Showing posts with label kelas resensi. Show all posts
Showing posts with label kelas resensi. Show all posts

03 October 2016

Semangat Pramoedya dan Gerakan Literasi

Almanak mewartakan bahwa pekan pertama Oktober ditandai oleh dua tanggal peringatan yang keduanya sedikit banyak beririsan dengan buku, atau lebih khusus lagi dengan seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan dunia literasi. Penghujung September adalah gempa politik paling hebat pasca revolusi kemerdekaan. Dan lima hari setelahnya, militer sebagai pemenang dari pertikaian tersebut berulangtahun. Kita tahu bahwa hari-hari setelah kejadian itu adalah parade panjang tentang tumpas-kelor, pembersihan, dan pembangunan ketakutan yang berlapis-lapis. Mereka yang kalah, di lapangan kehidupan apapun, terpuruk sampai titik nadir. Dan di ranah literasi kita mengenal nama Pramoedya Ananta Toer.
Karya-karya Pram dibakar dan dilarang oleh militer dan pemerintah. Satu wajah purba tentang bibliosida. Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengoreksi pendapat sebagian kalangan yang menyangka bahwa penghancuran buku terjadi hanya karena ketidaktahuan awam dan kurangnya pendidikan, menurutnya yang terjadi justru sebagian besar dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Apa yang menimpa Pram adalah bukti sahih pendapat Fernando Baez ini. Militer (revolusi dan pasca kemerdekaan) dan Jaksa Agung membakar dan melarang beberapa naskah dan bukunya. Belum lagi beberapa naskah yang tak jelas nasibnya di tangan para penerbit.
“Di Tepi Kali Bekasi” yang pertama kali terbit tahun 1951 adalah sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada Agresi Militer Belanda I. “Perburuan” yang memenangkan sayembara Balai Pustaka dicekal oleh pemerintah karena dicurigai bermuatan komunisme. “Panggil Aku Kartini Saja” yang bisa kita baca hari ini sejatinya hanyalah bagian I dan II saja dari total naskah, sebab bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965. Angkatan Darat sebagai ujung tombak pembersihan orang-orang yang dianggap komunis rupanya punya andil besar dalam menghanguskan buku-buku Pram. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu matra di tubuh TNI ini juga membakar naskah “Kumpulan Karya Kartini”, “Wanita Sebelum Kartini”, “Sejarah Bahasa Indonesia: Satu Percobaan” dan jilid 2 dan 3 dari cerita bersambung “Gadis Pantai” yang hari ini hanya tersisa jilid satunya saja. “Sepoeloeh Kepala Nica”, “Mari Mengarang”, dan “Lentera” tak jelas rimbanya di tangan berbagai penerbit. Dan yang paling terkenal, Tetralogi Buru, tak bosan dilarang oleh Jaksa Agung.
Tanpa melupakan satu episode ketika Pram—di tengah situasi politik yang condong ke kiri, pernah begitu trengginas menyerang dan menghajar lawan-lawan ideologisnya, namun kiranya dia juga adalah salah satu yang paling kenyang ditindas secara fisik dan politik, juga karya-karyanya diperlakukan sedemikian buruk. Jika kita menilik bobliografinya, akan didapati jejak kerja yang dilakukan terus menerus. Pram tahu karya-karyanya dibakar, dilarang, dan hilang berkali-kali, namun ia seolah tidak kapok untuk terus menulis dan menulis lagi.
Kepada tentara yang datang menggeledah ruang perpustakaannya ia berkata, “Kalau negara mau, ambillah. Suatu saat akan berguna untuk kepentingan bangsa. Tapi tolong jangan dibakar.” Namun aparat yang mengangkut ratusan atau bahkan ribuan naskah dan dokumennya itu malah membakarnya. Sesuatu yang membuat Pram naik pitam setiap kali mengingatnya. “Saya terbakar amarah sendirian,” ucapnya. Ya, Pram memang terkenal juga sebagai seorang dokumentator yang ulet. Dia mengkliping apa saja yang terkait dengan Indonesia. Dapur Tetralogi Buru adalah arsip dan dokumentasinya yang gigantik itu.
Hari-hari ini ketika September hampir habis dan Oktober telah menunggu di muka, kiranya pelbagai titimangsa peristiwa bersejarah mengingatkan kembali kita kepada Pram dan dunia literasinya yang rontok berkali-kali, namun tumbuh lagi dan hidup seolah tak mati-mati. Berpijak dari sini kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-62 hendak mengusung tema. Pram adalah simbol kerja keras dan keras kepala dari seorang kerani partikelir yang amat peduli dengan dokumentasi sejarah bangsanya. Ia juga adalah salah satu pengingat bahwa ancaman pelarangan buku—seperti beberapa bulan ke belakang cukup marak, akan selalu ada dan membuat kita waspada. Di atas segalanya, Pram dan literasi adalah wujud nyata dari kerja. “Semua orang yang bekerja itu adalah mulia, yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan,” begitu kata Ibunda Pram sekali waktu. [irf]

16 August 2016

Para Penggagas dan Penatah Indonesia

17 Agustus sudah di muka. Inilah titimangsa itu. Pintu gerbang yang dicitakan, sekaligus ada ragu di seselanya, yang lahir dari masa darurat di waktu berat. Jauh sebelumnya, kemerdekaan yang ditandai dengan sesobek esai pendek bertenaga yang bernama proklamasi, adalah jalan terjal dan berliku yang dipanggul oleh beragam wajah, aneka ideologi, jutaan anak revolusi, namun satu semangat yaitu terbebas dari neraka horizontal yang bernama kolonial. Merdeka narasi tunggal di satu sisi, namun penggagas dan penatahnya adalah rupa bhineka yang tak hanya sewujud bintang dan bulan sabit, palu dan arit, atau wajah bumi dan langit.

Jika sejarah pada akhirnya ditulis oleh rezim dengan kekuatan politiknya dan hanya mempolarisasi antara pahlawan dan pembangkang, atau malaikat dan setan, namun riwayat yang tercatat tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Kita—generasi yang lahir dan tumbuh di tengah doktrin rezim, kini punya kesempatan untuk menggeledah dan mengkoreksi narasi itu, meski mungkin tak sepenuhnya. Kita bisa mengunyah kisah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan para pahlawan lainnya, sekaligus juga bisa memamah cerita Aidit, Njoto, Daud Beureuh, Sam, Musso, dll yang kadung dicap pemberontak dan pengkhianat republik.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,” begitu kata Nyai Ontosoroh dalam prosa terkenal Pramoedya Ananta Toer. Kiranya pepatah ini bisa juga ditujukan kepada kita dalam membaca, menilai, dan mengapresiasi manusia-manusia pelopor yang telah berkalang tanah di taman luas sejarah republik yang bernama Indonesia. Di titik ini masalalu, mestinya, tak lagi berwujud sebuah lukisan hitam-putih yang mudah diadili dan divonis mati, namun barangkali bisa menyorongkan juga sikap bijak-bestari dalam memandang risalah kemerdekaan dan ke-Indonesia-an.

Dari pemetaan inilah kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut yang masuk pekan ke-56 mencoba mengusung tema. Beberapa teks telah dipilih, dan kami memutuskan untuk menjadikan TEMPO dengan buku serialnya sebagai media untuk menyelami sejarah itu. Dari perspektif pemilihan sumber bacaan keputusan ini mungkin bukan yang terbaik, sebab TEMPO dengan segala kontroversi yang menyertainya tidak bisa dijadikan rujukan tunggal tentu saja. Namun kami pun telah menimbang beberapa hal: Pertama, TEMPO menulis sejarah dengan mata pisau reportase jurnalisme sastrawi yang kemudian menghadirkan tulisan-tulisan sejarah yang mudah dikunyah. Kedua, TEMPO tidak hanya menghamparkan masalalu, tapi juga masakini yang terpahat dalam penelusurannya terhadap jejak-jejak yang tersisa. Dua hal itulah yang kami rasa sesuai dengan kondisi para pegiat Komunitas Aleut—yang meski terbiasa menyuntuki sejarah, namun tak banyak yang mengakrabi periode di sekitar kemerdekaan.     

Baru-baru tersiar kabar bahwa lukisan karya Galam Zulkifli yang terpasang di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta diturunkan karena disinyalir menyertakan wajah Aidit. Lukisan berjudul “The Indonesia Idea” itu menghamparkan 600-an wajah anak bangsa yang hadir berparade dalam titian sejarah republik. Zulkifli sepenuh sadar bahwa Indonesia sejatinya adalah proyek coba-coba yang tak hanya diusung oleh para “pahlawan”, namun juga “pemberontak” yang kalah bertaruh dan tersisih dari arus utama. Kasus ini menabalkan satu hal, bahwa tantangan masih menggantang, tentang phobia yang masih menggelapkan mata dan logika. Indonesia dalam banyak benak, seolah digagas dan ditatah oleh para pemenang saja. Doktrin ternyata belum sepenuhnya luruh dan pudar. Kelas Literasi pekan ini kiranya adalah sebuah ikhtiar untuk menyigi “ruang gelap” itu. [irf]