Showing posts with label garut. Show all posts
Showing posts with label garut. Show all posts

12 June 2021

Babancong Garut: Jejak Mataram dan Gelora Si Bung Besar


Kabupaten Garut tak hanya menyajikan pesona alam, tapi juga jejak bangunan bersejarah yang sampai hari ini masih terawat dengan baik. Salah satu tinggalan bersejarah tersebut adalah babancong, sebuah bangunan yang menyerupai podium yang terletak di sisi selatan Alun-alun Garut.

Posisi babancong Garut tak jauh dari pendopo dan masjid agung. Ornamen sisik ikan mas yang menghiasi dinding tangganya sama dengan yang ada di pendopo Kota Bandung dan Pasar Limbangan. Konon, ornamen ini adalah hiasan khas daerah Priangan.

Dibandingkan dengan babancong yang ada di Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Bandung, babancong di Kabupaten Garut jauh lebih baik dan terawat. Kiwari, babancong di Garut ini kerap digunakan oleh pembina upacara saat memperingati HUT Republik Indonesia.

Peruntukkan tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2017) yang menerangkan bahwa babancong adalah “Sebuah bangunan bundar yaitu paseban khas Sunda yang berfungsi sebagai panggung tempat berpidato.”

Raap menambahkan, meski Alun-alun Garut dan bangunan di sekelilingnya mulai dibangun pada tahun 1813, namun babancong justru baru dibangun pada tahun 1880.

Bermula dari Alun-alun Prakolonial

Keberadaan beberapa babancong di sejumlah kota di wilayah Priangan tak bisa dilepaskan dari pengaruh Kesultanan Mataram yang pernah sangat lama menguasai tanah Sunda.

Menurut Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2013), kebudayaan Sunda memang sangat terpengaruh oleh Jawa sejak Priangan jatuh ke tangan Mataram pada abad ke-17.

“Bukan hanya ranah kesenian, tapi juga administrasi pemerintahan, gaya hidup, dan bahasa yang terkena dampaknya: selama hampir duaratus tahun kesastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa,” tulisnya (hlm. 2).

Hegemoni Mataram di tanah Priangan dimulai ketika kerajaan Hindu-Buddha di Jawa bagian barat telah runtuh. Islam yang mulai berjaya di Jawa sebelah timur mulai meluaskan kekuasaannya ke bagian barat.

Kehadiran babancong di Garut dan di beberapa kota lainnya di Priangan sebagai pengaruh kebudayaan Mataram, mula-mula dapat diurut dari keberadaan alun-alun. Dan pada perkembangannya, menurut catatan Handinoto dalam makalah bertajuk “Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang” (Jurnal Dimensi edisi 18 September 1992), alun-alun terbagi ke dalam tiga periode, yakni masa prakolonial, kolonial, dan era setelah kolonial.

Tiga pembelahan zaman itu terutama dibedakan oleh pergeseran konsep alun-alun. Kecenderungannya bergradasi dari sakral ke profan, seiring dengan perubahan kompleks bangunan yang menyertainya.

Pada periode pertama, alun-alun telah hadir sejak zaman Kerajaan Majapahit yang berdiri pada abad ke-13. Mengutip dari naskah Negarakretagama yang ditulis Prapanca, Handinoto menjelaskan bahwa di sebelah utara kompleks keraton Majapahit terdapat dua alun-alun yang bernama Bubat dan Waguntur.

Menurutnya, alun-alun Bubat bersifat profan yang digunakan untuk pesta rakyat berupa pertunjukan dan permainan. Sementara alun-alun Waguntur yang sakral digunakan untuk upacara penobatan dan resepsi kenegaraan.

“Meskipun keterangan Prapanca dalam Negarakretagama kurang begitu jelas, tapi masih bisa ditangkap betapa pentingnya peran alun-alun sebagai bagian dari pusat kota,” imbuhnya.

Panembahan Senopati yang mendirikan Kerajaaan Mataram Islam kemudian mengadopsi dan mengembangkan konsep alun-alun dari Kerajaan Majapahit. Alun-alun selalu menjadi bagian dari kompleks keraton. Dan keraton merupakan pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan tempat raja tinggal, sehingga keraton dan alun-alun adalah miniatur makrokosmos yang disakralkan.

Catatan Handinoto tentang alun-alun beririsan dengan yang dikemukakan oleh Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (2018). Menurutnya, konsepsi ruang yang disusun Kesultanan Mataram adalah pengembangan dari tata ruang Candi Plaosan Lor yang diperkirakan berasal dari abad ke-19.

Denah candi tersebut memperlihatkan tempat-tempat suci yang dikelilingi ratusan candi kecil dan stupa. Mengutip hasil penelitian J.G. de Casparis, Lombard mencatat bahwa candi-candi kecil itu mewakili wilayah-wilayah vasal.

Menurut Selo Soemardjan dalam Perubahan Sosial di Yogyakarta (2009), Mataram kemudian mengembangkannya menjadi konsep lingkaran-lingkaran konsentris yang terdiri atas Keraton, Nagara, Nagaragung, dan Mancanagara.

Keraton merupakan lingkaran terdalam tempat sultan dan keluarganya tinggal. Pemerintah di dalamnya disebut paréntah jero. Sementara Nagara (ibu kota) yang lingkarannya semakin keluar, ditinggali para pangeran, patih, dan para pejabat tinggi lainnya. Pemerintahannya disebut paréntah njaba.

Selanjutnya Nagaragung, yakni ibu kota dalam arti yang luas. Tanah dalam wilayah ini berupa tanah lungguh yang dipercayakan kepada para pangeran dan pejabat tinggi.

Dan terakhir yakni Mancanagara yang wilayahnya paling luar dalam lingkaran konsentris, yang diperintah para bupati yang ditunjuk sultan, serta bertanggung jawab kepada patih. Para bupati di wilayah Priangan termasuk ke dalam lapisan lingkaran konsentris ini.

Dalam konsepsi ruang seperti itulah alun-alun hadir menjadi bagian dari lingkaran terdalam kekuasaan Jawa.

Tafsir Babancong dalam Poros Utara-Selatan

Kompleks keraton Mataram diatur dalam dua poros, yakni barat-timur dan selatan-utara. Poros pertama menentukan ruang pribadi, akrab, dan keramat. Sementara satu lagi, yakni selatan-utara, menentukan ruang umum, resmi, dan tempat upacara.

“Poros inilah (selatan-utara) yang paling nyata karena menghubungkan alun-alun utara dengan alun-alun selatan melalui tujuh halaman berturut-turut yang saling berhubungan lewat pintu gerbang,” tulis Lombard.

Dari masing-masing gerbang (selatan dan utara)—sebelum benar-benar sampai ke kediaman sultan—setelah melintasi alun-alun, seseorang mesti melalui beberapa tempat yang bernama Sitinggil, Brajanala, Kemandhungan, dan Srimanganti. Tempat-tempat tersebut untuk menanti sebelum memasuki halaman pusat atau pelataran.

Sitinggil sebagai tempat menanti paling luar dan posisinya paling dekat dengan alun-alun, kerap digunakan raja untuk berhadapan dengan para pejabat dan seluruh rakyat.

“Di Sitinggil lor terdapat sebuah serambi tinggi yang didatangi oleh raja pada kesempatan-kesempatan tertentu untuk duduk di kursi kebesaran, menghadap ke utara,” imbuh Lombard.

Di tempat ini pula menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2017), raja menemui pejabat dan rakyat yang di antaranya untuk menghadiri pelaksanaan hukuman pancung, pesta rakyat, dan pertunjukan kesenian. Sitinggil inilah yang kemungkinan besar diadopsi menjadi babancong oleh para bupati di Priangan ketika alun-alun mengalami pergeseran makna.  

Alun-alun Era Kolonial dan Sekarang

Setelah Belanda benar-benar menguasai Jawa pada abad ke-19, alun-alun mengalami sejumlah pergeseran makna. Meski demikian, para bupati yang bekerja di bawah kekuasaan pemerintah kolonial masih meneruskan warisan Mataram.

“Rumah bupati di Jawa selalu dibangun untuk menjadi miniatur keraton di Surakarta dan Yogyakarta,” tulis Handinoto dalam “Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang” (Jurnal Dimensi edisi 18 September 1992).

Di depan rumah para bupati dibangun pendopo dan di alun-alun diadakan pelbagai acara seperti sodoran, grebegan, dan sebagainya. Warisan tradisional ini menarik pemerintah kolonial untuk mengembangkannya dalam sistem pemerintahan tidak langsung yang mereka jalankan.

Pemerintahan kabupaten yang dipimpin seorang asisten residen (orang Belanda) dan bupati (pribumi), dipusatkan di sekitar alun-alun. Jika rumah bupati dan pendopo berada di sebelah selatan, maka rumah asisten residen biasanya di sebelah utara alun-alun.        

Pada masa itu di sekeliling alun-alun, seperti dicatat Olivier Johannes Raap, selain rumah bupati dan pendopo, juga terdapat masjid, gedung pengadilan, penjara, pasar, kantor pos, halte kendaraan umum, kantor polisi dan fasilitas lainnya. Ia tak menyebutkan kehadiran babancong, atau mungkin sudah terangkum dalam kalimat “dan fasilitas lainnya”.

“Sifat sakral alun-alun di zaman kolonial kemudian berkembang lebih merakyat. Pada zaman kolonial ini menjadi semacam ‘civic space’. Bahkan pada akhir zaman kolonial berkembang menjadi semacam plaza di Eropa,” tulis Handinoto.

Meski demikian, jika mengacu pada pembangunan babancong Garut yang didirikan pada paruh akhir abad ke-19, kiranya sistem feodalisme belum sepenuhnya luntur. Ya, karena bangunan tersebut yang biasa digunakan oleh para bupati masih melambangkan hubungan yang tidak egaliter antara pemimpin dengan rakyatnya.

Gelora Si Bung Besar   

Ketika membicarakan babancong, sebagian besar masyarakat Garut kerap mengaitkannya dengan peristiwa kedatangan dan pidato Sukarno. Didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, Bung Karno pernah berkunjung ke Garut pada tahun 1946, 1947, dan 1951. Ia dengan semangatnya yang khas berpidato di babancong Alun-alun Garut.

Pada kunjungan pertamanya sebelum pengakuan kedaulatan, kedatangan Sukarno ke Garut dalam rangka menyosialisasikan hasil Perundingan Linggarjati yang banyak menyulut sikap pro dan kontra.

Sedangkan pada tahun 1947, Sukarno datang ke Garut untuk memastikan bahwa rakyat Jawa Barat tidak mendukung Negara Pasundan yang diproklamasikan pada 4 Mei 1947 oleh mantan Bupati Garut Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa.

Sebagai catatat, Negara Pasundan pimpinan Soeria Kartalegawa adalah negara boneka bentukan Belanda yang minim dukungan dari rakyat Jawa Barat. Kartalegawa hanya seorang menak, politikus oportunis, yang menginginkan kembali ke zaman normal sebelum era Revolusi.

Sukarno sebetulnya tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan dukungan rakyat Jawa Barat, sebab mayoritas para aristokrat Sunda berdiri di belakang Republik.

Sebagai contoh, seperti ditulis Agus Mulyana dalam Negara Pasundan 1947-1950: Gejolak Menak Sunda Menuju Integrasi Nasional (2018), Wiranatakusumah V atau Dalem Haji yang mempunyai pamor besar di kalangan orang Sunda, menyebutkan bahwa Negara Pasundan yang diproklamasikan Kartalegawa tidak mempunyai dasar sejarah seperti perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Orang Pasundan hanya mengenal satu negara yaitu Negara Republik Indonesia,” ucap R. Enoch, mantan pengurus Paguyuban Pasundan menanggapi kelakuan Kartalegawa seperti dikutip Agus Mulyana.

Dalam lintasan sejarah itulah babancong Garut hadir seiring zaman yang terus bergerak. Ia tak bisa dipisahkan dari silih bergantinya hegemoni kekuasaan yang hadir di tanah Priangan.

Babancong bukan sekadar bangunan yang berdiri di sisi selatan Alun-alun Garut, tapi riwayatnya terkait dengan sejarah panjang Garut dalam berjalan di titian zaman. (irf)

     

Referensi:

1.     Nusa Jawa Silang Budaya Jilid III: Warisan-warisan Kerajaan Konsentris (2018) karya Denys Lombard.

2.     Negara Pasundan 1947-1950: Gejolak Menak Sunda Menuju Integrasi Nasional (2018) karya Agus Mulyana.

3.     Kota di Djawa Tempo Doeloe (2017) karya Olivier Johannes Raap.

4.     Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2013) karya Mikihiro Moriyama.

5.     Perubahan Sosial di Yogyakarta (2009) karya Selo Soemardjan.

6.     “Alun-alun sebagai Identitas Kota Jawa, Dulu dan Sekarang” (Jurnal Dimensi 18/ARS September 1992) karya Handinoto.

7.     https://naratasgaroet.net/2015/05/08/foto-foto-kunjungan-soekarno-hatta-di-garoet-tahun-1947/

21 October 2019

Sejarah Kecil di Cibatu: Dari Charlie Chaplin hingga Pablo Neruda


Sehari setelah menjalani debat pertama Pilpres 2019, Jokowi langsung berangkat ke Bandung dan dilanjutkan ke Cibatu menggunakan kereta api. Salah satu agenda kerjanya adalah meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

“Usai peninjauan, presiden beserta rombongan akan terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Masjid Besar Cibatu,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Tempo dulu, Stasiun Cibatu merupakan pusat bengkel lokomotif uap atau depo yang mempekerjakan sekitar 700 orang. Namun, pada 1980-an depo itu ditutup karena lokomotif uap dinilai telah ketinggalan zaman dan merugikan secara ekonomi.

Cibatu juga sempat menjadi tempat persimpangan jalur kereta api yang sekarang sudah tidak aktif, yakni menuju Garut yang berakhir di Cikajang—daerah dengan letak stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yakni 1.246 mdpl.



Charlie Chaplin dan Pablo Neruda

Dalam lintasan riwayatnya, Cibatu diliputi beberapa kisah tentang manusia, dari pesohor dunia, tokoh cerita sastra, sampai orang setengah gila.

Cibatu yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Garut ikut terpapar oleh julukan yang sempat disandang Garut sebagai “Swiss van Java”. Julukan ini, menurut S.R. Slamet dalam “Puncak Alpen Swiss van Java” yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2017, tak bisa dilepaskan dari pesan Thilly Weissenborn.

Perempuan ini, imbuh Slamet, adalah fotografer pengelola studio foto Lux yang berlokasi di lantai atas NV Garoetsche Apotheek en Handelsonderneming di Societeitstraat. Ia banyak memotret bentang alam Garut hingga terkenal ke dunia internasional.

Keindahan alam Garut yang disebut-sebut mirip dengan pergunungan di Swiss akhirnya mengundang banyak wisatawan. Slamet dalam artikelnya menyebut sejumlah orang, di antaranya D. Fock yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu yang menjabat Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers, serta Charlie Chaplin.

“Begitulah keindahan alam panorama Garut membuatnya dikenal sebagai daerah kunjungan wisata terkenal di tanah air di tahun 1920-an, sehingga novelis S. Ahmad Abdullah Assegaf mengabadikan keindahan alam dan keramahan penduduknya dalam novel Fatat Garoet (1928),” imbuhnya.


Ihwal julukan Garut ini ditulis juga oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). Menurutnya, keindahan Garut yang terletak tengah pergunungan indah selalu diiklankan sebagai Swiss-nya Jawa.

“Seabad yang lalu pariwisata sudah merupakan sektor ekonomi yang penting di Garut […] Di kota kecil yang mudah diakses melalui kereta api ini terdapat hotel, antara lain Hotel Papandayan yang dikelola oleh A. Hacks,” imbuhnya.

Charlie Chaplin, seperti ditulis Pungkit Wijata dalam “Ngamplang dalam Kenangan Pablo Neruda” yang tayang di Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2014, saat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu disambut warga dengan antusias. Ia yang berangkat dari Bandung dan disambut oleh ratusan orang termasuk santri, pelajar, dan ibu-ibu.

Sementara sesuai judul artikelnya yang menyebut Pablo Neruda, penyair kenamaan Chili itu sempat menjadi diplomat pada 1930 yang ditugaskan negaranya di Asia, yakni menjadi konsul di Batavia yang merupakan bagian Kerajaan Belanda. Selain Batavia, imbuh Wijaya yang mengutip dari La Soledad Luminosa, Pablo Neruda’s: Memoirs, Confiseo Que He Vivido (1974), Pablo Neruda juga sempat menyambangi Rangon, Kolombo, dan Singapura.

Di Batavia, Pablo Neruda menikahi Maria Antonieta Agenaar, perempuan kelahiran Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu. Menurut Wijaya, berdasarkan sebuah foto yang ditemukan Ian Campbell—peneliti dan ahli sastra Spanyol (Amerika Latin) asal Australia—mereka pernah menjalani bulan madu di Ngamplang, Garut.

“Sebuah foto menunjukkan Neruda bersama istrinya dari Belanda yang berpostur tinggi di Ngamplang, dekat kota Garut, Jawa Barat, ketika merayakan bulan madu pada bulan Desember 1930,” tulisnya seperti dikutip Wijaya.

Dan kehadiran mereka di Ngamplang, juga melalui Cibatu yang saat itu seperti dikutip Wijaya dari buku Haryoto Kunto, setiap hari dipenuhi pelbagai mobil milik sejumlah hotel untuk melayani para wisatawan.

“Kunto menjelaskan sekitaran 1935-1940, setiap hari di stasiun Kereta Api Cibatu, diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut: Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang,” tulisnya.

Saksi Kegelisahan Hasan

Achdiat Karta Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu yang menulis novel Atheis (1949), juga menjadikan Cibatu sebagai salah satu latar dalam ceritanya. Hasan, tokoh utama dalam kisahnya, lahir dan tinggal di Penyeredan, Wanareja, Garut.

Setelah menyelesaikan HIS di Tasikmalaya, Hasan melanjutkan ke MULO di Bandung dan akhirnya bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Setiap kali pergi-pulang ke dan dari Bandung, ia menggunakan moda kereta api dengan naik di Stasiun Cibatu. Termasuk saat mengajak kedua kawannya, Rusli dan Anwar, main ke rumahnya di Penyeredan.

Stasiun Cibatu, juga perjalanan selama di kereta api menuju Bandung, menjadi saksi saat Hasan gelisah dan murung setelah bertengkar hebat dengan ayahnya soal keyakinan. Pergaulannya di Bandung dengan Rusli, Anwar, juga Kartini, telah membuat Hasan berpisah jalan keyakinan dengan kedua orang tuanya.


Di benaknya masih teringat saat ibunya menangis setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Air mata orang tua itu berlinang dan menetes membasahi mukenanya, tembus membasahi lutut saat melaksanakan salat magrib. Ia juga teringat ayahnya yang memegang kepalanya sambil berbisik, terputus-putus, dan gemetar membaca ayat suci Alquran.

Ayahnya berkata, jika Hasan memang telah punya jalan sendiri dan berkeras dengan pilhannya, mereka tak bisa lagi melarangnya. Jalan berlainanlah yang pada akhirnya akan ditempuh. Namun, sebagai orangtua mereka tetap mendoakan Hasan agar bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat.

“Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. Lokomotifnya berat menghela hapas. Rel mengkilap dalam tikungan […] Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu, malas-malas agaknya berjalan, karena teriknya matahari. Lesu, seperti turut lesu dengan aku,” tulis Achdiat Karta Mihardja melukiskan kegundahan Hasan dalam perjalanannya.



Madroi “Kuncen” Stasiun Cibatu

Jika Achdiat Karta Mihardja berkisah tentang tokoh utama dalam karyanya, Haryoto Kunto yang menulis sejumlah buku sejarah populer tentang Bandung, mengenang Cibatu salah satunya lewat sosok Madroi: orang setengah gila.

“Tahun 1934, di Stasiun Cibatu bawahan Kabupaten Garut, orang menjumpai Madroi seorang gelandangan yang berperilaku edan eling,” tulisnya.

Madroi, imbuh Kunto, jika sedang waras menyapu bersih sampah di dalam dan lingkungan stasiun, juga menyiram bunga-bunga yang tumbuh di sela-sela rel kereta api. Namun jika sedang “kambuh”, ia kerap berlari-lari mengejar kereta api dan mengalih-ngalihkan wijzel rel kereta.



Namun, meski perilakunya demikian, Madroi disayangi warga Cibatu, termasuk ayah Kunto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Cibatu. Setiap kali mendekati lebaran, ayahnya selalu membelikan baju, peci, dan selop untuk Madroi.

Lalu menjelang malam takbiran, warga yang biasanya mengadakan pawai mengajak Madroi turut serta. Sambil membawa pelbagai makanan, Madroi diarak sambil digotong memakai tandu setelah dimandikan dan didandani mirip penganten sunat.

“Ba’da Asar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar Stasiun Cibatu. Selain barisan usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal, Mantri Polisi yang menunggang kuda beserta anak buahnya. Lalu sebuah joli dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna, yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh ‘pangeran’ Madroi,” tulisnya.

Pawai dipungkasi azan magrib yang menandai waktu buka puasa, sekaligus tanda itulah azan terakhir di bulan Ramadan. Warga kemudian bersantap menghabiskan makanan sampai tandas, menunaikan salat, dan takbiran.

“Madroi yang lemas pulas tertidur, sambil mendengkur keras, gara-gara kekenyangan menyantap nasi tumpeng dengan lauk-puak kepala ikan pais si Nyonya. Bahkan, seuntai ledakan mercon di halaman stasiun, sama sekali tak mengusik Madroi dari peraduannya,” imbuh Kunto. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id tanggal 19 Januari 2019

21 August 2017

Nyungsi Patempatan Novel Atheis


Sajarah Bandung éstu loba dituliskeun dina buku-buku. Ti jaman Walanda tug nepi ka anyeuna réa deuih penulis nu alihtiar pikeun ngumpulkeun singsakur pustaka anu aya patula-patalina jeung kaayaan anu ngandelkeun katerangan-katerangan narasumber boh lisan boh tulisan.

Anyeuna mah, hususna nu keur mikarep jeung mikaresep bacaan sabudeureun sajarah Bandung, tangtu hamo bireuk kana buku-buku “Sang Kuncén Bandung” Haryoto Kunto saperti Semerbak Bunga di Bandung Raya jeung Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Eta dua buku euyeub pisan ku data kaayaan Bandung alam béh ditu.

Lian ti éta, réa kénéh buku-buku ngeunaan Bandung nu ditulis ku pangarang séjénna. Bari lain waé winangun karya nonfiksi deuih, dalah karya nu sipatna rékaan atawa karya sastra gé bisa disebutkeun balatak ku nyaritakeun kaayaan Bandung téh. Salah sahijina nyaéta buku Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja.

Atheis sanajan wangunana karangan fiksi, tapi patempatan nu dijieun kasang carita lolobana di Bandung. Pon kitu deui carita nu ditepikeun saeutik gedéna ngagambarkeun kaayaan Bandung baheula, tegesna dina mangsa Walanda serah bongkokan ku Jepang.

Lian ti nyebutkeun sababaraha patempatan, di antarana waé saperti Jalan Léngkong Besar, Jalan Sasakgantung, Jalan Kebon Manggu, Bojongloa, Alun-alun, jeung sajabana, pangarang gé nembrakkeun kaayaan para nonoman Bandung mangsa harita nu aya patalina jeung robahna pamadegan katut kayakinana.

Geura tokoh utamana, Hasan. Manéhna teh nonoman Garut nu nyiar élmu di MULO Bandung jeung sanggeus tamat sekolah tuluy digawé di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Ti leuleutik Hasan dididik ku kolotna sangkan taat kana agama. Teu beurang teu peuting, Hasan diomat-omatan sangkan getol solat jeung ngaji. Atuh carita ngeunaan sawarga jeung naraka gé remen pisan dibalikan deui-balikan deui didongengkeun ku kolotna.

Indung bapana kungsi diajar élmu tarékat di Banten, anu satuluyna hirup dina pamadegan éta. Sapopoé ngajalankeun naon baé anu geus diguratkeun dina jalan tarékat, anu dipiyakin ku maranéhna.

Hiji mangsa basa Hasan geus mimiti boga pagawéan, manéhna nyarita ka kolotna, minangka ménta idin sangkan manéhna milu nalungtik jeung ngajalankeun tarékat nu ku kolotna geus dijalankeun. Asa kagunturan madu karagragan menyan putih, kolotna patingsalegruk bakating ku bagja yén anakna nu dipikanyaah, nu masih ngora kénéh tétéla hayang milu neuleuman bagbagan élmu agama.

Gancangna carita, Hasan ditepungkeun jeung guru tarékat nu baris ngawaris élmu. Dina derna, aya ritual nu kudu dicumponan ku Hasan. Di antarana waé kudu mandi 40 kali di walungan Cikapundung dina jero sapeuting, puasa tujuh poé, jeung kudu ngerem manéh di kamar salila tilu poé. Sanggeus kitu, Hasan panceg dina kayakinana, paréntah agama sasat jadi cecekelan pageuh.

Tapi kituna téh tétéla teu lila. Ari nu jadi cukang lantaranana Hasan tepung jeung Rusli, babaturanana basa sekolah di HIS Tasikmalaya. Rusli téh nonoman nu boga pamikiran jeung pamadegan nu patonggong-tonggong jeung Hasan. Ti leuleutik manéhna kaasup budak bangor, tukang ngaheureuyan kolot-kolot nu keur sarolat di masigit. Ieu pasipatan kabawa nepi ka gedé. Keur mah eukeur didikan ti kolotna saaya-aya, katurug-turug geus sawawa loba campur gaul jeung rupa-rupa jalma, nu boga pamikiran katut ideologi anu béda-béda.

Samalah apan Rusli téh kakolom anggota partéy nu ampir sakabéh babaturanana sapamadegan jeung manéhna, nyaéta ngagungkeun akal dina kahirupan sapopoéna. Pangeran jeung agama dianggap candu nu euweuh dina kamus kahirupan maranéhanana. Manggihan hal ieu tangtu waé Hasan reuwas naker. Salila hirup manéhna kakara pinanggih jeung jalma-jalma nu béda pamadeganana dina sual agama.

Mimitana Hasan aya niat ngada’wahan Rusli katut babaturanana, tapi dina derna, lain babaturanana nu kabaud kana pamadegan Hasan, kalah tibalik, manéhna kasedot sarta antukna milu kana ulekan pamadegan babaturanana.

Hiji mangsa basa kantorna libur, Hasan jeung hiji babaturanana balik ka Garut. Peuting panungtungan méméh Hasan mulang deui ka Bandung, manéhna paséa rongkah jeung bapana, pakeukeuh-keukeuh ngeunaan kayakinan jeung pamadeganana. Sanggeus duanana surti yén kayakinana moal bisa deui dihijikeun, nya paséa éta ahirna reureuh. Hasan geus jadi atheis, nyieun pigeusaneun papisah salawasna jeung nu jadi kolotna.

Tah, dina raraga maca sakaligus ngarawatan sajarah Bandung, Komunitas Aleut ngayakeun sawala buku Atheis dina Saptu, 29 Juli 2017. Ieu sawala téh mangrupa bagian tina kagiatan rutin unggal poé Saptu ti mimiti Juni 2015, nu sok disebut Kelas Literasi. Nu disawalakeunna teu jauh tina sual buku, nulis, jeung maca. Minangka nu sok jadi pangjejer nyaéta barudak Aleut sorangan, tapi sakapeung mah sok ngondang penulis katut éditor buku sangkan bisa babagi kanyaho jeung élmuna.

Kagiatan lolobana diayakeun di Jalan Solontongan Nomor 20-D, di wewengkon Buahbatu, da di dinya pisan Komunitas Aleut téh matuhna. Tapi sababaraha waktu ka tukang mah kungsi ogé sok diayakeun di taman-taman Kota Bandung, ngider piliganti ti hiji taman ka taman séjénna.

Palebah ngabedah novel Atheis, nyaéta basa Kelas Literasi geus asup minggu ka-103, kabeneran nu jadi pangjejerna téh kuring sorangan salaku anggota Komunitas Aleut. Harita nu haladir lolobana barudak ngora nu munggaran wawanohan jeung novel Atheis. Nu diobrolkeunana nyaéta eusining éta novel bari dipuseurkeun kana sakur patempatan di Bandung nu kasabit-sabit di dinya. Hal ieu minangka aya patalina jeung kagiatan rutin Komunitas Aleut séjénna, nyaéta Ngaleut.

Ari acara Ngaleut nu biasana diayakeun unggal poé Minggu téh mimiti diayakeunana ti 2006, tegesna ti basa Komunitas Aleut diadegkeun ku nonoman Kota Bandung nu mikatineung kana sajarah kotana. Ti danget harita, unggal Minggu sok ayakeun acara nyukcruk sajarah Kota Bandung ku jalan ngaleut ngadatangan sakur tempat di suklak-di siklukna ieu kota anu dalit pisan patula-patalina jeung sajarah kamekaran Bandung.

Nya, sabada acara sawala Atheis éta, isukan Komunitas Aleut ngayakeun kagiatan rutin nyaéta Ngaleut Atheis minangka lajuning lakuna. Dina éta kagiatan, barudak Komunitas Aleut nyungsi patempatan nu disebutkeun dina buku. Da najan kasebutna karangan fiksi, tapi ku sabab diadumaniskeun jeung sajarah, nya teu kagok dina prakprakanna ngaleut téh ngadatangan sababaraha imah nu disebut dina buku, saperti Léngkong Besar 27, Sasakgantung 18, Kebon Manggu 11, jeung sajabana.

Tina éta dua kagiatan, Komunitas Aleut sugan baé kakolomkeun kana nu naratas ngaguar karya sastra bari dipatalikeun jeung sajarah, hususna sajarah Bandung, dibarung ku derna nyukcruk patempatanana. Ku jalan kitu, sugan-sugan sasieureun sabeunyeureun aya manpaatna keur balaréa. [irf]

Tayang di Harian Pikiran Rakyat, rubrik Kalam
Edisi Senin, 21 Agustus 2017