Showing posts with label Jerman. Show all posts
Showing posts with label Jerman. Show all posts

23 September 2015

Penerbit Horlemann dan Kesusastraan Indonesia

Jauh sebelum program penerjemahan buku terkait gelaran Frankfurt Book Fair 2015, juga sebelum 18 buku karya pengarang Indonesia diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Jerman, Belanda, serta Italia, buku-buku karya sastrawan Indonesia sebetulnya sudah banyak diterbitkan beberapa penerbit luar. Salah satu penerbit yang sudah cukup lama menerbitkan karya sastrawan Indonesia adalah Horlemann Verlag.
Penerbit ini dikenal sebagai salah satu penerbit di Jerman yang sangat konsisten memperkenalkan kesusastraan non-Eropa, terutama dari Asia dan Afrika, kepada publik pembaca Jerman. Kecenderungan tersebut merupakan pengejawantahan salah satu misi utama mereka yaitu meningkatkan perhatian masyarakat Jerman terhadap kebudayaan non-Eropa.
Pendiri penerbit ini adalah Jürgen Horlemann (1941-1995). Sejak semula, Horlemann dan koleganya telah menjadikan Asia sebagai prioritas penerbitannya. Beberapa pengarang Indonesia pernah mencicipi keterlibatan Horlemann dalam memperkenalkan khasanah kesusastraan Asia di Jerman.
Riwayat pergumulan Horlemann dengan buku Indoensia dimulai pada 1992.”Harimau! Harimau!” (Tiger! Tiger!) karya Moctar Loebis diterbitkan. Lalu pada 1993, kumpulan cerita pendek Leila S. Chudori yang berjudul “Malam Terakhir” diterbitkan dengan judul “Die Letzte Nacht”. Pada tahun yang sama, “Belenggu” (In Fasseln), karya Armijn Pane dan “Burung-burung Manyar” (Die Webervoegel) karangan Y.B. Mangunwijaya juga diterbitkan.
Tiga tahun kemudian, Horlemann kembali menerbitkan buku sastra Indonesia. “Ronggeng Dukuh Paruk” terbit dalam bahasa Jerman pada 1996 dengan judul Die Tanzerin von Dukuh Paruk. Lalu pada 1997, “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini terbit pula dengan judul Erdetanz. Dan pada 2007 “Saman” karya Ayu Utami juga diterbitkan.
Yang paling banyak diterbitkan adalah karya satrawan Indonesia yang namanya bolak-balik menjadi nominasi peraih Nobel Sastra: Pramoedya Ananta Toer. Tak kurang dari lima karya pengarang tersebut pernah diterbitkan Horlemann: “Bukan Pasar Malam” (Mensch fur Mensch, 1993), “Keluarga Gerilya” (Die Familie der Partisanen,1997), “Jejak Langkah” (Spur der Schritte, 1999), “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Stilles Lied eines Stummen, Aufzeichnungen aus Buru,2000), dan “Gadis Pantai” (Die Braut des Bendoro, 2001).
Khusus untuk karya Pramoedya, selain Horlemann, ada dua penerbit besar Jerman yang juga menerbitkan karangannnya. Rowohlt Taschenbuch Verlag menerbitkan “Bumi Manusia” (Garten der Menschheit) pada 1988. Sedangkan pada 1994, Unions Verlag menerbitkanAnak “Semua Bangsa” (Kind aller Volker).
Menjelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan, Horlemann lagi-lagi ikut menerbitkan karya dari Indonesia. Kali ini, buku non-fiksi karya Linda Christanty, “Jangan Tulis Kami Teroris”, akan mereka terbitkan dengan judul: “Schreib ja nicht, das wir Terroristen Sind!”
Penerbit ini kadang dikritik “mengekploitasi” eksotisme negeri-negeri pasca-kolonial, termasuk Indonesia. Pilihan gambar sampulnya, seperti yang tercermin dalam perdebatan mengenai novel “Saman” karya Ayu Utami beberapa tahun silam, pernah dianggap membangkitkan kembali citraan eksotis negeri-negeri timur.

Kendati demikian, sejak kelahirannya, Horlemann Verlag punya jasa yang tidak patut untuk dilupakan dalam memperkenalkan teks-teks sastra Indonesia ke publik yang lebih luas, khususnya Jerman. Ia punya andil yang, kendati mungkin tak banyak dibicarakan, membangun perjumpaan budaya antara Jerman dan Indonesia, atau Eropa dan Asia (juga Afrika). [ ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Cerita Penerbit Lily & Eddy

Selain membawa para penulis dan karyanya, gelaran Frankfurt Book pun melibatkan para penerbit. Dan posisi penerbit di pameran buku tertua ini memang sangat penting. Selain menjual buku kepada para pembaca seperti layaknya pameran buku di Indonesia, di Frankfurt Book Fair pun terjadi komunikasi dan transaksi yang terkait dengan jual-beli copy right buku antar penerbit beda negara. Di titik ini jelas penerbit sangat penting kehadirannya.
Komite Nasional telah mengumumkan 33 penerbit--termasuk di dalamnya literary agency, yang akan berangkat ke Frankfurt membawa buku-buku andalannya. Salah satu penerbit itu adalah Lily & Eddy.
Penerbit yang baru berdiri di tahun 2012 ini fokus pada buku dan penyediaan materi-materi edutainment bagi anak-anak (materi pendidikan yang menghibur), yang berkualitas dan secara harga terjangkau. Menyambut pameran buku di Frankfurt bulan Oktober yang akan datang, Lily & Eddy sedang mempersiapkan produknya sebaik mungkin.
Dihubungi via surat elektronik, penerbit Lily & Eddy menjelaskan, “Partisipasi kami kali ini adalah yang pertama di Frankfurt Book Fair. Kesempatan untuk berpartisipasi di ajang perbukuan dunia ini merupakan sesuatu yang membanggakan, karena kami bisa menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang menjadi Guest of Honor . Sebagai sebuah perusahaan baru, ini merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi kami. Oleh karena itu, kami sedang mempersiapkan diri kami dengan sebaik mungkin agar buku-buku anak yang kami akan hadirkan di sana bisa setara dengan buku-buku anak dari berbagai penjuru dunia.”
Oktober nanti, Lily & Eddy minimal akan membawa sekira 20 judul buku anak-anak yang akan mereka perkenalkan ke publik Jerman. Beberapa buku terbitan Lily & Eddy tersebut, salah satunya yaitu; serial “The Tales of Didgit Cobbleheart” yang hadir dalam enam jilid. Media sosialisasi buku ini dilengkapi oleh berbagai bentuk media. Untuk membuat pembaca lebih tahu tentang buku tersebut, telah disediakan situs bukubudipekerti dot com, yang fungsinya sebagai jendela pembaca untuk memasuki dunia Didgit Cobbleheart.
Sebagai penerbit buku-buku anak, Lily & Eddy pun mengoptimalkan media sosialnya untuk lebih dekat dengan para pembaca. Di Facebook dan Twitter, hadir akun Didgit Cobbleheart yang setiap hari menghadirkan ilustrasi-ilustrasi baru yang menarik. Sedangkan tiap hari Rabu ada komik interaktif yang menyapa para pengunjung akunnya.
“Sebagai bentuk inovasi, kami memberikan sesuatu yang unik bagi para penggemar, di antaranya; animasi-animasi singkat dan soundtrack “My Name is Didgit” di channel YouTube- Didgit Cobbleheart Channel, dan blog “Soul Snacks by Didgit” yang banyak memiliki artikel kerajinan tangan sederhana untuk seluruh keluarga,” tutur A’ang Muljanto, sebagai perwakilan Lily & Eddy.
A’ang melanjutkan, “Selain itu serial Didgit Cobbleheart memiliki versi khusus Indonesian Heritage’ yang menghadirkan buku-buku berilustrasi cantik, bernuansa Indonesia yang bertujuan untuk mengajak sebanyak mungkin anak Indonesia untuk mencintai warisan alam dan budaya bangsa kita. Tiga buku dalam versi ini didedikasikan untuk mengenal, mencintai dan melestarikan alam Indonesia (laut, flora dan fauna) dan buku keempat akan mengajak anak-anak berinteraksi dengan baju-baju daerah dari 34 propinsi di Nusantara.
Terkait dengan Frankfurt Book Fair, meskipun sampai saat ini buku-buku dari Lily & Eddy belum dilirik oleh penerbit asing, yang artinya belum ada pembelian copyright dari pihak luar, namun proses penerjemahannya terus berjalan. Hal ini disebabkan karena sebetulnya buku-buku Lily & Eddy, sebelum ada versi bahasa Indonesia-nya, telah hadir mula-mula dalam bahasa Inggris. Di Frankfurt, mereka berharap buku-bukunya menarik penerbit asing dan terjadi pembelian copyright. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

23 July 2014

Postulat Keseimbangan




Di bulan Juni-Juli ini setidaknya ada sekira empat peristiwa besar yang nyangkut di ruang informasi dan emosi kita. Dari Piala Dunia, Pilpres, serangan ke Gaza, sampai Bulan Puasa. Tentu setiap orang berbeda-beda ihwal mana yang hanya sebatas informasi, dan mana yang mula-mula hanya informasi tapi kemudian dibarengi dengan emosi. Pada kedua sikap itu hampir selalu ada gemuruh, entah hanya sebatas komentar alakadarnya, ataupun respon hiperbola yang meluap-luap. Di seluruh gorong-gorong media, empat peristiwa tersebut berparade di titian waktu pemirsa; menggelontorkan informasi, basa-basi, rayuan-rayuan niaga, sampai dusta terang-terangan. Di tengah keramaian itu, jika saya tak silap, ada beberapa potong mozaik yang bila disatukan akan menerbitkan dugaan tentang kebenaran yang remang-remang.  

Saya sempat menyangka bahwa Piala Dunia 2014 akan menjelma menjadi semacam pesta bangsa tiran. Dominasi yang keterlaluan. Bagaimana tidak, Brazil yang sudah menempelkan lima gambar bintang di atas logo federasi sepakbolanya, masih juga hendak menambahnya dengan jalan yang hampir sempurna. Bertindak selaku tuan rumah, memiliki skuad yang rata-rata merumput di seantero liga-liga nomor wahid, terbiasa dengan cuaca tropis, dan berada di group yang tidak terlalu berbahaya, membuat Brazil seolah tinggal selangkah menempelkan gambar bintang yang ke enam. Pada fase group, penonton televisi yang tak senang kepada timnas Brazil mungkin melihat wajah-wajah supporter tuan rumah begitu yakin dan sekaligus menyebalkan. Mereka begitu jumawa. Inilah konco-konco kesebelasan tiran.

Namun pada akhirnya kita tahu, tim tuan rumah yang didukung mayoritas itu mesti mengubur dalam-dalam mimpi agungnya. Dan tak cukup di sana, sebuah noktah memalukan pun terpaksa masuk ke dalam arsip sejarah sebuah bangsa sepakbola yang begitu cemerlang tersebut. Bagi masyarakat Brazil, barangkali kekalahan 7-1 dari Jerman di laga semifinal bukanlah kekalahan yang biasa. Itu adalah trauma yang tak bakal sembuh dengan cepat. Drama berdarah-darah Brazil kemudian ditutup dengan sempurna ketika mereka dibungkam Belanda 3-0 pada perebutan juara ketiga.   

***

Tak ada yang memekakkan ruang informasi, di bulan-bulan ini, melebihi hiruk-pikuk Pemilu Pemilihan Presiden. Dari kampanye sampai hitung cepat, semuanya dikemas dengan perang terbuka skala nasional. Mungkin karena calonnya hanya dua pasang, jadi warga dipaksa berhadap-hadapan, terpolarisasi, berjejak di kutub-kutub yang berlawanan.

Namun terlepas dari serunya pertempuran di “padang kurusetra”, ada satu hal yang menurut hemat saya cukup mengagetkan. Seperti ada dominasi yang cair kemudian luruh. Meskipun kubu Jokowi cenderung akan memenangkan Pilpres, namun jika dilihat dari angka yang beredar di mana-mana, selisih antara dua calon tidak begitu jauh. Dugaan saya, atau mungkin juga banyak orang, Jokowi akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah. Alasannya sederhana saja; sebagai anak emas media (jauh sebelaum pilpres berlangsung) yang melalui corong-corongnya berhasil mempengaruhi ruang olah informasi massa, Jokowi tidak akan sulit menyentuh alam bawah sadar masyarakat. Namun kenyataan berbicara bahwa Jokowi dan segenap tim suksesnya mesti berjibaku, mati-matian dalam mengamankan peluang kemenangan.

Di sini ada hantaman yang mengagetkan. Ada pukulan sporadis yang membuat goyah harapan-harapan. Ada sesuatu yang nampaknya lambat disadari oleh kubu Jokowi.

***

Sebetulnya tanpa ada serangan Israel ke Gaza pun media sosial kita sudah sangat ramai oleh Piala Dunia dan Pilpres yang berlarut-larut. Namun begitulah jadinya, militer berbendera Bintang David terus membombardir sekerat tanah Palestina di Jalur Gaza. Israel tidak akan kaget dengan hujan simpati dan kutukan; simpati untuk Palestina, dan kutukan untuk dirinya. Yang membuat gusar Israel adalah roket-roket Hamas yang berliweran di langit dekat rumahnya. Maka operasi militer jilid 2 (setidaknya dari tahun 2008) pun digelar.

Di benak tentara-tentara Israel sepertinya ada keheranan yang berlapis-lapis; mengapa sekerat tanah itu tak kunjung tunduk dan menyerah?. Pada perang kota militant Hamas begitu menakutkan dan kerap memukul mundur pasukan Israel yang bersenjata lengkap. Ada semacam kekuatan tak kasat mata yang merintangi niat bangsa Netanyahu untuk melumat tanah tersebut.

***

Di hampir empat hari tengah Ramadhan saya menimbang hal-hal di atas. Entah kenapa seperti ada “kasih tak sampai” yang berulang. Dari Brazil sampai Israel. Dari sepakbola sampai senjata. Ada beberapa dominasi yang melemah; Brazil yang gagal juara, Jokowi yang tidak “menang” mudah, dan Israel yang kesulitan menembus tanah jajahan. Sampai kemudian kesadaran itu merayap juga ke bulan puasa; bukankah di bulan ini banyak katup-katup keinginan yang gagal meledak? Hasrat yang tertahan? Dan ambisi yang mereda? Kemudian saya teringat dengan sekerat tulisan Andrea Hirata di novel Padhang Bulan:

“Kurasa itulah postulat pertama hukum keimbangan alam. Jika kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, seseorang akan naik ke puncak bukit, lalu meniup sangkakala, dunia kiamat.”

Jika pada Piala Dunia 2018 Belanda menjadi juara, saya kira kiamat tidak akan lagi terlalu lama ditunda. Wallu’alam. [irf]