Showing posts with label Piala Dunia. Show all posts
Showing posts with label Piala Dunia. Show all posts

20 June 2021

33 Tahun Menjadi Bobotoh Belanda

Setiap orang yang menulis kehidupan masa kecilnya harus tahu, menulis masa bocah seolah dirinya keren adalah pekerjaan sia-sia. Menulis masa lalu harus dilihat dari pandangan masa lalu, bukan sebaliknya. Diri kita yang keren saat ini tak bisa diseret ke belakang, kecuali angka-angka.

Tahun 1988 saat itu. Setahun sebelum saya masuk sekolah dasar. Suatu malam, tiba-tiba saja final Piala Eropa telah datang: Uni Soviet vs Belanda. Paman saya (alm) pegang Soviet, sementara kami—saya dan keponakannya yang lain--pegang Belanda. Kesepakatan sederhana: siapa yang timnya kalah, wajib digetok.

Gullit dan Van Basten cetak gol. Kepala paman saya habis. Sejak itulah saya menjadi bobotoh atau pendukung Belanda. Saat Trio Belanda—Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard—ke AC Milan, klub ini juga jadi favorit saya, bertahun-tahun.

Menjadi bobotoh Belanda tak pernah mudah. Sejak 1988, Belanda tak pernah juara lagi. Kutukan Piala Dunia 1974 dan 1978 selalu datang berulang.

Kita sisir Piala Eropa dulu. Warsa 1992 digelar di Swedia. Saya baru kelas 3 SD. Belanda lolos ke semifinal, namun kalah oleh Denmark dalam drama adu pinalti. Pinalti Marco Van Basten gagal. Tim dari Skandinavia ini sebetulnya hanya cadangan. Mereka menggantikan Yugoslavia yang didera Perang Balkan. Namun mereka akhirnya jadi juara dan dijuluki “dinamit”.

Piala Eropa 1996 digelar di Inggris. Saya kelas 1 SMP. Kala itu ramai istilah “Football’s Coming Home”. Nyatanya Inggris terlalu overrated. Bagaimana dengan Belanda? Tersingkir lagi dalam adu pinalti. Kali ini yang gagal mencetak gol adalah Clarence Seedorf.

Empat tahun kemudian Piala Eropa digelar di dua negara: Belanda dan Belgia. Waktu itu saya telah kelas 2 SMA. Tabloid Bola pernah menulis headline berjudul “No Frontier”, sepak bola tanpa batas. Belanda tampil begitu meyakinkan dan lolos ke semifinal, tapi lagi-lagi kalah dalam adu pinalti. Diganjal Italia dengan skor 1-3, padahal sejak menit ke-34 Italia bermain dengan 10 pemain.

Empat warsa setelahnya, atau setahun sebelum saya lulus kuliah, giliran Portugal jadi tuan rumah Piala Eropa. Di perempat final Belanda mengalahkan Swedia lewat adu pinalti, tumben. Namun di semifinal ditekuk Portugal 2-1. Kali ini yang jadi juara Yunani: sangat mengejutkan.

Piala Eropa 2008—digelar di Austria dan Swiss—adalah salah satu episode yang paling menjengkelkan. Di babak penyisihan, Belanda sangat perkasa. Italia dibantai 3-0, Prancis dilumat 4-1, dan menghajar Rumania 2-0. Namun saat berhadapan dengan Rusia di perempat final, Belanda begitu loyo, diobrak-abrik Arshavin cs hingga kalah 1-3.

Edisi berikutnya Piala Eropa digelar di Polandia dan Ukraina. Apa yang terjadi dengan Belanda pada pesta akbar sepakbola tahun 2012 itu? Sampah belaka. Mereka jadi juru kunci setelah ditekuk Denmark 0-1, dikalahkan Jerman 1-2, dan dipermalukan Portugal 2-1. Angkat kaki lebih awal.

Kemudian tahun 2016 pun datang. Kali ini Piala Eropa digelar di Prancis. Belanda lebih dari sampah. Mereka tak lolos setelah hanya finish di urutan ke-4 dalam kualifikasi. Menang 4 kali, imbang 1 kali, dan kalah 5 kali. Di klasemen akhir berada di atas Kazakhtan dan Latvia, tetapi di bawah Turki, Islandia, dan Ceko. Benar-benar busuk!

 

Piala Dunia Lebih Menyakitkan  

Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti Belanda sejak saya menjadi penggemarnya. Sebagai juara bertahan Piala Eropa dua tahun sebelumnya, dan diperkuat sejumlah pemain bintang, Belanda tentu saja diunggulkan.

Namun, prestasi yang ditunjukkan sebaliknya. Tiga pertandingan dalam babak penyisihan semuanya berakhir imbang: vs Mesir 1-1, vs Inggris 0-0, dan vs Republik Irlandia 1-1. Untung masih lolos ke perdelapan final gara-gara menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Di babak ini langsung bertemu Jerman Barat yang akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 1-0. Maradona menangis. Dalam partai itu Frank Rijkaard meludahi Rudi Voeller.

Piala Dunia berikutnya digelar di Amerika Serikat. Terjadi gegar budaya. Penonton Indonesia yang biasanya menyaksikan sepak bola Eropa pada malam atau dini hari, kali ini harus menontonnya pagi hari. Kala itu saya masih kelas 5 sekolah dasar.

Setelah lolos dari Grup F bersama Arab Saudi dan Belgia, Belanda harus berhadapan dengan Republik Irlandia. Berhasil melewati tim semenjana itu, kemudian Brazil telah menanti. Saat itu Romario dan Bebeto tengah menggila. Setelah Aron Winter berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-76, Branco akhirnya membawa Brazil ke semifinal lewat gol dari jarak jauh pada menit ke-81. Belanda pulang.

Saya masuk SMA pada tahun 1998, saat Prancis mendapat giliran menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mulai merantau, mulai jauh dari orang tua. Saya lupa, entah di mana saya bisa nonton Piala Dunia, sebab saat itu saya indekos dan tak punya tv.  Induk semang memang punya tv, tapi saya sangat malu untuk ikut menonton sepak bola.

Singkat cerita, Belanda lolos ke perdelapan final lalu menghajar Yugoslavia 2-1. Kemudian membenamkan Argentina di perempat final 2-1 setelah Dennis Bergkamp mencetak gol cantik di menit ke-89. Di semifinal lagi-lagi diadang Brazil dan tersingkir lewat adu pinalti. Phillip Cocu dan Ronald De Boer gagal mencetak gol.

Empat tahun berikutnya Belanda gagal lolos ke Korea Selatan-Jepang. Kalah bersaing di kualifikasi Grup 2 Eropa. Mereka hanya finish di peringkat tiga di bawah Republik Irlandia dan Portugal. Saat itu saya tengah menganggur: sudah lulus SMA tapi tak lolos UMPTN.

Kemudian 2006 datang. Piala Dunia kembali digelar. Jerman menjadi tuan rumah. Saya sudah lulus kuliah dan baru sebulan kerja di sebuah travel di Bandara Sukarno-Hatta. Belanda lolos sih, juga sanggup ke perdelapan final, tapi keburu dihajar Portugal 1-0. Tak istimewa.

Dan saat yang paling menyakitkan pun tiba. 2010 Piala Dunia datang ke Afrika Selatan. Ya, “Waka Waka”, “This Time for Africa”. Saya sudah pindah kerja ke Pulogadung. Di penyisihan grup Belanda sapu bersih: vs Denmark 2-0, vs Jepang 1-0, dan vs Kamerun 2-1. Juara grup.

Slovakia dihajar 2-1 di perdelapan final. Selanjutnya Brazil. Tim yang biasanya mengganjal Belanda itu tak berdaya, ditekuk 2-1 di perempat final. Belanda kian perkasa. Di semifinal giliran Uruguay yang digebuk 3-2. Giovanni Van Bronckhorst cetak gol spektakuler.

Spanyol sudah menunggu di final. Saya nonton di kamar si Jun, kawan indekos yang sehari-hari jualan di ITC Cempaka Mas. Deg-degan sejak menit pertama. Barangkali inilah saatnya menebus kekelahan pada tahun 1974 dan 1978. Arjen Robben berkali-kali mendapat pelung, namun semuanya gagal. Pertandingan dilanjutkan lewat perpanjangan waktu. Dan petaka pun datang pada menit ke-116. Iniesta menjebol gawang Stekelenburg!

Saya tertegun setelah menghamburkan kata anjing.

Besoknya bangun kesiangan. Tiba di kantor hampir pukul 10. Tapi bos tak banyak cincong. Hanya tersenyum. Dia tahu saya bobotoh Belanda.

Empat tahun kemudian di Brazil, dendam terbalaskan. Spanyol dibantai 5-1 di babak penyisihan. Lolos ke perdelapan final sebagai juara grup, Belanda menekuk Meksiko 2-1. Di perempat final ditantang Kosta Rika: menang lewat adu pinalti. Tim Krul tampil cemerlang. Sayang, di semifinal yang lagi-lagi harus diakhiri dengan adu pinalti, Louis Van Gaal tak menurunkan Tim Krul. Dia malah memasang Jasper Cillessen. Belanda pun tersingkir setelah kalah dari Argentina.

Tahun 2018, Belanda mengulang mimpi buruk 2002: kembali tak lolos. Di kualifikasi Grup A zona Eropa, Belanda hanya finish di urutan ke-3. Di bawah Swedia dan Prancis, dan hanya di atas Bulgaria, Luksemburg, dan Belarus.


Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022  

Piala Eropa 2020 tengah berlangsung. Ya, gara-gara pandemi, gelaran akbar itu diundur satu tahun. Setelah mengalahkan Ukraina (3-2) dan Austria (2-0), Belanda akan menjalani partai ke-3 besok malam melawan Makedonia Utara. Saya kira tak akan menemui kendala berarti. Belanda telah lolos sebagai juara grup, tinggal menanti lawan berikutnya. Semoga Mola TV tidak terus-terusan menjadi medioker.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Belanda sementara berada di urutan ke-2, di bawah Turki. Apakah akan lolos? Saya sih optimis. Tapi kita lihat saja.

Waktu berlalu, masa berganti, generasi berubah. Marco Van Basten, Dennis Bergkamp, dan Robin van Persie telah pensiun. Kini saya menonton generasi Denzel Dumfries, Donyell Malen, dan Matthijs de Ligt.

33 tahun hati saya selalu oranye, dan selamanya. (irf)    

22 June 2017

"Balas Dendam" Seorang Amerika Pencinta Sepak Bola


“Saya gila bola, meski payah dalam memainkannya,” tulis Franklin Foer, jurnalis politik majalah New Republic asal Amerika Serikat. Di Piala Dunia edisi ke-15 tahun 1994, negeri Paman Sam baru menjadi tuan rumah. Sementara kasta liga tertinggi, Major League Soccer, baru digelar setahun sebelumnya, hampir seusia dengan Liga Indonesia yang konon profesional. Anggap saja kita abaikan fakta-fakta itu, namun seorang Amerika menulis tentang sepak bola tetap akan dianggap sebuah lelucon yang kelewat banal.
Tapi sebagaimana Indonesia yang kerap melahirkan para pandit dan cerdik cendekia penulis sepak bola, kiranya Franklin Foer adalah salah satu pengecualian dari negeri yang lebih menggilai football “sungguhan” (lempar, tendang, bawa lari, pegang erat), dan bola basket, daripada sepak bola.
Sebelum menjelentrehkan hasil liputannya di beberapa negara yang menggilai sepak bola, di bagian prolog ia berkisah tentang betapa menyedihkannya menjadi pencinta sepak bola di negara yang amat muda usia dalam menggeluti si kulit bundar.              
“Karena saya takkan pernah jago dalam bermain bola itu sendiri, saya bisa melakukan hal terbaik berikutnya: memahami sepak bola sedalam-dalamnya laiknya seorang maniak. Dan bagi seorang Amerika hal ini tidaklah mudah,” tulisnya.

Waktu ia kecil, televisi hanya sesekali menayangkan siaran ulang dari Jerman dan Italia pada jam-jam kebaktian di hari Minggu pagi. Selama empat tahun selang Piala Dunia, pemirsa hanya disuguhi cuplikan-cuplikan pertandingan, dan harus puas hanya dengan itu.
Praktis sejak kecil Franklin dihantam dua kondisi sekaligus: suka bola tapi tak becus dalam bermain, dan mau menggilai bola tapi negaranya tak doyan permainan yang digagas orang-orang Inggris tersebut. Ia bisa saja menyerah dan melupakan sepak bola, tapi yang terjadi sebaliknya. Ketika usianya menginjak 27 tahun, Franklin mulai membuat “pembalasan” yang menyenangkan.   
Mulai musim gugur 2001, selama delapan bulan ia cuti dari kantornya dan mulai menggarap buku ini. Franklin mendatangi banyak negara, menonton pertandingan, mencermati sesi latihan, dan mewawancarai para jagoan lapangan hijau, juga orang-orang yang berkelindan di balik olah raga yang paling populer di kolong jagat ini. Ia mendatangi Serbia, Skotlandia, Italia, Brazil, Inggris, Ukraina, dll.
Penelusuran dan ketajaman penanya menghasilkan kajian sepak bola yang menarik tentang irisannya dengan isu sosial, politik, agama, dan budaya. Ia bertemu dengan para begundal Red Star Belgrade, menyigi bagaimana kelompok pendukung sepak bola berjabat erat dengan politik, dan menjadi kombatan sekaligus tukang bantai di Perang Balkan yang memecah belah Yugoslavia.
Sementara di Britania Raya, ia menyaksikan derbi Old Firm yang selalu panas dan mendatangi para pentolannya. “Lutut kami berkubang darah Feni,” teriak para pendukung Glasgow Rangers. Kemudian disusul, “Kalau kau benci bangsat-bangsat Feni tepuk tanganlah!”
Feni yang dimaksud adalah para pendukung Glasgow Celtic. Permusuhan yang dilandasi konflik agama berkepanjangan antara Rangers yang Protestan dan Celtic yang Katolik hidup di sepakbola Skotlandia. Permusuhan ini diwarnai juga oleh kebencian terhadap orang-orang Irlandia yang Katolik, atau sanjungan kepada paramiliter Protestan di Irlandia Utara.
Agama, seperti halnya di palagan politik, adalah juga barang dagangan yang terus dirawat di kancah sepak bola.
Franklin seorang pendukung FC Barcelona. Ia menyukai semangat klub Catalan yang meskipun selalu memosisikan diri sebagai seteru abadi Real Madrid yang secara sejarah menindas, namun menurutnya di kota yang mengoleksi lukisan Salvador Dali dan Joan Miro tersebut, patriotisme dan kosmopolitanisme saling mengisi dengan sempurna. Seperti pada umumnya para pendukung sepak bola di seluruh dunia, Fans Barca juga terjangkiti irasionalitas yang dalam, seperti misalnya mereka-reka konspirasi, membayangkan diri selalu dikorbankan, dll. Namun menurutnya mereka tak pernah memperlakukan pendukung klub lain sebagai bukan manusia.
Ketika Johan Cruyff yang orang Belanda menamai anaknya Jordi, dan Hristo Stocihkov yang Bulgaria kerap mengobarkan semangat Catalan, itulah contoh tentang Barcelona yang kosmopolitan. Jauh sebelum itu, jika menilik sejarah, klub yang mempunyai moto mas que un club atau “lebih dari sekadar klub” tersebut didirikan pada tahun 1899 oleh Joan Gamper, seorang pengusaha Swiss yang bergabung bersama para ekspat Inggris.
Tulisan Franklin yang berjudul Pesona Nasionalisme Borjuis, selain membedah ihwal klub dukungannya, juga diperkaya dengan sejarah rezim Franco dalam “mengelola” Barcelona. Di masa kepemimpinannya, Camp Nou, stadion kebanggaan bangsa Catalan tak pernah dilumatkan. Stadion itu dibiarkan dipenuhi cacian dan makian kepada rezimnya. Hal tersebut bukannya tanpa sebab, Franklin menulis, “Tujuannya cukup jelas: agar rakyat Catalunya bisa menyalurkan energi politik mereka ke dalam acara pengisi waktu luang yang tak membahayakan.”
Di tulisan-tulisan yang lain, dengan amat lugas Franklin merangsek dengan kisah bangsa Yahudi di dunia sepak bola: lengkap dengan sejarah kebencian, tim sepak bola tua yang telah tutup usia, serta asal usul beberapa klub yang diidentikkan dengan Yahudi seperti Tottenham Hotspur dan Ajax Amsterdam. Di Inggris, ia bertemu dengan orang pertama, pendukung Chelsea, yang mula-mula melahirkan aksi-aksi hooligan. Lalu ada cerita tentang bagaimana Eropa Timur memperlakukan para pesepakbola dari Benua Hitam. Isu korupsi para mafia dan bajingan sepak bola, juga represi rezim terhadap penikmat sepak bola, khususnya perempuan tak luput diwedarkan.   
Sepuluh biji tulisan Franklin yang lintas tema, sebagaimana yang ia maksudkan, menyoroti persoalan sosial politik globalisasi di dunia sepakbola.
“Bukan maksud saya untuk mengais-ngais kritik kuno Marxis tentang kapitalisme korporasi. Masalah utama buku ini lebih bersifat kultural ketimbang ekonomi,” tulisnya.
Di bagian epilog, ini juga sayang untuk dilewatkan, Franklin mencoba menelusuri dan mengkaji para jagoan Piala Dunia berdasarkan sistem pemerintahan negaranya. Menurutnya, komunisme, fasis, dan junta militer adalah sistem yang berhasil melahirkan tim sepak bola yang kuat dan disegani. Di luar itu, ia tak menyangkal ada yang namanya hukum besi, seperti Brazil, misalnya. Bagaimanapun realitas politik yang tengah berjalan di negaranya, tim Samba hampir selalu bisa menggondol Piala Jules Rimet.
Untuk para pembaca yang tekun dan kebetulan gila bola, ia tak pelit berbagi referensi bacaan yang mewarnai sekujur tulisannya. Setidaknya ada 28 rujukan yang terdiri dari buku, esai, dan tautan internet seperti tulisan Ivan Colovic tentang pendukung sepak bola Serbia dan Perang Balkan, Bill Murray tentang Old Firm atau perseteruan Rangers dan Celtic, Houchang Chehabi yang menulis dunia sepak bola Iran, John Burzl dan Otto Bahr tentang Hakoah (tim sepak bola Yahudi), dll.
Sepak bola, menurutnya, tidaklah sama dengan musik Bach atau agama Budha, namun kerap membangkitkan penghayatan yang melebihi agama. Di negeri Bobby Moore dan Geoff Hurst, keduanya legenda timnas Inggris dan West Ham United, olahraga yang dilahirkan kelas buruh ini kerap menjadi semacam penawar dari kemurungan kota. 
“Di kota-kota industri Inggris seperti Coventry dan Derby, klub-klub bola turut merekatkan kota-kota kecil tersebut di tengah kesuraman yang mencekam,” tulisnya. [irf]
Tayang pertama kali di pocer.co tanggal 10 Juni 2017


05 March 2017

Orang Arab dalam Guyonan Orang Sunda


“Islam itu Sunda, Sunda itu Islam”. Jargon ini konon dicetuskan oleh H. Endang Saifuddin Anshari. Kenapa jargon tersebut bisa muncul? Jakob Sumardjo dalam buku Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan menerangkan bahwa hal itu dilatari oleh karakter masyarakat Sunda yang berbasis huma atau ladang.

Jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Jawa yang berdasarkan masyarakat sawah yang menetap, maka kebudayaan istana di kerjaan-kerajaan Sunda hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat negara saja. Masyarakat negara adalah masyarakat Sunda yang berada di wilayah yang benar-benar dikuasai oleh kerajaan secara langsung. Di luar wilayah kekuasan kerajaan, masih terdapat kampung-kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari berladang.

Hidup yang berpindah-pindah membuat hubungan antara istana dan rakyat di luar wilayah kekuasan amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke arah Islam leluasa keluar masuk kampung-kampung Sunda. Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat Sunda di pedesaan kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindu amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Hal tersebut tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Kian Santang.

“Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di Sunda. Sunda itu Islam,” tulis Jakob Sumardjo.

Meski Islam tidak identik dengan Arab apalagi negara Arab Saudi, namun karena Islam di Nusantara datang dari Hadramaut, Yaman, wilayah yang penduduknya berbangsa Arab, maka Islam sering dilekatkan dengan bangsa tersebut.

Satu contoh kaitan Sunda dengan Arab dipaparkan oleh Nanang S, spk dalam buku Taneuh Sakeupeul ti Mekah (Tanah Sekepal dari Mekah) yang menceritakan tentang asal mula lahirnya Kampung Mahmud, di Kabupaten Bandung, yang merupakan salah satu kampung tempat penyebaran agama Islam di tatar Sunda.

Kampung ini didirikan oleh Dalem Abdul Manaf, seorang ulama yang masih keturunan Sultan Mataram, yang ketika mudanya pernah pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu. Sekembalinya dari Mekah, beliau membawa tanah sekepal. Padahal waktu itu hal tersebut sangat dilarang, tapi Dalem Abdul Manaf nekad.

“Taneuh tĂ©h dicecebkeun dina ranca, di ieu lembur. Ti wangkid harita ieu tempat tĂ©h dingaranan Kampung Mahmud. Kampung nu masarakatna ngagem Islam, nanjeurkeun ajĂ©n-inajĂ©n Islam,” ceuk Haji Safe’i, kuncĂ©n Ă©ta kampung.

“Tanah tersebut ditanam di dalam rawa, di kampung ini. Mulai saat itu tempat tersebut dinamai Kampung Mahmud. Kampung yang masyarakatnya memeluk Islam, menegakkan kehormatan Islam,” kata Haji Safe’i, kuncen kampung tersebut.  

Dengan latar kondisi seperti itu, yaitu Sunda yang Islam, dan Islam yang kerap dilekatkan dengan Arab, tak membuat masyarakat Sunda mengurangi rasa humornya. Acep Zamzam Noor malah menulis bahwa sosok si Kabayan yang humoris adalah perwujudan dari seorang mursyid (pembimbing murid di kalangan sufi) yang sudah “teu nanaon ku nanaon” (tidak apa-apa oleh apapun).

“Cerita-cerita si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi,” terang Acep.

Sebagian orang Sunda, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Islam yang mereka anut, kerap menjadikan orang Arab (pembawa Islam Ke Nusantara) sebagai bahan guyonan. Beberapa guyonan bahkan kadang kelewat vulgar.

Kang Ibing dan Aom Kusman, dua orang tokoh Sunda yang populer berkat guyonannya dan tergabung dalam grup komedi De Kabayan, dalam sebuah lakon berjudul Ngaronda pernah memasukkan unsur Arab dalam guyonannya.

Dikisahkan suatu hari Kang Unang (Aom Kusman) dan Jang Aceng (Kang Ibing) tengah berdiskusi ihwal Siskamling (sistem keamanan lingkungan). Mereka yang kebetulan satu regu, kebingungan mencari kawan lain yang cocok untuk dimasukkan ke dalam regunya. Beberapa nama disebut, namun belum ada yang pas, termasuk tokoh Abah Wikanta yang terkenal jago bercerita namun ceritanya penuh dengan kebohongan.

Salah satu cerita bohong Abah Wikanta yang dituturkan oleh Jang Aceng yaitu ia mengaku pernah membeli kupat tahu bersama Raja Farouk (ini Raja Mesir sebetulnya) di Mekah. “Di mana di Mekah makĂ© aya kupat tahu sagala nya, kang,” (Di mana di Mekah ada ketupat tahu segala ya, Kang), ujar Jang Aceng menegaskan.

Kang Unang mengiyakan kebohongan cerita tersebut. Lalu Jang Aceng dengan guyonannya yang khas menambahkan, “Enya, paling henteu kasedepna meureun teu sangu konĂ©ng mah,” (Iya, paling tidak kesukaannya—Raja Farouk, itu nasi kuning).  

Di lain waktu, ketika Kang Ibing beranjak tua dan mulai diundang untuk berdakwah di banyak tempat, dalam satu ceramahnya beliau bercerita tentang pengalamannya ketika melaksanakan ibadah haji. Ketika jamaah telah memadati Masjidil Haram dan berdesakan, Kang Ibing salat persis di belakang seorang Arab yang berperawakan tinggi besar. Ketika bangkit dari sujud, penglihatan Kang Ibing gelap, rupanya kepala beliau masuk ke dalam jubah orang Arab tersebut.  

“Cengkat tina sujud, poĂ©k. SihorĂ©ng hulu abus ka jero jubah. Éta kacipta urang Arab cĂ©kĂ©rna totojĂ©r, ceuk dina hatĂ©na tĂ©h, ‘Ari sia rĂ©k naon susurungkuyan ka dieu,” (Bangkit dari sujud, gelap. Rupanya kepala masuk ke dalam jubah. Terbayang orang Arab itu kakinya menyepak-nyepak, mungkin katanya dalam hati, ‘Kamu mau apa masuk ke dalam jubah’), ujar Kang Ibing yang disambut gelak tawa hadirin.

Selain itu, Kang Ibing juga bercerita tentang pengalamannya pertamakali ke Mekah. Kata orang-orang di Indonesia, di Mekah memegang janggut dan kepala, meskipun itu kepada orangtua, tidak akan dimarahi oleh si empunya. Karena penasaran, Kang Ibing kemudian mencoba memegang janggut seorang Askar (keamanan) sambil berucap, “Assalamualaikum.” Askar tersebut menjawab salam Kang Ibing dan tidak marah.

Merasa belum puas, Kang Ibing mencoba lagi kepada seorang Arab yang berperawakan tinggi besar dan berjanggut panjang serta lebat. “Assalamualaikum,” ucap Kang Ibing sambil memegang jenggot orang Arab tersebut. Namun tak disangka sebelumnya, orang Arab tersebut malah menjawab, “Kang Ibing, abdi mah urang Pasar Baru, Bandung.” Hadirin kembali tergelak.

Dulu, ibu-ibu di kampung penulis, kalau Piala Dunia tiba dan Arab Saudi lolos, mereka selalu tertawa sambil berkomentar, “Tingali urang Arab mah calanana gĂ© koatka sontog, Ă©ta tĂ©h lantaran panjang teuing ampir teu kawadahan.” “Lihat orang Arab celananya sampai (memakai) sontog, itu karena (alat vitalnya) terlalu panjang sampai hampir tidak muat (di celana biasa).” Saeed Al-Owairan (yang mengobrak-abrik pertahanan Belgia) dkk, menjadi bahan tertawaan.

Dalam keseharian, meski mulanya tidak diketahui dari mana, beredar beberapa cerita lisan vulgar dalam bahasa Sunda yang menjadikan orang Arab sebagai objek guyonan. Seperti misalnya kisah tentang perlombaan penis panjang antar bangsa. Perlombaan diadakan di dalam ruangan, dan peserta dipanggil satu persatu. Peserta dari Amerika Serikat dipanggil dan menunjukkan penisnya yang sepanjang botol air mineral ukuran 600ml. Lalu peserta dari Indonesia yang ukurannya lebih panjang sedikit dari peserta pertama. Negara berikutnya selalu lebih panjang sedikit dari negara sebelumnya. Berpuluh dipanggil bergantian, sampai dipungkas oleh peserta dari Arab Saudi.

Ketika peserta terakhir dipanggil, terdengar pintu ruangan diketuk. Tim juri mempersilakan masuk, namun peserta tak kunjung muncul. Salah seorang juri kemudian membuka pintu, dan tak menemukan orang, ternyata yang tadi mengetuk pintu adalah kepala penis orang Arab. Saking panjangnya: orangnya entah di mana, kepala penisnya sudah sampai duluan. [irf]     

23 July 2014

Postulat Keseimbangan




Di bulan Juni-Juli ini setidaknya ada sekira empat peristiwa besar yang nyangkut di ruang informasi dan emosi kita. Dari Piala Dunia, Pilpres, serangan ke Gaza, sampai Bulan Puasa. Tentu setiap orang berbeda-beda ihwal mana yang hanya sebatas informasi, dan mana yang mula-mula hanya informasi tapi kemudian dibarengi dengan emosi. Pada kedua sikap itu hampir selalu ada gemuruh, entah hanya sebatas komentar alakadarnya, ataupun respon hiperbola yang meluap-luap. Di seluruh gorong-gorong media, empat peristiwa tersebut berparade di titian waktu pemirsa; menggelontorkan informasi, basa-basi, rayuan-rayuan niaga, sampai dusta terang-terangan. Di tengah keramaian itu, jika saya tak silap, ada beberapa potong mozaik yang bila disatukan akan menerbitkan dugaan tentang kebenaran yang remang-remang.  

Saya sempat menyangka bahwa Piala Dunia 2014 akan menjelma menjadi semacam pesta bangsa tiran. Dominasi yang keterlaluan. Bagaimana tidak, Brazil yang sudah menempelkan lima gambar bintang di atas logo federasi sepakbolanya, masih juga hendak menambahnya dengan jalan yang hampir sempurna. Bertindak selaku tuan rumah, memiliki skuad yang rata-rata merumput di seantero liga-liga nomor wahid, terbiasa dengan cuaca tropis, dan berada di group yang tidak terlalu berbahaya, membuat Brazil seolah tinggal selangkah menempelkan gambar bintang yang ke enam. Pada fase group, penonton televisi yang tak senang kepada timnas Brazil mungkin melihat wajah-wajah supporter tuan rumah begitu yakin dan sekaligus menyebalkan. Mereka begitu jumawa. Inilah konco-konco kesebelasan tiran.

Namun pada akhirnya kita tahu, tim tuan rumah yang didukung mayoritas itu mesti mengubur dalam-dalam mimpi agungnya. Dan tak cukup di sana, sebuah noktah memalukan pun terpaksa masuk ke dalam arsip sejarah sebuah bangsa sepakbola yang begitu cemerlang tersebut. Bagi masyarakat Brazil, barangkali kekalahan 7-1 dari Jerman di laga semifinal bukanlah kekalahan yang biasa. Itu adalah trauma yang tak bakal sembuh dengan cepat. Drama berdarah-darah Brazil kemudian ditutup dengan sempurna ketika mereka dibungkam Belanda 3-0 pada perebutan juara ketiga.   

***

Tak ada yang memekakkan ruang informasi, di bulan-bulan ini, melebihi hiruk-pikuk Pemilu Pemilihan Presiden. Dari kampanye sampai hitung cepat, semuanya dikemas dengan perang terbuka skala nasional. Mungkin karena calonnya hanya dua pasang, jadi warga dipaksa berhadap-hadapan, terpolarisasi, berjejak di kutub-kutub yang berlawanan.

Namun terlepas dari serunya pertempuran di “padang kurusetra”, ada satu hal yang menurut hemat saya cukup mengagetkan. Seperti ada dominasi yang cair kemudian luruh. Meskipun kubu Jokowi cenderung akan memenangkan Pilpres, namun jika dilihat dari angka yang beredar di mana-mana, selisih antara dua calon tidak begitu jauh. Dugaan saya, atau mungkin juga banyak orang, Jokowi akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah. Alasannya sederhana saja; sebagai anak emas media (jauh sebelaum pilpres berlangsung) yang melalui corong-corongnya berhasil mempengaruhi ruang olah informasi massa, Jokowi tidak akan sulit menyentuh alam bawah sadar masyarakat. Namun kenyataan berbicara bahwa Jokowi dan segenap tim suksesnya mesti berjibaku, mati-matian dalam mengamankan peluang kemenangan.

Di sini ada hantaman yang mengagetkan. Ada pukulan sporadis yang membuat goyah harapan-harapan. Ada sesuatu yang nampaknya lambat disadari oleh kubu Jokowi.

***

Sebetulnya tanpa ada serangan Israel ke Gaza pun media sosial kita sudah sangat ramai oleh Piala Dunia dan Pilpres yang berlarut-larut. Namun begitulah jadinya, militer berbendera Bintang David terus membombardir sekerat tanah Palestina di Jalur Gaza. Israel tidak akan kaget dengan hujan simpati dan kutukan; simpati untuk Palestina, dan kutukan untuk dirinya. Yang membuat gusar Israel adalah roket-roket Hamas yang berliweran di langit dekat rumahnya. Maka operasi militer jilid 2 (setidaknya dari tahun 2008) pun digelar.

Di benak tentara-tentara Israel sepertinya ada keheranan yang berlapis-lapis; mengapa sekerat tanah itu tak kunjung tunduk dan menyerah?. Pada perang kota militant Hamas begitu menakutkan dan kerap memukul mundur pasukan Israel yang bersenjata lengkap. Ada semacam kekuatan tak kasat mata yang merintangi niat bangsa Netanyahu untuk melumat tanah tersebut.

***

Di hampir empat hari tengah Ramadhan saya menimbang hal-hal di atas. Entah kenapa seperti ada “kasih tak sampai” yang berulang. Dari Brazil sampai Israel. Dari sepakbola sampai senjata. Ada beberapa dominasi yang melemah; Brazil yang gagal juara, Jokowi yang tidak “menang” mudah, dan Israel yang kesulitan menembus tanah jajahan. Sampai kemudian kesadaran itu merayap juga ke bulan puasa; bukankah di bulan ini banyak katup-katup keinginan yang gagal meledak? Hasrat yang tertahan? Dan ambisi yang mereda? Kemudian saya teringat dengan sekerat tulisan Andrea Hirata di novel Padhang Bulan:

“Kurasa itulah postulat pertama hukum keimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat.”

Jika pada Piala Dunia 2018 Belanda menjadi juara, saya kira kiamat tidak akan lagi terlalu lama ditunda. Wallu’alam. [irf]