Showing posts with label Pengarang. Show all posts
Showing posts with label Pengarang. Show all posts

28 August 2017

Penulis Semenjana yang Mengeteng Jiwanya


“Barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah ketengan daripada keutuhan jiwanya sendiri,” tulis si pengarang.

Anaknya yang montok tiba-tiba jatuh sakit. Sementara kepalanya kosong dari pokok karangan. Ya, karangan. Sesuatu yang dapat ia tukar dengan uang yang tak seberapa. Itu pun kalau para redaktur mau menerima karangannya. Dan apabila para redaktur berminat dengan apa yang ia tulis, uang honorarium yang diterimanya akan habis pula di tangan dokter sebagai ongkos memeriksa anaknya, dan sebagian lagi untuk menebus sejumlah obat.

Ia ingin memberikan yang terbaik kepada para calon pembacanya, namun kepalanya masih melompong. Jari-jarinya macet. Tak dapat menuliskan pokok karangan.

Sejenak ia tinggalkan meja kerjanya, lalu pergi ke kamar menciumi anaknya yang montok namun tergolek lemah. Ia kemudian pergi keluar dan bertemu dengan seorang kawannya sambil menghisap kretek. Dari pertemuan itu tiba-tiba terbit satu ide pokok karangan, jiwanya menjompak, gembung dengan optimisme, ia lalu segera pulang.

Ketika akan kembali duduk di depan meja kerjanya, beberapa kawannya telah menyambut ia di rumah: hendak pinjam buku dan pinjam uang—sesuatu yang kini amat dibutuhkannya. Lalu obrolan-obralan mengalir disertai kepulan asap kretek. Saat kawan-kawannya pulang, si pengarang telah kehilangan semangat, pokok karangan yang semula ia dapat di jalan tiba-tiba menguap.

“Jahanam! Jahanam!” teriaknya dalam hati, mengutuki kehilangan semangat dan pokok karangan.

Istrinya datang membawa nasi dan sayur kangkung. Si pengarang mengharapkan sayur kacang tanah atau sate kambing yang membakar, yang mampu memberi daya pada tenaga jiwanya. Harapan itu lalu menghilang ketika istrinya mengajak ia makan.

“Kau harus punya kesabaran,” ujar istrinya.

“Aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa,” jawab si pengarang dalam hati.

Suara batuk anaknya terdengar lagi. Sementara seorang tamu datang pula ke rumahnya. Setelah terlibat beberapa percakapan, tamu itu akhirnya pulang. Kali ini si pengarang tak bisa lagi menyerah, ia paksakan untuk menulis. Dan akhirnya sebuah karangan jadi juga. Sebelum ia pergi menjual karangannya, ia ciumi anaknya yang tergolek sakit.

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara. Tapi asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup,” kata seorang redaktur yang menerima karangannya dengan tulus.

Uang hasil penjualan karangannya kemudian beralih ke kantong dokter dan seorang kasir apotek. Mereka—si pengarang, istri dan anaknya kemudian pulang tanpa uang sisa di kantongnya.

“Bagaimana uang belanja besok?” tanya istrinya.

Kisah tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) dalam buku Menggelinding 1 dengan judul Jalan yang Amat Panjang. Buku setebal 548 halaman itu menghimpun tulisan-tulisan awal Pram dalam riwayat kepengarangannya yang panjang selama rentang 1947-1956.

“Dalam tulisan awal Pram ini kita akan menemukan pribadi yang polos, apa adanya dan belum terbebani oleh pesan-pesan ideologi tertentu,” demikian cuplikan narasi yang terdapat di sampul belakang buku ini.

Dari 58 tulisan yang dihimpun, Pram beberapa kali menulis tentang pahit getir seorang pengarang dalam menghidupi hayatnya.

Selain kisah di atas, dalam tulisannya yang lain, Sunyisenyap di Siang Hidup, Pram mewedarkan kisah tentang seorang pengarang yang telah menduda. Ia hidup dalam petak kamar kontrakan yang semenjana. Jalan menuju tempat tinggalnya berlumpur, dan air untuk sekadar mencuci muka selamanya keruh.

Si pengarang kerap kangen kepada anak-anaknya yang terpaksa berpisah karena ia dan istrinya bercerai. Kini ia hidup sendirian, meski kadang-kadang kekasihnya datang menjenguk. Tekanan darahnya tinggi, perut dan ginjalnya rusak dimakan malaria.

“Ia ingin menciumi anak-anaknya. Ia ingin masuk ke dalam toko, membelikan mainan dan bahan pakaian untuk mereka, dan juga untuk ibunya, tokoh congkak yang menghadapi kecongkakannya. Ia gagapi sakunya. Dan saku itu kosong. Ia ingat pada honorarium yang kemarin diterimanya, dan yang sekarang telah lenyap lagi ke tangan orang-orang lain yang tak dikenalnya. Barangkali besok ada honorarium lagi, doanya,” tulis Pram.

Dalam ruang kosong sepi, si pengarang menghimpun segala pengalaman dan pengamatan hidupnya, namun isi kepalanya tak kunjung penuh. Ia merenung-renung. Menulis jelas bukan perkara gampang. Kalau suatu ketika ide menyambar-nyambar, ia segera menulis, tapi gangguan tak pernah sepi.  

“Ia mengambil mesin tulis dari atas lemari, mulai mengetik, mencurahkan perasaannya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Pada pertengahan kalimat yang kelima, bayi dari petak sebelah rumah menjerit. Jari-jarinya berhenti menari,” tulis Pram.

Hari ini banyak media daring yang mengundang para kontributor untuk mengirimkan tulisan. Beberapa menyediakan kompensasi berupa uang dan buku. Sebagian lagi hanya uang, dan ada juga yang hanya menyediakan buku. Ketika membuat media tersebut, para pemiliknya mungkin hanya ingin bersenang-senang dengan cara bertegur sapa dan berbagi semampunya. Para penulis yang mengirimkan karyanya pun barangkali berpikiran sama, sekadar mengisi waktu luang. Kompensasi hanya bonus yang diterima dengan kegembiraan yang wajar saja.

Tapi, apakah hari ini tidak ada penulis yang mengerahkan segala upayanya demi mendapatkan beberapa rupiah untuk pengobatan anaknya? Atau untuk menambal hidupnya hari demi hari? Tidak adakah yang segetir itu?

Ketika bertamu ke kontrakan seorang kawan, saya mendapatinya tengah duduk termangu di depan laptop. Layar Ms. Word-nya masih kosong. Sonder kopi, sonder asap kretek.

“Bung, punya rokok?” Tanyanya waktu saya menghampiri.

“Honor belum masuk, padahal tulisanku sudah dimuat cukup lama. Sudah lewat dua hari dari jadwal pengiriman honor,” sambungnya.

Ia hanya mengenakan kaos singlet. Udara panas menampar-nampar kamarnya yang sempit. Beberapa buku bergeletakan di dekatnya. Saya tak mengajaknya bercakap. Seperti banyak dialami penulis kere dengan kemampuan alakadarnya, menulis tak boleh diganggu, persis seperti yang dialami si pengarang pertama yang anaknya tengah sakit.

Dari dekat jendela saya nikmat mengepul-ngepulkan asap. Sementara ia masih gelisah. Kadang tangannya memijat kepala, atau diketuk-ketukkan ke atas meja. Sejak menganggur tiga tahun lalu, kawan saya ini menggantungkan hidupnya dari menulis. Media besar dengan honor menggiurkan, meski tak kerap, beberapa kali berhasil ditembusnya. Sisanya media kecil, honor kecil, namun membantunya menyambung hidup.

“Bung, rokokmu masih ada, toh?”

Saya mengulurkan setengah bungkus sambil balik bertanya, “Siapa memang yang belum kasih honor, Bung?”

Dia tak menjawab. Kembali berkonsentrasi dengan tulisannya yang belum rampung. Asap mulai mengepul lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 14.24, matahari sudah lama tergelincir ke barat.

“Bung, masih pegang duit? Aing belum makan dari pagi,” ujarnya.

Sambil memberinya selembar rupiah berwarna hijau, entah kenapa saya teringat lagi kata-kata Pram dalam Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Ia lalu keluar menuju warteg terdekat. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Jika hajat menunaikan kewajiban terhadap badannya telah usai, ia akan kembali ke depan laptopnya. Kembali mengeteng jiwanya yang tertuang dalam tulisan-tulisan. [irf]

11 July 2016

Jalan yang Amat Panjang

Anaknya yang selama itu sehat montok dan menghamburkan tawa dan senyum setiap hari, tiba-tiba jatuh sakit. Tangis bersambung rintih, rintih bersambung keluh dan pekik kesal. Si anak jatuh sakit.

Dengan lesunya si ayah pergi ke mejatulisnya. Dihadapinya mesintulis. Ia mau mengarang hari ini. Tetapi kepalanya kosong. Ia tak punya pokok karangan. Ia kumpulkan niat beberapa saat lamanya. Kemudian menulis terburu-buru.

Waktu ia benar-benar merasa telah lelah menjalani hidupnya yang baru tigapuluh tahun itu, ia pun mendoa diam-diam: berilah aku yang selama ini kucari.

Ia mendoa dengan setulus hatinya. Baginya doa adalah ucapan penyerahan yang mutlak. Ia selalu berusaha untuk tak pernah menyerah. Justru karena itulah, pada waktu hidup dan dunianya yang tanpa penyerahan itu sampai pada suatu titik di mana tak ada terdapat kemungkinan lain, ia insyafi betapa indahnya dan betapa ia kaya dan mampunya memberinya kekuatan baru—penyerahan itu. ia mendoa dengan setulus hatinya!

“Berilah aku yang selama ini kucari,” doanya untuk kesekian kali.
Ia sendiri tak tahu apa yang dicarinya.

Pengarang itu berhenti mengetik. Ia tersenyum. Ia merasa permulaan karangan itu sufah cukup baik—pasti ia dapat honorarium baik untuk itu, setidak-tidaknya voorschot honorarium. Dan anaknya dapatlah dibawanya ke dokter.

Dan ia teruskan tulisannya. Dengan kepala yang kosong daripada pokok karangan itu! Ternyata karangan yang dimulainya menjadi macet. Benar-benar macet. Ia peras otaknya. Ia haus akan kata-kata yang dapat menterjemahkan keadaan pikiran dan perasaannya waktu itu. Tetapi pikirannya dan perasaannya kosong, kata-kata tak keluar dari gudang perbendaharaan.

“Bisa nanti sore pergi ke dokter?”

Ia toleh istrinya.

“Tentu saja,” jawabnya. “Jangan ganggu aku.”

Isterinya pergi, dan ia meneruskan usahanya. Macet juga. Kalau karangan itu macet, si anak tak mungkin pergi ke dokter. Tak mungkin! Ia coba lagi. Macet juga. Ia pukulkan punggung tangan pada landasan meja. Ia tak bersenang hati. Selama itu pukulan semacam itu diartikan oleh isterinya sebagai: pekerjaan terlampau sulit. Memang sulit! Tapi yang lebih benar adalah: ia tak mampu merumuskan pergolakan yang mengamuk dalam jiwanya. Sedang bila ia mau agak jujur, kesulitan yang dihadapinya tidaklah akan begitu hebat. Ia sendiri tahu, bahwa kejujuran hanya membantu meringankan kesulitan dalam banyak hal. 

Tapi di lapangan pekerjaan ini idealisme lebih berkuasa. Ya, idealisme yang sering membesar-besarkan kehendak manusia yang paling sederhana itu! bila masalahnya axioma kepengarangan khusus: tiada karangan, tiada uang! Ada karangan pun belum tentu ada uang. Tiada uang: pangkal bahaya segala macam dari segala penjuru dalam berbagai segi. Si anak mungkin mampus.

Tambah lama ia sebenarnya tambah sadar juga akan kehidupan yang dimestikan mempunyai uang. Di dalam masyarakat dewasa ini. Tetapi ia tetap bercita-cita juga hendak memberikan segala yang paling baik yang dimilikinya pada sidang pembacanya. Dan kini ia merasa tak punyai apa-apa lagi untuk diberikan: kosong, bolong, melompong. Ia miskin cita. Ia miskin dayacipta. Dengan tiada pencadangan lagi, segala-galanya yang mulia dan indah dan berguna, yang ia miliki, telah ia berikan pada masyarakat pembacanya. Dan dalam keadaan jiwa semiskin sekarang ini kebutuhannya yang paling primer terus menuntut: Uang! Uang! Belanja! Ongkos dokter! Makan!

Untuk kedua kalinya ia pukulkan punggung tangan pada dataran meja, waktu disadarinya bahwa kreteknya yang terakhir telah musnah pula menjadi asap. Dan ini tegas-tegas berarti: ia tak dapat bekerja sama sekali.

Hari ini buku hariannya tambah dengan hanya beberapa baris: barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah keterangan daripada keutuhan jiwanya sendiri.

Dengan hati mendongkol ia tinggalkan mesintulisnya. Ia masuk ke dalam kamar. Mencium anaknya yang kini kehilangan kemontokan dan kegembiraannya. Ia pandang-pandangi si anak yang menjadi sengsara itu dengan ingus tanpa hentinya mengalir memerahkan bibir anaknya. Untuk kesekian kalinya anak itu diciuminya, kemudian ia kenakan sepatu dan pergi—ke tempat yang ia sendiri tidak tahu. Dalam kesibukan siang hari itu ia tak menemui sesuatu yang mutlak baru. Semuanya seperti kemarin. Hati-hatinya yang gelisah sebentar mencapai ketinggian sebentar, ke dalamnya—tidak produktif, tanpa arti. Waktu bertemu dengan seorang teman dan mendapat beberapa batang rokok dan beberapa lembar perakan, tiba-tiba terbit suatu kejernihan dalam kepalanya—suatu optimism. Dan juga terumuskan olehnya: kita hidup hanya di antara perbuatan memberi dan menerima. Dan kebenaran semacam ini tak perlu dilebih-lebihkan.

Segera ia buru-buru pulang hendak menyelesaikan karangan yang belum pernah selesai dalam kepalanya. Keringat membasahi seluruhnya tubuhnya yang dipanasi matahari dan optimism. Ia hendak kerja! Ia mau tuliskan sesuatu gairah yang menjompak dengan kuatnya dalam jiwanya. Dan ia hendak rumuskan jompakan itu di rumah, di atas kertas, dalam kata-kata yang menarik.

Tetapi di rumah beberapa kawannya telah menyambut kedatangannya: pinjam buku, pinjam uang—yang kini ia sendiri amat membutuhkan. Terlibat dalam obrolan-obrolan sepekan kejadian, terseret dalam perdebatan tentang haridepan kebudayaan Indonesia. Asap rokok memadati hawa ruang depan. dentang-denting cangkir beradu dengan celepek. Tertawa. Akhirnya mereka pulang—pulang meninggalkan kehampaan dalam hatinya.

Jompakan yang hendak dirumuskan itu telah hilang entah ke mana. Kini ia duduk terkulai di atas mesintulis. Hanya desiran lemah terdengar susul-menyusul melalui bibirnya:

“Jahanam! Jahanam!”

Pikirannya tak juga mau bekerja untuk menyelesaikan karangan yang telah dimulainya, karangan yang tak punya tema, tak punya konsepsi—hanya bertema dan berkonsepsi penghidupan sehari-hari: ongkos bagi dokter anaknya. Beberapa waktu lamanya ia tergolek-golek di ambin untuk mencari-cari sesuatu permulaan yang bisa dikerjakan di antara kekacauan-kekacauan yang bergelut dalam hati dan pikirannya. Tetapi keburu isterinya datang padanya dan mengajaknya makan.

“Kangkung lagi!” pikirnya. “Makanan yang tak pernah memberi daya pada tenaga jiwa. Mengapa tidak kacang tanah? Tidak sate kambing yang panas membakar?”

Sekalipun demikian ia tetap berterimakasih kepada isterinya yang walau bagaimanapun juga selalu dapat menyediakan makan baginya.

“Kau harus punya kesabaran,” tiba-tiba isterinya berkata.

Si pengarang hanya tertawa. Dan berkata dalam hatinya: aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa.

Ia tersenyum. Kembali kesenangan dan kedamaian mengimbak-imbak dalam hatinya. Tahu-tahu, tanpa menyadari rasa kangkung, ia telah merasa kenyang. Tenaga kerjanya timbul dengan gesitnya. Ia melompat dari kursi dan menuju ke mejatulisnya. Tetapi yang hendak ditulisnya tiada. Dengan kesalnya ia ketikkan kertas-kertas suara hatinya sendiri di bawah tulisan sebermula yang belum juga sudah:

“Berilah aku yang selama ini kucari.”

Tiba-tiba ia mendapatkan pikiran: ini akibat kurang studi. Ini akibat perbuatan yang hanya mengandalkan kekuatan alamiah yang diberikan pada suatu masa dan batas tertentu. Pikiran itu membuat hatinya mendapat kesabaran sedikit. Dan kesabaran itu membuat ia dapat meneruskan bekerja—sedikit. Dan ditulisnyalah kalimat-kalimat tanpa persambungan ide:

Apalagi yang diperbuatnya kalau tidak mendoa lagi. Sejak itu ia terus-menerus mendoa. Ujung dari tiap doa adalah perasaan berterimakasih karena orang masih juga mempunyai kesempatan untuk menerima. Sekalipun yang diterimanya hanya berdikit-dikit. Besok mungkin lebih baik. Dan tiap besok diulurnya lagi harapannya: besok mungkin lebih baik.

Besok? Mengapa besok? Demikian suara pemberontakan daripada manusia yang masing juga tak mau menyerah. Tidakkah kita bisa memasukkan besok ke dalam hari ini?

Ia terkejut. Tulisan itu mengandung pertanyaan yang sebenarnya menjadi pertanyaan dirinya sendiri. Itu benar-benar bukan khas pertanyaan hati bagi tokohnya, tetapi pertanyaan bagi tiap orang, terutama dirinya sendiri. Dan ia pun berbisik pada tokoh yang mulai hidup dalam jiwanya:

“Bisa, kawan. Bisa. Mula-mula kau harus punya kesabaran. Kemudian kau harus kerja. Celakalah kau bila kaya akan kesabaran dan tak mampu kerja.”

Dan kalau seorang pengarang telah dapat berkenalan dan bercakap-cakap dengan tokohnya sendiri, dia akan mengarang terus tanpa henti-hentinya. Tetapi tiba-tiba datang seorang tamu lagi—kawan baru.

“Saudara, sudikah saudara periksakan karangan saya ini?”

Hubungan si pengarang dengan tokohnya telah putus. Si tokoh telah pergi, takkan kembali, telah menjadi almarhum di dalam keabadian yang baka.

Setelah bertahun-tahun hidup di dalam dunia karang-mengarang ia telah memperoleh ketegasan di dalam selera gaya tertentu, sekalipun dapat juga ia menghargai gaya orang lain. Tetapi banyak kali ia merasa mual terhadap tulisan-tulisan yang merambat dan melata-lata tanpa tujuan, tanpa maksud, dan hanya bergenit dengan kata-kata, dan kemudian terjerumus ke dalam pencarian efek daripada perpaduan kata-kata yang hampa.

“Jadi bagaimana pendapat saudara?” tanya si tamu, meminta perhatian, meminta pujian.

Obrolan baru pun terjadilah. Teori baru pun keluarlah. Pada pokoknya tidak lain daripada selimutan atas pendapat si pengarang: ia tak bersenanghati membaca karangan itu.

“Jadi bagaimana harusnya?”

“Saudara,” si pengarang hampir-hampir berteriak karena kehilangan kesabaran. (Selama itu ia sudah kesal dan bosan pada mereka yang menganggap seorang pengarang adalah badan sosial yang tidak resmi). “Dalam pekerjaan ini pendapat orang lain hampir-hampir tak ada artinya. Pekerjaan ini tidak dimulai dari pendapat orang lain—tapi dari diri sendiri.”

Dan si tamu seperti dengan sendirinya, dan seperti sudah semestinya, meminta penjelasan tentang “dari diri sendiri” itu. Dan si pengarang makin kehilangan kesabarannya. Dengan suara berdembam menahan geram ia menjawab:

“Itulah yang harus dijawab sendiri oleh tiap pengarang. Selama dia belum mampu menjawabnya dia takkan mungkin bisa jadi pengarang yang sadar.”

Sementara itu suara batuk anaknya terdengar beruntun-untun. Ia lihat isterinya masuk ke dalam kamar dan mendamaikan kekesalan hati anaknya. Ia dengar suara manusia yang bersahut-sahutan dalam kamar itu. Kemudian mendengking tangis anak kecilnya, gerak tertahan dahak. Anak sekecil itu telah diwajibkan memasuki dunia penyakit orangtua: pilek, panas dingin, bronchitis. Sejenak ia tak dengar suara tamunya yang meminta perhatiannya dengan nada menghiba-hiba.

Waktu isterinya telah berhasil dapat mendamaikan pemberontakan hati anaknya dan keluar membawakan air teh, kembali perhatiannya terpusatkan pada tamunya.

“Artinya,” kata si tamu, “pertanyaan itu pertanyaan pribadi?”

“Ya, saudara, tiap pengarang punya jawabannya masing-masing. Hanya kadang-kadang saja sama.”

Dengan jawaban itu ia yakin, si tamu segera angkat kaki dan merenung-renungkan masalah itu. Tetapi tidak! Si tamu bahkan mulai mengajaknya mengobrol tentang banyak hal. Ia meminta juga banyak perhatian, yang ia hanya sedikit saja bisa memberikan. Si tamu masih tetap mendesak-desakan ceritanya, bahwa di SMP dulu ia selalu mendapat angka tertinggi untuk buah-buah karangannya. Dan ia bangga pada angka-angka yang diperolehnya. Akhirnya terdengar juga suara yang demikian membosankan hatinya.

“Saya amat mengagumi saudara.”

Si pengarang tersenyum. Di dunia ini kekaguman manusia atas sesuatu memang tanda bahwa ia berpikir dan bisa maju. Memang. Tetapi kadang-kadang kata itu dipergunakan untuk banyak arti. Karena itu ia terdiam saja. Biasanya ia menjawab:

“Terimakasih atas perhatian saudara.”

Kembali si pengarang tersenyum. Sekarang ia tidak mengulangi jawaban itu. Sekarang kepalanya justru diamuk oleh masalah yang paling dekat: uang buat pembayar dokter nanti sore. Dia mau menulis! Menulis! Karena hanya menulis itulah pekerjaan yang diketahuinya dan mampu ia kerjakan. Dan dokter hanya mau uang kontan. Dokter mesti dibayar, biarkan pengarang terlampau sering tak dibayar jasanya.

“Pendeknya,” tiba-tiba ia berkata kepada si tamu. “Dokter adalah pekerjaan yang lebih riil daripada pengarang. Dia juga terima duit yang riil. Mengapa saudara tak ingin jadi dokter saja?”

“Saya kira itu adalah pertanyaan pribadi, saudara,” kata si tamu.

“Setidak-tidaknya pertanyaan yang riil. Lebih langsung. Jalannya amat dekat. Tidak terlampau panjang.”

“Apa maksud saudara?” sekarang si tamu bertanya.

“Ah, tidak, sebenarnya ini hanya percakapan dalam hatiku sendiri. Bagaimanapun, jadi dokter lebih riil. Ia, dengan kecakapannya, menghilangkan dan mengurangi penyakit pasien. Itu riil: ia terima uang yang riil. Lagi pula untuk jadi dokter hanya membutuhkan waktu delapan tahun dan uang secukupnya, kemudian buka praktek. Habis perkara. Kalau diri normal memang dalam delapan tahun sudah jadi dokter. Lain dengan pengarang, saudara. Pada permulaan kali ia menjadi plonco, pengarang, dia sudah mulai dengan kesulitan-kesulitan jiwanya sendiri. Dia harus jadi penemu, dokternya sekaligus! Dan itu pun belum tentu berhasil. Dia bedah jiwanya sendiri. Kadang-kadang tak bisa menaruhkan bedahan-bedahan itu pada tempatnya yang lama. Dan untuk selama-lamanya jiwanya akan tinggal bedah!”

Ia lihat si tamu sudah mulai bosan. Tetapi untuk memperlihatkan kesungguhannya, ia memperdengarkan suaranya:

“Tapi, saudara, saya menulis bukan untuk mencari duit.”

“Nama, barangkali?”

Ia mengharapkan tamu itu segera angkat kaki. dan sekali ini harapannya terkabul. Pergilah ia. Untuk seterusnya kawan baru itu tak pernah datang lagi.

Si pengarang kembali menghadapi mesintulisnya. Lambat-lambat dan dnegan kesabaran yang dipaksa-paksakannya, akhirnya karangan itu jadi juga. Dan setelah mencium anaknya ia pergi lagi. Sekarang untuk menjual karangan itu.

Seorang redaktur menerima karangan itu, dan si pengarang dengan setulus hatinya berkata:

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara.”

“Asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup.”

“Artinya, bahwa si pengarang sekali itu menerima uang seratus limapuluh rupiah untuk penjualannya hari itu. Ia pulang dengan berseri-seri. Dan sore itu dokter meminta uang tujuhpuluh lima rupiah buat memeriksa anaknya selama seperempat menit. Waktu resep disodorkan pada apoteker, terdengung suara yang tak kenal tawaran:

“Enampuluh lima, tuan.”

Suami, isteri, dan anak itu pulang ke rumah tanpa uang sisa di dalam kantong masing-masing.

“Bagaimana uang belanja besok?” isterinya berkata.

Pengalaman sehari tadi akan terulang dan terulang lagi untuk seterusnya. Sekalipun ia tahu, jalan ke arah rejeki terlampau jauh, ia senang dengan pekerjaannya. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Majalah Roman No. 7/8 Th. IV

Juli/Agustus 1956 

23 April 2014

Hanyut Bersama Sulak

Jakarta yang kini sedang sibuk mengatasi banjir adalah kota yang didirikan oleh para pemabuk. Mereka adalah raksasa berkulit bayi yang pada mulanya hanya singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak. Ketika kemudian mereka membeli tanah kepada seorang pangeran, mereka mendirikan bangunan bercat putih dan memagarinya dengan meriam. Sempat terjadi beberapakali pertempuran demi memperebutkan kota tersebut, dan pemenangnya adalah para pemabuk itu. Namun tragis, karena penduduk kota kebanyakan jorok, pemimpin para pemabuk akhirnya tewas; bukan di medan pertempuran, namun karena sakit perut.

Cerita pembuka dalam kumpulan cerpen A.S. Laksana ini begitu menghayutkan. Kocak, tapi sekaligus sarat dengan muatan sejarah. Jika ditelusur, minimal di Wikipedia, cerita tersebut adalah sejarah Jan Pieterszoon Coen ketika mula-mula mendirikan Batavia. Sulak, begitu A.S. Laksana biasa disapa, bercerita dengan piawai dan menolak sama. Ketika buku kumpulan cerpennya gagal menjadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award, banyak orang yang menyayangkan.

Imajinasi begitu dimanjakan di sini. Bagaimana misalnya budaya sekarang yang kerap mempertontonkan laki-laki bergaya perempuan, dan perempuan bergaya laki-laki; mulanya adalah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan antara Belatung dan Fira.

Seorang bos bertabiat hidung belang mengejar-ngejar Fira; karyawati baru yang cantik aduhai. Suatu hari ketika Fira sedang jalan-jalan ke awan, si Belatung (begitu Sulak menamai si bos hidung belang) tanpa disangka sebelumnya, malah masuk ke dalam tubuh Fira yang tengah ditinggalkan pemiliknya. Karena bingung tak ada lagi tubuh yang kosong, akhirnya Fira masuk ke tubuh si Belatung yang juga ditinggalkan si empunya. Mereka akhirnya kawin, dan dimulailah budaya tukar-menukar itu.

Masih ingat Ponari? Batu Ponari yang dipercaya orang-orang karena konon dapat menyembuhkan itu ternyata ada riwayatnya yang memanjang ke belakang. Semuanya sebenarnya bermula ketika seorang pejabat yang tak bisa mengendalikan penguinnya, membiarkan burung tersebut menyelam ke dasar palung seorang penyanyi dangdut. Lalu kegiatan menyelam burung tersebut di tonton banyak orang dan menjadi bawah tertawaan, termasuk anak-anak SMP, lewat layar handphone.

Sulak begitu gesit bertutur dan sesekali mengolok-olok. Pada sebuah cerita yang berjudul Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya ia menyentil ihwal Kaki-dashi atau kalimat pertama yang seringkali dipercaya sebagai lahan perjudian, pertaruhan bagi setiap pengarang. Begini dia menulis:
Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Itu pula niatku meski pada akhirnya hanya bisa kudapatkan kalipat pertama yang amat sepele: Kata sahibul hikayat, orang-orang Cina menyukai hujan lebat di tahun baru.
Alur cerita yang sering tak terduga, dan gaya bahasa yang khas membuat buku ini seperti sebuah tendangan di tengah parade buku-buku cerita yang membuat ngantuk. “Saya ternyata bukan anak pertama. Kakak saya meninggal sebelum saya lahir,” begitu kata Sulak waktu diwawancarai oleh sebuah majalah edisi Juli 2013. Jawaban itu ia dapat setelah kakeknya meninggal, dan ia membuka peti milik kakeknya tersebut yang berisi sehimpunan catatan tentang kejadian sehari-hari.

Seperti halnya Sulak yang kaget dengan kenyataan identitas kelahirannya, buku ini pun kurang-lebih demikian; menghimpun cerita yang menghantam ruang imajinasi pembaca. Sulak menegaskan, “Hantu ada, kau tahu, karena kita memikirkannya. Begitu pun taman bunga.”

Selamat berimajinasi! [ ]

23 September 2012

Konstelasi [01]

Seperti biasa, setiap hari, setiap kali pulang kerja, sambil duduk di teras pondoknya, Erlan akan perlahan membuka sepatunya yang berwarna coklat. Lalu mencopot kaos kaki putih yang mulai bergradasi dengan warna coklat muda, warna lumpur yang sedikit demi sedikit mengotori kaos kaki itu. Baju kerja pun ikut ditanggalkan, dia senang sekali hanya memakai kaos dalam dan membiarkan angin sore menyerbu badannya. Ubin yang dia duduki berwarna kelabu dan mengkilat. Rumput liar yang tumbuh di halaman belum sempat dia bersihkan, pekerjaan terlampau menyita waktunya. 

Tapi setiap hari sabtu, pagi-pagi sekali dia akan bangun, sehabis sholat subuh dia akan berlari sampai alun-alun, lalu mengelilingi alun-alun itu sebanyak tujuh kali putaran, tidak kurang dan tidak lebih, kemudian kembali lagi ke pondoknya. Sambil menunggu keringat luruh, dia memanaskan air untuk menyeduh segelas kopi campur susu dengan takaran yang pas. Setelah minum dua gelas air bening yang dingin, dia akan menyalakan laptop apple yang berwarna putih, lalu menyalakan windows media player yang akan berbunyi di speaker Simbadda, membuka Ms. Word dan mulai menulis. Gorden kamarnya yang berwarna biru mulai bergoyang tertiup angin, pagi yang cerah mulai menyerang embun yang masih berkilauan di kelopak bunga, pucuk daun, dan ujung ranting. Biasanya setelah lagu pertama, setelah lagu “Live in New York” yang dinyanyikan The Sigit selesai, pemanas air akan berbunyi menjerit, dan air akan berpindah  sebagian ke dalam gelas berisi bubuk kopi dan susu cair cap Bendera. Dia senang sekali dengan aroma yang menguap dari kopi-susu itu. 

Tapi sore itu hari masih kamis, dan belum beranjak menjadi sabtu. Dia kemudian mencuci kaki di bawah keran yang terpasang di pojok halaman. Sinar matahari perlahan mulai meninggalkan batang pohon kelapa yang tumbuh tidak terlalu tinggi, dan berada kira-kira duapuluh meter dari pondoknya. Rumah Pak Eka, tetangganya, terlihat sepi. Tidak terdengar suara istrinya yang biasa memanggil Marjo, anak semata wayang mereka untuk berhenti bermain dan segera mandi. Sebenarnya Pak Eka bisa saja memilih nama anaknya dengan nama yang lebih terdengar aristokrat, tapi ada makna lain di balik nama anaknya yang pendek itu, tanpa nama panjang. 

Yang terlihat hanya ayunan dari ban bekas yang tergantung diam di pokok pohon jambu, sepeda tua yang diikat di pagar, dan beberapa baju yang belum diangkat dari tempat jemuran. Biasanya rumah Pak Eka tidak sesepi itu, apalagi kalau sore, Marjo dan kawan-kawannya yang masih kelas satu SD, selalu saja ramai bermain di bawah pokok pohon jambu. Kawannya Marjo tidak lebih dari tiga orang, semuanya perempuan, jadi dia adalah satu-satunya bocah laki-laki. Dwie, Makie, dan Julie selalu senang bermain ayunan di ban bekas. Kawan-kawan Marjo itu tidak pernah absen, setiap sore, kira-kira jam setengah lima, waktu panas matahari mulai terasa reda, mereka pasti sudah berjajar di depan pagar rumah Pak Eka dan berteriak serempak memanggil Marjo, kawan laki-laki mereka. 

Dwie sering memakai baju warna hijau mint, rambut diikat dua, dan selalu membawa permen. Makie lain lagi, warna bajunya sering didominasi warna kelabu atau coklat tua, sering memakai topi, dan takut kalau bertemu ulat. Sementara Julie lebih mirip laki-laki, rambutnya pendek, bajunya selalu t-shirt bergambar para pahlawan yang suka tampil di film kartun. Tapi sekarang pemandangan itu tidak ada, entah kemana.

Erlan kemudian masuk ke pondoknya. Di dalam selalu rapi. Lemari es tersimpan di pojok; berisi telur, sayur-sayuran, sepotong keju chedar, beberapa potong ayam mentah, es batu, minuman dalam kaleng, air putih, susu sapi dalam kemasan, jeruk sunkies, apel merah, buah pear, dan beberapa potong coklat Toblerone yang belum sempat dihabiskan. Semuanya tersimpan rapi di dalam lemari es itu. Tempat tidurnya dibungkus seprai berwarna merah, bergambar logo club liga Inggris; Arsenal. Bantal bertumpuk dua, dan di tengah kasur tersimpan sebuah guling yang masih padat oleh busa. 

Tak jauh dari jendela, tersimpan sebuah meja dari kayu jati yang gagah dan mengkilat, tempat menyimpan laptop dan menghabiskan waktu berjam-jam pada hari minggu untuk menulis. Meskipun di atas meja itu ada sebuah asbak, tapi setiap pagi dia membuang abu dan puntung Marlboro light di asbak itu ke tempat sampah. Dari jendela pemandangan lurus ke jalan yang sepi, tempat induk semangnya--Pak Ajat dan istri—setiap hari, kalau tidak hujan, berjalan bersama menikmati suasana sore yang masih menyisakan hangat. Lewat jendela itu pula, dulu sebelum kawannya menikah dan menetap di Makassar, dia biasanya mengeluarkan kepalanya sedikit untuk melihat Irfan, kawannya itu yang datang dengan motor bututnya. Sedikit bergeser ke kanan, sebuah televisi 21 inc diletakkan di atas meja pendek yang berkaki kuat. 

Dia jarang nonton tv, tayangan favoritnya hanya Kick Andy, siaran langsung LSI, dan Jejak Petualang. Lemari pakaiannya bermerk Olimpyc, tempat menyimpan baju yang dilipat dan yang digantung. Lantai kamarnya ditutup karpet berwarna biru dongker yang setiap sabtu dia bersihkan dengan vacuum. 

Pondoknya itu adalah semacam paviliun, milik Pak Ajat yang dia sewa setahun yang lalu. Erlan tidak pernah mencetak foto Rani dalam ukuran besar untuk digantungkan di dinding kamar, dia hanya menyimpannya dalam folder digital. Dia merasa beruntung mendapatkan pacarnya bernama Rani, sebab bisa dia plesetkan menjadi rain, menjadi hujan; sebuah peristiwa alam yang selalu dia kagumi. Maka kalau gerimis mulai turun, jiwa melankoliknya kambuh, dia akan melihat keluar lewat jendela setelah sebelumnya memastikan dulu bahwa A7x sudah siap menyanyikan lagu “Dear God” dari laptop Apple-nya. 

Wajah Rani kadang-kadang muncul bersama air hujan yang berebut mencium bumi. Rani, perempuan yang dia tinggalkan di Bandung, dikenalnya dua tahun lalu pada sebuah pameran buku di jalan Braga. Dia sempat menulis cerpen dan dimuat di Kompas dengan judul “Perempuan Wangihujan”. Kalau melihat Pak Ajat dan istrinya yang sudah sama-sama tua, dia kerap membayangkan bahwa dia dan Rani pun bisa tetap saling mencintai sampai rambut mereka memutih, bisa saling menjaga dan bersama-sama melacak usia senja, lalu Rani yang kulitnya sudah tidak lagi kencang berkata, “Sayang, kamu terlihat lebih menarik daripada waktu pertamakali kita bertemu dulu.” Dan terkadang dia juga khawatir, mungkin saja Rani meninggalkannya tanpa pesan, tanpa perpisahan yang dilakukan bersama, persis seperti Olva yang meninggalkan Irfan, tapi pikiran itu cepat-cepat ditepisnya. 

Tak lama setelah dia mandi, adzan maghrib berkumandang dari mesjid yang berjarak enam puluh meter dari pondoknya. Petang rembang dan adzan maghrib selalu mengingatkannya pada seorang sosok tua yang belum lama pulang ke Sang Pencipta. Dulu waktu masih kecil, waktu neneknya masih ada, Erlan selalu belajar mengaji kepadanya. Belajar a-ba-ta-tsa dari awal, juga belajar tentang kesabaran dan keteladanan dari kisah para Nabi dan Rasul yang sering nenek ceritakan. Tak terasa ada yang menggenang hangat di pelupuk matanya, dia hapus perlahan dan bergegas menuju mesjid. 

Besok jum’at, hari terakhir kerja. Sabtu ini, seperti dua minggu sebelumnya, dia tidak akan pulang ke Bandung, dia akan lebih memilih diam di pondoknya, mencabuti rumput liar di pekarangan, menulis, mendengarkan musik, mencuci baju, membuat omelette, dan nonton film lewat DVD . Anak Pak Eka, Marjo kecil dan kawan-kawannya memanggil dia “Om Pengarang”. Sore waktu itu, dia sedang menulis di laptopnya, di depan pondok, laptopnya dia simpan di atas meja lipat yang pendek. Anak-anak itu main sepeda dorong dan melintas di depannya. Mereka bertanya, “Om, sedang apa?”. Dia menjawab, “sedang  mengarang.” Maka semenjak itu, anak-anak kecil yang jumlahnya empat itu selalu memanggilnya “Om Pengarang”. 

Sudah pukul 22.30, tapi Erlan belum bisa tidur. Di luar sepi, sesekali terdengar suara mesin motor yang digas beraturan. Pohon-pohon cemara yang berada di seberang jalan terdengar desaunya, mereka seperti sedang bernyanyi. Dia mulai membuka novel Harry Potter edisi bahasa Inggris untuk mengasah kemampuan bahasanya. “Interview di Oil Service Company harus lancar berbahasa Inggris Bung!!”, selalu begitu informasi dari teman-temannya. Wajar saja, sebab perusahaan yang banyak bermarkas di pulau Kalimantan itu rata-rata adalah milik asing. Lagi pula dia sudah bosan terus-menerus bekerja membuat cigarette. 

Ada semacam perasaan tidak nyaman setiap kali dia membayangkan orang-orang yang mati karena paru-parunya rusak digerogoti tar dan nikotin. Sekali waktu ada temannya yang membawa sebungkus rokok produksi Singapura, gambarnya sangat mengerikan; gambar organ tubuh manusia yang habis dihancurkan racun rokok. Maka di banyak waktu, selain menulis, setiap kali ada kesempatan, dia hampir pasti belajar bahasa Inggris secara otodidak. Jejentik jam terus berjalan. Ketika rasa kantuk mulai datang, sekitar pukul 23.30 dia membaringkan tubuhnya di atas seprai bergambar logo Arsenal. 

Tapi ini belum ngantuk parah, jadi dia sempatkan memutar MP3 lewat DVD, lalu terdengar perlahan suara Simon & Garfunkel, Carla Bruni, Regina Spector, The Temper Trap, dan Belle and Sebastian. Tak lama kemudian Erlan mulai terlelap, udara di luar terasa dingin dan gelap mengusai. Tapi gelap malam sesungguhnya tidak pernah sempurna memeluk bumi, dia selalu digoda oleh jutaan lampu, kunang-kunang, api yang menyala dari pemantik, bara cigarette, dan oleh harapan yang terus menyala di hampir setiap dada manusia. [ ]