Showing posts with label Gola Gong. Show all posts
Showing posts with label Gola Gong. Show all posts

23 September 2015

Jawara yang Pergi ke Frankfurt

Selain para sastrawan dan penulis yang karya-karyanya dianggap bisa memberikan gambaran tentang Indonesia kontemporer, para penghidup dunia literasi pun akan ikut hadir di Frankfurt Book Fair 2015 pada Oktober nanti. Orang-orang yang menjaga marwah literasi sejengkal demi sejengkal, di hari-harinya yang selalu sibuk dengan pengabdian kepada masyarakat terkait minat baca, memang layak diberi lampu sorot kamera. Bukan untuk membentuk mental selebritas, namun sebagai penghargaan atas kerja-kerjanya menjaga kerlip nyala dunia literasi di akar rumput.
Dari beberapa yang namanya tercantum dalam daftar orang-orang yang akan diberangkatkan ke Frankfurt, Gola Gong adalah salah satunya. Aktivis literasi yang juga penulis ini telah lama berkecimpung, dan sebisa-bisanya menghidupkan dunia literasi di wilayah Banten, khususnya Kabupaten Serang.
Sejak kepindahannya dari Purwakarta dan menetap di Serang, Gola Gong selalu tak nyaman dengan anggapan umum yang melabeli Banten sebagai daerah yang hanya menghasilkan para jawara, tukang pukul, manusia-manusia kebal senjata tajam, serta sarang teluh, santet, dan praktik dunia hitam lainnya.
Bersama kawan-kawannya semasa kuliah di Bandung, ia berniat membangun sebuah komunitas literasi di rumahnya, di Daerah Ciloang, Serang-Banten. “Saya dan kawan-kawan waktu itu bikin janji bahwa kalau ada yang lebih dulu berkemampuan, dialah yang harus mulai membikin perubahan itu,” tuturnya.
Tahun 1990-an ia kemudian membuka perpustakaan keluarganya untuk bisa diakses oleh masyarakat. Selain itu, ia juga menerbitkan tabloid bulanan berbasis komunitas, yaitu Banten Pos (1993) dan Meridian (2000). Namun dua media itu ternyata tidak bisa bertahan lama. Karena isinya banyak mengkritisi isu-isu sosial yang terkait pemerintah Banten, tabloid yang baru berjalan enam bulan itu kemudian berhenti.
“Saya diancam petugas dengan pistol di atas meja jika tidak menghentikan penerbitan tabloid,” ujarnya.
Tahun 2002, untuk meningkatkan nilai jual, perpustakaan yang telah dirintisnya dari tahun 1990-an itu diberi nama Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Akronim yang identik dengan partai progressif yang diisi anak-anak muda di masa Orde Soeharto itu ternyata cukup ampuh melonjakkan perhatian masyarakat.
Kini di masa yang relatif tenang secara politik, Gola Gong dan komunitas baca yang dibangunnya berkembang sedemikian rupa. “Pustakaloka Rumah Dunia” yang kemudian namanya menjadi lebih pendek, “Rumah Dunia”, sudah punya empat bangunan yang digunakan untuk beragam kegiatan: sastra, teater, rupa, sampai jurnalistik.
Dengan kegiatan-kegiatan tersebut Gola Gong ingin melakukan semacam gerakan dekontruksi kultural dengan mencoba memberi makna baru pada kosakata lokal yang mengandung makna peyoratif.
Salah satu contohnya adalah dengan dihadirkannya sebuah kedai buku yang bernama “Kedai Buku Jawara”. Ia berharap bahwa kata “jawara” suatu saat tak melulu bermakna dengan stigma kekerasan, namun bisa berubah menajdi “gudang ilmu”. Contoh lain adalah dengan menamai beberapa kegiatan dengan nama, misalnya, “gonjlengan wacana” dan “tawuran seni”.
“Selama ini Banten lekat dengan stigma jawara, teluh, santet, pelet, dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Kami ingin mengubah Banten, tetapi rasanya sangatlah tidak mungkin. Melalui rumah ini, kami ingin berbagi cinta dan ilmu kepada masyarakat,” tutur Gola Gong.

Rasa-rasanya spirit semacam ini memang perlu dihadirkan di ajang internasional seperti Frankfurt Book Fair, sekali lagi bukan untuk mengangsurkan sikap riya, namun untuk meluaskan daya tular, yang barangkali resonansinya akan sampai ke pojok-pojok terjauh dunia. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

18 October 2013

Orang-orang Bloomington

Apakah kau pernah punya tetangga yang cerewet, usil, jorok, nyinyir, menjengkelkan, menyebalkan, dan sok tahu?. Bagaimana perasaanmu punya tetangga-tetangga seperti itu?. Tidak nyaman bukan?. Kalau kau belum punya, mari kita jalan-jalan ke Bloomington bersama Budi Darma. Bersama penulis yang tidak jarang sangat tega memperlakukan tokoh-tokoh ceritanya. Bersama penulis yang telah melahirkan beberapa karya : Rafillus, Olenka, Fofo Senggring, Orang-orang Bloomington, dll. Saya dapat buku ini di Rumah Buku (komunitas pecinta buku dan film), di Jalan Hegarmanah-Setiabudi (yang tidak tahu Bandung, mohon maaf). 

Buku kumpulan cerpen ini akan sangat terasa bedanya, oleh mereka yang berbanyak membaca cerpen karangan penulis-penulis lain. Kalau kau pernah baca cerpen-cerpennya Joni Ariadinata, Hamsad Rangkuti, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Seno Gumira Ajidarma, AA. Navis, Djenar Maesa Ayu, dan yang lainnya, maka kau akan tahu bahwa Budi Darma membangun karakter tokohnya dengan sangat kuat. Dia perlakukan tokoh-tokohnya menjadi orang-orang yang menjengkelkan, menyebalkan, dan karakter-karakter yang lain. Orang mungkin akan berpikir bahwa si penulis, si Budi Darma ini adalah seorang yang sifatnya sama dengan tokoh-tokoh yang dia bangun, padahal kata orang-orang yang kenal dengan beliau, dia adalah seorang yang low profile, kontradiktif dengan tokoh-tokoh rekaannya. Kumpulan cerita ini menurut saya bisa menjadi sebuah bahan otokritik : apakah kita sering usil, cerewet, dan membuat orang lain jengkel?. Selamat bercermin.

Setelah selesai membaca buku ini, saya sempat bersemangat menulis cerpen dengan karakter tokohnya meniru gaya Budi Darma, tapi hasilnya hanya beberapa paragraph : “Penghuni Kost Nyonya Endeus” dan “Olva Mengintip di Jendela”, yang saya posting di uwa82.multiply.com, setelah itu saya belum pernah menulis cerpen lagi.

Budi Darma membuat karya ini sewaktu beliau menempuh studi di Bloomington, jadi semacam oleh-oleh dari hasil “jalan-jalan”-nya di negeri orang. Sepulang dari luar negeri, beliau sempat mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, dan di peta Sastra Indonesia, beliau mendapat tempat yang cukup terhormat. [ ]