Pages

Monday, September 5, 2016

Mengingat Mimpi, Membangun (lagi) Imajinasi

Masa kecil begitu jauh sekaligus dekat. Jauh dicekik saat yang terus bergerak. Dekat karena jejaknya berarak di lereng ingatan. Masa kecil juga selalu menjadi lonceng yang kerap berdentang: mengingatkan kita bahwa berkurangnya usia berparalel dengan tanggungjawab yang kian menggantang, beban hidup yang mulai terasa, dan orang-orang tercinta yang diambil waktu satu-persatu. 

Dulu, barangkali mimpi serupa kupu-kupu yang beterbangan, selaksa warna, dan mengeram di kepala. Imajinasi berpendaran, berlesatan, tentang pertempuran hebat dengan senapan pelepah pisang, terbang ke bulan dengan pesawat kertas, menjadi putri dengan Barbie di tangan, atau mengangankan seorang pangeran penguasa kastil.

Usia kanak dan  teman masa kecil di dalamnya, kata Milan Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Ia dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Mungkin Kundera tak sepenuhnya benar, karena ternyata mimpi dan imajinasi kita di masa kecil perlahan menyusut, mengerut, bahkan hilang: sebuah dunia yang semakin tak tergenggam. 

Tanggal 10-11 September 2016, Komunitas Aleut berencana mengadakan kemping ke Kapulaga-Subang. Sebuah kegiatan yang dirancang--dengan terutama untuk bersenang-senang: merayakan persahabatan, menyesap alam, kontemplasi sederhana (kalau ada), dan bisa juga untuk meretas “jalan pulang”, menengok lagi mimpi dan imajinasi yang terlanjur compang-camping. 

Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin komunitas yang sebisa-bisa tak pernah jeda, mencoba memadu-padankan tema. Ada kumpulan naskah cerita masa kecil karya kawan-kawan yang terbuhul dalam buku “Memento”. Para penulis telah bersedia membuka kisah masa lalunya ke khalayak ramai. Tentu tujuannya bukan untuk menenggelamkan diri di masa yang telah lewat, namun belajar mengguratkan kisah dalam jejalin aksara. Selain itu, yang paling penting adalah mengapresiasi sepenggal jenak, bahwa kita hari ini sejatinya adalah sebangun rangkaian gerbong, dan masa kecil mempunyai saham di dalamnya.

Mestikah kita menutup katup jenak itu? Masa lalu-masa kini-masa depan adalah rangkaian kesejarahan yang membentuk pribadi kita. “Belajarlah dari masa lalu, cermati masa kini, dan bangunlah masa depan. Bukan sekadar dilanjutkan, melainkan membuat pilihan dan mengambil prakarsa, itulah hidup,” begitu kata Fuad Hasan. 

Maka Kelas Literasi kali ini mencoba meraba kembali hal tersebut. Atau bila dirasa terlampau normatif, kiranya mari bersenang-senang saja. Sambil bertukar senda di tengah nafas alam, mari mengingat lagi mimpi-mimpi masa kecil, siapa tahu kita masih berhasrat untuk mewujudkannya. Dan imajinasi, selamanya bagi manusia, adalah penanda bahwa kita tak sepenuhnya takluk oleh batas ruang dan waktu. “Orang-orang yang tak memiliki imajinasi adalah orang-orang palsu” demikian sabda TS. Elliot. [irf]⁠⁠⁠⁠

Wednesday, August 31, 2016

Memopulerkan Sejarah Bersama Historia


Edisi perdana Historia terbit pada bulan April 2012. Mengusung tagline “Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia”, Historia hadir menyapa para pembaca dengan tulisan-tulisan sejarah yang “tak biasa”. Majalah tersebut menghadirkan fakta-fakta yang kerap luput dari narasi arus utama. Dalam catatan redaksi di nomor 13 tahun 2013, Historia menjelaskan hal tersebut, “Sedari mula kami memang ingin menjadikan Historia sebagai alat penyadaran, versi tandingan dalam bentuknya yang terbaik dari sejarah versi resmi.” Majalah yang dinakhodai oleh Bonnie Triyana—seorang sarjana sejarah dari Universitas Diponegoro, dalam kata-kata David T. Hill, ahli Indonesia dari Murdoch University sebagai “very nice operation.” Ya, operasi bukan publikasi.

Sejak kelahirannya empat tahun silam, Historia—meski banyak menuai pujian, namun dari segi penjualan kiranya belum memperlihatkan angka yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari seringnya majalah tersebut memberikan diskon sebesar 50% untuk nomor-nomor lawasnya, yang artinya stok majalah tersebut begitu melimpah sebagai efek langsung dari rendahnya penjualan. Di beberapa toko buku besar pun Historia sering kali sulit dijumpai, hal ini seolah mengabarkan hal lain tentang lemahnya sistem distribusi. Meski disertai juga dengan historia.id (lini daring) sebagai bentuk memperluas jangkauan, namun Historia belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat.

Komunitas Aleut sebagai kelompok belajar yang salah satu minat terbesarnya yaitu sejarah, sejak awal telah membaca dan beririsan dengan Historia. Indra Pratama, salah seorang pegiat Aleut sempat menjadi kontributor majalah tersebut untuk wilayah Bandung. Selain itu, seorang pegiat lain atas pemintaan Historia pernah meliput acara Monolog Tan Malaka yang digelar di IFI Bandung. Meski pada akhirnya—dengan pertimbangan teknis, tulisan liputan tersebut tidak jadi tayang, namun setidaknya komunikasi tetap terjaga. Dan baru-baru, kegiatan #NgoJak atau Ngopi (di) Jakarta sebagai sayap Komunitas Aleut di Jakarta, diliput juga oleh Historia dan tayang di lini daring.

Beberapa hal tersebut di atas kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mengusung Historia sebagai tema Kelas Literasi sabtu ini (3 September 2016). Beberapa majalah berbeda edisi telah dan tengah dibaca oleh para pegiat Aleut untuk diresensi dan didiskusikan pada Sabtu mendatang. Aleut yang selama ini berikhtiar mengenalkan sejarah popoler—meski secara konten berbeda, kiranya seturut dengan Historia untuk bersama-sama menghadirkan sejarah dengan wajah yang berbeda kepada masyarakat. Selain itu, mengingat kondisi Historia yang belum sepopuler majalah lain, anggap saja apa yang kami lakukan di Kelas Literasi ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kami terhadap Historia yang tak surut mengabarkan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa kini.

“Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Sukarno. Di titik ini, Historia menurut hemat kami telah dan tengah merawat amanat itu dengan sebaik-baiknya. [irf]      

Tuesday, August 30, 2016

Air

Di Cisanti, di hulu Sungai Ci Tarum tersebut air sebenar bening keluar dari sesela bebatuan, ditampung dalam sebuah danau, lalu dialirkan ke sungai yang memanjang sampai Laut Jawa dan kaya akan sejarah kehidupan manusia. Tidak terlalu jauh dari sumbernya, air telah bersalin rupa: berwarna dan bau. Berlaksa limbah pabrik dan rumahtangga memperkosa keasliannya. Jika hujan datang, air tersebut menjadi sumber bencana. Banjir dirayakan dengan sepenuh kutuk dan serapah. “Ulah nyalahkeun Citarum, da ti dieuna mah pan hérang jeung alit ngocorna gé. Salah manusa wé éta mah, bongan saha caina diraruksak (Jangan salahkan Citarum, kan dari sininya bening dan alirannya kecil. Salah manusia sendiri, suruh siapa airnya dirusak),” begitu kata seorang warga yang kami temui di Situ Cisanti.    

Selain nama tempat yang diawali dengan suku kata “Ci” seperti Cisanti dan Ci Tarum, dalam masyarakat Sunda mata air disebut dengan “Séké”. Kata ini kemudian menjadi toponimi di beberapa daerah seperti Sékéloa dan Sékélimus. Hal ini tentu menyuratkan dan menyiratkan satu hal bahwa air memang tak bisa dipisahkan dari hayat.

Di awal pendiriannya di Indonesia, sebuah perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) banyak menuai tawa dan sindiran dari masyarakat, “Orang gila macam apa yang hendak menjual air di negara dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun seperti Indonesia ini?” begitu kira-kira. Puluhan tahun kemudian perusahaan tersebut menuai hasil yang gemilang dan berhasil membungkam ketidakpercayaan masyarakat. Namun hal ini menimbulkan masalah, karena air yang seyogyanya dilindungi oleh undang-undang dasar dan redaksinya tertulis dengan jelas di pasal 33 ayat 3, kemudian banyak dikuasai privat sehingga publik tak lagi leluasa mengaksesnya.

Setahun yang lalu, Watcdoc merilis sebuah film dokumenter berjudul “Belakang Hotel”. Film ini berkisah tentang derita warga di Yogyakarta yang kekurangan air setelah di lingkungannya berdiri sebuah hotel. Warga telah berkali-kali mengajukan protes terhadap pengelola hotel dan mengadukannya ke pemerintah, yang didukung data riset kondisi air pra dan pasca hotel tersebut didirikan. Namun hal tersebut belum memberikan hasil seperti apa yang diharapkan warga. Film yang diproduksi tahun 2014 menjelentrehkan betapa pentingnya air bagi kehidupan.

Perilaku masyarakat, sikap korporasi, dan kebijakan pemerintah berkelindan menciptakan sebuah kondisi yang memosisikan air sebagai sumber daya melimpah di satu sisi, namun kerap menjadi kambing hitam bencana dan akses pemanfaatan yang kiat sempit. Air di bumi yang selamanya 100 persen seolah surut, berkurang, dan sesekali berlebih untuk meluluhlantakkan.

Dalam timbangan kehidupan berbangsa, kita juga menyebut “tanah air” untuk kata lain dari negara. Semua agama dan sistem religi, kami kira punya perhatian yang sama akan pentingnya air. Sekadar contoh, dalam Al Quran sebagai kitab suci orang Islam, ada dua ayat yang mendedahkan hal ini : “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang memancar.” (86 : 5-6)

Ya, air adalah hidup itu sendiri. [Irf]

Foto : Tegar Aji Sukma Bestari

Tuesday, August 23, 2016

Mencatat Perjalanan

Barangkali bepergian dalam hidup adalah cermin dari hidup itu sendiri: sebuah perjalanan tanpa tiket pulang, persis seperti lakon dalam film “Le Grand Voyage” dan “Into The Wild”. Setidaknya dari dua film ini, perjalanan tak hanya sewujud piknik namun parade meniti ruang dan waktu yang kudus dan sakral. Pergi tanpa (kepastian) kembali adalah sebenar-benar riwayat manusia yang mesti dipersiapkan dan dijalani dengan kesungguhan ikhtiar. Chairil Anwar menulisnya dengan kalimat “sekali berarti sudah itu mati.”

Bila tensinya agak diturunkan, perjalanan tetaplah sebuah rekreasi yang fungsinya untuk (terutama) menyegarkan rohani yang teresidu oleh rutinitas kehidupan yang kerap menumpulkan kesadaran dan memburamkan mata batin. Dari perjalanan Soe Hok Gie ke puncak-puncak gunung sampai darma wisata anak-anak SMP yang ceria menelan hidup usia muda, semuanya tak bisa lepas dari upaya “pembersihan” ruang penat dan bosan yang mungkin hampir berjelaga. Ya, perjalanan memang bukan hal baru, telah terlalu tua malah. Dalam risalah keagamaan pun hal ini begitu jelas ditatah oleh para nabi dan orang-orang suci lainnya.

Di kehidupan hari ini, perjalanan kembali menjadi sebuah laku populer yang banyak dijalani oleh banyak orang. Tua-muda berlomba lari dari rutinitas demi keindahan yang tak-tepermanai. Jika menilik para penulis catatan perjalanan, kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga.

Hal tersebut memang tak salah, toh pada rekreasi seperti itu pun porsi menyegarkan rohani punya haknya. Namun jika ditilik ulang, kehidupan manusia sebetulnya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan keindahan alam. Bagaimana misalnya para nelayan yang tak peduli dengan senja, petani kentang yang menghela hidup sedepa demi sedepa, guru SD yang mesti menyeberangi jembatan ringkih demi mencapai sekolah, nenek-nenek pemecah batu, dan masih banyak lagi. Manusia dengan segala dinamika hidupnya terkadang lebih puitis dari pesona alam yang dijejakinya.

Namun demikian, catatan ini tak hendak membuat polarisasi, hanya sekadar menawarkan dua sisi mata hidup dalam perjalanan, yaitu mencoba meraba alam dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Kedua hal tersebut selamanya adalah teman sejati bagi setiap pejalan, petualang, pengembara, dan mungkin para pecundang yang tak berani menghunus pedang di medan laga kehidupan.

Komunitas Aleut sebagai sebuah kelompok yang berminat dan berkhidmat pada sejarah kota, alam, dan dinamika manusia, juga adalah sekumpulan orang yang sering melakukan perjalanan. Setidaknya seminggu sekali, dengan metode jalan kaki dalam berbagai penelusuran, sudah banyak mengalami  perjalanan dan menuangkannya dalam catatan. Mencatat, seturut mantra “scripta manent verba volant” bisa jadi bukanlah jalan abadi, namun setidaknya ada proses pewarisan risalah yang bisa dibaca ulang oleh generasi selanjutnya. Dalam catatan ada spasi perenungan yang bisa dihela dan dibaca perlahan.

Dari sini sebuah pertanyaan kemudian menyeruak, catatan perjalanan seperti apa yang kira-kira tak hanya menawarkan pesona, namun juga bisa memberikan petunjuk jalan yang akurat agar bisa dinapaktilasi oleh para pembaca? Hal terpenting tentu saja keterangan rute dan tempat. Sehimpunan data dan informasi selayaknya menjadi pengiring yang setia dari setiap narasi yang hendak dihiperbola, misalnya. Pada semburat langit jingga mesti ada juga keterangan di mana lokasinya, cahaya rembulan keemasan pun memerlukan nama ruang jejaknya, bahkan jika terjebak dalam sebuah wilayah konflik pun tetap harus ada asma siapa saja yang bertikai dan di mana kejadiannya. Mencatat perjalanan tak hanya rentetan deskripsi pesona dan tragedi, namun juga presisi.

Dari rumusan inilah kemudian Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin Komunitas Aleut yang Sabtu ini akan masuk pekan ke-57, mencoba mendiskusikan hal-hal tersebut di atas. Dengan beberapa buku catatan perjalanan sebagai bahan pembanding dan inspirasi, kami hendak belajar dan mengevaluasi apa-apa yang telah dan tengah dikerjakan. Jeda untuk mengakrabi teks seperti biasa tidak terlalu leluasa, sebab seminggu dengan bauran kesibukan di dalamnya tentu bukan waktu yang ideal untuk benar-benar memahami ratusan halaman catatan perjalanan. Tapi seperti pekan-pekan sebelumnya, sesempit apapun, kami tetap mencoba melakoninya.   

Muara dari tema yang diusung pekan ini tentu saja pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Adapun perjalanan, seperti yang telah diurai pada alinea-alinea sebelumnya, apakah itu sebagai laku suci dan sakral, ritus penyegaran rohani, atau hanya sekadar bersenang-senang tanpa tendensi apapun, selalu menggoda untuk kita jalani lagi dan lagi. Dan di ruang literasi yang kita jalankan bersama, kiranya perjalanan tak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dijalani dan selesai, namun juga disimpan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk catatan. [irf]   

Tuesday, August 16, 2016

Para Penggagas dan Penatah Indonesia

17 Agustus sudah di muka. Inilah titimangsa itu. Pintu gerbang yang dicitakan, sekaligus ada ragu di seselanya, yang lahir dari masa darurat di waktu berat. Jauh sebelumnya, kemerdekaan yang ditandai dengan sesobek esai pendek bertenaga yang bernama proklamasi, adalah jalan terjal dan berliku yang dipanggul oleh beragam wajah, aneka ideologi, jutaan anak revolusi, namun satu semangat yaitu terbebas dari neraka horizontal yang bernama kolonial. Merdeka narasi tunggal di satu sisi, namun penggagas dan penatahnya adalah rupa bhineka yang tak hanya sewujud bintang dan bulan sabit, palu dan arit, atau wajah bumi dan langit.

Jika sejarah pada akhirnya ditulis oleh rezim dengan kekuatan politiknya dan hanya mempolarisasi antara pahlawan dan pembangkang, atau malaikat dan setan, namun riwayat yang tercatat tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Kita—generasi yang lahir dan tumbuh di tengah doktrin rezim, kini punya kesempatan untuk menggeledah dan mengkoreksi narasi itu, meski mungkin tak sepenuhnya. Kita bisa mengunyah kisah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan para pahlawan lainnya, sekaligus juga bisa memamah cerita Aidit, Njoto, Daud Beureuh, Sam, Musso, dll yang kadung dicap pemberontak dan pengkhianat republik.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,” begitu kata Nyai Ontosoroh dalam prosa terkenal Pramoedya Ananta Toer. Kiranya pepatah ini bisa juga ditujukan kepada kita dalam membaca, menilai, dan mengapresiasi manusia-manusia pelopor yang telah berkalang tanah di taman luas sejarah republik yang bernama Indonesia. Di titik ini masalalu, mestinya, tak lagi berwujud sebuah lukisan hitam-putih yang mudah diadili dan divonis mati, namun barangkali bisa menyorongkan juga sikap bijak-bestari dalam memandang risalah kemerdekaan dan ke-Indonesia-an.

Dari pemetaan inilah kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut yang masuk pekan ke-56 mencoba mengusung tema. Beberapa teks telah dipilih, dan kami memutuskan untuk menjadikan TEMPO dengan buku serialnya sebagai media untuk menyelami sejarah itu. Dari perspektif pemilihan sumber bacaan keputusan ini mungkin bukan yang terbaik, sebab TEMPO dengan segala kontroversi yang menyertainya tidak bisa dijadikan rujukan tunggal tentu saja. Namun kami pun telah menimbang beberapa hal: Pertama, TEMPO menulis sejarah dengan mata pisau reportase jurnalisme sastrawi yang kemudian menghadirkan tulisan-tulisan sejarah yang mudah dikunyah. Kedua, TEMPO tidak hanya menghamparkan masalalu, tapi juga masakini yang terpahat dalam penelusurannya terhadap jejak-jejak yang tersisa. Dua hal itulah yang kami rasa sesuai dengan kondisi para pegiat Komunitas Aleut—yang meski terbiasa menyuntuki sejarah, namun tak banyak yang mengakrabi periode di sekitar kemerdekaan.     

Baru-baru tersiar kabar bahwa lukisan karya Galam Zulkifli yang terpasang di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta diturunkan karena disinyalir menyertakan wajah Aidit. Lukisan berjudul “The Indonesia Idea” itu menghamparkan 600-an wajah anak bangsa yang hadir berparade dalam titian sejarah republik. Zulkifli sepenuh sadar bahwa Indonesia sejatinya adalah proyek coba-coba yang tak hanya diusung oleh para “pahlawan”, namun juga “pemberontak” yang kalah bertaruh dan tersisih dari arus utama. Kasus ini menabalkan satu hal, bahwa tantangan masih menggantang, tentang phobia yang masih menggelapkan mata dan logika. Indonesia dalam banyak benak, seolah digagas dan ditatah oleh para pemenang saja. Doktrin ternyata belum sepenuhnya luruh dan pudar. Kelas Literasi pekan ini kiranya adalah sebuah ikhtiar untuk menyigi “ruang gelap” itu. [irf]

Monday, August 15, 2016

Surat untuk Alina yang Ditulis dari Ranca Bayawak

Alina sayang…

Ketiadaan alamat membuat semua surat untukmu tak memiliki tempat. Anggaplah kamu telah menjadi semesta, tidakkah siang itu kamu melihatku tengah berdiri di atap masjid itu?

Burung-burung kuntul dan blekok beterbangan dan hinggap di rumpun-rumpun bambu. Kepak mereka begitu menawan, membawa kabar jutaan mil jarak tempuh yang telah dilalui. Siapa bilang jarak begitu bekhianat? Ketiadaanmu melebihi jarak, waktu, dan segala.

Kampung berpenghuni ratusan jiwa manusia ini telah dikepung proyek-proyek raksasa. Batas-batasnya begitu jelas dan menganga. Alat berat berdiri kokoh di kejauhan, dan patok-patok wilayah setegas garis sungai yang mati itu.

Alina bara apiku…

Di sini, di kampung Rawa Bayawak yang jaraknya tak sampai satu jam dari pusat Kota Bandung, warga kini tengah berjuang sekuat yang mereka bisa, untuk menghalau para penawar tanah moyangnya. Ya, tanah yang ini juga dari dulu, tempat kawanan burung itu merasa nyaman untuk singgah dan menetap di rumpun-rumpun bambu.

Pagi kala semburat mentari menerobos pohon-pohon selong, dan rembang petang saat adzan magrib berkumandang, kawanan burung-burung itu pergi dan pulang. Langit berhiaskan ratusan kepak sayap, sebuah pemandangan indah yang ingin aku kerat untukmu, Alinaku.

Alina manisku…

Jika suatu waktu yang entah kapan kamu main ke sini, bercengkramalah dengan warganya. Mereka punya beberapa kuliner khas yang mungkin kamu sukai. Bicaralah dan dengar keluhan serta harapan-harapan mereka, lalu kabarkan kepada orang-orang, bahwa di tengah gelisah pembangunan kota, masih tersisa sekerat harapan warga dan ruang hayat bagi kawanan burung-burung itu. [irf]

Thursday, August 11, 2016

Teror Kampus, Muhidin, dan “Jalan Sesat”

Ruangan student centre penuh dengan asap rokok dan gelas plastik berisi kopi. Saya dan kawan-kawan sedang rapat persiapan menyambut mahasiswa baru angkatan 2003. Siang itu agendanya adalah pemilihan ketua pelaksana OSPEK jurusan. Seperti juga yang lain, saya bolos dari kelas. Mata kuliah Kewirausahaan ditinggalkan. Rapat memutuskan saya sebagai ketua pelaksana. Buat saya, ini adalah keputusan yang kurang nyaman. Selama aktif di organisasi kemahasiswaan saya selalu memosisikan diri di belakang layar: dari Himpunan sampai BEM. Departemen Kajian Strategis selalu menjadi pos pilihan. Sekali ini tantangan hadir di muka, saya mesti menjadi sosok paling depan. Keputusan sudah diambil, dan saya tak boleh mundur.

Selesai rapat, kelas sudah bubar. Seorang kawan datang menghampiri, “Bung, tugas Kewirausahaan sudah bikin?” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya singkat. Dia kemudian melanjutkan bahwa tugas itu sudah dikumpulkan ke dosen yang bersangkutan, dan saya mesti segera menyetorkannya. Saya bergegas menuju ruangan dosen di lantai dua. Di ambang pintu saya berhenti dan mendapati ruangan telah kosong. Dengan tugas di tangan, saya masuki ruangan dosen lalu meletakkannya di di atas tumpukan tugas kawan-kawan yang lain.

Besoknya saya dipanggil dosen Kewirausahaan dan dicecar kemarahan tanpa ampun karena ia mendapati mejanya berantakan. Saya bilang, benar saya kemarin bolos dan terlambat mengumpulkan tugas, tapi saya tak membuat kekacaun. Saya hanya menyimpan beberapa lembar makalah saja. “Kalau kamu yang terakhir masuk ruangan dan tidak mengaku, lalu siapa lagi? Masa sama hantu!” Urusan semakin rumit karena dosen itu kemudian melebar ke sikap saya yang kerap “menyerangnya” selama di kelas.

Satu hal memang benar: selama kuliah saya adalah sosok menyebalkan bagi sebagian orang. Di kelas, jika ada diskusi, saya selalu bertanya dengan maksud menguji sejauh mana pengetahuan kawa-kawan, dan bukan bermaksud ingin tahu jawabannya. Begitu pula ke semua dosen, saya kerap “menyerang” para pengemban risalah pendidikan itu dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Dosen yang satu ini, yang konon mejanya saya acak-acak itu, adalah juga yang kerap saya “serang”.

“Kamu sebenarnya mau apa? Setiap saya di kelas, kamu selalu menyerang saya seperti hendak mempermalukan!” Saya pikir, jawaban apapun tak akan meredakan amarahnya yang tengah muntab. Saya memilih diam. “Kamu mau DO?!” Sambaran yang cukup mengejutkan. Saya pribadi sejujurnya tidak takut DO, tapi apa kabar dengan orangtua di kampung. Tak terbayang reaksi mereka sekiranya tahu anaknya yang ditatah dengan segenap do’a dan biaya malah kalah di gelanggang pendidikan. Saya lemas dan cemas. “Tunggu keputusannya Senin, kamu mesti menghadap Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan, sebelum akhinya kamu resmi DO!” Ancaman itu kembali menyambar.

Setelah itu saya menghubungi kawan-kawan dan menyampaikan semuanya. Kepada Ketua Himpunan saya bilang, “Bung, saya teracam DO, sementara saya juga harus memimpin OSPEK jurusan. Saya kira posisi kita tak aman. Segala perizinan yang terkait dengan acara kita pasti akan dipersulit atau bahkan akan digagalkan.” Dia diam sejenak. “Nanti sore kita ketemu di student centre, kita bicarakan dengan kawan-kawan yang lain,” ujarnya. Kemudian saya pergi ke kantin, memesan kopi dan menghabiskan setengah bungkus rokok. Kelas saya lupakan. Sehari itu saya tak berminat kuliah.

Sore harinya keputusan diambil: saya meletakkan jabatan yang baru sehari diemban. Ketua pengganti diputuskan setelah melalui perdebatan yang panjang dan panas. Hal itu disebabkan karena salah satu calon pengganti berwatak keras dan arogan, dan kawan-kawan yang lain tak menghedakinya. Sosok itu akhirnya bisa disingkirkan, dan agenda kembali dijalankan. Menjelang pulang, seorang kawan mencoba membesarkan hati saya, “Bung, kalau kasusnya seperti itu, saya kira bung akan selamat, paling-paling hanya pending,” ujarnya.

Saya kuliah di sebuah politeknik negeri. Lembaga pendidikan yang tugasnya mempersiapkan buruh-buruh pabrik nomor wahid. Setiap hari kelas dimulai dari jam tujuh pagi dan selesai jam tiga sore. Dosen memegang absen, setiap hari mereka teriak di kelas menyebut mahasiswanya satu persatu. SKS dipaket, dan tiap semester mahasiswa menyerahkan lehernya di ambang pisau pancung. Jika dalam satu semester terdapat satu nilai E atau tujuh nilai D, maka ia otomatis DO. Tak ada semester pendek, tak ada kesempatan memperbaki bopeng di transkrip nilai. Lama kuliah dibatasi hanya tiga tahun, dan toleransi setahun bagi mereka yang malas dan lemah iman. “Pending” adalah kosakata politeknik untuk toleransi itu.       

Asal tahu saja, baik pending maupun DO, keduanya adalah aib tak terampuni. Tak terhitung banyaknya anak politeknik yang menangis ketika vonis pending dijatuhkan. Alasannya jelas: malu dan biaya yang menggantang sebab mesti memperpanjang kuliah selama setahun ke depan. Maka dengan tak mengurangi rasa hormat kepada kawan yang berusaha membesarkan hati itu, sejatinya saya tetap cemas. Waktu pulang ke kosan, saya berjalan dengan kecemasan yang menggores.

Tiba di kosan, seorang kawan tengah uring-uringan dengan muka pahit, entah apa penyebabnya: yang terbit hanya satu, saya ingin melemparnya dengan sepatu. Sebuah pesan masuk di layar hp, bapak tanya kabar dan prestasi akademik. Deg! Inilah situasi yang saya takutkan itu.

Di kosan kecemasan semakin berparade. Saya tak tahu cara meredakannya. Lalu akhirnya teringat satu hobi yang sudah jarang dirawat: membaca buku. Karena di rak tidak ada stok baru, saya memutuskan pergi ke Gramedia di Jl. Merdeka. Angkot dari Ciwaruga berjalan serupa siput: terseok-seok kepayahan. Uang di kantong tak banyak, tapi saya harus membeli satu buku, ingin mencoba meredakan kondisi yang tengah berada di tubir kekalahan.

Di sudut sebuah rak, saya mendapati satu buku bersampul coklat muda, lusuh, sampul plastiknya sudah terlepas, berjudul “Aku, Buku, dan Sebuah Sajak Cinta” karangan Muhidin M. Dahlan. Sepenggal narasi di sampul belakangnya berbunyi: “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita”, sebuah kutipan dari Hannah Arendt. “Derita” dan “cerita”, bukahkan dua hal ini yang tengah saya hadapi? “Derita” berwujud kecemasan karena teror kampus yang mengancam, dan “cerita” adalah kondisi ketika saya ingin menuliskan semuanya. Di kasir yang lumayan antri, saya tak sabar, seperti salat isya baru rakaat pertama sementara perut mulas tak tertahankan.

Sesampainya di kosan, saya langsung menyuntuki buku tersebut. Memoar Muhidin ini menggiring saya ke apotek, maksudnya seperti menelan obat penangkal sakit: terlalu banyak kesamaan, sehingga saya merasa ada kawan senasib-sepenanggungan. “Bangke Muhidin ini!” gumam saya dalam hati. Catatannya seperti mengejek sekaligus menyembuhkan: anak rantau, bermasalah dengan kampus, mencintai literasi, dan kisah cinta yang morat-marit. Semuanya ditatah dalam semesta memoar yang menggigilkan.      

Perhatikan kalimatnya ketika ia harus pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah: “Aku meninggalkan kotaku, kampung kelahiranku. Hari itu adalah hari yang begitu mengharukan sekaligus mendebarkan. Mengharukan karena ia adalah perpisahan yang panjang dengan semua sanak, semua keluarga, semua kawan, semua kenangan. Mendebarkan karena aku tengah menuju ke suatu titik yang jauh dari bayanganku.”

Bukan soal meninggalkan kampung, tapi saya membacanya ketika kondisi hampir ditendang kembali ke kampung karena ancaman DO. Perpisahan dengan kampung ternyata ga panjang-panjang amat. Belum lagi perkataan bapaknya ketika ia hendak benar-benar berangkat, “Jangan pulang sebelum kau berhasil.” Asu tenan!

Muhidin kuliah di dua kampus: IKIP dan IAIN, keduanya di Yogyakarta, dan keduanya tidak ia selesaikan. Tapi berbeda dengan saya, ia mengambil keputusan itu karena sadar akan pilihan, hendak lebur dengan dunia literasi yang ia yakini. Berbeda dengan saya yang meskipun secara pribadi tidak takut DO, namun lingkungan sosial masih menjadi ketakutan yang menggenggam. Muhidin seperti menggedor-gedor nurani, bahwa keputusan adalah keputusan, tak peduli respon orangtua sekalipun! Ia menegaskannya dengan mengutip sesobek petuah Romo Mangun:  

“Anggaplah ini pilihan. Dan aku memilih jalan itu walau tergolong pahit—bergelut tanpa kepastian akan nasib hendak diempaskan ke mana. Bersyukur-syukurlah aku masih sanggup memilih. Kesanggupan memilih, sebagaimana petuah novel ‘Burung-burung Manyar’ yang kubaca sejak aku menginjak semester tiga di Kampus IKIP, mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengatasi nasib.”

Di titik ini saya tercerahkan. Tantangan Muhidin saya terima. Saya tak hendak mengemis ke kampus agar lolos dari ancaman, juga bersiap menghadapi orangtua dengan segala kekecewaannya. Anggaplah saya tidak lagi kuliah, dan kiriman bulanan dari kampung dihentikan, paling-paling saya menggelandang di Bandung. Kalau sedang mujur, sekali-dua mungkin hidup ditambali oleh honor tulisan yang dimuat di surat kabar. Setidaknya dengan begitu saya telah mengatasi nasib.

Besoknya saya datangi kampus dengan kepala tegak. Saya sampaikan apa adanya kepada para pengampu kebijakan dengan kalimat-kalimat terukur. Dan keputusannya saya hanya dijatuhi SP II dengan menandatangai surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Tak jadi DO. Tak jadi dihantam palu godam kekecewaan orangtua. Di akhir semester saya malah dapat nilai A untuk mata kuliah yang diampu oleh dosen yang mengancam itu. Ajaib!

Pasca kuliah saya menjalani hidup seperti orang kebanyakan, bekerja di firma-firma kaum kapital. Hidup dari gaji yang mengalir sebulan sekali. Di permukaan seperti tak ada gejolak, hidup hampir mirip ternak, dan saya bosan. Bosan menekan-mendesak. Lalu saya teringat lagi petuah Romo Mangun yang dikutip Muhidin, saya hendak memilih dan berkreasi. Pertengahan 2014 saya tinggalkan pekerjaan. Inilah saatnya tantangan Muhidin itu benar-benar bisa saya terapkan. Saya hampir menggelandang, kemudian berkomunitas, dan hidup dari menulis.

Keberanian memilih yang didadarkan Muhidin berkelindan dengan dua hal lain, yaitu gandrung literasi dan kisah percintaan yang cukup menyedihkan. Keduanya berjejalin membentuk diri saya yang lain. Sedari kecil saya telah terbiasa membaca koran dan buku cerita, namun hal itu tak pernah dijadikan nafas hidup. Saya tak pernah mencurahkan waktu, dana, dan tenaga kepada teks dan bahan bacaan. Sampai akhirnya Muhidin—di tengah kecemasan yang menggores, datang dan menawarkan “jalan sesat”. Ia menggilai buku. Menguruskan badannya demi buku. Begini siasatnya:         

“Karena kekurangan droping pesangon dari orangtua, maka aku pun bersiasat. Uang makanku kupangkas sekecil-kecilnya. Aku memutuskan untuk jalan kaki dan tidak naik bus yang sewanya waktu itu hanya 300 rupiah untuk mahasiswa/pelajar. Dan aku coba menyisir uang makanku hanya 500-1000 rupiah perhari (makan normalnya 3000). Dan waktu makanku tidak pagi tidak malam, tapi sore. Waktu sore adalah waktu tengah dalam perputaran aktivitas manusia dan waktu tengah ketika energi dikeluarkan dan diistirahatkan. Dari cara yang menguruskan badan ini sedikit demi sedikit aku mendapatkan buku dengan cara membeli. Kalau ada uang mengapa harus meminjam. Aku tidak suka meminjam.”

Untuk menguatkan sikapnya, ia mengutip Desiderius Eramus (1465-1536) yang mengatakan, “Kalau aku punya sedikit uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.”

Dan saya terpengaruhi. Dulu setiap kali gajian, saya pergi ke Bandung dan mendatangi Palasari: menukar ratusan ribu rupiah dengan buku. Pameran buku di Braga, Istora Senayan, dll, pasti menguras kantong karena saya kalap. Niat membeli dua selalu berakhir dengan sepuluh eksemplar. kantong-kantong buku loak, komunitas, dan toko buku besar saya datangi dengan semangat meluap hendak membeli. Duapuluh buku pertama saya hafal di luar kepala, dan akhirnya terpaksa harus dituliskan karena jumlahnya semakin membengkak menjadi ratusan.

Saya membeli karena hendak membaca. Tapi seperti kata orang-orang, “terlalu banyak buku, terlampau sedikit waktu.” Demikianlah pada akhirnya, meski setiap pulang kerja saya sempatkan untuk membaca, namun mata selalu kalah dihajar lelah setelah berjam-jam menyuntuki angka-angka di layar komputer. Tapi di luar hal itu, Muhidin telah membuka kembali setapak jalan bagi minat yang sempat tak terawat. Kegandrungan saya pada literasi, khususnya pada buku—setidaknya sampai hari ini, ibarat kumbang yang terperangkap ke dalam toples dan tak hendak keluar lagi.

Dalam hal menulis pun tak jauh beda. Muhidin menyodorkan satu kasus yang bakal mendorong siapapun meraba ulang ketakutannya untuk menulis. Menurutnya, plagiasi—bagi para pemula, bukanlah jalan asing, ditempuh banyak orang malah. Ia mengambil contoh Sartre:       

“Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme sayap Kiri Prancis pernah melakukan plagiasi ketika pertama kali menulis novel. Seturut pengakuannya, novel pertamanya yang berjudul ‘Pour un Papillon’ (Demi Kupu-kupu) merupakan salinan plek dari buku cerita bergambar yang ia punyai yang terbit tiga bulan sebelum novelnya diterbitkan. Semua-muanya sama: tema, tokoh-tokoh, detail petualangannya, dan bahkan judul pun ia pinjam.”

Bukan laku plagiatnya yang hendak Muhidin tekankan, tapi keberanian yang tak boleh tertukar dengan ketakutan yang tak berdasar. Ya, ia mengobarkan pembacanya untuk membaca, membaca, dan menulis. Dua mantra itulah yang akhirnya menyeret saya ke “jalan sesat”.

Hari ini setiap kali saya bertemu beberapa kawan, mereka selalu bertanya tentang kawin. “Beli buku terus, kapan kawinnya?!” Seolah urusan yang satu itu adalah mantra sakti penangkal guna-guna istri muda. Di antara mereka ada juga yang agak bijak-bestari, ceramah dulu tentang sirah nabawiyah, lalu menjejalkan Ar Ruum ayat 21 agar saya membayangkan surat undangan pernikahan, lalu diakhiri dengan ucapan, “kurangi dulu beli bukunya, mending uangnya ditabung buat bikin buku nikah.” Baru-baru seorang saudara juga bilang, “coba cari kerja lagi, menulis doang ga bakal cukup, kan kamu juga suatu saat harus menikah.”

Ya, jalan ini memang “jalan sesat”. Tak banyak orang yang percaya. Dan sejujurnya saya juga tak butuh kepercayaan mereka. Saya yang paling berhak menentukan eksistensi dan makna hidup saya sendiri. Yang ingin saya sampaikan hanya satu: terimakasih banyak-banyak buat Muhidin. Jika suatu hari nanti hidup saya akhirnya berbelok karena harus berkompromi dengan banyak hal, setidaknya saya telah melalui perjalanan ini dengan senang dan pengalaman aduhai yang tak-tepermanai. [irf]