Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

01 August 2014

Maut


Yang terlambat saya sadari, salah satunya adalah bahwa generasi telah berganti. Di kampung, sekarang setiap kali duduk di warung kopi, atau nongkrong di alun-alun, banyak sekali anak muda yang tidak saya kenali. Mereka menyapa, namun saya tertegun dan bertanya-tanya, “siapa mereka itu sesungguhnya?” Beberapa orang yang usianya sama atau tidak terpaut jauh dengan saya, ternyata mengalami hal serupa; semacam gegar generasi. Pada malam takbiran seorang kawan mengeluh, katanya dia duduk di pinggir alun-alun sambil membakar rokok, dan mendapati banyak sekali anak muda yang menyapa dan menyalaminya, namun hanya sedikit yang dikenalinya.
Perubahan ini ternyata adalah pangkal, sedangkan salah satu penyebabnya yaitu kematian. Generasi terdahulu; orang-orang tua yang sering kami temui di mesjid, di alun-alun, di warung kopi, di acara tahlilan, dan beberapa pemuda yang kerap mengadu jago di palagan bola, satu-persatu telah berpulang. Yang tersisa sekarang mayoritas ialah anak baru gede yang dulu, sebelum saya pergi merantau, masih sebentuk bocah-bocah manis yang belum pandai menerbangkan layang-layang.
Waktu seperti bergerak tergesa, dalam kurun waktu 17 tahun semenjak saya meninggalkan rumah, bocah-bocah itu tumbuh subur dalam balutan masa puber yang mendidih. Sedangkan angkatan tua satu-persatu tumbang, yang kata Chairil Anwar; “sebelum pada akhirnya kita menyerah”. Waktu benar-benar hakikat, dia menggulirkan generasi demi generasi, tak terbendung dan meyakinkan.
Maut terkadang datang merayap, tapi seringkali menyambar. Di penghujung Ramadhan kemarin tak kurang dari empat orang kembali menghadap Sang Khalik. Seseorang yang usianya belum genap 40 tahun, setelah sahur pamit sama istrinya hendak rebahan sambil menunggu adzan subuh. Ketika istrinya membangunkan untuk sholat dia telah lewat. Di kampung sebelah ada seorang pemuda yang baru menginjak 34, pada sebuah sore yang manis dia pergi memancing, menjelang maghrib seseorang menemukannya tengah mengambang di sungai, bajunya terkait akar. Entah apa penyebabnya. Sedangkan orang-orang yang usianya telah lanjut kebanyakan “dijemput” ketika terbaring di kamar tidur.
Kematian adalah pasti, sepasti 2+2=4, hanya saja dia diliputi misteri ihwal kapan datangnya. Dalam sebuah sajak yang berjudul “Pastoral” Acep Zamzam Noor menulis :
Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap / Tapi salju / Yang berloncatan bagai waktu / Dan menyumbat pernapasanmu
Maut bukanlah kata-kata / Tapi doa / Yang memancar bagai cahaya sorga / Dan membakarmu tiba-tiba
Tapi meskipun berloncatan dan memancar, namun salju dan cahaya sorga belum mau menyentuh seorang tua yang tempat tinggalnya sekira 20 meter dari rumah saya. Dia seorang mantan Wedana, dan usianya telah menginjak 96 tahun. Tapi seorang tua yang tersisa itu tak mampu membendung pergantian generasi. Dia tak lebih sebagai penanda bahwa sebuah angkatan telah mendahului angkatan berikutnya. Jelas, tak ada seorang pun yang tahu apakah dalam waktu dekat Pak tua itu tengah diintai maut atau tidak.
Sama seperti tak seorang pun yang tahu, termasuk yang mudik kemarin, bahwa angka kecelakaan lalu-lintas yang merenggut nyawa terus memenuhi catatan kepolisian. Dia “mengambil” siapa saja yang dihendaki-Nya, dan menangguhkan siapa yang dikehendaki-Nya.
Begitulah maut, meskipun datang membabat, menggerus pergantian generasi, namun tetap menyimpan aura misteri yang membuat gentar dan menggetarkan. Saya akhiri catatan ini sebelum menjadi khotbah. [irf]

28 July 2014

Sembuh dari Sunyi

Meski sebetulnya enggan, tapi saya kutip juga lirik ini, demi barangkali ada padu padan dengan muaranya :
Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu
Kalimat paradoks tersebut menguar menembus station kereta api, terminal bus, bandara, pelabuhan, dan jalanan. Mudik telah berdiri di tubir titik didihnya yang paling riuh; berbondong-bondong dan dirayakan. Jika sejengkal dari kata “mudik” ada pertanyaan, maka saya hendak menawarkan; “demi apa mudik itu?”
Dari kuliah subuh di mesjid kampung ternyata jawabannya tidak rumit, agama menyediakan kata “silaturahim”. Dan kata tersebut tak main-main faedahnya, katanya dapat memperpanjang usia dan meluaskan rejeki. Namun saya tak hendak berjejak di ranah ini. Ada setapak lain yang coba saya catatkan.
Penulis yang menemukan lampu sorot pada aksaranya agak terlambat tak seperti pada karir musiknya, sempat mengurai sesuatu dengan manis. Pada “Spasi”, Dee menulis begini :
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang?
Anggaplah kita setuju dengan Dee, maka mudik dengan segala kesemramutan dan pesta niaga para pemilik korporat, sejatinya adalah hendak menuai kasih sayang dari para pemberani yang telah merelakan dirinya berjarak, yang pada hidupnya telah mengikhlaskan ada ruang antara satu titik dengan titik yang lain. Antara dirinya dengan kampung halaman. Bila ruang itu bernama rindu, maka mudik adalah hajat sosial yang massal demi melabuhkan rindu yang selama setahun menggantung entah di mana.
Kita tahu bahwa mudik ialah sebuah gerak meninggalkan kota yang dengan segala kemajuannya adalah tempat yang ramai, riuh, sekaligus berisik. Namun naluri kembali ke kampung selalu tak terbendung. Kota yang menawarkan gemerlap, di titik ini hanyalah sebuah paradox; keramaian yang sepi. Sebagian orang mungkin berpendapat, bahwa kesunyian yang mencekik bukanlah dari yang nampak, tapi bersemayam di tempat yang dalam dan tersembunyi. Dia virtual, perubahan cuaca terjadi di langit jiwa.
Sekali waktu penyair Joko Pinurbo pernah menulis sekerat puisi :
Kamu adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi
Di titian kecemasan manusia yang berparade, kata “Kamu” pada puisi tersebut bisa bermakna Tuhan, Kekasih, Kawan, atau apa pun. Namun pada mudik, “Kamu” di sini berarti kampung halaman, tempat mula-mula ari-ari ditadah, yang kerap berhasil melarung rindu sekaligus membebaskan diri dari sunyi kehidupan kota yang mencekik. [ ]

23 July 2014

Postulat Keseimbangan




Di bulan Juni-Juli ini setidaknya ada sekira empat peristiwa besar yang nyangkut di ruang informasi dan emosi kita. Dari Piala Dunia, Pilpres, serangan ke Gaza, sampai Bulan Puasa. Tentu setiap orang berbeda-beda ihwal mana yang hanya sebatas informasi, dan mana yang mula-mula hanya informasi tapi kemudian dibarengi dengan emosi. Pada kedua sikap itu hampir selalu ada gemuruh, entah hanya sebatas komentar alakadarnya, ataupun respon hiperbola yang meluap-luap. Di seluruh gorong-gorong media, empat peristiwa tersebut berparade di titian waktu pemirsa; menggelontorkan informasi, basa-basi, rayuan-rayuan niaga, sampai dusta terang-terangan. Di tengah keramaian itu, jika saya tak silap, ada beberapa potong mozaik yang bila disatukan akan menerbitkan dugaan tentang kebenaran yang remang-remang.  

Saya sempat menyangka bahwa Piala Dunia 2014 akan menjelma menjadi semacam pesta bangsa tiran. Dominasi yang keterlaluan. Bagaimana tidak, Brazil yang sudah menempelkan lima gambar bintang di atas logo federasi sepakbolanya, masih juga hendak menambahnya dengan jalan yang hampir sempurna. Bertindak selaku tuan rumah, memiliki skuad yang rata-rata merumput di seantero liga-liga nomor wahid, terbiasa dengan cuaca tropis, dan berada di group yang tidak terlalu berbahaya, membuat Brazil seolah tinggal selangkah menempelkan gambar bintang yang ke enam. Pada fase group, penonton televisi yang tak senang kepada timnas Brazil mungkin melihat wajah-wajah supporter tuan rumah begitu yakin dan sekaligus menyebalkan. Mereka begitu jumawa. Inilah konco-konco kesebelasan tiran.

Namun pada akhirnya kita tahu, tim tuan rumah yang didukung mayoritas itu mesti mengubur dalam-dalam mimpi agungnya. Dan tak cukup di sana, sebuah noktah memalukan pun terpaksa masuk ke dalam arsip sejarah sebuah bangsa sepakbola yang begitu cemerlang tersebut. Bagi masyarakat Brazil, barangkali kekalahan 7-1 dari Jerman di laga semifinal bukanlah kekalahan yang biasa. Itu adalah trauma yang tak bakal sembuh dengan cepat. Drama berdarah-darah Brazil kemudian ditutup dengan sempurna ketika mereka dibungkam Belanda 3-0 pada perebutan juara ketiga.   

***

Tak ada yang memekakkan ruang informasi, di bulan-bulan ini, melebihi hiruk-pikuk Pemilu Pemilihan Presiden. Dari kampanye sampai hitung cepat, semuanya dikemas dengan perang terbuka skala nasional. Mungkin karena calonnya hanya dua pasang, jadi warga dipaksa berhadap-hadapan, terpolarisasi, berjejak di kutub-kutub yang berlawanan.

Namun terlepas dari serunya pertempuran di “padang kurusetra”, ada satu hal yang menurut hemat saya cukup mengagetkan. Seperti ada dominasi yang cair kemudian luruh. Meskipun kubu Jokowi cenderung akan memenangkan Pilpres, namun jika dilihat dari angka yang beredar di mana-mana, selisih antara dua calon tidak begitu jauh. Dugaan saya, atau mungkin juga banyak orang, Jokowi akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah. Alasannya sederhana saja; sebagai anak emas media (jauh sebelaum pilpres berlangsung) yang melalui corong-corongnya berhasil mempengaruhi ruang olah informasi massa, Jokowi tidak akan sulit menyentuh alam bawah sadar masyarakat. Namun kenyataan berbicara bahwa Jokowi dan segenap tim suksesnya mesti berjibaku, mati-matian dalam mengamankan peluang kemenangan.

Di sini ada hantaman yang mengagetkan. Ada pukulan sporadis yang membuat goyah harapan-harapan. Ada sesuatu yang nampaknya lambat disadari oleh kubu Jokowi.

***

Sebetulnya tanpa ada serangan Israel ke Gaza pun media sosial kita sudah sangat ramai oleh Piala Dunia dan Pilpres yang berlarut-larut. Namun begitulah jadinya, militer berbendera Bintang David terus membombardir sekerat tanah Palestina di Jalur Gaza. Israel tidak akan kaget dengan hujan simpati dan kutukan; simpati untuk Palestina, dan kutukan untuk dirinya. Yang membuat gusar Israel adalah roket-roket Hamas yang berliweran di langit dekat rumahnya. Maka operasi militer jilid 2 (setidaknya dari tahun 2008) pun digelar.

Di benak tentara-tentara Israel sepertinya ada keheranan yang berlapis-lapis; mengapa sekerat tanah itu tak kunjung tunduk dan menyerah?. Pada perang kota militant Hamas begitu menakutkan dan kerap memukul mundur pasukan Israel yang bersenjata lengkap. Ada semacam kekuatan tak kasat mata yang merintangi niat bangsa Netanyahu untuk melumat tanah tersebut.

***

Di hampir empat hari tengah Ramadhan saya menimbang hal-hal di atas. Entah kenapa seperti ada “kasih tak sampai” yang berulang. Dari Brazil sampai Israel. Dari sepakbola sampai senjata. Ada beberapa dominasi yang melemah; Brazil yang gagal juara, Jokowi yang tidak “menang” mudah, dan Israel yang kesulitan menembus tanah jajahan. Sampai kemudian kesadaran itu merayap juga ke bulan puasa; bukankah di bulan ini banyak katup-katup keinginan yang gagal meledak? Hasrat yang tertahan? Dan ambisi yang mereda? Kemudian saya teringat dengan sekerat tulisan Andrea Hirata di novel Padhang Bulan:

“Kurasa itulah postulat pertama hukum keimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat.”

Jika pada Piala Dunia 2018 Belanda menjadi juara, saya kira kiamat tidak akan lagi terlalu lama ditunda. Wallu’alam. [irf]

23 April 2014

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]

06 September 2012

Tentang Kehilangan Anak (Refleksi Arus Balik)

"Kamu dari mana saja Benjamin?!, bikin aku cemas seharian!!," kata Queenie sambil terisak. Adalah Benjamin kecil yang terperangkap dalam tubuh tua, baru sampai rumah, setelah main seharian dan tertinggal trem. Tangannya berdarah karena pegangan pada tongkat yang menyangga tubuh ringkihnya. Mata tua itu memancarkan penyesalan dan sedikit takut. Sementara Queenie---ibu angkatnya yang merawat dia sejak dari bayi---, sambil membersihkan tangan Benjamin yang berdarah, terisak dengan nafas yang penuh dengan kekhawatiran sekaligus lega karena anak ringkih itu telah kembali pulang. Gila!, scene sederhana seperti ini saja terasa begitu keren dan menyentuh.  

Tak banyak film---maksudnya jam terbang saya masih rendah---yang berhasil memotret sisi humanis terdalam ketika orangtua kehilangan anak-anaknya. Sejauh ini, sejauh minat saya kepada film, hanya beberapa saja yang berhasil melakukannya. Selain The Curious Case of Benjamin Button yang gemilang, ada juga Changeling yang dibintangi Angelia Jolie. Film besutan Clint Eastwood ini bercerita tentang bagaimana cemas, khawatir, dan sedihnya seorang ibu yang anaknya hilang karena diculik. Jangan berpikir tentang Jolie di Original Sin, karena kali ini dia tampil dengan cemerlang.  

Tragedi---ataupun peristiwa yang dianggap biasa---kehilangan anak, dalam berbagai bentuknya, selalu menyisakan sebuah trauma, atau setidaknya rasa kehilangan yang---dalam kata2 Chairil Anwar---menekan mendesak. Bagaimana tidak, anak yang dibesarkan dengan darah, air mata, dan ruh itu tiba-tiba harus menghilang dan mungkin tak akan pernah kembali lagi. Seperti hari-hari sekarang ini, ketika reformasi telah berjalan lebih dari satu dasawarsa, titik terang masih belum juga datang bagi para orangtua yang anak-anaknya hilang di sekitar pusaran runtuhnya rezim Orde Baru. 

Jika serpihan tragedi 1998 itu terkesan terlalu hiperbola untuk menggambarkan sisi humanis antara orangtua dan anak, maka lihatlah apa yang baru saja terjadi; Arus balik. Ketika godaan untuk membalikkan nasib jauh dari kampung halaman, maka bersiaplah dengan arus deras urbanisasi. Ini memang persoalan klasik, bahkan dari sebelum saya lahir barangkali. Tapi pernahkah kita membayangkan tentang detik-detik perpisahan itu?. Tentang ibu yang berdiri di pintu, dan anaknya---dengan perbekalan yang kadang2 melihatnya saja kita sudah tahu bahwa dia dari kampung---yang berjalan tanpa gegas, perlahan meninggalkan tanah halaman. Mereka---ibu dan anak itu---tidak pernah tahu, apakah mereka akan bertemu lagi atau malah sebaliknya. Mungkin perhitungannya sederhana, bahwa nanti ketika lebaran tiba mereka akan merayakannya bersama-sama. Tapi tak seorang pun tahu tentang hari esok.

Seorang kawan pernah berkata : "Satu-satunya yang saya ingat ketika bertemu adalah perpisahan." Ini barangkali sebuah pamafrasa pesimis, atau pengkondisian yang terburu-buru. Bahwa kenyataannya perpisahan itu ada memang benar, tapi memikirkan hal pahit yang sudah kita ketahui adalah semacam menyiksa diri sendiri. Maka di seluruh jenak hidup yang kita lewati, yang orangtua dan anak lalui, perpisahan itu selalu ada, kehilangan itu selalu menyertai. 

Arus balik sebagai sebuah peristiwa sosial tentu sudah kenyang oleh analisa, pendapat, dan wacana solusi para akedemis dan birokrat. Tema itu tak jauh dari persoalan sosial yang banal dan terkesan---karena terlalu sering---miskin dramatik. Maka tak heran jika kacamata media pun jarang yang beranjak dari sudut pandang fenomena sosial yang itu-itu saja. Padahal, jika mau melihat ke sisi yang lain, arus balik adalah saat ketika para orangtua kehilangan anak-anaknya. Obsesi tentang nasib yang lebih baik dan meningkatkan strata sosial telah mengguncang lembaga yang bernama keluarga. Ini mungkin tidak berlaku bagi mereka yang "lancar-lancar saja", tapi pada beberapa gelintir orangtua yang anaknya mengalami nasib yang getir, terasa sekali bahwa arus balik yang membawa anaknya pergi ke kota telah dengan jitu memberikan password untuk membuka katup luka yang bernama kehilangan. Meratapi mungkin bukan jalan terbaik, tapi andai saja ada sepotong photo usang seperti gambar di atas (Benjamin yang bermain patung tentara kecil), maka kehilangan adalah nasib terburuk yang paling melankolik. Tapi seperti juga kata Benjamin, bahwa ketika takdir telah berakhir maka yang bisa kita lakukan adalah membiarkannya berlalu.

Ya, lagi-lagi, film telah memberikan sebuah narasi indah tentang bagaimana menyikapi kehidupan yang medannya seringkali sulit diprediksi; Arus Balik, itulah salahsatunya, barangkali. [ ]

16 March 2012

Bung


Telah beberapa bulan saya meninggalkan multiply, melupakan blogspot dan berhenti menulis. Apakah saya semacam sedang sibuk?, ah tidak juga. Biasa saja. Jadi sekarang saya mungkin ingin menulis panjang, tapi tidak panjang banget, biasa saja. Menulis apa?, banyak pisan Bung. Sampai saya bingung harus memulainya dari mana?. Ada ide?. Baiklah, jadi begini mulanya :

Keluarga. Siapa yang tidak punya keluarga?, pasti semua punya, walaupun tentu ada juga yang tidak tahu sama sekali anggota keluarganya, karena misalnya dia dibuang ketika masih bayi, laku orang-orang pengecut yang sering kita lihat di layar kaca, yang membuang bayi merah mereka hanya karena mau enaknya saja tapi tidak mau anak. Setiap orang pasti punya ayunan kehidupan itu, ayunan yang mula-mula melindungi anak manusia dari lebat dan teriknya pergaulan hidup. Tapi sekarang saya melihat ayunan itu banyak yang rusak. Pasutri sering sekali bongkar pasang teman hidup. Banyak betul alasannya : karena ketahuan selingkuh, karena sudah jenuh, karena tidak punya keturunan, dan karena-karena yang lainnya. 

Tapi kalau ada tragedy dalam kosa kata hidup berumah tangga, pasti itu adalah perselingkuhan. Suasana yang mungkin khidmat ketika acara akad, seperti seonggok sampah yang begitu mudah dibakar di atas tungku dengan bara perselingkuhan. Mereka yang berselingkuh itu semacam punya dunia sendiri, dunia yang rumit dan juga mungkin indah bagi mereka, saya tidak tahu persisnya seperti apa. Banyak yang mengecam orang-orang seperti ini, para pelaku selingkuh ini, bagaimana menurut Bung?.

Keluarga. Kenapa saya jadi banyak omong tentang keluarga?, padahal saya belum berkeluarga. Biarin, yang penting menulis saja. Seperti beberapa bulan ke belakang ketika saya agak banyak menulis, tulisan tak berstrukstur, loncat-loncat, tidak pernah benar-benar asli. 

Dalam keluarga selalu ada kisah. Salah satunya adalah kepergian orang-orang tercinta. Pergi menuju keabadian, meninggalkan hakikat dunia yang serba sementara. Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya dengan cinta, darah, dan ruh?. Apa gerangan balasan yang pantas diberikan untuk orang yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan?. Bahkan jika kau berdo’a di tengah malam gelap dan dingin, melepaskan do’a-do’a terbang ke langit tinggi, hanya untuk kebahagian ibumu di alamnya yang baru, sungguh itu tidak akan sanggup membalas kasih sayang yang mengalir deras yang telah diberikan ibumu. Di zaman khalifah Umar bin Khatab, ada seorang pemuda yang merawat dan berbakti kepada ibunya yang telah tua dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, tapi entah kenapa pemuda itu masih sempat bertanya kepada khalifah, “wahai amirul mukminin, apakah pengabdianku telah cukup untuk membalas kebaikan ibuku?”. “Tidak”, jawab khalifah, “karena engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya, sedangkan ibumu merawat engkau sambil mengharap kehidupanmu”. Kepergian orang-orang tercinta adalah masa ketika kita tersadar bahwa mereka yang telah pergi itu tiba-tiba saja meninggalkan ruang kosong yang sangat besar di kehidupan kita. Memperbaiki atau meningkatkan kualitas hubungan dengan orang-orang tercinta, mungkin sebuah langkah bijak sebelum segalanya terlambat. Kenapa saya menjadi seperti serius begini?, tapi biarin, sekarang mari kita lanjutkan. 

Telah berulang-ulang saya menulis tentang kecintaan saya pada buku, pada kertas yang dilem punggung nya itu. Pada benda yang di dalamnya berderet-deret jajaran aksara, pada benda yang dapat mengapungkan imajinasi, memanjangkan harapan, dan membakar semangat itu. Seperti yang telah saya tulis pada beberapa waktu ke belakang, bahwa yang menumbuhkan minat saya pada buku, mulanya adalah semacam sebuah buku otobiografi seorang mantan mahasiswa yang tidak lulus di dua perguruan tinggi yang berbeda di kota Yogyakarta. Nama penulisnya tidak usahlah saya sebutkan.

Lalu saya bersentuhan dengan buku-buku Pramoedya. Dan buku dia yang pertama ingin saya beli adalah “Bumi Manusia”. Berjompaklah keinginan saya itu sebagai ombak yang menderu di laut luas ketika saya melihatnya di sebuah toko buku ternama di negeri ini. Antara sebentar saya bolak-balik depan dan belakang, membaca apa yang ada di permukan buku itu. Beberapa waktu lamanya saya bertingkah demikian zonder membeli, karena uang sedang tidak ada. Beberapa bulan lamanya saya tidak bisa membeli buku itu, sampai ketika uang sudah ada, maka bersegeralah saya beli buku itu sebagai orang lari ke toilet karena mau ada sesuatu. Buku yang tebal itu saya habiskan dalam waktu yang tidak lama, berbeda dengan kalau saya membaca kitab suci, satu bulan pun belum tentu bisa selesai, saya memang semacam sedang turun imannya waktu itu. Tapi memang sebenarnya bukan waktu itu saja saya mengalami penurunan iman, sebab yang namanya iman pasti bertambah dan berkurang (yazid wayankus). 

Ah, itu mungkin cerita tentang minat. Tentang ketertarikan. Tentang hening senyap perangkap yang terpasang pada sebuah buku. Kalau ada orang yang sedang murung atau bersedih, cobalah beliau itu dikasih sebuah novel yang bagus, kasih dia amsal atau umpama untuk dikunyah dalam kesedihannya. Biar beliau tahu bahwa peserta kehidupan di alam luas ini bukanlah beliau saja. Tapi jangan sekali-kali kau sodorkan novel cabul karangan para aktivis liberal, sebab sungai yang airnya dangkal sangat sulit untuk dijadikan tempat menyelam. Biarkan saja mereka terus berkarya, dan kita harus melawannya dengan karya juga. Biarkan saja mereka mabuk dalam puber intelektual, dan kita harus semakin “merunduk” dalam aktivitas pencarian ilmu. Jangan membakar buku, tapi bakarlah pemahamannya dengan keyakinanmu. Kalau akhirnya hidup hanya terpolarisasi pada dua kutub, maka pilihan itu sangat jelas. 

Pasti Bung sudah tahu, atau setidaknya pernah mendengar kata-kata ini : “pemuda sekarang adalah pemimpin masadepan”. Lalu pemimpin macam apa yang akan kita temui kelak jika candu telah merasuk dan merusak tunas-tunas muda itu?. Di pagi yang masih awal dan sangat manis, terdengar rintihan pemudi yang sedang “operasi” aborsi, hanya karena dia kurang cerdas dengan lupa membawa pil anti hamil. Di halte-halte penuh vandalisme, banyak betul ragam anak muda itu, hampir semuanya menghadirkan cermin buram, kecuali beberapa belia penyuluh di malam kelam, para penyebar kesejukan di tengah sahara bangsa. Ah, cermin buram itu mungkin saya, atau mungkin Bung sendiri, atau mungkin gadis-gadis mekar yang durasi wanginya pendek, karena angin perubahan terlalu cepat hinggap, angin itu adalah kematian, kematian apa?, kematian hati nurani. Saya tidak ingin menjadi ringkih hanya karena dibantai persoalan yang tak habis-habis. Bung sendiri, bagaimana inginnya?. 

Hei Bung, kau dengar itu sedun sedan?, itu bukan orang yang sedang menangis, tapi sedang tertawa, menertawakan komedian banci yang semakin hari makin menjamur. Selera humor kita ternyata hanya sebatas adegan konyol seorang banci ya Bung?, ah, kau pasti tak setuju. Kau pasti punya selera humor lebih tinggi. Atau kau bukan seorang humoris melainkan seorang melankolis?, karena setiap hari tidak pernah absen menonton kawin cerai para artis?. Ah, kau tentu lebih tahu jawabannya Bung. 

Hukuman apa kira-kira yang pantas dikalungkan di leher si pengkhayal?. Panjang angan-angan, idealisme constract, pengagung simbol-simbol, banyak cakap tapi tak pernah meninggalkan jejak. Berbicara dengan orang seperti ini mungkin namanya bukan diskusi, tapi debat kusir. Sudah saatnya meninggalkan para penggerutu, pasukan bersemangat seremoni akan tercecer di belakang. Apakah kau sudah merasa akan masuk surga?, padahal belumlah datang cobaan itu. Yang putus asa kembali mengurung diri di surau-surau dan gubuk-gubuk sambil tersedu sedan mengutuki kehidupan yang tidak ideal. Betapa banyak para pengagum pahlawan sampai akhirnya lupa untuk meneladani. Nasionalisme bisa diframe pada visual pemuda tengik yang tersedu sambil mencium kain bendera. Lalu setelah menjadi anggota laskar di panggung 17-an, pemuda itu kembali tersungkur di got dengan kondisi mabuk berat, dibantai local wine nomor wahid. Inikah pemimpin masadepan itu?, Bung tentu tertawa mendengarnya sebagai bocah sedang bercanda dengan kawannya. 


Ya, saya yakin Bung, suatu saat nanti para belia penyuluh di malam kelam itu akan hadir memenuhi setiap gang di Jakarta, bahkan di seluruh penjuru negeri. Pasukan itu kini tengah bekerja, menahan laju ahzab sekutu. Generasi macam apa yang berbekal kayu, batu, pedang, senapan angin, dan bom Molotov, hanya untuk mempertahan gengsi blok hunian?, nasionalisme turun pangkat : dari gengsi Ambalat mejadi sepetak dua petak wilayah kelurahan. Begitulah jadinya jika tanah yang dipijak telah dijadikan Tuhan. Jargon kebangsaan berleleran dari mulut si Tuan, dan orang-orang perlahan berubah menjadi rakyat kerajaan. Para penyuluh itu bekerja dalam sunyi, mereka senyap tapi tidak diam, bergerak dan terus bergerak, karena diam adalah kematian. Lalu ada segerombol manusia menyerang, menjegal dan memfitnah saudaranya sendiri, sementara kewajiban jadi terlupakan. Proyek kebajikan hanya jadi sampah, sumpah serapah dan kebencian. Terbuat dari apa hati orang-orang yang dengki itu?. Si pintar menjadikan ilmunya hanya menjadi barang koleksi, dan gelar bergerbong-gerbong hasil menuntut ilmu di luar negeri hanya menjadi penghias di selembar surat undangan dengan catatan kaki : “mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar”. Yang dituding tidak nasionalis malah pulang ke tanah air dengan membawa ilmu dan bergiat membangun negeri. Ajaib dunia ini, yang bercita-cita besar sering dikerdilkan, dan yang bercita-cita (kalau ada) kerdil sering dibesar-besarkan. 

Kemudian ada angin lalu, semilir bahkan tidak terasa. Bunyi merdu seperti apa yang dapat dihasilkan dari tong kosong yang kelewat sombong?. Setajam apa pun serangan itu, tidak dapat menghentikan laju azzam yang tengah dipupuk. Headline koran-koran dengan huruf menyala setiap hari menyambut pagi, bahkan ketika sesuap nasi belum sampai ke kerongkongan. Ya, perang itu telah berkobar, di gincu-gincu istilah : hak asasi manusia, dunia tanpa teror, kesetaraan gender, kebebasan tanpa batas, dll. Yang tak siap langsung terbunuh dengan serangan kata, padahal belum datang kepadanya serangan senjata. Pembunuhan karakter dilontarkan pers quo vadis, lalu yang bermental klarifikatif bergiat membuat press release. Basa-basi komunikasi dengan media yang penuh benci hasilnya telah terbukti : bahwa media harus dilawan dengan media, apalagi rakyat kerajaan adalah ayam negeri yang gampang digiring, solidaritas salah kaprah, dan rentan kematian massal. Kampus-kampus mesin sekularisme bertekuk lutut ketika angin perubahan berhembus kencang, belia-belia yang resah, teguh berjama’ah, menyeru dan menyuburkan jalan yang hanif itu. Para penguasa korup terlambat menghadang gerakan kembali ke “identitas”, dan perlahan jundi-jundi itu mengantar masyarakat kembali ke haribaan fitrah. Perang abadi bukanlah symbol melawan substansi, bukan pula profan melawan sakral, melainkan kebenaran melawan kebatilan. Maka yang merasa memonopoli kunci-kunci kebenaran silahkan memperhatikan. 

Kemenangan abadi bukanlah di dunia kasat mata, sebab peradaban yang sejati bukan pada tujuh keajaiban dunia, melainkan kemenangan di alam jiwa. Mesjid harapan bukanlah yang megah memakan dana ummat lalu setelah itu dilupakan, melainkan tempat jiwa-jiwa bertemu, saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Haruskah pula diwajibkan latihan baris-berbaris di lapangan dengan teriak dan gertak?, sementara lima kali pertemuan dalam sehari telah begitu rapi, disiplin, dan anggun. Diperlukan petani-petani baik dan bisa dipercaya untuk menanam benih, menyiram, menyiangi, merawat, dan menyingkirkan hama dari tunas-tunas muda yang bersemangat itu. Karena burung kecil pun menyukai padi yang sedang berbuah. Tumpukan kertas yang punggungnya dilem kuning idealnya menjadi penggagas perubahan, pembebasan, dan keberanian. Bukan malah menjadi labirin gelap yang membuat si pembaca berputar-putar mencari pintu keluar. Alangkah malang si Tuan yang dimakan senjatanya sendiri, lalu teriak minta tolong di situs-situs jejaring social. Alangkah mudah mengeja huruf-huruf sejarah, mencintai kata-kata bertuah, menggandrungi karya-karya bersengat, tapi efek yang ditimbulkan tidak lebih dari tipikal seorang kolektor barang antik, tragis. 

Hari ini harus kembali ditegaskan, bahwa gradasi adalah warna yang luruh dari warna aslinya. Ketika berjuta petak dan rumah kotak mau memboikot segala tayangan sampah, maka si penebar stigma akan kelimpungan memakan rating yang semakin menukik, dan si modal besar akan angkat kaki dari firma-firma corong itu. Sudah berapa tahun bangsa Tuan merdeka?. Haruskah kembali menjejalkan kata dewasa kepada bangsa yang masih belum bisa menurunkan penumpang dari atas gerbong kereta, menjadikan sungai sebagai kloset, shelter-shelter penuh vandalisme, dan wilayah niaga penuh licik dan dusta?. Siapa yang mau bertanggungjawab?. Tangis bocah akan lebih anggun jika dibandingkan umat yang menangisi keadaan tanpa berbuat sesuatu apa pun. Ya, klaim diri yang paling benar memang begitu manis diucapkan, sambil menunggu Ratu Adil , Satrio Piningit, atau bahkan menunggu kehidupan ideal seperti zaman para penghulu pembawa risalah, sambil menafikan kondisi zaman dan tak pernah membaca tanda-tanda zaman. Dalam gerak ada berkah, karena setiap genangan air selalu menyisakan bau busuk. Setiap penyuluh di malam kelam harus siap terasing, sedikit pengikut, dan mata hati yang sadar jaga. 

Bung, apakah kau masih menjadi pencinta senda gurau?, lalu kau mengutip ayat bahwa dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka. Apakah orang-orang serius tidak pernah bercanda?. Sangat parsial jika perspektif hanya dari satu titik, lalu dengan style yakin mendeklarasikan kemerdekaan dan kesenangan hidup, kemudian memvonis orang lain sebagai si pencinta dunia, seolah kau tak mencintai dunia dan sangat pede akan beroleh berkah dari hidup ala seniman tanggung. Berderet generasi seperti tak habis-habis, yang mengeluh sepenuh kesah : “hidup untuk diri sendiri sudah demikian sibuknya, tak terbayangkan jika ditambah dengan hidup untuk orang lain”. Bukan tiba-tiba jika kemudian tetangga begitu acuh dan sinis, sahabat semakin jauh, orang tua dan saudara menjadi lupa, karib kerabat entah kemana. Take a look around. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Tegur sapa mendo’akan keselamatan kini mahal harganya, karena tak pernah mengenyangkan perut si pengucap, atau anjuran konyol dari seorang ningrat untuk mengubah “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”. Maka mati ketawalah bangsa ini seperti kata pengantarnya pada sebuah buku, mengerikan. Telah hadir semenjak beberapa dekade lalu, satu generasi yang terlihat dari gurat wajahnya, sorot matanya, dan senyumnya yang menyimpan kesedihan kepada bangsa yang malang ini, sembari bekerja, berjuang dan meniti jalan dengan sepenuh azzam, mengajak orang-orang kembali ke haribaan fitrah. “Bangkitkan negeri, lahirkan generasi, pemuda harapan, tumbangkan kedzoliman.” (Izzis)

Sekarang dan bahkan seharusnya dari dulu, istilah ‘wanita tuna susila’ punya kembaran : ‘pria tuna susila’, sebab memilih terjerembab bukan monopoli satu gender. Alangkah malang nasib perempuan, dulu banyak dari kaumnya yang pernah melahirkan para aktor pencerah peradaban, kini banyak yang berteriak lantang karena merasa tak kebagian peran, lalu menyalahkan agama langit. Tapi mereka tak berani membuktikan gugutannya itu, yang paling berani pun tak punya nyali untuk memproklamasikan diri keluar dari agama yang hanif ini. Masih diperlukan beribu-ribu lembar catatan sejarah untuk perempuan seperti ini. Padahal sudah sangat jelas derajatnya : “ibu, ibu, ibu, baru bapak”. Tidak akan pernah terdengar kata-kata “surga ditelapak kaki bapak”, bukan?. Yang merasa gembong gerakan kesetaraan gender lalu berkata : “ah, itu cuma rayuan, agar kita tidak melawan”. Dan jalan itu akan selalu terbentang, memanggil para penyuluh di malam kelam untuk selalu siap, taat, dan berjaga di garis depan. Masih banyak lahan gersang untuk dijadikan subur dan produktif, masih banyak “mulut-mulut” lapar menunggu uluran, dan masih diperlukan stok kesabaran yang berlimpah untuk meneruskan perjalanan. 

Di dalam bus transjakarta sangat jelas tertulis “dilarang makan, minum, dan merokok”, tapi aneh ada tong sampah di hampir semua armadanya. Buat apa?. Apakah untuk mentoleransi pelanggaran?, maka suatu hari dapat Tuan temui seorang asing tersenyum ganjil. Ini persis seperti larangan berjualan di trotoar dan bahu jalan, lalu setiap hari, minggu, dan bulan, petugas berseragam menarik retribusi dari jejeran kaki lima itu. Logika yang terpenggal. Dan masih banyak lagi logika-logika lain yang jungkir balik, cenderung mengada-ada, dan sampai sekarang masih ada. Bukan otak para pelakunya yang pandir, tapi telah terjadi cacat virtual yang telah lama dan akut. Tidak perlu menjadi sufi untuk bisa menerbangkan pesawat, apakah seseorang tidak bisa membuat gerbong kereta hanya karena dia seorang agnostic?, dan seorang atheis pun masih bisa menembakkan AK 47. Penyerahan total kepada-Nya : vertical-horizontal, individu-sosial, dan kontemplasi-interaksi, itulah pembedanya. Bukankah apa yang ada di langit dan di bumi semuanya semata-semata hanya tunduk kepada-Nya?. Yang sombong mengklaim bahwa itu hanya kerja ilmiah dan menyebutnya hukum alam, sambil menafikan kekuasaan-Nya. Itulah takdir sejarah yang terpahat sepanjang massa, bahwa al haq selalu banyak penentang dan pembangkang. 

Sore hari sepulang kerja, seorang kawan disambut personil lengkap : istri dengan air muka paling manis sepanjang hari, dan dua orang anak yang bersih dan wangi, siap berhambur ke pangkuan sambil bangga melaporkan hafalan Al qur’annya yang bertambah. Sementara yang lain, setelah menyimpan motor di garasi : mendapati istri masih setia di depan tv mengikuti ghibahtainment terkini, dan anak-anak belum mandi sambil merengek-rengek menagih janji untuk jalan-jalan ke mall. Apa yang menyebabkan budaya keluarga si A dan si B berbeda?, kenapa perilaku keluarga si C dan si D berlainan?. Mungkin harus selalu diingatkan bahwa sekedar memberi makan dan minum saja, seekor kambing pun telah dengan baik menjalankan fungsinya. Bahwa menjadi tua secara biologis saja, seekor ayam pun bisa melakukannya. Ini bukan olok-olok atau deklarasi kesombongan, ini hanya solilokui. Bukan alasan tepat jika Bung pernah tenggelam ke palung laut terdalam, atau terperosok ke sumur tetangga yang gelap dan pengap, lalu itu semua dijadikan modal kesombongan untuk menghakimi hati orang lain. Bom yang meledak di pagi yang masih tenang itu pasti banyak meninggalkan luka, tangis, sumpah serapah, dan kutukan. Adakah setitik pelajaran yang bisa kita ambil di antara bau amis daging yang terbakar dan reruntuhan puing-puing? : bahwa kematian selalu mengintai kita, kapan pun dan di mana pun, bom hanyalah salah satu perantara untuk menuju ke sana. Lalu sudah siapkah kita menghadapinya?, sudah cukupkah bekal kita untuk perjalanan abadi itu?. Oh my God, saya sedang futur...[ ]


Juli '09

untuk generasi yg terasing