Showing posts with label Sepakbola. Show all posts
Showing posts with label Sepakbola. Show all posts

20 June 2021

33 Tahun Menjadi Bobotoh Belanda

Setiap orang yang menulis kehidupan masa kecilnya harus tahu, menulis masa bocah seolah dirinya keren adalah pekerjaan sia-sia. Menulis masa lalu harus dilihat dari pandangan masa lalu, bukan sebaliknya. Diri kita yang keren saat ini tak bisa diseret ke belakang, kecuali angka-angka.

Tahun 1988 saat itu. Setahun sebelum saya masuk sekolah dasar. Suatu malam, tiba-tiba saja final Piala Eropa telah datang: Uni Soviet vs Belanda. Paman saya (alm) pegang Soviet, sementara kami—saya dan keponakannya yang lain--pegang Belanda. Kesepakatan sederhana: siapa yang timnya kalah, wajib digetok.

Gullit dan Van Basten cetak gol. Kepala paman saya habis. Sejak itulah saya menjadi bobotoh atau pendukung Belanda. Saat Trio Belanda—Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard—ke AC Milan, klub ini juga jadi favorit saya, bertahun-tahun.

Menjadi bobotoh Belanda tak pernah mudah. Sejak 1988, Belanda tak pernah juara lagi. Kutukan Piala Dunia 1974 dan 1978 selalu datang berulang.

Kita sisir Piala Eropa dulu. Warsa 1992 digelar di Swedia. Saya baru kelas 3 SD. Belanda lolos ke semifinal, namun kalah oleh Denmark dalam drama adu pinalti. Pinalti Marco Van Basten gagal. Tim dari Skandinavia ini sebetulnya hanya cadangan. Mereka menggantikan Yugoslavia yang didera Perang Balkan. Namun mereka akhirnya jadi juara dan dijuluki “dinamit”.

Piala Eropa 1996 digelar di Inggris. Saya kelas 1 SMP. Kala itu ramai istilah “Football’s Coming Home”. Nyatanya Inggris terlalu overrated. Bagaimana dengan Belanda? Tersingkir lagi dalam adu pinalti. Kali ini yang gagal mencetak gol adalah Clarence Seedorf.

Empat tahun kemudian Piala Eropa digelar di dua negara: Belanda dan Belgia. Waktu itu saya telah kelas 2 SMA. Tabloid Bola pernah menulis headline berjudul “No Frontier”, sepak bola tanpa batas. Belanda tampil begitu meyakinkan dan lolos ke semifinal, tapi lagi-lagi kalah dalam adu pinalti. Diganjal Italia dengan skor 1-3, padahal sejak menit ke-34 Italia bermain dengan 10 pemain.

Empat warsa setelahnya, atau setahun sebelum saya lulus kuliah, giliran Portugal jadi tuan rumah Piala Eropa. Di perempat final Belanda mengalahkan Swedia lewat adu pinalti, tumben. Namun di semifinal ditekuk Portugal 2-1. Kali ini yang jadi juara Yunani: sangat mengejutkan.

Piala Eropa 2008—digelar di Austria dan Swiss—adalah salah satu episode yang paling menjengkelkan. Di babak penyisihan, Belanda sangat perkasa. Italia dibantai 3-0, Prancis dilumat 4-1, dan menghajar Rumania 2-0. Namun saat berhadapan dengan Rusia di perempat final, Belanda begitu loyo, diobrak-abrik Arshavin cs hingga kalah 1-3.

Edisi berikutnya Piala Eropa digelar di Polandia dan Ukraina. Apa yang terjadi dengan Belanda pada pesta akbar sepakbola tahun 2012 itu? Sampah belaka. Mereka jadi juru kunci setelah ditekuk Denmark 0-1, dikalahkan Jerman 1-2, dan dipermalukan Portugal 2-1. Angkat kaki lebih awal.

Kemudian tahun 2016 pun datang. Kali ini Piala Eropa digelar di Prancis. Belanda lebih dari sampah. Mereka tak lolos setelah hanya finish di urutan ke-4 dalam kualifikasi. Menang 4 kali, imbang 1 kali, dan kalah 5 kali. Di klasemen akhir berada di atas Kazakhtan dan Latvia, tetapi di bawah Turki, Islandia, dan Ceko. Benar-benar busuk!

 

Piala Dunia Lebih Menyakitkan  

Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti Belanda sejak saya menjadi penggemarnya. Sebagai juara bertahan Piala Eropa dua tahun sebelumnya, dan diperkuat sejumlah pemain bintang, Belanda tentu saja diunggulkan.

Namun, prestasi yang ditunjukkan sebaliknya. Tiga pertandingan dalam babak penyisihan semuanya berakhir imbang: vs Mesir 1-1, vs Inggris 0-0, dan vs Republik Irlandia 1-1. Untung masih lolos ke perdelapan final gara-gara menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Di babak ini langsung bertemu Jerman Barat yang akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Argentina 1-0. Maradona menangis. Dalam partai itu Frank Rijkaard meludahi Rudi Voeller.

Piala Dunia berikutnya digelar di Amerika Serikat. Terjadi gegar budaya. Penonton Indonesia yang biasanya menyaksikan sepak bola Eropa pada malam atau dini hari, kali ini harus menontonnya pagi hari. Kala itu saya masih kelas 5 sekolah dasar.

Setelah lolos dari Grup F bersama Arab Saudi dan Belgia, Belanda harus berhadapan dengan Republik Irlandia. Berhasil melewati tim semenjana itu, kemudian Brazil telah menanti. Saat itu Romario dan Bebeto tengah menggila. Setelah Aron Winter berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit ke-76, Branco akhirnya membawa Brazil ke semifinal lewat gol dari jarak jauh pada menit ke-81. Belanda pulang.

Saya masuk SMA pada tahun 1998, saat Prancis mendapat giliran menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mulai merantau, mulai jauh dari orang tua. Saya lupa, entah di mana saya bisa nonton Piala Dunia, sebab saat itu saya indekos dan tak punya tv.  Induk semang memang punya tv, tapi saya sangat malu untuk ikut menonton sepak bola.

Singkat cerita, Belanda lolos ke perdelapan final lalu menghajar Yugoslavia 2-1. Kemudian membenamkan Argentina di perempat final 2-1 setelah Dennis Bergkamp mencetak gol cantik di menit ke-89. Di semifinal lagi-lagi diadang Brazil dan tersingkir lewat adu pinalti. Phillip Cocu dan Ronald De Boer gagal mencetak gol.

Empat tahun berikutnya Belanda gagal lolos ke Korea Selatan-Jepang. Kalah bersaing di kualifikasi Grup 2 Eropa. Mereka hanya finish di peringkat tiga di bawah Republik Irlandia dan Portugal. Saat itu saya tengah menganggur: sudah lulus SMA tapi tak lolos UMPTN.

Kemudian 2006 datang. Piala Dunia kembali digelar. Jerman menjadi tuan rumah. Saya sudah lulus kuliah dan baru sebulan kerja di sebuah travel di Bandara Sukarno-Hatta. Belanda lolos sih, juga sanggup ke perdelapan final, tapi keburu dihajar Portugal 1-0. Tak istimewa.

Dan saat yang paling menyakitkan pun tiba. 2010 Piala Dunia datang ke Afrika Selatan. Ya, “Waka Waka”, “This Time for Africa”. Saya sudah pindah kerja ke Pulogadung. Di penyisihan grup Belanda sapu bersih: vs Denmark 2-0, vs Jepang 1-0, dan vs Kamerun 2-1. Juara grup.

Slovakia dihajar 2-1 di perdelapan final. Selanjutnya Brazil. Tim yang biasanya mengganjal Belanda itu tak berdaya, ditekuk 2-1 di perempat final. Belanda kian perkasa. Di semifinal giliran Uruguay yang digebuk 3-2. Giovanni Van Bronckhorst cetak gol spektakuler.

Spanyol sudah menunggu di final. Saya nonton di kamar si Jun, kawan indekos yang sehari-hari jualan di ITC Cempaka Mas. Deg-degan sejak menit pertama. Barangkali inilah saatnya menebus kekelahan pada tahun 1974 dan 1978. Arjen Robben berkali-kali mendapat pelung, namun semuanya gagal. Pertandingan dilanjutkan lewat perpanjangan waktu. Dan petaka pun datang pada menit ke-116. Iniesta menjebol gawang Stekelenburg!

Saya tertegun setelah menghamburkan kata anjing.

Besoknya bangun kesiangan. Tiba di kantor hampir pukul 10. Tapi bos tak banyak cincong. Hanya tersenyum. Dia tahu saya bobotoh Belanda.

Empat tahun kemudian di Brazil, dendam terbalaskan. Spanyol dibantai 5-1 di babak penyisihan. Lolos ke perdelapan final sebagai juara grup, Belanda menekuk Meksiko 2-1. Di perempat final ditantang Kosta Rika: menang lewat adu pinalti. Tim Krul tampil cemerlang. Sayang, di semifinal yang lagi-lagi harus diakhiri dengan adu pinalti, Louis Van Gaal tak menurunkan Tim Krul. Dia malah memasang Jasper Cillessen. Belanda pun tersingkir setelah kalah dari Argentina.

Tahun 2018, Belanda mengulang mimpi buruk 2002: kembali tak lolos. Di kualifikasi Grup A zona Eropa, Belanda hanya finish di urutan ke-3. Di bawah Swedia dan Prancis, dan hanya di atas Bulgaria, Luksemburg, dan Belarus.


Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022  

Piala Eropa 2020 tengah berlangsung. Ya, gara-gara pandemi, gelaran akbar itu diundur satu tahun. Setelah mengalahkan Ukraina (3-2) dan Austria (2-0), Belanda akan menjalani partai ke-3 besok malam melawan Makedonia Utara. Saya kira tak akan menemui kendala berarti. Belanda telah lolos sebagai juara grup, tinggal menanti lawan berikutnya. Semoga Mola TV tidak terus-terusan menjadi medioker.

Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Belanda sementara berada di urutan ke-2, di bawah Turki. Apakah akan lolos? Saya sih optimis. Tapi kita lihat saja.

Waktu berlalu, masa berganti, generasi berubah. Marco Van Basten, Dennis Bergkamp, dan Robin van Persie telah pensiun. Kini saya menonton generasi Denzel Dumfries, Donyell Malen, dan Matthijs de Ligt.

33 tahun hati saya selalu oranye, dan selamanya. (irf)    

20 November 2014

PERSIB : Baheula, Anyeuna, Salawasna

Saya pernah bertanya-tanya, kenapa di luar negeri sana ada saja pendukung klub-klub medioker yang begitu setia tanpa tergoda sedikit pun untuk menjadi pendukung klub-klub besar. Saya lupa, karena terlalu sering melihat jersey KW klub besar Eropa di sini, sehingga alpa pada satu hal yang sangat fundamental; bahwa mereka, pada pendukung klub medioker itu adalah pewaris sah dari para tetua moyang mereka yang sudah berdiri di tribun sejak dari dulu. Meski bukan klub medioker, namun hal tersebut terjadi pula pada Bobotoh Persib.

Tak tahu persisnya bagaimana proses pewarisan itu berlangsung, tapi yang saya ingat sekitar tahun 1995, waktu Persib berlaga di Piala Champion Asia, dengan radio kecil bermerek Sony, saya kesal dengan gelombang radio yang kemerosok, timbul tenggelam seperti di sapu angin. 

Dari pelosok selatan Sukabumi, saya dengan penuh antusias mendengarkan siaran radio pertandingan-pertandingan Persib melawan Verdy Kawasaki, Bangkok Bank, Ilhwa Chunma, Thai Farmers Bank, dan Pasay City FC. Di kamar belakang, waktu kawan-kawan saya bermain petak umpet di halaman masjid, saya justeru sibuk memutar-mutar antena radio demi mendapatkan suara yang agak jernih. Ini laga internasional! Dan saya tak boleh melewatkannya.


Persib sudah hampir seperti udara. Di kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari Kota Bandung, kalau Persib berlaga, para tetangga pasti ramai membicarakannya. Kang Entang, seorang tetangga yang kebetulan juga pemain bola kelas Kelurahan, paling gencar kalau sudah membincangkan Persib. Kumis tebalnya yang mirip Adeng Hudaya ngajepat gagah. “Tah euy, mun maraneh jadi bek, tempo Roby Darwis. Si eta conto paling alus jang jadi bek!”

Anak-anak, termasuk saya, pasti banyak yang nimbrung mendengarkan obrolan-obrolan tentang Persib itu. Kami tidak mengenal jarak yang terbentang, bagi kami karena Persib bermarkas di Ibu Kota Jawa Barat, maka kami sebagai warga Jawa Barat adalah juga bagian darinya. Sesederhana itu. Tapi kecintaan yag lahir kemudian seringkali tak terbendung. Persib lalu menjadi semacam elan vital bagi para bobotoh yang telah dijodohkan oleh Tuhan dengan klub kebanggaannya. Ya, bukan kami yang memilih Persib, tapi Tuhan yang menakdirkan.

Silahkan tanya bobotoh, sejak kapan mereka mencintai Persib? Pasti mayoritas tidak ingat, sebab sejak lahir pun takdir menjadi bobotoh telah melekat. Ini adalah cinta yang mengalir di urat nadi. Sepakbola telah menjadi neo tribal yang mengakar. Dan saya hanyut dalam arus besarnya. Di titik ini, bobotoh tak akan pernah menghitung untung rugi dalam mendukung klubnya. 

***


Setelah pertarungan sengit di Piala Champion Asia, Persib pasang surut; baik secara prestasi maupun secara financial. Saya seringkali mengikuti beritanya dengan ngeri-ngeri sedap sekaligus ngilu. Yang paling menegangkan adalah waktu persib hampir terperosok ke jurang degradasi! 

Di tengah perjuangan Persib melepaskan diri dari ancaman degradasi, konon saat itu juga anak Mang Ayi Beutik lahir. Dan sebagai bentuk do’a, maka Mang Ayi menamai anaknya dengan sebuah nama yang sangat epic : Jayalah Persibku.

Inilah bentuk totalitas dukungan yang nyata dari seorang bobotoh kepada Persib. Barangkali orang-orang menyebutnya anomali, dan demi Persib Mang Ayi telah mempersetankan komentar miring orang-orang itu.

Akhir yang menyedihkan sebetulnya, bahwa Persib juara setelah 19 tahun penantian justeru ketika Mang Ayi telah tiada :(
Mang Ayi Persib Juara!!

***

Tanggal 8 November 2014, pagi-pagi sekira jam 6, saya sudah berada di depan Gedung Sate. Datang pagi hanya untuk merasa pedih melihat bus-bus yang dipakai rombongan bobotoh ke Palembang hancur. Rivalitas dan permusuhan telah memanen anak kandungnya sendiri. Dunia sepakbola memang keras, dan entah sampai kapan kebencian itu akan tetap subur.

Beberapa bobotoh terluka dan dengan sigap langsung ditolong anggota PMI. Ada juga yang tengah minum kopi dan merokok sambil berbincang-bincang ihwal pengalamannya berperang di tol TB. Simatupang. Katanya, dini hari tadi tol dalam kota tak ubahnya seperti sebuah medan laga yang menegangkan.

Satu jam kemudian saya pulang untuk persiapan siang hari; pesta rakyat!

***

Sebenarnya jadwal resmi arak-arakan tim Persib dimulai pada jam 14.00, tapi saya sedari jam 10.00 telah berada di dekat Gasibu dengan kamera digital di tangan. “Anterin ke Gasibu, takut keburu macet!,” adik saya males sebetulnya, tapi terpaksa juga nganterin kakaknya. 


Betul saja, sisi barat Gedung Sate sudah dipadati bobotoh yang menunggangi kendaraan roda dua. Motor tak bisa jalan, semua tertahan dalam lautan biru. Barangkali untuk mengusir suntuk karena macet, beberapa bobotoh membunyikan klakson dan meraung-raungkan motornya dengan tarikan gas yang memekakkan telinga. Ada juga suara petasan, mercon, dan flare.

Saya bergerak ke depan Gedung Sate yang juga telah dipadati bobotoh beragam umur; dari balita sampai aki-aki hadir di sana. Waktu terus berjalan, menjelang jam dua siang langit mulai kelabu dan mendung. Tak lama kemudian hujan pun turun. Karena tempat berteduh telah habis, maka saya putuskan untuk berlari ke arah jalan Banda. 

Berteduh sebentar sambil jajan cuanki, dan ngobrol dengan rombongan bobotoh Dayeuh Kolot. Kemudian meneruskan perjalanan menuju jalan Riau (Martadinata). Jalanan macet! Menjelang sore saya sampai di jalan Merdeka, tepat di depan BIP. Di sana suasanannya ramai juga. Orang-orang yang hendak atau telah selesai berbelanja ikut menonton bobotoh yang konvoi.   

Saya naik ke jembatan penyeberangan jalan Merdeka, dan menyaksikan konvoi bobotoh yang seolah tiada habisnya. Sepanjang mata memandang ke arah jalan Ir. H. Djuanda, warna biru menguasai. Sementara lagu “Halo-halo Bandung” terus berkumandang. [ ]

23 April 2014

Ngopi (di) Jakarta


 Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. ~ Joko Pinurbo

Bahkan ketika malam telah sempurna menelan siang, dan suhu udara sudah mulai turun, Jakarta adalah tempat di mana kopi harus bergelas-gelas dituangkan jika kita taat kepada sepenggal puisi Joko Pinurbo di atas. Kalau mau jujur, rezeki bukan sekadar yang ditakar di penghujung hari, penghujung bulan, atau penghujung apa pun yang menandai masuknya uang ke kantong kita sebagai pendapatan. Rezeki lebih dari sekadar alat tukar yang berada di genggaman.

Dalam timbangan agama muncul kata “syukur” yang menunjuk kepada rasa terimakasih terhadap apa pun yang membuat kita bahagia, senang (sudah gajian,  misalnya), atau bernafas lega. Lebih dari itu, “syukur” adalah penanda, semacam garis demarkasi vertical antara “Yang Maha (Kuasa)” dan “yang biasa (lemah)”.

Pada kelahiran anak, hutang yang terbayar, istri yang cantik, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, bergoyang dalam irama dangdut, timnas U19 juara Piala AFF, sarapan lontong sayur, punya pacar yang pengertian, sembuh dari sakit, kenaikan gaji, dagangan laris-manis, dan hal-hal lain yang mampu menenteramkan ego; biasanya kata “syukur” punya tempat tersendiri yang  terhormat. Dalam pengertian yang luas, hal-hal demikian adalah rezeki juga.

Maka dari sepenggal puisi Joko Pinurbo itu dapat kita ambil dua kata; “rezeki” dan “kopi”. Di Jakarta, dua kata ini—di antara umpat dan serapah mengutuk kebusukan kota—mestinya bisa berjejalin; mereda dalam hening, mengendap, lalu mencuat sebagai kesadaran yang pada akhirnya mengalir pada dua arah (personal dan sosial), namun bertemu dalam satu muara yang sama (damai dan lega, meskipun tidak sepenuhnya).

***

Dalam pemahaman yang sederhana, kerja dalam balutan profesi, sebagai sebuah contoh menuju mendapatkan rezeki, bisa diibaratkan sebagai gerak personal, individual, kalau pun pada kenyataannya selalu dan mesti ada interaksi sosial dalam prosesnya. Namun kerja (apalagi di jaman yang kompetitif seperti sekarang) sesungguhnya adalah himpunan gerak tiap individu yang masing-masing mempunyai ambisi, target, dan cita-cita sendiri. Di titik ini kita bisa menyadari kenapa ada saja rekan kerja yang saling jegal, bersaing tidak sehat, dan aksi vulgar dengan saling lempar tuduhan di jejaring sosial, misalnya. Pedagang pun sama; saling banting harga, serobot pelanggan, atau menyebar fitnah-fitnah yang menyerang saingan. Tidak jarang kita pun mendengar kabar tentang pertumpahan darah akibat rebutan lahan parkir.

Menuju mendapatkan rejeki seringkali membutuhkan proses yang tidak gampang. Di sana ada keringat, kecewa, tangis, perjuangan, amarah, teriak, kesabaran, urat-urat menegang, dan stress.

Sebagai contoh, siapa yang tidak merasakan debar jantung, dan ketegangan yang sangat ketika adu pinalti antara Indonesia melawan Vietnam di final Piala AFF baru-baru ini?. Menuju juara, menuju rezeki yang membahagiakan itu, kita mesti melewati segala rupa gelombang emosional yang bukan main-main. Tetangga saya sampai berteriak-teriak setiap kali algojo-algojo Indonesia berhasil merobek gawang lawan. Dan sebaliknya, dia hening komat-kamit memanjatkan do’a, berharap agar pemain-pemain lawan gagal mengeksekusi. Stress dari penendang ke penendang.

Sakit menuju sembuh, menuju rejeki yang menyenangkan itu, juga harus melewati fase yang tidak mudah. Di sana ada keluh, rintih, bahkan mungkin tangis, asa untuk sembuh ditakar di tengah kesal dan kesabaran.

Buruh yang berdemo demi kenaikan gaji adalah contoh yang terlalu jelas, di mana kosa-kata perjuangan mendapatkan marwahnya yang paling populer.

Begitulah, proses menuju mendapatkan rezeki, yang sebagian di antaranya sebagai laku personal; kerap menegangkan urat syaraf, meledakkan emosi, dan mengundang tangis. Dia adalah kobar api yang belum reda.

***

Api menjadi bara, kemudian berganti abu adalah keniscayaan. Serupa siklus hidup dan mati. Tapi sebagaimana hidup yang bisa kembali bersarang pada jiwa yang berbeda, api pun bisa kembali berkobar pada benda lain yang dia bakar. Di sini, kopi dan semangat, pada “menjelang-proses-menuju-mendapatkan” rezeki kita tempatkan dengan rendah hati.

Memang tidak semua orang, mungkin hanya hampir, bahwa pada beberapa kesempatan selepas laku mencari rezeki, kopi adalah pilihan terbaik untuk melepas lelah dan penat. (Biasanya) sambil merokok, orang-orang menyesap kopi. Pelan-pelan, penuh perasaan, sementara keringat mulai kering, dan urat-urat kembali mengendur. Kobar seharian perlahan mereda dan menjadi bara; menyala di dalam.

Dalam keseharian kita, kopi begitu kental dengan simbol-simbol kebersaman, kehidupan sosial yang cair, sersan (serius tapi santai). Ini tentu tidak bisa lepas dari peran warung kopi yang mewadahi hal-hal tersebut. Kita masih ingat grup lawak legendaris; Dono, Kasino, Indro, mereka mulanya muncul dari sebuah acara di radio yang bertajuk Obrolan Santai di warung Kopi. Warung kopi, di beberapa daerah di Indonesia, memang menjadi tempat berinteraksi yang menarik. Semacam lab sosial tempat orang-orang mencurahkan segala hal, terutama keruwetan hidup.

Dalam literasi fiksi—saya sebut fiksi sebab terbuhul dalam bentuk novel, ada referensi menarik mengenai kehidupan sosial di warung kopi. Kita bisa membuka lagi karya Andrea Hirata; “Padang Bulan” dan “Cinta di dalam Gelas”. Meskipun pendadaran cerita ditulis dari sudut pandang orang pertama, dan deskripsinya hanya “sekadar” hasil pengamatan, namun kurang lebih bisa memberi gambaran mengenai fungsi warung kopi di kehidupan sosial.

Dalam satu paragraph, Andrea menulis begini; “Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Bayangkan itu. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para player.”

Pengamatan Andrea sedikit banyak menunjukkan bahwa warung kopi dihuni oleh mereka yang telah kenyang berjibaku di medan kehidupan. Mereka tegang, stress, kecewa, lalu mencoba berdamai di warung kopi. Di titik ini warung kopi menjadi “ruang publik” yang ideal di tengah kehidupan yang dinamis (untuk tidak menyebut keras), tempat orang-orang membuang sauh, untuk sekadar melemaskan ketegangan, meredakan bara yang menyala seharian, juga berbagi cerita. Dan Jakarta adalah medan laga yang sempurna untuk mempunyai banyak warung kopi. Pejuang-pejuang kehidupan di ibu kota yang lelah, atau bahkan mungkin kalah, perlu ditadah oleh wadah yang tidak perlu istimewa, tapi bisa merawat “luka” agar tidak terlalu parah.

Kenyataan hari ini, Jakarta telah berlaksa rupa menjadi jalan-jalan yang di kuasai mini market cum tempat nongkrong. Orang-orang, terutama anak muda betah berlama-lama di sana. Warung kopi konvensional yang sederhana, yang tempatnya lumayan gerah sebab tempat duduk berdekatan dengan kompor tempat memanaskan air, meskipun kurang tepat memakai kata–mulai ditinggalkan.

Dari sisi tempat, warung kopi telah mempunyai perluasan makna, dari sekadar tempat yang sederhana dan menu sederhana, menjadi mini market dengan standar yang menyesuaikan dengan tuntutan jaman. Tapi poinnya bukan terletak pada revolusi tempat, namun pada interaksi sosial di dalamnya. Sebab di warung kopi biasa atau pun di mini market cum tempat nongkrong, keduanya adalah tempat membuang sauh orang-orang yang hendak menghela nafas.

Maka di muara jejalin paragraph ini, “Ngopi (di) Jakarta” dapatlah dikatakan sebagai sebuah usaha untuk melarung remah-remah rasa lelah dan kalah, perayaan mendapatkan rezeki, merekam cerita-cerita yang terjadi di Jakarta, atau apa pun yang tidak punya definisi namun masih bica diingat untuk kemudian dicatat. Tentu himpunan catatan yang lahir kemudian bukan merupakan sebuah parade tentang canda-tawa semata, tapi lebih beragam, selaras dengan gejolak kehidupan sehari-hari.

Seperti juga kopi, sebagaimana ditulis Dewi Lestari : “Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” Demikian juga hidup di Jakarta ini. [ ]