01 October 2012

Tamu

Selamat datang kawan. Apakah ada yang hendak kau bicarakan?. Tak masalah walaupun itu soal caci maki dan serapah, tapi setidaknya kau lepaskan dululah topeng itu. Tak enak rasanya berbincang-bincang di rumah tapi tidak tahu siapa yang diajak bicara. Oh iya, kau mau minum apa?, kopi atau teh saja?. Apakah kau gemar menghisap cigarette?.

Begini kawan, rumah ini bukan ruang kendali siar sebuah statiun televisi yang mesti menyebut nama korban kriminalitas dengan sebutan "mawar" atau "melati" dan di dalam kurungnya ada tulisan "bukan nama sebenarnya". Kita terbuka sajalah. Sekali waktu saya juga pernah muntah di sebuah laman yang berbicara tentang Pram--beberapa bukunya saya sukai--, dan kawan bisa lihat sendiri di sana.

Adalah hak setiap tamu untuk dimuliakan, termasuk jika itu adalah sebuah tantangan untuk berperang. Kalau memang tamu itu menginginkannya, maka tuan rumah harus "memuliakannya" dengan menerima tantangan itu. Ini bukan soal nyali, tapi mencoba melayani dengan baik dan sepenuh khidmat.  Tentu saja tak pantas sebenarnya kalau harus ribut di rumah ini, apalagi dengan diksi yang vulgar tanpa baju samar. Seperti misalnya menyebut "pengecut". Nah, mari lebih baik kita minum kopi saja, kita larung dan istirahatkan setiap emosi dan dendam, setidaknya untuk sementara. Nanti jika kopi telah habis, mari kita nyalakan lagi alarm tanda bahaya itu.  [ ]

                                        sambil ngopi enaknya dengerin Float :)

30 September 2012

Pieces

"Sementara teduhlah hatiku 
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara ingat lagi mimpi..."

***

Saya baru yakin beberapa menit yang lalu, bahwa hari ini benar sudah memasuki bulan Oktober. Tadi waktu berjalan dari pantry setelah membuat secangkir kopi, saya melewati meja kerja Daniq (nama yang cukup aneh bagi seorang perempuan) yang rapi dan terdengar suara Mocca dari speaker kecil itu : "It is cold, in this October rain, i go to turn on TV, sit on the couch feeling blue...". Daniq sudah sibuk, terlihat dari wajahnya yang cukup serius. Tapi pagi ini hujan tidak turun, mungkin ditunda untuk nanti malam, agar gelap tidak terlalu sunyi dan riciknya bisa menggantikan list lagu yang mulai membosankan.

"Yo, poro konco dolanan ning jobo
Padang mbulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore."


Ipung, yang nama aslinya Purtijo Suwarno, yang meja kerjanya di sebelah saya itu, alisnya sampai naik mendengar saya hafal lagu anak-anak berbahasa Jawa. Dia lupa, bahwa hambatan bahasa telah diterabas oleh yang namanya hujan biru. Sementara anak-anak Logistik, divisi yang menjadi tetangga sebelah ramai oleh variasi lagu dari speaker dan mulut. Empat orang lagunya beda-beda. Kombinasi yang membuat perut menjadi sakit : Abdul and The Coffee Theory, Polyester Embassy, Wali, dan Rama Aipama. Kombinasi yang membuat pagi menjadi kacau.

Saya duduk di depan layar monitor. Bukan untuk bekerja, tapi berpikir dan merasa heran dengan setiap "langkah" yang dilakukan orang-orang. Sampai akhirnya berhenti pada satu simpul, bahwa manusia tidak sepenuhnya menjadi patung lilin. Sementara saya mulai mendengarkan "Sementara".  Dan segala kecewa sementara pecah. Pada beberapa hal yang di ujungnya tidak lagi profan, naluri biasanya lebih dominan daripada berjuta perangkap bunga dan setumpuk kata sayang. Sekilas jadi teringat kata-kata seorang penulis buku, intinya begini; kata-kata manis akan berhenti ketika yang "manis" telah didapatkan. Barangkali ini adalah kejahatan ganas yang paling halus. Dan saya tidak mau terbawa arus derasnya. 

Di Oktober ini, saat lampu-lampu kesadaran menyalakan titik pijarnya, saya mendengar ada yang menderap di balik jendela, ternyata hujan telah datang. Tetes air boleh saja dengan sabar menghantam batu dan akhirnya menyerah dengan visual cekungan di permukaan, tapi sekali lagi inilah manusia; perangkapnya menyerupai jaring laba-laba perak. Di sini masih terngiang dengan jelas, seperti ada seokar lalat yang terperangkap dalam toples bernama kepala. Sebuah pamafrase dari Godfather : "Kesalahanmu adalah tidak mempersenjatai diri dengan sahabat sejati!." Tapi itu terlalu romantik dan utopis. Dalam berjuta sel yang ada pada manusia, entah berapa benih-benih absurd yang tumbuh dan menyala. Maka seperti apa yang pernah saya tulis dulu; "Manusia jangan kecewa kepada manusia, karena manusia adalah akumulasi rahasia." [ ]
Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi

Sementara... teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara... ingat lagi mimpi




28 September 2012

Milestone



"Jelajahi waktu ke tempat berteduh hati kala biru..."

Bukan untuk disesali tapi dijalani. Maka segala teori hidup istirahatkan di sini. Sebab yang pernah menunggu itu bukan berarti lemah, tapi sayang. Namun setiap orang berhak mengambil dan mencintai pilihannya, maka inilah saatnya untuk menjelajahi waktu sampai batas itu jelas; merah atau biru. [ ]

27 September 2012

Biru (lagi)


Sempat juga, dulu, entah kapan tepatnya saya lupa lagi, seorang kawan sempat bertanya tentang perempuan cantik, saya jawab saja Leigh Nash. Mantan vocalis Sixpence None The Richer itu memang cantik, terutama waktu bawain Kiss Me. Gigi kelincinya menebar aroma innocent. Tapi sekarang dia sudah tua, lagi pula Sixpence sudah bubar, dan kawan saya yang bertanya itu entah di mana, kabar terakhir posisi dia di Medan, jualan Bakpao katanya. Tapi saya masih ingat, dia dulu terlambat lulus alias pending gara-gara tugas akhirnya tersendat. Maka ketika saya dan kawan-kawan yang lain di wisuda di Sabuga ITB dan berhias toga macam pakaian Rama Aipama, dia hanya jadi penonton, ceria saja pembawaannya, entah perasaannya.  Di detik-detik ketika akhirnya para wisudawan mulai sibuk mencari kerja, dia malah sibuk di depan layar komputer, sendirian mengejar deadline demi wisuda gelombang kedua. Ralat, dia tidak sendirian tapi ditemani lagu Sway dari Big Runga. 

Rokoknya Marlboro merah, tak penting betul saya ceritakan masalah cigarette ini, tapi memang dia tak mau jika harus membakar cigarette produksi Djarum yang aromanya, menurut dia, terlalu pekat. Sikapnya bersahaja-berkawan, dia adalah jenis sahabat yang nyaman di segala kondisi. Pernah sekali waktu, ketika tanggal sudah masuk ke penghujung bulan dan kiriman dari kampung belum datang, uang di kantong tak tersisa sepeser pun. Saya tergeletak tak berdaya di kamar kosan, tiba-tiba batang hidungnya muncul di balik pintu dan sebuah senyum pahit, dia datang dengan tangan penuh oleh kantong berisi makanan dan dua bungkus rokok. “Untuk anak rantau kere macam kau,” katanya.

Beberapa dosen bersikap agak sinis kepadanya. Maklum saja, sebab dia lumayan sering bolos dan tugas sering terkatung-katung tak jelas kapan selesainya. Saya tak sampai hati menasehati, sebab saya tahu pada dasarnya dia cerdas, hanya saja beberapa gelintir setan penggoda kerasan tinggal di dirinya. Sekali saja sempat saya bilang, “kawan, pisau kau itu sebenarnya tajam, tapi mulai berkarat, asahlah sedikit.” Dan dia hanya, lagi-lagi, tersenyum pahit. Barangkali dia menyesal juga pada akhirnya, sebab tidak bisa lulus tepat waktu seperti kawan-kawan yang lain, tapi memang itu sudah terjadi, dan kini hanya menjadi kenang-kenangan bagi hidup yang begitu biru.

“There she goes, there she goes again…,” suara Leigh Nash tengah mengusai kamar ketika dia, lagi-lagi, muncul tiba-tiba dari balik pintu. “Siapa yang pergi kawan?,” tanyanya. “She,” jawab saya. Lalu tawa pun pecah berderai-derai, nikmat betul. “Sejak kapan orang macam kau ditinggal cewe?, yang datang pun kaga pernah ada,” dan kami, saya dan dia tertawa lagi. Selain senyumnya, humor dia pun pahit, tapi tetap menghibur. 

Braga, berapa kilometer jaraknya dari Sarijadi?, entah. Sekali waktu, sempat juga kami jalan kaki dari Sarijadi menuju Braga, bertiga, karena ditambah kawan satu lagi : Dani Batax Swasta. Yang ini pun bersahaja-berkawan. Ihwal gelar “Batax Swasta” adalah karena dia tak seperti umumnya orang-orang sekampung dia yang rata-rata bersuara lantang, dia malah kebalikannya. Tapi dia Batak tulen, ibu-bapaknya asli Sumatera Utara, hanya saja sudah terlalu lama tinggal di Bandung, jadi begitulah, dia lebih mirip orang Bandung, suaranya kadang-kadang seperti tertiup angin. Bukan rasis, tapi begitulah kenyataannya. 

Malam hari waktu itu, dan hujan masih menyisakan rintik sebab sedari sore mengguyur deras kota Bandung. Kami seperti sedang napak tilas pasukan Siliwangi di masa penjajahan yang hijrah berjalan kaki. Bertiga kami berjalan kaki membelah kota Bandung yang dingin sekaligus mengandung aroma romantic aneh yang membias dari lampu-lampu kota, tukang serabi, beberapa perempuan cantik yang nongkrong di Circle-K, dan wajah-wajah para pendukung Persib yang sedang menyaksikan tim kesayangannya lewat pesawat televisi. Dan hidup tidak sama lagi setelah itu, sebab beberapa hari setelah membelah Bandung dengan berjalan kaki, kami akhirnya terpisah dijerat waktu yang mengiris di setiap milisekon hidup. 

Sepotong ingatan masih tersisa. Sehari sebelum kami berpisah, kawan yang rokoknya Marlboro merah itu, di kamarnya yang berantakan, dengan mata entah nanar entah syahdu, didapati tengah mendengarkan Alicia Keys : If I Ain't Got You. Saya Tanya, “Sedang jatuh cinta kau rupanya kawan?. Siapa yang kau sukai itu?”. Dan dia menjawab pendek, sangat pendek, “She.” [ ]        

   

26 September 2012

Hujan Fantasy



"Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba 
Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia.
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara,
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia"

(Sapardi Djoko Damono) 

***

Maka daun jendela itu adalah pintu fantasy, tempat anak kecil berdiri menyaksikan hujan yang turun lirih dan magis. Merayakan hujan adalah parade ingatan tentang hal-hal yang belum selesai, atau cerita sederhana yang mengapung di tempurung, seperti arak-arakan awan yang berkarnaval di langit yang murung. Bola-bola air yang menggantung di pucuk pohon mangga, tanaman rambat yang kedinginan, tampias yang berloncatan ke kaca jendela, dan ricik suaranya seperti rekaman masalalu yang menggantung di pojok sunyi.

Barangkali hujan tidak pernah tahu bahwa kehadirannya selalu saja mengapungkan imajinasi, juga misteri yang bisa menjernihkan ingatan, rekontruksi hati, dan do'a-do'a yang tak terucapkan namun menggema dan bersemayam di dasar jiwa yang seringkali bolak-balik, tarik-menarik antara iya dan tidak. Tapi dendam tidak sepenuhnya luruh, gradasi luka menunggu dibasuh titik-titiknya yang dingin dan menyegarkan. Hujan telah begitu dicintai para penyair dan pencipta lagu. Dalam wujudnya yang kelabu, hujan serupa jalan panjang untuk pulang, menyadarkan para pemain peran untuk segera pulang ke dalam pangkuan sejati yang selama ini ia cari.         

Lengkung kurva itu suatu saat akan menyentuk titik nadir, maka sesungguhnya tak ada yang kita miliki selain kisah yang berjejalin di sepanjang titian waktu. Karena wujud waktu bukanlah lingkaran melainkan garis lurus yang terus menderap mendekati jurang, maka dibutuhkan sebuah sudut pandang parabola yang mampu melihat objek meskipun tertutup bukit dan selubung kabut. Seumpama berniaga, para pecinta prosa tidak bisa sepenuhnya bersandar kepada redup-remang kenangan, tapi mesti ada percik sadar-jaga bahwa nanti di penghujung, semuanya tak bisa lari dari perhitungan tentang transaksi yang telah terjadi. Dan kata mundur telah dihapus dari kamus waktu. 

Hujan terkadang terasa romantik ketika air yang tumpah itu membasuh hari-hari yang telah terkontaminasi oleh kompromi. Ketika "Tembok Berlin" runtuh, maka cacat permanen selamanya akan tercatat dalam sejarah, dan hujan hanya mengantar kepergiannya sampai batas antara erat dan lepas. Ya, sebermula hanya jatuh di genting, lalu bergerombol dalam samurai kata-kata, kemudian temaram dalam metafora remuk-redam. Kalau hari-hari ke belakang setiap pagi adalah saatnya menunggu matahari lewat, maka yang menderap ke depan adalah menyambut hujan dari balik jendela. Summer-Autumn?. Ah, seperti di film saja. [ ]