Showing posts with label Atheis. Show all posts
Showing posts with label Atheis. Show all posts

03 June 2021

Sakit Hati di Flores dan Bagaimana Perempuan Menentukan Pilihan

Debur ombak masih terdengar sampai ke kamar rumah sakit. Ujang tergeletak. Di perantauan, tak ada sanak saudara yang menjenguk. Kawan pun tiada. Hanya Tahir yang pernah mengunjungi, pegawai yang bertugas menghidupkan diesel di stasiun radio.

Di Flores. Di tempat yang begitu jauh dari Bandung, kampung halamannya, Ujang tak berdaya. Raganya sehat. Tapi kalbunya hancur. Tak pernah ia sangka sebelumnya, kebosanan menyeretnya pada jentaka.

Baru tujuh bulan Ujang berdinas di Kantor Jawatan Telepon di sebuah kota kecil. Karena masih bujangan, ia tinggal di rumah kepala kantor. Di rumah itu, seorang perempuan muda yang bersama anak kecil, selalu terlihat diam dan murung. Tak bisa diajak ngobrol. Kian mencekik rasa kesepian Ujang.

“Apakah akan selamanya hidup seperti ini? Apakah hidup sekadar untuk kerja? Apa artinya terus menerus bekerja jika hidup serba membosankan?” ungkapnya.

Barangkali stereotip orang Sunda melekat pada dirinya: tak betah merantau.

Keadaan berubah ketika Halus—nama perempuan itu—mulai bisa diajak bicara. Nyatalah penyebabnya, kenapa dia selama ini hanya diam dan murung.

Alkisah, ketika orang tuanya betugas di Makassar, Halus masih SMP. Di usia remaja itu dia mulai berpacaran. Berahi terlampau berjompak: Halus hamil. Pasangan remaja itu dinikahkan, keluar dari sekolah. Belum siap berumah tangga, mereka akhirnya bubar. Halus pindah ke Flores membawa jabang bayi.

Sekali waktu, Ujang, Halus, dan anaknya, main ke pesisir. Kota gelap dan sepi. Tapi hati Ujang mulai terang dan ramai. Benih cinta tumbuh. Sekarang, setiap hari adalah jejentik waktu penuh semangat. Ada alasan kenapa dia bekerja, demi Halus dan anaknya yang ia kandung sejak masih belia.

Gayung bersambut. Keduanya kian erat, sebelum badai itu tiba.

Tarmidi, kenalan Ujang sesama orang Sunda, belum lama menduda. Ia bertugas sebagai Kepala Lalulintas Jalan di kota Ende. Mula-mula Tarmidi hanya bermaksud main ke kediaman Ujang. Namun lama kelamaan, dia justru kerap bercengkerama dengan Halus.

Perempuan itu mulai pindah haluan. Ujang dijejali alasan bahwa perjaka itu tak pantas mendapatkan seorang janda seperti dirinya. Padahal, Ujang sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa status itu bukan masalah bagi dirinya. Namun Halus telah mengambil keputusan: dia merasa setara dengan Tarmidi yang seorang duda, alih-alih dengan Ujang. Maka terjadilah gerhana itu.

“Saudara, jika punya kekasih, jangan sampai membawa orang lain ke tengah medan percintaan,” ungkap Ujang dalam hati.

Lalu hari pun berganti. Sakit mulai mendera. Beberapa kali pemeriksaan dokter, tak ada penyakit yang mengkhawatirkan raganya. Namun Ujang tetap belum pulih. Begini rupa nasib memperlakukannya: jauh dari puak, kekasih diambil orang.

Di satu sisi, kisah ini tak adil bagi Ujang. Tetapi di sisi lain, penulis membela salah satu tokohnya yang lemah, yaitu Halus. Ya, setelah dicampakkan dari sekolah, bercerai dengan suami masa SMP-nya, Halus tak punya banyak pilihan selain diam di rumah bersama anak dangan masa depan membayang begitu gelap. Sampailah dia di sebuah persimpangan dan menentukan pilihannya sendiri.

Dulu, ketika menulis esai tentang roman Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja, saya menemukan satu pertanyaan. Ya, di kalangan pembaca, sempat timbul pertanyaan yang menghubungkan Achdiat dengan Hasan, tokoh utama Atheis. Achdiat dan Hasan berasal dari daerah yang sama, yaitu Garut. Apakah Achdiat tengah menceritakan dirinya melalui Hasan?

“Dichtung und Wahrheit (Khayal dan Kenyataan),” kata Achdiat.

Dalam bukunya yang lain, Kesan dan Kenangan yang terbit pada 1960, ia menjelaskan lagi prinsipnya dalam menulis.

“Pengamatan dan pengendapan pedoman bagiku dan fantasi adalah pencipta utama. Karenanya segala yang kulukiskan dalam buku ini bersifat Dichtung und Wahrheit atau Khayal dan Kenyataan. Sampai di mana Dichtung dan sampai di mana Wahrheit-nya, itu adalah rahasia pengarang sendiri. Tapi baiklah kukatakan, bahwa tiada ‘Hakikat’ yang bertentangan dengan ‘Kenyataan’, dan tiadalah ‘Khayal’ kreatif yang tidak mengubah-ngubah, mematut-matut fakta dan kenyataan sampai kepada inti pokoknya,” terang Achdiat.

Apip Mustopa (kelahiran Limbangan, Garut, 23 April 1938)--pengarang Bogoh ka Randa yang mengisahkan Ujang, pernah bekerja di Kantor Postel dan sempat ditugaskan ke Ende. Apakah cerita Ujang adalah kisah tentang dirinya?

Pembaca tentu berhak mempersetan hal itu, sebagaimana Achdiat berhak berkata “Dichtung und Wahrheit”. (irf)

31 October 2019

Membaca 'Atheis', Menelusuri Ruang Pengalaman Para Tokohnya



Tahun ini roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja berusia 70 tahun. Tirto menelusuri sejumlah tempat di Kota Bandung yang dijadikan latar cerita.

Achdiat Kartamihardja memungkasi roman Atheis dengan darah dan iman yang tersisa. Hasan, tokoh utamanya, pemuda puritan dan peragu yang telah bersalin keyakinan, barangkali masih mempunyai ampas akidah pada Tuhan-nya.

“Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata ‘Allahu Akbar’, tak bergerak lagi…”

Kisah tragis Hasan dalam pencarian jati diri tersebut tahun ini memasuki usia ke-70 sejak mula-mula terbit pada 1949. Roman Atheis menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia modern.

“Penyelaman ke dalam jiwa tokoh-tokoh, pemilihan kejadian-kejadian di dalam plot-plot, pembayangan tema, dan lain-lain unsur yang menjadikan Atheis suatu well-made novel,” ungkap Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).

Pada 1974 Atheis sempat diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sumandjaja. Seperti romannya, filmnya juga menimbulkan kontroversi, bahkan saat masih dalam proses perencanaan. Hal ini, menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005), membuat ulama sohor, Hamka, turun tangan menjadi supervisornya.

Meski film ini kurang berhasil secara komersial, tapi mampu meraih Plakat Djamaluddin Malik pada Festival Film Indonesia 1975 untuk film adaptasi novel terbaik.

Roman Atheis dibangun lewat cerita berbingkai. Kisah ini disampaikan kepada pembaca lewat tokoh “saya” yang berjumpa dengan Hasan yang memberikan sebuah naskah kepadanya, berupa pengalaman hidup Hasan sendiri. Tokoh “saya” kemudian bertindak sebagai juru kisah.

Andries “Hans” Teeuw, pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda, seperti dikutip Sastrowardoyo menyusun roman Atheis lewat sebuah rumusan (C [B (A) B] C). A merupakan pokok kisah, B hubungan Hasan dengan tokoh “saya”, dan C adalah cerita kematian Hasan berdasarkan laporan orang lain.

Bangunan cerita ini membuat cerita dalam roman Atheis berlapis. Pembaca mesti tajam tiliknya dengan peralihan antarbagian ini untuk menghindari kebingungan dalam mengikuti alur cerita.

Salah satu unsur lain yang menarik dalam roman ini ialah latar tempat, dan yang paling banyak dipakai adalah Bandung. Di kota inilah Hasan bergulat dengan pelbagai pemikiran baru, tarik-menarik dengan pemikiran lamanya yang kolot.

Tempat-tempat ini juga dianggap penting oleh tokoh “saya” ketika ia menerima naskah kisah ini dari Hasan. Ia hendak memastikan cerita yang dituturkan oleh kawannya tersebut.

“Saya akan mengunjungi tempat-tempat, ke mana ia pernah pergi, dan meminta keterangan yang cukup kepada orang-orang yang pada masa itu pernah bergaul atau berhubungan dengan Hasan,” ungkapnya.

Jika tokoh “saya” mengunjungi tempat-tempat itu untuk mengonfirmasi cerita, maka kiwari penelusuran tempat dan lanskap kota yang tercantum dalam Atheis barangkali bisa menjadi cara alternatif dalam mengingat ulang dan mengenalkan kembali kisah ini kepada para pembaca lama. Kepada pembaca terkini, ini adalah cara baru untuk memperkenalkan roman itu.


Tempat Tinggal dan Watak

 Secara garis besar sekujur latar roman didominasi wilayah Bandung selatan, yang dulu menjadi permukiman pribumi. Sementara Bandung bagian utara adalah wilayah permukiman orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Batas kedua wilayah ini adalah rel kereta api.

Meskipun Atheis tidak mengisahkan pertentangan antara Belanda dan Jepang dengan rakyat Indonesia yang tertindas, karakter-karakter di dalamnya tetap dikisahkan berada di bawah tekanan penjajahan.

“Dengan menyadari suasana zaman yang melingkungi hidup tokoh-tokoh roman ini, maka menjadi jelas mengapa alam pikiran tokoh-tokoh Atheis dipenuhi masalah-masalah politik,” terang Subagio Sastrowardoyo.

Di luar soal politik, imbuh Sastrowardoyo, pemilihan tempat tinggal tokoh-tokoh utama juga merupakan perwujudan kepribadian mereka.

Selama di Bandung, Hasan tinggal di rumah bibinya di Jalan Sasakgantung. Jalan ini berupa jalan kecil dengan kualitas tidak terlalu bagus yang melewati sejumlah perkampungan.

Pada 1940-an Jalan Sasakgantung bukan daerah para menak yang mapan secara ekonomi, garis keturunan, dan pendidikan. Jalan itu dihuni para pegawai rendahan seperti Hasan, juga para pedagang kecil. Di lingkungan perkampungan seperti inilah Hasan tinggal, lingkungan yang menuntut warganya bersikap tertib.

Sementara Kartini tinggal di Jalan Lengkong Besar, sebuah ruas jalan yang banyak dihuni para menak. Ia sempat menjadi istri seorang rentenir tua keturunan Arab karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Tempat tinggal dan lingkungannya ini membuat Kartini tak canggung dalam pergaulan kehidupan kota.

Dan Rusli, kawan masa kecil Hasan yang bertemu lagi di Bandung, tinggal di Jalan Kebon Manggu. Sebuah jalan kecil di pinggir Jalan Kalipah Apo yang digambarkan dalam roman tersebut dipenuhi rumah pelacuran. Lingkungan tempat tinggalnya ini menunjukkan bahwa Rusli suka menentang ukuran moral yang umum.

“Dengan memaklumi daerah tempat tinggal tokoh masing-masing itu kita dapat menerima dengan lebih wajar, misalnya kekikukan Hasan dalam menghadapi tokoh-tokoh lain,” imbuh Sastrowardoyo.


Sungai, Bioskop, dan Taman

 Selain Jalan Sasakgantung, Jalan Lengkong Besar, dan Jalan Kebon Manggu, tempat lain yang dapat ditelusuri adalah Sungai Ci Kapundung yang membelah Kota Bandung. Di sungai ini Hasan mandi sebanyak empat puluh kali selama satu malam, dari bakda isya sampai menjelang subuh.

“Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam air, menyelam ke dalam, dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air, lalu duduk di pinggir kali, membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh mempergunakan handuk. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi ke dalam air. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali,” terang Hasan menjelaskan ritualnya dalam mempelajari tarekat yang ia dan orang tuanya anut.

Ci Kapundung sekarang, terutama yang jauh dari hulu, seperti sungai-sungai lainnya di perkotaan, tentu sudah tak layak untuk dijadikan tempat mandi. Limbah industri dan rumah tangga telah mencemarinya. Termasuk di bagian sungai yang melintasi Jalan Sasakgantung tempat Hasan tinggal.

Ketika Hasan mulai dekat dengan Kartini—sebelum akhirnya mereka menikah—mereka sempat menonton film di bioskop sekitar Jalan Suniaraja. Bioskop ini, jika melihat catatan Sjarif Amin dalam memoar bertajuk Keur Kuring di Bandung (1983), diperkirakan bioskop Empress yang semula bernama Apollo seperti terdapat dalam roman Rasia Bandoeng (1918) karangan Chabanneau.

Setelah mereka keluar dari bioskop dan sampai di Parapatan Kompa—simpang antara Jalan Suniaraja dan Jalan Pangeran Sumedang atau sekarang bernama Jalan Oto Iskandar Di Nata—mereka berjalan menuju sebuah taman yang sekarang bernama Taman Dewi Sartika di depan Kantor Wali Kota Bandung.

“Jadi kami tidak berbelok ke Jalan Pasar Baru dan Alun-alun, melainkan mengambil jalan terus, melalui Jalan Suniaraja, Jalan Landraad, dan Pieterspark,” tulis Hasan.

Pada zaman Belanda tempat mengadili pribumi untuk kasus pidana dan perdata dinamakan Landraad. Di Jalan Landraad di Kota Bandung memang terdapat sebuah gedung pengadilan yang salah satunya pernah dipakai untuk mengadili Sukarno dan kawan-kawannya sesama pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1930. Gedung ini sekarang bernama Gedung Indonesia Menggugat, dan Jalan Landraad telah bersalin nama menjadi Jalan Perintis Kemerdekaan.

Sementara Pieterspark merupakan taman pertama di Kota Bandung. Keberadaan taman ini tentu saja di sebelah utara rel kereta api, karena di sisi inilah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal.

Seperti disebutkan sebelumya, tempat tinggal tokoh-tokoh utama dalam roman Atheis berada di sisi selatan rel kereta api, tapi mereka sesekali main ke utara untuk sekadar bertamasya seperti yang dilakukan Hasan dan Kartini.

Selain mereka, ada juga sejumlah pekerja seks komersial atau Achdiat menyebutnya 'lonte' yang menyelinap ke Pieterspark dan dikejar-kejar para agen polisi kolonial.

“Lonte! Lonte! Masih berani juga kamu menyelundup!” teriak seorang agen polisi sambil mengejar buruannya saat Hasan dan Kartini duduk di sebuah bangku di taman tersebut.


Ruas Jalan Hasan

 Hasan bekerja di Jawatan Air Kotapraja. Alamat kantornya tidak disebutkan, tapi yang jelas di wilayah utara Bandung. Hal ini diketahui saat Hasan menerangkan bahwa pada Sabtu, saat kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai pukul satu siang, ia meluncur melintasi Jalan Merdeka Lio yang mulut jalannya terletak di sisi Jalan Wastukancana.

“Melancar sepedaku di atas Jalan Merdeka Lio. Aku tak usah banyak mendayung, karena jalannya mudun,” ucapnya.

Ia terus meluncur ke bawah, ke arah selatan. Saat hendak sampai ke Jalan Braga yang sangat ramai oleh pelbagai kendaraan, ia menghindarinya.

“Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian seperti itu. Oleh karena itu aku tidak mengambil Jalan Braga, melainkan membelok ke kanan, ke Jalan Landraad, terus ke Alun-alun lewat [Jalan] Banceuy,” ungkapnya.

Tempat tinggal Hasan di Jalan Sasakgantung membuat ia kerap melalui jalan-jalan kecil, juga gang, saat hendak menuju ke rumah Rusli di Jalan Kebon Manggu. Dua jalan kecil ini memang agak lurus, tapi terpotong oleh ruas-ruas jalan besar seperti Jalan Balonggede, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata.

Jadi, selain karena Hasan kurang menyukai keriuhan, keberadaan jalan-jalan kecil ini pun membuatnya kerap mengambil jalan pintas. Seperti misalnya saat ia hendak “mengislamkan” Rusli dan Kartini pada awal-awal mereka bertemu.

“Sepedaku melancar didorong oleh keyakinan suci. Tidak mengambil jalan kemarin, melainkan mengambil jalan terobosan, yaitu Gang Awiwulung. Seakan-akan suatu lambang bagiku sebagai seorang mistikus untuk mengambil jalan yang singkat. Bukankah mistik itu jalan yang sesingkat-singkatnya untuk bersatu dengan Tuhan? Begitulah kata guru,” katanya.


Penginapan di Sekitar Stasiun Bandung

 Setelah melewati masa-masa manis, kehidupan rumah tangga Kartini dan Hasan kerap diwarnai pertengkaran. Suatu hari, setelah bertengkar hebat, Kartini pergi meninggalkan rumah.

Mula-mula ia hendak pergi ke Padalarang, ke rumah sepupunya dari garis mendiang ayahnya, tapi ia urungkan karena merasa malu. Ia juga berpikir untuk pergi ke rumah kawannya, namun ini pun ia batalkan karena merasa tak enak.

Ia hanya berjalan tak tentu tujuan, dan akhirnya bertemu dengan Anwar, kawannya, juga kawan Hasan dan Rusli. Setelah singgah di sebuah restoran, Kartini diantar Anwar pergi ke stasiun: rupanya ia berubah pikiran, hendak ke Padalarang. Namun, karena telah sore, Anwar membujuknya untuk bermalam dulu di sebuah penginapan di dekat stasiun.

“Demikianlah layaknya Kartini, ketika Anwar setengah membujuk setengah mendesak mengusulkan, supaya malam itu ia menginap saja di sebuah penginapan dekat stasiun, agar besok paginya bisa terus berangkat dengan kereta api yang paling pagi ke Padalarang,” tulis Achdiat.

Dalam kondisi kejiwaan goncang karena pertengkaran, Kartini akhirnya menurut. Di penginapan tersebut Anwar ternyata hendak memperkosanya. Saat duduk berdua di sebuah kamar, berahinya menjompak.

“Maka ditariknya tangan Kartini, lalu pinggangnya dipeluknya lagi. Tapi licin seperti belut Kartini bisa melepaskan dirinya serta melompat keluar dari sudut yang sempit itu. Dengan cepat seperti tukang copet, tangannya yang kiri menjewang tas pakaiannya dari lantai, lalu lari keluar, meninggalkan Anwar dalam kamar yang tidak berani terus mengejar keluar kamar,” imbuh Achdiat.

Penginapan ini pula yang sempat disinggahi Hasan saat ia tiba dari kampungnya di Garut ketika ayahnya telah meninggal, saat ia telah berkali-kali bertengkar dengan Kartini, dan waktu kondisi fisiknya semakin lemah karena tekanan batin.

Lewat buku tamu, Hasan mengetahui bahwa Kartini dan Anwar pernah singgah di penginapan ini. Hal ini tentu membuatnya emosi, rasa cemburu dan sebal membakar jiwanya. Dengan kemarahan meluap-luap, meski badannya ringkih, Hasan berlari tak tentu tujuan meninggalkan penginapan.

“Hasan lari terus. Lari terkapah-kapah. Napasnya mengap-mengap […] Sinere tiba-tiba berbunyi. Tanda bahaya udara. Hasan agak mengeram larinya. Tapi ia lari terus.”

Saat berlari kesetanan itulah Hasan ditembak aparat keamanan Jepang. Dan sebelum tak bergerak lagi ia sempat berucap “Allahu Akbar”.


Wisata dan Kanon Sastra

 Tempat-tempat lain dalam roman Atheis masih banyak, seperti kantor, warung kopi, restoran, toko, dan lain-lain, yang semuanya menjadi ruang pengalaman bagi para tokoh dalam kisah ini.

Dalam konteks wisata kota, semua lokasi yang menjadi ruang pergulatan antara Hasan dan kawan-kawannya sangat mungkin untuk disusun menjadi sebuah rute perjalanan “sastrawi”. Hal ini bisa menjadi wisata alternatif, juga lebih mendekatkan antara pembaca dengan bahan bacaannya dalam konteks hubungan antara cerita dan ruang penceritaan.

Pada 2017 sebuah komunitas pegiat sejarah Kota Bandung, Komunitas Aleut, sempat melakukan perjalanan berdasarkan roman ini. Tapi, karena pelbagai keterbatasan, titik-titik yang dilaluinya tidak terlalu lengkap. Dan kemarin, Minggu (23/6/2019), mereka mengulang perjalanan yang sama.

Saya mengikuti dua perjalanan tersebut. Jumlah peserta yang turut serta, baik pada 2017 maupun 2019, tidak terlalu banyak. Sebagai sebuah karya sastra klasik yang ditulis pada akhir 1940-an, Atheis jelas berjarak dengan generasi kiwari. Sehingga barangkali mereka tidak terlalu tahu dan hirau dengan karya ini.

Atau mungkin saja generasi sekarang juga tak hendak mengelap-ngelap kanon sastra klasik yang bagi mereka tak ada hubungannya secara langsung dengan kehidupan mereka. Bisa jadi mereka punya kanon sastra sendiri yang lebih mewakili zaman dan pengalamannya. Persis seperti pemahaman yang berjarak antara Hasan dan ayahnya.
(irf)


Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 25 Juni 2019
- Foto: Pinterest

10 September 2017

Jejak Atheis di Kota Bandung




“Rumah Kartini sekarang sudah jadi tempat berjualan obat perkasa!” ujar seorang kawan sebelum tawanya pecah. Ia bersama seorang kawan yang lain baru pulang menyusuri rumah para tokoh rekaan dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.

Bandung telah lama menjadi melting pot berbagai suku bangsa, agama, dan pemikiran. Zonasi klasik terkait pemukim dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Orang-orang Belanda dan Eropa mayoritas ditempatkan di sebelah Utara, masyarakat Timur Jauh (Arab, Tionghoa, Pakistan, India) berkumpul di sekitar rel kereta api, dan inlander alias warga pribumi ditempatkan di selatan.

Para tokoh perintis kemerdekaan dan tokoh nasional lainnya banyak yang pernah bermukim di Kota Bandung. Mereka menuntut ilmu, membibit gerakan politik, berdakwah, dan menggodok bakat intelektualnya di sini. Sekadar contoh, ada Tan Malaka, Sukarno, Sosrokartono, Natsir, Sjahrir, Dewi Sartika, Ernest Douwes Dekker, A. Hasan, dll. Kiprah dan jejak mereka terhampar di buku-buku dan menjadi bagian dari semesta sejarah Kota Bandung.      

Memoar ditulis, novel dibikin. Beberapa di antaranya berlatar Kota Bandung, yang menjadikan kota ini semakin kaya dengan tinggalan teks yang menjerat kisah dan peristiwa masa lalu yang berdenyut seiring dinamika kota.

Novel Atheis mula-mula terbit pada tahun 1949. Achdiat K. Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu, Garut, mendedahkan sebuah melting pot pemikiran di kalangan para pemuda Kota Bandung yang menyeret beberapa tokoh utamanya ke dalam tragedi kemanusiaan yang menggiriskan.

Sabtu, 29 Juli 2017, Komunitas Aleut menggelar kegiatan rutin dengan tajuk “Kelas Literasi pekan ke-103: Atheis”. Acara diskusi selo tapi gak selo-selo amat itu mencoba menyigi novel Atheis yang sudah berusia 68 tahun ke hadapan para pembaca muda, generasi millennial yang doyan mewedarkan kehidupannya di IG story. Keesokan harinya, mereka juga Ngaleut (acara menelusuri jejak sejarah yang telah diadakan lebih dari satu dasawarsa) dengan tema yang sama.

Rumah Kartini beralamat di Jl. Lengkong Besar 27, Rusli di Jl. Kebon Manggu 11, dan rumah bibinya Hasan di  Sasakgantung 18. Nama-nama itu adalah tokoh utama dalam novel Atheis. Rute yang dilalui para pegiat Komunitas Aleut dengan berjalan kaki tidak hanya tiga tempat itu saja, namun melintas juga ke Jl. Suniaraja, Jl. Otista, Jl. Dalem Kaum, dll, disesuaikan dengan peristiwa kejadian yag ditulis Achdiat.

Hasan adalah pemuda alim dengan keyakinan puritan. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat menjalankan segala perintah dan larangan agama Islam. Setelah lulus dari MULO Bandung dan mulai bekerja di Jawatan Air Kotapraja, ia mendalami ilmu agama dengan belajar tarekat seperti yang dianut oleh kedua orangtuanya.

Sekali waktu ketika ia tengah bekerja, datanglah Rusli dan Kartini yang hendak mengurus pemasangan air ke kantornya. Rupanya Hasan dan Rusli adalah kawan karib ketika kecil, saat mereka sekolah di HIS Tasikmalaya.

Pertemuan Hasan dengan Rusli dan Kartini menjadi awal tragedi. Dalam perjalanan pergaulannya, pemuda puritan itu mengalami gegar pemikiran. Ia yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya dengan cara dogmatis, sedikit demi sedikit mulai goyah. Sikap dan pemikiran Rusli, Kartini, beserta kawan-kawannya tentang Tuhan dan zat non materi lainnya, membuat Hasan meraba pedalaman hatinya.

“Kita harus pandai meneropong soal-soal hidup itu dengan akal dan pikiran yang bebas lepas. Pikiran dan penglihatan kita tidak boleh dikaburkan oleh fanatisme atau dogma,” ujar Rusli.

“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita. Tuhan hanya alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. Begitu pula teknik bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. Dus apa bedanya? Tak ada toh selain yang satu lebih nyata, lebih konkret daripada yang lain,” ujar Bung Parta (kawan Rusli) dalam sebuah pertemuan di rumah Rusli.  

Mulanya Hasan mencoba bertahan dengan apa yang selama ini ia yakini, namun karena pergaulannya cukup intens, maka benteng keimanannya akhirnya jebol. Pada satu kesempatan ketika ia pulang kampung ke Garut, Hasan berdebat dan bertengkar hebat dengan ayahnya terkait agama dan keyakinan. Mereka akhirnya berpisah jalan.

Di akhir kisah, Hasan bangkrut! Hubungan dengan ayahnya tak kunjung membaik sampai ajal menjemput. Kartini, yang telah menjadi istrinya, memilih bercerai akibat badai pertengkaran yang kian menghebat. Hasan sendiri menjadi amat ringkih, TBC merajalela memangsa paru-parunya.

Tema dalam novel ini tentu sangat sensitif, apalagi kiwari hampir segala isu sosial kerap dilekat-lekatkan dengan agama. Masyarakat yang terbelah pasca pemilihan presiden 2014 terus-menerus berkubu, saling serang di media sosial, dan palagan kerap mengintai di setiap Pemilihan Kepala Daerah.

Menanggapi hal ini, Rulfhi Alimudin Pratama, Koordinator Komunitas Aleut menjelaskan, bahwa apa yang dikerjakannya bersama kolega adalah dalam rangka memperkaya perspektif sejarah Kota Bandung. Ia juga mengatakan bahwa sudut pandang Komunitas Aleut bukan hendak menyebarkan atheisme, melainkan memotret dan mengangkat satu peristiwa dalam lintasan zaman, tentang Kota Bandung yang menjadi tempat bauran pemikiran berbagai kalangan.

“Selain ingin mengenalkan ulang karya sastra klasik, diangkatnya buku ini dalam kegiatan Komunitas Aleut adalah agar masyarakat tidak terpaku hanya kepada buku-buku sejarah, karena ternyata dalam karya sastra pun Kota Bandung kerap hadir sebagai latar kisah,” ujarnya menambahkan.

Novel Atheis pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sjumandjaja pada tahun 1974, dan dibintangi oleh Deddy Sutomo, Christine Hakim, Emmy Salim, Farouk Afero, maruli Sitompul, dan pemeran lainnya. Rencananya film ini akan diputar juga oleh Komunitas Aleut pada hari Selasa (1/8/2017), namun ternyata rencana tersebut gagal karena kualitas film tersebut, yang hanya tersedia di youtube, secara gambar dan suara sangat jelek.

Sebagai gantinya, menurut penuturan Ariyono Wahyu Widjajadi, koordinator Bioskop Preanger (divisi film Komunitas Aleut), film Atheis diganti oleh film Offside.

“Ya, karena gambar dan suaranya jelek, akhirnya kami ganti dengan (film) Offside, melanjutkan tema sepak bola seperti minggu-minggu sebelumnya,” ujarnya dengan wajah terlihat murung. Barangkali seperti itulah wajah Hasan ketika ia pulang ke Bandung pasca pertengkaran penghabisan dengan ayahnya. (preanger.id - irf)

21 August 2017

Nyungsi Patempatan Novel Atheis


Sajarah Bandung éstu loba dituliskeun dina buku-buku. Ti jaman Walanda tug nepi ka anyeuna réa deuih penulis nu alihtiar pikeun ngumpulkeun singsakur pustaka anu aya patula-patalina jeung kaayaan anu ngandelkeun katerangan-katerangan narasumber boh lisan boh tulisan.

Anyeuna mah, hususna nu keur mikarep jeung mikaresep bacaan sabudeureun sajarah Bandung, tangtu hamo bireuk kana buku-buku “Sang KuncĂ©n Bandung” Haryoto Kunto saperti Semerbak Bunga di Bandung Raya jeung Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Eta dua buku euyeub pisan ku data kaayaan Bandung alam bĂ©h ditu.

Lian ti éta, réa kénéh buku-buku ngeunaan Bandung nu ditulis ku pangarang séjénna. Bari lain waé winangun karya nonfiksi deuih, dalah karya nu sipatna rékaan atawa karya sastra gé bisa disebutkeun balatak ku nyaritakeun kaayaan Bandung téh. Salah sahijina nyaéta buku Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja.

Atheis sanajan wangunana karangan fiksi, tapi patempatan nu dijieun kasang carita lolobana di Bandung. Pon kitu deui carita nu ditepikeun saeutik gedéna ngagambarkeun kaayaan Bandung baheula, tegesna dina mangsa Walanda serah bongkokan ku Jepang.

Lian ti nyebutkeun sababaraha patempatan, di antarana waé saperti Jalan Léngkong Besar, Jalan Sasakgantung, Jalan Kebon Manggu, Bojongloa, Alun-alun, jeung sajabana, pangarang gé nembrakkeun kaayaan para nonoman Bandung mangsa harita nu aya patalina jeung robahna pamadegan katut kayakinana.

Geura tokoh utamana, Hasan. Manéhna teh nonoman Garut nu nyiar élmu di MULO Bandung jeung sanggeus tamat sekolah tuluy digawé di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Ti leuleutik Hasan dididik ku kolotna sangkan taat kana agama. Teu beurang teu peuting, Hasan diomat-omatan sangkan getol solat jeung ngaji. Atuh carita ngeunaan sawarga jeung naraka gé remen pisan dibalikan deui-balikan deui didongengkeun ku kolotna.

Indung bapana kungsi diajar élmu tarékat di Banten, anu satuluyna hirup dina pamadegan éta. Sapopoé ngajalankeun naon baé anu geus diguratkeun dina jalan tarékat, anu dipiyakin ku maranéhna.

Hiji mangsa basa Hasan geus mimiti boga pagawéan, manéhna nyarita ka kolotna, minangka ménta idin sangkan manéhna milu nalungtik jeung ngajalankeun tarékat nu ku kolotna geus dijalankeun. Asa kagunturan madu karagragan menyan putih, kolotna patingsalegruk bakating ku bagja yén anakna nu dipikanyaah, nu masih ngora kénéh tétéla hayang milu neuleuman bagbagan élmu agama.

Gancangna carita, Hasan ditepungkeun jeung guru tarékat nu baris ngawaris élmu. Dina derna, aya ritual nu kudu dicumponan ku Hasan. Di antarana waé kudu mandi 40 kali di walungan Cikapundung dina jero sapeuting, puasa tujuh poé, jeung kudu ngerem manéh di kamar salila tilu poé. Sanggeus kitu, Hasan panceg dina kayakinana, paréntah agama sasat jadi cecekelan pageuh.

Tapi kituna téh tétéla teu lila. Ari nu jadi cukang lantaranana Hasan tepung jeung Rusli, babaturanana basa sekolah di HIS Tasikmalaya. Rusli téh nonoman nu boga pamikiran jeung pamadegan nu patonggong-tonggong jeung Hasan. Ti leuleutik manéhna kaasup budak bangor, tukang ngaheureuyan kolot-kolot nu keur sarolat di masigit. Ieu pasipatan kabawa nepi ka gedé. Keur mah eukeur didikan ti kolotna saaya-aya, katurug-turug geus sawawa loba campur gaul jeung rupa-rupa jalma, nu boga pamikiran katut ideologi anu béda-béda.

Samalah apan Rusli téh kakolom anggota partéy nu ampir sakabéh babaturanana sapamadegan jeung manéhna, nyaéta ngagungkeun akal dina kahirupan sapopoéna. Pangeran jeung agama dianggap candu nu euweuh dina kamus kahirupan maranéhanana. Manggihan hal ieu tangtu waé Hasan reuwas naker. Salila hirup manéhna kakara pinanggih jeung jalma-jalma nu béda pamadeganana dina sual agama.

Mimitana Hasan aya niat ngada’wahan Rusli katut babaturanana, tapi dina derna, lain babaturanana nu kabaud kana pamadegan Hasan, kalah tibalik, manĂ©hna kasedot sarta antukna milu kana ulekan pamadegan babaturanana.

Hiji mangsa basa kantorna libur, Hasan jeung hiji babaturanana balik ka Garut. Peuting panungtungan méméh Hasan mulang deui ka Bandung, manéhna paséa rongkah jeung bapana, pakeukeuh-keukeuh ngeunaan kayakinan jeung pamadeganana. Sanggeus duanana surti yén kayakinana moal bisa deui dihijikeun, nya paséa éta ahirna reureuh. Hasan geus jadi atheis, nyieun pigeusaneun papisah salawasna jeung nu jadi kolotna.

Tah, dina raraga maca sakaligus ngarawatan sajarah Bandung, Komunitas Aleut ngayakeun sawala buku Atheis dina Saptu, 29 Juli 2017. Ieu sawala téh mangrupa bagian tina kagiatan rutin unggal poé Saptu ti mimiti Juni 2015, nu sok disebut Kelas Literasi. Nu disawalakeunna teu jauh tina sual buku, nulis, jeung maca. Minangka nu sok jadi pangjejer nyaéta barudak Aleut sorangan, tapi sakapeung mah sok ngondang penulis katut éditor buku sangkan bisa babagi kanyaho jeung élmuna.

Kagiatan lolobana diayakeun di Jalan Solontongan Nomor 20-D, di wewengkon Buahbatu, da di dinya pisan Komunitas Aleut téh matuhna. Tapi sababaraha waktu ka tukang mah kungsi ogé sok diayakeun di taman-taman Kota Bandung, ngider piliganti ti hiji taman ka taman séjénna.

Palebah ngabedah novel Atheis, nyaéta basa Kelas Literasi geus asup minggu ka-103, kabeneran nu jadi pangjejerna téh kuring sorangan salaku anggota Komunitas Aleut. Harita nu haladir lolobana barudak ngora nu munggaran wawanohan jeung novel Atheis. Nu diobrolkeunana nyaéta eusining éta novel bari dipuseurkeun kana sakur patempatan di Bandung nu kasabit-sabit di dinya. Hal ieu minangka aya patalina jeung kagiatan rutin Komunitas Aleut séjénna, nyaéta Ngaleut.

Ari acara Ngaleut nu biasana diayakeun unggal poé Minggu téh mimiti diayakeunana ti 2006, tegesna ti basa Komunitas Aleut diadegkeun ku nonoman Kota Bandung nu mikatineung kana sajarah kotana. Ti danget harita, unggal Minggu sok ayakeun acara nyukcruk sajarah Kota Bandung ku jalan ngaleut ngadatangan sakur tempat di suklak-di siklukna ieu kota anu dalit pisan patula-patalina jeung sajarah kamekaran Bandung.

Nya, sabada acara sawala Atheis éta, isukan Komunitas Aleut ngayakeun kagiatan rutin nyaéta Ngaleut Atheis minangka lajuning lakuna. Dina éta kagiatan, barudak Komunitas Aleut nyungsi patempatan nu disebutkeun dina buku. Da najan kasebutna karangan fiksi, tapi ku sabab diadumaniskeun jeung sajarah, nya teu kagok dina prakprakanna ngaleut téh ngadatangan sababaraha imah nu disebut dina buku, saperti Léngkong Besar 27, Sasakgantung 18, Kebon Manggu 11, jeung sajabana.

Tina éta dua kagiatan, Komunitas Aleut sugan baé kakolomkeun kana nu naratas ngaguar karya sastra bari dipatalikeun jeung sajarah, hususna sajarah Bandung, dibarung ku derna nyukcruk patempatanana. Ku jalan kitu, sugan-sugan sasieureun sabeunyeureun aya manpaatna keur balaréa. [irf]

Tayang di Harian Pikiran Rakyat, rubrik Kalam
Edisi Senin, 21 Agustus 2017