Showing posts with label Transjakarta. Show all posts
Showing posts with label Transjakarta. Show all posts

29 September 2017

Kota Fasis yang Sempurna: Naik Kereta Api di Jakarta


Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta.  Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.

Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat ‘demokratis’, ‘toleran’ dan ‘perekonomian terbesar di Asia Tenggara’ sebenarnya adalah tempat dimana mayoritas penduduknya tidak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri. Dari dekat makin nyata bahwa kota ini punya indikator sosial yang levelnya lazim ditemui di Sub-Sahara Afrika, bukan di Asia Timur. Selain itu, kota ini juga semakin keras dan tidak toleran terhadap kaum minoritas (agama maupun etnik), termasuk mereka yang menuntut keadilan sosial. Perlu kedisiplinan yang luar biasa untuk tidak menyadari ini semua.

Slavoj Zizek, filsuf Slovenia, menulis dalam bukunya The Violence:

“Disini kita temui perbedaan Lacanian antara kenyataan (reality) dan yang Nyata (the Real): ‘kenyataan’ (‘reality’) yang dimaksud disini adalah kenyataan sosial dari orang-orang yang benar-benar terlibat dalam interaksi dan dalam proses produksi, sementara yang Nyata (the Real) adalah sesuatu yang ‘abstrak’ yang tak dapat ditawar, logika menakutkan dari ibukota yang menentukan apa yang terjadi dalam kenyataan sosial. Kita dapat melihat kesenjangan ini secara jelas ketika kita pergi ke suatu negara yang kehidupan masyarakatnya berantakan. Banyak kita lihat kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia. Namun, yang bisa kita baca hanyalah laporan dari para ekonom bahwa kondisi ekonomi negara ini ‘baik secara finansial’ – realitas tidak penting, yang penting adalah kondisi di ibukota…”

Kondisi di ibukota dan para elitnya baik-baik saja, meskipun dibalik itu negara dalam kondisi morat-marit. Tapi mari kita lihat lagi masalah kereta api kita.

Saya memutuskan untuk naik kereta api ekspres dari Stasiun Manggarai ke Tangerang (tempat di mana beberapa tahun lalu diterapkan hukum syariah yang walaupun tidak konstitutional namun tetap berjalan dengan absolut impunitas), untuk satu alasan saja: melihat apakah ada upaya nyata dalam ‘melawan/mengatasi’ apa yang disebut keruntuhan total infrastruktur Jakarta, alias kemacetan total (total gridlock) .

Seperti halnya berbagai masalah di Indonesia, kemacetan punya sejarah yang menarik:

Sejak tahun 1965 (tahun dimana terjadi kudeta militer brutal yang didukung oleh Amerika Serikat yang membawa Jendral Soeharto ke puncak kekuasaan dengan menghabisi nyawa 800,000 hingga 3 juta jiwa. Mereka yang terbunuh antara lain dari golongan kiri, kaum intelektual, masyarakat minoritas Cina, serikat pekerja dan kaum ateis atau sederhananya bisa saja mereka yang pada waktu itu memiliki istri yang lebih cantik, tanah yang lebih luas atau sapi yang lebih gemuk), pemerintah Indonesia bekerja keras untuk menjamin bahwa kota-kota di Indonesia tidak memiliki transportasi publik, tidak memiliki taman yang luas dan tempat pejalan kaki. Ruang publik secara umum dianggap sangat berbahaya karena bisa saja disana masyarakat akan berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu ‘subversif’ seperti rencana menggulingkan pemerintahan.

Taman-taman publik diambil alih oleh kontraktor untuk dijadikan lapangan golf pribadi untuk kaum elit. Tempat pejalan kaki juga dihilangkan karena tidak menguntungkan dan dianggap ‘terlalu sosial’. Pada akhirnya, transportasi publik menjadi milik swasta dengan kualitas yang turun menjadi angkot dan metromini yang mengeluarkan  asap hitam dari knalpotnya dan bajaj India bekas yang bahkan sudah tidak dipakai lagi selama beberapa dekade di negara asalnya.

Itu terjadi di Jakarta. Kota-kota lain dengan jumlah penduduk antara 1 hingga 2 juta jiwa seperti Palembang, Surabaya, Medan dan Bandung tidak memiliki transportasi publik yang berarti, selain angkot kecil, kotor berkarat dan bis yang kotor dan bau.

Tentu saja semua ini sudah direncanakan: produsen mobil diberikan lisensi untuk memproduksi mobil model lama dari Jepang dan menjualnya dengan harga gila-gilaan (mobil di Indonesia dijual antara 50-120 persen lebih mahal daripada di Amerika Serikat), kemudian memaksa penduduk Indonesia – yang termasuk paling miskin di Asia Timur – untuk membeli mobil pribadi. Mobil yang pertama dibawa masuk, lalu  sepeda motor yang lebih berbahaya, fatal untuk lingkungan hidup dan sama sekali tidak efisien. Di kota-kota besar di Cina dan banyak kota Asia lainnya sepeda motor sudah dilarang masuk ke kota.

Pejabat pemerintah dan wakil rakyat di DPR diam-diam secara konsisten mendapat suap dari industri mobil. Lobi mobil ini menjadi sangat berpengaruh dan menghambat segala upaya untuk memperbaiki angkutan kereta api maupun kapal laut antar pelabuhan di Jawa, salah satu pulau yang paling padat di dunia.

Pada tanggal 14 Agustus 2011, koran Jakarta Post menulis:

Anggota Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan (PDIP) Nursyirwan Soedjono yang juga Wakil Komisi V DPR untuk mengawasi bidang transportasi, telah lama mempertanyakan ketidakmauan pemerintah untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbaiki jaringan rel kereta di negara ini. Mereka menyalahkan ketakberdayaan mereka pada lobi politis ‘tingkat-tinggi’ yang diatur oleh industri otomotif yang menerima keuntungan langsung dari pembangunan jalan di negara ini.

“Tidak ada tuh cerita bahwa kami [Komisi V] menolak rencana anggaran pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur rel kereta api,” Nusyirwan mengatakan pada Jakarta Post. “Namun tampaknya ada ‘kelompok berpengaruh’ yang selalu menolak segala upaya untuk meningkatkan jasa transportasi umum, khususnya kereta api.”

Seperti di banyak masyarakat fasis yang ekstrem ataupun masyarakat feodal, kaum ‘elit’ menikmati naik mobil limosin sementara orang yang tidak punya patah kaki ketika mereka jatuh ke got karena tidak ditutup, diperkosa di kendaraan umum dan menghirup asap knalpot ketika naik angkot, atau otak mereka berhamburan di atas trotoar karena naik motor di atas trotoir yang tidak rata setelah frustasi naik motor di antara mobil dan truk yang agresif di jalanan.

Namun para pengambil keputusan di pemerintahan menikmati adanya impunitas selama beberapa dekade ini dan mereka telah mengambil hampir semua ruang publik di kota Jakarta. Dengan impunitas pemerintah selain memang tidak kompeten dan malas, mereka menjadi semakin tidak punya motivasi serta beritikad untuk menutup semua solusi jangka panjang bagi kota Jakarta.

Kita lihat saja kenyataan bahwa panjang rel kereta api di sini malah menyusut sejak masa penjajahan Belanda; Jakarta dengan penduduk lebih dari 10 juta jiwa (bahkan lebih di hari kerja) menjadi satu-satunya kota (dengan jumlah penduduk yang hampir sama) di dunia yang tidak memiliki sistem angkutan massal.

Beberapa tahun lalu ada upaya membangun dua jalur monorel walaupun bukan sistem angkutan massal yang paling efektif untuk kota Jakarta. Jalan-jalan ditutup, debu dan kotoran dimana-mana, penduduk diminta untuk bersabar dengan alasan bahwa ‘pembangunan ini untuk mereka’, namun kenyataannya tidak lah demikian, karena ternyata tujuan utama sistem transportasi ini adalah untuk mengeruk laba.

Proyek ini diberikan pada konsorsium swasta dan akhirnya, sudah dapat diduga, uang publik disalahgunakan. Pembangunan tiba-tiba berhenti, menyisakan pilar-pilar beton yang memancang di tengah jalan. Tidak ada yang dibawa ke pengadilan dari proyek yang membawa skandal ini, dan media amat disiplin untuk hanya melaporkan pernyataan resmi pemerintah, seolah-olah walaupun uang sudah lenyap tapi mereka yang bertanggungjawab tidak layak untuk diganggu hidupnya oleh penyelidikan polisi.

Supaya kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, memang ada pula upaya untuk menyelamatkan Jakarta, misalnya mencoba transportasi air dengan perahu di kanal-kanal yang sebenarmya sangat tercemar. Sayangnya sampah-sampah yang ada di kanal-kanal itu merusak mesin perahu, ditambah dengan bau menyengat dari kanal yang selalu dipenuhi sampah dan benda beracun sehingga ‘proyek’ ini gagal total dalam beberapa minggu saja.

Banjir Kanal Timur seharusnya bisa membawa perubahan berarti bila dilakukan dengan revolusi seluruh pendekatan pekerjaan publik yang tujuannya agar pembangunan kota Jakarta sesuai dengan standar Asia di abad ke-21. Selama beberapa dekade, Jakarta telah mengalami banjir besar; pernah 2/3 kotanya terendam banjir. Hal ini disebabkan kanal-kanal yang tersumbat, lahan hijau yang hilang dan pembangunan yang membabi-buta. Akhirnya diambil keputusan untuk membebaskan tanah dan membangun kanal bankir untuk menyalurkan air berlebih ke laut. Pada saat perencanaan, dijanjikan akan dibangun taman-taman publik atau paling tidak tempat pejalan kaki di pinggir kanal. Juga dijanjikan adanya jalur khusus untuk pengendara sepeda, tempat berolahraga, juga transportasi air, bahkan angkutan dengan tram listrik.

Bagi mereka yang masih punya harapan untuk Jakarta akhirnya dibenturkan pada kenyataan yang jauh dari apa yang dijanjikan. Di tahun 2010 dan 2011, saat pembangunan kanal masih jauh dari penyelesaian, kenyataan pahit mulai terlihat.

Kualitas konstruksi kanalnya sangatlah buruk,  bahkan sebelum pembangunan selesai, sampah telah menutup proyek kanal tersebut. Kejutan berikutnya: pemerintah mengatakan bahwa mereka memang tidak berencana untuk menyelenggarakan transportasi publik di pinggir/atas kanal itu. Seperti biasa, mereka meyakinkan publik bahwa tidak akan akan ada ruang publik disana. Di awal tahun 2012, lahan di sepanjang kanal dijadikan jalan raya (walaupun menggunakan kata jalan inspeksi) yang langsung digunakan oleh pengendara sepeda motor. Bahkan sejak sebelum selesai dengan sempurna, namun secara resmi sudah beroperasi, kanal banjir ini kelihatannya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah dan menambah harapan tinggi para pelobi motor/mobil.

Bayangkan berapa kilo meter ruang kota yang terbuang (meski secara resmi pemerintah menganggap proyek ini sukses)! Tidak ada sedikitpun tempat bagi pejalan kaki dan tidak ada satupun taman bermain untuk anak-anak.

Bagaimana para pejabat pemerintah bisa menghindar dari tanggung jawabnya walaupun ada bukti nyata dari perampasan hak rakyat disini? Di negara lain, hal ini bisa dianggap sebagai ‘pengkhianatan’ kepada bangsa dan negara.

Hal ini bisa terjadi karena dalam ‘demokrasi Indonesia’ tidak ada akuntabilitas. Tidak ada akuntabilitas sama sekali! Korupsi terjadi dimana-mana dan warga negara tidak memiliki mekanisme untuk mengorganisir protes (obsesi dengan jaringan sosial seperti Facebook pada umumnya hanya untuk status semata). Bahkan pembunuhan orang yang berbeda kepercayaan dengan kader kelompok agama garis keras tidak membuat masyarakat ‘berpendidikan dan kalangan menengah’ turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Yang terasa adalah bahwa di seluruh negara, termasuk di ibu kota, masyarakat telah putus asa sejak lama. Orang-orang menjalani hidupnya dalam kota megapolitan tanpa perlu menuntut, memprotes atau berkeluh-kesah.

Masalahnya, di Indonesia berkeluh-kesah, menuntut atau berdemo jarang atau sama sekali tidak membawa hasil. Surat-surat yang ditujukan kepada wakil rakyat di DPR tidak dijawab, bahkan banyak yang tidak dibuka, sementara surat ke media massa dimuat hanya jika isinya berada dalam batas-batas yang tidak tertulis namun tersirat ‘Proyek’ tidak terbuka untuk didebat (karena melibatkan banyak uang dan ada pembagian uang jarahan tersebut antara pemerintah dan perusahaan swasta dengan aturan dan formula yang telah mereka sepakati bersama) dan tidak diberikan jalan untuk masyarakat bisa intervensi karena akan ada resiko merusak sistem yang ada. Rakyat hanya sesekali diberi informasi tentang apa yang akan dibangun, kapan dan di mana.  Jika ada uang yang raib – hal yang amat sering terjadi – tidak ada konsekuensi yang ditanggung pelaksananya. Jika rencana ‘berubah’ atau jika jadwal tidak terpenuhi, tidak ada yang dipaksa bertanggungjawab.

Indonesia adalah contoh dimana diktator bisa dipilih melalui pemilihan umum yang dilangsungkan secara periodik (para pemilih dapat memilih dengan bebas antara satu kandidat korup dengan kepentingan bisnisnya dengan kandidat lain yang juga korup dengan kepentingan bisnis yang lain) dan memimpin dengan dikontrol dan disponsori oleh kepentingan Barat serta sama sekali tidak ada kekuasaan yang diberikan pada rakyat.

Jika ada penumpang yang jatuh karena lantai kereta api yang berkarat dan meninggal atau mereka yang jatuh di lubang galian proyek,  jangankan dapat kompensasi, dapat permohonan maafpun tidak.

Ketika diminta untuk membandingkan Indonesia dengan Cina, Profesor Dadang M Maksoem, mantan pengajar di University Putra Malaysia (UPM) yang sekarang bekerja untuk pemerintah daerah Jawa Barat, memberikan jawaban dengan berapi-api: “Sederhana saja: mereka [orang Cina] berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk negara mereka. Pendidikan disana tidak seperti di sini. Bagaimana sih kok pemerintah tidak bisa memberikan transportasi publik yang layak? Rakyat dipaksa untuk untuk membeli sepeda motor mereka sendiri untuk mengangkut diri mereka sendiri dan mereka dipaksa untuk membahayakan jiwa mereka di kondisi lalu-lintas yang parah. Sekarang kemacetan lalu-lintas ada di mana-mana. Entah apa yang bisa saya katakan. Orang-orang disini itu bodoh, idiot, mati otak, atau rakus Sih? Pilih saja jawabannya!”

Tapi jawaban seperti ini bukan yang ditampilkan di media populer di Barat. Secara resmi Barat memuja Indonesia. Bagaimana tidak: penguasa dan elit Indonesia yang taat pada mereka berani mengorbankan rakyat, pulau-pulau, bahkan ibukota mereka sendiri untuk kepentingan dan keuntungan perusahaan-perusahaan multi-nasional dan penguasa dunia. Perusahaan asing dan pemerintah mana yang tidak menghargai kemurahan hati penguasa dan elit Indonesia ini?

Tapi marilah kita kembali ke masalah transportasi publik lagi.

Pada masa pemerintah dan swasta merencanakan proyek pembangunan monorel (atau setidaknya ini yang mereka katakan pada masyarakat), kota ini mulai membangun apa yang disebut ‘busway’ atau jalur khusus bus, yaitu proyek yang awalnya adalah kesalahan dalam memahami konsep transportasi publik di kota Bogota yang terletak nun jauh di Kolombia, Amerika Selatan.

Alih-alih membangun sistem transportasi kereta api massal yang bisa mengangkut jutaan penumpang setiap harinya, Jakarta ‘membangun’ jalur busway yang mengambil dua jalur dari jalur yang sudah ada di jalan-jalan utamanya, kemudian mengoperasikan kendaraan bus sempit dimana para penumpang duduk menyandar dinding sambil menghadap satu sama lain. Setiap bus hanya punya satu pintu untuk penumpang naik dan turun. Halte dan jalan masuk ke halte dibuat dari logam yang mudah berkarat dan sekarang pelat lantainya sudah banyak yang lepas dan meninggalkan lubang di jalan masuk itu. Hampir semua pintu otomatis di halte sudah tidak beroperasi dengan baik dan akhirnya ada orang yang terdorong ke jalan hingga meninggal atau luka parah.

Seperti moda transportasi lain di Jakarta, sistem ini tidak dirancang untuk meningkatkan hajat hidup orang banyak, dalam hal ini untuk mengurangi kemacetan dan mengangkut berjuta orang secara aman dan nyaman. Busway dirancang sebagai proyek untuk memperkaya perusahaan yang memiliki saham dan para pejabat yang korup.

Sistem busway tidaklah efisien, tidak memperhatikan keindahan dan tidak mempersatukan kota – malahan lebih memecah-belahnya. Hampir tidak ada tempat pejalan kaki di dekat halte busway. Penumpang yang sampai di halte busway harus beresiko kehilangan nyawanya untuk menyeberang jalan untuk sampai ke tempat tujuan atau naik angkutan umum lain.

Bahkan ketika halte busway dibangun di dekat stasiun kereta, perencana kota menjamin bahwa tidak ada jalan langsung ke sana. Selama beberapa dekade, para penguasa Jakarta telah memastikan tidak adanya interkoneksi antara moda transportasi, termasuk dengan stasiun kereta peninggalan jaman Belanda. Kota ini hampir tidak memiliki tempat pejalan kaki, hampir tidak ada tempat penyeberangan di bawah tanah (hanya ada satu di seluruh kota yaitu dekat stasiun Kota yang pembangunannya membutuhkan waktu beberapa tahun) yang menghubungkan stasiun dengan jalan raya. Dan kenyataannya Jakarta tidaklah memiliki banyak jalan raya – kebanyakan dari jalan raya ini hanyalah replika buruk dari jalanan di pinggiran kota Houston: dengan jalan tol (layang atau bukan), tidak ada tempat pejalan kaki dan fasilitas-fasilitas yang dipisahkan oleh pagar-pagar, tidak langsung bisa diakses dari jalanan. 

Kebodohan dalam perencanaan kota ini hanya bisa disamai oleh ketidakcerdasan pembangunan negara secara keseluruhan – Jakarta adalah sebuah contoh dunia kecilnya. Contohnya, untuk putar-balik di jalanan saja, seseorang harus berkendara satu kilometer atau lebih dan hal ini tentunya menambah kemacetan, konsumsi bahan-bakar dan polusi. Kota ini dirancang sedemikian rupa sehingga orang harus naik mobil hanya untuk menyebrang jalan karena memang hampir tidak ada tempat pejalan kaki dan sarana penyebrangan yang memadai. Sarana transportasi di kota ini berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada interkoneksi. Rakyat dipaksa untuk mengemudikan mobil atau skuter murah yang semakin populer belakangan ini (warga lokal menyebutnya motor) untuk kemudian membusuk di tengah kemacetan yang legendaris. Hal ini bisa terjadi karena pelobi mobil mampu menyuap pemerintah dan hasilnya adalah ketidakmauan pemerintah untuk membangun jaringan transportasi publik yang efisien.

Sangat jelas terlihat bahwa ada banyak kepentingan ekonomi yang terlibat. Untuk dapat menganalisa Indonesia, penting untuk diingat bahwa pertimbangan dan prinsip moral yang ‘normal’ sudah menghilang dari kamus para penguasa.

Sekelompok kecil pengusaha dan politisi telah menjarah sebagian besar sumber daya alam negara ini; mereka menghancurkan banyak hutan tropis dan mengubah negara kepulauan ini menjadi bencana bagi lingkungan hidup. Mayoritas penduduk Indonesia tidak pernah mencicipi keuntungan dari kerusakan yang terjadi di negara mereka.

Penduduk Jakarta tak terkecuali. Kota ini dibangun ‘bukan untuk rakyat’, sebagaimana dikatakan oleh seniman Australia George Burchett pada saat mengunjungi kota ini lebih dari dua tahun lalu.

Penduduk yang tidak mendapatkan informasi yang benar menjadi apatis setelah melewati kampanye cuci-otak pro-bisnis selama beberapa dekade. Setelah tidak ada lagi pemikiran kritis di kota ini, hasilnya adalah tidak ada bioskop yang khusus memutar film-film seni, tidak ada teater permanen, tidak ada media yang berorientasi sosial ataupun galeri yang memamerkan tragedi Indonesia melalui seni, sampai sekarang ini. Yang terjadi malah milyaran sampah sosial berterbangan dari satu unit  Blackberry ke unit lainnya ketika kaum elit saling mengobrol dan mendengarkan musik pop jaman dulu atau memuaskan diri dengan makanan Barat dan Jepang murahan. Memang tidak banyak hal lain yang dapat dilakukan di kota ini. Di satu sisi kota ini hampir hancur karena sudah diselimuti asap beracun dan punya banyak sekali kawasan kumuh yang ada di antara berbagai mall raksasa dan perkantoran. Tidak ada lagi air bersih di kanal-kanalnya yang dulu mengalir deras – yang tinggal hanya racun.

Yang paling menakutkan di kota ini adalah sepertinya tidak ada tempat lagi bagi manusia. Manusia menjadi tidak relevan. Anak-anak juga jadi tidak relevan: tidak ada tempat bermain dan taman untuk mereka. Kalau kita bandingkan dengan kota Port Moresby yang miskin, ibu kota Papua Nugini ini memberikan fasilitas yang jauh lebih baik kepada warganya.

“Persetan dengan bantuanmu!” teriak Presiden Sukarno kepada duta besar Amerika Serikat di depan publik lebih dari  setengah abad yang lalu. Pembalasan yang kejam segera datang. Setelah kudeta yang disponsori oleh AS and rejim fasis berkuasa hingga hari ini, Jakarta telah berubah menjadi tempat dengan motto “Persetan dengan rakyat!”

“Saat saya pulang ke Jakarta, saya tidak ingin keluar rumah”, kata Nabila Wibowo, seorang putri diplomat Indonesia. Dia memutuskan untuk tinggal di Portugal setelah masa tugas ibunya berakhir. “Tidak ada budaya di sini, tidak ada konser, tidak ada musik yang asik.Bahkan saya tidak bisa berjalan kaki atau pergi dengan aman dan nyaman di dalam kota. Tidak ada tempat pejalan kaki. Akhirnya, saya hanya pulang sebentar saja, mengunci diri di dalam kamar dan membaca buku.”

Sekarang ‘katanya’ kota ini akan membangun MRT, kereta bawah tanah yang diharapkan memiliki dua trayek saat selesai dibangun. Proyek ini sudah tertunda selama beberapa dekade, namun kalaupun akhirnya berjalan, banyak analis termasuk beberapa professor dari ITB (Institut Teknologi Bandung) yang takut untuk membayangkan hasilnya, mengingat track record aparat pemerintah kota dan kualitas proyek lainnya di negara ini.

Kelihatannya dapat dipastikan bahwa uang yang dialokasikan untuk proyek ini akan disalahgunakan lagi. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada mekanisme untuk menjamin transparansi dan pengawasan yang tak berpihak. Tentunya hal ini sangatlah kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara lain seperti India di mana kereta bawah tanah New Delhi dibangun sesuai rencana dan menghabiskan uang dibawah anggaran.

Tampaknya banyak orang di Indonesia yang berbakat dalam penyalahgunaan uang publik. Dalam hal ini, Indonesia nomor satu.

Dan rakyat juga tidak serius menuntut untuk menghentikan kegilaan ini. Hingga kini rakyat sudah terbiasa hidup susah, mati dini karena polusi, tinggal di perkampungan kumuh tanpa air bersih dan sanitasi dasar, atau duduk berjam-jam di kemacetan. Mayoritas penduduk Jakarta belum pernah ke luar negeri dan oleh karenanya mereka  tidak tahu bahwa ‘ada alternatif dunia lain’, bahwa sebenarnya ada kota-kota yang dibangun untuk rakyat. Kaum elit yang suka pergi ke luar negeri tahu benar tentang hal ini, namun mereka memilih untuk tidak mengatakannya.

Kita selalu lihat ada lingkaran setan: proyek baru diumumkan, kemudian diluncurkan, dan akhirnya berantakan setelah banyak dompet oknum-oknum terisi padat. Rakyat tidak diberi apapun tapi mereka pun tidak menuntut apa-apa. Tapi bukannya memang dari dulu sudah seperti ini? Mungkin berbeda sedikit disana dan sedikit disini dari jaman penjajahan Belanda dulu. Meskipun demikian, sebelum meninggal penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer mengatakan pada saya bahwa “situasi waktu dulu tidak pernah seburuk sekarang”.

Mereka yang tahu atau seharusnya tahu apa yang ada di balik layar adalah mereka yang terlibat atau tidak mau berhadapan dengan kenyataan.

Pada bulan Februari 2012 saya bertanya pada Ibu Ririn Soedarsono, profesor di perguruan tinggi terkenal ITB, apakah proyek MRT memiliki kemungkinan untuk selesai.

“Kami akan mulai membangun MRT tahun ini,” ujarnya. “Pada akhir tahun 2013, tahap pertama akan selesai. Secara teknis harusnya tidak ada masalah. Namun saya tidak tahu bagaimana iklim politik pada saat itu…”

2013? Bahkan di negara-negara yang teknologinya berkembang seperti Jepang, Cina atau Chile, satu jalur kereta bawah tanah dapat memakan waktu 4 hingga 10 tahun pembangunan, tergantung pada situasi daerahnya. Tapi mungkin saja saya salah tangkap mengenai definisi ‘tahap pertama’.

Sebetulnya angkutan kereta api di Jakarta masih lebih baik daripada di Nairobi. Banyak gerbong kereta yang memiliki alat pendingin karena walaupun bekas tapi diimpor dari Jepang. Namun kelihatannya  kereta-kereta ini cenderung menua secara cepat karena kurangnya perawatan: satu tahun saja di Jakarta dan kereta berusia 30 tahun asal Jepang yang datang dalam kondisi sempurna akan berakhir dengan pintu rusak, kursi tersayat dan sistem pendingin udara yang tersumbat kotoran.

“Kami naik kereta dua kali seminggu,” jelas Ibu Enny dan Ibu Susie dari Bogor. “Kami jarang naik di hari kerja, terutama di jam-jam padat. Hampir tidak ada tempat untuk berdiri. Buat kami perempuan, sebetulnya naik kereta pas jam padat amatlah menakutkan, apalagi ketika para penumpang berebut memasuki gerbong.”

Namun demikian, keunggulan sistem kereta api di Jakarta (yang disebut-sebut sebagai ‘keajaiban kapitalis dan demokrasi’) dari Nairobi (sebagai ibu kota dari salah satu negara paling miskin di dunia) mungkin tidak akan bertahan lama. Di awal tahun 2013 Nairobi sudah bersiap untuk memperbaharui jaringan rel kereta api lamanya dan menambah jalur modern yang pertama, diikuti dengan yang kedua di tahun 2014. Stasiun-stasiun keretanya akan memiliki tempat parkir, toko-toko dan fasilitas modern, serta akan menghubungkan area yang ditempati oleh kelas menengah dan bawah.

Perusahaan-perusahaan konstruksi dari Cina membangun jalan raya, jalan layang dan proyek infrastruktur lainnya di Afrika Timur. Mereka juga membangun tempat pejalan kaki, rel kereta api dan dalam dua tahun mereka berencana untuk membangun jalan kereta api ke Bandara Internasional Jomo Kenyatta di Nairobi. Bandara Sukarno Hatta di pinggiran Jakarta yang dulu megah sudah menunggu selama beberapa dekade untuk dihubungkan dengan jalan kereta api ke Jakarta, namun sejauh ini baru mendapatkan tambahan jalur jalan tol saja.

Beberapa pertanyaan logis dari yang dipaparkan diatas adalah: Mengapa Indonesia bisa jauh tertinggal dari kota-kota seperti Kairo, Nairobi, Johannesburg dan Lagos ataukah ada hal lain yang terjadi? Mungkinkah kaum elit Indonesia mengorbankan puluhan bahkan ratusan juta orang hanya untuk keuntungan mereka sendiri? Mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya, apakah mungkin mereka melakukannya lagi?

Sekarang ini apa yang banyak kita lihat di sepanjang rel kereta api adalah anak-anak kecil dan balita yang setengah telanjang bermain dengan sampah dan gorong-gorong terbuka. Di sini sampah dibakar di ruang terbuka karena Jakarta tidak memiliki sistem pembuangan sampah komprehensif. Pengumpulan dan pengurusan sampah adalah hak publik, oleh karenanya tidak menciptakan laba dan tidak menyenangkan pejabat. Hanya segelintir penduduk Jakarta memiliki akses atas air yang benar-benar bersih, dan hanya 30 persen yang dapat sanitasi dasar.

Hidup di sepanjang jalan kereta api ini sudah seperti hidup di neraka, dengan gerbong-gerbong yang terus menerus lewat dari satu stasiun ke stasiun lainnya.

Membaca apa yang ditulis mass media Indonesia yang ahli dalam seni mengelabui akan membuat anda bahwa Jakarta sudah punya sistem perkereta-apian dan hanya perlu sedikit penyempurnaan. Bahkan Anda dapat menemukan semacam peta dari ’sistem’ transportasi itu di internet. Tapi cobalah datang ke stasiun, coba naik keretanya, dan coba interkoneksinya, maka anda akan berpikir ulang apakah sebenarnya sistem ini ada dan mencukupi sebagai salah satu pilihan angkutan massal.

Beberapa masalah yang saya temui antara lain: Tidak ada jadual dan informasi yang disediakan dan mudah dimengerti penumpang; Petugas yang kurang tanggap, lamban dan tidak efisien dalam penjualan tiket secara manual. Tidak mudah untuk dapat sampai ke peron yang dituju. Padahal orang-orang yang menggunakan kereta api adalah mereka dari kelas menengah Indonesia.

Harus dicatat, ini adalah kelas menengah yang didefinisikan secara lokal, menggunakan angka-angka dari Bank Dunia dan pemerintah Indonesia: menurut mereka, kelas menengah adalah mereka yang hidup lebih dari US$2 (atau sekitar Rp. 18.000) per hari. Menurut mereka ini berlaku bahkan di kota yang merupakan salah satu kota paling mahal di Asia Timur.

Menurut batasan di atas, mayoritas penduduk kota Jakarta berasal dari ’kelas menengah’. Namun kalau kita lihat kenyataannya, sebagian besar dari mereka hidup di lokasi yang di belahan dunia lain disebut sebagai ’kawasan kumuh’. Kawasan dimana mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih dan hidup dalam kondisi kebersihan yang tak layak.

Banyak orang dari ’kelas menengah’ ini naik ke atap kereta karena mereka tidak mampu membayar harga tiket; beberapa orang tersengat listrik setiap tahunnya, beberapa lainnya meninggal karena terjatuh. Untuk mencegah mereka naik ke atas, pemerintah yang baik hati mulai membangun bola-bola beton yang digantung di atas jalur kereta api untuk menghancurkan kepala mereka yang naik di atas atap kereta api, kadang-kadang petugas merazia mereka dengan menyemprot mereka dengan cat, bahkan dengan kotoran manusia. Beberapa stasiun, termasuk Manggarai, menempelkan kawat berduri di atap rel sehingga orang-orang yang mencoba melompat ke atap akan tersayat.

Herry Suheri – penjual rokok di Stasiun Manggarai masih berpikir bahwa orang-orang tidak akan takut dengan upaya pencegahan yang drastis tersebut: ”Masih ada saja orang yang naik ke atap kereta ekonomi, apalagi saat jam-jam padat. Bukan hanya untuk tumpangan gratis, tapi karena jumlah kereta yang ada tidak mencukupi untuk penumpang yang harus sampai ke rumah atau ke tempat kerja.”

Sistem kereta api, ’dareah penghijauan’, ’rencana perbaikan kota’ – semua palsu, hanya ada di angan-angan. Kenyataan yang ada amatlah brutal namun jelas: Jakarta tidak bisa dikategorikan dalam definisi kota apapun. Kota ini adalah sebuah laboratorium, sebuah eksperimen fundamentalisme pasar. Binatang percobaannya adalah masyarakat. Mereka sedang dipelajari: seberapa besar ketidaknyamanan yang dapat mereka tahan, seberapa banyak lingkungan tak sehat yang masih bisa mereka hadapi, dan seberapa banyak pemandangan buruk  dikota ini yang akhirnya dapat membuat mereka melarikan diri?

Saat ini, lebih baik buat kita untuk tidak menggantungkan harapan pada kota Jakarta. ’Kota besar yang paling tidak layak untuk ditinggali di Asia-Pasifik’ ini tidak akan jadi lebih baik dalam waktu dekat ini, juga mungkin tidak dalam jangka waktu yang lama. Tidak akan ada perubahan di bawah pemerintahan sekarang ini. Tidak di bawah rejim ini.

Di Amerika Latin, kelompok sayap kanan dulu meneriakkan: ”Jakarta akan datang!” untuk menakut-nakuti pemerintahan sayap-kiri di Chile dan di berbagai tempat lain di dunia. Namun Jakarta sekarang ada di sini, dalam kondisi prima sebagai monumen keberhasilan kapitalisme yang tidak terkontrol; sebuah monster, sebuah peringatan, dan contoh kasus bagi mereka yang ingin tahu seberapa besar keserakahan dan keegoisan kaum elit. [ ]

*Artikel ini dimuat di buletin berita Amerika Serikat, Counter Punch, dengan judul ”The Perfect Fascist City: Take a Train in Jakarta”, edisi 17-19 Februari 2012.

Ditulis oleh Andre Vltchek
Diterjemahkan oleh Fitri Bintang Timur
Disunting oleh Rossie Indira

Andre Vltchek adalah seorang penulis novel, analis politik, pembuat film dan jurnalis investigatif. Dia hidup dan bekerja di Asia Timur dan Afrika. Buku non-fiksi terakhirnya ”Oceania” menggambarkan neo-kolonialisme Barat di Polinesia, Melanesia dan Mikronesia. Penerbit Pluto di Inggris akan menerbitkan buku kritiknya atas Indonesia (”Archipelago of Fear”) di bulan Agustus 2012. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://andrevltchek.weebly.com/

Fitri Bintang Timur adalah peneliti, penulis dan penikmat tulisan bagus. Dia menyepi dari Jakarta selama sepuluh bulan setelah lima tahun lebih naik kereta api di kota itu. Ia akan kembali suatu hari nanti. 

Rossie Indira adalah penulis dan konsultan. Buku terakhirnya ’Surat Dari Bude Ocie’ diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Buku tentang perjalanannya ke 10 negara ASEAN akan selesai tahun ini. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://rossie-indira.weebly.com/

Sumber foto: metro.sindonews.com

23 April 2014

Surat untuk Hisanori Kato

Kato San yang baik,

Apa kabarmu sekarang? Sejak terakhir kali kita bertemu di Transjakarta arah Tanjung Priok itu, rasa-rasanya waktu telah melebarkan sayapnya.

Belum berlalu lama tentu saja, tapi sejak pertemuan terakhir di tahun 2011 itu, jarak yang membentang telah membawa saya ke warung roti bakar sendirian. Tak ada lagi obrolan-obrolan kita yang membicarakan banyak hal. Penjual roti bakar pun kini telah berganti, dan mulai sepi pengunjung. 

Apa yang kamu khawatirkan perlahan mulai menjadi kenyataan, selain anak-anak muda, orang-orang tua yang dulu sering kita jumpai pun mulai beralih ke convenience store yang lampunya menyala terang hampir menyilaukan mata. 

Benar katamu, apa enaknya melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan mesin pembaca barcode, dan menerima  ucapan “terima kasih” dari pelayan yang tanpa ekspresi?

Sambil menyeruput kopi hitam dan menyantap roti bakar rasa coklat, saya saat ini sesungguhnya tengah menikmati cuaca Jakarta yang basah karena hujan. Pohon-pohon yang dulu kamu sukai, kini benar-benar telah berkurang, habis dimakan pembangunan gedung-gedung berpendingin. 

 Meskipun memang kota ini pada dasarnya panas karena berada di pesisir pantai, namun kehilangan pohon dengan begitu massif membuat panas menjadi berlipat-lipat. Maka syukurlah, hujan membuat kota ini menjadi lumayan sejuk. Di kotamu sendiri bagaimana?, apakah hujan sedang turun? Ah maafkan saya yang tidak hafal siklus musim di negaramu.

Kato San, hari Rabu pada tanggal 1 Januari 2014 kemarin, saya hendak pergi ke toko buku yang berada di jalan Matraman. Di halte Senen saya transit dan menunggu bus yang hendak pergi ke arah Kampung Melayu. Rupanya pengalamanmu yang pernah kau ceritakan itu berulang pada saya. 

Katanya semalam, dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, bus ini beroperasi 24 jam, sehingga pada siang hari armadanya sangat terbatas, mungkin para sopirnya masih mengantuk atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Tapi yang pasti bus sungguh lama datangnya. 

Saya tunggu hampir satu jam, namun bus itu tak kunjung datang juga. Maka dengan kesal saya tinggalkan halte dan setengah berlari mengejar angkot jurusan Senen-Kampung Melayu. Tak lupa saya melambaikan tangan kepada para calon penumpang yang masih sabar menanti kedatangan bus yang entah kapan datangnya. Kau kan masih ingat pengalamanmu itu, bukan?

Apakah kau merindukan saat-saat mengamen di bus jurusan Blok M-Kota? Ya, waktu kau dan kawan Jepangmu mulai berteriak, “kami datang dari Jepang, silahkan dengarkan lagu-lagu kami.” Maka saat lagu selesai dan mereka dengan antusias bertepuk tangan dan hampir semuanya memberimu uang, apakah kau berpikir bahwa orang Indonesia memang ramah dan sangat bersahaja-berkawan? Ah, jangan terlampau yakin. Sikap kami, orang Indonesia ini, kepada orang asing memang selalu begitu. Tapi kepada bangsa sendiri, kadang-kadang, jika ada yang ngamen kami langsung pura-pura tidur.

Saya menulis surat ini sambil mendengarkan permainan piano Jaya Suprana membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki. Apa kamu tahu musisi yang satu itu, Kato San?. Atau kamu hanya pernah mendengarkan lagu Ondel-ondel Benyamin Sueb saja selama di Jakarta dulu? Hehehe…

Oh iya, sehabis pulang dari toko buku saya mampir dulu di warung nasi Kapau yang ada di Simpang Lima Senen. Barangkali kau pun pernah makan di sana? Kalau belum pernah, biar saya ceritakan sedikit. Lauk pauk-nya sungguh enak, rasanya pun mungkin cocok dengan lidahmu yang kurang menyukai rasa manis seperti makanan Jawa. 

Ya, tentu saya masih ingat dengan ceritamu waktu kau mengunjungi Yogyakarta dan untuk pertamakalinya  menyantap Nasi Gudeg. Kau kan bilang waktu itu, “sebenarnya, saya suka yang manis-manis, tetapi kalau makanan manis dicampur dengan nasi saya kurang suka.” Seperti di Restoran Padang yang sering kau kunjungi, di warung nasi Kapau pun kau lebih baik menggunakan jari tangan saja waktu menyantapnya, lebih mantap.

Baru-baru saya mulai rutin lagi menulis di blog bersama seorang kawan. Sekali waktu modem saya hilang, pulsa habis, dan jaringan internet di kantor pun diputus. Akhirnya saya pergi mencari warnet, namun seperti juga wartel yang pernah kau ceritakan, di Jakarta kini susah menemukan warnet. Orang-orang sudah beralih ke smartphone untuk mengakses internet. Dunia benar-benar telah berada di genggaman jari. 

Setelah berputar-putar keluar-masuk gang, akhirnya saya menemukan warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumah kontrakan. Pengunjungnya sepi, dan jaringannya sungguh menjengkelkan; lelet bukan main. Kau mungkin terpesona dengan sikap nrimo sebagian orang Indonesia pada hal-hal yang kadang menjengkelkan, namun ketahuilah itu hanyalah pandangan subjektifmu saja.

Kato San yang baik,

Selama kita berkawan dan membicarakan banyak hal waktu kau tinggal di Jakarta, saya menangkap semacam kebenaran umum, bahwa orang-orang asing yang tidak terlalu lama tinggal di sini, dan tidak terlampau mengakrabi kehidupan sehari-hari, selalu merasakan kesan yang bagus pada Indonesia, khususnya kota Jakarta. 

Atau semacam apresiasi pada kondisi kontras antara satu budaya dengan budaya yang lain. Maksud saya, seperti halnya turis-turis dari Barat, mereka selalu tertarik dengan hal-hal yang mungkin tidak mereka temui di kehidupan sehari-harinya. Misalnya, mereka terpukau dengan budaya Bali yang religius; persembahan, do’a, dan sesaji setiap hari.

Kau pun saya pikir tak jauh berbeda. Waktu di Jepang orang-orang bilang, “berusahalah dengan baik,” sedangkan di sini seperti yang kau katakan, “janganlah terburu-buru begitu!.” Sebuah budaya yang bertolak belakang sama sekali, kemudian kau terpesona. 

Tidak ada yang salah memang, karena seperti juga orang-orang Melayu dalam buku Edensor karangan Andrea Hirata—nanti kalau kau ke sini lagi saya pinjamkan, mereka juga terpukau dengan keindahan Eiffel di Paris, bahkan pada nama seorang warga Perancis sekali pun! Ya, kontras ragam budaya adalah semacam mataair yang tak henti-hentinya mengalirkan ketertarikan-ketertarikan manusia.

Pada kesempatan ini, saya sebenarnya ingin sekali menulis banyak hal tentang Jakarta hari ini, Jakarta yang setelah kepulanganmu ke negeri leluhur, terus berubah dan menyisakan banyak ironi. Saya tidak tahu, kalau kau datang lagi ke Jakarta, apakah kau masih tetap mencintainya atau malah sebaliknya. Bahwa pada akhirnya kau menulis buku tentang kerinduanmu pada Indonesia saya ucapkan terimakasih. Bagaimana pun, setiap orang berhak mengungkapkan perasaan dan pengalaman hidupnya.

Sampai di sini dulu surat saya, Kato San. Lain waktu insyaAllah disambung lagi.

Salam

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]

02 October 2012

Garis Batas Fiksi

"How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life
All this time we’re blind." 

***

Asan, orang yang sempat saya cacat dalam dua buah cerita pendek, tiba-tiba datang di personal message sebuah jejaring sosial; bertanya soal nomor yang bisa dihubungi. Dia yang sudah lama terapung-apung bekerja di kapal pesiar tiba-tiba saja pulang dan sekarang kerja di bilangan Kelapa Gading. Tak lama kemudian ponsel berbunyi, ya ini suara. Saya setengah tidak percaya. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin, di 2009 itu saya sempat numpang tidur di kosannya di daerah Tebet. Pagi-pagi sarapan secangkir Good Day dan suara Green Day. Lalu dia tidur lagi sebab kerjanya malam hari, sementara saya meluncur ke GI meneruskan JIFFest di hari kedua. 

Kemarin seorang tamu datang, tapi entah siapa. Rasa-rasanya saya tidak punya musuh, tapi tiba-tiba diserang dengan deretan kalimat ambigu. Sekilas seperti karakter tokoh di sebuah cerita pendek Budi Darma; absurd. Tapi seru juga, rasanya seperti punya kawan baru. Meskipun diolok-olok sebagai orang yang berlindung di balik tameng kata-kata, dan mungkin dia ada benarnya juga, tapi memang inilah tempatnya, tempat saya berteduh dikala hati bernuansa biru. Tentang persepsi, dari dulu saya tidak pernah berubah. Orang mau bicara apa pun, bagi saya itu menjadi sekunder bahkan tak berarti apa-apa.

Di gang yang busuk itu, tempat puluhan keluarga menyambung hidup, pada sebuah sore terdengar suara seorang ibu membentak anaknya dengan kata-kata kasar. Madrasah pertama dalam kehidupan itu membakar sumbunya sampai menyentuh titik ledak. Barangkali madrasah pertama sedang jengkel atau marah, tapi kata-kata kasar itu akan sangat manis terdengar di telinga siapa pun yang merasa punya atau pernah mempunyai seorang ibu. Ingatan akan lari ke sana, ke saat-saat ketika ibu dengan sangat rajin membaluri kita dengan doa-doa dan pelukan paling hangat di dunia.

Pada sebuah pagi di bus Transjakarta. Seorang pemuda bersitegang dengan seorang perempuan cantik. Yang diributkan adalah tempat duduk, karena seperti biasa bus penuh. Si cantik minta duduk, tapi si pemuda tak memberinya. Si cantik tidak sedang sakit, tidak sedang hamil, tidak cacat, dan tentu saja masih muda. Lalu alasan apa yang membuat pemuda itu harus berdiri dan membiarkan tempat duduknya diambil orang?. Oh mungkin karena alasan gender?, tapi bukankah sekarang sudah polusi oleh istilah-istilah emansipasi dan kesetaraan gender?. Jangan salahkan pemuda itu kalau dia tidak bisa romantic. Karena bisa saja dia bergaya tengik, menjelma menjadi pahlawan kesiangan dan pamrih dibayar tunai oleh sebuah perkenalan. 

Kadang-kadang saya merasa garis batas fiksi mulai banyak yang memuai. Seperti sebuah gegar budaya yang datang tiba-tiba. Seorang konservatif yang tidak pandai berdiplomasi bisa saja bersikap total, tapi dia tidak akan pernah memilih menjadi pengemis. Potret ini seperti roman-roman di zaman Balai Pustaka, terdengar sangat old skool. Padahal sekarang, seperti kata Efek Rumah Kaca, sudah berada di titik “kenakalan remaja di era informatika”. Tarik-menarik lintas batas fakta dan fiksi ini menggiring saya ke sana, ke spirit baru yang mengapung. Jauh melebihi Alice in Woderland ataupun film pertama Mouly Surya. [ ]
 

19 July 2010

Sisa Redup Cahaya


Malam itu sepulang dari Kelapa Gading perut minta isi. Tukang nasi goreng yang biasa lewat di gang belum juga datang. Sambil menanti bunyi wajan yang dipukul, akhirnya nonton acara dialog di televisi, ditemani sebatang rokok dan teh manis. Perpaduan yang cukup akrab, apalagi rintik gerimis mulai jatuh dari langit yang menghitam. Acara dialog habis berbarengan dengan bunyi nyaring yang timbul dari wajan yang dipukul. Bersegera saya turun dan memesan satu porsi nasi goreng tanpa ati. Tidak lama aroma bumbu yang dipadu menyerang saraf penciuman, dan semakin membangkitkan selera. Acara di televisi sedang berita olahraga, ketika saya menyantap makanan beraroma sedap itu. Kemudian malam semakin larut, sudah jam setengah dua belas, lalu saya mengambil wudhu, dan sholat isya.

Cahaya matahari telah masuk melalui jendela yang terbuka ketika saya bangun pagi itu. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi, bersuci dari hadats kecil lalu mengeringkan muka dengan handuk usang. Setelah itu berdiri menghadap kiblat, berdo’a lamat-lamat dalam sholat yang terlambat, sementara sinar matahari semakin hangat.

Setelah mandi dengan cepat, kemudian berdiri di depan cermin. Merapikan pakaian dan menyisir rambut dengan tangan. Tidak sempat menyeduh kopi atau sarapan nasi uduk, karena takut telat. Suasana pagi yang berulang. Pagi yang bergegas, seperti seorang sais pedati memecut kudanya. Memecut setiap yang berjiwa untuk mengisi hari dengan aktivitas. Pagi yang selalu mengingatkan bahwa keterlambatan adalah kekalahan sebelum pertempuran. Demikianlah waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya, selama-lamanya. 

Bahkan panggilan untuk bangun lebih awal telah dikumandangkan, telah diulang-ulang oleh muadzin setiap hari: “sholat lebih baik daripada tidur”. Dalam panggilan itu kata BAIK memakai kata KHAIR, bukan HASAN, padahal secara arti maksudnya sama, yaitu BAIK. Tapi menurut keterangan dari seorang khotib jum’at di mesjid At Taubah-Pulo Mas, kata KHAIR berarti baik terhadap atau untuk jiwa, yang artinya baik untuk ruhani. Sedangkan kata HASAN berarti baik untuk selain ruhani, mungkin lebih ke arah fisik.

Jalan raya telah macet, lalu lalang kendaraan tersendat. Saya melintasinya di tengah suara klakson ketidaksabaran dan semrawutnya lalu-lintas salah satu sudut Jakarta. Mengurai kemacetan di kota besar ini seperti mengurai benang kusut. Tumpang tindih pengelolaan, kepentingan, dan ketidaksabaran para pengguna jalan yang setiap hari sumbunya semakin pendek. Maka pagi hari yang manis seringkali dihiasi oleh pertikaian-pertikaian di jalanan yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah menunggu agak lama, kemudian saya duduk di kursi Transjakarta yang melaju ke arah Pulogadung. Di dalam tidak ditemui muka ramah, semuanya seperti sedang gelisah: menghitung kecepatan putaran roda dengan putaran jarum jam yang terus berdetak. Beberapa orang tertidur, sementara MP4 tengah memutar lagu Beatles: “All You Need is Love”. Pemandangan di luar kaca jendela seperti lukisan abstrak yang jarang dijajakan di pinggir jalan oleh para seniman tanggung. Saya terlindungi suara Beatles dari dengkuran orang di sebelah. Lima belas menit kemudian bus sampai di halte terakhir, penumpang berhamburan menuju rahmat kerjanya masing-masing.

Baru saja saya duduk di kursi kerja, tiba-tiba layar monitor sudah menerkam mata. Jajaran angka, rumus sederhana, dan garis-garis simetris harus saya lahap dalam delapan jam atau lebih, dengan posisi tetap menghadap meja. Suara printer manual mulai terdengar merisaukan, sementara dialog-dialog ringan telah berlangsung di sekitar mesin fax dan photo copy. Saat seperti ini mungkin bertepatan dengan kesibukan guru SD mengabsen anak-anak didiknya. Nantinya, anak-anak permata jiwa orangtua itu, mungkin tidak sedikit yang akan menjalani rutinitas seperti saya: menelan kerja satu bulan, lalu gaji di bayar di ATM. Sebelum semuanya dihabiskan, pendapatan harus ada yang disisihkan, agar grafik hutang setiap bulannya bisa turun. Ingat hutang, saya jadi ingat Safir Senduk.

“Makan di mana hari ini?” Seorang kawan mengingatkan bahwa sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Satu jam ke depan kemudian dihabiskan oleh makan dan ngobrol, dan sholat dzuhur kalau waktu istirahat sudah injury time. Keluar lagi nanti kalau mau sholat ashar, kalau jam sudah menunjukkan setengah lima, ketika sinar matahari mulai reda dan bayangan sudah mulai temaram. Hari ini ada tambahan kerja, sehingga baru selesai jam setengah tujuh. Adzan maghrib sudah sangat dari tadi berkumandang. Saya menyibak tirai jendela, mencoba melihat pemandangan di luar. Bola-bola api sudah berpijar dan langit sudah lama ditinggalkan senja. Malam mulai merayap, lalu saya pulang.

Seperti biasa sebelum membeli tiket Transjakarta, saya mampir dulu di tukang nasi uduk. Menikmati jajanan murah di pinggir jalan sambil menemani udara malam yang sudah sangat jarang mendinginkan kota ini. Di sela-sela makan saya bercakap dengan si penjual nasi itu, membicarakan apalagi kalau bukan kehidupan sehari-hari. Mendapatkan kawan bicara selalu menyenangkan, apalagi ucapannya tidak dipenuhi kata-kata bersayap dan pura-pura yang menor. Di suapan terakhir saya baru ingat, bahwa saya belum sholat maghrib, padahal waktunya sudah hampir habis. Kumandang adzan isya sebentar lagi akan terdengar.

Pedas sambal nasi uduk belum mau meninggalkan mulut, waktu saya sholat di akhir waktu itu. Keringat mulai menguap dari badan, pembakaran di pencernaan sedang berjalan, membuat sholat menjadi tidak nyaman. Tapi setelah salam, sempat juga saya berdo’a yang isinya macam-macam: aneka permintaan dan permohonan.

Karena antriannya sangat panjang, saya tidak jadi pulang naik Transjakarta. Lalu menunggu monster hijau yang akan melaju ke arah Senen. Tidak lama dia datang, tergesa saya menyesaki perutnya. Untung masih kebagian tempat duduk, sehingga bisa melempar pandangan ke luar dengan tenang. Bus kemudian melaju lagi, memacu kecepatan dengan ugal-ugalan, sementara pengamen mulai beraksi, lalu dia mulai bernyanyi, dan saya mendengar lirik ini: “Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu”. Saya melempar pandangan ke langit, cahaya bulan tampak redup. [itp]