Showing posts with label solilokui. Show all posts
Showing posts with label solilokui. Show all posts

11 November 2019

Obsesi Menulis Budi Darma & Keterusterangannya sebagai Kritikus



Budi Darma menulis atas dasar pertanyaan-pertanyaan di masa kecil. Sebagai kritikus sastra, ia tajam & blak-blakan.

“Saya tidak mempunyai minat untuk membaca esai-esai [lama] tersebut. Setelah saya terpaksa membacanya kembali, saya merasa tidak bahagia,” tulis Budi Darma dalam kumpulan esai sastranya berjudul Solilokui (1984).

Sastrawan Pamusuk Eneste adalah orang yang memintanya untuk mengumpulkan esai-esai itu. Dia juga yang mendorong Budi Darma untuk menerbitkan kumpulan cerpen lamanya yang belum dipublikasikan dalam bentuk buku.

Dalam pengantar pada kumpulan cerpen Fofo dan Senggring (2005), Budi Darma lagi-lagi mengutarakan ketidakbahagiannya.

“Sesuai dengan dugaan saya semula, saya merasa malu menengok cerpen-cerpen lama saya sendiri,” tulisnya.

Sebagai seorang pengarang, seperti diakuinya, kecenderungan Budi Darma adalah melihat masa kini dan masa depan, bukan masa lalu. Hal inilah yang membuatnya selalu tidak bersemangat jika harus membaca kembali tulisan-tulisan lamanya.

Ketidakbahagiaan Budi Darma terhadap karya-karya lamanya tak bisa dilepaskan dari obsesinya di pengujung 1960 dan awal 1970, yakni mesin tulis (mesin ketik). Di era yang menurutnya serba sukar, meski ia waktu itu telah menjadi dosen, mesin tulis bukan barang yang mudah ia dapatkan. Kesulitan ini membuatnya terobsesi. Dan saat akhirnya mendapatkan mesin tulis, ia pun menulis dan menulis.

“Setiap kali ada sesuatu yang memancing untuk menulis, maka menulislah saya. Jangan heran, manakala saya merasa malu menengok kembali cerpen-cerpen lama saya,” terangnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, waktu itu dirinya tidak sadar apalagi memperhitungkan bahwa menulis adalah untuk masa depan. Dan saat tersadar, ia yakin bahwa jika saatnya telah tiba, tulisan-tulisannya akan menjadi bukan apa-apa.

Pikiran Budi Darma ini mirip dengan yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Penulis Tetralogi Buru itu mengaku tidak pernah membaca ulang karya-karyanya. Ia menulis dan melepaskan begitu saja anak-anak rohaninya ke jalanan, hidup bebas bersama para pembaca dan menemui takdirnya masing-masing: ada yang berumur panjang, ada pula yang mati muda.

Keduanya juga, atau mungkin kebanyakan pengarang, meski misalnya karyanya tak dibaca orang, tapi tetap menulis melahirkan karya-karya baru. Dorongan ini disebut Budi Darma sebagai obsesi pengarang.

“Setelah saya berkenalan dengan sastra asing, tahulah saya, bahwa salah satu epigram novel Ernest Hemingway, The Sun Also Rises, diambil dari salah satu kitab suci, juga mempertanyakan mengapa laut tidak pernah penuh. Itulah obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus-menerus mendorong pengarang untuk menulis,” tulisnya dalam epilog Laki-laki Lain dalam Secarik Surat (2008)


Pertanyaan Masa Lalu

Meski cenderung kurang menyukai masa lalu, dalam hal ini menengok kembali tulisan-tulisan lamanya, tapi Budi Darma juga tetap merasa bahwa masa lalu ada manfaatnya. Ini setidaknya hadir dalam Olenka (1983) dan Rafilus (1988).

Lewat serangkaian pertemuan dan wawancara dengan Budi Darma, Wahyudi Siswato berhasil menulis Budi Darma: Karya dan Dunianya (2005). Dalam buku yang penerbitannya lagi-lagi diprakarsai Pamusuk Eneste itu, Budi Darma bercerita, saat kecil dirinya adalah jenis bocah yang gemar mempertanyakan banyak hal.

Sekali waktu saat tinggal di Kudus, ia diajak ayahnya berjalan-jalan ke daerah tepi sungai. Ayahnya berkata bahwa air sungai itu mengalir ke sungai yang lebih besar dan selanjutnya akan mengalir ke laut.

“Kalau setiap hari laut diberi pasokan air dari sekian banyak sungai, mengapa laut tidak pernah banjir?” tanyanya dalam hati.

Maka pertemuannya dengan The Sun Also Rises karya Hemingway semacam bertemu dengan orang yang mempunyai pertanyaan sama dengan masa kecilnya.

“Pertanyaan-pertanyaan Budi Darma ini selain menjadi obsesi yang memicu lahirnya karya-karya sastranya, juga muncul dalam novelnya: Olenka,” tulis Wahyudi Siswanto.

Masih di Kudus, saat berjalan-jalan, Budi Darma melihat tupai yang berada dalam sangkar kawat yang bisa berputar. Tupai naik dan turun dalam perputaran itu. lalu ia bertanya, “Apakah manusia juga seperti tupai yang berada di dalam sangkar kawat berputar itu?”

Pertanyaan tentang tupai ini kemudian masuk ke dalam novelnya yang lain, yakni Rafilus.

Contoh lain dari pertanyaan masa lalu yang ia tuangkan ke dalam karyanya adalah saat ia berada di Rembang. Kota di pesisir utara Jawa Tengah itu memberinya kesempatan untuk sering melihat laut. Garis laut yang berbatasan dengan kaki langit membuatnya bertanya, “Jika ia berlayar, apakah ujung langit itu akan mampu ia capai?”

“Hal ini dituangkan Budi Darma dalam cerpennya ‘Laki-laki Setengah Umur’, yaitu tentang laki-laki yang mengejar matahari,” imbuh Wahyudi Siswanto.


Takdir dan Keterusterangan

“Saya menjadi pengarang karena takdir,” tulis Budi Darma dalam Solilokui (1984).

Bakat, kemauan, kesempatan menulis, bahkan hambatan untuk menulis pun, terangnya, semuanya adalah rangkaian takdir, dan ia menundukkan kepala kepadanya. Ia merasa tak bermanfaat dan berdosa jika tidak menulis. Dalam dirinya ada paksaan untuk menulis dan ia tak dapat mengelak dari paksaan itu. Apabila tak menulis, ia merasa telah mengkhianati takdir.

Namun, di sisi lain, ketika ia mempertanyakan takdir, ia tersadar bahwa dirinya hanyalah manusia terkutuk.

“Kepengarangan bukanlah kebahagiaan bagi saya, tapi justru kesengsaraan,” ungkapnya.

Kesengsaraan ini timbul karena ia merasa bahwa apa yang pernah ia tulis tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Meski sejumlah tulisannya banyak dikutip, menghiasi pelbagai media, dan terdapat dalam pita-pita kaset, tapi justru saat itulah ia merasa gagal.

“Tapi, benarkah hidup saya bermanfaat setelah saya menjadi pengarang? […] bagi saya segala sesuatu akan berubah menjadi klise. Penderitaan, kebahagiaan, kasih sayang, kebencian, keputusasaan, dan lain-lain yang sering digarap oleh para pengarang sepanjang zaman, tidak lagi mempunyai teka-teki,” tulisnya.

Namun, menulis yang membawa kesengsaraan itu di sisi lain juga membuatnya bahagia. Baginya, jalan kepengarangan telah membuatnya berterus terang terhadap banyak hal, meski kadang hanya dalam angan-angan.

Menurutnya, dengan insting dan persepsinya sebagai pengarang, ia dapat menembus segala sesuatu yang tak mungkin dapat ia jangkau seandainya ia bukan pengarang.

Dalam angan-angan itu, artinya dalam kisah yang ia tulis, sebagai contoh ia tidak boleh memuji-muji orang yang sebetulnya goblok, atau harus mengambil sikap terhadap seseorang yang serong kendati tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

“Dengan demikian, apa yang tertulis nanti langsung maupun tidak, akan merupakan cermin keterusterangan saya. Kalau saya berhasil, maka pembaca akan merasa ditelanjangi oleh keterusterangan ini. Dia akan menyaksikan berkelebatnya sekian banyak orang-orang aneh, yang tidak lain dan tidak bukan adalah pantulan keanehan pembaca sendiri […] Dengan keterusterangan saya merasa bahagia,” ungkapnya.

Sikap menulis yang kata Budi Darma terus terang ini kemudian kerap melahirkan cerita yang menurut Harry Aveling dalam Rumah Sastra Indonesia (2002) sebagai “dunia yang ngeri, sangat kejam, tanpa kemanusiaan, dan sama sekali tidak mementingkan logika.”
Masih dalam Solilokui (1984), dalam esai bertajuk “Sebuah Surat untuk Harry Aveling”, Budi Darma menyatakan sastra Indonesia terlampau banyak diwarnai riwayat hidup pengarang.

“Keadaan sekitar, kesulitan-kesulitan sosial, perjuangan pengarang, keinginan dan cita-cita pengarang terlalu nampak dalam sastra Indoneesia […] Yang ditulis oleh kebanyakan pengarang Indonesia adalah barang mentah mengenai dirinya sendiri,” tulisnya.

Untuk mendukung argumennya, ia mengutip perkataan Sapardi Djoko Damono saat penulis "Hujan Bulan Juni" itu mengomentari sebuah sajak seorang penyair, “Dengan membaca sajak ini semua orang tahu, bahwa penyair ini kecewa karena dalam umurnya yang kesekian dia tidak mencapai apa-apa.”

Kesengitan Budi Darma dalam berterusterang terhadap penulis tidak hanya ditujukan kepada pengarang prosa, tapi juga kepada penulis esai dan puisi.

Dalam “Pemberontak dan Pandai Mendadak”, ia menyatakan bahwa sastra Indonesia membutuhkan para pemberontak yang memberontak dengan otak tentang bagaimana bekerja lebih baik dan menulis lebih baik.

Tapi pemberontak yang memakai otak ini menurutnya langka karena memberontak pada dasarnya tidak mudah. Yang bertebaran, imbuhnya, hanyalah para pemberontak yang meniru para pelukis abstrak yang tak pandai menggambar, kemudian mencorat-coret kanvas semaunya lalu jadilah ia sebagai pelukis abstrak.

Kepada penulis sajak “eksperimental” yang amat produktif, ia menyarankan dengan sengit untuk tidak berpayah-payah dengan membuat cerpen atau novel yang memakan waktu lama sehingga membuat penyair itu kehilangan waktu sebelum dirinya dikenal sebagai pemberontak.

“Kalau saudara dapat menulis sajak seratus ekor satu hari, mengapa saudara harus menulis cerpen sepuluh hari satu atau novel satu tahun satu?” tegasnya.

Kepada penulis esai pun sama. Menurutnya, penulis esai tidak perlu khawatir, sebab yang penting bagi esais atau kritikus hanyalah kelihatan pandai. Dengan mengutip dari sana sini, atau entah dari mana, seorang esais sudah dapat dipandang pandai meski mengabaikan konteks dalam kutipannya.

“Saudara tidak perlu merasa menipu karena memang saudara menipu […] Saudara tidak perlu merasa mengecoh karena memang saudara mengecoh […] Saudara tidak perlu merasa pandir, karena saudara kelihatan pandai,” ungkapnya.

Bisa jadi, artikel ini juga semacam esai yang dimaksud Budi Darma. Apa boleh bikin. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 17 Desember 2018
- Foto: Jawa Pos

01 April 2012

Di Bawah Pohon Durian (Oleh: Farid Gaban)


Ibu Siti Maswiyah meninggal dunia dengan tenang. Dan dikuburkan dengan ceria. Usianya 60. Saya tidak pernah mengenalnya, bahkan tak pernah bertemu dengannya semasa hidup. Tapi, saya membayangkan dia wanita yang bahagia. Bahagia di dunia, bahagia pula di akhirat. Dia meninggal dengan cara yang membuat setiap orang Islam iri. Wallahu'alam.

Di Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, siang itu kami melihat jenazahnya ditanam di kebun belakang rumah tempat puluhan tahun, sejak zaman Jepang, dia membesarkan anak-cucunya. Saya tak melihat kepedihan terlalu mendalam di situ. Anak-anak kecil tanpa alas kaki-cucu-cucu yang ditinggalkannya-berseliweran sementara yang dewasa mengayunkan cangkul, memasukkan tanah ke dalam liang kubur, sambil mengisap rokok dan bercanda.

Tak ada karangan bunga. Tak ada prosesi panjang. Tak ada bunyi tangis sesenggukan. Tak ada wanita-wanita berkerudung hitam dengan kacamata ryben menutupi air mata menetes-netes. Tak ada upacara dengan sambutan-sambutan panjang. Tak ada tembakan salvo....

Tak ada semua hal itu, tata cara dan ornamen yang diciptakan terutama bagi mereka yang masih hidup. Simpel. Sederhana. Dan itulah cara khas orang Betawi menguburkan kerabatnya yang meninggal. Kematian - seperti juga hidup - bukanlah sesuatu yang teramat istimewa.

"Cukuplah kematian menjadi contoh bagi mereka yang hidup," kata ustadz yang memimpin doa di atas pusara. Kematian bukanlah sesuatu yang patut ditakuti dan ditangisi. Dia pasti akan datang."

Saya teringat sepotong bait dalam sajak Pastoral karya penyair Acep Zamzam Noor:

"Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernapasanmu
Maut bukanlah kata-kata
Tapi doa
Yang memancar bagai cahaya surga
Dan membakarmu tiba-tiba."

Dan kematian Ibu Maswiyah memang bukan kematian yang layak ditangisi. "Ibu meninggal tanpa sakit, malah dalam keadaan tidur," kata salah seorang anaknya, ketika berpidato ringkas di atas pusara.

Pagi hari itu Ibu Maswiyah masih sehat seperti biasa, berjamaah subuh bersama suami dan anak-anak. Sore hari, ketika datang shalat ashar, dia masih membangunkan suaminya untuk berjamaah. Lalu dia sendiri berangkat tidur. Tidur untuk selamanya. Tuhan telah memanggilnya ketika dia dibangunkan untuk shalat Maghrib.

Di kebun belakang rumah itu tubuh yang meninggal kini bersemayam. Di situ, di bawah udara sejuk Parung, setiap pagi embun akan jatuh ke pusara dari dedaunan pohon melinjo dan bulir-bulir buahnya. Pohon pisang seperti selalu ingin menghibur dengan menari-nari ketika angin bertiup. Pucuk-pucuk pohon kelapa yang menjulang setia menunjukkan pemandangan ke langit yang sebiru laut luas. Matahari siang setia menerobos sela-sela daun pohon durian dan rambutan, jatuh di atas pusara yang hangat. Persemayaman yang sempurna, yang membuat iri setiap orang Jakarta-tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran.

Tubuh yang mati kini menyatu dengan tanah dan rabuk persemaian pohon palem dan salak di sekelilingnya. Dia belum berhenti memberi kesuburan pada sekelilingnya, seperti ketika dia hidup.

Dari rahim wanita itu tumbuh sembilan anak. Entah berapa liter air susu dan berapa luas kesabaran harus dia berikan untuk membesarkan anak-anak yang belakangan memberinya 34 cucu serta tujuh orang buyut. Tidakkah wanita itu adalah pahlawan atau-meminjam kata-kata sastrawan Madura Zawawi Imron: "bidadari yang berselendang bianglala"

Dunia mungkin merindukan wanita seperti itu, ketika banyak wanita kini menginginkan hanya sedikit anak bukan karena keluarga berencana tapi karena takut hilang keindahan tubuhnya. Dunia juga merindukan orang seperti itu, sementara banyak orang kini ingin hidup serba mudah : ingin gula tapi emoh kalorinya, ingin keju tapi ogah lemaknya, ingin kaya tapi bukan kerja keras dan kesabarannya.

"Tak ada cahaya tanpa kegelapan," kata sastrawan Prancis, Henry Levy. "Jika ada, itu adalah ilusi manusia yang fatal." [fg]