Showing posts with label Diktator. Show all posts
Showing posts with label Diktator. Show all posts

30 October 2023

1970, Kekerasan di Tengah Riuh Piala Dunia

Seorang ibu berusia 60 tahun mendatangi kantor polisi. Ia melaporkan bahwa anaknya hilang. 

Raul dos Santos Figuera namanya. Anak itu berusia 25 tahun. Pegawai bank yang hidupnya monoton. Kantor-rumah, rumah-kantor. Sesekali pergi ke bioskop, restoran, dan rumah pacarnya, Sonia, yang akhirnya meninggalkannya.

"Saya bahkan menelepon kamar mayat. Bapak bisa bayangkan keputusasaan seorang ibu mencapai titik ini..", ucapnya.

Polisi tak berbuat banyak. Si ibu lalu mendatangi ruang redaksi sebuah kantor media. Dia tiba pukul tujuh pagi, namun awak redaksi baru pada datang pukul sembilan lebih. Dia harus menunggu. Mau beli makan, tak berminat. 

Esoknya, sepotong berita kecil muncul di koran, di sudut halaman polisi, dengan foto yang sangat kecil. Potret Raul sedikit buram dan kecil.

"Bagaimana orang bisa tahu ini Raul? Saya berharap begitu besar untuk berita ini, Anda tidak bisa bayangkan! Dan sekarang harapan itu kandas jadi seukuran foto ini," keluhnya.

Tak patah arang, sang ibu lalu menemui pemuka agama. Berharap anaknya yang hilang diumumkan pada khotbah-khotbah gereja. 

"Kalau sekadar mendoakan saya dan anak saya, saya berterima kasih. Tapi jika bisa lebih, maka saya bahkan tidak sanggup berterima kasih," ungkapnya. 

***

Setelah kepergian pacarnya, Raul hanya ingin menghabiskan waktu di luar, nonton di bioskop, dan pulangnya minum bir sampai pagi di sebuah bar. Petaka datang, saat berjalan menuju bioskop, dia diculik aparat dan digelandang ke sebuah tempat penyiksaan.

Tuduhannya serius: terlibat dalam upaya penculikan Konsul AS. Lebih jauh, dia dituding anggota Vanguarda Popular Revolucionaria. Garda Depan Revolusi Rakyat--organisasi komunis yang diburu pemerintah diktator Brazil. 

Raul diculik pada 12 Juni 1970, dan dibebaskan sembilan hari kemudian bertepatan dengan final Piala Dunia yang mempertemukan Brazil vs Italia.

Penyiksaan begitu gamblang. Meremukkan mentalnya. Ngilu di sekujur badan. Palang Burung (pau de arara) menjadi metode penyiksaan yang mengerikan. 

Dalam jeda penyiksaan, Raul kerap bergumam:

"Berapa banyak lagi yang seperti aku, tanpa tujuan, tanpa harapan, sementara orang-orang biasa di jalanan menutup mata dan tak peduli. Mereka belanja, pergi kerja, baca koran, tertawa, dan bersorak untuk tim mereka, berdoa, dan anjing-anjing yang lewat di jalan penuh tipu-tipu ini, tak sadar akan teriakan-teriakan yang terlontar di ruang bawah tanah terdekat? Sebuah hidup yang tenang, tapi siapa sangka?"

Setelah melewati sembilan hari yang meneror jiwa raganya, Raul dibebaskan. Aparat sadar mereka salah tangkap.

Sebelum pulang ke rumah, Raul mampir ke sebuah kedai untuk makan dan minum bir. Saat itu final Piala Dunia 1970 tengah digelar. Lewat televisi hitam putih, orang-orang bersorak dan berteriak, merayakan piala ketiga baagi Brazil. Sementara Raul telah kehilangan minat pada sepak bola.

***

1970 (2023) yang ditulis Henrique Schneider dan diterjemahkan oleh Gladhys Elliona, memotret satu masa kelam dalam sejarah Brazil kala pemerintahan dijalankan oleh diktator militer yang bertahan hingga 21 tahun--berakhir tahun 1985.

Hajatan akbar sepak bola menyamarkan, bahkan menutupi kegilaan junta militer. Luka menganga dan darah mengalir di balik riuh dan gemuruh.

Kisah ini mengingatkan pada peristiwa serupa yang terjadi di Argentina menjelang dan selama Piala Dunia 1978. Diktator militer (Jorge Rafael Videla) yang mengudeta Isabel Peron melakukan serangkaian kekerasan kepada para aktivis, mahasiswa, dan orang-orang yang dianggap lawan politiknya.

Film Buenos Aires 1977 (2006) mengisahkan dengan jelas bagaimana kekerasan demi kekerasan yang dilakukan negara terjadi di sekitar perhelatan akbar olahraga. Ada tragedi di balik gegap gempita. 

Dalam lanskap yang lebih luas, Asian Games 1962 juga berdampak pada masyarakat. Ribuan warga Betawi tergusur dari kampung halamannya demi pembangunan Gelora Bung Karno.

Dalam serial Si Doel Anak Sekolahan, saat Doel lulus sebagai insinyur, bapaknya membawanya ke lokasi bekas leluhurnya di Senayan.  

"Gue cuman mau ngajak elu biar elu tahu bahwa di sini bekas tanah leluhur elu," ujarnya.   

***

Novel 1970 (2023) pada akhirnya berusaha membantah omongan Alfredo Buzaid (Menteri Kehakiman Brasil 1969-1974) yang berkata, "Tidak ada penyiksaan di Brasil." [irf]

28 July 2014

Salvador Allende

Beberapa minggu sebelum pemungutan suara pilpres di tanah air digelar, sempat juga saya membaca buku yang ditulis oleh peraih hadiah Nobel Sastra tahun 1982 dari Kolombia; Gabriel Garcia Marquez. Sebetulnya buku tersebut berkisah tentang petualangan klasdestin seorang sutradara film yang menembus jantung pemerintahan diktator Jenderal Augusto Pinochet di Chile dengan maksud mengolok-olok, namun ada satu fragmen yang membuat saya tercenung, yaitu bagaimana ingatan kolektif masyarakat begitu kuat menempel dalam kehidupan sehari-hari tentang pemimpin yang dicintainya.
Tanpa dimaksudkan untuk mencari referensi ihwal presiden ideal, atau bergenit dengan niat menggembosi salah satu calon presiden, pembacaan pada buku tersebut mulanya murni karena cara berkisahnya yang menawan.
Adalah Miguel Littin, salah seorang pelarian dari sekira 5.000 orang yang namanya masuk dalam daftar manusia yang tidak boleh kembali ke negerinya. Dia selama enam minggu menyelinap di negeri yang dicintainya melalui kamuflase yang sangat canggih dan rumit. Dalam petualangannya tersebut Littin berhasil membuat sekitar 100.000 kaki film tentang negaranya yang selama 12 tahun berada di bawah cengkeraman rezim militer.
Dengan dukungan tiga crew film asal Eropa (Italia, Prancis, Belanda), Littin melakoni petualangannya dalam intaian bahaya yang menegangkan. Ketika tiba di kantong-kantong kemiskinan Chile (poblaciones), Marquez menyebutnya sebagai “teritori yang tidak dapat diganggu gugat”, Littin dan timnya berhasil mendokumentasikan tentang kenangan masyarakat kepada presiden yang digulingkan oleh rezim militer, dialah Salvador Allende.
Allende masih hidup dalam kenangan masa lalu dan telah menjadi legenda. Secara spontan dan jujur, orang-orang kerap menjawab pertanyaan dengan antusias. Beberapa pengakuan sering terlontar dan hampir sama, “Saya selalu memilih dia, tidak pernah memilih lawan politiknya.”
Jika politisi lain dikenal hanya lewat surat kabar, televisi, atau radio, Allende justru melakukan kampanye secara hangat; datang ke rumah-rumah dan berlaku seperti seorang dokter keluarga. Littin mengakui bahwa selama melakukan perjalanan di Chile, dia tidak pernah menemui satu tempat pun yang tidak pernah dikunjungi oleh Allende. Dia pernah menyembuhkan seseorang dari batu rejan yang parah dengan meracik teh dan rempah-rempah yang didapati di halaman rumah warga. Atau sekali waktu sempat juga menjadi wali baptis bagi seorang anak. Beberapa orang pernah ia beri pekerjaan atau ia kalahkan dalam permainan catur. Dan selalu ada saja yang disalaminya.
“Salvador Allende adalah satu-satunya presiden yang memperhatikan hak-hak perempuan,” demikian kata beberapa orang perempuan. Hal-hal sederhana yang ia sentuh seolah menjadi keramat. Beberapa orang menunjukkan benda dan mengatakan, “ia memberi kami ini.”
Bersama penyair Pablo Neruda yang juga banyak dipuja rakyat Chile, kisah kenangan masyarakat terhadap Allende seolah menggulirkan satu kenyataan bahwa pemimpin harus dekat dengan rakyat adalah suatu keniscayaan. Memang semua menjadi sempurna karena justru junta militer yang menggulingkan presiden pujaan rakyat itu. Kondisi berbalik drastis dan pembanding begitu kontras. Maka tak heran jika pada sebuah tembok pagar di sekitar rumah Neruda terdapat tulisan, yang bahkan polisi pun tak dapat melarangnya :
Cinta tak pernah mampus, Jenderal. Allende dan Neruda tetap hidup. Satu menit dalam kegelapan takkan membuat kami buta. [ ]