Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

12 February 2016

Kedai Preanger; Menggabungkan Kuliner dan Literasi


Bandung sejak dulu terkenal dengan beragam kuliner. Dari peuyeum sampai borondong, yang bahkan kedua makanan itu diabadikan dalam bait-bait lagu. Hari ini Bandung pun menjadi salah satu kota tujuan wisata kuliner di Nusantara. Restoran, kafe, dan warung makanan tumbuh subur di kota ini, terutama di ruas-ruas jalan utama. Setiap akhir pekan, para wisatawan domestik kerap memenuhi tempat-tempat ini. Ada yang ingin mencicipi lezatnya makanan, namun tak sedikit pula yang hendak nongkrong dan menikmati suasananya.

Kuliner di titik ini bukan hanya sekadar pemenuhun kebutuhan dasar, namun perlahan telah beranjak menjadi gaya hidup. Konsep berjualan makanan dan minuman kemudian berkembang. Para pemilik usaha ini tak lagi hanya menjajakan barang dagangannya, namun dikemas sedemikian rupa agar pengunjung merasa nyaman. Selain itu, para pemilik usaha pun terkadang mengedepankan idealismenya untuk, misalnya—merepresentasikan minat personal, komunitas, dan lain-lain.

Jika dilihat dari kacamata ekonomi dan budaya kota, perkembangan bisnis ini tentu mempunyai kontribusi tersediri untuk mempertegas identitas kota yang hendak dicitrakan. Kota Bandung dalam hal ini beruntung, sebab laju perkembangan bisnis kuliner dibarengi dengan kerja dan konsep kreatif para pelakunya. Usaha mikro, kecil, dan menengah ini mencuatkan satu kesadaran, bahwa kota tak melulu dibangun oleh firma-firma raksasa, namun juga oleh segenap lini modal usaha yang hidup dan bertahan di tengah medan laga ekonomi kreatif.

Salah satu pemain di bisnis ini, tepatnya yang beroperasi di kawasan Bandung selatan adalah Kedai Preanger. Bertempat di Jl. Solontongan No. 20 D, Buah Batu, kedai yang fokus utamanya menjual sajian kopi dan teh, sampai saat ini setidaknya telah menjalankan usaha selama satu tahun. Saat ditemui di kedai tersebut, Ridwan Hutagalung—salah seorang pemilik, penggagas, dan pengelola kedai ini menjelaskan seputar tempat usahanya.   

“Sudah satu tahun ini Kedai Preanger berdiri di sebuah  ruko sewaan di Jl. Solontongan No. 20-D, Buahbatu, Bandung. Ternyata tidak mudah membuka usaha yang awalnya ingin secara khusus menyediakan berbagai jenis kopi dan teh dari penjuru wilayah Indonesia. Untuk mendapatkan beragam kopi teh ini sudah merupakan kesulitan sendiri,“ ungkapnya.

Namun demikian lanjut Ridwan, meskipun berjalan merayap dengan lambat, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai, mereka tetap mensyukuri masa hidup yang sudah berjalan satu tahun ini. Durasi waktu yang tidak singkat, mengingat banyak kedai, kafe, resto, atau apapun usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar.

Ide yang kemudian dieksekusi dalam bentuk usaha ini, bagi Ridwan dan kawan-kawan (modal patungan) memang disertai dengan idealisme tersendiri. Mereka melihat hal lain dari kondisi kontemporer penjualan beberapa komunitas barang, khususnya teh dan kopi, serta kecintaan mereka kepada tanah Priangan.

“Kedai Preanger kami dirikan sebagai wadah usaha yang mungkin tidak melulu didorong oleh kebutuhan berdagang, ada hal-hal yang lebih jauh dari itu. Belakangan ini penjualan teh Indonesia sering diberitakan menurun, lalu kami menemukan berita bagaimana teh putih Indonesia ternyata belum terlalu dikenal di dalam negeri, dan fakta yang paling mudah ditemui yaitu bagaimana di negeri berpredikat penghasil kopi terbaik dunia ini ternyata kafe-kafenya masih lebih banyak menyediakan kopi-kopi impor. Satu alasan lain yang tak kalah penting adalah kecintaan kami pada wilayah Priangan yang permai ini,” tutur Ridwan.

Bagi Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan, Priangan tercantik yang ada dalam benak mereka adalah Priangan dengan hamparan perkebunan teh yang luas, dengan danau dan kampung yang dikelilingi oleh pergunungan dan hutan lebat. Berjejak dari gambaran tentang Priangan itulah kemudian mereka mengutamakan kopi dan teh.

Pada perjalanannya, karena ditopang oleh jaringan pergaulan yang cukup luas, Kedai Preanger salah satu kerap dikunjungi oleh konsumen yang berlatar hubungan perkawanan yang datang dari banyak tempat, dan hendak mencoba ragam kopi atau teh yang mereka sediakan. Para pengunjung menikmati suasana, bercengkrama sambil berbagi cerita. Terkait hal ini Ridwan menjelaskan, “Mungkin bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa—kami pun tak pernah membuat klaim semacam itu, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya saja, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di kedai kami ini,” tuturnya.    

Karena Ridwan Hutagalung dan beberapa koleganya adalah pendiri dan pegiat Komunitas Aleut, maka kedai ini pun mengisi hari-harinya dengan basis komunitas. Kecintaan pada Tanah Priangan dan visi Komunitas Aleut yang sejalan menjadi modal tersendiri bagi pengembangan Kedai Preanger.

Seperti yang telah dijelaskan di mula catatan ini, para pelaku yang menjalankan roda bisnis ekonomi kreatif di bidang kuliner mempunyai konsep masing-masing yang unik. Dari sudut pandang ini, Kedai Preanger mempunyai konsep dengan pendekatan komunitas, yang seiring waktu komunitas itu mempunyai minat pada bidang sejarah, sastra, budaya, dan banyak hal.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Komunitas Aleut di Kedai Preanger adalah acara Riungan Buku. Di sini setiap pegiat Komunitas Aleut yang hadir meresensi buku secara lisan. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Sabtu. Mereka berdiskusi, bersilang pendapat, kadang berdebat, dan belajar berdialektika. Inilah ikhtiar Kedai Preanger sebagai sebuah usaha ekonomi mikro yang bergerak di bidang kuliner, namun tak abai pada perkembangan dunia literasi.

Meskipun disesaki oleh lembaga pendidikan yang tentu erat kaitannya dengan buku dan membaca, namun bagi dunia literasi Bandung, tak mudah bertarung dengan arus deras konsumerisme. Bandung hari ini, lebih terproyeksikan sebagai kota wisata kuliner dan fashion. Dua hal tadi lebih riuh jika dibandingkan dengan tradisi membaca. Buku tak benar-benar lekat dengan citra yang hendak dibangun dalam keseharian warganya. Namun hal ini tak menjadikan para pegiat literasinya gentar, setidaknya bagi yang masih bertahan, citra dan kondisi Bandung ini merupakan medan “jihad” yang sempurna.

Maka kiranya apa yang ditempuh oleh Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan melalui Kedai Preanger yang telah berjalan selama satu tahun ini, adalah sebuah usaha menggabungkan dua hal yang kerap diidentikan tak saling berhubungan, yaitu kuliner dan literasi.

Sebagai warga kota, apa yang dikerjakan oleh para pemilik dan pengelola Kedai Preanger mungkin belum terlalu banyak memberikan kontribusi banyak bagi Kota Bandung, namun setidaknya satu semangat telah digulirkan. [irf]  

PS : Tulisan ini pernah tayang di Majalah Karsa volume 4

30 December 2015

Beberapa Hal yang (Mungkin) Orang lain Lakukan dan Saya (Sebenarnya) Tidak Mau Melakukan


Pertama, ngobrol dengan orang lain selama perjalanan jauh

Kalau sedang berjalan kaki di dalam kota, lalu bertemu dengan tukang parkir, penjual kopi seduh, tukang cuanki, atau tukang ojeg pangkalan; saya senang berbicara dengan mereka. Obrolan yang tidak terlalu lama, berdurasi tak lebih satu gelas kopi dan dua batang rokok. Lalu berjalan lagi. Sungguh, obrolan-obrolan itu tidak mengganggu, saya malah menikmatinya.

Tapi jika dalam perjalalan jauh, misalnya ke Jogja, duduk di bangku kereta api, lalu di sebelah ada bapak-bapak, atau ibu-ibu, atau anak muda, baik laki-laki maupun perempuan, terus terang saja saya enggan ngobrol, sepatah katapun kalau bisa. Selama perjalanan jauh itu saya lebih senang mendengarkan musik, membaca buku, atau hanya melihat ke luar, memperhatikan kehidupan di balik jendela. Yang lebih menjadi persoalan sebenarnya adalah karena saya sering melamun, dan tentu saja obrolan akan membuyarkan lamunan yang tengah saya susun.

Barangkali kawan ingin tahu list lagu yang kerap saya dengarkan ketika dalam perjalanan jauh, saya tak hapal semuanya, tapi begini kira-kira : Ke sana (Float), Pulang (Float), Sementara (Float), Tender (Blur), Sweet Disposition (The Temper Trap), Down River (The Temper Trap), Konservatif (The Adams), Jangan Bakar Buku (ERK), Sebelah Mata (ERK), Rima Ababil (Homicide). Masih banyak sebetulnya, tapi begitulah, sisanya saya lupa.

Selain itu, mungkin kawan juga ingin tahu apa yang sering saya lamunkan? Saya beri tahu, sebaiknya kawan menahan rasa ingin tahu itu, sebab tak semua hal harus diketahui orang lain. Ada ruang yang sebaiknya tetap menjadi milik pribadi. Sebuah tempat yang kata Joko Pinurbo sebagai : “Kau adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi.”

Kedua, mempublikasikan foto keluarga di media sosial

Barangkali saya pernah, namun entah kapan, sekali-dua memasang foto keluarga di media sosial. Kemarin saya mencoba melacaknya di semua akun yang saya miliki, tapi tak menemukan jejak, yang ada hanya tag-tag dari saudara se-susu dan se-darah. Kemudian saya bergumam, “Ya, mungkin dari dulu saya tidak menyukai hal itu.”

Setiap lebaran, setiap ulang tahun, setiap makan di luar rumah, setiap piknik, dan setiap-setiap yang lain; banyak dari kawan saya yang gemar memajang foto keluarganya di media sosial. Hari-hari ini, terutama di Path, foto-foto bertebaran. Bayi-bayi bermata jernih mengantri di lini kala dengan caption-caption yang lucu, dan kadang-kadang seperti sedang menggugah rasa haru.

Saya sering bertanya-tanya dan bukan bertanya langsung, ihwal motivasi mengunggah dan berbagi di balik foto-foto itu. Yang saya tahu, di lintasan komunikasi berbasis akun-akun itu; saya sedang mewakili diri saya sendiri, dan bukan sebagai duta keluarga. Media sosial sejatinya adalah jalanan, tempat orang yang kita kenal dan yang tidak kita kenal berlalu-lalang, dari polisi sampai bromocorah. Bagi saya, agak riskan sebetulnya, menghadirkan foto keluarga di tengah jalanan seperti itu.

Ketiga, membaca buku lewat e-book

Bagi Ivan Lanin, apalah arti e-book ini, beliau pasti menggantinya menjadi buku elektronik. Kemarin, beliau juga baru mengganti “screenshoot” menjadi “tangkapanlayar”. Tapi di sini, saya tetap ingin memakai kata “e-book”.

Surat kabar cetak, hari-hari ini mulai berguguran. Digital merangsek ke hampir semua lini kehidupan. Seorang wartawan senior menulis esai tentang senjakala media cetak, tapi kemudian diserang oleh (mula-mula) oleh seorang esais muda. Berita daring hadir di genggaman, setiap saat, setiap waktu, dengan kecepatan yang (kadang-kadang) mengerikan. Artinya kesempatan untuk jeda, untuk mengunyah informasi berkejaran dengan derasnya arus.

Begitu pula dengan buku, orang-orang mulai banyak yang mengkampanyekan penggunaan e-book dengan alasan yang sungguh mulia; mengurangi penebangan pohon. Saya sendiri tidak pernah merasa nyaman membaca buku yang hadir di layar elektronik. Kalau membaca tulisan yang lebih pendek seperti esai, saya masih bisa menikmati. Namun untuk menghabiskan jumlah halaman yang banyak seperti buku, saya angkat tangan.

Selain soal kenyamanan, buku cetak juga lebih bisa menghadirkan sisi romantik, seperti misalnya; coretan titimangsa beli, tandatangan, jejak stabilo, tulisan-tulisan yang sengaja dicantumkan di pinggir rata kiri dan kanan, dan lain-lain. Ada jejak personal di dalamnya, jejak yang rasa-rasanya tidak mudah didapatkan di e-book.   

Keempat, mengikuti jadwal film baru dan membicarakannya

Tak pernah sengaja mendengarkan kawan-kawan yang tengah membicarakan film terbaru Star Wars baru-baru ini, namun rasanya saya sudah hampir muntah. Bukan filmnya yang membuat saya mual, tapi cara mereka mengikuti, menyambut, dan membicarakannya, lengkap dengan saling mengingatkan tentang (bagi mereka) bahaya laten spoiler.

Ada pula seorang kawan yang sangat rajin menunggu tayang perdana (premiere) setiap film yang akan hadir di bioskop. Sehari saja terlewat, bagi dia hukumnya haram. Premiere adalah harga mati. Dia pasti punya pengalaman yang berkesan setiap kali menonton film pada tayang perdana itu, kesan yang tak saya pahami ujung pangkalnya.

Saya juga rajin menonton film sebetulnya, hanya saja menempuh jalan yang berbeda. Saya abai pada jadwal tayang film, juga tak membicarakannya dengan siapa pun, kecuali sangat sedikit. Buat saya film adalah tentang bagaimana kita menikmati kisah. Dan kisah, kapan pun ia terjadi, tak pernah menjadi basi. Lagi pula kata “basi” sangat dipengaruhi oleh persepsi.

Maka begitulah, seperti juga membaca, bagi saya menonton adalah salah satu pengalaman personal yang tidak pernah saya rayakan bersama orang lain. Nonton bareng atau berdua memang sesekali pernah, namun saya tak menganggapnya sebagai perayaan, itu hanya sebatas sesaji bagi ritus perkawanan dan percintaan.       

Kelima, pergi ke toko buku tidak sendirian

Tahu kan Bella Swan? Ya, gadis cantik yang kleyengan oleh vampir itu sekali waktu pernah menolak dua orang kawannya untuk menemaninya pergi ke toko buku, “Kukatakan akan menemui mereka di restoran satu jam lagi---aku mau mencari toko buku. mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang---mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian.”

Persis si Bella, saya pun lebih nyaman sendirian jika pergi ke toko buku. Sekali waktu, tanpa disengaja, saya bertemu dua orang kawan di suatu tempat dekat toko buku. Saya memang hendak belanja buku, ya belanja, maklum uang sedang banyak sementara kebutuhan hampir tidak ada. Karena mereka juga sedang tidak punya jadwal, akhirnya turut serta. Dan tahu kau, kawan? Sepanjang di toko buku itu mereka terus saja membuntuti saya, bertanya buku apa yang hendak saya beli, dan sesekali mereka pun meminta pertimbangan saya untuk memutuskan membeli buku atau tidak. Alangkah tidak nyaman. Sebelum mendapatkan semua buku yang saya cari, saya buru-buru ke kasir, menyelesaikan pembayaran, kemudian pulang.

Seperti juga menonton film, bagi saya pergi ke toko buku lebih senang dilakukan sendirian. Saya bisa berjam-jam di sana, membaca banyak sekali narasi di cover belakang buku, menimbang keputusan pembelian, atau sesekali dikejutkan dengan perjumpaan dengan buku yang sudah lama diincar namun peredarannya sudah sedikit. Hal-hal itu tidak bisa saya lakukan jika ada orang lain yang menemani. Beberapa kawan yang sudah tahu kebiasaan saya ini, jika kebetulan bertemu di toko buku, mereka selalu hanya menyapa dan pergi lagi ke sudut rak yang lain. Ya, mereka adalah kawan-kawan yang layak ditraktir sebotol Bintang dingin.               

Keenam, mengucapkan selamat ulang tahun dan yang lainnya

Setiapkali ulang tahun, saya selalu gagap menerima beberapa ucapan selamat. Bukan apa-apa, meskipun bergaul di lingkungan yang terbiasa dengan segala macam ucapan selamat, namun sejak kecil saya tak pernah mengalaminya. Ibu bapak tak sekali pun pernah mengucapkan hal itu. Begitu pun saudara, baru belakangan saja mereka kadang-kadang mengikuti kebiasaan orang banyak. 

Maka kemudian saya tak tahu dan tak mau tahu tanggal kelahiran siapa pun selain diri saya sendiri. Tanggal kelahiran sendiri pun lebih karena Facebook memberi tahu, sebab dulu saya pernah mencantumkannya. Dan begitulah, setiap kali tanggal itu datang dan kawan-kawan memberi ucapan selamat, saya selalu gagap, canggung. Sama ketika kawan-kawan berulang tahun, saya biasanya sangat jarang mengucapkan selamat.

Begitu pula pada momen-momen lain, saya sangat jarang atau bahkan tidak pernah mengucapkan; Selamat Idul Fitri, Selamat Natal, Selamat atas diwisuda, Selamat atas kelahiran anak, selamat atas pernikahan, dll. Buat saya, meski ragam ucapan selamat itu adalah salah satu bumbu dalam kehidupan sosial, namun seringkali hanya jatuh sebagai seremoni belaka, dan tak bermakna apa-apa.

Sampai hari ini, (sepanjang yang saya ingat) saya tak punya masalah pribadi dengan keluarga maupun kawan-kawan. Jadi pelit ucapan selamat tak membuat kehidupan sosial saya koyak karenanya. [ ]        

08 June 2015

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur


Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik Opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang mudah, saingannya beratus Profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat.

Menulis pada mulanya adalah pekerjaan kaki. Sebelum jaringan internet berkuasa seperti sekarang, dan warnet masih sebentuk jajanan mahal bagi para penulis kere, serta USB belum dijajakan di kios-kios; para penulis kerap keluar dari rumah atau kamar kostnya, untuk mengamati kehidupan sosial sekeliling, lalu menangkap kisah yang menarik darinya. 

Referensi bacaan tanpa disertai kehadiran di lapangan tak lebih dari sebuah tulisan yang berjarak; gagap dalam menangkap pengalaman, dan kering tendensi personal. Manusia adalah makhluk yang otentik, jika sisi itu tidak digali dengan cermat maka setiap tulisan akan rentan pada kategori penyeragaman. Dan setiap yang tak berbeda tak ubahnya laku menabur garam di lautan.

Pengalaman manusia, betapa pun terjadi pada waktu dan tempat yang sama, pastilah akan tetap berbeda. Terlebih jika memiliki sudut pandang yang kaya terhadap pengalaman tersebut. Di titik inilah perjalanan personal para pengeluyur mendapatkan tempatnya yang istimewa. Tulisan mereka belum tentu bagus, tapi berbeda adalah kepastian. Namun perlu ditegaskan, karena yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah budaya berkisah dan bercerita, maka pada prakteknya perjalanan itu harus tak melupakan manusia.

Jika menilik para penulis catatan perjalanan, atau lebih dikenal dengan travel blogs; kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang sekali menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga. Para pengeluyur mesti menghindari kecenderungan bunga-bunga seperti itu.

Kini dengan jaringan internet di genggaman, para penulis tinggal duduk manis dan menggerakkan jemari. Perpustakan raksasa yang menjelma di mesin-mesin pencari perlahan menjauhkan para penulis dengan dunia sekitarnya. Ironisnya, dengan kemudahan yang tak perlu menumpahkan keringat itu, bibit kemalasan justru tumbuh subur. Tak sedikit ketika menjelajah mesin pencari, para penulis hanya mampu bertahan di page 3. Jika sampai halaman itu tak mendapatkan apa yang dicarinya, mayoritas langsung mengganti kata kunci dan mencari lagi yang lain, yang lagi-lagi biasanya hanya kuat bertahan di angka yang tak pernah menyentuh belasan.

Jika ada seribu penulis yang mencari dengan kata kunci yang sama, dan semuanya hanya bertahan sampai halaman 3, bisa kita bayangkan kesamaan sumber data dan perspektifnya. Sekadar contoh, sampai hari ini sudah berapa tulisan tentang Jalan Braga? Jalan legendaris di Kota Bandung itu barangkali sudah bosan dengan catatan tentang dirinya sendiri. Namun jika kita coba datang ke Braga, berjalan, dan mengamati apa pun, tentu selalu ada kisah berbeda yang bisa kita tangkap. Setiap perjalanan adalah perjumpaan, dan setiap perjumpaan tidak pernah akan sama.

Maka arus informasi yang bergerak di genggaman daring sesekali mesti disegarkan dengan pengalaman-pengalaman personal yang berkeringat; berbicara dengan orang asing yang dijumpai di jalan, mencium aroma kopi dari warung, menahan bau pesing di toilet umum, berdesakan di pasar tradisional, bermain catur dengan tukang rokok, atau berbagi kisah dengan pelukis jalanan, dan masih banyak lagi.

Kemudahan bukan untuk kita bekukan dan lalu terbenam di masalalu, kita bahkan mau tidak mau mesti menumpang pada lajunya, namun arus deras itu sesekali mesti melempar jangkarnya di pelabuhan. Mengembalikan lagi laku menulis pada permulaannya, yaitu pekerjaan kaki. [irf]  

23 April 2014

Ngopi (di) Jakarta


 Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. ~ Joko Pinurbo

Bahkan ketika malam telah sempurna menelan siang, dan suhu udara sudah mulai turun, Jakarta adalah tempat di mana kopi harus bergelas-gelas dituangkan jika kita taat kepada sepenggal puisi Joko Pinurbo di atas. Kalau mau jujur, rezeki bukan sekadar yang ditakar di penghujung hari, penghujung bulan, atau penghujung apa pun yang menandai masuknya uang ke kantong kita sebagai pendapatan. Rezeki lebih dari sekadar alat tukar yang berada di genggaman.

Dalam timbangan agama muncul kata “syukur” yang menunjuk kepada rasa terimakasih terhadap apa pun yang membuat kita bahagia, senang (sudah gajian,  misalnya), atau bernafas lega. Lebih dari itu, “syukur” adalah penanda, semacam garis demarkasi vertical antara “Yang Maha (Kuasa)” dan “yang biasa (lemah)”.

Pada kelahiran anak, hutang yang terbayar, istri yang cantik, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, bergoyang dalam irama dangdut, timnas U19 juara Piala AFF, sarapan lontong sayur, punya pacar yang pengertian, sembuh dari sakit, kenaikan gaji, dagangan laris-manis, dan hal-hal lain yang mampu menenteramkan ego; biasanya kata “syukur” punya tempat tersendiri yang  terhormat. Dalam pengertian yang luas, hal-hal demikian adalah rezeki juga.

Maka dari sepenggal puisi Joko Pinurbo itu dapat kita ambil dua kata; “rezeki” dan “kopi”. Di Jakarta, dua kata ini—di antara umpat dan serapah mengutuk kebusukan kota—mestinya bisa berjejalin; mereda dalam hening, mengendap, lalu mencuat sebagai kesadaran yang pada akhirnya mengalir pada dua arah (personal dan sosial), namun bertemu dalam satu muara yang sama (damai dan lega, meskipun tidak sepenuhnya).

***

Dalam pemahaman yang sederhana, kerja dalam balutan profesi, sebagai sebuah contoh menuju mendapatkan rezeki, bisa diibaratkan sebagai gerak personal, individual, kalau pun pada kenyataannya selalu dan mesti ada interaksi sosial dalam prosesnya. Namun kerja (apalagi di jaman yang kompetitif seperti sekarang) sesungguhnya adalah himpunan gerak tiap individu yang masing-masing mempunyai ambisi, target, dan cita-cita sendiri. Di titik ini kita bisa menyadari kenapa ada saja rekan kerja yang saling jegal, bersaing tidak sehat, dan aksi vulgar dengan saling lempar tuduhan di jejaring sosial, misalnya. Pedagang pun sama; saling banting harga, serobot pelanggan, atau menyebar fitnah-fitnah yang menyerang saingan. Tidak jarang kita pun mendengar kabar tentang pertumpahan darah akibat rebutan lahan parkir.

Menuju mendapatkan rejeki seringkali membutuhkan proses yang tidak gampang. Di sana ada keringat, kecewa, tangis, perjuangan, amarah, teriak, kesabaran, urat-urat menegang, dan stress.

Sebagai contoh, siapa yang tidak merasakan debar jantung, dan ketegangan yang sangat ketika adu pinalti antara Indonesia melawan Vietnam di final Piala AFF baru-baru ini?. Menuju juara, menuju rezeki yang membahagiakan itu, kita mesti melewati segala rupa gelombang emosional yang bukan main-main. Tetangga saya sampai berteriak-teriak setiap kali algojo-algojo Indonesia berhasil merobek gawang lawan. Dan sebaliknya, dia hening komat-kamit memanjatkan do’a, berharap agar pemain-pemain lawan gagal mengeksekusi. Stress dari penendang ke penendang.

Sakit menuju sembuh, menuju rejeki yang menyenangkan itu, juga harus melewati fase yang tidak mudah. Di sana ada keluh, rintih, bahkan mungkin tangis, asa untuk sembuh ditakar di tengah kesal dan kesabaran.

Buruh yang berdemo demi kenaikan gaji adalah contoh yang terlalu jelas, di mana kosa-kata perjuangan mendapatkan marwahnya yang paling populer.

Begitulah, proses menuju mendapatkan rezeki, yang sebagian di antaranya sebagai laku personal; kerap menegangkan urat syaraf, meledakkan emosi, dan mengundang tangis. Dia adalah kobar api yang belum reda.

***

Api menjadi bara, kemudian berganti abu adalah keniscayaan. Serupa siklus hidup dan mati. Tapi sebagaimana hidup yang bisa kembali bersarang pada jiwa yang berbeda, api pun bisa kembali berkobar pada benda lain yang dia bakar. Di sini, kopi dan semangat, pada “menjelang-proses-menuju-mendapatkan” rezeki kita tempatkan dengan rendah hati.

Memang tidak semua orang, mungkin hanya hampir, bahwa pada beberapa kesempatan selepas laku mencari rezeki, kopi adalah pilihan terbaik untuk melepas lelah dan penat. (Biasanya) sambil merokok, orang-orang menyesap kopi. Pelan-pelan, penuh perasaan, sementara keringat mulai kering, dan urat-urat kembali mengendur. Kobar seharian perlahan mereda dan menjadi bara; menyala di dalam.

Dalam keseharian kita, kopi begitu kental dengan simbol-simbol kebersaman, kehidupan sosial yang cair, sersan (serius tapi santai). Ini tentu tidak bisa lepas dari peran warung kopi yang mewadahi hal-hal tersebut. Kita masih ingat grup lawak legendaris; Dono, Kasino, Indro, mereka mulanya muncul dari sebuah acara di radio yang bertajuk Obrolan Santai di warung Kopi. Warung kopi, di beberapa daerah di Indonesia, memang menjadi tempat berinteraksi yang menarik. Semacam lab sosial tempat orang-orang mencurahkan segala hal, terutama keruwetan hidup.

Dalam literasi fiksi—saya sebut fiksi sebab terbuhul dalam bentuk novel, ada referensi menarik mengenai kehidupan sosial di warung kopi. Kita bisa membuka lagi karya Andrea Hirata; “Padang Bulan” dan “Cinta di dalam Gelas”. Meskipun pendadaran cerita ditulis dari sudut pandang orang pertama, dan deskripsinya hanya “sekadar” hasil pengamatan, namun kurang lebih bisa memberi gambaran mengenai fungsi warung kopi di kehidupan sosial.

Dalam satu paragraph, Andrea menulis begini; “Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Bayangkan itu. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para player.”

Pengamatan Andrea sedikit banyak menunjukkan bahwa warung kopi dihuni oleh mereka yang telah kenyang berjibaku di medan kehidupan. Mereka tegang, stress, kecewa, lalu mencoba berdamai di warung kopi. Di titik ini warung kopi menjadi “ruang publik” yang ideal di tengah kehidupan yang dinamis (untuk tidak menyebut keras), tempat orang-orang membuang sauh, untuk sekadar melemaskan ketegangan, meredakan bara yang menyala seharian, juga berbagi cerita. Dan Jakarta adalah medan laga yang sempurna untuk mempunyai banyak warung kopi. Pejuang-pejuang kehidupan di ibu kota yang lelah, atau bahkan mungkin kalah, perlu ditadah oleh wadah yang tidak perlu istimewa, tapi bisa merawat “luka” agar tidak terlalu parah.

Kenyataan hari ini, Jakarta telah berlaksa rupa menjadi jalan-jalan yang di kuasai mini market cum tempat nongkrong. Orang-orang, terutama anak muda betah berlama-lama di sana. Warung kopi konvensional yang sederhana, yang tempatnya lumayan gerah sebab tempat duduk berdekatan dengan kompor tempat memanaskan air, meskipun kurang tepat memakai kata–mulai ditinggalkan.

Dari sisi tempat, warung kopi telah mempunyai perluasan makna, dari sekadar tempat yang sederhana dan menu sederhana, menjadi mini market dengan standar yang menyesuaikan dengan tuntutan jaman. Tapi poinnya bukan terletak pada revolusi tempat, namun pada interaksi sosial di dalamnya. Sebab di warung kopi biasa atau pun di mini market cum tempat nongkrong, keduanya adalah tempat membuang sauh orang-orang yang hendak menghela nafas.

Maka di muara jejalin paragraph ini, “Ngopi (di) Jakarta” dapatlah dikatakan sebagai sebuah usaha untuk melarung remah-remah rasa lelah dan kalah, perayaan mendapatkan rezeki, merekam cerita-cerita yang terjadi di Jakarta, atau apa pun yang tidak punya definisi namun masih bica diingat untuk kemudian dicatat. Tentu himpunan catatan yang lahir kemudian bukan merupakan sebuah parade tentang canda-tawa semata, tapi lebih beragam, selaras dengan gejolak kehidupan sehari-hari.

Seperti juga kopi, sebagaimana ditulis Dewi Lestari : “Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” Demikian juga hidup di Jakarta ini. [ ]