Karya: Pramoedya Ananta Toer
Saudara!
Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh setiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat
kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat
saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat
tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya
dengan lagu kebangsaan.
Dan hari
ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga berlari-larian masuk
ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan kecil itu semata-mata hanya
untuk kesenanganku. Begini, saudara, Voorman kembali dari kantor kamp dan
berteriak, “Pram!” aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau
dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris.” Seperti gagak dilempari batu
datang saja seruan dari mulutku, “Oke, oke.”
Aku lari
masuk ke dalam selku dan mengemasi pakaian, alat tidur, dan alat makan. Kawan-kawan
ramai memasuki sel mengajak tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup
pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang
menggerutui nasibnya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan
terharu betapa juapun akan materialistisnya. Terutawa waktu aku berjalan ke
kantor kamp dan mereka mengacung-ngacungkan tinjunya sambil memekik lemah, “Merdeka!
Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian
teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup, “Keju enak,
bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menjawab satu per satu. Kepalaku
tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.
Pintu
besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di
belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku
dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku
digeledah. Apa yang akan didapatkan dari pada aku? Hanya pakaian yang kupakai
dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang
pada bagian bawah ada capnya begini, “de facto krijgsgevangenen kamp.” Dan
hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membaca tulisan itu. Pandang tajam
mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidupnya di
sela-sela jari besi.
Pintu
besi kedua aku lalui. Kawan-kawan di balik pintu masih mengacung-ngacungkan
tinjunya. Dan mata yang kuyu jadi berapi-api meneriak pandang, “Merdeka! Merdeka!”
Aku sampai
di pintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari
mataku. Di punggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat di kamp,
sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerja paksa di bengkel
militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Steinbeck, satu buku
Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore, dan buku Pelajaran bahasa Prancis
yang tak pernah kupegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang
ketiga itu.
Dan sekali
lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku
dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku
berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya
timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tapi kali ini aku bersedih hati
malah oleh tercapainya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan
pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada
kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.
Kini
aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang siur bebas pula. Semua yang
kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu
tergantung pada keadaan hatinya.
Saudara,
engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-mula begini: Aku makan sate
di pasar Jatinegara—sekenyang-kenyangnya. Dan kubayar belanja itu dengan satu
celana pendek. Cita-cita yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ke toko
emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak
badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku
yang kukasihi melayang pula. Dan akhirnya ke loket. Beli karcis. Melompat ke
kereta api. Berjalan, saudara—menuju ke kota kelahiran: Blora!
Aku sendiri
tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta api begitu cepat. Dan
yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat
laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua
menit. Kemudian hutan menyusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan
perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus
pula ke pedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua
malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab, Jepang sudah dihukum mati dan
digantung di mana-mana. Orang yang kalah perang.
Banyak
kota hangus di sepanjang jalan kereta. Banyak dusun mati. Banyak jembatan
ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan
aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi
sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geletar roda pada rel. Tapi kini
jalannya tenang saja dan cepat.
Blora!
Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkaupun akan begitu pula bila
sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran
sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi,
rasa—seperti daerah pedalama—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena,
ketakutan itu datang juga jungkir balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga
sudah mati. Oleh Komunis Muso atau oleh TNI atau oleh Belanda. Siapa yang
membencanai keluarga itu tak menjadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku
takuti. Dan ketakutan yang lain ialah ini: gerakan pembersihan yang sama saja
ngerinya dengan gerakan pembersihan di mana-mana—dan gerakan gerilya, seperti
gerilya lainnya di mana-mana. Dua-duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang
zaman perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Persis
seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan
minta uang. Tetapi kalu kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar.
Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal rupa.
Blora,
saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termasyhur miskin itu? Nanti
kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng lah nampak. Garang, saudara! Sepetti bangkai
raksasa yang mulai pudar—kekuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang
mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang
harus hiduo miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging
seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi
jagal tak termasuk dalam istilah ini.
Blora,
saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-mula yang
kulihat ini: stasiun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir, waktu
mereka diserbu oleh TNI. Di depan stasiun berjajar gedung-gedung orang
Tionghoa. Semua inipun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika.
Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakan.
Para
penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku
lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik
di kampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena,
dia cantik sekali dan lamaranku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara,
nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia
bukan si cantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal
dan bibirnya semerah cenger jago. Rambutnya tipis, matanya jalang dan
tingkahnya genit.
“Mas,”
tegurnya.
Dan aku
menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak
kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan
kuping. Dan dia berseru-seru. Aku cepatkan jalan. Tas kempes masih tersengkak
di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang setengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba
dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba
pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah
diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah
merdeka yang dimerdekakan.
Sebentar
aku duduk di batuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia menggeliat-geliat
senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi
apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang
atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan kebenaran. Dan yang terjadi
itulah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang
benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.
Terbit
niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik.
Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam
remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahaknya hilang. Geliat senangnya
hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air mata. Dia meronta kuat
akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya
kupegang erat. Kutarik akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena
perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.
Dengan
kesakitan aku pergi tersipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiannya, dan
nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk di batuan tadi. Memandangi Inah
masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata
yang menyampaikan kata tentang perjalanan hidupnya sesudah aku meninggalkannya.
Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan
suka rela mau menjual dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan
mengapa aku jadi begini.”
Tiba-tiba
Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah
dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang dibencinya tetapi yang dia harus
masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke jeep-nya. Masih
ada juga terdengar seruan pelan, “Mas—Mas—“. Kemudian lenyap seruan itu
digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu
menitikkan air mata. Dan mendadak pertanyaan padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya
memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidupnya sendiri. Dan
siapakah yang memiliki hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di mana-mana
pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Jawablah sendiri, saudara.
Kuturutkan jeep itu dengan mataku sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan jeep. Gairah kan bertemu dengan rumahtangga dan keluarga merujak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga cikar yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan runtuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang berkeliaran dengan perut kembung. Dan pengemis. Keadaan daerah merdeka yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda. (bersambung)
