Tiba-tiba ada orang yang memanggil aku: “Agus. Agus.” Dan aku berhadapan dengan nenek kerdil yang berkerinyut mukanya. “Agus,” panggilnya pula pelan dan dipeluknya aku dengan tenaga tua. Dan dia tersenak-senak menangis. “Engkau masih hidup, Gus? Aku tahu juga engkau masih hidup.” Dan aku perasa lagi. Sebab, aku jadi terharu lagi. Lebih terharu oleh bau pakaian dan badannya yang terlalu tengik. Dan lebih tengik dari pakaianku sendiri. Si Inah ada juga teringat sedikit: tapi tidak seluruhnya. Dan di bawah mataku: rambut putih, kumal, dan masam. Mukanya hilang dalam dadaku. Kuduknya penuh kudis dan pada bahu kanannya tampak tali serat nanas—ke bawah teringat pada karung tikar. Dia pengemis, saudara, dan sebetulnya aku tak mau menyebut pengemis. Sebab, semua orang juga pengemis—lahir atau batin. Tapi memanglah sudah adat dunia, nama yang jelek itu selalu dikasihkan kepada orang yang tak bisa mempertahankan diri. Dan lagi, saudara, orang yang tak punya duit tak boleh masuk jadi anggota masyarakat. Dan mereka dinamai sampah masyarakat. Orang yang di depanku itu adalah pengemis—sampah masyarakat.
“Siapa
nenek?” tanyaku jijik.
Tangisnya
meningkat. Pegangannya dieratkan, tak aku lepas dari pegangannya. Antara tangisnya
terdengar ini:
“Gus,
Gus. Engkau tak mau kenal aku lagi? Aku nenek kau.”
Nenekku!
Dan aku jadi perasa pula. Ya, nenekku memang sekerdil itu. Kupeluk dia
erat-erat. Di pinggir jalan dekat stasiun. Kemudian kami pun berjalan. Berjalan
saja. Tangannya tak lepas memegangi aku. Dan oleh pegangan ini kawan-kawan
perempuan dulu tak mau tahu lagi. Baik juga. Kami mampir di kuburan bunda. Kuburan
yang tak sebersih dulu. Seluruhnya telah tertutup lalang tinggi dan tebal. Berdua
kami cari kuburan bunda. Hanya dengan susah payah saja bisa kami dapati. Kemudian
kami cabuti rumputnya.
Kalau
keadaan pembukaan begini buruk, pujaan jadi barang remasan serdadu, nenek jadi
pengemis, kuburan jadi ladang lalang, gampanglah mengira-ngirakan betapa
keadaan rumah tanggaku. Dan engkau pun bisa mengira-ngirakan sendiri, saudara.
Dalam
mencabuti lalang itu terbayang keadaan dulu, saudara. Ini: tentara Hindia
Belanda yang kurang lebih satu resimen lari pontang-panting waktu satu seksi Jepang
mendarat di Lasem. Kemudian pertempuran yang hebat terjadi. Dan yang diamuk—teng-teng
bensin di sekitar Blora. Dan Jepang masuk dengan amannya. Dan ibuku mati dua
bulan kemudian. Begitu besar kepercayaan bunda, Belanda akan mengangkat bapak
jadi “schoolopziener”. Kenyataan mengajarkan padanya, beslit tak bisa dibuat
oleh pemerintah yang kalah. Dalam menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang sama,
adikku yang terkecil menyusul pula ke alam baka. Kuburan bunda bersatu lahat
dengan adikku itu.
Dengan
tangan lesu kuhapus tonggak kepala yang penuh oleh lumpur kering dan muncullah
tulisan dari ter yang berbunyi, “Siti Saidah dan Sri Susanti”.
Aku benci
pada doa. Tapi sekali ini aku terpaksa mendoa juga dan berbisik, “Bu, anak kau
datang.” Dan terbayang ibuku duduk termenung-menung di teritis depan dengan
rambutnya yang tipis dibuai-buai angin. Waktu itu aku berumut tujuhbelas. Dan aku
bilang, “Bu, aku minta cincin.” Dan ia menjawab, “Apa yang kau minta lagi dari
aku? Aku tinggal menunggu mati saja, Muk.” Dan sebulan kemudian matilah ibu. Sejak
itu aku tak pernah minta apa-apa lagi sampai sekarang. Saudara, adik-adik dan
semua kerabat memanggil aku Muk.
Sekali
ini aku tak mau bercerita tentang matahari yang terbit dan terbenam, atau
tentang hujan dan badai. Aku sudah bosan. Sekarang aku mau bercerita tentang
bunga—aku tak tahu namanya—satu-satunya yang tumbuh di kuburan. Aku petik dia. Dan
warnanya biru muda. Warna yang kusukai. Dan aku pasang bunga itu di atas
tonggak kepala. Agak lama aku memandangi bunga itu. Dan nenek berdiam diri
saja. Tangannya masih jua memegangi lenganku.
Kemudian
kami berjalan pula. Tiap bertemu dengan serdadu pendudukan, hatiku kutabahkan. Kalau
mereka tahu aku bekas tawanan dan belum minta izin datang di daerah baru, pasti
aku ditangkap lagi. Selamat—selamat selalu.
Kota
sepi saja. Tambah masuk ke kampung tambah kerap kami bersua dengan kanak-kanak.
Akhirnya kamu melalui sekolahanku dulu Budi Utomo. Untuk lulus kelas tujuh,
sepuluh tahun aku duduk di bangku itu. Kini, sekolahan itu bukan kepunyaan
bapakku lagi. Sudah dibaktikan bapakku kepada Jepang. Dan bukan lagi nama Budi
Utomo yang terpasang di situ. Ganti waktu, ganti keadaan.
Nenek
masih tetap memegangi lenganku. Dan jalannya sangat pelan. Kini sampailah kami
ke kampung—dulu. Tapi kini kampung orang. Dan tiap muka yang terpapas di jalan,
pengap oleh ketakutan. Tiap mata lesu tapi cepat seperti putar dadu oleh
kecurigaan. Peluru sangat murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan
bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun harga jiwa
manusia. Tapi aku tak suka mengumbar kecurigaan.
Dari
jauh tampak pagar hidup pekaranganku—kenuning-kuningan. Tapi atap rumahku tak
kelihatan lagi. Dan datang saja pikiranku, Komunis yang membakarnya. Bapakku
anti komunisme. Dulu aku pernah bertanya begini, “Pak, bagaimana kalau
pengajaran di Indonesia diselaraskan dengan pengajaran di Rusia?” Dia menjawab,
“Itu? Angkat saja Indonesia ke Rusia dan nanti kau mendapat jawaban sendiri.”
Dan aku berdiam diri. Pokok kelapa yang selama ini berdiri di belakang dapur
dan sudah bertahun lamanya berjasa mengurangi belanja ibu, kini kulihat sudah
gundul, tonggak tinggi yang tak berdaun lagi.
Jalan
yang kulalui itu dari batu. Tapi suasana kanak-kanakku lenyap. Tak ada lagi
anak-anak bermain bal di tengah jalan dengan tiang goal dari baju dan batu. Sunyi
saja. Jalan itu membelok. Dan bila terus saja sampailah di jalan kerbau yang
menuju ke Kali Lusi. Jauh di kelokan ini kulihat anak kecil telanjang membawa
kapak penangkap belalang. Dan di belakangnya mengikuti ayam kecilnya.
Baru
nenekku membuka mulut lagi, “Gus, itu adik kau.”
“Siapa?
Cuk?” tanyaku.
Nenek
mengangguk. Dan aku berteriak memanggil. Dari jauh dia mengamati. Kemudian
berlari-larian kepada aku dengan kaki pincang. Di tengah jalan ia berhenti. Kemudian
lari lagi. Aku pun mencepatkan jalan. Cepat aku angkat dia, aku gendong. Umurnya
baru tujuh tahun—telanjang bulat.
“Mengapa
engkau pincang, Cuk?” tanyaku.
Dan
dia menangis. Aku ciumi dia sambil berjalan. Pelan anak itu menjawab, “Kata
bapak dimakan borok, Mas.”
Nenek
berdiam diri saja.
“Mas,
Mbak Kun tiap hari merendam kakiku di air garam. Aku lantas bisa berjalan
sedikit. Tapi sekarang jadi pincang.” Dia tersedu-sedan. “Engkau bisa
mengobati, Mas? Engkau membawa obat, Mas? Pasti engkau membawa obat.” Tangisnya
hilang. “Dulu engkau datang dan aku kaubelikan kambing. Sekarang kambing itu
hilang, Mas. Kata Mbak Kun dimakan luak. Engkau mau membelikan lagi, Mas?
Engkau mau bukan, Mas?”
Dan adikku
menangis lagi—seperti nenek-nenek tangisnya. Aku jadi perasa lagi. Dia toh
adikku? Aku toh boleh turut merasakan kakinya yang besar sebelah? Dan aku
menjawab menggembirai, “Tentu.” Dan adikku diam.
“Mas,
engkau sekarang membawa obat, bukan? Mereka menamai aku si pincang. Aku tak mau,
Mas. Tapi mereka menamai saja. Kalu ada engkau, tentu mereka tak berani lagi
bukan, Mas? Tak berani lagi, bukan? Pasti mereka kau gebuki, seperti dulu
engkau menggebuki Mas Lik karena tak mau mandi. Tapi aku selalu mau mandi, Mas.
Engkau membawa obat ya, Mas?”
“Ya,
aku membawa obat.”
“Aku
juga tahu, engkau mesti membawa obat.”
“Engkau
sudah kelas berapa, Cuk?”
Adikku
menangis lagi. Lama baru bisa menjawab, “Aku tak bersekolah, Mas.” Dia
tersedan-sedan. “Kata bapak aku cengeng. Aku tak cengeng bukan, Mas? Tak cengeng,
bukan?”
“Tidak,”
dan aku cium pula pada mukanya yang basah oleh air mata—muka yang pucat.
“Kalau
begitu, nanti aku boleh ikut ke Jakarta, bukan? Naik mobil dan lihat Pasar
Gambir? Bukan, Mas? Aku boleh turut ke Jakarta, bukan?”
“Tentu
saja boleh.”
“Aku
tahu juga. Pasti boleh. Mana mobil kau sekarang, Mas? Diminta Jepang? Aku selalu
tanya pada bapak, engkau tak pulang-pulang juga. Kata bapak engkau ditangkap
Nica. Engkau tak ditangkap, bukan? Engkau berani, bukan?”
“Tidak,
aku tak ditangkap.”
“Mobil
kau tak dirampas Nica, bukan?
“Tidak.”
“Aku
tahu juga, bapak bohong.”
“Engkau
masih suka menyanyi, Cuk?”
“Tidak
boleh, Mas,” tiba-tiba tangisnya meledak sejadi-jadinya. Dan kembali aku ciumi
dia.
“Mengapa
menangis, Cuk? Siapa yang melarang? Engkau dulu senang menyanyi di pohon jambu.”
“Mas,
semua melarang aku menyanyi,” sedu sedan. “Dan pohon jambu sudah dibakar. Dibakar
Komunis, Mas.” Sedu sedan. “Sekarang engkau datang. Aku mesti boleh menyanyi
lagi.”
Mata
Cuk, adikku yang terkecil berseri-seri.
“Mas,
Mbak Kun bilang, kalau aku menyannyi ‘Dari Barat samapi ke Timur’ katanya nanti
Nica datang dari Barat dan Timur dan membakar kakiku yang pincang. Sekarang tidak
lagi. Aku boleh menyanyi bukan, Mas?”
Sedu
sedannya yang terakhir lenyap. Dengan suara lantang ia berteriak menyanyi, “Dari
Barat sampai....”
Cepat-cepat
aku sumbat mulutnya dengan tapak tangan. Ia meronta dan menangis. Tanganku gemetar
oleh teriaknya.
“Jangan.
Jangan menangis!” aku melarang.
Tangisnya
hilang. Tinggal sedu sedan. Dan tanagnku kulepas. Alangkah kurus adikku. Dengan
mata benci dipandangnya aku. Dan air matanya tetap menggelinang. Di antara sedu
sedannya dia berkata, “Engkau juga melarang, Mas? Ah, jangan gendong aku. Engkau
Nica, Mas! Engaku Nica.”
“Tidak,
Cuk,” hiburku. Dan matanya telah sebak. “Nanti kakikau kuobati. Kalau sudah
sembuh nanti boleh menyanyi lagi.”
Sedan-sedannya
terpatah-patah. Dan Cuk mulai gembira lagi.
“Engkau
mengajadi aku abese nanti, ya Mas? Seperti dulu Mbak Kus kau ajari. Tapi engkau
tak kan mengetuki kepalaku dengan sendok, bukan? Dan aku boleh turut ke Jakarta.
Dan naik mobil ya, Mas? Dan melihat kapal...”
“He-e:
Mbak Kus masih sekolah, Cuk?”
“Tak
ada yang sekolah lagi sekarang, Mas. Mbak Kus sudah pulang dari Pati jalan
kaki. Katanya tak ada sekolahan lagi.”
“Mas
Lik di mana, Cuk?”
“Dibawa
Nica, Mas. Kata tuan, dia pemuda.”
Dadaku
berdentam. Oh, dia masih kanak-kanak, baru empat belas. Tapi apakah salahnya? Penjara
yang baru kutinggalkan pun berisi dua orang anak seumur itu.
“Bapak
di mana, Cuk?”
“Bapak
di bawah pohon duat.”
“Tidak
dibakar pohon itu?”
“Tidak,
Mas. Bapak di situ saja, Mas, menulis dan menembang.”
“Menembang
apa?”
“Permadi
dan Sumbodro, Mas. Dan menulis saja sampai malam.”
Kami
berjalan terus. Nenek tetap berdiam diri. Rumah sudah dekat tapi tak jua tampak
atapnya. Di sela-sela pagar hidup yang kuning kecoklat-coklatan aku lihat
runtuhan rumahku—tembok dan arang. Dan sama saja seperti di mana-mana. Sampai di
belokan jalan, jauh aku lihat sepasukan serdadu sedang berpatroli. Dan adikku
menuding ke arah patroli itu.
“Dia
datang lagi, Mas. Si tuan. Dia selalu datang ke sini. Aku kerap dikasih permen
dan dia senangnya mengobrol dengan Mbak Kus. Bapak tak senang. Dia senang di
bawah pohon duat dan menulis dan menembang saja. Dan kalau si tuan datang, Mbak
Kus terus lari ke balakang dan menangis dan aku turut menangis.”
“Mengapa
menangis, Cuk?”
“Engkau
tak datang-datang juga Mas. Dan katanya si tuan mau membawa Mbak Kus, jauh—jauh
sekali. Itu, Mbak Kus, Mas!”
Cuk menuding
ke arah dekat unggukan batu. Oh, adikku perempuan yang tercantik dan tercerdas.
Dia baru berumur enam belas dan baru di kelas dua SMP Pati. Di antara sela-sela
pagar hidup yang mati itu kulihat parasnya yang jernih sudah keruh. Dan kulitnya
yang kuning kini kehitam-hitaman. Cuk berteriak keras-keras, “Mbak Kus, Mbak
Kus! Mas Muk datang.”
Gadis
itu berlari-lari ke jalan. Dia masih setangkas dua tahun yang lalu. Segera dipeluknya
aku. Berkata gairah, “Engkau datang, Mas. Alangkah lama engkau di penjara. Engkau
kurus sekali, Mas, rumah dibakar. Engkau tak punya kamar lagi. Dan buku-buku
kiriman kau dulu, semua sudah dirampas Mas To.”
“Mas
To siapa?”
“Kawan
kau main musik dulu.”
“Mengapa
dirampas?” tanyaku.
“Karena,
karena, engkau dan Mas Wit tentara.”
“Dia
Nica?”
“Komunis.
Aku tak bisa belajar lagi, mas. Oh, alangkah tipis lengan kau. Engkau masih mau
makan nasi jagung, mas?”
Kami
masuk ke dalam pelataran. Dan aku menjawab, “Masih.”
Semua
adik datang mengerubung. Kun, Um, Kus, dan Cuk. Bapak meninggalkan pohon duat
sambil membawa bukunya. Bertanya, “Selamat, Muk?”
“Pengestu,
bapak.”
Dan bapak
kembali ke bawah pohon duat.
“Mas
Muk,” tegur Kun. “Surat kau melalui Palang Merah setahun yang lalu sudah
kuterima.”
“Mengapa
tak kau balas?”
“Sudah
lima belas kali aku menulis. Tapi surat kau tak datang lagi,” dan ia menarik
napas panjang.
“Aku
tak pernah menerima.” Kemudian aku berbisik pada Kun, adikku yang sudah berumur
delapan belas dan sudah menikah dengan prajurit dari Divisi Djatikusumo—“Mengapa
nenek kau biarkan jadi pengemis?”
Nenek
yang membisu saja dari tadi tersedan-sedan dan menyembunyikan mukanya ke dalam
kainnya. Kemudian dia menjauh, duduk di tengah pintu gubuk dan membungkuk seperti
katak. Kun menyinarkan penyesalan pada matanya.
“Mas,
makan kami hanya dari tanaman jagung pekarangan yang tak lebar ini. Adik-adikmu
yang mengerjakan. Bapak menulis saja di bawah pohon dan tak kan bergerak dari situ
bila matahari belum terbenam. Maksudku, aku tak mau memaksa bapak mencangkul. Malah
waktu letnan Belanda datang kemari menawarkan pangkat pegawai pengajaran untuk
Karesidenan Pati, aku juga yang menjawab, “Bapak sudah tua, aku tak mengizinkan
dia bekerja lagi.” Karena itu penghasilan sedikit sekali dan makanan harus
dibagi seadil-adilnya. Dan nenek mencuri bagian Cuk. Aku marahi dan dia pergi. Adik-adik
bilang, nenek jadi pengemis di stasiun. Mereka kusuruh membawa pulang nenek. Tapi
nenek tak mau. Aku sendiri mengajaknya pulang. Dan dia bilang, “Aku tak mau
pulang. Aku menunggu Gus Muk.’’ Dan aku bilang, “Mas Muk tak pulang. Dia
ditangkap Nica.” Tapi dia tak mau peduli dan selalu tinggal di stasiun.
Nenek
menangis. Dalam sedu sedannya.



