Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

08 June 2015

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur


Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik Opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang mudah, saingannya beratus Profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti.

Dulu para penulis beradu tulisan demi merayu para editor sehingga bisa meloloskan tulisannya. Di buletin, koran, dan majalah, mereka berdaki-daki dengan segala jurus tulisan dan kantong-kantong kesabaran yang telah dipersiapkan. Namun proses merayu dan menunggu itu sesungguhnya relatif mudah, sebab di fase sebelumnya mereka telah melakukan kerja-kerja lain yang lebih berkeringat.

Menulis pada mulanya adalah pekerjaan kaki. Sebelum jaringan internet berkuasa seperti sekarang, dan warnet masih sebentuk jajanan mahal bagi para penulis kere, serta USB belum dijajakan di kios-kios; para penulis kerap keluar dari rumah atau kamar kostnya, untuk mengamati kehidupan sosial sekeliling, lalu menangkap kisah yang menarik darinya. 

Referensi bacaan tanpa disertai kehadiran di lapangan tak lebih dari sebuah tulisan yang berjarak; gagap dalam menangkap pengalaman, dan kering tendensi personal. Manusia adalah makhluk yang otentik, jika sisi itu tidak digali dengan cermat maka setiap tulisan akan rentan pada kategori penyeragaman. Dan setiap yang tak berbeda tak ubahnya laku menabur garam di lautan.

Pengalaman manusia, betapa pun terjadi pada waktu dan tempat yang sama, pastilah akan tetap berbeda. Terlebih jika memiliki sudut pandang yang kaya terhadap pengalaman tersebut. Di titik inilah perjalanan personal para pengeluyur mendapatkan tempatnya yang istimewa. Tulisan mereka belum tentu bagus, tapi berbeda adalah kepastian. Namun perlu ditegaskan, karena yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah budaya berkisah dan bercerita, maka pada prakteknya perjalanan itu harus tak melupakan manusia.

Jika menilik para penulis catatan perjalanan, atau lebih dikenal dengan travel blogs; kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang sekali menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga. Para pengeluyur mesti menghindari kecenderungan bunga-bunga seperti itu.

Kini dengan jaringan internet di genggaman, para penulis tinggal duduk manis dan menggerakkan jemari. Perpustakan raksasa yang menjelma di mesin-mesin pencari perlahan menjauhkan para penulis dengan dunia sekitarnya. Ironisnya, dengan kemudahan yang tak perlu menumpahkan keringat itu, bibit kemalasan justru tumbuh subur. Tak sedikit ketika menjelajah mesin pencari, para penulis hanya mampu bertahan di page 3. Jika sampai halaman itu tak mendapatkan apa yang dicarinya, mayoritas langsung mengganti kata kunci dan mencari lagi yang lain, yang lagi-lagi biasanya hanya kuat bertahan di angka yang tak pernah menyentuh belasan.

Jika ada seribu penulis yang mencari dengan kata kunci yang sama, dan semuanya hanya bertahan sampai halaman 3, bisa kita bayangkan kesamaan sumber data dan perspektifnya. Sekadar contoh, sampai hari ini sudah berapa tulisan tentang Jalan Braga? Jalan legendaris di Kota Bandung itu barangkali sudah bosan dengan catatan tentang dirinya sendiri. Namun jika kita coba datang ke Braga, berjalan, dan mengamati apa pun, tentu selalu ada kisah berbeda yang bisa kita tangkap. Setiap perjalanan adalah perjumpaan, dan setiap perjumpaan tidak pernah akan sama.

Maka arus informasi yang bergerak di genggaman daring sesekali mesti disegarkan dengan pengalaman-pengalaman personal yang berkeringat; berbicara dengan orang asing yang dijumpai di jalan, mencium aroma kopi dari warung, menahan bau pesing di toilet umum, berdesakan di pasar tradisional, bermain catur dengan tukang rokok, atau berbagi kisah dengan pelukis jalanan, dan masih banyak lagi.

Kemudahan bukan untuk kita bekukan dan lalu terbenam di masalalu, kita bahkan mau tidak mau mesti menumpang pada lajunya, namun arus deras itu sesekali mesti melempar jangkarnya di pelabuhan. Mengembalikan lagi laku menulis pada permulaannya, yaitu pekerjaan kaki. [irf]  

23 April 2014

Berburu “Beras” di Jakarta

Waktu duduk di bangku sekolah dasar, entah kelas berapa lupa lagi, saya mulai mengenal segitiga kebutuhan dasar manusia; sandang-pangan-papan. Baru-baru setelah dewasa, ada pula yang menambahkan bahwa kebutuhan dasar yang ke empat adalah seks. Segitiga berubah menjadi segiempat. Tapi semenjak tinggal di Jakarta, rasa-rasanya yang paling sering terdengar adalah pangan. “Kalau kami digusur, kami mau makan apa?,” begitu kata pedagang kakilima yang kena razia polisi Pamong Praja. “Kerja sih kerja, tapi jangan ngambil priuk nasi orang dong!,” kata seorang salesman obat yang langganannya diserobot rekan kerja. Atau sebuah bisikan yang paling dekat dan nyata, “Bung, pegang uang?, saya pinjam dulu ya buat makan, awal bulan saya ganti.”

Dalam keseharian, persoalan pangan telah menjadi urat nadi interaksi. Memang dalam gerak semesta kerja, urusan perut bukanlah satu-satunya yang dikejar, namun seringkali menjadi yang pertama, atau yang didahulukan. Dalam pergaulan orang Sunda ada istilah, “beuteung seubeuh, duit weuteuh, *sensor* baseuh” (perut kenyang, uang utuh, yang disensor berkaitan dengan urusan seks). Ungkapan itu menunjukkan bahwa pangan memang seringkali menempati urusan yang mula-mula. Banyak orang paham belaka, Jakarta ini ibarat gula yang dikerubungi jutaan semut yang berdatangan dari segala penjuru Nusantara. Bahkan perumpamaan pun memakai kata “gula”, sesuatu yang bisa dimakan.

Barangkali ada yang memandang sinis jika kerja diidentikkan dengan urusan perut belaka, saya setuju, memang bukan di situ poinnya.  Dari urusan mengisi energi dengan makanan untuk kemudian dijadikan modal tenaga dalam bekerja, barulah nanti kita bisa menakar perlahan-lahan.

Pagi hari di Jakarta, bahkan tembus sampai tengah malam yang sangat larut, kata “bersegeralah” rupanya sangat dihayati oleh orang-orang yang senantiasa bergerak menjemput rejeki. Di gang-gang sempit para penjual keliling ramai bersahut-sahutan menawarkan barang. Di jalan raya, angkutan publik yang lebih mirip monster selalu sesak oleh para pegawai yang hendak menuju tempat kerja. Anak-anak sekolah yang hendak menjemput rejeki ilmu berseliweran di atas motor tunggangannya masing-masing. Sementara mobil pribadi memberi tahu bahwa para bos dan pimpinan perusahaan pun tak ketinggalan. Sampailah ke permulaan malam hingga larut, barangkali “kupu-kupu kertas” pun mulai berkeliaran. Jakarta selalu berdenyut.

Dalam proses kerja yang riuh itu, dapatkah dipungkiri jika di pusarannya selalu saja ada sikap saling terkam, saling serobot, dan bahkan pertempuran?. Berita korupsi di layar kaca sudah terlalu populer jika dibuat misal. Pada kenyataannya, seringkali kita melanggar batas-batas kemanusiaan. Atas nama kompetisi kita bersaing dengan tidak sehat. Demi menyenangkan istri adakalanya kita mengambil jatah yang bukan hak. Menjilat ke atas, menginjak ke bawah. Dalam lagu Opiniku, yang liriknya saya tidak begitu hafal, Iwan Fals memotretnya dengan sangat jelas :
Manusia sama saja dengan binatang selalu perlu makan / Namun caranya berbeda dalam memperoleh makanan / Namun kadangkala ada manusia seperti binatang / Bahkan lebih keji dari binatang / Tampar kiri kanan alasan untuk makan / Intip kiri kanan lalu curi jatah orang
Apa yang dibutuhkan binatang?, bukankah yang utama dan pertama adalah memenuhi kebutuhan perutnya, lalu kemudian hasrat birahinya. Berbangga kita dengan melejitkan wacana nilai-nilai kemanusiaan, namun seringkali justru terbenam dalam derajat yang rendah, karena tak bisa mengendalikan sisi “kebinatangan” yang mengintai di setiap denyut, setiap gerak ikhtiar dalam lautan kehidupan sosial, dalam kerumunan orang-orang yang punya haknya masing-masing dan tak boleh kita dilanggar. Dari Jum’at ke Jum’at, di jenak untuk menghela kesibukan, atau dari pengeras suara mesjid terdekat yang merambat ke kamar melalui celah ventilasi udara, barangkali sempat kita dengar sebuah penggalan ayat, “Mereka itu seumpama binatang ternak, bahkan lebih sesat.”

Barangkali itulah mengapa puasa di dalam Islam memvisualkan tentang manusia yang menahan makan, minum, dan seks. Kebutuhan yang sama dengan binatang tersebut diistirahatkan sementara, demi menuai sisi “kemanusiaan” yang seringkali terabaikan. Ikhtiar menjemput rejeki, memang tidak layak jika disebut sebagai kegiatan berburu pangan, berburu beras semata. Tapi di situlah, gerak dan laku akan mencuatkan dua golongan; yang hanya berburu pangan (karena dominan sisi binatang), dan yang jauh melampaui dari sekadar urusan makan (tersebab sisi kemanusiannya yang menonjol)

Jakarta, tempat jutaan “semut mengerubungi gula” adalah rahim (rahmat kerja) yang melahirkan anak-anak perilaku yang beragam, namun bermuara pada dua sungai keniscayaan. Bukan maksud mengkutubkan, atau hendak memposisikan “yang benar” dan “yang salah”, namun hemat saya antara manusia dan hewan maqomnya jelas berbeda.

Sebelum catatan ini menjadi khotbah, saya teringat nasehat Pram lewat tokoh jufrouw Magda Pieters, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Tendensi saya bukan pada sastra, namun lagi-lagi hewan disepadankan dengan manusia.

Berburu “beras” di Jakarta, menakar laku antara hewan dan manusia. [ ]