Showing posts with label cibatu. Show all posts
Showing posts with label cibatu. Show all posts

21 October 2019

Sejarah Kecil di Cibatu: Dari Charlie Chaplin hingga Pablo Neruda


Sehari setelah menjalani debat pertama Pilpres 2019, Jokowi langsung berangkat ke Bandung dan dilanjutkan ke Cibatu menggunakan kereta api. Salah satu agenda kerjanya adalah meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

“Usai peninjauan, presiden beserta rombongan akan terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Masjid Besar Cibatu,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Tempo dulu, Stasiun Cibatu merupakan pusat bengkel lokomotif uap atau depo yang mempekerjakan sekitar 700 orang. Namun, pada 1980-an depo itu ditutup karena lokomotif uap dinilai telah ketinggalan zaman dan merugikan secara ekonomi.

Cibatu juga sempat menjadi tempat persimpangan jalur kereta api yang sekarang sudah tidak aktif, yakni menuju Garut yang berakhir di Cikajang—daerah dengan letak stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yakni 1.246 mdpl.



Charlie Chaplin dan Pablo Neruda

Dalam lintasan riwayatnya, Cibatu diliputi beberapa kisah tentang manusia, dari pesohor dunia, tokoh cerita sastra, sampai orang setengah gila.

Cibatu yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Garut ikut terpapar oleh julukan yang sempat disandang Garut sebagai “Swiss van Java”. Julukan ini, menurut S.R. Slamet dalam “Puncak Alpen Swiss van Java” yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2017, tak bisa dilepaskan dari pesan Thilly Weissenborn.

Perempuan ini, imbuh Slamet, adalah fotografer pengelola studio foto Lux yang berlokasi di lantai atas NV Garoetsche Apotheek en Handelsonderneming di Societeitstraat. Ia banyak memotret bentang alam Garut hingga terkenal ke dunia internasional.

Keindahan alam Garut yang disebut-sebut mirip dengan pergunungan di Swiss akhirnya mengundang banyak wisatawan. Slamet dalam artikelnya menyebut sejumlah orang, di antaranya D. Fock yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu yang menjabat Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers, serta Charlie Chaplin.

“Begitulah keindahan alam panorama Garut membuatnya dikenal sebagai daerah kunjungan wisata terkenal di tanah air di tahun 1920-an, sehingga novelis S. Ahmad Abdullah Assegaf mengabadikan keindahan alam dan keramahan penduduknya dalam novel Fatat Garoet (1928),” imbuhnya.


Ihwal julukan Garut ini ditulis juga oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). Menurutnya, keindahan Garut yang terletak tengah pergunungan indah selalu diiklankan sebagai Swiss-nya Jawa.

“Seabad yang lalu pariwisata sudah merupakan sektor ekonomi yang penting di Garut […] Di kota kecil yang mudah diakses melalui kereta api ini terdapat hotel, antara lain Hotel Papandayan yang dikelola oleh A. Hacks,” imbuhnya.

Charlie Chaplin, seperti ditulis Pungkit Wijata dalam “Ngamplang dalam Kenangan Pablo Neruda” yang tayang di Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2014, saat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu disambut warga dengan antusias. Ia yang berangkat dari Bandung dan disambut oleh ratusan orang termasuk santri, pelajar, dan ibu-ibu.

Sementara sesuai judul artikelnya yang menyebut Pablo Neruda, penyair kenamaan Chili itu sempat menjadi diplomat pada 1930 yang ditugaskan negaranya di Asia, yakni menjadi konsul di Batavia yang merupakan bagian Kerajaan Belanda. Selain Batavia, imbuh Wijaya yang mengutip dari La Soledad Luminosa, Pablo Neruda’s: Memoirs, Confiseo Que He Vivido (1974), Pablo Neruda juga sempat menyambangi Rangon, Kolombo, dan Singapura.

Di Batavia, Pablo Neruda menikahi Maria Antonieta Agenaar, perempuan kelahiran Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu. Menurut Wijaya, berdasarkan sebuah foto yang ditemukan Ian Campbell—peneliti dan ahli sastra Spanyol (Amerika Latin) asal Australia—mereka pernah menjalani bulan madu di Ngamplang, Garut.

“Sebuah foto menunjukkan Neruda bersama istrinya dari Belanda yang berpostur tinggi di Ngamplang, dekat kota Garut, Jawa Barat, ketika merayakan bulan madu pada bulan Desember 1930,” tulisnya seperti dikutip Wijaya.

Dan kehadiran mereka di Ngamplang, juga melalui Cibatu yang saat itu seperti dikutip Wijaya dari buku Haryoto Kunto, setiap hari dipenuhi pelbagai mobil milik sejumlah hotel untuk melayani para wisatawan.

“Kunto menjelaskan sekitaran 1935-1940, setiap hari di stasiun Kereta Api Cibatu, diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut: Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang,” tulisnya.

Saksi Kegelisahan Hasan

Achdiat Karta Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu yang menulis novel Atheis (1949), juga menjadikan Cibatu sebagai salah satu latar dalam ceritanya. Hasan, tokoh utama dalam kisahnya, lahir dan tinggal di Penyeredan, Wanareja, Garut.

Setelah menyelesaikan HIS di Tasikmalaya, Hasan melanjutkan ke MULO di Bandung dan akhirnya bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Setiap kali pergi-pulang ke dan dari Bandung, ia menggunakan moda kereta api dengan naik di Stasiun Cibatu. Termasuk saat mengajak kedua kawannya, Rusli dan Anwar, main ke rumahnya di Penyeredan.

Stasiun Cibatu, juga perjalanan selama di kereta api menuju Bandung, menjadi saksi saat Hasan gelisah dan murung setelah bertengkar hebat dengan ayahnya soal keyakinan. Pergaulannya di Bandung dengan Rusli, Anwar, juga Kartini, telah membuat Hasan berpisah jalan keyakinan dengan kedua orang tuanya.


Di benaknya masih teringat saat ibunya menangis setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Air mata orang tua itu berlinang dan menetes membasahi mukenanya, tembus membasahi lutut saat melaksanakan salat magrib. Ia juga teringat ayahnya yang memegang kepalanya sambil berbisik, terputus-putus, dan gemetar membaca ayat suci Alquran.

Ayahnya berkata, jika Hasan memang telah punya jalan sendiri dan berkeras dengan pilhannya, mereka tak bisa lagi melarangnya. Jalan berlainanlah yang pada akhirnya akan ditempuh. Namun, sebagai orangtua mereka tetap mendoakan Hasan agar bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat.

“Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. Lokomotifnya berat menghela hapas. Rel mengkilap dalam tikungan […] Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu, malas-malas agaknya berjalan, karena teriknya matahari. Lesu, seperti turut lesu dengan aku,” tulis Achdiat Karta Mihardja melukiskan kegundahan Hasan dalam perjalanannya.



Madroi “Kuncen” Stasiun Cibatu

Jika Achdiat Karta Mihardja berkisah tentang tokoh utama dalam karyanya, Haryoto Kunto yang menulis sejumlah buku sejarah populer tentang Bandung, mengenang Cibatu salah satunya lewat sosok Madroi: orang setengah gila.

“Tahun 1934, di Stasiun Cibatu bawahan Kabupaten Garut, orang menjumpai Madroi seorang gelandangan yang berperilaku edan eling,” tulisnya.

Madroi, imbuh Kunto, jika sedang waras menyapu bersih sampah di dalam dan lingkungan stasiun, juga menyiram bunga-bunga yang tumbuh di sela-sela rel kereta api. Namun jika sedang “kambuh”, ia kerap berlari-lari mengejar kereta api dan mengalih-ngalihkan wijzel rel kereta.



Namun, meski perilakunya demikian, Madroi disayangi warga Cibatu, termasuk ayah Kunto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Cibatu. Setiap kali mendekati lebaran, ayahnya selalu membelikan baju, peci, dan selop untuk Madroi.

Lalu menjelang malam takbiran, warga yang biasanya mengadakan pawai mengajak Madroi turut serta. Sambil membawa pelbagai makanan, Madroi diarak sambil digotong memakai tandu setelah dimandikan dan didandani mirip penganten sunat.

“Ba’da Asar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar Stasiun Cibatu. Selain barisan usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal, Mantri Polisi yang menunggang kuda beserta anak buahnya. Lalu sebuah joli dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna, yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh ‘pangeran’ Madroi,” tulisnya.

Pawai dipungkasi azan magrib yang menandai waktu buka puasa, sekaligus tanda itulah azan terakhir di bulan Ramadan. Warga kemudian bersantap menghabiskan makanan sampai tandas, menunaikan salat, dan takbiran.

“Madroi yang lemas pulas tertidur, sambil mendengkur keras, gara-gara kekenyangan menyantap nasi tumpeng dengan lauk-puak kepala ikan pais si Nyonya. Bahkan, seuntai ledakan mercon di halaman stasiun, sama sekali tak mengusik Madroi dari peraduannya,” imbuh Kunto. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id tanggal 19 Januari 2019

10 September 2017

Jejak Atheis di Kota Bandung




“Rumah Kartini sekarang sudah jadi tempat berjualan obat perkasa!” ujar seorang kawan sebelum tawanya pecah. Ia bersama seorang kawan yang lain baru pulang menyusuri rumah para tokoh rekaan dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.

Bandung telah lama menjadi melting pot berbagai suku bangsa, agama, dan pemikiran. Zonasi klasik terkait pemukim dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Orang-orang Belanda dan Eropa mayoritas ditempatkan di sebelah Utara, masyarakat Timur Jauh (Arab, Tionghoa, Pakistan, India) berkumpul di sekitar rel kereta api, dan inlander alias warga pribumi ditempatkan di selatan.

Para tokoh perintis kemerdekaan dan tokoh nasional lainnya banyak yang pernah bermukim di Kota Bandung. Mereka menuntut ilmu, membibit gerakan politik, berdakwah, dan menggodok bakat intelektualnya di sini. Sekadar contoh, ada Tan Malaka, Sukarno, Sosrokartono, Natsir, Sjahrir, Dewi Sartika, Ernest Douwes Dekker, A. Hasan, dll. Kiprah dan jejak mereka terhampar di buku-buku dan menjadi bagian dari semesta sejarah Kota Bandung.      

Memoar ditulis, novel dibikin. Beberapa di antaranya berlatar Kota Bandung, yang menjadikan kota ini semakin kaya dengan tinggalan teks yang menjerat kisah dan peristiwa masa lalu yang berdenyut seiring dinamika kota.

Novel Atheis mula-mula terbit pada tahun 1949. Achdiat K. Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu, Garut, mendedahkan sebuah melting pot pemikiran di kalangan para pemuda Kota Bandung yang menyeret beberapa tokoh utamanya ke dalam tragedi kemanusiaan yang menggiriskan.

Sabtu, 29 Juli 2017, Komunitas Aleut menggelar kegiatan rutin dengan tajuk “Kelas Literasi pekan ke-103: Atheis”. Acara diskusi selo tapi gak selo-selo amat itu mencoba menyigi novel Atheis yang sudah berusia 68 tahun ke hadapan para pembaca muda, generasi millennial yang doyan mewedarkan kehidupannya di IG story. Keesokan harinya, mereka juga Ngaleut (acara menelusuri jejak sejarah yang telah diadakan lebih dari satu dasawarsa) dengan tema yang sama.

Rumah Kartini beralamat di Jl. Lengkong Besar 27, Rusli di Jl. Kebon Manggu 11, dan rumah bibinya Hasan di  Sasakgantung 18. Nama-nama itu adalah tokoh utama dalam novel Atheis. Rute yang dilalui para pegiat Komunitas Aleut dengan berjalan kaki tidak hanya tiga tempat itu saja, namun melintas juga ke Jl. Suniaraja, Jl. Otista, Jl. Dalem Kaum, dll, disesuaikan dengan peristiwa kejadian yag ditulis Achdiat.

Hasan adalah pemuda alim dengan keyakinan puritan. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat menjalankan segala perintah dan larangan agama Islam. Setelah lulus dari MULO Bandung dan mulai bekerja di Jawatan Air Kotapraja, ia mendalami ilmu agama dengan belajar tarekat seperti yang dianut oleh kedua orangtuanya.

Sekali waktu ketika ia tengah bekerja, datanglah Rusli dan Kartini yang hendak mengurus pemasangan air ke kantornya. Rupanya Hasan dan Rusli adalah kawan karib ketika kecil, saat mereka sekolah di HIS Tasikmalaya.

Pertemuan Hasan dengan Rusli dan Kartini menjadi awal tragedi. Dalam perjalanan pergaulannya, pemuda puritan itu mengalami gegar pemikiran. Ia yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya dengan cara dogmatis, sedikit demi sedikit mulai goyah. Sikap dan pemikiran Rusli, Kartini, beserta kawan-kawannya tentang Tuhan dan zat non materi lainnya, membuat Hasan meraba pedalaman hatinya.

“Kita harus pandai meneropong soal-soal hidup itu dengan akal dan pikiran yang bebas lepas. Pikiran dan penglihatan kita tidak boleh dikaburkan oleh fanatisme atau dogma,” ujar Rusli.

“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita. Tuhan hanya alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. Begitu pula teknik bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. Dus apa bedanya? Tak ada toh selain yang satu lebih nyata, lebih konkret daripada yang lain,” ujar Bung Parta (kawan Rusli) dalam sebuah pertemuan di rumah Rusli.  

Mulanya Hasan mencoba bertahan dengan apa yang selama ini ia yakini, namun karena pergaulannya cukup intens, maka benteng keimanannya akhirnya jebol. Pada satu kesempatan ketika ia pulang kampung ke Garut, Hasan berdebat dan bertengkar hebat dengan ayahnya terkait agama dan keyakinan. Mereka akhirnya berpisah jalan.

Di akhir kisah, Hasan bangkrut! Hubungan dengan ayahnya tak kunjung membaik sampai ajal menjemput. Kartini, yang telah menjadi istrinya, memilih bercerai akibat badai pertengkaran yang kian menghebat. Hasan sendiri menjadi amat ringkih, TBC merajalela memangsa paru-parunya.

Tema dalam novel ini tentu sangat sensitif, apalagi kiwari hampir segala isu sosial kerap dilekat-lekatkan dengan agama. Masyarakat yang terbelah pasca pemilihan presiden 2014 terus-menerus berkubu, saling serang di media sosial, dan palagan kerap mengintai di setiap Pemilihan Kepala Daerah.

Menanggapi hal ini, Rulfhi Alimudin Pratama, Koordinator Komunitas Aleut menjelaskan, bahwa apa yang dikerjakannya bersama kolega adalah dalam rangka memperkaya perspektif sejarah Kota Bandung. Ia juga mengatakan bahwa sudut pandang Komunitas Aleut bukan hendak menyebarkan atheisme, melainkan memotret dan mengangkat satu peristiwa dalam lintasan zaman, tentang Kota Bandung yang menjadi tempat bauran pemikiran berbagai kalangan.

“Selain ingin mengenalkan ulang karya sastra klasik, diangkatnya buku ini dalam kegiatan Komunitas Aleut adalah agar masyarakat tidak terpaku hanya kepada buku-buku sejarah, karena ternyata dalam karya sastra pun Kota Bandung kerap hadir sebagai latar kisah,” ujarnya menambahkan.

Novel Atheis pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sjumandjaja pada tahun 1974, dan dibintangi oleh Deddy Sutomo, Christine Hakim, Emmy Salim, Farouk Afero, maruli Sitompul, dan pemeran lainnya. Rencananya film ini akan diputar juga oleh Komunitas Aleut pada hari Selasa (1/8/2017), namun ternyata rencana tersebut gagal karena kualitas film tersebut, yang hanya tersedia di youtube, secara gambar dan suara sangat jelek.

Sebagai gantinya, menurut penuturan Ariyono Wahyu Widjajadi, koordinator Bioskop Preanger (divisi film Komunitas Aleut), film Atheis diganti oleh film Offside.

“Ya, karena gambar dan suaranya jelek, akhirnya kami ganti dengan (film) Offside, melanjutkan tema sepak bola seperti minggu-minggu sebelumnya,” ujarnya dengan wajah terlihat murung. Barangkali seperti itulah wajah Hasan ketika ia pulang ke Bandung pasca pertengkaran penghabisan dengan ayahnya. (preanger.id - irf)

13 August 2017

Achdiat K. Mihardja Mencangkul Batin Manusia



Jika sekali waktu Bung dan Nona naik kereta api dari Cibatu dan hendak menuju Bandung, di tengah deru kereta yang mendesah, perhatikan salah satu pojok gerbong, masih terdengarkah sedan itu?

Tahun 1940-an awal, seorang pemuda ringkih merunduk di sudut gerbong itu. Dadanya habis dimakan TBC. Jiwanya remuk redam. Sesal dan sedih mengiris hatinya yang koyak. Hasan namanya. Sehari sebelumnya ia bertengkar hebat dengan ayahnya, berselisih paham ihwal Tuhan dan keyakinan.

“Sekarang saya sudah dewasa. Sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa-maksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya. Juga dalam pendirian saya terhadap agama,” kata Hasan.

Ibunya tengah salat Magrib. Air matanya berlinang, menetes membasahi mukena. Setelah bertengkar, ayahnya menjamah kepala Hasan sambil berbisik membaca ayat suci Alquran. Suaranya terputus-putus dan gemetar.

“Kalau begitu, baiklah kita berpisahan jalan saja. Kau sudah mendapat jalan sendiri, ayah dan ibu pun sudah ada jalan sendiri. Jadi baiklah kita bernapsi-napsi saja menempuh jalan masing-masing. Memang, ayah dan ibu hanya berbuat sekadar sebagai orang tua saja, yang menjalankan sesuatu yang dianggapnya memang kewajibannya terhadap anaknya, ialah mendoakan semoga engkau di jalan hidup ini bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu selalu pohonkan dari Tuhan kami,” ucap ayahnya.
 

Hasan lahir di Panyeredan, Wanareja, Garut. Ia anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga orang kakaknya telah meninggal dunia sedari kecil. Bersama Fatimah, anak pamannya yang dipungut oleh kedua orang tuanya, Hasan hidup dalam lingkungan keluarga yang relijius. Ayah dan ibunya pernah berguru tarekat ke Banten. Ia sendiri dikenal sebagai anak yang alim.


Setelah menyelesaikan HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Tasikmalaya, ia melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Bandung. Dan setelah tamat, ia diterima bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Hari depan gilang gemilang menghampar di hadapannya: masih muda, berpendidikan, sudah bekerja, dan keturunan keluarga menak (ayahnya pensiunan manteri guru/Kepala Sekolah Dasar) yang baik-baik. Secara demografis, Hasan adalah jenis pemuda yang dapat melumerkan calon mertua yang keras hatinya.

“Ayah, bolehkah saya turut pula memeluk ilmu yang ayah dan ibu anuti?” kata Hasan sekali waktu.

Mata orang tuanya seketika membasah. Tangis bahagia membuncah mendengar permintaan permata hati yang hendak mendalami ilmu agama. Sambil menyeka air mata dengan ujung kebaya, ibunya berucap:

“Ya, anakku. Kau sekarang sudah cukup dewasa. Sekolah sudah tamat, pekerjaan sudah punya, tinggal pegangan yang utama dalam agama yang masih harus kau laksanakan. Dan itu sekarang sudah kau minta sendiri. Ibu dan ayah mengucap syukur alhamdulillah!”

Maka setelah semuanya diatur, segeralah Hasan menjalankan ritual tarekat yang telah dianut oleh kedua orang tuanya. Ritual ini bukan perkara gampang, ibarat menempuh jalan menuju kesuksesan, Hasan mesti bertungkuslumus untuk mencapainya.

Ia menjalankan puasa tujuh hari tujuh malam dan mandi di sungai Ci Kapundung sebanyak 40 kali selama satu malam, dari ba’da Isya sampai menjelang Subuh. Selain itu, ia pun pernah mengunci diri di dalam kamar selama tiga hari tiga malam: sonder makan, sonder minum, dan tiada bercakap dengan manusia.
“Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam air, menyelam ke dalam, dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air, lalu duduk di pinggir kali, membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh mempergunakan handuk. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi ke dalam air. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali,” demikian Hasan menjelaskan salah satu ritualnya.

Akibat menjalani ritual yang berat itu, wajah Hasan terlihat pucat. Pekerjaan kantor sempat terbengkalai, dan kerabat kerjanya mulai bertanya-tanya ihwal perubahan fisik Hasan yang terlihat melemah. Selain itu, ia juga sempat dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatannya berangsur payah. Dan karena ini pula paru-paru Hasan dimakan TBC.

Dalam proses mempelajari ilmu tarekat, Hasan dan kawan-kawannya yang sealiran kerap  melakukan pertemuan dengan gurunya untuk mendengarkan uraikan soal-soal agama. Namun pertemuan itu tak membuka celah untuk pertanyaan. Hasan dan murid-murid yang lain hanya diperintahkan untuk menerima saja segala arahan dari sang guru. Paling-paling jawabannya hanya, “InsyaAllah.”

“Nanti pun akan terbuka rahasia yang sekarang masih gelap itu. Bekerja sajalah yang rajin untuk ilmu kita itu, perbanyak berzikir, perbanyak bertawaduk, perbanyaklah berpuasa dan kurangi tidur. InsyaAllah nanti pun segala-gala akan menjadi terang. Untuk yang rajin beribadat dan melakukan segala perintah ajaran ilmu kita, tak akan ada perkataan ‘wallahualam’ itu. Baginya tak akan ada rahasia lagi. Sesungguhnya, hanya rohani yang suci bisa meningkat kepada tingkatan makrifat dan hakikat, InsyaAllah, rajin-rajinlah saja menjalankan segala perintah yang telah kuajarkan kepadamu itu!” Jawab sang guru menangkal pertanyaan dari murid-muridnya.

Demikianlah pada akhirnya, Hasan hidup dalam ketaatan tanpa ia periksa lagi segala yang dijalankannya. Tuhan, surga, neraka, dan hal-hal lain soal agama dan keyakinan—sedari ia kecil di bawah didikan orang tua, sampai dewasa ketika mempelajari ilmu tarekat, semuanya tiba kepada Hasan sebagai dogma yang tak boleh diperiksa dan dibantah.

Titik balik keyakinan dalam hidup Hasan dimulai ketika ia berjumpa dengan seorang kawan lamanya ketika ia tengah bekerja. Rusli namanya. Ia berkawan dengan Hasan ketika mereka sekolah di HIS Tasikmalaya. Jika Hasan melanjutkan sekolah di MULO Bandung, maka Rusli memilih sekolah di Sekolah Dagang di Jakarta. Sebelum pendidikannya selesai, ia memilih keluar dan bergabung dengan sebuah partai politik.
Ketika partainya dilarang, ia menyingkir ke Singapura selama 4 tahun, lalu berpindah-pindah tempat: Palembang, Jakarta, dan akhirnya berlabuh di Bandung. Selama di Singapura, ia bersentuhan dengan banyak pemikiran, paham, dan ideologi. Sementara untuk menghidupi dirinya, ia sempat menjadi buruh pelabuhan, sopir taksi, dan berdagang kecil-kecilan. Singkatnya hidup Rusli penuh dengan pengalaman liar, lebih rumit daripada hidup Hasan yang amat puritan.

Rusli berkawan dengan Kartini (janda muda korban kawin paksa ibunya), Anwar (seniman bohemian), Parta (tokoh partai yang dituakan), dan orang-orang partai lainnya yang sepaham. Bergaul dengan orang-orang seperti inilah keyakinan Hasan terhadap agama kemudian digempur habis-habisan.

Hasan mengalami gegar pemikiran. Hal-hal baru yang berseberangan dengan keyakinannya datang berseliweran. Mula-mula Hasan menganggap orang-orang seperti Rusli adalah kafir yang mesti ditunjukkan ke jalan yang lurus terang benderang. Ia pun berniat mendakwahi mereka. Namun bukannya usaha Hasan yang berhasil, ia malah terseret dan akhirnya larut dalam pemikiran kawan-kawannya itu.

“Kita harus pandai meneropong soal-soal hidup itu dengan akal dan pikiran yang bebas lepas. Pikiran dan penglihatan kita tidak boleh dikaburkan oleh fanatisme atau dogma,” ujar Rusli.

Sementara Anwar berkata, “Tuhan itu madat!”

“Tuhan itu adalah aku sendiri (telunjuknya sendiri menusuk dadanya). Dan bersama Kloos aku berkata: Ik ben een god in het diepst van mijn gedachten (Dalam pikiranku sedalam-dalamnya akulah Tuhan),” sambung Anwar.

Keyakinan kuat yang selama ini terpacak dalam diri Hasan perlahan goyah dan kelimpungan. Kondisi ini diperparah dengan rasa cinta Hasan kepada Kartini. Perempuan cantik yang sikapnya jauh dari korservatif itu secara tidak langsung mendorong Hasan untuk menerima segala apa yang dikhotbahkan oleh kawan-kawannya.

Dalam sebuah pertemuan dengan orang-orang partai yang diadakan di rumah Rusli, lagi-lagi keyakinan Hasan dihantam. Kali ini oleh Parta yang berkata, “Teknik nyata, tegas konkret. Tapi Tuhan samar-samar, kabur-kabur, melambung-lambung ke daerah yang tak tercapai oleh akal, ke daerah yang gaib-gaib, yang tidak ada bagi kami.”

Digempur terus-terusan seperti itu, akhirnya Hasan menyerah. Ia meninggalkan semua ritual keagamaan dan keyakinannya pindah haluan. Maka ketika ia pulang kampung, terjadilah pertengkaran itu. Pertengkaran yang memisahkan dirinya dengan sang ayah. Jalan hidup mereka berlainan. Itulah palu godam yang menghantam hubungan mereka untuk selama-lamanya.

Para pembaca buku terbitan Balai Pustaka tentu tidak sangsi lagi dengan cerita di atas. Tragedi yang mencangkul batin manusia ini muncul dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Buku ini mula-mula terbit pada warsa 1949, dan disambut baik oleh masyarakat, terutama para pemerhati sastra.

Penulis Atheis lahir di Cibatu, Garut, pada 6 Maret 1911. Achdiat menulis belasan karya yang terbentang dari tahun 1948 (sebagai editor buku Polemik Kebudayaan) sampai 2006 (Manifesto Khalifatullah), empat tahun sebelum wafat di Canberra, Australia.
“Tiada disangsikan lagi, ia seorang tokoh sastra Indonesia yang penting,” tulis Prof. Dr. A. Teeuw, ahli sastra Indonesia asal Belanda. (Pokok dan Tokoh dalam Kesusasteraan Indonesia Baru)

Menurut A. Teeuw, plot novel Atheis menggunakan pola [C {B (A) B} C]. Huruf A sebagai masa yang dibahas dalam tulisan tokoh Hasan, dan Hasan sebagai naratornya (masa kecil sampai bercerai dengan Kartini). Huruf B mewakili masa yang diceritakan narator (kawan Hasan yang menerima naskah). Sedangkan huruf C mewakili waktu Hasan terbunuh.

Di kalangan pembaca, sempat timbul pertanyaan yang menghubungkan Achdiat dengan Hasan. Penulis dan tokoh rekaannya tersebut berasal dari daerah yang sama, yaitu Garut. Apakah Achdiat tengah menceritakan dirinya melalui Hasan?

“Dichtung und Wahrheit (Khayal dan Kenyataan),” kata Achdiat.

Dalam bukunya yang lain, Kesan dan Kenangan (terbit tahun 1960), ia menjelaskan lagi prinsipnya dalam menulis.

“Pengamatan dan pengendapan pedoman bagiku dan fantasi adalah pencipta utama. Karenanya segala yang kulukiskan dalam buku ini bersifat Dichtung und Wahrheit atau Khayal dan Kenyataan. Sampai di mana Dichtung dan sampai di mana Wahrheit-nya, itu adalah rahasia pengarang sendiri. Tapi baiklah kukatakan, bahwa tiada ‘Hakikat’ yang bertentangan dengan ‘Kenyataan’, dan tiadalah ‘Khayal’ kreatif yang tidak mengubah-ubah, mematut-matut fakta dan kenyataan untuk sampai kepada inti pokoknya,” terang Achdiat. (tirto.id - irf/zen)
Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 5 Agustus 2017

09 July 2017

Lebaran di Priangan dalam Kenangan Kuncen Bandung



Ketika hari-hari yang sedang dilalui terasa semakin sulit, menengok masa lalu kadang menjadi pelipur. Apabila laku buka puasa bersama di tempat-tempat niaga kuliner telah menjadi seremoni yang kering, gelaran midnight sale yang kalap melumpuhkan akal, parade mudik hanya perhitungan angka-angka celaka, dan pertanyaan “kapan kawin” di hari lebaran mulai menjadi teror, maka istirahatlah. Ramadan bukan bulan kurang ajar, juga lebaran, setidaknya di masa lampau.

Di tengah deru kendaraan yang memanjang menuju kampung halaman, yang beberapa hari kemudian bergerak kembali ke kota-kota besar, dan lamat-lamat tadarus Al Quran dari masjid dan surau yang mulai kosong, kiranya membaca buku yang diliputi nostalgia bisa menjadi titik henti. Setidaknya ada satu kesadaran bahwa waktu tak sepenuhnya tergesa menggerus ke depan, namun ada yang tersisa di bilik-bilik ingatan.

Setiap orang tentu mempunyai pengalaman yang berlain-lainan, termasuk dalam merayakan lebaran, atau setidaknya ada suatu masa di mana jejak perayaan masa lalu ditulis, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya melalui catatan. Haryoto Kunto misalnya, penulis yang dijuluki "Kuncen (juru kunci) Bandung" itu menggali kisah-kisah masa lalu dan pengalamannya sendiri. Dengan mencatatnya, lebaran tak sebatas dirayakan kemudian berlalu.

Kebiasaan mengenakan pakaian baru di hari lebaran, terutama anak-anak, telah berlangsung puluhan tahun. Bocah-bocah yang secara daya tahan tubuh belum sepenuhnya sama dengan orang dewasa dalam menjalankan puasa, demi latihan, kerap diiming-imingi hadiah.

“Bila anak-anak tamat puasa 10 hari pertama dapat insentif dibelikan tas sekolah beserta alat tulis lengkap. Tamat puasa 10 hari berikutnya dapat bonus sepatu baru. Dan ganjaran puasa 10 hari terakhir berupa satu stel baju baru. Jadi kalau di hari lebaran di rumah ada anak yang mengenakan pakaian bubututan (jelek), jelas dia tidak tamat puasanya,” tulisnya mengenang masa kecil.

Menurut penulis yang lahir pada tahun-tahun terakhir zaman kolonialisme Belanda ini, di beberapa daerah di Tatar Sunda ada satu buah tutur yang berbunyi, “Na ngahina teuing, kawas ka jelema nu teu dipitrahan baĂ©.” (Kenapa menghina, seperti memandang kepada orang yang tidak membayar fitrah saja.”

Menjelang lebaran, ketika kewajiban membayar zakat fitrah mulai tiba, sudah menjadi adat kebiasan di kampung-kampung orang Sunda tempo dulu bahwa akan merasa hina jika tidak mampu membayar zakat fitrah. Tak heran jika warga yang paling miskin sekalipun mengusahakan sebisa mungkin untuk menunaikan kewajiban tersebut. Dari sinilah buah tutur tersebut lahir.

Awal abad ke-19, selain zakat fitrah, Masjid Kaum Bandung (sekarang Masjid Raya Bandung) juga menerima zakat bumi dan zakat kerbau. Bagi penduduk kaya yang memiliki lebih dari 30 kerbau, di luar jumlah kerbau penghela pedati kopi, harus membayar zakat sebesar 5 Rijksdaalders (1 Rijksdaalders = Rp 1,50). Atau untuk setiap 10 kerbau yang dimiliki harus membayar zakat sebesar satu Dukat Emas setiap tahun.

Karena zaman werit atau rawan, banyak begal di jalan, maka perjalanan dari Onder-distrik ke Dayeuh Bandung sangat rawan jika membawa uang tunai. Sebagai gantinya, warga akhirnya lebih suka membawa kerbau untuk membayar zakat. Setiap menjelang lebaran, kerbau-kerbau itu dikumpulkan di alun-alun halaman Masjid Kaum Bandung. Hal tersebut tentu saja membuat alun-alun dipenuhi kotoran kerbau, sementara tak lama lagi alun-alun akan dipakai untuk salat Ied. Maka pengurus masjid akan bekerja keras membersihkan “bonus” zakat tersebut.

Haryoto Kunto, orang Jawa kelahiran tahun 1940 yang lahir dan menghabiskan hidupnya di Priangan, menyampaikan kisah tersebut dalam buku yang telah menjadi klasik, Ramadan di Priangan. Ia yang ayahnya bertugas sebagai ambtenaar Staats-Spoorwegen, merekam Ramadan dan lebaran masa lampau di Cibatu dan Bandung, dua daerah dari beberapa daerah sepanjang jalur kereta api tempat ayahnya bertugas.

Menurut penuturan ayahnya ketika ditugaskan di Cibatu, Garut, pada 1934, di stasiun Cibatu kerap dijumpai seorang gelandangan bernama Madroi yang berperilaku edan eling (kurang waras). Kalau pikirannya sedang waras, ia tak ubahnya seperti orang normal pada umumnya.  Tanpa disuruh siapa pun ia akan membersihkan sampah di peron, selokan, dan toilet stasiun, juga menyiram bunga-bunga.  Jika lebaran datang, ayahnya selalu memberi Madroi baju baru untuk hari raya.

“Modelnya seperti sandang pengantin sunat, dengan peci berhias asesoris pita warna emas yang dibeli di toko sandang Bawean di Pasar Baru. Namun untuk kesempatan ini, ayah memesan pakaian pengantin Jawa dari Yogya, lengkap dengan selop dan topi kuluknya, seperti busana bangsawan Mataram,” tulis Haryoto Kunto.

Cibatu di tahun itu masih sunyi, dan ibunya merasa bosan. Atas inisiatif ibunya, istri para pegawai Staats-Spoorwegen diberi kursus keterampilan menjahit pakaian, kerajinan tangan, memasak, dan membuat kue. Khusus untuk kursus membuat kue diadakan di bulan puasa.

Pada bulan Ramadan 1934, sehari sebelum lebaran, ibu-ibu tersebut bersepakat untuk membuat masakan dan kue-kue serta camilan lainnya untuk diarak keliling kota. Setelah zuhur, persiapan pawai hampir rampung. Sebelum rombongan pawai makanan bergerak, Madroi dimandikan dan didandani.

“Setelah rampung mandi, Madroi dihias, diberi pupur sedikit, dicukur gundul kepalanya, disiram minyak harum si Nyongnyong yang nyegak baunya, lalu akhirnya dikenakan busana kebesaran bangsawan Mataram dengan segala macam aksesorisnya. Sambil menunggu acara dimulai, Madroi dengan tenang mengisap nikmat sebatang Sigago (cerutu merek Chicago) pemberian ayah,” tambahnya.

Setelah asar, pawai mulai bergerak. Gegap gempita sekali itu menghunjam Cibatu yang sunyi. Bebunyian dimainkan: terompet, dogdog, angklung, kendang, dan rebana. Warga membawa lampion dan obor yang menerangi jalan. Madroi duduk di atas kursi yang dipikul oleh empat orang. Rute pawai makanan menjelang malam takbiran tersebut ditempuh sampai Sasak Beusi, jalan menuju Limbangan atau Malangbong.


Meski lahir dan menghabiskan seumur hidupnya di Tatar Sunda, namun Haryoto Kunto yang banyak menulis buku tentang Bandung seperti Semerbak Bunga di Bandung Raya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Savoy Homann Persinggahan Orang Penting, Balai Agung di Kota Bandung, Tempo Doeloe Cepat Berlalu, dan Bandung Penuh Sanjung, kiranya tak berani untuk menulis dalam bahasa Sunda. Tak seperti Sjarif Amin dan Us Tiarsa yang menulis memoarnya dalam bahasa Sunda, ia yang memang Jawa barangkali menyadari atau mengalami kepelikan bahasa Sunda yang tak sepenuhnya ia kuasai.

Selain itu, jika kisah yang dituturkan bukan merupakan pengalaman pribadi atau cerita dari orangtuanya, Kuncen Bandung kerap tak mencantumkan sumber tulisan.

Buku Ramadan di Priangan yang ditulisnya juga memuat sebuah fragmen yang sangat menarik. Fragmen itu terjadi pada 1930-an. Ramadan sudah di pengujung. Para alim ulama mengamati cakrawala, hendak melihat sabit pertama bulan Syawal. Namun mendung dan rintik hujan menghalangi pemandangan. Beduk menyambut lebaran sudah bertalu-talu, namun ketika matahari sudah tenggelam, bulan tak kunjung terlihat. Apalagi Bandung yang letaknya jauh dari garis pantai tentu menyulitkan untuk melihat sekelumit bulan di cakrawala.

Masyarakat menunggu. Persiapan menyambut hari raya belum dilakukan. Sekira pukul sepuluh malam, barulah Opas Kabupaten dan petugas Kaum berkeliling kampung sambil memukul gong kecil, sembari mengumumkan bahwa esok hari adalah lebaran.

Bandung yang tadinya masih diselimuti keraguan soal kapan lebaran, esok atau lusa, seketika meledak dalam kemeriahan. Ibu-ibu berlarian ke pasar yang mendadak dibuka untuk membeli bahan makanan, sementara bapak-bapak sibuk mencari Lebe atau Amil buat membayar zakat fitrah.

Rupanya berita tentang terlihatnya bulan dari daerah-daerah pesisir seperti Tanjung Kait di Banten, pesisir Cianjur, dan Jakarta datang terlambat. Tahun 1930-an, komunikasi belum lancar jaya seperti sekarang. (tirto.id - irf/zen)


Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 29 Juni 2017