Showing posts with label Kelapa Gading. Show all posts
Showing posts with label Kelapa Gading. Show all posts

02 October 2012

Garis Batas Fiksi

"How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life
All this time we’re blind." 

***

Asan, orang yang sempat saya cacat dalam dua buah cerita pendek, tiba-tiba datang di personal message sebuah jejaring sosial; bertanya soal nomor yang bisa dihubungi. Dia yang sudah lama terapung-apung bekerja di kapal pesiar tiba-tiba saja pulang dan sekarang kerja di bilangan Kelapa Gading. Tak lama kemudian ponsel berbunyi, ya ini suara. Saya setengah tidak percaya. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin, di 2009 itu saya sempat numpang tidur di kosannya di daerah Tebet. Pagi-pagi sarapan secangkir Good Day dan suara Green Day. Lalu dia tidur lagi sebab kerjanya malam hari, sementara saya meluncur ke GI meneruskan JIFFest di hari kedua. 

Kemarin seorang tamu datang, tapi entah siapa. Rasa-rasanya saya tidak punya musuh, tapi tiba-tiba diserang dengan deretan kalimat ambigu. Sekilas seperti karakter tokoh di sebuah cerita pendek Budi Darma; absurd. Tapi seru juga, rasanya seperti punya kawan baru. Meskipun diolok-olok sebagai orang yang berlindung di balik tameng kata-kata, dan mungkin dia ada benarnya juga, tapi memang inilah tempatnya, tempat saya berteduh dikala hati bernuansa biru. Tentang persepsi, dari dulu saya tidak pernah berubah. Orang mau bicara apa pun, bagi saya itu menjadi sekunder bahkan tak berarti apa-apa.

Di gang yang busuk itu, tempat puluhan keluarga menyambung hidup, pada sebuah sore terdengar suara seorang ibu membentak anaknya dengan kata-kata kasar. Madrasah pertama dalam kehidupan itu membakar sumbunya sampai menyentuh titik ledak. Barangkali madrasah pertama sedang jengkel atau marah, tapi kata-kata kasar itu akan sangat manis terdengar di telinga siapa pun yang merasa punya atau pernah mempunyai seorang ibu. Ingatan akan lari ke sana, ke saat-saat ketika ibu dengan sangat rajin membaluri kita dengan doa-doa dan pelukan paling hangat di dunia.

Pada sebuah pagi di bus Transjakarta. Seorang pemuda bersitegang dengan seorang perempuan cantik. Yang diributkan adalah tempat duduk, karena seperti biasa bus penuh. Si cantik minta duduk, tapi si pemuda tak memberinya. Si cantik tidak sedang sakit, tidak sedang hamil, tidak cacat, dan tentu saja masih muda. Lalu alasan apa yang membuat pemuda itu harus berdiri dan membiarkan tempat duduknya diambil orang?. Oh mungkin karena alasan gender?, tapi bukankah sekarang sudah polusi oleh istilah-istilah emansipasi dan kesetaraan gender?. Jangan salahkan pemuda itu kalau dia tidak bisa romantic. Karena bisa saja dia bergaya tengik, menjelma menjadi pahlawan kesiangan dan pamrih dibayar tunai oleh sebuah perkenalan. 

Kadang-kadang saya merasa garis batas fiksi mulai banyak yang memuai. Seperti sebuah gegar budaya yang datang tiba-tiba. Seorang konservatif yang tidak pandai berdiplomasi bisa saja bersikap total, tapi dia tidak akan pernah memilih menjadi pengemis. Potret ini seperti roman-roman di zaman Balai Pustaka, terdengar sangat old skool. Padahal sekarang, seperti kata Efek Rumah Kaca, sudah berada di titik “kenakalan remaja di era informatika”. Tarik-menarik lintas batas fakta dan fiksi ini menggiring saya ke sana, ke spirit baru yang mengapung. Jauh melebihi Alice in Woderland ataupun film pertama Mouly Surya. [ ]
 

19 May 2012

Roti Buaya (Stadium 2)


Sebermula adalah pagi, dia tajamkan tatapan ke arah mataharinya. Dari mana datangnya matahari? Dia sendiri tidak tahu. Selalu ada pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Ada lidah api yang terkadang menabrak logika dan rasionalitas sosial. Komoditi pasar yang satu ini memang berdaya hantam hebat.

Matahari dan dirinya sama-sama berdiri, membentuk garis diagonal. Dari belakang setengah samping, dapat dia lihat, mataharinya terlihat cantik. Seperti motor Jepang yang menemukan jalan tikus, lidah api selalu dapat menembus labirin yang ujungnya tak terduga.

Saya kira mas Joko sedang mengalami hal yang sama seperti pagi itu, waktu dia menulis puisi. Katanya, kata mas Joko, “Seperti anak rusa menemukan sarang air / di celah batu karang tersembunyi.”

Nasib terbaik adalah membaca buku. Meskipun kemudian menjadi subversive. Matahari kembang gula susastra tidak bersinar di mahatinggi cakrawala, dia hanya terbit di perasaan yang susah didefinisikan, dan di lorong panjang gudang kata-kata.

“Seperti gelandangan kecil menenggak sebotol mimpi / di bawah rindang matahari,” itu pun, lagi-lagi, kata mas Joko.

Barangkali, atau pasti, perempuan yang dia cintai itu, yang dia sebut dengan nama Haryani, tidak tahu dan tidak menyangka bahwa kemudian dirinya akan dicintai seorang laki-laki yang meraba-raba rasa roti buaya. Tapi misteri akan berhenti beraksi ketika semuanya bisa ditakar dengan kata pasti. Artinya, hidup berjalan linear.

Dan itu akan menghilangkan daya kejut yang selama ini berjalan dalam eksistensi. Mestinya, dulu dia tidak pernah menonton Power Ranger. Buat apa mengingat lagi tokoh hero kalau yang dipinjam dalam tulisan hanyalah karakter warna?

Lalu gelombang naik lagi, kali ini dia tidak ingin kalah oleh ketakutan. “Seumur-umur, baru kali ini keberanian bertukar dengan defisit pulsa,” begitu katanya.

Anak-anak terbaik dilahirkan ketika hasrat purba terbenam di lantai dasar. Mereka tidak dilahirkan oleh gemuruh kamar remang, ataupun jebakan dapur yang biasa dipakai untuk menangkap macan.

Bukan, bukan dari sana mereka lahir. Mereka lahir ketika kata-katamu tiba-tiba berubah menjadi metafora. Ketika bahasamu tiba-tiba meledak dalam redup dan nyata. Apa yang kamu sembunyikan? Apakah kamu malu mengakuinya? “Tidak, Haryani. Aku tidak malu. Aku bahkan mengatakannya, bukan?”

Jauh. Romantisme telah turun dari pundak, semenjak kawan-kawannya bertukar potongan dengan belah ketupat. Atau memang segalanya hangus dibakar waktu? Yang jelas bau jilid dan fotocopy telah hilang bertukar dengan rupiah. Meskipun jarang mendengar, tapi dia tahu, mas Taufik pernah menulis romantisme itu:

“Kalian berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini / dengan darah arteri sendiri / merah putih yang setengah tiang ini / merunduk di bawah garang matahari / tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi / tapi peluru logam telah kami patahkan dalam do’a bersama / dan kalian bersih pahlawan / bersih dari dendam.”

Siapa yang tidak tahu? Dari tiada ke tiada. Dari-Nya kembali kepada-Nya. Sudahlah, sudah. Kawan tentu lebih paham. Kawan tentu lebih banyak tahu.

Kali ini dia berani melupakan Amsterdam, demi ingat Kepala Gading. Kampung halaman Westerling yang sepi, yang rumah para penduduknya berjauhan, yang bahkan sapi-sapi di sana merasa kesepian, adalah simbol konservatif, konstelasi antara Groningen-Sumur Batu-Pegangsaan.

Dia sekarang tahu, mencampur gula dan pewarna bukan hanya monopoli puisi, tapi bisa dilakukan oleh siapa saja yang berani sombong menjadi dewa kebijaksanaan. Hidup masih di sini, masih di tanah air yang dulu dia pernah ragu-ragu, bahkan sampai sekarang; ini wakil rakyat atau wakil partai? Brengkes, buat apa menulis wakil rakyat segala?!

“Ya, Haryani. Aku mengerti. Setiap orang pasti punya masa lalu, dan butuh waktu untuk melupakannya, atau bahkan tidak bisa dilupakan sama sekali.”

Kalimat itu dia tulis selepas isya, sehari setelah puasa pulsa. Lampu kamar yang menyala terlihat seperti bunga matahari terkena anemia. Beberapa orang tetangganya sempat melongokkan kepala, melihat dia yang tengah menulis entah apa. Sartre selalu membuatnya pusing, tapi apa sih sebenarnya yang paling dinginkan ketika mataharinya justru membuat dia terbenam?

Mungkin duduk di dekat jemuran, di bawah lampu yang mati, adalah sedikit jalan keluar. Maka dia pergi ke sana. Duduk di kursi tanpa sandaran, dan inilah masa depan: tarikan napas panjang dan merasa kosong.

Apa, stranger than fiction? Bahkan altar kebenaran pun telah dipenuhi mockingbird, murai, anis, dan kenari.

Kedua adalah siang. Ada do’a yang disampaikan, dari dia kepada perempuan yang dicintainya. Mendo’akan tidak melulu soal garis demarkasi denotasi, tapi ada yang bisa disamarkan.

Haryani, perempuan yang dicintainya itu, bukan seorang semut yang doyan mendekati sumber gula kata-kata, dia bahkan datar saja. Tapi, kata orang, mencintai selamanya adalah memberi.

Sebuah mantra, yang sebenarnya, tidak sepenuhnya dia percayai. Tapi apa salahnya mendo’akan?. Maka dalam gumam hati yang tak jelas, dia merapal lagi puisi mas Sapardi:

“Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala / dalam do’aku / kau menjelma pucuk-pucuk cemara / yang hijau senantiasa / yang tak henti-hentinya / mengajukan pertanyaan muskil kepada angin / yang mendesau entah dari mana.”

Para paus sastra wannabe akan menangkap cinta purba nan absurd sebagai upeti imajinasi yang akan digoreng dengan bumbu kaldu rasa nirwana dan rasa keinsyafan hakiki. Sepertinya dia ingin sekali menikmati generasi HAMKA yang datang tidak dengan belati, tapi pena yang tajam dan penyembuh luka.

Cuka, garam, dan silet mengingatkannya pada scene Gerwani di film pengkhianatan yang menjadi propaganda politik blok Cendana.

“Tenang saja, Haryani. Aku tidak akan tega membuat sepotong puisi cinta untukmu,” gumamnya.

Kontra catatan adalah tikungan tajam yang manis, yang menuntut sebuah rambu-rambu, tapi kalau menyukai tantangan yang memacu adrenalin, bolehlah bergaya geng motor. Silang pendapat, saling hantam dalam bahasa yang mampat, dan curhat tersendat-sendat, adalah anak kandung komunitas kata, jadi mengusirnya adalah kelakuan Dayang Sumbi terhadap Sangkuriang kecil.

“Waktu lengkung merah menguasai langit barat, segala jual beli seharusnya segera diakhiri untuk sementara,” itu kata-kata yang ingin diucapkannya, tapi sekarang dia tidak berani lagi, bahkan pada dirinya sendiri, dia sedang meluncur ke bawah. Tapi semua orang tahu belaka, hidup harus diperjuangkan, dari mulai dewan legislatif lambung sampai alam metafisika yang sering dijelaskan khatib di mesjid-mesjid pesisir desa.

Dan cinta terbaik adalah menulis. Dia mengabarkan sejarah kepada siapa saja yang tidak menyadarinya. Seperti kabut yang hilang di cahaya matahari, begitu pula kumpulan emosi, jika tidak dicatatkan, dia hanya akan membantu mengerutkan kulit muka untuk lekas menjadi tua.

Dan Haryani. Siapa dia? Sepertinya saya kenal? (irf)

12/04/2011

19 July 2010

Sisa Redup Cahaya


Malam itu sepulang dari Kelapa Gading perut minta isi. Tukang nasi goreng yang biasa lewat di gang belum juga datang. Sambil menanti bunyi wajan yang dipukul, akhirnya nonton acara dialog di televisi, ditemani sebatang rokok dan teh manis. Perpaduan yang cukup akrab, apalagi rintik gerimis mulai jatuh dari langit yang menghitam. Acara dialog habis berbarengan dengan bunyi nyaring yang timbul dari wajan yang dipukul. Bersegera saya turun dan memesan satu porsi nasi goreng tanpa ati. Tidak lama aroma bumbu yang dipadu menyerang saraf penciuman, dan semakin membangkitkan selera. Acara di televisi sedang berita olahraga, ketika saya menyantap makanan beraroma sedap itu. Kemudian malam semakin larut, sudah jam setengah dua belas, lalu saya mengambil wudhu, dan sholat isya.

Cahaya matahari telah masuk melalui jendela yang terbuka ketika saya bangun pagi itu. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi, bersuci dari hadats kecil lalu mengeringkan muka dengan handuk usang. Setelah itu berdiri menghadap kiblat, berdo’a lamat-lamat dalam sholat yang terlambat, sementara sinar matahari semakin hangat.

Setelah mandi dengan cepat, kemudian berdiri di depan cermin. Merapikan pakaian dan menyisir rambut dengan tangan. Tidak sempat menyeduh kopi atau sarapan nasi uduk, karena takut telat. Suasana pagi yang berulang. Pagi yang bergegas, seperti seorang sais pedati memecut kudanya. Memecut setiap yang berjiwa untuk mengisi hari dengan aktivitas. Pagi yang selalu mengingatkan bahwa keterlambatan adalah kekalahan sebelum pertempuran. Demikianlah waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya, selama-lamanya. 

Bahkan panggilan untuk bangun lebih awal telah dikumandangkan, telah diulang-ulang oleh muadzin setiap hari: “sholat lebih baik daripada tidur”. Dalam panggilan itu kata BAIK memakai kata KHAIR, bukan HASAN, padahal secara arti maksudnya sama, yaitu BAIK. Tapi menurut keterangan dari seorang khotib jum’at di mesjid At Taubah-Pulo Mas, kata KHAIR berarti baik terhadap atau untuk jiwa, yang artinya baik untuk ruhani. Sedangkan kata HASAN berarti baik untuk selain ruhani, mungkin lebih ke arah fisik.

Jalan raya telah macet, lalu lalang kendaraan tersendat. Saya melintasinya di tengah suara klakson ketidaksabaran dan semrawutnya lalu-lintas salah satu sudut Jakarta. Mengurai kemacetan di kota besar ini seperti mengurai benang kusut. Tumpang tindih pengelolaan, kepentingan, dan ketidaksabaran para pengguna jalan yang setiap hari sumbunya semakin pendek. Maka pagi hari yang manis seringkali dihiasi oleh pertikaian-pertikaian di jalanan yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah menunggu agak lama, kemudian saya duduk di kursi Transjakarta yang melaju ke arah Pulogadung. Di dalam tidak ditemui muka ramah, semuanya seperti sedang gelisah: menghitung kecepatan putaran roda dengan putaran jarum jam yang terus berdetak. Beberapa orang tertidur, sementara MP4 tengah memutar lagu Beatles: “All You Need is Love”. Pemandangan di luar kaca jendela seperti lukisan abstrak yang jarang dijajakan di pinggir jalan oleh para seniman tanggung. Saya terlindungi suara Beatles dari dengkuran orang di sebelah. Lima belas menit kemudian bus sampai di halte terakhir, penumpang berhamburan menuju rahmat kerjanya masing-masing.

Baru saja saya duduk di kursi kerja, tiba-tiba layar monitor sudah menerkam mata. Jajaran angka, rumus sederhana, dan garis-garis simetris harus saya lahap dalam delapan jam atau lebih, dengan posisi tetap menghadap meja. Suara printer manual mulai terdengar merisaukan, sementara dialog-dialog ringan telah berlangsung di sekitar mesin fax dan photo copy. Saat seperti ini mungkin bertepatan dengan kesibukan guru SD mengabsen anak-anak didiknya. Nantinya, anak-anak permata jiwa orangtua itu, mungkin tidak sedikit yang akan menjalani rutinitas seperti saya: menelan kerja satu bulan, lalu gaji di bayar di ATM. Sebelum semuanya dihabiskan, pendapatan harus ada yang disisihkan, agar grafik hutang setiap bulannya bisa turun. Ingat hutang, saya jadi ingat Safir Senduk.

“Makan di mana hari ini?” Seorang kawan mengingatkan bahwa sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Satu jam ke depan kemudian dihabiskan oleh makan dan ngobrol, dan sholat dzuhur kalau waktu istirahat sudah injury time. Keluar lagi nanti kalau mau sholat ashar, kalau jam sudah menunjukkan setengah lima, ketika sinar matahari mulai reda dan bayangan sudah mulai temaram. Hari ini ada tambahan kerja, sehingga baru selesai jam setengah tujuh. Adzan maghrib sudah sangat dari tadi berkumandang. Saya menyibak tirai jendela, mencoba melihat pemandangan di luar. Bola-bola api sudah berpijar dan langit sudah lama ditinggalkan senja. Malam mulai merayap, lalu saya pulang.

Seperti biasa sebelum membeli tiket Transjakarta, saya mampir dulu di tukang nasi uduk. Menikmati jajanan murah di pinggir jalan sambil menemani udara malam yang sudah sangat jarang mendinginkan kota ini. Di sela-sela makan saya bercakap dengan si penjual nasi itu, membicarakan apalagi kalau bukan kehidupan sehari-hari. Mendapatkan kawan bicara selalu menyenangkan, apalagi ucapannya tidak dipenuhi kata-kata bersayap dan pura-pura yang menor. Di suapan terakhir saya baru ingat, bahwa saya belum sholat maghrib, padahal waktunya sudah hampir habis. Kumandang adzan isya sebentar lagi akan terdengar.

Pedas sambal nasi uduk belum mau meninggalkan mulut, waktu saya sholat di akhir waktu itu. Keringat mulai menguap dari badan, pembakaran di pencernaan sedang berjalan, membuat sholat menjadi tidak nyaman. Tapi setelah salam, sempat juga saya berdo’a yang isinya macam-macam: aneka permintaan dan permohonan.

Karena antriannya sangat panjang, saya tidak jadi pulang naik Transjakarta. Lalu menunggu monster hijau yang akan melaju ke arah Senen. Tidak lama dia datang, tergesa saya menyesaki perutnya. Untung masih kebagian tempat duduk, sehingga bisa melempar pandangan ke luar dengan tenang. Bus kemudian melaju lagi, memacu kecepatan dengan ugal-ugalan, sementara pengamen mulai beraksi, lalu dia mulai bernyanyi, dan saya mendengar lirik ini: “Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu”. Saya melempar pandangan ke langit, cahaya bulan tampak redup. [itp]