Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

23 August 2016

Mencatat Perjalanan

Barangkali bepergian dalam hidup adalah cermin dari hidup itu sendiri: sebuah perjalanan tanpa tiket pulang, persis seperti lakon dalam film “Le Grand Voyage” dan “Into The Wild”. Setidaknya dari dua film ini, perjalanan tak hanya sewujud piknik namun parade meniti ruang dan waktu yang kudus dan sakral. Pergi tanpa (kepastian) kembali adalah sebenar-benar riwayat manusia yang mesti dipersiapkan dan dijalani dengan kesungguhan ikhtiar. Chairil Anwar menulisnya dengan kalimat “sekali berarti sudah itu mati.”

Bila tensinya agak diturunkan, perjalanan tetaplah sebuah rekreasi yang fungsinya untuk (terutama) menyegarkan rohani yang teresidu oleh rutinitas kehidupan yang kerap menumpulkan kesadaran dan memburamkan mata batin. Dari perjalanan Soe Hok Gie ke puncak-puncak gunung sampai darma wisata anak-anak SMP yang ceria menelan hidup usia muda, semuanya tak bisa lepas dari upaya “pembersihan” ruang penat dan bosan yang mungkin hampir berjelaga. Ya, perjalanan memang bukan hal baru, telah terlalu tua malah. Dalam risalah keagamaan pun hal ini begitu jelas ditatah oleh para nabi dan orang-orang suci lainnya.

Di kehidupan hari ini, perjalanan kembali menjadi sebuah laku populer yang banyak dijalani oleh banyak orang. Tua-muda berlomba lari dari rutinitas demi keindahan yang tak-tepermanai. Jika menilik para penulis catatan perjalanan, kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga.

Hal tersebut memang tak salah, toh pada rekreasi seperti itu pun porsi menyegarkan rohani punya haknya. Namun jika ditilik ulang, kehidupan manusia sebetulnya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan keindahan alam. Bagaimana misalnya para nelayan yang tak peduli dengan senja, petani kentang yang menghela hidup sedepa demi sedepa, guru SD yang mesti menyeberangi jembatan ringkih demi mencapai sekolah, nenek-nenek pemecah batu, dan masih banyak lagi. Manusia dengan segala dinamika hidupnya terkadang lebih puitis dari pesona alam yang dijejakinya.

Namun demikian, catatan ini tak hendak membuat polarisasi, hanya sekadar menawarkan dua sisi mata hidup dalam perjalanan, yaitu mencoba meraba alam dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Kedua hal tersebut selamanya adalah teman sejati bagi setiap pejalan, petualang, pengembara, dan mungkin para pecundang yang tak berani menghunus pedang di medan laga kehidupan.

Komunitas Aleut sebagai sebuah kelompok yang berminat dan berkhidmat pada sejarah kota, alam, dan dinamika manusia, juga adalah sekumpulan orang yang sering melakukan perjalanan. Setidaknya seminggu sekali, dengan metode jalan kaki dalam berbagai penelusuran, sudah banyak mengalami  perjalanan dan menuangkannya dalam catatan. Mencatat, seturut mantra “scripta manent verba volant” bisa jadi bukanlah jalan abadi, namun setidaknya ada proses pewarisan risalah yang bisa dibaca ulang oleh generasi selanjutnya. Dalam catatan ada spasi perenungan yang bisa dihela dan dibaca perlahan.

Dari sini sebuah pertanyaan kemudian menyeruak, catatan perjalanan seperti apa yang kira-kira tak hanya menawarkan pesona, namun juga bisa memberikan petunjuk jalan yang akurat agar bisa dinapaktilasi oleh para pembaca? Hal terpenting tentu saja keterangan rute dan tempat. Sehimpunan data dan informasi selayaknya menjadi pengiring yang setia dari setiap narasi yang hendak dihiperbola, misalnya. Pada semburat langit jingga mesti ada juga keterangan di mana lokasinya, cahaya rembulan keemasan pun memerlukan nama ruang jejaknya, bahkan jika terjebak dalam sebuah wilayah konflik pun tetap harus ada asma siapa saja yang bertikai dan di mana kejadiannya. Mencatat perjalanan tak hanya rentetan deskripsi pesona dan tragedi, namun juga presisi.

Dari rumusan inilah kemudian Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin Komunitas Aleut yang Sabtu ini akan masuk pekan ke-57, mencoba mendiskusikan hal-hal tersebut di atas. Dengan beberapa buku catatan perjalanan sebagai bahan pembanding dan inspirasi, kami hendak belajar dan mengevaluasi apa-apa yang telah dan tengah dikerjakan. Jeda untuk mengakrabi teks seperti biasa tidak terlalu leluasa, sebab seminggu dengan bauran kesibukan di dalamnya tentu bukan waktu yang ideal untuk benar-benar memahami ratusan halaman catatan perjalanan. Tapi seperti pekan-pekan sebelumnya, sesempit apapun, kami tetap mencoba melakoninya.   

Muara dari tema yang diusung pekan ini tentu saja pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Adapun perjalanan, seperti yang telah diurai pada alinea-alinea sebelumnya, apakah itu sebagai laku suci dan sakral, ritus penyegaran rohani, atau hanya sekadar bersenang-senang tanpa tendensi apapun, selalu menggoda untuk kita jalani lagi dan lagi. Dan di ruang literasi yang kita jalankan bersama, kiranya perjalanan tak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dijalani dan selesai, namun juga disimpan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk catatan. [irf]   

30 December 2015

Beberapa Hal yang (Mungkin) Orang lain Lakukan dan Saya (Sebenarnya) Tidak Mau Melakukan


Pertama, ngobrol dengan orang lain selama perjalanan jauh

Kalau sedang berjalan kaki di dalam kota, lalu bertemu dengan tukang parkir, penjual kopi seduh, tukang cuanki, atau tukang ojeg pangkalan; saya senang berbicara dengan mereka. Obrolan yang tidak terlalu lama, berdurasi tak lebih satu gelas kopi dan dua batang rokok. Lalu berjalan lagi. Sungguh, obrolan-obrolan itu tidak mengganggu, saya malah menikmatinya.

Tapi jika dalam perjalalan jauh, misalnya ke Jogja, duduk di bangku kereta api, lalu di sebelah ada bapak-bapak, atau ibu-ibu, atau anak muda, baik laki-laki maupun perempuan, terus terang saja saya enggan ngobrol, sepatah katapun kalau bisa. Selama perjalanan jauh itu saya lebih senang mendengarkan musik, membaca buku, atau hanya melihat ke luar, memperhatikan kehidupan di balik jendela. Yang lebih menjadi persoalan sebenarnya adalah karena saya sering melamun, dan tentu saja obrolan akan membuyarkan lamunan yang tengah saya susun.

Barangkali kawan ingin tahu list lagu yang kerap saya dengarkan ketika dalam perjalanan jauh, saya tak hapal semuanya, tapi begini kira-kira : Ke sana (Float), Pulang (Float), Sementara (Float), Tender (Blur), Sweet Disposition (The Temper Trap), Down River (The Temper Trap), Konservatif (The Adams), Jangan Bakar Buku (ERK), Sebelah Mata (ERK), Rima Ababil (Homicide). Masih banyak sebetulnya, tapi begitulah, sisanya saya lupa.

Selain itu, mungkin kawan juga ingin tahu apa yang sering saya lamunkan? Saya beri tahu, sebaiknya kawan menahan rasa ingin tahu itu, sebab tak semua hal harus diketahui orang lain. Ada ruang yang sebaiknya tetap menjadi milik pribadi. Sebuah tempat yang kata Joko Pinurbo sebagai : “Kau adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi.”

Kedua, mempublikasikan foto keluarga di media sosial

Barangkali saya pernah, namun entah kapan, sekali-dua memasang foto keluarga di media sosial. Kemarin saya mencoba melacaknya di semua akun yang saya miliki, tapi tak menemukan jejak, yang ada hanya tag-tag dari saudara se-susu dan se-darah. Kemudian saya bergumam, “Ya, mungkin dari dulu saya tidak menyukai hal itu.”

Setiap lebaran, setiap ulang tahun, setiap makan di luar rumah, setiap piknik, dan setiap-setiap yang lain; banyak dari kawan saya yang gemar memajang foto keluarganya di media sosial. Hari-hari ini, terutama di Path, foto-foto bertebaran. Bayi-bayi bermata jernih mengantri di lini kala dengan caption-caption yang lucu, dan kadang-kadang seperti sedang menggugah rasa haru.

Saya sering bertanya-tanya dan bukan bertanya langsung, ihwal motivasi mengunggah dan berbagi di balik foto-foto itu. Yang saya tahu, di lintasan komunikasi berbasis akun-akun itu; saya sedang mewakili diri saya sendiri, dan bukan sebagai duta keluarga. Media sosial sejatinya adalah jalanan, tempat orang yang kita kenal dan yang tidak kita kenal berlalu-lalang, dari polisi sampai bromocorah. Bagi saya, agak riskan sebetulnya, menghadirkan foto keluarga di tengah jalanan seperti itu.

Ketiga, membaca buku lewat e-book

Bagi Ivan Lanin, apalah arti e-book ini, beliau pasti menggantinya menjadi buku elektronik. Kemarin, beliau juga baru mengganti “screenshoot” menjadi “tangkapanlayar”. Tapi di sini, saya tetap ingin memakai kata “e-book”.

Surat kabar cetak, hari-hari ini mulai berguguran. Digital merangsek ke hampir semua lini kehidupan. Seorang wartawan senior menulis esai tentang senjakala media cetak, tapi kemudian diserang oleh (mula-mula) oleh seorang esais muda. Berita daring hadir di genggaman, setiap saat, setiap waktu, dengan kecepatan yang (kadang-kadang) mengerikan. Artinya kesempatan untuk jeda, untuk mengunyah informasi berkejaran dengan derasnya arus.

Begitu pula dengan buku, orang-orang mulai banyak yang mengkampanyekan penggunaan e-book dengan alasan yang sungguh mulia; mengurangi penebangan pohon. Saya sendiri tidak pernah merasa nyaman membaca buku yang hadir di layar elektronik. Kalau membaca tulisan yang lebih pendek seperti esai, saya masih bisa menikmati. Namun untuk menghabiskan jumlah halaman yang banyak seperti buku, saya angkat tangan.

Selain soal kenyamanan, buku cetak juga lebih bisa menghadirkan sisi romantik, seperti misalnya; coretan titimangsa beli, tandatangan, jejak stabilo, tulisan-tulisan yang sengaja dicantumkan di pinggir rata kiri dan kanan, dan lain-lain. Ada jejak personal di dalamnya, jejak yang rasa-rasanya tidak mudah didapatkan di e-book.   

Keempat, mengikuti jadwal film baru dan membicarakannya

Tak pernah sengaja mendengarkan kawan-kawan yang tengah membicarakan film terbaru Star Wars baru-baru ini, namun rasanya saya sudah hampir muntah. Bukan filmnya yang membuat saya mual, tapi cara mereka mengikuti, menyambut, dan membicarakannya, lengkap dengan saling mengingatkan tentang (bagi mereka) bahaya laten spoiler.

Ada pula seorang kawan yang sangat rajin menunggu tayang perdana (premiere) setiap film yang akan hadir di bioskop. Sehari saja terlewat, bagi dia hukumnya haram. Premiere adalah harga mati. Dia pasti punya pengalaman yang berkesan setiap kali menonton film pada tayang perdana itu, kesan yang tak saya pahami ujung pangkalnya.

Saya juga rajin menonton film sebetulnya, hanya saja menempuh jalan yang berbeda. Saya abai pada jadwal tayang film, juga tak membicarakannya dengan siapa pun, kecuali sangat sedikit. Buat saya film adalah tentang bagaimana kita menikmati kisah. Dan kisah, kapan pun ia terjadi, tak pernah menjadi basi. Lagi pula kata “basi” sangat dipengaruhi oleh persepsi.

Maka begitulah, seperti juga membaca, bagi saya menonton adalah salah satu pengalaman personal yang tidak pernah saya rayakan bersama orang lain. Nonton bareng atau berdua memang sesekali pernah, namun saya tak menganggapnya sebagai perayaan, itu hanya sebatas sesaji bagi ritus perkawanan dan percintaan.       

Kelima, pergi ke toko buku tidak sendirian

Tahu kan Bella Swan? Ya, gadis cantik yang kleyengan oleh vampir itu sekali waktu pernah menolak dua orang kawannya untuk menemaninya pergi ke toko buku, “Kukatakan akan menemui mereka di restoran satu jam lagi---aku mau mencari toko buku. mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang---mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian.”

Persis si Bella, saya pun lebih nyaman sendirian jika pergi ke toko buku. Sekali waktu, tanpa disengaja, saya bertemu dua orang kawan di suatu tempat dekat toko buku. Saya memang hendak belanja buku, ya belanja, maklum uang sedang banyak sementara kebutuhan hampir tidak ada. Karena mereka juga sedang tidak punya jadwal, akhirnya turut serta. Dan tahu kau, kawan? Sepanjang di toko buku itu mereka terus saja membuntuti saya, bertanya buku apa yang hendak saya beli, dan sesekali mereka pun meminta pertimbangan saya untuk memutuskan membeli buku atau tidak. Alangkah tidak nyaman. Sebelum mendapatkan semua buku yang saya cari, saya buru-buru ke kasir, menyelesaikan pembayaran, kemudian pulang.

Seperti juga menonton film, bagi saya pergi ke toko buku lebih senang dilakukan sendirian. Saya bisa berjam-jam di sana, membaca banyak sekali narasi di cover belakang buku, menimbang keputusan pembelian, atau sesekali dikejutkan dengan perjumpaan dengan buku yang sudah lama diincar namun peredarannya sudah sedikit. Hal-hal itu tidak bisa saya lakukan jika ada orang lain yang menemani. Beberapa kawan yang sudah tahu kebiasaan saya ini, jika kebetulan bertemu di toko buku, mereka selalu hanya menyapa dan pergi lagi ke sudut rak yang lain. Ya, mereka adalah kawan-kawan yang layak ditraktir sebotol Bintang dingin.               

Keenam, mengucapkan selamat ulang tahun dan yang lainnya

Setiapkali ulang tahun, saya selalu gagap menerima beberapa ucapan selamat. Bukan apa-apa, meskipun bergaul di lingkungan yang terbiasa dengan segala macam ucapan selamat, namun sejak kecil saya tak pernah mengalaminya. Ibu bapak tak sekali pun pernah mengucapkan hal itu. Begitu pun saudara, baru belakangan saja mereka kadang-kadang mengikuti kebiasaan orang banyak. 

Maka kemudian saya tak tahu dan tak mau tahu tanggal kelahiran siapa pun selain diri saya sendiri. Tanggal kelahiran sendiri pun lebih karena Facebook memberi tahu, sebab dulu saya pernah mencantumkannya. Dan begitulah, setiap kali tanggal itu datang dan kawan-kawan memberi ucapan selamat, saya selalu gagap, canggung. Sama ketika kawan-kawan berulang tahun, saya biasanya sangat jarang mengucapkan selamat.

Begitu pula pada momen-momen lain, saya sangat jarang atau bahkan tidak pernah mengucapkan; Selamat Idul Fitri, Selamat Natal, Selamat atas diwisuda, Selamat atas kelahiran anak, selamat atas pernikahan, dll. Buat saya, meski ragam ucapan selamat itu adalah salah satu bumbu dalam kehidupan sosial, namun seringkali hanya jatuh sebagai seremoni belaka, dan tak bermakna apa-apa.

Sampai hari ini, (sepanjang yang saya ingat) saya tak punya masalah pribadi dengan keluarga maupun kawan-kawan. Jadi pelit ucapan selamat tak membuat kehidupan sosial saya koyak karenanya. [ ]        

21 September 2012

Tempat Pulang

“Yang fana adalah waktu, kita abadi;
Memungut detik demi detik
Merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa.”

(Sapardi Djoko Damono) 

***

Pulang senantiasa berkaitan dengan perjalanan atau bepergian. Dan perjalanan mempunyai wilayahnya masing-masing. Jika perjalanan berlain-lainan maka pulang pun mempunyai tempatnya sendiri yang berbeda-beda. Tapi kata pulang selalu identik dengan kedamaian, selalu berjejalin dengan rasa damai yang mula-mula, dan selalu menyiratkan kejujuran yang sejati, di mana segala kepalsuan diistirahatkan di sini.

Karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka kematian adalah kepulangan kita kepada Tuhan, kepada Dia yang menghembuskan hidup pada jasad kita. Karena manusia berasal dari saripati tanah, maka seharusnya dengan tanah pulalah raga ini menyatu kembali. Nanti suatu saat tubuh ini akan dimasukkan pada liang sempit kuburan untuk kembali pulang. Di hadapan Tuhan tidak ada lagi yang bisa dipalsukan, semuanya akan terbuka secara nyata dan kita tidak bisa lagi “main mata”. Seharusnya kepulangan kita kepada Tuhan memberikan kedamaian, tapi perjalanan kita selama hidup mengubah keadaan, karena setiap pekerjaan akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam kehidupan sekarang keluarga seringkali ditinggalkan. Kita terlalu disibukkan dengan pencarian tempat-tempat berteduh yang baru. Kemudian keluarga ditinggalkan, padahal di sanalah ayunan pertama bayi kemanusiaan dirawat. Di lembaga kehidupan itu kita mula-mula terlindungi dari terik dan lebatnya pergaulan hidup. Seorang anak tidak jarang lari dari keluarganya karena merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, atau mungkin juga “berpetualang” yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Seorang anak seringkali merasa telah dewasa dan kemudian melupakan keluarganya. Padahal nanti jika pergaulan hidup dirasanya terlalu berat dan angkuh, dia akan mencari jalan pulang untuk kembali ke pangkuan keluarganya. Dan keluarga hampir selalu akan memberikan kedamaian selama lembaga kehidupan itu belum hancur.

Kenyataannya sekarang lembaga kehidupan itu banyak yang hancur. Suami-istri banyak yang bercerai karena masing-masing dari mereka sudah lupa pada janji setia. Pernikahan awalnya diagung-agungkan, tapi kemudian mereka ludahi sendiri komitmen itu. Masing-masing merasa benar sendiri, padahal dulu mereka berjanji akan setia sehidup semati. Mungkin komitmen bersama dan sebuah hubungan punya masa kadaluarsanya, tapi itu berlaku pada anak-anak yang mereka hasilkan bersama. Sementara orangtuanya sibuk mengurus harta gono-gini, anak-anaknya dengan sepenuh cemas menanti dan berharap agar cahaya damai keluarga itu redup.

Begitu juga dengan persahabatan. Manusia bisa saja sering bongkar-pasang hubungan dengan pasangannya masing-masing, tapi mereka akan tetap abadi dengan sahabatnya. Di mana-mana persahabatan dibangun dengan kesejatian kecuali jika manusianya oportunis, bermental penyempat, dan licik. Persahabatan sejati adalah yang dibangun tanpa pretense materi, infiltrasi, dan gengsi.

Tuhan, keluarga, dan sahabat adalah tempat pulang manusia kepada kedamaian. Sedangkan tempat pulang dalam diri adalah hati, dan kita selalu lalai untuk menjaganya. [irf]