Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts
Showing posts with label Goenawan Mohamad. Show all posts

23 September 2015

Joko Pinurbo; Mengibarkan Sarung dan Celana di Frankfurt

Seorang anak SMA yang menurut pengakuannya belum mempunyai cita-cita, pada suatu malam, menjelang tidur, membaca sepenggal puisi Sapardi Djoko Damono, “masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi.” Setelah itu ia jatuh cinta pada puisi.
Selain itu, ia pun tergugah dengan puisi “Kwatrin tentang Sebuah Poci” yang ditulis Goenawan Mohamad. Begini penggalannya, “Apa yang berharga dari tanah liat ini / selain separuh ilusi? / sesuatu yang kelak retak / dan kita membikinnya abadi.”
Joko Pinurbo, bocah SMA tadi, kemudian menjadi seorang penyair. Ia yang lahir di pelosok Sukabumi itu, dalam rentang waktu 15 tahun sejak buku pertamanya terbit pada 1999, telah menghasilkan 12 buku kumpulan puisi. Baru menerbitkan buku kumpulan puisi di usia 37 bukan berarti ia baru menulis puisi di usia itu juga. Sejak remaja puisi-puisinya telah banyak lahir.
12 buku puisi dalam waktu 15 tahun memang pencapaian Joko yang cukup produktif. Dalam proses penciptaan puisi-puisinya, ia selalu membawa blocknote kecil. Di sanalah ia menggodok dan mematangkan puisi-puisinya. Kadang-kadang ia pun menggunakan telepon genggam untuk menampung lintasan ihlam yang mampir di kepala. Semuanya itu kemudian ia endapkan, dan dibuka kembali ketika malam mulai larut, saat segalanya begitu sunyi.
“Selalu selepas tengah malam, itu jernih, pada saat saya santai, tidak memikirkan beban hidup,” tuturnya.
Menurut Gramedia Pustaka Utama, sebagai salah satu penerbit buku-buku kumpulan puisi Joko Pinurbo, karya penyair yang pernah meraih penghargaan Anugerah Sih Award 2001 itu telah ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda. Yayasan Lontar memang pernah menerjemahkan kumpulan puisinya yang berjudul “Tubuh Pinjaman” menjadi “Borrowed Body and Other Poems”.
Hari ini, baik di kalangan penyair maupun di mata pembaca puisi-puisinya, ia lebih dikenal sebagai “si penyair celana”. Joko pernah menjelaskan bahwa ia “menemukan” diksi celana bertolak dari pembacaannya terhadap puisi-puisi Indonesia yang berkutat seputar suasana bentang alam seperti senja, langit, hujan, debur ombak, kabut, dll.
Tapi “penemuan” celana pun bukanlah hal yang mudah. Menurut Joko, ada proses yang panjang dalam menemukan gaya ungkap yang cocok bagi dirinya. Saat diwawancara AlineaTV, ia menjelaskan:
“Jadi memang setiap pengarang atau khususnya setiap penyair, memerlukan kesabaran tersendiri di dalam proses kreatif untuk bisa menemukan gaya ungkap yang cocok bagi dia. Dalam kasus saya, saya sampai duapuluh tahun belajar untuk akhirnya menemukan celana. Nah pesan itu yang ingin saya sampaikan terutama, bahwa dalam kasus saya, saya memerlukan waktu bahkan sampai duapuluh tahun untuk belajar berpuisi.”
Meskipun puisi yang bertema celana sudah ia buat sejak 1996, yaitu pada trilogi celana; “Celana 1”, “Celana 2”, Celana 3”, namun rasa-rasanya yang paling diingat para pembaca adalah puisi “Celana Ibu” yang ia tulis di tahun 2004.
“Maria sangat sedih menyaksikan anaknya / mati di kayu salib tanpa celana / dan hanya berbalutkan sobekan jubah / yang berlumuran darah. / Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati / pagi-pagi sekali Maria datang / ke kubur anaknya itu / membawakan celana / yang dijahitnya sendiri / dan meminta Yesus untuk mencobanya. / ‘Paskah?’ tanya Maria / ‘Pas sekali, Bu,’ jawab Yesus gembira. / Mengenakan celana buatan ibunya / Yesus naik ke surga.”
Selain celana, Joko pun memperkaya daya ungkapnya dalam berpuisi, yaitu dengan menggunakan kata-kata seperti: sarung, telepon genggam, kamar mandi, tubuh, bulan, ranjang, mata, buku, dan kuburan. Dalam eksperimen tersebut, ia tak berpikir dan tak peduli apakah nanti puisinya akan dianggap berhasil atau malah sebaliknya. “Tapi yang penting, ‘wah, ini belum ditulis orang kayak-kayak gini,” ungkapnya.

Di Frankfurt nanti, puisi-puisinya akan ikut hadir. Daya ungkap Joko yang khas, adalah keragaman ekspresi penyair Indonesia dalam bersinggungan dengan kehidupannya. “Celana” yang begitu ia cintai, “ranjang” tempat ia tidur, “mandi” yang terkadang ia takuti, juga “sarung” tempat ia menjingkrung: semuanya akan hadir di sana, di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

John Mc Glynn dan Usaha Menerjemahkan Indonesia

Jelang Frankfurt Book Fair 2015 isu tentang penerjemahan buku, terutama buku sastra Indonesia ke dalam bahasa asing ramai diperbincangkan. Dengan bantuan pemerintah lewat dana subsidi penerjemahan, beberapa buku sastra para pengarang Indonesia akhirnya berhasil diterjemahkan ke bahasa asing. Ini adalah capaian yang akan memperkenalkan karya-karya pengarang kita ke publik luar.
Namun jika melihat ke belakang, kerja penerjemahan karya sastra Indonesia sesungguhnya bukanlah hal baru. Yayasan Lontar, yang didirikan oleh Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, serta John McGlynn, telah melakukan penerjemahan terhadap ratusan karya sastra Indonesia.
John McGlynn, nama asing dari ke empat orang tersebut punya peranan penting dalam penerjemahan karya sastra Indonesia selama ini. Mula-mula, ia sebetulnya mahasiswa Fakultas Seni dan Desain di Universitas Wincosin, Amerika Serikat. Tahun 1970-an, ia tertarik dengan wayang kulit yang diperkenalkan oleh seorang gurunya di kampus. Pada perjalanannya, ketertarikan itu membawanya sampai ke Indonesia.
Setelah tiga bulan tinggal di Malang, ia kemudian pindah ke Jakarta untuk lebih mendalami bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Di sini ia kemudian bertemu dengan Sapardi Djoko Damono, lalu dimulailah persentuhannya dengan beberapa sastrawan Indonesia yang lain.
Pada acara temu penulis, penerbit, dan Komite Nasional baru-baru ini, ketika ditemui John menjelaskan mula persentuhannya dengan kerja penerjemahan.
“Sebenarnya, awalnya bukan karena sastra tapi seni. Dan saya sendiri adalah dalang, dalang Amerika. Saya suka wayang kulit, dan bagaimana untuk mendalaminya? Saya harus datang ke sini. Lama kelamaan bisa fasih bahasa Indonesia. Kemudian sering diminta untuk menerjemahkan,” tutur John.
Sekali waktu di tahun 1985, ketika Sapardi Djoko Damono terpilih menjadi pemenang SEA Write di Thailand, ia diminta oleh penyair tersebut untuk menerjemahkan kumpulan puisinya. Mengingat waktu itu buku sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing sangat minim, maka ia bersama beberapa sastrawan Indonesia yang lain, kemudian mendirikan Yayasan Lontar pada tanggal 28 Oktober 1987. Tujuan pendirian yayasan ini adalah untuk menerjamahan karya sastra Indonesia sekaligus mempromosikan sastra dan kebudayaan Indonesia ke dunia luar.
“Kami menanyakan kenapa sampai sekarang tidak ada lembaga yang dibiayai pemerintah, untuk menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa asing. Di seluruh dunia banyak negara-negara yang punya lembaga penerjemahan atau lembaga yang dibiayai oleh pemerintah untuk mempromosikan kebudayaan melalui sastra. Tapi karena di Indonesia tidak ada lembaga seperti itu, jadi Sapardi, Goenawan, saya, dan Subagio Sastrowardoyo kemudian mendirikan Yayasan Lontar,” terangnya.
Sampai sekarang, setelah 28 tahun perjalanannya, Yayasan Lontar telah menerjemahkan sekira 200 karya Sastra Indonesia ke dalam bahasa asing, dan peran John sebagai penerjemah--meskipun ia bukan penerjemah tunggal, tidak bisa dipandang kecil. Ia telah sering menjadi “pintu gerbang” bagi karya-karya Sastra Indonesia untuk masuk ke dalam pergaulan internasional untuk diapresiasi secara luas.
Ihwal proses penerjemahan karya para pengarang Indonesia ke dalam bahasa asing, John menjelaskan bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Sebagai contoh, ia sendiri butuh waktu sampai 18 bulan untuk menerjemahkan “Pulang” karya Leila S. Chudori.

Ia menambahkan bahwa secara teknis menerjemahkan karya sastra relatif lebih sulit, sebab si penerjemah mesti punya rasa bahasa. Jika hal itu tidak terpenuhi, John mengatakan bahwa buku yang bersangkutan akan dianggap remeh meskipun aslinya bagus.

Kini pada perhelatan Frankfurt Book Fair, ia pun ikut berkontribusi dengan mendukung Komite Nasional dalam mempersiapkan Indonesia yang menjadi tamu kehormatan. Ibarat sayap, John lagi-lagi bersiap membawa karya-karya sastra Indonesia untuk terbang jauh ke dunia luar, berkeliling menyinggahi ruang-ruang baca publik dunia. Dan Oktober nanti, sayap itu akan hinggap di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Ekspresi Berbahasa Triyanto Triwikromo

Pada buku kumpulan cerita pendek yang berjudul “Ular di Mangkuk Nabi”, ada dua orang sastrawan yang memberikan pengantar dan penutup pada karya Triyanto Triwikromo yang dirilis tahun 2009 tersebut. Mereka adalah Goenawan Mohamad (pengantar) dan Budi Darma (penutup). Keduanya mempunyai pandangan yang berbeda. Yang satu seperti hendak meneguhkan, sedangkan yang satu lagi meruntuhkan.
“Menakjubkan dalam dua ketukan”, ungkap si pengantar. Sementara kata si penutup, “Titik berat kekuatan retor bukan dalam menyampaikan gagasan, namun dalam menyampaikan kalimat-kalimat indah dan menarik.”
“Ular di Mangkuk Nabi” terdiri dari 15 kisah yang semuanya dibangun oleh aroma realisme magis, dengan latar dan tokoh--yang karena mayoritas tidak menunjukkan ke-Indonesia-an, serta gaya bertutur yang loncat-loncat, cenderung membuat kumpulan cerpen ini, bagi beberapa pembaca, sulit diikuti dan dinikmati.
Bahasa yang digunakan Triyanto sejak kisah pertama yang berjudul “Iblis Paris”, hingga cerita terakhir yaitu “Malaikat Tanah Asal”, kerap trengginas, namun berpeluang “meninggalkan” pembacanya yang tercecer di belakang, mengejar makna yang ingin si penulis sampaikan.
Kondisi seperti ini, menurut Goenawan Mohamad, karena kisah Triyanto dibangun dalam lanskap imajiner, yang sebagian orang melihatnya sebagai varian dari realisme magis--sejak karya Borges dan Marquez mempengaruhi prosa Indonesia; kumpulan kisah Triyanto disebutnya dengan “dihuni oleh hal-hal yang datang dan pergi seperti dalam waham atau mimpi paling gila.”
Jika menilik buku kumpulan cerita pendek Triyanto yang lain, misalnya yang terbit pada tahun 2003 dan 2004, ada beberapa kisah dengan kalimat-kalimat seperti ini :
“Iblis, yang kau sangka tak memiliki sayap dan kerling mata ungu, selalu tak bisa menyemburkan gerimis pada malam yang perih, Ibu.” (“Malam Sepasang Lampion”)
“Ah, mungkin saya memang anjing kurap. Kalau bukan anjing, tak mungkin mata saya ditampar oleh seonggok tahi ketika hendak beol di toilet Bandara King Abdul Aziz. Kalau saya manusia terpuji, tak mungkin selangkangan saya sobek saat melakukan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.” (“Sayap Anjing”)
Budi Darma menjelaskan, bahwa pasca sastra Indonesia meninggalkan ke-Melayu-an di penghujung 1920-an; retorik, bentuk, dan bunga-bunga bahasa dalam sastra Indonesia cenderung mulai berkurang, para pengarang mulai lebih memperhatikan isi. Menurutnya, hal ini menjadikan bahasa sastra lebih straightforward, langsung, dan lugas.
Pada karya Triyanto, Budi Darma menilai bahwa ada gejala tentang zaman yang kembali berulang. Dengan membaca dua contoh kutipan yang disebutkan sebelumnya, agaknya bukan hanya pada “Ular di Mangkuk Nabi” saja yang dilekatkan oleh penulis “Orang-orang Bloomington” itu, ketika berhadapan dengan karya Triyanto yang lain, barangkali berlaku tentang sastra yang melarikan diri dari kaidah.
Lebih lanjut Budi Darma menjelaskan, pada genre tertentu, sastra terikat oleh kaidah bahwa retorik memerlukan argumentasi dan logika, artinya segala sesuatu bukan hanya enak didengar, namun juga logis. Selain itu, juga mesti plausibility (mungkin terjadi), dan life-likeness (seperti dalam kehidupan nyata).
Triyanto Triwikromo yang karya pertamanya terbit di tahun 1987 dan berjudul “Rezim Seks”, selain banyak menulis cerita pendek, juga rajin membuat puisi. Dua buku kumpulan puisinya yang berjudul “Pertempuran Rahasia” (2010) dan “Kematian Kecil Kartosoewirjo” (2015), berhasil menarik perhatian para pembaca puisi.
Berbeda dengan beberapa cerita pendeknya, pada puisi, Triyanto justru lebih lugas dalam berbahasa. Pada kumpulan puisi yang hanya mengorbitkan satu tokoh, yaitu Kartosoewirjo, ia menulis kalimat-kalimat yang jernih dan tajam. Sejumput kegetiran di akhir riwayat petualangan pemimpin DI/TII itu, larut dalam sejumlah pertanyaan kontemplatif yang menggugah :
“Apakah aku samudra dan Kau hanyalah sungai kecil / apakah aku tak terhingga dan Kau hanyalah ketiadaan / apakah aku hukum dan Kau hanya hakim di luar peradilan / apakah aku jawaban dan Kau hanya pertanyaan sepele sebelum ujian / apakah aku cahaya dan Kau hanya gelap setelah hujan?” (“Gusti, Apakah Kau Juga Kesepian”)
Pada puisi lain yang berjudul “Ganti Baju”, dua kalimat yang ditulis Triyanto, barangkali telah berhasil membuat pembaca—mengutip Chairil, berdegap hati :
“Apakah pelayat perlu baju baru untuk bergegas ke makam? / Apakah kau perlu baju baru untuk menjemput kematianmu?”
Dalam perjalanan kepengarangannya, selain karya-karyanya yang telah disebut di atas, penulis kelahiran Salatiga ini juga telah melahirkan; “Ragaula” (2002), “Anak-anak Mengasah Pisau-Children Sharpening The Knives” (sebuah dwilogi di tahun 2003), “Celeng Satu Celeng Semua” (2013) dan “Surga Sungsang” (2014). Selain itu, ia pun hadir antologi cerita pendek pilihan harian Kompas, yaitu “Smokol”.

Oktober yang akan datang, buku-buku cerita pendek dan puisi Triyanto Triwikromo akan hadir di Frankfurt Book Fair 2015. Bentuk ekspresinya dalam berkisah telah memperkaya ragam kesusastraan Indonesia. Beberapa kisahnya disebut oleh Goenawan Mohamad dengan, “Bagaimanapun ganjilnya peristiwa yang digambarkannya, cerita-cerita pendek ini tidak pernah awut-awutan.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

02 June 2015

Flaneur, Blog, dan Nasib Kata


Pada peringatan 100 tahun Albert Camus beberapa waktu ke belakang, di linimasa jejaring sosial tiba-tiba ramai dengan kata “flaneur”. Flaneur adalah bahasa Prancis yang artinya terkait dengan orang yang suka jalan-jalan, keluyuran di dalam sebuah kota tanpa tujuan yang begitu pasti. Camus adalah seorang flaneur, ini diperkuat dengan banyaknya foto dia yang ambil di ruang terbuka; trotoar, misalnya. Seseorang menulis di twitter untuk mempermudah memahami arti kata flaneur dengan mengutip puisi Chairil Anwar :

Flaneur, pengeluyur mana-suka, pelancong iseng. Mereka pasti ngeh dengan baris dari Chairil ini : “Waktu jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu.”

Ihwal kenapa Camus begitu ramai dibicarakan di linimasa jejaring sosial di Indonesia, barangkali tidak cukup mengagetkan, setidaknya jika membaca kembali sebuah tulisan Goenawan Mohamad (selanjutnya ditulis GM) yang terhimpun di buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. GM menulis bahwa ketika Asrul Sani pada tahun 1950-an berkunjung ke Eropa, dia menulis sepucuk surat yang kemudian dimuat di sebuah majalah kebudayaan di Indonesia tentang apa yang dialaminya. Dalam surat itu Asrul Sani menyebut Camus, dia terpikat dengan pemikirannya. Beberapa waktu kemudian Asrul Sani menerjemahkan sebuah lakon karya Camus : Caligula. Selain itu, La Paste, novel Camus, terbit di tahun 1984 yang diterjemahkan oleh Nh. Dini, salah seorang sastrawan Indonesia.

Flaneur, hanyalah sisi lain dari Camus, atau barangkali sisi lain yang hanya diperbincangan di Indonesia. Tapi ada yang menarik, setidaknya dalam imajinasi saya; jika linimasa diibaratkan kota, dan kata adalah manusia, kira-kira bagaimana nasib Kata (dengan ‘K’ besar)?

Karlina Supelli, dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada tanggal 11 November 2013, di Teater Jakarta, menyebutkan bahwa “informasi menggantikan kebenaran.” Kata, sebagai alat untuk menyampaikan informasi (benar ataupun salah) dan kebenaran, di titik ini bisa dimaknai lebih dalam. Dia bisa saja hanya sehimpunan ucap “aborsi” yang tertulis, terhambur prematur, atau muntah begitu  saja tanpa terbebani apa pun yang mengalir dari lereng pikiran dan pemahaman. Dia bisa juga menjadi “seorang” flaneur di linimasa berkapasitas 140 karakter. Ya, di kota yang sempit itu, dia bisa melancong iseng, bebas, sekaligus terbatasi.

Jika menilik ke beberapa linimasa jejaring sosial yang beragam, ada satu kecenderungan bahwa Kata sebagai pelaku penyampai komunikasi, kerap bernasib lemah. Dia seringkali hanya dipakai untuk menyampaikan komentar (sebuah pengertian untuk sesuatu yang kurang menitikberatkan gagasan), curhat, keluhan banal, dan adu argumen tak lengkap (twitter menyebut ini dengan ‘tweetwar’).

Salahsatu pokok dari delapan poin Siasat Kebudayaan yang disampaikan Karlina Supelli adalah; “Membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius, bukan sekadar melempar komentar.” Jika ‘berpikir serius’ diidentikkan dengan kemauan untuk memilih kata dengan baik, berusaha menyampaikan gagasan dengan jelas, dan ada jeda untuk berpikir yang dalam dan terukur, maka barangkali mayoritas lalulintas linimasa memposisikan sebaliknya.

Dalam ruang publik Kata, sebelum kita larut dalam linimasa seperti sekarang, kita terlebih dahulu mengenal yang namanya blog. Meskipun bisa diakses oleh siapa saja seperti halnya jejaring sosial yang dikenal belakangan, namun blog lebih memberikan ruang untuk menuangkan gagasan secara lengkap. Kalau pun “gagasan” dianggap terlampau “mengawang-awang”, setidaknya curhat pun bisa lebih leluasa mengalirkan hujan emosi dan sensasi-sensasi. Blog memberikan ruang untuk menakar Kata, di sana segala yang ingin disampaikan bisa dihela perlahan-lahan. Jika linimasa adalah jalan, maka blog ibarat rumah. Jika linimasa adalah arena berlari, maka blog adalah tempat istirahat untuk memulihkan energi. Jika linimasa arus deras, maka blog adalah aliran yang bergerak perlahan. Bila linimasa tempat rantau, blog adalah kampung halaman.

Mengertilah kita, kenapa Irwan Bajang--seorang pegiat buku--membuat semacam proyek “mudik” ke blog. Dia mengajak siapa saja yang “pernah” punya blog, untuk kembali ke rumah lamanya untuk sekadar mencabuti rumput liar di halaman rumah. Saya tidak bisa membuktikan dengan angka, namun sekarang ini meninggalkan blog dan bergiat di linimasa bukan lagi sebuah gejala, namun barangkali sudah menjadi budaya. Kita dengan begitu masif menjelma menjadi penikmat respon cepat yang bermujud dalam hujan komentar dan perang argumentasi tawar.

Seorang kawan bilang, “dulu beberapa saat setelah bangun tidur, kita biasanya menulis di blog, sekarang langsung berselancar di linimasa.” Ibarat panggung, blog tidak terutama dibangun dengan gebyar penonton, tempik-sorak, dan hingar-bingar tetabuhan. Dia laksana mimbar kuliah subuh di mula pagi, tempat orang-orang meniti jalan sunyi, mengais sebisa-bisa “arti” yang tersembunyi. Tidak semua memang, sebab di perpustakaan digital raksasa bernama Google pun kita bisa dengan mudah menemukan blog yang berisi cerita-cerita pembangkit birahi. Namun justru semakin menguatkan, bahwa blog bisa sangat leluasa untuk mendedahkan hasrat purba sekalipun. Sebagaimana rumah, kita pun mengenal yang namanya rumah bordil.

Perkembangan piranti digital yang bersemayam dalam gadget, yang kita mengikuti (salahsatunya) untuk sekadar berkomunikasi dalam lautan linimasa, mencuatkan satu identifikasi; bahwa hal yang paling dekat dengan kita, hari ini, adalah Kata. Frase “siasat kebudayaan” sangat mungkin untuk diawali dari yang paling dekat itu. Kata adalah jalan, yang siapa pun bisa menempuhnya. 

Dalam dua ruang yang berbeda, blog dan linimasa, setiap kita dan Kata selalu punya pilihan; menjadi flaneur atau merawat rumah sendiri. Atau mungkin keduanya; keluyuran dulu sepuasnya, untuk kemudian pulang meredakan lelah. Dan di atas keduanya, nasib Kata dipertaruhkan. [ ]

Pernah dimuat di Tribun Jabar edisi Sabtu, 23 mei 2015

23 April 2014

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]

09 December 2013

Nasib Kata


Pada peringatan 100 tahun Albert Camus baru-baru ini, di linimasa jejaring sosial tiba-tiba ramai dengan kata “flaneur”. Flaneur adalah bahasa Prancis yang artinya terkait dengan orang yang suka jalan-jalan, keluyuran di dalam sebuah kota tanpa tujuan yang begitu pasti. Camus adalah seorang flaneur, ini diperkuat dengan banyaknya foto dia yang diambil di ruang terbuka; trotoar, misalnya. Seseorang menulis di twitter untuk mempermudah memahami arti kata flaneur dengan mengutip puisi Chairil Anwar : 
Flaneur, pengeluyur mana-suka, pelancong iseng. Mereka pasti ngeh dengan baris dari Chairil ini : “Waktu jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu."
Ihwal kenapa Camus begitu ramai dibicarakan di linimasa jejaring sosial di Indonesia, barangkali tidak cukup mengagetkan, setidaknya jika membaca kembali sebuah tulisan Goenawan Mohamad (selanjutnya ditulis GM) yang terhimpun di buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. GM menulis bahwa ketika Asrul Sani pada tahun 1950-an berkunjung ke Eropa, dia menulis sepucuk surat yang kemudian dimuat di sebuah majalah kebudayaan di Indonesia tentang apa yang dialaminya. Dalam surat itu Asrul Sani menyebut Camus, dia terpikat dengan pemikirannya. Beberapa waktu kemudian Asrul Sani menerjemahkan sebuah lakon karya Camus : Caligula. Selain itu, La Paste, novel Camus, terbit di tahun 1984 yang diterjemahkan oleh Nh. Dini, salah seorang sastrawan Indonesia.

Flaneur
, hanyalah sisi lain dari Camus, atau barangkali sisi lain yang hanya diperbincangan di Indonesia. Tapi ada yang menarik, setidaknya dalam imajinasi saya; jika linimasa diibaratkan kota, dan kata adalah manusia, kira-kira bagaimana nasib Kata (dengan ‘K’ besar)?.

Karlina Supelli, dalam Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada tanggal 11 November 2013, di Teater Jakarta, menyebutkan bahwa “informasi menggantikan kebenaran.” Kata, sebagai alat untuk menyampaikan informasi (benar ataupun salah) dan kebenaran, di titik ini bisa dimaknai lebih dalam. Dia bisa saja hanya sehimpunan ucap “aborsi” yang tertulis, terhambur prematur, atau muntah begitu saja tanpa terbebani apa pun yang mengalir dari lereng pikiran dan pemahaman. Dia bisa juga menjadi “seorang”
flaneur di linimasa berkapasitas 140 karakter. Ya, di kota yang sempit itu, dia bisa melancong iseng, bebas, sekaligus terbatasi.

Jika menilik ke beberapa linimasa jejaring sosial yang beragam, ada satu kecenderungan bahwa Kata sebagai pelaku penyampai komunikasi, kerap bernasib lemah. Dia seringkali hanya dipakai untuk menyampaikan komentar (sebuah pengertian untuk sesuatu yang kurang menitikberatkan gagasan), curhat, keluhan banal, dan adu argument tak lengkap (twitter menyebut ini dengan
‘tweetwar’).

Salahsatu pokok dari delapan poin Siasat Kebudayaan yang disampaikan Karlina Supelli adalah;
“Membangkitkan kembali kebiasaan berpikir serius, bukan sekadar melempar komentar.” Jika ‘berpikir serius’ diidentikkan dengan kemauan untuk memilih kata dengan baik, berusaha menyampaikan gagasan dengan jelas, dan ada jeda untuk berpikir yang dalam dan terukur, maka barangkali mayoritas lalulintas linimasa memposisikan sebaliknya.

Dalam ruang publik Kata, sebelum kita larut dalam linimasa seperti sekarang, kita terlebih dahulu mengenal yang namanya blog. Meskipun bisa diakses oleh siapa saja seperti halnya jejaring sosial yang dikenal belakangan, namun blog lebih memberikan ruang untuk menuangkan gagasan secara lengkap. Kalau pun “gagasan” dianggap terlampau “mengawang-awang”, setidaknya curhat pun bisa lebih leluasa mengalirkan hujan emosi dan sensasi-sensasi. Blog memberikan ruang untuk menakar Kata, di sana segala yang ingin disampaikan bisa dihela perlahan-lahan. Jika linimasa adalah jalan, maka blog ibarat rumah. Jika linimasa arena berlari, maka blog tempat istirahat untuk memulihkan energi. Jika linimasa arus deras, maka blog aliran yang bergerak perlahan. Bila linimasa tempat rantau, blog adalah kampung halaman.


Mengertilah kita, kenapa Irwan Bajang--seorang pegiat buku--membuat semacam proyek “mudik” ke blog. Dia mengajak siapa saja yang “pernah” punya blog, untuk kembali ke rumah lamanya untuk sekadar mencabuti rumput liar di halaman rumah. Saya tidak bisa membuktikan dengan angka, namun sekarang ini meninggalkan blog dan bergiat di linimasa bukan lagi sebuah gejala, namun barangkali sudah menjadi budaya. Kita dengan begitu masif menjelma menjadi penikmat respon cepat yang bermujud dalam hujan komentar dan perang argumentasi tawar.


Seorang kawan bilang, “dulu beberapa saat setelah bangun tidur, kita biasanya menulis di blog, sekarang langsung berselancar di linimasa.” Ibarat panggung, blog tidak terutama dibangun dengan gebyar penonton, tempik-sorak, dan hingar-bingar tetabuhan. Dia laksana mimbar kuliah subuh di mula pagi, tempat orang-orang meniti jalan sunyi, mengais sebisa-bisa “arti” yang tersembunyi. Tidak semua memang, sebab di perpustakaan digital raksasa bernama Google pun kita bisa dengan mudah menemukan blog yang berisi cerita-cerita pembangkit birahi. Namun justru semakin menguatkan, bahwa blog bisa sangat leluasa untuk mendedahkan hasrat purba sekalipun. Sebagaimana rumah, kita pun mengenal yang namanya rumah bordil.


Perkembangan piranti digital yang bersemayam dalam gadget, yang kita mengikuti (salahsatunya) untuk sekadar berkomunikasi dalam lautan linimasa, mencuatkan satu identifikasi; bahwa hal yang paling dekat dengan kita, hari ini, adalah Kata. Frase “siasat kebudayaan” sangat mungkin untuk diawali dari yang paling dekat itu. Kata adalah jalan, yang siapa pun bisa menempuhnya.


Dalam dua ruang yang berbeda, blog dan linimasa, setiap kita dan Kata selalu punya pilihan; menjadi
flaneur atau merawat rumah sendiri. Atau mungkin keduanya; keluyuran dulu sepuasnya, untuk kemudian pulang meredakan lelah. Dan di atas keduanya, nasib Kata dipertaruhkan. Dengan permintaan maaf kepada Chairil, saya ingin menutup catatan dengan ini: Waktu menulis, aku tidak tahu apa nasib kata. [irf]


itp, sumur batu