Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

31 August 2016

Memopulerkan Sejarah Bersama Historia


Edisi perdana Historia terbit pada bulan April 2012. Mengusung tagline “Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia”, Historia hadir menyapa para pembaca dengan tulisan-tulisan sejarah yang “tak biasa”. Majalah tersebut menghadirkan fakta-fakta yang kerap luput dari narasi arus utama. Dalam catatan redaksi di nomor 13 tahun 2013, Historia menjelaskan hal tersebut, “Sedari mula kami memang ingin menjadikan Historia sebagai alat penyadaran, versi tandingan dalam bentuknya yang terbaik dari sejarah versi resmi.” Majalah yang dinakhodai oleh Bonnie Triyana—seorang sarjana sejarah dari Universitas Diponegoro, dalam kata-kata David T. Hill, ahli Indonesia dari Murdoch University sebagai “very nice operation.” Ya, operasi bukan publikasi.

Sejak kelahirannya empat tahun silam, Historia—meski banyak menuai pujian, namun dari segi penjualan kiranya belum memperlihatkan angka yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari seringnya majalah tersebut memberikan diskon sebesar 50% untuk nomor-nomor lawasnya, yang artinya stok majalah tersebut begitu melimpah sebagai efek langsung dari rendahnya penjualan. Di beberapa toko buku besar pun Historia sering kali sulit dijumpai, hal ini seolah mengabarkan hal lain tentang lemahnya sistem distribusi. Meski disertai juga dengan historia.id (lini daring) sebagai bentuk memperluas jangkauan, namun Historia belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat.

Komunitas Aleut sebagai kelompok belajar yang salah satu minat terbesarnya yaitu sejarah, sejak awal telah membaca dan beririsan dengan Historia. Indra Pratama, salah seorang pegiat Aleut sempat menjadi kontributor majalah tersebut untuk wilayah Bandung. Selain itu, seorang pegiat lain atas pemintaan Historia pernah meliput acara Monolog Tan Malaka yang digelar di IFI Bandung. Meski pada akhirnya—dengan pertimbangan teknis, tulisan liputan tersebut tidak jadi tayang, namun setidaknya komunikasi tetap terjaga. Dan baru-baru, kegiatan #NgoJak atau Ngopi (di) Jakarta sebagai sayap Komunitas Aleut di Jakarta, diliput juga oleh Historia dan tayang di lini daring.

Beberapa hal tersebut di atas kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mengusung Historia sebagai tema Kelas Literasi sabtu ini (3 September 2016). Beberapa majalah berbeda edisi telah dan tengah dibaca oleh para pegiat Aleut untuk diresensi dan didiskusikan pada Sabtu mendatang. Aleut yang selama ini berikhtiar mengenalkan sejarah popoler—meski secara konten berbeda, kiranya seturut dengan Historia untuk bersama-sama menghadirkan sejarah dengan wajah yang berbeda kepada masyarakat. Selain itu, mengingat kondisi Historia yang belum sepopuler majalah lain, anggap saja apa yang kami lakukan di Kelas Literasi ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kami terhadap Historia yang tak surut mengabarkan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa kini.

“Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Sukarno. Di titik ini, Historia menurut hemat kami telah dan tengah merawat amanat itu dengan sebaik-baiknya. [irf]      

18 October 2013

Menghilangkan Trauma Persepsi

Buku ini adalah kumpulan materi yang disampaikan oleh KH. Hilmi Aminudin (Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera) kepada para kader partai tersebut dalam berbagai pertemuan. Naskah ini awalnya hanyalah sekumpulan arsip yang tersimpan rapi di Sekretariat Jenderal Arsip dan Sejarah DPP PKS, namun para pengurusnya kemudian berinisiatif untuk membukukan dan melemparnya ke ranah publik, dengan tujuan agar arsip dokumen tidak sekedar menjadi benda yang kaku dan hanya dibuka lagi sewaktu-waktu, tapi berubah menjadi sesuatu yang bisa diakses publik, sebagai pembuktian dari sikap partai yang (katanya) tidak eksklusif, juga sebagai bahan pembelajaran untuk setiap kader partai dakwah itu.

Pertama kali lihat buku ini adalah di toko buku Al Amin, Bogor. Tapi saya tidak merasa tertarik. Beberapa bulan kemudian, setelah berkomunikasi dengan Bung Hamzah (kawan sewaktu kuliah), barulah saya penasaran dengan isi buku ini. Lalu saya balik lagi ke Bogor, dan menawannya sampai sekarang. Isinya adalah tentang arahan-arahan dan nasihat sang ketua Dewan Syuro kepada para kader partai yang bertarung di tengah hiruk-pikuk dan galaunya dunia politik Indonesia. Ide-idenya menurut saya cukup segar dan visioner. Jika kita selama ini merasa heran dan bertanya-tanya mengenai manuver-manuver PKS yang “aneh” dalam berpolitik, maka buku ini bisa memberikan jawabannya.

Yang cukup mengganggu dari buku ini adalah terlalu banyaknya istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hilmi Aminuddin dalam menyampaikan taujihnya. Meskipun ada penjelasan dalam bahasa Indonesianya, tapi tetap saja menurut saya mengurangi kenyamanan dalam membaca. Buku ini terbit hard cover dan harganya tidak terlalu tinggi.

Jika kita ingin “melihat” PKS, berarti kita juga harus “melihat” sejarah gerakan Ikhwanul Muslimin a.k.a Tarbiyah yang masuk ke Indonesia. Sebab pengetahuan yang parsial akan menghasilkan pemahaman yang parsial juga. Kini PKS tumbuh sebagai partai politik yang penuh dinamika. Mungkin kurang tepat jika disebut faksi, yang jelas perbedaan-perbedaan di dalam partai tentulah ada, bahkan di dalam jamaah Tarbiyah (sebelum era partai) sendiri perbedaan-perbedaan itu sudah ada. Cukup menarik jika kita mengikuti pendapat-pendapat Ustadz Daud Rasyid, Ustadz Ihsan Tanjung, dan ustadz-ustadz Tarbiyah yang lain, yang berada diluar kepengurusan partai. Baru-baru ini saya mengikutinya di eramuslim. [ ]