18 March 2026

Blora - bagian 1


Karya: Pramoedya Ananta Toer

Saudara! Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh setiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya dengan lagu kebangsaan.

Dan hari ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga berlari-larian masuk ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan kecil itu semata-mata hanya untuk kesenanganku. Begini, saudara, Voorman kembali dari kantor kamp dan berteriak, “Pram!” aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris.” Seperti gagak dilempari batu datang saja seruan dari mulutku, “Oke, oke.”

Aku lari masuk ke dalam selku dan mengemasi pakaian, alat tidur, dan alat makan. Kawan-kawan ramai memasuki sel mengajak tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang menggerutui nasibnya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan terharu betapa juapun akan materialistisnya. Terutawa waktu aku berjalan ke kantor kamp dan mereka mengacung-ngacungkan tinjunya sambil memekik lemah, “Merdeka! Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup, “Keju enak, bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menjawab satu per satu. Kepalaku tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.

Pintu besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku digeledah. Apa yang akan didapatkan dari pada aku? Hanya pakaian yang kupakai dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang pada bagian bawah ada capnya begini, “de facto krijgsgevangenen kamp.” Dan hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membaca tulisan itu. Pandang tajam mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidupnya di sela-sela jari besi.

Pintu besi kedua aku lalui. Kawan-kawan di balik pintu masih mengacung-ngacungkan tinjunya. Dan mata yang kuyu jadi berapi-api meneriak pandang, “Merdeka! Merdeka!”

Aku sampai di pintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari mataku. Di punggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat di kamp, sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerja paksa di bengkel militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Steinbeck, satu buku Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore, dan buku Pelajaran bahasa Prancis yang tak pernah kupegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang ketiga itu.

Dan sekali lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tapi kali ini aku bersedih hati malah oleh tercapainya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.

Kini aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang siur bebas pula. Semua yang kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu tergantung pada keadaan hatinya.

Saudara, engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-mula begini: Aku makan sate di pasar Jatinegara—sekenyang-kenyangnya. Dan kubayar belanja itu dengan satu celana pendek. Cita-cita yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ke toko emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku yang kukasihi melayang pula. Dan akhirnya ke loket. Beli karcis. Melompat ke kereta api. Berjalan, saudara—menuju ke kota kelahiran: Blora!

Aku sendiri tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta api begitu cepat. Dan yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua menit. Kemudian hutan menyusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus pula ke pedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab, Jepang sudah dihukum mati dan digantung di mana-mana. Orang yang kalah perang.

Banyak kota hangus di sepanjang jalan kereta. Banyak dusun mati. Banyak jembatan ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geletar roda pada rel. Tapi kini jalannya tenang saja dan cepat.

Blora! Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkaupun akan begitu pula bila sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi, rasa—seperti daerah pedalama—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena, ketakutan itu datang juga jungkir balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga sudah mati. Oleh Komunis Muso atau oleh TNI atau oleh Belanda. Siapa yang membencanai keluarga itu tak menjadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku takuti. Dan ketakutan yang lain ialah ini: gerakan pembersihan yang sama saja ngerinya dengan gerakan pembersihan di mana-mana—dan gerakan gerilya, seperti gerilya lainnya di mana-mana. Dua-duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang zaman perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Persis seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan minta uang. Tetapi kalu kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar. Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal rupa.

Blora, saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termasyhur miskin itu? Nanti kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng lah nampak. Garang, saudara! Sepetti bangkai raksasa yang mulai pudar—kekuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang harus hiduo miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi jagal tak termasuk dalam istilah ini.

Blora, saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-mula yang kulihat ini: stasiun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir, waktu mereka diserbu oleh TNI. Di depan stasiun berjajar gedung-gedung orang Tionghoa. Semua inipun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika. Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakan.

Para penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik di kampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena, dia cantik sekali dan lamaranku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara, nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia bukan si cantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal dan bibirnya semerah cenger jago. Rambutnya tipis, matanya jalang dan tingkahnya genit.

“Mas,” tegurnya.

Dan aku menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan kuping. Dan dia berseru-seru. Aku cepatkan jalan. Tas kempes masih tersengkak di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang setengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah merdeka yang dimerdekakan.

Sebentar aku duduk di batuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia menggeliat-geliat senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan kebenaran. Dan yang terjadi itulah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.

Terbit niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik. Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahaknya hilang. Geliat senangnya hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air mata. Dia meronta kuat akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya kupegang erat. Kutarik akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.

Dengan kesakitan aku pergi tersipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiannya, dan nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk di batuan tadi. Memandangi Inah masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata yang menyampaikan kata tentang perjalanan hidupnya sesudah aku meninggalkannya. Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan suka rela mau menjual dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan mengapa aku jadi begini.”

Tiba-tiba Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang dibencinya tetapi yang dia harus masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke jeep-nya. Masih ada juga terdengar seruan pelan, “Mas—Mas—“. Kemudian lenyap seruan itu digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu menitikkan air mata. Dan mendadak pertanyaan padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidupnya sendiri. Dan siapakah yang memiliki hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di mana-mana pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Jawablah sendiri, saudara.

Kuturutkan jeep itu dengan mataku sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan jeep. Gairah kan bertemu dengan rumahtangga dan keluarga merujak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga cikar yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan runtuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang berkeliaran dengan perut kembung. Dan pengemis. Keadaan daerah merdeka yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda. (bersambung)

07 August 2025

Surat Perpisahan Acil The SIGIT

 



An ocean I can no longer fathom

Waves I can no longer ride

I find myself away from the bottom

With this feeling I can’t abide

 

A language I can no longer speak

Shivering words that left me weak

A presence I can not attend

Fate that I can not amend

 

This day has left me trembling

Coldness of that morning

The sadness of the mourning

 

The ship’s now sailing the high sea without a word

And I left my heart for you to decide my lord…

 

As I lay rest shield and my armour…

I turn myself ashore… to where I was before…



06 August 2025

Mayit Dina Dahan Jengkol: Janda sebagai Objek

Ini kisah tentang Sari, biasa dipanggil Nok Sari: janda muda dan cantik yang dianggap sebagai penyakit oleh ibu-ibu warga kampung. Sebabnya, para suami mereka, apalagi kaum bujangan, berebut mencari dan mencuri perhatiannya. Mereka, para lelaki itu, biasa berkumpul di warung Bi Isoh yang letaknya tiga rumah dengan kediaman sang janda.

Karena dagangannya jadi laku keras, baik kopi maupun goreng ulen, Bi Isoh jadi salah satu perempuan yang "tak membenci Sari", malah berharap janda itu tak segera menikah agar warungnya terus ramai dikunjungi.

Percakapan-percakapan di warung Bi Isoh selalu tentang Sari, dipadu dengan canda dan tawa yang riuh. Pendeknya, para lelaki itu menjadikan Sari sebagai objek. Saat menggambarkan dialog-dialog tersebut, Ahmad Bakri si pengarang begitu tapis.

Perceraian Sari dengan suaminya mula-mula tak banyak yang menduga. Rumah tangga mereka dianggap biasa. Hanya saja suaminya memang di luar kota untuk mencari nafkah. Dan sebelum mendapatkan rumah yang layak, Sari dititipkan sementara di rumah orang tuanya.

“Muhun [salaki Nyi Sari téh] ti Bandung ngalih ka Batawi. Méméh kénging bumi sina di dieu heula, ongkoh dibaeukeun ku sepuhna, bilih dibabawa métak (tinggal di rumah petak) cenah. Pa Mandor téa atuh, uninga ieuh, teu paya pisan ningali kirang sautik ge,” jawab Bi Isok kepada seorang pemuda.   

Suatu hari, Sari hilang saat mencuci baju di tampian. Darah segar berceceran di sekitar tempat dia mencuci. Warga kampung heboh bukan kepalang. Mereka segera menyusuri sungai untuk mencarinya. Beberapa orang yang melihatnya pada saat-saat sebelum dia menghilang, dipanggil. Dari jawaban-jawaban para “tersangka”, seseorang disuruh untuk menjemput orang yang para “tersangka” sebutkan.

Namun, saat orang yang disuruh itu belum sampai ke tujuan, hal menggemparkan lainnya kembali terjadi.

Berbulan-bulan kemudian, warga menemukan sesosok mayat yang tergantung di dahan pohon jengkol. Kampung yang semula telah reda, kembali geger. Peristiwa ini awalnya tak terbongkar, tersimpan rapi selama berbulan-bulan: antara bunuh diri atau rajapati. 

Novel ini kembali membuktikan kepiawaian Ahmad Bakri dalam membangun rasa penasaran pembaca. Namun, setali tiga uang dengan novela “Dina Kalangkang Panjara” dan “Kacaangan ku Panékér”, semuanya tak menggoreskan konflik kejiwaan yang kompleks. Atau tak secanggih cerita Laleur Bodas karya Samsu yang menghadirkan sosok misterius.

Namun demikian, Mayit Dina Dahan Jengkol berhasil memotret keadaan sosial masyarakat Sunda di perkampungan tempo dulu—atau mungkin masih terjadi sampai hari ini—yang memperlakukan janda sebagai anggota masyarakat yang tak diinginkan dan sumber penyakit.     

Sari dalam novel ini menjadi korban berlapis. Dia tak sanggup menggapai cita-citanya meraih hidup bahagia. Kecantikan dan statusnya sebagai janda menjadi kambing hitam. Di tengah sistem sosial yang rapuh bagi perempuan, dia tak berkutik. [irf]

28 July 2025

Nu Harayang Dihargaan: Darpan dan Cerita-Cerita dari Utara

Dalam pengantar buku kumpulan cerpen ini, Duduh Durahman menyinggung soal komposisi nama pengarang, yakni Darpan Ariawinangun. Menurutnya, gabungan kedua nama itu secara kebiasaan bertolak belakang, karena menggabungkan nama yang lumrah dipakai rakyat jelata dengan nama menak.

Nama Darpan, tambahnya, sederajat dengan nama Salhiam, Mang Uham, atau Kang Nurhayi. Sementara Ariawinangun betul-betul nama ningrat. Lain itu, kata Duduh, pengarang kiwari jarang yang memakai nama yang berbau priyayi.

Namun di sejumlah bukunya, pengarang hanya menyantumkan Darpan—nama merakyat itu—tanpa menambahkan nama belakang. Saat menamatkan 15 cerpen dalam buku ini, kiranya tepat jika dia hanya memakai nama Darpan, karena seluruh cerita yang ia reka menggambarkan kehidupan rakyat jelata dengan segala kemalangan dan kepahitannya dalam melakoni hidup.

Darpan lahir pada 4 Mei 1970 di Sungai Ula, Cibuaya, pesisir Karawang. Berbeda dengan sejumlah pengarang Sunda yang lebih senior darinya, yang kebanyakan berasal dari wilayah Priangan, Darpan orang utara. Bahasa Sunda yang ia pakai pun terdapat beberapa perbedaan dengan dialek Priangan. Meski demikian, di bagian akhir buku ini terdapat keterangan “Bahasa Wewengkon”, yakni kosakata yang dipakai Darpan dan mungkin tidak biasa atau jarang didengar orang orang Sunda dari wewengkon/wilayah lain di Jawa Barat.

Sebagai orang pesisir, tak heran jika beberapa cerpennya mempunyai latar kehidupan nelayan dan petambak. Laut, pantai, dan muara menjadi tempat sehari-hari sejumlah tokohnya, bukan sekadar tempat rekreasi seperti misalnya dalam novel Rajapati di Pananjung (1985) karangan Ahmad Bakri.       

Rajapati, Isu Lingkungan, dan Politik

Pada 2010, seorang kawan menulis cerpen yang dimuat di majalah Manglé. Ia menyudahi kisahnya dengan rajapati atau pembunuhan. Menurutnya, pilihan itu diambil karena ia ingin akhir yang fantastis.

Sejauh pembacaan saya terhadap cerpen-cerpen Sunda, rajapati memang beberapa kali muncul di penghujung kisah. Polanya sama, pengarang mula-mula membangun konflik yang eskalasinya kian menanjak, lalu menempatkan tragedi pembunuhan di bagian akhir yang dimaksudkan sebagai klimaks. Awalnya mungkin pembaca tak akan mengira demikian, tapi jika lama-kelamaan akan terbiasa dan mampu memprediksinya.

Cerpen-cerpen Darpan pun tak lepas dari rajapati. Motifnya rupa-rupa. Berseteru dengan anak sendiri gara-gara berbeda pendapat dalam merespons permasalahan sosial yang timbul akibat korupsi perangkat desa dalam cerpen “Taleus Ateul”. Protes dan frustasi akibat proyek pembangunan menggusur kampung dalam cerpen “Peuting nu Hareudang”. Dan cemburu karena istri ditiduri tetangga dalam “Si Ato Miara Jago”.

Selain dalam “Peuting nu Hareudang” yang menceritakan hilangnya sebuah kampung karena pembangunan pabrik, isu lingkungan dan ekonomi juga muncul dalam cerpen “Layung Geus Ririakan”—orang tua yang pendengarannya sudah buruk yang kehilangan sawah karena dijual oleh anaknya kepada orang-orang kaya, dan “Helikopter”—para petambak penghasilannya mulai berkang akibat pencemaran air.

Sedangkan isu politik selain muncul dalam cerpen “Teleus Ateul”, juga hadir dalam “Cikopi Sagelas”—rakyat jelata yang terhindar dari tekanan/sandra politik aparat desa karena anaknya berbeda pilihan dalam pemilihan lurah. Di pengujung kisah, Mang Karma, rakyat kecil itu akhirnya bisa kembali merasakan kehidupan yang tenang tanpa paksaan dan kesenangan semu yang sempat diberikan pemerintah desa.

“Nya ieu dunya aing. Dunya sagelas cikopi isuk-isuk, bari bébas mikir pigawéeun poé ieu. Henteu dipapaksa ku batur, henteu kudu sieun ku batur. Ah, naha aing salila ieu kaparabunan ku nu teu puguh? Ninggalkeun dunya aing nu sakieu bébas merdékana? Kétang aya hikmahna, aing jadi nyaho talajak hiji-hijina jelema. Mangsabodo, saha nu rék jadi lurah minggu hareup,” kata Mang Karma.

Cerpen lain yang juga memakai tema politik adalah “Nu Luas Ninggalkeun” dan “Patung jeung Hayam”. Meski cerpen “Nu Harayang Dihargaan” memang cukup menonjol sehingga dipilih jadi judul buku ini, yang menurut Duduh Durahman dalam pengantarnya mempunyai kesan “ngagalura, keras jeung kasar, unsur dramatikna kuat... carpon anu pangneundeutna, tapi pepel,” tapi menurut saya pribadi “Patung jeung Hayam” adalah cerpen yang gaya penceritaannya paling unik.

Dalam “Patung jeung Hayam” Darpan begitu tapis menggugat arti kepahlawanan yang pada umumnya hanya berhenti pada simbol. Diceritakan bagaimana pembangunan sebuah patung pahlawan memakan banyak biaya sehingga melebihi dari anggaran semestinya. Akibatnya, warga sekitar patung “katempunan”. Harta benda mereka yang tak seberapa dipakai untuk mendukung pembangunan patung tersebut. Bahkan seekor ayam warga pun akhirnya dirampas.

Lain itu, para pejabat dari kota yang melakukan perjalanan dinas ke desa untuk mengontrol dan memeriksa pembangunan patung kerap minta dilayani dengan berlebihan, salah satunya minta “ayam”.

Kumpulan 15 cerpen ini seluruhnya memotret nasib rakyat kecil yang hidupnya tak putus dirundung malang. Suara Darpan adalah suara wong cilik pesisir utara Jawa Barat dengan segala persoalannya. [irf]

05 July 2025

Pager Ayu

Karya: Dede Mudopar

Tadina mah mugen. Horéam milu. Ngan si Uton mani maksa ngajak ngabaturan. Ngabaturan ka ondangan kawinan babaturanana di Maja.

Kuring jeung si Uton datangna rada pandeuri. Teu bareng jeung rombongan pangantén lalaki. Anjog ka tempat nu boga hajat téh balandongan geus pinuh ku tatamu ti pihak lalaki nu nganteurkeun jeung ti pihak awéwé nu nyampakkeun. Lah rék diuk di tukang wé, ceuk pikir. Tapi si Uton ngabebedol leungeun, séséléké ngajak diuk rada di hareup, tukangeun para sesepuh. Méh atra ningali akadna, cenah.

Katingali pangantén lalaki diuk dina korsi panjang diapit ku lebé jeung ajengan. Nyanghareupan méja nu jangkungna méh satuur. Na méja katangén aya surat kawin jeung kado dibungkus ku kertas nu rupana konéng emas. Jigana jerona mas kawin. Hareupeun éta méja aya deui korsi panjang nu kosong kénéh. Keur diuk pangantén awéwé meureun.

MC muka acara. Terus ngamanggakeun ka pangantén awéwé supaya diuk dina tempat nu geus disadiakeun. Korsi panjang téa. Kurunyung pangantén awéwé diaping ku pager ayu di kénca-katuhueunana.

Kuring merhatikeun panganten lalaki nu ngan katempo tonggongna. Katangén naék turun. Rénghap-ranjug. Geumpeur tayohna. Bisi salah ngomong dina waktu ijab kobul.

Pangangguran kuring ngarérét ka pager ayu katuhueun pangantén awéwé. Ké asa wawuh, ceuk pikir. Ngan saha éta? Di mana? Sugan pédah kahalangan nu make up nu kandél, jadi mani hésé nginget nu diteuteup téh. Uleng mikir. Nginget-nginget bari angger teu leupas neuteup si pager ayu. Inget! Gebeg. Ngagebeg. Yati. Geuning Yati. Enya Yati. Moal salah. Yati.

Geus teu kadéngé sora MC nu ngatur acara. Geus teu maliré deui runtuyan acara nu keur dilakonan. Kuring ngadon ngahuleng bari teuteup teu leupas ti si pager ayu. Tapi nu diteuteupna mah bangun teu sadareun, anteng wé tungkul bari ngiplik-ngiplik kipas. Ngipasan pangantén.

Enya Yati, gerentes haté. Yati nu éta. Nu baheula kungsi tapa salila-lila di jero haté. Yati nu tujuh taun katukang ngeusi sanubari tur teu bisa ditukeuran nu inten. Yati nu tungtungna ngajejewet haté kuring. Yati nu tujuh taun katukang ngudar jangjina. Jangji duaan. Jangji hirup babarengan. Yati nu ingkar tina jangji alatan kagoda ku banda. Kagoda ku harta. Kawin jeung harta.

Harita. Tujuh taun katukang. Yati kawin. Sanggeus kawin, tuluy manéhna pindah ti lembur. Ka Jatitujuh cenah pindahna téh. Dibawa ku salakina. Haté peurih. Peurih pisan. Pikeun ngabangbrangkeun haté nu tatu, kuring ngumbara ka Ciamis. Nya di Ciamis pisan kuring panggih jeung Nani. Nani nu anyeuna jadi pamajikan kuring. Nani nu bisa ngagantikeun Yati. Nani nu asih jeung geugeutna bisa matak poho ka Yati. Yati nu jadi indung budak kuring.

Tapi naha anyeuna nu kapikiran téh ngan Yati? Yati nu aya di hareupeun kuring. Lain Nani nu kapikiran téh. Lain. Tapi Yati. Teu inget ka haté nu kungsi raheut ku manéhna. Nu aya na haté téh ngan asih nu baheula leungit, kahilian ku asih nu anyeuna eunteup deui. Jadi deui. Hejo deui. Nyaliara deui.

“Alfatihah...”

Kuring ngarénjag. Sadar tina lamunan. Bakat husu ngalamun teu sadar geus réngsé akad nikah téh. Du’a panutup gé geus bérés. Tuluy dua pangantén diiringkeun asup ka imah... Angger diaping ku para pager ayu. Yati salah sahijina.

MC ngamanggakeun ka para tatamu supaya parasmanan heula. Si Uton, di gigireun cengkat.

“Hayu dahar heula, No!” ceuk si Uton.

“Nam we ti heula,” tembal kuring. Si Uton ngaléos, muru parasmanan. Kuring ngajentul kénéh dina korsi. Ngalamun kénéh. Ngalamunkeun si pager ayu téa. Yati téa. Aya nu noél kana cangkéng, kuring kagebah tina lamunan, barang dilieuk, geuning... Yati. Yati geus diuk di  gigireun.

“Kang Nono?” nanyana bari neuteup. Teuteupna. Teuteup nu baheula.

“Muhun, Yati?” tembal kuring.

“Muhun, Akang geuning aya di dieu? Damang Kang?” Yati imut. Imut nu baheula.

“Ieu nganteur réréncangan. Alhamdulillah damang. Yati bet aya di dieu? Sanés kapungkur basa ngalih téh ka Jatitujuh?” omong kuring.

“Pan dua taun kapengker abdi sareng pun lanceuk téh ngalih ka dieu, ka Maja. Nembé sataun di dieu, pun lanceuk ngantunkeun,” tembal Yati. Tungkul. Paromanna robah. Jadi alum.

“Ngantunkeun? Innalillahi,” ceuk kuring bari neuteup. Yati tungkul kénéh. Geuning Yati téh geus jadi randa, ceuk kuring na haté.

“Eu... Yat, tos kagungan sabaraha putra?” tanya téh, mengpajarkeun jejer omongan.

“Numawi, Kang, abdi mah teu gaduh putra. Ditakdirkeun moal gaduh turunan ku Pangeran. Ari Akang tos kagungan sabaraha?” tanya Yati bari beungeutna cengkat deui. Neuteup deui. Kuring teu langsung némbal. Ngahuleng heula. “Gabug” geuning Yati téh.

“Eu... Akang mah tos gaduh dua. Lalaki sadayana,” témbal kuring.

“Euleuh pameget sadayana? Karasép panginten nya? Jiga ramana,” ceuk Yati. Imut. Imut nu asa béda. Asa ngagoda. Haté jadi teu pararuguh rarasaan.

“Heuheu... muhun atuh,” témbal kuring bari nyéréngéh. Yati ngan imut.

“Euh Kang, sindang atuh ka rorompok, da caket ti dieu téh, tah lebet ka gang nu éta,” Yati nunjuk ka gang peuntaseun imah nu boga hajat.

“Mangga Yat, sanés waktos wé, isin ongkoh,” cekeng.

“Ih, iraha sanés waktos téh? Yu anyeuna wé sindang heula. Jih isin ku saha da teu aya sasaha. Yu Kang ngobrolna cuang di rorompok wé, méh rinéh ongkoh ngobrolna,” Yati néréwéco.

Kuring ngahuleng. Anéh. Haté nu baheula kungsi ngedalkeun “cadu” kudu ngomong deui jeung Yati anyeuna bet léah. Haté nu baheula gorowong ku Yati anyeuna bet jadi cageur ku kabungah. Bungah pédah panggih deui jeung Yati. Yati nu baheula...

“Mangga atuh,” kuring cengkat. Yati cengkat.

“Antosan heula sakedap, Yat!” ceuk kuring bari ngaléos rék néangan si Uton. Kapanggih si Uton keur nyerebung udud na korsi, bérés dahar tayohna.

“Ton, bisi rék balik mah jung wé ti heula. Heug pangbéjakeun ka Nani, kuring balikna peuting, da rék ka Talaga heula, rék nyimpang heula ka Wa Haji, kituh. Peupeujeuh nya Ton béjakeun,” ceuk kuring.

Katingali beungeut si Uton rada kerung. Pinuh kahéran. Kuring langsung ngaléos. Teu ngadagoan jawaban Uton. Muru Yati. Kabetot ku imut Yati. Yati nu baheula... [ ]

 

Jatinangor, 24 Pebruari 2010