Showing posts with label Olva. Show all posts
Showing posts with label Olva. Show all posts

23 September 2012

Konstelasi [01]

Seperti biasa, setiap hari, setiap kali pulang kerja, sambil duduk di teras pondoknya, Erlan akan perlahan membuka sepatunya yang berwarna coklat. Lalu mencopot kaos kaki putih yang mulai bergradasi dengan warna coklat muda, warna lumpur yang sedikit demi sedikit mengotori kaos kaki itu. Baju kerja pun ikut ditanggalkan, dia senang sekali hanya memakai kaos dalam dan membiarkan angin sore menyerbu badannya. Ubin yang dia duduki berwarna kelabu dan mengkilat. Rumput liar yang tumbuh di halaman belum sempat dia bersihkan, pekerjaan terlampau menyita waktunya. 

Tapi setiap hari sabtu, pagi-pagi sekali dia akan bangun, sehabis sholat subuh dia akan berlari sampai alun-alun, lalu mengelilingi alun-alun itu sebanyak tujuh kali putaran, tidak kurang dan tidak lebih, kemudian kembali lagi ke pondoknya. Sambil menunggu keringat luruh, dia memanaskan air untuk menyeduh segelas kopi campur susu dengan takaran yang pas. Setelah minum dua gelas air bening yang dingin, dia akan menyalakan laptop apple yang berwarna putih, lalu menyalakan windows media player yang akan berbunyi di speaker Simbadda, membuka Ms. Word dan mulai menulis. Gorden kamarnya yang berwarna biru mulai bergoyang tertiup angin, pagi yang cerah mulai menyerang embun yang masih berkilauan di kelopak bunga, pucuk daun, dan ujung ranting. Biasanya setelah lagu pertama, setelah lagu “Live in New York” yang dinyanyikan The Sigit selesai, pemanas air akan berbunyi menjerit, dan air akan berpindah  sebagian ke dalam gelas berisi bubuk kopi dan susu cair cap Bendera. Dia senang sekali dengan aroma yang menguap dari kopi-susu itu. 

Tapi sore itu hari masih kamis, dan belum beranjak menjadi sabtu. Dia kemudian mencuci kaki di bawah keran yang terpasang di pojok halaman. Sinar matahari perlahan mulai meninggalkan batang pohon kelapa yang tumbuh tidak terlalu tinggi, dan berada kira-kira duapuluh meter dari pondoknya. Rumah Pak Eka, tetangganya, terlihat sepi. Tidak terdengar suara istrinya yang biasa memanggil Marjo, anak semata wayang mereka untuk berhenti bermain dan segera mandi. Sebenarnya Pak Eka bisa saja memilih nama anaknya dengan nama yang lebih terdengar aristokrat, tapi ada makna lain di balik nama anaknya yang pendek itu, tanpa nama panjang. 

Yang terlihat hanya ayunan dari ban bekas yang tergantung diam di pokok pohon jambu, sepeda tua yang diikat di pagar, dan beberapa baju yang belum diangkat dari tempat jemuran. Biasanya rumah Pak Eka tidak sesepi itu, apalagi kalau sore, Marjo dan kawan-kawannya yang masih kelas satu SD, selalu saja ramai bermain di bawah pokok pohon jambu. Kawannya Marjo tidak lebih dari tiga orang, semuanya perempuan, jadi dia adalah satu-satunya bocah laki-laki. Dwie, Makie, dan Julie selalu senang bermain ayunan di ban bekas. Kawan-kawan Marjo itu tidak pernah absen, setiap sore, kira-kira jam setengah lima, waktu panas matahari mulai terasa reda, mereka pasti sudah berjajar di depan pagar rumah Pak Eka dan berteriak serempak memanggil Marjo, kawan laki-laki mereka. 

Dwie sering memakai baju warna hijau mint, rambut diikat dua, dan selalu membawa permen. Makie lain lagi, warna bajunya sering didominasi warna kelabu atau coklat tua, sering memakai topi, dan takut kalau bertemu ulat. Sementara Julie lebih mirip laki-laki, rambutnya pendek, bajunya selalu t-shirt bergambar para pahlawan yang suka tampil di film kartun. Tapi sekarang pemandangan itu tidak ada, entah kemana.

Erlan kemudian masuk ke pondoknya. Di dalam selalu rapi. Lemari es tersimpan di pojok; berisi telur, sayur-sayuran, sepotong keju chedar, beberapa potong ayam mentah, es batu, minuman dalam kaleng, air putih, susu sapi dalam kemasan, jeruk sunkies, apel merah, buah pear, dan beberapa potong coklat Toblerone yang belum sempat dihabiskan. Semuanya tersimpan rapi di dalam lemari es itu. Tempat tidurnya dibungkus seprai berwarna merah, bergambar logo club liga Inggris; Arsenal. Bantal bertumpuk dua, dan di tengah kasur tersimpan sebuah guling yang masih padat oleh busa. 

Tak jauh dari jendela, tersimpan sebuah meja dari kayu jati yang gagah dan mengkilat, tempat menyimpan laptop dan menghabiskan waktu berjam-jam pada hari minggu untuk menulis. Meskipun di atas meja itu ada sebuah asbak, tapi setiap pagi dia membuang abu dan puntung Marlboro light di asbak itu ke tempat sampah. Dari jendela pemandangan lurus ke jalan yang sepi, tempat induk semangnya--Pak Ajat dan istri—setiap hari, kalau tidak hujan, berjalan bersama menikmati suasana sore yang masih menyisakan hangat. Lewat jendela itu pula, dulu sebelum kawannya menikah dan menetap di Makassar, dia biasanya mengeluarkan kepalanya sedikit untuk melihat Irfan, kawannya itu yang datang dengan motor bututnya. Sedikit bergeser ke kanan, sebuah televisi 21 inc diletakkan di atas meja pendek yang berkaki kuat. 

Dia jarang nonton tv, tayangan favoritnya hanya Kick Andy, siaran langsung LSI, dan Jejak Petualang. Lemari pakaiannya bermerk Olimpyc, tempat menyimpan baju yang dilipat dan yang digantung. Lantai kamarnya ditutup karpet berwarna biru dongker yang setiap sabtu dia bersihkan dengan vacuum. 

Pondoknya itu adalah semacam paviliun, milik Pak Ajat yang dia sewa setahun yang lalu. Erlan tidak pernah mencetak foto Rani dalam ukuran besar untuk digantungkan di dinding kamar, dia hanya menyimpannya dalam folder digital. Dia merasa beruntung mendapatkan pacarnya bernama Rani, sebab bisa dia plesetkan menjadi rain, menjadi hujan; sebuah peristiwa alam yang selalu dia kagumi. Maka kalau gerimis mulai turun, jiwa melankoliknya kambuh, dia akan melihat keluar lewat jendela setelah sebelumnya memastikan dulu bahwa A7x sudah siap menyanyikan lagu “Dear God” dari laptop Apple-nya. 

Wajah Rani kadang-kadang muncul bersama air hujan yang berebut mencium bumi. Rani, perempuan yang dia tinggalkan di Bandung, dikenalnya dua tahun lalu pada sebuah pameran buku di jalan Braga. Dia sempat menulis cerpen dan dimuat di Kompas dengan judul “Perempuan Wangihujan”. Kalau melihat Pak Ajat dan istrinya yang sudah sama-sama tua, dia kerap membayangkan bahwa dia dan Rani pun bisa tetap saling mencintai sampai rambut mereka memutih, bisa saling menjaga dan bersama-sama melacak usia senja, lalu Rani yang kulitnya sudah tidak lagi kencang berkata, “Sayang, kamu terlihat lebih menarik daripada waktu pertamakali kita bertemu dulu.” Dan terkadang dia juga khawatir, mungkin saja Rani meninggalkannya tanpa pesan, tanpa perpisahan yang dilakukan bersama, persis seperti Olva yang meninggalkan Irfan, tapi pikiran itu cepat-cepat ditepisnya. 

Tak lama setelah dia mandi, adzan maghrib berkumandang dari mesjid yang berjarak enam puluh meter dari pondoknya. Petang rembang dan adzan maghrib selalu mengingatkannya pada seorang sosok tua yang belum lama pulang ke Sang Pencipta. Dulu waktu masih kecil, waktu neneknya masih ada, Erlan selalu belajar mengaji kepadanya. Belajar a-ba-ta-tsa dari awal, juga belajar tentang kesabaran dan keteladanan dari kisah para Nabi dan Rasul yang sering nenek ceritakan. Tak terasa ada yang menggenang hangat di pelupuk matanya, dia hapus perlahan dan bergegas menuju mesjid. 

Besok jum’at, hari terakhir kerja. Sabtu ini, seperti dua minggu sebelumnya, dia tidak akan pulang ke Bandung, dia akan lebih memilih diam di pondoknya, mencabuti rumput liar di pekarangan, menulis, mendengarkan musik, mencuci baju, membuat omelette, dan nonton film lewat DVD . Anak Pak Eka, Marjo kecil dan kawan-kawannya memanggil dia “Om Pengarang”. Sore waktu itu, dia sedang menulis di laptopnya, di depan pondok, laptopnya dia simpan di atas meja lipat yang pendek. Anak-anak itu main sepeda dorong dan melintas di depannya. Mereka bertanya, “Om, sedang apa?”. Dia menjawab, “sedang  mengarang.” Maka semenjak itu, anak-anak kecil yang jumlahnya empat itu selalu memanggilnya “Om Pengarang”. 

Sudah pukul 22.30, tapi Erlan belum bisa tidur. Di luar sepi, sesekali terdengar suara mesin motor yang digas beraturan. Pohon-pohon cemara yang berada di seberang jalan terdengar desaunya, mereka seperti sedang bernyanyi. Dia mulai membuka novel Harry Potter edisi bahasa Inggris untuk mengasah kemampuan bahasanya. “Interview di Oil Service Company harus lancar berbahasa Inggris Bung!!”, selalu begitu informasi dari teman-temannya. Wajar saja, sebab perusahaan yang banyak bermarkas di pulau Kalimantan itu rata-rata adalah milik asing. Lagi pula dia sudah bosan terus-menerus bekerja membuat cigarette. 

Ada semacam perasaan tidak nyaman setiap kali dia membayangkan orang-orang yang mati karena paru-parunya rusak digerogoti tar dan nikotin. Sekali waktu ada temannya yang membawa sebungkus rokok produksi Singapura, gambarnya sangat mengerikan; gambar organ tubuh manusia yang habis dihancurkan racun rokok. Maka di banyak waktu, selain menulis, setiap kali ada kesempatan, dia hampir pasti belajar bahasa Inggris secara otodidak. Jejentik jam terus berjalan. Ketika rasa kantuk mulai datang, sekitar pukul 23.30 dia membaringkan tubuhnya di atas seprai bergambar logo Arsenal. 

Tapi ini belum ngantuk parah, jadi dia sempatkan memutar MP3 lewat DVD, lalu terdengar perlahan suara Simon & Garfunkel, Carla Bruni, Regina Spector, The Temper Trap, dan Belle and Sebastian. Tak lama kemudian Erlan mulai terlelap, udara di luar terasa dingin dan gelap mengusai. Tapi gelap malam sesungguhnya tidak pernah sempurna memeluk bumi, dia selalu digoda oleh jutaan lampu, kunang-kunang, api yang menyala dari pemantik, bara cigarette, dan oleh harapan yang terus menyala di hampir setiap dada manusia. [ ]

16 March 2012

OLVA (6) : No Frontier


Bung Joni sudah di Riau, dia sudah paling dulu mudik ke kampungnya, maklumlah mahasiswa; manusia paling merdeka, liburnya selalu panjang, boleh bangun siang, sudah boleh merokok, dan subsidi masih mengalir dengan lancar. Sudah kubilang pada kau, bahwa laptop yang aku pakai untuk menulis peluru-peluru yang kutembakkan ke Olva adalah punyanya Bung Joni, jadi barang itu harus kukembalikan lagi. Tapi untungnya manusia sering sekali dikasih penyakit lupa, maka demi ingin cepat-cepat pulang kampung, dia menjadi lupa dengan laptopnya, yang artinya barang bermerk Dell itu bisa berlama-lama kupakai selama libur lebaran. Dell bisa kuboyong ke kampung, dan akan kusuruh kerja jika silaturahmi keliling tetangga sudah usai. Manis sekali bisa menulis di kampung, menyusun paragraf demi paragraf di tengah kepungan memori masa kecil yang seringkali mengapung dari benda-benda dan tempat-tempat yang pernah akrab dengan usia SD sampai MTs.

Dua hari yang lalu kutinggalkan Jakarta, gudang peluru sudah kurapikan. Kalender sudah menyuruhku untuk pulang, menyuruh bertemu lagi dengan kawan-kawan permulaan, kawan-kawan yang sekarang sudah berdiri pada nasibnya masing-masing. Mereka berjejak pada apa yang telah mereka kerjakan. Nomor Olva sudah di tangan. Pada pertemuan ke dua, waktu dia bilang lagi “tulisannya bagus, aku suka”, dia juga mau memberikan nomor hp-nya. Kusimpan dan kudiamkan saja nomor itu. Tak pernah aku telpon dan kirim sms, benar-benar kudiamkan. Tapi sehari sebelum aku pulang, sempat juga aku kirim pesan:

“Kata-kata adalah senjata. Tanpa disadari penulisnya, dia seringkali terlalu tajam. Dua tulisan yang telah kukirim, mungkin juga menyimpan ketajaman itu. Ramadhan hampir tergelincir ke Syawal. Inilah saat yang tepat bagi hati untuk merunduk meminta maaf. Aku pulang dulu.”

Dan dia pun membalasnya. Selalu tipikal. Selalu dengan kata-kata pendek, tapi bagiku rasanya cukup menghujam:

“Aku juga minta maaf. Hati-hati, ya. Ada yang selalu menunggu tulisanmu.

Demi mendapatkan balasan seperti itu, tubuhku terasa ringan sekali. Aku baca lagi kalimat terakhirnya. “Ada yang selalu menunggu tulisanmu”, amboi sakti sekali kalimat itu, dia seumpama energi listrik yang menyalakan ribuan lampu taman. Dan sebuah taman raksasa dengan semesta keindahannya tiba-tiba terbentang ditingkahi cahaya lampu yang benderang, indah, dan hangat. Pada kondisi seperti itu, kupikir mantra para praktisi motivator pun tak ada apa-apanya. Andri Wongso dan Mario Teguh lewat dibuatnya. Aku pun segera berkemas, ada sekira duapuluh buku kubawa serta, maka tas Adidas biru itu sudah sesak sebelum dimasuki baju ganti dan kue buat oleh-oleh. Tapi mengurangi jumlah buku yang akan kubawa bukanlah sebuah keputusan mudah. Akhirnya diputuskan, aku mengurangi baju, dan beberapa kaleng kue aku tinggalkan di gudang peluru. Tak ada satupun yang boleh menyingkirkan buku-buku itu dari tas Adidas biru.

***

“Karena penyakit lupa sedang kambuh, laptop itu bolehlah kau bawa mudik, tapi ingat jangan sampai tergores, berikan usaha ekstra untuk menjaganya dari guncangan jalan berbolong menuju kampung kau. Saya hampir khatam, indah sekali membaca surat Ar Rahman.”

Jelas sekali itu adalah sms dari Bung Joni. Selalu begitu. Selama Ramadhan ini, dia selalu saja menyebut-nyebut target khatam Al Qur’an. Bahkan dia pernah berucap, “Bung, jangan sampai kau doyan baca buku dan koran, tapi kitab sucimu tak pernah kau sentuh. Dialah seutama bacaan, dia pula yang mula-mula menyuruh manusia untuk berbanyak membaca. Tentu Bung tahu belaka dalilnya.” Maka aku pun mulai lagi membaca Al Qur’an. Kawan-kawan kost-an tampak aneh melihatku menyapa lagi benda yang sudah dihinggapi debu itu. Si Uda angkat bicara, “Onde mandeh, rupanya bulan puasa kali ini ada juga yang mau menjadi ustadz,” tak kutanggapi, dia pun berlalu.

Tak perlu perjalanan yang berhari-hari, cukup delapan jam saja, aku sudah sampai di kampung. Halaman rumah terlihat teduh. Pohon vanili, melinjo, sembung, mangga, dan beberapa tanaman rambat melindungi rumah dari panas cahaya matahari. Di dalam sudah terdengar ramai oleh suara bocah, rupanya beberapa keponakanku sudah pada datang.

Lebaran saatnya berkumpul, inilah reuni tahunan, inilah reuni keluarga yang telah terpecah karena tanggungjawab dan kewajiban hidup yang berbeda-beda. Silaturahim, itu mungkin intinya, bukan sekadar perlombaan mengumpulkan makanan dan sandang yang baru.

Waktu semua penghuni rumah sudah mulai terlelap dibantai kantuk yang menyerang, aku malah mulai mengumpulkan kekuatan, cuci muka dan menyeduh kopi hitam. Kuhampiri laptop Dell yang sedang istrirahat setelah menempuh perjalanan delapan jam melintasi jalanan yang bolong, jalanan yang sempat dilewati oleh para calon anggota legislatif yang berkampanye di kampungku. Kuambil dia dan mulai kunyalakan. Sekarang duapuluh buku yang sengaja kubawa dari gudang peluru telah mendapatkan waktunya. Mereka mulai ku bolak-balik demi persiapan untuk menyajikan lagi (dan lagi) sebuah tulisan yang sengaja kubuat untuk Olva. Maka malam itu dirumahku, hanya lampu kamarku saja yang masih menyala, dia masih setia memberikan penerangannya kepada puluhan buku. Di saat seperti itu ingin rasanya aku berterimaksih kepada orang-orang PLN, setelah hampir sepanjang tahun mereka kenyang disemburi sumpah serapah oleh masyarakat karena pemadaman lampu bergilir yang tak kunjung usai. Perusahaan monopoli itu kenyang dikutuki.

Aku mulai menekan keyboard, pikiran tak berhenti sedetik pun, terus saja menyusun kata menjadi kalimat, dan menyusun kalimat menjadi paragraf. Dan paragraf-paragraf itu sambung-menyambung, bertemali satu sama lain, dikawal oleh pikiran yang mencoba menangkap ribuan lintasan ide yang melayang-layang di udara. Menulis seperti sebuah persiapan untuk persalinan, demi melahirkan satu anak jiwa yang tidak boleh hanya disekap di dalam arsip digital, dia harus dilepaskan ke jalanan, ke khalayak ramai, ke para pembaca yang sinis, ganas, menyerang, dan mencerca, agar dengan begitu dia bisa bertahan dan menjadi kuat. Tak kurang dari satu jam, akhirnya anak jiwa itu berhasil dilahirkan. Begini kurang lebih jadinya:


DISEBABKAN OLEH BUKU

***Konon Chairil Anwar pernah ngutil di toko buku, tapi karena kurang konsentrasi, akhirnya dia salah sambar, yang kebawa malah Injil. Apa kira-kira yang menyebabkan dia sampai nekad mencuri?, mungkin karena kere, maklumlah seniman bohemian. Tapi kenapa dia harus mencuri buku?, ini yang agak sulit dimengerti, kita ketuk saja kesimpulan bahwa dia memang seorang pecinta buku. Mencintai ternyata bisa memberikan keberanian untuk mencuri. Ada pula seorang Bung Hatta, salah satu proklamator itu pernah punya beberapa peti buku di pengasingan. Konon beliau sangat mencintai buku-bukunya, sampai ketika ada beberapa orang anak penduduk asli tempat Bung Hatta diasingkan, tak sengaja anak-anak itu menumpahkan air ke atas buku-bukunya, Bung Hatta sangat marah dibuatnya. Muhidin lain lagi, dia memang bukan tokoh nasional, tapi kecintaannya kepada buku boleh diadukan dengan siapa pun. Dia memangkas uang makan dan uang transportnya hanya demi membeli buku. Cara yang membuat badan kurus itu dia jalani selama beberapa tahun. Kuliahnya di jurusan teknik sipil dia tinggalkan demi kecintaannya pada dunia buku dan tulis menulis. Dia dibesarkan oleh buku.

Atau mari kita lebih dekat melihat yang lain. Kawanku, seorang perempuan, sangat gandrung kepada buku. Dia pernah cerita, kalau sedang jalan dengan pacarnya dan kebetulan bertemu dengan toko buku, maka dia wajib mampir ke toko buku itu. Dan di dalam, saking asyiknya dengan dunia yang dia gandrungi, sempat pacarnya kesal dan pulang sendirian tanpa ia sadari. Dia seperti tersedot sebuah pusaran sampai lupa dengan orang yang dicintainya. Ada pula kawanku yang lain, masih perempuan, katanya dia selalu kalap kalau sudah urusan membeli buku. Apalagi kalau belinya di pameran, dia sempat sampai membeli tigapuluh buku sekali jalan, edan!!. Kalau dibandingkan dengan orang-orang seperti mereka, aku hanyalah plangton di tengah samudera. Kecintaanku kepada buku dan kemampuanku untuk membeli buku tidak layak untuk dibicarakan. Aku baru sebatas menjadi orang yang sedang belajar mencintai buku, pun demikian, hanya satu buku dalam sebulan yang dapat aku beli. Dalam setahun rak buku hanya bertambah duabelas buku, sangat sedikit!!

Awalnya aku tidak tahu, mengapa orang-orang seperti mereka begitu gandrung dengan buku. Sampai akhirnya aku merasakan sendiri, bahwa buku adalah teman yang nyaman untuk diajak bicara, dia sunyi dan tidak meledak-ledak seperti khotbah yang disampaikan melalui pengeras suara. Tapi dalam kesunyian itu sesungguhnya dia selalu menawarkan pemikiran yang menantang, bergejolak, mengajak para pembacanya untuk selalu berani membuka gerbang-gerbang ilmu yang luasnya tak terbatas. Makanya para pencinta buku banyak yang tidak peduli dengan stigma yang sering dilekatkan kepada diri mereka; kutu buku, asosial, profesor linglung, dan berderet sebutan-sebutan lain yang berlaku bagai vonis. Bagi mereka, buku adalah dunia yang memancar lewat kata-kata, sebuah dunia yang tanpa batas dan menghanyutkan, bukan dunia untuk melekatkan stigma ke diri orang.

Kenyataan lain yang baru belakangan ini aku ketahui, ternyata membaca buku membuat para penikmatnya keranjingan menulis. Kawanku, si Joni, contohnya. Semenjak membaca buku “Maling Republik” karya Sunaryono Basuki, dia menjadi gandrung belanja buku dan membacanya sampai tandas. Belakangan, dia juga menjadi rajin betul menulis di Note facebooknya. Kata-katanya semakin lincah, mendesak-desak, mengiris, dan sesekali bermanuver untuk sebuah gerakan menghujam. Gerakan seperti itu hanya dapat dipatahkan dengan jurus “Kepak Elang”, sebuah jurus yang bertumpu pada kekuatan referensi dan keluasan catatan kaki. Perang tulisan. Tulisan dibalas dengan tulisan, amboi nikmat betul. Itulah yang sering aku lakukan di Republik Bulubabi. Ah, kamu pasti tidak mengerti apa itu Republik Bulubabi, tapi tenang, nanti aku jelaskan, kalau waktu sudah duduk di tempatnya yang cantik.

Tapi tak sedikit juga ada orang yang malah menjadi “murtad” oleh buku. Artinya, mereka membaca tanpa pertahanan diri yang cukup, sehingga berbagai materi, baik yang sampah maupun nutrisi, mereka telan semuanya, persis seperti makan durian sekaligus dengan bijinya, bukan enak tapi malah kelabakan dibuatnya. Buku juga ternyata tidak selamanya sakti, setidaknya begitu yang dirasakan oleh dua orang kawanku, keduanya perempuan, dan keduanya pernah satu almamater serta kepalanya sama-sama ditutupi selembar kain. Konon mereka adalah mantan cheerleaders alias pemandu sorak, jadi sisa kehebohan terkadang masih terlihat nampak. Mereka kalau dibilang sedang mencari identitas sepertinya kurang pas, sebab mereka bukan ababil lagi, bahkan telah bermetamorfosis menjadi karyawati swasta dan negeri.

Tapi setelah membaca beberapa buku, tetap saja ada yang mereka cari; mereka menginginkan eksistensi. Ingin rasanya kubilang pada mereka bahwa eksistensi sesungguhnya adalah istiqomah. Mengambil satu jalan istiqomah akan lebih baik daripada membayangkan diri ingin seperti oranglain. Bayangan keberhasilan membumbung tinggi di atas kepala oranglain hanya akan menyiksa diri, membuat kita tidak pernah menjadi diri sendiri. Lebih baik berjejak pada satu jalan istiqomah, baik itu bekerja, belajar, berkarya, ataupun aksi-aksi lainnya. Bersungguh-sungguh menjalankan itu, dan hidup akan menjadi semakin ringan karena kita menjadi tahu bahwa jalan hidup manusia selalu disetting berbeda-beda. Tapi aku tak berani mengucapkannya pada mereka, takut disangka menggurui, lagi pula mereka sudah pada dewasa, setidaknya begitu yang selalu mereka klaim.

Adapun aku, jalan istiqomahku adalah membaca dan menulis, semoga akan tetap bisa begitu. Kali ini aku tidak ingin mengkhianati namaku sendiri.

Dulu waktu aku masih SD, di sebuah petang rembang, saat sisa sinar mentari tak bisa lagi menerobos celah-celah pohon mangga, waktu aku baru selesai mandi dan tengah mengerjakan PR Bahasa Indonesia, sambil mendekat dan mengusap kepalaku, bapak sempat berucap, “Tahu kau nak, kenapa kau kukasih nama belakang Teguh Pribadi”?, aku diam saja tak menjawab. “Biar kau tak gampang runtuh, tak mudah goyah pada pijakan dan kuat berpegang pada hal-hal yang kau yakini benar. Nama itu sengaja bapak lekatkan pada dirimu biar kau tak gampang berbelok dan dibelokkan oranglain. Teguh pada prinsip, pribadimu kuat menghujam ke bumi dan tegar menjulang ke langit. Teu luntur kahujanan, teu gedag kaanginan.” Demikian bapak menjelaskan arti namaku, aku tetap hanya bisa diam, tapi kata-kata itu seperti tato yang dirajah di sekujur tubuhku, melekat kuat dan tak pernah luntur. Tapi pada perjalanannya, karena aku pun makhluk sosial yang banyak bersentuhan dengan jutaan informasi dan hal-hal lain yang sama sekali baru, sementara pikiran pun terkadang seperti gapura selamat datang, maka sesekali aku terbawa arus dan hanyut dalam deras gelombang tanpa ada satu pun benda untuk berpegangan. Tahu bahwa aku pernah mengkhianati namaku sendiri, aku merasa ngilu. Sementara sore itu, waktu bapak menjelaskan arti namaku, suara radio di ruang tengah seperti disuruh sutradara untuk menjadi soundtrack scene itu, suara Bang Iwan Fals terdengar syahdu:

“Duduk sini nak dekat pada bapak / Jangan kau ganggu ibumu / Turunlah lekas dari pangkuannya / Engkau lelaki kelak sendiri.”

Buku. Benda yang punggungnya dilem kuning itu pernah membuat seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah seorang ekspatriat asal Filipina, meminta majikannya agar menggajinya dengan buku, bukan dengan uang. Bayangkan jika kondisinya sudah sampai seperti itu? Kecintaan seperti apa yang ada di dalam dada pembantu rumah tangga itu? Dia tidak mengecap pendidikan terlalu tinggi, malah di sepanjang sejarah dalam meraih pendidikannya, dia terus-menerus dihantam cobaan berat. Tapi dengan begitu dia tidak menjadi trauma dengan buku, malah semakin mencintainya, padahal buku sudah terlampau dilekatkan sebagai barang yang lebih pantas menemani orang-orang berpendidikan tinggi. Berbicara mengenai kecintaan pada buku, tentu akan terdengar naif jika kita mengharapkan semua orang untuk mencintainya. Karena kecintaan kepada buku bukan jatuh tiba-tiba dari langit, lalu membuat orang menjadi kesurupan dengan memborong buku di Gramedia, tapi ditumbuhkan dengan usaha mengenalkannya, membuatnya menjadi dekat dengan kita dan berusaha tidak menjauhkannya lagi. Dan ini perlu gerak, butuh usaha. Maka aku mulai bergerak di Republik Bulubabi, ah kau lagi-lagi pasti belum mengerti, apa itu Republik Bulubabi.

Bagiku, membaca buku seperti masuk ke sebuah kota yang sama sekali belum pernah aku kunjungi. Lalu aku berjalan di setiap sudutnya, bertemu dengan orang-orang, menghirup udaranya, menikmati hidangannya, lalu kemudian pergi dengan ingatan tentang kota yang mengapung atau melekat di pikiran. Jadi secara diam-diam, para pembaca buku sesungguhnya adalah para backpacker sejati yang menjelajah beragam kota yang terbentang berderet-deret di atas rak kayu. Inilah petualangan virtual yang memanjakan imajinasi. Jika para backpacker lengah, kota-kota itu akan hancur dimakan rayap, diserang udara lembab, atau terbakar api. Seumpama buku, bagiku, kamu juga adalah sebuah kota. Dan aku ingin mengenal setiap sudut kotamu, lalu menetap di sana, membangun rumah, bersama-sama melacak usia senja, sampai saat itu tiba, siapa yang lebih dulu pasti akan sama saja, kita akan terbaring di kotak yang tak lebih dari dua kali dua. Alangkah singkatnya hidup, dan alangkah indahnya jika aku bisa menetap di kotamu.***

Kubaca tulisan itu berulang-ulang, terutama paragraf yang terakhir, tak terasa ada yang menggenang hangat di kelopak mataku, aku tidak tahu, kenapa aku begitu mencintai perempuan itu. Aku seperti bumi yang diserbu jutaan meteor, dan tak sanggup untuk menghindar darinya. Tapi aku segera menguasai keadaan. Kalau sampai si Joni, si Ivan Beruang, dan si Uda tahu keadaan ini, maka habislah aku, mereka pasti akan serempak dengan sebuah koor panjang, “Huuuuuhh, dasar lelaki Bombay!!”

Dari surau pelan-pelan masih terdengar suara takbir. Udara semakin dingin. Semenjak maghrib, semenjak mentari tenggelam di ufuk barat, Ramadhan telah menyelesaikan tugasnya. Bulan mulia itu meninggalkan setiap jiwa yang beriman untuk berjuang di sebelas bulan ke depan, berjuang melawan setiap desakan nafsu yang menjerumuskan. Malam itu, adalah pula saat terakhir kali Bung Joni mengirimkan sms tentang target khatam Al Qur’an,

“Bung, Alhamdulillah lima menit yang lalu saya sudah melewati An-Naas. Kini yang ada hanyalah rasa syukur. Betapa aku akhirnya bisa khatam. Kau sendiri, sudahkah bertemu dengan surat ke -114?”

Aku hanya tersenyum demi mendapat sms itu. Dia tentu tidak tahu karena aku sengaja tidak memberitahunya, bahwa sehari sebelum pulang kampung, aku telah melewati surat ke-114.
Waktu itu, waktu aku khatam itu, jam sedang berdiri di pukul 22.30, dari kamar sebelah terdengar irama lagu Minang. Setelah menutup Al Qur’an, aku hampiri kamar si Uda. Dia terlihat sedang menerawang dan mukanya disaput awan yang murung. Selintas, mukanya tak jauh beda dengan orang yang baru kena usir mertua. “Kenapa kau Da, kulihat murung betul kau punya muka?”, dia mencoba menguat-nguatkan diri, lalu berucap, “Kang, sudah empat tahun ambo indak ketemu keluarga, tak kuat rasanya, ambo ingin segera pulang.” Melihat dia, aku jadi teringat Malin Kundang. Durhaka betul ini anak, masa empat tahun ga’ pulang kampung?!!, lebih parah dari Bang Thoyib!!

Setelah mata benar-benar ngantuk, aku segera membenahi laptop, Dell aku bunuh. Besok adalah pagi pertama di bulan Syawal 1431 H. Tiba-tiba ponsel berbunyi, ya Allah siapa sih ini, sudah malam juga masih aja kirim sms. Kubuka, ternyata a message from Cijerah invalid person:

“Breaking News: ternyata bukan hanya The Temper Trap yang datang ke Jakarta, The Rasmus juga akan segera tiba. Saya sudah oke dengan tiket di tangan. Bung bagaimana?, tentu bukan perkara mudah mencari tiket di Jampang, bukan?!”

Meskipun sudah ngantuk sangat, aku paksakan juga membalasnya:

“Apa pula ini The Rasmus, dikasih tiket gratis pun aku tak bakalan mau. Datanglah The Corrs ke sini, kuborong tiketnya sepuluh biji.” 

Ingat The corrs, aku jadi ingat Olva, dan tentu saja jadi ingat lirik ini:

“Heaven knows no frontiers,
And I’ve seen heaven in your eyes”. [irf]

7 September ‘10