10 February 2020

Surat Kepercayaan Gelanggang: Suara dan Elan Seniman Kosmopolitan


"Surat Kepercayaan Gelanggang" adalah rumusan posisi warisan budaya saat Indonesia menjalani dekolonisasi.

Pada 1946 sejumlah seniman mendirikan perkumpulan bernama Gelanggang Seniman Merdeka. Pemrakarsanya adalah Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin. Ketiganya kemudian sempat membuat antologi puisi bertajuk Tiga Menguak Takdir yang terbit pada 1950, setahun setelah Chairil Anwar wafat.

Selain para pengarang, perkumpulan ini juga beranggotakan para pelukis seperti Mochtar Apin, Henk Ngantung, Baharuddin M.S, dan Basuki Resobowo. Sementara pengarang lain yang juga ikut bergabung antara lain Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Sitor Situmorang, dan Mochtar Lubis.

Tujuan perkumpulan ini, sebagaimana ditulis Yudiono K.S. dalam Pengkajian Kritik Sastra Indonesia (2009), adalah “mempertanggungjawabkan penjadian bangsa, mempertahankan dan mempersubur cita-cita yang lahir dari pergolakan pikiran dan roh, serta memasukkan cita-cita dan dasar itu ke dalam segala kegiatan”.

Sementara laman 
Ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud mencatat bahwa yang melatarbelakangi lahirnya kelompok ini adalah “untuk lepas dari ikatan-ikatan atau pengaruh-pengaruh dari angkatan sebelumnya, dan juga pihak penguasa yang mereka anggap munafik dan memasung kreativitas seni”.

Kelak Rosihan Anwar menyebut kelompok ini sebagai Angkatan 45. Namun, seperti ditulis Yudiono K.S dalam bukunya yang lain, tak semua pihak sepakat dengan penamaan ini. Sebagian keberatan karena penamaan Angkatan 45 seolah-olah menumpang pada kepahlawanan para pejuang bersenjata. Sedangkan yang mendukung berpendapat bahwa berjuang di bidang kebudayaan tak kalah penting dari perjuangan dengan senjata.


Mendaku Pewaris Sah Kebudayaan Dunia

Pada 18 Februari 1950, tak lama setelah pengakuan kedaulatan, mereka merumuskan dan menandatangani pernyataan sikap kebudayaan yang bernama “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Pernyataan ini baru diumumkan secara luas pada 22 Oktober 1950, tepat hari ini 69 tahun lalu, di majalah politik dan kebudayaan Siasat.

Menurut Jennifer Lindsay dalam pengantar buku Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965 (2011), nama “Gelanggang” diambil dari suplemen kebudayaan majalah tersebut.

Pernyataan sikap kebudayaan ini terdiri dari enam alinea yang dibuka dengan kalimat: “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri”.

Lindsay menambahkan, sejak awal para perumus “Surat Kepercayaan Gelanggang” memang mengakui bahwa proyek kebudayaan Indonesia bersifat internasional.

“Pernyataan itu memancarkan keyakinan diri mengenai tempat kebudayaan Indonesia di dunia […] ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, bukan anak haram yang harus memperjuangkan hak-haknya,” tulisnya.

Pokok lain yang dianggap penting oleh Lindsay adalah kesadaran para perumusnya yang sejak dini telah merasa perlu membuat pernyataan kebudayaan dalam sejarah bangsa yang masih muda usia.

Dua tahun sebelumnya, dalam situasi darurat karena peperangan, telah digelar pula Kongres Kebudayaan Nasional pertama di Magelang pada 20-25 Agustus 1948. Nunus Supardi dalam Bianglala Budaya Jilid 1: Kongres Kebudayaan (2018) mendokumentasikan dengan cukup lengkap jalannya kongres tersebut. Hal ini menandakan bahwa kebudayaan diletakkan sebagai bidang penting dalam masa-masa awal kemerdekaan.

Diterbitkannya “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 22 Oktober 1950, dua bulan setelah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai organ PKI didirikan lengkap dengan Mukadimahnya, oleh Maman S. Mahayana dianggap sebagai “reaksi daripada aksi”.

“Lekra sebenarnya tidak hanya berhasil ‘mengadopsi’ beberapa hal yang tertuang dalam ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’, namun juga mampu menangkap momentum di saat-saat bangsa ini mulai menjalankan roda pemerintahannya tanpa rongrongan Belanda,” tulisnya dalam Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (2001).

Ironisnya, sejumlah orang dalam Gelanggang Seniman Merdeka seperti Basuki Resobowo, Rivai Apin, Pramoedya Ananta Toer, Baharuddin M.S, dan Henk justru berubah sikap dan menyeberang ke Lekra.


Dukungan Jassin dan Konfrontasi

Dalam surat kepada Aoh K. Hadimadja bertitimangsa 15 Desember 1951 yang terhimpun dalam Surat-surat 1943-1983 (1984), H.B. Jassin menyatakan simpati terhadap “Surat Kepercayaan Gelanggang”.

Dokumentator yang dijuluki Paus Sastra Indonesia ini memuji kerendahhatian redaksional manifesto kebudayaan Angkatan 45 itu. Pada kalimat “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia”, Jassin menilainya sebagai pengakuan atas jasa manusia-manusia sebelumnya.

“Kepercayaan diri pun ada pula memancar, kita bukan saja ahli waris, tapi kita pun akan mewariskan, kebudayaan ini akan kita teruskan dengan cara kita sendiri. Kalimat pembuka itu merangkum segala,” imbuhnya.

Selebihnya, Jassin melakukan semacam pembelaan karena Aoh K. Hadimadja meragukan dan mempertanyakan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai suara Angkatan 45 yang justru baru dirumuskan dan dipublikasikan pada 1950.

Jassin mengemukakan pendapat bahwa “keterlambatan” itu semata karena situasi zaman yang tak memungkinkan. Masa pendudukan Jepang dan kecamuk Revolusi Kemerdekaan adalah saat-saat genting yang tak mungkin berteori untuk merumuskan sebuah manifesto kebudayaan.

“Kita mengalami. Kita digodok. Dibanting dan membanting. Dibunuh dan membunuh,” tulisnya.

Namun, di antara keterangan-keterangan Jassin kepada kawannya itu, pokok bahasannya terpacak di pengujung surat. Ia seolah mengamini pernyataan pada alinea ke tiga “Surat Kepercayaan Gelanggang” yang berbunyi:

“Kami tidak akan memberikan suatu kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat”.

Kepada Aoh K. Hadimadja, Jassin mengatakan bahwa Pujangga Baru—yang mungkin sepadan dengan “hasil kebudayaan lama”—tak punya masa silam yang dahsyat dan masa sekarang yang hebat. Bagi Jassin, Pujangga Baru sebagai wajah kebudayaan lama terasa serba jauh, oleh karena itu isinya pun tidak ada apa-apa selain sejumlah teori.

Keith Foulcher dalam “Membawa pulang dunia: Lalu lintas budaya dalam Konfrontasi 1954-1960” yang dihimpun dalam Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965 (2011), menyebutkan bahwa majalah Konfrontasi adalah kesinambungan dari pemikiran kelompok inti Angkatan 45. Dan angkatan ini tak lain adalah yang melahirkan “Surat Kepercayaan Gelanggang”.

Ironisnya, dalam susunan dewan redaksi Konfrontasi terdapat Sutan Takdir Alisjahbana sebagai dedengkot Pujangga Baru, angkatan yang oleh Jassin dianggap berseberangan dengan Angkatan 45.

Di luar hal itu, Foulcher mencatat bahwa Konfrontasi kerap memuat tulisan terjemahan, baik karya sastra maupun esai tentang politik kebudayaan dan sejarah ide yang bersumber dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia.

Selain itu Konfrontasi juga sering memuat tulisan para pengarang Indonesia yang memperkenalkan gagasan-gagasan dari luar negeri ke dalam perdebatan yang sedang berlangsung di tanah air.

“Konfrontasi jelas tetap mempertahankan sikap kritis terhadap nasionalisme kultural yang sempit dan chauvinistis. Dengan demikian orientasi internasionalis majalah ini ditegaskan terus-menerus, sebagaimana juga halnya dengan sastra Angkatan 45 sebelumnya,” tulis Foulcher.

Gagasan arah kebudayaan nasional yang bersifat internasional, dalam catatan Jennifer Lindsay, merupakan kelanjutan dari perdebatan tentang masa depan kebudayaan Indonesia pada 1930-an dan 1940-an.

Perdebatan itu, imbuhnya, adalah perdebatan antara kubu yang melihat keharusan untuk mencampakkan kebudayaan Indonesia dari masa lalu untuk segera bergerak maju dengan kubu yang melihat kebudayaan Indonesia lambang dan identitas pribumi.

Memasuki 1950-an dan 1960-an, saat sejumlah negara Asia menyongsong dan menjalani dekolonisasi, kesadaran atas renungan posisi warisan budaya pun tumbuh mengguncang.

Di titik inilah kemudian angkatan muda yang mengalami revolusi, dengan elan menatap masa depan baru, merumuskan dan mengumumkan manifestonya lewat “Surat Kepercayaan Gelanggang”.

Pada perjalanannya, karena pendulum politik nasional periode itu bergerak mengancam sebagian kelompok, maka sejumlah manifes lain pun lahir sebagai tambur perlawanan atas kelompok lain yang dominan. (irf)


Tayang pertama kali di Tirto.id pada 22 Oktober 2019

09 February 2020

Balada Kematian dan Pemakaman di Jakarta


Kematian senantiasa mengintai setiap yang hidup, dan manusia kerap mencemaskan tempat peristirahatannya yang terakhir.

Mula-mula adalah dua kisah tentang kematian. Pertama, Siti Maswiyah yang meninggal di usia 60 tahun. Di Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, jenazahnya ditanam di kebun belakang rumahnya. Tata cara penguburannya amat sederhana.

“Tak ada karangan bunga. Tak ada prosesi panjang. Tak ada bunyi tangis sesenggukan. Tak ada wanita-wanita berkerudung hitam dengan kacamata ryben menutupi air mata menetes-netes. Tak ada ucapan dengan sambutan-sambutan panjang. Tak ada salvo…,” tulis Farid Gaban dalam esai bertajuk “Di Bawah Pohon Durian” yang terdapat dalam Belajar Tidak Bicara: Solilokui (1997).

Jasad Siti Maswiyah bersemayam di bawah lindungan udara Parung yang sejuk. Dilingkung pohon melinjo yang setiap pagi meneteskan embun dari daun dan bulir buahnya, pohon pisang yang menari-nari ditiup angin, dan pohon kelapa yang menjulang. Cahaya mentari jatuh di atas pusara lewat celah daun pohon durian dan rambutan.

“Persemayaman yang sempurna, yang membuat iri setiap orang Jakarta—tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran,” imbuh Farid.

Kisah kedua datang dari Bro, seorang eksil yang meninggal dunia di Paris. Setelah meninggal dunia jasadnya dikremasi. Sebagian abunya dibawa ke Indonesia, ke daratan Nantalu, Sumatera Utara. Kawannya membawa cawan berisi abu jenazah itu ke tepi sungai, hendak dilarung.

Bro dan kawannya tak pernah mengangankan istirahat panjang dengan cara seperti itu. Waktu kecil mereka mendambakan kelak dikuburkan di bawah langit biru jernih di sekitar hutan hujan.

Dari dalam kubur mereka bisa menyaksikan dan mendengarkan deru air yang jatuh meluncur membasuh tebing, dan menghanyutkan jutaan kiambang buih, serta meninggalkan jejak pelangi di pepohonan.

“Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami tak merasa nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis,” ujar kawan Bro.

Kisah tersebut merupakan penggalan dari cerpen bertajuk “Melarung Bro di Nantalu” karya Martin Aleida.

Kematian dan kuburan. Narator pada dua cerita tersebut mendambakan makam yang jauh dari bahaya yang ditimbulkan akibat aktivitas dan keputusan-keputusan manusia.

Farid Gaban menyebut Jakarta dengan cara yang amat tipikal. Ibukota negara digambarkan dari sudut pandang yang paling klise: “tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran”.

“Berimpitan” dan “penggusuran” adalah siksaan khas bagi masyarakat marginal di perkotaan yang hidup bagai kutu loncat, dan tak jelas kewarganegaraannya karena KTP pun kerap tidak punya.

Sedangkan Martin Aleida menyebut bahaya itu dengan “ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis”. Aktivitas manusia memang kerap merampok tempat mereka yang telah mati. Pekuburan Tionghoa yang tak pelit mendirikan tembok, tak jarang dijadikan sebagai tempat jemuran, tempat tidur, dan main kartu.

“Mana yang lebih penting, orang hidup atau orang mati?” kata Ali Sadikin ketika menggusur sebuah permakaman. Saat menjadi Gubernur Jakarta, ia menggusur sekitar 26 Tempat Permakaman Umum (TPU).


Makam Tumpang dan Makam Pahlawan

Belakangan permintaan makam tumpang atau bertumpuk meningkat di Jakarta. Menurut Kepala Seksi Pelayanan dan Perpetakan Makam Dishut DKI Jakarta, Ricky Putra, seperti dilansir CNN, pada 2017 makam tumpang sebanyak 37 persen, sementara pada 2018 meningkat menjadi 39 persen, dan tahun ini kembali bertambah.

Peningkatan ini terjadi karena pada sejumlah TPU yang dianggap strategis, kapasitasnya semakin menipis. Banyak ahli waris tak mau menguburkan kerabatnya di TPU-TPU pinggiran kota yang relatif masih kosong dengan sejumlah alasan: terlalu jauh dari tempat tinggal, dan agar satu kompleks pekuburan dengan kerabat lain yang lebih dulu meninggal dunia.

Menurut Ricky, jika TPU-TPU yang kurang strategis itu dimanfaatkan dengan baik, setidaknya sampai tahun 2037 lahan permakaman di Jakarta masih tersedia untuk menampung sekitar empat ratus ribu jenazah baru.

Tahun lalu hal serupa sempat disampaikan oleh Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan, dan Pemakaman DKI Jakarta, 
Djafar Muchlisin. Menurutnya, yang tidak cukup di Jakarta bukan ketersediaan lahan permakaman, melainkan lahan permakaman yang strategis.

“Pasti akan ada satu tempat penuh, sedangkan di satu tempat lainnya enggak. Contoh Pondok Ranggon kan masih banyak. Termasuk Tegal Alur, karena ini lokasinya di pinggiran, kurang strategis, makanya kurang peminat,” ujarnya.

Lain halnya dengan alasan Ali Sadikin. Saat wafat, mantan Gubernur Jakarta yang kesohor itu dikuburkan di TPU Tanah Kusir secara tumpang di atas makam istrinya sesuai dengan wasiatnya.

“Karena lahan di Jakarta sudah semakin sempit,” ucap Benny Sadikin mengenang perkataan ayahnya sepeti dikutip 
Liputan 6.

Tak hanya di sejumlah TPU strategis, kini di Taman Makam Pahawan (TMP) Kalibata pun kondisinya sudah semakin sesak. Laporan 
Tirto pada Februari 2017 menunjukkan bahwa TMP tersebut tinggal menyisakan sepenggal lahan yang hanya bisa digunakan untuk 789 petak makam baru.

Masalahnya, lahan seluas 25 hektare tersebut tak hanya diisi oleh mereka yang menyandang gelar pahlawan nasional, penyandang bintang republik, bintang mahaputera, dan bintang gerilya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, tapi juga dipenuhi oleh para pensiunan tentara dan kepolisian yang dimakamkan di sana.

“[Sebelum SBY mengeluarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan] hampir semua pensiunan Polri saja bisa masuk sini,” ucap Bahder Husni kepada Tirto.

Selain mengoptimalkan makam tumpang dan sejumlah TPU di pinggiran kota yang relatif masih kosong, pemerintah juga bisa menjadikan TPU sebagai tempat wisata.

“Dinas TPU masih berkutat pada kegiatan rutin gali lubang tutup lubang, menguburkan jenazah, dan menguber-uber setoran retribusi makam,” tulis Nirwono Joga dan Yori Antar dalam Komedi Lenong: Satire Ruang Terbuka Hijau (2007).

Menurut mereka, menjadikan makam sebagai tujuan wisata masih jauh dari pemikiran aparat dan pejabat Pemprov DKI Jakarta. Padahal, imbuhnya, sejumlah kota di pelbagai negara seperti Sydney, London, Paris, Washington DC dan lain-lain, telah menjadikan makam sebagai salah satu penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di Jakarta, hal serupa mestinya bisa dilakukan. Sebagai contoh, TPU Karet Bivak seharusnya dapat dikelola secara baik sebagai tempat wisata makam karena di sanalah tempat dikuburkannya sejumlah tokoh terkenal seperti Bing Slamet, Benyamin Sueb, Pramoedya Ananta Toer, MH Thamrin, dan Ismail Marzuki.

Di TPU Karet Bivak juga “Si Binatang Jalang” 
Chairil Anwar dikuburkan sesuai dengan puisinya:

“di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin”.


Tukang Ojek dan Kecemasan dari Liang Kubur

Cita-cita tiap orang memang berbeda-beda, termasuk dalam soal kuburan. Ada cerita cukup legendaris di keluarga saya. Salah satu saudara kakek adalah seorang penakut. Kebetulan ia yang paling akhir meninggal dunia dibandingkan semua saudaranya. Konon setiap kali mengantar saudaranya yang hendak dikuburkan, atau saat ziarah setiap lebaran, ia selalu berpesan kepada anak-anaknya bahwa ia ingin dikuburkan dekat jalan raya.

“Kelak kalau emak meninggal dunia, jangan dikuburkan di ujung permakaman yang ada pohon beringin itu, di sini saja, dekat jalan raya,” ucapnya.

“Kenapa Mak?” tanya anak-anaknya.

“Di sini tidak akan terlalu menakutkan dan kesepian, sebab banyak tukang ojek yang lewat,” jawabnya.

Ya, cita-cita tiap orang memang berlain-lainan. Permakaman sebagai ruang perpisahan—karena kematian sekaligus ruang perjumpaan setiap kali ziarah—antara yang hidup dan yang mati, ternyata masih menjadi panggung pelbagai keinginan dan kecemasan.

Kota yang tumbuh bergegas dan menubruk-nubruk, kerap menyisakan pelbagai kekhawatiran termasuk bagi mereka yang masih hidup terhadap mereka yang telah mati. Kecemasan paling dasar tumbuh sebab permakaman tak imun terhadap ancaman penggurusan, banjir, polusi limbah, juga kondisinya yang sesak dan semenjana.

Lapisan berikutnya adalah kehendak untuk bisa mengakses permakaman secara mudah dengan memilih yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, juga keinginan untuk mengumpulkan semua kerabat dalam satu komplek permakaman.

Sebagai pengecualian, pada kasus di TMP Kalibata, kita barangkali boleh menduga, bahwa para pensiunan tentara dan polisi yang berbondong-bondong dikuburkan di sana adalah juga ejawantah atas cita-cita untuk menjadi pahlawan atau dianggap pahlawan.
(irf)

Tayang pertama kali di Tirto.id pada 5 Agustus 2019

08 February 2020

Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Ramadhan K.H: dari Inggit ke Soeharto

Ramadhan K.H. kerap menggunakan teknik menulis biografi seolah-olah tokoh yang ditulisnya bertutur sendiri.

Saat tinggal di Paris pada 1974, Ramadhan K.H. membaca kisah percintaan Sukarno dengan Inggit Garnasih di majalah Femina. Ia amat tertarik dan segera mengirim surat kepada penulis agar melanjutkan kisah tersebut. Namun, jawaban dari si penulis ternyata tak kunjung datang. Ia akhirnya memutuskan untuk menuliskannya sendiri.

“Saya mesti melakukan riset kepustakaan selama setahun lebih, disertai wawancara. Tapi itu tidak begitu sulit. Alhamdulillah, saya masih bisa wawancara dengan Ibu Inggit yang ketika itu sudah berusia 80-an,” tutur Ramadhan K.H. kepada Berita Buku yang dimuat di Majalah Femina pada edisi 53 Tahun VII, September 1995.

Menurutnya, dalam proses wawancara itu, Inggit Garnasih hanya bercerita sedikit karena ingatannya sudah berkurang. Informasi lainnya ia peroleh dari kedua anak angkat Inggit yaitu Ratna Djuami dan Nyonya Uteh yang ikut bersama Sukarno dan Inggit saat mereka dibuang ke Bengkulu.

Hasil riset pustaka dan wawancara inilah yang kemudian lahir sebagai buku dengan judul Kuantar ke Gerbang yang terbit kali pertama pada Mei 1981. Ramadhan K.H. piawai bercerita. Ia menulis dengan teknik meminjam mulut Inggit, jadi seolah-olah tokoh yang ia tulis tersebut yang tengah bertutur. Teknik seperti ini ia pakai juga untuk menulis buku-buku biografi tokoh yang lain.

“Perawakannya kecil. Sekuntum bunga merah yang elok melekat di sanggulnya. Senyum yang menyilaukan mata. Ia berdiri di pintu masuk. Sinar setengah gelap. Bentuk badannya tampak jelas dikelilingi cahaya lampu dari belakang. Itulah rupanya gambaran yang terus hidup di ingatannya, di ingatan bekas suamiku,” tulis Ramadhan K.H. membuka Kuantar ke Gerbang.

Usia Inggit Garnasih terpaut 13 tahun saat menikah dengan Sukarno. Riwayatnya menemani anak muda calon presiden pertama dalam pelbagai orasi politik, dibuang pemerintah kolonial, serta ujung yang pahit karena harus berpisah dengan Sukarno saat gerbang kemerdekaan semakin dekat, ditulis secara mengalir dan mengharu-biru.

Saat Sukarno dan rombongannya hendak kembali ke Jakarta setelah menceraikan Inggit dan mengembalikan perempuan itu kepada keluarganya, Inggit berkata lirih, “Selamat jalan.” Lalu dijawab oleh mereka yang hendak pergi ke Jakarta, “Selamat tinggal.”

“Bukankan itu yang sepatutnya kuucapkan? Ya, aku mendoakan dia (Sukarno) selamat. Bukankah kita berdiri di muka gerbang zaman baru setelah menempuh perjalanan panjang, yang bukan jalan bertabur bunga?” ujar Inggit memungkas seluruh kisahnya.

Kuantar ke Gerbang yang berbentuk roman setidaknya membawa dua hal: pertama, berhasil mengenalkan kembali Inggit Garnasih sebagai salah satu istri Sukarno—yang menemani proklamator itu dalam masa-masa darurat sedari muda waktu menempa ilmu teknik sipil di ITB dan ilmu politik lewat diskusi-diskusi panjang di rumahnya, sampai saat-saat menjelang kemerdekaan Indonesia.

“Separuh daripada semua prestasi Sukarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam ‘Bank Jasa Nasional Indonesia’,” tulis S.I. Poeradisastra dalam pengantar buku tersebut.

Hal kedua, Kuantar ke Gerbang juga menawarkan teknik penulisan biografi secara memikat dengan gaya tutur yang mengalir.

Buku itu rupanya dibaca juga oleh Soeharto, yang sedang menapaki masa-masa puncak kekuasaannya. Maka lewat G. Dwipaya atau yang biasa dipanggil Dipo, yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat Negara dan Direktur Perusahaan Film Negara (PFN), Soeharto meminta Ramadhan K.H. untuk menuliskan biografi.

Menulis Soeharto Melalui Dipo

Saat Dipo datang ke rumahnya dan memulai pembicaraan, Ramadhan K.H. langsung bertanya, “Mengapa kepada saya?”

“Kami pilih Pak Ramadhan, karena buku Bung Karno dengan Ibu Inggit menarik sekali,” jawabnya.

Meski belum tercapai kesepakatan, tapi menurut Ramadhan K.H. dalam “Mengenang Buku dari Jalan Cendana” yang dihimpun dalam Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard (2011) yang disunting oleh Henri Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambary, Dipo telah memberinya tenggat, yakni hanya menulis satu tahun dan harus selesai sebelum 1987 berakhir.

“Saya akan pikirkan,” ujar Ramadhan K.H.

Dipo menimpali, “Boleh pikirkan, tapi saya tidak mau dengar Pak Ramadhan menolak!”

Permintaan itu segera membuatnya bergerak cepat menemui kawan-kawan dekat untuk dimintai pendapat.

“Jangan mau!” ujar Mochtar Lubis, wartawan senior Harian Indonesia Raya yang sudah ia anggap sebagai abangnya sendiri. Jawaban sama ia dapatkan juga dari Ajip Rosidi, sahabat karibnya.

Sementara jawaban dari para diplomat seperti Ilen Surianegara dan Budiardjo justru mendukungnya untuk menerima permintaan dari Soeharto.

“Benar, Atun (panggilan sehari-hari Ramadhan K.H.) yang tepat. Mesti mau!” ucap Ilen Surianegara.

Akhirnya ia memutuskan untuk menerima permintaan tersebut. Alasan terkuatnya adalah karena Pruistin Atmadjasaputra atau Ines, istrinya, adalah seorang diplomat alias pegawai negeri. Jika ia menolak permintaan itu, maka khawatir istrinya akan mendapat kesulitan. Selain itu, istrinya pun telah sakit-sakitan, yakni terserang kanker.

Kepada Dipo ia sampaikan bahwa ia hanya akan menuliskan pengalaman Soeharto yang diceritakan kepadanya. Gagasan penulisan tersebut ia dapatkan dari gaya Cindy Adams saat menulis biografi Bung Karno.

“As told to istilahnya […] Dengan cara begitu, yang bertanggung jawab atas isi adalah pihak yang bercerita. Yang menyusun kalimat-kalimat itu sehingga bisa enak dibaca adalah saya. Tanggung jawab sayalah kalau orang bosan membacanya,” tulisnya.

Beberapa hari kemudian Dipo datang lagi menemuinya, sembari menyerahkan segepok uang, ia menyampaikan bahwa Soeharto setuju dengan gagasan penulisan tersebut.

Sekali waktu, ia sempat bertanya kepada Dipo soal uang yang ia serahkan kepadanya, apakah uang tersebut berasal dari saku Pak Harto atau bukan. Dipo dengan tegas menjawab, “O, Pak Ramadhan, tentang uang jangan coba-coba kita bicara dengan Pak Harto […] Kita harus pandai-pandai saja mengatur sendiri.”

Dalam proses penulisan buku tersebut, ia bertemu Soeharto sebanyak tiga kali. Pertama saat diperkenalkan oleh Dipo di Jalan Cendana, kedua wawancara selama dua jam di kompleks peternakan sapi di Tapos, Bogor, dan terakhir saat buku selesai dikerjakan.

Namun, modal wawancara itu amat terbatas, sehingga ia kemudian dikirimi bahan-bahan pendukung berupa pidato-pidato Soeharto dan guntingan-guntingan koran serta majalah. Selain itu, ia juga banyak memesan buku-buku biografi dan otobiografi sebagai bahan perbandingan.

“Maka sejak itu pertanyaan-pertanyaan saya ajukan secara tertulis lewat Dipo yang membacakannya pada hari Jumat, pertemuan rutin mereka,” tambahnya.

Beban berat tak bisa dihindarkan, sebab selain mulai menggarap buku permintaan Soeharto, waktu itu Ramadhan K.H. juga tengah mengerjakan buku biografi A.E. Kawilarang, mantan Pangdam Siliwangi.

Selain soal teknis, pengerjaan buku Soeharto pun tak luput dari tekanan mental, terutama pada tahap awal. Saat itu presiden kedua Indonesia tersebut tengah berada pada posisinya sebagai pemimpin yang sangat ditakuti.

Saat pertama kali bertemu di sebuah ruangan di rumahnya di Jalan Cendana, Ramadhan K.H. melihat Soeharto sebagai orang yang banyak senyum, tapi tak membuatnya menjadi santai. Ketegangan tak dapat ia sembunyikan.

“Waktu itu saya merasa, bahwa saya menumpangkan kaki saya yang sebelah pada paha yang sebelahnya lagi, sadar saya bahwa saya disorot oleh kamera TV, dan karenanya secara perlahan-lahan saya turunkan kaki saya itu […] Adegan ini terekam oleh TV itu, dan saya tertawa sendiri waktu saya memutar videonya di rumah, sekian waktu kemudian,” tulisnya dalam Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard (2011).

Dalam pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada Soeharto lewat Dipo, ia sempat memasukkan soal petrus alis penembak misterius yang bikin jeri para preman di mula warsa 1980-an.

“Kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak. Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja, itu untuk shock therapy, terapi guncangan,” jawab Soeharto.

Saat diwawancarai Zulfikar Fu’ad yang kemudian naskahnya diterbitkan harian Lampung Post pada 30 Maret 2003, Ramadhan K.H. berkisah bahwa ia sempat bertanya kepada Soeharto lewat Dipo, “Bagaimana kalau ajal Pak Harto sampai?”

Pertanyaan ini tentu saja membuat Dipo berat untuk menyampaikannya kepada Soeharto. Menurutnya, dalam kehidupan masyarakat Jawa tidak patut pertanyaan demikian diajukan. “Sialan,” jawab Dipo menjawab pertanyaan tertulis tersebut.

Jika Dipo dihadapkan pada situasi demikian, sebagai penulis biografi Ramadhan K.H. malah sebaliknya. Baginya, pertanyaan tentang kematian itu adalah yang biasa dalam sebuah buku memoar.

“Saya mengajukan pertanyaan itu dengan perasaan tanpa beban, biasa-biasa aja, disebabkan rasa ingin tahu dan sering ditemukan dalam buku-buku memoar orang lain,” ujarnya kepada Zulfikar Fu’ad.

Dari Sastra ke Biografi

Nama lengkapnya Ramadhan Karta Hadimadja. Di lingkungan keluarga serta oleh kawan-kawannya ia biasa dipanggil Atun. Salah seorang kakaknya, yakni Aoh Karta Hadimadja, adalah seorang sastrawan.

Seperti kakaknya, ia juga sempat menulis sejumlah karya sastra berupa novel dan puisi. Salah satu buku kumpulan puisinya yang cukup populer berjudul Priangan Si Jelita yang mula-mula terbit pada 1956 dan berhasil memperoleh Hadiah Sastra Nasional Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional.

Sementara karya novel di antaranya Kemelut Hidup, Keluarga Permana, dan Ladang Perminus. Mulai 1981 saat ia merampungkan Kuantar ke Gerbang, namanya perlahan dikenal sebagai penulis biografi.

Selain menulis kisah tentang Inggit Garnasih, A. E. Kawilarang, dan Soeharto dalam buku autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, sepanjang hayatnya ia juga menulis biografi para tokoh nasional lain seperti Ali Sadikin, Hoegeng, Soemitro, Rachmat Gobel, D.I. Pandjaitan, Dewi Dja, Adnan Buyung Nasution, dan lain-lain.

“Pada penulis, Ramadhan K.H., perlu disampaikan ucapan selamat, karena telah berhasil amat baik menggelarkan tokoh Bang Ali apa adanya dengan segala kepolosan dan kearifan-kearifan yang dikembangkannya selama menjabat gubernur dua masa jabatan ini,” tulis Mochtar Lubis pada pengantar di buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1992).

Ramadhan Karta Hadimadja meninggal pada 16 Maret 2006, tepat hari ini 13 tahun lalu. Ia akan tetap dikenang banyak orang sebagaimana Soeharto menyebutnya sebagai "penulis ternama". (irf)



Tayang pertama kali di Tirto.id pada 16 Maret 2019

07 February 2020

Hari Raya Imlek: Sejarah Keriaan Peh Cun Tempo Dulu



Untuk mengenang sastrawan patriotik yang menenggelamkan diri di Sungai Miluo, orang Tionghoa memperingatinya dengan perayaan Peh Cun.

Qu Yuan maras. Di pembuangan ia masih memikirkan negara Chu yang dicintainya. Mulanya ia adalah seorang pejabat negara. Sejumlah nasihat ia sampaikan kepada raja. Salah satu nasihatnya adalah agar negara Chu segera bersekutu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin.

Namun, beberapa pejabat lain yang iri kepadanya mengembuskan pelbagai kabar miring tentang dirinya. Isu memakan korban. Raja mengusir Qu Yuan dari ibu kota. Ia dibuang ke dekat Sungai Miluo.

Nasihat Qu Yuan ternyata benar. Negara Qin akhirnya menyerang negara Chu dan berhasil mengalahkannya. Qu Yuan yang sedih dan frustrasi akhirnya menenggelamkan diri ke Sungai Miluo.

Masyarakat setempat yang berempati kepada Qu Yuan karena dianggap sebagai pejabat negara yang bersih dan simpatik, segera mendayung perahu mencari jasadnya. Tetabuhan dibunyikan untuk menakut-nakuti makhluk air agar tak mengganggu jasad Qu Yuan. Selain itu, bacang dan pelbagai makanan lain dilemparkan ke sungai untuk menyenangkan penghuni sungai.

“Perahu-perahu dengan hiasan yang menyerupai binatang naga dengan tabuh-tabuhan genderang (untuk menakut-nakuti ular sungai) dikerahkan siang malam [tapi] tanpa hasil,” tulis penyusun Ensiklopedi Umum (1977) yang diterbitkan Kanisius.

Qu Yuan disebut juga Chu Yuan atau Kut Gwan yang hidup dalam masa 340-278 SM. Ia disebut pula berasal dari kerajaan kuno Chou Barat (provinsi Hunan sekarang).

Selain negarawan besar, Chu Yuan termasyhur sebagai seorang sastrawan. Dalam masa pembuangan, ia banyak menggubah sajak-sajak yang bernapaskan rasa kasih kepada rakyat, cinta kepada negara dan keadilan. Salah satu sajaknya yang terkenal berjudul Li Sao (Terjerumus ke Lembah Nestapa).

Sementara Edward Theodore Chalmers Werner dalam Mitos dan Legenda China (2008) menyebutkan, Qu Yuan adalah seorang penyair Cina paling awal yang diketahui. Karya-karyanya menggabungkan ungkapan penderitaan pribadi, komentar politik, dan uraian tentang khayalan terbang ke langit.

“Ia menenggelamkan dirinya karena merasa muak menjadi korban intrik dan korupsi pejabat,” tulisnya.

Andri Wang dalam The Ancient Chinese Wisdom (2016) mencatat, sebagai penyair patriotik, Qu Yuan hidup pada Warlord Period (475-221 SM).

Peristiwa melompatnya Qu Yuan ke Sungai Miluo sampai tewas dipercaya terjadi pada tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek. Penduduk Tiongkok dan warganya yang berdiaspora kemudian memperingati hari ini dengan perayaan Peh Cun yang dilakukan setiap tahun. Perayaan ini disebut juga sebagai hari Duanwu Jie dan Twan Yang.

Perahu, Bacang, dan Telur

Qu Yuan, yang semasa hidupnya dianggap sebagai teladan, tetap hidup dalam benak masyarakat Tionghoa dan dirayakan dengan penuh mustahak. Selain festival perahu naga yang menggambarkan usaha penduduk saat mencari jenazah Qu Yuan, bacang juga selalu hadir karena dianggap sesuai dengan narasi sejarah.

“Pada hari itu semua rumah tangga membuat bacang,” tulis Andri Wang.

Andri menambahkan, bacang yang dibuat terdiri dari nasi beras atau ketan diisi dengan daging babi, merah telur bebek asin, buah lakci, udang kering (ebi), dan lain-lain, dibungkus dengan daun bambu. Selain itu, ada juga yang membuat bacang mini dari ketan saja, direbus dengan air tebu yang dinamakan kwecang, lalu disajikan dengan air gula kental.

Sementara Edward Theodore Chalmers Werner menyebut santap penganan ini sebagai “memakan kue beras yang khas.”

Keriaan di air dengan perahu dan menyantap kudapan bacang serta kue-kue lainnya juga kerap diikuti dengan membersihkan tempat tinggal dan menggantungkan rumput ai dan changpu di depan rumah. Tumbuhan tersebut dimaksudkan untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit.

Lina Wang mencatat dalam Keberuntungan Anda pada Tahun Naga Air 2012 (2012), tempo dulu orang-orang Tiongkok memercayai bahwa Hari Duanwu Jie adalah juga Hari Setan karena pada hari tersebut energi yin muncul ke permukaan bumi dan wabah penyakit melanda.

“Duanwu Jie yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan yang banyak penyakitnya,” tulis Lina Wang.

Barangkali karena cuaca begitu panas, pada hari itu masyarakat juga melakukan tradisi mandi tengah hari. Air mentah dipakai untuk mandi, sementara air yang telah dimasak diminum karena dianggap berkhasiat untuk mengusir penyakit.

Ihwal air sebagai penawar penyakit, Andri Wang menjelaskan bahwa bila hari tersebut turun hujan, maka air hujan itu dianggap sebagai “air suci” yang disemburkan Dewa Naga dari langit.

“Konon air suci itu bisa menjadi obat untuk membersihkan hal-hal yang tidak baik dalam tubuh serta mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Mereka menyembah Naga sebagai kekuatan supranatural yang tidak bisa dimengerti oleh orang awam,” imbuhnya.

Pada hari itu, dilaksanakan sembahyang Duan Yang atau Duanwu Jie yang berlangsung dari pukul 11.00 sampai dengan 13.00, saat matahari berada pada titiknya yang paling panas. Pada saat itu juga biasanya masyarakat menggelar atraksi telur berdiri.

“Pada tengah hari di hari tersebut, ada suatu energi yin yang mencuat ke permukaan bumi dan membuat semacam daya tarik yang besar sehingga telur-telur bisa diberdirikan dengan manis di atas tanah,” imbuhnya.

Bang Amat dan Mpok Dijeh Lupa Pulang

Di Nusantara, Peh Cun sering dilafalkan menjadi Pe Cun. Sejak dulu keramaiannya selalu menghibur tak hanya warga keturunan Tionghoa, tapi juga masyarakat yang lain.

Lilis Suryani, biduanita yang kesohor dan salah satu lagunya, "Tiga Malam", ikut menyemangati relawan Indonesia saat berkonfrontasi dengan Malaysia, pernah juga mengenang keriuhan Peh Cun. Lewat lagu berjudul "
Nonton Pecun" dan diiringi irama musik gambang keromong, ia bersenandung:

“Waktu Pecun Tangerang ramai sekali/siang malam orang gak pernah sepi/sambil berjalan-jalan melihat pemandangan/Tue mude gak mau ketinggalan/mentang mate mencari hiburan/Tiap tahun ramai sekali/Nonton Pecun senang di hati”

Nonton Pecun di Kali Tangerang/ramai sungguh bukan kepalang/Bang Amat dan Mpok Dijeh ampe lupe pulang/Lihat orkes, cokek, dan gamelan/Pade ngibing tarinye igel-igelan”

Selain lewat lagu, kenangan Peh Cun zaman baheula juga dicatat Remy Sylado dalam novel Ca-bau-kan: Hanya Sebuah Dosa (1999).

“Dalam beberapa hari ini di Batavia, orang-orang Tionghoa telah banyak menaruh gambar Hok Mo Hong, nama malaikat penakluk iblis dalam kepercayaan Tionghoa, di rumah masing-masing. Dengan ditaruhnya gambar Hok Mo Hong ini di rumah mereka, maka itu pertanda sebentar lagi tanggal 5 bulan 5 Imlek. Itu adalah hari Peh Cun,” tulis Remy.

Malaikat penakluk iblis yang dimaksud Remy barangkali mengacu pada pelbagai penyakit yang mewabah pada hari tersebut. Tak hanya itu, Remy juga meletakkan konteks sosial, yakni dengan menyebut candu sebagai salah satu hadiah dalam perayaan itu.

“Peh Cun termasuk salah satu keramaian khas Batavia. Pada hari itu masyarakat Tionghoa ramai-ramai memperebutkan hadiah di ujung batang-batang bambu yang dihanyutkan di Kali Pasar Baru. Hadiah di ujung batang bambu itu adalah saputangan dan sebungkus candu seharga 32 sen,” tulisnya.

Tempo dulu, menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004), perayaan Peh Cun memang sering dipusatkan di sejumlah sungai di Batavia dan sekitarnya, seperti di Kali Besar dan Kali Angke, Jakarta Kota. Selain itu, ada juga di Kali Pasir dan Kwitang dekat markas Marinir dan Toko Buku Gunung Agung sekarang. Dan sesuai dengan tembang Lilis Suryani, yang paling meriah dilangsungkan di Kali Cisadane, Tangerang.

Keriaan Peh Cun dikisahkan juga oleh Zaenuddin H.M. dalam artikel bertajuk “Orang Cina Cari Jodoh Lempar Kue Apem”. Penulis sejumlah buku sejarah populer Jakarta itu menyebutkan, Peh Cun tempo dulu digelar di kali-kali Bekasi, Tangerang, dan Batavia.

Perahu-perahu yang berseliweran, imbuhnya, dihiasi ribuan lampion warna-warni sehingga suasana menjadi terang-benderang. Orkes-orkes gambang kromong dan cokek mengiringinya.

“Para biduanita yang mengenakan kebaya melantunkan lagu-lagu sambil mengajak hadirin untuk ngibing alias berjoget. Dan yang ikut ngibing bukan hanya rakyat biasa, tapi juga dari kalangan Cina berduit,” tulisnya.

Oleh anak-anak muda, keramaian itu bukan hanya dijadikan sebagai sebuah hiburan, tapi juga untuk mencari jodoh. Dalam proses saling taksir, terang Zaenuddin, mereka biasanya saling melempar kue apem dan kue Tiong Ciu Pia yang bentuknya seperti bola kecil.

Ia menambahkan, jika dalam lempar-lemparan kue itu ada kecocokan, dan muda-mudi tersebut saling tertarik, maka mereka bisa menjalin cinta kasih hingga akhirnya ke perjodohan dan menikah.

“Itulah pentingnya saling lempar kue apem, sebagai proses awal menuju pernikahan. Namun, walaupun si gadis sudah jatuh cinta pada si pria, masih ada persyaratan lain. Si pemuda harus berani berkunjung ke rumah calon mertua. Saat berkunjung, ia harus membawa sepasang ikan bandeng,” terangnya.

Berpijak dari sejumlah narasi di atas, perayaan Peh Cun tempo dulu memang terbayang sebagai pesta yang penuh keriaan sekaligus melenakan. Tak heran dalam lirik "Nonton Pecun" yang disenandungkan Lilis Suryani tertulis: “Bang Amat dan Mpok Dijeh ampe lupe pulang”. (irf)

Tayang pertama kali di Tirto.id pada 6 Februari 2019

Foto: netralnews.com

06 February 2020

Cap Go Meh, Perayaan Saat Terang Bulan yang Sempat Suram


Perayaan Cap Go Meh sebagai warna kebudayaan Tionghoa di Indonesia timbul tenggelam dibawa arus zaman dan kebijakan. 

Lima belas hari setelah ingar bingar perayaan Imlek, pada purnama pertama di awal tahun, warga Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Kemeriahan Cap Go Meh biasanya terasa di wilayah komunitas Tionghoa seperti di Singkawang, Kalimantan Barat.

Kota Singkawang terkenal kental dengan budaya Tionghoa. Jejak sejarah migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke Kalimantan Barat pada masa lalu, menampilkan Singkawang seperti saat ini. Akulturasi budaya terjadi dan membentuk kebudayaan baru yang menarik. Beberapa di antaranya kerap ditampilkan dalam perayaan Cap Go Meh.

Daya tarik perayaan Cap Go Meh di Singkawang telah terendus oleh para pebisnis biro perjalanan, yang menawarkan paket-paket wisata untuk mengunjungi pesta Cap Go Meh di kota tersebut. Dalam perayaan dua minggu setelah Imlek ini, nilai jual Cap Go Meh di Singkawang terutama karena ada penggabungan antara tradisi Cina, pribumi Dayak kuno, dan spiritual Melayu. Dari sekian atraksi di Singkawang, yang paling menarik biasanya adalah Tatung.

Tatung adalah media roh yang diberi kostum prajurit Dayak kuno, Cina, dan Pribumi yang berfungsi untuk mempertahankan kota dari kedengkian spiritual.

“Tatung menunjukkan kekuatan mereka melalui penyiksaan diri dan bertengger di tandu yang dipikul oleh rombongan bait suci. Prosesi Tatung diperkirakan telah dimulai pada abad ke-17 di Kongsi (Gong Xi) Lan Fung atau sekarang dikenal Kalimantan Barat,” tulis Jafar Fikri Alkadrie dkk, dalam Dinamika Diaspora Subkultur Etnik Cina di Kota Singkawang (Intermestic: Journal of International Studies Vol. 1. No. 2, Mei 2017)

Sementara itu, Yohanes Kurnia Irwan dalam majalah Esensi No. 3 Tahun 2015, mencatat bahwa atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan karena banyak orang kesurupan, dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Ia menambahkan bahwa upacara ini dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung.

“Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh yang merasuki tubuh Tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah tobat dan orang suci lainnya,” tulisnya.

Rangkaian perayaan Cap Go Meh di Singkawang dalam catatan Nirwono Joga dalam Gerakan Kota Hijau (2013) sejatinya dimulai dari Tahun baru Imlek yang menyajikan ragam penampilan seperti permainan naga-barongsai, pawai lampion, wayang gantung, dan pertunjukan musik delapan dewa.

Atraksi Tatung dan perayaan Cap Go Meh secara umum di Singkawang adalah hajatan bersama masyarakat TIDAYU (Tionghoa-Dayak-Melayu). Proses integrasi ketiga etnis ini memperkuat jalinan persaudaraan dan toleransi di kota tersebut.


Sempat Dilarang

Cap Go Meh yang merekatkan masyarakat tidak hanya terjadi di Singkawang yang masyarakatnya ragam etnis, tapi juga berlangsung di kota-kota lainnya di Indonesia, seperti Gorontalo, Jakarta, dan lainnya.

Pada perayaan Cap Go Meh 2012 di Gorontalo, pawai dan acara lainnya diikuti bukan hanya oleh orang Tionghoa yang mayoritas beragama Buddha, tapi juga oleh etnis lain yang beragama Islam dan Kristen. Saat itu, Cap Go Meh di Gorontalo akan digelar dalam tiga hari berturut-turut pada tanggal 4, 5, dan 6 Februari 2012, tapi karena tanggal 4 Februari bertepatan dengan 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Islam—hari kelahiran Nabi Muhammad—maka Cap Go Meh hanya digelar dua hari.

“[…] maka umat Tionghoa Buddha pun rela memperingati Cap Go Meh hanya dua hari saja, yaitu hanya tanggal 5 dan 6 Februari,” ujar Ibu Maryam, Ketua Walubi Gorontalo seperti dikutip Abdul Jamil Wahab dalam Harmoni di Negeri Seribu Agama (2015).
Dalam buku yang sama, situasi toleransi ini ditegaskan oleh pendeta Jemy Paulus Bambang, Wakil Ketua GPIG (Gereja Protestan Indonesia Gorontalo).

“Sejak abad ke-15 masyarakat di Gorontalo berfalsafah semua yang ada di Gorontalo adalah orang Gorontalo, sikap pemerintah pun tidak membeda-bedakan. Kami merasa diperlakukan sama jadi walau ada perda tidak ada diskriminasi,” katanya.

Sementara itu, di Jakarta tempo dulu, menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004), perayaan Cap Go Meh tidak kalah meriah dengan karnaval yang rutin digelar di Brazil ketika orang-orang menari dan berpesta pora di jalan-jalan. Sampai awal 1950-an, selama seminggu penuh diadakan secara bergiliran dari Pecinan (Glodok), Senen, Jatinegara, Tanah Abang, Pal Merah, dan tempat lainnya.

Hampir semua warga Jakarta turun ke jalan-jalan untuk menyaksikan barongsai dan berbagai atraksi lainnya. Iring-iringan tersebut begitu panjang, saat kepalanya sudah sampai di Senen, ekor iring-iringannya masih di lapangan Banteng—garis lurus kedua tempat itu kurang lebih 1 km.

Dalam buku yang lain—Robin Hood Betawi (2002), Alwi Shahab berkisah bahwa pesta Cap Go Meh yang digelar bergiliran berlangsung semalam suntuk dan diramaikan oleh barongsai ular naga yang panjang. Ular naga itu diarak ratusan orang dan meliuk-liuk diiringi musik tanjidor dan tambur besar. Tapekong atau toapekong—gambar atau patung dewa di kelenteng—yang sengaja dikeluarkan dari vihara atau kelenteng, dalam pesta itu terdapat di tengah rombongan barongsai.

“Untuk pengamanan, tiap rombongan barongsai diberi tambang. Mereka yang masuk ke dalam tambang umumnya para pria. Maklum, banyak bahayanya kalau perempuan ikut-ikutan masuk. Karena di dalam tambang banyak ‘hidung-belang’ yang mabuk-mabukan, sambil ngibing diiringi tanjidor. Di dalam tambang juga terdapat ratusan orang yang membawa taptu atau obor,” tulis Alwi Shahab.

Pesta meriah itu tidak hanya diminati warga Jakarta, tapi juga masyarakat dari luar kota seperti Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Irwan Firdaus dari Media Indonesia dalam Etnis Cina dalam Potret Pembauran di Indonesia (2000) karya Abdul Baqir Zein sempat mewawancarai Melly G. Tan (Tan Giok Lan)—saat itu Peneliti Utama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berkisah tentang perayaan Cap Go Meh di tahun-tahun sebelum perang kemerdekaan.

Melly bercerita tentang orang-orang Jakarta yang keluar pada malam hari ketika Cap Go Meh digelar. Tapekong-tapekong dikeluarkan dari kelenteng dan vihara lalu dihias dengan kembang-kembang. Ketika tapekong-tapekong itu akan dikembalikan ke tempat semula, kembang disebarkan ke pengunjung yang berebut untuk mendapatkannya.

“Rebutan bunga itu sebagai tanda berkat yang akan melekat. Karena kembang-kembang itu dipajangi di kereta-keretaan yang digotong-gotong. Dan itu ramai sekali. Wah, itu seluruh Jakarta berkumpul menonton keramaian. Pembesar-pembesar Belanda datang dan sengaja hadir,” ujarnya.

Menurut Melly, pada 1967 pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang segala perayaan yang berunsur kebudayaan Tionghoa untuk digelar secara umum, kecuali di dalam kelenteng. Setelah peraturan itu, acara Cap Go Meh hanya menjadi perayaan keluarga. Anak-anak mendatangi orangtua sebagai ungkapan rasa hormat.

Sementara dalam catatan Alwi Shahab, di Jakarta perayaan tahunan itu sempat dilarang oleh Wali Kota Sudiro pada 1954. Pasca Gerakan 30 September 1965, Gubernur Ali Sadikin pun ikut melarang perayaan Cap Go Meh.

Sebuah kartu pos bertitimangsa circa 1910 yang dihimpun Olivier Johannes Raap dalam Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013) menggambarkan satu acara dalam kemeriahan Cap Go Meh yang bernama Cengge. Kartu pos tersebut menambah dokumentasi perayaan Cap Go Meh di Nusantara tempo dulu. Cengge adalah pawai tradisional Tionghoa. Ia menerangkan gambar yang tertera di kartu pos:

“Sebuah panggung tinggi dinaiki anak yang didandani ala wayang Tionghoa dan diarak beramai-ramai dari pintu ke pintu rumah orang kaya, para sahabat, dan opsir-opsir untuk memberi selamat sekaligus menerima sedekah. Acara Cengge diadakan di pesta Cap Go Meh yang merupakan penutup pesta tahun baru Tionghoa,” tulisnya.

Dalam perayaan Cap Go Meh di Nusantara, ada satu makanan khas yang cukup populer yaitu lontong Cap Go Meh. Sementara di Tiongkok menurut Thomas Liem Tjoe dalam Ilmu Bisnis Tionghoa (2008), makanan khas yang disantap adalah tangyuan—semacam bakpia dari tepung ketan dengan isi kacang merah dan babi asin.

Menurutnya, Cap Go Meh adalah hari pesta. Semua orang keluar rumah untuk makan enak di restoran bersama keluarga dan kerabat. Saling menyapa dan memberi salam, ‘Thiam Hok Thiam Siu’ (Tambah kaya tambah sejahtera).

“Pesta itulah yang memicu populernya makanan enak bernama lontong Cap Go Meh, sebuah fusi dahsyat yang telah berhasil melintasi beberapa abad, dan tetap populer hingga kini. Lontong Cap Go Meh juga sering disebut lontong terang bulan, karena Cap Go Meh selalu jatuh pada malam terang bulan,” katanya.

Tahun berubah, pemerintahan berganti. Perayaan Cap Go Meh sebagai warna kebudayaan Tionghoa di Nusantara timbul tenggelam dibawa arus zaman dan kebijakan. Kini, perayaan yang jatuh pada purnama pertama di mula tahun tersebut kembali bisa digelar. Malam terang bulan, orang-orang bergembira bersama. (irf)


Tayang pertama kali di Tirto.id pada 4 Maret 2018

Foto: LINE Today