Showing posts with label kerja. Show all posts
Showing posts with label kerja. Show all posts

28 August 2017

Penulis Semenjana yang Mengeteng Jiwanya


“Barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah ketengan daripada keutuhan jiwanya sendiri,” tulis si pengarang.

Anaknya yang montok tiba-tiba jatuh sakit. Sementara kepalanya kosong dari pokok karangan. Ya, karangan. Sesuatu yang dapat ia tukar dengan uang yang tak seberapa. Itu pun kalau para redaktur mau menerima karangannya. Dan apabila para redaktur berminat dengan apa yang ia tulis, uang honorarium yang diterimanya akan habis pula di tangan dokter sebagai ongkos memeriksa anaknya, dan sebagian lagi untuk menebus sejumlah obat.

Ia ingin memberikan yang terbaik kepada para calon pembacanya, namun kepalanya masih melompong. Jari-jarinya macet. Tak dapat menuliskan pokok karangan.

Sejenak ia tinggalkan meja kerjanya, lalu pergi ke kamar menciumi anaknya yang montok namun tergolek lemah. Ia kemudian pergi keluar dan bertemu dengan seorang kawannya sambil menghisap kretek. Dari pertemuan itu tiba-tiba terbit satu ide pokok karangan, jiwanya menjompak, gembung dengan optimisme, ia lalu segera pulang.

Ketika akan kembali duduk di depan meja kerjanya, beberapa kawannya telah menyambut ia di rumah: hendak pinjam buku dan pinjam uang—sesuatu yang kini amat dibutuhkannya. Lalu obrolan-obralan mengalir disertai kepulan asap kretek. Saat kawan-kawannya pulang, si pengarang telah kehilangan semangat, pokok karangan yang semula ia dapat di jalan tiba-tiba menguap.

“Jahanam! Jahanam!” teriaknya dalam hati, mengutuki kehilangan semangat dan pokok karangan.

Istrinya datang membawa nasi dan sayur kangkung. Si pengarang mengharapkan sayur kacang tanah atau sate kambing yang membakar, yang mampu memberi daya pada tenaga jiwanya. Harapan itu lalu menghilang ketika istrinya mengajak ia makan.

“Kau harus punya kesabaran,” ujar istrinya.

“Aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa,” jawab si pengarang dalam hati.

Suara batuk anaknya terdengar lagi. Sementara seorang tamu datang pula ke rumahnya. Setelah terlibat beberapa percakapan, tamu itu akhirnya pulang. Kali ini si pengarang tak bisa lagi menyerah, ia paksakan untuk menulis. Dan akhirnya sebuah karangan jadi juga. Sebelum ia pergi menjual karangannya, ia ciumi anaknya yang tergolek sakit.

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara. Tapi asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup,” kata seorang redaktur yang menerima karangannya dengan tulus.

Uang hasil penjualan karangannya kemudian beralih ke kantong dokter dan seorang kasir apotek. Mereka—si pengarang, istri dan anaknya kemudian pulang tanpa uang sisa di kantongnya.

“Bagaimana uang belanja besok?” tanya istrinya.

Kisah tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) dalam buku Menggelinding 1 dengan judul Jalan yang Amat Panjang. Buku setebal 548 halaman itu menghimpun tulisan-tulisan awal Pram dalam riwayat kepengarangannya yang panjang selama rentang 1947-1956.

“Dalam tulisan awal Pram ini kita akan menemukan pribadi yang polos, apa adanya dan belum terbebani oleh pesan-pesan ideologi tertentu,” demikian cuplikan narasi yang terdapat di sampul belakang buku ini.

Dari 58 tulisan yang dihimpun, Pram beberapa kali menulis tentang pahit getir seorang pengarang dalam menghidupi hayatnya.

Selain kisah di atas, dalam tulisannya yang lain, Sunyisenyap di Siang Hidup, Pram mewedarkan kisah tentang seorang pengarang yang telah menduda. Ia hidup dalam petak kamar kontrakan yang semenjana. Jalan menuju tempat tinggalnya berlumpur, dan air untuk sekadar mencuci muka selamanya keruh.

Si pengarang kerap kangen kepada anak-anaknya yang terpaksa berpisah karena ia dan istrinya bercerai. Kini ia hidup sendirian, meski kadang-kadang kekasihnya datang menjenguk. Tekanan darahnya tinggi, perut dan ginjalnya rusak dimakan malaria.

“Ia ingin menciumi anak-anaknya. Ia ingin masuk ke dalam toko, membelikan mainan dan bahan pakaian untuk mereka, dan juga untuk ibunya, tokoh congkak yang menghadapi kecongkakannya. Ia gagapi sakunya. Dan saku itu kosong. Ia ingat pada honorarium yang kemarin diterimanya, dan yang sekarang telah lenyap lagi ke tangan orang-orang lain yang tak dikenalnya. Barangkali besok ada honorarium lagi, doanya,” tulis Pram.

Dalam ruang kosong sepi, si pengarang menghimpun segala pengalaman dan pengamatan hidupnya, namun isi kepalanya tak kunjung penuh. Ia merenung-renung. Menulis jelas bukan perkara gampang. Kalau suatu ketika ide menyambar-nyambar, ia segera menulis, tapi gangguan tak pernah sepi.  

“Ia mengambil mesin tulis dari atas lemari, mulai mengetik, mencurahkan perasaannya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Pada pertengahan kalimat yang kelima, bayi dari petak sebelah rumah menjerit. Jari-jarinya berhenti menari,” tulis Pram.

Hari ini banyak media daring yang mengundang para kontributor untuk mengirimkan tulisan. Beberapa menyediakan kompensasi berupa uang dan buku. Sebagian lagi hanya uang, dan ada juga yang hanya menyediakan buku. Ketika membuat media tersebut, para pemiliknya mungkin hanya ingin bersenang-senang dengan cara bertegur sapa dan berbagi semampunya. Para penulis yang mengirimkan karyanya pun barangkali berpikiran sama, sekadar mengisi waktu luang. Kompensasi hanya bonus yang diterima dengan kegembiraan yang wajar saja.

Tapi, apakah hari ini tidak ada penulis yang mengerahkan segala upayanya demi mendapatkan beberapa rupiah untuk pengobatan anaknya? Atau untuk menambal hidupnya hari demi hari? Tidak adakah yang segetir itu?

Ketika bertamu ke kontrakan seorang kawan, saya mendapatinya tengah duduk termangu di depan laptop. Layar Ms. Word-nya masih kosong. Sonder kopi, sonder asap kretek.

“Bung, punya rokok?” Tanyanya waktu saya menghampiri.

“Honor belum masuk, padahal tulisanku sudah dimuat cukup lama. Sudah lewat dua hari dari jadwal pengiriman honor,” sambungnya.

Ia hanya mengenakan kaos singlet. Udara panas menampar-nampar kamarnya yang sempit. Beberapa buku bergeletakan di dekatnya. Saya tak mengajaknya bercakap. Seperti banyak dialami penulis kere dengan kemampuan alakadarnya, menulis tak boleh diganggu, persis seperti yang dialami si pengarang pertama yang anaknya tengah sakit.

Dari dekat jendela saya nikmat mengepul-ngepulkan asap. Sementara ia masih gelisah. Kadang tangannya memijat kepala, atau diketuk-ketukkan ke atas meja. Sejak menganggur tiga tahun lalu, kawan saya ini menggantungkan hidupnya dari menulis. Media besar dengan honor menggiurkan, meski tak kerap, beberapa kali berhasil ditembusnya. Sisanya media kecil, honor kecil, namun membantunya menyambung hidup.

“Bung, rokokmu masih ada, toh?”

Saya mengulurkan setengah bungkus sambil balik bertanya, “Siapa memang yang belum kasih honor, Bung?”

Dia tak menjawab. Kembali berkonsentrasi dengan tulisannya yang belum rampung. Asap mulai mengepul lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 14.24, matahari sudah lama tergelincir ke barat.

“Bung, masih pegang duit? Aing belum makan dari pagi,” ujarnya.

Sambil memberinya selembar rupiah berwarna hijau, entah kenapa saya teringat lagi kata-kata Pram dalam Bumi Manusia, “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Ia lalu keluar menuju warteg terdekat. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Jika hajat menunaikan kewajiban terhadap badannya telah usai, ia akan kembali ke depan laptopnya. Kembali mengeteng jiwanya yang tertuang dalam tulisan-tulisan. [irf]

19 July 2010

Sisa Redup Cahaya


Malam itu sepulang dari Kelapa Gading perut minta isi. Tukang nasi goreng yang biasa lewat di gang belum juga datang. Sambil menanti bunyi wajan yang dipukul, akhirnya nonton acara dialog di televisi, ditemani sebatang rokok dan teh manis. Perpaduan yang cukup akrab, apalagi rintik gerimis mulai jatuh dari langit yang menghitam. Acara dialog habis berbarengan dengan bunyi nyaring yang timbul dari wajan yang dipukul. Bersegera saya turun dan memesan satu porsi nasi goreng tanpa ati. Tidak lama aroma bumbu yang dipadu menyerang saraf penciuman, dan semakin membangkitkan selera. Acara di televisi sedang berita olahraga, ketika saya menyantap makanan beraroma sedap itu. Kemudian malam semakin larut, sudah jam setengah dua belas, lalu saya mengambil wudhu, dan sholat isya.

Cahaya matahari telah masuk melalui jendela yang terbuka ketika saya bangun pagi itu. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi, bersuci dari hadats kecil lalu mengeringkan muka dengan handuk usang. Setelah itu berdiri menghadap kiblat, berdo’a lamat-lamat dalam sholat yang terlambat, sementara sinar matahari semakin hangat.

Setelah mandi dengan cepat, kemudian berdiri di depan cermin. Merapikan pakaian dan menyisir rambut dengan tangan. Tidak sempat menyeduh kopi atau sarapan nasi uduk, karena takut telat. Suasana pagi yang berulang. Pagi yang bergegas, seperti seorang sais pedati memecut kudanya. Memecut setiap yang berjiwa untuk mengisi hari dengan aktivitas. Pagi yang selalu mengingatkan bahwa keterlambatan adalah kekalahan sebelum pertempuran. Demikianlah waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya, selama-lamanya. 

Bahkan panggilan untuk bangun lebih awal telah dikumandangkan, telah diulang-ulang oleh muadzin setiap hari: “sholat lebih baik daripada tidur”. Dalam panggilan itu kata BAIK memakai kata KHAIR, bukan HASAN, padahal secara arti maksudnya sama, yaitu BAIK. Tapi menurut keterangan dari seorang khotib jum’at di mesjid At Taubah-Pulo Mas, kata KHAIR berarti baik terhadap atau untuk jiwa, yang artinya baik untuk ruhani. Sedangkan kata HASAN berarti baik untuk selain ruhani, mungkin lebih ke arah fisik.

Jalan raya telah macet, lalu lalang kendaraan tersendat. Saya melintasinya di tengah suara klakson ketidaksabaran dan semrawutnya lalu-lintas salah satu sudut Jakarta. Mengurai kemacetan di kota besar ini seperti mengurai benang kusut. Tumpang tindih pengelolaan, kepentingan, dan ketidaksabaran para pengguna jalan yang setiap hari sumbunya semakin pendek. Maka pagi hari yang manis seringkali dihiasi oleh pertikaian-pertikaian di jalanan yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah menunggu agak lama, kemudian saya duduk di kursi Transjakarta yang melaju ke arah Pulogadung. Di dalam tidak ditemui muka ramah, semuanya seperti sedang gelisah: menghitung kecepatan putaran roda dengan putaran jarum jam yang terus berdetak. Beberapa orang tertidur, sementara MP4 tengah memutar lagu Beatles: “All You Need is Love”. Pemandangan di luar kaca jendela seperti lukisan abstrak yang jarang dijajakan di pinggir jalan oleh para seniman tanggung. Saya terlindungi suara Beatles dari dengkuran orang di sebelah. Lima belas menit kemudian bus sampai di halte terakhir, penumpang berhamburan menuju rahmat kerjanya masing-masing.

Baru saja saya duduk di kursi kerja, tiba-tiba layar monitor sudah menerkam mata. Jajaran angka, rumus sederhana, dan garis-garis simetris harus saya lahap dalam delapan jam atau lebih, dengan posisi tetap menghadap meja. Suara printer manual mulai terdengar merisaukan, sementara dialog-dialog ringan telah berlangsung di sekitar mesin fax dan photo copy. Saat seperti ini mungkin bertepatan dengan kesibukan guru SD mengabsen anak-anak didiknya. Nantinya, anak-anak permata jiwa orangtua itu, mungkin tidak sedikit yang akan menjalani rutinitas seperti saya: menelan kerja satu bulan, lalu gaji di bayar di ATM. Sebelum semuanya dihabiskan, pendapatan harus ada yang disisihkan, agar grafik hutang setiap bulannya bisa turun. Ingat hutang, saya jadi ingat Safir Senduk.

“Makan di mana hari ini?” Seorang kawan mengingatkan bahwa sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Satu jam ke depan kemudian dihabiskan oleh makan dan ngobrol, dan sholat dzuhur kalau waktu istirahat sudah injury time. Keluar lagi nanti kalau mau sholat ashar, kalau jam sudah menunjukkan setengah lima, ketika sinar matahari mulai reda dan bayangan sudah mulai temaram. Hari ini ada tambahan kerja, sehingga baru selesai jam setengah tujuh. Adzan maghrib sudah sangat dari tadi berkumandang. Saya menyibak tirai jendela, mencoba melihat pemandangan di luar. Bola-bola api sudah berpijar dan langit sudah lama ditinggalkan senja. Malam mulai merayap, lalu saya pulang.

Seperti biasa sebelum membeli tiket Transjakarta, saya mampir dulu di tukang nasi uduk. Menikmati jajanan murah di pinggir jalan sambil menemani udara malam yang sudah sangat jarang mendinginkan kota ini. Di sela-sela makan saya bercakap dengan si penjual nasi itu, membicarakan apalagi kalau bukan kehidupan sehari-hari. Mendapatkan kawan bicara selalu menyenangkan, apalagi ucapannya tidak dipenuhi kata-kata bersayap dan pura-pura yang menor. Di suapan terakhir saya baru ingat, bahwa saya belum sholat maghrib, padahal waktunya sudah hampir habis. Kumandang adzan isya sebentar lagi akan terdengar.

Pedas sambal nasi uduk belum mau meninggalkan mulut, waktu saya sholat di akhir waktu itu. Keringat mulai menguap dari badan, pembakaran di pencernaan sedang berjalan, membuat sholat menjadi tidak nyaman. Tapi setelah salam, sempat juga saya berdo’a yang isinya macam-macam: aneka permintaan dan permohonan.

Karena antriannya sangat panjang, saya tidak jadi pulang naik Transjakarta. Lalu menunggu monster hijau yang akan melaju ke arah Senen. Tidak lama dia datang, tergesa saya menyesaki perutnya. Untung masih kebagian tempat duduk, sehingga bisa melempar pandangan ke luar dengan tenang. Bus kemudian melaju lagi, memacu kecepatan dengan ugal-ugalan, sementara pengamen mulai beraksi, lalu dia mulai bernyanyi, dan saya mendengar lirik ini: “Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu”. Saya melempar pandangan ke langit, cahaya bulan tampak redup. [itp]