20 March 2026

Blora - bagian 2

Tiba-tiba ada orang yang memanggil aku: “Agus. Agus.” Dan aku berhadapan dengan nenek kerdil yang berkerinyut mukanya. “Agus,” panggilnya pula pelan dan dipeluknya aku dengan tenaga tua. Dan dia tersenak-senak menangis. “Engkau masih hidup, Gus? Aku tahu juga engkau masih hidup.” Dan aku perasa lagi. Sebab, aku jadi terharu lagi. Lebih terharu oleh bau pakaian dan badannya yang terlalu tengik. Dan lebih tengik dari pakaianku sendiri. Si Inah ada juga teringat sedikit: tapi tidak seluruhnya. Dan di bawah mataku: rambut putih, kumal, dan masam. Mukanya hilang dalam dadaku. Kuduknya penuh kudis dan pada bahu kanannya tampak tali serat nanas—ke bawah teringat pada karung tikar. Dia pengemis, saudara, dan sebetulnya aku tak mau menyebut pengemis. Sebab, semua orang juga pengemis—lahir atau batin. Tapi memanglah sudah adat dunia, nama yang jelek itu selalu dikasihkan kepada orang yang tak bisa mempertahankan diri. Dan lagi, saudara, orang yang tak punya duit tak boleh masuk jadi anggota masyarakat. Dan mereka dinamai sampah masyarakat. Orang yang di depanku itu adalah pengemis—sampah masyarakat.

“Siapa nenek?” tanyaku jijik.

Tangisnya meningkat. Pegangannya dieratkan, tak aku lepas dari pegangannya. Antara tangisnya terdengar ini:

“Gus, Gus. Engkau tak mau kenal aku lagi? Aku nenek kau.”

Nenekku! Dan aku jadi perasa pula. Ya, nenekku memang sekerdil itu. Kupeluk dia erat-erat. Di pinggir jalan dekat stasiun. Kemudian kami pun berjalan. Berjalan saja. Tangannya tak lepas memegangi aku. Dan oleh pegangan ini kawan-kawan perempuan dulu tak mau tahu lagi. Baik juga. Kami mampir di kuburan bunda. Kuburan yang tak sebersih dulu. Seluruhnya telah tertutup lalang tinggi dan tebal. Berdua kami cari kuburan bunda. Hanya dengan susah payah saja bisa kami dapati. Kemudian kami cabuti rumputnya.

Kalau keadaan pembukaan begini buruk, pujaan jadi barang remasan serdadu, nenek jadi pengemis, kuburan jadi ladang lalang, gampanglah mengira-ngirakan betapa keadaan rumah tanggaku. Dan engkau pun bisa mengira-ngirakan sendiri, saudara.

Dalam mencabuti lalang itu terbayang keadaan dulu, saudara. Ini: tentara Hindia Belanda yang kurang lebih satu resimen lari pontang-panting waktu satu seksi Jepang mendarat di Lasem. Kemudian pertempuran yang hebat terjadi. Dan yang diamuk—teng-teng bensin di sekitar Blora. Dan Jepang masuk dengan amannya. Dan ibuku mati dua bulan kemudian. Begitu besar kepercayaan bunda, Belanda akan mengangkat bapak jadi “schoolopziener”. Kenyataan mengajarkan padanya, beslit tak bisa dibuat oleh pemerintah yang kalah. Dalam menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang sama, adikku yang terkecil menyusul pula ke alam baka. Kuburan bunda bersatu lahat dengan adikku itu.

Dengan tangan lesu kuhapus tonggak kepala yang penuh oleh lumpur kering dan muncullah tulisan dari ter yang berbunyi, “Siti Saidah dan Sri Susanti”.

Aku benci pada doa. Tapi sekali ini aku terpaksa mendoa juga dan berbisik, “Bu, anak kau datang.” Dan terbayang ibuku duduk termenung-menung di teritis depan dengan rambutnya yang tipis dibuai-buai angin. Waktu itu aku berumut tujuhbelas. Dan aku bilang, “Bu, aku minta cincin.” Dan ia menjawab, “Apa yang kau minta lagi dari aku? Aku tinggal menunggu mati saja, Muk.” Dan sebulan kemudian matilah ibu. Sejak itu aku tak pernah minta apa-apa lagi sampai sekarang. Saudara, adik-adik dan semua kerabat memanggil aku Muk.

Sekali ini aku tak mau bercerita tentang matahari yang terbit dan terbenam, atau tentang hujan dan badai. Aku sudah bosan. Sekarang aku mau bercerita tentang bunga—aku tak tahu namanya—satu-satunya yang tumbuh di kuburan. Aku petik dia. Dan warnanya biru muda. Warna yang kusukai. Dan aku pasang bunga itu di atas tonggak kepala. Agak lama aku memandangi bunga itu. Dan nenek berdiam diri saja. Tangannya masih jua memegangi lenganku.

Kemudian kami berjalan pula. Tiap bertemu dengan serdadu pendudukan, hatiku kutabahkan. Kalau mereka tahu aku bekas tawanan dan belum minta izin datang di daerah baru, pasti aku ditangkap lagi. Selamat—selamat selalu.      

Kota sepi saja. Tambah masuk ke kampung tambah kerap kami bersua dengan kanak-kanak. Akhirnya kamu melalui sekolahanku dulu Budi Utomo. Untuk lulus kelas tujuh, sepuluh tahun aku duduk di bangku itu. Kini, sekolahan itu bukan kepunyaan bapakku lagi. Sudah dibaktikan bapakku kepada Jepang. Dan bukan lagi nama Budi Utomo yang terpasang di situ. Ganti waktu, ganti keadaan.

Nenek masih tetap memegangi lenganku. Dan jalannya sangat pelan. Kini sampailah kami ke kampung—dulu. Tapi kini kampung orang. Dan tiap muka yang terpapas di jalan, pengap oleh ketakutan. Tiap mata lesu tapi cepat seperti putar dadu oleh kecurigaan. Peluru sangat murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun harga jiwa manusia. Tapi aku tak suka mengumbar kecurigaan.

Dari jauh tampak pagar hidup pekaranganku—kenuning-kuningan. Tapi atap rumahku tak kelihatan lagi. Dan datang saja pikiranku, Komunis yang membakarnya. Bapakku anti komunisme. Dulu aku pernah bertanya begini, “Pak, bagaimana kalau pengajaran di Indonesia diselaraskan dengan pengajaran di Rusia?” Dia menjawab, “Itu? Angkat saja Indonesia ke Rusia dan nanti kau mendapat jawaban sendiri.” Dan aku berdiam diri. Pokok kelapa yang selama ini berdiri di belakang dapur dan sudah bertahun lamanya berjasa mengurangi belanja ibu, kini kulihat sudah gundul, tonggak tinggi yang tak berdaun lagi.

Jalan yang kulalui itu dari batu. Tapi suasana kanak-kanakku lenyap. Tak ada lagi anak-anak bermain bal di tengah jalan dengan tiang goal dari baju dan batu. Sunyi saja. Jalan itu membelok. Dan bila terus saja sampailah di jalan kerbau yang menuju ke Kali Lusi. Jauh di kelokan ini kulihat anak kecil telanjang membawa kapak penangkap belalang. Dan di belakangnya mengikuti ayam kecilnya.

Baru nenekku membuka mulut lagi, “Gus, itu adik kau.”

“Siapa? Cuk?” tanyaku.

Nenek mengangguk. Dan aku berteriak memanggil. Dari jauh dia mengamati. Kemudian berlari-larian kepada aku dengan kaki pincang. Di tengah jalan ia berhenti. Kemudian lari lagi. Aku pun mencepatkan jalan. Cepat aku angkat dia, aku gendong. Umurnya baru tujuh tahun—telanjang bulat.

“Mengapa engkau pincang, Cuk?” tanyaku.

Dan dia menangis. Aku ciumi dia sambil berjalan. Pelan anak itu menjawab, “Kata bapak dimakan borok, Mas.”

Nenek berdiam diri saja.

“Mas, Mbak Kun tiap hari merendam kakiku di air garam. Aku lantas bisa berjalan sedikit. Tapi sekarang jadi pincang.” Dia tersedu-sedan. “Engkau bisa mengobati, Mas? Engkau membawa obat, Mas? Pasti engkau membawa obat.” Tangisnya hilang. “Dulu engkau datang dan aku kaubelikan kambing. Sekarang kambing itu hilang, Mas. Kata Mbak Kun dimakan luak. Engkau mau membelikan lagi, Mas? Engkau mau bukan, Mas?”

Dan adikku menangis lagi—seperti nenek-nenek tangisnya. Aku jadi perasa lagi. Dia toh adikku? Aku toh boleh turut merasakan kakinya yang besar sebelah? Dan aku menjawab menggembirai, “Tentu.” Dan adikku diam.

“Mas, engkau sekarang membawa obat, bukan? Mereka menamai aku si pincang. Aku tak mau, Mas. Tapi mereka menamai saja. Kalu ada engkau, tentu mereka tak berani lagi bukan, Mas? Tak berani lagi, bukan? Pasti mereka kau gebuki, seperti dulu engkau menggebuki Mas Lik karena tak mau mandi. Tapi aku selalu mau mandi, Mas. Engkau membawa obat ya, Mas?”

“Ya, aku membawa obat.”

“Aku juga tahu, engkau mesti membawa obat.”

“Engkau sudah kelas berapa, Cuk?”

Adikku menangis lagi. Lama baru bisa menjawab, “Aku tak bersekolah, Mas.” Dia tersedan-sedan. “Kata bapak aku cengeng. Aku tak cengeng bukan, Mas? Tak cengeng, bukan?”

“Tidak,” dan aku cium pula pada mukanya yang basah oleh air mata—muka yang pucat.

“Kalau begitu, nanti aku boleh ikut ke Jakarta, bukan? Naik mobil dan lihat Pasar Gambir? Bukan, Mas? Aku boleh turut ke Jakarta, bukan?”

“Tentu saja boleh.”

“Aku tahu juga. Pasti boleh. Mana mobil kau sekarang, Mas? Diminta Jepang? Aku selalu tanya pada bapak, engkau tak pulang-pulang juga. Kata bapak engkau ditangkap Nica. Engkau tak ditangkap, bukan? Engkau berani, bukan?”

“Tidak, aku tak ditangkap.”

“Mobil kau tak dirampas Nica, bukan?

“Tidak.”

“Aku tahu juga, bapak bohong.”

“Engkau masih suka menyanyi, Cuk?”

“Tidak boleh, Mas,” tiba-tiba tangisnya meledak sejadi-jadinya. Dan kembali aku ciumi dia.

“Mengapa menangis, Cuk? Siapa yang melarang? Engkau dulu senang menyanyi di pohon jambu.”

“Mas, semua melarang aku menyanyi,” sedu sedan. “Dan pohon jambu sudah dibakar. Dibakar Komunis, Mas.” Sedu sedan. “Sekarang engkau datang. Aku mesti boleh menyanyi lagi.”

Mata Cuk, adikku yang terkecil berseri-seri.

“Mas, Mbak Kun bilang, kalau aku menyannyi ‘Dari Barat samapi ke Timur’ katanya nanti Nica datang dari Barat dan Timur dan membakar kakiku yang pincang. Sekarang tidak lagi. Aku boleh menyanyi bukan, Mas?”

Sedu sedannya yang terakhir lenyap. Dengan suara lantang ia berteriak menyanyi, “Dari Barat sampai....”

Cepat-cepat aku sumbat mulutnya dengan tapak tangan. Ia meronta dan menangis. Tanganku gemetar oleh teriaknya.

“Jangan. Jangan menangis!” aku melarang.

Tangisnya hilang. Tinggal sedu sedan. Dan tanagnku kulepas. Alangkah kurus adikku. Dengan mata benci dipandangnya aku. Dan air matanya tetap menggelinang. Di antara sedu sedannya dia berkata, “Engkau juga melarang, Mas? Ah, jangan gendong aku. Engkau Nica, Mas! Engaku Nica.”

“Tidak, Cuk,” hiburku. Dan matanya telah sebak. “Nanti kakikau kuobati. Kalau sudah sembuh nanti boleh menyanyi lagi.”

Sedan-sedannya terpatah-patah. Dan Cuk mulai gembira lagi.

“Engkau mengajadi aku abese nanti, ya Mas? Seperti dulu Mbak Kus kau ajari. Tapi engkau tak kan mengetuki kepalaku dengan sendok, bukan? Dan aku boleh turut ke Jakarta. Dan naik mobil ya, Mas? Dan melihat kapal...”

“He-e: Mbak Kus masih sekolah, Cuk?”

“Tak ada yang sekolah lagi sekarang, Mas. Mbak Kus sudah pulang dari Pati jalan kaki. Katanya tak ada sekolahan lagi.”

“Mas Lik di mana, Cuk?”

“Dibawa Nica, Mas. Kata tuan, dia pemuda.”

Dadaku berdentam. Oh, dia masih kanak-kanak, baru empat belas. Tapi apakah salahnya? Penjara yang baru kutinggalkan pun berisi dua orang anak seumur itu.

“Bapak di mana, Cuk?”

“Bapak di bawah pohon duat.”

“Tidak dibakar pohon itu?”

“Tidak, Mas. Bapak di situ saja, Mas, menulis dan menembang.”

“Menembang apa?”

“Permadi dan Sumbodro, Mas. Dan menulis saja sampai malam.”

Kami berjalan terus. Nenek tetap berdiam diri. Rumah sudah dekat tapi tak jua tampak atapnya. Di sela-sela pagar hidup yang kuning kecoklat-coklatan aku lihat runtuhan rumahku—tembok dan arang. Dan sama saja seperti di mana-mana. Sampai di belokan jalan, jauh aku lihat sepasukan serdadu sedang berpatroli. Dan adikku menuding ke arah patroli itu.

“Dia datang lagi, Mas. Si tuan. Dia selalu datang ke sini. Aku kerap dikasih permen dan dia senangnya mengobrol dengan Mbak Kus. Bapak tak senang. Dia senang di bawah pohon duat dan menulis dan menembang saja. Dan kalau si tuan datang, Mbak Kus terus lari ke balakang dan menangis dan aku turut menangis.”

“Mengapa menangis, Cuk?”

“Engkau tak datang-datang juga Mas. Dan katanya si tuan mau membawa Mbak Kus, jauh—jauh sekali. Itu, Mbak Kus, Mas!”

Cuk menuding ke arah dekat unggukan batu. Oh, adikku perempuan yang tercantik dan tercerdas. Dia baru berumur enam belas dan baru di kelas dua SMP Pati. Di antara sela-sela pagar hidup yang mati itu kulihat parasnya yang jernih sudah keruh. Dan kulitnya yang kuning kini kehitam-hitaman. Cuk berteriak keras-keras, “Mbak Kus, Mbak Kus! Mas Muk datang.”

Gadis itu berlari-lari ke jalan. Dia masih setangkas dua tahun yang lalu. Segera dipeluknya aku. Berkata gairah, “Engkau datang, Mas. Alangkah lama engkau di penjara. Engkau kurus sekali, Mas, rumah dibakar. Engkau tak punya kamar lagi. Dan buku-buku kiriman kau dulu, semua sudah dirampas Mas To.”

“Mas To siapa?”

“Kawan kau main musik dulu.”

“Mengapa dirampas?” tanyaku.

“Karena, karena, engkau dan Mas Wit tentara.”

“Dia Nica?”

“Komunis. Aku tak bisa belajar lagi, mas. Oh, alangkah tipis lengan kau. Engkau masih mau makan nasi jagung, mas?”

Kami masuk ke dalam pelataran. Dan aku menjawab, “Masih.”

Semua adik datang mengerubung. Kun, Um, Kus, dan Cuk. Bapak meninggalkan pohon duat sambil membawa bukunya. Bertanya, “Selamat, Muk?”

“Pengestu, bapak.”

Dan bapak kembali ke bawah pohon duat.

“Mas Muk,” tegur Kun. “Surat kau melalui Palang Merah setahun yang lalu sudah kuterima.”

“Mengapa tak kau balas?”

“Sudah lima belas kali aku menulis. Tapi surat kau tak datang lagi,” dan ia menarik napas panjang.

“Aku tak pernah menerima.” Kemudian aku berbisik pada Kun, adikku yang sudah berumur delapan belas dan sudah menikah dengan prajurit dari Divisi Djatikusumo—“Mengapa nenek kau biarkan jadi pengemis?”

Nenek yang membisu saja dari tadi tersedan-sedan dan menyembunyikan mukanya ke dalam kainnya. Kemudian dia menjauh, duduk di tengah pintu gubuk dan membungkuk seperti katak. Kun menyinarkan penyesalan pada matanya.

“Mas, makan kami hanya dari tanaman jagung pekarangan yang tak lebar ini. Adik-adikmu yang mengerjakan. Bapak menulis saja di bawah pohon dan tak kan bergerak dari situ bila matahari belum terbenam. Maksudku, aku tak mau memaksa bapak mencangkul. Malah waktu letnan Belanda datang kemari menawarkan pangkat pegawai pengajaran untuk Karesidenan Pati, aku juga yang menjawab, “Bapak sudah tua, aku tak mengizinkan dia bekerja lagi.” Karena itu penghasilan sedikit sekali dan makanan harus dibagi seadil-adilnya. Dan nenek mencuri bagian Cuk. Aku marahi dan dia pergi. Adik-adik bilang, nenek jadi pengemis di stasiun. Mereka kusuruh membawa pulang nenek. Tapi nenek tak mau. Aku sendiri mengajaknya pulang. Dan dia bilang, “Aku tak mau pulang. Aku menunggu Gus Muk.’’ Dan aku bilang, “Mas Muk tak pulang. Dia ditangkap Nica.” Tapi dia tak mau peduli dan selalu tinggal di stasiun.

Nenek menangis. Dalam sedu sedannya.

“Nek,” panggilku. Tapi dia tak peduli. (bersambung)

18 March 2026

Blora - bagian 1


Karya: Pramoedya Ananta Toer

Saudara! Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh setiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya dengan lagu kebangsaan.

Dan hari ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga berlari-larian masuk ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan kecil itu semata-mata hanya untuk kesenanganku. Begini, saudara, Voorman kembali dari kantor kamp dan berteriak, “Pram!” aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris.” Seperti gagak dilempari batu datang saja seruan dari mulutku, “Oke, oke.”

Aku lari masuk ke dalam selku dan mengemasi pakaian, alat tidur, dan alat makan. Kawan-kawan ramai memasuki sel mengajak tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang menggerutui nasibnya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan terharu betapa juapun akan materialistisnya. Terutawa waktu aku berjalan ke kantor kamp dan mereka mengacung-ngacungkan tinjunya sambil memekik lemah, “Merdeka! Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup, “Keju enak, bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menjawab satu per satu. Kepalaku tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.

Pintu besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku digeledah. Apa yang akan didapatkan dari pada aku? Hanya pakaian yang kupakai dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang pada bagian bawah ada capnya begini, “de facto krijgsgevangenen kamp.” Dan hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membaca tulisan itu. Pandang tajam mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidupnya di sela-sela jari besi.

Pintu besi kedua aku lalui. Kawan-kawan di balik pintu masih mengacung-ngacungkan tinjunya. Dan mata yang kuyu jadi berapi-api meneriak pandang, “Merdeka! Merdeka!”

Aku sampai di pintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari mataku. Di punggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat di kamp, sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerja paksa di bengkel militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Steinbeck, satu buku Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore, dan buku Pelajaran bahasa Prancis yang tak pernah kupegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang ketiga itu.

Dan sekali lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tapi kali ini aku bersedih hati malah oleh tercapainya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.

Kini aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang siur bebas pula. Semua yang kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu tergantung pada keadaan hatinya.

Saudara, engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-mula begini: Aku makan sate di pasar Jatinegara—sekenyang-kenyangnya. Dan kubayar belanja itu dengan satu celana pendek. Cita-cita yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ke toko emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku yang kukasihi melayang pula. Dan akhirnya ke loket. Beli karcis. Melompat ke kereta api. Berjalan, saudara—menuju ke kota kelahiran: Blora!

Aku sendiri tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta api begitu cepat. Dan yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua menit. Kemudian hutan menyusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus pula ke pedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab, Jepang sudah dihukum mati dan digantung di mana-mana. Orang yang kalah perang.

Banyak kota hangus di sepanjang jalan kereta. Banyak dusun mati. Banyak jembatan ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geletar roda pada rel. Tapi kini jalannya tenang saja dan cepat.

Blora! Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkaupun akan begitu pula bila sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi, rasa—seperti daerah pedalama—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena, ketakutan itu datang juga jungkir balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga sudah mati. Oleh Komunis Muso atau oleh TNI atau oleh Belanda. Siapa yang membencanai keluarga itu tak menjadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku takuti. Dan ketakutan yang lain ialah ini: gerakan pembersihan yang sama saja ngerinya dengan gerakan pembersihan di mana-mana—dan gerakan gerilya, seperti gerilya lainnya di mana-mana. Dua-duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang zaman perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Persis seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan minta uang. Tetapi kalu kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar. Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal rupa.

Blora, saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termasyhur miskin itu? Nanti kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng lah nampak. Garang, saudara! Sepetti bangkai raksasa yang mulai pudar—kekuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang harus hiduo miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi jagal tak termasuk dalam istilah ini.

Blora, saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-mula yang kulihat ini: stasiun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir, waktu mereka diserbu oleh TNI. Di depan stasiun berjajar gedung-gedung orang Tionghoa. Semua inipun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika. Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakan.

Para penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik di kampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena, dia cantik sekali dan lamaranku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara, nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia bukan si cantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal dan bibirnya semerah cenger jago. Rambutnya tipis, matanya jalang dan tingkahnya genit.

“Mas,” tegurnya.

Dan aku menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan kuping. Dan dia berseru-seru. Aku cepatkan jalan. Tas kempes masih tersengkak di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang setengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah merdeka yang dimerdekakan.

Sebentar aku duduk di batuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia menggeliat-geliat senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan kebenaran. Dan yang terjadi itulah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.

Terbit niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik. Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahaknya hilang. Geliat senangnya hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air mata. Dia meronta kuat akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya kupegang erat. Kutarik akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.

Dengan kesakitan aku pergi tersipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiannya, dan nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk di batuan tadi. Memandangi Inah masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata yang menyampaikan kata tentang perjalanan hidupnya sesudah aku meninggalkannya. Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan suka rela mau menjual dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan mengapa aku jadi begini.”

Tiba-tiba Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang dibencinya tetapi yang dia harus masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke jeep-nya. Masih ada juga terdengar seruan pelan, “Mas—Mas—“. Kemudian lenyap seruan itu digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu menitikkan air mata. Dan mendadak pertanyaan padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidupnya sendiri. Dan siapakah yang memiliki hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di mana-mana pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Jawablah sendiri, saudara.

Kuturutkan jeep itu dengan mataku sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan jeep. Gairah kan bertemu dengan rumahtangga dan keluarga merujak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga cikar yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan runtuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang berkeliaran dengan perut kembung. Dan pengemis. Keadaan daerah merdeka yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda. (bersambung)

07 August 2025

Surat Perpisahan Acil The SIGIT

 



An ocean I can no longer fathom

Waves I can no longer ride

I find myself away from the bottom

With this feeling I can’t abide

 

A language I can no longer speak

Shivering words that left me weak

A presence I can not attend

Fate that I can not amend

 

This day has left me trembling

Coldness of that morning

The sadness of the mourning

 

The ship’s now sailing the high sea without a word

And I left my heart for you to decide my lord…

 

As I lay rest shield and my armour…

I turn myself ashore… to where I was before…



06 August 2025

Mayit Dina Dahan Jengkol: Janda sebagai Objek

Ini kisah tentang Sari, biasa dipanggil Nok Sari: janda muda dan cantik yang dianggap sebagai penyakit oleh ibu-ibu warga kampung. Sebabnya, para suami mereka, apalagi kaum bujangan, berebut mencari dan mencuri perhatiannya. Mereka, para lelaki itu, biasa berkumpul di warung Bi Isoh yang letaknya tiga rumah dengan kediaman sang janda.

Karena dagangannya jadi laku keras, baik kopi maupun goreng ulen, Bi Isoh jadi salah satu perempuan yang "tak membenci Sari", malah berharap janda itu tak segera menikah agar warungnya terus ramai dikunjungi.

Percakapan-percakapan di warung Bi Isoh selalu tentang Sari, dipadu dengan canda dan tawa yang riuh. Pendeknya, para lelaki itu menjadikan Sari sebagai objek. Saat menggambarkan dialog-dialog tersebut, Ahmad Bakri si pengarang begitu tapis.

Perceraian Sari dengan suaminya mula-mula tak banyak yang menduga. Rumah tangga mereka dianggap biasa. Hanya saja suaminya memang di luar kota untuk mencari nafkah. Dan sebelum mendapatkan rumah yang layak, Sari dititipkan sementara di rumah orang tuanya.

“Muhun [salaki Nyi Sari téh] ti Bandung ngalih ka Batawi. Méméh kénging bumi sina di dieu heula, ongkoh dibaeukeun ku sepuhna, bilih dibabawa métak (tinggal di rumah petak) cenah. Pa Mandor téa atuh, uninga ieuh, teu paya pisan ningali kirang sautik ge,” jawab Bi Isok kepada seorang pemuda.   

Suatu hari, Sari hilang saat mencuci baju di tampian. Darah segar berceceran di sekitar tempat dia mencuci. Warga kampung heboh bukan kepalang. Mereka segera menyusuri sungai untuk mencarinya. Beberapa orang yang melihatnya pada saat-saat sebelum dia menghilang, dipanggil. Dari jawaban-jawaban para “tersangka”, seseorang disuruh untuk menjemput orang yang para “tersangka” sebutkan.

Namun, saat orang yang disuruh itu belum sampai ke tujuan, hal menggemparkan lainnya kembali terjadi.

Berbulan-bulan kemudian, warga menemukan sesosok mayat yang tergantung di dahan pohon jengkol. Kampung yang semula telah reda, kembali geger. Peristiwa ini awalnya tak terbongkar, tersimpan rapi selama berbulan-bulan: antara bunuh diri atau rajapati. 

Novel ini kembali membuktikan kepiawaian Ahmad Bakri dalam membangun rasa penasaran pembaca. Namun, setali tiga uang dengan novela “Dina Kalangkang Panjara” dan “Kacaangan ku Panékér”, semuanya tak menggoreskan konflik kejiwaan yang kompleks. Atau tak secanggih cerita Laleur Bodas karya Samsu yang menghadirkan sosok misterius.

Namun demikian, Mayit Dina Dahan Jengkol berhasil memotret keadaan sosial masyarakat Sunda di perkampungan tempo dulu—atau mungkin masih terjadi sampai hari ini—yang memperlakukan janda sebagai anggota masyarakat yang tak diinginkan dan sumber penyakit.     

Sari dalam novel ini menjadi korban berlapis. Dia tak sanggup menggapai cita-citanya meraih hidup bahagia. Kecantikan dan statusnya sebagai janda menjadi kambing hitam. Di tengah sistem sosial yang rapuh bagi perempuan, dia tak berkutik. [irf]

28 July 2025

Nu Harayang Dihargaan: Darpan dan Cerita-Cerita dari Utara

Dalam pengantar buku kumpulan cerpen ini, Duduh Durahman menyinggung soal komposisi nama pengarang, yakni Darpan Ariawinangun. Menurutnya, gabungan kedua nama itu secara kebiasaan bertolak belakang, karena menggabungkan nama yang lumrah dipakai rakyat jelata dengan nama menak.

Nama Darpan, tambahnya, sederajat dengan nama Salhiam, Mang Uham, atau Kang Nurhayi. Sementara Ariawinangun betul-betul nama ningrat. Lain itu, kata Duduh, pengarang kiwari jarang yang memakai nama yang berbau priyayi.

Namun di sejumlah bukunya, pengarang hanya menyantumkan Darpan—nama merakyat itu—tanpa menambahkan nama belakang. Saat menamatkan 15 cerpen dalam buku ini, kiranya tepat jika dia hanya memakai nama Darpan, karena seluruh cerita yang ia reka menggambarkan kehidupan rakyat jelata dengan segala kemalangan dan kepahitannya dalam melakoni hidup.

Darpan lahir pada 4 Mei 1970 di Sungai Ula, Cibuaya, pesisir Karawang. Berbeda dengan sejumlah pengarang Sunda yang lebih senior darinya, yang kebanyakan berasal dari wilayah Priangan, Darpan orang utara. Bahasa Sunda yang ia pakai pun terdapat beberapa perbedaan dengan dialek Priangan. Meski demikian, di bagian akhir buku ini terdapat keterangan “Bahasa Wewengkon”, yakni kosakata yang dipakai Darpan dan mungkin tidak biasa atau jarang didengar orang orang Sunda dari wewengkon/wilayah lain di Jawa Barat.

Sebagai orang pesisir, tak heran jika beberapa cerpennya mempunyai latar kehidupan nelayan dan petambak. Laut, pantai, dan muara menjadi tempat sehari-hari sejumlah tokohnya, bukan sekadar tempat rekreasi seperti misalnya dalam novel Rajapati di Pananjung (1985) karangan Ahmad Bakri.       

Rajapati, Isu Lingkungan, dan Politik

Pada 2010, seorang kawan menulis cerpen yang dimuat di majalah Manglé. Ia menyudahi kisahnya dengan rajapati atau pembunuhan. Menurutnya, pilihan itu diambil karena ia ingin akhir yang fantastis.

Sejauh pembacaan saya terhadap cerpen-cerpen Sunda, rajapati memang beberapa kali muncul di penghujung kisah. Polanya sama, pengarang mula-mula membangun konflik yang eskalasinya kian menanjak, lalu menempatkan tragedi pembunuhan di bagian akhir yang dimaksudkan sebagai klimaks. Awalnya mungkin pembaca tak akan mengira demikian, tapi jika lama-kelamaan akan terbiasa dan mampu memprediksinya.

Cerpen-cerpen Darpan pun tak lepas dari rajapati. Motifnya rupa-rupa. Berseteru dengan anak sendiri gara-gara berbeda pendapat dalam merespons permasalahan sosial yang timbul akibat korupsi perangkat desa dalam cerpen “Taleus Ateul”. Protes dan frustasi akibat proyek pembangunan menggusur kampung dalam cerpen “Peuting nu Hareudang”. Dan cemburu karena istri ditiduri tetangga dalam “Si Ato Miara Jago”.

Selain dalam “Peuting nu Hareudang” yang menceritakan hilangnya sebuah kampung karena pembangunan pabrik, isu lingkungan dan ekonomi juga muncul dalam cerpen “Layung Geus Ririakan”—orang tua yang pendengarannya sudah buruk yang kehilangan sawah karena dijual oleh anaknya kepada orang-orang kaya, dan “Helikopter”—para petambak penghasilannya mulai berkang akibat pencemaran air.

Sedangkan isu politik selain muncul dalam cerpen “Teleus Ateul”, juga hadir dalam “Cikopi Sagelas”—rakyat jelata yang terhindar dari tekanan/sandra politik aparat desa karena anaknya berbeda pilihan dalam pemilihan lurah. Di pengujung kisah, Mang Karma, rakyat kecil itu akhirnya bisa kembali merasakan kehidupan yang tenang tanpa paksaan dan kesenangan semu yang sempat diberikan pemerintah desa.

“Nya ieu dunya aing. Dunya sagelas cikopi isuk-isuk, bari bébas mikir pigawéeun poé ieu. Henteu dipapaksa ku batur, henteu kudu sieun ku batur. Ah, naha aing salila ieu kaparabunan ku nu teu puguh? Ninggalkeun dunya aing nu sakieu bébas merdékana? Kétang aya hikmahna, aing jadi nyaho talajak hiji-hijina jelema. Mangsabodo, saha nu rék jadi lurah minggu hareup,” kata Mang Karma.

Cerpen lain yang juga memakai tema politik adalah “Nu Luas Ninggalkeun” dan “Patung jeung Hayam”. Meski cerpen “Nu Harayang Dihargaan” memang cukup menonjol sehingga dipilih jadi judul buku ini, yang menurut Duduh Durahman dalam pengantarnya mempunyai kesan “ngagalura, keras jeung kasar, unsur dramatikna kuat... carpon anu pangneundeutna, tapi pepel,” tapi menurut saya pribadi “Patung jeung Hayam” adalah cerpen yang gaya penceritaannya paling unik.

Dalam “Patung jeung Hayam” Darpan begitu tapis menggugat arti kepahlawanan yang pada umumnya hanya berhenti pada simbol. Diceritakan bagaimana pembangunan sebuah patung pahlawan memakan banyak biaya sehingga melebihi dari anggaran semestinya. Akibatnya, warga sekitar patung “katempunan”. Harta benda mereka yang tak seberapa dipakai untuk mendukung pembangunan patung tersebut. Bahkan seekor ayam warga pun akhirnya dirampas.

Lain itu, para pejabat dari kota yang melakukan perjalanan dinas ke desa untuk mengontrol dan memeriksa pembangunan patung kerap minta dilayani dengan berlebihan, salah satunya minta “ayam”.

Kumpulan 15 cerpen ini seluruhnya memotret nasib rakyat kecil yang hidupnya tak putus dirundung malang. Suara Darpan adalah suara wong cilik pesisir utara Jawa Barat dengan segala persoalannya. [irf]