Showing posts with label Pustaka Preanger. Show all posts
Showing posts with label Pustaka Preanger. Show all posts

03 October 2016

Semangat Pramoedya dan Gerakan Literasi

Almanak mewartakan bahwa pekan pertama Oktober ditandai oleh dua tanggal peringatan yang keduanya sedikit banyak beririsan dengan buku, atau lebih khusus lagi dengan seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan dunia literasi. Penghujung September adalah gempa politik paling hebat pasca revolusi kemerdekaan. Dan lima hari setelahnya, militer sebagai pemenang dari pertikaian tersebut berulangtahun. Kita tahu bahwa hari-hari setelah kejadian itu adalah parade panjang tentang tumpas-kelor, pembersihan, dan pembangunan ketakutan yang berlapis-lapis. Mereka yang kalah, di lapangan kehidupan apapun, terpuruk sampai titik nadir. Dan di ranah literasi kita mengenal nama Pramoedya Ananta Toer.
Karya-karya Pram dibakar dan dilarang oleh militer dan pemerintah. Satu wajah purba tentang bibliosida. Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengoreksi pendapat sebagian kalangan yang menyangka bahwa penghancuran buku terjadi hanya karena ketidaktahuan awam dan kurangnya pendidikan, menurutnya yang terjadi justru sebagian besar dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Apa yang menimpa Pram adalah bukti sahih pendapat Fernando Baez ini. Militer (revolusi dan pasca kemerdekaan) dan Jaksa Agung membakar dan melarang beberapa naskah dan bukunya. Belum lagi beberapa naskah yang tak jelas nasibnya di tangan para penerbit.
“Di Tepi Kali Bekasi” yang pertama kali terbit tahun 1951 adalah sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada Agresi Militer Belanda I. “Perburuan” yang memenangkan sayembara Balai Pustaka dicekal oleh pemerintah karena dicurigai bermuatan komunisme. “Panggil Aku Kartini Saja” yang bisa kita baca hari ini sejatinya hanyalah bagian I dan II saja dari total naskah, sebab bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965. Angkatan Darat sebagai ujung tombak pembersihan orang-orang yang dianggap komunis rupanya punya andil besar dalam menghanguskan buku-buku Pram. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu matra di tubuh TNI ini juga membakar naskah “Kumpulan Karya Kartini”, “Wanita Sebelum Kartini”, “Sejarah Bahasa Indonesia: Satu Percobaan” dan jilid 2 dan 3 dari cerita bersambung “Gadis Pantai” yang hari ini hanya tersisa jilid satunya saja. “Sepoeloeh Kepala Nica”, “Mari Mengarang”, dan “Lentera” tak jelas rimbanya di tangan berbagai penerbit. Dan yang paling terkenal, Tetralogi Buru, tak bosan dilarang oleh Jaksa Agung.
Tanpa melupakan satu episode ketika Pram—di tengah situasi politik yang condong ke kiri, pernah begitu trengginas menyerang dan menghajar lawan-lawan ideologisnya, namun kiranya dia juga adalah salah satu yang paling kenyang ditindas secara fisik dan politik, juga karya-karyanya diperlakukan sedemikian buruk. Jika kita menilik bobliografinya, akan didapati jejak kerja yang dilakukan terus menerus. Pram tahu karya-karyanya dibakar, dilarang, dan hilang berkali-kali, namun ia seolah tidak kapok untuk terus menulis dan menulis lagi.
Kepada tentara yang datang menggeledah ruang perpustakaannya ia berkata, “Kalau negara mau, ambillah. Suatu saat akan berguna untuk kepentingan bangsa. Tapi tolong jangan dibakar.” Namun aparat yang mengangkut ratusan atau bahkan ribuan naskah dan dokumennya itu malah membakarnya. Sesuatu yang membuat Pram naik pitam setiap kali mengingatnya. “Saya terbakar amarah sendirian,” ucapnya. Ya, Pram memang terkenal juga sebagai seorang dokumentator yang ulet. Dia mengkliping apa saja yang terkait dengan Indonesia. Dapur Tetralogi Buru adalah arsip dan dokumentasinya yang gigantik itu.
Hari-hari ini ketika September hampir habis dan Oktober telah menunggu di muka, kiranya pelbagai titimangsa peristiwa bersejarah mengingatkan kembali kita kepada Pram dan dunia literasinya yang rontok berkali-kali, namun tumbuh lagi dan hidup seolah tak mati-mati. Berpijak dari sini kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-62 hendak mengusung tema. Pram adalah simbol kerja keras dan keras kepala dari seorang kerani partikelir yang amat peduli dengan dokumentasi sejarah bangsanya. Ia juga adalah salah satu pengingat bahwa ancaman pelarangan buku—seperti beberapa bulan ke belakang cukup marak, akan selalu ada dan membuat kita waspada. Di atas segalanya, Pram dan literasi adalah wujud nyata dari kerja. “Semua orang yang bekerja itu adalah mulia, yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan,” begitu kata Ibunda Pram sekali waktu. [irf]

05 September 2016

Mengingat Mimpi, Membangun (lagi) Imajinasi

Masa kecil begitu jauh sekaligus dekat. Jauh dicekik saat yang terus bergerak. Dekat karena jejaknya berarak di lereng ingatan. Masa kecil juga selalu menjadi lonceng yang kerap berdentang: mengingatkan kita bahwa berkurangnya usia berparalel dengan tanggungjawab yang kian menggantang, beban hidup yang mulai terasa, dan orang-orang tercinta yang diambil waktu satu-persatu. 

Dulu, barangkali mimpi serupa kupu-kupu yang beterbangan, selaksa warna, dan mengeram di kepala. Imajinasi berpendaran, berlesatan, tentang pertempuran hebat dengan senapan pelepah pisang, terbang ke bulan dengan pesawat kertas, menjadi putri dengan Barbie di tangan, atau mengangankan seorang pangeran penguasa kastil.

Usia kanak dan  teman masa kecil di dalamnya, kata Milan Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Ia dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Mungkin Kundera tak sepenuhnya benar, karena ternyata mimpi dan imajinasi kita di masa kecil perlahan menyusut, mengerut, bahkan hilang: sebuah dunia yang semakin tak tergenggam. 

Tanggal 10-11 September 2016, Komunitas Aleut berencana mengadakan kemping ke Kapulaga-Subang. Sebuah kegiatan yang dirancang--dengan terutama untuk bersenang-senang: merayakan persahabatan, menyesap alam, kontemplasi sederhana (kalau ada), dan bisa juga untuk meretas “jalan pulang”, menengok lagi mimpi dan imajinasi yang terlanjur compang-camping. 

Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin komunitas yang sebisa-bisa tak pernah jeda, mencoba memadu-padankan tema. Ada kumpulan naskah cerita masa kecil karya kawan-kawan yang terbuhul dalam buku “Memento”. Para penulis telah bersedia membuka kisah masa lalunya ke khalayak ramai. Tentu tujuannya bukan untuk menenggelamkan diri di masa yang telah lewat, namun belajar mengguratkan kisah dalam jejalin aksara. Selain itu, yang paling penting adalah mengapresiasi sepenggal jenak, bahwa kita hari ini sejatinya adalah sebangun rangkaian gerbong, dan masa kecil mempunyai saham di dalamnya.

Mestikah kita menutup katup jenak itu? Masa lalu-masa kini-masa depan adalah rangkaian kesejarahan yang membentuk pribadi kita. “Belajarlah dari masa lalu, cermati masa kini, dan bangunlah masa depan. Bukan sekadar dilanjutkan, melainkan membuat pilihan dan mengambil prakarsa, itulah hidup,” begitu kata Fuad Hasan. 

Maka Kelas Literasi kali ini mencoba meraba kembali hal tersebut. Atau bila dirasa terlampau normatif, kiranya mari bersenang-senang saja. Sambil bertukar senda di tengah nafas alam, mari mengingat lagi mimpi-mimpi masa kecil, siapa tahu kita masih berhasrat untuk mewujudkannya. Dan imajinasi, selamanya bagi manusia, adalah penanda bahwa kita tak sepenuhnya takluk oleh batas ruang dan waktu. “Orang-orang yang tak memiliki imajinasi adalah orang-orang palsu” demikian sabda TS. Elliot. [irf]⁠⁠⁠⁠

31 August 2016

Memopulerkan Sejarah Bersama Historia


Edisi perdana Historia terbit pada bulan April 2012. Mengusung tagline “Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia”, Historia hadir menyapa para pembaca dengan tulisan-tulisan sejarah yang “tak biasa”. Majalah tersebut menghadirkan fakta-fakta yang kerap luput dari narasi arus utama. Dalam catatan redaksi di nomor 13 tahun 2013, Historia menjelaskan hal tersebut, “Sedari mula kami memang ingin menjadikan Historia sebagai alat penyadaran, versi tandingan dalam bentuknya yang terbaik dari sejarah versi resmi.” Majalah yang dinakhodai oleh Bonnie Triyana—seorang sarjana sejarah dari Universitas Diponegoro, dalam kata-kata David T. Hill, ahli Indonesia dari Murdoch University sebagai “very nice operation.” Ya, operasi bukan publikasi.

Sejak kelahirannya empat tahun silam, Historia—meski banyak menuai pujian, namun dari segi penjualan kiranya belum memperlihatkan angka yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari seringnya majalah tersebut memberikan diskon sebesar 50% untuk nomor-nomor lawasnya, yang artinya stok majalah tersebut begitu melimpah sebagai efek langsung dari rendahnya penjualan. Di beberapa toko buku besar pun Historia sering kali sulit dijumpai, hal ini seolah mengabarkan hal lain tentang lemahnya sistem distribusi. Meski disertai juga dengan historia.id (lini daring) sebagai bentuk memperluas jangkauan, namun Historia belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat.

Komunitas Aleut sebagai kelompok belajar yang salah satu minat terbesarnya yaitu sejarah, sejak awal telah membaca dan beririsan dengan Historia. Indra Pratama, salah seorang pegiat Aleut sempat menjadi kontributor majalah tersebut untuk wilayah Bandung. Selain itu, seorang pegiat lain atas pemintaan Historia pernah meliput acara Monolog Tan Malaka yang digelar di IFI Bandung. Meski pada akhirnya—dengan pertimbangan teknis, tulisan liputan tersebut tidak jadi tayang, namun setidaknya komunikasi tetap terjaga. Dan baru-baru, kegiatan #NgoJak atau Ngopi (di) Jakarta sebagai sayap Komunitas Aleut di Jakarta, diliput juga oleh Historia dan tayang di lini daring.

Beberapa hal tersebut di atas kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mengusung Historia sebagai tema Kelas Literasi sabtu ini (3 September 2016). Beberapa majalah berbeda edisi telah dan tengah dibaca oleh para pegiat Aleut untuk diresensi dan didiskusikan pada Sabtu mendatang. Aleut yang selama ini berikhtiar mengenalkan sejarah popoler—meski secara konten berbeda, kiranya seturut dengan Historia untuk bersama-sama menghadirkan sejarah dengan wajah yang berbeda kepada masyarakat. Selain itu, mengingat kondisi Historia yang belum sepopuler majalah lain, anggap saja apa yang kami lakukan di Kelas Literasi ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kami terhadap Historia yang tak surut mengabarkan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa kini.

“Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Sukarno. Di titik ini, Historia menurut hemat kami telah dan tengah merawat amanat itu dengan sebaik-baiknya. [irf]      

23 August 2016

Mencatat Perjalanan

Barangkali bepergian dalam hidup adalah cermin dari hidup itu sendiri: sebuah perjalanan tanpa tiket pulang, persis seperti lakon dalam film “Le Grand Voyage” dan “Into The Wild”. Setidaknya dari dua film ini, perjalanan tak hanya sewujud piknik namun parade meniti ruang dan waktu yang kudus dan sakral. Pergi tanpa (kepastian) kembali adalah sebenar-benar riwayat manusia yang mesti dipersiapkan dan dijalani dengan kesungguhan ikhtiar. Chairil Anwar menulisnya dengan kalimat “sekali berarti sudah itu mati.”

Bila tensinya agak diturunkan, perjalanan tetaplah sebuah rekreasi yang fungsinya untuk (terutama) menyegarkan rohani yang teresidu oleh rutinitas kehidupan yang kerap menumpulkan kesadaran dan memburamkan mata batin. Dari perjalanan Soe Hok Gie ke puncak-puncak gunung sampai darma wisata anak-anak SMP yang ceria menelan hidup usia muda, semuanya tak bisa lepas dari upaya “pembersihan” ruang penat dan bosan yang mungkin hampir berjelaga. Ya, perjalanan memang bukan hal baru, telah terlalu tua malah. Dalam risalah keagamaan pun hal ini begitu jelas ditatah oleh para nabi dan orang-orang suci lainnya.

Di kehidupan hari ini, perjalanan kembali menjadi sebuah laku populer yang banyak dijalani oleh banyak orang. Tua-muda berlomba lari dari rutinitas demi keindahan yang tak-tepermanai. Jika menilik para penulis catatan perjalanan, kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga.

Hal tersebut memang tak salah, toh pada rekreasi seperti itu pun porsi menyegarkan rohani punya haknya. Namun jika ditilik ulang, kehidupan manusia sebetulnya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan keindahan alam. Bagaimana misalnya para nelayan yang tak peduli dengan senja, petani kentang yang menghela hidup sedepa demi sedepa, guru SD yang mesti menyeberangi jembatan ringkih demi mencapai sekolah, nenek-nenek pemecah batu, dan masih banyak lagi. Manusia dengan segala dinamika hidupnya terkadang lebih puitis dari pesona alam yang dijejakinya.

Namun demikian, catatan ini tak hendak membuat polarisasi, hanya sekadar menawarkan dua sisi mata hidup dalam perjalanan, yaitu mencoba meraba alam dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Kedua hal tersebut selamanya adalah teman sejati bagi setiap pejalan, petualang, pengembara, dan mungkin para pecundang yang tak berani menghunus pedang di medan laga kehidupan.

Komunitas Aleut sebagai sebuah kelompok yang berminat dan berkhidmat pada sejarah kota, alam, dan dinamika manusia, juga adalah sekumpulan orang yang sering melakukan perjalanan. Setidaknya seminggu sekali, dengan metode jalan kaki dalam berbagai penelusuran, sudah banyak mengalami  perjalanan dan menuangkannya dalam catatan. Mencatat, seturut mantra “scripta manent verba volant” bisa jadi bukanlah jalan abadi, namun setidaknya ada proses pewarisan risalah yang bisa dibaca ulang oleh generasi selanjutnya. Dalam catatan ada spasi perenungan yang bisa dihela dan dibaca perlahan.

Dari sini sebuah pertanyaan kemudian menyeruak, catatan perjalanan seperti apa yang kira-kira tak hanya menawarkan pesona, namun juga bisa memberikan petunjuk jalan yang akurat agar bisa dinapaktilasi oleh para pembaca? Hal terpenting tentu saja keterangan rute dan tempat. Sehimpunan data dan informasi selayaknya menjadi pengiring yang setia dari setiap narasi yang hendak dihiperbola, misalnya. Pada semburat langit jingga mesti ada juga keterangan di mana lokasinya, cahaya rembulan keemasan pun memerlukan nama ruang jejaknya, bahkan jika terjebak dalam sebuah wilayah konflik pun tetap harus ada asma siapa saja yang bertikai dan di mana kejadiannya. Mencatat perjalanan tak hanya rentetan deskripsi pesona dan tragedi, namun juga presisi.

Dari rumusan inilah kemudian Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin Komunitas Aleut yang Sabtu ini akan masuk pekan ke-57, mencoba mendiskusikan hal-hal tersebut di atas. Dengan beberapa buku catatan perjalanan sebagai bahan pembanding dan inspirasi, kami hendak belajar dan mengevaluasi apa-apa yang telah dan tengah dikerjakan. Jeda untuk mengakrabi teks seperti biasa tidak terlalu leluasa, sebab seminggu dengan bauran kesibukan di dalamnya tentu bukan waktu yang ideal untuk benar-benar memahami ratusan halaman catatan perjalanan. Tapi seperti pekan-pekan sebelumnya, sesempit apapun, kami tetap mencoba melakoninya.   

Muara dari tema yang diusung pekan ini tentu saja pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Adapun perjalanan, seperti yang telah diurai pada alinea-alinea sebelumnya, apakah itu sebagai laku suci dan sakral, ritus penyegaran rohani, atau hanya sekadar bersenang-senang tanpa tendensi apapun, selalu menggoda untuk kita jalani lagi dan lagi. Dan di ruang literasi yang kita jalankan bersama, kiranya perjalanan tak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dijalani dan selesai, namun juga disimpan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk catatan. [irf]   

16 August 2016

Para Penggagas dan Penatah Indonesia

17 Agustus sudah di muka. Inilah titimangsa itu. Pintu gerbang yang dicitakan, sekaligus ada ragu di seselanya, yang lahir dari masa darurat di waktu berat. Jauh sebelumnya, kemerdekaan yang ditandai dengan sesobek esai pendek bertenaga yang bernama proklamasi, adalah jalan terjal dan berliku yang dipanggul oleh beragam wajah, aneka ideologi, jutaan anak revolusi, namun satu semangat yaitu terbebas dari neraka horizontal yang bernama kolonial. Merdeka narasi tunggal di satu sisi, namun penggagas dan penatahnya adalah rupa bhineka yang tak hanya sewujud bintang dan bulan sabit, palu dan arit, atau wajah bumi dan langit.

Jika sejarah pada akhirnya ditulis oleh rezim dengan kekuatan politiknya dan hanya mempolarisasi antara pahlawan dan pembangkang, atau malaikat dan setan, namun riwayat yang tercatat tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Kita—generasi yang lahir dan tumbuh di tengah doktrin rezim, kini punya kesempatan untuk menggeledah dan mengkoreksi narasi itu, meski mungkin tak sepenuhnya. Kita bisa mengunyah kisah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan para pahlawan lainnya, sekaligus juga bisa memamah cerita Aidit, Njoto, Daud Beureuh, Sam, Musso, dll yang kadung dicap pemberontak dan pengkhianat republik.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,” begitu kata Nyai Ontosoroh dalam prosa terkenal Pramoedya Ananta Toer. Kiranya pepatah ini bisa juga ditujukan kepada kita dalam membaca, menilai, dan mengapresiasi manusia-manusia pelopor yang telah berkalang tanah di taman luas sejarah republik yang bernama Indonesia. Di titik ini masalalu, mestinya, tak lagi berwujud sebuah lukisan hitam-putih yang mudah diadili dan divonis mati, namun barangkali bisa menyorongkan juga sikap bijak-bestari dalam memandang risalah kemerdekaan dan ke-Indonesia-an.

Dari pemetaan inilah kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut yang masuk pekan ke-56 mencoba mengusung tema. Beberapa teks telah dipilih, dan kami memutuskan untuk menjadikan TEMPO dengan buku serialnya sebagai media untuk menyelami sejarah itu. Dari perspektif pemilihan sumber bacaan keputusan ini mungkin bukan yang terbaik, sebab TEMPO dengan segala kontroversi yang menyertainya tidak bisa dijadikan rujukan tunggal tentu saja. Namun kami pun telah menimbang beberapa hal: Pertama, TEMPO menulis sejarah dengan mata pisau reportase jurnalisme sastrawi yang kemudian menghadirkan tulisan-tulisan sejarah yang mudah dikunyah. Kedua, TEMPO tidak hanya menghamparkan masalalu, tapi juga masakini yang terpahat dalam penelusurannya terhadap jejak-jejak yang tersisa. Dua hal itulah yang kami rasa sesuai dengan kondisi para pegiat Komunitas Aleut—yang meski terbiasa menyuntuki sejarah, namun tak banyak yang mengakrabi periode di sekitar kemerdekaan.     

Baru-baru tersiar kabar bahwa lukisan karya Galam Zulkifli yang terpasang di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta diturunkan karena disinyalir menyertakan wajah Aidit. Lukisan berjudul “The Indonesia Idea” itu menghamparkan 600-an wajah anak bangsa yang hadir berparade dalam titian sejarah republik. Zulkifli sepenuh sadar bahwa Indonesia sejatinya adalah proyek coba-coba yang tak hanya diusung oleh para “pahlawan”, namun juga “pemberontak” yang kalah bertaruh dan tersisih dari arus utama. Kasus ini menabalkan satu hal, bahwa tantangan masih menggantang, tentang phobia yang masih menggelapkan mata dan logika. Indonesia dalam banyak benak, seolah digagas dan ditatah oleh para pemenang saja. Doktrin ternyata belum sepenuhnya luruh dan pudar. Kelas Literasi pekan ini kiranya adalah sebuah ikhtiar untuk menyigi “ruang gelap” itu. [irf]

08 August 2016

Menggeledah Blog: Menyelami Teks dan Manusia

Dalam ikhtiar membangun tradisi literasi atau keberaksaraan, yang salah satu muaranya adalah mampu membaca, mengurai, dan menyampaikan gagasan (terutama secara tertulis) dengan baik, laku membaca dan menulis adalah sebuah keniscayaan. Dan seperti yang sudah sering disampaikan banyak orang, menulis tanpa membaca adalah jalan majal, untuk tidak menyebutnya sia-sia. Jika bersandar pada mantra Roland Barthes, menurutnya “teks atau tulisan adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.” Pada kata “kutipan”—meski bisa juga lahir dari lisan, namun ia juga seringkali terpahat dalam catatan, tulisan, dan untuk mengambilnya mesti melewati jalan membaca. Tak mengherankan kemudian jika Asma Nadia—penulis yang juga salah satu penggagas Forum Lingkar Pena, sempat berkata, “kalau tak ada yang kau baca, lalu apa yang mau kau tulis?”

Membaca dengan mata pisau yang tajam, artinya menyelami teks demi teks dengan kesadaran yang penuh-seluruh, kiranya adalah sebuah proses yang harus dilalui terus-menerus, sebab ini bukanlah pekerjaan mudah. Kelas Literasi yang telah diadakan sebanyak 54 kali—meski telah mencoba untuk tampil optimal, namun belum beranjak dari sebatas mendadarkan ulang cerita yang ada dalam buku. Setiap peserta belum mampu untuk menguliti teks secara lebih mendalam. Tanpa melupakan kemajuan yang telah didapat: minat membaca dan menulis yng mulai tumbuh, kiranya Kelas Literasi ke depan sudah harus beranjak ke tahap berikutnya, yaitu menyelami teks secara lebih “berani”. Selain cerita yang dikisahkan ulang, opini yang dihamparkan juga mesti dibekali dengan pengetahuan lebih, atau setidak-tidaknya dilatari oleh semangat kritis dalam mengapresiasi.

Persoalan kemudian terbit, sebab mayoritas kawan-kawan yang ikut Kelas Literasi tidak mempunyai latar minat yang kuat terhadap literasi itu sendiri. Kebanyakan justru di Komunitas Aleut-lah minat itu mulai tumbuh, artinya terbentuk secara perlahan. Namun demikian, tahapan ini tetap harus dilalui, sebab belajar adalah tentang jalan kemajuan. Menimbang hal tersebut, maka kami kemudian mencoba memulainya dari teks-teks yang dekat dan sederhana, yaitu blog kawan sendiri. Pilihan ini dimaksudkan agar para peserta Kelas Literasi merasa akrab dengan apa yang hendak diselaminya. Dan blog kiranya punya watak yang pas buat pilihan ini.

Blog sebagai media yang tidak terbatasi oleh persoalan karakter huruf, dan cenderung lebih “tersembunyi” jika dibandingkan jejaring sosial yang lain, adalah tempat yang ideal untuk mendedahkan pikiran, pengalaman, kekecewaan, melontarkan kode-kode, mem-bribik gebetan, curhat banal, dll. Para pemiliknya cenderung lebih terbuka dan leluasa dalam menyampaikan hal-hal tersebut. Dalam blog, ada sisi “introvert” yang tersirat—yang meskipun leluasa menulis, namun semacam ada ketenangan karena tidak banyak orang yang akan menyinggahinya. Hal ini tentu saja menarik untuk menjadikannya sebagai bahan menyelami teks dan juga manusia.

Para pemilik blog tersebut, orang-orang yang berani dan sukarela anak rohaninya (tulisan) dilempar ke jalanan, adalah mereka yang dengan itu harus siap berhadapan dengan watak jalanan: dikritik, dicibir, diserang, dihina-dinakan, atau kalau beruntung diapresiasi dengan tempik-sorak dan hujan pujian. Ya, setiap tulisan yang diunggah adalah sikap terbuka dari si penulisnya sendiri, sebab jika tak mau dibaca orang lain, bukahkah lebih baik mendekapnya dalam sangkar kode bilangan biner alias mengendap di komputernya masing-masing? Mengunggah tulisan ke blog---sepersonal apapun kisahnya, adalah sikap dan pilihan terbuka yang lahir dari kurasi masing-masing pribadi.

Di titik ini, menggeledah blog bukan hanya menyelami teksnya, namun juga manusianya. Sesamar apapun, kecenderungan tulisan akan memunculkan gambaran dari si penulisnya. Kode-kode percintaan yang tanpa disertai nama tokoh barangkali mencerminkan penulisnya yang tengah dimabuk amor namun masih malu-malu, misalnya. Atau parade tulisan resensi buku menggambarkan penulisnya yang tengah gandrung bacaan. Atau bisa juga catatan-catatan nostalgia diartikan sebagai laku si penulis yang tak mudah melupakan masalalu. Ya, semuanya akan memberikan—sekali lagi meskipun samar, gambaran ihwal kondisi langit jiwa si penulis.

Dimulai dari blog kawan sendiri, dari teks yang dekat dengan keseharian, diharapkan apreasiasinya relatif lebih mudah dan karib, lebih bisa langsung menghujam ke orangnya. Berpijak dari sinilah kemudian tema Kelas Literasi pekan ke-55 kami usung: muaranya lagi-lagi adalah tumbuh-kembang bersama. [irf]

31 July 2016

Kenapa Kami Membicarakan Pustaka Jaya?

Ali Sadikin bertanya kepada Ajip Rosidi, “Mengapa anak-anak sekarang tidak membaca buku? Mereka lebih suka membaca komik.” Ajip kemudian menjelaskan kondisi perbukuan yang tengah redup. Menurutnya, banyak penerbit yang terutama mendahulukan mencari keuntungan dengan hanya menerbitkan buku-buku yang dicari oleh masyarakat. Barangkali maksudnya hanya melahirkan buku-buku praktis dan tidak menerbitkan buku bacaan (sastra) yang baik, seperti yang dulu dilakukan oleh Balai Pustaka. Ya, penerbit yang tulang rusuknya dirangkai oleh nafas kolonialisme itu, setidaknya pernah dianggap bermutu.

Percakapan tersebut kemudian menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah penerbitan yang kiranya bisa mengisi kekosongan bahan bacaan yang dimaksud. Ajip membawa gagasan dan kesepakatan itu ke kawan-kawannya di Dewan Kesenian Jakarta, yang di antaranya adalah Asrul Sani dan Ramadhan KH. Ajip menganggap bahwa Aoh Karta Hadimadja—kakaknya Ramadhan KH, adalah orang yang tepat untuk memimpin penerbit yang hendak didirikan itu. Aoh bersedia, tapi ia mengajukan syarat, “Akang tidak mau pusing mengurus kertas dan semacamnya. Akang hanya mau mengurus pekerjaan redaksional saja, memilih karangan yang baik untuk diterbitkan menjadi buku.” Syarat itu diluluskan, dan Ajip kemudian yang menjadi nakhoda penerbit.

Buku-buku Pustaka Jaya mendapat sambutan baik dari masyarakat. Naskah-naskah penulis luar yang dikurasi dan diterjemahkan oleh para sastrawan dan penerjemah mumpuni memberikan bacaan alternatif di tengah kelesuan kondisi perbukuan. Untuk menyebut beberapa penerjemah, di antaranya: Sapardi Djoko Damono, Koesalah Soebagyo Toer, Djokolelono, Rusman Sutiasumarga, dll.

Dalam peta buku sastra yang dibaca oleh masyarakat Indonesia, Pustaka Jaya barangkali bisa dibilang sebagai tonggak baru pasca Balai Pustaka, Gunung Agung, Djambatan, dan penerbit-penerbit tua lainnya yang mulai kehabisan nafas. Penulis luar beserta karya-karyanya diperkenalkan dengan begitu masif, di antaranya: Nikolai Gogol, Jean-Paul Sartre, Arthur Koestler, Jaroslav Hasek, John Steinbeck, Emile Zola, Stefan Zweig, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Yasunari Kawabata, Oscar Wilde, Paul Fournel, William Shakespeare, Voltaire, Antoine de Saint-Exupery, dll. Meski demikian, para pengarang Indonesia tetap punya tempat, sebab Pustaka Jaya banyak juga menerbitkan buku-bukunya, di antaranya: Wing Kardjo, Rendra, Ajip Rosidi, Iwan Simatupang, H.B. Jassin, Taufik Ismail, Nh. Dini, dll.

Ketika Ajip Rosidi di tahun 1980-an harus pergi ke Jepang, dan pucuk pimpinan Pustaka Jaya diserahkan kepada oranglain, perlahan pamor penerbit tersebut mulai redup. Keterpurukan itu sempat membuat Pustaka Jaya akan ditutup, namun Ajip Rosidi sigap dengan membeli sahamnya. Ajip hendak mengembalikan kejayaan Pustaka Jaya, dan hal tersebut tak jarang dengan mengorbankan aset-aset pribadinya. Hari ini Pustaka Jaya masih hadir mewarnai kancah perbukuan nasional, meski kondisinya tidak terlalu menggembirakan. Buku-buku yang diterbitkan kian beragam, tak melulu sastra, tapi ada juga tentang sejarah, bahasa, kebudayaan, dll. Belakangan, naskah-naskah sastra yang dulu pernah diterbitkan dan diminati para pembaca, diterbitkan ulang atas kerjasama Pustaka Jaya dan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Dalam ruang pembacaan, buku-buku Pustaka Jaya memang banyak memberikan kesan yang mendalam bagi para peminat sastra. Sebagai contoh, di Ciputat, ada sekelompok anak muda yang membuat blog dengan nama Anggur Torelli—sebuah blog yang dibuat oleh para pendirinya setelah mereka membaca “Dataran Tortilla” karya John Steinbeck. Di laman “ikhwal” tertulis,“Blog ini diberi nama Anggur Torelli lantaran Dataran Tortilla merupakan karya yang demikian mengesan bagi kami, para pendiri.”

Bagi kami--Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger, Pustaka Jaya juga punya tempat tersendiri di ruang pembacaan bersama maupun personal. Dalam kegiatan Kelas Literasi yang telah berjalan lebih dari satu tahun sejak digagas di titimangsa 13 Juni 2015, buku-buku Pustaka Jaya sudah sering dibahas dan didiskusikan. Sabtu yang akan datang (6 Agustus 2016) di Kelas Literasi pekan ke-54, kami hendak mengusung tema “Literasi Pustaka Jaya”. Hal ini kami usung, selain karena mulai mencoba menghadirkan tema-tema khusus (kesempatan lain mungkin temanya tentang Pramoedya Ananta Toer, Penerbit Kiblat Buku Utama, Seno Gumira Ajidarma, Buku Catatan Perjalanan, dll) juga untuk mengenalkan kembali penerbit ini kepada angkatan terkini, lengkap dengan beberapa mozaik karya, kisah, dan riwayatnya. [irf]

23 September 2015

Semerbak Buku (Namun Sunyi) di Bandung Raya

Ketika Indonesia terpilih sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, selain para penulis, penerbit, dan panitia, ada cahaya lilin yang seolah lebih benderang dari biasanya. Di kantong-kantong literasi yang kadang sunyi, para juru gedor pentingnya literasi juga ikut berbahagia. Beberapa di antaranya juga diajak untuk berangkat ke Frankfurt.
Bepergian ke Frankfurt, boleh jadi tetap tak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan dengan caranya masing-masing, juga dengan hambatannya sendiri-sendiri. Sebab di negeri ini, laku membaca dan menulis bukanlah hal yang populer dan bisa mendatangkan keuntungan dengan cepat.
Pada pidato penghargaan SEA Write Award di Thailand tahun 1997, Seno Gumira Ajidarma menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi dunia literasi di tanah airnya :
“Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar—yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya. Negara kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.”
Buku dan budaya membaca di Indonesia, menurut Bre Redana dalam sebuah catatan pendek di harian Kompas, lagi-lagi memang bukan sebuah tradisi laten. “Begitulah, dari fase dan tradisi agraris, sebelum melewati fase dan tradisi industrial, tradisi literer, tiba-tiba kita memasuki tradisi visual. Sebelum membaca menjadi kebiasaan banyak orang, televisi keburu masuk ke seluruh rumah tangga sampai kampung-kampung.”
Di sekolah-sekolah menengah, tak ada sama sekali kewajiban siswa untuk setidaknya mengkhatamkan satu buku. Kondisi yang kata Taufik Ismail sebagai “generasi nol buku” ini sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Siswa menjadi rabun atau bahkan tuna buku. Situasi ini pernah membuat Taufik Ismail benar-benar frustasi dan akhirnya “bermimpi” lewat sebuah puisi yang berjudul “Kupu-kupu di dalam Buku”.
Begini paragraf pertamanya, “Ketika duduk di setasiun bis / di gerbong kereta api / di ruang tunggu praktek dokter anak / di balai desa / kulihat orang-orang di 

sekitarku / duduk membaca buku / dan aku bertanya / di negeri mana gerangan aku sekarang.”

Peta tradisi dan budaya membaca yang “gelap” seperti itulah, yang kemudian memicu para pegiat literasi, untuk terjun membawa obor dalam ikhtiar menerangi jalan gulita itu. Meski ini adalah jalan sunyi, karena tak dibangun dengan tempik-sorak, namun tak menyurutkan langkah para pegiatnya. Ratusan kantong literasi berdiri dengan perkembangan yang variatif, ada yang tegar sampai hari ini, namun tak sedikit juga yang akhirnya tumbang berguguran.
Di kota-kota dan pedesaan, kantong-kantong ini, baik yang masih bertahan atau pun yang sudah mati, tiap hari bertempur dengan budaya lain yang lebih populer. Dari sekian tempat yang banyak itu, Bandung adalah salah satunya.
Meskipun disesaki oleh lembaga pendidikan yang tentu erat kaitannya dengan buku dan membaca, namun bagi dunia literasi Bandung, tak mudah bertarung dengan arus deras konsumerisme. Bandung hari ini, lebih terproyeksikan sebagai kota wisata kuliner dan fashion. Dua hal tadi lebih riuh jika dibandingkan dengan tradisi membaca. Buku tak benar-benar lekat dengan citra yang hendak dibangun dan keseharian warganya. Namun hal ini tak menjadikan para pegiat literasinya gentar, setidaknya bagi yang masih bertahan, citra dan kondisi Bandung ini merupakan medan “jihad” yang sempurna.
Sekadar menyebut contoh, di Jl. Hegarmanah 52 (Bandung Utara) hadir Kineruku. Ruang baca dengan koleksi ribuan buku itu kerap melakukan bedah buku dan temu penulis. Tanggal 29 Maret 2003, Kineruku didirikan oleh Ariani Darmawan dan Oky Kusprianto. Koleksi buku Kineruku antara lain buku tentang humaniora, meliputi genre fiksi, sastra, budaya, filsafat, seni, desain, arsitektur, dan buku anak.
Masih di Bandung Utara, selain Kineruku, ada juga Omunium di Jl. Ciumbuleuit (Depan Kampus UNPAR), Zoe di Jl. Pager Gunung, Baca-baca Bookmart di Selasar Utara Sabuga ITB, Reading Light di Jl. Babakan Siliwangi, dan masih banyak lagi.
Sementara di daerah Bandung Selatan, tepatnya di Buahbatu, belum lama ini hadir Pustaka Preanger. Perpustakaan mini yang berada di Jl. Solontongan 20 D ini, juga mencoba menghidupkan dunia literasi Bandung dengan agenda-agenda seputar perbukuan. Selain kerap mengundang para penulis buku dan editor, kegiatannya adalah mengadakan “riungan buku” yang isinya berupa resensi lisan dari para pembaca buku sastra, sejarah, filsafat, budaya, dan lain-lain.
Di Bandung Selatan ada juga Rumah Baca Buku Sunda di Jl. Margawangi VII No. 5-Margacinta, dan kantong-kantong literasi yang lain. Jangan lupa juga Tobucil dan Ultimus, yang dengan caranya sendiri, memperlihatkan diri sebagai sosok-sosok "keras kepala" yang terus menawarkan literasi di tengah kepungan konsumerisme Bandung yang tak mudah dihadapi.
Di Jatinganor, dalam kerangka “Bandung Raya dan sekitarnya”, di mana beberapa perguruan tinggi bersemayam, ada juga beberapa pusat literasi, di antaranya; Batu Api di Jl. Pramoedya Ananta Toer, dan Kelompok Kerja Nalar. Pengelola Batu Api, Anton Solihin, adalah salah satu pegiat literasi Bandung yang akan ikut berangkat ke Frankfurt Book Fair 2015.
Buku yang selama ini tak pernah benar-benar ditempatkan pada posisinya yang terhormat, di tangan para pegiat literasi, dalam hal ini di Bandung, perlahan mulai hadir dan mengetuk dengan cahayanya yang masih redup-remang.
Adanya Frankfurt Book Fair, tentu bukan semata membawa buku para penulis kita ke pergaulan luas di luar, namun yang paling penting adalah bagaimana efek dari gelaran ini bisa menghidupkan dan mempopulerkan buku dan budaya membaca di tanah air.

Dari langkah ini, ke depan, barangkali puisi Taufik Ismail tadi tak sekadar “mimpi” yang hanya menggantung di angan-angan, namun hadir secara nyata di keseharian kita. Dan ia tak perlu lagi bertanya, “di negeri mana gerangan aku sekarang.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

01 July 2015

Jejalin Luka di Jenak Hidup Manusia


Kira-kira di penghujung tahun 2008, saya pernah mereka-reka satu teori hidup. Dengan pandangan kaca jendela tembus ke kebun singkong dan komplek kuburan, saya menyimpulkan bahwa hidup manusia bergerak dari satu gerbong menuju-mencapai kebahagiaan ke gerbong selanjutnya. Semua usaha dan kehendak manusia semata untuk memenuhi harapan kebahagiaan. Misal; orang lapar pasti makan, haus ya minum, bodoh ya belajar, jomblo ya cari pacar, dan seterusnya.

Tapi tunggu, pada buku Puthut ini teori saya sedikit retak. Terutama pada bagian pemenuhan pasangan. Apakah benar mempunyai pasangan akan menggenapi pundi-pundi kebahagiaan?

Dari 15 cerita yang disajikan di buku ini, pasangan justru—setidaknya menurut Puthut—adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini pada perjalanannya acapkali rumit. Di sini, di tempatnya yang paling dalam, perasaan mampu mengoyak tanpa robek, dan melukai tanpa darah.

Pada cerita “Hujan yang Sebentar”—saya random membacanya--, terdapat satu paragraph yang lirih, tentang satu pasangan yang bertemu justru untuk saling melupakan. Bagaimana lelaki itu bertemu perempuannya di stasiun kereta api dengan percakapan yang tertahan. Mereka bertemu bukan untuk saling menegaskan hubungan, namun sebaliknya. Pertemuan yang justru melahirkan luka baru :

“Tapi kepastian itu datang juga, akhirnya. Telah aku terima undangan pernikahan dengan namamu di sana, beberapa bulan yang lalu. Aku memandang ke jendela, senja, dan hujan. Pertemuan itu tidak membuka apa-apa, tertemuan itu telah menutup segalanya.”          

Dengan gaya bertutur yang minim dialog—“Obrolan Sederhana” sebagai pengecualian, Puthut bereksperimen tentang kemungkinan-kemungkinan cerita. Pada satu nomor, bagaimana dia menceritakan pertemuan dua orang lelaki yang baru kenal, namun berbicara tentang hal-hal yang sebetulnya hanya layak diceritakan kepada orang-orang terdekat.

Dalam “pengasingan” dari kehidupan yang penuh residu, kedua lelaki itu bertemu dalam sebuah ruang bercakap yang cukup karib. Ditemani rokok, kopi, dan kemudian arak, mereka berbicara tentang hidup yang tak bahagia. Ketika obrolan sampai pada tema pasangan hidup, salahsatu dari mereka mengutarakan hal ini, “Pasangan yang terlalu membuatmu banyak berpikir, apalagi sampai mengasingkan diri, kurasa bukan pasangan yang tepat.” Lagi-lagi ihwal pasangan!

Membaca sekujur cerita yang disajikan Puthut di buku ini, dalam lereng ingatan saya hadir kembali sosok-sosok dalam “Orang-orang Bloomington”-nya Budi Darma, dan dua tokoh dalam film “Lost in Translation”-nya Sofia Coppola. Hidup yang terasing, orang asing, pasangan, dan bagaimana cara pereka cerita begitu tega membangun karakter-karakternya, saya kira itu benang merahnya.

Dalam cerita kedua yang berjudul “Kisah Asing”, aroma Budi Darma dan Sofia Coppola begitu kentara. Dua insan beda jenis kelamin, sama-sama mempunyai latar kisah cinta yang tak ideal; bertemu di sebuah apartemen, dalam pertemuan yang mula-mula cukup dingin. Namun pada perjalanannya kedua orang itu bisa saling mengisi, seolah masing-masing menemukan potongan mozaik yang selama ini mereka cari.


Dalam pengantarnya di buku ini, Arman Dhani—penyunting-- menegaskan, bahwa meskipun cerita-cerita yang terhimpun di sini adalah tentang cinta yang kandas, hubungan yang terselubung, atau kasih yang terlarang, namun akan terburu-buru jika menyetarakannya dengan sinetron-sinetron kelas dua yang kerap mengusai kanal televisi nasional. Memang di titik inilah Puthut sebagai si pengolah kisah patut diapresiasi. Dia berhasil menggabungkan kisah yang sebetulnya banal, dengan kepiawaian meramu sudut pandang, plus pilihan diksi yang kuat, sehingga bangunan-bangunan cerita tidak senorak opera sabun. [ ]

18 June 2015

Pembuktian Andrea Hirata


Setelah menyelesaikan International Writing Program 2010 di IOWA University, Andrea Hirata datang lagi ke gelanggang sastra Indonesia dengan novel terbarunya yang berkisah tentang hubungan ayah dan anak, namun sekaligus dibalut dengan cerita perkawanan dan cinta yang getir.

Kali ini dari segi bangunan cerita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang melambungkan namanya namun penulisannya tidak fokus, atau bahkan dengan novel-novel dia yang lainnya, Ayah menampilan ramuan kisah, plot, dan twist yang cukup kokoh.

Namun meskipun demikian, tokoh-tokoh yang didadarkan di dalamnya masih kental dengan karakter-karakter komikal yang sangat mudah untuk die hard.

Ide ceritanya sebetulnya sederhana, bagaimana seorang laki-laki—seperti kata penulisnya; “bertelinga wajan dan bergigi tupai” begitu mencintai seorang perempuan yang sorot matanya seperti “purnama kedua belas”.

Adalah Sabari lelaki malang itu. Mulanya dia dikenal sebagai seorang anak yang “anti perempuan”, cinta baginya tak lebih dari tipu muslihat, atau merpati di tangan pesulap. Namun pada satu jenak hidup, tepatnya ketika diadakan ujian masuk SMA, dia terpesona oleh mata seorang anak perempuan yang merebut lembar jawabannya. Sejak itu dia berubah, dan sampai mati, Sabari tak pernah memalingkan cintanya kepada si perebut lembar jawaban tadi.

Sedangkan Marlena—anak perempuan “pemberani” itu, tak sedikit pun menaruh hati pada Sabari. Maka terjadilah kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang abadi, yang baru berakhir di liang lahat.

Di lembar sebelum kisah digulirkan, Andrea Hirata menulis, “seperti dikisahkan Amiru kepadaku.”  Amiru alias Zorro tak lain adalah tokoh yang menjadi anak Marlena dari laki-laki entah, yang kemudian diasuh oleh Sabari sebab dia mau menumbalkan diri dengan menikahi Malena yang tengah mengandung Amiru di luar nikah.

Bayangkan, laki-laki mana yang sampai ikhlas menyerahkan hidupnya demi menolong status sosial seorang perempuan yang justru tak mencintainya, bahkan membencinya. Derajat cinta seperti ini hanya akan kita temui di komik-komik penuh fantasi. Namun terlepas dari bangunan tokoh yang kurang realis, semenjak pembuka sampai kisah itu khatam, Andrea Hirata memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengatur ritme, membolak-balik waktu, dan menutupnya dengan manis.  

“Di bawah namaku, tulislah, purnama kedua belas.” Demikian pesan Marlena kepada Amiru, untuk menuliskan sesuatu di pusaranya. “Purnama kedua belas” adalah panggilan Sabari kepada cinta pertama dan terakhirnya, yang sepanjang hidup tak pernah hirau kepadanya.

***

Nurhadi Sirimorok pernah menghujam karya Andrea Hirata tepat di jantungnya. Dalam buku berjudul Laskar Pemimpi yang isinya mengobrak-abrik Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor, Andrea disebut sebagai seorang novelis yang di batok kepalanya menancap ide-ide Orientalisme. Dengan menjelaskan sejarah bagaimana orang Barat menjadikan Timur sebagai ruang percobaan, lalu menuliskannya dengan sudut pandang Barat, Nurhadi mengkritisi pemujaan Andrea terhadap kehidupan akademik Barat dan alur cerita yang bermuara di Paris; tempat para orientalis menggodok temuan-temuannya.

Sedangkan dari hetih Rusli—seorang editor buku, dia menyoroti ihwal trend buku bestseller yang terjadi di Indonesia. Pada waktu hampir bersamaan, selain Laskar Pelangi yang penjualannya meroket, ada juga Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi, dan 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan. Jika diperhatian, ketiga buku tersebut menceritan tentang anak kampung yang berhasil ke luar negeri. Anak Belitong ke Paris, anak Padang ke Amerika Serikat dan London, serta anak Batu-Malang ke New York.

Hetih menulis bahwa, “pergi ke luar negeri dan pulang lalu menjadi seseorang masih menjadi impian sukses orang Indonesia.”

Karya-karya awal Andrea Hirata terjebak dalam dua hal di atas. Pembaca yang tanpa disertai dengan tulisan-tulisan penyeimbang (untuk tidak menyebut kritik), akan jatuh pada lumpur puja-puji akan kisah yang memang sangat menghibur, dan bisa dibilang berbeda dengan karya-karya penulis fiksi Indonesia sebelumnya.

Sebenarnya Andrea sudah punya ciri yang sangat khas. Dalam balutan tokoh-tokoh komikal, selalu menyala obsesi yang pantang padam. Sebagai contoh sebut saja Arai di Sang Pemimpi, Enong di Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas, serta Sabari di novel Ayah. Tokoh-tokoh tersebut tipikal orang yang pantang mundur bila layar telah terkembang. Ini selaras dengan jargon “mimpi” yang menjadi ruh di setiap karya Andrea.


Di karya ke sembilan inilah, selepas dari program menulis di Amerika Serikat, Andrea Hirata seperti hendak membuktikan bahwa dia adalah seorang yang cepat belajar. Meskipun kerap seolah tak hirau terhadap kritik, namun diam-diam Andrea menambal beberapa kekurangannya. [ ]