Tahun ini roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja berusia 70 tahun. Tirto menelusuri sejumlah tempat di Kota Bandung yang dijadikan latar cerita.
Achdiat Kartamihardja memungkasi roman Atheis dengan
darah dan iman yang tersisa. Hasan, tokoh utamanya, pemuda puritan dan peragu
yang telah bersalin keyakinan, barangkali masih mempunyai ampas akidah pada
Tuhan-nya.
“Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari
pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri.
Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu
berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir
melepas kata ‘Allahu Akbar’, tak bergerak lagi…”
Kisah tragis Hasan dalam pencarian jati diri
tersebut tahun ini memasuki usia ke-70 sejak mula-mula terbit pada 1949.
Roman Atheis menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan
sastra Indonesia modern.
“Penyelaman ke dalam jiwa tokoh-tokoh, pemilihan
kejadian-kejadian di dalam plot-plot, pembayangan tema, dan lain-lain unsur
yang menjadikan Atheis suatu well-made novel,”
ungkap Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).
Pada 1974 Atheis sempat
diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sumandjaja. Seperti romannya, filmnya
juga menimbulkan kontroversi, bahkan saat masih dalam proses perencanaan. Hal
ini, menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005),
membuat ulama sohor, Hamka, turun tangan menjadi supervisornya.
Meski film ini kurang berhasil secara komersial,
tapi mampu meraih Plakat Djamaluddin Malik pada Festival Film Indonesia 1975
untuk film adaptasi novel terbaik.
Roman Atheis dibangun lewat
cerita berbingkai. Kisah ini disampaikan kepada pembaca lewat tokoh “saya” yang
berjumpa dengan Hasan yang memberikan sebuah naskah kepadanya, berupa
pengalaman hidup Hasan sendiri. Tokoh “saya” kemudian bertindak sebagai juru
kisah.
Andries “Hans” Teeuw, pakar sastra dan budaya
Indonesia asal Belanda, seperti dikutip Sastrowardoyo menyusun roman Atheis lewat
sebuah rumusan (C [B (A) B] C). A merupakan pokok kisah, B hubungan Hasan
dengan tokoh “saya”, dan C adalah cerita kematian Hasan berdasarkan laporan
orang lain.
Bangunan cerita ini membuat cerita dalam
roman Atheis berlapis. Pembaca mesti tajam tiliknya dengan
peralihan antarbagian ini untuk menghindari kebingungan dalam mengikuti alur
cerita.
Salah satu unsur lain yang menarik dalam roman
ini ialah latar tempat, dan yang paling banyak dipakai adalah Bandung. Di kota
inilah Hasan bergulat dengan pelbagai pemikiran baru, tarik-menarik dengan
pemikiran lamanya yang kolot.
Tempat-tempat ini juga dianggap penting oleh
tokoh “saya” ketika ia menerima naskah kisah ini dari Hasan. Ia hendak
memastikan cerita yang dituturkan oleh kawannya tersebut.
“Saya akan mengunjungi tempat-tempat, ke mana ia
pernah pergi, dan meminta keterangan yang cukup kepada orang-orang yang pada
masa itu pernah bergaul atau berhubungan dengan Hasan,” ungkapnya.
Jika tokoh “saya” mengunjungi tempat-tempat itu
untuk mengonfirmasi cerita, maka kiwari penelusuran tempat dan lanskap kota
yang tercantum dalam Atheis barangkali bisa menjadi cara
alternatif dalam mengingat ulang dan mengenalkan kembali kisah ini kepada para
pembaca lama. Kepada pembaca terkini, ini adalah cara baru untuk memperkenalkan
roman itu.
Tempat Tinggal dan Watak
Secara garis besar sekujur latar roman didominasi wilayah
Bandung selatan, yang dulu menjadi permukiman pribumi. Sementara Bandung bagian
utara adalah wilayah permukiman orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Batas
kedua wilayah ini adalah rel kereta api.
Meskipun Atheis tidak
mengisahkan pertentangan antara Belanda dan Jepang dengan rakyat Indonesia yang
tertindas, karakter-karakter di dalamnya tetap dikisahkan berada di bawah
tekanan penjajahan.
“Dengan menyadari suasana zaman yang melingkungi
hidup tokoh-tokoh roman ini, maka menjadi jelas mengapa alam pikiran
tokoh-tokoh Atheis dipenuhi masalah-masalah politik,” terang
Subagio Sastrowardoyo.
Di luar soal politik, imbuh Sastrowardoyo,
pemilihan tempat tinggal tokoh-tokoh utama juga merupakan perwujudan
kepribadian mereka.
Selama di Bandung, Hasan tinggal di rumah
bibinya di Jalan Sasakgantung. Jalan ini berupa jalan kecil dengan kualitas
tidak terlalu bagus yang melewati sejumlah perkampungan.
Pada 1940-an Jalan Sasakgantung bukan daerah
para menak yang mapan secara ekonomi, garis keturunan, dan pendidikan. Jalan
itu dihuni para pegawai rendahan seperti Hasan, juga para pedagang kecil. Di
lingkungan perkampungan seperti inilah Hasan tinggal, lingkungan yang menuntut
warganya bersikap tertib.
Sementara Kartini tinggal di Jalan Lengkong
Besar, sebuah ruas jalan yang banyak dihuni para menak. Ia sempat menjadi istri
seorang rentenir tua keturunan Arab karena dipaksa kawin oleh orang tuanya.
Tempat tinggal dan lingkungannya ini membuat Kartini tak canggung dalam
pergaulan kehidupan kota.
Dan Rusli, kawan masa kecil Hasan yang bertemu
lagi di Bandung, tinggal di Jalan Kebon Manggu. Sebuah jalan kecil di pinggir
Jalan Kalipah Apo yang digambarkan dalam roman tersebut dipenuhi rumah
pelacuran. Lingkungan tempat tinggalnya ini menunjukkan bahwa Rusli suka
menentang ukuran moral yang umum.
“Dengan memaklumi daerah tempat tinggal tokoh
masing-masing itu kita dapat menerima dengan lebih wajar, misalnya kekikukan
Hasan dalam menghadapi tokoh-tokoh lain,” imbuh Sastrowardoyo.
Sungai, Bioskop, dan Taman
Selain Jalan Sasakgantung, Jalan Lengkong Besar, dan Jalan
Kebon Manggu, tempat lain yang dapat ditelusuri adalah Sungai Ci Kapundung yang
membelah Kota Bandung. Di sungai ini Hasan mandi sebanyak empat puluh kali
selama satu malam, dari bakda isya sampai menjelang subuh.
“Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam
air, menyelam ke dalam, dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air, lalu
duduk di pinggir kali, membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh
mempergunakan handuk. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi
ke dalam air. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali,” terang Hasan
menjelaskan ritualnya dalam mempelajari tarekat yang ia dan orang tuanya anut.
Ci Kapundung sekarang, terutama yang jauh dari
hulu, seperti sungai-sungai lainnya di perkotaan, tentu sudah tak layak untuk
dijadikan tempat mandi. Limbah industri dan rumah tangga telah mencemarinya.
Termasuk di bagian sungai yang melintasi Jalan Sasakgantung tempat Hasan
tinggal.
Ketika Hasan mulai dekat dengan Kartini—sebelum
akhirnya mereka menikah—mereka sempat menonton film di bioskop sekitar Jalan
Suniaraja. Bioskop ini, jika melihat catatan Sjarif Amin dalam memoar
bertajuk Keur Kuring di Bandung (1983), diperkirakan bioskop
Empress yang semula bernama Apollo seperti terdapat dalam roman Rasia
Bandoeng (1918) karangan Chabanneau.
Setelah mereka keluar dari bioskop dan sampai di
Parapatan Kompa—simpang antara Jalan Suniaraja dan Jalan Pangeran Sumedang atau
sekarang bernama Jalan Oto Iskandar Di Nata—mereka berjalan menuju sebuah taman
yang sekarang bernama Taman Dewi Sartika di depan Kantor Wali Kota Bandung.
“Jadi kami tidak berbelok ke Jalan Pasar Baru
dan Alun-alun, melainkan mengambil jalan terus, melalui Jalan Suniaraja, Jalan
Landraad, dan Pieterspark,” tulis Hasan.
Pada zaman Belanda tempat mengadili pribumi
untuk kasus pidana dan perdata dinamakan Landraad. Di Jalan Landraad di Kota
Bandung memang terdapat sebuah gedung pengadilan yang salah satunya pernah
dipakai untuk mengadili Sukarno dan kawan-kawannya sesama pengurus Partai
Nasional Indonesia (PNI) pada 1930. Gedung ini sekarang bernama Gedung
Indonesia Menggugat, dan Jalan Landraad telah bersalin nama menjadi Jalan
Perintis Kemerdekaan.
Sementara Pieterspark merupakan taman pertama di
Kota Bandung. Keberadaan taman ini tentu saja di sebelah utara rel kereta api,
karena di sisi inilah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal.
Seperti disebutkan sebelumya, tempat tinggal
tokoh-tokoh utama dalam roman Atheis berada di sisi selatan rel
kereta api, tapi mereka sesekali main ke utara untuk sekadar bertamasya seperti
yang dilakukan Hasan dan Kartini.
Selain mereka, ada juga sejumlah pekerja seks
komersial atau Achdiat menyebutnya 'lonte' yang menyelinap ke Pieterspark dan
dikejar-kejar para agen polisi kolonial.
“Lonte! Lonte! Masih berani juga kamu
menyelundup!” teriak seorang agen polisi sambil mengejar buruannya saat Hasan
dan Kartini duduk di sebuah bangku di taman tersebut.
Ruas Jalan Hasan
Hasan bekerja di Jawatan Air Kotapraja. Alamat kantornya
tidak disebutkan, tapi yang jelas di wilayah utara Bandung. Hal ini diketahui
saat Hasan menerangkan bahwa pada Sabtu, saat kantor-kantor pemerintah hanya
bekerja sampai pukul satu siang, ia meluncur melintasi Jalan Merdeka Lio yang
mulut jalannya terletak di sisi Jalan Wastukancana.
“Melancar sepedaku di atas Jalan Merdeka Lio.
Aku tak usah banyak mendayung, karena jalannya mudun,” ucapnya.
Ia terus meluncur ke bawah, ke arah selatan.
Saat hendak sampai ke Jalan Braga yang sangat ramai oleh pelbagai kendaraan, ia
menghindarinya.
“Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian
seperti itu. Oleh karena itu aku tidak mengambil Jalan Braga, melainkan
membelok ke kanan, ke Jalan Landraad, terus ke Alun-alun lewat [Jalan]
Banceuy,” ungkapnya.
Tempat tinggal Hasan di Jalan Sasakgantung
membuat ia kerap melalui jalan-jalan kecil, juga gang, saat hendak menuju ke
rumah Rusli di Jalan Kebon Manggu. Dua jalan kecil ini memang agak lurus, tapi
terpotong oleh ruas-ruas jalan besar seperti Jalan Balonggede, Jalan Dewi
Sartika, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata.
Jadi, selain karena Hasan kurang menyukai
keriuhan, keberadaan jalan-jalan kecil ini pun membuatnya kerap mengambil jalan
pintas. Seperti misalnya saat ia hendak “mengislamkan” Rusli dan Kartini pada
awal-awal mereka bertemu.
“Sepedaku melancar didorong oleh keyakinan suci.
Tidak mengambil jalan kemarin, melainkan mengambil jalan terobosan, yaitu Gang
Awiwulung. Seakan-akan suatu lambang bagiku sebagai seorang mistikus untuk
mengambil jalan yang singkat. Bukankah mistik itu jalan yang
sesingkat-singkatnya untuk bersatu dengan Tuhan? Begitulah kata guru,” katanya.
Penginapan di Sekitar Stasiun Bandung
Setelah melewati masa-masa manis, kehidupan rumah tangga
Kartini dan Hasan kerap diwarnai pertengkaran. Suatu hari, setelah bertengkar
hebat, Kartini pergi meninggalkan rumah.
Mula-mula ia hendak pergi ke Padalarang, ke
rumah sepupunya dari garis mendiang ayahnya, tapi ia urungkan karena merasa
malu. Ia juga berpikir untuk pergi ke rumah kawannya, namun ini pun ia batalkan
karena merasa tak enak.
Ia hanya berjalan tak tentu tujuan, dan akhirnya
bertemu dengan Anwar, kawannya, juga kawan Hasan dan Rusli. Setelah singgah di
sebuah restoran, Kartini diantar Anwar pergi ke stasiun: rupanya ia berubah
pikiran, hendak ke Padalarang. Namun, karena telah sore, Anwar membujuknya
untuk bermalam dulu di sebuah penginapan di dekat stasiun.
“Demikianlah layaknya Kartini, ketika Anwar
setengah membujuk setengah mendesak mengusulkan, supaya malam itu ia menginap
saja di sebuah penginapan dekat stasiun, agar besok paginya bisa terus
berangkat dengan kereta api yang paling pagi ke Padalarang,” tulis Achdiat.
Dalam kondisi kejiwaan goncang karena
pertengkaran, Kartini akhirnya menurut. Di penginapan tersebut Anwar ternyata
hendak memperkosanya. Saat duduk berdua di sebuah kamar, berahinya menjompak.
“Maka ditariknya tangan Kartini, lalu
pinggangnya dipeluknya lagi. Tapi licin seperti belut Kartini bisa melepaskan
dirinya serta melompat keluar dari sudut yang sempit itu. Dengan cepat seperti
tukang copet, tangannya yang kiri menjewang tas pakaiannya dari lantai, lalu
lari keluar, meninggalkan Anwar dalam kamar yang tidak berani terus mengejar
keluar kamar,” imbuh Achdiat.
Penginapan ini pula yang sempat disinggahi Hasan
saat ia tiba dari kampungnya di Garut ketika ayahnya telah meninggal, saat ia
telah berkali-kali bertengkar dengan Kartini, dan waktu kondisi fisiknya
semakin lemah karena tekanan batin.
Lewat buku tamu, Hasan mengetahui bahwa Kartini
dan Anwar pernah singgah di penginapan ini. Hal ini tentu membuatnya emosi,
rasa cemburu dan sebal membakar jiwanya. Dengan kemarahan meluap-luap, meski
badannya ringkih, Hasan berlari tak tentu tujuan meninggalkan penginapan.
“Hasan lari terus. Lari terkapah-kapah. Napasnya
mengap-mengap […] Sinere tiba-tiba berbunyi. Tanda bahaya udara. Hasan agak
mengeram larinya. Tapi ia lari terus.”
Saat berlari kesetanan itulah Hasan ditembak
aparat keamanan Jepang. Dan sebelum tak bergerak lagi ia sempat berucap “Allahu
Akbar”.
Wisata dan Kanon Sastra
Tempat-tempat lain dalam roman Atheis masih
banyak, seperti kantor, warung kopi, restoran, toko, dan lain-lain, yang
semuanya menjadi ruang pengalaman bagi para tokoh dalam kisah ini.
Dalam konteks wisata kota, semua lokasi yang menjadi ruang pergulatan antara
Hasan dan kawan-kawannya sangat mungkin untuk disusun menjadi sebuah rute
perjalanan “sastrawi”. Hal ini bisa menjadi wisata alternatif, juga lebih
mendekatkan antara pembaca dengan bahan bacaannya dalam konteks hubungan antara
cerita dan ruang penceritaan.
Pada 2017 sebuah komunitas pegiat sejarah Kota Bandung, Komunitas Aleut, sempat
melakukan perjalanan berdasarkan roman ini. Tapi, karena pelbagai keterbatasan,
titik-titik yang dilaluinya tidak terlalu lengkap. Dan kemarin, Minggu
(23/6/2019), mereka mengulang perjalanan yang sama.
Saya mengikuti dua perjalanan tersebut. Jumlah peserta yang turut serta, baik
pada 2017 maupun 2019, tidak terlalu banyak. Sebagai sebuah karya sastra klasik
yang ditulis pada akhir 1940-an, Atheis jelas berjarak dengan
generasi kiwari. Sehingga barangkali mereka tidak terlalu tahu dan hirau dengan
karya ini.
Atau mungkin saja generasi sekarang juga tak hendak mengelap-ngelap kanon
sastra klasik yang bagi mereka tak ada hubungannya secara langsung dengan
kehidupan mereka. Bisa jadi mereka punya kanon sastra sendiri yang lebih
mewakili zaman dan pengalamannya. Persis seperti pemahaman yang berjarak antara
Hasan dan ayahnya. (irf)
Ket:
- Tayang pertama kali di tirto.id pada 25 Juni 2019
- Foto: Pinterest