Showing posts with label Kereta Api. Show all posts
Showing posts with label Kereta Api. Show all posts

21 October 2019

Sejarah Kecil di Cibatu: Dari Charlie Chaplin hingga Pablo Neruda


Sehari setelah menjalani debat pertama Pilpres 2019, Jokowi langsung berangkat ke Bandung dan dilanjutkan ke Cibatu menggunakan kereta api. Salah satu agenda kerjanya adalah meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

“Usai peninjauan, presiden beserta rombongan akan terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Masjid Besar Cibatu,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Tempo dulu, Stasiun Cibatu merupakan pusat bengkel lokomotif uap atau depo yang mempekerjakan sekitar 700 orang. Namun, pada 1980-an depo itu ditutup karena lokomotif uap dinilai telah ketinggalan zaman dan merugikan secara ekonomi.

Cibatu juga sempat menjadi tempat persimpangan jalur kereta api yang sekarang sudah tidak aktif, yakni menuju Garut yang berakhir di Cikajang—daerah dengan letak stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yakni 1.246 mdpl.



Charlie Chaplin dan Pablo Neruda

Dalam lintasan riwayatnya, Cibatu diliputi beberapa kisah tentang manusia, dari pesohor dunia, tokoh cerita sastra, sampai orang setengah gila.

Cibatu yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Garut ikut terpapar oleh julukan yang sempat disandang Garut sebagai “Swiss van Java”. Julukan ini, menurut S.R. Slamet dalam “Puncak Alpen Swiss van Java” yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2017, tak bisa dilepaskan dari pesan Thilly Weissenborn.

Perempuan ini, imbuh Slamet, adalah fotografer pengelola studio foto Lux yang berlokasi di lantai atas NV Garoetsche Apotheek en Handelsonderneming di Societeitstraat. Ia banyak memotret bentang alam Garut hingga terkenal ke dunia internasional.

Keindahan alam Garut yang disebut-sebut mirip dengan pergunungan di Swiss akhirnya mengundang banyak wisatawan. Slamet dalam artikelnya menyebut sejumlah orang, di antaranya D. Fock yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu yang menjabat Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers, serta Charlie Chaplin.

“Begitulah keindahan alam panorama Garut membuatnya dikenal sebagai daerah kunjungan wisata terkenal di tanah air di tahun 1920-an, sehingga novelis S. Ahmad Abdullah Assegaf mengabadikan keindahan alam dan keramahan penduduknya dalam novel Fatat Garoet (1928),” imbuhnya.


Ihwal julukan Garut ini ditulis juga oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). Menurutnya, keindahan Garut yang terletak tengah pergunungan indah selalu diiklankan sebagai Swiss-nya Jawa.

“Seabad yang lalu pariwisata sudah merupakan sektor ekonomi yang penting di Garut […] Di kota kecil yang mudah diakses melalui kereta api ini terdapat hotel, antara lain Hotel Papandayan yang dikelola oleh A. Hacks,” imbuhnya.

Charlie Chaplin, seperti ditulis Pungkit Wijata dalam “Ngamplang dalam Kenangan Pablo Neruda” yang tayang di Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2014, saat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu disambut warga dengan antusias. Ia yang berangkat dari Bandung dan disambut oleh ratusan orang termasuk santri, pelajar, dan ibu-ibu.

Sementara sesuai judul artikelnya yang menyebut Pablo Neruda, penyair kenamaan Chili itu sempat menjadi diplomat pada 1930 yang ditugaskan negaranya di Asia, yakni menjadi konsul di Batavia yang merupakan bagian Kerajaan Belanda. Selain Batavia, imbuh Wijaya yang mengutip dari La Soledad Luminosa, Pablo Neruda’s: Memoirs, Confiseo Que He Vivido (1974), Pablo Neruda juga sempat menyambangi Rangon, Kolombo, dan Singapura.

Di Batavia, Pablo Neruda menikahi Maria Antonieta Agenaar, perempuan kelahiran Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu. Menurut Wijaya, berdasarkan sebuah foto yang ditemukan Ian Campbell—peneliti dan ahli sastra Spanyol (Amerika Latin) asal Australia—mereka pernah menjalani bulan madu di Ngamplang, Garut.

“Sebuah foto menunjukkan Neruda bersama istrinya dari Belanda yang berpostur tinggi di Ngamplang, dekat kota Garut, Jawa Barat, ketika merayakan bulan madu pada bulan Desember 1930,” tulisnya seperti dikutip Wijaya.

Dan kehadiran mereka di Ngamplang, juga melalui Cibatu yang saat itu seperti dikutip Wijaya dari buku Haryoto Kunto, setiap hari dipenuhi pelbagai mobil milik sejumlah hotel untuk melayani para wisatawan.

“Kunto menjelaskan sekitaran 1935-1940, setiap hari di stasiun Kereta Api Cibatu, diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut: Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang,” tulisnya.

Saksi Kegelisahan Hasan

Achdiat Karta Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu yang menulis novel Atheis (1949), juga menjadikan Cibatu sebagai salah satu latar dalam ceritanya. Hasan, tokoh utama dalam kisahnya, lahir dan tinggal di Penyeredan, Wanareja, Garut.

Setelah menyelesaikan HIS di Tasikmalaya, Hasan melanjutkan ke MULO di Bandung dan akhirnya bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Setiap kali pergi-pulang ke dan dari Bandung, ia menggunakan moda kereta api dengan naik di Stasiun Cibatu. Termasuk saat mengajak kedua kawannya, Rusli dan Anwar, main ke rumahnya di Penyeredan.

Stasiun Cibatu, juga perjalanan selama di kereta api menuju Bandung, menjadi saksi saat Hasan gelisah dan murung setelah bertengkar hebat dengan ayahnya soal keyakinan. Pergaulannya di Bandung dengan Rusli, Anwar, juga Kartini, telah membuat Hasan berpisah jalan keyakinan dengan kedua orang tuanya.


Di benaknya masih teringat saat ibunya menangis setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Air mata orang tua itu berlinang dan menetes membasahi mukenanya, tembus membasahi lutut saat melaksanakan salat magrib. Ia juga teringat ayahnya yang memegang kepalanya sambil berbisik, terputus-putus, dan gemetar membaca ayat suci Alquran.

Ayahnya berkata, jika Hasan memang telah punya jalan sendiri dan berkeras dengan pilhannya, mereka tak bisa lagi melarangnya. Jalan berlainanlah yang pada akhirnya akan ditempuh. Namun, sebagai orangtua mereka tetap mendoakan Hasan agar bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat.

“Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. Lokomotifnya berat menghela hapas. Rel mengkilap dalam tikungan […] Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu, malas-malas agaknya berjalan, karena teriknya matahari. Lesu, seperti turut lesu dengan aku,” tulis Achdiat Karta Mihardja melukiskan kegundahan Hasan dalam perjalanannya.



Madroi “Kuncen” Stasiun Cibatu

Jika Achdiat Karta Mihardja berkisah tentang tokoh utama dalam karyanya, Haryoto Kunto yang menulis sejumlah buku sejarah populer tentang Bandung, mengenang Cibatu salah satunya lewat sosok Madroi: orang setengah gila.

“Tahun 1934, di Stasiun Cibatu bawahan Kabupaten Garut, orang menjumpai Madroi seorang gelandangan yang berperilaku edan eling,” tulisnya.

Madroi, imbuh Kunto, jika sedang waras menyapu bersih sampah di dalam dan lingkungan stasiun, juga menyiram bunga-bunga yang tumbuh di sela-sela rel kereta api. Namun jika sedang “kambuh”, ia kerap berlari-lari mengejar kereta api dan mengalih-ngalihkan wijzel rel kereta.



Namun, meski perilakunya demikian, Madroi disayangi warga Cibatu, termasuk ayah Kunto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Cibatu. Setiap kali mendekati lebaran, ayahnya selalu membelikan baju, peci, dan selop untuk Madroi.

Lalu menjelang malam takbiran, warga yang biasanya mengadakan pawai mengajak Madroi turut serta. Sambil membawa pelbagai makanan, Madroi diarak sambil digotong memakai tandu setelah dimandikan dan didandani mirip penganten sunat.

“Ba’da Asar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar Stasiun Cibatu. Selain barisan usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal, Mantri Polisi yang menunggang kuda beserta anak buahnya. Lalu sebuah joli dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna, yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh ‘pangeran’ Madroi,” tulisnya.

Pawai dipungkasi azan magrib yang menandai waktu buka puasa, sekaligus tanda itulah azan terakhir di bulan Ramadan. Warga kemudian bersantap menghabiskan makanan sampai tandas, menunaikan salat, dan takbiran.

“Madroi yang lemas pulas tertidur, sambil mendengkur keras, gara-gara kekenyangan menyantap nasi tumpeng dengan lauk-puak kepala ikan pais si Nyonya. Bahkan, seuntai ledakan mercon di halaman stasiun, sama sekali tak mengusik Madroi dari peraduannya,” imbuh Kunto. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id tanggal 19 Januari 2019

29 September 2017

Kota Fasis yang Sempurna: Naik Kereta Api di Jakarta


Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta.  Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.

Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat ‘demokratis’, ‘toleran’ dan ‘perekonomian terbesar di Asia Tenggara’ sebenarnya adalah tempat dimana mayoritas penduduknya tidak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri. Dari dekat makin nyata bahwa kota ini punya indikator sosial yang levelnya lazim ditemui di Sub-Sahara Afrika, bukan di Asia Timur. Selain itu, kota ini juga semakin keras dan tidak toleran terhadap kaum minoritas (agama maupun etnik), termasuk mereka yang menuntut keadilan sosial. Perlu kedisiplinan yang luar biasa untuk tidak menyadari ini semua.

Slavoj Zizek, filsuf Slovenia, menulis dalam bukunya The Violence:

“Disini kita temui perbedaan Lacanian antara kenyataan (reality) dan yang Nyata (the Real): ‘kenyataan’ (‘reality’) yang dimaksud disini adalah kenyataan sosial dari orang-orang yang benar-benar terlibat dalam interaksi dan dalam proses produksi, sementara yang Nyata (the Real) adalah sesuatu yang ‘abstrak’ yang tak dapat ditawar, logika menakutkan dari ibukota yang menentukan apa yang terjadi dalam kenyataan sosial. Kita dapat melihat kesenjangan ini secara jelas ketika kita pergi ke suatu negara yang kehidupan masyarakatnya berantakan. Banyak kita lihat kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia. Namun, yang bisa kita baca hanyalah laporan dari para ekonom bahwa kondisi ekonomi negara ini ‘baik secara finansial’ – realitas tidak penting, yang penting adalah kondisi di ibukota…”

Kondisi di ibukota dan para elitnya baik-baik saja, meskipun dibalik itu negara dalam kondisi morat-marit. Tapi mari kita lihat lagi masalah kereta api kita.

Saya memutuskan untuk naik kereta api ekspres dari Stasiun Manggarai ke Tangerang (tempat di mana beberapa tahun lalu diterapkan hukum syariah yang walaupun tidak konstitutional namun tetap berjalan dengan absolut impunitas), untuk satu alasan saja: melihat apakah ada upaya nyata dalam ‘melawan/mengatasi’ apa yang disebut keruntuhan total infrastruktur Jakarta, alias kemacetan total (total gridlock) .

Seperti halnya berbagai masalah di Indonesia, kemacetan punya sejarah yang menarik:

Sejak tahun 1965 (tahun dimana terjadi kudeta militer brutal yang didukung oleh Amerika Serikat yang membawa Jendral Soeharto ke puncak kekuasaan dengan menghabisi nyawa 800,000 hingga 3 juta jiwa. Mereka yang terbunuh antara lain dari golongan kiri, kaum intelektual, masyarakat minoritas Cina, serikat pekerja dan kaum ateis atau sederhananya bisa saja mereka yang pada waktu itu memiliki istri yang lebih cantik, tanah yang lebih luas atau sapi yang lebih gemuk), pemerintah Indonesia bekerja keras untuk menjamin bahwa kota-kota di Indonesia tidak memiliki transportasi publik, tidak memiliki taman yang luas dan tempat pejalan kaki. Ruang publik secara umum dianggap sangat berbahaya karena bisa saja disana masyarakat akan berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu ‘subversif’ seperti rencana menggulingkan pemerintahan.

Taman-taman publik diambil alih oleh kontraktor untuk dijadikan lapangan golf pribadi untuk kaum elit. Tempat pejalan kaki juga dihilangkan karena tidak menguntungkan dan dianggap ‘terlalu sosial’. Pada akhirnya, transportasi publik menjadi milik swasta dengan kualitas yang turun menjadi angkot dan metromini yang mengeluarkan  asap hitam dari knalpotnya dan bajaj India bekas yang bahkan sudah tidak dipakai lagi selama beberapa dekade di negara asalnya.

Itu terjadi di Jakarta. Kota-kota lain dengan jumlah penduduk antara 1 hingga 2 juta jiwa seperti Palembang, Surabaya, Medan dan Bandung tidak memiliki transportasi publik yang berarti, selain angkot kecil, kotor berkarat dan bis yang kotor dan bau.

Tentu saja semua ini sudah direncanakan: produsen mobil diberikan lisensi untuk memproduksi mobil model lama dari Jepang dan menjualnya dengan harga gila-gilaan (mobil di Indonesia dijual antara 50-120 persen lebih mahal daripada di Amerika Serikat), kemudian memaksa penduduk Indonesia – yang termasuk paling miskin di Asia Timur – untuk membeli mobil pribadi. Mobil yang pertama dibawa masuk, lalu  sepeda motor yang lebih berbahaya, fatal untuk lingkungan hidup dan sama sekali tidak efisien. Di kota-kota besar di Cina dan banyak kota Asia lainnya sepeda motor sudah dilarang masuk ke kota.

Pejabat pemerintah dan wakil rakyat di DPR diam-diam secara konsisten mendapat suap dari industri mobil. Lobi mobil ini menjadi sangat berpengaruh dan menghambat segala upaya untuk memperbaiki angkutan kereta api maupun kapal laut antar pelabuhan di Jawa, salah satu pulau yang paling padat di dunia.

Pada tanggal 14 Agustus 2011, koran Jakarta Post menulis:

Anggota Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan (PDIP) Nursyirwan Soedjono yang juga Wakil Komisi V DPR untuk mengawasi bidang transportasi, telah lama mempertanyakan ketidakmauan pemerintah untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbaiki jaringan rel kereta di negara ini. Mereka menyalahkan ketakberdayaan mereka pada lobi politis ‘tingkat-tinggi’ yang diatur oleh industri otomotif yang menerima keuntungan langsung dari pembangunan jalan di negara ini.

“Tidak ada tuh cerita bahwa kami [Komisi V] menolak rencana anggaran pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur rel kereta api,” Nusyirwan mengatakan pada Jakarta Post. “Namun tampaknya ada ‘kelompok berpengaruh’ yang selalu menolak segala upaya untuk meningkatkan jasa transportasi umum, khususnya kereta api.”

Seperti di banyak masyarakat fasis yang ekstrem ataupun masyarakat feodal, kaum ‘elit’ menikmati naik mobil limosin sementara orang yang tidak punya patah kaki ketika mereka jatuh ke got karena tidak ditutup, diperkosa di kendaraan umum dan menghirup asap knalpot ketika naik angkot, atau otak mereka berhamburan di atas trotoar karena naik motor di atas trotoir yang tidak rata setelah frustasi naik motor di antara mobil dan truk yang agresif di jalanan.

Namun para pengambil keputusan di pemerintahan menikmati adanya impunitas selama beberapa dekade ini dan mereka telah mengambil hampir semua ruang publik di kota Jakarta. Dengan impunitas pemerintah selain memang tidak kompeten dan malas, mereka menjadi semakin tidak punya motivasi serta beritikad untuk menutup semua solusi jangka panjang bagi kota Jakarta.

Kita lihat saja kenyataan bahwa panjang rel kereta api di sini malah menyusut sejak masa penjajahan Belanda; Jakarta dengan penduduk lebih dari 10 juta jiwa (bahkan lebih di hari kerja) menjadi satu-satunya kota (dengan jumlah penduduk yang hampir sama) di dunia yang tidak memiliki sistem angkutan massal.

Beberapa tahun lalu ada upaya membangun dua jalur monorel walaupun bukan sistem angkutan massal yang paling efektif untuk kota Jakarta. Jalan-jalan ditutup, debu dan kotoran dimana-mana, penduduk diminta untuk bersabar dengan alasan bahwa ‘pembangunan ini untuk mereka’, namun kenyataannya tidak lah demikian, karena ternyata tujuan utama sistem transportasi ini adalah untuk mengeruk laba.

Proyek ini diberikan pada konsorsium swasta dan akhirnya, sudah dapat diduga, uang publik disalahgunakan. Pembangunan tiba-tiba berhenti, menyisakan pilar-pilar beton yang memancang di tengah jalan. Tidak ada yang dibawa ke pengadilan dari proyek yang membawa skandal ini, dan media amat disiplin untuk hanya melaporkan pernyataan resmi pemerintah, seolah-olah walaupun uang sudah lenyap tapi mereka yang bertanggungjawab tidak layak untuk diganggu hidupnya oleh penyelidikan polisi.

Supaya kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, memang ada pula upaya untuk menyelamatkan Jakarta, misalnya mencoba transportasi air dengan perahu di kanal-kanal yang sebenarmya sangat tercemar. Sayangnya sampah-sampah yang ada di kanal-kanal itu merusak mesin perahu, ditambah dengan bau menyengat dari kanal yang selalu dipenuhi sampah dan benda beracun sehingga ‘proyek’ ini gagal total dalam beberapa minggu saja.

Banjir Kanal Timur seharusnya bisa membawa perubahan berarti bila dilakukan dengan revolusi seluruh pendekatan pekerjaan publik yang tujuannya agar pembangunan kota Jakarta sesuai dengan standar Asia di abad ke-21. Selama beberapa dekade, Jakarta telah mengalami banjir besar; pernah 2/3 kotanya terendam banjir. Hal ini disebabkan kanal-kanal yang tersumbat, lahan hijau yang hilang dan pembangunan yang membabi-buta. Akhirnya diambil keputusan untuk membebaskan tanah dan membangun kanal bankir untuk menyalurkan air berlebih ke laut. Pada saat perencanaan, dijanjikan akan dibangun taman-taman publik atau paling tidak tempat pejalan kaki di pinggir kanal. Juga dijanjikan adanya jalur khusus untuk pengendara sepeda, tempat berolahraga, juga transportasi air, bahkan angkutan dengan tram listrik.

Bagi mereka yang masih punya harapan untuk Jakarta akhirnya dibenturkan pada kenyataan yang jauh dari apa yang dijanjikan. Di tahun 2010 dan 2011, saat pembangunan kanal masih jauh dari penyelesaian, kenyataan pahit mulai terlihat.

Kualitas konstruksi kanalnya sangatlah buruk,  bahkan sebelum pembangunan selesai, sampah telah menutup proyek kanal tersebut. Kejutan berikutnya: pemerintah mengatakan bahwa mereka memang tidak berencana untuk menyelenggarakan transportasi publik di pinggir/atas kanal itu. Seperti biasa, mereka meyakinkan publik bahwa tidak akan akan ada ruang publik disana. Di awal tahun 2012, lahan di sepanjang kanal dijadikan jalan raya (walaupun menggunakan kata jalan inspeksi) yang langsung digunakan oleh pengendara sepeda motor. Bahkan sejak sebelum selesai dengan sempurna, namun secara resmi sudah beroperasi, kanal banjir ini kelihatannya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah dan menambah harapan tinggi para pelobi motor/mobil.

Bayangkan berapa kilo meter ruang kota yang terbuang (meski secara resmi pemerintah menganggap proyek ini sukses)! Tidak ada sedikitpun tempat bagi pejalan kaki dan tidak ada satupun taman bermain untuk anak-anak.

Bagaimana para pejabat pemerintah bisa menghindar dari tanggung jawabnya walaupun ada bukti nyata dari perampasan hak rakyat disini? Di negara lain, hal ini bisa dianggap sebagai ‘pengkhianatan’ kepada bangsa dan negara.

Hal ini bisa terjadi karena dalam ‘demokrasi Indonesia’ tidak ada akuntabilitas. Tidak ada akuntabilitas sama sekali! Korupsi terjadi dimana-mana dan warga negara tidak memiliki mekanisme untuk mengorganisir protes (obsesi dengan jaringan sosial seperti Facebook pada umumnya hanya untuk status semata). Bahkan pembunuhan orang yang berbeda kepercayaan dengan kader kelompok agama garis keras tidak membuat masyarakat ‘berpendidikan dan kalangan menengah’ turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Yang terasa adalah bahwa di seluruh negara, termasuk di ibu kota, masyarakat telah putus asa sejak lama. Orang-orang menjalani hidupnya dalam kota megapolitan tanpa perlu menuntut, memprotes atau berkeluh-kesah.

Masalahnya, di Indonesia berkeluh-kesah, menuntut atau berdemo jarang atau sama sekali tidak membawa hasil. Surat-surat yang ditujukan kepada wakil rakyat di DPR tidak dijawab, bahkan banyak yang tidak dibuka, sementara surat ke media massa dimuat hanya jika isinya berada dalam batas-batas yang tidak tertulis namun tersirat ‘Proyek’ tidak terbuka untuk didebat (karena melibatkan banyak uang dan ada pembagian uang jarahan tersebut antara pemerintah dan perusahaan swasta dengan aturan dan formula yang telah mereka sepakati bersama) dan tidak diberikan jalan untuk masyarakat bisa intervensi karena akan ada resiko merusak sistem yang ada. Rakyat hanya sesekali diberi informasi tentang apa yang akan dibangun, kapan dan di mana.  Jika ada uang yang raib – hal yang amat sering terjadi – tidak ada konsekuensi yang ditanggung pelaksananya. Jika rencana ‘berubah’ atau jika jadwal tidak terpenuhi, tidak ada yang dipaksa bertanggungjawab.

Indonesia adalah contoh dimana diktator bisa dipilih melalui pemilihan umum yang dilangsungkan secara periodik (para pemilih dapat memilih dengan bebas antara satu kandidat korup dengan kepentingan bisnisnya dengan kandidat lain yang juga korup dengan kepentingan bisnis yang lain) dan memimpin dengan dikontrol dan disponsori oleh kepentingan Barat serta sama sekali tidak ada kekuasaan yang diberikan pada rakyat.

Jika ada penumpang yang jatuh karena lantai kereta api yang berkarat dan meninggal atau mereka yang jatuh di lubang galian proyek,  jangankan dapat kompensasi, dapat permohonan maafpun tidak.

Ketika diminta untuk membandingkan Indonesia dengan Cina, Profesor Dadang M Maksoem, mantan pengajar di University Putra Malaysia (UPM) yang sekarang bekerja untuk pemerintah daerah Jawa Barat, memberikan jawaban dengan berapi-api: “Sederhana saja: mereka [orang Cina] berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk negara mereka. Pendidikan disana tidak seperti di sini. Bagaimana sih kok pemerintah tidak bisa memberikan transportasi publik yang layak? Rakyat dipaksa untuk untuk membeli sepeda motor mereka sendiri untuk mengangkut diri mereka sendiri dan mereka dipaksa untuk membahayakan jiwa mereka di kondisi lalu-lintas yang parah. Sekarang kemacetan lalu-lintas ada di mana-mana. Entah apa yang bisa saya katakan. Orang-orang disini itu bodoh, idiot, mati otak, atau rakus Sih? Pilih saja jawabannya!”

Tapi jawaban seperti ini bukan yang ditampilkan di media populer di Barat. Secara resmi Barat memuja Indonesia. Bagaimana tidak: penguasa dan elit Indonesia yang taat pada mereka berani mengorbankan rakyat, pulau-pulau, bahkan ibukota mereka sendiri untuk kepentingan dan keuntungan perusahaan-perusahaan multi-nasional dan penguasa dunia. Perusahaan asing dan pemerintah mana yang tidak menghargai kemurahan hati penguasa dan elit Indonesia ini?

Tapi marilah kita kembali ke masalah transportasi publik lagi.

Pada masa pemerintah dan swasta merencanakan proyek pembangunan monorel (atau setidaknya ini yang mereka katakan pada masyarakat), kota ini mulai membangun apa yang disebut ‘busway’ atau jalur khusus bus, yaitu proyek yang awalnya adalah kesalahan dalam memahami konsep transportasi publik di kota Bogota yang terletak nun jauh di Kolombia, Amerika Selatan.

Alih-alih membangun sistem transportasi kereta api massal yang bisa mengangkut jutaan penumpang setiap harinya, Jakarta ‘membangun’ jalur busway yang mengambil dua jalur dari jalur yang sudah ada di jalan-jalan utamanya, kemudian mengoperasikan kendaraan bus sempit dimana para penumpang duduk menyandar dinding sambil menghadap satu sama lain. Setiap bus hanya punya satu pintu untuk penumpang naik dan turun. Halte dan jalan masuk ke halte dibuat dari logam yang mudah berkarat dan sekarang pelat lantainya sudah banyak yang lepas dan meninggalkan lubang di jalan masuk itu. Hampir semua pintu otomatis di halte sudah tidak beroperasi dengan baik dan akhirnya ada orang yang terdorong ke jalan hingga meninggal atau luka parah.

Seperti moda transportasi lain di Jakarta, sistem ini tidak dirancang untuk meningkatkan hajat hidup orang banyak, dalam hal ini untuk mengurangi kemacetan dan mengangkut berjuta orang secara aman dan nyaman. Busway dirancang sebagai proyek untuk memperkaya perusahaan yang memiliki saham dan para pejabat yang korup.

Sistem busway tidaklah efisien, tidak memperhatikan keindahan dan tidak mempersatukan kota – malahan lebih memecah-belahnya. Hampir tidak ada tempat pejalan kaki di dekat halte busway. Penumpang yang sampai di halte busway harus beresiko kehilangan nyawanya untuk menyeberang jalan untuk sampai ke tempat tujuan atau naik angkutan umum lain.

Bahkan ketika halte busway dibangun di dekat stasiun kereta, perencana kota menjamin bahwa tidak ada jalan langsung ke sana. Selama beberapa dekade, para penguasa Jakarta telah memastikan tidak adanya interkoneksi antara moda transportasi, termasuk dengan stasiun kereta peninggalan jaman Belanda. Kota ini hampir tidak memiliki tempat pejalan kaki, hampir tidak ada tempat penyeberangan di bawah tanah (hanya ada satu di seluruh kota yaitu dekat stasiun Kota yang pembangunannya membutuhkan waktu beberapa tahun) yang menghubungkan stasiun dengan jalan raya. Dan kenyataannya Jakarta tidaklah memiliki banyak jalan raya – kebanyakan dari jalan raya ini hanyalah replika buruk dari jalanan di pinggiran kota Houston: dengan jalan tol (layang atau bukan), tidak ada tempat pejalan kaki dan fasilitas-fasilitas yang dipisahkan oleh pagar-pagar, tidak langsung bisa diakses dari jalanan. 

Kebodohan dalam perencanaan kota ini hanya bisa disamai oleh ketidakcerdasan pembangunan negara secara keseluruhan – Jakarta adalah sebuah contoh dunia kecilnya. Contohnya, untuk putar-balik di jalanan saja, seseorang harus berkendara satu kilometer atau lebih dan hal ini tentunya menambah kemacetan, konsumsi bahan-bakar dan polusi. Kota ini dirancang sedemikian rupa sehingga orang harus naik mobil hanya untuk menyebrang jalan karena memang hampir tidak ada tempat pejalan kaki dan sarana penyebrangan yang memadai. Sarana transportasi di kota ini berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada interkoneksi. Rakyat dipaksa untuk mengemudikan mobil atau skuter murah yang semakin populer belakangan ini (warga lokal menyebutnya motor) untuk kemudian membusuk di tengah kemacetan yang legendaris. Hal ini bisa terjadi karena pelobi mobil mampu menyuap pemerintah dan hasilnya adalah ketidakmauan pemerintah untuk membangun jaringan transportasi publik yang efisien.

Sangat jelas terlihat bahwa ada banyak kepentingan ekonomi yang terlibat. Untuk dapat menganalisa Indonesia, penting untuk diingat bahwa pertimbangan dan prinsip moral yang ‘normal’ sudah menghilang dari kamus para penguasa.

Sekelompok kecil pengusaha dan politisi telah menjarah sebagian besar sumber daya alam negara ini; mereka menghancurkan banyak hutan tropis dan mengubah negara kepulauan ini menjadi bencana bagi lingkungan hidup. Mayoritas penduduk Indonesia tidak pernah mencicipi keuntungan dari kerusakan yang terjadi di negara mereka.

Penduduk Jakarta tak terkecuali. Kota ini dibangun ‘bukan untuk rakyat’, sebagaimana dikatakan oleh seniman Australia George Burchett pada saat mengunjungi kota ini lebih dari dua tahun lalu.

Penduduk yang tidak mendapatkan informasi yang benar menjadi apatis setelah melewati kampanye cuci-otak pro-bisnis selama beberapa dekade. Setelah tidak ada lagi pemikiran kritis di kota ini, hasilnya adalah tidak ada bioskop yang khusus memutar film-film seni, tidak ada teater permanen, tidak ada media yang berorientasi sosial ataupun galeri yang memamerkan tragedi Indonesia melalui seni, sampai sekarang ini. Yang terjadi malah milyaran sampah sosial berterbangan dari satu unit  Blackberry ke unit lainnya ketika kaum elit saling mengobrol dan mendengarkan musik pop jaman dulu atau memuaskan diri dengan makanan Barat dan Jepang murahan. Memang tidak banyak hal lain yang dapat dilakukan di kota ini. Di satu sisi kota ini hampir hancur karena sudah diselimuti asap beracun dan punya banyak sekali kawasan kumuh yang ada di antara berbagai mall raksasa dan perkantoran. Tidak ada lagi air bersih di kanal-kanalnya yang dulu mengalir deras – yang tinggal hanya racun.

Yang paling menakutkan di kota ini adalah sepertinya tidak ada tempat lagi bagi manusia. Manusia menjadi tidak relevan. Anak-anak juga jadi tidak relevan: tidak ada tempat bermain dan taman untuk mereka. Kalau kita bandingkan dengan kota Port Moresby yang miskin, ibu kota Papua Nugini ini memberikan fasilitas yang jauh lebih baik kepada warganya.

“Persetan dengan bantuanmu!” teriak Presiden Sukarno kepada duta besar Amerika Serikat di depan publik lebih dari  setengah abad yang lalu. Pembalasan yang kejam segera datang. Setelah kudeta yang disponsori oleh AS and rejim fasis berkuasa hingga hari ini, Jakarta telah berubah menjadi tempat dengan motto “Persetan dengan rakyat!”

“Saat saya pulang ke Jakarta, saya tidak ingin keluar rumah”, kata Nabila Wibowo, seorang putri diplomat Indonesia. Dia memutuskan untuk tinggal di Portugal setelah masa tugas ibunya berakhir. “Tidak ada budaya di sini, tidak ada konser, tidak ada musik yang asik.Bahkan saya tidak bisa berjalan kaki atau pergi dengan aman dan nyaman di dalam kota. Tidak ada tempat pejalan kaki. Akhirnya, saya hanya pulang sebentar saja, mengunci diri di dalam kamar dan membaca buku.”

Sekarang ‘katanya’ kota ini akan membangun MRT, kereta bawah tanah yang diharapkan memiliki dua trayek saat selesai dibangun. Proyek ini sudah tertunda selama beberapa dekade, namun kalaupun akhirnya berjalan, banyak analis termasuk beberapa professor dari ITB (Institut Teknologi Bandung) yang takut untuk membayangkan hasilnya, mengingat track record aparat pemerintah kota dan kualitas proyek lainnya di negara ini.

Kelihatannya dapat dipastikan bahwa uang yang dialokasikan untuk proyek ini akan disalahgunakan lagi. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada mekanisme untuk menjamin transparansi dan pengawasan yang tak berpihak. Tentunya hal ini sangatlah kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara lain seperti India di mana kereta bawah tanah New Delhi dibangun sesuai rencana dan menghabiskan uang dibawah anggaran.

Tampaknya banyak orang di Indonesia yang berbakat dalam penyalahgunaan uang publik. Dalam hal ini, Indonesia nomor satu.

Dan rakyat juga tidak serius menuntut untuk menghentikan kegilaan ini. Hingga kini rakyat sudah terbiasa hidup susah, mati dini karena polusi, tinggal di perkampungan kumuh tanpa air bersih dan sanitasi dasar, atau duduk berjam-jam di kemacetan. Mayoritas penduduk Jakarta belum pernah ke luar negeri dan oleh karenanya mereka  tidak tahu bahwa ‘ada alternatif dunia lain’, bahwa sebenarnya ada kota-kota yang dibangun untuk rakyat. Kaum elit yang suka pergi ke luar negeri tahu benar tentang hal ini, namun mereka memilih untuk tidak mengatakannya.

Kita selalu lihat ada lingkaran setan: proyek baru diumumkan, kemudian diluncurkan, dan akhirnya berantakan setelah banyak dompet oknum-oknum terisi padat. Rakyat tidak diberi apapun tapi mereka pun tidak menuntut apa-apa. Tapi bukannya memang dari dulu sudah seperti ini? Mungkin berbeda sedikit disana dan sedikit disini dari jaman penjajahan Belanda dulu. Meskipun demikian, sebelum meninggal penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer mengatakan pada saya bahwa “situasi waktu dulu tidak pernah seburuk sekarang”.

Mereka yang tahu atau seharusnya tahu apa yang ada di balik layar adalah mereka yang terlibat atau tidak mau berhadapan dengan kenyataan.

Pada bulan Februari 2012 saya bertanya pada Ibu Ririn Soedarsono, profesor di perguruan tinggi terkenal ITB, apakah proyek MRT memiliki kemungkinan untuk selesai.

“Kami akan mulai membangun MRT tahun ini,” ujarnya. “Pada akhir tahun 2013, tahap pertama akan selesai. Secara teknis harusnya tidak ada masalah. Namun saya tidak tahu bagaimana iklim politik pada saat itu…”

2013? Bahkan di negara-negara yang teknologinya berkembang seperti Jepang, Cina atau Chile, satu jalur kereta bawah tanah dapat memakan waktu 4 hingga 10 tahun pembangunan, tergantung pada situasi daerahnya. Tapi mungkin saja saya salah tangkap mengenai definisi ‘tahap pertama’.

Sebetulnya angkutan kereta api di Jakarta masih lebih baik daripada di Nairobi. Banyak gerbong kereta yang memiliki alat pendingin karena walaupun bekas tapi diimpor dari Jepang. Namun kelihatannya  kereta-kereta ini cenderung menua secara cepat karena kurangnya perawatan: satu tahun saja di Jakarta dan kereta berusia 30 tahun asal Jepang yang datang dalam kondisi sempurna akan berakhir dengan pintu rusak, kursi tersayat dan sistem pendingin udara yang tersumbat kotoran.

“Kami naik kereta dua kali seminggu,” jelas Ibu Enny dan Ibu Susie dari Bogor. “Kami jarang naik di hari kerja, terutama di jam-jam padat. Hampir tidak ada tempat untuk berdiri. Buat kami perempuan, sebetulnya naik kereta pas jam padat amatlah menakutkan, apalagi ketika para penumpang berebut memasuki gerbong.”

Namun demikian, keunggulan sistem kereta api di Jakarta (yang disebut-sebut sebagai ‘keajaiban kapitalis dan demokrasi’) dari Nairobi (sebagai ibu kota dari salah satu negara paling miskin di dunia) mungkin tidak akan bertahan lama. Di awal tahun 2013 Nairobi sudah bersiap untuk memperbaharui jaringan rel kereta api lamanya dan menambah jalur modern yang pertama, diikuti dengan yang kedua di tahun 2014. Stasiun-stasiun keretanya akan memiliki tempat parkir, toko-toko dan fasilitas modern, serta akan menghubungkan area yang ditempati oleh kelas menengah dan bawah.

Perusahaan-perusahaan konstruksi dari Cina membangun jalan raya, jalan layang dan proyek infrastruktur lainnya di Afrika Timur. Mereka juga membangun tempat pejalan kaki, rel kereta api dan dalam dua tahun mereka berencana untuk membangun jalan kereta api ke Bandara Internasional Jomo Kenyatta di Nairobi. Bandara Sukarno Hatta di pinggiran Jakarta yang dulu megah sudah menunggu selama beberapa dekade untuk dihubungkan dengan jalan kereta api ke Jakarta, namun sejauh ini baru mendapatkan tambahan jalur jalan tol saja.

Beberapa pertanyaan logis dari yang dipaparkan diatas adalah: Mengapa Indonesia bisa jauh tertinggal dari kota-kota seperti Kairo, Nairobi, Johannesburg dan Lagos ataukah ada hal lain yang terjadi? Mungkinkah kaum elit Indonesia mengorbankan puluhan bahkan ratusan juta orang hanya untuk keuntungan mereka sendiri? Mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya, apakah mungkin mereka melakukannya lagi?

Sekarang ini apa yang banyak kita lihat di sepanjang rel kereta api adalah anak-anak kecil dan balita yang setengah telanjang bermain dengan sampah dan gorong-gorong terbuka. Di sini sampah dibakar di ruang terbuka karena Jakarta tidak memiliki sistem pembuangan sampah komprehensif. Pengumpulan dan pengurusan sampah adalah hak publik, oleh karenanya tidak menciptakan laba dan tidak menyenangkan pejabat. Hanya segelintir penduduk Jakarta memiliki akses atas air yang benar-benar bersih, dan hanya 30 persen yang dapat sanitasi dasar.

Hidup di sepanjang jalan kereta api ini sudah seperti hidup di neraka, dengan gerbong-gerbong yang terus menerus lewat dari satu stasiun ke stasiun lainnya.

Membaca apa yang ditulis mass media Indonesia yang ahli dalam seni mengelabui akan membuat anda bahwa Jakarta sudah punya sistem perkereta-apian dan hanya perlu sedikit penyempurnaan. Bahkan Anda dapat menemukan semacam peta dari ’sistem’ transportasi itu di internet. Tapi cobalah datang ke stasiun, coba naik keretanya, dan coba interkoneksinya, maka anda akan berpikir ulang apakah sebenarnya sistem ini ada dan mencukupi sebagai salah satu pilihan angkutan massal.

Beberapa masalah yang saya temui antara lain: Tidak ada jadual dan informasi yang disediakan dan mudah dimengerti penumpang; Petugas yang kurang tanggap, lamban dan tidak efisien dalam penjualan tiket secara manual. Tidak mudah untuk dapat sampai ke peron yang dituju. Padahal orang-orang yang menggunakan kereta api adalah mereka dari kelas menengah Indonesia.

Harus dicatat, ini adalah kelas menengah yang didefinisikan secara lokal, menggunakan angka-angka dari Bank Dunia dan pemerintah Indonesia: menurut mereka, kelas menengah adalah mereka yang hidup lebih dari US$2 (atau sekitar Rp. 18.000) per hari. Menurut mereka ini berlaku bahkan di kota yang merupakan salah satu kota paling mahal di Asia Timur.

Menurut batasan di atas, mayoritas penduduk kota Jakarta berasal dari ’kelas menengah’. Namun kalau kita lihat kenyataannya, sebagian besar dari mereka hidup di lokasi yang di belahan dunia lain disebut sebagai ’kawasan kumuh’. Kawasan dimana mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih dan hidup dalam kondisi kebersihan yang tak layak.

Banyak orang dari ’kelas menengah’ ini naik ke atap kereta karena mereka tidak mampu membayar harga tiket; beberapa orang tersengat listrik setiap tahunnya, beberapa lainnya meninggal karena terjatuh. Untuk mencegah mereka naik ke atas, pemerintah yang baik hati mulai membangun bola-bola beton yang digantung di atas jalur kereta api untuk menghancurkan kepala mereka yang naik di atas atap kereta api, kadang-kadang petugas merazia mereka dengan menyemprot mereka dengan cat, bahkan dengan kotoran manusia. Beberapa stasiun, termasuk Manggarai, menempelkan kawat berduri di atap rel sehingga orang-orang yang mencoba melompat ke atap akan tersayat.

Herry Suheri – penjual rokok di Stasiun Manggarai masih berpikir bahwa orang-orang tidak akan takut dengan upaya pencegahan yang drastis tersebut: ”Masih ada saja orang yang naik ke atap kereta ekonomi, apalagi saat jam-jam padat. Bukan hanya untuk tumpangan gratis, tapi karena jumlah kereta yang ada tidak mencukupi untuk penumpang yang harus sampai ke rumah atau ke tempat kerja.”

Sistem kereta api, ’dareah penghijauan’, ’rencana perbaikan kota’ – semua palsu, hanya ada di angan-angan. Kenyataan yang ada amatlah brutal namun jelas: Jakarta tidak bisa dikategorikan dalam definisi kota apapun. Kota ini adalah sebuah laboratorium, sebuah eksperimen fundamentalisme pasar. Binatang percobaannya adalah masyarakat. Mereka sedang dipelajari: seberapa besar ketidaknyamanan yang dapat mereka tahan, seberapa banyak lingkungan tak sehat yang masih bisa mereka hadapi, dan seberapa banyak pemandangan buruk  dikota ini yang akhirnya dapat membuat mereka melarikan diri?

Saat ini, lebih baik buat kita untuk tidak menggantungkan harapan pada kota Jakarta. ’Kota besar yang paling tidak layak untuk ditinggali di Asia-Pasifik’ ini tidak akan jadi lebih baik dalam waktu dekat ini, juga mungkin tidak dalam jangka waktu yang lama. Tidak akan ada perubahan di bawah pemerintahan sekarang ini. Tidak di bawah rejim ini.

Di Amerika Latin, kelompok sayap kanan dulu meneriakkan: ”Jakarta akan datang!” untuk menakut-nakuti pemerintahan sayap-kiri di Chile dan di berbagai tempat lain di dunia. Namun Jakarta sekarang ada di sini, dalam kondisi prima sebagai monumen keberhasilan kapitalisme yang tidak terkontrol; sebuah monster, sebuah peringatan, dan contoh kasus bagi mereka yang ingin tahu seberapa besar keserakahan dan keegoisan kaum elit. [ ]

*Artikel ini dimuat di buletin berita Amerika Serikat, Counter Punch, dengan judul ”The Perfect Fascist City: Take a Train in Jakarta”, edisi 17-19 Februari 2012.

Ditulis oleh Andre Vltchek
Diterjemahkan oleh Fitri Bintang Timur
Disunting oleh Rossie Indira

Andre Vltchek adalah seorang penulis novel, analis politik, pembuat film dan jurnalis investigatif. Dia hidup dan bekerja di Asia Timur dan Afrika. Buku non-fiksi terakhirnya ”Oceania” menggambarkan neo-kolonialisme Barat di Polinesia, Melanesia dan Mikronesia. Penerbit Pluto di Inggris akan menerbitkan buku kritiknya atas Indonesia (”Archipelago of Fear”) di bulan Agustus 2012. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://andrevltchek.weebly.com/

Fitri Bintang Timur adalah peneliti, penulis dan penikmat tulisan bagus. Dia menyepi dari Jakarta selama sepuluh bulan setelah lima tahun lebih naik kereta api di kota itu. Ia akan kembali suatu hari nanti. 

Rossie Indira adalah penulis dan konsultan. Buku terakhirnya ’Surat Dari Bude Ocie’ diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Buku tentang perjalanannya ke 10 negara ASEAN akan selesai tahun ini. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://rossie-indira.weebly.com/

Sumber foto: metro.sindonews.com

25 September 2015

Surat Kereta untuk Alina


Alina sayang, apa kabar?

Ini entah surat yang keberapa. Aku tak menghitungnya. Keberadaanmu yang entah di mana, membuat semua risalah tak menemukan alamatnya. Namun aku tak pernah bosan menulisnya untukmu, Alina. Dan sekali ini, aku ingin berbagi cerita tentang perjalananku ke Semarang dan Ambarawa menggunakan moda transportasi kesayangan kita. Ya, bukankah pada waktu-waktu yang telah lewat kita kerap melakukan perjalanan dengan kereta api? “Dari balik jendela kereta, pemandangannya bagus,” katamu waktu itu.

Tanggal 16 September 2015, aku bersama beberapa kawan dari Komunitas Aleut, ikut bergabung bersama komunitas lain untuk melakukan perjalanan malam menggunakan Kereta Api Wisata Priority. Sore menjelang malam, Bandung diselimuti lembayung tipis. Sembari menunggu kereta berangkat, kami berkumpul di ruang tunggu VIP, sisi Timur Statiun Bandung. Ketika waktunya tiba, di muka gerbong kami disambut oleh para petugas kereta wisata dengan ramah.

Alina, sewaktu aku melihat fasilitas yang ada di kereta wisata priority, seketika wajahmu memenuhi benak. Aku membayangkan, alangkah nyamannya jika kita—aku dan kamu, membelah Pulau Jawa dengan menggunakan kereta ini. Di dalamnya ada mini bar, bagasi yang luas, toilet bersih, dan kita bisa karaoke! Ya, kamu yang suka bernyanyi-nyanyi kecil, bisa memanjakan hobimu di dalam kereta ini. Selain itu, setiap kursi dilengkapi juga dengan audio/video on demand (AVOD) seperti layaknya di pesawat terbang. Bukankah kita bisa menikmati lagu dan film berdua saja, Alina?

Kereta kemudian melaju, dari balik jendela kelip lampu Kota Bandung berkejaran. Perjalanan wisata yang dilakukan dalam rangka ulang tahun PT. KAI yang ke-70 ini diorganisasi oleh kawan-kawan dari Altour Travel Indonesia; keduanya memberikan pelayanan yang prima. Dalam sejuknya ruangan gerbong, aku mendengarkan lagu-lagu dari Bon Jovi.

Tak lama berselang, kawan-kawan mulai menikmati hidangan yang tersedia di mini bar. Sebagian lagi ada yang mulai olah vocal di tempat karaoke. Suasana begitu cair, kegembiraan meliputi semua yang hadir. Trinity, penulis buku “The Naked Traveler” yang karya-karyanya kerap kamu baca, juga ikut hadir dalam perjalanan itu. Ya, tentu saja kamu akan iri, Alina. Betapa penulis favoritmu itu kini hadir nyata, dan aku beberapakali berbincang dengannya.

Jelang tengah malam, ketika perut sudah kenyang, lelah bernyanyi, dan udara begitu sejuk; kawan-kawan mulai bertumbangan. Mereka lelap tertidur dengan bantal dan selimut yang nyaman. Sementara mataku masih belum terpejam. Bukannya tidak ngantuk, tapi kenangan dan ingatan tentangmu masih saja berparade di lereng ingatan. Kerete berjalan mulus, guncangan hampir tak terasa, dan kelip lampu sesekali terlihat dari balik jendela.

Akhirnya aku pun jatuh tertidur. Ketika bangun di luar masih gelap. Tiba-tiba aku ingat sepotong puisi Chairil Anwar yang pernah kamu bacakan; “Semarang makin dekat saja / Menangkup senja / Menguak purnama.”

Subuh akhirnya datang, dan kereta pun telah tiba di Stasiun Tawang, Semarang. Setelah istirahat beberapa saat, perjalanan kemudian dilanjutkan ke arah Ambarawa. Sebelum masuk ke kota palagan itu, sejenak menikmati dulu kopi sambil sarapan. Menjelang siang, akhirnya kami tiba di Ambarawa.

Di sana kereta api uap sudah menunggu. Di stasiun yang dulu bernama Stasiun Willem I, beberapa lokomotif tua tersimpan rapi. Ya, ini memang museum kereta api yang mengabadikan perjalanan panjang kiprah kereta api di Indonesia. Jejak-jejak yang tersisa menguarkan kesadaran sejarah. Peristiwa yang telah berlalu terpahat rapi dalam benda-benda mati.

Ketika kereta api uap yang kami tumpangi berjalan, pemandangan dari balik jendela terhampar indah. Orang-orang menyapa dan melambaikan tangan, para petani yang dirahmati tanah subur, dan gunung yang membiru di kejauhan. Kawan-kawan sibuk membidikan kamera, kereta mendesah, dan angin menelusup lewat jendela. Seorang purnatugas dari PT. KAI menerangkan sejarah perjalanan kereta api uap yang tengah kami tumpangi. Bapak yang telah berusia senja itu masih bersemangat berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Kereta kemudian tiba di Statiun Tuntang; statiun kecil yang rapi. Tak lama kemudian kembali ke Ambarawa. Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Lawang Sewu di Kota Semarang. Bangunan peninggalan zaman kolonialisme ini masih kokoh dan terawat. Kata “sewu” yang artinya seribu, dalam budaya Jawa konon untuk melukiskan sesuatu yang begitu banyak. Ya, pintu yang ada di bangunan itu memang sangat banyak, Alina.

Waktu matahari telah lama tergelincir, dan siang telah dijemput senja, kami kemudian beranjak dari Lawang Sewu dan menuju ke Klenteng Sam Poo Kong. Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di salah satu sudut lapangan luas komplek klenteng. Bau dupa sesekali hadir, dan nuansa merah menguasai. Kawan-kawan sibuk berpose dengan latar klenteng, sementara hari hampir gelap.

Di penghujung kegiatan, kami berkumpul di Kampung Laut untuk makan malam sembari menikmati lagu-lagu dengan iringan musik keroncong. Ketika door prize mulai dibagikan, aroma perpisahan tercium kuat. Ya, perpisahan Alina, sebagaimana kamu tahu, kerap tak menyisakan apa-apa selain kehilangan. Berpuluh-puluh surat telah aku buat, namun semuanya tak menemukan alamat, dirimu raib ditelan entah. Tak ada kabar sama sekali. Kali ini, perjalanan bersama PT. KAI dan Altour Travel Indonesia pun akan segera berakhir.  
     
Namun demikian, Alina, Traveling by Train bersama kereta wisata priority benar-benar memuaskan. Pengalaman bepergian dengan layanan prima, serta mengunjungi objek-objek menarik, sekali ini, menambah pembendaharaan perjalananku. Sekira jam sembilan malam, kereta yang akan membawaku pulang ke Bandung telah bersiap. Ketika rindu padamu belum juga surut, tiba-tiba pluit dan lokomotif telah melengking. Dan kereta perlahan meninggalkan Semarang. [ ]

















02 April 2015

Leuleumpangan di Wewengkon Kiaracondong

Megat kareta di stasiun Kircon

“Dulur manÄ›h tÄ›h di Bandungna di mana?”

“Di Kiaracondong, di Jl. Lebak”

Jaman SD, ngan samet Ä›ta kanyaho kuring ngeunaan Bandung. Ä”ta gÄ› pÄ›dah babaturan bogaeun dulur nu cenah nganjrekna di wewengkon Kiaracondong (Kircon). Jadi Kircon tÄ›h Ä›stuning kecap mimiti nu napel dina ingetan kuring, mun seug kabeneran aya nu ngomongkeun Bandung. Ari katompÄ›rnakeun mah, basa kuring kuliah di Bandung belah kalÄ›r--nu asupna ti Jl. Gegerkalong Hilir, nya Kircon tÄ›h loba kapopohokeun. Najan enya gÄ› aya babaturan, tapi asa ku horÄ›am rek ulin atawa ngalanto ka bÄ›h dinya tÄ›h. Lain nanaon, saliwat ge Kircon mah katempona sareukseuk, macÄ›t, jeung rarujit deuih. Kungsi hiji mangsa ulin ka Jl. Lebak, leuh da Ä›ta mah di gang tÄ›h enyaan heureut pisan, got barau, jeung loba nonoman ditarato nu nalongkrong. Atuh kecap “punten” tÄ›h geus jadi kawajiban di dinya mah.

Cenah Mang Ridwan Kamil basa can jadi Walikota kungsi gawě rancagě di wewengkon Cidurian nu masih kěněh asup Kircon, sabilulungan jeung warga nyieun lingkungan jeung walungan jadi beresih. Tapi meureun ngan lelewek ěta hungkul nu genah merenah těh, da basa kamari kuring jeung sababaraha babaturan ngaleut ka Babakansari jeung Kebon Jayanti mah kaayaanna teu pati hěgar. Runtah ting rungkunuk ampir di unggal juru gang, aya ogě nu ngagunuk di deukeut stasiun Kircon.
Tapi cag, urang tunda heula ngeunaan runtah mah, anyeuna kuring rÄ›k nyaritakeun ngeunaan Stasiun Kircon, erÄ›l karÄ›ta, Pasar Kircon,  urut jeung pabrik bedil katut pÄ›lor.

***

Erel urut dipake parkir beca
Ngaleut těh dimimitianna mah ti stasiun Bandung belah kidul, tegesna nu aya di Jl. Stasiun Barat. Pědah rada langka meureun tarumpak karěta ti belah dinya mah, barudak těh sawarěh mah rada tunyu-tanya sagala. Da měmang anu kawěntar mah stasiun Bandung těh ěta nu di Jl. Kebon Kawung. Sanggeus ngumpul kaběh, nyak bral wě indit make karěta nu ka arah Cicalěngka nu karcisna ngan ukur dua rěbu rupia. Atuhda deukeut, ngan ukur ngaliwatan stasiun Cikudapateuh hungkul, teu lila ti dinya karěta geus nepi deui di stasiun Kircon.

Dina majalah Ujung Galuh kuring kungsi manggihan yÄ›n stasiun Kircon tÄ›h cenah ngahaja dijieun ku Walanda pikeun ngangkut urang Jawa nu rÄ›k digawÄ›keun dina pabrik bedil jeung pÄ›lor. MÄ›mÄ›h pindah ka Bandung, Ä›ta pabrik tÄ›h mimitina mah aya di Ngawi—tapi ceuk sawarÄ›h mah cenah di Surabaya (matak di Kircon aya ngaran Babakan Surabaya), tah ku sabab pabrikna dipindahkeun, nya pagawÄ›na gÄ› kapaksa kudu milu pindah. Matak teu anÄ›h ti baheula gÄ› di Kircon mah geus remen urang Jawa.

Beh dituna deui, ngeunaan urang Jawa nu nganjrek di Kircon bisa dipapay tina carita Ki Jalaludin nu dikirim ku Mataram pikeun ngagempur Walanda di Ujungberung. Tapi basa harita anjeunna diparengkeun ělěh, sanggeus perang anjeunna teu balik deui ka Jawa, malah mah nyieun pakampungan di Ujungberung. Ki jalaludin ku anjeun teras ngagaduhan putra nu jenenganna Ki Malim, tah Ki Malim ieu cenah nu mawa urang Jawa ti lemburna pikeun arindit ka Bandung, jang digawě dina raraga mindahkeun puseur dayeuh ti Dayeuh Kolot ka wewengkon di sabudeureun Jl. Asia Afrika anyeuna. Ki Malim ngantunkeun dina taun 1850, makamna tepi ka anyeuna aya di Kircon.

Saměměh caritana dituluykeun, urang bahas heula saeutik ngeunaan ngaran patempatan. Naha cenah ěta wewengkon těh dingaranan Kiaracondong? Us Tiarsa dina buku Basa Bandung Halimunan kungsi ngajelaskan, kieu unggelna :

Urut erel ka Pindad di hareupeun imah
“Ongkoh anyeuna mah mÄ›rÄ› ngaran patempatan tÄ›h sasat dialus-alus tepi ka matak hÄ›sÄ› nyebutna. BÄ›da pisan jeung baheula. Ngaran tempat tÄ›h asa sahinasna pisan. Kawasna tÄ›h sakur nu katÄ›mbong mimiti wÄ›. PÄ›dah aya garduh tukang mariksa jalan, disebut wÄ›h kampung Andir. Nyeueung aya kiara nu doyong, nelah wÄ›h Kiaracondong. Aya dungus nu loba cariangna, disebut wÄ›h Dunguscariang. Lembur nu aya di sabudeureun kabupatÄ›n, pasti ngaranna tÄ›h RÄ›gol. Aya warung handapeun tangkal muncang, nelah wÄ›h Warungmuncang. Lebah patok jalan, disebut wÄ›h Paltilu, Palgenep.”

Tah, kurang leuwih kitu mimitina dingaranan Kircon těh. Tapi nepika anyeuna kuring teu apal lebah mana na ěta tangkal kiara nu doyong těh, da basa kamari leuleumpangan ka dinya mah teu manggihan, teuing geus euweuh meureun ěta tangkal těh. Hanjakal kamari teu nanyakan ka warga di dinya.

Anyeuna urang balik deui. Basa geus turun tina karěta, tuluy kuring jeung babaturan mapay raratan erěl urut nu manjang tepi ka PINDAD (pabrik bedil jeung těng waja anyeuna mah). Eta erěl těh cenah dijieun pikeun ngangkut sagala rupa kaperluan nu dibutuhkeun ku PINDAD. Teuing ti iraha dijieunna, ngan nu pasti kira taun 60-an ěta erěl těh geus aya.

Ngaran PINDAD sorangan sabenerna kaasup anyar, da baheula mah keur jawan Walanda ngaran Ä›ta pabrik tÄ› nyaÄ›ta ACW (Artillerie Construstie Winkel)—matak pabeulit lÄ›tah!, tuluy basa Indonesia geus merdÄ›ka, dina taun 50-an Ä›ta pabrik tÄ›h dinasionalisasi, ngaranna diganti jadi PSM (Pabrik Senjata dan Munisi). Tuluy katompÄ›rnakeun diganti deui ngarannna jadi PINDAD (Pabrik Industri Angkatan Darat).

ErÄ›l urut nu baheula jang ngangkut kaperluan pabrik anyeuna geus loba katutupan ku imah, garduh pos, warung, jeung sajabana. Atuhda lebah erÄ›l tÄ›h anyeuna mah geus gegek pisan. Ceuk babaturan nu kabeneran manÄ›hna ngiluan komunitas Railfan, cenah Ä›ta taneuh nu dipakÄ› erÄ›l tÄ›h nu bogana mah PT. KAI, ngan teuing kunaon kalahka diparakÄ› imah ku warga. Teu mustahil hiji mangsa mah lamun seug PT. KAI rÄ›k makÄ› Ä›ta taneuh, tangtu baris aya kaributan jeung warga. Geus loba contona soalna kajadian kieu mah. Atuh aya ogÄ› babaturan nu sejÄ›n nu nyarita, yÄ›n basa manÄ›hna mapay erÄ›l urut ka SorÄ›ang jeung CiwidÄ›y, loba warga nu makÄ› taneuh erÄ›l nu tunya-tanya ka manÄ›hna, jeung paromanna  bangun nu pati teu percaya, cenah bisi jelema PT. KAI nu rÄ›k “ngusir” warga.

Kukucuprakan deukeut Bale Yasa
PINDAD sorangan mun katempo ti luar mah teu pati hěgar. Pager jeung garduh tentara geus loba nu lumutan. Naha cenah aya tentara sagala? Enya pan ěta těh pabrik bedil jeung těng waja anu aya patalina jeung pancěn nu jadi kawajiban tentera, nyaěta widang pertahanan. Basa kuring moto urut erěl nu deukeut panto pabrik, katempo aya dua urang tentara nu keur noong tina garduh, teuteupna ceuceub pisan, siga nu curiga tur waspada.

Bedil jeung těng waja ti pabrik ieu geus kakoncara tepika nagara deungeun. Jadi lain ngan sauukur nedunan kabutuh nagara sorangan. Hal ieu sakuduna bisa nyieun PINDAD jeung sabudeureuna bebenah, sangkan ieu pabrik anu geus kakoncarana těh němbongkeun kawibawaan. Tapi kanyaataanna sakumaha nu dipikanyaho ku urang sarěrěa, sabudeureun PINDAD hususna jeung Kircon umumna, masih kěněh loba lelewek nu kudu diropěa, contona waě pasar.

Ampir kaběh urang Bandung geus pada apal yěn Pasar Kircon nu handapan fly ověr těh tempatna rujit, barau, awut-awutan, pating solěngkrah, sarta macět. Angkot jeung běca loba pisan nu cicing di tengah jalan dina raraga nungguan panumpang nu baralik ti pasar, ditambah ku ayana erěl karěta nu motong jalan. Atuh hal ieu pisan nu ngajadikeun macět těh. Najan di gigireun pasar aya kantor pulisi, tapi angger we kayaan jalan mah matak sareukseuk panon jeung hatě. Komo lamun seug ditambahan ku hujan nu tuluy banjir mah, tangtu nu laleumpang jeung tarumpak kandaaran horěameun pisan ngaliwat ka běh dinya těh.

Belah kalěreun pasar, sebrangeun gapura stasiun Kircon, aya hiji taneuh kosong anu barala ku rungkun eurih, borang, babadotan, jeung tatangkalan nu sějěnna. Cileuncang nyalangkrung dina taneuh jeung jukut. Lebah dinya loba dipakě ku jelema nu teu barogaeun imah atawa nu katelah tuna wisma. Atuh trotoar gigireunna gě pinuh ku nu daragang; kayaning nu dagang hayam, VCD bajakan, jeung sajabana.

Di dinya aya hiji tugu nu tulisanna “Balai Yasa Jembatan KA I”. Di gigireunna aya sababaraha jambatan karÄ›ta nu katempona masih tohaga. BÄ›h ditueun taneuh kosong tÄ›a (ka belah kulon) katempo aya wangunan gedÄ› siga pabrik. Ä”ta wangunna tÄ›h nyaÄ›ta nu ngaranna Balai Yasa; hiji lembaga nu kapapancÄ›nan nyieun jambatan karÄ›ta api. Di wewengkon Ä›ta aya deui erÄ›l urut nu baheulana dipakÄ› jang ngangkut sagala kaperluan Balai Yasa ti stasiun Kircon.

***


Tukang sol sapatu
Tina leuleumpangan ěta, ceuk pamanggih kuring mah Kircon těh kudu leuwih giat diropěa, boh ku pamarěntah pon kitu deui ku wargana sorangan. Hal ieu alatan masih kěněh loba hal anu teu parok jeung kaěndahan, katartiban, tur kaamanan. Ulah pědah lantaran Kircon mah ayana rada anggang jeung běh wětan ti puseur dayeuh, nu ngajadikeun kapopohokeun. Pamarěntah kota kudu leuwih merhatikeun Bandung kidul, ulah ngan saukur ulukutek di belah kalěr. Contona baě taman, susukan, trotoar, jeung pasar di Kircon kudu ditarěkahan sabisa-bisa sangkan kahirupan warga bisa leuwih merenah. Cag! [ ]