Showing posts with label kedai preanger. Show all posts
Showing posts with label kedai preanger. Show all posts

29 July 2017

Mereka yang Tak Bisa Nonton Persib di Stadion




Sore itu deru rombongan pengendara motor terdengar mendekat. Tak lama kemudian mereka melintas di Jalan Solontongan sambil membentangkan syal biru bertuliskan Persib. Saya tengah duduk di depan sebuah kedai kopi, Kedai Preanger, menunggu siang cepat berlalu.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Iwang sambil mendekat. Karyawan sebuah lembaga bimbingan belajar itu tak sabar menanti jam menyentuh angka 18.30. “Lama betul Magrib datang,” sambungnya.

Saya dan Iwang tak bisa nonton di stadion Gelora Bandung Lautan Api. Tiket terlampau mahal, dan bagi dia pekerjaan tak bisa ditinggalkan.

Sebetulnya hasrat menonton langsung Persib di stadion sudah jarang singgah. Apalagi Persib mainnya sedang butut. Tapi malam ini lawan Persija. Seteru dari ibu kota yang wajib dikalahkan. Tensi tinggi sudah menguar dari kemarin.

Setengah jam jelang kick-off, saat jalanan mulai lengang, seorang kawan datang. Saya memanggilnya Akay. Ia baru selesai mengantarkan kerupuk udang ke warung-warung di penjuru Kota Bandung. Saat singgah di Cigondewah, ia melihat rombongan bobotoh tengah berkumpul di depan sebuah kedai kopi dan hendak menuju ke stadion.

“Dari atas jembatan penyeberang jalan tol, tadi sekitar pukul dua, saya melihat rombongan bobotoh dari luar kota sudah berdatangan. Di perempatan Buahbatu pun tadi pas saya berangkat sudah ramai. Biru. Di mana-mana biru,” ujarnya.

“Sima aing sima maung/ Maung aing maung Bandung/ Loyalitas ulah tanggung/ Nu di kota nu di kampung/ urang dukung Persib Bandung!”

Tiba-tiba lagu itu diputar oleh Aip dengan begitu keras. Kontributor salah satu portal berita nasional itu meninggalkan laptopnya, berdiri, lalu bernyanyi sambil bergoyang. Barangkali karena mendengar lagu, seorang penjual bakso berhenti meminggirkan gerobaknya dekat kios rokok, lalu mendekati kami.

“Sudah main, ya?” tanyanya dengan logat Jawa yang cukup kental.

“Belum, Mas. Sebentar lagi,” jawab saya.

Usianya mungkin sudah kepala enam. Kami pun tak pernah tahu namanya. Juga entah berasal dari daerah mana. Logat Jawa-nya kerap tiba-tiba terdengar di dekat pintu kedai saat kami nonton Persib lewat televisi 21 inci. Ia tak pernah masuk kedai, hanya berdiri di dekat pintu sambil sesekali mengawasi gerobak baksonya. Kalau Persib kalah, ia pamit menuju gerobaknya sambil menggerutu.

Sepuluh menit jelang wasit meniup peluit pertandingan babak pertama, satu persatu kawan-kawan yang lain mulai berdatangan. Sementara di kios rokok yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari kedai; tukang becak, sales roti, dan pegawai laundry telah siap menyaksikan laga panas.

“Buru atuh, lila!” (Cepat dong, lama!) Bentak seorang kawan sambil melemparkan botol kosong air mineral kepada komentator yang asyik berceloteh di televisi. Vokalis band punk yang telah kenyang manggung di GOR Saparua itu tak lagi jatmika seperti biasanya. Ia yang mengidap wajah tenang hampir sepanjang hari, mulai meledak-ledak.

Dan peluit tanda pertandingan dimulai pun berbunyi.   

“Anteneuna gésérkeun kurang alus!” (Antenanya geserkan gambarnya kurang bagus!) perintah Akay kepada Iwang yang duduk dekat antena.

Sembilan orang di dalam kedai, satu orang di luar dekat pintu. Wajah-wajah tegang dan maras. Teriakan bersahutan. Tiga nama binatang sudah diabsen, plus nama makhluk yang tidak sudi bersujud kepada Adam.

Orang Bandung Menonton Lewat TV

Bandung di hari saat Persib main serupa kaki dibenam lanyau. Orang-orang terburu meninggalkan aktivitasnya. Yang tak bisa datang ke stadion berkerumun di depan televisi: di pangkalan ojek, kios rokok, kedai kopi, ruang tunggu terminal, jongko tukang cukur, dll.

Warga Bandung yang tak tertarik dengan Persib kiranya ada tiga golongan: pendukung klub lain, darahnya kurang biru, dan orang-orang yang menganggap sepakbola sebagai bentuk tribalisme yang harus dihindari. Sementara golongan yang kerap mengutuk Persib jika bermain jelek, dan berulang-ulang berkata malas nonton lagi, tak pernah benar-benar bisa meninggalkan pertandingan.

7 November 2014, saat Persib tampil di final Indonesia Super League melawan Persipura, sedari siang menjelang sore jalanan Kota Bandung mulai terlihat lengang. Nonton bareng digelar di setiap penjuru kota. Kerinduan akan juara yang telah absen 19 tahun dari bumi Pasundan membuat kota seakan lautan dinamit. Kalah atau menang akan membuat kota meledak.

Bersama seorang kawan saya tergesa menuju balai kota. Motor yang kami tunggangi menggilas jalanan yang senyap. Macet yang tiap sore hadir dengan wajah menyebalkan sore itu lenyap. Seisi kota tenggelam dalam ketegangan yang terus memuncak dari detik ke detik. Ketika tendangan Ahmad Jufriyanto mengoyak gawang yang dijaga Dede Sulaiman, Bandung pecah!

Malam tadi, Persib ditahan imbang. Kali ini gol Ahmad Jufriyanto tak berhasil mempertahankan kegembiraan bobotoh. 90 menit plus waktu tambahan yang dipenuhi teriakan, umpat, serapah, dan nyanyian dipungkas oleh murung berjamaah.

Persija bermain dengan kesiapan bertarung yang nyaris sempurna. Macan Kemayoran tak goncang oleh gol cepat Ahmad Jufriyanto, tidak juga oleh teror ribuan bobotoh. Alih-alih membuat mental merosot, lemparan botol dari para bobotoh justru dimanfaatkan oleh para pemain Persija untuk men-delay permainan. Bobotoh semakin kesal. Cukup jelas siapa yang akhirnya keteteran sendiri oleh perang mental itu.

“Gagal meunang deui wae, anjir (Gagal menang lagi),” ujar Akay.

"Kumaha rek meunang? Persib maena butut jiga beungeut maneh! (Gimana mau menang? Persib mainnya jelek seperti wajahmu itu)," sambit kawan yang lain.

Kawan-kawan terlihat lesu. Tukang becak, sales roti, dan pegawai binatu membubarkan diri dari kios rokok sambil mengemasi kekecewaan, dengan mulut yang penuh gerutu. Tadi malam, Persija cukup berhasil membuat orang-orang Bandung manyun. (tirto.id – irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 23 Juli 2017

22 June 2016

Kehilangan di Solontongan

Sekira jam 01.30 saya dengan seorang kawan masih ngobrol dan tengah menghabiskan batang terakhir. Pintu Kedai Preanger belum ditutup. Di luar tentu sudah sepi, hanya sesekali pemulung lewat mencari remah rezeki. Ketika kantuk akhirnya hinggap, kami naik ke lantai dua untuk menunaikannya. Waktu terlentang saya baru ingat bahwa lampu belum dimatikan, lantas mencari pistol mau meniru Mr. Bean dengan mematikan lampu dengan cara menembak bolanya, tapi pistol tak ada, maka terpaksa bangun dan membunuh cahaya lewat saklar.

AC dikecilkan, maksudnya jendela agak ditutup agar angin malam tak terlampau semena-mena menggerayangi tubuh, lalu jatuh tertidur. Dalam tidur, manusia tak punya kuasa senoktah pun. Paling keren hanya terhibur dengan bunga tidur yang kadang paduan antara harapan-harapan yang kandas dan Tuhan membuatnya seolah nyata. Maka begitulah, kami terlelap sampai pagi. Sampai adzan subuh terdengar di telinga, seolah kami ini menyisakan sisi reliji yang kadung remuk-redam.

Jam 8 pagi saya turun hendak membeli kopi jagung, namun ketika membuka pintu ternyata susah sekali. Saya coba berulang-ulang, dan tetap tak berhasil. Seseorang kemudian datang, saya membacanya dari derap kaki di luar. Pada percobaan kesekian pintu akhirnya berhasil dibuka. “Wah, ini juga sama digembok dari luar nih,” ujar orang itu sambil memperlihatkan gembok besar. Lalu terdengar pembicaraan riuh di hari sepagi itu. Rupanya tadi malam tetangga sebelah digasak maling. Beberapa unit komputer raib.

Saya bukan Detektif Conan, tapi mengira bahwa para bromocorah itu beraksi tak lama setelah kami tumbang dirampok kantuk. Pelakunya barangkali lebih dari dua orang, sekurangnya tiga. Tetangga kami yang jadi korban itu usahanya adalah biro perjalanan umroh, dan belum terlalu lama menggelar semacam syukuran atas dimulainya usaha tersebut: potong tumpeng yang dibaluri oleh banyak sekali potongan ayam dan kentang balado, saya dan beberapa kawan ikut makan. Sekadar menunaikan kewajiban manusia yang mesti menghormati tetangganya, dan tentu saja didorong rasa lapar.

Sebelum pencurian tersebut, setiap malam ruko tetangga itu tak pernah ditinggali, kecuali oleh makhluk non materi barangkali. Pengamanannya hanya berlapis dua; kunci dalam dan gembok besar di luar. Pengamanan yang ternyata dapat dengan mudah dijebol kawanan maling. Sebelum beraksi, mereka mencantelkan dulu gembok-gembok tak terkunci di setiap ruko yang berjajar di sekitar targetnya. Maka demikianlah, esoknya saya dan tetangga-tetangga yang lain terisolasi di tempatnya masing-masing. Tetangga paling pojok pertamakali keluar karena kawannya datang hendak menjemput untuk pergi entah kemana.

Dilihat dari pintu korban yang rapi, saya membayangkan mereka beraksi dengan membawa mobil dan diparkirkan tepat di depan ruko tersebut. Kemudian tugas dibagikan, seorang diam di balik kemudi sekaligus menjadi pengawas situasi, seorang lagi mencantelkan gembok agar tidak ada pertolongan dari tetangga yang lain sekaligus membantu sang eksekutor membobol dan mengangkut barang curian. Durasi aksi kiranya tak terlalu lama, paling lambat berjalan sekitar 30 menit. Lalu meninggalkan kecewa di hati si pemilik.

Esoknya waktu saya bertemu dengan si pemilik, di wajahnya tergurat kemuraman yang lumayan temaram. “Sudah dilaporkan ke polisi, pak?” Beliau hanya menggeleng, mungkin derajat kepercayaannya terhadap penegak hukum itu tidak terlalu kokoh. Dan hari terus berganti.

Beberapa bulan berselang, di suatu pagi yang tidak terlalu awal, saya hendak menyapu halaman kedai. Saya ambil sapu lidi dan mendapatinya telah berganti. Masih tetap sapu lidi, namun kondisinya memprihatinkan: posturnya pendek dan batang-batang lidinya kaku sehingga tak nyaman untuk diayunkan. Ini jelas ada yang menukarnya, namun entah siapa. Saya tak berani menduga-duga.

Jauh sebelum kasus pencurian dan sapu lidi yang ditukar itu, kaca yang menempel di roda nasi goreng pecah berhamburan. Dari keterangan seorang kawan yang masih terjaga: pada satu malam yang mulai larut, waktu dia terduduk di lantai satu dan pintu kedai sudah tertutup rapat, terdengar suara motor mendekat dengan latar suara tawa bocah-bocah ingusan. Deru motor semakin mendekat dan “praang!!” Kaca rerak berhamburan, sementara si pelaku langsung kabur.

“Kemarin juga di ujung jalan ini ada beberapa kaca yang hancur, salah satunya milik tukang batagor,” kata penjual rokok yang esoknya baru mendengar kabar. Kalau kawan melihat ada spanduk merah menempel di roda nasi goreng kedai, itu adalah saksi penghancuran.

Pada kasus pencurian, sapu lidi yang tertukar, dan penghancuran kaca, meski fragmentaris dan tidak mewakili Jalan Solontongan secara utuh, namun dalam benak saya berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, tergambar satu watak dari ruang atau tepatnya ruas jalan, bahwa Jalan Solontongan—seperti juga jalan-jalan yang lain, mempunyai sisi rentan yang sama. Ia dapat dengan mudah memiliki kehilangan. [irf]

29 May 2016

Merespon Kota dan Membibit Gerakan Literasi

Sesekali atau bahkan berkali-kali, di smartphone muncul broadcast yang isinya informasi dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan. Hal itu disebar katanya demi menghindarkan warga kota dari macet jahanam yang menjengkelkan. Selintas hal tersebut—karena kerap muncul, seperti sebuah kebenaran yang tak terbantah. Warga kota yang tergesa dengan agendanya masing-masing tak sudi acaranya dirintangi oleh jalanan yang tersumbat. Keramaian dan keriuhan, apa pun acaranya dan siapa pun penyelenggaranya, semacam telah menjadi musuh alami yang mengejawantah di broadcast yang bertebaran menyusup di semesta smartphone.

Dalam konteks kota sebagai ruang hidup bersama—pada kasus ini adalah Kota Bandung, acara-acara yang melibatkan warga kota sebetulnya adalah sesuatu yang patut untuk dirayakan. Bagaimana tidak? Bukankah tebaran taman yang menghiasi hampir sekujur kota adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan warga atas ruang hidup dan interaksi bersama. Ya, interaksi. Bertemu dengan warga kota lain; bisa tetangga sebelah rumah, warga beda kelurahan dan kecamatan, dll. Atau jika dijelentrehkan dalam strata dan status sosial, di ruang publik itu kita bisa bertemu beragam manusia; pengangguran, pencopet, pasangan yang baru reda dari pertengkaran hebat, anak dan orangtua yang jarang ngobrol, tukang cuanki, PNS yang bosan dengan pekerjaannya, dll.

Pemberitahuan dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan yang diprediksi akan macet karena adanya acara yang melibatkan warga kota, sesungguhnya adalah sebuah laku ironi. Kita mengharapkan ruang publik untuk berinteraksi, sementara di lain waktu kita malah menghindari acara yang melibatkan banyak warga.  

Dari perspektif inilah kemudian kami  (Komunitas Aleut) merumuskan dan mengambil sikap, bagaimana caranya merespon setiap kegiatan kota yang melibatkan banyak warga. Sebagai komunitas yang pada mula dan seterusnya concern terhadap—tidak hanya sejarah, namun juga perkembangan kota, kami kemudian memutuskan untuk ambil bagian dan bahkan lebur dengan setiap kegiatan kota.

Meski sikap dan kesadaran ini telah jauh-jauh hari kami rumuskan, namun moment pertama yang paling kentara adalah ketika Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun kemarin. Dengan semangat kolektif khas komunitas, kami menyambut Peringatan KAA ke-60 dengan jalan meleburkan diri. Kami berusaha larut dengan kerja-kerja liputan—yang meskipun amatiran, tapi kami melakukannya setiap hari hampir tanpa jeda. Kami bertemu dan mewawancarai pedagang kaki lima, warga yang hidup di gang-gang di sekitar Gedung Merdeka, aparat keamanan yang bertugas dan berjaga, tukang yang mengerjakan perbaikan trotoar, tukang membuat plat nomor, dll. Hasil liputan tersebut tidak selalu terlahir menjadi satu tulisan panjang dan utuh, namun bisa juga hanya menjadi informasi-informasi pendek yang kami hadirkan di beberapa saluran media sosial.

Selain menghasilkan beberapa tulisan, liputan ini pun berhasil menjerat beberapa peristiwa dengan bantuan kamera. Foto-foto dengan kualitas sederhana kami simpan dan beberapa dipublikasikan. Bagi kami ini perayaan. Bukan karena gempita dan besarnya biaya yang keluar, namun bagaimana kami sebagai warga kota mencoba larut dalam kegiatan.

Setahun pasca peringatan, seiring dengan semangat literasi yang kembali tumbuh, kami menyunting ulang semua tulisan tersebut. Maka hari ini, di acara soft launching buku “Pernik KAA 2015”, semua tulisan yang terbuhul tersebut adalah hasil kerja kami setahun yang lalu. Begitu pula foto-foto yang kami pajang, semuanya hasil kurasi dari ratusan foto yang kami hasilkan sepanjang liputan.

Acara ini pun sekaligus sebagai penanda atau semacam batu tapal, tentang kami yang hendak berkabar, bahwa ada hari-hari di luar kegiatan NgAleut yang rutin kami lakukan setiap hari Minggu, yang kami isi dengan kerja-kerja literasi yang bahan bakarnya adalah semangat kolektif berkomunitas.

Komunitas Aleut yang sejak lahir dan tumbuh tidak bisa dipisahkan dengan buku, hari-hari ini mencoba tampil tidak hanya sebatas “mengkonsumsi” buku, namun juga mencoba untuk “berproduksi”. Teks-teks lama yang sudah langka, yang kiranya masih relevan dengan sejarah Bandung; kami himpun, ketik ulang, disunting dan diberi pengantar, sebelum akhirnya diterbitkan ulang agar bisa diakses oleh masyarakat luas.  Beberapa teks lama yang telah, tengah, dan akan kami garap di antaranya:

Pertama, “Rasia Bandoeng: atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir pada Tahun 1917” karangan Chabanneau.

Roman ini terbit sekira satu abad yang lalu. Peredarannya amat terbatas, dan ini disinyalir karena isinya terkait dengan aib keluarga dalam satu she atau marga di kalangan masyarakat Tionghoa di Bandung. Penerbitan ulang roman ini dimaksudkan bukan untuk mengorek kembali “luka lama”, namun semangatnya lebih ingin menghadirkan satu gambaran utuh tentang kehidupan warga Kota Bandung di masanya, lengkap dengan lanskap kota yang didadarkan sebagai latar cerita.

Dalam satu acara bedah buku dan bincang-bincang terkait dengan roman ini, kami telah bertemu dengan beberapa anggota keluarga para tokoh yang ada dalam roman. Pada dasarnya mereka menyambut baik penerbitan ulang kisah para leluhurnya, karena bagi mereka hal ini dianggap sebagai satu sisi sejarah kota yang pernah hidup.

Selain itu, kami pun pernah mengangkat roman ini sebagai tema dalam satu kesempatan NgAleut. Rutenya kami ambil dari tempat-tempat yang diceritakan dalam roman, dan kegiatannya dilakukan malam hari bertepatan dengan malam Imlek 2567. Sekarang roman ini sedang dalam proses di tangan penerbit Pustaka Jaya.

Kedua, “Bandung Baheula” karangan R. Moech. Affandi

Naskah ini mula-mula terbit di tahun 1969, dan seperti yang disebutkan di pengantar oleh penulisnya, kehadiran buku ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan orang Sunda yang masih sedikit. “Didasarkeun kana kabutuh masarakat tatar Sunda nu numutkeun kanjataan masih kirang kénéh ku buku2 dina basa Sunda anu mangrupi aosan…”

“Bandung Baheula” terdiri dari tiga jilid yang isinya bercerita tentang kondisi dan suasana Bandung tempo dulu, namun berbeda dengan buku-buku “sejarah” Bandung lainnya--meski benar-benar pernah terjadi, tapi cara penyajian cerita di buku ini mayoritas cenderung lebih mirip dengan kisah fiksi; nama tempat dan tokoh diganti dan disamarkan. Hal ini ditempuh oleh penulis dengan pertimbangan agar sesuai dengan etika dan estetika kepribadian orang Sunda. 

“Nanging, sanadjan sugri nu ditjarioskeun dina ieu buku kapungkurna leres2 ogé kadjadian, kanggo marganing kautamian, boh tina perkawis wasta tempat, boh tina perkawis wasta djalma miwah kalungguhanana nu kaungel dina masing2 tjarios; di antawisna aja ogé anu ngahadja digentos dibentenkeun tina aslina.

Nja kitu deui djalanna tjarios ogé diolah sinareng diréka deui, disusurup malar pajus, dikekewes malar pantes, dilujukeun kana djiwa kapribadian sélér Sunda nu resep kana gumbira (humor).”

Hal ini tidak lepas dari profesi penulis yang seorang dalang, sehingga memudahkannya untuk—tidak hanya merubah nama tempat dan tokoh, namun juga mereka ulang sebagian kisah yang dianggap kurang pantas menjadi susunan yang lebih sesuai dengan norma kepribadian orang Sunda. Naskah ini telah selesai kami ketik ulang, dan sekarang tengah masuk ditahap penyuntingan. 

Ketiga, “Keur Kuring di Bandung” dan “Saumur Jagong” karya Sjarif Amin.

Dua karya mantan jurnalis senior ini juga bercerita tentang Bandung zaman baheula. Sjarif Amin atau nama aslinya adalah Moehammad Koerdi adalah salah seorang perintis pers di Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai wartawan surata kabar berbahasa Sunda “Sipatahoenan”, redaktur mingguan “Bidjaksana”, dan di zaman Jepang ikut dalam jajaran redaktur koran “Tjahaya”. Pasca kemerdekaan ia menerbitkan surat kabar “Soeara Merdeka” dan “Indonesia”. Sebagai seorang wartawan, Sjarif Amin tentu sudah sangat terbiasa dengan data dan fakta di lapangan, sehingga buku-bukunya yang terkait dnegan “sejarah” Bandung dirasa lebih otentik.

Saat ini kedua buku tersebut sudah sangat langka, sehingga kami berinisitif untuk menerbitkan ulang. Sampai hari ini pengerjaan kedua buku tersebut masih pada tahap pengetikan ulang.    

Di luar kegiatan menerbitkan ulang teks-teks lama, kami pun mencoba menerjemahkan beberapa buku berbahasa Inggris dan Belanda yang tentu saja ada kaitannya dengan sejarah Bandung. Buku pertama berjudul “History of Our Family”. Buku ini berkisah tentang perjalanan keluarga Kerkhoven, salah satu keluarga Preangerplanters yang kiprahnya cukup sukses di lingkungan perkebunan wilayah Priangan. Buku kedua berjudul “Bandung and Beyond” yang isinya bercerita tentang perjalanan sebuah keluarga dalam berkeliling atau ngaleut di dalam dan sekitar Kota bandung. Sedangkan buku berbahasa Belanda yang juga tengah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu “Bandung 1918”. Buku ini mendadarkan pembangunan awal Kota Bandung dalam rangka menyambut rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung.

Jika dua kerja literasi di atas (pengetikan ulang dan penerjemahan) terkait erat dengan naskah-naskah milik “orang lain” atau para penulis di luar Komunitas Aleut, maka selain buku “Pernik KAA 2015” kami pun sesungguhnya masih punya beberapa buku yang kami produksi sendiri, yaitu “Memento; Sehimpunan Kisah Masa Kecil” dan “Ensiklopedi Sejarah Bandung”.

“Memento” sesuai dengan subjudul yang mengikutinya adalah kumpulan kisah masa kecil dari para pegiat Komunitas Aleut, dalam rangka menyambut ulang tahun sewindu dan satu dasawarsa Komunitas Aleut. Ya, buku ini memang terbit dua kali; tahun 2014 dan 2016. Apa yang tersaji sekarang merupakan gabungan dari buku yang pertama yang ditulis oleh para pegiat lama, dan tulisan baru karya para pegiat yang hadir belakangan.

Zen RS—mantan kolumnis Jawa Pos, dalam sebuah esainya tentang persahabatan, menulis sebuah kontemplasi Milan Kundera dari novel yang berjudul “Identity”. Terkait penulisan kisah masa kecil ini, kiranya apa yang diutarakan Milan Kundera melalui tulisan Zen RS layak menjadi salah satu bahan perenungan:

“Teman masa kecil, kata Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Teman masa kecil dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa kita tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Untuk itu, ingatan mesti disiram seperti bunga dalam pot. Karenanya kita memerlukan kontak dengan teman dan sabahat masa kecil, sebab merekalah saksi mata dari masa silam.”
Sementara Mircea Eliade—seorang antropolog, dalam buku “Ordeal by Labirinth” menulis, “Setiap tanah air terdiri dari bentangan geografis yang sakral. Bagi siapa pun yang meninggalkannya, kota masa kecil dan remaja akan selalu menjadi negeri dongeng.”

Dalam beberapa pertimbangan, kiranya buku “Memento” ini sengaja ditulis dan dihadirkan terkait dengan dua hal tersebut di atas, selain juga faktor penting lainnya---terutama dalam semangat dan koridor berkomunitas, yaitu cara untuk para pegiat Komunitas Aleut belajar bercerita secara tertulis.

Dan terakhir kerja literasi terberat yang tengah kami jalani adalah menyusun “Ensiklopedi Sejarah Bandung”. Sepenuh sadar kami akui bahwa ini adalah proyek nekad. Kami hanya berbekal buku sebagai sumber tertulis dan semangat berkarya yang terus menyala di kalangan para pegiat Komunitas Aleut. Kami yang semuanya tidak memiliki latar pendidikan sejarah, waktu yang terbatas, bekerja dengan sistem relawan, “tergoda” untuk membuat sebuah karya yang cukup besar. Karya yang seseungguhnya amat erat kaitannya dengan apa yang kami kerjakan secara rutin selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini.
Proyek besar ini telah berjalan kira-kira satu bulan, dan meskipun kami susun timeline kerja, namun entah kapan kiranya karya ini akan lahir secara atau mendekati utuh. Satu kepastian bahwa kami tetap mengerjakannya.


Di penghujung jejalin paragraph, kami hendak menekankan sekali lagi bahwa apa yang sidang pembaca hadapi dan hadiri hari ini--baik hamparan teks maupun rangkaian acara, adalah dua batu tapal kami untuk mempublikasikan secara serentak apa-apa yang telah, tengah, dan akan kami kerjakan. Bagaimana cara kami merespon kegiatan kota dan membibit kembali gerakan literasi di Kota Bandung, kiranya menjadi salah satu penanda bahwa kami ada dan tetap mengada bagi kota tercinta ini. Salam. [irf]

--Ditulis sebagai pengantar di acara soft launching buku "Pernik KAA 2015" di Braga Punya Cerita (Minggu, 24 April 2016)

29 March 2016

Iwang



Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. Iwang tengah duduk di depan tempat bimbingan belajar sambil menikmati segelas kopi sachet. “Ngopi dulu,” katanya sambil mengangkat gelas. Saya hanya mengangkat jempol sambil berlalu menuju kios penjual rokok.

Sehari-hari Iwang tinggal di tempat bimbingan belajar, dia bekerja di sana. Bukan sebagai pengajar, tapi tukang bersih-bersih, sesekali disuruh membeli ini-itu, dan sekaligus menjadi tenaga keamanan. Rumah peninggalan orangtuanya berada di Margacinta, kini dikontrakkan kepada orang lain seharga empat juta rupiah per tahun.     

Ia dua bersaudara. Adiknya sudah menikah dan punya dua anak, kerja di dealer mobil di bilangan Soekarno-Hatta, dan tinggal di daerah Kiaracondong. Sesekali adiknya datang menengok, sekadar memberinya uang jajan. “Ya, namanya juga dengan saudara, meskipun jarang ketemu tapi masih ingatlah,” ujarnya.

Di sebelah utara tempat Iwang tinggal, terhalang satu ruko, ada Kedai Preanger; kedai yang menjual sajian kopi dan teh sebagai menu utamanya. Lantai bawah adalah tempat konsumen duduk menikmati sajian dan membaca buku, sementara lantai dua dipakai untuk menyimpan beberapa buku yang tidak tertampung di bawah, juga sebagai tempat tidur. Di kedai inilah saya tinggal.

Selain menjual beberapa sajian minuman dan camilan, Kedai Preanger adalah juga sekretariat atau basecamp Komunitas Aleut; sebuah komunitas peminat sejarah, khususnya sejarah Kota Bandung, dan saya salah satu anggotanya.

Karena bertetangga, kami setiap hari bertemu. Iwang tak terlalu pandai main catur, namun tak pernah gentar menerima setiap tantangan siapa saja yang hendak mengasah otak. Seingat saya, skor kami 8-2. Namun pertandingan yang tak diingat lebih banyak lagi, dan saya selalu dominan. “Anjir, teuas euy (Anjing, keras euy),” begitu ungkapnya pada satu malam waktu raja dia saya skakmat. “Keras” di sini artinya--bagi dia, saya sulit dikalahkan.

Kalau baru terima gaji, sehari dia bisa minum 4 sampai 5 gelas kopi plus krimer yang ia beli di kios tak jauh dari tempat kerjanya. Minum kopi dan merokok, dan saya sangat jarang melihatnya membeli makan di siang hari.

Pagi ketika saya melihatnya sedang minum kopi di awal hari, barangkali itu adalah gelas yang pertama.  

***

Sudah hampir tiga tahun Iwang bekerja di tempat bimbingan belajar sebagai office boy merangkap satpam. Sebelumnya ia lama menganggur. Pendidikan terakhirnya SMA. Lulus 23 tahun yang lalu. Sempat juga bekerja di perusahaan listrik sebagai semacam tenaga pemasaran. Tugasnya mendatangi rumah-rumah yang belum dialiri listrik agar bisa mendaftar dengan cepat dan pencahayaan rumahnya ditangani perusahaan listrik. Pekerjaan itu dijalaninya selama dua tahun. Ia dikeluarkan karena terbukti menilep uang setoran. “Karena senior-senior saya banyak yang jadi tikus, saya juga lama-lama ikut-ikutan menjadi tikus,” ujarnya.

Sebelum ketahuan kantor, setiap hari minimal ia bisa mendapatkan uang sebesar 300 ribu rupiah yang berasal dari mark-up harga kepada calon pelanggan perusahaan listrik. Dompetnya tebal, berisi uang ratusan ribu. Waktu ibunya membutuhkan dana untuk belanja, sementara Iwang baru terbangun dari tidur siang, ia mempersilahkan ibunya mengambil sendiri uang yang dibutuhkan dari dompetnya. Ibunya kaget melihat uang sebanyak itu. “Duit dari mana ini? Sebanyak ini?!” begitu ia menirukan ucapan ibunya. Ia hanya menjawabnya bahwa itu adalah gaji dari tempatnya bekerja.

Setelah masa itu lewat, Iwang kemudian menganggur lama. Sangat lama. Sekali waktu dalam kondisi menganggur akut, saat ia rajin main ke tempat pamannya di daerah Buah Batu, seseorang bertanya, “Kamu ga kerja?” Kemudian ia ditawari untuk kerja di tempat bimbingan belajar yang ia jalani sampai sekarang.

Iwang lahir 42 tahun yang lalu, dan sampai sekarang belum berumah tangga. Seringkali di penghujung senja kami ngobrol. Membicarakan banyak hal, salah satunya tentang keluarga. Pandangannya kerap menerawang ketika bercerita tentang ibu bapaknya. Keduanya telah meninggal. Adiknya telah menikah dan punya anak. Sementara ia masih merindu kekasih dan keluarga. Pacarnya tinggal di Ciamis, dan sudah sangat jarang bertemu. Terakhir bertatap muka dua tahun lalu waktu pacarnya masih kerja di Bandung. Jarak begitu berkhianat.

Kalau laptop kawan-kawan Komunitas Aleut ada yang nganggur, Iwang kerap meminjamnya untuk sekadar membuka facebook dan membuat banyak puisi untuk kekasihnya. Komunikasi terjadi di dunia maya. “Kapan kita ngaleut ke Ciamis?” tanyanya sekali waktu. “Sekalian ngantar saya...”, lanjutnya. Sampai sekarang pertanyaannya belum terjawab, dan ia masih menunggu sampai waktu entah.

Setiap Sabtu tempat bimbingan belajar hanya buka setengah hari. Sementara di Kedai Preanger kawan-kawan Komunitas Aleut rutin mengadakan resensi buku secara lisan, dan saya yang paling sering menjadi semacam moderatornya. Iwang beberapakali ikut dalam riungan, menyimak apa yang dibicarakan kawan-kawan. Ia juga pernah sekali meresensi buku “Rasiah nu Goreng Patut”, sebuah novel berbahasa Sunda yang dulu pernah dibuat sinetron. Buku itu menceritakan Karnadi, seorang pemuda miskin dan buruk rupa namun punya kecerdasan yang nakal. Dengan kelihaiannya ia berhasil mendapatkan Eulis Awang, seorang gadis cantik dan anak orang kaya.

Dengan agak terbata Iwang memungkas resensinya dengan sebuah kesimpulan, “Jadi tak perlulah ganteng dan kaya untuk mendapatkan perempuan semacam Eulis Awang itu, yang penting pakai akal,” ungkapnya yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan kawan-kawan yang lain.

Hari Minggu libur, dan ia ikut ngaleut. Tugasnya membawa spanduk komunitas untuk disertakan dalam foto bersama di penghujung ngaleut. “Ya, kan hari Minggu mah bimbel tutup, saya ga ada kegiatan, jadi ikut ngaleut aja. Lumayan selain jalan-jalan olah raga, juga dapet pengetahuan dan teman-teman baru,” tuturnya.

Setiap Minggu siang, tepatnya setelah ngaleut selesai, sekira mulai dari pukul dua siang sampai malam, Iwang selalu nongkrong di Kedai Preanger; ngobrol, ngopi, merokok, dan main catur. Kalau pegawai kedai tengah libur, ia rajin membantu kawan-kawan Komunitas Aleut, baik melayani konsumen atau pun sekadar mencuci piring dan gelas kotor. “Sebetulnya saya pengen belajar juga membuat hidangan, seperti membuat kopi dan minuman lain, agar bisa bantu-bantulah. Ya, namanya juga dengan teman, apalagi kita bertetangga. Ga usah dikasih apa-apa, saya mah ikhlas,” ungkapnya dengan nada tulus.

***

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 1 Buah Batu (sekarang menjadi SMA Negeri 25 Bandung), Iwang aktif berkegiatan di Karang Taruna tingkat RW. “Waktu awal ikut, ada pelatihan dulu di Tanjungsari, Sumedang. Rombongan peserta menggunakan bis sewaan, sementara panitia mah pakai mobil yang lebih kecil. Materinya semacam dididik untuk jadi pemimpin,” ujarnya bercerita. Di Karang Taruna Iwang kerap berposisi di bagian logistik dan humas. Delapan tahun ia aktif berkegiatan dan menghidupkan lingkungan RW-nya.

Cerita Iwang tentang masa aktifnya di organisasi terbukti ketika ia mulai ikut Komunitas Aleut; tak terlihat canggung dalam bergaul dengan orang-orang baru, dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya. Begitu pula di tempat kerja, Iwang amat paham dengan kewajibannya. Meski jarak antara tempat dia kerja dengan Kerja Preanger hanya lima meter, dan misalnya dia tengah santai, namun Iwang selalu menolak jika ada yang mengajaknya bermain catur. “Hampura euy moal waka, keur gawé (Maaf, ga akan main catur dulu, lagi kerja),” ujarnya.

Sekali waktu, saya dan seorang kawan (Kobo) punya ide untuk mengadakan semacam malam puisi di Kedai Preanger. Tapi niat itu kemudian dirintangi oleh kenyataan bahwa mayoritas kawan-kawan Komunitas Aleut sepertinya kurang begitu berminat pada puisi. Saya lalu teringat Iwang dan puisi-puisinya yang sering ia unggah di facebook. “Kita ‘angkat’ mang Iwang aja, Bo, gimana?” Dia tidak menjawab, malah melonjak girang.

Saya membayangkan bagaimana Iwang, seseorang yang berjarak dengan kekasih dan keluarganya, membacakan isi hatinya lewat puisi-puisi. Atau beberapa penyesalan yang tidak pernah diungkapkan, tentang usia remaja atau mungkin dosa-dosa. Saya tak tahu pedalaman hatinya. Namun barangkali dengan begitu, ia bisa sedikit mengungkapkan kerinduannya yang selama ini diperam. 

Ketika hujan turun begitu deras, saya melihat Iwang tengah melamun di depan tempat kerjanya, dengan sebatang rokok dan segelas kopi tentu saja. Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. [ ]  

12 February 2016

Kedai Preanger; Menggabungkan Kuliner dan Literasi


Bandung sejak dulu terkenal dengan beragam kuliner. Dari peuyeum sampai borondong, yang bahkan kedua makanan itu diabadikan dalam bait-bait lagu. Hari ini Bandung pun menjadi salah satu kota tujuan wisata kuliner di Nusantara. Restoran, kafe, dan warung makanan tumbuh subur di kota ini, terutama di ruas-ruas jalan utama. Setiap akhir pekan, para wisatawan domestik kerap memenuhi tempat-tempat ini. Ada yang ingin mencicipi lezatnya makanan, namun tak sedikit pula yang hendak nongkrong dan menikmati suasananya.

Kuliner di titik ini bukan hanya sekadar pemenuhun kebutuhan dasar, namun perlahan telah beranjak menjadi gaya hidup. Konsep berjualan makanan dan minuman kemudian berkembang. Para pemilik usaha ini tak lagi hanya menjajakan barang dagangannya, namun dikemas sedemikian rupa agar pengunjung merasa nyaman. Selain itu, para pemilik usaha pun terkadang mengedepankan idealismenya untuk, misalnya—merepresentasikan minat personal, komunitas, dan lain-lain.

Jika dilihat dari kacamata ekonomi dan budaya kota, perkembangan bisnis ini tentu mempunyai kontribusi tersediri untuk mempertegas identitas kota yang hendak dicitrakan. Kota Bandung dalam hal ini beruntung, sebab laju perkembangan bisnis kuliner dibarengi dengan kerja dan konsep kreatif para pelakunya. Usaha mikro, kecil, dan menengah ini mencuatkan satu kesadaran, bahwa kota tak melulu dibangun oleh firma-firma raksasa, namun juga oleh segenap lini modal usaha yang hidup dan bertahan di tengah medan laga ekonomi kreatif.

Salah satu pemain di bisnis ini, tepatnya yang beroperasi di kawasan Bandung selatan adalah Kedai Preanger. Bertempat di Jl. Solontongan No. 20 D, Buah Batu, kedai yang fokus utamanya menjual sajian kopi dan teh, sampai saat ini setidaknya telah menjalankan usaha selama satu tahun. Saat ditemui di kedai tersebut, Ridwan Hutagalung—salah seorang pemilik, penggagas, dan pengelola kedai ini menjelaskan seputar tempat usahanya.   

“Sudah satu tahun ini Kedai Preanger berdiri di sebuah  ruko sewaan di Jl. Solontongan No. 20-D, Buahbatu, Bandung. Ternyata tidak mudah membuka usaha yang awalnya ingin secara khusus menyediakan berbagai jenis kopi dan teh dari penjuru wilayah Indonesia. Untuk mendapatkan beragam kopi teh ini sudah merupakan kesulitan sendiri,“ ungkapnya.

Namun demikian lanjut Ridwan, meskipun berjalan merayap dengan lambat, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai, mereka tetap mensyukuri masa hidup yang sudah berjalan satu tahun ini. Durasi waktu yang tidak singkat, mengingat banyak kedai, kafe, resto, atau apapun usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar.

Ide yang kemudian dieksekusi dalam bentuk usaha ini, bagi Ridwan dan kawan-kawan (modal patungan) memang disertai dengan idealisme tersendiri. Mereka melihat hal lain dari kondisi kontemporer penjualan beberapa komunitas barang, khususnya teh dan kopi, serta kecintaan mereka kepada tanah Priangan.

“Kedai Preanger kami dirikan sebagai wadah usaha yang mungkin tidak melulu didorong oleh kebutuhan berdagang, ada hal-hal yang lebih jauh dari itu. Belakangan ini penjualan teh Indonesia sering diberitakan menurun, lalu kami menemukan berita bagaimana teh putih Indonesia ternyata belum terlalu dikenal di dalam negeri, dan fakta yang paling mudah ditemui yaitu bagaimana di negeri berpredikat penghasil kopi terbaik dunia ini ternyata kafe-kafenya masih lebih banyak menyediakan kopi-kopi impor. Satu alasan lain yang tak kalah penting adalah kecintaan kami pada wilayah Priangan yang permai ini,” tutur Ridwan.

Bagi Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan, Priangan tercantik yang ada dalam benak mereka adalah Priangan dengan hamparan perkebunan teh yang luas, dengan danau dan kampung yang dikelilingi oleh pergunungan dan hutan lebat. Berjejak dari gambaran tentang Priangan itulah kemudian mereka mengutamakan kopi dan teh.

Pada perjalanannya, karena ditopang oleh jaringan pergaulan yang cukup luas, Kedai Preanger salah satu kerap dikunjungi oleh konsumen yang berlatar hubungan perkawanan yang datang dari banyak tempat, dan hendak mencoba ragam kopi atau teh yang mereka sediakan. Para pengunjung menikmati suasana, bercengkrama sambil berbagi cerita. Terkait hal ini Ridwan menjelaskan, “Mungkin bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa—kami pun tak pernah membuat klaim semacam itu, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya saja, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di kedai kami ini,” tuturnya.    

Karena Ridwan Hutagalung dan beberapa koleganya adalah pendiri dan pegiat Komunitas Aleut, maka kedai ini pun mengisi hari-harinya dengan basis komunitas. Kecintaan pada Tanah Priangan dan visi Komunitas Aleut yang sejalan menjadi modal tersendiri bagi pengembangan Kedai Preanger.

Seperti yang telah dijelaskan di mula catatan ini, para pelaku yang menjalankan roda bisnis ekonomi kreatif di bidang kuliner mempunyai konsep masing-masing yang unik. Dari sudut pandang ini, Kedai Preanger mempunyai konsep dengan pendekatan komunitas, yang seiring waktu komunitas itu mempunyai minat pada bidang sejarah, sastra, budaya, dan banyak hal.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Komunitas Aleut di Kedai Preanger adalah acara Riungan Buku. Di sini setiap pegiat Komunitas Aleut yang hadir meresensi buku secara lisan. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Sabtu. Mereka berdiskusi, bersilang pendapat, kadang berdebat, dan belajar berdialektika. Inilah ikhtiar Kedai Preanger sebagai sebuah usaha ekonomi mikro yang bergerak di bidang kuliner, namun tak abai pada perkembangan dunia literasi.

Meskipun disesaki oleh lembaga pendidikan yang tentu erat kaitannya dengan buku dan membaca, namun bagi dunia literasi Bandung, tak mudah bertarung dengan arus deras konsumerisme. Bandung hari ini, lebih terproyeksikan sebagai kota wisata kuliner dan fashion. Dua hal tadi lebih riuh jika dibandingkan dengan tradisi membaca. Buku tak benar-benar lekat dengan citra yang hendak dibangun dalam keseharian warganya. Namun hal ini tak menjadikan para pegiat literasinya gentar, setidaknya bagi yang masih bertahan, citra dan kondisi Bandung ini merupakan medan “jihad” yang sempurna.

Maka kiranya apa yang ditempuh oleh Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan melalui Kedai Preanger yang telah berjalan selama satu tahun ini, adalah sebuah usaha menggabungkan dua hal yang kerap diidentikan tak saling berhubungan, yaitu kuliner dan literasi.

Sebagai warga kota, apa yang dikerjakan oleh para pemilik dan pengelola Kedai Preanger mungkin belum terlalu banyak memberikan kontribusi banyak bagi Kota Bandung, namun setidaknya satu semangat telah digulirkan. [irf]  

PS : Tulisan ini pernah tayang di Majalah Karsa volume 4