19 May 2012

Tukang Komentar Jilid 2


Belum lama, kawan saya si Zul bikin status :

“wanna die at d young age...”

Namanya juga situs jejaring sosial, maka terjadilah perbincangan :

Irfan Teguh Pribadi :
Chairil Anwar, Ahmad Wahib, dan Soe Hok Gie pada usia 27 semua.

Zulfria Nanda Tanjung :
Sekarang saya 27 tahun fan.hehe..

Irfan Teguh Pribadi :
Sudah merasa cukup dengan bekal??

Zulfria Nanda Tanjung :
Malaikat maut ga menanyakan itu fan..tapi kalo hidup terlalu lama sepertinya persentase dosa ku makin membesar.hehe..

Irfan Teguh Pribadi :
Ohh??

Zulfria Nanda Tanjung :
Yep..jadi kalo persentase dosa ku makin membesar, so makin lama nyobain neraka fan.. :))

Irfan Teguh Pribadi :
Kan ada istilah taubat??

Zulfria Nanda Tanjung :
Kalo istilahnya sudah sejak SD gw tau, cuma pelaksanaannya teramat sangat sulit.

Irfan Teguh Pribadi :
Karena teramat sangat sulit jadi mau mati muda saja begitu??

Zulfria Nanda Tanjung :
Bukan "mau mati muda saja" kalimat yang tepat untuk menggambarkannya fan, kalo mati muda sepertinya lebih baik dari pada mati tua yang hidup selalu ga bisa menjauh dari maksiat cs.

Irfan Teguh Pribadi :
sip.


Dan setelah itu saya melihat matahari lewat kaca jendela yang redup, nampaknya dia sudah tergelincir ke barat, bayangan pohon sudah bergeser beberapa derajat, dan waktu sudah berada di jam 12.45, sudah saat sholat dzuhur. Di rakaat pertama, setelah membaca Al Fatihah, saya membaca surat Az Zumar ayat 53 :

Katakanlah:" Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [ ]

Tukang komentar Jilid 1


Malam Minggu

“Pasokan kesabaran semakin menipis, sementara waktu terus berlari, energi pun semakin terkuras oleh kenyataan, nurani pun terkontaminasi oleh sikap permisif yg ditanamkan setan di dalam jiwa yg kosong..

Terlepas dari itu semua saya yakin, dan sangat yakin, ribuan orang di negeri ini sedang menikmati setitik surga yang sengaja Tuhan teteskan ke dunia, dalam bentuk apapun. Akan tetapi saya juga yakin, masih banyak orang-orang yang jangankan untuk online, untuk makan esok pagi pun mereka susah.

Kalo hanya mengejar pencapaian yg hanya memuaskan hasrat diri, terlalu kerdil kita menilai kehidupan ini..!!!”. ***


Komentator :

Irfan Teguh Pribadi :
---Saya jadi inget buku tetralogi andrea hirata : Maryamah Karpov. Bagian : Barbara.

Zulfria Nanda Tanjung :
---wah..aq ga pernah baca buku andrea hirata fan..aq suka dibaca fan, bukan suka membaca..

Irfan Teguh Pribadi :
---Itu artinya : saya suka didengarkan, bukan suka mendengarkan. Lalu Asma Nadia berkata : "kalau tidak ada yg dibaca, lalu apa yg mau ditulis".

Zulfria Nanda Tanjung :
---tidak semuanya yg qta harus dan suka dengarkan, bukan?
bukan saatnya lg seperti.. :)

Irfan Teguh Pribadi :
---Redaksinya kurang jelas.

Zulfria Nanda Tanjung :
---sengaja ga diperjelas biar ga terlalu kasar..lg berusaha mjunjung tinggi sopan santun.hoho..

Irfan Teguh Pribadi :
---Ada perbedaan besar antara memperhalus bahasa dgn komunikasi yg tdk bisa dimengerti.

Zulfria Nanda Tanjung :
---klo ga dmengerti bisa subjektif fan..bisa aja kadar intelektualitas listener yang kurang mumpuni..ya kan?

Zulfria Nanda Tanjung :
---kayaknya kmu trlalu banyak baca rangkaian tulisan2 di atas kertas fan..padahal banyak hal yg semestinya jg kita 'baca' dalam kehidupan ini selain rangkaian tulisan2 di atas kertas..

Irfan Teguh Pribadi :
---Ha.ha.ha..like a khotbah jum'at. Pertahanan yg kurang baik.

Zulfria Nanda Tanjung :
---tulisan ini hanya buat mencari kebenaran koq fan, bukan kemenangan..hehe..

Irfan Teguh Pribadi :
---Epilog klasik. Case close. Saya dokumentasikan.

Zulfria Nanda Tanjung :
---pake 'd' fan..jadi "case closed"..hehe..
dari awal dah tau kmu mau nyerang..tp bhubung lg ga mau ngasah taji, jadi ga mpsiapkan pertahanan.lagian bukan waktunya lagi seperti itu fan.dulu blum puas??,hehe.. [ ]

Abu dan Lembaga Kehidupannya (i)


Dia kawan saya sebangku. Tak kurang dari sembilan tahun kami duduk bersebelahan, dari semenjak kelas satu SD sampai kelas tiga Madrasah Tsanawiyah. Setiap pagi dia mampir dulu ke rumah saya untuk pergi sekolah bersama, dan setiap kali dia datang saya masih saja di depan layar televisi, belum mandi dan belum membereskan buku ke dalam tas. Mama sering mensehati saya : “kalau pagi-pagi cepat kamu mandi, jangan nonton tv terus, kasihan si Abu, setiap kali dia datang kamu pasti belum mandi”. Tapi keesokan harinya, waktu si Abu datang, lagi-lagi saya belum mandi, masih saja di depan kotak ajaib melihat berita pagi. Karena keseringan, mama jadi bosan menasehati saya. Abu pun yang awalnya sering menggerutu karena lama menunggu, menjadi biasa saja, rupanya dia sudah kebal dengan acara menunggu itu. Dan hebatnya, meskipun setiap hari  kesal menunggu, dia tetap saja mampir ke rumah demi untuk berangkat ke sekolah bersama-sama.

Namanya juga anak kecil, setiap kali si Abu berganti sepatu, saya pun pasti minta sepatu baru, tapi bapak tidak selalu mengabulkan, beliau selalu menasehati, “kalau sepatu yang lama masih bagus, masih bisa dipakai, kenapa harus ganti?, tidak semua yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan.” Tapi kalau beliau sudah melihat sepatu saya pucat, dan solnya mulai terkelupas, pasti dibelikan juga sepatu baru itu. Rumah Abu persis di atas rumah saya, kampung kami memang berada di lereng bukit, jadi rumah penduduk seperti punden berundak-undak. Di sekolah, prestasi kami lumayan berkasta. Saya selalu masuk tiga besar, sedangkan Abu tertatih-tatih di zona duapuluh besar. Entah kenapa, meskipun sangat lama duduk sebangku, tapi prestasi saya tidak pernah menular kepada kawanku itu. Ini bukan sombong, tapi memang kenyataannya demikian. Kalau samen atau kenaikan kelas, saya langganan naik ke podium untuk mengambil raport dan hadiah yang dibungkus kertas kado, yang isinya pasti satu pack buku bermerek Sinar Dunia atau Mirage yang logonya bergambar pesawat tempur.

Soal perlengkapan sekolah macam tas dan sepatu, saya memang banyak terpengaruhi oleh Abu. Waktu dia membeli tas selempang merek Alfina, saya pun ikut-ikutan membeli tas selempang tapi mereknya Export. Waktu dia membeli sepatu Dokmar yang di bawahnya ada lampu, saya pun minta sama bapak untuk dibelikan sepatu seperti itu, tapi bapak tidak mengabulkan, mubazir katanya, “kalau sekolahnya malam hari, baru bapak belikan,” begitu alasannya. Soal gaya, saya memang tertinggal jauh sama Abu, dia sering sekali berganti sepatu dan tas, maklum anak pertama, dan adiknya hanya dua orang. Sedangkan saya adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Baru-baru saya mengerti, kenapa bapak tidak selalu mengabulkan permintaan saya, sebab anak berderet-deret, dan kebutuhan sekolah setiap anak harus dipenuhi, dan biaya hidup semakin menggantang, jadi barang yang tidak penting betul, beliau eliminasi.

Meskipun di sekolah sebangku, dan di rumah bertetangga, tapi kami tak pernah bosan untuk main bersama, selalu  ada saja acara hebat yang kami kerjakan. Seperti misalnya membuat jebakan kaleng dan tali, yang berfungsi untuk membuat orang, terutama orang-orang yang sudah tua menjadi kaget. Caranya sederhana; kaleng bekas susu formula atau bekas cat tembok yang sudah tidak ada tutupnya disimpan di pinggir jalan yang biasa dilalui orang dengan berjalan kaki. Posisi kaleng itu harus terbalik dan tersembunyi agar calon korban tidak merasa curiga. Kaleng dijepit dengan dua batang kayu yang fungsinya untuk mengaitkan karet gelang. Dan karet gelang itu berfungsi untuk mengikat semacam logam bolong yang namanya saya lupa lagi dan posisinya persis di atas kaleng. Selanjutnya logam bolong yang diikat oleh karet gelang tersebut diputar agar ketika terlepas bisa menimbulkan efef balik alias berputar pada arah yang berlawanan. Nah, ketika berputar balik itu logam bolong tersebut akan menghantam kaleng dan akan menimbulkan bunyi keras yang cukup mengangetkan. Tapi jebakan belum selesai, karena harus melengkapinya dengan tali (biasanya kami memakai benang untuk bermain layangan alias nilon). Tali dibentangkan di atas jalan yang akan dilalui orang-orang, ujung tali yang satu mengikat kayu kecil yang biasa disebut rokrak yang dimasukkan pada logam bolong, yang berfungsi untuk menahan putaran balik karet gelang, dan ujung yang satunya lagi mengikat kayu agak besar yang ditancapkan di sisi jalan yang lain. Kini jebakan sudah siap pakai. Tali kecil membentang di atas jalan, siap menghampat laju pejalan kaki, ketika kaki menarik tali, maka kayu kecil akan terlepas dari logam bolong, dan logam bolong akan menghantam kaleng, maka korban, yang bisanya orang-orang tua akan berteriak kaget sambil meloncat. Dan kami menahan tawa di balik persembunyian. Ya Alloh, masa kecil yang menyenangkan.

Selain dalam hal jebakan, dalam banyak hal lain pun kami kerap kali bersekutu. Contohnya dalam adu rebut layangan yang kalah. Kalau ada layangan kalah alias putus karena disembelih benang gelasan layangan lawan, maka layangan itu menjadi hak umum, dan boleh diperebutkan. Nah, ini dia medan kami untuk bersekutu. Layangan putus terbang menukik seperti orang mabuk, dia melayang-layang di udara tanpa kendali sang tuan yang telah menjadi pecundang. Anak-anak ramai berlarian dan sesekali mendongak ke atas untuk memastikan ke mana gerangan layangan malang itu akan jatuh. Ketika ternyata layangan hinggap di atap rumah penduduk, dan ada tiang listrik yang bisa dinaiki untuk mencapai layangan tersebut, maka anak-anak akan berebut memanjat tiang listrik. Kalau kami kalah cepat memanjat, sementara yang lain sedang berjuang menaklukkan tiang listrik, maka aku dan Abu akan bernyanyi dari bawah untuk mengganggu konsentrasi orang yang sedang memanjat tiang listrik : “lek lek sang, lek lek sang, bulu kelek panjang lesang….lek lek sang, lek lek sang, bulu kelek panjang lesang…..”, demikian berulang-ulang sampai tiang listrik itu menjadi terasa licin oleh kompetitor kami, dan mereka merosot lagi ke bawah. Maka kalau sudah demikian, Abu akan segera merebut tiang listrik dan dengan cepat menaklukkannya, maka layangan putus pun berhasil dia capai. Sempurna !!.

Tapi yang paling keren adalah waktu kami pergi ke pantai Ujung Genteng dengan memakai sepeda. Jarak kampung kami ke pantai di ujung selatan Jawa Barat tersebut ada sekira 50 kilometer atau lebih. Kami pergi memakai sepeda BMX yang sudah jadul, karat di sana-sini, dan remnya hampir blong, kondisi sepeda yang kurang berpihak kepada keselamatan. Orangtua kami awalnya tidak kasih ijin, tapi kami mencoba menjelaskan, bahwa kami harus mengenal tanah airnya sendiri dengan pengalaman-pengalaman yang menantang, bukan hanya tahu dari kabar orang atau buku-buku pelajaran sekolah. Kami berangkat jam lima pagi, waktu batang-batang pohon belum terlihat sempurna dan sebagian embun masih mencoba untuk luruh ke bumi. Kami mengayuh sepeda dengan semangat, maklum maih pagi, lagipula jalannya cenderung menurun. Abu mengayuh di depan, berjarak kira-kira lima meter dari saya yang tercecer di belakangnya. Dalam remang gelap suasana subuh, sekilas Abu dan sepedanya terlihat seperti siluman Trenggiling yang kedinginan. [ ]

30/03/2011 - semacam bersambung

Bank Bung


Hai Bung, kapan pertamakali RBB dilempar ke ruang publik?, oh saya lupa lagi. Mudah-mudahan tidak ada yang ingat biar tak ada yang mau bikin semacam acara ulangtahun RBB. Tapi Bung tentu masih ingat, tulisan di RBB tidak dimulai dari tiga atau empat, melainkan diawali dari satu. Sekarang, oh sudah banyak sekali tulisan yang hadir di sini. Tak perlulah kita berbasa-basi tentang "semoga tulisan ini menjadi pelajaran", tak perlulah hal seperti itu. Kita teruskan saja menulis sambil minum kopi, bakar cigarette bagi yang belum bisa berhenti, atau sambil minum susu dan makan biskuit bagi kaum peduli kesehatan. Bolehlah kita juga tidak melupakan membaca buku, nonton film, atau menikmati lagu favorit. Menulis saja biar seperti bank yang kaya oleh uang, sedangkan RBB kaya oleh tulisan. Selamat tidak berhenti, selamat tenteram oleh sesuatu yang Bung anggap benar, selamat pahit yang sebenarnya manis, selamat menjadi bank tulisan. Dank U. [ ]

Rute


Pagi telah melepaskan balon gas ke udara, lalu angin merubahnya menjadi matahari. Entah pada menit keberapa saya sudah berdiri di depan cermin, melihat kembali seorang laki-laki yang membetulkan kerah bajunya.

Bola api perlahan naik, dan saya melewati lagi tukang nasi uduk, got busuk, dan seorang nenek yang terlihat masih mengantuk. Di ujung gang, manusia bergerak seperti diorama yang berjalan, pergi menuju ke alamatnya masing-masing.

Tidak pernah ada pertanyaan untuk setiap langkah yang dibuang, untuk setiap detik yang ditukar degan jadwal. Seperti gelap pekat yang tidak bisa mengelabui tangan untuk menemukan mulut, hari-hari kita, barangkali, seperti itu juga. Gerak motorik telah hafal di luar kepala, dan hidup terus saja kita lanjutkan.

Barangkali, pagi ini harus turun hujan, agar para pejalan kaki menepi dan berteduh di pinggir atap rumah oranglain, menunggu sambil melihat jejaknya yang perlahan mulai terhapus. [ ]

15 april '11

Roti Buaya (Stadium 4)


Apa yang seringkali kita lupakan?, mungkin salah satunya adalah bahwa kita pernah dibesarkan oleh seorang ayah, oleh seorang laki-laki yang agak pendiam, tak banyak cakap, tak pernah terlihat menangis, kadang-kadang doyan cigarette, dan setia kepada keluarganya. Dalam sebuah sore yang hangat, lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu, mengajarimu naik sepeda di ujung jalan yang agak sepi. Waktu kamu terjatuh dan lututmu berdarah, dia, lelaki yang tak banyak cakap itu, menyemangatimu untuk bangkit dan belajar lagi.

Kalau siang hari hujan turun deras, kamu sudah pulang dari sekolah, dan di luar rumah; kawan-kawanmu sangat menggoda dengan salah seorang memegang bola, maka kamu akan keluar mengendap-ngendap, dan berlari ke tanah lapang, mandi hujan dan pesta lumpur. Di rumah, kalau ibumu sudah menunggu dan siap memarahimu, lelaki yang agak pendiam itu justru bersikap sebaliknya, dia akan memberimu uang agar kamu dapat membeli bakso. Dia mengetahui hal-hal yang menyenangkan, karena dia juga pernah menjadi anak laki-laki.

Ketika kamu beranjak dewasa dan mulai terlihat cantik, usiamu bergerak mendekati kepala dua, organ tubuhmu seperti ada yang bertambah, dan kamu betah berlama-lama di depan cermin, maka lelaki yang tak pernah terlihat menangis itu akan hati-hati mengamatimu dari jendela, ketika kamu pergi dengan seorang laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat. Karena kamu agak sedikit mudah digoda, maka akhirnya kamu pulang malam. Rumah telah redup, kamu hati-hati mengetuk pintu, ibumu bangun dengan mata pedas karena masih ngantuk, lalu kamu setengah berjingkat masuk ke kamarmu dan mencari cermin untuk melihat senyum. Laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat telah membuatmu merasa menjadi istimewa. Apakah kau tahu sayang?, tadi, waktu kamu berjalan berjingkat, di sudut ruang tamu, di bawah remang pantulan cahaya lampu, ayahmu duduk menunggu kedatangannu. Dia mencemaskanmu. Dia belum tidur sekejap pun sebelum bidadari kecilnya sampai di rumah.  

Pidibaiq pernah bilang, “Aku juga sepertimu, berasal dari sorga yang turun ke bumi dengan cara diam-diam diselundupkan oleh ayahku di sebuah kamar pengantin, lalu keluar dari ibuku di sebuah kamar rumah sakit.” Tapi ayah sesungguhnya bukan seorang penyelundup, dia hanya menangkap gemuruh, membaluri cinta, dan dengan sebaik-baiknya berusaha merawat anak-anak terbaik yang diamanatkan Tuhan kepadanya, dengan caranya sendiri, yang kadang-kadang terasa lirih dan sunyi.

Coba tanyakan pada ibumu, apa yang sering diberikan ayahmu kepada istri tercintanya?. Pasti ibumu mengerutkan dahi dan sedikit bingung, sebab lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu jarang sekali memberikan sesuatu. Dia tak pandai memberikan kejutan, apalagi memberikan hadiah-hadiah yang mewah. Tidak, dia tidak punya uang sebanyak itu. Tak banyak yang dia diberikan kepada istri tercintanya, kecuali bangun di tengah malam untuk mengganti popokmu yang basah, kecuali terlihat senang dengan masakan ibumu yang sederhana, kecuali memperbaiki genteng bocor dengan tangannya sendiri, kecuali tak pernah menginap ketika pergi ke luar kota karena ingin segera pulang, kecuali menikmati dengan penuh khidmat kopi di pagi hari yang sudah tersaji dari tangan sang istri, kecuali tak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang ditemuinya di luar rumah, dan kecuali bersikap jujur kepada istri tercintanya.

Dari mana mereka, ayah-ayah kita itu belajar mencintai pasangan dan keluarganya?, mungkin dari buaya. Sebab buaya tidak pernah membaca novel Jendela-Jendela yang ditulis Fira Basuki, karena di dalamnya ada June yang melakukan affair dengan Dean, mereka mengkhianati Jigme (suami June dan sahabat Dean). Dia juga tidak pernah membaca novel yang diadaptasi dari film Cinta Dalam Sepotong Roti, yang lagi-lagi ditulis Fira Basuki, sebab buaya tak mau tawar-menawar perasaan seperti yang dilakukan oleh Mayang, Harris, dan Tovan. Dia pun tidak pernah membaca cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu yang seringkali berbicara banyak sekitar---maaf—payudara, lendir dan selangkangan. Bahkan dia juga menjauhi novel Dewi Lestari yang sangat memikat, yang menceritakan perselingkuhan antara Rana dan Ferre, atau dalam sebutan lain antara Putri dan Ksatria.

Buaya tahu, dia dilahirkan bukan untuk membaca tulisan-tulisan seperti itu, apalagi menirunya, tapi entah kenapa dia selalu saja menjadi metafor untuk mewakili tabiat laki-laki brengkes?. Yang mengerti tabiat buaya yang sesungguhnya hanyalah masyarakat Betawi. Di acara pernikahan masyarakat Betawi, pengantin laki-laki biasanya membawa roti buaya sebagai lambang kesetiaan. Kalau tak percaya, tanya saja kawan saya, namanya Bung Rohman. [ ]

15/04/2011

Roti Buaya (Stadium 3)


Dari bandara Sepinggan dia menaruh nyawanya di cabin pesawat. Di Soekarno-Hatta, Cengkareng, baru dia mengambil lagi nyawanya itu. Di udara dan di tengah laut, kekuasaan manusia seperti hilang binasa, padahal tidak, karena manusia tidak pernah kehilangan kekuasaan, sebab dia tidak pernah punya kekuasaan. Sama seperti naik kora-kora dan tornado, nyawa seperti dipermainkan di wahana permainan, dan berteriak hysteris sambil sesekali ingat Tuhan. Tapi tak usah kita bicara banyak-banyak tentang hal itu, saya hanya ingin menulis bahwa tadi pagi, kawan saya yang meluncur dari Sepinggan itu, telah sampai di Bandung, di kaki gunung Manglayang, buktinya tadi pagi dia sudah bisa chatting di FB dan berkata, “Ini baru hidup.”

Waktu saya tanya, “Apakah ada lagu dan buku baru yang mantap?,” dia langsung menjawab, “Provocateur masih juara Bung!.” Maksudnya, lagu Provocateur yang dinyanyikan oleh The Sigit masih tetap juara buat dia. Ini saya kasih sedikit potongan liriknya, “You’ve been shouting for your right / you are losing all your sight / hold on to the bright light / his might tonight.” Saya setuju saja, karena saya juga sering menikmati lagu itu.

Property Cash Machine, itu adalah judul buku yang tengah dibacanya. Saya bilang, saya tidak suka yang berbau teknik, tapi waktu lihat di mas Google, ternyata isinya tentang jurus-jurus jitu di bidang property. “Sudah beranjak tua, saya harus menyerempet macam hal-hal demikian Bung,” begitu komentar saya setelah selintas membaca sedikit resensi buku tersebut. “Iya, Sastra tak bisa memberi kita rumah Bung,” demikian jawabnya. Saya tambahkan lagi, ”Sudah banyak contohnya, kere semua!”. “Hahaha…,” dia tertawa. “Tadinya saya mau ngomong gitu. Kadang-kadang hidup harus realistis Bung,” ucapnya.

Lalu kami, saya dan lelaki yang pernah menaruh nyawanya di cabin pesawat itu menjadi banyak cakap oleh hal-hal bagus yang enak untuk diobrokan. Saya diberinya banyak link tentang t-shirt band. “Kemarin saya baru beli kaos Pure Saturday dan Efek Rumah Kaca,” dia semacam mengumumkan kepemilikan dua kaos bersablon band-band keren. Lalu saya buka link tersebut, dan banyaklah desain t-shirt di sana : Alone at Last, Rosemary, Seringai, Siksakubur, dan macam sebagainya. Saya cari The Sigit, ternyata sedang kosong. “Selain kerja, sekarang sedang fokus apa kau Bung?,” dan langsung dia jawab, “Sedang fokus mengumpulkan uang, mencari jati diri, dan mencari sampingan.”Kemudian dia melempar wacana, “Bisnislah kita Bung, tapi jangan bisnis eceng gondok,” / “Apa dong,” / “Lele, bagaimana,” / “Jangan yang basah-basah,” / “Clothing, saya semacam ingin membauat kaos-kaos bertema social,” / “Saya lulusan marketing, tapi malas jualan, entah kenapa,” / “Hahaha…,” dan obrolan mengenai bisnis kami sudahi.

Tema obrolan kemudian bergeser ke masalah gunung. Ini bukan mengenai gunung kembar yang menjadi logo baru City bank, tapi tentang kawan kami, Bung Joni, yang akan segera naik gunung Gede beserta 25 pendaki lainnya. Dia bertanya duluan, “Kau ikut Bung?,” / “Ah, tidak, terimakasih, semakin tua semakin malas untuk bersenang-senang,” / “Sama saya juga,” / “Tapi katanya Bung Joni terkena gejala typus,” / “Oh, kasihan sekali dia,” / “Iya, masih mahasiswa penyakitan pula,” / “Hahahah…,” lihatlah kami pagi itu, Ya Alloh…masih pagi tapi sudah beroleh nikmat dari banyaknya obrolan yang membuat kami tertawa lepas.

Dan setelah itu pintu koneksi internet di kaki gunung Manglayang tiba-tiba ditutup, mungkin dia ingin tidur, atau ingin bermalas-malasan saja setelah beberapa hari dibantai beban kerja yang seringkali mengancam nyawa. Baru-baru tiga orang kawannya tewas berbarengan, karena nafasnya disumbat gas-gas beracun yang namanya susah diucapkan. Apa kira-kira balasan untuk orang-orang yang meninggal dunia ketika bekerja mencari nafkah?.

Tak lama ponsel saya berbunyi, pasti sms, karena jarang sekali ada telpon nyasar masuk ke nomor M3 yang sudah saya pelihara sejak tahun 2006 itu. Benar saja, Bung Joni berkirim pesan pendek, “Mohon do’anya Bung, besok saya naik ke Gede.” Tapi ponsel saya sedang puasa pulsa, lalu saya berbuat korupsi, menghubungi Bung Joni pakai telpon kantor. Tidak terlalu banyak yang kami bicarakan di udara, dia hanya meminta saya meramaikan kembali group [REPUBLIK BULUBABI], dan olok-olok standar tentang saya yang dibilangnya sudah tua, sudah tidak keren, beranjak buncit, rentan sakit, serta sudah kehabian tenaga hanya untuk menaklukkan gunung Gede. Saya hanya tertawa, sedap betul saling mengejek dengan kawan. Katanya nanti, setelah sampai di puncak, dia akan menulis puisi, macam yang dilakukan Soe Hok Gie waktu berada di Mandalawangi. “Okelah Bung, semoga sukses, hati-hati di jalan!,” dan percakapan mati udara.

Tak ada yang lebih keras menyidir selain kata-kata Casey Stoner yang dihantamkan kepada Valentino Rossi, beberapa saat setelah mereka sama-sama terjatuh di sirkuit Jerez, Spanyol, “Ambisimu melebihi bakatmu!,” tapi Rossi berlalu, dia seperti faham, bahwa dalam keadaan emosi, kata-kata bisa setajam bisa. Tapi sebenarnya bukan balapan Moto GP yang ingin saya tonton, tapi film yang dibintangi Robin Williams, Dead Poets Society. Sayang sekali memang, sampai saat ini keping DVD bajakannya belum saya dapatkan. Tapi bolehlah membaca sedikit resensinya yang ditulis oleh mas Wiki, Wikipedia maksudnya :

“Tujuh anak lelaki, Neil Perry (Robert Sean Leonard), Todd Anderson (Ethan Hawke), Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero) dan Gerard Pitts (James Waterston) baru saja masuk Akademi Welton. Sekolah ini adalah sekolah berasrama yang menganut prinsip Tradisi, Kehormatan, Disiplin, dan Prestasi.

Pada awal dimulainya kelas, seorang guru pengganti bahasa Inggris, Pak Keating (dimainkan oleh Robin Williams), baru saja memulai pelajaran. Seorang siswa membaca pengantar buku tentang puisi, yang menyebutkan bagaimana mengukur kualitas sebuah puisi, yang dapat diukur dan diberi skala, proses ini sudah umum dalam literatur klasik waktu itu. Keating, sebaliknya menyuruh muridnya merobek halaman pengantar puisi di buku tersebut. Seluruh film ini adalah proses penyadaran, dimana para murid (dan juga pemirsa) melihat bahwa otoritas lembaga (seperti sekolah) dapat dan selalu berupaya menjadi pengarah, tapi hanya diri kita sendiri yang dapat mengetahui siapa diri kita.

Pemikiran bebas seperti ini menjadi sebuah masalah ketika Neil, seorang murid yang memutuskan belajar drama daripada dokter (yang disarankan orang tuanya). Neil akhirnya bunuh diri di ruang kerja ayahnya setelah penampilan perdana dramanya di sekolah gagal menyenangkan orang tuanya.”

Tapi mas Bill Gates pernah berkata dalam sebuah film documenter; Waiting for Superman, “Murid-murid sekolah harus pintar matematika dan sains, sebab bangsa yang kuat adalah bangsa yang mengusai matematika dan sains.” Cara pandang bos Microsoft itu seperti obat nyamuk bakar yang membuat hewan yang bermula dari jentik-jentik, menjadi kehilangan keseimbangan, tapi terbatas hanya yang kurang pede saja, sebab yang telah memilih jalan istiqomah akan tetap berjalan pada jalurnya.

Sepertinya banyak hal-hal sederhana yang telah lama menderita, telah lama dibuat pusing oleh cara pandang manusia yang sangat kompleks. Tapi memang begitulah, harus banyak tanda tanya yang sulit untuk dipecahkan, harus banyak teka-teki yang menggoda untuk dicari jawabannya, biar hidup tidak berjalan membosankan. Tapi ketika hidup mulai membosankan, maka jalan keluarnya adalah menulis. Tapi jangan mudah percaya, bertahanlah dengan keyakinanmu. Semakin susah kamu ditaklukkan, maka akan terlihat semakin keren. Dan kamu boleh untuk tidak setuju. Oh, carpe diem quam minimum credula postero. Selamat sore kawan. [ ]

14/04/2011

Roti Buaya (Stadium 2)


Sebermula adalah pagi, dia tajamkan tatapan ke arah mataharinya. Dari mana datangnya matahari?, dia sendiri tidak tahu. Selalu ada pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Ada lidah api yang terkadang menabrak logika dan rasionalitas sosial. Komoditi pasar yang satu ini memang berdaya hantam hebat. Matahari dan dirinya sama-sama berdiri, membentuk garis diagonal. Dari belakang setengah samping, dapat dia lihat, mataharinya terlihat cantik. Seperti motor Jepang yang menemukan jalan tikus, lidah api selalu dapat menembus labirin yang ujungnya tak terduga.  Saya kira mas Joko sedang mengalami hal yang sama seperti pagi itu, waktu dia menulis puisi. Katanya, kata mas Joko, “Seperti anak rusa menemukan sarang air / di celah batu karang tersembunyi.”

Nasib terbaik adalah membaca buku. Meskipun kemudian menjadi subversive. Matahari kembang gula susastra tidak bersinar di mahatinggi cakrawala, dia hanya terbit di perasaan yang susah didefinisikan, dan di lorong panjang gudang kata-kata.

“Seperti gelandangan kecil menenggak sebotol mimpi / di bawah rindang matahari,” itu pun, lagi-lagi, kata mas Joko. Barangkali, atau pasti, perempuan yang dia cintai itu, yang dia sebut dengan nama Haryani, tidak tahu dan tidak menyangka bahwa kemudian dirinya akan dicintai seorang laki-laki yang meraba-raba rasa roti buaya. Tapi misteri akan berhenti beraksi ketika semuanya bisa ditakar dengan kata pasti. Artinya, hidup berjalan linear. Dan itu akan menghilangkan daya kejut yang selama ini berjalan dalam eksistensi. Mestinya, dulu dia tidak pernah menonton Power Ranger. Buat apa mengingat lagi tokoh hero kalau yang dipinjam dalam tulisan hanyalah karakter warna?.

Lalu gelombang naik lagi, kali ini dia tidak ingin kalah oleh ketakutan. “Seumur-umur, baru kali ini keberanian bertukar dengan defisit pulsa,” begitu katanya. Anak-anak terbaik dilahirkan ketika hasrat purba terbenam di lantai dasar. Mereka tidak dilahirkan oleh gemuruh kamar remang, ataupun jebakan dapur yang biasa dipakai untuk menangkap macan. Bukan, bukan dari sana mereka lahir. Mereka lahir ketika kata-katamu tiba-tiba berubah menjadi metafora. Ketika bahasamu tiba-tiba meledak dalam redup dan nyata. Apa yang kamu sembunyikan?. Apakah kamu malu mengakuinya?. “Tidak, Haryani. Aku tidak malu. Aku bahkan mengatakannya, bukan?.”

Jauh. Romantisme telah turun dari pundak, semenjak kawan-kawannya bertukar potongan dengan belah ketupat. Atau memang segalanya hangus dibakar waktu?, yang jelas bau jilid dan fotocopy telah hilang bertukar dengan rupiah. Meskipun jarang mendengar, tapi dia tahu, mas Taufik pernah menulis romantisme itu, “Kalian berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini / dengan darah arteri sendiri / merah putih yang setengah tiang ini / merunduk di bawah garang matahari / tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi / tapi peluru logam telah kami patahkan dalam do’a bersama / dan kalian bersih pahlawan / bersih dari dendam.”

Siapa yang tidak tahu?. Dari tiada ke tiada. Dari-Nya kembali kepada-Nya. Sudahlah, sudah. Kawan tentu lebih faham. Kawan tentu lebih banyak tahu.

Kali ini dia berani melupakan Amsterdam, demi ingat Kepala Gading. Kampung halaman Westerling yang sepi, yang rumah para penduduknya berjauhan, yang bahkan sapi-sapi di sana merasa kesepian, adalah symbol konservatif, konstelasi antara Groningen - Sumur Batu - Pegangsaan. Dia sekarang tahu, mencampur gula dan pewarna bukan hanya monopoli puisi, tapi bisa dilakukan oleh siapa saja yang berani sombong menjadi dewa kebijaksanaan. Hidup masih di sini, masih di tanah air yang dulu dia pernah ragu-ragu, bahkan sampai sekarang; ini wakil rakyat atau wakil partai?. Brengkes, buat apa menulis wakil rakyat segala?!.

“Ya, Haryani. Aku mengerti. Setiap orang pasti punya masalalu, dan butuh waktu untuk melupakannya, atau bahkan tidak bisa dilupakan sama sekali.” Kalimat itu dia tulis selepas isya, sehari setelah puasa pulsa. Lampu kamar yang menyala terlihat seperti bunga matahari terkena anemia. Beberapa orang tetangganya sempat melongokkan kepala, melihat dia yang tengah menulis entah apa. Sartre selalu membuatnya pusing, tapi apa sih sebenarnya yang paling dinginkan ketika mataharinya justru membuat dia terbenam?. Mungkin duduk di dekat jemuran, di bawah lampu yang mati, adalah sedikit jalan keluar. Maka dia pergi ke sana. Duduk di kursi tanpa sandaran, dan inilah masadepan; tarikan nafas panjang dan merasa kosong.

Apa, stranger than fiction?. Bahkan altar kebenaran pun telah dipenuhi mockingbird, murai, anis, dan kenari.

Kedua adalah siang. Ada do’a yang disampaikan, dari dia kepada perempuan yang dicintainya. Mendo’akan tidak melulu soal garis demarkasi denotasi, tapi ada yang bisa disamarkan. Haryani, perempuan yang dicintainya itu, bukan seorang semut yang doyan mendekati sumber gula kata-kata, dia bahkan datar saja. Tapi, kata orang, mencintai selamanya adalah memberi. Sebuah mantra, yang sebenarnya, tidak sepenuhnya dia percayai. Tapi apa salahnya mendo’akan?. Maka dalam gumam hati yang tak jelas, dia merapal lagi puisi mas Sapardi, “Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala / dalam do’aku / kau menjelma pucuk-pucuk cemara / yang hijau senantiasa / yang tak henti-hentinya / mengajukan pertanyaan muskil kepada angin / yang mendesau entah dari mana.”

Para paus sastra wannabe akan menangkap cinta purba nan absurd sebagai upeti imajinasi yang akan digoreng dengan bumbu kaldu rasa nirwana dan rasa keinsyafan hakiki. Sepertinya dia ingin sekali menikmati generasi HAMKA yang datang tidak dengan belati, tapi pena yang tajam dan penyembuh luka. Cuka, garam, dan silet mengingatkannya pada scene Gerwani di film pengkhianatan yang menjadi propaganda politik blok Cendana. “Tenang saja, Haryani. Aku tidak akan tega membuat sepotong puisi cinta untukmu,” gumamnya. Kontra catatan adalah tikungan tajam yang manis, yang menuntut sebuah rambu-rambu, tapi kalau menyukai tantangan yang memacu adrenalin, bolehlah bergaya geng motor. Silang pendapat, saling hantam dalam bahasa yang mampat, dan curhat tersendat-sendat, adalah anak kandung komunitas kata, jadi mengusirnya adalah kelakuan Dayang Sumbi terhadap Sangkuriang kecil.

“Waktu lengkung merah menguasai langit barat, segala jual beli seharusnya segera diakhiri untuk sementara,” itu kata-kata yang ingin diucapkannya, tapi sekarang dia tidak berani lagi, bahkan pada dirinya sendiri, dia sedang meluncur ke bawah. Tapi semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, dari mulai dewan legislative lambung sampai alam metafisika yang sering dijelaskan khatib di mesjid-mesjid pesisir desa.

Dan cinta terbaik adalah menulis. Dia mengabarkan sejarah kepada siapa saja yang tidak menyadarinya. Seperti kabut yang hilang di cahaya matahari, begitu pula kumpulan emosi, jika tidak dicatatkan, dia hanya akan membantu mengerutkan kulit muka untuk lekas menjadi tua.

Dan Haryani. Siapa dia?. Sepertinya saya kenal?. [ ]

12/04/2011

Roti Buaya (Stadium 1)


Dan pagi itu dia mendapati dirinya tengah terduduk di depan pintu kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin KOMPAS. Kepalanya masih terasa sedikit berat, keampuhan obat warung tidak bekerja dengan sempurna. Semalam, kawan-kawannya sudah bilang, kalau sakit tak usah ikut, tapi dia sudah janji, dan di mana-mana janji harus ditepati, maka dia pun turut serta. Dalam kepungan angin malam yang menggigit, dia coba menikmati nomor-nomor dari The Beatles; Ticket to Ride, Obladi Oblada, Yesterday. Dan semakin malam, suhu tubuhnya semakin tinggi. Pasukan kuda troya menyerang pertahanan tubuhnya. Pada cigarette batang ke enam dia begegas ke toilet dan membuang isi lambungnya. Orang-orang yang habis buang air dan sedang mencuci muka menyangka dia tak kuat menahan dosis Jack D, dan mereka salah. Kesehatan pemimpin memburuk, pasukan bubar. Mereka pulang.

Dalam gelap suasana kamar, masih terdengar percakapan di luar. Kawan-kawannya masih membangun malam dengan cigarette, kacang tanah, minuman ringan, dan obrolan yang mudah dilupakan.

Dalam panas suhu tubuh dan hangat temperature kamar, dia ingat kembali sepotong artikel di koran pagi, tentang Teater Koma yang telah berjalan selama 34 tahun. Sekali waktu penontonnya didominasi orang-orang berbaju hijau, mereka disuruh atasan, atasan disuruh pimpinan, pimpinan diperintah komandan, komandan dapat pesan dari orang yang duduk di kabinet, orang yang duduk di kabinet takut sama babeh yang manis betul kalau sedang tebar senyum. Sepotong senyum cukup untuk membuat stempel Bapak Pembangunan. Tapi Teater Koma terus berjalan. Tekanan dijadikannya hulu ledak ide. Mas Nano dan Mbak Ratna terus memproduksi pementasan sampai sekarang.

Tapi kemudian dia menyumpah, “Kau siapa?. Coba kau lihat cermin. Kau tak lebih dari seorang pecundang!!.”

Suhu tubuh terus meroket, kalau saja usianya masih balita mungkin dia sudah terkena step. Hampir saja dia mengigau, tapi cepat dicegah oleh ingatannya pada tulisan Andrea : “Masa depan bagiku adalah pensiun dalam keadaan miskin dan rutin berobat melalui fasilitas Jamsostek, lalu mati merana sebagai orang yang bukan siapa-siapa.” Awalnya dia sempat setuju, dengan ikut-ikutan mengutuki beberapa profesi, tapi kemudian dia ingat bapaknya di kampung. Pengabdian 40 tahun telah tunai demi pendidikan anak-anaknya, lalu sekarang terbaring lemah, sementara para ahli warisnya bertekuk lutut di tangan kuku-kuku tajam bernama keluarga, kerja, dan kesibukan. Brengkes, tahu apa Andrea tentang pengabdian?!.

Pintu kamar diketuk dari luar. “Minum obat dulu Bung!”, dan obat warung lingkaran biru menyerbu ke dalam. Siapa bertetangga tapi hidup sendirian, silahkan pak hansip gerebek saja dia yang sedang berpacaran dalam kamarnya yang tertutup. Siapa bertetangga tapi kehilangan pisau dapur seperti kehilangan nyawa, maka jemurannya tak usah dipindahkan waktu turun hujan.

Waktu badannya menggigil karena lingkaran biru belum bereaksi, dia ingin sekali menyanyikan lagu mas Iwan, tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya perlawanan terhadap rasa dingin. Lagu hanya berbunyi entah di mana, begini kurang lebih : “Jika di antara kita jatuh sakit / lebih baik tak usah ke dokter / sebab ongkos dokter di sini / terkait di awan tinggi”.

Dan dia akhirnya menyerah pada tidur. Terbangun tengah hari, masih menggigil. Terbangun menjelang subuh, keringat luruh. Terbangun pagi hari, lumayan sehat. Di tengah kepala yang masih sedikit berat, pagi itu, dia terduduk di depan kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin KOMPAS. Setelah membasuh muka dengan air keran, dia duduk lagi di depan pintu kamar.

“Hidup adalah tentang kesetiaan, Haryani,” begitu kalimat yang ingin dia ucapkan untuk perempuan yang dicintainya, tapi kata-kata terhenti di tenggorokan.

Semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, makanya banyak yang bicara ngelantur ke mana-mana. Makanya banyak yang berteori, mencari hikmah, beragitasi, hujan retorika, mensiasati kelamin, berjudi di lembaga pendidikan, atau bermetamorfosis menjadi besi biar magnet rejeki menariknya dari segala penjuru.

“Tidak, Haryani. Aku hanya sayang kamu. Jangan kau paksa aku untuk mencari perempuan lain,” demikian kalimat lanjutan yang ingin dia katakan untuk perempuan yang disayanginya, tapi lagi-lagi tenggorokan menghentikannya.

Lalu matahari merangsek meninggalkan waktu dhuha. Dia melihat cucian, “Oh, kesibukan,” gumamnya. Hidup selalu diawali oleh keluhan, meskipun kau berusaha menyembunyikannya lewat gugusan tulisan. Mereka yang bertahan adalah orang-orang yang berhasil merubah keluhan menjadi keringat, meragi sakit hati dengan pertahanan yang teguh, dan sedikit do’a-biar tak dianggap meninggalkan Tuhan. Alangkah perihnya menikmati gincu kata-kata dengan riasan menor tentang kebijaksanaan. Meja hijau bagi si pemilik jelaga hati. Sementara para penikmat tafsir brilliant sekali berkicau “munafik” kepada sesamanya.

Brengkes, bicara apa saya ini?!. Mana lelaki yang tadi melihat cuciannya?, oh itu dia. Deterjen serbuk dia tuang ke dalam ember putih, dan lihatlah itu busa, memakan kotoran yang menempel di pakaian. Sebenarnya dia masih lemah, arus darahnya masih tertahan di kecepatan 1 kilometer pertahun, tapi besok hari senin, besok masih ada “I Don’t Like Monday” di Hardrock. Selesai merendam, dia turun ke bawah, duduk di warung kopi menunggu tukang koran lewat. Sepeda kumbang muncul dari belokan ujung gang, KOMPAS dia barter dengan 3,500 rupiah. “Nyari lagi kerjaan baru, Mas?,” tanya pemilik warung kopi. Dia menggeleng. Dekat jemuran, sambil menunggu cucian, dia membaca sepotong sajak mas Goenawan : “Cinta terbaik seharusnya diperpendek / pada pagi / oleh daun / yang ditemukan matahari.”

Apa yang dijanjikan kimia?, tidak ada!!. Lelaki itu telah dirayu untuk keluar dari persembunyiannya yang gelap dan sepi. Dia coba kumpulkan remah-remah keberanian untuk membentangkan sayap, tapi mataharinya justru membenamkan dia ke dalam ruang hampa. Absurd. “Di mana sekarang Rumi?, saya ingin menggugatnya!,” teriak lelaki itu. Siang menjelang dzuhur memang waktu yang bagus untuk menjemur pakaian. Angin sedang rakus berhembus, dan sinar ultraviolet sedang sangat bagus menakut-nakuti siapa saja yang menjadi korban iklan pemutih kulit muka. “Sesama pengecut dilarang saling menggurui,” begitu kata angin yang membawa aroma Molto rasa bunga lavender.

Haryani, perempuan yang dicintainya berkelebat di baju yang sedang dijemurnya. Tapi kemudian hilang lagi sebab terdengar olehnya suara-suara aneh Pramoedya dari cerpen “Gado-gado” yang berhasil merekam terhempasnya uang republik pada titik terendah. Wajah-wajah pribumi berjajar kuyu di depan gedung-gedung yang akan segera gulung tikar. Radio lemah belaka mewartakan rencana serangan besar-besaran pasukan sekutu. Bapak tani akan segera meninggalkan sawah dan hewan ternaknya yang akan menjadi rebutan tentara republic dan dan pasukan sekutu, akan habis, tak menyisakan sedikit pun buatnya. Ibu tani akan kehabisan pangan lalu duduk di taman kota menunggu para pemuda yang takut menikah, merayu mereka untuk memeluknya dan tidur di taman itu, lalu besok sebelum pagi sempurna memperlihatkan lengkung langit, dia akan mati dimakan raja singa di taman hijau itu, di bawah langit tanah airnya. Harga-harga melambung, mencekik rakyat yang tengah cemas dan waspada akan serangan senjata.

Jelas sekali dalam bayangannya, wajah Pramoedya menyindir dirinya. “Dulu aku hampir mampus diburu peluru NICA, lalu berbilang tahun hidup di tempat purba (penjara), tapi aku tak pernah menyerah.”

Seharusnya tidak ada yang menghentikan pertumbuhan kosa-kata. Kaum pemuja Sufi harus ditenggelamkan dulu ke dasar samudera para idolanya agar nanti tidak ada lagi plagiasi kepada cerita garam yang dibuang ke dalam gelas dan telaga. “Hiduplah kami, mampuslah kau plagiator!!,” begitu kata Pidibaiq waktu karyanya diadaptasi oleh salah satu acara komedi station televisi swasta yang bermarkas di jalan Kapten Tendean. Tapi bolehlah bermazhab kepada Bovard dan Pechucet, karena katanya, menulis adalah sebuah gerak yang tidak pernah benar-benar asli.

Siang sudah menjelang sore, dia membaca lagi koran yang dibelinya pagi tadi. Tidak. Sekali lagi dia tegaskan, bahwa dirinya tidak akan mencintai perempuan lain. Dan saya harus pergi, bosan juga mengikuti kegiatan hariannya. Tapi saya ingin sekali menulis pertemuan mula-mula antara dirinya dan perempuan itu. Artinya, saya tidak boleh dulu mengemasi pena. [ ]

itp

15 May 2012

Sigi

Saya tunggu lagi dia; perempuan berambut pendek, berkacamata, dan giginya memakai behel. “Lo ganti selera?”, kawan saya bertanya, seperti ingin menyamakan perempuan dengan objek wisata kuliner. Ada apa dengan langit, kenapa tiba-tiba hamil oleh awan yang mengandung air hujan, seperti sebuah konspirasi untuk menghambat jalan perempuan berambut pendek itu. Sigi, sebut saja dia begitu. Kemarin pagi, kira-kira jam tujuh lewat lima, saya melihatnya ketika keluar dari gerbang rumah, dia melintas di depan, saya perhatikan dia, dan matanya sedikit melirik, tapi dia jalan terus. Saya kejar dan menangkapnya dengan sebuah basa-basi. Cantik?, tentu saja, itu sebabnya saya kejar. Di ujung gang saya tinggalkan dia, “Aku duluan ya, sorry buru-buru,” dan saya memepercepat langkah, lalu menghilang ditelan mikrolet. Dari balik jendela mobil, dia masih tercecer di belakang.

Sekarang sudah sepuluh menit saya menunggunya, sengaja keluar dari rumah lebih awal. Hujan mulai titik-titik turun, dan dia muncul dari belokan. Kalau saja pagi itu kamu duduk dengan saya, maka dapat kamu lihat dia tersenyum bagus sekali, behelnya terlihat seperti pagar kelurahan menyambut 17 Agustus. Dan titik-titk hujan mulai membawa teman-temannya, mereka mengeroyok bumi, tapi saya dan Sigi jalan terus. Dia tidak terlalu banyak bicara, bahkan cenderung seperlunya saja.

Dan hujan sudah tidak bisa dilawan, dia menyerang dengan pasukan air sebesar buah kelapa yang sudah dihaluskan. Kami menepi di depan sebuah toko kelontong. Celana panjang saya sudah naik beberapa centi demi menghindari genangan air, dan saya tidak membayangkan bagaimana jika seandainya rok yang dipakai Sigi naik beberapa centi dari lututnya. Tidak, atau mungkin belum. Saya belum sempat membayangkan hal yang dapat membuat badan menjadi panas-dingin. Saya dan dia sama-sama tidak membawa jaket, apalagi payung. Tapi kami harus melawan dingin, suhu perlahan turun, dan saya sedikit merapatkan diri ke arahnya. Dia bergeser menjauh. Lama-lama dia juga kedinginan, dan sekarang giliran dia berusaha merapat, saya diam saja. Lewat lima menit, saya menjauh juga. Dan dia merapat lagi, kali ini saya langsung menjauh. Dia diam, pandangannya lurus ke depan. Saya genggam tangannya, dan lihat itu, dia tersenyum bersamaan dengan hujan yang mulai reda, behelnya terlihat rapi. Sisa hujan akhirnya kami terobos. Saya tinggalkan dia di ujung jalan, saya lagi-lagi ditelan mikrolet.

Dalam seminggu, kalau sudah malam, saya hujani dia dengan sms. Dan memasuki hari ke delapan, hujan sms saya berhenti. Giliran dia yang menyerang, saya balas saja seperlunya. Dan hari-hari selanjutnya saya seperti menjadi anak muda kembali. Darah mengalir lancar dalam kanal-kanal tubuh yang tak terlihat. Sigi sudah seperti udara yang setiap hari saya hirup. Sesekali saya menghantamnya dengan kejutan yang membuat dia limbung kehilangan keseimbangan, sebelum dia jatuh, saya sudah menyelamatkannya. Dia memaksa ingin ikut ke rumah (kostan red), tapi saya selalu melarangnya, “Jangan ikut, di tempatku banyak buaya, “ / “Gapapa, kata kamu buaya kan baik,” / “Itu dia, yang ini buayanya sedang sakit,” dan dia tak pernah lagi ingin ikut ke rumah.

Dia suka sekali dengan anak-anak, sesuatu yang malah menurut saya kurang menarik. Pusing kalau berurusan dengan anak-anak; berisik dan selalu banyak gerak, seolah-olah mereka adalah makhluk yang harus dijinakkan. Adiknya dua orang, masih kecil, dan dia baik sekali kepada mereka. Kalau dia lagi mandi, dua orang adiknya sengaja main di ruang tamu, banyak gerak, banyak suara, dan banyak gangguan. Kalau terdesak, saya pindah ke kursi yang ada di depan rumah, tak jauh dari pohon mangga besar yang rimbun, yang berdiri tegap bagai monster yang malas bercukur. Siwalan!, adik-adiknya ikut juga ke depan dan melanjutkan gangguan. Emosi naik, saya siapkan kuda-kuda untuk mencubit keduanya, tapi Sigi keburu berdiri di ambang pintu; cantik, wangi, dan senyumnya itu….aduh, selalu saja membuat saya awet muda.

Dia memang baik, disangkanya saya akrab dan senang ditemani oleh kedua orang adiknya. Itu karena saya sedikit demonstratif, sebelum pergi dengannya, saya mencium kening kedua orang adiknya yang menyebalkan itu. Padahal saya lebih ingin mencium Sigi, tapi nanti saja, belum waktunya, di mana-mana orang harus sabar. Orang sabar disayang Sigi. Dan kami pergi, ada film bagus di Blitz; Biutipul. Pemain utamanya Javier Bardem, si flamboyan yang juga bermain di film Vicky Cristina Barcelona, No Country for Old Men, Love in the Time of Cholera, Collateral, Mondays in the Sun, dan masih banyak lagi.

“Pulangnya jangan terlalu malam,” / “Iya Pah,” / “Iya Om,” kalau kamu pintar, pasti dapat dengan mudah menebak, itu adalah suara ayahnya Sigi, Sigi, dan saya—entah siapanya Sigi. Saya memang belum melepaskan peluru AK 47, nanti saja, sabar, di mana-mana orang harus sabar. Orang sabar disayang Sigi yang cantik dan wangi. Tapi entah kenapa, siang ini, tiba-tiba saya malas melanjutkan cerita. Ini pasti gara-gara cuaca di luar sangat panas, yang membuat saya menjadi sangat ngantuk. Sudah ah. [ ]

3 Bung, 3 Behel, dan Tradisi yang Memudar [1]


“Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkat kalau aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ‘aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri.”
Di penghujung cerita pendeknya, Yovantra Arief menulis paragraph tersebut. Ceritanya begitu memesona, bukan karena kisah ‘aku’ dengan Asri, istrinya, tapi karena dia pandai mengatur ritme dan gaya bertutur yang tidak membosankan. Sudah tiga kali saya membaca cerpennya, diulang-ulang, dan tak kunjung juga saya menjadi bergairah untuk menulis. Kosong. Tradisi menulis yang saya rawat selama hampir enam tahun tiba-tiba luruh menyentuh titik terendah. Kosakata hilang. Diksi melayang. Cerita bertukar dengan perhitungan angka-angka. Apakah menulis itu bukan tradisi paten dalam diri seseorang? Saya mulai mengkhawatirkannya.

Pada sebuah tengah malam yang dingin waktu hujan mengguyur Jakarta, saya keluarkan semua buku dari rak. Majalah-majalah saya bongkar dari dus indomie, dan koran-koran edisi lama saya keluarkan dari lemari. Saya berusaha mengumpulkan konsentrasi dan gairah demi ingin melahirkan sebuah tulisan. Barangkali dari buku, majalah, dan koran bekas itu ada sesuatu yang menarik hati dan bisa saya contek untuk kemudian saya tulis ulang dengan sedikit membongkar pasang kalimat dan paragraph, tapi nihil. Saya buntu. Dalam hampa ide saya berjalan keluar dan duduk di kursi kayu, di tempat jemuran. Saya membakar cigarette. Asap racun rerak berhamburan. Barangkali tak ada yang menarik untuk dituliskan melebihi sakit hati. Kata-kata seringkali mengalir lancar dari labirin yang murung dan suram. Tapi saya sedang tidak ingin mendung.

Cigarette sudah habis dua batang. Hujan mulai reda. Dalam kondisi seperti ini saya sebaiknya mendatangi Muhidin. Dan saya baca lagi buku tua itu. Buku yang saya beli tahun 2004 itu sudah lusuh dan kertasnya sudah banyak yang terlepas dari punggungnya. Lalu saya mendapati paragraph ini:
“Dan aku, di kamarku, sendiri tanpa ada masa depan. Beberapa kali kubolak-balik buku. Beberapa kali kuambil pena untuk menulis lagi. Dan selalu saja gagal. Aku takut. Apakah tradisi menulis itu gampang hilang dari diri seseorang? Mestinya tidak. Karena menurut banyak pemrasaran dalam seminar menulis yang kuhadiri, menulis itu adalah tradisi paten yang ada dalam diri seseorang. Tinggal apakah ia sering dipakai atau tidak. Dan ia akan hilang sendiri kalau ia sering tidak dipakai.”
Nah, jelas sekarang. Maka kemudian saya membuka-buka halaman dan rentetan kejadian dan pengalaman yang tersimpan dalam tempurung memori. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa saya pindahkan ke dalam tulisan.  Saya tidak ingin ditinggalkan tradisi. Ini sebuah kerja keras yang terdengar absurd, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai konsekuensi pilihan. Dan lagi-lagi ide yang melintas di kepala tidak berganti dari aroma kekecewaan. Oke, baiklah. Demi merawat dan menjaga tradisi menulis, akhirnya saya terima juga cerita murung ini:

“Because you drive me insane, so please just hear what I say.” Betul. Lagu itu baru saja saya dengar dari kamar sebelah, kamarnya Bung Joni. Ini agak berbeda, biasanya dia hanya doyan mendengarkan Pas Band saja, tapi kali ini Mocca didengarkannya juga. “Invalid Bung!”, begitu katanya. Memang bukan salahnya, jika dia jatuh hati pada seseorang non muslim. Seperti juga katanya, kata Bung Joni, perasaan tidak berbanding lurus dengan keyakinan. Perasaan seringkali berjalan acak, meloncat-loncat, dan hinggap sembarangan di hati siapa saja. Maka akhirnya Bung Joni jatuh hati pada Rani; gadis manis penganut Kristen Protestan yang giginya memakai behel.

“Memangnya kau sudah bicara apa saja sama dia?” Bung Joni menarik napas, terdengar berat, lalu menghembuskannya. Dan mulailah dia berkicau; bukannya Rani tak sayang sama dia, tapi gadis manis itu sudah terlanjur mengangkat bendera putih dan menyerahkannya kepada perbedaan agama. Bung Joni juga bukannya tidak tahu soal sensitive yangf satu ini, tapi memang yang namanya perasaan kadang-kadang kurang ajar betul, dia menghantam siapa saja yang masih bernyawa, yang melankolik atau pun yang sangar, tetap saja tak bisa lari dari serangannya. Saya lihat, mukanya murung belaka. Bung Joni invalid di garis sensitive. Kondisi seperti ini sangat rawan membuat seseorang menjadi marah dan menyalahkan Tuhan. Tapi saya yakin Bung Joni bukanlah person yang lemah, dia sekarang memang tengah terlihat murung, tapi soal iman, saya kira, dia tidak mudah berderak-derak. Dia tidak akan terpengaruh oleh film Cin(t)a yang mengusung semangat pluralism yang salah kaprah. Bung Joni pasti tahu belaka soal aturan main: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, bukan malah membuat keyakinan menjadi seporsi gado-gado yang lalu dengan itu menerabas aqidah dengan tafsir yang gegabah.

Dalam jeda tanpa dialog saya coba menghiburnya dengan memutar The Panasdalam. Tapi lagu yang terdengar malam membuatnya meringis, brengkes saya salah pilih, coba dengarkan ini, “Aduhai indahnya bercinta berbeda agama…”. Cepat saya ganti dengan lagu yang lain sebelum dia menggeram karena jengkel, karena merasa saya tengah mengejeknya. Saya pilih playlist dengan pelan-pelan, dan saya temukan lagu yang sekira cocok dengan kondisi di langit jiwanya. Masih The Panasdalam, “Wanita se-Kodya Bandung punya saingan semenjak Jono jadi bencong…”, tapi mungkin karena dia tengah labil, maka kupingnya kurang berfungsi dengan baik, dan gawat, yang terdengar olehnya malah, “Wanita se-Kodya Bandung punya saingan semenjak Joni jadi bencong…”. Dia menggeram keras, dan sebelum menerkam, saya langsung ambil langkah seribu. Kabuuurrr…[irf]

04 Mei 2011
 
Foto: leydonlettings.co.uk