Showing posts with label Haryoto Kunto. Show all posts
Showing posts with label Haryoto Kunto. Show all posts

21 October 2019

Sejarah Kecil di Cibatu: Dari Charlie Chaplin hingga Pablo Neruda


Sehari setelah menjalani debat pertama Pilpres 2019, Jokowi langsung berangkat ke Bandung dan dilanjutkan ke Cibatu menggunakan kereta api. Salah satu agenda kerjanya adalah meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

“Usai peninjauan, presiden beserta rombongan akan terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Masjid Besar Cibatu,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Tempo dulu, Stasiun Cibatu merupakan pusat bengkel lokomotif uap atau depo yang mempekerjakan sekitar 700 orang. Namun, pada 1980-an depo itu ditutup karena lokomotif uap dinilai telah ketinggalan zaman dan merugikan secara ekonomi.

Cibatu juga sempat menjadi tempat persimpangan jalur kereta api yang sekarang sudah tidak aktif, yakni menuju Garut yang berakhir di Cikajang—daerah dengan letak stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yakni 1.246 mdpl.



Charlie Chaplin dan Pablo Neruda

Dalam lintasan riwayatnya, Cibatu diliputi beberapa kisah tentang manusia, dari pesohor dunia, tokoh cerita sastra, sampai orang setengah gila.

Cibatu yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Garut ikut terpapar oleh julukan yang sempat disandang Garut sebagai “Swiss van Java”. Julukan ini, menurut S.R. Slamet dalam “Puncak Alpen Swiss van Java” yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2017, tak bisa dilepaskan dari pesan Thilly Weissenborn.

Perempuan ini, imbuh Slamet, adalah fotografer pengelola studio foto Lux yang berlokasi di lantai atas NV Garoetsche Apotheek en Handelsonderneming di Societeitstraat. Ia banyak memotret bentang alam Garut hingga terkenal ke dunia internasional.

Keindahan alam Garut yang disebut-sebut mirip dengan pergunungan di Swiss akhirnya mengundang banyak wisatawan. Slamet dalam artikelnya menyebut sejumlah orang, di antaranya D. Fock yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu yang menjabat Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers, serta Charlie Chaplin.

“Begitulah keindahan alam panorama Garut membuatnya dikenal sebagai daerah kunjungan wisata terkenal di tanah air di tahun 1920-an, sehingga novelis S. Ahmad Abdullah Assegaf mengabadikan keindahan alam dan keramahan penduduknya dalam novel Fatat Garoet (1928),” imbuhnya.


Ihwal julukan Garut ini ditulis juga oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). Menurutnya, keindahan Garut yang terletak tengah pergunungan indah selalu diiklankan sebagai Swiss-nya Jawa.

“Seabad yang lalu pariwisata sudah merupakan sektor ekonomi yang penting di Garut […] Di kota kecil yang mudah diakses melalui kereta api ini terdapat hotel, antara lain Hotel Papandayan yang dikelola oleh A. Hacks,” imbuhnya.

Charlie Chaplin, seperti ditulis Pungkit Wijata dalam “Ngamplang dalam Kenangan Pablo Neruda” yang tayang di Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2014, saat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu disambut warga dengan antusias. Ia yang berangkat dari Bandung dan disambut oleh ratusan orang termasuk santri, pelajar, dan ibu-ibu.

Sementara sesuai judul artikelnya yang menyebut Pablo Neruda, penyair kenamaan Chili itu sempat menjadi diplomat pada 1930 yang ditugaskan negaranya di Asia, yakni menjadi konsul di Batavia yang merupakan bagian Kerajaan Belanda. Selain Batavia, imbuh Wijaya yang mengutip dari La Soledad Luminosa, Pablo Neruda’s: Memoirs, Confiseo Que He Vivido (1974), Pablo Neruda juga sempat menyambangi Rangon, Kolombo, dan Singapura.

Di Batavia, Pablo Neruda menikahi Maria Antonieta Agenaar, perempuan kelahiran Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu. Menurut Wijaya, berdasarkan sebuah foto yang ditemukan Ian Campbell—peneliti dan ahli sastra Spanyol (Amerika Latin) asal Australia—mereka pernah menjalani bulan madu di Ngamplang, Garut.

“Sebuah foto menunjukkan Neruda bersama istrinya dari Belanda yang berpostur tinggi di Ngamplang, dekat kota Garut, Jawa Barat, ketika merayakan bulan madu pada bulan Desember 1930,” tulisnya seperti dikutip Wijaya.

Dan kehadiran mereka di Ngamplang, juga melalui Cibatu yang saat itu seperti dikutip Wijaya dari buku Haryoto Kunto, setiap hari dipenuhi pelbagai mobil milik sejumlah hotel untuk melayani para wisatawan.

“Kunto menjelaskan sekitaran 1935-1940, setiap hari di stasiun Kereta Api Cibatu, diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut: Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang,” tulisnya.

Saksi Kegelisahan Hasan

Achdiat Karta Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu yang menulis novel Atheis (1949), juga menjadikan Cibatu sebagai salah satu latar dalam ceritanya. Hasan, tokoh utama dalam kisahnya, lahir dan tinggal di Penyeredan, Wanareja, Garut.

Setelah menyelesaikan HIS di Tasikmalaya, Hasan melanjutkan ke MULO di Bandung dan akhirnya bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Setiap kali pergi-pulang ke dan dari Bandung, ia menggunakan moda kereta api dengan naik di Stasiun Cibatu. Termasuk saat mengajak kedua kawannya, Rusli dan Anwar, main ke rumahnya di Penyeredan.

Stasiun Cibatu, juga perjalanan selama di kereta api menuju Bandung, menjadi saksi saat Hasan gelisah dan murung setelah bertengkar hebat dengan ayahnya soal keyakinan. Pergaulannya di Bandung dengan Rusli, Anwar, juga Kartini, telah membuat Hasan berpisah jalan keyakinan dengan kedua orang tuanya.


Di benaknya masih teringat saat ibunya menangis setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Air mata orang tua itu berlinang dan menetes membasahi mukenanya, tembus membasahi lutut saat melaksanakan salat magrib. Ia juga teringat ayahnya yang memegang kepalanya sambil berbisik, terputus-putus, dan gemetar membaca ayat suci Alquran.

Ayahnya berkata, jika Hasan memang telah punya jalan sendiri dan berkeras dengan pilhannya, mereka tak bisa lagi melarangnya. Jalan berlainanlah yang pada akhirnya akan ditempuh. Namun, sebagai orangtua mereka tetap mendoakan Hasan agar bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat.

“Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. Lokomotifnya berat menghela hapas. Rel mengkilap dalam tikungan […] Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu, malas-malas agaknya berjalan, karena teriknya matahari. Lesu, seperti turut lesu dengan aku,” tulis Achdiat Karta Mihardja melukiskan kegundahan Hasan dalam perjalanannya.



Madroi “Kuncen” Stasiun Cibatu

Jika Achdiat Karta Mihardja berkisah tentang tokoh utama dalam karyanya, Haryoto Kunto yang menulis sejumlah buku sejarah populer tentang Bandung, mengenang Cibatu salah satunya lewat sosok Madroi: orang setengah gila.

“Tahun 1934, di Stasiun Cibatu bawahan Kabupaten Garut, orang menjumpai Madroi seorang gelandangan yang berperilaku edan eling,” tulisnya.

Madroi, imbuh Kunto, jika sedang waras menyapu bersih sampah di dalam dan lingkungan stasiun, juga menyiram bunga-bunga yang tumbuh di sela-sela rel kereta api. Namun jika sedang “kambuh”, ia kerap berlari-lari mengejar kereta api dan mengalih-ngalihkan wijzel rel kereta.



Namun, meski perilakunya demikian, Madroi disayangi warga Cibatu, termasuk ayah Kunto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Cibatu. Setiap kali mendekati lebaran, ayahnya selalu membelikan baju, peci, dan selop untuk Madroi.

Lalu menjelang malam takbiran, warga yang biasanya mengadakan pawai mengajak Madroi turut serta. Sambil membawa pelbagai makanan, Madroi diarak sambil digotong memakai tandu setelah dimandikan dan didandani mirip penganten sunat.

“Ba’da Asar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar Stasiun Cibatu. Selain barisan usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal, Mantri Polisi yang menunggang kuda beserta anak buahnya. Lalu sebuah joli dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna, yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh ‘pangeran’ Madroi,” tulisnya.

Pawai dipungkasi azan magrib yang menandai waktu buka puasa, sekaligus tanda itulah azan terakhir di bulan Ramadan. Warga kemudian bersantap menghabiskan makanan sampai tandas, menunaikan salat, dan takbiran.

“Madroi yang lemas pulas tertidur, sambil mendengkur keras, gara-gara kekenyangan menyantap nasi tumpeng dengan lauk-puak kepala ikan pais si Nyonya. Bahkan, seuntai ledakan mercon di halaman stasiun, sama sekali tak mengusik Madroi dari peraduannya,” imbuh Kunto. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id tanggal 19 Januari 2019

09 July 2017

Lebaran di Priangan dalam Kenangan Kuncen Bandung



Ketika hari-hari yang sedang dilalui terasa semakin sulit, menengok masa lalu kadang menjadi pelipur. Apabila laku buka puasa bersama di tempat-tempat niaga kuliner telah menjadi seremoni yang kering, gelaran midnight sale yang kalap melumpuhkan akal, parade mudik hanya perhitungan angka-angka celaka, dan pertanyaan “kapan kawin” di hari lebaran mulai menjadi teror, maka istirahatlah. Ramadan bukan bulan kurang ajar, juga lebaran, setidaknya di masa lampau.

Di tengah deru kendaraan yang memanjang menuju kampung halaman, yang beberapa hari kemudian bergerak kembali ke kota-kota besar, dan lamat-lamat tadarus Al Quran dari masjid dan surau yang mulai kosong, kiranya membaca buku yang diliputi nostalgia bisa menjadi titik henti. Setidaknya ada satu kesadaran bahwa waktu tak sepenuhnya tergesa menggerus ke depan, namun ada yang tersisa di bilik-bilik ingatan.

Setiap orang tentu mempunyai pengalaman yang berlain-lainan, termasuk dalam merayakan lebaran, atau setidaknya ada suatu masa di mana jejak perayaan masa lalu ditulis, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya melalui catatan. Haryoto Kunto misalnya, penulis yang dijuluki "Kuncen (juru kunci) Bandung" itu menggali kisah-kisah masa lalu dan pengalamannya sendiri. Dengan mencatatnya, lebaran tak sebatas dirayakan kemudian berlalu.

Kebiasaan mengenakan pakaian baru di hari lebaran, terutama anak-anak, telah berlangsung puluhan tahun. Bocah-bocah yang secara daya tahan tubuh belum sepenuhnya sama dengan orang dewasa dalam menjalankan puasa, demi latihan, kerap diiming-imingi hadiah.

“Bila anak-anak tamat puasa 10 hari pertama dapat insentif dibelikan tas sekolah beserta alat tulis lengkap. Tamat puasa 10 hari berikutnya dapat bonus sepatu baru. Dan ganjaran puasa 10 hari terakhir berupa satu stel baju baru. Jadi kalau di hari lebaran di rumah ada anak yang mengenakan pakaian bubututan (jelek), jelas dia tidak tamat puasanya,” tulisnya mengenang masa kecil.

Menurut penulis yang lahir pada tahun-tahun terakhir zaman kolonialisme Belanda ini, di beberapa daerah di Tatar Sunda ada satu buah tutur yang berbunyi, “Na ngahina teuing, kawas ka jelema nu teu dipitrahan baé.” (Kenapa menghina, seperti memandang kepada orang yang tidak membayar fitrah saja.”

Menjelang lebaran, ketika kewajiban membayar zakat fitrah mulai tiba, sudah menjadi adat kebiasan di kampung-kampung orang Sunda tempo dulu bahwa akan merasa hina jika tidak mampu membayar zakat fitrah. Tak heran jika warga yang paling miskin sekalipun mengusahakan sebisa mungkin untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dari sinilah buah tutur tersebut lahir.

Awal abad ke-19, selain zakat fitrah, Masjid Kaum Bandung (sekarang Masjid Raya Bandung) juga menerima zakat bumi dan zakat kerbau. Bagi penduduk kaya yang memiliki lebih dari 30 kerbau, di luar jumlah kerbau penghela pedati kopi, harus membayar zakat sebesar 5 Rijksdaalders (1 Rijksdaalders = Rp 1,50). Atau untuk setiap 10 kerbau yang dimiliki harus membayar zakat sebesar satu Dukat Emas setiap tahun.

Karena zaman werit atau rawan, banyak begal di jalan, maka perjalanan dari Onder-distrik ke Dayeuh Bandung sangat rawan jika membawa uang tunai. Sebagai gantinya, warga akhirnya lebih suka membawa kerbau untuk membayar zakat. Setiap menjelang lebaran, kerbau-kerbau itu dikumpulkan di alun-alun halaman Masjid Kaum Bandung. Hal tersebut tentu saja membuat alun-alun dipenuhi kotoran kerbau, sementara tak lama lagi alun-alun akan dipakai untuk salat Ied. Maka pengurus masjid akan bekerja keras membersihkan “bonus” zakat tersebut.

Haryoto Kunto, orang Jawa kelahiran tahun 1940 yang lahir dan menghabiskan hidupnya di Priangan, menyampaikan kisah tersebut dalam buku yang telah menjadi klasik, Ramadan di Priangan. Ia yang ayahnya bertugas sebagai ambtenaar Staats-Spoorwegen, merekam Ramadan dan lebaran masa lampau di Cibatu dan Bandung, dua daerah dari beberapa daerah sepanjang jalur kereta api tempat ayahnya bertugas.

Menurut penuturan ayahnya ketika ditugaskan di Cibatu, Garut, pada 1934, di stasiun Cibatu kerap dijumpai seorang gelandangan bernama Madroi yang berperilaku edan eling (kurang waras). Kalau pikirannya sedang waras, ia tak ubahnya seperti orang normal pada umumnya.  Tanpa disuruh siapa pun ia akan membersihkan sampah di peron, selokan, dan toilet stasiun, juga menyiram bunga-bunga.  Jika lebaran datang, ayahnya selalu memberi Madroi baju baru untuk hari raya.

“Modelnya seperti sandang pengantin sunat, dengan peci berhias asesoris pita warna emas yang dibeli di toko sandang Bawean di Pasar Baru. Namun untuk kesempatan ini, ayah memesan pakaian pengantin Jawa dari Yogya, lengkap dengan selop dan topi kuluknya, seperti busana bangsawan Mataram,” tulis Haryoto Kunto.

Cibatu di tahun itu masih sunyi, dan ibunya merasa bosan. Atas inisiatif ibunya, istri para pegawai Staats-Spoorwegen diberi kursus keterampilan menjahit pakaian, kerajinan tangan, memasak, dan membuat kue. Khusus untuk kursus membuat kue diadakan di bulan puasa.

Pada bulan Ramadan 1934, sehari sebelum lebaran, ibu-ibu tersebut bersepakat untuk membuat masakan dan kue-kue serta camilan lainnya untuk diarak keliling kota. Setelah zuhur, persiapan pawai hampir rampung. Sebelum rombongan pawai makanan bergerak, Madroi dimandikan dan didandani.

“Setelah rampung mandi, Madroi dihias, diberi pupur sedikit, dicukur gundul kepalanya, disiram minyak harum si Nyongnyong yang nyegak baunya, lalu akhirnya dikenakan busana kebesaran bangsawan Mataram dengan segala macam aksesorisnya. Sambil menunggu acara dimulai, Madroi dengan tenang mengisap nikmat sebatang Sigago (cerutu merek Chicago) pemberian ayah,” tambahnya.

Setelah asar, pawai mulai bergerak. Gegap gempita sekali itu menghunjam Cibatu yang sunyi. Bebunyian dimainkan: terompet, dogdog, angklung, kendang, dan rebana. Warga membawa lampion dan obor yang menerangi jalan. Madroi duduk di atas kursi yang dipikul oleh empat orang. Rute pawai makanan menjelang malam takbiran tersebut ditempuh sampai Sasak Beusi, jalan menuju Limbangan atau Malangbong.


Meski lahir dan menghabiskan seumur hidupnya di Tatar Sunda, namun Haryoto Kunto yang banyak menulis buku tentang Bandung seperti Semerbak Bunga di Bandung Raya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Savoy Homann Persinggahan Orang Penting, Balai Agung di Kota Bandung, Tempo Doeloe Cepat Berlalu, dan Bandung Penuh Sanjung, kiranya tak berani untuk menulis dalam bahasa Sunda. Tak seperti Sjarif Amin dan Us Tiarsa yang menulis memoarnya dalam bahasa Sunda, ia yang memang Jawa barangkali menyadari atau mengalami kepelikan bahasa Sunda yang tak sepenuhnya ia kuasai.

Selain itu, jika kisah yang dituturkan bukan merupakan pengalaman pribadi atau cerita dari orangtuanya, Kuncen Bandung kerap tak mencantumkan sumber tulisan.

Buku Ramadan di Priangan yang ditulisnya juga memuat sebuah fragmen yang sangat menarik. Fragmen itu terjadi pada 1930-an. Ramadan sudah di pengujung. Para alim ulama mengamati cakrawala, hendak melihat sabit pertama bulan Syawal. Namun mendung dan rintik hujan menghalangi pemandangan. Beduk menyambut lebaran sudah bertalu-talu, namun ketika matahari sudah tenggelam, bulan tak kunjung terlihat. Apalagi Bandung yang letaknya jauh dari garis pantai tentu menyulitkan untuk melihat sekelumit bulan di cakrawala.

Masyarakat menunggu. Persiapan menyambut hari raya belum dilakukan. Sekira pukul sepuluh malam, barulah Opas Kabupaten dan petugas Kaum berkeliling kampung sambil memukul gong kecil, sembari mengumumkan bahwa esok hari adalah lebaran.

Bandung yang tadinya masih diselimuti keraguan soal kapan lebaran, esok atau lusa, seketika meledak dalam kemeriahan. Ibu-ibu berlarian ke pasar yang mendadak dibuka untuk membeli bahan makanan, sementara bapak-bapak sibuk mencari Lebe atau Amil buat membayar zakat fitrah.

Rupanya berita tentang terlihatnya bulan dari daerah-daerah pesisir seperti Tanjung Kait di Banten, pesisir Cianjur, dan Jakarta datang terlambat. Tahun 1930-an, komunikasi belum lancar jaya seperti sekarang. (tirto.id - irf/zen)


Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 29 Juni 2017 

29 September 2015

Kelas Resensi Pekan ke-2

Memasuki pekan ke-2, peserta bertambah satu orang. Seperti pada pertemuan sebelumnya, kali pun buku-buku yang dibaca masih didominasi oleh teks-teks sastra; tiga kumpulan cerita pendek, dan dua novel. Sisanya tentang sejarah Kota Bandung dan kumpulan esai tentang budaya sehari-hari di Jepang.
Beberapa peserta, selain meresensinya secara lisan, juga mulai ada yang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Belum banyak memang, tapi setidaknya menegaskan satu hal, bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Menulis kerap, atau bahkan selalu lahir dari proses membaca terlebih dahulu.
Berikut daftar buku yang diresensi pada pekan ke-2 itu :
  1. Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta (Puthut EA)
Ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Diterbitkan–salah satunya, dalam rangka memperingati 15 tahun kepengarangan penulisnya. Dari 15 cerita yang disajikan, pasangan hidup—setidaknya menurut Puthut, adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini, pada perjalanannya acapkali rumit.
  1. Hidup Hanya Sekali (Remi Sylado)
Kisah dengan latar kota Bandung ini menceritakan tentang dua insan yang saling jatuh cinta, namun ternyata—setelah perjalanan panjang cerita, mereka adalah bersaudara. Mereka, dua orang yang saling jatuh cinta itu adalah Satria Sofiandi dan Madalena. Sepanjang cerita, penulis banyak membangun kebetulan-kebetulan antar peristiwa. Sulur ini terus mengalir sampai di penghujung. Selain itu, barangkali salah satu kebiasaan Remi, ia mengomentari banyak hal; mulai dari kebiasaan menganggukkan kepala, sampai kecenderungan anak muda yang menyukai filsafat eksistensialisme.
  1. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Haryoto Kunto)
Dalam salah satu karya “Kuncen Bandung” ini termuat ihwal; latar belakang kelahiran kota, cerita-cerita nostalgia tempo dulu, pernik kejayaan kota, pudarnya wajah dan citra Bandung tempo dulu seiring berjalannya waktu, kisah dan nasib bangunan-bangunan bersejarah, serta Bandung dalam kerangka harapan dan kenyataan yang mesti dihadapi oleh warga kota. Cara penulis yang lancar dalam bertutur meski tak selalu kronologis, juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan lagu dan puisi, serta ilustrasi yang menarik, membuat buku ini seolah naskah dongeng tentang perjalanan panjang sebuah kota.
  1. Semua Untuk Hindia (Iksana Banu)
Penulis kisah fiksi yang latar ceritanya seputar masa kolonial dan penjajahan, tak banyak yang bertutur dari sudut pandang “orang lain”. Di Indonesia, ketika sejarah ditulis dengan gelegak semangat nasionalisme, akhirnya hanya memposisikan dua kubu yang berlawanan secara abadi, yaitu kita (pribumi, si terjajah) dan mereka (orang asing, si penjajah, orang lain). Buku ini adalah sedikit dari pengecualian. Di tangan Iksana Banu, dengan menggunakan sudut pandang orang Belanda dan Indo, sejarah tak melulu sehimpun narasi hitam-putih, namun ada juga wilayah abu-abu yang kadang ditumbuhi oleh benih kemesraan kemanusiaan.
  1. Orang dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi)
Ini adalah pengalaman dan pandangan Ajip Rosidi selama bertahun-tahun merantau di Jepang. Sebagai seorang gaijin atau orang asing, Ajip melihat dengan dekat kebudayaan sehari-hari masyarakat di sana. Buku berisi 28 esai ini, di satu sisi, bisa dijadikan semacam panduan bagi warga asing, khususnya Indonesia, yang hendak tinggal di Jepang. Namun di sisi lain, karena ada—sedikit banyak, laku membandingkan-bandingkan dengan budaya di Indonesia, maka buku ini jadi terkesan terlampau banyak menyindir.
  1. Cinta Tak Pernah Tua (Benny Arnas)
Antologi cerita pendek ini, dari satu kisah ke kisah berikutnya, tidak seperti antologi cerpen lain yang relatif mandiri antar cerita, di buku ini justru memiliki keterkaitan. 12 cerita yang dihimpun, semuanya menceritakan Tanjung Samin dan keluarganya. Poligami, cemburu, kehilangan anak, hingga kesetiaan; semuanya muncul dalam rangkaian cerita pendek ini. Diksi dan kiasan yang cenderung berlarat-larat, membuat antologi ini—bagi sebagian pembaca, agak sulit dipahami dan dinikmati.
  1. A Farewell to Arms (Ernest Hemingway)
Entah disengaja atau tidak, novel yang menurut beberapa pembacanya terasa membosankan, juga ternyata menceritakan prajurit yang sudah bosan dengan perang. Ia lalu melarikan diri dari pertempuran bersama kekasihnya. Semua peristiwa dari mula pertempuran, terluka di medan laga, melarikan diri dalam situasi peperangan, dan sampai kekasihnya meninggal—semua adegan yang mestinya subur dengan aroma ketegangan, luapan emosi, dan letupan kecemasan, justru dihamparkan dengan datar begitu saja. Seorang kawan pernah menulis, “gaya Hemingway terbaik di eranya, tapi pembaca dia di generasi setelahnya punya pandangan lain.” Sekali ini, ungkapan itu barangkali benar. [ ]

16 August 2015

Komunitas Aleut : Mencintai Kota dari Dekat

“Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa
Banyak yang terasa baru, segala yang lama
mungkin akan tinggal cerita,
dan kita tak punya waktu untuk berduka.”

(Joko Pinurbo)

***

Seseorang datang ke kantor Pemkot Bandung hendak melihat dokumentasi catatan sejarah tentang kota tempat lahirnya, namun sayang sejarah yang dia cari hanya tersaji pada tiga lembar kertas folio. Tiga lembar saja! Dia adalah Haryoto Kunto (alm). Berangkat dari kekecewaan itulah akhirnya beliau menulis beberapa buku tentang Bandung yang sangat lengkap, di antaranya adalah Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dan Semerbak Bunga di Bandung Raya, tak lama kemudian beliau ditasbihkan sebagai Kuncen Bandung.

Kelahiran Komunitas Aleut sedikit banyak dipengaruhi oleh buku-buku Sang Kuncen Bandung itu. Komunitas ini, satu dari beberapa komunitas lain yang—seperti sepenggal puisi Joko Pinurbo yang saya kutip di awal tulisan—merasakan kegelisahan terhadap kondisi kota yang semakin hari kian berubah. Pembangunan merangsek di segala penjuru, yang celakanya kadang kurang memperhatikan unsur sejarah yang menjadi ingatan kolektif warga kota.

Cikal bakal komunitas ini diawali ketika Direktur Program Radio Mestika FM Bandung, yaitu Ridwan Hutagalung, membuat satu program di radionya yang bernama “Afternoon Coffee”. Acara ini sepekan sekali disajikan untuk membahas sejarah Kota Bandung yang sumbernya sebagian besar diambil dari buku-buku Haryoto Kunto.

Ridwan--di tengah tahun 2005, kemudian dilibatkan oleh panitia ospek mahasiswa baru Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran untuk ikut dalam acara yang relatif segar, yaitu ospek tanpa kekerasan, dan sebagai gantinya adalah mengunjungi situs-situs bersejarah di Kota Bandung. Gagasan ini ternyata mendapatkan respon yang positif dari para peserta ospek. Dari situlah kemudian muncul ide untuk mendirikan sebuah komunitas yang fokus utamanya pada apresiasi sejarah kota. Maka pada tahun 2006 resmilah didirikan Komunitas Aleut.

Kata “Aleut” sendiri yang diambil dari Bahasa Sunda—artinya berjalan beriringan, kemudian dipilih sebagai nama komunitas karena sejak dari mula kegiatannya memang berjalan kaki. Ngaleut yang kerap kita lihat pada orang Baduy, atau di tempat-tempat antrian yang mengular, seperti itulah proses jalan kaki yang dilakukan ketika menyusuri sudut-sudut Kota Bandung yang kaya oleh gang-gang sempit.

Dari laku jalan-jalan ini anggota Aleut semakin diperkaya oleh hal-hal menarik yang kerap tidak ada di buku-buku sejarah Kota Bandung. Dengan menyusuri setiap jengkal pojok kota, perjalanan setiap pekan adalah sebuah gerak yang mendekatkan para pegiat Aleut dengan kotanya yang kompleks. Buku, sosial media, dan alat penyebar informasi yang lain, yang cenderung berjarak dengan kehidupan nyata sehari-hari, membuat pegiat Aleut semakin terpacu untuk lebih dekat dengan denyut kehidupan kota, juga sejarahnya yang tercecer. Tak jarang di gang-gang sempit menemukan nisan orang-orang terdahulu yang usianya sudah berpuluh-puluh tahun.

Demi memperkaya perspektif tentang kota yang pada muaranya untuk berbagi, tak terhitung bangunan-bangunan bersejarah, ragam tempat kuliner, jejak tokoh, pemakaman, ruang-ruang publik, dan pusat literasi yang sudah didatangi. Dari sana kemudian informasi yang didapat didiskusikan di antara pegiat, ditulis, lalu dibagikan melalui kanal-kanal daring.

Dalam penulisannya--meskipun amatiran, namun sebisa-bisa tetap didukung oleh data-data tertulis yang dikayakan dengan penemuan-penemuan lapangan tadi. Kini di laman aleut.wordpress.com sudah diunggah lebih dari 600 entry tulisan. Mula-mula rutinitas tulisan yang dipublikasikan seiring dengan kegiatan per pekan, namun kini lebih ditingkatkan lagi. Produktifitas para pegiat Aleut dalam mencatat denyut kotanya lebih dipacu lagi dengan mengadakan liputan-liputan kecil pada beberapa momen penting; yang telah dikerjakan adalah waktu peringatan KAA ke-60, dan sekarang tengah menggarap penulisan bulan Ramadhan sebagai sebuah peristiwa budaya.

Energi menulis yang deras ini sesekali ditopang oleh kegiatan “kelas menulis” yang menghadirkan beberapa narasumber yang inspiratif, atau juga dari para pegiat Aleut sendiri yang dianggap lebih mengusai teknik penulisan. Maka di titik ini, Aleut sebagai sebuah komunitas yang mencatat secara amatiran sejarah Kota Bandung, adalah juga komunitas dengan semangat belajar yang tak pernah sudah.

Dalam perjalanannya, selain mencoba mengembangkan diri dengan belajar menulis sejarah kota, Aleut juga kerap mengadakan acara apresiasi di bidang lain, di antaranya adalah apresiasi dan diskusi tentang musik dan film. Kedua acara ini, meskipun agak keluar dari konteks sejarah kota, namun muaranya tetap pada pengayaan sudut pandang para pegiat, meningkatkan sensitifitas, dan belajar berdialektika.

***

Meskipun pada mulanya komunitas ini—bersama Ridwan Hutagalung, didirikan oleh mahasiswa Jurusan Sejarah UNPAD, tapi seiiring waktu anggotanya semakin banyak dan diisi oleh beragam latar belakang pendidikan, latar daerah, dan ragam usia. Tak sedikit orang-orang yang berasal dari luar daerah namun tengah mukim di Bandung; seperti Sukabumi, Cianjur, Ciamis, dan bahkan dari Batusangkar, yang ikut aktif di komunitas ini. Isinya pun tak melulu para mahasiswa (yang bidang study-nya berbeda-beda), namun ada juga karyawan swasta, PNS, tour guide, pengelola laman daring sepakbola, penulis buku, siswa SMA, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu saja mencerminkan bahwa secara usia pun berbeda-beda.        

Kondisi multi seperti ini semakin membuat Aleut kaya akan sudut pandang dari para pegiat. Jadi misalnya jika ada satu objek sejarah yang ditemukan di lapangan, maka pembahasannya bisa dilihat dari berbagai bidang keilmuan. Konsep kegiatan seperti ini menjadikan Aleut sebagai wadah belajar sejarah dengan cara populer dan dan tidak membosankan.

Sampai saat ini, di usianya yang sudah menginjak tahun ke sembilan, anggota Komunitas Aleut sudah lebih dari 700 orang. Dengan proses pendaftaran keanggotaan yang sangat mudah dan murah, yaitu hanya membayar iuran sebesar Rp 10,000.- (sepuluh ribu rupiah) per tahun, maka anggota baru sudah bisa bergabung di kegiatan yang sudah diagendakan sebelumnya.

Acara rutin dalam sepekan yaitu berlangsung di hari Kamis dan Minggu. Pada Kamis, atau pegiat Aleut menyebutnya dengan “Kamisan”, biasanya membahas tentang tempat yang akan dikunjungi dan rute yang akan ditempuh. Diskusi tersebut berlangsung pada sore sampai malam hari. Setelah keputusan dibuat secara musyawarah, barulah agenda untuk hari Minggu tersebut dipublikasikan di berbagai media sosial seperti WA, twitter (@KomunitasAleut), facebook, path, dan instagram.

Dari pekan ke pekan, lalu berganti bulan, kemudian berselang menjadi tahun, Komunitas Aleut terus menjaga nafas agar bisa tetap berkontribusi kepada Kota Bandung, sebab tak sedikit contoh yang memerikan tentang laku orang-orang yang peduli terhadap kota namun berusia pendek; sporadis, menghentak pada awalnya, tapi kemudian mundur teratur dan hilang nyaris tak berbekas.

Di kota yang semakin mekar ini, dan di tengah ingatan warga yang relatif pendek, Aleut hadir dengan langkah-langkah kecilnya, untuk sebisa-bisa menjaga ingatan kolektif dan menularkan kesadaran terhadap warga kota; bahwa kita tidak mesti gagap dengan laju perubahan, dan sejarah sebagaimana kaca spion bukan difungsikan untuk berjalan mundur, namun demi kelancaran perjalanan ke depan.


Hana nguni hana mangkė, tan hana nguni tan hana mangkė. Ada masa kini karena ada masa lalu. Kalau tidak ada dulu, tidak akan ada sekarang. [ ]   

Edisi cetak terbit di Majalah Karsa (Majalah Ekonomi Kreatif)
Volume 4 (Juli - Agustus 2015)