Showing posts with label Rumi. Show all posts
Showing posts with label Rumi. Show all posts

10 September 2017

Kisah Asisten Rumahtangga




Satu keluarga Amerika Serikat melakukan perjalanan panjang ke Iran. Mereka hendak mencari keluarga mantan pembantu rumahtangganya. Sentimen antar kedua negara mewarnai perjalanan, namun berkat rasa rindu yang dalam, akhirnya mereka berhasil bertemu dengan apa yang mereka tuju. Terence Ward, salah satu anak keluarga Amerika tersebut, menuliskan kisah perjalanan itu dalam buku The Hidden Face of Iran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judulnya aslinya Searching for Hassan: a journey to the heart of Iran.

Pertemuan dua keluarga beda negara yang telah dipisahkan waktu selama lebih dari 29 tahun berlangsung mengharukan. Kemesraan kemanusiaan menyengat dari perjumpaan itu. Dalam satu fragmen, Terence Ward menuliskan percakapannya dengan Hassan, pembantu yang pernah menemaninya tumbuh ketika ia tinggal di Iran.

“Bahkan orang yang bersaudara pun tidak akan melakukan apa yang kalian lakukan. Aku menceritakan ini kepada salah seorang temanku, dan dia merasa terharu. Aku mengatakan kepadanya bahwa tiga puluh tahun yang lalu, aku bekerja untuk ibu dan ayahmu, dan mereka pergi ke tempat yang jauh. Lalu, mereka kembali, melewati lautan dan melintasi gurun. Aku mengatakan padanya bahwa cuaca sangat panas, gurun sangat panas, dan mereka tetap datang. Dia berkata, ‘Oh, aku tak bisa memercayainya,’” ujar Hassan.

Mojezeh, Fatimeh (istri Hassan) mengatakannya kepadaku kemarin,” sambungnya.

“Apa maksudnya?” Tanya Tery (panggilan akrab Tertence Ward)

“Sama seperti ketika seorang pria meninggal dan Isa menghidupkannya kembali, inilah mojezeh.”

“Bangkit dari kematian?”

“Ya.”

“Aku merasakan bulu kudukku meremang. Hassan menatap mata kami,” sambung Tery.
Kemudian Hassan berkata, “Dalem barayeh shoma tang meshavad, aku benar-benar merindukan kalian.”

Pembantu rumahtangga (PRT) atau sekarang sebagian orang menyebutnya asisten rumahtangga (ART), kerap mewarnai perjalanan hidup sebuah keluarga. Profesi yang bersentuhan langsung dengan lingkungan keluarga tersebut tak jarang melampaui sekadar transaksional ekonomi. Dari ijab ini, dalam perjalanannya sering kali ada ikatan emosional yang dalam. ART tak jarang dianggap sebagai keluarga sendiri, seperti yang ditulis Terence Ward di atas.

Karena keunikan hubungan ini, profesi ART sering melahirkan kisah yang tak sederhana. Di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya, kisah hubungan ART dan keluarga tempat mereka melakukan kewajibannya—kecuali kekerasan dan tindak kriminal lainnya, jarang diangkat ke permukaan. Untuk mengisi kekosongan itulah kisah ini dituliskan.

Ropiatu Jaliah yang akrab dipanggil Oppi, adalah seorang ibu muda yang bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia tinggal di Rancaekek. Sekali waktu ia kelimpungan karena ART-nya pergi tanpa pesan. Suatu hari, Umi—nama ART-nya, tidak muncul. Yang datang malah ibunya Umi dan mengabarkan bahwa anaknya tidak bisa bekerja seperti biasanya karena kabur ke Tasikmalaya. Umi pergi karena tidak mau dijodohkan dengan teman bapaknya.

Sebagai seorang blogger, Oppi kemudian curhat, menuliskan kejadian tersebut.

“Satu bulan yang lalu adalah termasuk masa-masa kelam aku sekeluarga, karena kita semua tiba-tiba ditinggal Umi pergi. Pergi begitu saja, tanpa alasan tanpa sepatah kata pun. Cuma lewat ibunya yang datang pagi itu memberi kabar kalau Umi kabur dari rumah. Ouch! Kita semua shock,” tulisnya di laman blog opipolla.com yang bertitimangsa 14 September 2016.

Oppi telah dua kali ganti ART. Umi adalah yang kedua, dan telah bekerja selama dua tahun. Umi seperti juga pendahulunya, tinggal tidak jauh dari rumah Oppi. Ia bekerja dari pagi sampai petang, sampai Oppi dan suaminya pulang kerja. Dihubungi via salah satu aplikasi pesan, Oppi mengatakan bahwa ia dan keluarga, dalam keseharian sudah dekat dengan Umi. Rasa rikuh hampir tidak ada. Oppi juga kenal dan dekat dengan orangtua Umi. Maka ketika Umi pergi, Oppi sangat kaget.

You know kan ya mencari dan mengganti nanny itu ga semudah ganti baju. Tinggal lep. Ngga. Apalagi nanny yang sudah ikut kita selama dua tahun lamanya dan mengurus Endo sejak dia usia empat bulan. Umi udah kaya ibu keduanya Endo. Umi sudah masuk ke list orang yang Endo sayangi dan salah satu sumber kebahagiaan Endo. Iya, Endo tanpa Umi sudah kaya ambulance tanpa uwiw uwiw. Sepi,” sambungnya.

Kedekatan Umi dengan Endo (anak Oppi) dikisahkannya dengan liris. Setiap kali bangun dari tidur, Endo mencari Umi. Bocah itu mencarinya ke dapur, kamar setrika, dan berakhir melamun di jendela sambil menangis. Ia menunggu Umi, pengasuhnya yang telah pergi ke Tasikmalaya.     

Awalnya Oppi mau mencoba menyusul Umi ke Tasikmalaya, namun ia dan ibunya Umi tak tahu alamat lengkapnya. “We had no clue,” tulisnya. Ia akhirnya hanya bisa menunggu, siapa tahu Umi akan balik. Namun setelah cukup lama Umi tak juga kembali. Oppi akhirnya memutuskan untuk mencari pengasuh lain.

Tulisan yang diberi tajuk Umi Pergi itu mendapatkan respon dari para pembaca yang hampir semuanya pernah mengalami apa yang menimpa Oppi.

“Saya juga sudah pernah dua kali ditinggal pergi pengasuh anak. Sedih dan BT-nya memang bikin putus asa banget. Semoga si Bami (ART barunya) beneran lebih baik dari Umi ya,” tulis seorang pembaca bernama Tatats.

Sementara pembaca lain yang bernama Eva Sri Gustiya menulis, “Baca tulisan Oppi, aku merasa bersyukur mertua bersedia mengasuh, walaupun kadang dibawa mawa gas, balanja ka langgan, dibawa ka sakola, hahahaha... Racing pisan weh.”

***

Joko Suseno, seorang bankir di salah satu bank swasta nasional punya kisah yang agak berbeda degan Oppi. Ia tinggal di Jalan Haji Gofur, perbatasan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Istrinya sekantor dengan Oppi. Ia telah berganti ART sebanyak tiga kali. Meski ia dan keluarga kecilnya dekat dengan ART, namun tak ada yang bertahan lama.

“Nya, paling lila dalapan bulanlah,” ujarnya via WhatsApp.

Para ART yang bekerja di rumah Joko semuanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat. Mereka berhenti bekerja dengan alasan yang sama, yaitu hendak menikah lagi. Ya, ART yang bekerja di rumah Joko memang semuanya janda. 

Joko menambahkan bahwa yang paling utama dari kehadiran ART bagi keluarganya adalah membantu pekerjaan rumah. Ia dan istrinya yang seharian bekerja di kantor kerap sudah kelelahan ketika pulang ke rumah.

Sejak ART terakhir keluar, anaknya yang masih kecil dijaga oleh mertuanya. Kini ketika mertuanya sudah meninggal dunia, pekerjaan rumah dan menjaga anak dilakukan oleh adik mertuanya.    

***

“Dari tiga kali ganti, ada yang paling deket sampai kenal dengan keluarganya. Kalau pulang kampung dianterin balik ke Cimahi sama keluarganya dan dibawain oleh-oleh dari kampung yang buanyaakkk banget,” ujar Elisabeth Hennida, warga Kebon Kopi, Cimahi.

Ia biasa dipanggil Ibeth. Menurutnya, para ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Purwokerto dan Cianjur. Salah satunya pernah bekerja sampai lima tahun. Namun kini ketiganya sudah keluar dengan alasan mau menikah.

“Mereka memang masih muda-muda,” tambahnya.

Kini Ibeth dan keluarganya mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah.
***
Fina Bhakti Pertiwi kini tinggal di Sukabumi. Sebelumnya ia pernah bermukim di Sarijadi, Bandung. Dalam dua puluh bulan, ia telah berganti ART sebanyak delapan kali.

“Ada yang baru kerja dua minggu tapi sudah keluar,” katanya.

ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Ciamis, Banjar, Banjar Sari, Tasikmalaya, dan Bandung.

Ketika ia dan suaminya masih bekerja, pergantian ART ini tentu sangat merepotkan. Anaknya masih kecil, sementara pekerjaan tak bisa berlama-lama ditinggalkan. Setiap kali ART-nya keluar, ia didera stres. Selain itu, pernah sekali dua ia mendapatkan ART yang masih muda. Ia sering mendapati ART-nya lebih sibuk bercakap di telpon dengan pacar dibanding mengerjakan kewajibannya.

Alasan ART-nya keluar cukup beragam: hendak menikah, disuruh pulang oleh suami ART, mau ngurus anak, mau kerja di toko, sakit, sampai ada yang merasa takut karena konon melihat hantu.

Semua ART yang bekerja di rumahnya digaji tak kurang dari satu juta rupiah. Jika mereka hendak pulang kampung, Fina memberinya ongkos pergi-pulang. Selain itu, ia pun membelikan keperluan kosmetik para ART-nya. Namun apa yang diberikannya ternyata tak mampu menahan para ART untuk pamit berhenti bekerja.

***

Setelah ditinggal para ART—kecuali Oppi—Joko, Ibet, dan Fina, meski tak melakukan perjalanan seperti keluarga Terence Ward, semuanya mengaku kadang masih berhubungan via telpon dengan beberapa mantan ART-nya.

“Say hello saja,” ujar Fina.

Kisah beberapa keluarga di Bandung Raya dengan asisten rumahtangganya, setidaknya seperti yang dipaparkan di atas, mencuatkan sebuah kesadaran tentang liku keinginan manusia. ART meski bekerja di sektor informal dan kerap dipandang sebelah mata, tetap seperti orang kebanyakan: ia punya hasrat membangun keluarga, menaikkan derajat hidup, dan punya persoalan pribadi yang rumit.

Secara kebetulan ART dalam bahasa Inggris artinya seni. Dalam konteks ini, kiranya tak berlebihan jika ART dan segala persoalannya adalah seni. Ya, seni memahami dan memperlakukan manusia.

Dalam penutup buku catatan perjalanannya Terence Ward mengutip Rumi:

“Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Aku akan menemuimu di sana.”

Menemui di mana? Barangkali di tanah yang bernama kemanusiaan. (preanger.id -irf)

01 August 2014

Ujung Genteng

Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah. Tersebutlah sebentang tanah. Aku akan menemuimu di sana.  —Rumi
Sehari setelah lebaran, masih dalam balutan sarung dan peci menyerupai mujahidin Afghanistan, saya begitu santai duduk di alun-alun Jampang Kulon. Segelas kopi dan beberapa orang kawan menemani. Lalu lintas menyebalkan. Orang-orang yang menunggang kendaraan roda dua seperti kesetanan, saling salip di tikungan. Beberapa mobil berplat B dan D tiba-tiba berdatangan dan lewat dengan cepat; mereka hendak pergi ke pantai.
Entah bagaimana mulanya tradisi pasca lebaran seringkali mengunjungi pantai untuk entah apa. Dan pantai di selatan Sukabumi, yang ramai dijejali–selain Pelabuhan Ratu, adalah Ujung Genteng. Memang ada kesamaan antara keduanya; sama-sama menghadap ke laut lepas, ke Samudera Hindia. Pantai yang tak terhalang oleh satu pulau pun. Sampai ada guyonan yang berbunyi, bahwa kalau di kampung membeli minyak tanah haruslah ke Australia, karena tak ada pulau lagi.
Pantai dan cuaca panasnya tak pernah membuat saya terlalu berminat, layaknya Jakarta. Maka ketika jalanan dipadati turis-turis dadakan, dan para tetangga mulai berkemas, saya hanya mencibir, ”apa menariknya pergi ke pantai?”
Tak heran meskipun jarak antara rumah dan pantai tak lebih dari satu jam perjalanan motor, namun terakhir kali pergi ke sana sudah sangat lama, dulu waktu duduk di Madrasah Tsanawiyah/SMP. Dengan mengayuh sepeda pinjaman, pagi-pagi setelah subuh, bersama dua orang kawan adalah perjalanan terakhir sebelum riwayat pendidikan tercerabut ke kota. Itulah tapal batas yang menandai bahwa merantau adalah pilihan, dan saya tak boleh mundur.
Selang dua windu kemudian, ketika kawan-kawan mulai tak dapat ditelusuri lagi jejaknya, dan usia telah melewati kepala dua, orang-orang masih saja tak bosan pergi ke pesisir; menikmati deburan ombak dan –-belakangan– mengabadikan gambar demi berkabar di media sosial yang berideologi “no pict = hoax”.
Saya tidak anti media sosial, buktinya pada malam hari, dalam genggaman sinyal internet yang hidup segan mati tak mau, sempat juga membuka Twitter dan mendapatkan kicauan @wilsonsitorus :
Senja di bibir pantai, dan bir, dan Fix You. Hidup tak bisa lebih baik lagi.
Tak ada yang aneh dengan dua kalimat itu, namun ada sedikit pertanyaan yang terbit di sesela pikiran. Kesan seperti apa yang membuat pemilik akun tersebut sampai menulis “Hidup tak bisa lebih baik lagi?” Sejauh yang saya alami, pantai dan segala benda yang menyertainya tak pernah memberikan kesan yang begitu dalam, selain –-dalam pikiran masa kecil—-bahwa laut tak pernah penuh.
H+3 saya mencoba berdamai. Dengan motor pinjaman, selepas Ashar pergi juga akhirnya ke pantai Ujung Genteng. Jalanan masih menyebalkan, namun sedikit terobati dengan kondisi aspal yang empuk dan mulus, tak terlampau banyak lubang. Tiba di sana angin seperti mengajak untuk bermain layang-layang. Hembusannya menampar muka, dan aroma asin mencucuk hidung. Saya seperti mengenal suasana ini, tapi sudah lama sekali.
Benteng tua yang sudah compang-camping ternyata masih ada. Di tempat itu dulu sepeda saya sandarkan, lalu berlari ke tubir benteng dan merentangkan tangan demi menantang angin yang bertiup kencang. Saya tak mengulanginya sekarang, sebab setiap pengulangan tak pernah menarik, lagi pula sudah terlalu ramai oleh orang-orang yang tengah sibuk membidikkan kamera.
Sebentar mampir ke warung untuk membeli segelas kopi, lalu memilih bergerak ke barat, ke pantai yang lebih sepi. Sesekali bertemu dengan mobil plat B, seketika pula teringat Jakarta; kota yang kacau namun puitik. Tak bisa saya bendung perasaan sentimental. Entah ingatan atau kenangan, tapi ada yang berarak di tempurung kepala, tentang masa lalu yang indah tak terdefinisi.
Bayangan pohon kelapa mulai temaram, di bawahnya saya berhenti. Berjarak kira-kira dua meter dari air laut yang mencium pasir putih, terdiam. Garis laut membentang di kejauhan. Jika Fahd Djibran, dalam buku “A Cat in My Eyes” duduk di halaman belakang, saya duduk di pantai. Namun ihwal masadepan ternyata sama; terduduk sendiri, merasa bukan siapa-siapa, merasa bukan apa-apa.
Pada mahaluas samudera, manusia di bibir pantai tak lebih dari noktah. Debur ombak dan matahari yang mulai mencium laut membuat perasaan lepas. Saya mencoba melarung beberapa hal. Adzan maghrib terdengar di kejauhan, dan kopi telah dingin. Jika nanti, kawan-kawan yang sudah lama tak ada kabar dan tak jelas jejaknya kembali, saya ingin menemuinya di sini. [ ]

19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 1)


Dan pagi itu dia mendapati dirinya tengah terduduk di depan pintu kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin
Kompas.

Kepalanya masih terasa sedikit berat, keampuhan obat warung tidak bekerja dengan sempurna. Semalam, kawan-kawannya sudah bilang, kalau sakit tak usah ikut, tapi dia sudah janji, dan di mana-mana janji harus ditepati, maka dia pun turut serta. Dalam kepungan angin malam yang menggigit, dia coba menikmati nomor-nomor dari The Beatles: "Ticket to Ride", "Obladi Oblada", dan "Yesterday".

Dan semakin malam, suhu tubuhnya semakin tinggi. Pasukan kuda troya menyerang pertahanan tubuhnya. Pada cigarette batang ke enam dia begegas ke toilet dan membuang isi lambungnya. Orang-orang yang habis buang air dan sedang mencuci muka menyangka dia tak kuat menahan dosis Jack D, dan mereka salah. Kesehatan pemimpin memburuk, pasukan bubar. Mereka pulang.
Dalam gelap suasana kamar, masih terdengar percakapan di luar. Kawan-kawannya masih membangun malam dengan cigarette, kacang tanah, minuman ringan, dan obrolan yang mudah dilupakan.
Dalam panas suhu tubuh dan hangat temperatur kamar, dia ingat kembali sepotong artikel di koran pagi, tentang Teater Koma yang telah berjalan selama 34 tahun. Sekali waktu penontonnya didominasi orang-orang berbaju hijau, mereka disuruh atasan, atasan disuruh pimpinan, pimpinan diperintah komandan, komandan dapat pesan dari orang yang duduk di kabinet, orang yang duduk di kabinet takut sama babeh yang manis betul kalau sedang tebar senyum. Sepotong senyum cukup untuk membuat stempel Bapak Pembangunan.

Tapi Teater Koma terus berjalan. Tekanan dijadikannya hulu ledak ide. Mas Nano dan Mbak Ratna terus memproduksi pementasan sampai sekarang.

Tapi kemudian dia menyumpah, “Kau siapa? Coba kau lihat cermin. Kau tak lebih dari seorang pecundang!”

Suhu tubuh terus meroket, kalau saja usianya masih balita mungkin dia sudah terkena step. Hampir saja dia mengigau, tapi cepat dicegah oleh ingatannya pada tulisan Andrea: “Masa depan bagiku adalah pensiun dalam keadaan miskin dan rutin berobat melalui fasilitas Jamsostek, lalu mati merana sebagai orang yang bukan siapa-siapa.”

Awalnya dia sempat setuju, dengan ikut-ikutan mengutuki beberapa profesi, tapi kemudian dia ingat bapaknya di kampung. Pengabdian 40 tahun telah tunai demi pendidikan anak-anaknya, lalu sekarang terbaring lemah, sementara para ahli warisnya bertekuk lutut di tangan kuku-kuku tajam bernama keluarga, kerja, dan kesibukan. Brengkes, tahu apa Andrea tentang pengabdian?!

Pintu kamar diketuk dari luar. “Minum obat dulu Bung!” Dan obat warung lingkaran biru menyerbu ke dalam.

Siapa bertetangga tapi hidup sendirian, silahkan pak hansip gerebek saja dia yang sedang berpacaran dalam kamarnya yang tertutup. Siapa bertetangga tapi kehilangan pisau dapur seperti kehilangan nyawa, maka jemurannya tak usah dipindahkan waktu turun hujan.

Waktu badannya menggigil karena lingkaran biru belum bereaksi, dia ingin sekali menyanyikan lagu mas Iwan, tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya perlawanan terhadap rasa dingin. Lagu hanya berbunyi entah di mana, begini kurang lebih:

“Jika di antara kita jatuh sakit / lebih baik tak usah ke dokter / sebab ongkos dokter di sini / terkait di awan tinggi.”
Dan dia akhirnya menyerah pada tidur. Terbangun tengah hari, masih menggigil. Terbangun menjelang subuh, keringat luruh. Terbangun pagi hari, lumayan sehat. Di tengah kepala yang masih sedikit berat, pagi itu dia terduduk di depan kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin Kompas. Setelah membasuh muka dengan air keran, dia duduk lagi di depan pintu kamar.
“Hidup adalah tentang kesetiaan, Haryani,” begitu kalimat yang ingin dia ucapkan untuk perempuan yang dicintainya, tapi kata-kata terhenti di tenggorokan.
Semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, makanya banyak yang bicara ngelantur ke mana-mana. Makanya banyak yang berteori, mencari hikmah, beragitasi, hujan retorika, mensiasati kelamin, berjudi di lembaga pendidikan, atau bermetamorfosis menjadi besi biar magnet rejeki menariknya dari segala penjuru.

“Tidak, Haryani. Aku hanya sayang kamu. Jangan kau paksa aku untuk mencari perempuan lain,” demikian kalimat lanjutan yang ingin dia katakan untuk perempuan yang disayanginya, tapi lagi-lagi tenggorokan menghentikannya.
Lalu matahari merangsek meninggalkan waktu dhuha. Dia melihat cucian, “Oh, kesibukan,” gumamnya.

Hidup selalu diawali oleh keluhan, meskipun kau berusaha menyembunyikannya lewat gugusan tulisan. Mereka yang bertahan adalah orang-orang yang berhasil merubah keluhan menjadi keringat, meragi sakit hati dengan pertahanan yang teguh, dan sedikit do’a-biar tak dianggap meninggalkan Tuhan.

Alangkah perihnya menikmati gincu kata-kata dengan riasan menor tentang kebijaksanaan. Meja hijau bagi si pemilik jelaga hati. Sementara para penikmat tafsir brillian sekali berkicau “munafik” kepada sesamanya.

Brengkes, bicara apa saya ini?! Mana lelaki yang tadi melihat cuciannya? Oh itu dia. Deterjen serbuk dia tuang ke dalam ember putih, dan lihatlah itu busa, memakan kotoran yang menempel di pakaian.

Sebenarnya dia masih lemah, arus darahnya masih tertahan di kecepatan 1 kilometer pertahun, tapi besok hari senin, besok masih ada “I Don’t Like Monday” di Hardrock.

Selesai merendam, dia turun ke bawah, duduk di warung kopi menunggu tukang koran lewat. Sepeda kumbang muncul dari belokan ujung gang, Kompas dia barter dengan 3,500 rupiah.

“Nyari lagi kerjaan baru, Mas?” tanya pemilik warung kopi. Dia menggeleng.

Dekat jemuran, sambil menunggu cucian, dia membaca sepotong sajak mas Goenawan: “Cinta terbaik seharusnya diperpendek / pada pagi / oleh daun / yang ditemukan matahari.”
Apa yang dijanjikan kimia? Tidak ada! Lelaki itu telah dirayu untuk keluar dari persembunyiannya yang gelap dan sepi. Dia coba kumpulkan remah-remah keberanian untuk membentangkan sayap, tapi mataharinya justru membenamkan dia ke dalam ruang hampa. Absurd.

“Di mana sekarang Rumi? Saya ingin menggugatnya!” teriak lelaki itu.

Siang menjelang dzuhur memang waktu yang bagus untuk menjemur pakaian. Angin sedang rakus berhembus, dan sinar ultraviolet sedang sangat bagus menakut-nakuti siapa saja yang menjadi korban iklan pemutih kulit muka. “Sesama pengecut dilarang saling menggurui,” begitu kata angin yang membawa aroma Molto rasa bunga lavender.

Haryani, perempuan yang dicintainya berkelebat di baju yang sedang dijemurnya. Tapi kemudian hilang lagi sebab terdengar olehnya suara-suara aneh Pramoedya dari cerpen “Gado-gado” yang berhasil merekam terhempasnya uang republik pada titik terendah. Wajah-wajah pribumi berjajar kuyu di depan gedung-gedung yang akan segera gulung tikar.

Radio lemah belaka mewartakan rencana serangan besar-besaran pasukan Sekutu. Bapak tani akan segera meninggalkan sawah dan hewan ternaknya yang akan menjadi rebutan tentara Republik dan dan pasukan Sekutu, akan habis, tak menyisakan sedikit pun buatnya.

Ibu tani akan kehabisan pangan lalu duduk di taman kota menunggu para pemuda yang takut menikah, merayu mereka untuk memeluknya dan tidur di taman itu, lalu besok sebelum pagi sempurna memperlihatkan lengkung langit, dia akan mati dimakan raja singa di taman hijau itu, di bawah langit tanah airnya. Harga-harga melambung, mencekik rakyat yang tengah cemas dan waspada akan serangan senjata.

Jelas sekali dalam bayangannya, wajah Pramoedya menyindir dirinya. “Dulu aku hampir mampus diburu peluru NICA, lalu berbilang tahun hidup di tempat purba (penjara), tapi aku tak pernah menyerah.”

Seharusnya tidak ada yang menghentikan pertumbuhan kosa-kata. Kaum pemuja Sufi harus ditenggelamkan dulu ke dasar samudera para idolanya agar nanti tidak ada lagi plagiasi kepada cerita garam yang dibuang ke dalam gelas dan telaga.

“Hiduplah kami, mampuslah kau plagiator!” begitu kata Pidibaiq waktu karyanya diadaptasi oleh salah satu acara komedi station televisi swasta yang bermarkas di Jalan Kapten Tendean. Tapi bolehlah bermazhab kepada Bovard dan Pechucet, karena katanya, menulis adalah sebuah gerak yang tidak pernah benar-benar asli.

Siang sudah menjelang sore, dia membaca lagi koran yang dibelinya pagi tadi. Tidak. Sekali lagi dia tegaskan, dirinya tidak akan mencintai perempuan lain. Dan saya harus pergi, bosan juga mengikuti kegiatan hariannya. Tapi saya ingin sekali menulis pertemuan mula-mula antara dirinya dan perempuan itu. Artinya, saya tidak boleh dulu mengemasi pena. (irf)

itp