05 March 2017

Orang Arab dalam Guyonan Orang Sunda


“Islam itu Sunda, Sunda itu Islam”. Jargon ini konon dicetuskan oleh H. Endang Saifuddin Anshari. Kenapa jargon tersebut bisa muncul? Jakob Sumardjo dalam buku Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan menerangkan bahwa hal itu dilatari oleh karakter masyarakat Sunda yang berbasis huma atau ladang.

Jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Jawa yang berdasarkan masyarakat sawah yang menetap, maka kebudayaan istana di kerjaan-kerajaan Sunda hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat negara saja. Masyarakat negara adalah masyarakat Sunda yang berada di wilayah yang benar-benar dikuasai oleh kerajaan secara langsung. Di luar wilayah kekuasan kerajaan, masih terdapat kampung-kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari berladang.

Hidup yang berpindah-pindah membuat hubungan antara istana dan rakyat di luar wilayah kekuasan amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke arah Islam leluasa keluar masuk kampung-kampung Sunda. Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat Sunda di pedesaan kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindu amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Hal tersebut tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Kian Santang.

“Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di Sunda. Sunda itu Islam,” tulis Jakob Sumardjo.

Meski Islam tidak identik dengan Arab apalagi negara Arab Saudi, namun karena Islam di Nusantara datang dari Hadramaut, Yaman, wilayah yang penduduknya berbangsa Arab, maka Islam sering dilekatkan dengan bangsa tersebut.

Satu contoh kaitan Sunda dengan Arab dipaparkan oleh Nanang S, spk dalam buku Taneuh Sakeupeul ti Mekah (Tanah Sekepal dari Mekah) yang menceritakan tentang asal mula lahirnya Kampung Mahmud, di Kabupaten Bandung, yang merupakan salah satu kampung tempat penyebaran agama Islam di tatar Sunda.

Kampung ini didirikan oleh Dalem Abdul Manaf, seorang ulama yang masih keturunan Sultan Mataram, yang ketika mudanya pernah pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu. Sekembalinya dari Mekah, beliau membawa tanah sekepal. Padahal waktu itu hal tersebut sangat dilarang, tapi Dalem Abdul Manaf nekad.

“Taneuh téh dicecebkeun dina ranca, di ieu lembur. Ti wangkid harita ieu tempat téh dingaranan Kampung Mahmud. Kampung nu masarakatna ngagem Islam, nanjeurkeun ajén-inajén Islam,” ceuk Haji Safe’i, kuncén éta kampung.

“Tanah tersebut ditanam di dalam rawa, di kampung ini. Mulai saat itu tempat tersebut dinamai Kampung Mahmud. Kampung yang masyarakatnya memeluk Islam, menegakkan kehormatan Islam,” kata Haji Safe’i, kuncen kampung tersebut.  

Dengan latar kondisi seperti itu, yaitu Sunda yang Islam, dan Islam yang kerap dilekatkan dengan Arab, tak membuat masyarakat Sunda mengurangi rasa humornya. Acep Zamzam Noor malah menulis bahwa sosok si Kabayan yang humoris adalah perwujudan dari seorang mursyid (pembimbing murid di kalangan sufi) yang sudah “teu nanaon ku nanaon” (tidak apa-apa oleh apapun).

“Cerita-cerita si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi,” terang Acep.

Sebagian orang Sunda, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Islam yang mereka anut, kerap menjadikan orang Arab (pembawa Islam Ke Nusantara) sebagai bahan guyonan. Beberapa guyonan bahkan kadang kelewat vulgar.

Kang Ibing dan Aom Kusman, dua orang tokoh Sunda yang populer berkat guyonannya dan tergabung dalam grup komedi De Kabayan, dalam sebuah lakon berjudul Ngaronda pernah memasukkan unsur Arab dalam guyonannya.

Dikisahkan suatu hari Kang Unang (Aom Kusman) dan Jang Aceng (Kang Ibing) tengah berdiskusi ihwal Siskamling (sistem keamanan lingkungan). Mereka yang kebetulan satu regu, kebingungan mencari kawan lain yang cocok untuk dimasukkan ke dalam regunya. Beberapa nama disebut, namun belum ada yang pas, termasuk tokoh Abah Wikanta yang terkenal jago bercerita namun ceritanya penuh dengan kebohongan.

Salah satu cerita bohong Abah Wikanta yang dituturkan oleh Jang Aceng yaitu ia mengaku pernah membeli kupat tahu bersama Raja Farouk (ini Raja Mesir sebetulnya) di Mekah. “Di mana di Mekah maké aya kupat tahu sagala nya, kang,” (Di mana di Mekah ada ketupat tahu segala ya, Kang), ujar Jang Aceng menegaskan.

Kang Unang mengiyakan kebohongan cerita tersebut. Lalu Jang Aceng dengan guyonannya yang khas menambahkan, “Enya, paling henteu kasedepna meureun teu sangu konéng mah,” (Iya, paling tidak kesukaannya—Raja Farouk, itu nasi kuning).  

Di lain waktu, ketika Kang Ibing beranjak tua dan mulai diundang untuk berdakwah di banyak tempat, dalam satu ceramahnya beliau bercerita tentang pengalamannya ketika melaksanakan ibadah haji. Ketika jamaah telah memadati Masjidil Haram dan berdesakan, Kang Ibing salat persis di belakang seorang Arab yang berperawakan tinggi besar. Ketika bangkit dari sujud, penglihatan Kang Ibing gelap, rupanya kepala beliau masuk ke dalam jubah orang Arab tersebut.  

“Cengkat tina sujud, poék. Sihoréng hulu abus ka jero jubah. Éta kacipta urang Arab cékérna totojér, ceuk dina haténa téh, ‘Ari sia rék naon susurungkuyan ka dieu,” (Bangkit dari sujud, gelap. Rupanya kepala masuk ke dalam jubah. Terbayang orang Arab itu kakinya menyepak-nyepak, mungkin katanya dalam hati, ‘Kamu mau apa masuk ke dalam jubah’), ujar Kang Ibing yang disambut gelak tawa hadirin.

Selain itu, Kang Ibing juga bercerita tentang pengalamannya pertamakali ke Mekah. Kata orang-orang di Indonesia, di Mekah memegang janggut dan kepala, meskipun itu kepada orangtua, tidak akan dimarahi oleh si empunya. Karena penasaran, Kang Ibing kemudian mencoba memegang janggut seorang Askar (keamanan) sambil berucap, “Assalamualaikum.” Askar tersebut menjawab salam Kang Ibing dan tidak marah.

Merasa belum puas, Kang Ibing mencoba lagi kepada seorang Arab yang berperawakan tinggi besar dan berjanggut panjang serta lebat. “Assalamualaikum,” ucap Kang Ibing sambil memegang jenggot orang Arab tersebut. Namun tak disangka sebelumnya, orang Arab tersebut malah menjawab, “Kang Ibing, abdi mah urang Pasar Baru, Bandung.” Hadirin kembali tergelak.

Dulu, ibu-ibu di kampung penulis, kalau Piala Dunia tiba dan Arab Saudi lolos, mereka selalu tertawa sambil berkomentar, “Tingali urang Arab mah calanana gé koatka sontog, éta téh lantaran panjang teuing ampir teu kawadahan.” “Lihat orang Arab celananya sampai (memakai) sontog, itu karena (alat vitalnya) terlalu panjang sampai hampir tidak muat (di celana biasa).” Saeed Al-Owairan (yang mengobrak-abrik pertahanan Belgia) dkk, menjadi bahan tertawaan.

Dalam keseharian, meski mulanya tidak diketahui dari mana, beredar beberapa cerita lisan vulgar dalam bahasa Sunda yang menjadikan orang Arab sebagai objek guyonan. Seperti misalnya kisah tentang perlombaan penis panjang antar bangsa. Perlombaan diadakan di dalam ruangan, dan peserta dipanggil satu persatu. Peserta dari Amerika Serikat dipanggil dan menunjukkan penisnya yang sepanjang botol air mineral ukuran 600ml. Lalu peserta dari Indonesia yang ukurannya lebih panjang sedikit dari peserta pertama. Negara berikutnya selalu lebih panjang sedikit dari negara sebelumnya. Berpuluh dipanggil bergantian, sampai dipungkas oleh peserta dari Arab Saudi.

Ketika peserta terakhir dipanggil, terdengar pintu ruangan diketuk. Tim juri mempersilakan masuk, namun peserta tak kunjung muncul. Salah seorang juri kemudian membuka pintu, dan tak menemukan orang, ternyata yang tadi mengetuk pintu adalah kepala penis orang Arab. Saking panjangnya: orangnya entah di mana, kepala penisnya sudah sampai duluan. [irf]     

26 February 2017

Yang Terlupakan dari Pram

Satu hal yang menjadi ramai seiiring dengan perkembangan media sosial adalah kutipan. Beni Satryo, penulis buku puisi Pendidikan Jasmani dan Kesunyian, merekam hal ini dengan cukup baik di satu puisinya yang berjudul Berita Duka: “Di ujung jalan / ada nisan tanpa nama / Kuburan pengetahuan / Bertaburan manis bunga-bunga kutipan.”
Kutipan-kutipan tersebut biasanya diambil dari tulisan-tulisan tokoh nasional, sastrawan, pesepakbola, dan percakapan dalam film. Di Indonesia, ada beberapa orang yang amat populer di dunia kutipan. Kata-katanya terpampang di kaos, dinding kota, Instagram, Twitter, dll. Tan Malaka, Sukarno, Chairil Anwar, Wiji Thukul, dan Pramoedya Ananta Toer mempunyai tempat yang amat terhormat dalam masyarakat yang gandrung kutipan.
Setiap tanggal 6 Februari dan 30 April, di dua titimangsa kelahiran dan kematian Pram tersebut, media sosial dipenuhi oleh kutipan dari penulis yang belasan tahun hidup dalam bui dan kamp konsentrasi. Kebanyakan tentang berbuat adil, keberanian, menulis dan kerja. Berikut beberapa kutipan yang kiranya paling populer dari seorang Pram:
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”
“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Terlepas apakah kutipan-kutipan tersebut menjadi motivasi, penyemangat, kompas hidup, atau hanya pemanis rutinitas, namun ada satu hal yang kiranya agak terlupakan dari diri Pram, yaitu keluarga. Hal ini sebetulnya sangat benderang dari hampir semua karya Pram. Dalam Tetralogi Buru yang kesohor, Pram menulis keluarga Herman Mellema yang beristrikan seorang nyai. Anak pertamanya melakukan kejahatan incest terhadap adik kandungnya. Ia sendiri menjadi lemah, dan biduk keluarga kemudian diambil alih oleh istrinya yang menjelma menjadi seorang perempuan perkasa. Ada pula Minke—tokoh kesayangan pembaca dalam roman tersebut, ia beberapakali menikah dan tak sekalipun dikaruniai anak.
Banyak sekali kutipan yang dipungut dari tetralogi ini, namun amat jarang yang berkaitan langsung dengan keluarga. Baik hubungan orangtua dan anak, ataupun hubungan sepasang suami dan istri. Padahal beberapakali Pram menyinggung soal keluarga. Ketika Minke bersujud di hadapan ibunya dan memohon ampun, ibunya kemudian berucap, “Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.”
Dalam perjalanan menuju Blora, juga ketika sudah sampai di rumah kampung halamannya, Pram dalam tokoh aku menulis ihwal istrinya yang cerewet, bapaknya yang sakit keras, adik banyak dan masih kecil-kecil, serta rumah orangtuanya yang sudah tua. Sebagai anak tertua, ia berniat memperbaiki rumah, namun diberati ongkos yang tak sedikit. Persoalan keluarga mengepung. “Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak,” ucap seorang tetangga yang ditemui tokoh aku ketika berjalan di sekitar rumah. Roman Bukan Pasar Malam yang menjadi favorit Romo Mangun tersebut menjelentrehkan kehidupan keluarga Pram yang multi soal, merawankan hati, dan menegaskan bahwa Pram tak melulu tampil dengan karakter kuat dan pemberontak, ia juga bisa luluh hatinya dan mencoba berdamai dengan bapaknya yang tengah sakit.
Dalam tulisan-tulisan awalnya yang terhimpun di buku Menggelinding 1, Pram banyak menulis cerita pendek dan memoar semasa muda dan ketika tinggal di Belanda: beberapa di antaranya tentang keluarga. Ia berkisah tentang prajurit yang dianggap mati oleh keluarganya (Terondol), istri yang diberati persoalan kecantikan (Yang Cantik dan Yang Sakit), kehidupan pasangan muda yang hancur karena watak istri yang pemalas (Lembaga kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi), kasih seorang bapak terhadap anak (Suatu Pojok di Suatu Dunia), kehidupan keluarga seorang pengarang (Jalan yang Amat Panjang), kesetiaan seorang suami dari godaaan selingkuh (Tentang Emansipasi Buaya), hingga kehidupan pasangan suami istri yang tuna netra (Family Tanus yang Buta).
Meski Pram pernah sekali gagal dalam kehidupan rumahtangganya, namun keluarga kiranya menjadi tema penting dalam karya-karyanya. Atau mungkin justru karena kegagalan itulah yang menjadikan Pram begitu memperhatikan tema ini. Seperti sudah diketahui, Pram menikah pertamakali dengan Arvah Iljas. Setelah menikah, ia bersama beberapa orang adiknya kemudian hidup di rumah mertuanya, namun karena waktu itu kondisi Pram masih seorang pengarang yang tengah berjuang memperkenalkan karya dan meningkatkan taraf ekonumi, maka percekcokan timbul berkali-kali.
Salah seorang adik Pram menulis hal ini dalam buku Bersama Mas PramMemoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer, “Semua itu di tengah ekonomi seorang pengarang yang baru mulai menapaki jenjang kepengarangan, dan di masa itu, ketika apresiasi pembaca sastra nasional belum seberapa, dan pembaca internasional apa lagi, tentunya merupakan beban berat bagi Mbak Arvah. Maka tidak mengherankan kalau akhirnya ia pernah mengucapkan kalimat ekstra keras kepada Mas Pram, yang seolah palu godam bagi putusnya ikatan perkawinan mereka.”
Pram sebagai anak, kakak, ayah, dan suami, sebagaimana tokoh lain—misalnya Chairil Anwar dan Wiji Thukul, kerap terabaikan dan terlupakan, setidaknya dalam kutipan-kutipan. Mereka terlampau dilihat sebagai persona yang memesona di lini lain, di kehidupannya yang keras dan meletup-letup. Kalimat-kalimat seperti, “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” “Hanya ada satu kata: lawan!”, atau pun “Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani”: rasa-rasanya tidak mewakili sisi kehidupan keluarga, dunia di mana mereka—utamanya Pram, mengalami jatuh bangun, berlindung atau pun berlari darinya.
Karya dan keberanian Pram yang menonjol, diproduksi berulang-ulang dalam banyak media. Kutipan yang menggambarkan satu sisi kehidupan Pram dibiakkan dan dikampanyekan di mana-mana. Lewat kutipan-kutipan, Pram hampir atau telah dikultuskan. Padahal memoar Sunyisenyap di Siang Hidup mendadarkan kondisi Pram yang limbung selepas bercerai: ia tinggal di kontrakan yang darurat, kondisi ekonomi morat-marit, dan baru divonis TBC. Ajip Rosidi dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain merekam satu peristiwa yang menggambarkan bagaimana Pram benar-benar dalam kesulitan ekonomi: “Kau ada nasi tidak? aku sudah beberapa hari tidak makan,” ucap Pram.

Satu narasi ditonjolkan, dan narasi lain dilupakan, sementara Pram sudah berpesan agar sudah adil sejak dalam pikiran. Pram tidak tumbuh sendirian, ia ditempa oleh kehidupan keluarga yang berliku dan membekas dalam karya-karyanya. Keluarga bagi Pram adalah “Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan.” [irf]
Disalin dari Pustaka Preanger

Utuy dan Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering

“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu yang lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia, hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg yang terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.
Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskwa, Utuy Tatang Sontani terkenal sebagai seorang penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang, kerap dipentaskan di berbagai tempat. Proses kreatif Utuy dalam berkarya, sebagian digali dari mata air kegagalan di medan percintaan. Tulisan ini tak hendak mengerdilkan Utuy, namun mencoba menelisik sejumput riwayat kepengarangannya. Lagi pula, siapa yang tak pernah remuk redam oleh asmara?
Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy berkisah bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat sekolah di Hollands Inlandse School, sebuah sekolah yang memakai bahasa pengantar bahasa Belanda dan hanya bisa dimasuki oleh anak-anak orang mampu. Tapi usia kakaknya tidak panjang, keburu meninggal oleh wabah pes sebelum menyelesaikan sekolah.
Utuy sendiri hanya bisa masuk di sekolah Desa karena keadaan ekonomi ayahnya sudah merosot. Setelah kondisi ekonomi ayahnya berangsur pulih, Utuy kemudian dipindahkan ke sekolah Schakel yang terdapat pelajaran bahasa Belanda. Namun baru saja memasuki tahun kedua di sekolah tersebut—karena tak suka diperlakukan buruk oleh gurunya, ia kemudian memilih minggat dari sekolah.
“Soalnya sederhana; karena aku kurang baik menghafal, maka aku disetrap disuruh berdiri di depan kelas. Dan karena aku merasa dibikin malu, keesokannya aku pun tidak masuk sekolah. Dan karena aku tidak masuk sekolah, maka ketika aku datang lagi ke sekolah, aku disetrap lagi—kali ini oleh Belanda kepala sekolah, dengan dikatakan pula kepada murid-murid lainnya, ‘Ni dia, contoh anak Inlander!’”
Sekali waktu, ketika Utuy sudah kembali bersekolah di Taman Siswa, rumah tetangganya dikosongkan lalu diisi oleh keluarga turunan ningrat pensiunan ambtenaar yang pernah bekerja di pegadaian. Keluarga tersebut mempunyai seorang anak angkat: gadis cantik yang pandai berbahasa Belanda karena sekolah di Hollands Inlandse School. Hatinya panas, karena meski sama-sama berusia 15 tahun, namun gadis itu telah duduk di kelas enam sementara ia di kelas lima. Dan satu lagi, gadis tersebut pandai ber-cas-cis-cus dalam bahasa Belanda, sesuatu yang tak ia kuasai.
Ketika ia mulai jatuh cinta kepada gadis tersebut, Utuy mencoba menulis di koran Sinar Pasundan agar gadis pujaannya merasa kagum. Redaktur koran tersebut adalah paman si gadis yang telah lama menghilang dari Cianjur karena dibuang ke Digul. Beberapa cerita pendek dan sajak karya Utuy mulai menghiasi Sinar Pasundan dengan nama Sontani. Nama pena yang kemudian melekat dalam diri Utuy itu merupakan tokoh yang ia kagumi dari dua jilid buku Pelarian dari Digul yang diberikan paman si gadis. “Tokoh utamanya yang paling berani, yang bernama Sontani, terasa kepadaku seakan-akan hidup di depan mata,” tulis Utuy.
Berkat tulisan-tulisannya di Sinar Pasundan, oleh pihak sekolah Utuy diberi kesempatan untuk melanjutkan ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia beserta keluarganya kemudian pindah karena ayahnya juga mencoba peruntungan dengan membuka restoran di Bandung. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, ia harus kembali ke Cianjur karena usaha ayahnya mengalami kerugian yang besar. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan ia dan ibunya dalam rumah yang kosong tanpa perabotan dan gelap tanpa aliran listrik.
Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka pindah lagi ke Bandung. Dua tahun setelah kepindahannya ke Bandung, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangganya yang ia sukai akhirnya menikah dengan seorang pegawai pegadaian. “Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy dengan getir. Harapannya hancur. Namun di tahun yang sama pula dengan terbenamnya harapan, Utuy berhasil menyelesaikan dua karya: Mahala Bapa (Membinasakan Bapak) dan Tambera, keduanya dalam bahasa Sunda.
Sekembalinya ke Bandung, Utuy menumpang di rumah keponakan ibunya yang mempunyai anak tiri tiga orang gadis. Karena tak kerasan, Utuy akhirnya dititipkan di rumah seorang janda tua—tukang jahit, yang dulu pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik. Utuy tidur dan menulis di tempat yang sama, yaitu di atas selembar tikar yang tergelar di balik pintu. Suatu hari ketika Utuy tengah menulis, tiba-tiba datang seorang perempuan muda dengan perawakan tinggi langsing, warna kulit serupa keju, hidung mancung, dan mata kebiru-biruan: singkatnya mirip seorang peranakan Eropa.
Perempuan muda itu ternyata masih kerabat janda tua si tukang jahit yang sama-sama berasal dari Cianjur. Setelah beberapakali bertemu, akhirnya Utuy dan perempuan muda tersebut saling tertarik. Onih namanya, panggilan dari Nonih, sebutan untuk anak Belanda. Bapaknya memang orang Belanda, seorang penguasa perkebunan. Sedangkan ibunya adalah perempuan desa biasa yang tidak dikawin, melainkan hanya dibeli perawannya saja. Pada usia 14 tahun Onih telah menjadi janda. Di Bandung, Onih berjualan kopi di bioskop Luxor Park.
Sekali waktu Utuy hendak pergi ke tempat tinggal Onih, namun dilarang oleh janda tua si tukang jahit. “Jangan! Biar dia saja yang datang ke sini,” ujarnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Pada satu sore, ketika Utuy terbangun dari tidur siangnya, ia mendapati sebungkus rokok, selembar karcis bioskop Luxor Park, dan secarik surat. “Dang! (panggilan Utuy) Saya ke sini, tapi Dadang tidur. Tapi saya harap, dengan karcis bioskop ini nanti malam kita bisa ketemu di Luxor Park,” begitu bunyi suratnya.
Setelah mandi dan berdandan, Utuy lalu pergi ke tempat janjian. Ia kemudian ikut duduk beserta para pembeli lain di tempat Onih berjulan kopi. Para pembeli yang semuanya laki-laki terus berdatangan. Mereka berkelakar dan mulai berani memegangi tangan dan pinggang Onih. Utuy tiba-tiba gelisah. Onih sempat marah diperlakukan demikian dan mengingatkan bahwa ini tempat umum, namun para lelaki itu semakin berani sambil berkata, “Mengapa mesti malu? Apa di atas tempat tidur itu bukan di tempat umum?”
Rasa penasaran Utuy untuk datang ke tempat tinggal Onih semakin tak tertahankan. Karena terus didesak, akhirnya janda tua si tukang jahit pemilik rumah tempat di mana Utuy tinggal mengizinkan. “Kalau di sana ditemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan Dadang bertambah menyesal lagi,” ujarnya.
Tiba di tempat tujuan, Utuy mendapati rumah yang memanjang dan pintunya banyak. Pintu kamar tempat Onih tinggal sedang tertutup. Tak lama pintu tersebut akhirnya terbuka. Nampak seorang laki-laki keluar sambil membetulkan letak pecinya. Utuy kemudian masuk dan mendapati Onih hanya memakai sarung, bertelanjang dada, dan rambutnya terurai. Ya, Onih nyatanya memang seorang pekerja seks komersial. Sejak itu, hubungan Utuy dan Onih terputus.
Onih si pekerja seks komersial atau cabol dalam bahasa Utuy, kemudian mewujud dalam lakon drama yang berjudul Selamat Jalan Anak Kufur. Titi dalam kisah tersebut adalah cabol muda piaraan Si Ibu (germo) yang bersikap tidak seperi cabol biasa. Ia, meski tetap sebagaimana cabol pada umumnya, yaitu menghendaki bayaran yang tinggi, namun benar-benar pemilih, yaitu hanya mau melayani laki-laki hidung belang yang dihendakinya saja.
Sekali waktu datang seorang Tionghoa kaya berbadan gemuk yang hendak “ngamar” dengannya, tapi ia tolak. “Saya cape, Bah. Bukan saya tidak butuh duit, tapi saya mau ngaso dulu,” ucapnya sebagai alasan.
Di lain waktu datang pula seorang laki-laki lugu yang baru putus cinta dengan kekasihnya, dan hendak mencari penghiburan dengan berkunjung ke tempat Titi. Di kamar, laki-laki tersebut tidak menyentuh Titi, dan hal ini membuatnya menjadi berang. “Laki-laki gila. Setelah masuk kamar, dia tidak berbuat apa-apa selain duduk terdiam kaya tihul. Diajak tidur menggelengkan kepala. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia berair mata. Dan setelah ditanya apa sebabnya bukan dia menyahut, tapi jatuh terguling kaya orang sekalor. Lantas dia memeluk kaki sambil menangis. Saya jadi jengkel. Tidak tahan. Terus saya sepak, saya suruh keluar,” terang Titi kepada Si Ibu.
Kemudian datang pula padanya seorang copet yang banyak uang namun ia tolak, “Kau kira aku tidak tahu dari mana kau mendapatkan uang itu? Uangmu tidak sah kau punyai!” Si copet marah dan menyerang status Titi sebagai cabol yang melakukan perbuatan tidak sah dengan setiap laki-laki. Namun Titi bergeming.
Sikap Titi yang pemilih dan tidak sesuai dengan harapan Si Ibu, disebutnya sebagai kufur . “Aku mesti memperingatkan bahwa cabol itu bukan babu cuci yang membutuhkan laki-laki. Cabol adalah cabol. Dan cabol itu tidak lebih dan tidak kurang dari perempuan sewaan. Dan sekali kau jadi cabol, pendirian itu mesti kau jadikan pegangan. Lepas dari pegangan itu, kau jadi orang kufur,” bentak Si Ibu. “Ya, kufur. Orang Islam yang melanggar agama Islam disebut kufur sebagai orang Islam. Maka cabol yang tidak bertindak sebgai cabol, cabol itu pun kufur sebagai cabol,” sambungnya.
Utuy kemudian menyudahi kisah tersebut dengan perginya Titi bersama Rais (tukang becak) yang kerap mengantarkan tamu ke tempat Titi, namun punya pendirian yang tegas. Sikap tersebut menarik hati Titi, lalu mereka memilih meninggalkan Si Ibu.
Dalam kisah tersebut, selain menggambarkan satu potret nyata dan umum tentang praktik pelacuran di masyarakat, sebagaimana pengakuannya kepada Ajip Rosidi bahwa baginya yang penting dibaca adalah manusia nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, Utuy juga menghadirkan pengalaman personalnya. Ia mencintai Onih, namun cintanya kandas. Lalu ia “membelanya” dengan kisah ini. Ada tarik menarik antara laku asusila dengan kodrat manusia yang sejatinya mengharapkan sebuah hubungan yang normal. Ada kegetiran yang dilarutkan dalam tulisan.
Dalam Awal dan Mira, Utuy juga menghadirkan tendensi personal dalam merangkai kisah, dan lagi-lagi pengalamannya dengan Onih yang kiranya dijadikan bahan. Mira, sebagaimana Onih dalam hidup Utuy, adalah seorang penjaga kedai kopi, cantik, dan hal itulah yang membuat pengunjung laki-laki berdatangan. Dengan latar tahun 1951, artinya hanya dua tahun pasca pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda, Utuy menghamparkan sebuah situasi di mana orang-orang mulai tidak mempercayai manusia karena kekacauan tengah berkuasa.
“Di zaman ini, di mana ada manusia? Maksud saya manusia yang bisa dipercaya? Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman sekarang ini, aku pun sering bertanya-tanya, apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana terjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di antara sesama manusia,” ujar seorang pengunjung kedai kopi kepada Mira.
Awal tampil sebagai seorang yang fisiknya ringkih, pemarah, dan mencintai Mira. Ia frustasi dengan kondisi masyarakat pasca perang. Di kedai kopi tempat Mira berjualan, setiapkali ada yang menyalakan radio, Awal pasti selalu menyuruh mematikannya, bahkan hal itu dilakukannya kepada ibunya Mira sekalipun.
“Apa arti golongan atas di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato di radio itu dari golongan atas? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang mengusai masyarakat kita sekarang, orang-orang yang maunya mengatasi orang lain dengan bicara terus bicara, tak tahu jiwanya sendiri kering-dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini: kedai-kopi!” terang Awal penuh semangat.
Selain dijadikan sebagai sosok Onih—lewat Mira, Utuy pun menghadirkan satu kondisi nyata akibat perang, yaitu cacad fisik. Tak dinyana, Mira yang sehari-hari berdiri melayani para pembeli di balik dagangannya ternyata kakinya buntung: sesuatu yang bahkan Awal pun tidak mengetahuinya.
“Inilah kenyataanku. Kakiku buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah Mas, lantaran ke atas aku cantik ke bawah aku cacat, selama ini aku bagimu merupakan teka-teki,” ucap Mira sambil menyapu air matanya.
Drama Bunga Rumah Makan masih berkisah tentang seorang penjaga rumah makan yang cantik, yang banyak dipuja oleh para pengunjung laki-laki. Ani gadis cantik itu. Ia sudah tidak punya orangtua, dan bekerja di rumah makan Sudarma. Mulanya Ani tidak menyadari bahwa dirinya dijadikan penarik para calon konsumen. Beberapa laki-laki jatuh hati padanya, termasuk karnaen—anak majikannya.
Seperti dalam dua lakon drama sebelumnya (Selamat Jalan Anak Kufur dan Awal dan Mira), Utuy kembali menghadirkan tokoh “pembela”, berkarakter “tak biasa”, dan menyadarkan Ani atas posisinya yang semata diperlakukan sebagai bunga. Iskandar, seorang gelandangan tak jelas juntrungannya, namun jeli melihat keadaan Ani. Ia dengan kata-katanya yang tajam kerap mengingatkan Ani.
“Aku memang gelandangan. Tapi bagiku, lebih baik aku jadi gelandangan, tahu? Lebih baik aku jadi gelandangan daripada kau, diam di sini untuk jadi boneka yang mendagangkan kecantikan!” ujar Iskandar.
Kedatangan Iskandar ke rumah makan tempat Ani bekerja, sekali waktu berakhir dengan pertengkaran. Karnaen, anak pemilik rumah makan tersebut—yang juga menaruh hati kepada Ani, berusaha mengusir Iskandar, terjadi perkelahian, Karnaen dihajar dan Iskandar pergi. Karnaen lalu menghubungi polisi untuk menangkap Iskandar. Kedatangan polisi akhirnya berhasil mengkonfrontasi Ani, Iskandar, Karnaen, dan Sudarma. Diam-diam—dalam emosi yang bercampur aduk, Ani rupanya perlahan menyadari apa yang kerap diutarakan oleh Iskandar. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan tersebut, dan memilih pergi bersama Iskandar.
“Saya tidak senang di sini, karena itu saya mau pergi. Saya harus jauhi segala kepalsuan dalam rumah makan ini, dan akan pergi bersama orang jujur,” kata Ani.
Hamparan kisah yang ditulis Utuy dalam tiga drama tersebut adalah artefak pengalamannya berkenalan dan jauh hati kepada Onih. Mungkin mulanya kita tidak menyangka, namun hal ini ditulis oleh Utuy dalam memoarnya.
“Apa dan siapa Onih itu, asal kau teliti memeriksanya, akan kaujumpai dia dalam berbagai karanganku. Dan sekalipun sudah berpuluh tahun lamanya aku berpisah dengan dia, nama dan kedudukannya sebagai pelacur itu masih terus meminta tempat untuk ditulis; sedang peranan wanita penjual kopi dengan suasana di sekitarnya berkali-kali pula muncul di dalam drama-dramaku. Ini tidak lain, karena haru yang kurasakan akibat perkenalan dengan dia itu bagiku tak ada habis-habisnya.”
Ada sosok Utuy dalam diri Rais si tukang becak, Awal, dan Iskandar. Mereka bukan tipe laki-laki penggoda, jujur dalam perasaan cinta, namun (mulanya) terpinggirkan oleh keadaan. Mereka dipandang sebelah mata, namun hadir sebagai pembela.
Dengan mengendarai pengalaman personalnya, Utuy mendadarkan kondisi sosial yang hidup di sekitarnya: praktik pelacuran, kondisi pasca perang, dan watak manusia yang beragam. Drama-drama tersebut bukan saja menggebrak dunia sastra Indonesia pasca kemerdekaan dan melambungkan namanya, namun juga mengabadikan—meminjam kata-kata Utuy: haru yang tak kunjung kering. [irf]
Sumber foto: lppmkreativa.com 

Disalin dari Pustaka Preanger

Pohon Kapuk

Pagi jahanam. Saat kamu terlelap tidur sehabis dihajar lelah yang berparade, dan udara dingin mengepung, bunyi alarm meraung-raung dari sebuah ponsel milik kawanmu, berulang-ulang. Alarm yang nirmanfaat, sebab kawan pemilik ponsel itu amat jarang terbangun, atau jika terbangun hanya membunuh bunyinya sebentar untuk kemudian meraung lagi. Bunyi-bunyi yang menyerupai panggilan niaga tukang es krim, atau lagu asing yang menyebalkan. Kamu naik pitam dan selalu terlintas di pikiran untuk melemparkan ponsel itu ke jalan agar digilas ban mobil sampai remuk, atau menggetok batok kepala kawanmu dengan ponselnya. Tapi kamu sadar, bahwa yang namanya kawan harus selalu mempunyai cadangan kesabaran, persis seperti orang-orang yang mengantri di BPJS kesehatan, atau calon pembeli kopi yang mengular di jalan Banceuy. Lalu kamu memilih mencuci muka, minum air putih, menyeduh kopi dan merokok, sambil perlahan melepaskan keruh hati yang biasanya akan hilang ketika siang mulai datang, dan keruh lagi saat malam dijemput pagi. Harapanmu hanya satu, setidaknya sebelum kiamat tiba, kawanmu itu diberi hidayah, menginsyafi satu hal bahwa kupingmu bukan sebatas daging tumbuh, bukan pula semacam kikil sapi, namun sebenar-benar indera pendengar yang masih berfungsi.
Kamu tidak memonopoli kesal, sebab kawanmu yang lain merasakan hal yang sama, kadarnya saja yang mungkin berbeda. Sering kamu dapati seorang kawan yang lain telah duduk menghadapai kopi, rambutnya terurai, dan diselubungi asap rokok produksi Djarum: Agus namanya. Pada perjumpaan yang mula-mula, kamu bergumam dengan lirih, bahwa kawanmu ini masuk kafilah muklas (muka klasik), sebuah kelompok perwajahan yang bersahaja berkawan, rendah hati, dipenuhi narasi menunggu, dan bisa didefinisikan oleh sebuah lagu aduhai berjudul Di Ambang Sore. Ia pendiam pada awalnya, penyimak yang baik, dan pelaku blunder umum seperti: salah kamar chatting, berkomentar keluar konteks, dll.
Di perkemahan Capolaga yang digenggam angin lembah, saat kesibukan berderet-deret, kamu mendapati Agus membereskan banyak hal, tak menunggu komando, tak banyak cakap, sendirian. Ia kemudian menambah perbendaharaan kawan yang masuk kategori: bisa diandalkan. Keringat berleleran dari anak rambutnya yang digulung tanpa tusuk konde. Sesekali pertanyaan keluar dari mulutnya, ihwal pekerjaan apalagi yang mesti ia selesaikan. Saat itu kamu berniat menawarkannya segelas kopi jagung dan sebatang rokok, namun karena tiba-tiba perutmu mulas, kamu akhirnya bergegas pergi ke sebuah sudut perkemahan.
Dalam acara diskusi buku, Agus beberapakali membahas novel tak populer dengan karakter tokoh yang klise: pencinta alam, murung, pembaca buku, setia, namun kisah cintanya pahit. Novel-novel itu selalu mengingatkanmu pada buku Catatan Seorang Demonstran. Kamu lalu bersuudzon, bahwa kawanmu ini tengah berjuang mencari identitas, bongkar pasang idola, dan ho-hokgie-eun. Tapi kamu kemudian meyakinkan diri bahwa itu adalah soal interpretasi saja, sebuah rumusan yang diambil dari pergaulan sehari-hari, namun tak menjamin mampu menyelami pedalaman yang sebenarnya.
Belakangan, dalam lautan percakapan di sebuah grup komunitas, Agus kerap diserang oleh banyak kawan terkait dengan pasang surut kisah kasihnya: serangan-serangan guyon namun terkadang tajam. Sebut saja Aip (nama panggilan sebenarnya), kawanmu yang satu ini kerap mencecar Agus serupa para kombatan Perang Teluk menghantam musuh dengan rudal Scud B buatan Uni Soviet. Kamu sadar, kawanmu yang membaca tulisan ini ingin tahu contoh serangan Aip tersebut, maka kamu pun menyalinnya di sini:
  1. Agus: “Makanan yang mengandung vitamin B apa aja ya?”
Aip: “Searching di Google sateh tonk manja!”
  1. Agus: “Beneran pan urang time traveler”
Aip: “Punya privilese keliling ruang waktu, tapi tak belajar apa pun darinya, buat apa?”
  1. Di twitter:
Agus: “Setia kadang membuat luka, dan waktulah yang akan menjadi penawarnya”
Aip: “Halah kontol”
Sebagian kawanmu pasti ada yang tidak paham dengan beberapa contoh percakapan di atas, demikianlah adanya, sebab percakapan-percakapan tersebut tidak terlepas dari konteks yang tidak semua kawanmu mengetahuinya. Agus rupanya cukup tertekan dengan kondisi tersebut, sampai akhirnya terlontar sebuah kalimat, “Mun aing ngetik si Aip pasti kaluar.” Kamu tertawa berderai-derai mendengar kalimat tersebut. Tak lama setelah itu, beberapakali kamu mendapati Agus tengah mendengarkan lagu-lagu dengan lirik menyayat, diulang-ulang, lalu menyanyikannya secara lirih dengan bantuan suara gitar. Ketika melihat Agus di titik seperti itu, kamu teringat pohon kapuk: saat buahnya merekah suasana di jalanan menyerupai hujan salju karena seratnya yang putih beterbangan di udara, namun saat kemarau ia meranggas.

Hujan salju seorang Agus sering kamu lihat di keseharian: ia sigap dalam perjalanan kelompok, gesit mengantarkan dan mengawal kawan perempuan yang pulang larut malam, ulet mengerjakan tugas-tugas desain, rokoknya serupa brosur iklan kredit motor (boleh diambil siapa saja), dan beberapa hal lainnya. Dan sebelum tulisan ini jatuh menjadi sehimpun puji-pujian, kamu hendak menutup hujan salju interpretasimu tentang Agus dengan sebait puisi dari Jokpin: “Bahwa sumber segala kisah adalah kasih / bahwa ingin berawal dari angan / bahwa segala yang baik akan berbiak / bahwa orang ramah tidak mudah marah.” [irf]
Disalin dari Pustaka Preanger

Ayah

Apa yang seringkali kamu lupakan? Mungkin salah satunya adalah bahwa kamu pernah dibesarkan oleh seorang ayah, oleh seorang laki-laki yang agak pendiam, tak banyak cakap, tak pernah terlihat menangis, kadang-kadang doyan cigarette, dan setia kepada keluarganya. Dalam sebuah sore yang hangat, lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu mengajarimu naik sepeda di ujung jalan yang agak sepi. Waktu kamu terjatuh dan lututmu berdarah, dia, lelaki yang tak banyak cakap itu, menyemangatimu untuk bangkit dan belajar lagi.
Kalau siang hari hujan turun deras, kamu sudah pulang dari sekolah, dan di luar rumah; kawan-kawanmu sangat menggoda dengan salah seorang memegang bola, maka kamu akan keluar mengendap-ngendap, dan berlari ke tanah lapang, mandi hujan dan pesta lumpur. Di rumah, kalau ibumu sudah menunggu dan siap memarahimu, lelaki yang agak pendiam itu justru bersikap sebaliknya, dia akan memberimu uang agar kamu dapat membeli bakso. Dia mengetahui hal-hal yang menyenangkan, karena dia juga pernah menjadi anak laki-laki.
Ketika kamu beranjak dewasa dan mulai terlihat cantik, usiamu bergerak mendekati kepala dua, organ tubuhmu seperti ada yang bertambah, dan kamu betah berlama-lama di depan cermin, maka lelaki yang tak pernah terlihat menangis itu akan hati-hati mengamatimu dari jendela, ketika kamu pergi dengan seorang laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat.
Karena kamu agak sedikit mudah digoda, maka akhirnya kamu pulang malam. Rumah telah redup, kamu hati-hati mengetuk pintu, ibumu bangun dengan mata pedas karena masih ngantuk, lalu kamu setengah berjingkat masuk ke kamarmu dan mencari cermin untuk melihat senyum. Laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat telah membuatmu merasa menjadi istimewa. Apakah kau tahu sayang? Tadi, waktu kamu berjalan berjingkat, di sudut ruang tamu, di bawah remang pantulan cahaya lampu, ayahmu duduk menunggu kedatangannu. Dia mencemaskanmu. Dia belum tidur sekejap pun sebelum bidadari kecilnya sampai di rumah.
Pidibaiq pernah bilang, “Aku juga sepertimu, berasal dari sorga yang turun ke bumi dengan cara diam-diam diselundupkan oleh ayahku di sebuah kamar pengantin, lalu keluar dari ibuku di sebuah kamar rumah sakit.” Tapi ayah sesungguhnya bukan seorang penyelundup, dia hanya menangkap gemuruh, membaluri cinta, dan dengan sebaik-baiknya berusaha merawat anak-anak terbaik yang diamanatkan Tuhan kepadanya, dengan caranya sendiri, yang kadang-kadang terasa lirih dan sunyi.
Coba tanyakan pada ibumu, apa yang sering diberikan ayahmu kepada istri tercintanya? Pasti ibumu mengerutkan dahi dan sedikit bingung, sebab lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu jarang sekali memberikan sesuatu. Dia tak pandai memberikan kejutan, apalagi memberikan hadiah-hadiah yang mewah. Tidak, dia tidak punya uang sebanyak itu. Tak banyak yang dia diberikan kepada istri tercintanya, kecuali bangun di tengah malam untuk mengganti popokmu yang basah, kecuali terlihat senang dengan masakan ibumu yang sederhana, kecuali memperbaiki genteng bocor dengan tangannya sendiri, kecuali tak pernah menginap ketika pergi ke luar kota karena ingin segera pulang, kecuali menikmati dengan penuh khidmat kopi di pagi hari yang sudah tersaji dari tangan sang istri, kecuali tak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang ditemuinya di luar rumah, dan kecuali bersikap jujur kepada istri tercintanya.
Dari mana mereka, ayah-ayah kita itu belajar mencintai pasangan dan keluarganya? [irf]

Disalin dari Pustaka Preanger