20 March 2026

Blora - bagian 2

Tiba-tiba ada orang yang memanggil aku: “Agus. Agus.” Dan aku berhadapan dengan nenek kerdil yang berkerinyut mukanya. “Agus,” panggilnya pula pelan dan dipeluknya aku dengan tenaga tua. Dan dia tersenak-senak menangis. “Engkau masih hidup, Gus? Aku tahu juga engkau masih hidup.” Dan aku perasa lagi. Sebab, aku jadi terharu lagi. Lebih terharu oleh bau pakaian dan badannya yang terlalu tengik. Dan lebih tengik dari pakaianku sendiri. Si Inah ada juga teringat sedikit: tapi tidak seluruhnya. Dan di bawah mataku: rambut putih, kumal, dan masam. Mukanya hilang dalam dadaku. Kuduknya penuh kudis dan pada bahu kanannya tampak tali serat nanas—ke bawah teringat pada karung tikar. Dia pengemis, saudara, dan sebetulnya aku tak mau menyebut pengemis. Sebab, semua orang juga pengemis—lahir atau batin. Tapi memanglah sudah adat dunia, nama yang jelek itu selalu dikasihkan kepada orang yang tak bisa mempertahankan diri. Dan lagi, saudara, orang yang tak punya duit tak boleh masuk jadi anggota masyarakat. Dan mereka dinamai sampah masyarakat. Orang yang di depanku itu adalah pengemis—sampah masyarakat.

“Siapa nenek?” tanyaku jijik.

Tangisnya meningkat. Pegangannya dieratkan, tak aku lepas dari pegangannya. Antara tangisnya terdengar ini:

“Gus, Gus. Engkau tak mau kenal aku lagi? Aku nenek kau.”

Nenekku! Dan aku jadi perasa pula. Ya, nenekku memang sekerdil itu. Kupeluk dia erat-erat. Di pinggir jalan dekat stasiun. Kemudian kami pun berjalan. Berjalan saja. Tangannya tak lepas memegangi aku. Dan oleh pegangan ini kawan-kawan perempuan dulu tak mau tahu lagi. Baik juga. Kami mampir di kuburan bunda. Kuburan yang tak sebersih dulu. Seluruhnya telah tertutup lalang tinggi dan tebal. Berdua kami cari kuburan bunda. Hanya dengan susah payah saja bisa kami dapati. Kemudian kami cabuti rumputnya.

Kalau keadaan pembukaan begini buruk, pujaan jadi barang remasan serdadu, nenek jadi pengemis, kuburan jadi ladang lalang, gampanglah mengira-ngirakan betapa keadaan rumah tanggaku. Dan engkau pun bisa mengira-ngirakan sendiri, saudara.

Dalam mencabuti lalang itu terbayang keadaan dulu, saudara. Ini: tentara Hindia Belanda yang kurang lebih satu resimen lari pontang-panting waktu satu seksi Jepang mendarat di Lasem. Kemudian pertempuran yang hebat terjadi. Dan yang diamuk—teng-teng bensin di sekitar Blora. Dan Jepang masuk dengan amannya. Dan ibuku mati dua bulan kemudian. Begitu besar kepercayaan bunda, Belanda akan mengangkat bapak jadi “schoolopziener”. Kenyataan mengajarkan padanya, beslit tak bisa dibuat oleh pemerintah yang kalah. Dalam menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang sama, adikku yang terkecil menyusul pula ke alam baka. Kuburan bunda bersatu lahat dengan adikku itu.

Dengan tangan lesu kuhapus tonggak kepala yang penuh oleh lumpur kering dan muncullah tulisan dari ter yang berbunyi, “Siti Saidah dan Sri Susanti”.

Aku benci pada doa. Tapi sekali ini aku terpaksa mendoa juga dan berbisik, “Bu, anak kau datang.” Dan terbayang ibuku duduk termenung-menung di teritis depan dengan rambutnya yang tipis dibuai-buai angin. Waktu itu aku berumut tujuhbelas. Dan aku bilang, “Bu, aku minta cincin.” Dan ia menjawab, “Apa yang kau minta lagi dari aku? Aku tinggal menunggu mati saja, Muk.” Dan sebulan kemudian matilah ibu. Sejak itu aku tak pernah minta apa-apa lagi sampai sekarang. Saudara, adik-adik dan semua kerabat memanggil aku Muk.

Sekali ini aku tak mau bercerita tentang matahari yang terbit dan terbenam, atau tentang hujan dan badai. Aku sudah bosan. Sekarang aku mau bercerita tentang bunga—aku tak tahu namanya—satu-satunya yang tumbuh di kuburan. Aku petik dia. Dan warnanya biru muda. Warna yang kusukai. Dan aku pasang bunga itu di atas tonggak kepala. Agak lama aku memandangi bunga itu. Dan nenek berdiam diri saja. Tangannya masih jua memegangi lenganku.

Kemudian kami berjalan pula. Tiap bertemu dengan serdadu pendudukan, hatiku kutabahkan. Kalau mereka tahu aku bekas tawanan dan belum minta izin datang di daerah baru, pasti aku ditangkap lagi. Selamat—selamat selalu.      

Kota sepi saja. Tambah masuk ke kampung tambah kerap kami bersua dengan kanak-kanak. Akhirnya kamu melalui sekolahanku dulu Budi Utomo. Untuk lulus kelas tujuh, sepuluh tahun aku duduk di bangku itu. Kini, sekolahan itu bukan kepunyaan bapakku lagi. Sudah dibaktikan bapakku kepada Jepang. Dan bukan lagi nama Budi Utomo yang terpasang di situ. Ganti waktu, ganti keadaan.

Nenek masih tetap memegangi lenganku. Dan jalannya sangat pelan. Kini sampailah kami ke kampung—dulu. Tapi kini kampung orang. Dan tiap muka yang terpapas di jalan, pengap oleh ketakutan. Tiap mata lesu tapi cepat seperti putar dadu oleh kecurigaan. Peluru sangat murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun harga jiwa manusia. Tapi aku tak suka mengumbar kecurigaan.

Dari jauh tampak pagar hidup pekaranganku—kenuning-kuningan. Tapi atap rumahku tak kelihatan lagi. Dan datang saja pikiranku, Komunis yang membakarnya. Bapakku anti komunisme. Dulu aku pernah bertanya begini, “Pak, bagaimana kalau pengajaran di Indonesia diselaraskan dengan pengajaran di Rusia?” Dia menjawab, “Itu? Angkat saja Indonesia ke Rusia dan nanti kau mendapat jawaban sendiri.” Dan aku berdiam diri. Pokok kelapa yang selama ini berdiri di belakang dapur dan sudah bertahun lamanya berjasa mengurangi belanja ibu, kini kulihat sudah gundul, tonggak tinggi yang tak berdaun lagi.

Jalan yang kulalui itu dari batu. Tapi suasana kanak-kanakku lenyap. Tak ada lagi anak-anak bermain bal di tengah jalan dengan tiang goal dari baju dan batu. Sunyi saja. Jalan itu membelok. Dan bila terus saja sampailah di jalan kerbau yang menuju ke Kali Lusi. Jauh di kelokan ini kulihat anak kecil telanjang membawa kapak penangkap belalang. Dan di belakangnya mengikuti ayam kecilnya.

Baru nenekku membuka mulut lagi, “Gus, itu adik kau.”

“Siapa? Cuk?” tanyaku.

Nenek mengangguk. Dan aku berteriak memanggil. Dari jauh dia mengamati. Kemudian berlari-larian kepada aku dengan kaki pincang. Di tengah jalan ia berhenti. Kemudian lari lagi. Aku pun mencepatkan jalan. Cepat aku angkat dia, aku gendong. Umurnya baru tujuh tahun—telanjang bulat.

“Mengapa engkau pincang, Cuk?” tanyaku.

Dan dia menangis. Aku ciumi dia sambil berjalan. Pelan anak itu menjawab, “Kata bapak dimakan borok, Mas.”

Nenek berdiam diri saja.

“Mas, Mbak Kun tiap hari merendam kakiku di air garam. Aku lantas bisa berjalan sedikit. Tapi sekarang jadi pincang.” Dia tersedu-sedan. “Engkau bisa mengobati, Mas? Engkau membawa obat, Mas? Pasti engkau membawa obat.” Tangisnya hilang. “Dulu engkau datang dan aku kaubelikan kambing. Sekarang kambing itu hilang, Mas. Kata Mbak Kun dimakan luak. Engkau mau membelikan lagi, Mas? Engkau mau bukan, Mas?”

Dan adikku menangis lagi—seperti nenek-nenek tangisnya. Aku jadi perasa lagi. Dia toh adikku? Aku toh boleh turut merasakan kakinya yang besar sebelah? Dan aku menjawab menggembirai, “Tentu.” Dan adikku diam.

“Mas, engkau sekarang membawa obat, bukan? Mereka menamai aku si pincang. Aku tak mau, Mas. Tapi mereka menamai saja. Kalu ada engkau, tentu mereka tak berani lagi bukan, Mas? Tak berani lagi, bukan? Pasti mereka kau gebuki, seperti dulu engkau menggebuki Mas Lik karena tak mau mandi. Tapi aku selalu mau mandi, Mas. Engkau membawa obat ya, Mas?”

“Ya, aku membawa obat.”

“Aku juga tahu, engkau mesti membawa obat.”

“Engkau sudah kelas berapa, Cuk?”

Adikku menangis lagi. Lama baru bisa menjawab, “Aku tak bersekolah, Mas.” Dia tersedan-sedan. “Kata bapak aku cengeng. Aku tak cengeng bukan, Mas? Tak cengeng, bukan?”

“Tidak,” dan aku cium pula pada mukanya yang basah oleh air mata—muka yang pucat.

“Kalau begitu, nanti aku boleh ikut ke Jakarta, bukan? Naik mobil dan lihat Pasar Gambir? Bukan, Mas? Aku boleh turut ke Jakarta, bukan?”

“Tentu saja boleh.”

“Aku tahu juga. Pasti boleh. Mana mobil kau sekarang, Mas? Diminta Jepang? Aku selalu tanya pada bapak, engkau tak pulang-pulang juga. Kata bapak engkau ditangkap Nica. Engkau tak ditangkap, bukan? Engkau berani, bukan?”

“Tidak, aku tak ditangkap.”

“Mobil kau tak dirampas Nica, bukan?

“Tidak.”

“Aku tahu juga, bapak bohong.”

“Engkau masih suka menyanyi, Cuk?”

“Tidak boleh, Mas,” tiba-tiba tangisnya meledak sejadi-jadinya. Dan kembali aku ciumi dia.

“Mengapa menangis, Cuk? Siapa yang melarang? Engkau dulu senang menyanyi di pohon jambu.”

“Mas, semua melarang aku menyanyi,” sedu sedan. “Dan pohon jambu sudah dibakar. Dibakar Komunis, Mas.” Sedu sedan. “Sekarang engkau datang. Aku mesti boleh menyanyi lagi.”

Mata Cuk, adikku yang terkecil berseri-seri.

“Mas, Mbak Kun bilang, kalau aku menyannyi ‘Dari Barat samapi ke Timur’ katanya nanti Nica datang dari Barat dan Timur dan membakar kakiku yang pincang. Sekarang tidak lagi. Aku boleh menyanyi bukan, Mas?”

Sedu sedannya yang terakhir lenyap. Dengan suara lantang ia berteriak menyanyi, “Dari Barat sampai....”

Cepat-cepat aku sumbat mulutnya dengan tapak tangan. Ia meronta dan menangis. Tanganku gemetar oleh teriaknya.

“Jangan. Jangan menangis!” aku melarang.

Tangisnya hilang. Tinggal sedu sedan. Dan tanagnku kulepas. Alangkah kurus adikku. Dengan mata benci dipandangnya aku. Dan air matanya tetap menggelinang. Di antara sedu sedannya dia berkata, “Engkau juga melarang, Mas? Ah, jangan gendong aku. Engkau Nica, Mas! Engaku Nica.”

“Tidak, Cuk,” hiburku. Dan matanya telah sebak. “Nanti kakikau kuobati. Kalau sudah sembuh nanti boleh menyanyi lagi.”

Sedan-sedannya terpatah-patah. Dan Cuk mulai gembira lagi.

“Engkau mengajadi aku abese nanti, ya Mas? Seperti dulu Mbak Kus kau ajari. Tapi engkau tak kan mengetuki kepalaku dengan sendok, bukan? Dan aku boleh turut ke Jakarta. Dan naik mobil ya, Mas? Dan melihat kapal...”

“He-e: Mbak Kus masih sekolah, Cuk?”

“Tak ada yang sekolah lagi sekarang, Mas. Mbak Kus sudah pulang dari Pati jalan kaki. Katanya tak ada sekolahan lagi.”

“Mas Lik di mana, Cuk?”

“Dibawa Nica, Mas. Kata tuan, dia pemuda.”

Dadaku berdentam. Oh, dia masih kanak-kanak, baru empat belas. Tapi apakah salahnya? Penjara yang baru kutinggalkan pun berisi dua orang anak seumur itu.

“Bapak di mana, Cuk?”

“Bapak di bawah pohon duat.”

“Tidak dibakar pohon itu?”

“Tidak, Mas. Bapak di situ saja, Mas, menulis dan menembang.”

“Menembang apa?”

“Permadi dan Sumbodro, Mas. Dan menulis saja sampai malam.”

Kami berjalan terus. Nenek tetap berdiam diri. Rumah sudah dekat tapi tak jua tampak atapnya. Di sela-sela pagar hidup yang kuning kecoklat-coklatan aku lihat runtuhan rumahku—tembok dan arang. Dan sama saja seperti di mana-mana. Sampai di belokan jalan, jauh aku lihat sepasukan serdadu sedang berpatroli. Dan adikku menuding ke arah patroli itu.

“Dia datang lagi, Mas. Si tuan. Dia selalu datang ke sini. Aku kerap dikasih permen dan dia senangnya mengobrol dengan Mbak Kus. Bapak tak senang. Dia senang di bawah pohon duat dan menulis dan menembang saja. Dan kalau si tuan datang, Mbak Kus terus lari ke balakang dan menangis dan aku turut menangis.”

“Mengapa menangis, Cuk?”

“Engkau tak datang-datang juga Mas. Dan katanya si tuan mau membawa Mbak Kus, jauh—jauh sekali. Itu, Mbak Kus, Mas!”

Cuk menuding ke arah dekat unggukan batu. Oh, adikku perempuan yang tercantik dan tercerdas. Dia baru berumur enam belas dan baru di kelas dua SMP Pati. Di antara sela-sela pagar hidup yang mati itu kulihat parasnya yang jernih sudah keruh. Dan kulitnya yang kuning kini kehitam-hitaman. Cuk berteriak keras-keras, “Mbak Kus, Mbak Kus! Mas Muk datang.”

Gadis itu berlari-lari ke jalan. Dia masih setangkas dua tahun yang lalu. Segera dipeluknya aku. Berkata gairah, “Engkau datang, Mas. Alangkah lama engkau di penjara. Engkau kurus sekali, Mas, rumah dibakar. Engkau tak punya kamar lagi. Dan buku-buku kiriman kau dulu, semua sudah dirampas Mas To.”

“Mas To siapa?”

“Kawan kau main musik dulu.”

“Mengapa dirampas?” tanyaku.

“Karena, karena, engkau dan Mas Wit tentara.”

“Dia Nica?”

“Komunis. Aku tak bisa belajar lagi, mas. Oh, alangkah tipis lengan kau. Engkau masih mau makan nasi jagung, mas?”

Kami masuk ke dalam pelataran. Dan aku menjawab, “Masih.”

Semua adik datang mengerubung. Kun, Um, Kus, dan Cuk. Bapak meninggalkan pohon duat sambil membawa bukunya. Bertanya, “Selamat, Muk?”

“Pengestu, bapak.”

Dan bapak kembali ke bawah pohon duat.

“Mas Muk,” tegur Kun. “Surat kau melalui Palang Merah setahun yang lalu sudah kuterima.”

“Mengapa tak kau balas?”

“Sudah lima belas kali aku menulis. Tapi surat kau tak datang lagi,” dan ia menarik napas panjang.

“Aku tak pernah menerima.” Kemudian aku berbisik pada Kun, adikku yang sudah berumur delapan belas dan sudah menikah dengan prajurit dari Divisi Djatikusumo—“Mengapa nenek kau biarkan jadi pengemis?”

Nenek yang membisu saja dari tadi tersedan-sedan dan menyembunyikan mukanya ke dalam kainnya. Kemudian dia menjauh, duduk di tengah pintu gubuk dan membungkuk seperti katak. Kun menyinarkan penyesalan pada matanya.

“Mas, makan kami hanya dari tanaman jagung pekarangan yang tak lebar ini. Adik-adikmu yang mengerjakan. Bapak menulis saja di bawah pohon dan tak kan bergerak dari situ bila matahari belum terbenam. Maksudku, aku tak mau memaksa bapak mencangkul. Malah waktu letnan Belanda datang kemari menawarkan pangkat pegawai pengajaran untuk Karesidenan Pati, aku juga yang menjawab, “Bapak sudah tua, aku tak mengizinkan dia bekerja lagi.” Karena itu penghasilan sedikit sekali dan makanan harus dibagi seadil-adilnya. Dan nenek mencuri bagian Cuk. Aku marahi dan dia pergi. Adik-adik bilang, nenek jadi pengemis di stasiun. Mereka kusuruh membawa pulang nenek. Tapi nenek tak mau. Aku sendiri mengajaknya pulang. Dan dia bilang, “Aku tak mau pulang. Aku menunggu Gus Muk.’’ Dan aku bilang, “Mas Muk tak pulang. Dia ditangkap Nica.” Tapi dia tak mau peduli dan selalu tinggal di stasiun.

Nenek menangis. Dalam sedu sedannya.

“Nek,” panggilku. Tapi dia tak peduli. (bersambung)

No comments: