Showing posts with label Aku dan Perempuan wangihujan. Show all posts
Showing posts with label Aku dan Perempuan wangihujan. Show all posts

10 December 2007

Kamu Masih Misteri

Perempuan itu sedang sibuk mengajar di depan kelas. Belum terlalu siang waktu itu. Murid-muridnya dengan serius memperhatikan apa yang diucapkannya, tapi ada juga beberapa yang melamun, ada juga yang mengganggu teman sebangkunya bahkan ada yang terkantuk-kantuk, mungkin semalam kurang tidur. Dia, perempuan itu dengan sabar melaksanakan tugasnya, mendidik anak-anak itu dengan penuh kasih sayang. Mengajar di Sekolah Dasar (SD) mempunyai citarasa tersendiri dibanding mengajar di level pendidikan yang lebih tinggi, karena usia SD selain sedang jernih-jernihnya menyerap ilmu juga masih belum bisa lepas dari perhatian seorang ibu. Dan dia menjalaninya, karena dia menikmatinya. Perempuan itu mungkin saja kamu, seseorang yang suatu saat akan aku cintai. Perempuan itu tidak mustahil adalah kamu, calon istriku.

Di halaman depan sebuah rumah yang teduh, perempuan itu sedang menyapu daun-daun yang berguguran. Dia baru saja selesai memasak di dapur, sambil menunggu suaminya pulang dia menyapu halaman. Rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar kebun bunganya yang mungil, dia cabuti sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon rambutan, menemaninya sambil berebut mencari makan dari dahan satu ke dahan yang lain. Perempuan itu suatu saat akan mencintaiku dan aku akan mencintainya. Perempuan itu mungkin saja kamu.

Selepas maghrib, hujan belum juga reda bahkan semakin lebat. Langit terus menghitam menutup bintang-bintang dan bulan yang akan keluar. Dia cemas menunggu suaminya yang belum pulang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sementara yang dinantinya belum juga datang. Sesekali dia mengintip keluar dari kaca jendela yang basah oleh percikan hujan, lalu duduk lagi di sofa depan televisi. Hatinya sangat tidak tenang. Hp suaminya tak bisa dihubungi, dan suaminya tak menghubungi dia. Sebuah penantian kabar yang cukup menegangkan. Lalu daun pintu terdengar ada yang mengetuk dari luar. Dia langsung meloncat membuka pintu lalu menghambur kepada orang yang berdiri di balik pintu itu. Suaminya basah kuyup kehujanan. Dan angin berhembus kencang. Perempuan yang cemas itu adalah kamu. Suatu saat siapa pun kamu pasti akan aku cintai, dan kamu akan mencintaiku.

Sekarang katanya zaman emansipasi, maka kamu bisa saja seorang dokter, seorang jurnalis, seorang aktivis HAM, seorang karyawan swasta, seseorang yang berwirausaha, seorang penulis buku dan profesi-profesi lain yang padat karya. Tapi jika akhirnya pekerjaan itu menjadikan kamu lupa dan menelantarkan keluarga, maka itu bukan kamu. Bukan seseorang yang akan aku cintai.

Ketergesaan menggapai-gapai hal yang masih misteri akan membawa kita pada suasana yang berwarna, jika hal itu telah ditemui. Bisa gembira, bisa juga kecewa. Tergantung kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Mencari dan menggapai-gapai pasangan hidup salah satunya. Coba saja tanya kepada mereka yang telah berkeluarga. Kamu akan temui jawabannya.

Jika hal itu telah dialami, maka yang menjadi kewajiban kita adalah bertanggungjawab terhadap pilihan. Baik-buruknya pasangan hidup adalah pilihan kita, kecuali jika masih hidup dalam keluarga konvensional ala Siti Nurbaya. Maka bagaimana pun dan siapa pun dia, pasangan hidup kita adalah organ yang telah menyatu dengan kehidupan kita. Silahkan bercita-cita. Silahkan berusaha. Tapi jangan jadi pengecut dengan menyakiti pasangan hidup pilihan sendiri. [ ]

09 December 2007

Perempuan Wangihujan

Menjejakkan kaki di Bandung, menghirup udaranya dan menikmati semesta kotanya selalu membuatku enggan beranjak. Apalagi kalau hujan. Air yang tumpah dari langit jatuh ke daun lalu diserap akar, semakin membuat kota itu lembab. Hujan selalu saja begitu. Hujan selalu membuatku rindu untuk mendengarkan air beradu dengan bumi.

Seperti pada hujan, begitu juga padamu. Aku rindu. Maka kamu adalah perempuan wangihujan. Jangan protes ya. Sebab kalau protes kecantikanmu tak tertampung. Terlalu cantik soalnya. Tapi kalau kamu mau bilang ini hanya sebuah rayuan, boleh saja. Karena aku lebih senang menyebutnya kejujuran. Dan aku rasa kejujuran dimana-mana sama. Tak menghitamkan yang putih, juga tidak memutihkan yang hitam.

Menikmati Bandung, duduk di atas lantai 3 kost-an, melihat lampu kelap-kelip di utara sambil sesekali menghirup kopi panas menghadirkan satu nuansa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, berjalan di Purnawarman lalu melahap buku di Gramedia adalah sebuah citarasa. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, memanjakan tubuh dengan dinginnya udara di Lembang dan Dago atas selalu membuatku ingin kembali. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Menikmati Bandung, nonton di ruangan berpendingin, makan di kakilima, berteduh di taman kota atau sesekali larut di Gazebo pada minggu pagi adalah kesenangan tersembunyi. Sayang, kamu perempuan wangihujan tidak ada.

Dan ketiadaan selalu menyisakan kerinduan. Apalagi Jarak. Dan aku harus bersiasat. Ini hanya masalah strategi. Dimana-mana hidup perlu kerja keras. Lalu aku sadar bahwa aku bisa sedikit menulis. Maka bekerja keraslah aku menulis untuk menepis rindu itu. Aku yakin menulis bisa mengurangi tensinya.

Dan aku yakin ketika aku menulis, kamu perempuan wangihujan masih di situ, di tempat tidurmu. Duduk atau terbaring. Seperti Dee, aku juga iri pada baju tidurmu, handukmu, bantal, seprai apalagi guling. Stop. Aku tak kuat membayangkannya.

Maka kalau malam ini aku mimpi, aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Dan ketika wajah kita berhadapan, pasti aku tak tahan. Tak usah bicara, diam saja. Aku pasti beku.

Atau jika itu tak mungkin, aku ingin mimpi memegang tanganmu. Ada sensasi aneh saat kulit kita bersentuhan. Darahku dan mungkin juga darahmu terasa berdesir. Ada segenggam kenyamanan di situ. Aku bisa merasakan denyut nadimu.

Aku mencintaimu, sangat.....[Published ]

26 September 2007

Sebab setelah kamu


Bagi dunia kau hanya seseorang,

tapi bagi seseorang kau adalah dunianya

(Anjar Anastasia)

Tadi siang aku titipkan catatan ini kepada seorang kawan, biar nanti si perempuan wangihujan mendapatkannya bukan dariku, tapi melalui tangan orang lain. Inilah salah satu cara untuk menghadapinya. Aku tak bisa terus-menerus bertatapan langsung dengannya, karena dia begitu megah dihadapanku. Dan inilah catatan itu :

” Kalau kamu mau pergi, pergi saja...aku tak akan menghalangimu. Tempuh saja jalan yang kamu yakini itu, karena aku pun yakin dengan pilihanmu. Atau mungkin maunya kamu, aku berusaha menghalangi dan menimbulkan sedikit perdebatan agar tercipta kesan dramatis ?, sebelum akhirnya kamu pergi juga. Aku tak berani menerka-nerka, karena salah pengertian selalu menyakitkan. Tapi kalau aku harus jujur, sebenarnya aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku sendirian, karena kamu pun tahu bahwa sangat jarang aku menemukan orang yang pengertian, dan kamu adalah salah satu dari yang jarang itu. Aku juga tak ingin mengenang semua yang telah kita jalani, nanti saja kalau kamu telah benar-benar pergi dan mungkin tak kembali.

Aku tak akan mengantarkanmu ke bandara, biar kamu rasakan betapa sunyinya perpisahan yang dilakukan sendirian. Tak ada yang mengucapkan ’selamat jalan’, tak ada peluk cium perpisahan, tak ada do’a-do’a yang menguatkanmu untuk terus berjalan, tak ada lambaian tangan dan tak ada seseorang yang melihat jejek langkahmu yang semakin hilang itu. Nikmati saja perpisahan sendirian, karena akupun sendirian juga menikmatinya disini.

Kalau nanti di tempat barumu terasa sepi dan mungkin ingat aku, hati-hati...karena itu tipuan. Dengan berjalannya waktu, itu semua akan hilang perlahan dan kamu akan benar-benar melupakanku. Nikmati saja hidup barumu. Kehidupan yang kamu impikan itu.

Tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin kembali padaku, datang saja. Aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa. Dan karena pertemuan tak bisa dilakukan sendirian, maka aku akan datang menjemputmu di bandara itu.

Mari sini, datanglah dengan cepat sayang. Aku ada di barisan paling depan para penjemput. Pakai baju biru tak bersepatu, sebab pakai sendal jepit aku lebih nyaman. Tapi kalau ternyata setelah para penjemput hilang, kamu tak juga datang, dan aku hanya menunggu angin, tenang saja...aku tak kan menyerah, sebab setelah kamu...aku tak menemukan siapa-siapa.”

Dan kalau semuanya akan terjadi sesuai dengan rencana, beginilah kira-kira cerita selanjutnya :

Aku bangun lebih pagi, memdahuluimu yang masih terbuai dalam mimpi. Lalu selimut itu aku tutupkan kembali sampai kelehermu, agar udara pagi tidak sanggup membangunkanmu. Kubiarkan saja begitu sampai tibanya waktunya unuk mengeksekusi iman, maka mulailah aku membangunkanmu. Seperti biasa kamu agak susah dibangunkan sebelum akhirnya membuka mata dan menguap beberapa kali. Lalu kita sama-sama sholat. Mendo’akanmu dan mendo’akanku. Mensyukuri hidup yang begiru biru.

Kamu pasti terkejut, karena diam-diam telah aku siapkan sarapan di meja itu. Sekali-kali aku juga ingin memasak, mematangkan cinta terutama. Karena aku percaya bahwa cinta bukan sekedar pemujaan tapi juga pengalaman. Dan pagi itu aku ingin mengalaminya, melakukan semua yang tiap pagi kamu kerjakan. Aku tak ingin menunggunya sampai tiba ulang tahunmu, karena bagiku kamu adalah sesuatu yang harus dirayakan tiap hari. Dunia menemukan miniaturnya di sana, disemesta dirimu. Kalau kamu tak menemukan kata-kata lain untuk semua yang aku tulis ini selain ’rayuan’, tak mengapa...karena kata-kata akan aku istirahatkan di sana.

Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu diam kalau marah, karena tahu kalau aku adalah sumbu yang setiap waktu bisa menyulut ledakan. Kamu tersenyum jika ingin sesuatu, karena merasa akan merepotkanku. Dulu kamu begitu menggemaskan kekasih, sekarang lebih. Kamu adalah waktu dan aku jarum yang mengitarinya. Kamu adalah rumah dan aku penghuninya. Kalau kata Chairil ’hidup hanya menunda kekalahan’, maka kamu si penunda kekalahan itu. Sekali lagi kamu boleh menyebut ini sebagai rayuan. Dan kata-kata kembali akan aku istirahatkan.

Sekotak rahasia hati telah lama aku simpan sejak dulu, dikunci rapat dan kunci itu telah lama aku buang jauh. Kini disepotong waktu ketika kamu mendekat kepadaku, kunci itu datang lagi dan terbukalah kotak rahasia itu. Biarkan saja semuanya terbuka, sampai nanti ketika rambutmu dan rambutku memutih, sebagai pertanda akan berakhirnya waktu. Pegang saja tangan ini senyaman mungkin, sampai nanti salah satu dari kita pergi mendahului untuk menghadap Nya, dan cinta tak kan berakhir oleh kematian.[]