Showing posts with label Bukan Pasar Malam. Show all posts
Showing posts with label Bukan Pasar Malam. Show all posts

23 February 2020

Gulma di Majalah Sabili dan Riuh Sastra yang Reda Begitu Saja



Majalah Islam Sabili pernah memuat cerpen "Pulang" yang hampir sekujurnya sama dengan bagian 7 roman Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer.

Ini belum terlalu lama terjadi. Belum genap satu dasawarsa berlalu. Majalah Islam Sabili yang sudah berhenti terbit sejak tahun 2014, sempat memuat cerpen yang sangat mirip dengan bagian ketujuh novelet Bukan Pasar Malam (cetakan 9: 2004) karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram).

“Pulang” karya Kukuh Setyo Prakoso (selanjutnya ditulis Kukuh) dimuat di Majalah Islam Sabili No. 07 TH XVI, 23 Oktober 2008/23 Syawal 1429.

Perhatikan paragraf berikut:

“Sesudah mandi, aku ada kesempatan melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebenarnya bukan mandi yang betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur Bengawan Solo. Hanya sesekali saja airnya jernih. Pembagian air PDAM di sini agak pelit. Sehari menyala, lalu sehari kemudian mati. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air PDAM yang teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak. Kami menyebutnya dengan busik,” tulis Kukuh.

Bandingkan dengan tulisan Pram ini:

“Jam sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebetulnya bukan mandi betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng di sini tak boleh diharapkan. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air ledeng dengan teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan-jalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak.” (Bukan Pasar Malam: hlm. 42)
Atau coba baca juga yang ini:

“Ya Gus, rumahmu ini aku juga yang mendirikan dulu. Waktu itu kamu baru bisa tengkurap. Tiga puluh tahun yang lalu! Dan selama itu, rumahmu ini belum pernah diperbaiki. Pikir saja. Tiga puluh tahun! Itu tidak sebentar bila dibandingkan dengan jeleknya tanah di sini. Cobalah lihat rumah-rumah tembok yang didirikan sesudah rumahmu. Semua itu sudah roboh, retak, dan sobek-sobek. Rumahmu ini masih kuat.” Sekarang nada suaranya berubah menjadi ketua-tuaan. “Kalau bisa Gus, harap rumahmu itu diperbaiki. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orangtua dulu: Apabila rumah itu rusak, maka yang menempatinya pun rusak,” tulis Kukuh.

Dan ini tulisan Pram:

“Ya, Gus, rumahmu itu aku juga yang mendirikan dulu. Waktu itu engkau baru bisa tengkurap. Dua puluh lima tahun yang lalu! Dan selama itu, rumahmu itu belum pernah diperbaiki. Pikir saja. Dua puluh lima tahun! Itu tidak sebentar dibandingkan dengan jeleknya tanah di sini. Cobalah lihat rumah-rumah tembok yang didirikan sesudah rumahmu—semua itu sudah roboh, bongkar, dan sobek-sobek. Rumahmu itu masih kuat.” Sekarang suaranya jadi ketua-tuaan. “Kalau bisa, Gus, kalau bisa—harap rumahmu itu engkau perbaiki. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu: Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak.” (Bukan Pasar Malam: hlm. 43-44)

Sebagai contoh terakhir, saya kutipkan satu lagi:

“Tiba-tiba seluruh badan bapak bergerak, seperti tertarik-tarik oleh sesuatu. Matanya terbuka dengan tiada memandang. Kemudian badai batuk menerjang. Dan dalam keadaan ini, tak ada satu pun manusia yang mampu ringankan beban deritanya. Aku hanya bisa melihat penderitaannya, dengan rasa sesal mengiris dada. Muka yang pucat pasi itu jadi membiru oleh batuknya. Dan ketika batuk mereda, terdengar perkataan dari bapak, ‘Ada-ada saja hidup manusia ini’,” tulis Kukuh.

Sementara berikut tulisan Pram:

“Dan mata itu tertutup lagi. Sebentar saja. Tiba-tiba seluruh badan itu tertarik-tarik. Matanya terbuka dengan tiada memandang. Kemudian badai batuk menerjang. Dan dalam keadaan seperti itu, tak ada manusia di seluruh dunia bisa meringankan penderitaannya. Dan aku hanya bisa mengawasi dengan penderitaan yang meruyak di dalam dada. Muka yang pucat itu jadi kebiru-biruan oleh batuknya. Dan waktu batuk itu reda terdengar suaranya yang diucapkan cepat-cepat: ‘Ada-ada saja hidup manusia ini’.” (Bukan Pasar Malam: hlm. 46-47).

Cerpen “Pulang” sepanjang 1229 kata itu hampir di sekujurnya sama dengan tulisan Pram. Di bawah tulisannya Kukuh menulis: “Made in Cepu, 17 September 2008, pukul 7.26 a.m)”.

Tahun 2008 saya sempat mengirim surat pembaca ke redaksi Majalah Islam Sabili, tepatnya redaktur Elka (Lembaran Khazanah), rubrik yang menggawangi cerpen, tapi tak pernah ada tanggapan.

H.B. Jassin dalam Tifa Penyair dan Daerahnya (1985) bagian 21 “Plagiat, Saduran, Pengaruh”, menjelaskan bahwa plagiat adalah menyalin sebagian atau seluruhnya dari sebuah karangan, kemudian menambahkan namanya di bawah tulisan itu seolah-olah miliknya.

“Cara yang begini disebut plagiat, pencurian atau pencaplokan, sebab sama dengan mencuri, yakni mencuri hasil pikiran orang,” tulis Jassin.

Sementara saduran, menurut Jassin, adalah karangan yang diambil jalan cerita dan bahan-bahannya dari karangan lain, misalnya dari karya pengarang luar negeri, dengan mengubah dan menyesuaikan nama-nama dan suasana serta kejadian-kejadian di negeri asing itu dengan keadaan di negeri sendiri.

“Tapi pada saduran ini pun selalu harus disebut nama karangan dan pengarang aslinya dan disebutkan pula bahwa disadur, meskipun pengarangnya telah beratus tahun jadi tengkorak dan negerinya jauh dari negeri kita,” tambahnya.

Pengalaman membaca berbagai bahan bacaan dari para pengarang, penyair, pujangga, ahli filsafat, dll, sedikit banyak akan memengaruhi karya si pengarang. Itulah yang dimaksud Jassin sebagai pengaruh. Namun Jassin menegaskan bahwa pribadi yang kuat bisa melebur pengaruh-pengaruh itu, sehingga karyanya tidak berbau jiplakan yang ditempel-tempelkan, melainkan karya yang berwatak sendiri.

Jika menilik cuplikan cerpen “Pulang” yang ditulis Kukuh, dan membandingkannya dengan Bukan Pasar Malam karya Pram, pembaca bisa menilai sendiri posisi cerpen “Pulang” tersebut: apakah sebagai karya plagiat, saduran, atau hanya terpengaruh oleh Pram?


Keriuhan di Ladang Sastra Indonesia Tahun 2000-an

Muhidin M. Dahlan dalam Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (2011) di bagian penutup bertajuk “Plagiat, Keributan Omong Kosong, dan Kehormatan” mendokumentasikan beberapa peristiwa sastra pada tahun 2000-an yang mengundang keriuhan di media sosial.

Kasus pertama yang ia bahas adalah cerpen “Perempuan Tua dalam Rashomon” yang ditulis Dadang Ari Murtono. Cerpen yang sempat dimuat di Lampung Post (5 Desember 2010) dan Kompas (30 Januari 2011), dituduh plagiat dari cerpen “Rashomon” karya cerpenis Jepang, Ryunosuke Akutagawa.

Setelah kasus Dadang, Muhidin kemudian membahas puisi Taufiq Ismail, “Kerendahan Hati” yang mirip dengan puisi “Be the Best of Whatever You Are” karya Douglas Malloch.

Media sosial ribut. Bramantyo Prijosusilo berkomentar keras, “Khabarkan kepada dunia, penyair jahat Taufiq Ismail yang suka menekan-nekan seniman muda dengan cara-cara selintutan, adalah plagiator tuna-budaya.”

Komentar Bramantyo Prijosusilo kemudian menuai tanggapan beragam. Taufik Ismail yang marah, yang katanya “tidak terima dinista sedemikian”, hendak menyeret Bramantyo ke ranah hukum. Namun, akhirnya kasus ini berujung dengan damai. Bramantyo meminta maaf.

Selain dua kasus tersebut, ada juga pemaparan tentang cerpen “Dodolit Dodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma yang mirip dengan “Tiga Pertapa” karya Leo Tolstoy. Mula-mula akun Facebook Akmal Nasery Basral mengunggah cacatan bertajuk “Dodolit Dodoltolstoy” yang isinya menceritakan pengalaman dia waktu menghadiri Malam Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2011 di Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 27 Juni, yang salah satunya menampilkan cerpen “Dodolit Dodolibret”.

Muhidin menerangkan bahwa Akmal menulis delapan poin kesamaan antara cerpen Seno dengan Tolstoy, di antaranya yaitu: (1) Fokus cerita tentang seorang pemuka agama yang resah melihat cara berdoa masyarakat umum yang salah (Guru Kiplik versi SGA, dan Uskup versi Tolstoy), (2) Sang pemuka agama pergi ke sebuah pulau. (Berlokasi di tengah danau luas versi SGA, dan berlokasi di tengah lautan luas versi Tolstoy), dll.

Seperti pada dua kasus sebelumnya, soal ini pun mengundang banyak tanggapan dari para sastrawan, tapi kemudian cepat mereda.

“Kasus Seno Gumira Ajidarma dan Tolstoy itu pun kita tahu kemudian mereda dengan cepat, lalu melenyap. Tak ada kelanjutan. Mungkin sekadar sport agar media sosial itu tak hanya berisi keluh-kesah, 'status' personal dan sehari-hari, dan sesekali puisi-puisi pendek atau cerita pendek yang diposting tergesa-gesa untuk meraup sesegera mungkin pujian antarkenalan, serta agenda-agenda kesusastraan,” tulis Muhidin.

Beberapa kasus di atas, termasuk kasus di Majalah Islam Sabili yang sepi dan tidak ada tanggapan sama sekali, menambah catatan sejarah sastra Indonesia yang masih muda usia.

Dalam catatan pembuka buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (2011), Muhidin M. Dahlan menulis, “[…] ini sejarah kita, sejarah sastra Indonesia. Mari buka, mari baca. Dan setelah itu, generasi berikutnya akan menimbang mana yang pantas disiangi (karena gulma), mana yang perlu ditumbuhkan (karena padi). Mana yang dibabat, mana yang ditumbuhkan.”
(irf)

Tayang pertama kali di Tirto.id pada 20 Maret 2018

11 December 2019

Kisah Para Pejuang Kemerdekaan yang Bernasib Suram



Para veteran perang kerap kesulitan, bahkan gagal, menyesuaikan diri dengan kebebasan di masa kemerdekaan.

Setelah perang kemerdekaan berakhir, tak semua kombatan yang berjuang membela Indonesia menjadi berjaya hidupnya. Jiwa keperwiraan yang dipanggul di setiap pertempuran dan sepanjang revolusi, mesti luluh lantak ditekuk kenyataan yang mencegat di garis depan berikutnya.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram), yang mengalami masa revolusi dan sempat melewatkannya sebagai kombatan, menulis beberapa cerpen untuk mengabadikan kondisi para mantan pejuang itu. Beberapa di antaranya: "Demam", "Terondol", dan "Jalan Kurantil No. 28", cerpen-cerpen yang relatif kurang dikenal pembaca.

"Demam" (1950) dan "Terondol" (1947) dihimpun dalam buku Menggelinding 1 yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada 2004, dua tahun sebelum Pram meninggal. Sementara "Jalan Kurantil No. 28" terdapat dalam buku Subuh (pertama terbit tahun 1951).

Pram memang menulis banyak buku, yang dalam kata-katanya disebut sebagai anak-anak rohaninya: ada yang terkenal dan panjang umur, ada juga yang kurang popular atau bahkan mati muda. Namun demikian, ia tak pernah membeda-bedakan anak-anak rohaninya.

Dalam esai "Kesusastraan dan Perjuangan" yang dimuat dalam Mimbar Penyiaran DUTA tahun 1952 ia menjelaskan, “Kesusastraan sebagai pancaran dari kegiatan jiwa, bahkan perjuangan jiwa, adalah dokumentasi manusia yang tegas.”

 

Kirno, Oestin, Mahmud Aswan

Ketika Belanda menduduki kota, Kirno serta pasukannya mundur bergerilya ke hutan-hutan di Mantingan. Ia jatuh sebagai korban dan menggelepak di rumah seorang lurah: kakinya buntung, matanya buta.

Saat perang berakhir, ia mengutuk keadaan dirinya. Kirno menjadi seorang pemarah. Ati, kekasihnya, diusir dari rumah ketika mencoba menemuinya yang mula-mula setelah 
kecamuk revolusi. Hanya Tini, adiknya, yang menjadi penghibur batin Kirno. Bocah itu kerap disuruhnya bernyanyi untuk mengobati semua luka jiwa.

“Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, sekalipun dalam zaman penjajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi,” tulis Pram. (hlm. 476).

Kedatangan Ati, perempuan yang dipujanya sebelum dan semasa perang, menjadi jalan bagi Kirno untuk menumpahkan segala kekecewaan dan kemarahannya kepada dunia. Hidup, penderitaan, dan segala perasaan yang sesak di dada ia tumpahkan.

“Ati kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai. Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?” (hlm. 477).

Di atas kursi roda (Pram menyebutnya kereta) Kirno terus mengeluarkan segala isi hatinya. Ati sang kekasih barangkali dianggapnya sebagai dunia itu sendiri, tempat semua cita dan bunga harapan bersemi. Dalam kondisi tak berdaya—kemana-mana didorong adiknya, Kirno akhirnya menyerah. Telah habis segala asa. Sudah tumpas semua harap. Namun meski begitu, sebelum ia menyuruh Ati pergi, sempat juga ia mengenangkan sisa-sisa keinginannya.

“Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tak bisa berjalan lagi, Ati. Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar suaramu. Ati. Tapi jangan datang padaku hanya suara saja. Ya, hanya suaramu saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik untukku,” ujarnya. (hlm. 484)

Kisah tersebut ditulis Pram dalam cerpen "Demam" yang pertama kali dimuat dalam Mimbar Indonesia tahun 1950.

Sementara dalam "Jalan Kurantil No. 28" yang dihimpun dalam Subuh (1952), Pram menceritakan seorang mantan serdadu yang meskipun fisiknya masih lengkap, namun kepribadiannya telah hilang.

“Sepatu itu melangkah-langkah jua, pendek-pendek lesu dan tetap. Warnanya hitam—bekas sepatu 
serdadu Gurkha. Baru sekali ini sepatu itu menciumi aspal Jalan Kurantil. Dulu sepatu itu gagah, mengkilat dan galak juga. Dia pernah menginjak dada bangkai berpuluh-puluh prajurit dari berbagai bangsa dan di berbagai medan perang. Tapi kini sudah hilang keindahan dan kegagahannya. Tumitnya sudah miring. Hitamnya telah berbulu-bulu putih-putih, hidung bopeng-bopeng, dan jahitannya sudah banyak yang rantas. Langkahnya tak tegap lagi, tapi melangkah juga. Di dalamnya tersembunyi kaki yang kecil, tipis, dan kehijau-hijauan, dan di atasnya menjulur betis yang tipis, lutut, paha, kemudian celana pendek militer. Dulu betis itu besar dan bertenaga juga, walaupun tak mengalami perang di mana-mana. Hanya sekali itu mengalami pertempuran, di Jalan Kramat. Perbandingan antara betis dan sepatu besar itu jadi perhatian semua orang yang melihatnya. Tapi betis itu berjalan saja, sekalipun orang menamai kaki kijang atau kaki pinokio.” (hlm. 26).

Teeuw dalam naskahh "Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer" yang dimuat di Jurnal Kebudayaan Kalam 6 Thn. 1995 menjelaskan bahwa kutipan tersebut adalah awal cerita yang amat mengerikan.

“Awal ceritanya sangat mengerikan, dievokasi dehumanisasi dan desintegrasi seorang manusia; tokoh ini menjadi fungsi ‘bungkusan pakaian’-nya yang serba kumal. Kepribadiannya tidak ada lagi. Ia terdiri dari daging yang dibungkus dalam sepatu dan pakaian lain yang telah ada sejarahnya di luar dia, bahkan badannya sendiri telah tua,” tulisnya. (hlm. 35)

Mahmud Aswan nama mantan serdadu itu. Setelah meringkuk dalam penjara sebagai 
tawanan perang selama empat tahun, ia pergi ke Jalan Kurantil No. 28 untuk kembali ke pada istrinya tercinta. Namun rupanya tak ada tempat lagi baginya di dunia ini, ia mendapati istri, anak dan rumahnya semuanya telah diambil alih oleh temannya. Mahmud limbung, dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya ia mendekati sungai Ci Liwung dan menceburkan diri. Konon perang telah dimenangkan, tapi bagi Mahmud yang ada hanya kekalahan. Keluarga—yang kata Pram sebagai mula kehidupan manusia, payung yang melindungi keturunan manusia dari hujan dan terik pergaulan hidup, telah direnggut orang lain.

Dalam "Terondol", cerpen yang pertama kali dimuat dalam Sadar (No. 2 Th. II, 16 Mei 1947), Pram tak berkisah tentang gerilyawan republik, namun orang Indonesia mantan tentara Belanda yang baru pulang tugas dari Australia. Oestin namanya.

Setelah 
pendudukan Jepang berakhir, ia kembali ke Indonesia hendak menemui keluarganya di kampung. Surat dikirimkan, tapi balasan yang datang membuatnya berdegup. Karena ia dianggap telah mati dalam pertempuran laut, istrinya menikah lagi dan telah menambah dua orang anak.

Kecewa ada, tapi tak lekas membuatnya putus asa. Dikirimkan lagi surat kedua, kali ini meminta agar anaknya diantarkan ke Jakarta. Namun ternyata anaknya tak diizinkan menemui bapaknya.

“Sekali ini ia menangis. Ia merasa sedih. Karena itu ia merasa hidup kembali. Tetapi ia benci pada hidup seperti itu. Ah! Apalagi kalau ia membuka kopor, tampak setelan piama. Ia mau mengistimewakan keturunannya di antara anak-anak sebayanya. Hambar saja harapannya. Walaupun gunung, kalau dipacul setiap hari, datar juga akhirnya. Demikian pula dengan harapan. Kecewa dan kecewa, berbaris; lemah juga ketabahannya,” tulis Pram. (hlm. 45)

Tak kuat menahan kecewa yang datang bertubi, akhirnya Oestin menyerah. Dadanya 
dimakan TBC, darah keluar. Seminggu ia tak bangun dari tempat tidur. Habis kesanggupannya, habis harta benda, habis harapan, habis cita-cita, habis segala-galanya. Ia terondol. Seperti ayam tak berbulu kedinginan di dalam hujan.

“Sebulan kemudian perusahaan ibunya bangkrut, badannya! Ia diantarkan kembali, berpatok dua,” tulis Pram. (hlm. 45)

Menanggapi cerita "Jalan Kurantil No. 28", A. Teeuw menyebutnya bukan kisah yang isinya sangat dalam, tapi menunjukkan empati dan simpati Pram bagi korban perjuangan serta keinsafan akan kesia-siaan dan kepercumaan perjuangan kemerdekaan yang konon dimenangkan.

Teeuw menambahkan bahwa berkat penguasaan bahasa, kekuatan gaya, dan keaslian imajinasinya, Pram berhasil mentransformasikan kenyataan revolusi dan perjuangan bangsa Indonesia tanpa menjadi propagandis revolusi.

“Tidak menyembunyikan kelemahan manusia, individual maupun kolektif, yang tiap kali tergoda hawa nafsu dan keangkaraannya. Justru kejujuran citra revolusi yang disajikan Pramoedya menjadikannya meyakinkan, meningkatnya kredibilitasnya. Manusia dan kemanusiaan, itulah yang akhirnya menjadi pokok, tema utama, dalam kenyataan hulu maupun dalam kenyataan hilir yang kita sebut seni,” tulis A. Teeuw dalam "
Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer" yang dimuat di Jurnal Kebudayaan Kalam 6 Thn. 1995.

Cerita Kirno, Oestin, dan Mahmud Aswan adalah kisah manusia-manusia yang menjelempah di hadapan realita. Mereka larut dalam peperangan, memperjuangankan apa yang mereka yakini benar. Namun setelah perang berakhir, harapannya tercabik dan merawankan kemanusiaan.

 

Para Veteran dalam Fakta dan Fiksi

Tokoh-tokoh yang diceritakan Pramoedya dalam naskah-naskah di atas memang fiksi. Namun karakter-karakternya diambil dari kisah nyata yang dialami dan disaksikan sendiri oleh Pram.

Masa revolusi antara 1945-1950 (termasuk masa pendudukan Jepang, 1942-1945) seakan menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi Pramoedya. Ia banyak sekali menulis naskah tentang masa-masa bergolak itu. Selain Menggelinding 1 dan Subuh yang beberapa ceritanya diulas di sini, ada juga Percikan RevolusiDi Tepi Kali BekasiBukan Pasar Malam, hingga Perburuan.

Bukan Pasar Malam, sebagai misal. Novelet itu merupakan kisah nyata yang dialami Pramoedya sendiri. Ditulis dengan setting setelah revolusi berakhir, novelet itu mengisahkan betapa pahitnya kehidupan para kombatan di masa pascarevolusi. Sosok yang diceritakan dalam Perburuan, sebagai misal yang lain, adalah orang sekampungnya sendiri.

Siapa yang diceritakan hidupnya pahit dalam novelet itu? Ya, Pram sendiri.

Topik-topik tentang para 
mantan pejuang alias veterang perang umumnya menggambarkan kesulitan, bahkan kegagalan, mereka menyesuaikan diri dengan situasi kemerdekaan. Mereka mengalami kegagapan di tengah situasi baru. Dilamun oleh mimpi tentang cerahnya kemerdekaan, mereka justu menghadapi realitas yang tidak mudah: kemerdekaan tidak berarti apa-apa bagi perbaikan nasib mereka.

Salah satu kisah legendaris tentang nasib para pejuang pascarevolusi adalah Lewat Djam Malam, sebuah film besutan 
Usmar Ismail yang naskahnya ditulis oleh Asrul Sani. Iskandar, tokoh utama film itu, mengalami depresi karena pengalaman perang yang menghantui dan dipersulit oleh rekan-rekan seperjuangannya yang justru hidup di atas kecurangan dan korupsi. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 20 Februari 2018