Showing posts with label Ahmad Tohari. Show all posts
Showing posts with label Ahmad Tohari. Show all posts

01 October 2020

Zaman Kacau Balau: Kala Kaum Kiri Menunggangi Gerakan DI/TII


Setelah perang kemerdekaan berakhir, sejumlah laskar dilebur ke dalam tentara Republik. Sebagai anggota laskar Hizbullah, pagi itu Amid, Kiram, dan Jun bergerak menuju Kebumen, bergabung dengan pasukan Hizbullah dari beberapa daerah lain. Kabar beredar, mereka akan diangkut ke Purworejo untuk dilantik sebagai tentara Republik.

Mereka menunggu di tepi rel kereta api. Pukul sembilan pagi sebuah lokomotif beserta rangkaiannya bergerak mendekati Stasiun Kebumen. Pasukan bersiap. Dalam benak mereka, selangkah lagi akan sah sebagai tentara Republik muda usia yang berhak mendapat pangkat dan gaji.

Saat kereta api benar-benar telah begitu dekat, berondongan peluru merajalela dari dalam gerbong. Amid, Kiram, dan Jun sigap menjatuhkan diri ke dalam parit. Sebagian laskar Hizbullah berhasil menyelamatkan diri, tapi tak sedikit yang bertumbangan dihajar timah panas.

Tiga sekawan dan pasukan yang selamat kemudian melakukan serangan balik. Tembak-menembak bersahutan, sebelum sebuah granat meluncur deras masuk ke dalam gerbong lewat celah jendela dan menghancurkannya. Setelah berlangsung selama dua jam, pertempuran berakhir. Para penyerang tumpas.

Sebagian pasukan Hizbullah yang selamat menuduh pasukan Republik telah berkhianat. Kereta yang rencananya akan mengangkut mereka ke Purworejo justru menjadi ular besi pencabut nyawa. Sebagian lagi tak menganggap tentara Republik sekotor itu, mereka justru menuding orang-orang komunis sisa-sisa peristiwa Madiun 1948 di balik penyerangan tersebut. Kekecewaan ini membuat sebagian laskar Hizbullah akhirnya bergabung dengan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo.

Pertempuran ini terdapat dalam karya sastra karangan Ahmad Tohari bertajuk Lingkar Tanah Lingkar Air (2015). Kisah di Kebumen ini hanya salah satu dari beberapa fragmen tentang narasi permusuhan antara Hizbullah dan golongan komunis setelah pengakuan kedaulatan.

Ahmad Tohari juga menceritakan permusuhan ini ketika pemberontakan DI/TI—yang pasukan intinya berasal dari Hizbullah—telah eksis sampai menjelang keruntuhannya lewat operasi Pagar Betis.

Lewat karya fiksi, ia seolah-olah hendak membuat terang wilayah yang kerap dianggap abu-abu tentang infiltrasi dan penghancuran nama DI/TII oleh kelompok kiri. Saat aksi-aksi garong, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang dilakukan kelompok bersenjata menghebat, Ahmad Tohari menyebut kelompok kiri kerap memakai nama DI/TII untuk melakukan aksinya.

“Yang lebih menyulitkan kami, orang-orang Gerakan Siluman (komunis) ibarat tombak bermata dua. Ke arah kami, mereka membuka garis permusuhan, sementara ke arah lain mereka menggunakan nama kami untuk melakukan perampokan-perampokan terhadap orang-orang dusun,” ujar Amid.

Selain itu ia juga menceritakan milisi yang dilatih tentara Republik yang mula-mula bernama Pemuda Desa (PD), kemudian berganti nama menjadi Organisasi Keamanan Desa (OKD), lalu menjadi Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR), yang dikerahkan untuk membantu TNI memburu anggota DI/TII, juga mayoritas berasal dari kelompok kiri.

Situasi ini—saat kekuatan DI/TII kian melemah—membuat Amid, Kiram, dan Jun enggan menyerahkan diri kepada TNI karena mereka yakin sebelum sampai ke pos militer, mereka akan dihabisi para milisi yang telah disusupi orang-orang komunis.

“Sebelum orang seperti kita sampai ke kampung, kita sudah habis di tangan OPR. Organisasi Perlawanan Rakyat itu banyak disusupi orang-orang Gerakan Siluman yang komunis. Jadi percuma bila kita berniat turun gunung. Bagiku, daripada mati justru karena menyerahkan diri, lebih baik mati bertempur,” ungkap Kiram yang karakternya paling keras di antara ketiganya.

Kisah tentang milisi desa yang memburu anggota DI/TII yang dihuni orang-orang komunis terdapat juga dalam cerpen berbahasa Sunda karya Ahamd Bakri yang berjudul Dokumén yang dihimpun dalam kumpulan Dukun Lepus (2002).

Jika Ahmad Tohari yang kelahiran Banyumas dan kisahnya berlatar di Jawa Tengah, maka Ahmad Bakri kelahiran Ciamis dan latar ceritanya terjadi di Jawa Barat. Kedua provinsi ini adalah pusat gerakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo dan Amir Fatah.

Dalam Dokumén dikisahkan, sekali waktu seluruh warga Kampung Karangsari dikumpulkan oleh OKD—yang ditulis Ahmad Bakri “rata-rata bareureum (rata-rata merah/komunis)—di balai desa.

Seluruh warga kampung itu dikumpulkan, selain karena OKD menemukan sebuah dokumen tertulis yang dicurigai berisi daftar warga yang memberikan sumbangan untuk DI/TII, juga karena kampung tersebut dianggap sebagai daerah santri yang banyak bergabung dengan gerakan Kartosoewirjo.

Dokumén diakhiri dengan pemukulan anggota OKD oleh seorang perangkat desa yang kesal karena sikapnya jemawa dalam memperlakukan warga kampung.

Peta Kekuatan Politik

Dalam beberapa penelusuran para penyintas pemberontakan DI/TII di Kabupaten Bandung, kepada Tirto mereka semua mengatakan bahwa gerombolan yang sering menyatroni kampung adalah orang-orang DI/TII, bukan komunis.

Barangkali memang benar orang-orang Kartosoewirjo yang melakukannya, atau orang-orang komunis yang mengatasnamakan DI/TII seperti dalam cerita Ahmad Tohari. Namun yang jelas setelah Kartosoewirjo tertangkap pada 1962 dan aksi gerombolan berangsur berkurang dan hilang, mereka tak menyimpan ingatan tentang gangguan keamanan yang dilakukan orang-orang komunis.

Paling banter, seperti dikatakan salah satu narasumber, menyebutnya dengan kalimat, “Sangat jarang, tidak terlalu menyeramkan seperti zaman DI/TII.”

Namun, saya percaya para penulis cerita seperti Ahmad Tohari (kelahiran 1948) dan Ahmad Bakri (kelahiran 1917), tidak menulis ceritanya dari ruang hampa atau tanpa rujukan. Mereka pasti terlebih dahulu melakukan riset pustaka atau mungkin menuliskan pengalamannya sendiri saat masa-masa konflik itu berlangsung.

Jika melihat hasil Pemilu 1955, tahun saat pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berada dalam kekuatan puncaknya, raihan suara yang merepresentasikan kedua pihak yakni Masyumi dan PKI cukup berimbang di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Di Jawa Barat, Masyumi meraih 13 kursi dan PKI 5 kursi. Sementara di Jawa Tengah, PKI meraih 15 kursi, dan Masyumi hanya 6 kursi. Jika raihan suara di kedua provinsi itu dijumlahkan, maka Masyumi meraih 19 kursi dan PKI 20 kursi.

Hasil Pemilu 1955 di kedua provinsi itu setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana dua ideologi tersebut mewarnai pilihan masyarakat, dan memetakan kekuatan dua kubu dalam konteks pemberontakan DI/TII.


Konflik Sejak Zaman Revolusi

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, sejumlah catatan sejarah juga menerakan jejak tentang konflik golongan Islam dan kiri, terutama yang melibatkan Kartosoewirjo dan para kombatan yang kelak menjadi pasukan DI/TII.

Sebuah insiden di sekitar Perjanjian Linggarjadi dicatat Holk H. Dengel dalam Darul Islam dan Kartosuwirjo: “Angan-angan yang Gagal” (1995). Menurutnya, pada Maret 1947 saat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) melakukan sidang untuk membahas Perjanjian Linggarjati di Malang, Kartosoewijo beserta laskarnya bergerak dari Jawa Barat menuju Malang. Mereka dengan tegas dan tanpa kompromi menolak perjanjian tersebut.

Langkah ini ia lakukan untuk mencegah laskar sayap kiri yang setuju terhadap perjanjian itu melakukan teror terhadap para politikus yang menolak Perjanjian Linggarjati.

“Ketika anggota-anggota Pesindo dalam sidang KNIP mencoba untuk menakuti wakil-wakil rakyat yang menolak persetujuan Linggardjati, dan ketika pertentangan tersebut semakin meruncing, Kartosuwirjo menyuruh menempatkan sebuah senapan mesin di atas sebuah rumah yang terletak di seberang gedung tempat KNIP bersidang,” tulis Dengel.

Sutomo (Bung Tomo) yang namanya populer dalam pertempuran Surabaya meminta Kartosoewirjo menahan diri. Namun, Kartosoewirjo yang kelak menjadi imam NII itu hanya menatapnya tanpa berbicara sepatah kata pun.

Kartosoewirjo baru melunak setelah Bung Tomo mengatakan tentang kemungkinan Belanda melakukan serangan terhadap sidang tersebut.

Dengel menambahkan, dalam dokumentasi yang disusun Majelis Penerangan Negara Islam, terdapat catatan bahwa perjuangan politik umat Islam pada 1947 benar-benar ditekan kekuatan militer yang hampir seluruhnya berada di tangan kelompok sayap kiri, yaitu PKI dan kaum sosialisme.

Pertentangan semakin meruncing ketika Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin membentuk Inspektorat Perdjuangan sebagai badan yang mewadahi laskar-laskar perjuangan rakyat.

R. Oni—yang kelak menjadi Ketua Majelis Pertahanan NII—sebagai ketua laskar Sabilillah daerah Priangan menolak badan tersebut. Menurutnya, badan itu mempunyai tujuan untuk membuat umat Islam menjadi sosialis. Dalam dokumen tersebut, imbuh Dengel, tampak pula ketakutan laskar-laskar Islam terhadap integrasi ke dalam tubuh TNI.

“Menurut tulisan DI itu, sejak Amir Sjarifuddin menjadi Menteri Pertahanan, semua perwira tentara Republik adalah anggota sayap kiri, dan dengan demikian, kemungkinan Sabilillah dan Hizbullah diterima untuk masuk TNI sangat tipis karena kurangnya pendidikan para laskar tersebut,” tulisnya.

Laskar-laskar Islam juga khawatirkan TNI hanya akan mengambil senjatanya, dan kemudian mereka segera dipulangkan ke tempatnya masing-masing.

Kekhawatiran laskar-laskar Islam terhadap keberadaan kelompok kiri dalam tubuh TNI secara tersirat juga dicatat Cornelis van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1995). Menurutnya, meski tidak mungkin merinci semua konflik bersenjata antarlaskar maupun merinci semua satuan gerilya dalam pusaran tersebut, yang jelas pada waktu itu banyak satuan gerilya liar terutama yang jumlahnya kecil dan perlengkapan senjatanya terbatas yang diserap oleh tentara Republik.

Artinya, tidak menutup kemungkinan banyak satuan-satuan gerilya kelompok kiri yang bergabung dengan TNI dan hal tersebut yang dihindari oleh laskar Islam seperti Hizabullah dan Sabilillah.

Kemarahan laskar-laskar Islam di Jawa Barat kepada Amir Sjarifuddin memuncak setelah Perjanjian Renville yang mengharuskan TNI untuk mengosongkan wilayah Jawa Barat berdasarkan garis van Mook.

Menurut Dengel berdasarkan dokumen Majelis Penerangan Negara Islam, mereka mengungkapkan kemarahannya dengan kalimat “Amir Sjarifuddin la’natoellah” karena dianggap telah berkhianat dengan menjual Jawa Barat kepada Belanda.

Saat Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, Kartosoewirjo beserta laskar-laskar Islam terutama Hizbullah dan Sabilillah justru memilih bertahan di Jawa Barat. Kartosoewijo merasakan simpati yang besar dari para ulama dan rakyat Priangan terhadap kekuatannya ketika terjadi pertempuran antara pasukannya melawan Belanda di Gunung Cupu.

Selain meminta perlindungan, para ulama dan rakyat Priangan pun tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya politikus yang tidak hijrah ke Jawa Tengah dan selalu menolak setiap perundingan yang dilakukan antara Republik dengan Belanda.

“Banyak pemimpin-pemimpin umat Islam [di Priangan] kini berbondong-bondong ke tempat-tempat yang dipertahankan Kartosuwirjo dan TII di lereng Gunung Cupu untuk mencari perlindungan dan pertolongan, karena mereka bukan saja dikejar oleh tentara Belanda melainkan juga oleh ‘komunis serta sosialis’,” tulis Dengel.

Catatan Dengel yang menyebutkan "komunis serta sosialis" yang mengejar para ulama dan rakyat Priangan kembali menguatkan situasi permusuhan antara kelompok Islam dan kiri.


Terlibat Aksi-Aksi Penggarongan

Dalam Lingkar Tanah Lingkar Air, Ahmad Tohari tidak sepenuhnya menolak anggapan bahwa aksi-aksi penggarongan terhadap warga sipil dilakukan pasukan DI/TII. Lewat percakapan tokoh-tokoh yang ia bangun, Ahmad Tohari mengakuinya.


Namun, ia juga tak sepenuhnya menerima dengan menyertakan narasi tentang kelompok kiri yang ikut melakukan penggarongan dengan mengatasnamakan DI/TII.

Sementara pada catatan sejarah yang ditulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1995), ia juga menulis bahwa memang aksi-aksi itu tak sepenuhnya dilakukan DI/TII meski tak menyebutnya sebagai kelakuan kelompok kiri. Van Dijk hanya menyebutnya “gerombolan garong”.

“Sebenarnya, beberapa di antaranya tidak lebih dari gerombolan garong yang melanjutkan operasinya dalam situasi revolusioner yang baru. Dalam pengertian kebiasaan Jawa lama adanya kelompok pemuda gelandangan yang bertualang di daerah pedalaman,” tulisnya.

Catatan lain disampaikan Holk H. Dengel. Kartosoewirjo menyebut permusuhan pertama antara DI/TII dengan tentara Republik terjadi pada Pertempuran Antralina di Ciawi, Tasikmalaya pada 25 Januari 1949.

DI/TII yang dengan cepat menghimpun kekuatan di Jawa Barat ketika Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, menganggap semua pasukan yang masuk ke Jawa Barat adalah pasukan liar yang harus taat kepada gerakannya.

“Waktu mereka (ja’ni R.I. dlorurot dan komunis gadungan) itu masuk ke daerah de facto Madjlis Islam, maka dengan sombong dan tjongkaknja mereka mengindjak-ngindjak hak dan memperkosa keadilan ‘tuan-rumah’, sehingga terjadilah insiden pertama dengan menggunakan sendjata, jang terkenal dengan nama ‘Pertempuran Antralina’ dan terjadi pada tanggal 25.1.1949,” tulis Kartosoewirjo seperti dikutip Dengel.

Ia secara jelas menulis “komunis gadungan” terlibat dalam pertempuran tersebut. Artinya bisa jadi kelompok komunis memang banyak berkeliaran di Jawa Barat ketika pemberontakan DI/TII mulai menguat di Jawa Barat.

Di pengujung 1949 setelah Negara Islam Indonesia (NII) diproklamasikan, digelar Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 20-25 Desember. Pada kongres tersebut dibahas pula soal gerakan DI/TII yang dipimpin Kartosoewirjo.

Seorang anggota kongres mengungkapkan, sengketa antara laskar Islam dengan TNI berakar pada peristiwa perlucutan senjata laskar Jawa Barat di awal perjuangan kemerdekaan.

“Pada saat itu perasaan umat Islam sangat terluka. Karena itu kerjasama dengan TNI tidak dapat dipertahankan lagi,” ucapnya.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa Front Demokrasi Rakjat (FDR) yang ia sebut sebagai “kaum merah”, mencoba mematahkan tenaga umat Islam dengan mempergunakan TNI.

Uraian-uraian dalam sejumlah buku sejarah tentang Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, juga lewat beberapa teks sastra tentang gerakan tersebut, tak menutup kemungkinan bahwa memang kelompok kiri terlibat dalam memperkeruh suasana keamanan warga sipil.

Situasi ini dengan tepat diungkapkan Suhana—salah seorang penyintas pemberontakan DI/TII di Kabupaten Bandung yang saya wawancarai—dengan kata "pabaliut” yang berarti kacau balau.

Permusuhan tersebut berlanjut ketika situasi berbalik. Menurut Dengel, para mantan kombatan DI/TII ikut dilibatkan dalam penumpasan G30S tahun 1965.

"Sebagian besar anggota gerakan DI pada tahun 1963 oleh pemerintah diberikan amnesti dan setelah terjadi peristiwa G 30 S, banyak dari antara mereka ditarik sebagai penasihat oleh Kodam Siliwangi pada waktu menumpas Gerakan 30 September/PKI," tulisnya. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id pada 19 Maret 2019 

23 September 2015

Penerbit Horlemann dan Kesusastraan Indonesia

Jauh sebelum program penerjemahan buku terkait gelaran Frankfurt Book Fair 2015, juga sebelum 18 buku karya pengarang Indonesia diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Jerman, Belanda, serta Italia, buku-buku karya sastrawan Indonesia sebetulnya sudah banyak diterbitkan beberapa penerbit luar. Salah satu penerbit yang sudah cukup lama menerbitkan karya sastrawan Indonesia adalah Horlemann Verlag.
Penerbit ini dikenal sebagai salah satu penerbit di Jerman yang sangat konsisten memperkenalkan kesusastraan non-Eropa, terutama dari Asia dan Afrika, kepada publik pembaca Jerman. Kecenderungan tersebut merupakan pengejawantahan salah satu misi utama mereka yaitu meningkatkan perhatian masyarakat Jerman terhadap kebudayaan non-Eropa.
Pendiri penerbit ini adalah Jürgen Horlemann (1941-1995). Sejak semula, Horlemann dan koleganya telah menjadikan Asia sebagai prioritas penerbitannya. Beberapa pengarang Indonesia pernah mencicipi keterlibatan Horlemann dalam memperkenalkan khasanah kesusastraan Asia di Jerman.
Riwayat pergumulan Horlemann dengan buku Indoensia dimulai pada 1992.”Harimau! Harimau!” (Tiger! Tiger!) karya Moctar Loebis diterbitkan. Lalu pada 1993, kumpulan cerita pendek Leila S. Chudori yang berjudul “Malam Terakhir” diterbitkan dengan judul “Die Letzte Nacht”. Pada tahun yang sama, “Belenggu” (In Fasseln), karya Armijn Pane dan “Burung-burung Manyar” (Die Webervoegel) karangan Y.B. Mangunwijaya juga diterbitkan.
Tiga tahun kemudian, Horlemann kembali menerbitkan buku sastra Indonesia. “Ronggeng Dukuh Paruk” terbit dalam bahasa Jerman pada 1996 dengan judul Die Tanzerin von Dukuh Paruk. Lalu pada 1997, “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini terbit pula dengan judul Erdetanz. Dan pada 2007 “Saman” karya Ayu Utami juga diterbitkan.
Yang paling banyak diterbitkan adalah karya satrawan Indonesia yang namanya bolak-balik menjadi nominasi peraih Nobel Sastra: Pramoedya Ananta Toer. Tak kurang dari lima karya pengarang tersebut pernah diterbitkan Horlemann: “Bukan Pasar Malam” (Mensch fur Mensch, 1993), “Keluarga Gerilya” (Die Familie der Partisanen,1997), “Jejak Langkah” (Spur der Schritte, 1999), “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Stilles Lied eines Stummen, Aufzeichnungen aus Buru,2000), dan “Gadis Pantai” (Die Braut des Bendoro, 2001).
Khusus untuk karya Pramoedya, selain Horlemann, ada dua penerbit besar Jerman yang juga menerbitkan karangannnya. Rowohlt Taschenbuch Verlag menerbitkan “Bumi Manusia” (Garten der Menschheit) pada 1988. Sedangkan pada 1994, Unions Verlag menerbitkanAnak “Semua Bangsa” (Kind aller Volker).
Menjelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan, Horlemann lagi-lagi ikut menerbitkan karya dari Indonesia. Kali ini, buku non-fiksi karya Linda Christanty, “Jangan Tulis Kami Teroris”, akan mereka terbitkan dengan judul: “Schreib ja nicht, das wir Terroristen Sind!”
Penerbit ini kadang dikritik “mengekploitasi” eksotisme negeri-negeri pasca-kolonial, termasuk Indonesia. Pilihan gambar sampulnya, seperti yang tercermin dalam perdebatan mengenai novel “Saman” karya Ayu Utami beberapa tahun silam, pernah dianggap membangkitkan kembali citraan eksotis negeri-negeri timur.

Kendati demikian, sejak kelahirannya, Horlemann Verlag punya jasa yang tidak patut untuk dilupakan dalam memperkenalkan teks-teks sastra Indonesia ke publik yang lebih luas, khususnya Jerman. Ia punya andil yang, kendati mungkin tak banyak dibicarakan, membangun perjumpaan budaya antara Jerman dan Indonesia, atau Eropa dan Asia (juga Afrika). [ ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Ahmad Tohari dan Orang-orang Desa

Beberapa pengarang Indonesia ada yang memilih hidup jauh dari kota. Terasing dari pergaulan sehari-hari dengan para pengarang lain yang memilih tempat hidup sebaliknya. Bagi mereka, yang namanya kampung, dusun, dukuh, desa dan lingkungannya adalah justru tempat yang nyaman bagi proses kepenulisan dan juga keseharian.
Salah satu pengarang dengan pilihan tempat tinggal demikian adalah Ahmad Tohari. Penulis yang terkenal dengan Trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” ini, sampai sekarang memilih hidup di daerah Banyumas, mengakrabi kehidupan desa dengan segala keindahan sekaligus persoalannya.
“Dunia yang sangat saya kuasai adalah tempat di mana saya berkubang bersama teman-teman di lumpur, tempat saya mengembala, tempat saya menembak burung, tempat saya memancing, kurang lebih wilayah Banyumas inilah. Toh, Banyumas bagian dari Indonesia, tidak mungkin bisa dipisahkan. Dan persoalan-persoalan manusia di Banyumas, saya yakin persoalan-persoalan manusia di tempat lain juga,” tutur Ahmad Tohari dalam sebuah dokumentasi video yang diproduksi oleh Yayasan Lontar.
Dari lingkungan seperti inilah karya-karya Ahmad Tohari lahir. Ia mengakrabi dan menghayati kehidupan sekitarnya, lalu dituliskan dalam teks-teks sastra. Di hampir setiap bukunya, sejak dari paragraf-paragraf awal, pembaca akan langsung disuguhi suasana lanskap alam pedesaan, hutan, dan sawah. Seperti di mula kisah dalam buku “Ronggeng Dukuh Paruk”, ia menulis begini; “Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah krokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.”
Bukunya yang pertama terbit berjudul “Kubah”. Novel yang memenangkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama di tahun 1980 ini, bercerita tentang seorang lelaki yang baru pulang dari pengasingan di sebuah pulau di Timur Indonesia, yang dijadikan kamp konsentrasi di masa rezim Orde Baru. Ahmad Tohari mengisahkan bagaimana susahnya si tokoh itu kembali ke masyarakat. Semua seolah telah tertutup baginya, sampai akhirnya ada seorang Haji yang mengulurkan tangan, mempercayainya untuk membangun sebuah kubah masjid desa.
Sementara novel “Di Kaki Bukit Cibalak” yang terbit tahun 1986, sebelumnya pernah dimuat di harian Kompas pada tahun 1980. Buku ini pun lagi-lagi mengisahkan kehidupan masyarakat pedesaan, lengkap dengan berbagai persoalannya dan bumbu romansa percintaan.
Riwayat panjang kepenulisan Ahmad Tohari, di tahun 2011 dilirik oleh kalangan sineas. Trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk”, “Lintang kemukus Dini Hari”, dan “Jantera Bianglala”, diangkat ke layar lebar dengan judul “Sang Penari”. Film besutan sutradara Ifa Isfansyah yang mengisahkan tentang budaya ronggeng di tengah pusaran konflik ini, ikut mendorong karya-karya Ahmad Tohari untuk lebih dikenal publik. Hal ini juga akhirnya membuat bebarapa judul buku pengarang berusia 67 tahun ini dicetak ulang.
“Senyum Karyamin”, salah satu kumpulan cerpen yang ia tulis dan terbit di tahun 1989, dengan ciri khas Ahmad Tohari, tetap mengisahkan kehidupan orang-orang kecil di pedesaan dengan warna-warni kehidupannya.
Mustofa Bisri, ulama cum sastrawan yang kini tinggal di Rembang, sempat mengutarakan pendapat terkait dengan karya-karya Ahmad Tohari. “Kalaupun dibilang dakwah, tidak kelihatan dia sedang berdakwah. Namun ia memihak kepada orang-orang kecil yang terpinggirkan. Di dalam tulisan-tulisannya, tidak kelihatan dia sengaja mengajak kepada kebaikan, dia cerita saja seperti orang cerita biasa, tapi dengan membaca itu orang bisa termasuki ajakannya.”
Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh yayasan Lontar dengan judul “The Dancer”. Selain itu “Ronggeng Dukuh Paruk” pun pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Horlemann ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Die Tanzerin von Dukuh Paruk”. Sementara “Lintang Kemukus Dini Hari” dalam versi Jerman-nya menjadi “Komet in der Damerung”. Dan “Bekisar Merah” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul “The Red Bekisar”.
Riwayat panjangnya dalam berkarya, juga sudut pandangnya dalam berkisah, membuat posisi Ahmad Tohari begitu penting dalam peta sastra Indonesia kontemporer. Namun hal ini bagi ia sendiri tidaklah penting. “Apakah saya kemudian setelah menulis ini disebut sastrawan atau penulis, itu sama sekali tidak penting buat saya. Posisi saya ketika menulis, saya adalah saksi yang harus mewartakan hal ini kepada kehidupan. Dukuh Paruk akan saya ajak kembali mengenal Sang Wujud yang serba tanpa batas,” ungkapnya.
Kehadiran karya Ahmad Tohari di perhelatan Frankfurt Book Fair 2015, tentu akan menjadi warna tersendiri. Dengan tulisan-tulisannya, ia hendak mengabarkan, bahwa Indonesia kiwari yang gempita dalam banyak hal, adalah juga Indonesia yang punya dan kaya dengan kehidupan pedesaan yang relatif lebih sunyi, namun bergejolak dengan berbagai persoalan.
Desa, orang kecil, dan sosok penari dalam narasi Ahmad Tohari, bukanlah sejenis eksotisme yang digali untuk kebutuhan promosi turisme, namun sebuah sikap kritis terhadap lingkungan kehidupan yang disesapnya di keseharian. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.