Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

26 February 2017

Ayah

Apa yang seringkali kamu lupakan? Mungkin salah satunya adalah bahwa kamu pernah dibesarkan oleh seorang ayah, oleh seorang laki-laki yang agak pendiam, tak banyak cakap, tak pernah terlihat menangis, kadang-kadang doyan cigarette, dan setia kepada keluarganya. Dalam sebuah sore yang hangat, lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu mengajarimu naik sepeda di ujung jalan yang agak sepi. Waktu kamu terjatuh dan lututmu berdarah, dia, lelaki yang tak banyak cakap itu, menyemangatimu untuk bangkit dan belajar lagi.
Kalau siang hari hujan turun deras, kamu sudah pulang dari sekolah, dan di luar rumah; kawan-kawanmu sangat menggoda dengan salah seorang memegang bola, maka kamu akan keluar mengendap-ngendap, dan berlari ke tanah lapang, mandi hujan dan pesta lumpur. Di rumah, kalau ibumu sudah menunggu dan siap memarahimu, lelaki yang agak pendiam itu justru bersikap sebaliknya, dia akan memberimu uang agar kamu dapat membeli bakso. Dia mengetahui hal-hal yang menyenangkan, karena dia juga pernah menjadi anak laki-laki.
Ketika kamu beranjak dewasa dan mulai terlihat cantik, usiamu bergerak mendekati kepala dua, organ tubuhmu seperti ada yang bertambah, dan kamu betah berlama-lama di depan cermin, maka lelaki yang tak pernah terlihat menangis itu akan hati-hati mengamatimu dari jendela, ketika kamu pergi dengan seorang laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat.
Karena kamu agak sedikit mudah digoda, maka akhirnya kamu pulang malam. Rumah telah redup, kamu hati-hati mengetuk pintu, ibumu bangun dengan mata pedas karena masih ngantuk, lalu kamu setengah berjingkat masuk ke kamarmu dan mencari cermin untuk melihat senyum. Laki-laki yang tanduk di kepalanya belum terlalu terlihat telah membuatmu merasa menjadi istimewa. Apakah kau tahu sayang? Tadi, waktu kamu berjalan berjingkat, di sudut ruang tamu, di bawah remang pantulan cahaya lampu, ayahmu duduk menunggu kedatangannu. Dia mencemaskanmu. Dia belum tidur sekejap pun sebelum bidadari kecilnya sampai di rumah.
Pidibaiq pernah bilang, “Aku juga sepertimu, berasal dari sorga yang turun ke bumi dengan cara diam-diam diselundupkan oleh ayahku di sebuah kamar pengantin, lalu keluar dari ibuku di sebuah kamar rumah sakit.” Tapi ayah sesungguhnya bukan seorang penyelundup, dia hanya menangkap gemuruh, membaluri cinta, dan dengan sebaik-baiknya berusaha merawat anak-anak terbaik yang diamanatkan Tuhan kepadanya, dengan caranya sendiri, yang kadang-kadang terasa lirih dan sunyi.
Coba tanyakan pada ibumu, apa yang sering diberikan ayahmu kepada istri tercintanya? Pasti ibumu mengerutkan dahi dan sedikit bingung, sebab lelaki yang kadang-kadang doyan cigarette itu jarang sekali memberikan sesuatu. Dia tak pandai memberikan kejutan, apalagi memberikan hadiah-hadiah yang mewah. Tidak, dia tidak punya uang sebanyak itu. Tak banyak yang dia diberikan kepada istri tercintanya, kecuali bangun di tengah malam untuk mengganti popokmu yang basah, kecuali terlihat senang dengan masakan ibumu yang sederhana, kecuali memperbaiki genteng bocor dengan tangannya sendiri, kecuali tak pernah menginap ketika pergi ke luar kota karena ingin segera pulang, kecuali menikmati dengan penuh khidmat kopi di pagi hari yang sudah tersaji dari tangan sang istri, kecuali tak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang ditemuinya di luar rumah, dan kecuali bersikap jujur kepada istri tercintanya.
Dari mana mereka, ayah-ayah kita itu belajar mencintai pasangan dan keluarganya? [irf]

Disalin dari Pustaka Preanger

13 July 2016

Hikayat Keluarga

Saya pulang kampung sebab lebaran datang lagi. Di luar itu, saya tak terbiasa tinggal di rumah. Di rantau pun bukan karena punya kesibukan, apalagi pekerjaan, namun semacam ada garis takdir yang membuat saya memilih untuk menjauh dari kampung dan meninggalkan segala kepompongnya, untuk ditengok sesekali pada lebaran tahun berikutnya.

Pada hari kedua Syawal seorang saudara datang dari Depok. Saudara agak jauh sebetulnya, setidaknya beda generasi dengan saya. Ia, saudara itu adalah sepupunya mama. Orangtua mereka kakak beradik, tujuh bersaudara semuanya, kalau saya tidak keliru. Tiap tahun sepupu mama itu pasti datang ke kampung dan rajin berkeliling untuk menemui saudara-saudaranya, meski tak jarang yang ia temui justru generasi yang telah berganti, sebab sebayanya telah pamit duluan ke alam keabadian, seperti mama saya.

Kakek-nenek mama dan sepupunya, artinya buyut saya, tinggal di satu zaman yang jauh, seperti Sabang dan Merauke, atau cinta tak berbalas; pendeknya mewakili sesuatu yang tak dapat saya jangkau. Hanya dari selembar foto usang saya dapat sedikit meraba bentangan waktu yang menganga.

Buyut saya memiliki tujuh orang anak, tiga perempuan dan empat laki-laki. Kakek saya adalah anak yang keenam. Yang namanya orang, meskipun saudara, tetap saja punya budaya keluarga yang berbeda-beda, juga nasib yang berlain-lainan. Kakek saya yang meninggal pada tahun 1974 konon adalah seorang kiai, meskipun sebetulnya secara usia rasa-rasanya belum pantas betul disebut kiai, beliau wafat di usia 40 tahun.

Namun kabar lisan seperti kebenaran yang tak terbantah. Setiap ketemu orang dan kebetulan membicarakan kakek, ceritanya sama; bahwa kakek betul adalah seorang kiai yang meski ilmunya tidak terlampau luas, namun mempunyai akhlak yang baik. “Kakekmu, setiap kali akan pergi ke masjid, dan di jalan melewati preman-preman yang tengah nongkrong, ia selalu membungkukkan badan dan permisi dengan begitu sopan,” ujar seorang tetangga.

Sekali waktu mama pun pernah cerita, bahwa setiap ada pedagang makanan, terutama ibu-ibu yang sudah tua dan payah, sementara makanannya itu sudah dingin dan tidak enak, kakek pasti membeli sambil berucap, "Aduh, Ibu, enak sekali kuenya.” Mama dan anak-anak kakek yang lain kerap melarangnya untuk membeli kue-kue itu, alasannya jelas; sudah dingin dan tidak enak. Namun kakek bergeming dengan kebiasaannya.

Kakek
Ada pula cerita bibi yang mengatakan bahwa kakek tak pernah mencela dan membicarakan keburukan orang, paling-paling beliau menertawakan karikatur dan gambar-gambar komik. Kalau anak-anaknya tengah ngerumpi dan bergosip, kakek selalu berdesis mengingatkan. Desisan itu hanya menyampaikan dua hal; bahwa bergosip itu tak baik dan tak ada faedahnya.

Namun bagi saya, sosok kakek dan semua kisahnya, tak lebih dari sebuah dongeng. Saya tak sezaman dengannya, dan sedetik pun tak pernah bertemu. Persis seperti Fajar Merah dan bapaknya—penyair Wiji Thukul yang hilang di pusaran reformasi 1998. Segala kisah heroik tentang penyair kere itu baginya sebatas dongeng dari masa yang tak tersentuh.

Nenek meninggal tahun 1980 akibat sebuah paku payung menancap di tangannya, entah yang sebelah kanan atau sebaliknya. Tetanus menyebar dengan begitu cepat. Beliau dikebumikan menjelang magrib dan hujan turun amat deras. Itu terjadi dua tahun sebelum saya lahir. Pernah sekali saya lihat foto beliau yang sudah lapuk, dan kesan yang terbit tak lain adalah bahwa beliau waktu masih mudanya pasti adalah seorang yang cantik. Sisa-sisa kecantikan masih membekas di foto usang itu.

Pasangan kakek nenek yang tak pernah saya jumpai ini memiliki sepuluh orang anak, dan mama adalah anaknya pertama. Beliau kemudian menikah dengan bapak, seorang anak bungsu dari pasangan kakek nenek yang lain. Bapak sejak kecil sudah ditinggalkan wafat oleh kedua orangtuanya. Jadi, saya ini tuna moyang sejak dari mama belum merencanakan kehamilannya yang kelima.

Ya, saya anak kelima dari tujuh bersaudara. Sekarang menjadi lelaki satu-satunya setelah bapak dan kakak yang paling besar meninggal dunia. Cikal belum lama berkalang tanah, penyakit paru menggerogoti masa jaya dan karirnya. Dua tahun saya tunggui ia di rumah sakit, dengan kondisi fisik yang terus merosot secara drastis. Nafasnya tersengal-sengal, oksigen tak mau lepas, dan bobot tubuh yang akhirnya hanya tersisa 40 kg. Ia pergi di penghujung 2014, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil. Dia, kakak yang baik dan mengayomi itu tutup usia di angka 42.

Sekarang rumah di kampung tak ada penghuninya. Enam bersaudara yang tersisa telah menyebar di rantau orang, sebagian telah punya keluarga dan alamat rumah masing-masing. Rumah tempat saya ditadah mula-mula dan menikmati masa kecil, kini tinggal masalalu yang dingin dan beku. Setahun sekali kembali cair oleh lebaran yang mubarak. Seminggu itu riuh oleh jerit dan lari bocah-bocah yang setidaknya dari satu pihak, sudah tidak lagi mempunyai kakek dan nenek.

Buyut
Kalau bertemu dengan mereka—bocah-bocah kecil itu, saya selalu menjadi juru dongeng. Maklum, saya adalah paman satu-satunya bagi mereka. Sembilan orang anak mengerubungi satu juru dongeng yang terus memutar otaknya agar tidak kehabisan cerita. Dari cerita hantu, perang, silat, sampai kisah orang-orang yang diserang penyakit aneh saya gelontorkan di hadapan mereka. Bocah-bocah itu menyimak dengan takjim, tegang, cemas, dan sesekali tertawa.

Adik saya yang paling kecil masih kuliah di Bandung. Ia bungsu “tak direncanakan”. Usianya terpaut delapan tahun dengan adik saya yang satu lagi. Waktu mama dan bapak meninggal, tentu saja ia yang paling terpukul, sebab usianya belum dewasa dan kakak-kakaknya sudah menikah semua, kecuali saya. Tapi apa yang diharapkan dari seorang kakak laki-laki yang menjalani hidup layaknya pengembara? Tak tentu tinggal dan rejekinya. Jodoh apalagi. Ya, saya memang bukan tipe kakak yang baik untuk menyandarkan hidup dan berkeluh kesah.

Lebaran kemarin saya dipanggil bibi. Ia bertanya ihwal istri. Sebuah pertanyaan yang tak pernah sekalipun ditanyakan oleh orangtua saya sendiri. Dulu paling-paling bapak sekali dua pernah bilang, “kamu mesti banyak tabungan, bukankah suatu saat kamu pun mesti menikahi anak orang?” Namun sekali ini bibi bertanya dengan cukup tendensius. Sebuah pertanyaan yang hanya saya jawab dengan senyuman. Bibi bahkan melanjutkan, bahwa tahun depan ketika lebaran tiba, saya harus sudah menggandeng istri kalau pulang kampung. Saya mengerti akan hal itu. Orangtua mana yang menginginkan anaknya terus-menerus hidup membujang? Namun saya punya perhitungan dan prinsip; bahwa sayalah yang paling berhak memaknai hidup dan eksistensi diri saya sendiri. [irf]

21 September 2012

Tempat Pulang

“Yang fana adalah waktu, kita abadi;
Memungut detik demi detik
Merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari, kita lupa untuk apa.”

(Sapardi Djoko Damono) 

***

Pulang senantiasa berkaitan dengan perjalanan atau bepergian. Dan perjalanan mempunyai wilayahnya masing-masing. Jika perjalanan berlain-lainan maka pulang pun mempunyai tempatnya sendiri yang berbeda-beda. Tapi kata pulang selalu identik dengan kedamaian, selalu berjejalin dengan rasa damai yang mula-mula, dan selalu menyiratkan kejujuran yang sejati, di mana segala kepalsuan diistirahatkan di sini.

Karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka kematian adalah kepulangan kita kepada Tuhan, kepada Dia yang menghembuskan hidup pada jasad kita. Karena manusia berasal dari saripati tanah, maka seharusnya dengan tanah pulalah raga ini menyatu kembali. Nanti suatu saat tubuh ini akan dimasukkan pada liang sempit kuburan untuk kembali pulang. Di hadapan Tuhan tidak ada lagi yang bisa dipalsukan, semuanya akan terbuka secara nyata dan kita tidak bisa lagi “main mata”. Seharusnya kepulangan kita kepada Tuhan memberikan kedamaian, tapi perjalanan kita selama hidup mengubah keadaan, karena setiap pekerjaan akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam kehidupan sekarang keluarga seringkali ditinggalkan. Kita terlalu disibukkan dengan pencarian tempat-tempat berteduh yang baru. Kemudian keluarga ditinggalkan, padahal di sanalah ayunan pertama bayi kemanusiaan dirawat. Di lembaga kehidupan itu kita mula-mula terlindungi dari terik dan lebatnya pergaulan hidup. Seorang anak tidak jarang lari dari keluarganya karena merasa tidak puas dengan kondisi yang ada, atau mungkin juga “berpetualang” yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Seorang anak seringkali merasa telah dewasa dan kemudian melupakan keluarganya. Padahal nanti jika pergaulan hidup dirasanya terlalu berat dan angkuh, dia akan mencari jalan pulang untuk kembali ke pangkuan keluarganya. Dan keluarga hampir selalu akan memberikan kedamaian selama lembaga kehidupan itu belum hancur.

Kenyataannya sekarang lembaga kehidupan itu banyak yang hancur. Suami-istri banyak yang bercerai karena masing-masing dari mereka sudah lupa pada janji setia. Pernikahan awalnya diagung-agungkan, tapi kemudian mereka ludahi sendiri komitmen itu. Masing-masing merasa benar sendiri, padahal dulu mereka berjanji akan setia sehidup semati. Mungkin komitmen bersama dan sebuah hubungan punya masa kadaluarsanya, tapi itu berlaku pada anak-anak yang mereka hasilkan bersama. Sementara orangtuanya sibuk mengurus harta gono-gini, anak-anaknya dengan sepenuh cemas menanti dan berharap agar cahaya damai keluarga itu redup.

Begitu juga dengan persahabatan. Manusia bisa saja sering bongkar-pasang hubungan dengan pasangannya masing-masing, tapi mereka akan tetap abadi dengan sahabatnya. Di mana-mana persahabatan dibangun dengan kesejatian kecuali jika manusianya oportunis, bermental penyempat, dan licik. Persahabatan sejati adalah yang dibangun tanpa pretense materi, infiltrasi, dan gengsi.

Tuhan, keluarga, dan sahabat adalah tempat pulang manusia kepada kedamaian. Sedangkan tempat pulang dalam diri adalah hati, dan kita selalu lalai untuk menjaganya. [irf]