Showing posts with label marjin kiri. Show all posts
Showing posts with label marjin kiri. Show all posts

30 October 2023

1970, Kekerasan di Tengah Riuh Piala Dunia

Seorang ibu berusia 60 tahun mendatangi kantor polisi. Ia melaporkan bahwa anaknya hilang. 

Raul dos Santos Figuera namanya. Anak itu berusia 25 tahun. Pegawai bank yang hidupnya monoton. Kantor-rumah, rumah-kantor. Sesekali pergi ke bioskop, restoran, dan rumah pacarnya, Sonia, yang akhirnya meninggalkannya.

"Saya bahkan menelepon kamar mayat. Bapak bisa bayangkan keputusasaan seorang ibu mencapai titik ini..", ucapnya.

Polisi tak berbuat banyak. Si ibu lalu mendatangi ruang redaksi sebuah kantor media. Dia tiba pukul tujuh pagi, namun awak redaksi baru pada datang pukul sembilan lebih. Dia harus menunggu. Mau beli makan, tak berminat. 

Esoknya, sepotong berita kecil muncul di koran, di sudut halaman polisi, dengan foto yang sangat kecil. Potret Raul sedikit buram dan kecil.

"Bagaimana orang bisa tahu ini Raul? Saya berharap begitu besar untuk berita ini, Anda tidak bisa bayangkan! Dan sekarang harapan itu kandas jadi seukuran foto ini," keluhnya.

Tak patah arang, sang ibu lalu menemui pemuka agama. Berharap anaknya yang hilang diumumkan pada khotbah-khotbah gereja. 

"Kalau sekadar mendoakan saya dan anak saya, saya berterima kasih. Tapi jika bisa lebih, maka saya bahkan tidak sanggup berterima kasih," ungkapnya. 

***

Setelah kepergian pacarnya, Raul hanya ingin menghabiskan waktu di luar, nonton di bioskop, dan pulangnya minum bir sampai pagi di sebuah bar. Petaka datang, saat berjalan menuju bioskop, dia diculik aparat dan digelandang ke sebuah tempat penyiksaan.

Tuduhannya serius: terlibat dalam upaya penculikan Konsul AS. Lebih jauh, dia dituding anggota Vanguarda Popular Revolucionaria. Garda Depan Revolusi Rakyat--organisasi komunis yang diburu pemerintah diktator Brazil. 

Raul diculik pada 12 Juni 1970, dan dibebaskan sembilan hari kemudian bertepatan dengan final Piala Dunia yang mempertemukan Brazil vs Italia.

Penyiksaan begitu gamblang. Meremukkan mentalnya. Ngilu di sekujur badan. Palang Burung (pau de arara) menjadi metode penyiksaan yang mengerikan. 

Dalam jeda penyiksaan, Raul kerap bergumam:

"Berapa banyak lagi yang seperti aku, tanpa tujuan, tanpa harapan, sementara orang-orang biasa di jalanan menutup mata dan tak peduli. Mereka belanja, pergi kerja, baca koran, tertawa, dan bersorak untuk tim mereka, berdoa, dan anjing-anjing yang lewat di jalan penuh tipu-tipu ini, tak sadar akan teriakan-teriakan yang terlontar di ruang bawah tanah terdekat? Sebuah hidup yang tenang, tapi siapa sangka?"

Setelah melewati sembilan hari yang meneror jiwa raganya, Raul dibebaskan. Aparat sadar mereka salah tangkap.

Sebelum pulang ke rumah, Raul mampir ke sebuah kedai untuk makan dan minum bir. Saat itu final Piala Dunia 1970 tengah digelar. Lewat televisi hitam putih, orang-orang bersorak dan berteriak, merayakan piala ketiga baagi Brazil. Sementara Raul telah kehilangan minat pada sepak bola.

***

1970 (2023) yang ditulis Henrique Schneider dan diterjemahkan oleh Gladhys Elliona, memotret satu masa kelam dalam sejarah Brazil kala pemerintahan dijalankan oleh diktator militer yang bertahan hingga 21 tahun--berakhir tahun 1985.

Hajatan akbar sepak bola menyamarkan, bahkan menutupi kegilaan junta militer. Luka menganga dan darah mengalir di balik riuh dan gemuruh.

Kisah ini mengingatkan pada peristiwa serupa yang terjadi di Argentina menjelang dan selama Piala Dunia 1978. Diktator militer (Jorge Rafael Videla) yang mengudeta Isabel Peron melakukan serangkaian kekerasan kepada para aktivis, mahasiswa, dan orang-orang yang dianggap lawan politiknya.

Film Buenos Aires 1977 (2006) mengisahkan dengan jelas bagaimana kekerasan demi kekerasan yang dilakukan negara terjadi di sekitar perhelatan akbar olahraga. Ada tragedi di balik gegap gempita. 

Dalam lanskap yang lebih luas, Asian Games 1962 juga berdampak pada masyarakat. Ribuan warga Betawi tergusur dari kampung halamannya demi pembangunan Gelora Bung Karno.

Dalam serial Si Doel Anak Sekolahan, saat Doel lulus sebagai insinyur, bapaknya membawanya ke lokasi bekas leluhurnya di Senayan.  

"Gue cuman mau ngajak elu biar elu tahu bahwa di sini bekas tanah leluhur elu," ujarnya.   

***

Novel 1970 (2023) pada akhirnya berusaha membantah omongan Alfredo Buzaid (Menteri Kehakiman Brasil 1969-1974) yang berkata, "Tidak ada penyiksaan di Brasil." [irf]

05 June 2021

Bocah Kampung Melawan Mufakat Jahat Perusahaan dan Pemerintah


Korok tinggal di sebuah desa yang biasa saja, di negara bagian Odisha, India. Tapi seperti terjadi di banyak tempat, orang-orang kota dilanda wabah ‘noble savage’. Yaitu, “suatu keadaan ketika manusia modern yang tidak begitu bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani, percaya bahwa orang-orang seperti [Korok dan] suku Gondi bisa dibilang sempurna atau lebih baik atau tak seberapa rumit.”

Sang ibu telah tiada. Sementara bapaknya dibui atas tuduhan kriminal yang tidak pernah dia lakukan. Dan lagi-lagi seperti terjadi di banyak tempat, tak banyak yang bisa diharapkan dari polisi. Orang-orang kampung seperti bapaknya hanya bisa bungkam, menunggu kepastian hukum yang entah. Atau seperti diungkapkan Siddhartha Sarma sang penulis buku ini:

“Setelah ayahnya ditahan, Korok diperkenalkan pada mesin paling rumit di negeri ini: sistem hukum. Mesin yang menelan orang-orang biasa dan menggiling mereka perlahan-lahan.”

Bocah putus sekolah yang berusia belasan tahun ini berkawan dengan Anchita, putri seorang pejabat pindahan. Dia dan orang tuanya menempati rumah yang kebunnya dirawat oleh Korok. Dari Anchita, Korok mengetahui banyak hal baru. Begitu juga sebaliknya.

Semuanya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari--ketika asyik bermain--keduanya berjumpa dengan orang-orang perusahaan tambang yang dikawal sejumlah polisi. Kabar buruk: bukit yang disakralkan suku Gondi (Perbukitan Devi) hendak ditambang demi mengeruk kandungan mineralnya.

Korok yang lugu mulanya tak banyak omong, tipikal orang desa yang sering ditampilkan dalam pelbagai konstruksi orang kota. Namun, Anchita akhirnya memberi tahu, “Kau tidak tahu banyak tentang pemerintah, Korok. Ia adalah makhluk yang sangat, sangat besar. Begitu besar bahkan, sampai-sampai tak mengenal dirinya sendiri.”

Lewat informasi yang ia dapatkan di internet, Anchita tahu, permufakatan jahat tengah berjalan antara perusahaan dengan pemerintah. Mereka hendak mengusir suku Gondi, merusak bukit yang mereka sakralkan, dan mengeruk isi perutnya.

Protes sempat dilakukan orang-orang Gondi dengan cara memblokir jalan, tetapi segera dipukul mundur oleh siapa lagi kalau bukan polisi. Komandannya, komandan polisi itu terkenal bengis dan korup. Patnaik namanya. Dia dibutuhkan para “penyelundup kayu, pengusaha, dan perusahaan-perusahaan, mereka semua mengandalkannya.”

Penghalauan warga yang disertai kekerasan akhirnya terdengar ke pelbagai tempat. Kabar menyebar secepat sampar. Komandan polisi mendapat teguran keras dari atasannya. Tak lama kemudian sejumlah aktivis berdatangan ke desa tempat suku Gondi tinggal. Namun, ya seperti terjadi di banyak tempat, keberadaan mereka tak pernah lama, bahkan nyaris seperti turis, lebih banyak merepotkan daripada membantu.

Meski demikian, pemberitaan tentang bobroknya rencana perusahaan dan pemerintah kian kencang. Untuk mengatasinya, perusahaan akhirnya menurunkan ‘orang pintar’ yang bertugas mengembuskan isu tak sedap hingga narasi berbalik. Orang-orang suku Gondi dituduh disusupi oleh kelompok bersenjata yang kerap melawan pemerintah.

Perhatikan polanya. Mereka yang hendak merusak Perbukitan Devi itu mula-mula merepresi masyarakat dengan kekerasan yang dilakukan aparat. Itu tak mempan, lalu narasi dibalikkan. Kiwari, kita mengenalnya sebagai praktik kriminalisasi yang menyeret warga menjadi pesakitan. Terdengar sangat familier dengan yang kerap terjadi hari-hari ini, di banyak tempat, di Indonesia.

Bagaimana dengan pemerintah? Apakah mereka membantu perjuangan suku Gondi?             

“Lihat saja. Begitulah pemerintah bekerja. Ia cepat lupa. Kadang-kadang, Korok, yang terbaik adalah jika pemerintah melupakan kita,” ujar Anchita.

Atau seperti yang diungkapkan Jadob, warga yang ikut memelopori perlawanan suku Gondi terhadap rencana penghancuran Perbukitan Devi, “Seperti dewa yang berjarak, atau raksasa yang linglung, meminta bantuan pemerintah akan mendatangkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.”

Sekali waktu, saat Korok mengurus kebun di rumah Achita, dia diberitahu kawannya itu bahwa perusahaan dan pemerintah serupa gulma. Ya, gulma. Tak seorang pun mampu menghentikan mereka. Mereka mengambil paksa apa yang mereka mau. Kompak, penuh tekad, sangat kuat, dan punya banyak uang.

“Kalau mereka menginginkan petak bungamu atau desamu atau bukitmu, mereka akan mendapatkannya. Pemerintah akan memaksamu pindah, dan memberikan tanahnya kepada mereka,” imbuh Anchita.

Sementara menurut Korok, gulma tak sejahat itu. Mereka tidak begitu saja menyerobot petak bunga atau kebun. Mereka juga tidak bersekongkol atau membuat rencana-rencana rahasia dan sebagainya. Artinya, perusahaan dan pemerintah lebih buruk daripada gulma. Namun korok mengerti apa yang ingin disampaikan Anchita. “Gulma tak pernah menjadi kabar baik bagi sebuah kebun.”

Akhir perjuangan Korok dan suku Gondi lainnya dalam melawan para gulma adalah sesuatu yang langka terjadi di Indonesia. Mereka menang. Siddhartha Sarma barangkali ingin memberikan pengalaman membaca yang tidak terlalu traumatik bagi para remaja. 

Ya, Tahun Penuh Gulma (2020) merupakan seri Pustaka Mekar, buku dari Marjin Kiri yang ditujukan untuk para pembaca muda. Dalam kasus ini, agar mereka sedari dini terbiasa melawan gulma J (irf)

13 August 2017

Kisah Cinta di Amazon yang Terluka

“Bertongkatkan ranting itu ia berangkat menuju El Idilio, menuju gubuknya, menuju novel-novelnya yang membicarakan cinta dengan kata-kata yang demikian indah sampai kadang membuatnya lupa akan kebiadaban umat manusia,” tulis Luis Sepúlveda mengakhiri kisahnya.

Antonio Jose Bolivar Proano adalah pak tua yang tinggal di El Idilio, Ekuador. Di tepi sungai Amazon, dilingkung rimbun hutan hujan tropis yang mulai terserang hama: hasrat eksploitasi manusia modern. Ia berasal dari sebuah kampung nun jauh di sana, di mana masyarakatnya doyan bergosip, menyalakan bara desas-desus tentang istrinya yang tak kunjung mengandung.

Mereka akhirnya memutuskan untuk hijrah, dan sampai di tepi hutan yang sama sekali tak mereka kenali. Hujan datang hampir sepanjang tahun. Serangga buas. Tak becus berburu. Singkatnya: kehidupan mereka amat payah. Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo adalah istrinya. Perempuan yang nama lengkapnya amat menyusahkan itu tidak bertahan melewati tahun kedua, ia disergap demam tinggi. Malaria menyiksanya.

Orang-orang Shuar—Sepúlveda menulisnya: penduduk lokal dengan wujud setengah telanjang, wajah dicat sari buah achiote warna ungu dan dihiasi ornamen aneka warna di kepala dan tangannya, datang membantu para pendatang yang bermukim di tepian sungai, termasuk pak tua. Mereka mengajari berburu, memancing, membangun pondok yang kokoh, dll.

Setelah tinggal sendiri, pak tua banyak belajar pada orang-orang Shuar. Ia meski tidak termasuk orang Shuar, namun sikap dan kemampuannya dalam mengakrabi alam sama dengan orang Shuar. Sesudah mereka berpisah, pak tua akhirnya memilih tinggal di El Idilio, di sebuah gubuk yang agak jauh dari pemukim lainnya. Ia doyan menyuntuki buku-buku yang bercerita tentang cinta yang ia dapatkan dari seorang dokter gigi.

Meski sebuah kampung, El Idilio dipimpin oleh seseorang yang disebut walikota yang berwujud lelaki tambun, bodoh namun pongah, dan tak berhenti berkeringat. Ia satu-satunya pegawai negeri di kampung tersebut. Masyarakat menjulukinya sebagai la Babosa alias Siput Lendir.

Pendahulu Siput Lendir tewas mengenaskan. Pemimpin yang punya semboyan “Hidup dan teruslah hidup” itu ditemukan tak bernyawa dengan kepala terbelah parang dan separuhnya hancur dilalap semut setelah sebelumnya cekcok dengan para penambang emas.

El Idilio dan wilayah lain di Amazon memang tengah sakit. Manusia menembus hutan, merangsek apa saja yang mereka anggap menghalangi. Perburuan hewan, penambangan emas, dan ladang minyak menjadi obsesi manusia modern yang tak henti dihinggapi dahaga kekayaan.

Keserakahan itu kawin dengan pemegang tampuk kekuasaan yang korup dan brengsek. Siput Lendir kerap memberikan izin perburuan dan penebangan kayu di hutan-hutan yang usianya lebih tua dari negara manapun di dunia. Para pemukim, selain pak tua, setali tiga uang. Mereka membuka lahan tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam.

“Baik para pemukim itu maupun para pencari emas melakukan segala jenis ketololan di dalam hutan. Mereka menjarah hutan itu tak tanggung-tanggung, sehingga membuat beberapa binatang jadi luar biasa buas... Ada juga bule-bule yang datang dari kilang minyak. Mereka tiba dalam kelompok-kelompok gaduh sambil membawa senapan yang cukup untuk mempersenjatai satu batalion, memasuki hutan dan siap menghabisi apapun yang bergerak.” (38-39)  

Kondisi ini kemudian dibalas oleh alam lewat seekor macan kumbang yang murka dan menyerang manusia. Mula-mula seorang pemburu dungu diterkam dan mati. Kemudian pencari emas, lalu pemukim yang tinggal di dalam hutan beserta seorang kawannya. Mereka semuanya tewas di tangan macan kumbang betina yang sedih penuh dendam kesumat setelah anak-anaknya dihabisi.

Sial bagi pak tua. Ia yang tahu cara menghargai alam dari orang-orang Shuar menjadi satu-satunya orang yang mampu mengatasi kemarahan binatang buas itu. Dengan berat hati, ia terpaksa ikut dalam sebuah ekspedisi perburuan yang dipimpin oleh Siput Lendir. Ketika semua orang menyerah dan kembali pulang, ia ditugaskan oleh Siput Lendir untuk menghabisi macan kumbang, sendirian.

Dalam sebuah pertarungan penghabisan, pak tua akhirnya berhasil mengakhiri ancaman maut sang macan. Dada macan kumbang koyak ditembus peluru dan mati tak berkutik.

“Mengacuhkan nyeri di kakinya yang luka, pak tua itu membelainya, dan menangis tersedu oleh rasa malu, rasa tak berguna, nista, sama sekali bukan jawara dalam sebuah pertarungan.” (105)

Ketika menerima Hadiah Sastra Tigre Juan pada tahun 1988, Luis Sepúlveda—penulis kelahiran Chile yang sempat dipenjara dan diasingkan oleh rezim militer Augusto Pinochet karena mendukung pemerintahan presiden Salvador Allende itu menulis:

“Novel ini takkan sampai ke tanganmu, Chico Mendes, sobat terkasih yang irit ucapan dan banyak tindakan, tapi (Hadiah Sastra) Tigre Juan jadi milikmu juga dan milik mereka semua yang meneruskan langkahmu, langkah bersama kita dalam mempertahankan bumi satu-satunya yang kita miliki.”

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta diterbitkan oleh Marjin Kiri pada tahun 2005 dari judul aslinya Un viejo que leia historias de amor. Seperti paparan di atas, kisah seperti ini kiranya tak asing bagi negara manapun yang mengalami konflik dalam isu lingkungan hidup, akibat kehadiran orang-orang bebal yang punya kapital dan otaknya dipenuhi lanyau.

Buku yang hanya setebal 105 halaman ini menampilkan sebuah karya Luis Sepúlveda yang kuat dan puitis. Meski namanya tak sepopuler sastrawan Cile lainnya seperti Isabel Allende, Arief Dorfman, dan Marcela Serrano, namun hal ini justru memberikan wacana baru, khususnya di kalangan pembaca Indonesia yang kadung mengakrabi para penulis Amerika Latin populer seperti Gabriel Garcia Marques, Jorge Luis Borges, dan Mario Vargas Llosa.

Agustus 2017, Marjin Kiri rencananya akan menerbitkan ulang novel ini. Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa dan pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Australia Rolf de Herr serta menyabet penghargaan dalam berbagai festival film di antaranya: Fort Lauderdale Internasional Film Festival dan Adelaide Internasional Film Festival.

Di balik kesuksesan tersebut, ada sebagian kalangan yang tidak percaya jika sastra bisa berkontribusi dalam berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia, termasuk isu lingkungan. Selain itu ada pula yang bertanya ihwal kepedulian ini yang kiranya mengalahkan komitmen politik yang selama ini menjadi ciri banyak penulis Amerika Latin. Menanggapi hal itu, Luis Sepúlveda menjawab:

“Sastra tidak bisa mengubah realitas, tapi sastra bisa mencerminkan—dan memberi cerminan—pada aspek yang sangat penting darinya. Membangun kembali martabat ekologis adalah perjuangan yang sangat politik,” ujarnya. [irf]

Tayang pertama kali di pocer.co
tanggal 30 Juli 2017

22 June 2017

"Balas Dendam" Seorang Amerika Pencinta Sepak Bola


“Saya gila bola, meski payah dalam memainkannya,” tulis Franklin Foer, jurnalis politik majalah New Republic asal Amerika Serikat. Di Piala Dunia edisi ke-15 tahun 1994, negeri Paman Sam baru menjadi tuan rumah. Sementara kasta liga tertinggi, Major League Soccer, baru digelar setahun sebelumnya, hampir seusia dengan Liga Indonesia yang konon profesional. Anggap saja kita abaikan fakta-fakta itu, namun seorang Amerika menulis tentang sepak bola tetap akan dianggap sebuah lelucon yang kelewat banal.
Tapi sebagaimana Indonesia yang kerap melahirkan para pandit dan cerdik cendekia penulis sepak bola, kiranya Franklin Foer adalah salah satu pengecualian dari negeri yang lebih menggilai football “sungguhan” (lempar, tendang, bawa lari, pegang erat), dan bola basket, daripada sepak bola.
Sebelum menjelentrehkan hasil liputannya di beberapa negara yang menggilai sepak bola, di bagian prolog ia berkisah tentang betapa menyedihkannya menjadi pencinta sepak bola di negara yang amat muda usia dalam menggeluti si kulit bundar.              
“Karena saya takkan pernah jago dalam bermain bola itu sendiri, saya bisa melakukan hal terbaik berikutnya: memahami sepak bola sedalam-dalamnya laiknya seorang maniak. Dan bagi seorang Amerika hal ini tidaklah mudah,” tulisnya.

Waktu ia kecil, televisi hanya sesekali menayangkan siaran ulang dari Jerman dan Italia pada jam-jam kebaktian di hari Minggu pagi. Selama empat tahun selang Piala Dunia, pemirsa hanya disuguhi cuplikan-cuplikan pertandingan, dan harus puas hanya dengan itu.
Praktis sejak kecil Franklin dihantam dua kondisi sekaligus: suka bola tapi tak becus dalam bermain, dan mau menggilai bola tapi negaranya tak doyan permainan yang digagas orang-orang Inggris tersebut. Ia bisa saja menyerah dan melupakan sepak bola, tapi yang terjadi sebaliknya. Ketika usianya menginjak 27 tahun, Franklin mulai membuat “pembalasan” yang menyenangkan.   
Mulai musim gugur 2001, selama delapan bulan ia cuti dari kantornya dan mulai menggarap buku ini. Franklin mendatangi banyak negara, menonton pertandingan, mencermati sesi latihan, dan mewawancarai para jagoan lapangan hijau, juga orang-orang yang berkelindan di balik olah raga yang paling populer di kolong jagat ini. Ia mendatangi Serbia, Skotlandia, Italia, Brazil, Inggris, Ukraina, dll.
Penelusuran dan ketajaman penanya menghasilkan kajian sepak bola yang menarik tentang irisannya dengan isu sosial, politik, agama, dan budaya. Ia bertemu dengan para begundal Red Star Belgrade, menyigi bagaimana kelompok pendukung sepak bola berjabat erat dengan politik, dan menjadi kombatan sekaligus tukang bantai di Perang Balkan yang memecah belah Yugoslavia.
Sementara di Britania Raya, ia menyaksikan derbi Old Firm yang selalu panas dan mendatangi para pentolannya. “Lutut kami berkubang darah Feni,” teriak para pendukung Glasgow Rangers. Kemudian disusul, “Kalau kau benci bangsat-bangsat Feni tepuk tanganlah!”
Feni yang dimaksud adalah para pendukung Glasgow Celtic. Permusuhan yang dilandasi konflik agama berkepanjangan antara Rangers yang Protestan dan Celtic yang Katolik hidup di sepakbola Skotlandia. Permusuhan ini diwarnai juga oleh kebencian terhadap orang-orang Irlandia yang Katolik, atau sanjungan kepada paramiliter Protestan di Irlandia Utara.
Agama, seperti halnya di palagan politik, adalah juga barang dagangan yang terus dirawat di kancah sepak bola.
Franklin seorang pendukung FC Barcelona. Ia menyukai semangat klub Catalan yang meskipun selalu memosisikan diri sebagai seteru abadi Real Madrid yang secara sejarah menindas, namun menurutnya di kota yang mengoleksi lukisan Salvador Dali dan Joan Miro tersebut, patriotisme dan kosmopolitanisme saling mengisi dengan sempurna. Seperti pada umumnya para pendukung sepak bola di seluruh dunia, Fans Barca juga terjangkiti irasionalitas yang dalam, seperti misalnya mereka-reka konspirasi, membayangkan diri selalu dikorbankan, dll. Namun menurutnya mereka tak pernah memperlakukan pendukung klub lain sebagai bukan manusia.
Ketika Johan Cruyff yang orang Belanda menamai anaknya Jordi, dan Hristo Stocihkov yang Bulgaria kerap mengobarkan semangat Catalan, itulah contoh tentang Barcelona yang kosmopolitan. Jauh sebelum itu, jika menilik sejarah, klub yang mempunyai moto mas que un club atau “lebih dari sekadar klub” tersebut didirikan pada tahun 1899 oleh Joan Gamper, seorang pengusaha Swiss yang bergabung bersama para ekspat Inggris.
Tulisan Franklin yang berjudul Pesona Nasionalisme Borjuis, selain membedah ihwal klub dukungannya, juga diperkaya dengan sejarah rezim Franco dalam “mengelola” Barcelona. Di masa kepemimpinannya, Camp Nou, stadion kebanggaan bangsa Catalan tak pernah dilumatkan. Stadion itu dibiarkan dipenuhi cacian dan makian kepada rezimnya. Hal tersebut bukannya tanpa sebab, Franklin menulis, “Tujuannya cukup jelas: agar rakyat Catalunya bisa menyalurkan energi politik mereka ke dalam acara pengisi waktu luang yang tak membahayakan.”
Di tulisan-tulisan yang lain, dengan amat lugas Franklin merangsek dengan kisah bangsa Yahudi di dunia sepak bola: lengkap dengan sejarah kebencian, tim sepak bola tua yang telah tutup usia, serta asal usul beberapa klub yang diidentikkan dengan Yahudi seperti Tottenham Hotspur dan Ajax Amsterdam. Di Inggris, ia bertemu dengan orang pertama, pendukung Chelsea, yang mula-mula melahirkan aksi-aksi hooligan. Lalu ada cerita tentang bagaimana Eropa Timur memperlakukan para pesepakbola dari Benua Hitam. Isu korupsi para mafia dan bajingan sepak bola, juga represi rezim terhadap penikmat sepak bola, khususnya perempuan tak luput diwedarkan.   
Sepuluh biji tulisan Franklin yang lintas tema, sebagaimana yang ia maksudkan, menyoroti persoalan sosial politik globalisasi di dunia sepakbola.
“Bukan maksud saya untuk mengais-ngais kritik kuno Marxis tentang kapitalisme korporasi. Masalah utama buku ini lebih bersifat kultural ketimbang ekonomi,” tulisnya.
Di bagian epilog, ini juga sayang untuk dilewatkan, Franklin mencoba menelusuri dan mengkaji para jagoan Piala Dunia berdasarkan sistem pemerintahan negaranya. Menurutnya, komunisme, fasis, dan junta militer adalah sistem yang berhasil melahirkan tim sepak bola yang kuat dan disegani. Di luar itu, ia tak menyangkal ada yang namanya hukum besi, seperti Brazil, misalnya. Bagaimanapun realitas politik yang tengah berjalan di negaranya, tim Samba hampir selalu bisa menggondol Piala Jules Rimet.
Untuk para pembaca yang tekun dan kebetulan gila bola, ia tak pelit berbagi referensi bacaan yang mewarnai sekujur tulisannya. Setidaknya ada 28 rujukan yang terdiri dari buku, esai, dan tautan internet seperti tulisan Ivan Colovic tentang pendukung sepak bola Serbia dan Perang Balkan, Bill Murray tentang Old Firm atau perseteruan Rangers dan Celtic, Houchang Chehabi yang menulis dunia sepak bola Iran, John Burzl dan Otto Bahr tentang Hakoah (tim sepak bola Yahudi), dll.
Sepak bola, menurutnya, tidaklah sama dengan musik Bach atau agama Budha, namun kerap membangkitkan penghayatan yang melebihi agama. Di negeri Bobby Moore dan Geoff Hurst, keduanya legenda timnas Inggris dan West Ham United, olahraga yang dilahirkan kelas buruh ini kerap menjadi semacam penawar dari kemurungan kota. 
“Di kota-kota industri Inggris seperti Coventry dan Derby, klub-klub bola turut merekatkan kota-kota kecil tersebut di tengah kesuraman yang mencekam,” tulisnya. [irf]
Tayang pertama kali di pocer.co tanggal 10 Juni 2017