK jurusan. Saya kira posisi kita tak aman. Segala perizinan yang terkait dengan acara kita pasti akan dipersulit atau bahkan akan digagalkan.” Dia diam sejenak. “Nanti sore kita ketemu di student centre, kita bicarakan dengan kawan-kawan yang lain,” ujarnya. Kemudian saya pergi ke kantin, memesan kopi dan menghabiskan setengah bungkus rokok. Kelas saya lupakan. Sehari itu saya tak berminat kuliah.

Sore harinya keputusan diambil: saya meletakkan jabatan yang baru sehari diemban. Ketua pengganti diputuskan setelah melalui perdebatan yang panjang dan panas. Hal itu disebabkan karena salah satu calon pengganti berwatak keras dan arogan, dan kawan-kawan yang lain tak menghedakinya. Sosok itu akhirnya bisa disingkirkan, dan agenda kembali dijalankan. Menjelang pulang, seorang kawan mencoba membesarkan hati saya, “Bung, kalau kasusnya seperti itu, saya kira bung akan selamat, paling-paling hanya pending,” ujarnya.

Saya kuliah di sebuah politeknik negeri. Lembaga pendidikan yang tugasnya mempersiapkan buruh-buruh pabrik nomor wahid. Setiap hari kelas dimulai dari jam tujuh pagi dan selesai jam tiga sore. Dosen memegang absen, setiap hari mereka teriak di kelas menyebut mahasiswanya satu persatu. SKS dipaket, dan tiap semester mahasiswa menyerahkan lehernya di ambang pisau pancung. Jika dalam satu semester terdapat satu nilai E atau tujuh nilai D, maka ia otomatis DO. Tak ada semester pendek, tak ada kesempatan memperbaki bopeng di transkrip nilai. Lama kuliah dibatasi hanya tiga tahun, dan toleransi setahun bagi mereka yang malas dan lemah iman. “Pending” adalah kosakata politeknik untuk toleransi itu.       

Asal tahu saja, baik pending maupun DO, keduanya adalah aib tak terampuni. Tak terhitung banyaknya anak politeknik yang menangis ketika vonis pending dijatuhkan. Alasannya jelas: malu dan biaya yang menggantang sebab mesti memperpanjang kuliah selama setahun ke depan. Maka dengan tak mengurangi rasa hormat kepada kawan yang berusaha membesarkan hati itu, sejatinya saya tetap cemas. Waktu pulang ke kosan, saya berjalan dengan kecemasan yang menggores.

Tiba di kosan, seorang kawan tengah uring-uringan dengan muka pahit, entah apa penyebabnya: yang terbit hanya satu, saya ingin melemparnya dengan sepatu. Sebuah pesan masuk di layar hp, bapak tanya kabar dan prestasi akademik. Deg! Inilah situasi yang saya takutkan itu.

Di kosan kecemasan semakin berparade. Saya tak tahu cara meredakannya. Lalu akhirnya teringat satu hobi yang sudah jarang dirawat: membaca buku. Karena di rak tidak ada stok baru, saya memutuskan pergi ke Gramedia di Jl. Merdeka. Angkot dari Ciwaruga berjalan serupa siput: terseok-seok kepayahan. Uang di kantong tak banyak, tapi saya harus membeli satu buku, ingin mencoba meredakan kondisi yang tengah berada di tubir kekalahan.

Di sudut sebuah rak, saya mendapati satu buku bersampul coklat muda, lusuh, sampul plastiknya sudah terlepas, berjudul “Aku, Buku, dan Sebuah Sajak Cinta” karangan Muhidin M. Dahlan. Sepenggal narasi di sampul belakangnya berbunyi: “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita”, sebuah kutipan dari Hannah Arendt. “Derita” dan “cerita”, bukahkan dua hal ini yang tengah saya hadapi? “Derita” berwujud kecemasan karena teror kampus yang mengancam, dan “cerita” adalah kondisi ketika saya ingin menuliskan semuanya. Di kasir yang lumayan antri, saya tak sabar, seperti salat isya baru rakaat pertama sementara perut mulas tak tertahankan.

Sesampainya di kosan, saya langsung menyuntuki buku tersebut. Memoar Muhidin ini menggiring saya ke apotek, maksudnya seperti menelan obat penangkal sakit: terlalu banyak kesamaan, sehingga saya merasa ada kawan senasib-sepenanggungan. “Bangke Muhidin ini!” gumam saya dalam hati. Catatannya seperti mengejek sekaligus menyembuhkan: anak rantau, bermasalah dengan kampus, mencintai literasi, dan kisah cinta yang morat-marit. Semuanya ditatah dalam semesta memoar yang menggigilkan.      

Perhatikan kalimatnya ketika ia harus pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah: “Aku meninggalkan kotaku, kampung kelahiranku. Hari itu adalah hari yang begitu mengharukan sekaligus mendebarkan. Mengharukan karena ia adalah perpisahan yang panjang dengan semua sanak, semua keluarga, semua kawan, semua kenangan. Mendebarkan karena aku tengah menuju ke suatu titik yang jauh dari bayanganku.”

Bukan soal meninggalkan kampung, tapi saya membacanya ketika kondisi hampir ditendang kembali ke kampung karena ancaman DO. Perpisahan dengan kampung ternyata ga panjang-panjang amat. Belum lagi perkataan bapaknya ketika ia hendak benar-benar berangkat, “Jangan pulang sebelum kau berhasil.” Asu tenan!

Muhidin kuliah di dua kampus: IKIP dan IAIN, keduanya di Yogyakarta, dan keduanya tidak ia selesaikan. Tapi berbeda dengan saya, ia mengambil keputusan itu karena sadar akan pilihan, hendak lebur dengan dunia literasi yang ia yakini. Berbeda dengan saya yang meskipun secara pribadi tidak takut DO, namun lingkungan sosial masih menjadi ketakutan yang menggenggam. Muhidin seperti menggedor-gedor nurani, bahwa keputusan adalah keputusan, tak peduli respon orangtua sekalipun! Ia menegaskannya dengan mengutip sesobek petuah Romo Mangun:  

“Anggaplah ini pilihan. Dan aku memilih jalan itu walau tergolong pahit—bergelut tanpa kepastian akan nasib hendak diempaskan ke mana. Bersyukur-syukurlah aku masih sanggup memilih. Kesanggupan memilih, sebagaimana petuah novel ‘Burung-burung Manyar’ yang kubaca sejak aku menginjak semester tiga di Kampus IKIP, mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengatasi nasib.”

Di titik ini saya tercerahkan. Tantangan Muhidin saya terima. Saya tak hendak mengemis ke kampus agar lolos dari ancaman, juga bersiap menghadapi orangtua dengan segala kekecewaannya. Anggaplah saya tidak lagi kuliah, dan kiriman bulanan dari kampung dihentikan, paling-paling saya menggelandang di Bandung. Kalau sedang mujur, sekali-dua mungkin hidup ditambali oleh honor tulisan yang dimuat di surat kabar. Setidaknya dengan begitu saya telah mengatasi nasib.

Besoknya saya datangi kampus dengan kepala tegak. Saya sampaikan apa adanya kepada para pengampu kebijakan dengan kalimat-kalimat terukur. Dan keputusannya saya hanya dijatuhi SP II dengan menandatangai surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Tak jadi DO. Tak jadi dihantam palu godam kekecewaan orangtua. Di akhir semester saya malah dapat nilai A untuk mata kuliah yang diampu oleh dosen yang mengancam itu. Ajaib!

Pasca kuliah saya menjalani hidup seperti orang kebanyakan, bekerja di firma-firma kaum kapital. Hidup dari gaji yang mengalir sebulan sekali. Di permukaan seperti tak ada gejolak, hidup hampir mirip ternak, dan saya bosan. Bosan menekan-mendesak. Lalu saya teringat lagi petuah Romo Mangun yang dikutip Muhidin, saya hendak memilih dan berkreasi. Pertengahan 2014 saya tinggalkan pekerjaan. Inilah saatnya tantangan Muhidin itu benar-benar bisa saya terapkan. Saya hampir menggelandang, kemudian berkomunitas, dan hidup dari menulis.

Keberanian memilih yang didadarkan Muhidin berkelindan dengan dua hal lain, yaitu gandrung literasi dan kisah percintaan yang cukup menyedihkan. Keduanya berjejalin membentuk diri saya yang lain. Sedari kecil saya telah terbiasa membaca koran dan buku cerita, namun hal itu tak pernah dijadikan nafas hidup. Saya tak pernah mencurahkan waktu, dana, dan tenaga kepada teks dan bahan bacaan. Sampai akhirnya Muhidin—di tengah kecemasan yang menggores, datang dan menawarkan “jalan sesat”. Ia menggilai buku. Menguruskan badannya demi buku. Begini siasatnya:         

“Karena kekurangan droping pesangon dari orangtua, maka aku pun bersiasat. Uang makanku kupangkas sekecil-kecilnya. Aku memutuskan untuk jalan kaki dan tidak naik bus yang sewanya waktu itu hanya 300 rupiah untuk mahasiswa/pelajar. Dan aku coba menyisir uang makanku hanya 500-1000 rupiah perhari (makan normalnya 3000). Dan waktu makanku tidak pagi tidak malam, tapi sore. Waktu sore adalah waktu tengah dalam perputaran aktivitas manusia dan waktu tengah ketika energi dikeluarkan dan diistirahatkan. Dari cara yang menguruskan badan ini sedikit demi sedikit aku mendapatkan buku dengan cara membeli. Kalau ada uang mengapa harus meminjam. Aku tidak suka meminjam.”

Untuk menguatkan sikapnya, ia mengutip Desiderius Eramus (1465-1536) yang mengatakan, “Kalau aku punya sedikit uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.”

Dan saya terpengaruhi. Dulu setiap kali gajian, saya pergi ke Bandung dan mendatangi Palasari: menukar ratusan ribu rupiah dengan buku. Pameran buku di Braga, Istora Senayan, dll, pasti menguras kantong karena saya kalap. Niat membeli dua selalu berakhir dengan sepuluh eksemplar. kantong-kantong buku loak, komunitas, dan toko buku besar saya datangi dengan semangat meluap hendak membeli. Duapuluh buku pertama saya hafal di luar kepala, dan akhirnya terpaksa harus dituliskan karena jumlahnya semakin membengkak menjadi ratusan.

Saya membeli karena hendak membaca. Tapi seperti kata orang-orang, “terlalu banyak buku, terlampau sedikit waktu.” Demikianlah pada akhirnya, meski setiap pulang kerja saya sempatkan untuk membaca, namun mata selalu kalah dihajar lelah setelah berjam-jam menyuntuki angka-angka di layar komputer. Tapi di luar hal itu, Muhidin telah membuka kembali setapak jalan bagi minat yang sempat tak terawat. Kegandrungan saya pada literasi, khususnya pada buku—setidaknya sampai hari ini, ibarat kumbang yang terperangkap ke dalam toples dan tak hendak keluar lagi.

Dalam hal menulis pun tak jauh beda. Muhidin menyodorkan satu kasus yang bakal mendorong siapapun meraba ulang ketakutannya untuk menulis. Menurutnya, plagiasi—bagi para pemula, bukanlah jalan asing, ditempuh banyak orang malah. Ia mengambil contoh Sartre:       

“Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme sayap Kiri Prancis pernah melakukan plagiasi ketika pertama kali menulis novel. Seturut pengakuannya, novel pertamanya yang berjudul ‘Pour un Papillon’ (Demi Kupu-kupu) merupakan salinan plek dari buku cerita bergambar yang ia punyai yang terbit tiga bulan sebelum novelnya diterbitkan. Semua-muanya sama: tema, tokoh-tokoh, detail petualangannya, dan bahkan judul pun ia pinjam.”

Bukan laku plagiatnya yang hendak Muhidin tekankan, tapi keberanian yang tak boleh tertukar dengan ketakutan yang tak berdasar. Ya, ia mengobarkan pembacanya untuk membaca, membaca, dan menulis. Dua mantra itulah yang akhirnya menyeret saya ke “jalan sesat”.

Hari ini setiap kali saya bertemu beberapa kawan, mereka selalu bertanya tentang kawin. “Beli buku terus, kapan kawinnya?!” Seolah urusan yang satu itu adalah mantra sakti penangkal guna-guna istri muda. Di antara mereka ada juga yang agak bijak-bestari, ceramah dulu tentang sirah nabawiyah, lalu menjejalkan Ar Ruum ayat 21 agar saya membayangkan surat undangan pernikahan, lalu diakhiri dengan ucapan, “kurangi dulu beli bukunya, mending uangnya ditabung buat bikin buku nikah.” Baru-baru seorang saudara juga bilang, “coba cari kerja lagi, menulis doang ga bakal cukup, kan kamu juga suatu saat harus menikah.”

Ya, jalan ini memang “jalan sesat”. Tak banyak orang yang percaya. Dan sejujurnya saya juga tak butuh kepercayaan mereka. Saya yang paling berhak menentukan eksistensi dan makna hidup saya sendiri. Yang ingin saya sampaikan hanya satu: terimakasih banyak-banyak buat Muhidin. Jika suatu hari nanti hidup saya akhirnya berbelok karena harus berkompromi dengan banyak hal, setidaknya saya telah melalui perjalanan ini dengan senang dan pengalaman aduhai yang tak-tepermanai. [irf]           

Wednesday, August 10, 2016

Lakon Sepakbola yang Realitas dan Hiperrealitas

“Saya bagian subkultur menonton dan memirsa itu.”

Penulisan sepakbola hari ini telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Di banyak kota, kantong-kantong pewedar permainan si kulit bundar—dengan media publikasi terutama daring, subur bermunculan. Generasi penulis sepakbola yang terbaru, pasca Gus Dur, Sindhunata, Sumohadi Marsis, Kadir Jusuf, dll, tak bisa lepas begitu saja dari nama Zen RS. Penulis yang semula dikenal sebagai esais lintas tema: sastra, budaya, sejarah, seni rupa, dan pertunjukkan ini, di titimangsa 2004 mulai ikut mewarnai khazanah penulisan sepakbola, dan—diakui atau tidak, banyak melahirkan “murid” untuk tidak menyebut epigon.

Setelah melahirkan buku kumpulan prosa “Traffic Blues: Saat Hujan Deras dan Jalanan Mulai Tergenang”, dan novel “Jalan Lain ke Tulehu”, kini Zen RS datang lagi dengan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisannya tentang si kulit bundar dengan cakupan tema yang begitu luas. Ia mewartakan pengalaman masa kecil ihwal perkenalannya yang mula-mula dengan sepakbola, kegandrungannya terhadap buku, mengupas sejarah, sastra, budaya, dan seni, yang keseluruhannya dibingkai dan—meminjam istilah si penulis, diblejeti dalam kerangka sepakbola.

Kumpulan tulisan ini—karena Zen sejak kecil mengalami langsung sepakbola, tidak lahir hanya dari ruang simulakra atau “representasi atas suatu objek yang menggantikan kedudukan objeknya”, namun juga menghadirkan sesobek catatan pengalaman tak-terpermanai yang ditatah dari fragmen-fragmen yang pernah lewati si penulis dalam dunia si kulit bundar. Seperti kutipan di awal tulisan ini, ia tumbuh dan menulis dari subkultur menonton dan memirsa.

Dalam ruang “menonton” yang penuh-seluruh, ia mendadarkan kisah sepatu baru yang nostalgik, rite de passage atau ritus peralihan yang dibidani oleh sepakbola, perlawanan terhadap tiran pengampu sepakbola nasional, sampai merekam peristiwa sederhana dan sunyi di pinggir lapang ketika kesebelasan favoritnya menorehkan gelar juara. Di titik ini, Zen seolah tak mau melewatkan kelebatan momentum yang berwatak cepat menghilang dan terlupakan, dan ia sebisa-bisa menangkap dan menangkarnya dalam tulisan.

Sedangkan dalam “memirsa” ia begitu piawai mempadu-padankan, memilih sudut pandang, dan menjlentrehkan pengalaman berjarak yang diambil dari media populer dengan kerakusannya dalam membaca. Ia banyak sekali menyebut nama “non-sepakbola”, seperti Orhan pamuk, George Orwell, AB. Lapian, Vladimir Nabokov, Takashi Shiraishi, Multatuli, Amir Hamzah, Jorge Luis Borges, Albert Camus, Jean Baudrillard, dll. Maka tak mengherankan bila ia kemudian—coba-coba, menyusun “Kesebelasan Bapak Bangsa” yang tulang rusuknya diambil sedemikian rupa dari historiografi nasional. Ia juga mencoba menyigi sejarah lahirnya sepakbola nasional dengan bahan yang jauh ke belakang ketika Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Cornelis de Jonge, saat krisis ekonomi melanda dan penyakit sosial meruyak di se-antero Nusantara. Di tulisan yang lain Zen juga mendadarkan tentang begitu cepatnya kosakata asing baru lahir dari dunia sepakbola yang membuat para penyunting-penyelia kedodoran menerjemahkan dan mencari padanannya.

Buku ini sendiri dibelah menjadi empat bagian: Jejak, Dunia Simulasi, Koloni Bola, dan Narasi Kaki-kaki. Bagian pertama—meski tidak terlalu banyak, setidaknya menjelaskan bagian-bagian selanjutnya. Di usia dini Zen telah tumbuh dalam perkawinan antara sepakbola dan pustaka. “Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Halaman penutup hanya tinggal menghitung detik. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Sekitar 10 menit kemudian, ketika kawan-kawan main sepakbolanya belum kelar menyelesaikan sesi pemanasan, ia terlebih dulu menamatkan bacaannya.”

Pada “kawan-kawan main sepakbolanya” dan “ia terlebih dulu menamatkan bacaannya” ada irisan dan simpul yang teramat tegas, bahwa Zen—yang di kemudian hari menggeluti dunia penulisan sepakbola, berpijak dari batu tapal yang jelas: hendak berangkat menggeledah sepakbola dengan mata pisau literasi yang diakrabinya terus-menerus. Sepakbola tak lagi menjadi sekerat catatan statistik dan profil pemain, namun juga sehampar permainan yang kaya oleh kisah dan teramat luas untuk dicacah oleh interpretasi dan sudut pandang lintas tema.

“Simulakra Sepabola” oleh karenanya tak hendak (hanya) menyajikan sebuhul catatan “pandangan mata” dari lapangan hijau, namun juga mengajak pembacanya untuk meninggalkan ruang panoptikon stadion yang batasannya rigid, untuk melihat juga permainan populer itu dari sudut-sudut lain yang meskipun lintas tema, namun masih menorehkan jejalin yang jelas dengan sepakbola itu sendiri.

Di 12 tahun masa berkaryanya dalam menggeluti penulisan olahraga yang disebarluaskan orang-orang Inggris ini, kiranya buku ini adalah halte untuk melihat ulang apa-apa yang yang telah dikerjakan. Semacam “turun minum” dari seorang pelakon sekaligus juru lakon. Esai terakhir di buku ini bercerita tentang “Memahami Rumah”, sebuah (mungkin) kesengajaan yang merepresentasikan ihwal “turun minum” itu.  

Di penghujung mukadimah, Zen menulis, “…dalam hidup seseorang yang kini sudah tak lagi remaja.” Kalimat itu seolah memberikan jarak, antara yang telah dilalui dengan kenyataan hari ini. Seperti seseorang yang berdiri di puncak bukit dan melihat ke bawah, ke setapak riwayat yang ditaburi jejak. Setapak tentang lakon sepakbola yang realitas karena pernah mengalami menyepak dan menonton, serta hiperrealitas karena memirsa yang berjejalin dengan kecintaan terhadap pustaka. [irf]     

* Tayang di harian Jawa Pos (edisi 7 Agustus 2016)

Monday, August 8, 2016

Menggeledah Blog: Menyelami Teks dan Manusia

Dalam ikhtiar membangun tradisi literasi atau keberaksaraan, yang salah satu muaranya adalah mampu membaca, mengurai, dan menyampaikan gagasan (terutama secara tertulis) dengan baik, laku membaca dan menulis adalah sebuah keniscayaan. Dan seperti yang sudah sering disampaikan banyak orang, menulis tanpa membaca adalah jalan majal, untuk tidak menyebutnya sia-sia. Jika bersandar pada mantra Roland Barthes, menurutnya “teks atau tulisan adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.” Pada kata “kutipan”—meski bisa juga lahir dari lisan, namun ia juga seringkali terpahat dalam catatan, tulisan, dan untuk mengambilnya mesti melewati jalan membaca. Tak mengherankan kemudian jika Asma Nadia—penulis yang juga salah satu penggagas Forum Lingkar Pena, sempat berkata, “kalau tak ada yang kau baca, lalu apa yang mau kau tulis?”

Membaca dengan mata pisau yang tajam, artinya menyelami teks demi teks dengan kesadaran yang penuh-seluruh, kiranya adalah sebuah proses yang harus dilalui terus-menerus, sebab ini bukanlah pekerjaan mudah. Kelas Literasi yang telah diadakan sebanyak 54 kali—meski telah mencoba untuk tampil optimal, namun belum beranjak dari sebatas mendadarkan ulang cerita yang ada dalam buku. Setiap peserta belum mampu untuk menguliti teks secara lebih mendalam. Tanpa melupakan kemajuan yang telah didapat: minat membaca dan menulis yng mulai tumbuh, kiranya Kelas Literasi ke depan sudah harus beranjak ke tahap berikutnya, yaitu menyelami teks secara lebih “berani”. Selain cerita yang dikisahkan ulang, opini yang dihamparkan juga mesti dibekali dengan pengetahuan lebih, atau setidak-tidaknya dilatari oleh semangat kritis dalam mengapresiasi.

Persoalan kemudian terbit, sebab mayoritas kawan-kawan yang ikut Kelas Literasi tidak mempunyai latar minat yang kuat terhadap literasi itu sendiri. Kebanyakan justru di Komunitas Aleut-lah minat itu mulai tumbuh, artinya terbentuk secara perlahan. Namun demikian, tahapan ini tetap harus dilalui, sebab belajar adalah tentang jalan kemajuan. Menimbang hal tersebut, maka kami kemudian mencoba memulainya dari teks-teks yang dekat dan sederhana, yaitu blog kawan sendiri. Pilihan ini dimaksudkan agar para peserta Kelas Literasi merasa akrab dengan apa yang hendak diselaminya. Dan blog kiranya punya watak yang pas buat pilihan ini.

Blog sebagai media yang tidak terbatasi oleh persoalan karakter huruf, dan cenderung lebih “tersembunyi” jika dibandingkan jejaring sosial yang lain, adalah tempat yang ideal untuk mendedahkan pikiran, pengalaman, kekecewaan, melontarkan kode-kode, mem-bribik gebetan, curhat banal, dll. Para pemiliknya cenderung lebih terbuka dan leluasa dalam menyampaikan hal-hal tersebut. Dalam blog, ada sisi “introvert” yang tersirat—yang meskipun leluasa menulis, namun semacam ada ketenangan karena tidak banyak orang yang akan menyinggahinya. Hal ini tentu saja menarik untuk menjadikannya sebagai bahan menyelami teks dan juga manusia.

Para pemilik blog tersebut, orang-orang yang berani dan sukarela anak rohaninya (tulisan) dilempar ke jalanan, adalah mereka yang dengan itu harus siap berhadapan dengan watak jalanan: dikritik, dicibir, diserang, dihina-dinakan, atau kalau beruntung diapresiasi dengan tempik-sorak dan hujan pujian. Ya, setiap tulisan yang diunggah adalah sikap terbuka dari si penulisnya sendiri, sebab jika tak mau dibaca orang lain, bukahkah lebih baik mendekapnya dalam sangkar kode bilangan biner alias mengendap di komputernya masing-masing? Mengunggah tulisan ke blog---sepersonal apapun kisahnya, adalah sikap dan pilihan terbuka yang lahir dari kurasi masing-masing pribadi.

Di titik ini, menggeledah blog bukan hanya menyelami teksnya, namun juga manusianya. Sesamar apapun, kecenderungan tulisan akan memunculkan gambaran dari si penulisnya. Kode-kode percintaan yang tanpa disertai nama tokoh barangkali mencerminkan penulisnya yang tengah dimabuk amor namun masih malu-malu, misalnya. Atau parade tulisan resensi buku menggambarkan penulisnya yang tengah gandrung bacaan. Atau bisa juga catatan-catatan nostalgia diartikan sebagai laku si penulis yang tak mudah melupakan masalalu. Ya, semuanya akan memberikan—sekali lagi meskipun samar, gambaran ihwal kondisi langit jiwa si penulis.

Dimulai dari blog kawan sendiri, dari teks yang dekat dengan keseharian, diharapkan apreasiasinya relatif lebih mudah dan karib, lebih bisa langsung menghujam ke orangnya. Berpijak dari sinilah kemudian tema Kelas Literasi pekan ke-55 kami usung: muaranya lagi-lagi adalah tumbuh-kembang bersama. [irf]

Monday, August 1, 2016

"Ojo kapok le"

Sejak tahun 1949 jasadnya telah terkubur. 26 Juli kemarin dia baru ulang tahun. Dalam catatan yang paling moderat, selama hidupnya, setidaknya ada delapan orang perempuan yang menjadi bribikan Chairil Anwar. Mereka, perempuan-perempuan yang di-birahi-kan oleh penyair bohemian itu, menurut Majalah Historia—saya sertakan juga penggalan puisi yang dibuat untuk masing-masing perempuan (kecuali Hapsah), adalah sebagai berikut:

1. Ida Nasution: “Bagaimana? / Kalau Ida mau turut mengabur / Tidak samudra caya tempatmu menghambar” (Ajakan)

2. Sri Ayati: “Kepada Sri / Sepi di luar / Sepi menekan mendesak / Lurus Kaku Pohonan / Tak bergerak / Sampai ke puncak / Sepi memagut / Tak satu kuasa melepas renggut” (Hampa)

3.  Dian Tamaela: “Dalam sunyi malam ganggang menari / Menurut beta punya tifa / Pohon pala / Badan perawan jadi / Hidup sampai pagi tiba” (Cerita Buat Dien Tamaela) 

4. Gadis Rasid: “Kita terapit / Cintaku / Mengecil Diri / Kadang bisa mengisar setapak / Mari kita lepas / Kita lepas jiwa mencari jadi merpati” (Buat Gadis Rasid) 

5. Tuti Artic: “Kau pintar benar bercium / Ada goresan tinggal terasa / Ketika kita bersepeda kuantar kau pulang / Panas darahmu / Sungguh lekas kau jadi dara / Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang” (Tuti Artic) 

6. Karinah Moordjono: “Ah! Tercebar rasanya diri / Membubung tinggi atas kini / Sejenak saja / Halus rapuh ini jalinan kenang / Hancur hilang belum dipegang” (Kenangan)

7. Sumirat: “Buat Miratku! Ratuku! / Kubentuk dunia sendiri / Dan kuberi jiwa segala / Yang dikira orang mati di alam ini! / Kucuplah aku terus / Kucuplah / Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam hidupku.” (Sajak Putih)

8. Hapsah Wiriaredja: “Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi menteri pendidikan dan kebudayaan.” (Bukan penggalan puisi, tapi perkataan Chairil kepada istrinya. Dan Gajah adalah panggilan sayangnya kepada Hapsah karena badannya gemuk)    
      
Chairil ini kiranya—jika mengacu pada buku besar peminum kopinya Ikal di buku “Cinta di Dalam Gelas”, adalah seorang player: minum kopi pahit, makin pahit kopinya makin berliku petualangannya. Hidupnya penuh intaian mara bahaya. Cinta berantakan. Istri minggat. Dan kekasih berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Tetapi orang-orang seperti ini tetap mencoba dan mencipta. Mereka adakalanya menang gilang gemilang, namun sekalinya kalah langsung tumbang tersuruk-suruk. Delapan bribikan bukan jumlah sedikit, bung! Bahkan sumber lain menyebutkan totalnya ada 13!

Terjatuh dan bangun lagi memang bukan hanya urusan amor, di ladang kehidupan lain pun hal ini kerap terjadi: kuliah DO, bisnis kena tipu, kerja di PHK, iman longsor, bertengkar dengan orangtua, mau mandi tak ada sabun, gosok gigi melamun pasta diganti sabun muka, belajar naik motor nabrak kambing senewen yang hendak kawin, ngambil rendang dapat lengkuas, dll. Medan laga di mana-mana, peluang terluka menganga setiap saat, tapi seperti kata pepatah lama, “apa yang tak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih kuat.”

Barangkali sebagian orang menyangka bahwa PAT telah menjadi seorang penantang sejak lahir sampai liang lahat. Tak sepenuhnya keliru, ia memang keras sejak zaman perang sampai akhir hayatnya. Mendekam di bui dan dibuang ke Pulau Buru dengan total 14 tahun adalah alasan serius untuk membuat PAT seperti itu. Tapi dalam sekerat perjalanan hidupnya, PAT juga pernah begitu sentimental, dan tak kuasa menolak “permintaan” ayahnya untuk pulang kampung. Tak ada bantahan, tak ada perlawanan, yang tersisa hanya parade kenang-kenangan hidup yang mengular ke belakang di sepanjang rel kereta api. Dalam “Bukan Pasar Malam” PAT menggambarkan hidup dan batin manusia seperti ini:  

“Gundukan tanah merah yang tinggi, yang selalu kulihat di zaman Jepang dulu bila aku bepergian ke Blora juga, kini tinggal seperempatnya. Diendapkan oleh hujan. Dicangkuli. Diseret oleh air hujan. Tiba-tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di statiun Jatinegara itu. Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundukan tanah merah itu?”

Dicangkul, diendapkan, diseret! Siapa yang tak mengalami hal itu? Konon pengalaman seperti itulah yang membuat orang semakin dewasa atau bahkan trauma. Tapi bukankah hidup tak pernah surut ke belakang? Selain yang kita simpan di lemari ingatan, bukankah hidup hanya bentangan jalan ke depan sampai bertemu titik akhir? Chairil tak sepenuhnya lancar jaya dalam bertualang, namun ia terus membuat halaman-halaman baru sampai akhirnya usai dan menyerah di Karet Bivak. PAT apalagi, 14 tahun hidup dalam semesta purba penjara dan telinganya menjadi tuli karena dihajar popor senapan: ia terus berkarya. Masa tuanya dihabiskan dengan hobi membakar sampah sampai ajal menjemput di tahun 2006 sebagai penanda bahwa “pasar malam” telah berakhir.

Seorang kawan baru telah cukup lama bercerai. Anaknya—bocah paling lucu se-Yogyakarta tinggal bersama (mantan) istri. Sesekali saja bocah itu mengunjungi bapaknya. Belum lama kawan baru itu menulis status di laman FB: setiap lebaran, ibu-bapaknya yang penuh kasih terhadap anak lanang yang rumahtangganya berantakan itu selalu mengulang sebuah pesan, “Ojo kapok le.” [irf]