Showing posts with label Menggelinding. Show all posts
Showing posts with label Menggelinding. Show all posts

12 July 2016

Famili Tanus yang Buta

Terlepas dari perhitungan politik atau apapun juga, sistem pendidikan di negeri Belanda jauh lebih baik daripada di Indonesia. Bahkan orang-orang cacat, yang kini di Indonesia boleh dikatakan hanya mungkin hidup dari kasihan orang belaka, atau setidak-tidaknya mempergunakan kekurangannya sebagai alat untuk mencari penghasilan, di negeri kecil ini pun mempunyai hak untuk mendapat didikan yang selayaknya, sehingga dengan demikian dalam kehidupan mereka tidak merasa rendah daripada anggota-anggota masyarakat yang lain.

Berpunggung-punggungan dengan rumah kami, antara Oranje Nassaulaan dan Prins Hendriklaan, menggarang dengan megahnya rumah pendidikan anak cacat. Di sebuah jendela belakang gedung mereka ini kadang nampak orang yang telah lanjut usia dan mengalami kerusakan tulang punggung hingga menjadi bongkok, duduk menulis. Besar kemungkinan ia telah berpuluh tahun mengajar di rumah pendidikan ini. Di bawah, di pelataran belakang, anak-anak yang juga cacat bermain-main tidak bedanya dengan anak-anak lain yang sehat tubuhnya. Pemandangan yang dekat ini mengingatkan kami pada para bekas pejuang yang kini cacat dan tidak jarang harus menjual kasihan pada khalayak ramai di sepanjang jalan atau menghampiri pintu-pintu rumah.

Di Amsterdam ini tidak banyak terdapat pengemis. Orang bilang, bahkan untuk boleh menjadi pengemis, orang harus mendapat pengesahan dahulu dari pemerintah setempat. Dengan kaki bunting atau penglihatan yang hilang mereka berdiri di pojok-pojok jalan memutar orgel atau satu rombongan bermain musik. Tempat-tempat operasi mereka juga telah ditentukan oleh pemerintah setempat, demikian menurut pendengaran kami, sehingga tidak semua daerah kotor oleh kaum peminta-minta ini. Orang-orang yang lewat menyedekahkan senan atau lima sen, dan mereka ini dengan hormatnya membungkuk mengucapkan terimakasih. Biasanya mereka ini adalah kurban peperangan yang baru lalu.

Tetapi di rumah-rumah yang biasa, tinggal orang-orang cacat yang tidak perlu hidup demikian. Mereka hidup biasa sebagai orang yang tidak invalide. Dan di waktu pulang atau masuk kantor, jalan-jalan sangat sering terisi sepeda roda tiga dengan bermotor atau tidak.

Mereka ini adalah orang-orang invalide yang berangkat ke tempat pekerjaannya. Di sore hari di atas sepeda roda tiga orang-orang yang bunting kakinya juga berjalan-jalan di park.

Tiap orang yang lewat sudi menolongnya turun untuk mempergunakan tongkat ketiaknya.

Kecucukan (nieuwsgierigheid) kami untuk mengetahui cara hidup mereka menyebabkan pada suatu sore kami pergi mengunjungi keluarga Tanus yang tinggal di daerah timur kota. Rumah-rumah di sini tidak mentereng, paling sedikit bertingkat tiga dan kamarnya sempit-sempit, demikian pula tangganya dan tidak dialasi oleh apa pun juga sehingga tiap saat berderak-derak bila orang lewat. Kami melalui jalan-jalan yang kelabu dan banyak kertas terserak di pinggir jalan, namun tidak lebih kotor daripada jalanan di Jakarta.

Sampai di suatu pintu kami baca nama-nama yang tersusun di tiangnya. Ada sebuah knop di samping nama Tanus, kami tekankan telunjuk. Pintu segera terbuka dan dari lantai tingkat pertama terdengar suara yang ramah. “O, tuan-tuan ini rupanya.” Tangga untuk naik ke tingkat pertama adalah gelap dan sempit. Kami dipersilakan duduk dan diantarkan ke beranda depan. Sikap dan gerak Tanus dan nyonyanya adalah demikian bebas dan tidak ada nampak keraguan sedikit pun. Sampai waktu itu aku belum percaya, bahwa di balik kacamata hitam Tanus tua terpasang mata yang buta sama sekali. Ia menyuguhkan tengteng dengan relanya dan isterinya merenda di dekat pediangan yang tidak dinyalakan. Nyonya buta sejak umurnya yang ketiga belas dan masih dapat mengingat warna-warna dan berbagai macam bentuk benda. Tanus sendiri buta sejak umurnya yang kedua dan tidak bisa mengingat apa pun.

Di belakang kursi bertumpuk buku-buku pengetahuan serta majalah tentang keagamaan, sosial dan ilmu pengetahuan. Ini dapat kuketahui dari nama-nama serta alamat-alamat bukunya yang tercetak dalam huruf-huruf besar. Tetapi serenta kubuka sebuah di antaranya, ternyata tak sebuah huruf pun dapat aku baca, karena tertulis dalam braille.

Tanus bicara banyak tentang budi, tentang pergaulan manusia, tentang kesenian, dan tentang musik ia bilang: “Tidaklah benar bahwa orang-orang buta selamanya musikal sebagaimana banyak orang menyangka. Golongan kami sangat mengutamakan pendengaran, dan karenanya dapat lebih banyak menikmatinya daripada golongan tuan.” Ia juga dapat bercerita tentang peperangan yang baru lalu. Dengan rabaan tangan dan pendengarannya ia memperlajari bahasa Jerman, dan sekalipun belum dapat mempergunakan untuk bicara, tetapi telah dapat mengerti dan mempergunakan untuk membaca.

“Ah, tuan,” katanya pada suatu kali, “dalam hidupnya tiap orang ini mesti pernah atau akan mengalami kehilangan. Dalam hal ini aku dan isteriku kehilangan penglihatanku. Juga dalam hidupnya tiap orang mesti pernah atau akan menemukan sesuatu. Dan dalam hal ini aku menemukan kebahagiaan rumahtangga.”

“Dan bagaimana bisa tuan bicara dengan tiada melihat benda-benda, warna, dan bentuk.”

“Buat kami, orang buta, kami hanya dapat menangkap pengetian-pengetian belaka. Dunia kami adalah dunia pengertian. Tetapi semua itu tidak membuat kami merasa hina atau sengsara.”

Pada jam sepuluh di tengah senja, waktu ini adalah musim panas dan matahari tenggelam pada jam setengah sepuluh malam. Ruangan depan mulai gelap. Seorang gadis masuk ke dalam dan bicara dengan Tanus. Dengan tiada bimbangnya orang buta ini masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebungkus rokok yang kemudian diserahkan kepada gadis itu. Dan Tanus menerima uang serupiah pengganti sebungkus Van Nelle—tak lebih dan tidak kurang daripada harga yang tercantum pada banderol. Di saat itu mengertilah aku bahwa penghasilan Tanus ialah menjual rokok. Waktu kopi kami habis ia menjerang air kembali di atas tungku listriknya, dan kemudian mengisi cangkir kami dan memberinya gula dan susu sekali. Semua dikerjakannya dengan cekatan, tidak lebih lambat daripada pekerjaan pemalas.

Listrik bagi orang buta ini lebih menjamin keselamatannya daripada gas. Bicara tentang listrik dan gas, Tanus bilang: “Tuan, sepanjang pengetahuanku, semua kebakaran yang pernah terjadi tidak sekalipun disebabkan oleh orang buta, tetapi oleh orang yang punya penglihatan. Cobalah pikir betapa ajaibnya. Kami tidak bisa berbuat sembarangan dengan api sebagaimana tuan. Itulah sebabnya.”

Pertanyaan berjalan terus sehingga kami tak melihat apa-apa di sekeliling kami selain lampu-lampu motorboot yang mondar-mandir di kanal di depan beranda di seberang jalan raya. Rupa-rupanya teringatlah tuan rumah, bahwa bagi kami kegelapan mengganggu keseluruhan kami. Waktu jam di sampingnya berbunyi sebelas kali ia terbangkit dari duduknya sedang isterinya terus merenda. “Maaf, tuan, lupa aku menyalakan lampu.” Perabot penerangan yang terdapat di dalam rumah keluarga ini rupa-rupanya hanya untuk orang lain. Dan untuk itu ia harus membayar rekening listrik.

“Berabenya jadi oprang buta ini, tuan, kalau terjadi marabahaya maka kami dululah menjadi kurban.” Kemudian ia bercerita tentang masa pendudukan Jerman, yang mana orang-orang dapat pergi ke lain daerah untuk mencari kentang atau melarikan diri, sedang ia dan isterinya tinggal di rumah, karena air yang menerobosi tanggul-tanggul akan meminta jiwa mereka lebih cepat daripada kelaparan atau serdadu Jerman itu sendiri. Tetapi kami percaya pada kemurahan Tuhan. Orang Jerman tidak selamanya kasar dan ganas. Banyak juga di antaranya yang berbudi. Barangkali tuan-tuan tidak percaya, tetapi ada berbagai orang Jerman yang selalu mengantarkan roti dan makanan lain ke rumah kami.”

Setelah berkata itu ia menundukkan kepalanya dan berdiam diri. Barangkali ia mengucapkan syukur pada Tuhannya yang pemurah itu. “Kami adalah orang-orang Katholik. Orang Katholik tidak menyetujui Nazi, karena mereka membuat perbedaan antara bangsa-bangsa di dunia. Tidak semua serdadu Jerman rela melaksanakan cita-cita Nazi. Dan dari merekalah aku menerima makan.”

Jam duabelas malam kami pulang dan diantarkan hingga ke tangga. Dalam hati kami terbit pertanyaan apakah benar orang ini bisa memperoleh kekayaan budi dari pengajaran dan pendidikan yang pernah diterimanya. Dan dalam perjalanan pulang di atas trem itu terjawab juga, bahwa pengajaran dan pendidikan memang memungkinkan juga. Dan bagaimanakah keadaan lahir dan batin orang-orang yang semacam itu juga dan yang juga kehilangan haknya (karena tiada kesempatan dan penerangan) untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan seperti banyak terdapat di Indonesia?

Ah, jawaban itu tidak kuperoleh. Aku gelengkan kepalaku dan mencepatkan langkah setelah trem berhenti. [ ]

--Pramoedya Ananta Toer
Copyright 1953,

Mimbar Penyiaran DUTA

11 July 2016

Demam

Ada juga terdengar olehnya adiknya kecil Tini itu berseru girang, “Mbak Ati datang.” Dan ada juga suara yang dikaguminya dulu—suara yang selalu membangkitkan birahinya:

“Tini…..sudah besar engkau sekarang, ya?”

Kirno mengarahkan matanya ke arah suara itu. Tapi seperti biasanya tak ada apa-apa yang dapat dilihatnya. Dan sekalipun ia rela, kerelaan itu terbit hanya karena terpaksa. Mata, dua-duanya, terpagas oleh peluru, dan sepasang kakinya pun begitu pula. Siapa mau dengan rela menyerahkan kedua mata dan kakinya untuk jadi cacat selama-lamanya? Dan untuk kesekian kalinya perlahan kepalanya diturunkan, runduk ke bawah dan akhirnya berhenti di atas meja keretanya. Kemudian kepala itu diam saja di situ. Terdengar lagi:

“Engkau turut arak-arakan tadi, Tini?” Suara yang mengagumkan hatinya dulu—tapi kini seperti suara-suara lainnya:

“Tentu, mbak, tentu. Dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu hari kemerdekaan. Dan kami sesekolah mendapatkan minuman dan kue,” suara adik kecil.

“Alangkah senang, ya? Mana ibu?”

“Ibu di kabupaten—menerima tamu, Tini menyahuti.”

“Bapak?”

“Di sana juga—menerima tamu”

“Mas? Mana mas Kirno?”

“Di dalam, mbak. Tapi, tapi, tapi, mas No sekarang…..”

Dan Kirno menghembuskan nafas keluh seakan-akan dalam keluhannya itu telah terkandung seluruh penderitaan dunia dan isinya. Tapi suara Tini melengking juga di kuping:

“…..tidak bisa jalan kakinya buntung”

“Buntung?” seru suara gadis itu kaget.

“Ya, mbak, dan selama ini dia duduk di keretanya saja. Kalau mau pergi kemana-mana, Tini yang mendorong-dorong kereta itu.”

“O …..,” suara yang kecewa dan pahit.

“Dan juga mas, mas No sudah jadi buta sekarang.”

“Buta?” desis suara gadis itu.

Perlahan-lahan Kirno mengangkat kepala, menegakkan badan, bersandaran pada sandaran keretanya dan keningnya berkerut. Berbisik ia pada dirinya sendiri:

“Ati!” itu saja.

“Kasihan bukan, mbak?” Tini meneruskan.

Ia tak mendengar Ati menjawab. Dan ia berkata dalam kepalanya.

“Dan aku sekarang….. aku sekarang hidup hanya untuk menerima kasihan orang lain.”

Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, sekalipun dalam jaman jajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Terdengar suara yang dipujanya dulu:

“Bawa aku pada mas No”

Terdengar olehnya langkah kaki berselop, dan langkah anak kecil mendekatinya. Buru-buru Kirno menundukkan kepalanya. Badannya membungkuk. Dan kepalanya terletak di atas mejanya—tak bertenaga. Ada juga ia mendengar seruan Ati di depannya:

“Mas No!”

Ada juga terasa olehnya tangan merangkulnya. Ada juga terdengar olehnya sedan gadis yang dulu dicintainya itu—dulu sebelum Belanda menduduki kotanya dan sebelum ia mengundurkan dirinya dengan pasukannya ke hutan-hutan Mantingan. Ada juga terdengar olehnya nafas yang tertahan-tahan. Kemudian ia mengangkat kepalanya kembali. Berbisik:

“Ati-ku. Engkau datang juga akhirnya.”

Dan suara yang gugup terdengar olehnya:

“Mas No, mengapa engkau jadi begini sekarang?”

Kirno tak menjawab. Hanya hafas besarnya juga terdengar terhembus-hembus. Kemudian perlahan-lahan dan dalam Kirno berkata:

“Ati, kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai, Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?”

Dan tak ada terdengar olehnya Ati menjawab. Ia meneruskan:

“Engkau boleh bebas pergi ke mana-mana, karena engkau masih ada hak untuk itu. Aku sendiri, Ati…..aku sendiri sudah kehilangan hak-hakku sebagai manusia biasa. Ati-ku bisakah engkau merasakan keadaanku ini? Tak punya hak apa-apa dalam negara yang dulu diperjuangkannya? Dapatkah engkau merasakan? Tapi aku tak mengadu padamu dengan ucapan ini. Dan kadang-kadang, Ati…..kadang-kadang dengan tak terasa sudah keluar saja kandungan hatiku, kandungan otakku.”

Ia diam sebentar. Tiba-tiba ia kehilangan kemurungan dalam ucapannya. Meneruskan dengan suara orang yang masih punya semangat hidup. “Engkau masih cantik seperti dulu, Ati?”

Terdengar olehnya Ati menjawab. Jawaban dengan keluh saja:

“Engkau tak mau menjawab, Ati. Ya, engkau tak mau menjawab, aku mengerti juga mengapa. Ya, Ati…. Aku ini tak lagi mengharapkan engkau, dan engkau tak bisa lagi mengharapkan aku, bukan? Bukan?”

Ati-nya menjawab lagi dengan keluh yang lebih dalam.

“Aku dengar engkau mengeluh lagi, Ati? Ya, aku dengar engkau mengeluh.”

“Mas Kirno,” Ati menyelingi, “Aku tak mengerti apa yang harus kupikir waktu melihat engkau ada dalam keadaan seperti ini.”

Kirno tersenyum. Berkata perlahan-lahan:

“Kadang-kadang orang hanya melihat sesuatu hal saja dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul, Ati. Dalam hal ini engkau pun salah seperti mereka dan juga seperti aku sendiri. Rupa-rupanya beribu macam kejadian bisa terjadi atas diri satu orang.”
Sejurus mereka tak berkata apa-apa. Kemudian terdengar:

“Ati, maukah engkau menyetelkan radio itu?”

Bunyi radio yang melagukan musik barat terdengar.

“O, lagu itu-itu lagi. Itu-itu lagi. Cobalah carikan pemancar lain.”

Bunyi radio pindah ke pemancar lain. Dan suara pidato yang berkoar terdengar. Pidato itu diselingi oleh suara Kirno:

“Pidato. Adakah orang tak bosan-bosan berpidato tiap hari?”

“Mengapa, mas?” Ati-nya bertanya dengan suara kebingungan.

“Pidato itu…. Hmm, mau rasanya aku membanting radio yang beromongkosong saja itu. carikan gending, Ati!”

Dan Ati mencari pemancar baru. Kini terdengar gending.

“Ya, suara yang lunak itu. Rangkaian suara yang lembut dan menyerah itu musik yang lepas dari waktu yang memburu-buru itu….. aku lebih suka padanya dari pada musik-musik barat.”

“Mengapa engkau sekarang berubah betul, mas?”

“Bukan kemauanku mengapa aku berubah. Bukankan dalam hidupku sekarang ini, Ati, tak ada sesuatu yang dapat kuburu-buru lagi? Bukankah tak ada?”

“Engkau dulu tak pernah berkata-kata seperti sekarang ini, mas Kirno.”

Terdengar Kirno tertawa. Kemudian:

“Ya, dulu. Dulu waktu itu aku boleh merangkul engkau. Waktu itu aku boleh mencium engkau semau hatiku. Waktu itu aku masih merasa berkuasa, bahwa nasib orang terletak pada kemauan dirinya sendiri, Ati. Tapi waktu seperti itu sudah lalu.”

Tini kecil terdengar menyanyi-nyanyi dengan suara lantangnya. Dan suara itu terdengar mendekat oleh Kirno:

“Tini,” ia memanggil.

“Tini di sini, mas…. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?”

“Tini nyanyikan aku lagu kupu-kupu. Matikan dulu radionya.”

Radio mati. Terdengar nyanyian lantang dari Tini. Dan kedua makhluk itu, remaja itu, mendengarkannya dengan kesungguh-sungguhan. Nyanyian mati. Dan Kirno menyusulkan suaranya:

“Aku dulu seperti engkau juga, Tini.”

Dan Tini menangis—meraung.

“Mengapa engkau menangis, Tini?” Ati-nya bertanya.

“Menangis? Mengapa menangis?” Ia bertanya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak seperti engkau waktu kecil!” bantah Tini dalam tangisnya yang kekanak-kanakan.

“Dan mengapa pakai menangis segala?” Ia bertanya lunak.

“Karena, karena, karena aku tak mau buntung. Aku tak mau buta,” seru Tini dalam tangisnya.

“Tentu, tentu saja tidak, Tini.” Ia menghibur adiknya. “Engkau tidak boleh bunting dan buta seperti mas. Dan di seluruh dunia ini tak ada orang yang boleh bunting dan buta, Tini. Cuma akulah yang boleh. Cuma akulah. Engkau kelak akan jadi wanita cantik dan berbudi. Dan engkau akan tetap bisa berlonjak-lonjakan, bermain-main dengan kawan-kawanmu.”

Tini berhenti menangis. Tinggal sedusedannya saja mengisi kesunyiannya.

“Engkau mau menyanyi lagi, Tini?” terdengar Ati-nya bertanya.

“Aku tak mau menyanyi lagi,” Tini menyahuti dengan suara patah hati.

“Sekali ini menyanyi untuk mbak Ati, Tini. Maukah engkau?”

Hanya sedusedan Tini terdengar. Ati mengulangi permintaannya:

“Nyanyikan aku lagu gajah-gajah. Engkau sudah belajar lagu itu dari sekolah, bukan?”

“Ya.” Tini menyahuti.

Kemudian terdengar Tini menyanyi lagu kanak-kanak gajah-gajah di antara sedusedannya. Kirno tersenyum-senyum mengagumi suara itu—suaranya sendiri di waktu masih kanak-kanak. Dan Tini itu—juga badan dan dirinya sendiri waktu kanak-kanak. Suara kanak-kanak yang lantang itu menusuk kesunyian yang membentang antara Kirno dan Ati. Dan di antara suara yang bening itu antara sebentar terdengar sedusedan yang tak berdosa.

Lagu itu mati. Dan terdengar olehnya ciuman Ati pada pipi adiknya.

“Alangkah bagus,” Kirno memuji.

“Ya, alangkah bagus,” Ati menambahi.

“Dalam perlombaan nyanyi tadi aku menyanyikan lagu itu juga mbak Ati.”

“O, ya?”

“Dan aku mendapat hadiah grip dan buku tulis dan cium pada pipi kananku dari bu guru.”

“Alangkah baiknya gurumu itu,” Kirno berseru.

“Baik sekali mas,” Tini berseru riang kembali. Tangisnya hilang. Sedusedannya hilang.

Dari luar terdengar kedua orangtua Kirno datang. Orang berdiam diri mendengarkan segala suara dan bunyi yang datang dari luar rumah. Kemudian menyusul suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Dan akhirnya seruan:

“Nak Ati! Sudah lama?”

Terdengar oleh Kirno kedua orangtuanya bercakap-cakap dengan Ati-nya.

“Ya, nak Ati, nasib tak boleh dipinta. Nasib tak bisa dipilih. Begitulah keadaan kakakmu sekarang. Engkau dari mana saja selama ini?”

Dan suara Ati terdengar menjawab:

“Selama ini, ibu, selama ini Ati pergi ke daerah pendudukan.”

“Dan sudah melupakan masmu, engkau tak pernah mengirimkan kabar.”

“Alah-alah, bagaimanakah Ati bisa mengirimkan kabar, ibu?”

“Dan masmu sudah jadi kurban perjuangan sekarang, Ati”

“Ya”

“Dan kurban cinta juga”

“Bukankah engkau tak mau jadi isterinya orang cacat, sekalipun dia cacat oleh perjuangan?”

Tak ada suara. Terasa oleh Kirno, Tini memegangi bajunya. Dan dengan sendirinya saja tangan Kirno menggapai-gapai merangkul adik kecilnya. Kekosongan teras ada di tiap hati. Juga dalam hati Tini kecil. Dan anak kecil itu meraba-raba kuping kakaknya. Dan Kirno tak membantahi rabaan itu. Kemudian terdengar bapaknya bercakap-cakap pada Ati:

“Tidak kurang-kurangnya bapak mendoakan agar engkau danmasmu dilindungi Tuhan selalu dan selamat dalam perjuangannya. Ya, Ati, tiap malam kami selalu berdoa. Dan tak jarang ibumu tak tidur semalam-malaman agar masmu sekalipun tak ada manusia yang berpelindungan di dalam hujan peluru tetap selamat sampai di puncak cintanya.” Kemudian suaranya diarahkan pada isterinya: “Ya, nak Ati, sesungguhnya begitu.”

“Tapi rupa-rupanya Tuhan boleh berkehendak atas makhluknya.”

“Ya,” terdengar suara yang kosong merongga.

Kesunyian menyusul pula. Kemudian terdengar suara yang membantu dan terbata-bata:

“Alah-alah. Apalah gunanya mempercakapkan omong kosong yang tak ada harganya itu? aku sudah buta dan buntung. Dan aku akan tetap buta dan buntung untuk seumur hidup. habis perkara.”

“Nak Ati, aku harap engkau mau memaklumi sifat masmu sekarang. Dia terlampau pemarah sekarang. Ya, dia selalu marah. Hanya bila ia ditemani oleh Tini, baru ia jadi ramah, banyak tertawanya, banyak cakapnya, dan kadang-kadang ia mendongengi adiknya tentang pertempuran-pertempuran yang pernah dialaminya.”

“Ya, bu.” Ati menyahuti suara itu.

“Apa pikirmu tentang masmu itu sekarang?”    

“Apa?” Seru Kirno murka. “Adakah aku ini barang dagangan untuk dipertimbangkan di depan orang banyak?”

Dan oleh seru murka itu tak ada mulut menggetarkan suara. Semua jadi diam sekarang. Dan di kala Tini menyanyi dengan tiada orang yang menyuruh—tiap pendengaran berubah haluan mendengarkan suara lantang Tini kecil yang nyaring dan tak berdosa itu. Kemudian:

“Ati,” Kirno memanggil kekasihnya yang dulu.

“Apa yang bisa kuperbuat untukmu, mas?”

“Sungguh engkau telah mempercakapkan diriku. Engkau sudah tahu keadaanku. Engkau tahu sampai di mana keadaanku di dunia ini sekarang. Ya, sungguh sia-sia engkau mencakapkan diriku. Engkau tinggal di mana sekarang Ati?” katanya kemudian dengan suara kian lama kian lembut.

“Semarang, mas Kirno.”

“Kapan engkau datang?”

“Tadi, tadi jam duabelas.” Ia diam sebentar, kemudian menerangkan, “Aku terpaksa pergi ke daerah pendudukan dahulu, mas. Engkau tahu keadaan keluarga kami, bukan? Dan aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata padamu karena waktu itu engkau ada di daerah gerilya.”

“Waktu itu aku sudah menggelepak di rumahnya lurah daerah gerilya. Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tidak bisa berjalan lagi, Ati. Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar suaramu, Ati. Tapi jangan datang padaku hanya dengan suara saja. Ya, hanya suaramu saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik untukmu.”

Dan Ati pergi. Ia dnegar juga langkah Ati-nya yang kian menjauh itu. dan ia pun dengar juga Tini mengikuti dari belakang kekasihnya dulu. Akhirnya terdengar percakapan yang tak nyata betul olehnya. Ia mengeluh sekali lagi. Sekali lagi. Ada juga terdengar kedua orangtuanya bercakap-cakap. Kemudian tak terdengar suara apa-apa.

Perlahan-lahan dirundukkan kepalanya ke meja keretanya. As kereta yang bergeseran dengan bos roda kereta menimbulkan bunyi yang meresahkan hatinya. Kemudian kepala itu sampailah di meja kereta—diam, diam saja di situ. Dan keadaan di sekelilingnya masih tetap pekat. Tak ada tertampak seikat cahaya pun.

Kemudian terdengar olehnya beberapa pasang kaki melangkah mendekatinya. Ia tahu betul langkah kaki siapa itu: ibunya, bapaknya, dan Tini. Kemudian:

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang, Kirno,” suara ibunya.

Kirno tak juga mengangkat kepalanya yang terletak di meja keretanya.

“Engkau usir Ati seperti engkau mengusir kucing.”

Tini mendekatinya, merangkul lehernya dan berseru kosong:

“Mas Kirno, mabk Ati menangis waktu mau pergi. Ia kasihan padamu.”

“Bukankah manusia ini punya perasaan yang halus, Kirno?” suara ibunya.

Tubuh Kirno yang membungkuk itu merentak bangun. Berkata kasar:

“Apalah gunanya perasaan halus buatku? Apakah gunanya?”

“Alah-alah,” suara ibunya, “Aku tak menyangka engaku akan jadi sekasar ini sekarang. Tamu yang datang untuk menengok engkau usir, seperti tak ada sesuatu yang engkau butuhkan lagi di dunia ini. Seperti hanya engkau saja yang ada di dunia ini. Bukankah Ati itu masih tetap cinta padamu?”

“Diam!” bentak Kirno garang.

“Apakah gunanya cinta untukku? Aku akan duduk saja di kursi kereta ini. Dengar? Duduk saja untuk sekian tahun atau sekian puluh tahun lamanya, sampai badan ini kejang-kejang dimakan encok dan ambeien—dan menunggu hingga maut datang.”

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang,” suara keluh ibunya.

Kirno mendengus.

“Mas, mbak Ati sudah pergi,” suara Tini kecil yang lunak itu. “Dia menagis. Kasihan padamu, katanya padaku.”

“He-e.”

“Dan dia tanya padaku ‘engkau sudah bisa membaca, Tini?’ Dan aku bilang aku sudah bisa membaca sedikit-sedikit. Dan dia bilang, ‘kalau begitu engkau harus selalu ada di dekat masmu dan membacakan buku untuknya.’ Dan aku bilang, ‘ya.’ Tapi mbak Ati masih menangis juga, mas. Dan dia bilang, ‘Tini harus selalu ada didekat mas Kirno. Kalau mas Kirno butuh apa-apa Tini bisa menolongnya’.”

“He-e.” Kirno mendengar suaranya sendiri.

“Engkau memerlukan apa sekarang, mas?”

“Nyanyimu, Tini.” Kirno tersenyum kekanak-kanakan.

“Engkau bisa menyanyi bagus, Tini. Menyanyilah.”

Terdengar ibunya menyela:

“Tiap hari mau mendengarkan suara adiknya saja, Kirno!” suara itu jadi kasar. “Tak adakah pekerjaan mulia dalam hatimu selain menyiksa diri adikmu dengan kau suruh menyanyi selalu, mengusiri orang yang mendekati engkau karena kasihan dan menggertak-gertak ibu dan bapakmu sendiri?”

“Diam! Dan pergi engkau!” bentak Kirno tak kenal ampun.

“Engkau minta nyanyi apa, mas?” terdengar suara Tini kecil.

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima.”

Kemudian terdengar suara yang nyaring menembus kesenyapan dunia:

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima. Itulah hari kemerdekaan kita…..”

Tubuh Kirno kian lama kian membungkuk. Akhirnya kepalanya terletak lunglai di meja kursi keretanya. Dan suara nyaring Tini menembus kesenyapan yang membenam seorang makhluk. Dan nyanyian it uterus menembus-nembus dengan iramanya yang tetap. Kemudian nyanyain itu mati. Terdengar:

“Mengapa engkau diam saja, mas?”

Tini mendengar sedan kecil-kecil tak nyata hampir tak terdengar. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Mimbar Indonesia 1950

Jalan yang Amat Panjang

Anaknya yang selama itu sehat montok dan menghamburkan tawa dan senyum setiap hari, tiba-tiba jatuh sakit. Tangis bersambung rintih, rintih bersambung keluh dan pekik kesal. Si anak jatuh sakit.

Dengan lesunya si ayah pergi ke mejatulisnya. Dihadapinya mesintulis. Ia mau mengarang hari ini. Tetapi kepalanya kosong. Ia tak punya pokok karangan. Ia kumpulkan niat beberapa saat lamanya. Kemudian menulis terburu-buru.

Waktu ia benar-benar merasa telah lelah menjalani hidupnya yang baru tigapuluh tahun itu, ia pun mendoa diam-diam: berilah aku yang selama ini kucari.

Ia mendoa dengan setulus hatinya. Baginya doa adalah ucapan penyerahan yang mutlak. Ia selalu berusaha untuk tak pernah menyerah. Justru karena itulah, pada waktu hidup dan dunianya yang tanpa penyerahan itu sampai pada suatu titik di mana tak ada terdapat kemungkinan lain, ia insyafi betapa indahnya dan betapa ia kaya dan mampunya memberinya kekuatan baru—penyerahan itu. ia mendoa dengan setulus hatinya!

“Berilah aku yang selama ini kucari,” doanya untuk kesekian kali.
Ia sendiri tak tahu apa yang dicarinya.

Pengarang itu berhenti mengetik. Ia tersenyum. Ia merasa permulaan karangan itu sufah cukup baik—pasti ia dapat honorarium baik untuk itu, setidak-tidaknya voorschot honorarium. Dan anaknya dapatlah dibawanya ke dokter.

Dan ia teruskan tulisannya. Dengan kepala yang kosong daripada pokok karangan itu! Ternyata karangan yang dimulainya menjadi macet. Benar-benar macet. Ia peras otaknya. Ia haus akan kata-kata yang dapat menterjemahkan keadaan pikiran dan perasaannya waktu itu. Tetapi pikirannya dan perasaannya kosong, kata-kata tak keluar dari gudang perbendaharaan.

“Bisa nanti sore pergi ke dokter?”

Ia toleh istrinya.

“Tentu saja,” jawabnya. “Jangan ganggu aku.”

Isterinya pergi, dan ia meneruskan usahanya. Macet juga. Kalau karangan itu macet, si anak tak mungkin pergi ke dokter. Tak mungkin! Ia coba lagi. Macet juga. Ia pukulkan punggung tangan pada landasan meja. Ia tak bersenang hati. Selama itu pukulan semacam itu diartikan oleh isterinya sebagai: pekerjaan terlampau sulit. Memang sulit! Tapi yang lebih benar adalah: ia tak mampu merumuskan pergolakan yang mengamuk dalam jiwanya. Sedang bila ia mau agak jujur, kesulitan yang dihadapinya tidaklah akan begitu hebat. Ia sendiri tahu, bahwa kejujuran hanya membantu meringankan kesulitan dalam banyak hal. 

Tapi di lapangan pekerjaan ini idealisme lebih berkuasa. Ya, idealisme yang sering membesar-besarkan kehendak manusia yang paling sederhana itu! bila masalahnya axioma kepengarangan khusus: tiada karangan, tiada uang! Ada karangan pun belum tentu ada uang. Tiada uang: pangkal bahaya segala macam dari segala penjuru dalam berbagai segi. Si anak mungkin mampus.

Tambah lama ia sebenarnya tambah sadar juga akan kehidupan yang dimestikan mempunyai uang. Di dalam masyarakat dewasa ini. Tetapi ia tetap bercita-cita juga hendak memberikan segala yang paling baik yang dimilikinya pada sidang pembacanya. Dan kini ia merasa tak punyai apa-apa lagi untuk diberikan: kosong, bolong, melompong. Ia miskin cita. Ia miskin dayacipta. Dengan tiada pencadangan lagi, segala-galanya yang mulia dan indah dan berguna, yang ia miliki, telah ia berikan pada masyarakat pembacanya. Dan dalam keadaan jiwa semiskin sekarang ini kebutuhannya yang paling primer terus menuntut: Uang! Uang! Belanja! Ongkos dokter! Makan!

Untuk kedua kalinya ia pukulkan punggung tangan pada dataran meja, waktu disadarinya bahwa kreteknya yang terakhir telah musnah pula menjadi asap. Dan ini tegas-tegas berarti: ia tak dapat bekerja sama sekali.

Hari ini buku hariannya tambah dengan hanya beberapa baris: barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah keterangan daripada keutuhan jiwanya sendiri.

Dengan hati mendongkol ia tinggalkan mesintulisnya. Ia masuk ke dalam kamar. Mencium anaknya yang kini kehilangan kemontokan dan kegembiraannya. Ia pandang-pandangi si anak yang menjadi sengsara itu dengan ingus tanpa hentinya mengalir memerahkan bibir anaknya. Untuk kesekian kalinya anak itu diciuminya, kemudian ia kenakan sepatu dan pergi—ke tempat yang ia sendiri tidak tahu. Dalam kesibukan siang hari itu ia tak menemui sesuatu yang mutlak baru. Semuanya seperti kemarin. Hati-hatinya yang gelisah sebentar mencapai ketinggian sebentar, ke dalamnya—tidak produktif, tanpa arti. Waktu bertemu dengan seorang teman dan mendapat beberapa batang rokok dan beberapa lembar perakan, tiba-tiba terbit suatu kejernihan dalam kepalanya—suatu optimism. Dan juga terumuskan olehnya: kita hidup hanya di antara perbuatan memberi dan menerima. Dan kebenaran semacam ini tak perlu dilebih-lebihkan.

Segera ia buru-buru pulang hendak menyelesaikan karangan yang belum pernah selesai dalam kepalanya. Keringat membasahi seluruhnya tubuhnya yang dipanasi matahari dan optimism. Ia hendak kerja! Ia mau tuliskan sesuatu gairah yang menjompak dengan kuatnya dalam jiwanya. Dan ia hendak rumuskan jompakan itu di rumah, di atas kertas, dalam kata-kata yang menarik.

Tetapi di rumah beberapa kawannya telah menyambut kedatangannya: pinjam buku, pinjam uang—yang kini ia sendiri amat membutuhkan. Terlibat dalam obrolan-obrolan sepekan kejadian, terseret dalam perdebatan tentang haridepan kebudayaan Indonesia. Asap rokok memadati hawa ruang depan. dentang-denting cangkir beradu dengan celepek. Tertawa. Akhirnya mereka pulang—pulang meninggalkan kehampaan dalam hatinya.

Jompakan yang hendak dirumuskan itu telah hilang entah ke mana. Kini ia duduk terkulai di atas mesintulis. Hanya desiran lemah terdengar susul-menyusul melalui bibirnya:

“Jahanam! Jahanam!”

Pikirannya tak juga mau bekerja untuk menyelesaikan karangan yang telah dimulainya, karangan yang tak punya tema, tak punya konsepsi—hanya bertema dan berkonsepsi penghidupan sehari-hari: ongkos bagi dokter anaknya. Beberapa waktu lamanya ia tergolek-golek di ambin untuk mencari-cari sesuatu permulaan yang bisa dikerjakan di antara kekacauan-kekacauan yang bergelut dalam hati dan pikirannya. Tetapi keburu isterinya datang padanya dan mengajaknya makan.

“Kangkung lagi!” pikirnya. “Makanan yang tak pernah memberi daya pada tenaga jiwa. Mengapa tidak kacang tanah? Tidak sate kambing yang panas membakar?”

Sekalipun demikian ia tetap berterimakasih kepada isterinya yang walau bagaimanapun juga selalu dapat menyediakan makan baginya.

“Kau harus punya kesabaran,” tiba-tiba isterinya berkata.

Si pengarang hanya tertawa. Dan berkata dalam hatinya: aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa.

Ia tersenyum. Kembali kesenangan dan kedamaian mengimbak-imbak dalam hatinya. Tahu-tahu, tanpa menyadari rasa kangkung, ia telah merasa kenyang. Tenaga kerjanya timbul dengan gesitnya. Ia melompat dari kursi dan menuju ke mejatulisnya. Tetapi yang hendak ditulisnya tiada. Dengan kesalnya ia ketikkan kertas-kertas suara hatinya sendiri di bawah tulisan sebermula yang belum juga sudah:

“Berilah aku yang selama ini kucari.”

Tiba-tiba ia mendapatkan pikiran: ini akibat kurang studi. Ini akibat perbuatan yang hanya mengandalkan kekuatan alamiah yang diberikan pada suatu masa dan batas tertentu. Pikiran itu membuat hatinya mendapat kesabaran sedikit. Dan kesabaran itu membuat ia dapat meneruskan bekerja—sedikit. Dan ditulisnyalah kalimat-kalimat tanpa persambungan ide:

Apalagi yang diperbuatnya kalau tidak mendoa lagi. Sejak itu ia terus-menerus mendoa. Ujung dari tiap doa adalah perasaan berterimakasih karena orang masih juga mempunyai kesempatan untuk menerima. Sekalipun yang diterimanya hanya berdikit-dikit. Besok mungkin lebih baik. Dan tiap besok diulurnya lagi harapannya: besok mungkin lebih baik.

Besok? Mengapa besok? Demikian suara pemberontakan daripada manusia yang masing juga tak mau menyerah. Tidakkah kita bisa memasukkan besok ke dalam hari ini?

Ia terkejut. Tulisan itu mengandung pertanyaan yang sebenarnya menjadi pertanyaan dirinya sendiri. Itu benar-benar bukan khas pertanyaan hati bagi tokohnya, tetapi pertanyaan bagi tiap orang, terutama dirinya sendiri. Dan ia pun berbisik pada tokoh yang mulai hidup dalam jiwanya:

“Bisa, kawan. Bisa. Mula-mula kau harus punya kesabaran. Kemudian kau harus kerja. Celakalah kau bila kaya akan kesabaran dan tak mampu kerja.”

Dan kalau seorang pengarang telah dapat berkenalan dan bercakap-cakap dengan tokohnya sendiri, dia akan mengarang terus tanpa henti-hentinya. Tetapi tiba-tiba datang seorang tamu lagi—kawan baru.

“Saudara, sudikah saudara periksakan karangan saya ini?”

Hubungan si pengarang dengan tokohnya telah putus. Si tokoh telah pergi, takkan kembali, telah menjadi almarhum di dalam keabadian yang baka.

Setelah bertahun-tahun hidup di dalam dunia karang-mengarang ia telah memperoleh ketegasan di dalam selera gaya tertentu, sekalipun dapat juga ia menghargai gaya orang lain. Tetapi banyak kali ia merasa mual terhadap tulisan-tulisan yang merambat dan melata-lata tanpa tujuan, tanpa maksud, dan hanya bergenit dengan kata-kata, dan kemudian terjerumus ke dalam pencarian efek daripada perpaduan kata-kata yang hampa.

“Jadi bagaimana pendapat saudara?” tanya si tamu, meminta perhatian, meminta pujian.

Obrolan baru pun terjadilah. Teori baru pun keluarlah. Pada pokoknya tidak lain daripada selimutan atas pendapat si pengarang: ia tak bersenanghati membaca karangan itu.

“Jadi bagaimana harusnya?”

“Saudara,” si pengarang hampir-hampir berteriak karena kehilangan kesabaran. (Selama itu ia sudah kesal dan bosan pada mereka yang menganggap seorang pengarang adalah badan sosial yang tidak resmi). “Dalam pekerjaan ini pendapat orang lain hampir-hampir tak ada artinya. Pekerjaan ini tidak dimulai dari pendapat orang lain—tapi dari diri sendiri.”

Dan si tamu seperti dengan sendirinya, dan seperti sudah semestinya, meminta penjelasan tentang “dari diri sendiri” itu. Dan si pengarang makin kehilangan kesabarannya. Dengan suara berdembam menahan geram ia menjawab:

“Itulah yang harus dijawab sendiri oleh tiap pengarang. Selama dia belum mampu menjawabnya dia takkan mungkin bisa jadi pengarang yang sadar.”

Sementara itu suara batuk anaknya terdengar beruntun-untun. Ia lihat isterinya masuk ke dalam kamar dan mendamaikan kekesalan hati anaknya. Ia dengar suara manusia yang bersahut-sahutan dalam kamar itu. Kemudian mendengking tangis anak kecilnya, gerak tertahan dahak. Anak sekecil itu telah diwajibkan memasuki dunia penyakit orangtua: pilek, panas dingin, bronchitis. Sejenak ia tak dengar suara tamunya yang meminta perhatiannya dengan nada menghiba-hiba.

Waktu isterinya telah berhasil dapat mendamaikan pemberontakan hati anaknya dan keluar membawakan air teh, kembali perhatiannya terpusatkan pada tamunya.

“Artinya,” kata si tamu, “pertanyaan itu pertanyaan pribadi?”

“Ya, saudara, tiap pengarang punya jawabannya masing-masing. Hanya kadang-kadang saja sama.”

Dengan jawaban itu ia yakin, si tamu segera angkat kaki dan merenung-renungkan masalah itu. Tetapi tidak! Si tamu bahkan mulai mengajaknya mengobrol tentang banyak hal. Ia meminta juga banyak perhatian, yang ia hanya sedikit saja bisa memberikan. Si tamu masih tetap mendesak-desakan ceritanya, bahwa di SMP dulu ia selalu mendapat angka tertinggi untuk buah-buah karangannya. Dan ia bangga pada angka-angka yang diperolehnya. Akhirnya terdengar juga suara yang demikian membosankan hatinya.

“Saya amat mengagumi saudara.”

Si pengarang tersenyum. Di dunia ini kekaguman manusia atas sesuatu memang tanda bahwa ia berpikir dan bisa maju. Memang. Tetapi kadang-kadang kata itu dipergunakan untuk banyak arti. Karena itu ia terdiam saja. Biasanya ia menjawab:

“Terimakasih atas perhatian saudara.”

Kembali si pengarang tersenyum. Sekarang ia tidak mengulangi jawaban itu. Sekarang kepalanya justru diamuk oleh masalah yang paling dekat: uang buat pembayar dokter nanti sore. Dia mau menulis! Menulis! Karena hanya menulis itulah pekerjaan yang diketahuinya dan mampu ia kerjakan. Dan dokter hanya mau uang kontan. Dokter mesti dibayar, biarkan pengarang terlampau sering tak dibayar jasanya.

“Pendeknya,” tiba-tiba ia berkata kepada si tamu. “Dokter adalah pekerjaan yang lebih riil daripada pengarang. Dia juga terima duit yang riil. Mengapa saudara tak ingin jadi dokter saja?”

“Saya kira itu adalah pertanyaan pribadi, saudara,” kata si tamu.

“Setidak-tidaknya pertanyaan yang riil. Lebih langsung. Jalannya amat dekat. Tidak terlampau panjang.”

“Apa maksud saudara?” sekarang si tamu bertanya.

“Ah, tidak, sebenarnya ini hanya percakapan dalam hatiku sendiri. Bagaimanapun, jadi dokter lebih riil. Ia, dengan kecakapannya, menghilangkan dan mengurangi penyakit pasien. Itu riil: ia terima uang yang riil. Lagi pula untuk jadi dokter hanya membutuhkan waktu delapan tahun dan uang secukupnya, kemudian buka praktek. Habis perkara. Kalau diri normal memang dalam delapan tahun sudah jadi dokter. Lain dengan pengarang, saudara. Pada permulaan kali ia menjadi plonco, pengarang, dia sudah mulai dengan kesulitan-kesulitan jiwanya sendiri. Dia harus jadi penemu, dokternya sekaligus! Dan itu pun belum tentu berhasil. Dia bedah jiwanya sendiri. Kadang-kadang tak bisa menaruhkan bedahan-bedahan itu pada tempatnya yang lama. Dan untuk selama-lamanya jiwanya akan tinggal bedah!”

Ia lihat si tamu sudah mulai bosan. Tetapi untuk memperlihatkan kesungguhannya, ia memperdengarkan suaranya:

“Tapi, saudara, saya menulis bukan untuk mencari duit.”

“Nama, barangkali?”

Ia mengharapkan tamu itu segera angkat kaki. dan sekali ini harapannya terkabul. Pergilah ia. Untuk seterusnya kawan baru itu tak pernah datang lagi.

Si pengarang kembali menghadapi mesintulisnya. Lambat-lambat dan dnegan kesabaran yang dipaksa-paksakannya, akhirnya karangan itu jadi juga. Dan setelah mencium anaknya ia pergi lagi. Sekarang untuk menjual karangan itu.

Seorang redaktur menerima karangan itu, dan si pengarang dengan setulus hatinya berkata:

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara.”

“Asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup.”

“Artinya, bahwa si pengarang sekali itu menerima uang seratus limapuluh rupiah untuk penjualannya hari itu. Ia pulang dengan berseri-seri. Dan sore itu dokter meminta uang tujuhpuluh lima rupiah buat memeriksa anaknya selama seperempat menit. Waktu resep disodorkan pada apoteker, terdengung suara yang tak kenal tawaran:

“Enampuluh lima, tuan.”

Suami, isteri, dan anak itu pulang ke rumah tanpa uang sisa di dalam kantong masing-masing.

“Bagaimana uang belanja besok?” isterinya berkata.

Pengalaman sehari tadi akan terulang dan terulang lagi untuk seterusnya. Sekalipun ia tahu, jalan ke arah rejeki terlampau jauh, ia senang dengan pekerjaannya. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Majalah Roman No. 7/8 Th. IV

Juli/Agustus 1956