Showing posts with label Penerbit. Show all posts
Showing posts with label Penerbit. Show all posts

31 July 2016

Kenapa Kami Membicarakan Pustaka Jaya?

Ali Sadikin bertanya kepada Ajip Rosidi, “Mengapa anak-anak sekarang tidak membaca buku? Mereka lebih suka membaca komik.” Ajip kemudian menjelaskan kondisi perbukuan yang tengah redup. Menurutnya, banyak penerbit yang terutama mendahulukan mencari keuntungan dengan hanya menerbitkan buku-buku yang dicari oleh masyarakat. Barangkali maksudnya hanya melahirkan buku-buku praktis dan tidak menerbitkan buku bacaan (sastra) yang baik, seperti yang dulu dilakukan oleh Balai Pustaka. Ya, penerbit yang tulang rusuknya dirangkai oleh nafas kolonialisme itu, setidaknya pernah dianggap bermutu.

Percakapan tersebut kemudian menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah penerbitan yang kiranya bisa mengisi kekosongan bahan bacaan yang dimaksud. Ajip membawa gagasan dan kesepakatan itu ke kawan-kawannya di Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya adalah Asrul Sani dan Ramadhan KH. Ajip menganggap bahwa Aoh Karta Hadimadja—kakaknya Ramadhan KH, adalah orang yang tepat untuk memimpin penerbit yang hendak didirikan itu. Aoh bersedia, tapi ia mengajukan syarat, “Akang tidak mau pusing mengurus kertas dan semacamnya. Akang hanya mau mengurus pekerjaan redaksional saja, memilih karangan yang baik untuk diterbitkan menjadi buku.” Syarat itu diluluskan, dan Ajip kemudian yang menjadi nakhoda penerbit.

Buku-buku Pustaka Jaya mendapat sambutan baik dari masyarakat. Naskah-naskah penulis luar yang dikurasi dan diterjemahkan oleh para sastrawan dan penerjemah mumpuni memberikan bacaan alternatif di tengah kelesuan kondisi perbukuan. Untuk menyebut beberapa penerjemah, di antaranya: Sapardi Djoko Damono, Koesalah Soebagyo Toer, Djokolelono, Rusman Sutiasumarga, dll.

Dalam peta buku sastra yang dibaca oleh masyarakat Indonesia, Pustaka Jaya barangkali bisa dibilang sebagai tonggak baru pasca Balai Pustaka, Gunung Agung, Djambatan, dan penerbit-penerbit tua lainnya yang mulai kehabisan nafas. Penulis luar beserta karya-karyanya diperkenalkan dengan begitu masif, di antaranya: Nikolai Gogol, Jean-Paul Sartre, Arthur Koestler, Jaroslav Hasek, John Steinbeck, Emile Zola, Stefan Zweig, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Yasunari Kawabata, Oscar Wilde, Paul Fournel, William Shakespeare, Voltaire, Antoine de Saint-Exupery, dll. Meski demikian, para pengarang Indonesia tetap punya tempat, sebab Pustaka Jaya banyak juga menerbitkan buku-bukunya, di antaranya: Wing Kardjo, Rendra, Ajip Rosidi, Iwan Simatupang, H.B. Jassin, Taufik Ismail, Nh. Dini, dll.

Ketika Ajip Rosidi di tahun 1980-an harus pergi ke Jepang, dan pucuk pimpinan Pustaka Jaya diserahkan kepada oranglain, perlahan pamor penerbit tersebut mulai redup. Keterpurukan itu sempat membuat Pustaka Jaya akan ditutup, namun Ajip Rosidi sigap dengan membeli sahamnya. Ajip hendak mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya, dan hal tersebut tak jarang dengan mengorbankan aset-aset pribadinya. Hari ini Pustaka Jaya masih hadir mewarnai kancah perbukuan nasional, meski kondisinya tidak terlalu menggembirakan. Buku-buku yang diterbitkan kian beragam, tak melulu sastra, tapi ada juga tentang sejarah, bahasa, kebudayaan, dll. Belakangan, naskah-naskah sastra yang dulu pernah diterbitkan dan diminati para pembaca, diterbitkan ulang atas kerjasama Pustaka Jaya dan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Dalam ruang pembacaan, buku-buku Pustaka Jaya memang banyak memberikan kesan yang mendalam bagi para peminat sastra. Sebagai contoh, di Ciputat, ada sekelompok anak muda yang membuat blog dengan nama Anggur Torelli—sebuah blog yang dibuat oleh para pendirinya setelah mereka membaca “Dataran Tortilla” karya John Steinbeck. Di laman “ikhwal” tertulis,“Blog ini diberi nama Anggur Torelli lantaran Dataran Tortilla merupakan karya yang demikian mengesan bagi kami, para pendiri.”

Bagi kami--Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger, Pustaka Jaya juga punya tempat tersendiri di ruang pembacaan bersama maupun personal. Dalam kegiatan Kelas Literasi yang telah berjalan lebih dari satu tahun sejak digagas di titimangsa 13 Juni 2015, buku-buku Pustaka Jaya sudah sering dibahas dan didiskusikan. Sabtu yang akan datang (6 Agustus 2016) di Kelas Literasi pekan ke-54, kami hendak mengusung tema “Literasi Pustaka Jaya”. Hal ini kami usung, selain karena mulai mencoba menghadirkan tema-tema khusus (kesempatan lain mungkin temanya tentang Pramoedya Ananta Toer, Penerbit Kiblat Buku Utama, Seno Gumira Ajidarma, Buku Catatan Perjalanan, dll) juga untuk mengenalkan kembali penerbit ini kepada angkatan terkini, lengkap dengan beberapa mozaik karya, kisah, dan riwayatnya. [irf]

23 September 2015

Cerita Penerbit Lily & Eddy

Selain membawa para penulis dan karyanya, gelaran Frankfurt Book pun melibatkan para penerbit. Dan posisi penerbit di pameran buku tertua ini memang sangat penting. Selain menjual buku kepada para pembaca seperti layaknya pameran buku di Indonesia, di Frankfurt Book Fair pun terjadi komunikasi dan transaksi yang terkait dengan jual-beli copy right buku antar penerbit beda negara. Di titik ini jelas penerbit sangat penting kehadirannya.
Komite Nasional telah mengumumkan 33 penerbit--termasuk di dalamnya literary agency, yang akan berangkat ke Frankfurt membawa buku-buku andalannya. Salah satu penerbit itu adalah Lily & Eddy.
Penerbit yang baru berdiri di tahun 2012 ini fokus pada buku dan penyediaan materi-materi edutainment bagi anak-anak (materi pendidikan yang menghibur), yang berkualitas dan secara harga terjangkau. Menyambut pameran buku di Frankfurt bulan Oktober yang akan datang, Lily & Eddy sedang mempersiapkan produknya sebaik mungkin.
Dihubungi via surat elektronik, penerbit Lily & Eddy menjelaskan, “Partisipasi kami kali ini adalah yang pertama di Frankfurt Book Fair. Kesempatan untuk berpartisipasi di ajang perbukuan dunia ini merupakan sesuatu yang membanggakan, karena kami bisa menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang menjadi Guest of Honor . Sebagai sebuah perusahaan baru, ini merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi kami. Oleh karena itu, kami sedang mempersiapkan diri kami dengan sebaik mungkin agar buku-buku anak yang kami akan hadirkan di sana bisa setara dengan buku-buku anak dari berbagai penjuru dunia.”
Oktober nanti, Lily & Eddy minimal akan membawa sekira 20 judul buku anak-anak yang akan mereka perkenalkan ke publik Jerman. Beberapa buku terbitan Lily & Eddy tersebut, salah satunya yaitu; serial “The Tales of Didgit Cobbleheart” yang hadir dalam enam jilid. Media sosialisasi buku ini dilengkapi oleh berbagai bentuk media. Untuk membuat pembaca lebih tahu tentang buku tersebut, telah disediakan situs bukubudipekerti dot com, yang fungsinya sebagai jendela pembaca untuk memasuki dunia Didgit Cobbleheart.
Sebagai penerbit buku-buku anak, Lily & Eddy pun mengoptimalkan media sosialnya untuk lebih dekat dengan para pembaca. Di Facebook dan Twitter, hadir akun Didgit Cobbleheart yang setiap hari menghadirkan ilustrasi-ilustrasi baru yang menarik. Sedangkan tiap hari Rabu ada komik interaktif yang menyapa para pengunjung akunnya.
“Sebagai bentuk inovasi, kami memberikan sesuatu yang unik bagi para penggemar, di antaranya; animasi-animasi singkat dan soundtrack “My Name is Didgit” di channel YouTube- Didgit Cobbleheart Channel, dan blog “Soul Snacks by Didgit” yang banyak memiliki artikel kerajinan tangan sederhana untuk seluruh keluarga,” tutur A’ang Muljanto, sebagai perwakilan Lily & Eddy.
A’ang melanjutkan, “Selain itu serial Didgit Cobbleheart memiliki versi khusus Indonesian Heritage’ yang menghadirkan buku-buku berilustrasi cantik, bernuansa Indonesia yang bertujuan untuk mengajak sebanyak mungkin anak Indonesia untuk mencintai warisan alam dan budaya bangsa kita. Tiga buku dalam versi ini didedikasikan untuk mengenal, mencintai dan melestarikan alam Indonesia (laut, flora dan fauna) dan buku keempat akan mengajak anak-anak berinteraksi dengan baju-baju daerah dari 34 propinsi di Nusantara.
Terkait dengan Frankfurt Book Fair, meskipun sampai saat ini buku-buku dari Lily & Eddy belum dilirik oleh penerbit asing, yang artinya belum ada pembelian copyright dari pihak luar, namun proses penerjemahannya terus berjalan. Hal ini disebabkan karena sebetulnya buku-buku Lily & Eddy, sebelum ada versi bahasa Indonesia-nya, telah hadir mula-mula dalam bahasa Inggris. Di Frankfurt, mereka berharap buku-bukunya menarik penerbit asing dan terjadi pembelian copyright. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.