Showing posts with label JIFFest. Show all posts
Showing posts with label JIFFest. Show all posts

23 April 2014

Misbar di Monas (Catatan JIFFest 2013)


Sejak edisi pertama pada tahun 1999, Jakarta International Film Festival (JIFFest) telah disambut dengan begitu antusias oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta. Festival Film ini, yang kerap menampilkan film-film dari berbagai negara, menjadi semacam alternatif tontonan di tengah minimnya produksi film lokal (medio 1999, pertahun hanya ada empat film Indonesia yang tayang di bioskop), dan banyaknya film produksi Holywood yang sangat
“popcorn”. 

Sampai penyelenggaraannya yang ke-12 di tahun 2010, JIFFest tetap menarik minak banyak penonton. Sempat terhenti di tahun 2011 dan 2012 karena masalah dana, JIFFest akhirnya berhasil diselenggarakan kembali di tahun 2013 dengan penambahan format yang lebih “merakyat”, yaitu dengan diadakannya open air cinema alias misbar (gerimis bubar), alias layar tancap yang diadakan di silang Monas.

Dari 20 film yang diputar, empat film di antaranya, yakni; Metro Manila, Korean Surprise Movie, National Security, dan Rurouni Kenshin, terpilih sebagai film yang diputar di silang Monas. Masyarakat yang hadir tidak hanya orang-orang yang "melek"  film dan para moviegoer, namun juga para penjual makanan dan minuman, penjual mainan anak, dan para pedagang kaki lima lainnya yang mangkal di sekitar Monas, juga ikut menyaksikan pemutaran film.

Setelah lebih dari sepuluh tahun hanya bisa dinikmati kalangan menengah-atas, pemutaran di silang Monas seperti sebuah keinsyafan, bahwa sesungguhnya selalu ada jalan bagi festival film yang bertitel ‘Internasional’ untuk bisa diakses oleh kalangan yang lebih luas. Karena seperti kata Riri Riza, “Sinema adalah medium yang dapat dengan efektif menangkap kegelisahan-kegelisahan manusia.” 

Maka pertanyaannya, apakah kegelisahan-kegelisahan itu hanya bersarang di kelas menengah-atas saja? Tentu tidak. Semua lapisan masyarakat, dalam hidupnya, tentu mengalami yang namanya kegelisahan tentang banyak hal yang mengitari riwayat hidupnya.

Tapi selain hal-hal “berat” tentang kegelisahan, dalam semangat Jakarta terkini, yang tecermin pada semakin banyaknya taman-taman kecil, trotoar yang diperbaiki, waduk yang direvitalisasi, acara-acara hiburan yang menghadirkan kemesraan sosial, kegembiraan dalam film juga layak untuk dihadirkan. 

Jika open air cinema ini semangatnya adalah agar masyarakat luas bisa menikmati dan ikut bergembira, maka hemat saya, hal ini justru kurang tergarap dengan baik dalam misbar ini.

Dari empat film yang diputar, semuanya bukan film berbahasa Indonesia. Para penonton tradisional JIFFest yang rata-rata—dalam pengamatan saya—berpendidikan formal tinggi, ekonomi bagus, dan wawasannya luas, tentu tidak kesulitan melahap film apapun yang disajikan penyelenggara. Namun untuk kalangan tertentu (yang ada di Monas, yang telah disebutkan sebelumnya), hal ini bisa terjadi sebaliknya. 

Dengan kebijakan untuk setiap film asing yang berbahasa Inggris tidak ada terjemahnya, dan untuk film asing lainnya terjemahnya hanya memakai bahasa Inggris, tentu akan cukup menyulitkan masyarakat awam untuk bisa memahami film secara utuh. Alih-alih bisa tertawa dalam setiap dialog yang lucu, mereka justru mengkerutkan kening karena bingung dengan artinya.

Selain masalah bahasa, cerita film pun kurang begitu sesuai menghadirkan kegembiraan masyarakat luas, dan cenderung berat. Namun jika sudut pandangnya menyetujui bahwa berpikir adalah sebuah kegembiraan, maka beberapa film cukup berhasil. 

Film National Security misalnya, ini mirip dengan deskripsi penyiksaan para aktivis politik 98. Dalam film Korea ini diceritakan, di tengah rezim diktator yang berkuasa, seorang aktivis yang ditangkap dan kemudian mengalami serangkaian penyiksaan. Film ini juga mengingatkan pada film Buenos Aires 1978, yang juga menceritan sejumlah penangkapan dan penyiksaan. 

Narasi tentang penyiksaan sudah pasti menghadirkan visual kekerasan yang sulit untuk disensor, di titik ini film membutuhkan batasan usia, sedangkan di tempat terbuka seperti silang Monas bahkan anak kecil pun hadir, yang sedikit banyaknya tentu melihat adegan-adegan kekerasan tersebut. Beberapa kali saya bilang sama seorang panitia yang kebetulan duduk di sebelah, “Gak salah pilih film nih, Bung?”

Isu kekerasan politik memang pernah terjadi juga di sini, namun kurang dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya. Ada sebuah film yang tidak diputar di Monas, namun termasuk dari 20 film yang diputar di JIFFest, yang sebenarnya lebih dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya, yakni film Mangga Golek Matang di Pohon. 

Film ini bercerita tentang kehidupan para waria yang teguh memilih jalan hidupnya sebagai kaum minoritas, lengkap dengan kisah stigma dan penerimaan setengah hati dari masyarakat.

Satu hal lagi, ada stand yang menyediakan cemilan gratis bagi para penonton, namun dengan syarat penonton yang hendak mengambil cemilan tersebut harus memperlihatkan akun twitter, dan memastikan telah menjadi follower akun JIFFest. 

Pertanyaannya adalah apakah masyarakat luas yang “disasar” di misbar ini semuanya mempunyai akun twitter? Bukan maksud saya hendak mempermasalahkan hal “sepele” seperti ini, namuan kenyataannya para pedagang kakilima tak seorang pun datang ke stand tersebut. Mungkin karena memang mereka tidak tahu, dan bahkan tidak mengerti jejaring sosial dunia maya yang bagi sebagian kalangan telah menjadi makanan sehari-hari.

Dari beberapa hal tersebut, jelaslah bahwa penyelenggaraan misbar yang mulanya mungkin hendak menghadirkan kemesraan sosial yang lebih romantik, namun pada eksekusinya masih kurang tepat sasaran. JIFFest masih terlampau memanjakan kelas menengah-atas yang melek dengan urusan-urusan yang kurang dipahami oleh masyarakat awam.

Namun demikian, apresiasi tetap patut diberikan kepada penyelenggara dan para relawan yang bekerja keras mewujudkan acara ini. Menghadirkan sebuah festival film internasional tentu tidak semudah yang dibayangkan, terbukti dengan sempat terhentinya hajatan (rutin) ini pada dua tahun sebelumnya. Begitu pula dengan ide misbar, yang merupakan sebuah gagasan segar sebagai bentuk usaha untuk “membumikan” film di tengah masyarakat yang beragam latar pendidikan, budaya, dan ekonominya.

Setelah film usai, semua penonton bertepuk tangan dan barangkali berharap hajatan ini kembali terulang di tahun depan. Seperti yang tertulis di brosur; “JIFFest is Back!” Saya pun berharap festival film ini akan kembali datang pada tahun-tahun berikutnya, dan setia menghadirkan kemesraan sosial di tengah kehidupan Jakarta yang terkadang bersumbu pendek. [irf]

02 October 2012

Garis Batas Fiksi

"How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life
All this time we’re blind." 

***

Asan, orang yang sempat saya cacat dalam dua buah cerita pendek, tiba-tiba datang di personal message sebuah jejaring sosial; bertanya soal nomor yang bisa dihubungi. Dia yang sudah lama terapung-apung bekerja di kapal pesiar tiba-tiba saja pulang dan sekarang kerja di bilangan Kelapa Gading. Tak lama kemudian ponsel berbunyi, ya ini suara. Saya setengah tidak percaya. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin, di 2009 itu saya sempat numpang tidur di kosannya di daerah Tebet. Pagi-pagi sarapan secangkir Good Day dan suara Green Day. Lalu dia tidur lagi sebab kerjanya malam hari, sementara saya meluncur ke GI meneruskan JIFFest di hari kedua. 

Kemarin seorang tamu datang, tapi entah siapa. Rasa-rasanya saya tidak punya musuh, tapi tiba-tiba diserang dengan deretan kalimat ambigu. Sekilas seperti karakter tokoh di sebuah cerita pendek Budi Darma; absurd. Tapi seru juga, rasanya seperti punya kawan baru. Meskipun diolok-olok sebagai orang yang berlindung di balik tameng kata-kata, dan mungkin dia ada benarnya juga, tapi memang inilah tempatnya, tempat saya berteduh dikala hati bernuansa biru. Tentang persepsi, dari dulu saya tidak pernah berubah. Orang mau bicara apa pun, bagi saya itu menjadi sekunder bahkan tak berarti apa-apa.

Di gang yang busuk itu, tempat puluhan keluarga menyambung hidup, pada sebuah sore terdengar suara seorang ibu membentak anaknya dengan kata-kata kasar. Madrasah pertama dalam kehidupan itu membakar sumbunya sampai menyentuh titik ledak. Barangkali madrasah pertama sedang jengkel atau marah, tapi kata-kata kasar itu akan sangat manis terdengar di telinga siapa pun yang merasa punya atau pernah mempunyai seorang ibu. Ingatan akan lari ke sana, ke saat-saat ketika ibu dengan sangat rajin membaluri kita dengan doa-doa dan pelukan paling hangat di dunia.

Pada sebuah pagi di bus Transjakarta. Seorang pemuda bersitegang dengan seorang perempuan cantik. Yang diributkan adalah tempat duduk, karena seperti biasa bus penuh. Si cantik minta duduk, tapi si pemuda tak memberinya. Si cantik tidak sedang sakit, tidak sedang hamil, tidak cacat, dan tentu saja masih muda. Lalu alasan apa yang membuat pemuda itu harus berdiri dan membiarkan tempat duduknya diambil orang?. Oh mungkin karena alasan gender?, tapi bukankah sekarang sudah polusi oleh istilah-istilah emansipasi dan kesetaraan gender?. Jangan salahkan pemuda itu kalau dia tidak bisa romantic. Karena bisa saja dia bergaya tengik, menjelma menjadi pahlawan kesiangan dan pamrih dibayar tunai oleh sebuah perkenalan. 

Kadang-kadang saya merasa garis batas fiksi mulai banyak yang memuai. Seperti sebuah gegar budaya yang datang tiba-tiba. Seorang konservatif yang tidak pandai berdiplomasi bisa saja bersikap total, tapi dia tidak akan pernah memilih menjadi pengemis. Potret ini seperti roman-roman di zaman Balai Pustaka, terdengar sangat old skool. Padahal sekarang, seperti kata Efek Rumah Kaca, sudah berada di titik “kenakalan remaja di era informatika”. Tarik-menarik lintas batas fakta dan fiksi ini menggiring saya ke sana, ke spirit baru yang mengapung. Jauh melebihi Alice in Woderland ataupun film pertama Mouly Surya. [ ]
 

14 May 2012

JIFFest 2011 Tidak Ada?!

Saya harus mengawali catatan ini dengan meminta maaf kepada Atta di negeri-senja.com, karena dengan sengaja dan tanpa izin darinya saya menyalin beberapa paragrag tulisannya. Alasannya sederhana saja: tulisannya bagus, menurut saya. 

Dengan maksud menghemat ruang, maka beberapa paragrap yang sebenarnya sengaja Atta buat untuk—mungkin—menimbulkan daya “hantam” yang kuat, terpaksa saya gabung menjadi lebih sedikit. Maka inilah tulisannya yang saya “curi” itu:

Kapan terakhir kali saya tertegun mendengar azan? Diam, dan meresapi seruan itu masuk ke indera dengar saya. Merasakan sesuatu yang bergetar, jauh di dalam sana. Di hati. Minggu lalu. Di sebuah ruangan berpendingin udara, dengan barisan bangku merah menghadap ke layar putih besar. Azan itu terdengar jelas dari tempat saya duduk, di baris kelima. Tidak lama. Hanya sepenggal saja.

 “Allahu Akbar, Allahu Akbar”

Muazin itu melantunkan azan dari atap mobil. Dan dari tempat saya duduk, mata saya tak lepas menatap layar putih. Gambar bergerak, muazin tadi berganti menjadi rombongan orang-orang dalam pakaian ihram. Suara azan itu lamat-lamat menghilang. Hanya sepenggal. Tapi dari tempat saya duduk, saya merasakan sesuatu yang bergetar, jauh di dalam sana. Di hati. Sudah lama sekali saya tidak pernah merasakan azan yang menggetarkan. Mungkin karena azan didengar setiap hari. Dari pengeras suara masjid dekat rumah, masjid belakang kantor, televisi. Azan datang dan saya mendengarkannya sambil mengetik, sambil chatting, sambil menatap layar komputer, sambil berjalan mengisi kembali gelas air putih yang kosong, sambil browsing.

Jumat, satu minggu lalu. Di Graha Bakti Budaya, adegan sepenggal azan dalam film Le Grand Voyage itu membuat saya bergetar. Hanya itu? Tentu tidak. Film berdurasi 108 menit besutan Ismael Farruekhi ini juga memberikan pengalaman batin yang lainnya. Saya menyebutnya dengan nutrisi jiwa. Film ini bercerita tentang perjalanan Reda mengantar sang ayah pergi haji lewat jalan darat, naik mobil, dari Perancis menuju Arab Saudi. Dalam film dituturkan konflik yang terjadi sepanjang perjalanan ayah dan anak itu, dan bagaimana mereka mengatasinya. Bahasa gambar yang dipilih sangat sederhana. Cuma butuh satu kata untuk beberapa potongan dialog di film ini: dahsyat!. Le Grand Voyage menjadi pembuka dari Jakarta International Film Festival (JiFFest). Seperti tahun-tahun sebelumnya, pesta film sepanjang 9 hari ini menyuguhkan tontonan yang berbeda. Puluhan film dari berbagai negara bisa ditemukan di sini. Setiap harinya, di 12 tempat yang berbeda, rangkaian gambar bergerak itu diputar, tidak hanya memanjakan mata tapi juga jiwa.

Atta hanyalah salah satu dari ribuan penonton film yang dengan sangat antusias menikmati JIFFest setiap tahunnya. Semenjak digelar tahun 1999, festival film ini memang memberikan tontonan alternatif di tengah dominasi film-film Hollywood dan lesunya industry film nasional. Saya tak hendak bertutur mengenai sejarah festival film ini, tapi hanya ingin membakar sumbu yang tadi siang pemantiknya sudah dinyalakan oleh seorang kawan. Di sebuah jejaring sosial dia menulis:

tadi telpon cp nya, katanya jiffest taun ini ga ada.. saya boleh ketawa ga?? hahahahahahaaaa... parah.....

Sebelumnya saya memang sudah curiga, sebab di situs resminya---sudah berkali-kali---saya membaca bahwa JIFFest 2011 akan diadakan tanggal 14-24 Oktober, tapi di bawah tanggal tersebut ada tulisan yang mengundang H2C; “Stay tuned for updates”. 

Dan pertualangan di Google akhirnya dibungkam oleh info dari kawan yang menulis di jejaring sosial tersebut. Tiba-tiba saya menjadi teringat Afrizal Malna. Dalam salah satu novelnya yang berjudul Lubang Dari Separuh Langit, dia menulis; “Novel untuk saya adalah dunia di mana manusia seperti memiliki kesempatan untuk masuk kedalam ususnya dan meledakan dengkulnya menjelang tidur”. Damn. 

Kata-kata yang bagai ledakan bom itu tiba-tiba saya rasakan ketika tahu bahwa JIFFest 2011 gagal diadakan!! Saya lari ke account Twitter, dan tidak mendapati informasi apa-apa selain ucapan selamat kepada film The Raid yang berhasil menang di Festival Film Toronto.

Saya belum lama mengenal JIFFest, hanya beberapa kali saja mendengarnya. Tahun 2009 adalah permulaan. Penghelatan yang ke-11 itu berhasil saya ikuti dengan melahap beberapa film. Hal ini saya rekam dalam sebuah catatan yang berjudul "3 Hari di Festival Film (Dari Provinsi Xinjiang sampai Humor Purba di Taman Lawang)". 

Memang harus diakui bahwa JIFFest berhasil menyuguhkan film-film yang beragam, menghibur, dan “mencerahkan”. Dan satu hal lagi, bahwa kenyataan mayoritas film-film ini susah untuk mendapatkan DVD-nya, baik yang bajakan maupun yang original. 

Tak terhitung berapa kali saya bolak-balik ke Gramedia Matraman, Glodok, Atrium, Blok-M, Cempaka Mas, dan tempat-tempat lain yang dicurigai menjual kepingan-kepingan DVD, hasilnya hanya berhasil membawa pulang beberapa film saja, diantaranya: Departures, (500) Days of Summers, New York I Love You, Goodby Lenin, Flame and Citron, Waiting for Superman, Inside Job, The Cove, Babel, After The Wedding, Paris Jet’Aime, Le Tigre et La Neige, Volver, I’m Not There, Shine A Light, Burn After Reading, Vicky Cristina Barcelona, Buenos Aires 1977, The Namesake, Eternal Sunshine of The Spotless Mind, Super Size Me, dan The Damned United.

Menonton festival film, buat saya, bukan untuk merasa keren, tapi untuk merasa senang karena dapat menyalurkan hobi. Ya, hobi nonton film. Alasan dan argumentasi apapun akan hangus tak bersisa jika dibenturkan dengan yang namanya passion. Gairah. Maka jika memang benar JIFFest 2011 tidak ada, inilah saat yang tepat untuk mengibarkan bendera kuning. 

Entah harus menyalahkan siapa, atau mungkin tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena mencari kambing hitam selalu saja dicap sebagai kegiatan yang tidak menghasilkan solusi. 

 “Dari dalam usus, dan dalam keadaan dengkul yang sudah meledak,” setidaknya saya harus menyempatkan untuk angkat topi bagi industri film hantu cabul lokal yang masih mampu untuk tetap bertahan di tengah gempuran kritikan pedas yang menyerang dari berbagai pojok media. Salut untuk para produser dan sutradara yang bernapas panjang untuk selalu, dan tak henti-hentinya mengorbitkan deretan hantu yang bekerja keras bermain di layar perak.

Hiburan, kebudayaan, dan inspirasi memang bukan monopoli suatu golongan. Setiap orang berhak untuk berjalan di jalur yang diyakininya benar dan menguntungkan.  Setiap orang berhak untuk sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, termasuk pemerintah, termasuk orang-orang di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, para anggota dewan, para pegiat film, para pemodal, dan bahkan para pengantar roll film seperti dalam Janji Joni. 

Termasuk juga saya yang akhirnya harus menimbang-nimbang antara pergi ke Erasmus Huis atau hunting DVD bajakan. Tapi anehnya saya lagi-lagi teringat sesuatu, kali ini teringat Dian Sastro yang pernah mengutip kata-kata Charlie Kaufman dalam film Adaptation : “You are what you love.” [ ]

itp, 14/10/11