Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

18 October 2015

Amba dan Laksmi Pamuntjak; Ketegaran di Tengah Badai Kontroversi

Senin, 26 November 2012, di harian Kompas hadir sebuah esai yang ditulis oleh Elya Utama yang berjudul “Dua Wanita”. Penulis yang belakangan ditengarai bukan nama sebenarnya, dalam esainya mencoba menggeledah novel “Amba” (2012) dan “Saman” (1998). Ia, lewat pendeteksian kalimat dan gaya bertutur, menyimpulkan bahwa dua karya yang ditulis dua wanita tersebut (Laksmi Pamuntjak dan Ayu Utami), sebenarnya adalah karya satu orang yang entah siapa.

Di sebuah paragraf sebelum penghujung esai, Elya Utama menulis begini, “Menyangkut kemiripan atau bahkan persamaan kedua arsitektur novel di atas, saya ingin berspekulasi dengan cara seperti bagaimana kedua novel itu melakukan spekulasi, yakni dengan menyebut poin-poin kemungkinan. Pertama, penulis kedua meniru penulis pertama. Bukan tiruan yang jelek, sangat sempurna, bahkan mendekati kloning. Kedua, penulis pertama dan kedua berasal dari latar pendidikan arsitektur yang sama, mendirikan firma yang sama, dan bekerja bersama-sama. Ketiga, dua karya itu sebenarnya karya arsitek yang sama, namun menggunakan nama yang berbeda-beda.”

Pendapat ini—sedikit banyak, tentu menyeret dua karya tersebut dan sekaligus penulisnya pada ruang pencampakan yang serius. Sebuah karya yang konon adalah anak rohani dari pengarang, dituduh sebagai anak haram yang lahir dari sebuah “perzinahan” proses kreatif. Namun demikian, apakah pada perjalanannya “Amba” dan “Saman”, juga Laksmi dan Ayu, menjadi tunduk pada prasangka-prasangka? Ternyata sebaliknya.

Serangan Elya Utama terhadap “Amba” dalam esainya di harian Kompas, hanyalah satu contoh dari sekian banyak gugatan, perdebatan, dan kritik yang mengiringi perjalanan karya tersebut. “Amba” sebagai anak kandung Laksmi, di jalanan pembaca yang keras, telah melalui serangkaian perkelahian sengit. Dan sampai hari ini, ia mampu bertahan. Kondisi ini barangkali yang dimaksudkan oleh Muhidin M. Dahlan dalam pengantar di blog pribadinya :      

“’AkuBuku’ adalah 'blog neraka' yg berisi sehimpun review atau komentar atas apa-apa yang pernah kubuat dan kutuliskan sekian waktu dalam beberapa buku, baik fiksi atau nonfiksi. Wadah ini adalah sebentuk ruang bagaimana ‘anak-anak ruhani’ itu lepas-hidup dan dimaknai kehadirannya di jalanan kota pembaca yang kerap sengit, ganas, dan amat jarang berbelas kasih. Tapi inilah hidup. Ini neraka. Ini bukan surga. Di sini, perkelahian selalu berlaku. Maka bertahanlah secara kreatif. Jangan merunduk. Kalaupun merunduk, janganlah terlalu terbenam. Kalaupun terbenam, janganlah terlalu lama.”

Jelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, “Amba” telah banyak diapresiasi oleh para pembaca. Novel ini pernah masuk 5 besar Anugerah Sastra Khatulistiwa tahun 2013. Selain itu, karya ini pun disebut-sebut sebagai sebuah pencapaian gemilang dari perpaduan antara tema kemanusiaan berlatar peristiwa gempa politik 1965, dan jejalin kalimat puitis yang manis.

Kaki dashi-nya berbunyi sedemikian rupa, “Di pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. Tapi, sesekali, sesuatu bisa terjadi di pulau ini—sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan—dan orang hanya bisa membicarakannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus-menerus membalun dan menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal....”

Dalam sebuah wawancara dengan kru 17.000 Islands of Imagination, Laksmi menjelaskan tentang konsepnya dalam menulis “Amba”. “Karena saya sangat tidak nyaman dengan perspektif sejarah yang hanya satu sisi. Orde Baru mengatakan bahwa Komunisme itu jahat, setan, harus diberangus, dan adalah sebuah paham yang tidak bisa dibiarkan di Indonesia. Hal itu selalu membuat saya miris, membuat saya betanya-tanya, apakah ini interpretasi satu-satunya yang ada tentang 65. Yang saya lakukan tidak untuk mengoreksi sejarah atau tidak juga untuk mengatakan siapa yang salah atau benar, tapi yang ingin saya tunjukan adalah karena manusia itu kan berkali-kali dalam setiap budaya dan negeri, mengalami begitu banyak intoleransi dan juga sangat biasa untuk menunjukkan apa yang mereka percaya lewat kekerasan,” terangnya.

Terkait bahwa karyanya terinspirasi dari cerita Mahabharata, dan bahkan tokoh-tokohnya sama persis dengan beberapa tokoh di cerita klasik tersebut, Laksmi menerangkan, “Dan itu (Mahabarata) saya lihat sebagai sesuatu yang sangat pas untuk juga menunjukan warisan budaya kita yang luar biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih purba, jauh lebih tua, dan juga sama kayanya dengan Islam misalnya, yang baru datang belakangan ke Indonesia. Jadi saya mau menunjukan kebhinekaan Indonesia, termasuk cara berpikir dan kearifan-kearifannya.”

Sejak terbit di tahun 2012, “Amba” telah beberapakali naik cetak. Juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul “The Question of Red”. Dalam bahasa Jerman, “Amba” diterbitkan oleh penerbit Ullstein Buchveerlage  dengan judul “Alle Farben Rot”. Sementara dalam bahasa Belanda menjadi “Amba of de Kleur van Rood” dan diterbitkan oleh penerbit Xander Uitgevers.

“Alle Farben Rot” sebagai versi Jerman dari “Amba” berhasil menempati posisi satu sebagai karya fiksi terbaik dari negara-negara di luar Jerman. Karya-karya tersebut diseleksi oleh para penulis dan kritikus Jerman berpengaruh seperti Ilija Trojanow. Karya Laksmi itu mengalahkan karya pengarang Irak (Hassan Blasimm-“Der Verruckte vom Freiheitsplatz”), Jepang (Shuntaro Tanikawa-“Minimal”), Kuba (Leonardo Padura-“Die Palme und der Stern”), Kolombia (Tomas Gonzalez-“Mangroven”), Mexico (Antonio Ortuno-“Die Verbrannten”), dan Korea (Hoon Kim-“Acht Leben”). 

“Amba” akan hadir di Frankfurt, menghamparkan sejarah luka bangsa yang teramat sulit untuk disembuhkan, juga membawa sekerat cerita tentang perjalanannya yang diliputi kontroversi. Karya ini tak menjanjikan apa-apa, namun ia mencoba jujur di hadapan kelam catatan sejarah, lalu melalui perjalanan para tokohnya, ia menjelentrehkan bahwa kekerasan tak akan pernah menghasilkan apa-apa, selain luka dan dendam. [ ]

PS : Tak sempat naik :)

05 October 2015

Kehidupan Warga Kota dalam Karya Muhammad "Mice" Misrad

Setiap hari Minggu, di harian Kompas selalu ada rubrik kartun yang temanya beragam, dari kritik sosial politik sampai parodi kehidupan sehari-hari. Salah satu yang cukup menyita perhatian pembaca yaitu “Mice Cartoon”. Strip komik yang di usung Mice atau Muhammad Misrad adalah tentang kondisi kontemporer kehidupan sehari-hari. Dengan gaya satirenya, Mice memotret bagaimana laku hidup sehari-hari layak bukan hanya untuk ditertawakan, namun juga mencuatkan insight baru yang kerap luput disadari.
Kartunis kelahiran Jakarta 45 tahun lalu itu adalah lulusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Mulanya ia berprofesi sebagai grapic desainer di salah satu biro konsultan desain di Jakarta. Sejak tahun 1997, ia memutuskan untuk menggeluti profesi sebagai kartunis. Ia bersama Benny Rachmadi kemudian membuat strip komik di harian Kompas, yang mulai 4 Juli 2010 “pecah kongsi”. Ruang yang semula diisi oleh karya kolaborasi tersebut kemudian diganti oleh “Mice Cartoon”.
Selain rutin mengisi di media cetak, Benny & Mice pun telah beberapakali melahirkan buku, di antaranya; “Jakarta Luar Dalem”, “Jakarta Atas Bawah”, “Lagak Jakarta”, “Talk About Hape”, “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”, “Lost in Bali 1”, “Lost in Bali 2”, dan lain-lain. Perpisahan Benny dan Mice sempat disayangkan oleh beberapa kalangan, terutama para pecinta kartun yang kadung menjadi penggemar “duet maut” tersebut. Namun mereka berdua kemudian menjawabnya dengan karya yang tidak meninggalkan ciri khas yang selama ini mereka usung, yaitu satire, nakal, dan kocak. Pasca berjalan sendiri, Mice telah menerbitkan beberapa karya, antara lain; “Little Mice, Game Over!!”, dan “Kamus Istilah Komentator Bola“.
“Kalau saya sih sederhana aja, mungkin udah kelamaan kali kita berdua ya, 20 tahun, bosen juga gitu, bosen dalam tanda kutip ya,” ujar Mice ketika diwawancara oleh “Tukar Posisi”-- sebuah portal yang menyajikan pelbagai informasi dan tips, ihwal perpisahannya dengan Benny.
Sejak masih bersama Benny, karya Mice kerap menampilkan potret keseharian yang tajam. Terkait ini Mice menjelaskan, “Banyak yang bilang karya-karya saya itu hasil observasi atau penelitian yang dalam, padahal engga juga sebenarnya. Karena karya saya lebih dekat keseharian, tentang orang Indonesia dan khususnya orang Jakarta dan kota-kota besar, dan tema-tema itu saya tinggal mencomot aja dari kejadian yang nyata.”
Dalam berkarya, tokoh utama yang dibangun Mice untuk menyampaikan pesan-pesannya sering digali dari orang-orang terdekat. Karakter itu ia pertahankan secara konsisiten. “Dan saya tetap bertahan dengan karakter saya sendiri. Saya menciptakan satu karakter baru yang gendut item yg kumisan itu, mungkin pembaca yang ngikutin karya saya tahu lah ya, itu wujudnya memang ada, namanya Leon. Tapi kadang kalau tanpa ditemenin sama si Leon, atau misalnya sedang bosan sendiri, saya menciptakan tandemnya bisa keluarga saya; bisa anak saya, istri saya, dan akhirnya bisa bermacam-macam tokoh yang bisa mendampingi saya”, ujar Mice menjelaskan.
Dalam dunia yang ia geluti, seperti umumnya di berbagai ladang kehidupan, ada suka dan duka yang menyertai. “Kalau karya saya bisa menghibur oranglain sekaligus bisa menghibur diri sendiri, itu yang sangat saya syukuri. Dukanya kalau besok harus terbit, dan belum ada tema yang diangkat atau ide cerita, itu bisa bikin saya guling-gulingan di kasur tiga jam sendiri,” ujar Mice.
Di Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia memberikan kesempatan yang cukup lapang kepada para kartunis untuk memamerkan karya-karyanya. Dunia kartun dan komik, di Indonesia--seperti kata Beng Rahadian, sedang indah-indahnya. Hal ini berdasar pada beberapa hal, yaitu; keragaman gaya, keragaman genre dan tema, mulai menjadi media ekspresi populer anak muda, menjadi buruan penerbit, event yang banyak, tumbuhnya komik di institusi pendidikan formal, kekuatan komunitas, berkontribusi dalam pergaulan internasional, menjadi media darling untuk liputan budaya, sosio urban, dan pendidikan, serta yang terakhir—dan ini modal utama dan pertama, yaitu keras kepala para pelakunya.
Di kondisi seperti inilah karya Mice hadir mewarnai dunia kartun Indonesia. Karyanya akan ikut hadir di Frankfurt. Kehidupan sehari-hari warga kota yang kerap berada dalam kegagapan, atau larut mengikuti arus perkembangan zaman, serta peristiwa sehari-hari yang kadang lebih aneh dari fiksi, berhasil Mice potret dalam gambar dan teks yang menggelitik.

Riwayat panjang perjalanannya dalam mengkhidmati dunia kartun, kiranya akan terus berlanjut. Pada sebuah kesempatan Mice menegaskan, “Walaupun saat ini misalnya ada pilihan lain, saya tetap memilih menjadi kartunis.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

10 September 2015

Mengapa Bukan Saya

Oleh : Bre Redana

Rasanya hal terpenting yang disampaikan oleh Pak Jakob Oetama, pemimpin Kompas Gramedia, ketika menerima gelar Doktor Kehormatan alias Doktor Honoris Causa dari Universitas Sebelas Maret di Jakarta beberapa waktu lalu adalah pertanyaan: mengapa saya?
Itulah yang kemudian dijawab Mendikbud M Nuh. Dengan segar, menteri yang berlatar pendidikan sains ini mencontohkan rumus matematika, untuk sampai ke kesimpulan mengenai bukti kepantasan tersebut.
Masih dengan agak kocak, ia menyebut Pak Jakob sebagai ”guru”. Ia jelaskan pengertian guru secara etimologis. ”Gu itu artinya kegelapan. The darkness of ignorance. Saya tidak mau menggunakan istilah kebodohan. Dalam kegelapan itu ada ru yang berarti light, sebuah cahaya yang memberi penerangan,” begitu kurang lebih ucapan M Nuh.
Ketika menyebut media massa sebagai dunia yang digeluti oleh Pak Jakob, ia juga menafsirkan pengertian massa dalam ranah sains. Di tengah pengertian massa seperti itu, ia sempat menyebut media sebagai semacam endocrine.
Meski seperti main-main, dengan itu sebetulnya telah ditunjukkan pengertian media yang kompleks, berhubungan dengan kesadaran (conscious mind) manusia. Endocrine adalah zat yang berhubungan dengan kegiatan hormonal dalam tubuh manusia. Melalui kegiatan hormonal ini, tubuh (body) dan otak (mind) terlibat secara terus-menerus dalam suatu interaksi yang melahirkan kesadaran.
Studi neuroscience menjelaskan, implementasi otak berupa pikiran bisa menyebabkan situasi emosi yang implementasinya lewat tubuh. Sebaliknya, tubuh pun bisa mengubah lanskap otak, yang artinya juga mengubah substansi pikiran. Keadaan otak, yang berhubungan dengan situasi mental, berpengaruh pada tubuh. Situasi tubuh terpetakan kembali oleh otak, yang lalu menghasilkan situasi mental. Begitu interaksi tubuh dan otak berlangsung secara terus-menerus, seperti tari tango.
Perubahan sedikit saja pada otak bisa memengaruhi tubuh (dalam hal ini bayangkan, lepasnya hormon tertentu karena panah asmara misalnya, menyebabkan jantung berdebar-debar). Atau sebaliknya, perubahan kecil pada tubuh, taruhlah gigi Anda lepas, akan berpengaruh besar pada otak, begitu otak menerima dan memetakannya sebagai rasa sakit luar biasa.
Interaksi antara tubuh dan otak terjadi lewat perantara kelenjar-kelenjar tertentu, seperti endocrine, yang di dalamnya mengandung organisme yang lebih kompleks lagi. Sederhananya, zat-zat perantara itu bisa disebut sebagai media.
Tafsir media semacam ini sungguh tidak main-main. Bahkan di dalam tubuh manusia sendiri, yang oleh sebagian sistem kepercayaan diyakini sebagai bagian dari dunia (istilahnya dunia kecil, mikrokosmos), media itulah yang menentukan segala-galanya. Dari situ, orang yang berkesadaran, eling, merasa selalu perlu untuk menjaga baik pikiran maupun tingkah laku.
Dalam bahasa Pak Jakob yang sangat diakrabi oleh seluruh anak buahnya adalah kesanggupan dan kemampuan untuk berterima kasih dan bersyukur.
”Praci dina,” begitu Pak Jakob mengutip bahasa Jawa, yang artinya tiada hari tanpa syukur dan terima kasih. Ia melanjutkan, dalam hidup kita tidak ada kata kebetulan, tetapi selalu dalam penyelenggaraan Ilahi (Providentia dei).
Menjaga tingkah laku, menjaga kesantunan, atau secara lebih luas kontrol atas tubuh, adalah bagian dari menjaga otak dan pikiran. Selalu ada pergulatan antara kontrol versus pengumbaran nafsu tubuh, seperti disimbolkan dengan sangat bagus dalam jagat pewayangan lewat keberadaan Pandawa versus Kurawa.
Pengumbaran nafsu tubuh ini dalam masyarakat kontemporer memanifestasi dalam bentuk apa saja, dari konsumsi berlebihan, bermewah-mewah kelewat batas, sampai ke hasrat atas kekuasaan yang membabi buta dan tak tahu malu.
Bagi kalangan ini, pertanyaannya bukan mengapa saya, melainkan mengapa bukan saya… [ ]

17 August 2015

Memento Mori

Oleh : Bre Redana

Saat Lebaran, banyak orang mensyukuri lengangnya jalanan Jakarta. Enak kalau begini terus. Tidak macet.

Seperti para majikan yang mensyukuri kelengangan Jakarta di satu pihak, sementara di lain pihak merindukan para pembantu segera balik, itulah sifat mendua kita. Tak mungkin kalangan profesional menikmati kemakmuran dan kemudahan, tanpa ditopang faktor penunjang, di antaranya urusan domestik yang sehari-hari diambil-alih para pembantu. Bentuk paling banal dari kepentingan praktis-pragmatis itulah dia: enaknya sendiri.

Dunia pasca-ideologi sejatinya memang cuma berisi kepentingan-kepentingan pragmatik. Sifat permukaan kepentingan ini mengaburkan kepentingan bersama yang lebih dalam, lebih luas. Tidak usah merasa ini sebagai serangan terhadap pribadi-pribadi. Lingkungan sosial kita sehari-hari mengisyaratkan bagaimana pragmatisme mengatasi segala-galanya sekarang.

Pemerintah mandul. Konon kebudayaan suatu bangsa tercermin pada lalu-lintasnya. Inikah chaos kebudayaan kita? Pemudik bergelimpangan di jalan, sebagian besar pengendara motor?

Terhadap televisi–media paling berpengaruh, sebaiknya Anda tidak melulu percaya pada apa yang Anda lihat. Yang ditampilkan televisi adalah ingar-bingar mudik dan komodifikasi segala hal. Euforia di jalan yang ditampilkan televisi mengaburkan tragedi di baliknya: bahwa hanya dalam beberapa hari ratusan orang mati di jalan.

Tak banyak yang peduli. Karena apa? Di situ ada iklan minyak pelumas, gardu-gardu iklan berkedok posko peristirahatan, minuman penambah stamina yang diminum dari petugas pintu tol sampai polisi, dan lain-lain.

Urusan iklan, dalam bisnis mutakhir media massa, mengalahkan segala-galanya. Kepentingan publik, akan selalu diduakan dengan kepentingan bisnis. Bahkan pada sejumlah media massa, terutama pada beberapa televisi, tak jarang kepentingan publik dimanipulasi untuk kepentingan rating. Tragedi dijadikan spekulasi politik. Nasib orang miskin diubah menjadi tontonan dengan si miskin dibuat meratapi nasib, seperti pada reality show sebuah stasiun.

Televisi memobilisasi masyarakat dalam kesadaran (dan ke-tidak-sadar-an) kolektif atas makna kenyataan. Yang tidak nyata menjadi nyata, yang nyata menjadi tidak nyata. Lalu, keputusan menjadi salah, karena tidak jelas, didasarkan atas apa.

Sifat umum manusia konon memang berupa keterbatasannya untuk mencerna sesuatu yang empirik, serta kemampuan membedakan jalinan yang kompleks antara motif yang didasarkan kesadaran dan bawah sadar. Manusia lebih mudah memfantasikan dan meletakkan tanggung jawab pada sesuatu yang tidak kelihatan, di antaranya nasib. Tak banyak manusia melakukan refleksi kritis terhadap hidupnya secara serius. 

Dunia pragmatisme ini hampa, kosong. Berhamburannya orang ke mal di saat Lebaran bukan semata-mata dikarenakan pembantu tidak ada, seperti terjadi di Jakarta. Dari mal mewah di Jakarta sampai mal di daerah pinggiran dan kota-kota kecil–tanyalah pada semua orang–semua dibanjiri orang. Ke mal, merupakan gejala di semua kalangan, bukan semata-mata gejala kalangan atas yang mencari segalanya di mal karena ditinggal pembantu.

Kehidupan sehari-hari, terutama di kota besar, telah menjadikan orang tak mengenal lagi rumah sebagai sanctuary–tempat untuk ketenangan batin. Rumah adalah tempat transit bagi kegiatan rutin di luar yang tak kenal henti. Ketenangan, atau bahkan hubungan personal dalam rumah, menjadi meresahkan. Itulah sebagian dari sifat yang disebut ”the lonely crowd”. Ini bisa menghinggapi siapa saja, mau psikolog atau ahli jiwa sekali pun.

Tidak semua hal bisa dinalar secara pragmatik, Saudara-saudara. Di kota kecil saya di Jawa Tengah ada kuburan kuno dengan gerbang bertulis kata-kata bahasa Latin: memento mori. Artinya kurang lebih, ingat kefanaanmu. [ ]

19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 1)


Dan pagi itu dia mendapati dirinya tengah terduduk di depan pintu kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin
Kompas.

Kepalanya masih terasa sedikit berat, keampuhan obat warung tidak bekerja dengan sempurna. Semalam, kawan-kawannya sudah bilang, kalau sakit tak usah ikut, tapi dia sudah janji, dan di mana-mana janji harus ditepati, maka dia pun turut serta. Dalam kepungan angin malam yang menggigit, dia coba menikmati nomor-nomor dari The Beatles: "Ticket to Ride", "Obladi Oblada", dan "Yesterday".

Dan semakin malam, suhu tubuhnya semakin tinggi. Pasukan kuda troya menyerang pertahanan tubuhnya. Pada cigarette batang ke enam dia begegas ke toilet dan membuang isi lambungnya. Orang-orang yang habis buang air dan sedang mencuci muka menyangka dia tak kuat menahan dosis Jack D, dan mereka salah. Kesehatan pemimpin memburuk, pasukan bubar. Mereka pulang.
Dalam gelap suasana kamar, masih terdengar percakapan di luar. Kawan-kawannya masih membangun malam dengan cigarette, kacang tanah, minuman ringan, dan obrolan yang mudah dilupakan.
Dalam panas suhu tubuh dan hangat temperatur kamar, dia ingat kembali sepotong artikel di koran pagi, tentang Teater Koma yang telah berjalan selama 34 tahun. Sekali waktu penontonnya didominasi orang-orang berbaju hijau, mereka disuruh atasan, atasan disuruh pimpinan, pimpinan diperintah komandan, komandan dapat pesan dari orang yang duduk di kabinet, orang yang duduk di kabinet takut sama babeh yang manis betul kalau sedang tebar senyum. Sepotong senyum cukup untuk membuat stempel Bapak Pembangunan.

Tapi Teater Koma terus berjalan. Tekanan dijadikannya hulu ledak ide. Mas Nano dan Mbak Ratna terus memproduksi pementasan sampai sekarang.

Tapi kemudian dia menyumpah, “Kau siapa? Coba kau lihat cermin. Kau tak lebih dari seorang pecundang!”

Suhu tubuh terus meroket, kalau saja usianya masih balita mungkin dia sudah terkena step. Hampir saja dia mengigau, tapi cepat dicegah oleh ingatannya pada tulisan Andrea: “Masa depan bagiku adalah pensiun dalam keadaan miskin dan rutin berobat melalui fasilitas Jamsostek, lalu mati merana sebagai orang yang bukan siapa-siapa.”

Awalnya dia sempat setuju, dengan ikut-ikutan mengutuki beberapa profesi, tapi kemudian dia ingat bapaknya di kampung. Pengabdian 40 tahun telah tunai demi pendidikan anak-anaknya, lalu sekarang terbaring lemah, sementara para ahli warisnya bertekuk lutut di tangan kuku-kuku tajam bernama keluarga, kerja, dan kesibukan. Brengkes, tahu apa Andrea tentang pengabdian?!

Pintu kamar diketuk dari luar. “Minum obat dulu Bung!” Dan obat warung lingkaran biru menyerbu ke dalam.

Siapa bertetangga tapi hidup sendirian, silahkan pak hansip gerebek saja dia yang sedang berpacaran dalam kamarnya yang tertutup. Siapa bertetangga tapi kehilangan pisau dapur seperti kehilangan nyawa, maka jemurannya tak usah dipindahkan waktu turun hujan.

Waktu badannya menggigil karena lingkaran biru belum bereaksi, dia ingin sekali menyanyikan lagu mas Iwan, tapi suara yang keluar dari mulutnya hanya perlawanan terhadap rasa dingin. Lagu hanya berbunyi entah di mana, begini kurang lebih:

“Jika di antara kita jatuh sakit / lebih baik tak usah ke dokter / sebab ongkos dokter di sini / terkait di awan tinggi.”
Dan dia akhirnya menyerah pada tidur. Terbangun tengah hari, masih menggigil. Terbangun menjelang subuh, keringat luruh. Terbangun pagi hari, lumayan sehat. Di tengah kepala yang masih sedikit berat, pagi itu dia terduduk di depan kamar. Matahari telah berada di posisi angka delapan. Bapak tua yang rumahnya di depan, tengah membaca koran pagi, mungkin Kompas. Setelah membasuh muka dengan air keran, dia duduk lagi di depan pintu kamar.
“Hidup adalah tentang kesetiaan, Haryani,” begitu kalimat yang ingin dia ucapkan untuk perempuan yang dicintainya, tapi kata-kata terhenti di tenggorokan.
Semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, makanya banyak yang bicara ngelantur ke mana-mana. Makanya banyak yang berteori, mencari hikmah, beragitasi, hujan retorika, mensiasati kelamin, berjudi di lembaga pendidikan, atau bermetamorfosis menjadi besi biar magnet rejeki menariknya dari segala penjuru.

“Tidak, Haryani. Aku hanya sayang kamu. Jangan kau paksa aku untuk mencari perempuan lain,” demikian kalimat lanjutan yang ingin dia katakan untuk perempuan yang disayanginya, tapi lagi-lagi tenggorokan menghentikannya.
Lalu matahari merangsek meninggalkan waktu dhuha. Dia melihat cucian, “Oh, kesibukan,” gumamnya.

Hidup selalu diawali oleh keluhan, meskipun kau berusaha menyembunyikannya lewat gugusan tulisan. Mereka yang bertahan adalah orang-orang yang berhasil merubah keluhan menjadi keringat, meragi sakit hati dengan pertahanan yang teguh, dan sedikit do’a-biar tak dianggap meninggalkan Tuhan.

Alangkah perihnya menikmati gincu kata-kata dengan riasan menor tentang kebijaksanaan. Meja hijau bagi si pemilik jelaga hati. Sementara para penikmat tafsir brillian sekali berkicau “munafik” kepada sesamanya.

Brengkes, bicara apa saya ini?! Mana lelaki yang tadi melihat cuciannya? Oh itu dia. Deterjen serbuk dia tuang ke dalam ember putih, dan lihatlah itu busa, memakan kotoran yang menempel di pakaian.

Sebenarnya dia masih lemah, arus darahnya masih tertahan di kecepatan 1 kilometer pertahun, tapi besok hari senin, besok masih ada “I Don’t Like Monday” di Hardrock.

Selesai merendam, dia turun ke bawah, duduk di warung kopi menunggu tukang koran lewat. Sepeda kumbang muncul dari belokan ujung gang, Kompas dia barter dengan 3,500 rupiah.

“Nyari lagi kerjaan baru, Mas?” tanya pemilik warung kopi. Dia menggeleng.

Dekat jemuran, sambil menunggu cucian, dia membaca sepotong sajak mas Goenawan: “Cinta terbaik seharusnya diperpendek / pada pagi / oleh daun / yang ditemukan matahari.”
Apa yang dijanjikan kimia? Tidak ada! Lelaki itu telah dirayu untuk keluar dari persembunyiannya yang gelap dan sepi. Dia coba kumpulkan remah-remah keberanian untuk membentangkan sayap, tapi mataharinya justru membenamkan dia ke dalam ruang hampa. Absurd.

“Di mana sekarang Rumi? Saya ingin menggugatnya!” teriak lelaki itu.

Siang menjelang dzuhur memang waktu yang bagus untuk menjemur pakaian. Angin sedang rakus berhembus, dan sinar ultraviolet sedang sangat bagus menakut-nakuti siapa saja yang menjadi korban iklan pemutih kulit muka. “Sesama pengecut dilarang saling menggurui,” begitu kata angin yang membawa aroma Molto rasa bunga lavender.

Haryani, perempuan yang dicintainya berkelebat di baju yang sedang dijemurnya. Tapi kemudian hilang lagi sebab terdengar olehnya suara-suara aneh Pramoedya dari cerpen “Gado-gado” yang berhasil merekam terhempasnya uang republik pada titik terendah. Wajah-wajah pribumi berjajar kuyu di depan gedung-gedung yang akan segera gulung tikar.

Radio lemah belaka mewartakan rencana serangan besar-besaran pasukan Sekutu. Bapak tani akan segera meninggalkan sawah dan hewan ternaknya yang akan menjadi rebutan tentara Republik dan dan pasukan Sekutu, akan habis, tak menyisakan sedikit pun buatnya.

Ibu tani akan kehabisan pangan lalu duduk di taman kota menunggu para pemuda yang takut menikah, merayu mereka untuk memeluknya dan tidur di taman itu, lalu besok sebelum pagi sempurna memperlihatkan lengkung langit, dia akan mati dimakan raja singa di taman hijau itu, di bawah langit tanah airnya. Harga-harga melambung, mencekik rakyat yang tengah cemas dan waspada akan serangan senjata.

Jelas sekali dalam bayangannya, wajah Pramoedya menyindir dirinya. “Dulu aku hampir mampus diburu peluru NICA, lalu berbilang tahun hidup di tempat purba (penjara), tapi aku tak pernah menyerah.”

Seharusnya tidak ada yang menghentikan pertumbuhan kosa-kata. Kaum pemuja Sufi harus ditenggelamkan dulu ke dasar samudera para idolanya agar nanti tidak ada lagi plagiasi kepada cerita garam yang dibuang ke dalam gelas dan telaga.

“Hiduplah kami, mampuslah kau plagiator!” begitu kata Pidibaiq waktu karyanya diadaptasi oleh salah satu acara komedi station televisi swasta yang bermarkas di Jalan Kapten Tendean. Tapi bolehlah bermazhab kepada Bovard dan Pechucet, karena katanya, menulis adalah sebuah gerak yang tidak pernah benar-benar asli.

Siang sudah menjelang sore, dia membaca lagi koran yang dibelinya pagi tadi. Tidak. Sekali lagi dia tegaskan, dirinya tidak akan mencintai perempuan lain. Dan saya harus pergi, bosan juga mengikuti kegiatan hariannya. Tapi saya ingin sekali menulis pertemuan mula-mula antara dirinya dan perempuan itu. Artinya, saya tidak boleh dulu mengemasi pena. (irf)

itp