Showing posts with label Televisi. Show all posts
Showing posts with label Televisi. Show all posts

21 February 2017

Youtube: Hadiah Tak Tepermanai untuk Hidup yang Suntuk


15 Februari 2005, Youtube diluncurkan di Amerika Serikat. Dan hidup manusia tidak pernah sama lagi setelah itu, termasuk di Indonesia—maksudnya termasuk hidup saya yang sering dihadang suntuk. Youtube tak hanya memberikan hiburan yang aduhai, namun juga kengerian yang kadang ditonton berulang-ulang.  

Ketika acara televisi dihiasi berita orang-orang yang tewas karena miras oplosan, saya lari ke youtube, lalu mendapati ada orang mati karena mengkonsumsi daging kuda nil. Ya, manusia makan daging kuda nil. Tak percaya? Silakan ketik “Man dies after eating hippo meat” di kotak pencarian. Luar biasa. Tak dinyana jika ada manusia yang melahap hewan yang kerjanya hanya berendam di air dan menguap itu. Perhatian kuda nil, diam saja sudah lucu, dan ini ada manusia yang amat tega menyantap hewan selucu itu. Miras oplosan hanya paduan dari nekad dan kebodohan, tapi mengkonsumsi daging kuda nil memerlukan citarasa humor yang gelap.

Saya tinggal di Bandung, namun semua media sibuk mengabarkan pertarungan di Pilkada Jakarta. Apa pentingnya? Buat saya jelas sekali tidak menghibur. Dan obat penawar hati yang kecewa siapa lagi kalau bukan youtube. Di sana, pertarungannya lebih elegan, gentle, dan tak perlu buzzer. Lihatlah pertarungan antara macan tutul melawan landak. Mereka duel satu lawan satu, masing-masing tak memerlukan wakil. Macan tutul menyerang dengan ganas, namun landak dengan sigap melindungi dirinya dengan duri super tajam yang membuat macan tutul tersebut menggaruk mukanya sendiri, paduan antara sakit dan gatal. Ada pula pertarungan badak melawan singa, buaya versus macan tutul, ular melawan buaya, dll. Sungguh pertarungan mereka lebih menghibur daripada Pilkada Jakarta.

Untuk mengusir suntuk, saya kadang ingin mengajak seorang kawan bepergian keliling Indonesia memakai motor matic. Bertemu dengan orang-orang dan merapal kata-kata Soe Hok Gie dengan penuh perasaan, “Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya.” Lalu perjalanan kami ditulis, bukunya laku dan menginspirasi banyak orang, kemudian kami tampil di acara Kick Andy. Atau perjalanan itu menghasilkan foto-foto ciamik untuk diunggah di Instagram, follower kami banyak, dan orang-orang mulai beriklan, lalu kami menjadi selebgram dan kaya raya. Tapi itu semua serupa mimpi yang disudahi adzan subuh ketika saya membuka youtube dan melihat seseorang menari-nari di langit bersama aurora. Ketik segera “Sky Dancing with Aurora”, dan hidupmu yang seolah keren itu tak ada maknanya, persis seperti mimpi saya yang rerak berhamburan.

Dalam kondisi suntuk, saya kadang merasa lapar. Untuk kuliner, meskipun tengah suntuk, saya tak berpikiran untuk makan yang aneh-aneh. Dalam kamus hidup saya tak ada yang namanya extreme foods. Bukan latah mengikuti mantan presiden Amerika Serikat, tapi salah satu makanan favorit saya adalah sate kambing. Setelah itu masakan Padang. Kalau bosen yang bersantan, saya lari ke warteg. Dan di atas itu semua, masakan rumah juaranya. Saat lapar menghebat, saya tak pernah berpikir untuk makan daging kelelawar, trenggiling, landak, berang-berang, koala, ataupun lumba-lumba. Sekali waktu memang pernah makan daging biawak, itu pun karena ditipu seorang kawan. Tak jarang, sambil makan saya membuka youtube, dan sekali waktu saya tersesat ke sebuah video tentang orang-orang kelaparan di Afrika yang berebut menggasak daging Gajah. Saya mengklik sebuah video berjudul “Starving African eat elephant and strip it to the bone”: seketika mual dan ngeri.

Setelah makan, saya tentu membutuhkan kesegaran yang hakiki. Meski menurut ilmu kesehatan mengkonsumsi buah-buahan baiknya sebelum makan, namun apalah daya, mulut yang masih menyisakan gurih sisa sate atau kubangan santan tak mau berkompromi dengan tips kesehatan tersebut. Maka sehabis makan, saya kerap melahap pisang, semangka, melon, buah naga, anggur, jeruk, dan buah-buahan lain yang kehadirannya bergantian, dipengaruhi oleh kondisi keuangan. Kalau uang sedang berlimpah dan saya mulai bosan dengan buah-buah tersebut, maka youtube akan mencoba memandu saya melihat buah-buahan mahal yang ada di dunia. Sambil mengunyah anggur yang masih tersisa, saya mengetik “10 Most Expensive Fruits In The World”. Dan aduhai mantap, ternyata buah yang paling mahal adalah buah pir berbentuk Buddha! Sudah mahal, sayang pula kalau sampai dimakan. Akhirnya saya tak melanjutkan menonton video tersebut.

Konon, sate kambing dapat membuat kepala pusing, baik yang atas ataupun yang bawah. Untuk soal yang satu ini pun, youtube telah menyediakan layanannya yang prima. Bukan tentang sate kambingnya, tapi ihwal kepala yang pusing tadi. Apabila bigo live yang sedang ramai itu tak sempat diikuti secara telaten, dan video-video aduhai terlewat begitu saja, maka larilah ke youtube. Ia menyediakan rekaman yang hot, setengah hot, sampai yang buka-bukaan. Youtube menjadi media arsip yang bisa diandalkan, dan membuat lega para pegiat bigo live yang terlampau sibuk mengejar urusan duniawi sehingga melupakan sesuatu yang lebih hakiki.        

Kalau suntuk datang malam hari, dan saya belum kapok nonton televisi, maka youtube ternyata hadir juga di sebuah program salah satu televisi nasional. Ia dicuplik, disusun tematik, diberi peringkat, dan dihamparkan ke hadapan pemirsa yang seolah semuanya hidup di pelosok negeri dan tak mengenal internet. Produksi murah meriah, tinggal diberi tulisan “courtesy of youtube”, selesai sudah. Di titik ini youtube tak lagi aduhai, tak lagi cocok untuk menemani hidup yang suntuk.

Dan sialnya, tulisan ini pun hampir sama dengan program acara televisi tersebut! [irf]                      

17 August 2015

Memento Mori

Oleh : Bre Redana

Saat Lebaran, banyak orang mensyukuri lengangnya jalanan Jakarta. Enak kalau begini terus. Tidak macet.

Seperti para majikan yang mensyukuri kelengangan Jakarta di satu pihak, sementara di lain pihak merindukan para pembantu segera balik, itulah sifat mendua kita. Tak mungkin kalangan profesional menikmati kemakmuran dan kemudahan, tanpa ditopang faktor penunjang, di antaranya urusan domestik yang sehari-hari diambil-alih para pembantu. Bentuk paling banal dari kepentingan praktis-pragmatis itulah dia: enaknya sendiri.

Dunia pasca-ideologi sejatinya memang cuma berisi kepentingan-kepentingan pragmatik. Sifat permukaan kepentingan ini mengaburkan kepentingan bersama yang lebih dalam, lebih luas. Tidak usah merasa ini sebagai serangan terhadap pribadi-pribadi. Lingkungan sosial kita sehari-hari mengisyaratkan bagaimana pragmatisme mengatasi segala-galanya sekarang.

Pemerintah mandul. Konon kebudayaan suatu bangsa tercermin pada lalu-lintasnya. Inikah chaos kebudayaan kita? Pemudik bergelimpangan di jalan, sebagian besar pengendara motor?

Terhadap televisi–media paling berpengaruh, sebaiknya Anda tidak melulu percaya pada apa yang Anda lihat. Yang ditampilkan televisi adalah ingar-bingar mudik dan komodifikasi segala hal. Euforia di jalan yang ditampilkan televisi mengaburkan tragedi di baliknya: bahwa hanya dalam beberapa hari ratusan orang mati di jalan.

Tak banyak yang peduli. Karena apa? Di situ ada iklan minyak pelumas, gardu-gardu iklan berkedok posko peristirahatan, minuman penambah stamina yang diminum dari petugas pintu tol sampai polisi, dan lain-lain.

Urusan iklan, dalam bisnis mutakhir media massa, mengalahkan segala-galanya. Kepentingan publik, akan selalu diduakan dengan kepentingan bisnis. Bahkan pada sejumlah media massa, terutama pada beberapa televisi, tak jarang kepentingan publik dimanipulasi untuk kepentingan rating. Tragedi dijadikan spekulasi politik. Nasib orang miskin diubah menjadi tontonan dengan si miskin dibuat meratapi nasib, seperti pada reality show sebuah stasiun.

Televisi memobilisasi masyarakat dalam kesadaran (dan ke-tidak-sadar-an) kolektif atas makna kenyataan. Yang tidak nyata menjadi nyata, yang nyata menjadi tidak nyata. Lalu, keputusan menjadi salah, karena tidak jelas, didasarkan atas apa.

Sifat umum manusia konon memang berupa keterbatasannya untuk mencerna sesuatu yang empirik, serta kemampuan membedakan jalinan yang kompleks antara motif yang didasarkan kesadaran dan bawah sadar. Manusia lebih mudah memfantasikan dan meletakkan tanggung jawab pada sesuatu yang tidak kelihatan, di antaranya nasib. Tak banyak manusia melakukan refleksi kritis terhadap hidupnya secara serius. 

Dunia pragmatisme ini hampa, kosong. Berhamburannya orang ke mal di saat Lebaran bukan semata-mata dikarenakan pembantu tidak ada, seperti terjadi di Jakarta. Dari mal mewah di Jakarta sampai mal di daerah pinggiran dan kota-kota kecil–tanyalah pada semua orang–semua dibanjiri orang. Ke mal, merupakan gejala di semua kalangan, bukan semata-mata gejala kalangan atas yang mencari segalanya di mal karena ditinggal pembantu.

Kehidupan sehari-hari, terutama di kota besar, telah menjadikan orang tak mengenal lagi rumah sebagai sanctuary–tempat untuk ketenangan batin. Rumah adalah tempat transit bagi kegiatan rutin di luar yang tak kenal henti. Ketenangan, atau bahkan hubungan personal dalam rumah, menjadi meresahkan. Itulah sebagian dari sifat yang disebut ”the lonely crowd”. Ini bisa menghinggapi siapa saja, mau psikolog atau ahli jiwa sekali pun.

Tidak semua hal bisa dinalar secara pragmatik, Saudara-saudara. Di kota kecil saya di Jawa Tengah ada kuburan kuno dengan gerbang bertulis kata-kata bahasa Latin: memento mori. Artinya kurang lebih, ingat kefanaanmu. [ ]