Showing posts with label Budi Darma. Show all posts
Showing posts with label Budi Darma. Show all posts

11 November 2019

Obsesi Menulis Budi Darma & Keterusterangannya sebagai Kritikus



Budi Darma menulis atas dasar pertanyaan-pertanyaan di masa kecil. Sebagai kritikus sastra, ia tajam & blak-blakan.

“Saya tidak mempunyai minat untuk membaca esai-esai [lama] tersebut. Setelah saya terpaksa membacanya kembali, saya merasa tidak bahagia,” tulis Budi Darma dalam kumpulan esai sastranya berjudul Solilokui (1984).

Sastrawan Pamusuk Eneste adalah orang yang memintanya untuk mengumpulkan esai-esai itu. Dia juga yang mendorong Budi Darma untuk menerbitkan kumpulan cerpen lamanya yang belum dipublikasikan dalam bentuk buku.

Dalam pengantar pada kumpulan cerpen Fofo dan Senggring (2005), Budi Darma lagi-lagi mengutarakan ketidakbahagiannya.

“Sesuai dengan dugaan saya semula, saya merasa malu menengok cerpen-cerpen lama saya sendiri,” tulisnya.

Sebagai seorang pengarang, seperti diakuinya, kecenderungan Budi Darma adalah melihat masa kini dan masa depan, bukan masa lalu. Hal inilah yang membuatnya selalu tidak bersemangat jika harus membaca kembali tulisan-tulisan lamanya.

Ketidakbahagiaan Budi Darma terhadap karya-karya lamanya tak bisa dilepaskan dari obsesinya di pengujung 1960 dan awal 1970, yakni mesin tulis (mesin ketik). Di era yang menurutnya serba sukar, meski ia waktu itu telah menjadi dosen, mesin tulis bukan barang yang mudah ia dapatkan. Kesulitan ini membuatnya terobsesi. Dan saat akhirnya mendapatkan mesin tulis, ia pun menulis dan menulis.

“Setiap kali ada sesuatu yang memancing untuk menulis, maka menulislah saya. Jangan heran, manakala saya merasa malu menengok kembali cerpen-cerpen lama saya,” terangnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, waktu itu dirinya tidak sadar apalagi memperhitungkan bahwa menulis adalah untuk masa depan. Dan saat tersadar, ia yakin bahwa jika saatnya telah tiba, tulisan-tulisannya akan menjadi bukan apa-apa.

Pikiran Budi Darma ini mirip dengan yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Penulis Tetralogi Buru itu mengaku tidak pernah membaca ulang karya-karyanya. Ia menulis dan melepaskan begitu saja anak-anak rohaninya ke jalanan, hidup bebas bersama para pembaca dan menemui takdirnya masing-masing: ada yang berumur panjang, ada pula yang mati muda.

Keduanya juga, atau mungkin kebanyakan pengarang, meski misalnya karyanya tak dibaca orang, tapi tetap menulis melahirkan karya-karya baru. Dorongan ini disebut Budi Darma sebagai obsesi pengarang.

“Setelah saya berkenalan dengan sastra asing, tahulah saya, bahwa salah satu epigram novel Ernest Hemingway, The Sun Also Rises, diambil dari salah satu kitab suci, juga mempertanyakan mengapa laut tidak pernah penuh. Itulah obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus-menerus mendorong pengarang untuk menulis,” tulisnya dalam epilog Laki-laki Lain dalam Secarik Surat (2008)


Pertanyaan Masa Lalu

Meski cenderung kurang menyukai masa lalu, dalam hal ini menengok kembali tulisan-tulisan lamanya, tapi Budi Darma juga tetap merasa bahwa masa lalu ada manfaatnya. Ini setidaknya hadir dalam Olenka (1983) dan Rafilus (1988).

Lewat serangkaian pertemuan dan wawancara dengan Budi Darma, Wahyudi Siswato berhasil menulis Budi Darma: Karya dan Dunianya (2005). Dalam buku yang penerbitannya lagi-lagi diprakarsai Pamusuk Eneste itu, Budi Darma bercerita, saat kecil dirinya adalah jenis bocah yang gemar mempertanyakan banyak hal.

Sekali waktu saat tinggal di Kudus, ia diajak ayahnya berjalan-jalan ke daerah tepi sungai. Ayahnya berkata bahwa air sungai itu mengalir ke sungai yang lebih besar dan selanjutnya akan mengalir ke laut.

“Kalau setiap hari laut diberi pasokan air dari sekian banyak sungai, mengapa laut tidak pernah banjir?” tanyanya dalam hati.

Maka pertemuannya dengan The Sun Also Rises karya Hemingway semacam bertemu dengan orang yang mempunyai pertanyaan sama dengan masa kecilnya.

“Pertanyaan-pertanyaan Budi Darma ini selain menjadi obsesi yang memicu lahirnya karya-karya sastranya, juga muncul dalam novelnya: Olenka,” tulis Wahyudi Siswanto.

Masih di Kudus, saat berjalan-jalan, Budi Darma melihat tupai yang berada dalam sangkar kawat yang bisa berputar. Tupai naik dan turun dalam perputaran itu. lalu ia bertanya, “Apakah manusia juga seperti tupai yang berada di dalam sangkar kawat berputar itu?”

Pertanyaan tentang tupai ini kemudian masuk ke dalam novelnya yang lain, yakni Rafilus.

Contoh lain dari pertanyaan masa lalu yang ia tuangkan ke dalam karyanya adalah saat ia berada di Rembang. Kota di pesisir utara Jawa Tengah itu memberinya kesempatan untuk sering melihat laut. Garis laut yang berbatasan dengan kaki langit membuatnya bertanya, “Jika ia berlayar, apakah ujung langit itu akan mampu ia capai?”

“Hal ini dituangkan Budi Darma dalam cerpennya ‘Laki-laki Setengah Umur’, yaitu tentang laki-laki yang mengejar matahari,” imbuh Wahyudi Siswanto.


Takdir dan Keterusterangan

“Saya menjadi pengarang karena takdir,” tulis Budi Darma dalam Solilokui (1984).

Bakat, kemauan, kesempatan menulis, bahkan hambatan untuk menulis pun, terangnya, semuanya adalah rangkaian takdir, dan ia menundukkan kepala kepadanya. Ia merasa tak bermanfaat dan berdosa jika tidak menulis. Dalam dirinya ada paksaan untuk menulis dan ia tak dapat mengelak dari paksaan itu. Apabila tak menulis, ia merasa telah mengkhianati takdir.

Namun, di sisi lain, ketika ia mempertanyakan takdir, ia tersadar bahwa dirinya hanyalah manusia terkutuk.

“Kepengarangan bukanlah kebahagiaan bagi saya, tapi justru kesengsaraan,” ungkapnya.

Kesengsaraan ini timbul karena ia merasa bahwa apa yang pernah ia tulis tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Meski sejumlah tulisannya banyak dikutip, menghiasi pelbagai media, dan terdapat dalam pita-pita kaset, tapi justru saat itulah ia merasa gagal.

“Tapi, benarkah hidup saya bermanfaat setelah saya menjadi pengarang? […] bagi saya segala sesuatu akan berubah menjadi klise. Penderitaan, kebahagiaan, kasih sayang, kebencian, keputusasaan, dan lain-lain yang sering digarap oleh para pengarang sepanjang zaman, tidak lagi mempunyai teka-teki,” tulisnya.

Namun, menulis yang membawa kesengsaraan itu di sisi lain juga membuatnya bahagia. Baginya, jalan kepengarangan telah membuatnya berterus terang terhadap banyak hal, meski kadang hanya dalam angan-angan.

Menurutnya, dengan insting dan persepsinya sebagai pengarang, ia dapat menembus segala sesuatu yang tak mungkin dapat ia jangkau seandainya ia bukan pengarang.

Dalam angan-angan itu, artinya dalam kisah yang ia tulis, sebagai contoh ia tidak boleh memuji-muji orang yang sebetulnya goblok, atau harus mengambil sikap terhadap seseorang yang serong kendati tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

“Dengan demikian, apa yang tertulis nanti langsung maupun tidak, akan merupakan cermin keterusterangan saya. Kalau saya berhasil, maka pembaca akan merasa ditelanjangi oleh keterusterangan ini. Dia akan menyaksikan berkelebatnya sekian banyak orang-orang aneh, yang tidak lain dan tidak bukan adalah pantulan keanehan pembaca sendiri […] Dengan keterusterangan saya merasa bahagia,” ungkapnya.

Sikap menulis yang kata Budi Darma terus terang ini kemudian kerap melahirkan cerita yang menurut Harry Aveling dalam Rumah Sastra Indonesia (2002) sebagai “dunia yang ngeri, sangat kejam, tanpa kemanusiaan, dan sama sekali tidak mementingkan logika.”
Masih dalam Solilokui (1984), dalam esai bertajuk “Sebuah Surat untuk Harry Aveling”, Budi Darma menyatakan sastra Indonesia terlampau banyak diwarnai riwayat hidup pengarang.

“Keadaan sekitar, kesulitan-kesulitan sosial, perjuangan pengarang, keinginan dan cita-cita pengarang terlalu nampak dalam sastra Indoneesia […] Yang ditulis oleh kebanyakan pengarang Indonesia adalah barang mentah mengenai dirinya sendiri,” tulisnya.

Untuk mendukung argumennya, ia mengutip perkataan Sapardi Djoko Damono saat penulis "Hujan Bulan Juni" itu mengomentari sebuah sajak seorang penyair, “Dengan membaca sajak ini semua orang tahu, bahwa penyair ini kecewa karena dalam umurnya yang kesekian dia tidak mencapai apa-apa.”

Kesengitan Budi Darma dalam berterusterang terhadap penulis tidak hanya ditujukan kepada pengarang prosa, tapi juga kepada penulis esai dan puisi.

Dalam “Pemberontak dan Pandai Mendadak”, ia menyatakan bahwa sastra Indonesia membutuhkan para pemberontak yang memberontak dengan otak tentang bagaimana bekerja lebih baik dan menulis lebih baik.

Tapi pemberontak yang memakai otak ini menurutnya langka karena memberontak pada dasarnya tidak mudah. Yang bertebaran, imbuhnya, hanyalah para pemberontak yang meniru para pelukis abstrak yang tak pandai menggambar, kemudian mencorat-coret kanvas semaunya lalu jadilah ia sebagai pelukis abstrak.

Kepada penulis sajak “eksperimental” yang amat produktif, ia menyarankan dengan sengit untuk tidak berpayah-payah dengan membuat cerpen atau novel yang memakan waktu lama sehingga membuat penyair itu kehilangan waktu sebelum dirinya dikenal sebagai pemberontak.

“Kalau saudara dapat menulis sajak seratus ekor satu hari, mengapa saudara harus menulis cerpen sepuluh hari satu atau novel satu tahun satu?” tegasnya.

Kepada penulis esai pun sama. Menurutnya, penulis esai tidak perlu khawatir, sebab yang penting bagi esais atau kritikus hanyalah kelihatan pandai. Dengan mengutip dari sana sini, atau entah dari mana, seorang esais sudah dapat dipandang pandai meski mengabaikan konteks dalam kutipannya.

“Saudara tidak perlu merasa menipu karena memang saudara menipu […] Saudara tidak perlu merasa mengecoh karena memang saudara mengecoh […] Saudara tidak perlu merasa pandir, karena saudara kelihatan pandai,” ungkapnya.

Bisa jadi, artikel ini juga semacam esai yang dimaksud Budi Darma. Apa boleh bikin. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 17 Desember 2018
- Foto: Jawa Pos

23 September 2015

Nh. Dini dan Kebawelan yang Panjang

Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kamarahan kepada laki-laki. Sementara Putu Wijaya berkomentar dengan ungkapan “kebawelan yang panjang”.
Komentar kedua pengarang itu ditujukan kepada Nh. Dini. Ya, pengarang perempuan Indonesia berusia 79 tahun ini, dalam karya-karyanya, baik novel atau pun cerita pendek, memang kerap bersuara dari sudut pandang perempuan.
Sebagai contoh, dalam novel “Pada Sebuah Kapal” yang mula-mula terbit di tahun 1972, Nh. Dini, dalam sebuah wawancara dengan tim dokumentasi Taman Ismail Marzuki, mengutarakan bahwa menurutnya, novel tersebut adalah perlawanannya terhadap budaya patriaki, di mana kuasa lelaki begitu dominan, baik di rumah maupun di masyarakat.
Dalam novel “Kemayoran”, yang menceritakan perjalanannya dalam meniti karir sebagai pramugari, Dini pun sempat bercerita tentang kondisi perempuan yang masih terpinggirkan. Ia menjelentrehkan kondisi kaumnya yang kerap menjadi warga kelas dua dalam kehidupan sehari-hari.
Begini tulisnya, “Di tahun lima puluhan, masih amat sedikit istri-istri yang bekerja di luar rumah. Dan jika istri bekerja, pada umumnya mereka menjabat sebagai guru, perawat atau tugas-tugas yang berkaitan erat dengan kewanitaan. Perkataan kodrat acap kali disalahtafsirkan. Orang sering menyebutkan bahwa kodrat wanita adalah tinggal di rumah, memasak dan memelihara anak.”
Dalam satu novel dengan latar belakang transmigrasi, Dini juga menulis tentang lemahnya posisi perempuan di tengah kehidupan yang dikusai oleh narasi lelaki. Dikisahkan dalam buku yang berjudul “Orang-orang Tran”, ada seorang anak perempuan dari orangtua yang miskin, yang “dijual” dengan cara dinikahkan dengan laki-laki tua nan kaya. Dini lagi-lagi menghujam isu dominasi gender tersebut.
Karya-karya Dini yang kerap dihiasi “kebawelan itu”, sampai hari ini ketika usianya sudah senja, masih sering diterbitkan ulang oleh beberapa penerbit. Hal ini menunjukkan bahwa pembacanya dari tahun ke tahun, seiring bergantinya generasi, relatif stabil dalam hal mengapresiasi tulisannya. Karya Dini yang berjudul “Keberangkatan”, bahkan pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar dan diberi judul “Departures”.
Penulis yang sempat menjadi istri seorang diplomat asing ini, tak jarang pula menulis kisah-kisah yang diangkat langsung dari kehidupannya nyatanya. Pengalaman dan liku-liku panjang, baik semasa kecil dan remaja, maupun dalam mengikuti sang suami, ia tuliskan dalam seri cerita kenangan. Dengan gaya menulis yang—oleh beberapa orang disebut konvensional, Dini begitu produktif melahirkan berbagai cerita.
Proses kreatif Nh. Dini dalam melahirkan karya-karyanya adalah dengan cara membuat “tabungan”. Ia mencatat segala hal yang menurutnya menarik dan bisa dibuat cerita. Misal ketika sedang nonton berita, di sampingnya selalu tersedia blocknote untuk mencatat segala warta yang bisa menjadi ide dalam kisah fiktif.
Karena kebiasaannya tersebut, ia bahkan sudah sampai pada tahap bisa memprediksi, apakah kilasan peristiwa di sekitarnya--yang menurutnya menarik itu, akan menjadi sebuah cerita pendek atau bahkan menjadi novel.
Tapi apa yang dimiliki Dini dalam menangkap dan meramu gagasan cerita-ceritanya, seperti juga semua penulis, tetap tak bisa dipisahkan dengan proses membaca. “Kalau mau jadi penulis, ya harus banyak baca, tidak hanya buku-buku sastra, tapi pengetahuan yang lain juga,” ungkapnya.
Hari ini, ia yang juga pengelola rumah baca, karya-karyanya bersiap diboyong ke Frankfurt Book Fair 2015.
“Kebawelan” Dini dalam isu gender, lengkap dengan kenangan-kenangan di sepanjang riwayat hidupnya, yang kemudian tersaji dalam banyak kisah, adalah juga sekeping wajah dari keragaman sastra Indonesia yang hendak ditampilkan di Jerman. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Membawa Budi Darma ke Frankfurt

Sejak “Orang-orang Bloomington” terbit menyapa para pembaca sastra Indonesia pada 1981, nama Budi Darma langsung menyita perhatian publik. Pengarang kelahiran Rembang 1937 ini hadir dengan kumpulan cerita pendek, yang karakter tokoh-tokohnya begitu menjengkelkan, juga nama-nama yang terdengar agak aneh.
Dua tahun kemudian novelnya yang berjudul “Olenka” terbit. Buku ini lagi-lagi hadir dengan gaya bertutur dan penokohan yang unik. Beberapa kritikus sastra menilai ia sebagai pengarang angkatan 1970-an yang serba bisa. Prof. A. Teeuw, seperti ditulis oleh Imam Muhtarom (kurator Borobudur Writer and Cultural Festival 2012), menilainya sebagai pengarang yang paling berhasil dalam usaha pembaruan dalam hal teknik fiksi dan isinya. Teeuw menganggap Budi Darma sebagai pelopor penggunaan teknik kolase.
Karya-karya Budi Darma, baik yang berbentuk novel, ataupun yang terhimpun di buku-buku cerita pendek, kerap memiliki imajinasi yang sulit ditebak dan trengginas. Menurutnya, imajinasi sangat bergantung kepada tajam atau tumpulnya kepekaan seseorang, dalam hal ini pengarang. Ia menambahkan bahwa imajinasi yang malas lahir dari kepekaan yang tumpul, lalu mengantuk, tidur, dan kemudian mati.
Waktu membaca “Orang-orang Bloomington”, orang-orang banyak yang merasa disergap oleh para tokoh yang culas, pendendam, dan penyakitan. Dan celakanya, tokoh-tokoh itu hidup dalam cerita-cerita tentang ketuaan, penyesalan, dan kesepian. Harry Aveling, penerjemah beberapa karya sastra pengarang Indonesia, sempat berkata bahwa baginya kisah-kisah yang ditulis oleh Budi Darma adalah menakutkan.
Oktober nanti, di ajang Frankfurt Book Fair 2015, beberapa karya Budi Darma akan ikut dipamerkan. Gelaran buku yang melibatkan ribuan pengunjung dari berbagai negara itu tentu membutuhkan kerja-kerja penerjemahan, agar karya-karya para penulis Indonesia bisa dibaca dan dipahami oleh publik luas.
Terkait dengan hal tersebut, Budi Darma yang sempat ditemui pada acara temu penulis, penerbit, dan Komite Nasional, dengan ramah menjelaskan tentang karyanya yang telah berhasil diterjemahkan.
“Karya saya yang diterjemahkan hanya satu, yaitu kumpulan cerita pendek yang judulnya ‘Percakapan’. Kumpulan cerita itu diterjemahkan oleh Andre Moller dan diberi judul ‘The Conversatiaon’. Hanya satu kumpulan cerita pendek itu saja, sebab yang lain-lain terlambat waktunya karena terhambat birokrasi,” terangnya. Buku tersebut nantinya akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.
Terbatasnya karya Budi Darma yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing benar-benar sangat disayangkan. Pengarang yang disebut-sebut nyaris tak mempunyai epigon ini, tentu adalah seorang pengarang yang mempunyai gagasan dan konsep penulisan yang kuat. Dan hal ini adalah poin penting untuk dibicarakan ulang bersama para sastrawan luar, dan pembaca umum buku-buku sastra.
“Olenka”, “Rafillus”, “Ny. Talis”, Orang-orang Bloomington”, “Kritikus Adinan”, “Fofo dan Senggring”, serta “Laki-laki Lain dalam Secarik Surat” adalah sebagian dari karya Budi Darma, yang sekiranya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, barangkali akan membuka katup bahasa dan akan mengalirkan diskusi yang menarik.

Namun walau bagaimana pun, sekali-lagi, Budi Darma dan tokoh-tokoh rekaannya yang kerap “menakutkan”, akan tetap menembus Frankfurt. Inilah salah satu pengarang Indonesia yang brilian, dan karyanya layak untuk diperkenalkan secara lebih luas di sana, di kota paling kosmopolitan di Jerman. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Ekspresi Berbahasa Triyanto Triwikromo

Pada buku kumpulan cerita pendek yang berjudul “Ular di Mangkuk Nabi”, ada dua orang sastrawan yang memberikan pengantar dan penutup pada karya Triyanto Triwikromo yang dirilis tahun 2009 tersebut. Mereka adalah Goenawan Mohamad (pengantar) dan Budi Darma (penutup). Keduanya mempunyai pandangan yang berbeda. Yang satu seperti hendak meneguhkan, sedangkan yang satu lagi meruntuhkan.
“Menakjubkan dalam dua ketukan”, ungkap si pengantar. Sementara kata si penutup, “Titik berat kekuatan retor bukan dalam menyampaikan gagasan, namun dalam menyampaikan kalimat-kalimat indah dan menarik.”
“Ular di Mangkuk Nabi” terdiri dari 15 kisah yang semuanya dibangun oleh aroma realisme magis, dengan latar dan tokoh--yang karena mayoritas tidak menunjukkan ke-Indonesia-an, serta gaya bertutur yang loncat-loncat, cenderung membuat kumpulan cerpen ini, bagi beberapa pembaca, sulit diikuti dan dinikmati.
Bahasa yang digunakan Triyanto sejak kisah pertama yang berjudul “Iblis Paris”, hingga cerita terakhir yaitu “Malaikat Tanah Asal”, kerap trengginas, namun berpeluang “meninggalkan” pembacanya yang tercecer di belakang, mengejar makna yang ingin si penulis sampaikan.
Kondisi seperti ini, menurut Goenawan Mohamad, karena kisah Triyanto dibangun dalam lanskap imajiner, yang sebagian orang melihatnya sebagai varian dari realisme magis--sejak karya Borges dan Marquez mempengaruhi prosa Indonesia; kumpulan kisah Triyanto disebutnya dengan “dihuni oleh hal-hal yang datang dan pergi seperti dalam waham atau mimpi paling gila.”
Jika menilik buku kumpulan cerita pendek Triyanto yang lain, misalnya yang terbit pada tahun 2003 dan 2004, ada beberapa kisah dengan kalimat-kalimat seperti ini :
“Iblis, yang kau sangka tak memiliki sayap dan kerling mata ungu, selalu tak bisa menyemburkan gerimis pada malam yang perih, Ibu.” (“Malam Sepasang Lampion”)
“Ah, mungkin saya memang anjing kurap. Kalau bukan anjing, tak mungkin mata saya ditampar oleh seonggok tahi ketika hendak beol di toilet Bandara King Abdul Aziz. Kalau saya manusia terpuji, tak mungkin selangkangan saya sobek saat melakukan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.” (“Sayap Anjing”)
Budi Darma menjelaskan, bahwa pasca sastra Indonesia meninggalkan ke-Melayu-an di penghujung 1920-an; retorik, bentuk, dan bunga-bunga bahasa dalam sastra Indonesia cenderung mulai berkurang, para pengarang mulai lebih memperhatikan isi. Menurutnya, hal ini menjadikan bahasa sastra lebih straightforward, langsung, dan lugas.
Pada karya Triyanto, Budi Darma menilai bahwa ada gejala tentang zaman yang kembali berulang. Dengan membaca dua contoh kutipan yang disebutkan sebelumnya, agaknya bukan hanya pada “Ular di Mangkuk Nabi” saja yang dilekatkan oleh penulis “Orang-orang Bloomington” itu, ketika berhadapan dengan karya Triyanto yang lain, barangkali berlaku tentang sastra yang melarikan diri dari kaidah.
Lebih lanjut Budi Darma menjelaskan, pada genre tertentu, sastra terikat oleh kaidah bahwa retorik memerlukan argumentasi dan logika, artinya segala sesuatu bukan hanya enak didengar, namun juga logis. Selain itu, juga mesti plausibility (mungkin terjadi), dan life-likeness (seperti dalam kehidupan nyata).
Triyanto Triwikromo yang karya pertamanya terbit di tahun 1987 dan berjudul “Rezim Seks”, selain banyak menulis cerita pendek, juga rajin membuat puisi. Dua buku kumpulan puisinya yang berjudul “Pertempuran Rahasia” (2010) dan “Kematian Kecil Kartosoewirjo” (2015), berhasil menarik perhatian para pembaca puisi.
Berbeda dengan beberapa cerita pendeknya, pada puisi, Triyanto justru lebih lugas dalam berbahasa. Pada kumpulan puisi yang hanya mengorbitkan satu tokoh, yaitu Kartosoewirjo, ia menulis kalimat-kalimat yang jernih dan tajam. Sejumput kegetiran di akhir riwayat petualangan pemimpin DI/TII itu, larut dalam sejumlah pertanyaan kontemplatif yang menggugah :
“Apakah aku samudra dan Kau hanyalah sungai kecil / apakah aku tak terhingga dan Kau hanyalah ketiadaan / apakah aku hukum dan Kau hanya hakim di luar peradilan / apakah aku jawaban dan Kau hanya pertanyaan sepele sebelum ujian / apakah aku cahaya dan Kau hanya gelap setelah hujan?” (“Gusti, Apakah Kau Juga Kesepian”)
Pada puisi lain yang berjudul “Ganti Baju”, dua kalimat yang ditulis Triyanto, barangkali telah berhasil membuat pembaca—mengutip Chairil, berdegap hati :
“Apakah pelayat perlu baju baru untuk bergegas ke makam? / Apakah kau perlu baju baru untuk menjemput kematianmu?”
Dalam perjalanan kepengarangannya, selain karya-karyanya yang telah disebut di atas, penulis kelahiran Salatiga ini juga telah melahirkan; “Ragaula” (2002), “Anak-anak Mengasah Pisau-Children Sharpening The Knives” (sebuah dwilogi di tahun 2003), “Celeng Satu Celeng Semua” (2013) dan “Surga Sungsang” (2014). Selain itu, ia pun hadir antologi cerita pendek pilihan harian Kompas, yaitu “Smokol”.

Oktober yang akan datang, buku-buku cerita pendek dan puisi Triyanto Triwikromo akan hadir di Frankfurt Book Fair 2015. Bentuk ekspresinya dalam berkisah telah memperkaya ragam kesusastraan Indonesia. Beberapa kisahnya disebut oleh Goenawan Mohamad dengan, “Bagaimanapun ganjilnya peristiwa yang digambarkannya, cerita-cerita pendek ini tidak pernah awut-awutan.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

01 July 2015

Jejalin Luka di Jenak Hidup Manusia


Kira-kira di penghujung tahun 2008, saya pernah mereka-reka satu teori hidup. Dengan pandangan kaca jendela tembus ke kebun singkong dan komplek kuburan, saya menyimpulkan bahwa hidup manusia bergerak dari satu gerbong menuju-mencapai kebahagiaan ke gerbong selanjutnya. Semua usaha dan kehendak manusia semata untuk memenuhi harapan kebahagiaan. Misal; orang lapar pasti makan, haus ya minum, bodoh ya belajar, jomblo ya cari pacar, dan seterusnya.

Tapi tunggu, pada buku Puthut ini teori saya sedikit retak. Terutama pada bagian pemenuhan pasangan. Apakah benar mempunyai pasangan akan menggenapi pundi-pundi kebahagiaan?

Dari 15 cerita yang disajikan di buku ini, pasangan justru—setidaknya menurut Puthut—adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini pada perjalanannya acapkali rumit. Di sini, di tempatnya yang paling dalam, perasaan mampu mengoyak tanpa robek, dan melukai tanpa darah.

Pada cerita “Hujan yang Sebentar”—saya random membacanya--, terdapat satu paragraph yang lirih, tentang satu pasangan yang bertemu justru untuk saling melupakan. Bagaimana lelaki itu bertemu perempuannya di stasiun kereta api dengan percakapan yang tertahan. Mereka bertemu bukan untuk saling menegaskan hubungan, namun sebaliknya. Pertemuan yang justru melahirkan luka baru :

“Tapi kepastian itu datang juga, akhirnya. Telah aku terima undangan pernikahan dengan namamu di sana, beberapa bulan yang lalu. Aku memandang ke jendela, senja, dan hujan. Pertemuan itu tidak membuka apa-apa, tertemuan itu telah menutup segalanya.”          

Dengan gaya bertutur yang minim dialog—“Obrolan Sederhana” sebagai pengecualian, Puthut bereksperimen tentang kemungkinan-kemungkinan cerita. Pada satu nomor, bagaimana dia menceritakan pertemuan dua orang lelaki yang baru kenal, namun berbicara tentang hal-hal yang sebetulnya hanya layak diceritakan kepada orang-orang terdekat.

Dalam “pengasingan” dari kehidupan yang penuh residu, kedua lelaki itu bertemu dalam sebuah ruang bercakap yang cukup karib. Ditemani rokok, kopi, dan kemudian arak, mereka berbicara tentang hidup yang tak bahagia. Ketika obrolan sampai pada tema pasangan hidup, salahsatu dari mereka mengutarakan hal ini, “Pasangan yang terlalu membuatmu banyak berpikir, apalagi sampai mengasingkan diri, kurasa bukan pasangan yang tepat.” Lagi-lagi ihwal pasangan!

Membaca sekujur cerita yang disajikan Puthut di buku ini, dalam lereng ingatan saya hadir kembali sosok-sosok dalam “Orang-orang Bloomington”-nya Budi Darma, dan dua tokoh dalam film “Lost in Translation”-nya Sofia Coppola. Hidup yang terasing, orang asing, pasangan, dan bagaimana cara pereka cerita begitu tega membangun karakter-karakternya, saya kira itu benang merahnya.

Dalam cerita kedua yang berjudul “Kisah Asing”, aroma Budi Darma dan Sofia Coppola begitu kentara. Dua insan beda jenis kelamin, sama-sama mempunyai latar kisah cinta yang tak ideal; bertemu di sebuah apartemen, dalam pertemuan yang mula-mula cukup dingin. Namun pada perjalanannya kedua orang itu bisa saling mengisi, seolah masing-masing menemukan potongan mozaik yang selama ini mereka cari.


Dalam pengantarnya di buku ini, Arman Dhani—penyunting-- menegaskan, bahwa meskipun cerita-cerita yang terhimpun di sini adalah tentang cinta yang kandas, hubungan yang terselubung, atau kasih yang terlarang, namun akan terburu-buru jika menyetarakannya dengan sinetron-sinetron kelas dua yang kerap mengusai kanal televisi nasional. Memang di titik inilah Puthut sebagai si pengolah kisah patut diapresiasi. Dia berhasil menggabungkan kisah yang sebetulnya banal, dengan kepiawaian meramu sudut pandang, plus pilihan diksi yang kuat, sehingga bangunan-bangunan cerita tidak senorak opera sabun. [ ]

18 October 2013

Orang-orang Bloomington

Apakah kau pernah punya tetangga yang cerewet, usil, jorok, nyinyir, menjengkelkan, menyebalkan, dan sok tahu?. Bagaimana perasaanmu punya tetangga-tetangga seperti itu?. Tidak nyaman bukan?. Kalau kau belum punya, mari kita jalan-jalan ke Bloomington bersama Budi Darma. Bersama penulis yang tidak jarang sangat tega memperlakukan tokoh-tokoh ceritanya. Bersama penulis yang telah melahirkan beberapa karya : Rafillus, Olenka, Fofo Senggring, Orang-orang Bloomington, dll. Saya dapat buku ini di Rumah Buku (komunitas pecinta buku dan film), di Jalan Hegarmanah-Setiabudi (yang tidak tahu Bandung, mohon maaf). 

Buku kumpulan cerpen ini akan sangat terasa bedanya, oleh mereka yang berbanyak membaca cerpen karangan penulis-penulis lain. Kalau kau pernah baca cerpen-cerpennya Joni Ariadinata, Hamsad Rangkuti, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Seno Gumira Ajidarma, AA. Navis, Djenar Maesa Ayu, dan yang lainnya, maka kau akan tahu bahwa Budi Darma membangun karakter tokohnya dengan sangat kuat. Dia perlakukan tokoh-tokohnya menjadi orang-orang yang menjengkelkan, menyebalkan, dan karakter-karakter yang lain. Orang mungkin akan berpikir bahwa si penulis, si Budi Darma ini adalah seorang yang sifatnya sama dengan tokoh-tokoh yang dia bangun, padahal kata orang-orang yang kenal dengan beliau, dia adalah seorang yang low profile, kontradiktif dengan tokoh-tokoh rekaannya. Kumpulan cerita ini menurut saya bisa menjadi sebuah bahan otokritik : apakah kita sering usil, cerewet, dan membuat orang lain jengkel?. Selamat bercermin.

Setelah selesai membaca buku ini, saya sempat bersemangat menulis cerpen dengan karakter tokohnya meniru gaya Budi Darma, tapi hasilnya hanya beberapa paragraph : “Penghuni Kost Nyonya Endeus” dan “Olva Mengintip di Jendela”, yang saya posting di uwa82.multiply.com, setelah itu saya belum pernah menulis cerpen lagi.

Budi Darma membuat karya ini sewaktu beliau menempuh studi di Bloomington, jadi semacam oleh-oleh dari hasil “jalan-jalan”-nya di negeri orang. Sepulang dari luar negeri, beliau sempat mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, dan di peta Sastra Indonesia, beliau mendapat tempat yang cukup terhormat. [ ]

14 May 2012

Kucing Belang Anton Kurnia


Malam selalu datang mengendap-ngendap. Mula-mula dia menyembunyikan bayangan pohon dan tiang listrik. Kemudian merambat menjalari ventilasi udara kamar, dan membuat ruangan menjadi remang, sebelum akhirnya menyuruh saya untuk menyalakan lampu. Sementara saya membaca buku, di luar, sebuah keranjang sampah baru saja dihuni pembungkus nasi yang hanya menyisakan tulang ikan dan sepenggal kepalanya. Di Jakarta, malam tak pernah menggigil, udara panas seperti selimut abadi. Dan ini tentu saja membuat pintu kamar saya selalu terbuka, seperti juga saat itu, waktu saya membaca sebuah cerpen karya Anton Kurnia.

Lelaki penulis itu seperti ingin menjadi tokoh dalam cerpen Budi darma yang miskin komunikasi. Dia memang tinggal di sebuah rumah kontrakan yang terletak di sebuah gang yang padat oleh rumah-rumah penduduk. Tapi dia jarang berkomunikasi dengan para tetangganya, kecuali dengan ketua RT yang kebetulan rumahnya bersebelahan. Dengan kenyataan itu dia sudah merasa bahwa orang-orang akan menganggapnya aneh. Terlebih dia juga lebih senang berdekat-dekat dengan tanaman daripada dengan manusia. Lengkaplah sudah, bahwa dia akan mengira orang-orang akan menganggapnya aneh.

Di luar ada bunyi, seperti bunyi keranjang sampah yang tumpah. Tapi saya tak peduli. Udara masih panas, dan pintu kamar masih terbuka.

Dia senang sekali dengan tanaman suflir. Rajin betul dia menyiramnya. Dia juga senang memandang mawar putih yang sedang merekah. Apabila kuntum bunga itu baru saja disirami dan tetes-tetes air tampak bergulir membasahi kelopaknya, maka dia seringkali---pada saat-saat seperti itu---teringat pada Tuhan, dan dia merasa bahagia.

Sementara di luar ada bunyi lagi. Kali ini seperti suara bungkus nasi yang diacak-acak. Barangkali tikus, begitu saya menyangka. Lalu membaca lagi.

Suatu hari dia mendapati jejak kaki hewan di rumah kontrakannya. Awalnya dia tak peduli. Sampai dia mendapati tanaman kesayangannya rusak. Dan tersangkanya ternyata seekor kucing belang. Entah kucing peliharaan siapa, yang jelas kucing belang itu akhirnya dia bunuh. Kembang rusak nyawa kucing melayang. Lihat, benar-benar seperti mendekati karakter-karakter tokoh dalam cerpen Budi darma.

Suara di luar semakin tak enak di dengar. Seperti ada yang mengacak-ngacak keranjang sampah. Saya tidak berpikir yang lain, pasti ini kelakuan kucing. Dan benar saja, waktu saya lihat perlahan dari balik pintu, seekor kucing belang sedang asyik mengacak-ngacak keranjang sampah demi mendapatkan tulang ikan dan sepenggal kepalanya. Masih dengan perlahan, saya ambil sapu, lalu setengah mengendap saya dekati kucing belang pengacau itu, dan beberapa detik sebelum kucing belang itu menyadari kedatangan saya, gagang sapu sudah mendarat mulus di kakinya. Dia lari menjauh sambil terpincang-pincang.

Di seberang rumah kontrakan si penulis, ada rumah yang dihuni oleh seorang nenek dan anaknya yang selalu jarang berada di rumah karena harus bekerja. Pergi pagi pulang malam. Dan nenek itu sepanjang hari pasti akan terlihat sendirian, melamun di depan rumahnya. Si penulis yang menyangka bahwa orang-orang akan menganggap dirinya aneh setiap hari pasti melihat si nenek itu, karena pekerjaan dia memang menulis, jadi waktunya banyak dia habiskan di rumah kontrakan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini si penulis melihat wajah si nenek tampak murung dan sedih. Entah apa penyebabnya. Tapi dia, si penulis itu, melihat perubahan air muka si nenek adalah sehari setelah dia membunuh kucing belang yang telah merusak tanaman kesayangannya.

Setelah kucing belang itu berlari menjauh dengan terpincang-pincang, saya lalu merapikan keranjang sampah yang berantakan. Saya masukkan kembali pembungkus nasi yang sudah robek-robek ke dalam keranjang sampah, kali ini tanpa tulang ikan dan sepenggal kepalanya karena telah habis di makan kucing belang yang berlari menjauh terpincang-pincang itu. Malam terus merayap, dan udara panas masih saja mengambang di udara. Saya melihat ke langit, bulan sedang purnama, tapi saya tidak melihat Nini Anteh dan kucingnya. [irf]

14 Des ‘11

Sumber Foto: merdeka.com