26 September 2007

Sebab setelah kamu

Bagi dunia kau hanya seseorang,

tapi bagi seseorang kau adalah dunianya

(Anjar Anastasia)

Tadi siang aku titipkan catatan ini kepada seorang kawan, biar nanti si perempuan wangihujan mendapatkannya bukan dariku, tapi melalui tangan orang lain. Inilah salah satu cara untuk menghadapinya. Aku tak bisa terus-menerus bertatapan langsung dengannya, karena dia begitu megah dihadapanku. Dan inilah catatan itu :

” Kalau kamu mau pergi, pergi saja...aku tak akan menghalangimu. Tempuh saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga. Aku tak berani menerka-nerka, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku sendirian, karena kamu pun tahu bahwa sangat jarang aku menemukan orang yang pengertian, dan kamu adalah salah satu dari yang jarang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan mungkin tak kembali.

Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini.

Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hati-hati...karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu.

Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa. Dan karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang menjemputmu di bandara itu.

Mari sini, datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para penjemput. Pakai baju biru tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja...aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa.”

Dan kalau semuanya akan terjadi sesuai dengan rencana, beginilah kira-kira cerita selanjutnya :

Aku bangun lebih pagi, memdahuluimu yang masih terbuai dalam mimpi. Lalu selimut itu aku tutupkan kembali sampai kelehermu, agar udara pagi tidak sanggup membangunkanmu. Kubiarkan saja begitu sampai tibanya waktunya unuk mengeksekusi iman, maka mulailah aku membangunkanmu. Seperti biasa kamu agak susah dibangunkan sebelum akhirnya membuka mata dan menguap beberapa kali. Lalu kita sama-sama sholat. Mendo’akanmu dan mendo’akanku. Mensyukuri hidup yang begiru biru.

Kamu pasti terkejut, karena diam-diam telah aku siapkan sarapan di meja itu. Sekali-kali aku juga ingin memasak, mematangkan cinta terutama. Karena aku percaya bahwa cinta bukan sekedar pemujaan tapi juga pengalaman. Dan pagi itu aku ingin mengalaminya, melakukan semua yang tiap pagi kamu kerjakan. Aku tak ingin menunggunya sampai tiba ulang tahunmu, karena bagiku kamu adalah sesuatu yang harus dirayakan tiap hari. Dunia menemukan miniaturnya di sana, disemesta dirimu. Kalau kamu tak menemukan kata-kata lain untuk semua yang aku tulis ini selain ’rayuan’, tak mengapa...karena kata-kata akan aku istirahatkan di sana.

Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu diam kalau marah, karena tahu kalau aku adalah sumbu yang setiap waktu bisa menyulut ledakan. Kamu tersenyum jika ingin sesuatu, karena merasa akan merepotkanku. Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu adalah waktu dan aku jarum yang mengitarinya. Kamu adalah rumah dan aku penghuninya. Kalau kata Chairil ’hidup hanya menunda kekalahan’, maka kamu si penunda kekalahan itu. Sekali lagi kamu boleh menyebut ini sebagai rayuan. Dan kata-kata kembali akan aku istirahatkan.

Sekotak rahasia hati telah lama aku simpan sejak dulu, dikunci rapat dan kunci itu telah lama aku buang jauh. Kini disepotong waktu ketika kamu mendekat kepadaku, kunci itu datang lagi dan terbukalah kotak rahasia itu. Biarkan saja semuanya terbuka, sampai nanti ketika rambutmu dan rambutku memutih, sebagai pertanda akan berakhirnya waktu. Pegang saja tangan ini senyaman mungkin, sampai nanti salah satu dari kita pergi mendahului untuk menghadap Nya, dan cinta tak kan berakhir oleh kematian.[]