Showing posts with label PERSIB. Show all posts
Showing posts with label PERSIB. Show all posts

29 July 2017

Mereka yang Tak Bisa Nonton Persib di Stadion




Sore itu deru rombongan pengendara motor terdengar mendekat. Tak lama kemudian mereka melintas di Jalan Solontongan sambil membentangkan syal biru bertuliskan Persib. Saya tengah duduk di depan sebuah kedai kopi, Kedai Preanger, menunggu siang cepat berlalu.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Iwang sambil mendekat. Karyawan sebuah lembaga bimbingan belajar itu tak sabar menanti jam menyentuh angka 18.30. “Lama betul Magrib datang,” sambungnya.

Saya dan Iwang tak bisa nonton di stadion Gelora Bandung Lautan Api. Tiket terlampau mahal, dan bagi dia pekerjaan tak bisa ditinggalkan.

Sebetulnya hasrat menonton langsung Persib di stadion sudah jarang singgah. Apalagi Persib mainnya sedang butut. Tapi malam ini lawan Persija. Seteru dari ibu kota yang wajib dikalahkan. Tensi tinggi sudah menguar dari kemarin.

Setengah jam jelang kick-off, saat jalanan mulai lengang, seorang kawan datang. Saya memanggilnya Akay. Ia baru selesai mengantarkan kerupuk udang ke warung-warung di penjuru Kota Bandung. Saat singgah di Cigondewah, ia melihat rombongan bobotoh tengah berkumpul di depan sebuah kedai kopi dan hendak menuju ke stadion.

“Dari atas jembatan penyeberang jalan tol, tadi sekitar pukul dua, saya melihat rombongan bobotoh dari luar kota sudah berdatangan. Di perempatan Buahbatu pun tadi pas saya berangkat sudah ramai. Biru. Di mana-mana biru,” ujarnya.

“Sima aing sima maung/ Maung aing maung Bandung/ Loyalitas ulah tanggung/ Nu di kota nu di kampung/ urang dukung Persib Bandung!”

Tiba-tiba lagu itu diputar oleh Aip dengan begitu keras. Kontributor salah satu portal berita nasional itu meninggalkan laptopnya, berdiri, lalu bernyanyi sambil bergoyang. Barangkali karena mendengar lagu, seorang penjual bakso berhenti meminggirkan gerobaknya dekat kios rokok, lalu mendekati kami.

“Sudah main, ya?” tanyanya dengan logat Jawa yang cukup kental.

“Belum, Mas. Sebentar lagi,” jawab saya.

Usianya mungkin sudah kepala enam. Kami pun tak pernah tahu namanya. Juga entah berasal dari daerah mana. Logat Jawa-nya kerap tiba-tiba terdengar di dekat pintu kedai saat kami nonton Persib lewat televisi 21 inci. Ia tak pernah masuk kedai, hanya berdiri di dekat pintu sambil sesekali mengawasi gerobak baksonya. Kalau Persib kalah, ia pamit menuju gerobaknya sambil menggerutu.

Sepuluh menit jelang wasit meniup peluit pertandingan babak pertama, satu persatu kawan-kawan yang lain mulai berdatangan. Sementara di kios rokok yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari kedai; tukang becak, sales roti, dan pegawai laundry telah siap menyaksikan laga panas.

“Buru atuh, lila!” (Cepat dong, lama!) Bentak seorang kawan sambil melemparkan botol kosong air mineral kepada komentator yang asyik berceloteh di televisi. Vokalis band punk yang telah kenyang manggung di GOR Saparua itu tak lagi jatmika seperti biasanya. Ia yang mengidap wajah tenang hampir sepanjang hari, mulai meledak-ledak.

Dan peluit tanda pertandingan dimulai pun berbunyi.   

“Anteneuna gésérkeun kurang alus!” (Antenanya geserkan gambarnya kurang bagus!) perintah Akay kepada Iwang yang duduk dekat antena.

Sembilan orang di dalam kedai, satu orang di luar dekat pintu. Wajah-wajah tegang dan maras. Teriakan bersahutan. Tiga nama binatang sudah diabsen, plus nama makhluk yang tidak sudi bersujud kepada Adam.

Orang Bandung Menonton Lewat TV

Bandung di hari saat Persib main serupa kaki dibenam lanyau. Orang-orang terburu meninggalkan aktivitasnya. Yang tak bisa datang ke stadion berkerumun di depan televisi: di pangkalan ojek, kios rokok, kedai kopi, ruang tunggu terminal, jongko tukang cukur, dll.

Warga Bandung yang tak tertarik dengan Persib kiranya ada tiga golongan: pendukung klub lain, darahnya kurang biru, dan orang-orang yang menganggap sepakbola sebagai bentuk tribalisme yang harus dihindari. Sementara golongan yang kerap mengutuk Persib jika bermain jelek, dan berulang-ulang berkata malas nonton lagi, tak pernah benar-benar bisa meninggalkan pertandingan.

7 November 2014, saat Persib tampil di final Indonesia Super League melawan Persipura, sedari siang menjelang sore jalanan Kota Bandung mulai terlihat lengang. Nonton bareng digelar di setiap penjuru kota. Kerinduan akan juara yang telah absen 19 tahun dari bumi Pasundan membuat kota seakan lautan dinamit. Kalah atau menang akan membuat kota meledak.

Bersama seorang kawan saya tergesa menuju balai kota. Motor yang kami tunggangi menggilas jalanan yang senyap. Macet yang tiap sore hadir dengan wajah menyebalkan sore itu lenyap. Seisi kota tenggelam dalam ketegangan yang terus memuncak dari detik ke detik. Ketika tendangan Ahmad Jufriyanto mengoyak gawang yang dijaga Dede Sulaiman, Bandung pecah!

Malam tadi, Persib ditahan imbang. Kali ini gol Ahmad Jufriyanto tak berhasil mempertahankan kegembiraan bobotoh. 90 menit plus waktu tambahan yang dipenuhi teriakan, umpat, serapah, dan nyanyian dipungkas oleh murung berjamaah.

Persija bermain dengan kesiapan bertarung yang nyaris sempurna. Macan Kemayoran tak goncang oleh gol cepat Ahmad Jufriyanto, tidak juga oleh teror ribuan bobotoh. Alih-alih membuat mental merosot, lemparan botol dari para bobotoh justru dimanfaatkan oleh para pemain Persija untuk men-delay permainan. Bobotoh semakin kesal. Cukup jelas siapa yang akhirnya keteteran sendiri oleh perang mental itu.

“Gagal meunang deui wae, anjir (Gagal menang lagi),” ujar Akay.

"Kumaha rek meunang? Persib maena butut jiga beungeut maneh! (Gimana mau menang? Persib mainnya jelek seperti wajahmu itu)," sambit kawan yang lain.

Kawan-kawan terlihat lesu. Tukang becak, sales roti, dan pegawai binatu membubarkan diri dari kios rokok sambil mengemasi kekecewaan, dengan mulut yang penuh gerutu. Tadi malam, Persija cukup berhasil membuat orang-orang Bandung manyun. (tirto.id – irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 23 Juli 2017

05 April 2017

Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta?

Dari Persib hingga Kodam Siliwangi, maung/harimau lekat dengan Sunda Jawa Barat
Maung atau harimau punya posisi yang cukup dalam bagi kesadaran orang Sunda. Kita bisa menemukan maung menjadi nama tempat di kawasan Jawa Barat, seperti Cimaung dan Cimacan yang bisa ditemukan di beberapa daerah (Garut, Subang, Banjaran, Cianjur, dll), lambang Kodam Siliwangi, sampai Persib—klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Barat dan Sunda yang dijuluki Maung Bandung.

Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda pada umumnya dikaitkan dengan legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda.

Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya. Amanat yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi ini, di antaranya, memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran di masa depan:

“Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

"Dari mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan nada yang akan mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, tapi menelusurinya harus memakai dasar. Tapi sayangnya yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.” (Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak Satrio Piningit, hal. 16).

Setelah menyampaikan pesan, Prabu Siliwangi kemudian nga-hyang. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung.” (Kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau).          

Hal ini, salah satunya, yang mendasari keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bersalin rupa menjadi harimau. Sebagian pendapat menerangkan harimau di sini tidak bermakna harfiah, melainkan lebih merujuk karakter harimau yang diidentifikasi sebagai pemberani dan menyayangi keluarga. Poin kedua dari karakter itu, yaitu menyayangi keluarga, dikaitkan dengan pilihan Prabu Siliwangi yang konon memutuskan untuk mundur dan tidak meladeni pasukan Islam karena menghindari pertumpahan darah. Alasannya: pengejaran itu dipimpin oleh Kian Santang, salah satu keturunan Prabu Siliwangi.

Dalam budaya pop kiwari, salah seorang seniman Sunda yaitu Yayan Jatnika mengabadikan kisah ini dalam lagu Sancang:

“Ceunah ceuk béja baheula aya nagara/ Sancang Pakuan Pajajaran katelahna/ Prabu Siliwangi nu jadi rajana/ sakti mandraguna/ badé di-Islam-keun anjeunna alim/ diudag putrana Prabu Kian Santang/ ilang di leuweung éta tilem di leuweung éta/ Sancang nu canéom geueuman.”

(Konon dulu ada negara/ Sancang Pakuan Pajajaran disebutnya/ Prabu Siliwangi yang jadi rajanya/ sakti mandraguna/ hendak di-Islam-kan beliau tidak mau/ dikejar anaknya Prabu Kian Santang/ hilang di hutan itu lenyap di hutan itu/ Sancang yang angker).

Uraian bahwa Prabu Siliwangi menghilang karena terdesak oleh masuknya Islam mengandaikan bahwa dialah raja terakhir Pajajaran. Dan memang tidak sedikit yang menganggap Siliwangi sebagai raja terakhir Pajajaran sehingga nga-hyang atau moksanya Siliwangi sebagai akhir dari Pajajaran sendiri.

Paparan di atas, yang merujuk legenda dan alam pikiran masyarakat Sunda, kiranya mesti diperiksa ulang. Benarkan Prabu Siliwangi seperti yang dikisahkan sebelumnya adalah penguasa Kerajaan Pakuan Pajajaran yang terakhir?

Dalam buku Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi karya Saleh Danasasmita diterangkan beberapa pendapat tentang siapa sebetulnya Prabu Siliwangi.

Poerbatjaraka berpendapat Prabu Siliwangi adalah raja Sunda yang gugur di Bubat. Dalam Carita Parahiyangan, yang dijadikan sumber olehnya, disebutkan bahwa raja yang berangkat mengantar putrinya ke Majapahit adalah Prabu Maharaja, ayah dari Wastu Kancana. Sedangkan Jayadewata (Sri Baduga) adalah cucu Wastu Kancana. Dalam naskah itu Prabu Maharaja disebutkan “keuna kalawiyasa” (terkena perbuatan khianat), sementara Jayadewata disebut sebagai “Sang mwakta ring Rancamaya” (yang dikuburkan di Rancamaya).

Poerbatjaraka menafsirkan bahwa arti kata "kalawiyasa" sama dengan kata "Rancamaya", artinya menganggap Prabu Maharaja dan Jayadewata adalah orang yang sama. Padahal kalimat lengkapnya “Wastu Kancana nu surup di Nusalarang, Tohaan di Galuh nu surup di Gunung Tiga, Ratu Jayadewata mwakta ring Rancamaya” (Wastu Kancana yang dikuburkan di Nusalarang, Tohaan di Galuh yang dikuburkan di Gunung Tiga, Ratu Jayadewata yang wafat di Rancamaya).

“Berdasarkan maksud kalimat ditambah dengan adanya kata sambung yang menyatakan tempat yaitu di dan ring, tentunya Nusalarang, Gunung Tiga, dan Rancamaya adalah nama tempat,” tulis Saleh. Hal ini tentu saja menggugurkan teori Poerbatjaraka, yang artinya siapa sosok Prabu Siliwangi menjadi tidak jelas.

Sementara dalam Babad Siliwangi, diterangkan bahwa Siliwangi berarti "asilih wewangi" (berganti nama/gelar). Hal ini bersesuaian dengan Prasasti Batutulis yang menerangkan bahwa Sri Baduga atau Jayadewata dua kali dinobatkan. Pertama ia dinobatkan dengan menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, lalu namanya diganti ketika dinobatkan untuk kali kedua:

“Semoga selamat. Ini tanda peringatan untuk (peninggalan dari) prabu ratu suwargi. Ia dinobatkan dengan gelar Prabu Guru Dewataprana. Dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (di) Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Guna Tiga; cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang ke Nusa Larang.”

Saleh Danasasmita menulis bahwa nama raja yang resmi dalam bahasa Sunda sering disebut "wawangi". Arti harfiahnya adalah "seuseungit" karena "seungit" (harum atau wangi) atau kemasyhuran raja terletak pada namanya yang resmi, sebab upacara penobatan biasanya harus diikuti dengan penetapan nama resmi.

Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, yang diidentikkan dengan Prabu Siliwangi, pun sesungguhnya bukanlah raja terkahir dari Pakuan Pajajaran. Masih ada lima raja lagi setelahnya yaitu: Prabu Surawisesa (1521-1535), Ratu Dewata (1535-1543), Ratu Sakti (1543-1551), Nilakendra Tohaan di Majaya (1551-1567), dan Ragamulya Suryakancana sebagai raja terakhir ketika pengaruh Islam mulai masuk dan meruntuhkan kerajaan tersebut pada 1579.

Fakta ini tentu saja tidak sesuai dengan legenda Prabu Siliwangi yang digambarkan sebagai raja Pakuan Pajajaran penghabisan yang nga-hyang dan kemudian melahirkan simbol maung. Ada rentang waktu yang cukup panjang antara Sri Baduga Maharaja dengan berakhirnya kerajaan Pakuan Pajajaran. Artinya ada periodesasi yang gamblang untuk memetakan betapa berakhirnya masa hidup Prabu Siliwangi bukanlah akhir dari Pajajaran. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 14 Maret 2017

18 February 2015

Ulin ka Rumah Sakit Anjing Edan


Ti baheula, tapi teu baheula-baheula teuing sabenerna mah, da kakara sakola di Bandung těh taun 2002 ; kuring hayang asup ka komplěk Biofarma. Mun ngaliwat Pasupati tuluy nempo ka belah kalěr, eta gedong Biofarma katempo sakitu aggrěngna. Tapi kusabab dijagaan ku sababaraha satpam, jeung pantona gě salawasna katempo nutup waě, nyak boro-boro apal itu ieu di jerona, dalah ngalanto ka buruanna gě teu bisa. Nenjo těh ukur bisa ti kajauhan hungkul.

Nyak kamari pisan, poě Salasa (17/2/2015) aya ku kabeneran, barudak Komunitas Aleut ulin ka Biofarma, atuh kuring teu kalěkěd langsung wě milu daptar. Barang jol ka gerbang hareup, satpam geus rajěg, aya kana lima urang mah. Tuluy ketua rombongan měrěkeun surat ijin, teu kungsi lila bring wě barudak gě milu arasup.

Kuring saparakanca ditampa di rohangan paragi prěsěntasi, gigireun pisan rohangan paragi dahar, atuh ka beurangnakeun mah ting pelenghir kadaharan nu geus arasak těh. Enya da kitu, ceuk si ětěh (těh Yuni mun teu salah mah) nu nerangkeun gě, yěn pagawě Biofarma mah sapopoěna diběrě dahar. Eta gě bisa meuli dahar di luar cenah, ngan tempatna rada anggang ti kantor.

Sanggeus diuk sajongjonan, jol urang Biofarma tiluan, tuluy ngabagěakeun. Atuh ti Komunitas Aleut gě teu kurang-kurang nganuhunkeun. Kang Edwin jenenganna, anjeunna pisan nu saterasna nerangkeun ngeunaan sajarah Biofarma ti mimiti jaman Walanda tug dugika kiwari. Kuring jeung barudak pogot pisan ngadangukeun, da tětěla loba pisan hal anu kakara apal.

Měměh diěcěsjentrěkeun ngeunaan sajarah, widang usaha, sarta rupa-rupa vaksin jeung sěrum, dipiheulaan heula ku muter vidio jaman baheula. Barang nembongkeun jalma-jalma nu katarajang panyakit cacar api, kuring saharita ting puringkak bulu punduk; linu nakěr. Da katempo ěcěs pisan aya sababaraha jalma nu pinuh saawak-awak ku cacar api. Malah aya ogě budak leutik nu beungeutna tutung.

***

Mang Otten
Biofarma diadegkeun taun 1890. Mimitina mah di Batavia, tuluy taun 1923 pindah ka Bandung. Hal ěta alatan Pamarěntah Walanda ngarasa hariwang, yěn Batavia těh kacida babari pisan upama dijorag ku musuh. Boh ti darat, laut, atawa udara--kusabab kaayaan lemahna rata euweuh gunung atawa pasir hiji-hiji acan, nyak hal ieu nu dipikasieun ku Walanda těh.

Saměměh dingaranan Biofarma, ieu tempat paragi nyieun vaksin jeung sěrum těh ngaranna “Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur”, matak jalan nu dihareupeunna gě dingaranan Jalan Pasteur. Saha atawa naon ari Pasteur těh?

Louis Pasteur nyaěta hiji jelema linuhung ku ělmu jembar ku pangabisa, nu babar jeung maotna di Perancis. Anjeunna nu narěkahan obat pikeun panyakit rabies nu disababkeun ku anjing ědan. Di sakuliah dunya, kurang leuwih aya 60 nagara nu miboga Institut Pasteur, salah sahijina di Indonesia, nu anyeuna ngaranna Biofarma.

Baheula mangsa rahayat katarajang panyakit cacar api nu pinuh saawak-awak, aya sababara jelema nu pagawěanna purah meres susu sapi, teu ngilu katěpaan. Nempo kaayaan ieu sababaraha jelema pinter ngarasa hěran, naha bet bisa kieu? Nyak antukna mah jang miceun kapanasaran, tuluy ditalumtik. Eta nanah tina cacar api těh disuntikkeun ka sapi, tuluy sanggeus kitu tina sapi dibawa deui cai, tah ěta cai těh disuntikkeun ka budak leutik; ěta budak salamet tina cacar api! Ti dieu mimitina dijieun vaksin cacar api těh.

Anyeuna panyakit cacar api geus euweuh di sakuliah dunya, matak vaksinna gě geus teu dijieun deui, tapi ari virusna mah aya kěněh diteundeun di WHO. Cenah panyakit polio gě sakeudeung deui bakal tumpur salilana jeung di sakuliah dunya. Da ěta we anyeuna mah geus jarang pisan aya budak nu keuna ku panyakit polio těh.

Kumaha carana nangtukeun hiji panyakit geus tumpur? Ceuk Kang Edwin nu ti Biofarma těa, nyaěta mun dina jero lima taun kahareup di sakuliah dunya geus euweuh deui nu katarajang, nyak ěta patokanna yěn panyakit těh geus disebut tumpur. Aya hiji conto, dina sababaraha taun ka tukang panyakit polia geus rěk disebut leungit, ngan dina taun 2010 aya hiji budak di Sukabumi nu katarajang, tungtungna teu tulus disebut “bebas polia” těh. Tapi insyaAlloh mun nepika taun 2018 di sakuliah dunya euweuh deui nu keuna ku polio, ěta panyakit těh baris “dipangsiunkeun” ka WHO, jeung vaksin-na moal dijieun deui.

Kira taun 1950-an katompernakeun, basa keur ramě anjing ědan nu matak nyieun rabiěs, ampir kaběh jelema nu kulawargana digěgěl anjing, pasti sok langsung dibawa ka Biofarma. Matak baheula mah Biofarma těh katelah “Rumah Sakit Anjing Edan”. Memang harita gě serum jang rabiěs geus aya, jadi teu melang teuing mun direwěg anjing ědan těh.

Kiwari vaksin jeung sěrum geus dijieun loba jeung rupa-rupa. Aya keur hěpatitis, flu, tětanus, polio, campak (tampek), jeung sajabana. Sasatoan nu dibutuhkeun jang nyieun sěrum, baheula mah aya kandangna di komplek Biofarma Jl. Pasteur, tapi anyeuna mah kusabab lebah dinya gě geus gegek pisan, matak sakur-sakur kandang sasatoan dipindahkeun ka Cisarua. Mun ti arah Lědeng atawa Jl. Koloněl Masturi mah saměměh Rumah Sakit Jiwa.   

Lapang mengbal
Mun urang nitěnan ngaran-ngaran jalan di sabudeureun Biofarma jeung Rumah Sakit Hasan Sadikin, urang tangtu baris manggihan nu ngaranna Jalan Ottěn jeung Jalan Nylan. Tah dua ngaran ěta jalan těh dumasar kana ngaran dua urang Walanda nu baheula kungsi mingpin Biofarma. Foto-fotona aya di Musium Biofarma, malah Ottěn mah aya patungna sagala.

***

Saba’da nerangkeun sajarah jeung rupa-rupa vaksin katut sěrum, Kang Edwin sareng si tětěh tuluy mawa kuring saparakanca ngurilingan komplěk Biofarma. Di dieu teu meunang sagawayah moto, sabab aya sababaraha tempat anu teu meunang, contona waě tempat produksi. “Punten nyak, engkin di tempat produksi mah teu kenging moto, margi seueur pisan cctv. Pami kayahoan tantos abdi sareng Kang Edwin nu diseuseulan,” saur si tětěh.

Bral wě rombongan indit. Nu mimiti ditempo těh nyaěta plakat nu ngajelaskeun yěn wangunan Biofarma těh salah sahiji cagar budaya nu ditangtayungan ku pamarěntah. Di deukeutna aya ukiran Dr. Nylan warna hideung.

Ti dinya tuluy ka musium nu di jerona aya poto-poto pamingpin Biofarma ti jaman walanda mula. Aya ogě sababaraha oray jeung bayongbong nu diair keras. Leuh, matak gila saliwat mah. Da ěta wě bayongbongna gě koatka gedě naker. Teu kaliwat aya ogě alat-alat urut penelitian baheula, lumayan lengkep. “Ah ieu mah da nu karawatan hungkul, janten teu patos seueur. Nanging sakieu gě atos uyuhan,” saur si tětěh.

Di dinya gě aya patung Dr. Ottěn nu jangkungna sadada, cenah mah anjeunna těh urut pamaěn BIVB (Persib anyeuna mah) nu munggaran. Asa kaingetan, di ieu komplek těh aya hiji lapang měngbal paragi maěn pagawě nu di tengahna aya hiji tangkal gedě. Teuing tangkal nanahaon, Ki Hujan sigana mah, da ěta wě meni badag jangkung tur ariuh. Kuring sajongjonan ngabayangkeun, kumaha mun keur pogot měngbal tuluy jalma poho yěn di dinya těh aya tangkal gedě, sok paur diadu wě jeung tangkal, kacipta pohara nyerina meureun.
Sanggeus seubeuh motoan nu aya di jero musium, tuluy rombongan neruskeun ka tempat produksi. Leuh aya ku reuwas, barang kuring jeung barudak keur jongjon leumpang, na ari beledug-beledug těh sora kawas karbit dibeuleum tina paralon leutik, jaba ngaluarkeun haseup deuih. Ceuk si tětěh tong sieun, da ěta mah haseup nu teu bahaya cenah.

Pas ngaliwatan tempat produksi mah wayahna kuring saparakanca teu boga dokuměntasi pikeun arsip. Tapi aya hiji nu lumayan nyieun bungah, nyaěta di tukang deukeut lapang měngbal, handapeun tangkal sawo pisan aya hiji tutunggul. Saurna mah ěta těh tutunggul urang Jepang nu baheulana milu ulukutek dina ngarojong Biofarma. Basa anjeunna maot, sateuacan ngantunkeun, cenah aya hiji wasiat; měnta sawarěh lebuna diawurkeun di Indonesia. Tah nu nyieun bungah těh pědah ěta tutunggul mah meunang dipoto.

Samet dinya rombongan baralik deui ka tempat mimiti. Barang keur laleumpang, di beulah katuhu jalan aya kulkas garedě. Lain kulkas siga nu di imah, ieu mah kulkasna gě siga kandang, baradag jeung tohaga naker. Suhuna antara dua nepika dalapan darajat cělcius. Dina palebah pantona aya tulisan “maksimal di dalam 15 menit (paling lila di jero 15 menit)”, bisi kabulusan tuluy jengker meureun matak ditulisan kitu gě.


Saměměh mulang ka imah sěwang-sěwangan, rombongan dipoto heula hareupeun wangunan nu pang alusna. Aya meureun genep kali mah. Leuh Alhamdulillah, kabul kahayang těh. Geus teu panasaran deui ka Rumah sakit Anjing Edan těh anyeuna mah. Nuhun pisan ka Biofarma sarěngrěngan nu tos masihan widi kanggo kukurilingan, utamina kanggo Kang Edwin sareng si tětěh nu nganggo anderok beureum, nuhun pisan. Cag! [ ] 

Tutunggul urang Jepang



20 November 2014

PERSIB : Baheula, Anyeuna, Salawasna

Saya pernah bertanya-tanya, kenapa di luar negeri sana ada saja pendukung klub-klub medioker yang begitu setia tanpa tergoda sedikit pun untuk menjadi pendukung klub-klub besar. Saya lupa, karena terlalu sering melihat jersey KW klub besar Eropa di sini, sehingga alpa pada satu hal yang sangat fundamental; bahwa mereka, pada pendukung klub medioker itu adalah pewaris sah dari para tetua moyang mereka yang sudah berdiri di tribun sejak dari dulu. Meski bukan klub medioker, namun hal tersebut terjadi pula pada Bobotoh Persib.

Tak tahu persisnya bagaimana proses pewarisan itu berlangsung, tapi yang saya ingat sekitar tahun 1995, waktu Persib berlaga di Piala Champion Asia, dengan radio kecil bermerek Sony, saya kesal dengan gelombang radio yang kemerosok, timbul tenggelam seperti di sapu angin. 

Dari pelosok selatan Sukabumi, saya dengan penuh antusias mendengarkan siaran radio pertandingan-pertandingan Persib melawan Verdy Kawasaki, Bangkok Bank, Ilhwa Chunma, Thai Farmers Bank, dan Pasay City FC. Di kamar belakang, waktu kawan-kawan saya bermain petak umpet di halaman masjid, saya justeru sibuk memutar-mutar antena radio demi mendapatkan suara yang agak jernih. Ini laga internasional! Dan saya tak boleh melewatkannya.


Persib sudah hampir seperti udara. Di kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari Kota Bandung, kalau Persib berlaga, para tetangga pasti ramai membicarakannya. Kang Entang, seorang tetangga yang kebetulan juga pemain bola kelas Kelurahan, paling gencar kalau sudah membincangkan Persib. Kumis tebalnya yang mirip Adeng Hudaya ngajepat gagah. “Tah euy, mun maraneh jadi bek, tempo Roby Darwis. Si eta conto paling alus jang jadi bek!”

Anak-anak, termasuk saya, pasti banyak yang nimbrung mendengarkan obrolan-obrolan tentang Persib itu. Kami tidak mengenal jarak yang terbentang, bagi kami karena Persib bermarkas di Ibu Kota Jawa Barat, maka kami sebagai warga Jawa Barat adalah juga bagian darinya. Sesederhana itu. Tapi kecintaan yag lahir kemudian seringkali tak terbendung. Persib lalu menjadi semacam elan vital bagi para bobotoh yang telah dijodohkan oleh Tuhan dengan klub kebanggaannya. Ya, bukan kami yang memilih Persib, tapi Tuhan yang menakdirkan.

Silahkan tanya bobotoh, sejak kapan mereka mencintai Persib? Pasti mayoritas tidak ingat, sebab sejak lahir pun takdir menjadi bobotoh telah melekat. Ini adalah cinta yang mengalir di urat nadi. Sepakbola telah menjadi neo tribal yang mengakar. Dan saya hanyut dalam arus besarnya. Di titik ini, bobotoh tak akan pernah menghitung untung rugi dalam mendukung klubnya. 

***


Setelah pertarungan sengit di Piala Champion Asia, Persib pasang surut; baik secara prestasi maupun secara financial. Saya seringkali mengikuti beritanya dengan ngeri-ngeri sedap sekaligus ngilu. Yang paling menegangkan adalah waktu persib hampir terperosok ke jurang degradasi! 

Di tengah perjuangan Persib melepaskan diri dari ancaman degradasi, konon saat itu juga anak Mang Ayi Beutik lahir. Dan sebagai bentuk do’a, maka Mang Ayi menamai anaknya dengan sebuah nama yang sangat epic : Jayalah Persibku.

Inilah bentuk totalitas dukungan yang nyata dari seorang bobotoh kepada Persib. Barangkali orang-orang menyebutnya anomali, dan demi Persib Mang Ayi telah mempersetankan komentar miring orang-orang itu.

Akhir yang menyedihkan sebetulnya, bahwa Persib juara setelah 19 tahun penantian justeru ketika Mang Ayi telah tiada :(
Mang Ayi Persib Juara!!

***

Tanggal 8 November 2014, pagi-pagi sekira jam 6, saya sudah berada di depan Gedung Sate. Datang pagi hanya untuk merasa pedih melihat bus-bus yang dipakai rombongan bobotoh ke Palembang hancur. Rivalitas dan permusuhan telah memanen anak kandungnya sendiri. Dunia sepakbola memang keras, dan entah sampai kapan kebencian itu akan tetap subur.

Beberapa bobotoh terluka dan dengan sigap langsung ditolong anggota PMI. Ada juga yang tengah minum kopi dan merokok sambil berbincang-bincang ihwal pengalamannya berperang di tol TB. Simatupang. Katanya, dini hari tadi tol dalam kota tak ubahnya seperti sebuah medan laga yang menegangkan.

Satu jam kemudian saya pulang untuk persiapan siang hari; pesta rakyat!

***

Sebenarnya jadwal resmi arak-arakan tim Persib dimulai pada jam 14.00, tapi saya sedari jam 10.00 telah berada di dekat Gasibu dengan kamera digital di tangan. “Anterin ke Gasibu, takut keburu macet!,” adik saya males sebetulnya, tapi terpaksa juga nganterin kakaknya. 


Betul saja, sisi barat Gedung Sate sudah dipadati bobotoh yang menunggangi kendaraan roda dua. Motor tak bisa jalan, semua tertahan dalam lautan biru. Barangkali untuk mengusir suntuk karena macet, beberapa bobotoh membunyikan klakson dan meraung-raungkan motornya dengan tarikan gas yang memekakkan telinga. Ada juga suara petasan, mercon, dan flare.

Saya bergerak ke depan Gedung Sate yang juga telah dipadati bobotoh beragam umur; dari balita sampai aki-aki hadir di sana. Waktu terus berjalan, menjelang jam dua siang langit mulai kelabu dan mendung. Tak lama kemudian hujan pun turun. Karena tempat berteduh telah habis, maka saya putuskan untuk berlari ke arah jalan Banda. 

Berteduh sebentar sambil jajan cuanki, dan ngobrol dengan rombongan bobotoh Dayeuh Kolot. Kemudian meneruskan perjalanan menuju jalan Riau (Martadinata). Jalanan macet! Menjelang sore saya sampai di jalan Merdeka, tepat di depan BIP. Di sana suasanannya ramai juga. Orang-orang yang hendak atau telah selesai berbelanja ikut menonton bobotoh yang konvoi.   

Saya naik ke jembatan penyeberangan jalan Merdeka, dan menyaksikan konvoi bobotoh yang seolah tiada habisnya. Sepanjang mata memandang ke arah jalan Ir. H. Djuanda, warna biru menguasai. Sementara lagu “Halo-halo Bandung” terus berkumandang. [ ]