<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677</id><updated>2012-02-16T00:17:31.011-08:00</updated><category term='Semacam Nasionalisme'/><category term='Aku dan Perempuan wangihujan'/><category term='Sahabat'/><category term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Wangi Hujan</title><subtitle type='html'>Cara terbaik untuk memulai menulis adalah menulis</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-1023036889107113081</id><published>2010-07-19T23:42:00.001-07:00</published><updated>2010-07-19T23:42:58.792-07:00</updated><title type='text'>Membaca Desember</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Curah hujan masih tinggi dan mendung masih sering menggantung di langit, ketika Desember datang lagi. Siapa yang mau mundur?, selamat…kamu tidak bisa melakukannya. Silahkan saja mencatat penyesalan, karena kamu hanya akan mendapati jajaran kata-kata dari tinta yang kamu tumpahkan. Evaluasi sudah dari dulu menjadi kosa kata istimewa, sehingga tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Siapa yang bisa memfosilkan waktu?, karena saya hanya mendapati angka yang dikasih tanda stabilo merah. Kata siapa waktu berulang?, yang serupa hanyalah angka yang merekat di kalender usang. Agenda apa yang telah kamu selesaikan?, tidak ada, karena kamu tidak pernah mencatatnya, dan memilih menjadi manusia air, mengalir, menyandarkan segalanya berjalan apa adanya, lalu lamu menyebutnya takdir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Saya tahu, setiap kali Desember datang, kamu tidak pernah ingat pada kue ulang tahun, atau nyala lilin di ujung musim. Saya tahu, karena kamu menganggapnya tidak perlu. Bahkan kamu sering lupa, ketika mendapati tanggal itu tiba-tiba. Yang kamu lakukan hanyalah mencari kalender baru, dan bersiap melipat masalalu, kemudian menyimpannya dalam saku. Sekali-kali kamu buka lagi lipatan itu, kalau kamu rindu. Ingat hari kelahiran adalah waktu ketika ingat siapa yang telah melahirkan. Lalu ada yang menderu di dasarmu, gemuruh itu adalah ketidakberdayaan untuk membalas segala yang telah kamu dapatkan. [itp]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;1 Des ‘09&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-1023036889107113081?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/1023036889107113081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=1023036889107113081&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1023036889107113081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1023036889107113081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2010/07/membaca-desember.html' title='Membaca Desember'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-373420472107987642</id><published>2010-07-19T23:40:00.001-07:00</published><updated>2010-07-19T23:40:48.690-07:00</updated><title type='text'>Sisa Redup Cahaya</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Malam itu sepulang dari Kelapa Gading perut minta isi. Tukang nasi goreng yang biasa lewat di gang belum juga datang. Sambil menanti bunyi wajan yang dipukul, akhirnya nonton acara dialog di televisi, ditemani sebatang rokok dan teh manis. Perpaduan yang cukup akrab, apalagi rintik gerimis mulai jatuh dari langit yang menghitam. Acara dialog habis berbarengan dengan bunyi nyaring yang timbul dari wajan yang dipukul. Bersegera saya turun dan memesan satu porsi nasi goreng tanpa ati. Tidak lama aroma bumbu yang dipadu menyerang saraf penciuman, dan semakin membangkitkan selera. Acara di televisi sedang berita olahraga, ketika saya menyantap makanan beraroma sedap itu. Kemudian malam semakin larut, sudah jam setengah dua belas, lalu saya mengambil wudhu, dan sholat isya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Cahaya matahari telah masuk melalui jendela yang terbuka ketika saya bangun pagi itu. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi, bersuci dari hadats kecil lalu mengeringkan muka dengan handuk usang. Setelah itu berdiri menghadap kiblat, berdo’a lamat-lamat dalam sholat yang terlambat, sementara sinar matahari semakin hangat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Setelah mandi dengan cepat, kemudian  berdiri di depan cermin. Merapikan pakaian dan menyisir rambut dengan tangan. Tidak sempat menyeduh kopi atau sarapan nasi uduk, karena takut telat. Suasana pagi yang berulang. Pagi yang bergegas, seperti seorang sais pedati memecut kudanya. Memecut setiap yang berjiwa untuk mengisi hari dengan aktivitas. Pagi yang selalu mengingatkan bahwa keterlambatan adalah kekalahan sebelum pertempuran. Demikianlah waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya, selama-lamanya. Bahkan panggilan untuk bangun lebih awal telah dikumandangkan, telah diulang-ulang oleh muadzin setiap hari : “sholat lebih baik daripada tidur”. Dalam panggilan itu kata BAIK memakai kata KHAIR, bukan HASAN, padahal secara artinya maksudnya sama , yaitu BAIK. Tapi menurut keterangan dari seorang khotib jum’at di mesjid At Taubah-Pulo Mas, kata KHAIR berarti baik terhadap atau untuk jiwa, yang artinya baik untuk ruhani. Sedangkan kata HASAN berarti baik untuk selain ruhani, mungkin lebih ke arah fisik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Jalan raya telah macet, lalu lalang kendaraan tersendat. Saya melintasinya di tengah suara klakson ketidaksabaran dan semrawutnya lalu-lintas salah satu sudut Jakarta. Mengurai kemacetan di kota besar ini seperti mengurai benang kusut. Tumpang tindih pengelolaan, kepentingan, dan ketidaksabaran para pengguna jalan yang setiap hari sumbunya semakin pendek. Maka pagi hari yang manis seringkali dihiasi oleh pertikaian-pertikaian di jalanan yang sebenarnya tidak perlu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Setelah menunggu agak lama, kemudian saya duduk di kursi Transjakarta yang melaju ke arah Pulogadung. Di dalam tidak ditemui muka ramah, semuanya seperti sedang gelisah :  menghitung kecepatan putaran roda dengan putaran jarum jam yang terus berdetak. Beberapa orang tertidur, sementara MP4 tengah memutar lagu Beatles : “All You Need is Love”. Pemandangan di luar kaca jendela seperti lukisan abstrak yang jarang dijajakan di pinggir jalan oleh para seniman tanggung. Saya terlindungi suara Beatles dari dengkuran orang di sebelah. lima belas menit kemudian bus sampai di halte terakhir, penumpang berhamburan menuju rahmat kerjanya masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Baru saja saya duduk di kursi kerja, tiba-tiba layar monitor sudah menerkam mata. Jajaran angka, rumus sederhana, dan garis-garis simetris harus saya lahap dalam delapan jam atau lebih, dengan posisi tetap menghadap meja. Suara printer manual mulai terdengar merisaukan, sementara dialog-dialog ringan telah berlangsung di sekitar mesin fax dan photo copy. Saat seperti ini mungkin bertepatan dengan kesibukan guru SD mengabsen anak-anak didiknya. Nantinya, anak-anak permata jiwa orangtua itu, mungkin tidak sedikit yang akan menjalani rutinitas seperti saya : menelan kerja satu bulan, lalu gaji di bayar di ATM. Sebelum semuanya dihabiskan, pendapatan harus ada yang disisihkan, agar grafik hutang setiap bulannya bisa turun. Ingat hutang, saya jadi ingat Safir Senduk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;“Makan di mana hari ini?”, seorang kawan mengingatkan bahwa sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Satu jam ke depan kemudian dihabiskan oleh makan dan ngobrol, dan sholat dzuhur kalau waktu istirahat sudah injury time. Keluar lagi nanti kalau mau sholat ashar, kalau jam sudah menunjukkan setengah lima, ketika sinar matahari mulai reda dan bayangan sudah mulai temaram. Hari ini ada tambahan kerja, sehingga baru selesai jam setengah tujuh. Adzan maghrib sudah sangat dari tadi berkumandang. Saya menyibak tirai jendela, mencoba melihat pemandangan di luar. Bola-bola api sudah berpijar dan langit sudah lama ditinggalkan senja. Malam mulai merayap, lalu saya pulang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Seperti biasa sebelum membeli tiket Transjakarta, saya mampir dulu di tukang nasi uduk. Menikmati jajanan murah di pinggir jalan sambil menemani udara malam yang sudah sangat jarang mendinginkan kota ini. Di sela-sela makan saya bercakap dengan si penjual nasi itu, membicarakan apalagi kalau bukan kehidupan sehari-hari. Mendapatkan kawan bicara selalu menyenangkan, apalagi ucapannya tidak dipenuhi kata-kata bersayap dan pura-pura yang menor. Di suapan terakhir saya baru ingat, bahwa saya belum sholat maghrib, padahal waktunya sudah hampir habis. Kumandang adzan isya sebentar lagi akan terdengar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Pedas sambal nasi uduk belum mau meninggalkan mulut, waktu saya sholat di akhir waktu itu. Keringat mulai menguap dari badan, pembakaran di pencernaan sedang berjalan, membuat sholat menjadi tidak nyaman. Tapi setelah salam, sempat juga saya berdo’a yang isinya macam-macam : aneka permintaan dan permohonan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Karena antriannya sangat panjang, saya tidak jadi pulang naik Transjakarta. Lalu menunggu monster hijau yang akan melaju ke arah Senen. Tidak lama dia datang, tergesa saya menyesaki perutnya. Untung masih kebagian tempat duduk, sehingga bisa melempar pandangan ke luar dengan tenang. Bus kemudian melaju lagi, memacu kecepatan dengan ugal-ugalan, sementara pengamen mulai beraksi, lalu dia mulai bernyanyi, dan saya mendengar lirik ini : “meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu”. Saya melempar pandangan ke langit, cahaya bulan tampak redup. [itp]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-373420472107987642?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/373420472107987642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=373420472107987642&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/373420472107987642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/373420472107987642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2010/07/sisa-redup-cahaya.html' title='Sisa Redup Cahaya'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-2239731569835841535</id><published>2010-07-19T23:39:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T23:41:20.522-07:00</updated><title type='text'>Kembali Kepada Dingin</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ruangan 3×3 adalah kotak istirahat, tempat saya memadamkan bara yang menyala sendirian. Sepertinya belum ada yang pastas menggantikan aroma kesendirian yang mengapung di tengah catatan, koran bekas, setumpuk buku, dan ricik hujan yang akhir-akhir ini menghujam Jakarta. Inilah salahsatu jenak terbaik untuk berbagi dengan kesenangan menulis, parade kata-kata, dan pemikiran ke dalam. Citarasa kehidupan sosial untuk sementara saya tanggalkan, dia menggantung di balik pintu, tempat beberapa ekor nyamuk berlindung dari serangan tepukan tangan atau obat yang dibakar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sudah dari sore mendung menggantung di langit, menampung air sebelum disiramkan ke permukaan bumi. Pintu kamar saya biarkan terbuka, lalu menyapa situs jejaring sosial lewat ponsel tanpa kamera. Dunia dalam genggaman, dan bisa disembunyikan di bawah bantal. Di layar kecil yang menyala saya membaca dan memperhatikan lalu-lintas komunikasi. Meskipun hanya menerka-nerka, sebenarnya para aktivis dunia maya bisa mendeteksi banyak orang tentang identitas, karakter, dan kegiatan hariannya. Inilah lab sosial digital yang garangnya tidak kalah dengan dunia nyata. Ada yang mendur teratur, ada yang menghilang, dan ada juga yang bertahan dengan macam-macam alasan. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini : siapa menikmati, dia akan menjalani.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Hujan akhirnya turun, menyuburkan banyak inspirasi, puisi, kenangan, ojeg payung, sorak-sorai anak-anak kecil, dan keluh serta serapah. Ada juga yang berteduh di depan warung pulsa, pandangan dan pikirannya datar, sementara tukang es mulai resah menghitung laba. Jakarta sepertinya harus sering diguyur hujan, agar hawa dingin luruh menyelimuti setiap emosi yang bergemuruh. Saya tidak ingin mengingat puisi Sapardi di saat seperti ini, karena akan terlalu kental. Saya hanya ingin tetap duduk di depan layar monitor dan terus mengumpulkan kata-kata, mencoba mengikat makna. Tapi saya selalu gagal, terlalu susah untuk berjejak, umtuk menyemakan frekuensi dengan banyak pihak. Akan kamu temui bahwa ternyata saya tidak pernah bosan menambal-sulam, karena saya telah mencintainya diam-diam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sekarang telah banyak peringatan yang dilontarkan untuk mewaspadai musim hujan. Para penjaga pintu air mungkin telah mendengar kabar ini, kabar peringantan ini. Media pun telah banyak yang menurunkan beritanya tentang musim ini. Dan Jakarta selalu punya cerita : hujan satu jam, Thamrin dan Sudirman terendam. Kalau malam tiba, bola-bola api yang terang akan berkilauan di timpa air. Di kotak istirahat ini saya terkadang rindu : berjalan di tengan hujan yang menderu, atau bermain bola tanpa sepatu-di tengah lapang-di bawah guyuran hujan. Dua-duanya akan menyisakan rasa dingin atau bibir yang membiru. Dan ini akan lebih menyehatkan jiwa daripada mengeluhkan hujan sebelum berangkat kerja. [itp]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-2239731569835841535?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/2239731569835841535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=2239731569835841535&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2239731569835841535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2239731569835841535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2010/07/kembali-kepada-dingin.html' title='Kembali Kepada Dingin'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-5102157918296796079</id><published>2010-07-19T23:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T23:42:11.013-07:00</updated><title type='text'>Melihat Kosong</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Selalu ada tafsir kerinduan pada setiap celah hidup yang kosong. Seperti air yang tunduk bergerak mencari saluran. Seperti dering ponsel yang menggugah pendengaran. Seperti sebatang lilin yang terbakar di hampa cahaya. Riak manusia selalu menuju kepada aktivitas mengisi. Memenuhi setiap kosong untuk dipadati. Pencarian yang resah adalah simbol terbukanya gerbang kekosongan dalam diri. Lalu pundi-pundi materi, spirit, dan imajinasi akan datang menghampiri. Membuat kita sibuk untuk memilih dan memilah, lalu mengendapkannya dalam celah.&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Mungkin akan lebih mudah jika kita tidak pernah disapa kesadaran yang memerah. Atau tidak pernah bertanya-tanya tentang perilaku yang terus berjibaku. Tapi setiap diri telah dibekali tiang pancang yang menghujam, yang memaksa kita untuk mengolah begitu banyak berita, metafora, ritinitas, relasi publik, dan bahkan cermin berdebu yang menempel di dinding. Inilah denyut perlombaan sementara, kompetisi mengumpulkan isi, agar hidup tidak layak untuk ditangisi. Saya lebih suka menyebutnya “menyambungkan gerbong-gerbong kesenangan”. Meskipun kita berbeda dalam menandai setiap makna, definisi, dan arti, tapi lihatlah apa yang tidak kita sambungkan?. Selembar curiculum vitae sudah cukup mewakili gerbong kesenangan yang tengah kuncup.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Kita sudah terbiasa melihat orang-orang membangun rumah tangga. Memperhatikan anak-anak muda yang rajin kuliah sambil memanggul pena. Menjadi bagian dari antrian panjang pengangguran yang mencari kerja. Bahkan pernah ikut mengeja keteduhan di rumah Tuhan dan di buku-buku pencerahan. Peta apa yang terlukis dari rangkaian aktivitas itu?.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Maka setiap kali melihat kosong, akan ada dorongan untuk mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin nutrisi. Bentuknya saja yang berbeda : ada yang berjalan di tengah berderang, dan ada pula yang bermanuver di antara gradasi dan kamuflase. Yang akan berjalan adalah dia yang boleh menentukan lewat arah mana akan melalui.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Lalu saya teringat sepotong puisi Chairil Anwar :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;“Juga malam akhirnya berlabuh&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Dan dingin pun menyebarkan kalam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Seperti hujan di ujung melempar sauh&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Menyekalkan rindu dan cinta dalam-dalam”. [itp]&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-5102157918296796079?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/5102157918296796079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=5102157918296796079&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5102157918296796079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5102157918296796079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2010/07/melihat-kosong.html' title='Melihat Kosong'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-34299319888644253</id><published>2009-02-10T22:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-11T03:41:51.863-08:00</updated><title type='text'>PEMILU : Saatnya Tebar Pesona</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demam Pemilu. Tulisan ini mengindikasikan itu. Saat partisipasi politik publik meledak, tiba-tiba saja ratusan parpol bermunculan, walaupun yang lolos verifikasi kurang dari setengahnya. Semuanya menyodorkan proposal kepada rakyat, isinya kurang lebih : pilih partai saya, karena partai saya adalah yang paling peduli dan memperhatikan aspirasi rakyat, persis iklan kecap nomor 1. Secara normatif tindakan itu alangkah mulia. Hari gini masih ada orang yang mau memikul beban dan penderitaan rakyat, respon yang timbul mungkin terharu (agak mustahil) atau sedikit senyum pahit. Yang tersenyum pahit kemudian golput, membuang sistem demokrasi yang ditawarkan ke keranjang sampah. Atau mungkin sumpah serapah, mengutuki partai politik dan semesta calegnya. Tapi yang mendukung juga tidak sedikit, lihatlah itu massa parpol membedaki jalan-jalan ibu kota, atau debat terbuka di statiun tv swasta. Mau mendukung atau tidak, semuanya adalah pilihan politik publik, walaupun ada yang resah juga dengan semakin membengkaknya fenomena golput di Indonesia, dengarlah itu MUI mengeluarkan fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dan hiruk-pikuk pro-kontra, hari ini kita mendapati kenyataan bahwa jalan raya, gang, dinding rumah, tiang listrik, pohon, angkutan kota, dan tempat-tempat terbuka lainnya disesaki oleh iklan homogen para caleg dari berbagai partai politik. Muka-muka yang dikondisikan sedemikan rupa (mayoritas tersenyum) menghiasi ruang-ruang publik, bukan menghiasi sebenarnya tapi mengotori. Tempat-tempat umum itu kemudian menjadi tong sampah raksasa yang hadir di sekitar kita. Maksud hati ingin tebar pesona, tapi rakyat meresponnya dengan sinis, bahkan di surat pembaca salah satu koran nasional bertiras ribuan eksemplar, seorang ibu menulis, redaksinya kurang lebih begini : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"untung tadi malam di tempat saya hujan deras dan angin kencang, sehingga banyak baliho caleg yang runtuh dan hancur."&lt;/span&gt; Iklan kecap nomor 1 tidak mendapatkan tempat di hati masyarakat. Fakta ini harus disiasati oleh mereka yang jualan partai politik. Bahwa dalam kepadatan aktivitas masyarakat, mereka harus  berlomba mengemas jualannya agar terlihat menarik dan simpatik. Gagasan, ide, dan pemikiran besar yang ditawarkan kepada masyarakat akan terlihat sangat bodoh jika hanya disampaikan dengan bentangan muka-muka fotogenik di sudut-sudut ruang publik. Masyarakat sebenarnya tidak seapatis yang dibayangkan, mereka juga punya sisi kepedulian dan rasionalitas politik yang hanya akan timbul jika komunikasi politik yang sampai kepada mereka dapat berjalan dengan baik. Ini hanya masalah konsekwensi : antara konsep dengan cara mengkomunikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengklaim diri seolah-olah yang terbla.bla.bla memang tidak dilarang, tapi alangkah baiknya jika cerdas dalam menyampaikannya. Tebar pesona menjadi aktivitas padat pelaku hari ini. Tapi kita belum banyak melihat yang menyampaikannya secara baik. Semoga ruang publik kita tidak semakin sesak dengan foto-foto "orang pintar" yang kelihatan bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inga..inga..awal April kita pemilu lagi. Kita??. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-34299319888644253?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/34299319888644253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=34299319888644253&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/34299319888644253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/34299319888644253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/02/pemilu-saatnya-tebar-pesona.html' title='PEMILU : Saatnya Tebar Pesona'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-2127301824214691137</id><published>2009-01-22T19:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T19:46:08.516-08:00</updated><title type='text'>Masyarakat Imunisasi</title><content type='html'>&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Satu hal dari banyak hal yang patut disyukuri adalah bahwa kita dianugerahi pengetahuan tentang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bahasa. Tentang Metafor. Tentang kiasan. Tentang suatu cara untuk menyampaikan pendapat, ide, kritik dan saran secara tidak vulgar. Menyampaikan partikel gagasan yang disamarkan dengan kekayaan bahasa, dengan tujuan agar "si objek tembak" tidak merasa ditelanjangi. Tidak merasa diserang bertubi-tubi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Tapi memang zaman minta perubahan. Dia menuntut segalanya serba terbuka. Serba transparan. Serba blak-blakan. Dengan doktrin demokrasi, kebebasan, persamaan hak dan dogma perubahan lainnya menggiring kita untuk akhirnya mentabukan majas. Mengalienasi perumpamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Dan efek yang ditimbulkan dari kondisi itu cukup "mengagumkan". Kita kehilangan rasa peka. Kita menjadi malas berkontemplasi. Gerak reflek kita jadi lamban. Sinyal-sinyal untuk menangkap pesan yang tersirat semakin melemah. Atau mungkin sengaja dilemahkan?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Dengan berjalannya waktu, individu-individu yang dimuntahkan oleh kondisi ini semakin bertambah dan membentuk komunitas-komunitas kecil, sebelum akhirnya membentuk sebuah masyarakat yang lebih luas. Dan kita adalah anggota sah masyarakat tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Kita nyaman dengan kondisi seperti ini, sebab tidak direpotkan dengan kegiatan menganalisa pesan-pesan yang berada di balik timbunan kata-kata. Kita adalah masyarakat tabu kiasan. Masyarakat miopy perumpamaan. Masyarakat yang terimunisasi dari kritik dan saran. Masyarakat terdidik yang bebal. [ ]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-2127301824214691137?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/2127301824214691137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=2127301824214691137&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2127301824214691137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2127301824214691137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/masyarakat-imunisasi_22.html' title='Masyarakat Imunisasi'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-2936158368419161145</id><published>2009-01-22T19:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T19:36:28.961-08:00</updated><title type='text'>Adegan Panas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;“Nadya sedang mandi pagi itu, ketika seorang laki-laki masuk ke kamar. Di bawah guyuran &lt;i style=""&gt;shower&lt;/i&gt; yang dingin dia tidak tahu, laki-laki itu tengah tidur di atas kasur. Aktivitas di kamar mandi di mana-mana sama, gosok ini, gosok itu, guyur ini, guyur itu, semua tidak ada yang istimewa, kecuali jika Nadya membuatnya menjadi istimewa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Laki-laki itu sebenarnya tidak tidur, dia hanya memejamkan mata saja, dia sebenarnya tengah menunggu, menunggu sesuatu yang membuatnya tidak sabar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dengan hanya memakai handuk sebatas dada, Nadya kemudian berjalan menuju kamarnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sementara karena sudah tidak sabar, laki-laki yang di kasur kemudian membuka baju. Kemudian Nadya masuk kamar dan menutup pintu, lalu memakai baju dan membereskan buku, Nadya kuliah pagi hari. Yang ditunggu laki-laki itu akhirnya datang, kawannya yang bernama Iwan datang membawa minyak angin dan uang logam, bersiap dia mau kerok punggung laki-laki yang tengah terbaring, karena semalam suntuk main PS dengan jendela kamar terbuka, laki-laki itu akhirnya masuk angin dan harus dikerok dengan bantuan kawannya, untung dia kuliah siang hari. Nadya pergi ke kampusnya yang berada di Depok. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Sementara laki-laki itu tengah dikerok di kamarnya di Bandung.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Itu adalah dua adegan tentang dua orang mahasiswa yang berbeda tempat. Nadya dan laki-laki yang masuk angin. Dua adegan dalam satu cerita. Kamu suka adegan yang mana?. Yang mandi atau yang dikerok?. Oh, mungkin ini tergantung jenis kelamin. Tapi yang pasti kamu adalah seorang sutradara. Ketika kamu menulis, sebenarnya kamu juga tengah membayangkan apa-apa yang kamu tulis itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Maka cerita yang bergulir adalah potongan-potongan adegan yang sambung-menyambung. Mirip dalam sebuah film. Jalan cerita seperti apa yang kamu inginkan?, itu tergantung bayangan adegan yang ada di kepalamu. Maka sebuah tulisan adalah rangkaian adegan-adegan yang kamu reka-reka sesuai selera kamu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Tapi jika itu bukan fiksi tapi cerita nyata, maka kamu juga pasti sambil mengingat peristiwa yang telah kamu alami atau merangkai berbagai teori dan konsep.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Membayangkan sesuatu yang akan kamu tulis, terkadang membutuhkan mata yang terpejam, atau kamu akan menerawang, melihat-lihat tapi tidak fokus dan kosong, karena pikiranmu sedang tertuju pada bahan tulisan, pada adegan yang akan kamu tuliskan. Kadang-kadang hal itu membuat kamu pusing, karena terlalu banyak adegan yang memungkinkan untuk kamu tulis. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Menuliskan seorang Nadya yang sedang mandi saja bisa banyak sekali. Bisa kamu bahas dari masalah sabun dulu, bisa dari baju dulu, bisa dari keluarga Nadya dulu, dan macam-macam yang lain sesuai seleramu. Sehingga hal itu terkadang membuat kening berkerut-kerut dan kepalamu terasa pening, karena tumpukan ide yang menggunung, karena gagasan tumpang tindih di batok kepalamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;”Adegan Panas” adalah salah satu ide yang keluar dari keputusanmu dalam menuliskan sesuatu, dan hal ini sangat relatif. Tergantung seleramu. Mau dibawa kemana banjir idemu itu?. Mau seperti apa jadinya tsunami gagasanmu itu?. [ ]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-2936158368419161145?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/2936158368419161145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=2936158368419161145&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2936158368419161145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2936158368419161145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/adegan-panas.html' title='Adegan Panas'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8200987346645952436</id><published>2009-01-22T07:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T08:10:03.006-08:00</updated><title type='text'>Tangis di Pagi Hari Bulan Oktober</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Banyak sekali orang yang mengagumi dan terinspirasi oleh hujan, dari yang banyak itu salah satunya adalah dia. Dengan bunyinya hujan selalu memberi tahu bahwa pucuk daun jambu kedinginan. Hujan juga selalu mengabarkan tentang air yang jatuh di batu dan rerumputan. Hujan bisa membedakan antara atap rumah dan kubah mesjid. Tapi bunyinya tak terdengar di hati manusia, sebab di tempat itu hujan diendapkan pada bagian yang terdalam dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dia yang berjalan di pagi yang murung itu. Setelah tadi malam sesuatu yang menyesakkan mengusiknya, dia tidak bisa memejamkan mata. Meski bola lampu telah dipadamkan dan tirai jendela telah dirapatkan, tetap saja kantuk tak kunjung tiba menghampirinya. Ada sesuatu yang menari-nari di benak pikirannya, terlebih lagi di langit jiwanya. Maka lihatlah akhirnya dia hanya bisa berdialog dengan bantal yang perlahan mulai basah, bukan oleh hujan tapi airmatanya, sebab selain jatuh di luar, hujan juga telah diendapkan di titik terdalam perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di pagi hari bulan oktober yang gerimis itu, dia melangkah menyusuri setapak jalan dan menembus kabut. Harapannya sederhana : hujan tak berhenti jatuh dan tak ada seorang pun yang menyapanya. Tak sedikit pun lintasan pikiran yang mengajaknya untuk sejenak berteduh atau menyapa anak kecil yang berdiri di ambang pintu dengan berseragam sekolah. Dia hanya terus berjalan menunduk, entah apa yang dilihatnya. Yang jelas bukan tanah yang becek dan bebatuan yang basah. Tatapannya jauh menembus itu semua, sejauh angannya yang melayang-layang pada kejadian tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kawanan burung kecil berkejaran di udara, gerakannya seperti hendak merobek pemandangan awan yang pucat dan murung. Ada juga semilir angin menggoyangkan pucuk tanaman rambat yang membelit pagar rumah anak kecil berseragam sekolah. Deru mobil lain lagi, lamat-lamat terdengar di kejauhan dan akhirnya menghilang. Semua itu menandakan bahwa masih ada kehidupan dan harapan. Tapi sayang tak mampu menghiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setapak jalan yang sepi dia menangis lirih, airmatanya berjejalin dengan air hujan yang menetes di pipi. Hujan selalu pintar menyesuaikan dengan suasana hati. Di pagi hari bulan oktober itu dia menangis pelan sekali. Dia tengah menikmati pesona kesedihannya sendiri. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dedicated to Hermi Kusumawaty &amp;amp; Sapardi Djoko Damono)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8200987346645952436?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8200987346645952436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8200987346645952436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8200987346645952436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8200987346645952436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/tangis-di-pagi-hari-bulan-oktober.html' title='Tangis di Pagi Hari Bulan Oktober'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8339498447454935281</id><published>2009-01-22T07:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T07:41:34.847-08:00</updated><title type='text'>Hari yang Biasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ada satu saat dimana kita merasa tidak berarti. Sangat tidak berarti. Bisa kemarin, sekarang atau besok. Bisa juga dulu atau nanti. Saat dimana kita merasa terpuruk sendirian dalam hari yang biasa. Hari yang jauh dari istimewa. Saat ketika orang-orang menjauh, kabur dari pandangan dan komunikasi. Relasi publik yang selama ini direngkuh hilang teratur dan akhirnya lenyap. Atau mungkin mereka ada, tapi keberadaannya tidak menyisakan apa-apa selain sebuah kehampaan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu suram itu, keluarga menjadi dingin tak ada kehangatan, semua berjalan sendiri-sendiri. Sahabat hilang satu-persatu menuju cita-citanya masing-masing. Percintaan sudah berakhir, lalu dia menjadi mantan, dan apa yang bisa diharapkan dari seorang mantan cinta?. Orang yang diam-diam dikagumi kehilangan karakter, dia menjadi rapuh dan memalukan. Lalu secret admirer kalau ada, mereka pun mundur teratur dan lenyap tak berbekas. Bahkan musuh sebagai relasi publik negatif tiba-tiba hilang entah kemana. Kita jadi seorang asosial. Hidup sendirian dan yang paling penting adalah merasa sendirian dan ditinggalkan. Semua kehilangan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita mencoba melihat media komunikasi, dan ternyata sama saja. Hp, fs, email, blog dan yang lainnya semuanya sunyi, tak ada lalu lintas komunikasi. Semua yang kita senangi menjadi hambar. Ketertarikan, hobi, komunitas, gaya hidup, cita-cita dan semuanya menjadi luntur sebelum akhirnya luruh menyentuh titik nadir yang paling rendah. Buku-buku jadi kehilangan rasa, semuanya hambar dan kaku. Pramoedya tak lagi bisa diandalkan. Tetralogi Buru hanya jadi tumpukan kertas saja. Kemudian musik pun sama, hanya terdengar membosankan. Lagu-lagu jadi sendu dan cengeng. Keadaan seperti sedang berkonspirasi memojokkan ke-aku-an yang selama ini dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat seperti itu nampaknya susah untuk dikendalikan dan dicari pengalihannya, karena untuk berkomunikasi dengan Tuhan pun kita selalu gagal dan jauh dari khusuk. Kita benar-benar terasing. [ ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8339498447454935281?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8339498447454935281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8339498447454935281&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8339498447454935281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8339498447454935281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/hari-yang-biasa.html' title='Hari yang Biasa'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-5885275265596570283</id><published>2009-01-22T07:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T07:37:09.798-08:00</updated><title type='text'>Begini Saja</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Begini saja. Bagaimana kalau lambang Negara, kita ganti dengan tikus bukan burung garuda lagi. Sebab tikus lebih ergonomis untuk menggerogoti dan kemudian lari bersembunyi. Bagaimana kalau setiap pajabat tidak usah bersumpah di bawah kitab suci lagi dan kita ganti dengan proposal tender bermilyar-milyar dengan uang pelicin bermilyar-milyar, sebab itu lebih indah dan menyenangkan. Bagaimana  kalau KPK kita bubarkan saja dan pembubarannya kita rayakan di rumah-rumah dinas kediaman. Bagaimana kalau para aktivis yang hilang dan dibunuh kita lupakan saja dan kita tidak usah demonstrasi lagi, tidak usah mengkritisi lagi, tidak usah menegakkan kebenaran lagi sebab kebenaran sudah seperti sebuah jarum yang hilang di tumpukkan jerami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau para korban banjir, lumpur panas, longsor, gempa dan ancaman gunung berapi kita kasih makanan basi saja sebab stok makanan sudah habis dimakan tikus. Bagaimana kalau para anggota dewan kita naikkan semua tunjangannya, sebab gaji mereka hanya mencukupi biaya sehari-hari saja, sedangkan kebutuhan yang lain masih menumpuk : jalan-jalan ke luar negeri, menghidupi istri simpanan, belanja mobil baru dan untuk sewa keamanan jika suatu saat dia di demo para mahasiswa. Bagaimana kalau PEMILU ditiadakan saja dan kita menyibukkan diri untuk mencari minyak tanah, sembako serta kedelai yang murah. Bagaimana kalau ternyata minyak tanah itu benar-benar habis dan kita ganti dengan kayu bakar sisa para cukong pemilik HPH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita tidak usah sekolah  sebab harganya terlalu mahal, lebih baik menjadi pengangguran  saja dan menunggu mereka yang sekolah itu bergabung dengan kita. Bagaimana kalau kita beli perahu karet, sebab kata BMG nanti malam akan turun hujan dan katanya pulau Jawa akan tenggelam. Bagaimana kalau kita semua jadi presiden saja, mengurus diri sendiri dan keluarga sebab negara punya urusannya sendiri. Dan bagaimana kalau tulisan ini tidak usah dibaca, sebab kalian pun sudah tahu dan menyaksikannya sendiri di koran dan di layar kaca. [ ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-5885275265596570283?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/5885275265596570283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=5885275265596570283&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5885275265596570283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5885275265596570283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/begini-saja.html' title='Begini Saja'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-6218679776713136099</id><published>2009-01-22T07:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T07:20:47.088-08:00</updated><title type='text'>Mencintai Pilihan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kalau semua kejadian yang kita lewati dinilai oleh parameter menang-kalah, maka sesungguhnya hidup adalah pertempuran. Dan pertempuran selalu menghadapkan satu pihak dengan lawannya. Tidak ada keserasian di sana, yang ada hanyalah konflik berkepanjangan, dan lawan yang paling sulit untuk dikalahkan adalah diri sendiri dengan semesta egonya. Mengalah pada ego sebenarnya tidak selalu berkonotasi buruk, tapi terkadang menggambarkan keteguhan sikap. Kita tidak selamanya diwajibkan berkompromi dengan keadaan. Tidak selalu ada tawar-menawar dalam hidup ini. Adakalanya sikap tegas harus dikedepankan. Terlalu banyak pilihan yang hadir dalam kehidupan kita, sementara mengambil keputusan pun bukanlah sesuatu yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus belajar, karena kita pemimpin. Harus belajar mengambil keputusan, terlepas dari benar atau salah keputusan itu. Karena seorang pemimpin dibesarkan dari rangkaian keputusan-keputusan yang diambilnya. Harus ada satu poin pegangan yang ditetapkan, karena kita tidak bisa berpegang pada beberapa cabang pilihan. Dan ini sangat luas wilayahnya. Dari memilih sekolah sampai pemilihan calon Presiden. Satu hal yang perlu disadari, bahwa kita tidak boleh menyesal pada pilihan kita, pada keputusan kita. Meskipun memilih atau mengambil keputusan adalah sebuah sikap untuk menentukan masadepan, menentukan masa yang akan datang, menentukan masa yang belum kita ketahui, menentukan masa yang masih tanda tanya, tapi kita harus berani. Karena hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, begitu kata Soe Hok Gie. Apakah kamu berani?. Apakah kamu mencintai keputusanmu?. Kalau kamu berani memutuskan dan cinta pada keputusanmu, berarti kamu cinta pada keberanian hidup. [ ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-6218679776713136099?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/6218679776713136099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=6218679776713136099&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/6218679776713136099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/6218679776713136099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/mencintai-pilihan.html' title='Mencintai Pilihan'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-634294945268441851</id><published>2009-01-22T07:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T07:16:24.273-08:00</updated><title type='text'>Imajinasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Imajinasi. Tentang ruang 3 x 3 di lantai dua yang menjadi perpustakaan pribadi dan berjendela besar. Jendela itu menghadap ke timur, lalu setiap pagi sinar matahari akan bebas masuk melaluinya. Di luar tumbuh dua pohon mangga yang rimbun daunnya. Sebuah dahan tumbuh mendekati jendela, lalu kalau musim berbuah dia siap untuk dipetik dari jendela itu. Rak-rak buku tersusun rapi tanpa debu tebal, karena setiap hari dia dibersihkan. Ratusan bahkan kalau mungkin ribuan buku berjejer dari berbagai disiplin ilmu. Sebuah kursi rotan bersandar di tepi jendela, dia mengkilap karena tiap hari diduduki untuk membaca. Di dinding sebelah selatan menempel poster Pramoedya Ananta Toer sedang merokok, dia tampak tua dengan kulitnya yang mulai keriput. Sore hari angin akan berhembus pelan, membuat sejuk ruangan itu. Hari minggu kalau semua pekerjaan telah selesai, maka ambil sebuah buku sastra dan membacanya sampai adzan Dhuhur tiba. Lalu ada jam dinding, lalu ada asbak, lalu ada sebuah radio tempat lagu Rayuan Pulau Kelapa mendayu-dayu sebelum siaran berita. Dan di salah satu sudut kamar ada sebuah komputer tempat memuntahkan segala yang ingin dituliskan. Siang itu ada seekor burung gereja hinggap di kursi dekat jendela, ada juga suara rintik hujan di daun-daun pohon mangga, lalu hp berbunyi tanda sebuah sms masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi. Tentang seorang kawan yang datang dari Yogyakarta, membawa beberapa buku tua dari loakan. Dia juga membawa buku tentang Zionis, dan ternyata dia adalah penulisnya. Dia tiduran di kamar itu sambil membolak-balik buku Milan Kundera yang bersampul oranye. Sementara saya tengah membaca buku hasil tulisannya. Kemudian ada diskusi bebas tentang segala hal. Hari kemudian menjadi sore semenjak itu, lalu saya turun ke bawah untuk mandi, dan di meja tergeletak koran hari ini. Sebuah iklan kecil tertulis di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi. Tentang pameran buku di Braga, banyak orang membeli Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, La Tahzan dan Harry Potter edisi Relikui Kematian. Saya sendiri sibuk di lantai dua mencari-cari buku Sang Pemula dan Cerita Dari Blora. Buku-buku ‘merah’ semakin banyak diterbitkan, tapi peminatnya tidak sebanyak bukunya karena buku ‘merah’ terkesan tidak memberikan apa-apa selain semangat utopis yang sudah usang. Tapi itu hanya stereotip, dan stereotip tidak selamanya benar. Anak-anak remaja berlomba borong teenlit demi modal gaul di sekolahnya, atau bisa juga sebagai pedoman dalam mencari jenisnya yang berbeda. Anak-anak itu, anak-anak yang memborong teenlit itu adalah mereka yang sedang semangat-semangatnya menelan hidup. Kawan saya yang dari Yogya itu entah kemana, sepertinya dia di stand buku-buku agama, mungkin sedang mencari buku tentang pernikahan?. Buku-buku itu adalah anak-anak rohani yang lahir dari budaya tulis bukan budaya ucap. Jam menunjukkan pukul 14.23, ketika ponselku berdering tanda ada orang yang menelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi. Tentang kawan yang pamit mau pergi ke rumah saudaranya. Dan tentang kamu yang sangat cantik sore itu, memakai sweater warna biru dan berkacamata tipis. Saya belum mandi sore itu karena sedang asyik membaca Anak Semua Bangsa, ketika kamu datang tiba-tiba dan berkata “aku ingin membacamu”. [ ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-634294945268441851?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/634294945268441851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=634294945268441851&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/634294945268441851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/634294945268441851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/imajinasi.html' title='Imajinasi'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-1201569932235819194</id><published>2009-01-22T00:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:06:07.832-08:00</updated><title type='text'>3 F</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Food. Identitas makanan sekarang sudah mengalami pergeseran, dari sekedar pemenuhan kebutuhan biologis, sekarang telah menjadi life style. Di mana-mana ada variasi kuliner dengan semesta wisatanya. Acara makan jadi lomba ajang gengsi. Tempat-tempat makan nomor wahid jadi buruan para pencinta atau lebih tepatnya para pencari gaya hidup. Lihat saja di mana ada shooting acara makan-makan, maka tidak lama kemudian tempat itu jadi ngetop. Di sector industri lebih membabi-buta lagi, saat ini sangat sulit untuk mengingat ada berapa merek mie instant, kopi, minuman ringan, susu bubuk dan cair, permen, coklat, roti bahkan teh celup. Maka kalau pergi ke retail-retail modern, bersiaplah untuk memilih beragam merek tersebut. Pasar makanan sudah jenuh, sehingga sulit mencari konsumen yang loyal pada satu merek. Saya tidak percaya dengan hasil-hasil penelitian yang menunjukkan loyalitas pada satu merek makanan, apalagi hasil penelitian para mahasiswa, biasnya luar biasa. Cara menikmati makanan pun kini banyak perubahan. Warung makan cepat saji jadi banyak digemari. Makanan yang konon junkfood itu sangat menarik minat para pencari makanan, apalagi hampir semuanya warung impor, maka makan di sana bukan lagi sekedar membantai lapar tapi juga sebagai tempat nongkrong. Bukankah masyarakat Indonesia masih menganggap keren segala hal yang berbau luar?!, oh kolonialisme, sampai begini rupanya engkau membuat prilaku rakyat Indonesia. Yang paling baru adalah warung kopi, orang-orang senang berkumpul bukan hanya di kedai kopi tapi juga di warung-warung kopi modern yang ada hot spotnya. Maklum saja kedai kopi biasa yang serumah sama mie rebus dan teh manis tidak bisa bikin laptop kelihatan mantap. Saya tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang dengan laptop itu, mungkin chatting, mungkin nulis, mungkin browsing atau mungkin juga main solitare. Di akhir pekan banyak keluarga yang bingung menentukan untuk makan dimana dan makan apa yang enak, tapi mudah-mudahan tidak berpikir hari ini makan siapa. Semahal apa pun makanan itu kita beli, ujung-ujungnya pasti akan berakhir di pembuangan, baik di kloset duduk, kloset jongkok, sungai keruh atau pun di celana dalam karena kita tak kuat nahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Fun. Hiburan di mana-mana. Dugem ramai sekali pengunjungnya. Musik dan sinetron seperti dua mata uang yang tidak bisa lepas dari mata dan telinga. Band-band baru yang kebanyakan kampring bermunculan. Sinetron sambung-menyambung tak ada habisnya, sayang komedi cabul malam-malam sekarang sudah tidak ada. Belum lagi sinetron yang menjiplak film sukses, garingnya bukan main. Film komedi cabul marak di layar lebar, akhir-akhir ini saya dengar mereka berseteru dengan LSF. Para sineas muda yang konon idealis itu kokoh dengan pendiriannya bahwa pendidikan seks adalah penting. Dan lonjakan libido pun harus di visualkan demi misi luhur tersebut. Maka lihatlah para pemuka agama berseteru dengan mereka. Hiburan dan hiburan, sangat mengesankan masyarakat Indonesia yang haus akan itu, atau mungkin ada yang berpikir bahwa terlalu banyak masalah jadi rakyat harus dihibur. Media hiburan mengepung semua pojok rumah. Ada televisi, DVD, PS dan tak ketinggalan blue film untuk kemudian dipraktekkan di rumah, di hotel dan kost-kostan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Orang kere pun tidak ketinggalan, mereka bisa nonton goyang erotis yang gratis di sudut-sudut kampung. Yang berbau-bau indie juga lagi ngetrend, ada film indie, musik indie dan komik indie. Lihat itu myspace jadi ramai sekali. Industri olah raga pun sudah jadi industri hiburan, di mana-mana ada fans club tim-tim besar, mereka berkomunitas mencintai club luar yang berada jauh di seberang laut lepas. Lama-lama negeri ini jadi republik hiburan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Fashion. Ada celana pendek di atas lutut yang lagi ngetrend, ada celana “demi waktu” yang mirip kaki burung, ada celana panjang super ketat yang ditutup kain menyerupai gorden, ada baju pameran pusar dan masih banyak lagi. Mode pakaian terus berubah dari waktu ke waktu, sangat cepat malah. Kebanyakan yang jadi targetnya adalah perempuan, tapi tak sedikit juga laki-laki yang berani tampil banci dengan gaya-gaya tersebut. Pakaian sudah jadi salah satu barang koleksi sekarang, ada kolektor baju bekas, ada kolektor t-shirt bertema musik bahkan ada juga kolektor daleman. Industri aksen juga jadi ramai, ada kalung, gelang, anting dan pin. Belum lagi budaya tato dan tindik-menindik, bahkan ada juga yang menindik hidung laku orang menyerupai kerbau di tengah lumpur sawah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sementara kebanyakan orang berlari mengikuti revolusi mode, ada juga yang terjebak di masa lalu, tenggelam di masa 60, 70, 80 dan 90-an. Banyak sekali baju usang di lemari, tapi sangat sayang jika di kasih sama orang lain, apalagi di buang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketiga F tersebut perlahan-lahan membuat kita menjadi tong sampah raksasa. Maka mari kita mendaftar di MURI untuk hal ini. Siapa tahu nanti ada olimpiade tong sampah dan kita menjadi yang termewah. Ada perbedaan besar antara kebutuhan dan keinginan. Kita sepertinya sedang berproses menjadi veses komsumerisme global. [ ]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-1201569932235819194?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/1201569932235819194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=1201569932235819194&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1201569932235819194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1201569932235819194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/3-f.html' title='3 F'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-3427466510996367365</id><published>2009-01-22T00:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:03:21.870-08:00</updated><title type='text'>Sastra Mesin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti layaknya mesin, tubuh manusia juga mempunyai mekanisme tersendiri. Bagaimana sepiring nasi Padang diolah oleh alat pencernaan sehingga hasil akhirnya menjadi sewujud sesuatu yang terdampar di septic tank. Atau bagaimana serbuan berbagai macam perasaan berhasil melelehkan airmata di kedua pasangnya. Lain lagi dengan darah, dia mengalir teratur di kanal-kanal tubuh yang tak terlihat. Semuanya bekerja dengan sangat sistematis, dan jatuh sakit adalah tanda bahwa mereka tidak bekerja dengan sempurna. Si mesin tubuh juga perlu perawatan, maka olahraga sering kita lakukan. Tak ketinggalan berbagai macam multivitamin kita jejalkan. Sepintas tubuh yang sering kita banggakan itu tidak jauh beda dengan mesin pembuat kecap yang mengolah kedelai hitam menjadi cairan kental yang hitam juga. Atau dengan mesin pembuat kertas yang memakan ribuan batang pohon kesayangan para aktivis pecinta lingkungan. Apakah kecanggihan manusia hanya berhenti sampai di sana?, jawabannya silahkan temukan pada jiwa-jiwa kalian yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berhenti menjadi manusia kalau dia tidak punya perasaan, maka sering kita dengar manusia seperti itu adalah manusia setengah robot. Maka kalau kamu marah lalu puluhan margasatwa berhamburan dari mulutmu, berarti kamu masih manusia. Kalau kamu kesal lalu membanting pintu atau memukul meja, berarti kamu masih manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar perasaan tidak menghasilkan tindakan yang destruktif, maka dia harus dihaluskan. Kata guru saya waktu MTs, salah satu cara memperhalus perasaan adalah dengan cara banyak membaca karya sastra. Membaca karya sastra ternyata tidak semegah yang dikira sebelumnya, karena apa yang dituliskan di sana adalah refleksi yang ada di sekitar kita, bisa benda dan bisa juga peristiwa. Tanpa kamu sadari tiba-tiba saja gunung, pantai, bunga, gelombang, matahari, angin, bintang, hujan, bulan, rumput, malam, senja, daun, burung, awan dan bahkan pagar halaman menjadi benda-benda yang sering diperhatikan kalau kamu sedang jatuh cinta. Semua benda itu tiba-tiba saja menjadi indah dalam wujud metafora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca karya sastra tidak melulu tersiksa dengan kata-kata penyair yang susah dimengerti maknanya, tapi juga tentang bagaimana menyandarkan gelisah hati ketika kamu tengah patah hati. Dengan variasi kata-kata, sastra seperti ingin menyadarkan bahwa bagaimanapun keadaannya, kamu tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Selalu ada contoh kisah di sana, tentang dunia manusia yang banyak ragamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka suatu hari ketika jiwamu sedang diserang sesuatu, tiba-tiba saja kamu menjadi seorang penyair, kamu menjadi pandai membuat kata-kata indah dan mengalir. Lihat saja catatan harianmu yang telah lalu, kamu dapat mendeteksinya bahwa catatanmu itu adalah gambaran cuaca yang sedang terjadi di alam jiwamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghaluskan perasaan, mungkin ini juga yang tengah dialami oleh D. Zawawi Imron ketika beliau menulis sebaris kalimat ini :&lt;br /&gt;"Kalau aku ikut ujian dan ditanya soal pahlawan, namamu ibu yang akan aku sebut lebih dulu". [ ]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-3427466510996367365?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/3427466510996367365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=3427466510996367365&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3427466510996367365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3427466510996367365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/sastra-mesin.html' title='Sastra Mesin'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8222624008309743908</id><published>2009-01-22T00:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T00:01:41.196-08:00</updated><title type='text'>022-021</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak ada yang lebih manis dalam kemesraan kemanusiaan melebihi kedua kota ini. Keduanya selalu memendam rindu-dendam tak berkesudahan. Jauh melebihi panjang jalan tol Cipularang, kedua kota ini selalu saja menyisakan persentuhan budaya, saling menopang dan orang-orangnya sering mengutuk dan menyanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya bisa diwakili oleh orang-orang Bandung yang menympahi cuaca Jakarta yang panas seperti semi neraka, padahal mereka belum pernah ke neraka. Atau tentang mereka yang pertama kali naik Bus Way dan jalan-jalan ke Blok-M, mereka yang serba pertama itu mengalami semacam "gegar budaya", serba kaku serba tidak tahu. Jangan dibilang kampungan, sebab mereka bukan orang kampung tapi orang Bandung. Yang di Bandung tak henti-hentinya mengeluh jika musim libur tiba, sebab orang Jakarta akan membanjiri wilayah mereka. Setiabudi-Cipaganti-Martadinata-Ir. H. Djuanda akan macet dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka, orang-orang Bandung itu tidak sedikit yang mencari penghasilan di Jakarta. Mengaduk-ngaduk nasib di belantara ibu kota dan mereka ternyata bisa bertahan lama. Mungkin kerasan atau mungkin juga mempertahankan pendapatan. Untuk memprediksi jumlah angka coba saja hitung perkembangan usaha travel yang yang jumlahnya tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jakarta punya kisah juga, mereka seperti tidak pernah bosan mengunjungi Bandung di setiap akhir pekan. Seolah-olah tak ada lagi tempat berlibur selain Parijs van Java. Padahal yang ditawarkan Bandung itu-itu juga : wisata kuliner, wisata alam dan wisata belanja. Bandung bagi mereka lebih dari cukup untuk berwisata sambil menunggu hari senin tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka, orang-orang Jakarta itu sedikit khawatir jika tim sepakbola kebanggan rakyat Pasundan sedang bertanding bertepatan dengan keberadaan mereka di sana. Apalagi yang mobilnya berplat B, bisa kocar-kacir dibuatnya. Perseteruan suporter sepakbola kedua kota ini memang hampir melegenda. Di mana-mana kalau mereka bertemu pasti ribut juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah manusia, selalu pintar mengelola rindu-dendam yang bersemayam di dada mereka. Dan saya lihat orang-orang Bandung dan Jakarta selalu manis mengelolanya. [ ]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8222624008309743908?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8222624008309743908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8222624008309743908&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8222624008309743908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8222624008309743908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/022-021.html' title='022-021'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-5283250654641347148</id><published>2009-01-21T23:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T23:59:02.864-08:00</updated><title type='text'>Mati Muda</title><content type='html'>&lt;div id="item_body" class="bodytext" author="uwa82" author_possessive="uwa82's"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Selalu ada cara untuk mengenang mereka yang telah pergi mendahului kita. Cukuplah kematian menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup. Kematian bukan untuk ditakuti karena datangnya adalah pasti. Dalam setahun ini kabar duka susul-menyusul, beberapa kawan telah pergi dipanggil-Nya. Lalu ada seorang kawan yang bertanya : “kapan kamu menyusul mereka?”. Pertanyaan bodoh saya kira, seolah-olah saya mengetahui jadwal kematian sendiri. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau dia hanya berolok-olok saja?. Apakah kematian pantas untuk diperolokkan?.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi sebagian orang mati muda adalah tragedy, karena tidak bisa lama mengecap nikmat dunia katanya. Tapi bagi sebagian yang lain justru sebuah berkah, sebab mereka kembali kepada kesejatian menghadapYang Maha Abadi. Tapi yang terpenting bukan masalah kapan tibanya, melainkan sudah seberapa banyak bekal kita untuk menempuh jalan keabadian itu. Saya sendiri selalu khawatir dengan bekal yang masih sedikit atau mungkin belum ada sama sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk kawan-kawanku yang telah pergi meninggalkan fananya dunia, saya hanya bisa berucap selamat jalan dan berdo’a untuk kalian. Semoga kalian mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk kawan-kawanku yang masih hidup, saya teringat sepotong bait dalam sajak &lt;i style=""&gt;Pastoral &lt;/i&gt;karya Acep Zamzam Noor, mungkin kalian pernah mendengarnya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Tapi salju&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Yang berloncatan bagai waktu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Dan menyumbat pernafasanmu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Maut bukanlah kata-kata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Tapi do’a&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Yang memancar bagai cahaya surga&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;Dan membakarmu tiba-tiba [ ]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-5283250654641347148?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/5283250654641347148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=5283250654641347148&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5283250654641347148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/5283250654641347148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/mati-muda.html' title='Mati Muda'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-586903725713950459</id><published>2009-01-21T23:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T23:49:31.027-08:00</updated><title type='text'>Siasat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;Apa yang dituliskan oleh para pengarang novel, pembuat puisi dan penulis cerpen sesungguhnya adalah tema yang diulang-ulang. Hampir semuanya mengusung tema percintaan, kemanusiaan, sosial, kepahlawanan, perlawanan, alam dan lain sebagainya. Tak ada yang baru di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Tapi kenapa selalu ada karya-karya mereka yang berkesan?, padahal tema yang mereka tawarkan itu-itu juga. Jawabannya adalah kekayaan bahasa. Kosa kata yang banyaknya entah berapa berhasil mensiasati pengulangan tema sehingga tidak membosankan. Dia selalu bisa memesona dengan kekayaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selalu ada citarasa yang berbeda ketika misalnya membaca karya Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Danarto, Emha Ainun Nadjib, Ramadhan K.H, Taufik Ismail, Budi Darma dan bahkan tulisan kawan-kawan yang sering diposting di MP. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; sesuatu yang berbeda di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Bagaimana caranya memperkaya bahasa dan menabung timbunan kosa kata?. Salah satunya adalah dengan banyak membaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Membaca, itulah siasat pertama dalam menulis karya. Meskipun hasilnya tidak selalu seratus persen orisinil, tapi setidaknya ada sesuatu yang dituliskan. Dan sebuah karya yang dituliskan akan lebih mengabadi daripada yang diucapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam kehidupan juga sepertinya harus meniru bahasa, pandai bersiasat dalam mengolah citarasa agar hasilnya selalu mempesona. [ ] &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-586903725713950459?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/586903725713950459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=586903725713950459&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/586903725713950459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/586903725713950459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2009/01/siasat.html' title='Siasat'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-427885849899197494</id><published>2008-08-18T06:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-18T06:45:42.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Kanvas dan Cermin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Fajar Merah bergegas membereskan bukunya. Hari itu cuaca mendung dan sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Angin mulai kencang menerbangkan debu-debu yang dari pagi bersemayam di bumi. Kampus pun mulai sepi ditinggalkan para penghuni satu-persatu. Di halte angkutan kota yang setiap hari setia mengangkutnya, Fajar Merah menemukan kertas yang bergulung. Karena penasaran, Fajar Merah mengambilnya. Sebuah tulisan nampak tercetak di atasnya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;" Hari ini seperti kemarin, bagiku tak ada yang istimewa. Biasa. Sangat biasa. Orang-orang terlelap dengan kesibukannya masing-masing. Angin, debu, batu bahkan matahari juga tak mau memperlihatkan bentuknya dalam wajah yang istimewa. Semua seperti hamparan kanvas kosong. Datar. Tak bertekstur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;Hari ini seperti kemarin, bagiku sama saja. Waktu hanya berloncatan menghabiskan geraknya. Perputarannya telah kehilangan rasa. Hambar. Tak berasa. Kata-kata bijak yang sebelumnya ampuh menjadi suplemen jiwa, kini tak mampu lagi menjadi nutrisi. Kata-kata itu telah terbenam. Tenggelam di tengah-tengah penggembosan makna. Sangat absurd.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: blue;" lang="SV"&gt;Hari ini seperti kemarin, bagiku adalah cermin. Hanya bolak-balik bidang yang bertautan dalam visual yang sama. Apa yang diharapkan di sana ?, jika komposisi rupa menjadi sama. Kenapa cermin telah meninggalkan hakikatnya ?, seharusnya dia hadir membawa bopeng kita di pelupuk mata !!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Fajar Merah tak tertarik dengan isinya. Lalu hanyutlah tulisan itu di bawa arus air yang mengalir di got depan halte. Hujan turun deras siang itu. Dan tulisan hanyut entah kemana ?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-427885849899197494?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/427885849899197494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=427885849899197494&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/427885849899197494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/427885849899197494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2008/08/kanvas-dan-cermin.html' title='Kanvas dan Cermin'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-1343200003947814707</id><published>2008-04-09T01:32:00.003-07:00</published><updated>2009-01-22T01:33:34.752-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>The Jongos</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Sekali waktu pernah juga saya pergi ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, melihat-lihat gedung-gedung yang tinggi itu. Bukan kepalang tingginya sebagai monster mencakar langit yang biru. Tak tanggung juga banyak manusia yang menghuninya, maksudnya hanya hunian untuk bekerja saja zonder menetap di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Manusia-manusia itu rapi pula kelihatannya oleh mata kepala saya sendiri, tak kepalang rapi dan wibawanya sebagai orang-orang yang mengerti akan ilmu pengetahuan. Sempat juga saya masuk ke dalam gedung itu, menyaksikan mereka yang sibuk duduk di depan computer yang dibatasi sekat-sekat pendek hampir setengah badan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga yang mondar-mandir mengantarkan minuman, atau yang sibuk mengangkat gagang telepon, atau yang sibuk main game, atau sekali waktu saya juga melihat orang yang sebentar-sebentar berdiri lalu duduk lagi, begitu saja kerjaannya sebagai suami yang cemas menunggu kelahiran anak pertamanya. Sungguh sebuah kesibukan yang manis nampaknya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam sebuah pagi yang masih sangat awal, mereka manusia-manusia itu sudah bersiap berangkat menuju rahmat kerjanya masing-masing. Rahmat kerja yang lain-lain juga kesibukannya, bergantung profesi dan keahliannya masing-masing. Begitu saja perputaran aktivitas di dalam gedung-gedung berpendingin itu. Kemudian di akhir bulan, ramailah mereka mengantri di ATM buat mengambil uang, hasil keringat satu bulan ke belakang itu, untuk dihabiskan pula pada satu bulan ke depannya. Tapi ada juga sebahagian yang ditabungkan untuk penghidupan selanjutnya, untuk pendidikan anak-anaknya, untuk mencicil rumah, untuk bayar kredit motor, atau bila mereka belum berkawin, maka disimpan pulalah uang itu untuk meminang calon pasangan hidup dan pesta perayaannya. Tapi kebanyakan dari penghasilan itu adalah untuk makan-minum saja dan untuk berbelanja fashion, dan ada pula untuk sedikit bersenang-senang dengan pacar dan kawanya, semacam melepas penat dari lelah kerja seharian. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kehidupan manusia memang tidak terlepas dari siklus itu-itu juga, dari kerja-lapar-makan-buang hajat dan ditambah sedikit bersenang-senang, hanya sedikit porsinya untuk senang-senang itu. Alangkah sederhananya. Lalu ada juga manusia yang alim, mereka sibuk mendekatkan diri pada Tuhannya masing-masing, berharap beroleh berkah dari rahmat kerjanya itu. Dan dalam pekerjaan yang diagung-agungkan itu pastilah ada yang namanya tuan dan jongos, kebetulan dari manusia-manusia itu kebanyakan adalah jongos. Apa pun nama dan pekerjaannya, jongos tetaplah jongos yang mengabdi kepada tuannya sampai dibela-bela juga nama baik perusahaannya itu, perusahaan milik tuannya itu. Derajatnya saja yang berlain-lainan, yang membedakan satu jongos dengan jongos lainnya. Dan saya juga adalah manusia yang menyukai rahmat kerja, pernah pula menjadi jongos di sebuah pabrik service perjalanan, dengan salary yang cukup untuk hidup dan sedikit bersenang-senang. Begitulah kalau jongos, sempat juga saya kena damprat majikan dan tuan-tuan muda majikan yang berkuasa itu sebagai mereka adalah penguasa kehidupan saya, sebagai mereka yang membeli saya dengan salary itu. Padahal kata orang-orang tua dulu, yang mengusai kehidupan adalah hanya Tuhan dengan semesta kekuasaan-Nya, tapi beda zaman beda pulalah pemahamannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Demikianlah saya menghubung-hubungkan konstelasi pemahaman sambil melihat awan dari balik jendela trem, antara sebentar lewat para penjual makanan dan para pencatut yang tak habis-habisnya itu. Tak terasa trem sudah sampai di daerah Senen, lalu saya loncat dari trem itu menuju penjual kue pancong di dekat pasar buku loak. Sedari pagi belum terisi rupanya perut ini, sehingga terdengar bunyi-bunyian sebagai orang main musik keroncong dalam perut ini. Penjual kue pancong nampak sedang sibuk meniup-niup api untuk pembakaran. Dua buah kue pancong dan segelas kopi encer sudah masuk ke perut saya, membuat segar sedikit badan yang mulai letih ini. Saya sedang menunggu si Hadi sebenarnya siang itu, ada janji mau bertemu di pasar loak buku itu untuk membeli barang satu atau dua buku untuk sekedar dibaca-baca saja nanti di ‘rumah’nya, di bilangan Manggarai. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semenjak reformasi pecah hanya kue pancong itu saja yang dapat saya beli, kebutuhan hidup melambung tinggi, harga-harga menjerat rakyat kebanyakan sebagai penjahat yang beringas membunuh korbannya. Antara sebentar saya ambil rokok dan menyalakannya, rokok pun hanya rokok murahan hasil produksi Kudus zonder pemantik, maka antara sebentar saya pinjam pemantik ke penjual kue pancong itu. Tak lama ada trem berhenti, kemudian muncul pula batang hidung si Hadi itu, sialan sudah menunggu setengah jam baru muncul bocah itu. Tanpa basa-basi diambil juga sebuah kue pancong ke mulutnya yang rakus. Si Hadi itu pasti juga kelaparan seperti saya, karena dia juga adalah pemuda zonder pekerjaan, sudah dua bulan dia berhenti menjadi jongos, tidak betah katanya, makanya dia keluar. Tak lama lalu dia merogoh kantongnya untuk bayar kue pancong zonder kopi encer, sekalian juga membayar semua yang saya makan. Lalu kami pergi meningglkan si penjual kue pancong dan menuju pasar buku loak itu. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak henti-hentinya dia minta maaf karena terlambat, karena tremnya telat datang katanya. Dan saya biarkan saja dia berkicau sebagai burung yang tidak menghiraukan cicitan anaknya yang kelaparan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jalanan sudah ramai sedari tadi oleh becak dan sepeda, ada juga suara oto yang meraung-raungkan mesinnya. Pasar buku loak juga sama, sudah ramai oleh orang-orang yang sibuk mencari buku dan bertransaksi antara satu dengan yang lainnya.Di jajaran keempat sebelah lapak buku-buku agama kami berhenti untuk melihat-lihat buku sastra yang mulai tua dimakan usia. Tampak si Hadi membuka-buka bukunya Umar Kayam, sedangkan saya sibuk mencari buku Prameodya yang sudah langka, maksudnya karangan-karangannya yang terdahulu sewaktu huru-hara di republik ini belum juga reda. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada saya lihat ’Arus Balik’, kemudian saya ambil dan lihat-lihat isinya. Antara sebentar saya baca sedikit-sedikit buku tebal itu. Cukup menarik juga buku itu, entah buku yang sedang dibaca si Hadi itu. Kami tak beranjak dari lapak buku itu, meskipun antara sebentar jelalatan juga mata ini melihat-lihat lapak yang lain, tapi kami urungkan juga niat itu sebab kalau terlalu banyak lihat buku, maka akan terlampau bernafsulah nanti kami untuk membelinya, sedangkan duit saja hanya tinggal beberpa rupiah lagi, itu pun sudah dipangkas oleh tukang kue pancong tadi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Kemudian kami deal membeli dua buku itu saja. Si Hadi beli ’Para Priyayi 1’nya Umar Kayam dan saya beli ’Arus Balik’nya Pramoedya. Setelah selesai bayar sama si penjual buku, lalu kami pergi naik trem lagi menuju Manggarai ke tempatnya si Hadi yang katanya mulai ramai oleh orang-orang pergerakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dari dalam trem nampak orang-orang sibuk mencari penghidupannya. Keluarga para manusia yang sibuk itu, di rumah juga sedang sibuk berbelit urusan dengan perutnya, semenjak harga-harga melambung membelah angkasa, manusia-manusia republik ini nampak pula kelihatannya seperti di zaman Jepang, bersibuk diri menggapai urusan perutnya yang tidak satu itu, sebab banyak pula keluarganya yang harus ditanggung juga urusan perutnya. Para pedagang jadi banyak mengeluh tentang dagangannya yang sepi dari pembeli. Demontrasi di mana-mana menuntut penurunan harga, dan kisruh di mana-mana. Antrian pembeli minyak goreng nampak mengular berbelok-belok saking panjangnya, padahal demi mendapat beberapa kilo&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;minyak saja. Laku itu nampak pula pada antrian calon-calon jongos di departemen-departemen pemerintahan dan di perusahaan-perusahaan yang masih dapat memberi salary buat para calon jongos itu. Si Hadi pun nampak pula melihat-lihat ke jendela dan sesekali melambai-lambaikan tangannya entah kepada siapa. Terus saja begitu zonder percakapan. Ada juga saya lihat para penjual kue pancong di tepi-tepi jalan yang panjang itu. Sebentar lagi trem akan tiba di Manggarai, si Hadi masih asyik juga melihat ke jendela, entah melihat apa. Lalu para pengamen mulai pada naik bertanda itu trem sudah berhenti di Kemayoran, lalu saya loncat meninggalkan si Hadi yang masih melongo melihat jendela trem yang kusam itu. Saya tunggu dia dekat sebuah warung penjual nasi, tak lama kemudian dia pun muncul dengan membawa dua kantong tahu lengkap dengan cabainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Turun dari trem itu terus masuk gang yang berkelok-kelok, di kiri-kanannya tampak rumah-rumah kumuh lengkap dengan jemuran yang bergelantungan, tempat jongos-jongos pabrik berumah tangga, membangun lembaga kehidupan tempat di mana anak manusia untuk pertama kalinya di ayun-ayun dengan segenuh kasih dengan segenap sayang dari orang tuanya. Ada saya dengar suara radio berkoar-koar memberitakan kemenangan pasangan anu mengalahkan pasangan anu dalam pilkada Jakarta. Gempita juga terdengarnya berita itu, suara si penyiar terasa empuk dan berat. Tapi wajah-wajah jongos yang beranak-pinak di sekitar gang itu lesu saja saya lihat. Anak kecil merengek-rengek ingin ditetek ibunya, sedangkan si ibu lesu saja melihat ke langit biru dengan tatapan kosong melompong sebagai merenung-renung saja kelihatannya. Kebetulan hari sedang gilang-gemilang waktu itu, yang membuat gedung-gedung jadi mengkilat dicumbui sinar matahari, gedung-gedung tempat sebagian jongos yang lebih tinggi derajatnya itu memenuhi penghidupannya. Hidup yang itu-itu juga, sama seperti moyang mereka dulu ketika masih menikmati dunia. Si Hadi sudah jauh meninggalkan saya yang tercecer di belakang karena tadi membeli dulu rokok di satu warung kecil di gang itu. Entah di belokan yang keberapa akhirnya sampai juga saya di ’rumah’nya si Hadi yang juga terlihat kumuh. Banyak benar buku si Hadi itu, di dalam bertumpuk-tumpuk ratusan buku yang tidak teratur sebagai kapal pecah habis dihantam gelombang besar. Si Hadi keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi pahit selaku temen rokok untuk menemani obroran kami. Lihatlah kemudian saya dan si Hadi ngobrol panjang-lebar. Panjangnya ga ketulungan, lebarnya juga ga ketulungan. Antara sebentar lewat tukang gorengan memukul-mukul wajannya yang panas, ada juga tukang bakpao lewat di depan ’rumah’ si Hadi itu. Lingkungan gang ini memang ramai sepanjang hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Mana orang-orang pergerakan itu?”, tanya saya ke si Hadi yang sedang asyik menyeruput kopi pahit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;”Ntar agak sorean mereka datangnya”, jawab si Hadi sambil menyalakan lagi rokoknya, entah batang yang keberapa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Maksud lu itu pergerakan apa sih?”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;     Tenang dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menjawab ”pergerakan perbukuan bung”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Maksudnya gimana?”, tanya saya masih bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;”Manusia-manusia republik ini kan belum semuanya melek baca bung, bahkan kebanyakan dari mereka sebenarnya. Nah ada anak-anak mahasiswa yang sering main ke tempat gua ini ngajakin bikin yang namanya ’Ruang Baca’ buat rakyat”, begitu si Hadi menjelaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;”Oh, maksudnya bikin perpustakaan?, alaah bikin perpustakaan aja dibilang pergerakan, gua pikir macam pergerakan yang sering ditangkepin polisi itu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         Masih tenang di menghisap rokoknya, kemudian menjawab lagi ”buat bikin perpustakaan atau ruang baca juga kan harus bergerak, mana bisa kita bikinnya sambil diam aja, mana ada buku-buku itu jatuh dari langit dengan sendirinya?!, mana bisa kita mengelolanya sambil tidur aja, kita kan harus bergerak juga!!”, berapi-api dia menjawabnya laku seorang calon gubernur berkoar-koar di depan rakyat dengan janji-janji manisnya yang menggiurkan itu, ”yang namanya pergerakan kan tidak melulu harus mengkritisi pemerintah, lalu demonstrasi, lalu ditangkepin polisi, mau bung dijeblosin ke sel?!”, timpal dia melanjutkan, sementara saya hanya manggut-manggut saja sebagai jongos kena damprat majikannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Sudah capelah saya melihat manusia-manusia republik ini terus-terusan dijejali sinetron, berita kejahatan, beritan kelaparan, berita bencana alam, berita anggota dewan yang jalan-jalan ke luar negeri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan masih banyak lagi, apakah bung tidak mau bikin sebuah kegiatan alternatif buat manusia republik itu?!, apa gunanya reformasi jika hanya berita-berita itu saja yang berlaku di televisi kita?!”, kicauan si Hadi semakin panjang saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;”Tapi kan lu tahu, manusia-manusia itu masih lapar perutnya, mana mau mereka baca buku sementara perutnya masih kencang bunyi keroncong karena lapar?!, tanya saya dengan nada menyerang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Kita bagi-bagi tugas bung, biar pemerintah saja yang ngurus perut mereka itu, buat apa ada pemimpin yang setiap pemilu mereka pilih jika tidak bisa kasih solusi perut lapar, nah kita bagian urus masalah melek bacanya”, jawab si Hadi ga mau kalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;    ”Kan ada Departemen Pendidikan Nasional, itu kan tugas mereka, buat apa kita susah-susah bantu para beliau itu?!”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Rokok yang entah batang keberapa dia bakar lagi, lalu kicauan terdengar lagi ”Departemen itu terlalu sibuk bung, kasian mereka harus urus berjuta-juta manusia republik ini, belum lagi urus masalah UAN yang sering bocor dan didemo di mana-mana, belum urus masalah penerimaan mahasiswa baru yang akhir-akhir ini diributkan beberapa universitas dan institut, belum urus dana BOS yang juga sering kebocoran, belum urus masalah akreditasi perguruan tinggi, belum urus masalah kualitas SDM republik ini yang semakin jauh tertinggal, nah kita bantulah beliau-beliau itu barang sedikit saja dengan bikin ruang baca itu, masa bung yang dulu pernah mengenyam bangku kuliah tidak mau bantu membikin manusia republik ini menjadi tambah pintar?!”, ya ampun si Hadi panjang begitu menjelaskannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Oke, saya setuju aja kalau gitu, tapi kita mulai dari mana bergeraknya?”, tanya saya lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;     ”Nah, sekarang kita tunggu anak-anak mahasiswa itu buat rempugan sama kita buat memulai rencana itu”, jawab si Hadi agak singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         Kemudian tak terasa hari menjadi senja setelah itu, jongos-jongos mulai pada pulang dari kerjaannya, rahmat kerja sementara ditinggalkan, untuk dijumpai lagi esok harinya sebagai jam yang terus berputar mengelilingi waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Assalamu’alaikum”, nampak ada suara dari arah pintu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;     “Wa’alaikumslam”, jawab kami serempak. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oh, ternyata ada beberapa orang pemuda di balik pintu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         “Sore bang!!”, kata salah seorang yang kemudian diketahui bernama Joni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         Lima orang mereka itu. Dua orang laki-laki dan sisanya perempuan. Lalu mereka masuk, dan ciumlah ini ruangan yang tiba-tiba agak wangi dari parfum-parfum yang masih menempel di baju mereka itu, di baju &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;anak-anak muda yang baru masuk itu. Enak benar jadi mahasiswa, masih terbeli parfum untuk mengusir bau badan yang sedang mekar itu. Parfum apa namanya, saya tidak tahu, mungkin parfum import, tapi tak usahlah kicauan saya ini sampai jauh ke masalah parfum yang wangi-wangi itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;     ”Kenalin nih kawan saya dari Bogor”, kata si Hadi memperkenalkan saya kepada anak-anak muda itu. Lalu kami bersalam-salaman, laku orang habis sembahyang. Kemudian kami ambil duduk masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Gimana Jon rencana kita itu”, tanya si Hadi ke yang dipanggil Joni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Anak-anak di kampus saya sih udah banyak yang mau sumbang buku, ada sekitar sepuluh orang mau kasih bukunya ke kita”, jawabnya menjelaskan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Si Hadi masih merokok, asapnya melingkar-lingkar di udara, bibir telah hitam terbakar nikotin dan tar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Buku apa aja yang mau disumbangkan teman-temanmu itu?”, tanya si Hadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;         ”Banyak sih bang, ada sastra, politik, agama, sosial, tapi ga ada buku arsitek”, jawab si Joni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;     ”Kalau saya punya buku-buku ’merah’ terbitan penerbit Yogya”, kata perempuan yang belakangan diketahui bernama Riani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;          Kemudian anak-anak muda yang lainnya mengabsen buku-buku yang sudah mereka miliki, dan setelah dijumlah ternyata sudah terkumpul sekitar 900-an buku dari berbagai disiplin ilmu. Dan kemudian ditentukan pula bahwa tempat menampung semua buku itu adalah di daerah Depok, di rumahnya salah seorang dari lima mahasiswa itu, bukan di rumahnya si Joni, bukan pula di rumahnya Riani. Selain karena tidak usah bayar sewa, penentuan tempat itu karena memang tidak ada lagi tempat yang cocok untuk bisa menampung ratusan buku itu. Sempat juga tadinya mau bikin di daerah Kemang, tapi ga jadi karena Kemang itu adalah daerah bisnis yang harga sewanya mahal, bukan tempat untuk kegiatan sosial para pengangguran dan mahasiswa, lagi pula di sana sudah ada ’Aksara’, jadi tak usahlah dibikin lagi tempat penampungan buku. Si Hadi berlain-lainan pula pendapatanya, tadinya dia mengusulkan untuk bikin ruang baca itu di ’rumah’nya saja, tapi karena ’rumah’nya sudah pada bocor, jadi dikhawatirkan akan merusak buku, maka tidak diterima usul itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan dari tujuh orang yang berkumpul itu, dari tujuh batok kepala itu ternyata berlain-lainan pula rencana idenya, alangkah manusia itu mempunyai jalan pikirannya yang beragam, antara satu orang dengan yang lainnya tidaklah sama lintasan pikirannya, bahkan dalam satu pasangan Presiden dengan wakilnya pun pastilah punya pikiran masing-masing yang berlain-lainan pula, punya kepentingan partai masing-masing yang berbeda, punya ambisi politik yang berbeda pula, punya agenda kekuasaan yang pasti berlainan pula. Alangkah susahnya menyatukan kepentingan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manusia itu, lalu apa jadinya jika ratusan manusia digabungkan dalam satu rapat raksasa?, apa jadinya rapat di Senayan itu?, tempat anggota-anggota dewan banyak berkoar dengan mengatasnamakan rakyat, padahal untuk kepentingan pribadi dan partainya itu?, gedung DPR tak ubahnya sebagai kancah perang, tempat bejibun kepentingan partai saling bertabrakan, sementara rakyat republik ribut ngantri sembako di pasar-pasar yang becek dan kotor, inikah hasil pemilu itu?. Tapi janganlah saya perpanjang kicauan saya ini, sudah cukup jauh dari perbincangan buku tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ruangan itu, ruangan tempat buku-buku tadi ditampung itu adalah ruang semacam paviliun rumah yang cukup luas, berjendela besar dan mempunyai penerangan yang cukup karena sinar matahari bisa leluasa masuk, dan satu lagi adalah berpekarangan besar dan teduh. Andini, mahasiswi itu namanya. Bapaknya adalah seorang dosen universitas di Bandung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka karena bapaknya seorang akademisi, rencana ruang baca itu pun jadi mulus saja dilaksanakan. Bapaknya pikir kawan-kawan si Andini itu adalah mahasiswa semua, padahal ada juga para pengangguran macan saya sama si Hadi itu. Pengangguran yang yang baru terlepas dari rahmat kerjanya, baru melepas jabatan jongosnya. Dan ruang baca itu ternyata banyak juga pengunjungnya, tapi kebanyakan adalah mahasiswa, terutama kawan-kawan si Andini. Rakyat yang kebanyakan malas baca itu, ternyata jarang datang ke sana, ke ruang baca itu, mereka benar-benar disibukkan dengan pemenuhan kepentingan perut, pemenuhan kepentingan hidup yang semakin membelit. Baru-baru ini di koran-koran mennyebarkan berita tentang kerusuhan di Surabaya. Apa pasal ujung pangkalnya kerusuhan itu?, ternyata masih kata koran-koran itu adalah karena penertiban pedagang kaki lima yang tidak mau digusur tibum. Sementara di Jakarta demonstrasi mahasiswa terjadi di mana-mana menuntut penurunan harga-harga yang kian melambung, padahal menurunkan harga-harga, kata pak Menteri tidak semudah berteriak di megaphone, tidak semudah membakar marka jalan, tidak semudah memakai jas almamater, tidak semudah rapat-rapat di kampus, tidak semudah nyanyi-nyanyi bertemakan perlawanan, tidak semudah bersumpah serapah kepada pemerintah, begitu katanya. Penurunan harga memerlukan perencanaan yang matang katanya. Saya tahu itu dari acara di televisi swasta jam 12 malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akhir-akhir ini mahasiswa seperti dituntut untuk mempunyai musuh. Dan musuh yang paling populer adalah pemerintah atau para pengusaha yang sok kaya. Di kampus-kampus itu sepertinya sengaja dihembuskan angin perlawanan, disebarkan isu-isu yang ’membakar’, selain itu didoktrin juga tentang bagaimana caranya menikmati hidup. Maka terpecahlah konsentrasi mahasiswa itu, terbelah juga komunitas dan perkumpulannya sebagai parta-partai politik yang menjamur. Ada yang sibuk demonstrasi, ada yang sibuk rapat semalam suntuk, entah membicarakan apa, dan ada juga yang sibuk bersenang-senang di dugem atau tempat kost-kostan untuk berbiak menjadi keluarga kecil-kecilan tanpa ada anak, tanpa ada pernikahan. Aneh-aneh saja laku anak-anak muda itu. Tapi ada juga yang rajin belajar sampai permukaan kepalanya licin sebagai lapangan golf yang luas, atau kacamatanya menjadi semakin tebal sebagai toples buat kue-kue lebaran. Dan anak-anak muda kawannya si Hadi itu, juga adalah mereka yang suka demonstrasi di jalanan ketika matahari bersinar terik. Sempat pula mereka melempar telor busuk di Senayan ke tempat para anggota dewan bersemayam. Darah mereka sebagai air yang bergelora dan berarus deras, menghentak-hentak ubun-ubunnya untuk banyak berteriak dan banyak bergerak. Sampai pada suatu hari yang hangat saya dapati mereka itu, semuanya tewas di hantam peluru panas ketika demonstrasi di jembatan Semanggi. Ya, mereka kelima-limanya mampus dengan timah bersarang di dadanya. Lalu yang mengelola ruang baca itu tinggal saya sama si Hadi yang pengangguran itu. Lama-lama tidak betah juga saya menjadi pengangguran, lalu pamit pada si Hadi mau pergi ke Bandung, mau menjadi jongos di sana. Menjadikan dia tinggal sendirian mengelola ruang baca itu, dan itu cukup menyulitkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selang satu tahun setelah kepergian saya ke Bandung, saya dengar kabar bahwa si Hadi pun telah pergi meninggalkan ruang baca itu, pergi entah kemana, dan yang meneruskannya adalah mahasiswa-mahasiswa yang sering main ke sana. Para mahasiswa itu, para calon jongos itu bergiat mengelolanya, sambil belajar mereka juga melakukan perbaikan sistem pengelolaannya. Sementara mereka sibuk mengurus buku, saya di Bandung sibuk menelan rahmat kerja yang diberikan Tuhan, semenjak pagi masih dingin sampai sore mulai gelap saya bersibuk diri di kantor, menghitung-hitung uang punya orang lain, untuk kemudian dapat salary dalam akhir bulan laku jongos kebanyakan. Begitu saja dari hari ke hari sebagai matahari yang datang dan pergi membakar bumi. Dan si Hadi ternyata masih ada di Jakarta, sudah jadi jongos juga rupanya dia itu. Di perusahaan milik keturunan Tionghoa dia bekerja, mengabdikan dirinya menjadi seorang jongos sampai ke bulu-bulunya. Sejak itu kami tidak pernah lagi menikmati kue pancong bersama-sama, karena memang masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, sibuk dengan kejongosannya. Lagi pula di Bandung tidak ada itu kue pancong, yang ada hanya pisang molen dan kue gosong yang mulai terkenal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sekarang setiap sore, saya duduk di lantai tiga kost-an menikmati matahari terbenam di barat sambil melepaskan lelah setelah seharian habis terkuras di depan layar komputer. Pekerjaan yang sepertinya gagah itu ternyata sama saja prinsipnya, mengabdikan tenaga dan pikiran kepada orang lain. Dan harus seperti itulah manusia berlaku di dunia ini, ada yang memerintah dan ada yang diperintah, posisinya saja yang berlain-lainan sebagai posisi dalam olahraga sepak bola. Dan kebanyakan dari kita adalah yang diperintah, yang selalu ada dalam posisi telunjuk tuan mengarah ke dada kita. Kicauan saya ini tidak akan saya teruskan, karena hari sudah mulai gelap, saya harus cepat tidur, karena besok harus bergiat lagi pergi ke kantor, menelan semesta job desk dan perintah. Harus menjelma lagi menjadi jongos yang tampak gagah itu. Dan udara menjadi gelap dan dingin. Udara semakin dingin. [ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;-Tamat-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Uwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;April ’08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-1343200003947814707?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/1343200003947814707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=1343200003947814707&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1343200003947814707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1343200003947814707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2008/04/jongos.html' title='The Jongos'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-1334329809702584885</id><published>2008-04-09T01:29:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T01:31:25.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Gardu FM</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam sebuah MP4 yang sering dipakai anak-anak muda itu, selain fasilitas musik juga ternyata ada media untuk merekam, &lt;i style=""&gt;recorder &lt;/i&gt;namanya, dan ini tidak aneh, kecuali bagi yang gaptek macam saya ini. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Di sini, di alat rekam ini kita bisa dan boleh banyak omong. Ngomong apa saja, bebas. Macam para penyiar radio itu, maka saya dan beberapa kawan yang pengangguran itu suatu hari bikin acara rekaman,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meniru-niru acara di radio, dan saya sama si Joni jadi penyiarnya, sementara yang lain hanya jadi &lt;i style=""&gt;crew&lt;/i&gt; dan operator saja. Asyik juga ternyata banyak omong itu. Ngelantur kemana-mana dan yang terpenting adalah tidak ada yang melarang. Alangkah enaknya banyak bicara, apalagi kalau tidak ada yang mencela. ”Radio” tempat kami rekaman itu bernama ’Gardu FM’, kenapa namanya begitu?, biar berasa merakyat kata si Joni. Merakyat bagaimana?, rakyat yang suka ngelantur mungkin, mirip para pemimpinnya juga mungkin. Lama-lama tulisan saya ini mirip Departemen Kemungkinan, tapi biarin, yang penting menulis terus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berbicara, mengungkapkan segala hal yang menumpuk di semesta diri adalah salah satu jalan. Jalan menuju kesenangan, jalan menuju kebebasan, makanya timbul undang-undang yang melindungi itu, pasal berapa saya sudah tidak ingat, penataran P4 bolos dua hari dari total tiga hari pelaksanaan, makanya begitu. Rata-rata orang yang berbicara itu adalah ingin didengar, itu data dari Departemen Kemungkinan. Makanya suka dicari yang namanya ’pendengar yang baik’, padahal mendengarkan itu tidak seenak berbicara, apalagi kalau yang dibicarakannya adalah tentang patah hati, seolah-olah hati itu mirip jembatan yang terbuat dari kayu, sehingga bisa patah-patah. Tapi begitulah manusia, semuanya ingin didengar, diperhatikan, disayangi, dilindungi dan dimengerti macam pelajaran fisika yang pusing itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Berbicara adakalanya dua arah, maka terjadilah dialog. Kalau tidak ada kecocokan maka akan terjadi debat, saling mempertahankan pendapat. Lalu kemudian terjadi monolog, &lt;i style=""&gt;nggeremeng, &lt;/i&gt;berbicara sendiri dan ini lebih menentramkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ternyata tidak selamanya omongan kita itu bakal didengarkan orang lain. Kita tidak selamanya akan diperhatikan dan dimengerti oleh orang lain, karena orang lain pun punya harapan yang sama seperti kita, juga punya kepentingan yang sama, maka ketika dua kepentingan bertemu terjadilah gernaha, dan itu membuat suasana menjadi gelap. Oleh karena itu daripada gelap dan tidak jelas, lebih baik jangan mendengar saja, tidak usah memperhatikan saja, tidak usah mencoba mengerti saja, dan ini adalah laku para pemimpin kita itu. Aduh, kenapa saya menyebut para pemimpin itu terus?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika semua omongan, aspirasi, keinginan dan harapan tidak ada yang merespon, maka berbicara sendiri adalah jalan terbaik. Bermonolog terkadang menjadi aktivitas membebaskan. Itulah yang kami lakukan di ’Gardu FM’. [ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Uwa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;April ’08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(Diposting tanpa persetujuan siapa-siapa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karena saya bukan siapa-siapa, kamu siapa?, kenapa kesini?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-1334329809702584885?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/1334329809702584885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=1334329809702584885&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1334329809702584885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/1334329809702584885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2008/04/gardu-fm.html' title='Gardu FM'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-2714444728862810541</id><published>2008-04-09T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-04-09T01:27:50.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semacam Nasionalisme'/><title type='text'>Ruang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setelah melewati pintu tol Padalarang Barat, maka jalan tol itu akan bercabang. Yang satu adalah lurus menandakan terus menuju &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan yang yang satu lagi akan belok ke kiri, ke arah Padalarang lalu akan menuju Cianjur, Sukabumi dan sekitarnya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak jauh dari pintu tol Padalarang (Padalarang saja, tidak pakai barat. Tolong kamu mengerti, karena saya sulit menjelaskannya bagi yang tidak pernah kesana), maka akan kamu temui gerbang sebuah kota baru yang kelihatannya menyenangkan, dialah itu Kota Baru Parahyangan namanya. Dari gerbang menuju komplek perumahan jaraknya cukup jauh, sehingga akan terasa lelah jika kamu berjalan kaki. Lingkungannya bersih dan bagus, layaknya komplek-komplek kota baru pada umumnya. Disana manusia punya lingkungannya sendiri yang berbeda dari lingkungan manusia lain. Keamanan mungkin sangat terjamin disana, berbeda dengan lingkungan manusia lain. Kini semakin banyak saja hunian-hunian macam begitu. Di Bandung, di Jakarta, dimana-mana. Manusia sudah maju rupanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di hunian-hunian macam begitu, manusia punya ruang publik yang nyaman dan menentramkan. Ada taman, mesjid, rumah sakit, gereja, sekolah dan lain sebagainya. Hampir semua ruang publik tersebut terasa bersih dan aman. Ini cukup berbeda dengan kondisi ruang publik sebagian besar manusia yang lain. Padahal fungsinya sama. Sama-sama ruang untuk berinteraksi satu individu dengan individu yang lain. Lihatlah terminal, stasion, taman kota, bandara, alun-alun, toilet umum, halte, bis kota dan lain sebagainya itu, tempat kita bertemu dengan manusia lain itu, hampir semuanya adalah tempat yang menegangkan, tempat yang menuntut kewaspadaan yang tinggi, layaknya seperti labolatorium sosial tempat &lt;i style=""&gt;homo momini lupus&lt;/i&gt; saling menerkam. Apakah hal ini terjadi karena hierarki kekayaan?, atau karena hierarki level pendidikan?, atau karena tingkat keimanan?, atau karena memang harus seperti itu?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebagian besar dari kita bisa membuang sampah pada tempatnya jika berada di rumah sendiri, di kamar sendiri. Bisa menyemprotkan pilok pada tempatnya jika sedang berada di rumah sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bisa merasa nyaman jika di rumah sendiri. Bisa membersihkan toilet jika di toilet rumah sendiri. Tapi tidak begitu jika sedang berada di ruang publik. Seolah-olah yang ada di luar itu adalah bukan milik kita. Maka kita pun berlomba pasang pagar tinggi. Berlomba pelihara anjing penjaga rumah. Berlomba mempercantik diri dengan tidak peduli dengan kecantikan umum. Seolah-olah yang berada di luar pagar itu adalah segala hal tentang kejahatan, segala hal tentang pemicu stress, segala hal tentang keruwetan. Ini mungkin bukan masalah kekayaan, bukan masalah level pendidikan, bukan juga masalah keimanan, tapi mungkin masalah mental. Kita mungkin terlalu saling mengandalkan, yang akhirnya bukan solusi yang timbul tapi masalah yang tak kunjung selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya jadi teringat pada sebuah cerita zaman dulu. Ini mungkin bisa menggambarkan keadaan kita sekarang :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Suatu hari raja di negeri antah berantah memerintahkan kepada seluruh rakyatnya, untuk membawa sesendok madu ke atas sebuh bukit, untuk dituangkan di tempayan yang telah disediakan oleh raja tersebut. Madu tersebut harus di bawa pada tengah malam ketika gelap tengah menguasai. Maka ada seorang penduduk yang berpikiran licik ; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dia akan mengganti madu tersebut dengan sesendok air, dia berpikiran bahwa sesendok air tidak akan mempengaruhi ribuan sendok madu dari penduduk lain, lagi pula tengah malam, maka tidak akan ada orang yang melihat, begitu pikirnya. Tapi ternyata semua penduduk tersebut berpikiran sama dengan dia, sehingga esok harinya tempayan raja itu penuh dengan air bukan madu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada beberapa sektor kehidupan, manusia Indonesia telah maju, tapi belum untuk hal yang satu ini. Dan ternyata saya orang Indonesia. [ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Uwa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;April ’08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(Diposting tanpa persetujuan siapa-siapa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karena saya bukan siapa-siapa, kamu siapa?, kenapa kesini?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-2714444728862810541?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/2714444728862810541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=2714444728862810541&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2714444728862810541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2714444728862810541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2008/04/ruang.html' title='Ruang'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-4718594491259864084</id><published>2007-12-10T07:41:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T08:02:19.298-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semacam Nasionalisme'/><title type='text'>Hari Ini Kamu Pergi Kemana?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Hari ini kamu pergi kemana?, ke sekolah lalu pulangnya nongkrong di mall, bukan untuk belanja hanya cucimata saja?, atau pergi ke kampus : kuliah sebentar lalu makan di kantin, merokok, bercanda dengan teman-temanmu dan pulangnya mampir dulu ke warnet buka-buka friendster lalu kasih testi atau comment temen-temen dunia mayamu?. Atau mungkin kamu pergi kerja, menghabiskan delapan jam di depan computer dan meja, lalu tiba waktunya pulang dan temanmu ngajak nonton, kemudian film habis dan kamu akhirnya benar-benar pulang kelelahan : buka sepatu, ganti baju, cuci muka, cuci kaki lalu tidur menghempaskan tubuhmu di kasur itu?. Atau mungkin pergi ke tempat-tempat yang tidak aku ketahui, karena aku tidak berhak mengetahuinya?. Sementara kamu pergi, hari ini aku tidak kemana-mana. Diam saja di kamar. Duduk saja di depan layar monitor yang merangkap dengan televisi itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sudah lama aku tidak menulis, jadi tidak enak rasanya. Inginnya setiap hari membuat lima tulisan, tapi ternyata melahirkan tulisan tidak semudah yang dibayangkan. Ingin rasanya aku produktif, tapi kenyataannya aku lebih sering pasif. Dan pelan-pelan aku mulai menulis lagi, memindahkan yang dipikirkan, dibayangkan, dirasakan, dan dialami ke dalam layar putih ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lalu sekali-kali layar monitor berganti dengan tayangan televisi. Hari ini aku memilih TVRI, menonton siaran langsung SEA GAMES ke 24 di Thailand. Itu atlet Indonesia tengah berjuang meraih medali untuk bangsanya. Dua atlet pencak silat lolos ke final. Di bulutangkis, tunggal putri Indonesia mengalahkan Thailand, tapi entah babak apa?. Kata presenter nanti sore akan berlangsung final bulutangkis beregu putra dan putri, dan juga final pencak silat, ah semoga saja mereka, atlet Indonesia itu meraih medali emas. Lalu di akhir acara ditampilkan perolehan medali sementara seluruh kontingen, dan Indonesia masih terpuruk di urutan ke enam, di bawah Thailand, Vietnam, Singapura, Filipina dan Malaysia. Entah kenapa perasaan saya jadi tak enak. Semacam keprihatinan, semacam kesedihan. Ah, semoga saja para atlet itu tidak patah semangat dengan kenyataan ini. Kemudian saya menulis lagi, merampungkan satu judul yang hampir selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Setelah selesai menulis saya tetap saja di kamar, membaca koran yang dibeli teman saya beberapa hari ke belakang. Di edisi 8 desember 2007, dimuat berita-berita dengan judul seperti ini : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Pembangunan      Manusia ; Ketika Indonesia Semakin Tenggelam”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Distribusi BBM      Subsidi Belum Tepat Sasaran ; Masyarakat Lebih Percaya kepada SPBU Asing”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Perbatasan RI ;      Pembeli Kena Pungutan, Pasar Tradisional Sepi”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Pelayanan ;      Sekitar 400 Puskesmas Terancam Tanpa Dokter”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Muatan Tertahan di      Palembang ; Harga Bawang Merah di Jambi Rp 25.000 Per Kilogram”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan masih banyak lagi berita yang lain. Entah kenapa perasaan saya jadi tak enak. Tapi saya bersyukur, karena di edisi berikutnya yaitu 9 desember 2007, saya membaca berita ini : Dari arena SEA GAMES ke 24 Thailand ; “Indonesia Tambah Enam Emas”. Lalu koran itu saya simpan. Dan saya menulis lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sekitar jam tiga sore saya pergi mandi, tapi ternyata sabun mandi dan pasta gigi telah habis. Dan pergilah saya keluar kamar, pergi belanja ke warung kecil di pinggir jalan raya setelah melewati bangunan sekolah dasar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pulangnya hujan turun cukup lebat, terpaksa saya menunggu sampai reda. Waktu hampir menunjukkan pukul empat sore, ketika saya berlari kecil menembus rintik hujan kembali ke kost-an. Tak sengaja saya melihat tiang bendera di depan sekolah dasar itu. Kain benderanya basah kuyup kena hujan, tapi warnanya tidak berubah, tetap merah-putih seperti dulu. [ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-4718594491259864084?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/4718594491259864084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=4718594491259864084&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/4718594491259864084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/4718594491259864084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/hari-ini-kamu-pergi-kemana.html' title='Hari Ini Kamu Pergi Kemana?'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8413053261503567868</id><published>2007-12-10T07:34:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T07:37:58.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Perempuan wangihujan'/><title type='text'>Kamu Masih Misteri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Perempuan itu sedang sibuk mengajar di depan kelas. Belum terlalu siang waktu itu. Murid-muridnya dengan serius memperhatikan apa yang diucapkannya, tapi ada juga beberapa yang melamun, ada juga yang mengganggu teman sebangkunya bahkan ada yang terkantuk-kantuk, mungkin semalam kurang tidur. Dia, perempuan itu dengan sabar melaksanakan tugasnya, mendidik anak-anak itu dengan penuh kasih sayang. Mengajar di Sekolah Dasar (SD) mempunyai citarasa tersendiri dibanding mengajar di level pendidikan yang lebih tinggi, karena usia SD selain sedang jernih-jernihnya menyerap ilmu juga masih belum bisa lepas dari perhatian seorang ibu. Dan dia menjalaninya, karena dia menikmatinya. Perempuan itu mungkin saja kamu, seseorang yang suatu saat akan aku cintai. Perempuan itu tidak mustahil adalah kamu, calon istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman depan sebuah rumah yang teduh, perempuan itu sedang menyapu daun-daun yang berguguran. Dia baru saja selesai memasak di dapur,  sambil menunggu suaminya pulang dia menyapu halaman. Rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar kebun bunganya yang mungil, dia cabuti sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon rambutan, menemaninya sambil berebut mencari makan dari dahan satu ke dahan yang lain. Perempuan itu suatu saat akan mencintaiku dan aku akan mencintainya. Perempuan itu mungkin saja kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas maghrib, hujan belum juga reda bahkan semakin lebat. Langit terus menghitam menutup bintang-bintang dan bulan yang akan keluar. Dia cemas menunggu suaminya yang belum pulang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sementara yang dinantinya belum juga datang. Sesekali dia mengintip keluar dari kaca jendela yang basah oleh percikan hujan, lalu duduk lagi di sofa depan televisi. Hatinya sangat tidak tenang. Hp suaminya tak bisa dihubungi, dan suaminya tak menghubungi dia. Sebuah penantian kabar yang cukup menegangkan. Lalu daun pintu terdengar ada yang mengetuk dari luar. Dia langsung meloncat membuka pintu lalu menghambur kepada orang yang berdiri di balik pintu itu. Suaminya basah kuyup kehujanan.  Dan angin berhembus kencang. Perempuan yang cemas itu adalah kamu. Suatu saat siapa pun kamu pasti akan aku cintai, dan kamu akan mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang katanya zaman emansipasi, maka kamu bisa saja seorang dokter, seorang jurnalis, seorang aktivis HAM, seorang karyawan swasta, seseorang yang berwirausaha, seorang penulis buku dan profesi-profesi lain yang padat karya. Tapi jika akhirnya pekerjaan itu menjadikan kamu lupa dan menelantarkan keluarga, maka itu bukan kamu. Bukan seseorang yang akan aku cintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergesaan menggapai-gapai hal yang masih misteri akan membawa kita pada suasana yang berwarna, jika hal itu telah ditemui. Bisa gembira, bisa juga kecewa. Tergantung kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Mencari dan menggapai-gapai pasangan hidup salah satunya. Coba saja tanya kepada mereka yang telah berkeluarga. Kamu akan temui jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu telah dialami, maka yang menjadi kewajiban kita adalah bertanggungjawab terhadap pilihan. Baik-buruknya pasangan hidup adalah pilihan kita, kecuali jika masih hidup dalam keluarga konvensional ala Siti Nurbaya. Maka bagaimana pun dan siapa pun dia, pasangan hidup kita adalah organ yang telah menyatu dengan kehidupan kita. Silahkan bercita-cita. Silahkan berusaha. Tapi jangan jadi pengecut dengan menyakiti pasangan hidup pilihan sendiri. [ ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8413053261503567868?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8413053261503567868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8413053261503567868&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8413053261503567868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8413053261503567868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/kamu-masih-misteri.html' title='Kamu Masih Misteri'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8376598926337236367</id><published>2007-12-09T00:38:00.000-08:00</published><updated>2007-12-09T00:46:46.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Otokritik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kata orang-orang hidup adalah sebuah garis yang memanjang dan berakhir pada sebuah ujung. Kalau terus dijalani akan kita dapati garis itu tidak akan pernah kembali pada titik awal. Dia tidak seperti tiket pergi yang akan selalu dibarengi dengan tiket pulang. One way ticket, begitu kata seorang kawan. Orang-orang yang terjerumus pada dunia gelap narkoba, sering diibaratkan pada kondisi ini, artinya mereka tidak bisa atau sangat sulit untuk kembali pada kehidupan mula-mula yang normal. Tapi jika kita renungkan, sebenarnya semua peristiwa selalu begitu, selalu tidak bisa diulang, karena waktu tidak berjalan mundur. Yang ada hanyalah pengulangan kejadian dengan ruang waktu yang berbeda. Jadi penyesalan adalah hanya sebuah konsep rasa yang tidak akan mengubah kejadian dibelakang. Dia menjadi berguna hanya jika perjalanan ke depan menjadi lebih baik dari pada yang telah dialami. Begitulah waktu, dia ajeg, kukuh dengan perjalanannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setiap kita pasti punya ujung pemberhentiannya masing-masing, karena setiap kita punya takdir kematiannya juga, entah kapan. Dengan ketidaktahuan yang sangat itu, terkadang kita masih bisa bermain-main dengan waktu. Dengan misteri Tuhan. Sisa jatah hidup itu sering kita lupakan, sebelum akhirnya waktu itu benar-benar datang dan mengingatkan kita. Setiap kita memang begitu. Aku, kamu, kalian dan orang-orang itu memang tak berdaya dengan segala pesona hidup. Pesona yang nikmatnya kita rasakan berbeda-beda. Konsep dosa dan kebajikan sudah terlalu asing buat kita bicarakan dalam medan hidup yang luas, dia hanya sebatas ritual yang kita jadikan sesuatu yang sacral. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Sebatas garis vertical hubungan kita dengan Tuhan. Padahal masih kata orang-orang dia itu hadir dalam setiap denyut kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Dia vertikal sekaligus horizontal. Dia pribadi sekaligus sosial. Dia kontemplasi sekaligus interaksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Komitmen memang tidak sebatas dengan Tuhan, tapi juga dengan manusia. Dan komitmen seharusnya tidak kembali pada garis awal ketika komitmen itu belum diikrarkan. Dia harus terus hidup sampai kita tidak lagi hidup. Begitu idealnya. Dan kita selalu berkata : bahwa sangat sulit untuk berada pada kondisi ideal, semacam sikap kalah sebelum berperang. Dan karena kita sepakat bahwa tidak ada kondisi ideal, maka komitmen itu kita ikrarkan untuk kita langgar sendiri. Kemudian konsep selalu butuh visualisasi untuk penggambaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dan inilah visualisasi itu : Wakil rakyat dipilih untuk mengkhianati rakyat, mereka entah mewakili siapa?. Pernikahan dilaksanakan untuk mengkhianati janji masing-masing,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suami-istri entah berjanji kepada siapa?. Setiap hari kita bersaksi pada Tuhan dan setiap hari juga kita tidak merasa, bahwa Tuhan tengah menyaksikan, kita entah bersaksi kepada siapa?. Dan kita tidak terganggu dengan itu semua, karena kita sudah sepakat bahwa hidup tidak ada yang ideal. Dan kita berlindung dibalik itu. Sebuah tempat berlindung yang sesungguhnya rapuh. Terus saja begitu. Sementara garis yang memanjang yang tengah kita jalani ini semakin mendekati titik akhir. Kita takkan pernah ingat sebelum titik akhir itu mengingatkan. Dan kita ingat setelah segalanya terlambat. [ ] &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8376598926337236367?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8376598926337236367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8376598926337236367&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8376598926337236367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8376598926337236367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/otokritik.html' title='Otokritik'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-3060354829854165304</id><published>2007-12-09T00:31:00.000-08:00</published><updated>2007-12-09T00:33:41.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sahabat'/><title type='text'>Cerita Tentang Cita-cita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kalau kalian tidak tahu dan tidak mau tahu, biar saya ceritakan di sini saja kawan saya yang satu ini. Orang-orang memanggilnya Irfan, tapi saya lebih senang menyebutnya Uwa, tapi biarlah nama berdiri sendiri terserah bagaimana orang memperlakukannya. Waktu kecil dia tidak punya cita-cita seperti anak-anak kebanyakan. Maka jika dia ditanya tentang cita-cita, jawaban yang keluar adalah kata : “tidak ada”. Entah kenapa, dan biarlah waktu menyimpan semua misterinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beranjak remaja baru dia punya sebuah harapan : “ingin jadi juara kelas”. Dan itu tak terlalu susah untuk mendapatkannya, tapi hanya sampai SMP saja itu berlaku, karena selebihnya adalah kekalahan. Masa SMA bukan sebuah jembatan waktu yang patut dikenang baginya, karena kenyataan telah menyeretnya ke dalam sebuah pencapaian yang nyaris tak ada hasil, nyaris nol besar. Orang-orang berlari saling berebut mengeksekusi kesuksesan akademik, sedangkan dia hanya merenung-renung dan menimbang-nimbang sebuah kecemasan. Kecemasan akan masa depan. Kecemasan yang hampir saja membunuhhya, dan inilah waktu di mana untuk pertama kalinya cita-citanya patah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan orang-orang tidak tahu. Dan orang-orang tidak mau tahu. Maka biarlah saya saja yang tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Lalu menjelang dewasa idelismenya mulai timbul dan menumpuk menemani langkah dan aktivitas, sebelum akhirnya terjerembab dalam kampus abu-abu. Sebenarnya bukan di situ tujuan segala pemikiran dan rencana aktivitasnya, tetapi prestasi akademik harus berbicara lain, dia punya cara sendiri untuk mengkotak-kotak manusia, keinginan dan harapan. Dan inilah patahan kedua dari cita-cutanya yang tidak tercapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Biarlah saya saja yang tahu, kalau orang-orang tidak tahu dan tidak mau tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan waktu berjalan terus melewati semua kejadian dan kenangan. Dan dia akhirnya lulus membawa segenggam impian dan kenyataan. Garis batas keduanya ternyata berjauhan. Ketika impian membumbung setinggi langit, sedangkan kenyataan masih berjejak di bumi, maka hal inilah yang tidak terlalu mudah untuk dihadapi. Dan dia menghadapinya. Dan dia harus menghadapinya. Mencoba dan akhirnya gagal adalah lebih baik daripada tidak pernah sama sekali. Dan inilah yang aku lihat sekarang pada semesta dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Desember baru memasuki hari keempat, sebentar lagi hari kelahirannya. Seperti juga kematian, hari kelahiran bukanlah sesuatu yang teramat istimewa untuk dirayakan, dan saya merayakannya dengan menulis ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Benar katamu kawan, kesendirian adalah kado terbaik untuk mengenang hari kalahiran. Kesendirian akan menghadirkan keheningan. Hening yang senyap dan padat, lalu menekan ke dalam dan akhirnya akan timbul sebuah titik balik yang mencerahkan. Tapi saya tidak tahu setelah ini, apakah cita-cita itu akan mengalami pencerahan atau sebaliknya akan menghadirkan patahan-patahan baru?. Untuk yang satu ini saya benar-benar tidak tahu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apa sesungguhnya yang lebih misteri selain hari yang belum dijalani?. Dan saya tahu dia akan menghadapi semua yang tanda tanya itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;[ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-3060354829854165304?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/3060354829854165304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=3060354829854165304&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3060354829854165304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3060354829854165304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/cerita-tentang-cita-cita.html' title='Cerita Tentang Cita-cita'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-4698056617600403222</id><published>2007-12-09T00:11:00.001-08:00</published><updated>2007-12-10T08:07:12.859-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Perempuan wangihujan'/><title type='text'>Perempuan Wangihujan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Menjejakkan kaki di Bandung, menghirup udaranya dan menikmati semesta kotanya selalu membuatku enggan beranjak. Apalagi kalau hujan. Air yang tumpah dari langit jatuh ke daun lalu diserap akar, semakin membuat kota itu lembab. Hujan selalu saja begitu. Hujan selalu membuatku rindu untuk mendengarkan air beradu dengan bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Seperti pada hujan, begitu juga padamu. Aku rindu. Maka kamu adalah perempuan wangihujan. Jangan protes ya. Sebab kalau protes kecantikanmu tak tertampung. Terlalu cantik soalnya. Tapi kalau kamu mau bilang ini hanya sebuah rayuan, boleh saja. Karena aku lebih senang menyebutnya kejujuran. Dan aku rasa kejujuran dimana-mana sama. Tak menghitamkan yang putih, juga tidak memutihkan yang hitam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menikmati Bandung, duduk di atas lantai 3 kost-an, melihat lampu kelap-kelip di utara sambil sesekali menghirup kopi panas menghadirkan satu nuansa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menikmati Bandung, berjalan di Purnawarman lalu melahap buku di Gramedia adalah sebuah citarasa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menikmati Bandung, memanjakan tubuh dengan dinginnya udara di Lembang dan Dago atas selalu membuatku ingin kembali. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menikmati Bandung, nonton di ruangan berpendingin, makan di kakilima, berteduh di taman kota atau sesekali larut di Gazebo pada minggu pagi adalah kesenangan tersembunyi. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan ketiadaan selalu menyisakan kerinduan. Apalagi Jarak. Dan aku harus bersiasat. Ini hanya masalah strategi. Dimana-mana hidup perlu kerja keras. Lalu aku sadar bahwa aku bisa sedikit menulis. Maka bekerja keraslah aku menulis untuk menepis rindu itu. Aku yakin menulis bisa mengurangi tensinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dan aku yakin ketika aku menulis, kamu perempuan wangihujan masih di situ, di tempat tidurmu. Duduk atau terbaring. Seperti Dee, aku juga iri pada baju tidurmu, handukmu, bantal, seprai apalagi guling. Stop. Aku tak kuat membayangkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Maka kalau malam ini aku mimpi, aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Dan ketika wajah kita berhadapan, pasti aku tak tahan. Tak usah bicara, diam saja. Aku pasti beku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Atau jika itu tak mungkin, aku ingin mimpi memegang tanganmu. Ada sensasi aneh saat kulit kita bersentuhan. Darahku dan mungkin juga darahmu terasa berdesir. Ada segenggam kenyamanan di situ. Aku bisa merasakan denyut nadimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Aku mencintaimu, sangat.....[Published ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-4698056617600403222?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/4698056617600403222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=4698056617600403222&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/4698056617600403222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/4698056617600403222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/perempuan-wangihujan_09.html' title='Perempuan Wangihujan'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-3100275941917227045</id><published>2007-12-08T23:56:00.001-08:00</published><updated>2007-12-09T00:02:18.343-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Aku Ingin Menjadi Cinta</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tanggal, bulan dan tahun berapa kamu lahir?. Berapa pendapatanmu?. Berapa usiamu?. Berapa harga handphonemu?. Berapa jumlah sepatu dan celana jeansmu?. Berapa orang selingkuhanmu?. Berapa kali kamu pacaran?. Berapa orang mantan pacarmu?. Berapa jumlah uang di kantongmu?. Berapa jumlah saldo di ATM-mu?. Berapa lama waktu yang harus ditempuh dari rumah ke kantormu?. Berapa lama kamu menganggur?. Berapa kali dalam sehari kamu meninggalkan sholat?. Berapa kali dalam sebulan kamu bisa melaksanakan sholat shubuh?. Berapa kali kamu membentak orang tuamu?. Berapa kali kamu disakiti oleh orang yang kamu cintai?. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Berapa tahun kamu menyelesaikan kuliah?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Usia berapa kamu akan menikah?. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Barapa batang rokok yang kamu habiskan dalam sehari?. Berapa buku yang pernah kamu baca?. Berapa tulisan yang kamu hasilkan dalam sebulan?. Berapa kali kamu ML dengan pacar atau selingkuhanmu?. Berapa kali kamu pura-pura orgasme?. Berapa kali kamu menyakiti orang-orang yang diam-diam mencintaimu?. Berapa orang pahlawan yang benar-benar jadi pahlawan bagimu?. Berapa orang manusia yang pernah kamu campakkan?. Berapa orang manusia yang benar-banar kamu benci?. Berapa jumlah utang dan piutangmu?. Berapa orang manusia yang ingin kamu bunuh?. Berapa orang jumlah anak yang kamu inginkan?. Berapa liter ASI yang telah kamu habiskan?. Usia berapa pertama kali kamu mimpi basah?. Berapa kilometer jarak yang telah kamu tempuh dengan motor?. Berapa kali kamu sakit sepanjang hidupmu?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Berapa kali kamu “berdamai” dengan polisi?. Berapa kali kamu merasa kecewa?. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Berapa kali kamu merasa terpuruk?. Berapa kali kamu merasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pintar? Berapa kali kamu merasa cantik?. Berapa kali kamu merasa bisa menaklukkan pria?. Berapa kali kamu menggugurkan kandungan dalam rahimmu?. Berapa kali kamu membuang sperma dalam rahim wanita lalu meninggalkannya?. Berapa kali kamu marah yang benar-benar marah?. Berapa botol vodka yang pernah kamu minum?. Berapa kali kamu makan tanpa diawali dengan do’a?. Berapa kali kamu melakukan sex kilat di dalam lift, di toilet, di bioskop, di taman kota dan di angkutan kota?. Berapa kali kamu merasa kesepian?. Berapa kali kamu onani?. Berapa kali kamu ikut upacara bendera?. Berapa kali kamu mengintip orang yang sedang mandi?. Berapa kali kamu pindah kerja?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Berapa kali dalam sehari kamu berdo’a?. Berapa tahun usia adikmu, kakakmu dan orangtuamu?. Berapa kali kamu pergi ke tempat yang kamu benci?. Berapa kali sepanjang hidupmu kamu pergi berziarah ke makam pahlawan?. Berapa kali kamu nonton film porno?. Berapa kali kamu merasa diabaikan oleh Tuhan?. Berapa kali kamu ingin diperhatikan oleh orangtua, oleh istri, oleh selingkuhan, oleh pacar, oleh suami, oleh teman dan oleh Tuhan?. Berapa kali kamu memperhatikan mereka yang aku sebut itu?. Berapa kali kamu merasa terasing dan diasingkan?. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan usia berapa kamu ingin mati?. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Dan hidup semakin dipenuhi angka-angka. Dan angka-angka semakin mengepung kita. Lalu hidup berjalan terus. Cinta dipatahkan. Kepercayaan dikhianati. Kebenaran dipalsukan. Kesalahan menjadi kenyataan. Cita-cita dan harapan dihancurkan. Kebaikan semakin langka. Kesalahan menjelma menjadi kita. Kebenaran menjadi tidak mutlak. Kesalahan menjadi absolute. Pernikahan disakralkan untuk kemudian kita ludahi. Perceraian di mana-mana, lembaga kehidupan hancur di mana-mana. Anak-anak menjadi gila, pengecut, bajingan, karena itulah warisan orang tua dan lingkungannya. Lembaga pendidikan berubah menjadi ladang perniagaan. Persahabatan menjadi palsu karena dicemari tipu dan nafsu. Negara hanya sebatas legalitas, karena selebihnya adalah omong kosong yang luar biasa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hiburan di mana-mana, yang stress di mana-mana. Kepalsuan di mana-mana. Yang tumbuh dikerdilkan. Yang kerdil didiamkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang hidup berguguran. Yang mati dibenamkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Sejak kapan manusia harus jadi pahlawan?. Sejak kapan manusia pintar berkhianat?. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Sejak kapan manusia terus berkompromi dengan system?. Sejak kapan kita menjadi penakut?. Sejak kapan kita menjadi pengecut?. Sejak kapan kita tidak menghargai nilai-nilai?. Sejak kapan manusia terus berputar dalam lingkaran setan?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Aku ingin menjadi sinyal. Aku ingin menjadi sandi. Aku ingin menjadi watak. Aku ingin menjadi otak.. Aku ingin menjadi hati. Aku ingin menjadi kata-kata&lt;span style=""&gt;.  &lt;/span&gt;Aku ingin menjadi do’a. Aku ingin menjadi cinta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;[ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-3100275941917227045?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/3100275941917227045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=3100275941917227045&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3100275941917227045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3100275941917227045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/12/aku-ingin-menjadi-cinta.html' title='Aku Ingin Menjadi Cinta'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-2317015516881745271</id><published>2007-11-03T09:31:00.000-07:00</published><updated>2007-11-04T05:32:32.330-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sahabat'/><title type='text'>Mandi</title><content type='html'>&lt;p face="times new roman" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;Waktu dia datang, aku seperti biasa tengah duduk di bangku kamarku. Tak ketinggalan sebatang rokok tengah aku hisap. Duduk, menghabiskan waktu sambil merenung, menerawang masa depan menjadi kebiasaan setelah masa kuliah itu. Dan ketika dia mengulang kegiatan itu, dia datang. Selembar senyum khas menyapaku. Dan dia tak berubah. Tetap kurus dan dibalut kulit legam. Sorot matanya tetap seperti dulu, dalam dan berisi, lalu terjadilah pecahnya kerinduan, aku dan dia berangkulan. Menyatukan kembali emosi yang sempat terpisah. Lalu tenggelamlah dalam dialog nilai. Dialog yang sejak dulu sering kami lakukan. Dialog tentang perjuangan, nilai hidup, ideologi, cinta sampai perjuangan menggapai materi. Dialog itu selalu panjang dan hening. Tidak meledak-ledak. Hening, senyap tapi padat. Dua hari dua malam kami mereguk habis segala pembicaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sampai detik ketika dia harus kembali lagi kepada setapak kecilnya. Setapak kecil yang harus dilaluinya, karena dia telah memilihnya. Sementara aku dihadapkan kembali pada kenyataan yang telah lama menawanku. Kenyataan pahit, mungkin lebih pahit daripada yang dia alami. Aku kembali menjalani hari-hari kosongku dengan langkah tanpa orientasi yang jelas. Hidup tanpa jeda, karena waktu menjadi sangat lama. Lama menunggu kepastian arah. Dan ketika ketika aku menantinya, maka hidup menjadi cepat. Jam seperti kehilangan rem. Semua bergerak sangat cepat. Roda-roda waktu berputar saling menyalip. Sementara orang-orang berlomba saling mendahului keberuntungan. Meninggalkanku yang tercecer di belakang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p face="arial" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Aku dan dia sama-sama tengah sakit keadaan. Waktu belum bergulir ke arah yang kami inginkan. Aku masih di sini. Di tempurungku yang sempit , pengap dan penuh asap. Sementara dia, dengan kondisi belum memenuhi syarat administrasi, harus menyelesaikan akademiknya yang sebenarnya tidak dia harapkan. Sebenarnya dia lebih ingin di sana. Berdiri, berjalan, bernafas dan menyatu dengan alam. Tapi karena sebagian relasi terdekatnya menginginkan hal ini, maka ditempuhlah kenyataan hambar ini. Dia masih beruntung. Setidaknya masih punya pilihan dan masih bisa memilih. Karena kemampuan memilih, walau bagaimanapun dapat mengurangi rasa penat yang memayungi diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;Dua hari dua malam dia berada di sini. Sebentar memang. Tapi cukup memberikan sedikit ledakan. Ledakan yang membuatku kembali menata ulang selembar peta kehidupan. Khas. Dia memang selalu begitu. Selalu menyodorkan pandangan-pandangan tajamnya. Walaupun memang terkadang terlalu tajam. Dan beberapa saat sebelum dia pergi, dia sempat juga mandi. Sebuah aktivitas langka, setidaknya ketika dia kuliah dulu. Mandi, membersihkan daki dan debu-debu kehidupan yang setiap saat beterbangan. Membedaki muka, menyumbat pernafasan, menggimbalkan rambut, memerihkan mata, membebalkan hati, berdamai dengan sistem, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengaburkan pandangan sekaligus jarak pandang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;Mandi. Memang itu yang harus dilakukan. Menghadirkan kembali kenormalan, agar daki dan debu tidak melembaga dalam fikiran dan jiwa. Dan mandi memang bukan hanya hak badan saja, kerena yang terpenting adalah membersihkan yang di dalam, yang selalu bolak-balik pada kebenaran dan kesalahan, dan itulah kalbu. Dan kewajiban mandi yang kedua menjadi gugur apabila kita tak punya hati. [Published]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-family: arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-2317015516881745271?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/2317015516881745271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=2317015516881745271&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2317015516881745271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/2317015516881745271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/11/mandi.html' title='Mandi'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8836074303292253877</id><published>2007-11-03T09:10:00.000-07:00</published><updated>2007-11-15T02:40:15.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Jalan Jurig Jarian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:blue;"&gt;“Buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebab ijazah bagai lampu kristal yang mewah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ada di ruang tamu hiasan lambang gengsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tinggal membeli tenang sajalah.....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Traaakh...”, tombol play itu berdiri. Menghentikan musisi kritikus yang tengah bernyanyi, atau tengah sakit gigi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ngapain lu matiin?!”, Joko tidak terima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Lu gak tersinggung sama lirik itu?!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Tersinggung?!, sejak kapan lu jadi sensitif?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sejak gua kuliah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ah, basi lu!!”, Joko memijit kembali tombol play. Mempersilakan musisi kritikus meneruskan teriakan sakit giginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Eh, lu denger gak sih liriknya?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Iya gua denger, terus kenapa?!”, Joko mulai bereaksi. Reaksi seperti siap untuk konfrontasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Lu merasa dihina gak sih?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Maksud lu?!”, Joko menurunkan tensinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Gua tahu, lu gak bakalan kayak orang di lirik itu, tapi masa kaum kita disudutkan lu masih terima sih?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Joko tak menjawab, dia malah melihat jam tangannya. Sebuah bahasa tubuh yang tak dimengerti lawan bicaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Lu masuk jam tujuh kan?, udah lewat lima belas menit tuh, ntar lu telat lagi!”, akhirnya bahasa tubuh itu berujung pada pengusiran lawan bicaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di ujung kamar, lawan bicaranya itu masih sempat berkomentar, ”lu gak peka Jok!!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Lu plagiator ya?!”, setengah berteriak Joko memuntahkan kalimat yang terasa pedas di kuping lawan bicaranya, padahal lawan bicaranya itu telah empat langkah meninggalkan kamar Joko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tombol play tidak ada lagi yang mengganggu. Musisi kritikus merdeka. Sakit giginya memasuki stadium II.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu Joko bergegas mandi. Parade kotoran yang bersemayam di badan kurusnya dia &lt;i style=""&gt;sweeping &lt;/i&gt;dan buang. Lalu busa sabun menjadi tidak putih. Krem. Berlomba menuju lubang pembuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan kini tersisalah tubuh kurus di depan cermin. Sambil bersiul, dia menyisir rambutnya. Merapikan setiap centi penampilannya. Hari ini Joko bimbingan skripsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pagi itu seperti biasa, Jaja membereskan dagangannya. Di jalan Jurig Jarian dia berdagang. Tumpukan buku dan karya ilmiah minta dirapikan, karena sebentar lagi para pembeli akan datang. Berduyun-duyung, tawar-menawar, transaksi, memberinya rezeki dan memudahkan para pembelinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berangkat dari desa kecil dan hanya menamatkan S dua kali, Jaja merasa pekerjaannya sekarang telah lebih dari cukup untuk menjadi kompensasi dari perjuangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Mau kerja apa lagi, orang saya cuma lulusan SD sama SMP aja kok!”, begitu jawabnya ketika tetangganya sedikit mengkritik mata pencahariannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Yang penting halal, iya toh?!”, Jaja melanjutkan argumentasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Iya, tapi pekerjaanmu itu melanggar kode etik pendidikan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Alaaah..., mau kode etik pendidikan kek, mau politik kek, saya mah gak ngerti, yang penting mah dapur mesti terus ngebul, biar anak istri saya bisa terus hidup. Lagian yang yang melanggar kode etik kan mereka, bukan saya?!”, Jaja mengeluarkan kata-kata proletar, seperti seorang sosialis yang tengah orasi dengan menjinjing perut korong rakyat atau menuntun seorang anak busung lapar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ya, terserah kamulah!”, tetangganya pergi. Seperti orang kalah perang. Kalah oleh tentara jajahannya. TKO!!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Jaja kedatangan anak-anak itu. Anak-anak yang sering mengingatkannya pada cita-cita lama yang telah ditimbunnya. Anak-anak yang menyambung hidup keluarganya. Anak-anak yang sering Jaja lihat di jalanan. Meneriakkan aspirasi, membakar kulitnya di bawah terik mentari, memperjuangkan idealisme. Bersama....mereka mengusung daya kritis, intelektual, cita-cita dan harapan. Barikade tentara dan polisi hanyalah hambatan kecil bagi gelombang besar mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mereka...bergulung, bergemuruh, merontokkan dinding-dinding kekuasaan. Dan mari sekarang kita hiperbola lagi keadaan yang telah hiperbnola itu. Bahkan tembok raksasa Cina pun bisa diruntuhkan sepertinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di tengah kondisi yang bergemuruh itu, Jaja tampil sebagai sang penakluk. Gelombang besar itu tunduk di kiosnya. Segala idealisme diistirahatkan di sana. Titik masa depan telah menggoda gelombang besar itu untuk menggadaikan nama besarnya. Aristokrat mungkin ada, tapi hanya menghiasi dinding luar saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Jurusan apa mas?”, Jaja mencoba mencari tahu identitas si pembeli untuk memudahkan pencariannya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sastra Iblis”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ini Mas, ada yang terbaru tahun 2004”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si pembeli membolak-balik barang itu. Membaca judulnya berulang-ulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Yang lain deh, judulnya gak enak”&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jaja pergi lagi kederetan Sastra Iblis, lalu mengambil tiga buah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Yang ini berapa duit?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Biasa, enem lima”, Jaja menekankan harga familiar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Gak bisa kurang bang?, kata anak-anak biasanya gocap”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Paling kurang goceng”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Gocap aja deh, ya?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Lima..lima deh!”, Jaja menawarkan harga tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Gocap!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Udah habis segitu”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si pembeli kembali membolak-balik barang. Membaca selintas karya ilmiah Sastra Iblis itu. Lalu merogoh kantong dan menghentikan tawar-menawar. Kemudian pergi ke rental komputer, membayar masa depannya. Tanpa bekerja sedikit pun. Kalau pun kerja, paling hanya tawar-menawar harga, tenaganya habis buat demonstrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Mas, tahun sama judulnya sesuaikan aja, ya!”, instruksi pertama untuk kuli ketik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Isinya plek sama?”, kuli ketik bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ya..., modif sedikit aja!”, instruksi kedua datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Oke”, kuli ketik faham.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ntar sisanya pas gua ambil, ya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Oke”, kuli ketik faham lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa lembar uang pecahan 10.000 rupiah pindah ke tangan si kuli ketik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si pembeli jasa pergi ke kost-an, meninggalkan ketikan masa depannya. Apa pun bisa dibeli. Sistem pasar telah merekontruksi peta pemikirannya. ”Anda butuh uang, saya butuh barang”. Bukankah itu hukum ekonomi yang paling klasik?. Kenapa harus dipermasalahkan?. Bukankah bayangan masa depan sama dengan tiket masuk PTN?. Bisa dibeli. Bisa pakai joki. Apa bedanya beli skripsi, tesis dan disertasi dengan beli terasi?. Tinggal menjentikkan jari, semua bisa diatasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Calon pembeli kedua datang. Memilih-milih buku tua. Diambil satu, dibuka lalu disimpan lagi. Ambil satu lagi, dibuka lagi dan disimpan lagi. Pada buku ke-empat, calon pembeli tampak melayangkan pandangan ke seluruh pojok kios. Seperti ada yang dicari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jaja menangkap keinginan calon pembeli. Sigap dia ke rak tesis dan mengambilnya tiga buah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Nyari ini, mas?”, Jaja mencoba menghentikan pandangan selidik calon pembelinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tesis pertama dilihat sebentar, lalu disimpan. Tesis kedua nasibnya tak jauh beda dengan yang pertama. Yang ketiga lebih sial. Tak disentuh, hanya dilirik saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ada judul yang lain, bang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Saudara ngambil jurusan apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Teknik Menangkap Tuyul”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sebentar...”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jaja menuju rak dan mengambil koleksi tesis jurusan Teknik Menangkap Tuyul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ini mas...bagus kayaknya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Wah...buleh juga nih, berapa duit?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Cepe”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si pembeli mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan 100.000 rupiah satu lembar. Di dompetnya terlihat malu-malu sebuah kartu tanda mahasiswa. Dan di KTM itu fotonya tersenyum cerah. Penuh harapan. Dan dia tidak menutupi mukanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Makasih bang!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Yoo...sama-sama!”, Jaja mengibas-ngibaskan uang 100.000 itu. Matahari belum terlalu tinggi. Dia telah mengantongi 155.000 rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perburuan Pertama :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Telah hampir dua jam Joko duduk di situ. Di ruang tunggu Pembantu Rektor Bidang Pemberdayaan Mahasiswa Ripuh. Purek yang sekaligus dosen pembimbingnya itu sibuk rapat meskipun saat yang dijanjikan telah dua jam berlalu. Waktu yang kelam perlahan seperti membunuhnya. Tik-tak-tik-tak, suara jarum jam menjadi mengerikan. Dan sesekali ucapan : ”sebentar ya de, bapaknya masih rapat”. Mau rokok susah. Masa di ruang Pembantu Rektor merokok?. Apa gak kurang sopan?. &lt;a href="mailto:Ah...#@$%%5E&amp;amp;*"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ah...#@$%^&amp;amp;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Joko mengutuki feodalisme di kampusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menunggu telah memasuki jam ketiga. Hari itu bimbingan gagal. Dosennya yang Purek itu langsung pulang. Lelah, dibantai rapat panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perburuan kedua sekaligus terakhir :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Oke Jok, saya tunggu pukul tiga sore di ruanagan saya!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Makasih Pak”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ya, sama-sama”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Klik, telpon ditutup. Pak pembimbing melihat jadwal kuliah. Kurikulum Doktor menghilangkan selera makannya. Lama dia duduk termenung sebelum akhirnya bergegas menyambar kunci mobil dan melaju meninggalkan kampus. Rapat dengan pembantu rektor se-kota Siluman Raya telah menunggunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sementara Joko lega, jadwal bimbingan sepertinya tak terganggu lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bertemu dengan dosen pembimbing seperti menangkap asap. Nyata terlihat, tapi susah ditangkap. Mendingan seperti kentut, walaupun tak terlihat, tapi nyata, dapat dirasakan kehadirannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan sore itu Joko berharap bertemu kentut, bukannya melihat asap. Tapi sial, harapan tinggal harapan. Jangankan bertemu kentut, melihat asap saja tidak. Sampai jam setengah enam sore asap belum pulang ke kampus. Masih terlibat rapat alot dengan komunitas Purek se-kota Siluman Raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebelas hari setelah gagal menangkap asap, Joko tak pernah lagi menghubunginya. Dia terus saja mengerjakan skripsinya tanpa pembimbing. Mengejar &lt;i style=""&gt;deadline&lt;/i&gt; yang tinggal dua minggu lagi. Asap pun sama, tak pernah menghubungi Joko, dia sibuk dengan aktivitasnya, sehingga jangankan menjadi kentut, mempertahankan diri sebagai asap pun kini sulit dicapai, karena dirinya telah berubah menjadi uap. Tak terlihat. Tak terasa. Tapi masih punya nama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Monitor 14 inci itu terus dipelototi. Huruf-huruf terus memenuhi layar Ms. Word. Tombol &lt;i style=""&gt;delete&lt;/i&gt; tak henti-hentinya ditekan, membersihkan tulisan yang salah ketik. Sebuah aktifitas koreksi di dunia pengetikan. Begitu mudah dilakukan. Begitu mudah dibersihkan. Sebuah kesederhanaan proses. Kesederhanaan yang menjadi kompleks di kota Siluman Raya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini Joko memasuki bab IV. Bab hasil dan pembahasan. Di halaman ke-78 dia berhenti. Dia terbentur kebuntuan berfikir. Segala ide dan imajinasi hilang diculik posisi kuldesak otak. Uji kesesuaian antara teori dan hasil penelitian mendorongnya pada kedangkalan berfikir. Dia butuh referensi. Butuh narasumber sekaligus &lt;i style=""&gt;sparing pathner.&lt;/i&gt; Saat seperti itulah asap kembali melayang-layang dalam kapasitas memorinya. Asap menjadi sangat dirindukan. Dia dibutuhkan untuk melanjutkan pengetikan agar jangan terhenti di halaman 78.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Joko kemudian membuka Philip Kotler. Mencari penunjuk jalan untuk menambah halaman. Tapi Kotler seperti tengah kering. Tak bisa menjadi mata air inspirasi bagi mahasiswa Pemasaran Dedemit seperti Joko. Kotler pun dipecat lalu Joko memanggil Loudon dan Bitta. Mensiagakan panca inderanya untuk menangkap percikan ide dari buku itu. Tapi sampai siaga 1, Loudon dan Bitta masih sunyi. Jangankan percikan, sumber perciknya pun tidak ada. Loudon dan Bitta bernasib sama. Dipecat dan dilempar mengikuti pendahulunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini Joko benar-benar rindu asap. Padahal itu salah, karena asap telah berubah menjadi uap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tik-tak-tik-tak, jarum jam tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. &lt;i style=""&gt;Winamp&lt;/i&gt; terus bersuara, menggantikan tombol &lt;i style=""&gt;play&lt;/i&gt; dalam &lt;i style=""&gt;tape recorder&lt;/i&gt;. Dan kini memasuki ”Hening Malam”nya band asal Parij Van Java.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Loh, tumben lu. Udah sadar ya?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Joko, si pencari inspirasi terus berfikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Nah gini dong, jangan si musisi kritikus terus!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Joko tak bergeming.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;”....Diiringi deras hujan, kau menjelma dalam angan, biar indah itu semu setidaknya ku bahagia...aku akan tetap menunggu....” , &lt;/span&gt;lawan bicara Joko mulai mengisi suara latar pencarian ide.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tombol keyboard mulai dipijit lagi. Sepercik ide menghampiri Joko.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lawan bicaranya pergi. Lima menit kemudian dia kembali lagi membawa skripsinya. Memperhatikan Joko yang tengah menyelesaikan skripsi, dia semakin demonstratif. Membuka-buka dan membaca skripsinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Hari gini masih bikin skripsi?!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Layar Ms. Word memasuki halaman 83, Joko tengah kebanjiran ide.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Makanya Jok, kalo lu pusing…., ngomong sama gua. Gua bisa bantu lu kok!!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini bukan lagi banjir, tapi tsunami ide Joko meluap. Lelehan ide mengalir di kanal-kanal otaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sadar yang diajak bicara tidak komunikatif, lawan bicara Joko akhirnya pergi. Dengan ciri khas, sebuah kalimat sempat dia lontarkan di ujung kamar, ”kalo lu buntu, penjual skripsi banyak tuh di jalan Jurig Jarian!!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seketika tsunami ide berhenti. Informasi penjual skripsi menghentikan kerja mekanis otaknya. Apalagi jalan Jurig Jarian. Bukankah itu tak jauh dari kampusnya?. Joko berusaha menggerakkan lagi gelombang idenya, namun badai tsunami telah berhenti. Kini kebuntuan kembali menghampirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Layar Ms. Word masih meminta isi. Dia seakan menodong Joko. Dan sebelum layar itu melumatkan fikirannya, Joko mengambil keputusan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukankah orang yang bisa mengambil keputusan, bisa memegang kendali nasib?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ms. Word ditutup. &lt;i style=""&gt;Winamp&lt;/i&gt; dimatikan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Komputer di &lt;i style=""&gt;shut-down&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Stabilizer &lt;/i&gt;dialihkan ke posisi &lt;i style=""&gt;off.&lt;/i&gt; Dia bergegas pergi meninggalkan pesta pemikirannya. Jalan Jurig Jarian tengah menanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai salah satu pemain di pasar oligopoli, Jaja lumayan beruntung. Dia menjadi &lt;i style=""&gt;market leader&lt;/i&gt; di tengah ketatnya persaingan dengan produk seragam. Mahasiswa, para calon sarjana, calon master bahkan calon doktor tahu kiosnya. Konsumen yang puas dengan barang dagangannya beramai-ramai melakukan &lt;i style=""&gt;testimonial&lt;/i&gt; tentang Jaja. Dan terutama tentang barang dagangannya. Maka di tengah keseragaman produk, Jaja berhasil melakukan &lt;i style=""&gt;diferensiasi &lt;/i&gt;dengan &lt;i style=""&gt;service&lt;/i&gt; di atas rata-rata. &lt;i style=""&gt;Market share&lt;/i&gt; buku-buku dan karya ilmiah dia kuasai. Tanpa promosi &lt;i style=""&gt;Above The Line&lt;/i&gt;, setiap hari kiosnya tak pernah sepi. Seperti hari ini, seorang bapak setengah baya tengah meneliti barang dagangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Nyari buku apa pak?”, seperti biasa Jaja membuka pembicaraan, menuju transaksi dengan calon pembeli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sang Raja tak bergeming. Tetap saja meneliti barang dagangan. Dia melihat-lihat tumpukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buku ”Pemasaran Siluman Anjing”. Sang Raja?. Ya!!. Bukankah konsumen adalah raja. Bukankah sebaiknya seorang pedagang tak pernah membuka tokonya sampai dia bisa tersenyum. Senyum untuk konsumen. Senyum untuk Sang Raja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Hermawan terbaru pak, atau Kasali?”, Jaja kembali memijit tombol &lt;i style=""&gt;on &lt;/i&gt;pembicaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dua nama itu tak menerbitkan selera Sang Raja. &lt;/span&gt;Dia masih puasa ngomong. Tombol &lt;i style=""&gt;on&lt;/i&gt; salah pijit. Jaja malah menyentuh &lt;i style=""&gt;off.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jaja gagal. Sebelum transaksi dia diskualifikasi. Lalu jeda sunyi yang panjang menghampiri. Jaja diam membisu. Sang Raja masih puasa ngomong. Lima belas menit kemudian jeda sunyi berakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Bang, ada disertasi ?”, kini Sang Raja yang memijit tombol &lt;i style=""&gt;on.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Oh...banyak...banyak, pak!”, jawab Jaja. &lt;/span&gt;Dia tak lagi memijit tombol &lt;i style=""&gt;off.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Bapak mengambil studi apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Pemasaran Siluman Anjing”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Oh…ada…ada”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Yang terbaru, bang!”, Sang Raja benar-benar telah buka puasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Oke...!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini keduanya terlibat aktifitas pembicaraan yang hangat. Jeda sunyi tak menghampirinya lagi. Jaja dan Sang Raja saling lempar kata-kata. Sebuah atraksi &lt;i style=""&gt;”one-two”&lt;/i&gt; yang mengesankan. Dialog ping-pong itu baru terhenti pada titik transaksi. &lt;i style=""&gt;Deal&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada harga 140.000 rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;BBM naik lagi. Minyak tanah, solar, premium dan premix melambung tinggi. Maka demonstrasi pun bergelombang. Dan kalau mahsiswa langganan Jaja datang ke gedung Istana Negara, maka sopir angkot menempuh jalur klasik. Mogok narik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Trayek yang melewati jalan Jurig Jarian ikut partisipasi. Maka dari kampus, Joko terpaksa jalan kaki. Membantai kaki varisesnya di bawah terik matahari. Ubun-ubun dibiarkan telanjang. Kenaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;BBM melatihnya menikmati kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di kilometer kedua dari kampus, pada belokan ke kiri, sebuah mobil menepi, mendekati Joko. Lalu sebuah kepala terlihat di balik jendela dan memintanya mengakhiri pesta hujan sinar matahari. Joko tak menyangka, sosok yang pernah dirindukannya ketika kebuntuan menyerang pada halaman 78, tiba-tiba muncul di hadapannya. Sesaat dia mematung. Menstabilkan kerusuhan otak dan perasaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Ayo naik, kenapa kamu berdiri terus?!”, ajakan itu bertepatan dengan meredanya kerusuhan yang munculnya tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Kamu mau kemana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”jalan Jurig Jarian, pak!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang dipanggil ’pak’ diam. Mulutnya tiba-tiba terkunci. Ada perasaan yang mirip seperti penyesalan. Lalu bertalu-talulah pertanyaan-pertanyaan itu : kenapa dia terlalu sibuk dengan rapatnya?. Kenapa para purek itu terlalu menariknya?. Kini dia merasa dihadapkan pada adegan kritis, adegannya para antagonis : Mahasiswa bimbingannya terjerumus ke jalan Jurig Jarian, sebuah pasar legal yang di &lt;i style=""&gt;blacklist &lt;/i&gt;dunia pendididkan kota Siluman Raya. Yang dipanggil ’pak’ menarik nafas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Kamu sering ke jalan Jurig Jarian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Baru kali ini, pak”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inputan ’baru kali ini’, sedikit menghadirkan tokoh protagonis di benaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di belokan pertama jalan Jurig Jarian, Joko pamit. Berterimakasih dan meninggalkan yang tadi dia panggil ’pak’. Mobil itu lalu melaju kembali. Dan di belokan ketiga masih di jalan Jurig Jarian, mobil itu kembali memasukkan seorang &lt;i style=""&gt;free raider&lt;/i&gt;. Bapak setengah baya masuk. Di tangannya tampak sebuah disertasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang tadi dipanggil ’pak’ melirik judul dan studinya. ”Pemasaran Siluman Anjing”, nama itu kembali menghilangkan tokoh protagonis dari benaknya. Dua orang setengah baya itu lalu membisu. Masing-masing asyik dengan dunianya. Dunia itu tak bisa dilebur, sebab sebuah &lt;i style=""&gt;big bang&lt;/i&gt; akan hadir di sela pertemuannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di kejauhan, Joko memandangi mobil tumpangannya itu. Dia heran, kenapa asap dan temannya bisa akur?. Tapi itu hanya selintas. Lalu dia tersedot daya magnet jalan Jurig Jarian. Kutub selatan jalan Jurig Jarian menarik kutub utara dirinya. Lalu dia pun babak belur dalam transaksi penjiplakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Joko tak tahu apa yang terjadi di dalam mobil tumpangannya tadi. Bisu antar orang setengah baya itu semu. Kesunyian yang menyengat. Hawa panas tertahan, sebelum akhirnya meledak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di kantong belakang jok depan, pemilik ”Pemasaran Siluman Anjing” menemukan sebuah tesis, sepertinya dari jalan Jurig Jarian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Asap merah padam. Sepupunya sedang menempuh pasca sarjana di ”Teknik Menangkap Tuyul”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sementara tanpa mereka sadari, lagu yang diputar di radio mobil itu sayup-sayup menyanyikan lagu si musisi kritikus :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:blue;"&gt;”Saat wisuda datang dia tersenyum tenang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tak nampak dosa di pundaknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sarjana begini banyaklah di negeri ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tiada bedanya dengan roti...”.[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8836074303292253877?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8836074303292253877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8836074303292253877&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8836074303292253877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8836074303292253877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/11/jalan-jurig-jarian.html' title='Jalan Jurig Jarian'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-3249216440578342702</id><published>2007-11-02T05:56:00.000-07:00</published><updated>2007-11-04T05:34:53.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Tidak Bicara'/><title type='text'>Di Depan Gedung Indonesia Menggugat</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;“Air yang mengalir di sungai akhirnya akan bertemu dengan muara dan selanjutnya bergabung dengan samudera. Setiap muntahan yang keluar harus dibuatkan kanal agar tidak meluap dan membanjiri wilayah lain. Muntahan apa saja. Seperti air, mereka juga harus dialirkan, harus diberi jalan agar bertemu dengan titik yang akan meleburkan muntahan-muntahan itu menjadi terlihat wajar.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Keinginan, hasrat maupun minat yang timbul dalam diri harus dialirkan agar tidak meledak membedaki ketidakwajaran. Seperti perasaan cinta yang selalu melahirkan lagu, puisi, cerita dan film, keinginan untuk menulis pun harus disalurkan. Harus dimuntahan dan dialirkan, karena setiap hasrat yang terpendam akan melahirkan penyakit, walaupun penyakit itu dalam wujud yang paling abstrak sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Menulis. Merangkai sukukata menjadi kata. Dan menyambung kata menjadi kalimat adalah sebuah aktivitas yang membebaskan. Rangkaian kalimat itu kemudian berubah menjadi paragraph. Paragraf yang membebaskan. Membebaskan kita dari tumpukan ide dan perasaan yang padat memenuhi otak dan hati. Menulis, seperti hasrat-hasrat yang lain adalah kawah yang bergolak yang harus dialirkan. Dialirkan agar bertemu dengan muara dan menyatu dengan samudera.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Maka ketika aku dihinggapi keinginan menulis sebagai efek dari minat membaca, aku cepat memuntahkan dan mengalirkannya. Seperti kencing ataupun buang hajat yang pada awalnya sangat membebani dan merasa ringan setelah semuanya dibuang, maka menulis pun seperti itu. Lega rasanya ketika melihat kertas penuh diisi tulisan yang pada awalnya sangat membebani. Menulis tak perlu menunggu “panas”. Tak perlu menunggu semangat datang membakar keinginan. Menulislah dalam setiap kesempatan. Bertahan dan bertahanlah. Jangan cepat puas dengan 2 atau 3 paragraf yang dibuat, teruskan saja menulis. Minimal 6 lembar kertas kuarto. Jika menulis diibaratkan menyelam, maka nafas harus panjang dan setelah 6 lembar kertas itu terpenuhi, maka bolehlah mengambil nafas ke permukaan. Kalau tidak begitu kita hanya akan mendapatkan penggalan-penggalan. Awalnya memang berat, tapi selanjutnya justru kita yang akan ketagihan. Kenapa ketagihan?. Karena kita ingin bebas !!. Dan menulis….. sekali lagi adalah sebuah aktivitas pembebasan !!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Demikian “khotbah” yang disampaikan teman saya siang tadi di kampus. Disela waktu menunggu bus di halte yang penuh dengan coretan vandalisme. Fajar Merah, nama teman saya itu. Orangnya kurus, rambut lurus, kulit sawo busuk, tidak pakai kacamata dan seorang perokok. Ralat : perokok berat. Sehari bisa menghabiskan 2 bungkus rokok. Mirip lokomotif. Maka tak heran gusinya hitam dan giginya berderet rapi kekuning-kuningan. “Khotbah” itu mengalir begitu saja ketika saya bertanya : “kenapa sih kamu suka menulis?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Setelah “khotbah”nya itu berhenti, saya bertanya lagi : “apa yang telah kamu tulis?”. Dia tidak menjawab, tapi membuka tas kumuhnya yang berwarna hitam dan mengeluarkan beberapa lembar kertas lusuh berisi tulisan-tulisannya. Tulisan yang sulit aku mengerti. Tapi aku juga enggan menanyakan maksud tulisannya. Tidak penting, begitu pikirku. Lalu aku kembalikan lagi padanya, tapi dia menolak bahkan memberikannya padaku. Dan agar dia tak tersinggung maka aku tidak membuangnya ke tong sampah. Aku masukkan ke dalam tasku. Kemudian bus memisahkan kami. Dia ke utara dan aku ke selatan. Bus kota membawaku pulang ke kost-an sempit ditengah kepadatan penduduk kota yang makin tak ramah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Jam 9 malam di kost-an sempitku, di bawah cahaya lampu yang kurang terang, aku membaca kembali tulisannya. Diawali menguap 2 kali dan membaca basmalah, aku kemudian mulai membacanya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-family:Arial;color:blue;"  &gt;“Dari balik jendela yang lembab dan berdebu, aku memandang keluar. Di luar hujan cukup deras. Titik-titik air semakin membesar dan membasahi bumi yang kering dan berdebu. Ranting-ranting kering berjatuhan diterpa angin. Jalanan sepi tak dilewati orang-orang. Orang-orang lebih memilih diam di rumah : nonton tv atau menyalakan api. Wajar saja sebab udara di luar nampaknya semakin dingin dan menggigil. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Aku melihat jam dinding, pukul 4 sore. Ajo, temanku asyik tidur di sofa butut ruang tengah. Rencananya sore itu akau dan Ajo akan pergi ke gedung ”Indonesia Menggugat”. Pameran lukisan tengah digelar di sana, tapi hujan akhirnya menggagalkan rencana kami. Kami bukan pelukis, bukan pula kolektor lukisan. Kami hanya mahasiswa yang suka berjalan. Berjalan?. Ya, kami suka jalan kaki jika pergi jalan-jalan. Bukan hanya jalan-jalan, bahkan ke kampus, ke pasar, ke toko buku dan ke tempat-tempat lainnya pun kami berjalan kaki. Bukan tak punya ongkos untuk membayar kendaraan umum, tidak…..tidak demikian. Kami hanya ingin menikmati perjalanan saja.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Hujan bukannya reda malah makin deras. Kini bahkan disertai guntur yang menggelegar menghadirkan suara alam di kedua telingaku. Langit pun makin gelap. Rencana kami kiamat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Aku kemudian masuk ke kamar dan menyambar sebuah buku bersampul biru, pengarangnya aku lupa lagi. Yang jelas buku itu adalah sebuah cerita fiktif yang cukup menarik. Menarik menurutku. Menurut suasana hatiku. Sementara jam terus saja berdetak seirama dengan denyut jantungku. Ajo belum bangun, dia masih terlelap dibuai mimpinya. Di halaman tengah buku itu aku menemukan kalimat ini :“Kita bukanlah manusia. Kita hanya binatang yang mencari nilai-nilai kemanusiaan.” Aku berhenti sejenak menimbang-nimbang kalimat itu, lalu meneruskan aktivitas membacaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Di dinding kamar aku melihat cecak dan kecoa. Aku tersenyum. Kalau aku binatang berarti aku sama seperti mereka?. Ah, ada-ada saja penulis ini, pikirku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Menjelang maghrib hujan mulai reda. Lalu setelah adzan, hujan benar-benar reda. Aku teringat kembali niatku untuk mengunjungi ”Indonesia Menggugat”. Kulihat Ajo tak ada di sofa butut, mungkin dia pergi mengambil air. Selang 5 menit dia muncul di kamarku membawa muka lusuhnya dan berkata : “Ayo ke Indonesia Menggugat !”. Aku tak menjawab, hanya melihat jam dinding saja, lalu dia berkata lagi : “pamerannya sampai jam 9 malam !”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Setelah sholat, kami akhirnya berangkat. Melawan dinginnya malam yang baru saja menjemput senja. Jalanan masih basah. Genangan air memenuhi lobang-lobang jalan yang menganga. Ditemani sebungkus rokok murah kami menembus dinginnya malam yang mulai merayap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Jalanan mulai ramai lagi. Kendaraan umum dan pribadi berlomba memenuhi jalan yang basah. Lampu-lampu pertokoan mulai menghiasi kota. Asap rokok bertalu-talu menghajar gigiku dan gigi Ajo. Nikmat sekali rasanya asap racun itu. Di sebuah pertigaan aku melihat seekor kucing. Aku tersenyum lagi. Aku teringat diriku yang disamakan dengan binatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Perjalanan cukup panjang. Cukup memanjakan kaki kami yang masih kuat. Sekuat tanah dan batu yang kami injak. Perjalanan itu menghabiskan 1 jam. Pukul 19.30 kami sampai di Indonesia Menggugat. Halamannya gelap. Cukup angker. Kami lalu masuk dan ternyata pameran telah selesai. Selama 2 menit aku mencerca Ajo. Mencerca informasinya yang salah. Dia hanya diam. Mirip prasasti yang berdiri di depan gedung itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Untuk menghilangkan kekesalan aku kembali merokok. Ajo juga merokok, mencoba berdamai dengan penyesalannya. Sambil duduk dan mengisap rokok, pandangan lurus ke depan. Ke jalan yang cukup padat dilalui kendaraan. Malam semakin gelap memeluk bumi. Pohon besar di depan Indonesia Menggugat terlihat kokoh dengan akarnya yang menonjol keluar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Setelah rokok habis, kami memutuskan pergi meninggalkan gedung itu. Di pintu gerbang keluar kami membeli rokok 2 batang sebab persediaan telah habis. Di trotoar jalan, masih di depan gedung itu kami duduk lagi dan tentunya sambil mengisap rokok. Dari arah selatan seorang bapak tua tampak berjalan mendekati kami. “Pasti mau pinjam korek api”, begitu pikirku. Ternyata aku salah, dia  malah menanyakan apotek yang harga obatnya murah. Lalu aku sebutkan sebuah nama, ternyata bapak itu telah mencobanya : harganya mahal, tak dapat ia jangkau. Sementara katanya anaknya di rumah kesakitan menahan derita. Lalu aku tanyakan berapa kurangnya uang itu, lalu dia menjawab : “15 ribu rupiah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Di kantong celana belakangku aku menyimpan 20 ribu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"  &gt;Tapi itu buat ke warnet. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Buat chatting dengan “teman lamaku”. Sementara Ajo tak punya uang untuk membantunya. Bapak tua itu semakin kebingungan. Semakin khawatir dengan anaknya. Lalu dia pergi mencari apotek yang murah. Kami memandangnya yang berjalan semakin menjauh. Ada sebuah perasaan yang mirip penyesalan di hatiku. Lalu aku bertanya-tanya : “kenapa aku tak memberikannya?”, “kenapa aku tak membantu bapak tua itu?”. Aku lama tertegun sebelum akhirnya Ajo mengajakku pulang, masih dengan berjalan kaki. Selama perjalanan pulang itu aku masih tetap merasa menyesal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:blue;"   lang="SV"&gt;Di ujung jalan dekat Balai Kota, aku melihat seekor anjing. Aku teringat kalimat di novel yang sore tadi aku baca. Kali ini aku tidak tersenyum.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Entah tulisannya yang jelek atau memang aku yang bodoh, yang jelas setelah membaca tulisan Fajar Merah itu aku tetap tak mengerti apa maksudnya?. Aku lalu tertidur. Besoknya aku sangat kaget, karena jalanan dipenuhi manusia-manusia berkepala binatang !! [Published]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-3249216440578342702?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/3249216440578342702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=3249216440578342702&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3249216440578342702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/3249216440578342702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/11/di-depan-gedung-indonesia-menggugat.html' title='Di Depan Gedung Indonesia Menggugat'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8286163764801920340</id><published>2007-10-28T06:42:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T06:41:43.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semacam Nasionalisme'/><title type='text'>Pasca Hujan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Bumi setelah hujan adalah aroma yang menguap dari celah-celah tanah dan bebatuan, menyegarkan yang layu dan menghidupkan yang mati. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Tetes-tetes air itu menyapa daun, batang dan ranting, menghadirkan cinta pada setiap bola air yang mengalir di semesta ruang. Lalu kalau ingat masa kecil, air pun jatuh di genting membangunkanku yang mungkin pura-pura tidur. Dan di jendela kamar itu aku berbicara dengan pohon dan rerumputan yang basah, tentang masadepan, cinta dan harapan. Tapi suaraku hanya terdengar di sungai kecil yang mengalir deras, setelah hujan lebat baru berhenti sore itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Tanah air setelah hujan adalah ribuan manusia yang antri minta bantuan, karena banjir dan longsor berebut menghadirkan kepiluan. Tanah sudah bosan menyerap air yang berlebihan tanpa ditemani akar, sementara akar entah kemana karena batang terus ditebang. Orang-orang berlomba mencuri kayu di hutan dan pinggiran sungai. Di tebing, di lembah dan di atas rumah mereka sendiri. Pembalakan di mana-mana. Pencuri kecil dan pencuri besar bergentayangan. Dan pencurian besar bisa dilegalkan jika selingkuh dengan birokrasi. Manusia adalah konban bencana sekaligus penyebab bencana. Maka tak heran jika akhir-akhir ini aku kekurangan simpati kepada para korban, sebab solidaritas sosial tidak bisa tumbuh dari konyolnya sistem dan perilaku. Apa bedanya dengan seorang yang mencoba bunuh diri, lalu ketika mau mati malah minta pertolongan. Sebuah harakiri yang kehilangan nyali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Pemerintah setelah hujan adalah ketidakberdayaan menanggulangi krisis. Subsidi bantuan selalu tersumbat keran birokrasi yang berbelit-belit, lalu ketika media meliput maka letak geografis dan medan yang sulit selalu menjadi kambing hitam. Entah kemana bantuan itu, mungkin numpuk di gudang penyimpanan atau mungkin di kantong-kantong bersafari yang selalu berkhotbah tentang keadilan dan kemakmuran. Ini bukan sebuah prasangka buruk, karena kenyataan terkadang menghadirkan sesuatu yang lebih buruk. Saudara kita sudah terlalu kenyang dengan do’a dan ucapan belasungkawa, maka ketika bantuan datang yang terjadi adalah perebutan sekardus mie instan yang terkadang berujung pada perkelahian, di sini mie instan lebih berharga daripada sepotong do’a. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta setelah hujan adalah sebuah proses terbentuknya kolam raksasa. Hampir semua jantung kota lumpuh tak berdaya, apalagi manusia-manusia yang berada di bantaran kali. Jika suatu saat ketika banjir datang, cobalah lihat di pintu-pintu air, mungkin diantara sampah yang menggunung itu ada bangkai manusia. Orang-orang mengungsi ke jalan tol yang letaknya lebih tinggi daripada hunian manusia, dan kemacetan di mana-mana...”terhambat di jalan bebas hamabatan”, begitu bunyi sepotong iklan. Konon Jakarta adalah ibukota negara di mana semua kedutaan besar negara sahabat bermukim di sana, tapi aku lebih percaya bahwa mereka mungkin saja memutuskan hubungan diplomatiknya dengan kita gara-gara kasur sang Duta Besar terendam air comberan. Tapi kalian jangan percaya banyolan itu. Siklus banjir besar hampir bersamaan dengan suksesi kepemimpinan kota itu, tapi suksesi tinggal suksesi dan banjir tetap saja tak bisa diatasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Bandung setelah hujan adalah migrasi sampah di jalan-jalan kota. Air yang mengalir deras membawanya kemana-mana, ke depan mesjid, ke depan gereja, ke depan balai kota, ke depan pusat perbelanjaan, ke kampus-kampus dan yang lainnya. Kota kembang berangsur berganti nama menjadi kota sampah. Individu masyarakat dan pemerintahnya harus mencari solusi untuk masalah ini. Ini kesalahan bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Sahabatku setelah hujan masih seperti dulu, masih mencintai Indonesia sekaligus ibukotanya, masih mencintai Bandung dengan segenap dinamikanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Dan aku setelah hujan pasti terkenang sepotong bait lagu kanak-kanak semasa SD yang sering dinyanyikan teman masa kecilku : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;”Waktu hujan turun rintik perlahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bintang pun menyepi awan menebal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jangan engkau lupa tanah pusaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tanah tumpah darah Indonesia”.[ ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8286163764801920340?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8286163764801920340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8286163764801920340&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8286163764801920340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8286163764801920340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/10/pasca-hujan.html' title='Pasca Hujan'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-8670644508894561841</id><published>2007-10-28T06:24:00.000-07:00</published><updated>2007-10-28T06:41:29.860-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sahabat'/><title type='text'>Kue Nastar untuk Sahabat Lama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Beberapa tahun ke belakang sebelum aku masuk SMA, kalau lebaran tiba di rumah pasti ada kue nastar. Terlepas dari bentuk aslinya seperti apa yang jelas kalau di tempatku kue itu berbentuk dua hasil cetakan yang digabungkan oleh selai nanas. Bahan bakunya dari tepung dan mentega, lalu dicetak dalam cetakan yang terbuat dari kayu berbentuk segi panjang yang di ujungnya ada pegangan buat melepaskan adonan dari cetakan itu. Kemudian dipanggang dalam oven lalu direkatkan dengan selai nanas, maka jadilah kue nastar, kue khas lebaran di tempatku. Hampir semua tetangga pasti mempunyai kue itu, maka aku dan kawan-kawan masa kecilku di kampung sering berolok-olok : selama masih ada kue nastar, maka lebaran tidak akan berakhir. Maka kalau seseorang bertamu ke tempat kawannya, yang ada adalah sebuah kebosanan melihat jamuan kue nastar. Tapi herannya bagiku dan kawan-kawan masa kecilku, kue itu menjadi semacam pembawa kabar gembira bahwa lebaran akan segera tiba. Aku dan kawan-kawan masa kecilku sering menikmatinya di rumah, di pelataran mesjid, di bukit, di pematang sawah dan di tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercengkrama dan bercanda. Menyantap kue nastar sambil menikmati indahnya masa kecil : menghitung uang lebaran, membandingkan baju baru dan mengolok-olok kawan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kue nastar jadi saksi sepenggal perjalanan waktu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Waktu pun berlalu membawaku dan kawan-kawan masa kecilku ke gerbang hidup yang baru, masing-masing berlari atau berjalan menuju sesuatu yang mungkin sempat dicita-citakan. Selepas SMA lalu aku kuliah, mengaduk-aduk secuil ilmu yang kata para dosen adalah bekal menuju masa depan. Lalu kuliah pun selesai, kemudian terseretlah aku ke dalam titian identitas yang terkadang mencemaskan, mirip ketidakpuasan menjalani hidup, atau mungkin penyesalan akan cita-cita yang tak kesampaian, menghitung-hitung pahit-manis hidup yang datang silih berganti. Aku jadi sering kekurangan ”nutrisi”, maka bertumpuklah buku-buku di kamar itu, bergantian mengisi kekosongan jiwa dan perasaan. Kerinduan dikejar-kejar tanpa tahu apa yang dirindukan. Terus saja begitu sampai waktu mudik datang lagi membawaku kembali ke kampung. Masih kampung yang itu, kampung yang dulu manis oleh kue nastar dan persahabatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;2 Syawal 1428 H,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selepas sholat maghrib aku bertemu dengan seorang kawan. Lalu ngobrol di pelataran mesjid yang kurang pencahayaan, membicarakan hidupku dan hidupnya, tapi kini tanpa kue nastar, karena telah beberapa tahun kue itu menghilang karena sudah tidak diminati lagi. Selepas SMA dia sempat bekerja di Bandung, tapi karena suatu hal yang membuatnya tidak betah, dia pun lalu kembali ke kampung. Kini di sebuah mesjid di bukit dekat rumahnya, dia mendalami kitab-kitab kuning sambil membimbing anak-anak Madrasah Aliyah. Sebuah aktifitas belajar dan mengajar yang romantis aku fikir. Di bawah langit malam dan bulan yang menerangi seisi kampung, setiap hari dia membaktikan dirinya untuk kemajuan ilmu agama. ”Ini pilihan hidupku”, katanya. ”Aku tenang hidup begini, tiap hari alhamdulillah bisa merasakan nikmatnya hidup dan mensyukurinya”, lanjut dia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;”Keun wae ku batur disebut pangangguran oge, nu penting urang mah tenang,” &lt;/i&gt;masih katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Setengah jam pembicaraan, tiba-tiba seorang kawan datang lagi. Sambil menghisap sebatang rokok dia ikut bergabung, lagi-lagi kue nastar tak ada karena di rumahnya pun kue itu telah hilang, sebuah nosnalgia yang kurang lengkap. Kawanku yang ini setiap hari kerja serabutan : terkadang jadi kuli bangunan, jadi calo di terminal, jadi tukang kebun dan terkadang juga jadi ”pak Ogah” di perempatan jalan. Tapi dia kelihatan tidak mengeluh, bahkan cukup senang menjalaninya. &lt;i style=""&gt;” Ah urang mah gawe naon we nu aya, nu penting mah ulah cicing, pan ceuk Pangeran oge kudu &lt;/i&gt;bertebaran di muka bumi”, katanya bersemangat. Mereka, teman-temanku itu sangat bersahaja aku fikir. Di tengah kehidupan perekonomian kampung yang pas-pasan, jauh dari pusat kota sehingga cenderung hanya jadi kerak sejarah, informasi kurang bahkan hiburan pun bisa dihitung dengan jari, mereka tak banyak menuntut bahkan lebih banyak mensyukuri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;Pembicaraan yang tidak terlalu lama itu sangat mengesankan buatku, bahkan lebih manis daripada kue nastar yang dulu sempat kami rindukan itu, entah bagi mereka?.[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-8670644508894561841?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/8670644508894561841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=8670644508894561841&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8670644508894561841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/8670644508894561841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/10/kue-nastar-untuk-sahabat-lama.html' title='Kue Nastar untuk Sahabat Lama'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8122063423586713677.post-7321929813996099634</id><published>2007-09-26T10:26:00.000-07:00</published><updated>2007-11-02T06:54:27.603-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Perempuan wangihujan'/><title type='text'>Sebab setelah kamu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="SV"&gt;Bagi dunia kau hanya seseorang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;tapi bagi seseorang kau adalah dunianya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:blue;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(Anjar Anastasia)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tadi siang aku titipkan catatan ini kepada seorang kawan, biar nanti si perempuan wangihujan mendapatkannya bukan dariku, tapi melalui tangan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Inilah salah satu cara untuk menghadapinya. Aku tak bisa terus-menerus bertatapan langsung dengannya, karena dia begitu megah dihadapanku. Dan inilah catatan itu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;” Kalau kamu mau pergi, pergi saja...aku tak akan menghalangimu. Tempuh saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga. Aku tak berani menerka-nerka, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku sendirian, karena kamu pun tahu bahwa sangat jarang aku menemukan orang yang pengertian, dan kamu adalah salah satu dari yang jarang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan mungkin tak kembali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hati-hati...karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa. Dan karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang menjemputmu di bandara itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mari sini, datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para penjemput. Pakai baju biru tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja...aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan kalau semuanya akan terjadi sesuai dengan rencana, beginilah kira-kira cerita selanjutnya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku bangun lebih pagi, memdahuluimu yang masih terbuai dalam mimpi. Lalu selimut itu aku tutupkan kembali sampai kelehermu, agar udara pagi tidak sanggup membangunkanmu. Kubiarkan saja begitu sampai tibanya waktunya unuk mengeksekusi iman, maka mulailah aku membangunkanmu. Seperti biasa kamu agak susah dibangunkan sebelum akhirnya membuka mata dan menguap beberapa kali. Lalu kita sama-sama sholat. Mendo’akanmu dan mendo’akanku. Mensyukuri hidup yang begiru biru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kamu pasti terkejut, karena diam-diam telah aku siapkan sarapan di meja itu. Sekali-kali aku juga ingin memasak, mematangkan cinta terutama. Karena aku percaya bahwa cinta bukan sekedar pemujaan tapi juga pengalaman. Dan pagi itu aku ingin mengalaminya, melakukan semua yang tiap pagi kamu kerjakan. Aku tak ingin menunggunya sampai tiba ulang tahunmu, karena bagiku kamu adalah sesuatu yang harus dirayakan tiap hari. Dunia menemukan miniaturnya di sana, disemesta dirimu. Kalau kamu tak menemukan kata-kata lain untuk semua yang aku tulis ini selain ’rayuan’, tak mengapa...karena kata-kata akan aku istirahatkan di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu diam kalau marah, karena tahu kalau aku adalah sumbu yang setiap waktu bisa menyulut ledakan. Kamu tersenyum jika ingin sesuatu, karena merasa akan merepotkanku. Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu adalah waktu dan aku jarum yang mengitarinya. Kamu adalah rumah dan aku penghuninya. Kalau kata Chairil ’hidup hanya menunda kekalahan’, maka kamu si penunda kekalahan itu. Sekali lagi kamu boleh menyebut ini sebagai rayuan. Dan kata-kata kembali akan aku istirahatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekotak rahasia hati telah lama aku simpan sejak dulu, dikunci rapat dan kunci itu telah lama aku buang jauh. Kini disepotong waktu ketika kamu mendekat kepadaku, kunci itu datang lagi dan terbukalah kotak rahasia itu. Biarkan saja semuanya terbuka, sampai nanti ketika rambutmu dan rambutku memutih, sebagai pertanda akan berakhirnya waktu. Pegang saja tangan ini senyaman mungkin, sampai nanti salah satu dari kita pergi mendahului untuk menghadap Nya, dan cinta tak kan berakhir oleh kematian.[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8122063423586713677-7321929813996099634?l=wangihujan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wangihujan.blogspot.com/feeds/7321929813996099634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8122063423586713677&amp;postID=7321929813996099634&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/7321929813996099634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8122063423586713677/posts/default/7321929813996099634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wangihujan.blogspot.com/2007/09/sebab-setelah-kamu_473.html' title='Sebab setelah kamu'/><author><name>Irfan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14497046074763130947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
