Showing posts with label Pulogadung. Show all posts
Showing posts with label Pulogadung. Show all posts

31 August 2012

Matraman - Kwitang : Mencari Penakluk Konstantinopel

Pasti hari itu sedang kamis, karena lihatlah saya memakai kemeja garis-garis dengan logo hati yang miring berwarna merah. Belum sore benar, tapi matahari sudah redup sinarnya. Dan tiba-tiba saya mendapati diri sedang duduk di kursi transjakarta, Pulogadung-Dukuh Atas. Kosong. Kursi baru terisi tiga buah. Pikiran tidak istirahat : tentang pekerjaan yang belum selesai dan tulang rusuk yang patah. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa saya sedang menuju Konstantinopel, ya penakluk Konstantinopel. Muhammad Al Fatih, pemimpin yang meluaskan kekuasaan Islam hingga sampai daratan Eropa itu, dalam tulisan Felix Siauw, benar-benar telah membuat saya penasaran.

Tapi lihat dulu, sore itu Jakarta telah kembali ke fitrahnya. Dari atas jembatan yang menyambungkan halte Matraman 1 dan 2, kemacetan seperti tidak bisa diurai. Bunyi klakson dan deru knalpot begitu bising : enjoy Jakarta. Bus datang terlambat, orang-orang terkurung dalam kekesalan yang memuncak. Inilah salah satu waktu terbaik untuk marah dan menghamburkan serapah. Tapi selalu ada pilihan lain. Daripada mengutuk kegelapan lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan. Ya, lebih baik jalan kaki saja menuju Gramedia daripada menunggu bus yang tak kunjung datang. Dan ternyata trotoar juga medan perkelahian yang tak kalah ganasnya. Sepeda motor dan para pedagang kaki lima merampas hak para pejalan kaki. Beberapakali saya hampir baku hantam dengan para pengendara motor sialan itu. 

Lega rasanya bisa menemukan media untuk melepaskan energi hitam yang kian terakumulasi. Langit mulai kelabu. Saya membakar cigarette kedua untuk hari itu, dan melepaskan asapnya dengan penuh perasaan. Inilah solo karir terbaik sepanjang hidup. 

Al Fatih. Di mana engkau wahai Al Fatih?!. Ketika toko buku, khususnya di Jakarta, diserbu buku-buku biografi yang kental bermuatan politik terkait pemilihan gubernur, atau biografi yang banal karena tak lebih dari pembangunan citra dan basa-basi, maka catatan sejarah tentang teladan pemimpin Islam menjadi begitu menarik. Lupakan gubernur Solo, lupakan gubernur berkumis, lupakan si Anak Singkong, lupakan juga menteri BUMN itu, sebab saya belum terlalu tertarik untuk membaca biografi-biografi mereka. Sebuah buku harus jujur, bukan malah untuk menembak sebuah moment waktu yang tepat. Barangkali strategi pemasaran telah menjadi panglima, bisnis kata-kata telah menjadi hutan yang ganas.

Mesin pencari itu memberi tahu bahwa, "Muhammad Al Fatih 1453" : stock kosong!!. Ya, inilah kenyataannya, buku itu tidak ada. Tak apa, sebab kemudian saya melihat buku otobiografi Malcolm X. Siapa yang tidak tahu tokoh muslim kulit hitam itu?. Belum lagi narasi di belakang covernya : "Inilah kisah yang lebih heroik daripada filmnya!." Luar biasa, sebuah provokasi yang begitu menggertak. Tapi tunggu dulu, ini adalah buku terjemahan, dan di mana-mana tak gampang menyampaikan "jiwa" sebuah buku asing ke dalam bahasa Indonesia. Kalau hanya menterjemahkan, Google pun telah begitu pandai melakukannya. Dan saya pikir buku otobiografi Malcolm X ini kedodoran, dia tidak bisa menangkap "jiwa". Isinya tidak senikmat seperti misalnya ketika membaca : To Kill A Mockingbird, The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan Einstein's Dreams.  

Saya tengok langit melalui jendela berkaca lebar itu, oh sudah gelap. Arus lalu-lintas masih padat. Jam berapa sekarang?. Ponsel telah berkali-kali berkhianat. Dia mati, daya baterenya kedodoran. Apakah maghrib hampir habis?, saya kembali teringat hutang-hutang kepada Tuhan. Di mesjid UI Salemba akhirnya kewajiban itu gugur. Ah kampus impian, kampus kasih tak sampai, passing grade UMPTN terlalu tinggi waktu itu, hahaha...waktu begitu cantik membawa nasib, sampai juga saya di sini. 

Bus yang melaju ke arah Senen membawa saya yang mulai lelah. Tiba di Senen saya melompat dan berjalan tergesa menuju Gunung Agung di Kwitang. Gembel-gembel dan para pengemis Senen begitu layu dan kumal. Tapi saya tidak tertarik untuk mengucapkan : "Saya bersama kalian orang-orang malang." Tidak. Saya tidak berminat berkata seperti itu. Saya hanya berjalan cepat. Jalan di Kwitang agak gelap, inilah barangkali yang namanya temaram. Tiba di depan Gunung Agung beberapa lampu di dalam telah dipadamkan dan terdengar bunyi derit pintu. Sialan!. Gunug Agung segera tutup!. Apa boleh buat, balik kanan dan segera membeli tiket : meluncur ke arah Cempaka Putih.

Tiba-tiba saya sedikit melankolik malam itu. Cahaya lampu kota seperti membentuk kerucut aneh yang tidak bisa dimengerti. Wajah orang-orang seperti terbentuk oleh komposisi harmonis yang ganjil. Di pedalaman, di tempat jiwa bersemayam, seperti ada suara yang menggema, berulang-ulang : "I was wasting my time, praying for love, for a love that never comes, from someone who does not exist. That's how people grow up. That's how people grow up. As for me I'm okay, for now anyway..." [ ]

19 July 2010

Sisa Redup Cahaya


Malam itu sepulang dari Kelapa Gading perut minta isi. Tukang nasi goreng yang biasa lewat di gang belum juga datang. Sambil menanti bunyi wajan yang dipukul, akhirnya nonton acara dialog di televisi, ditemani sebatang rokok dan teh manis. Perpaduan yang cukup akrab, apalagi rintik gerimis mulai jatuh dari langit yang menghitam. Acara dialog habis berbarengan dengan bunyi nyaring yang timbul dari wajan yang dipukul. Bersegera saya turun dan memesan satu porsi nasi goreng tanpa ati. Tidak lama aroma bumbu yang dipadu menyerang saraf penciuman, dan semakin membangkitkan selera. Acara di televisi sedang berita olahraga, ketika saya menyantap makanan beraroma sedap itu. Kemudian malam semakin larut, sudah jam setengah dua belas, lalu saya mengambil wudhu, dan sholat isya.

Cahaya matahari telah masuk melalui jendela yang terbuka ketika saya bangun pagi itu. Tempat yang pertama dituju adalah kamar mandi, bersuci dari hadats kecil lalu mengeringkan muka dengan handuk usang. Setelah itu berdiri menghadap kiblat, berdo’a lamat-lamat dalam sholat yang terlambat, sementara sinar matahari semakin hangat.

Setelah mandi dengan cepat, kemudian berdiri di depan cermin. Merapikan pakaian dan menyisir rambut dengan tangan. Tidak sempat menyeduh kopi atau sarapan nasi uduk, karena takut telat. Suasana pagi yang berulang. Pagi yang bergegas, seperti seorang sais pedati memecut kudanya. Memecut setiap yang berjiwa untuk mengisi hari dengan aktivitas. Pagi yang selalu mengingatkan bahwa keterlambatan adalah kekalahan sebelum pertempuran. Demikianlah waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya, selama-lamanya. 

Bahkan panggilan untuk bangun lebih awal telah dikumandangkan, telah diulang-ulang oleh muadzin setiap hari: “sholat lebih baik daripada tidur”. Dalam panggilan itu kata BAIK memakai kata KHAIR, bukan HASAN, padahal secara arti maksudnya sama, yaitu BAIK. Tapi menurut keterangan dari seorang khotib jum’at di mesjid At Taubah-Pulo Mas, kata KHAIR berarti baik terhadap atau untuk jiwa, yang artinya baik untuk ruhani. Sedangkan kata HASAN berarti baik untuk selain ruhani, mungkin lebih ke arah fisik.

Jalan raya telah macet, lalu lalang kendaraan tersendat. Saya melintasinya di tengah suara klakson ketidaksabaran dan semrawutnya lalu-lintas salah satu sudut Jakarta. Mengurai kemacetan di kota besar ini seperti mengurai benang kusut. Tumpang tindih pengelolaan, kepentingan, dan ketidaksabaran para pengguna jalan yang setiap hari sumbunya semakin pendek. Maka pagi hari yang manis seringkali dihiasi oleh pertikaian-pertikaian di jalanan yang sebenarnya tidak perlu.

Setelah menunggu agak lama, kemudian saya duduk di kursi Transjakarta yang melaju ke arah Pulogadung. Di dalam tidak ditemui muka ramah, semuanya seperti sedang gelisah: menghitung kecepatan putaran roda dengan putaran jarum jam yang terus berdetak. Beberapa orang tertidur, sementara MP4 tengah memutar lagu Beatles: “All You Need is Love”. Pemandangan di luar kaca jendela seperti lukisan abstrak yang jarang dijajakan di pinggir jalan oleh para seniman tanggung. Saya terlindungi suara Beatles dari dengkuran orang di sebelah. Lima belas menit kemudian bus sampai di halte terakhir, penumpang berhamburan menuju rahmat kerjanya masing-masing.

Baru saja saya duduk di kursi kerja, tiba-tiba layar monitor sudah menerkam mata. Jajaran angka, rumus sederhana, dan garis-garis simetris harus saya lahap dalam delapan jam atau lebih, dengan posisi tetap menghadap meja. Suara printer manual mulai terdengar merisaukan, sementara dialog-dialog ringan telah berlangsung di sekitar mesin fax dan photo copy. Saat seperti ini mungkin bertepatan dengan kesibukan guru SD mengabsen anak-anak didiknya. Nantinya, anak-anak permata jiwa orangtua itu, mungkin tidak sedikit yang akan menjalani rutinitas seperti saya: menelan kerja satu bulan, lalu gaji di bayar di ATM. Sebelum semuanya dihabiskan, pendapatan harus ada yang disisihkan, agar grafik hutang setiap bulannya bisa turun. Ingat hutang, saya jadi ingat Safir Senduk.

“Makan di mana hari ini?” Seorang kawan mengingatkan bahwa sudah waktunya istirahat untuk makan siang. Satu jam ke depan kemudian dihabiskan oleh makan dan ngobrol, dan sholat dzuhur kalau waktu istirahat sudah injury time. Keluar lagi nanti kalau mau sholat ashar, kalau jam sudah menunjukkan setengah lima, ketika sinar matahari mulai reda dan bayangan sudah mulai temaram. Hari ini ada tambahan kerja, sehingga baru selesai jam setengah tujuh. Adzan maghrib sudah sangat dari tadi berkumandang. Saya menyibak tirai jendela, mencoba melihat pemandangan di luar. Bola-bola api sudah berpijar dan langit sudah lama ditinggalkan senja. Malam mulai merayap, lalu saya pulang.

Seperti biasa sebelum membeli tiket Transjakarta, saya mampir dulu di tukang nasi uduk. Menikmati jajanan murah di pinggir jalan sambil menemani udara malam yang sudah sangat jarang mendinginkan kota ini. Di sela-sela makan saya bercakap dengan si penjual nasi itu, membicarakan apalagi kalau bukan kehidupan sehari-hari. Mendapatkan kawan bicara selalu menyenangkan, apalagi ucapannya tidak dipenuhi kata-kata bersayap dan pura-pura yang menor. Di suapan terakhir saya baru ingat, bahwa saya belum sholat maghrib, padahal waktunya sudah hampir habis. Kumandang adzan isya sebentar lagi akan terdengar.

Pedas sambal nasi uduk belum mau meninggalkan mulut, waktu saya sholat di akhir waktu itu. Keringat mulai menguap dari badan, pembakaran di pencernaan sedang berjalan, membuat sholat menjadi tidak nyaman. Tapi setelah salam, sempat juga saya berdo’a yang isinya macam-macam: aneka permintaan dan permohonan.

Karena antriannya sangat panjang, saya tidak jadi pulang naik Transjakarta. Lalu menunggu monster hijau yang akan melaju ke arah Senen. Tidak lama dia datang, tergesa saya menyesaki perutnya. Untung masih kebagian tempat duduk, sehingga bisa melempar pandangan ke luar dengan tenang. Bus kemudian melaju lagi, memacu kecepatan dengan ugal-ugalan, sementara pengamen mulai beraksi, lalu dia mulai bernyanyi, dan saya mendengar lirik ini: “Meski ku rapuh dalam langkah, kadang tak setia kepada-Mu, namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu”. Saya melempar pandangan ke langit, cahaya bulan tampak redup. [itp]