18 March 2026

Blora - bagian 1


Karya: Pramoedya Ananta Toer

Saudara! Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh setiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya dengan lagu kebangsaan.

Dan hari ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga berlari-larian masuk ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan kecil itu semata-mata hanya untuk kesenanganku. Begini, saudara, Voorman kembali dari kantor kamp dan berteriak, “Pram!” aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris.” Seperti gagak dilempari batu datang saja seruan dari mulutku, “Oke, oke.”

Aku lari masuk ke dalam selku dan mengemasi pakaian, alat tidur, dan alat makan. Kawan-kawan ramai memasuki sel mengajak tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang menggerutui nasibnya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan terharu betapa juapun akan materialistisnya. Terutawa waktu aku berjalan ke kantor kamp dan mereka mengacung-ngacungkan tinjunya sambil memekik lemah, “Merdeka! Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup, “Keju enak, bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menjawab satu per satu. Kepalaku tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.

Pintu besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku digeledah. Apa yang akan didapatkan dari pada aku? Hanya pakaian yang kupakai dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang pada bagian bawah ada capnya begini, “de facto krijgsgevangenen kamp.” Dan hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membaca tulisan itu. Pandang tajam mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidupnya di sela-sela jari besi.

Pintu besi kedua aku lalui. Kawan-kawan di balik pintu masih mengacung-ngacungkan tinjunya. Dan mata yang kuyu jadi berapi-api meneriak pandang, “Merdeka! Merdeka!”

Aku sampai di pintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari mataku. Di punggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat di kamp, sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerja paksa di bengkel militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Steinbeck, satu buku Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore, dan buku Pelajaran bahasa Prancis yang tak pernah kupegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang ketiga itu.

Dan sekali lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tapi kali ini aku bersedih hati malah oleh tercapainya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.

Kini aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang siur bebas pula. Semua yang kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu tergantung pada keadaan hatinya.

Saudara, engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-mula begini: Aku makan sate di pasar Jatinegara—sekenyang-kenyangnya. Dan kubayar belanja itu dengan satu celana pendek. Cita-cita yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ke toko emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku yang kukasihi melayang pula. Dan akhirnya ke loket. Beli karcis. Melompat ke kereta api. Berjalan, saudara—menuju ke kota kelahiran: Blora!

Aku sendiri tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta api begitu cepat. Dan yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua menit. Kemudian hutan menyusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus pula ke pedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab, Jepang sudah dihukum mati dan digantung di mana-mana. Orang yang kalah perang.

Banyak kota hangus di sepanjang jalan kereta. Banyak dusun mati. Banyak jembatan ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geletar roda pada rel. Tapi kini jalannya tenang saja dan cepat.

Blora! Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkaupun akan begitu pula bila sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi, rasa—seperti daerah pedalama—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena, ketakutan itu datang juga jungkir balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga sudah mati. Oleh Komunis Muso atau oleh TNI atau oleh Belanda. Siapa yang membencanai keluarga itu tak menjadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku takuti. Dan ketakutan yang lain ialah ini: gerakan pembersihan yang sama saja ngerinya dengan gerakan pembersihan di mana-mana—dan gerakan gerilya, seperti gerilya lainnya di mana-mana. Dua-duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang zaman perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Persis seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan minta uang. Tetapi kalu kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar. Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal rupa.

Blora, saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termasyhur miskin itu? Nanti kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng lah nampak. Garang, saudara! Sepetti bangkai raksasa yang mulai pudar—kekuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang harus hiduo miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi jagal tak termasuk dalam istilah ini.

Blora, saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-mula yang kulihat ini: stasiun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir, waktu mereka diserbu oleh TNI. Di depan stasiun berjajar gedung-gedung orang Tionghoa. Semua inipun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika. Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakan.

Para penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik di kampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena, dia cantik sekali dan lamaranku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara, nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia bukan si cantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal dan bibirnya semerah cenger jago. Rambutnya tipis, matanya jalang dan tingkahnya genit.

“Mas,” tegurnya.

Dan aku menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan kuping. Dan dia berseru-seru. Aku cepatkan jalan. Tas kempes masih tersengkak di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang setengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah merdeka yang dimerdekakan.

Sebentar aku duduk di batuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia menggeliat-geliat senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan kebenaran. Dan yang terjadi itulah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.

Terbit niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik. Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahaknya hilang. Geliat senangnya hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air mata. Dia meronta kuat akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya kupegang erat. Kutarik akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.

Dengan kesakitan aku pergi tersipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiannya, dan nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk di batuan tadi. Memandangi Inah masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata yang menyampaikan kata tentang perjalanan hidupnya sesudah aku meninggalkannya. Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan suka rela mau menjual dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan mengapa aku jadi begini.”

Tiba-tiba Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang dibencinya tetapi yang dia harus masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke jeep-nya. Masih ada juga terdengar seruan pelan, “Mas—Mas—“. Kemudian lenyap seruan itu digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu menitikkan air mata. Dan mendadak pertanyaan padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidupnya sendiri. Dan siapakah yang memiliki hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di mana-mana pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Jawablah sendiri, saudara.

Kuturutkan jeep itu dengan mataku sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan jeep. Gairah kan bertemu dengan rumahtangga dan keluarga merujak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga cikar yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan runtuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang berkeliaran dengan perut kembung. Dan pengemis. Keadaan daerah merdeka yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda. (bersambung)