Showing posts with label pelaut. Show all posts
Showing posts with label pelaut. Show all posts

01 May 2014

Melarung yang Patah


Ini masih tentang kawan saya: Asan. 

Bosan di laut, akhirnya Asan pulang. Ada sebuah hotel baru di Kelapa Gading yang katanya baru buka. Asan didaulat menjadi pimpinan tukang masak di skuadron dapur bersuhu di atas rata-rata. Mula-mula saya tidak terlampau yakin kalau dia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Saya pikir, mulanya, orang seperti dia tidak akan mengambil keputusan untuk menyerahkan sepenggal waktunya didera kota yang rudin macam Jakarta ini. 

“Kapan kau libur? Marilah kita bersua, sebelum berbanyak omong dilarang pemerintah,” dalam kelakar dia mengajak saya untuk bertemu. Maka tak lama setelah itu waktu pun mempertemukan. Siang menjelang sore saya sudah terduduk manis di kamarnya yang tidak terlalu luas. Tertawa adalah menu wajib bagi setiap ritus perkawanan yang dirayakan dengan gembira. Pun demikian pula sore itu.

Namun di antara gelak ada juga rima-rima melankolik tentang rencana berumah tangga. Dia kawakan dalam mengarungi samudera maha luas, namun di bahtera yang kompleks lembaga pernikahan dia masih hijau, bahkan tunas pun belum.  Sekira setahun yang lalu, katanya, pernah pula dia hampir naik pelaminan, namun calon mertua laki-laki menyembelihnya bagai tukang jagal. Dia pun mundur.

“San, kau ini sudah cukup bekal duniawi. Rumah kau punya tiga biji, tunggangan tak kurang, penghasilan lebih dari cukup, tak elok jika terus ditunda-tunda,” tipikal khotbah bumerang, sebab nyata, saya pun masih terkurung dalam rimba lalagasan. Dia terkekeh, seolah bosan mendengar petuah basi tersebut. Tak ada jawaban, hanya batang cigarette yang kembali dibakar.

Lalu tiba-tiba hari menjadi semakin senja setelah itu. Saya pamit, dan kami pun berpisah.

***

Entah berapa bulan setelah berpisah di Kelapa Gading, sampai juga selentingan kabar bahwa Asan akhirnya menikah dengan perempuan yang berasal dari perbatasan Jawa Barat. Saya konfirmasi kepada beberapa orang kawan, dan benar katanya. Alhamdulillah. Samudera geografis kini berganti menjadi samudera mental dan biologis. Komunikasi kemudian terputus, barangkali demikian tabiatnya; setelah rimbitan, siapa pun menjadi sibuk ditelan pusaran tanggungjawab keluarga, dan hal-hal lain menjadi sekunder. 

Namun pada sebuah keriuhan group BB anak-anak SMA, dia muncul lagi. Masih dengan kelakar yang khas. Reuni virtual itu sangat ramai, maklum mengungkit masa-masa kejayaan putih abu-abu seolah tak ada habisnya. Bahasa pun bersemayam pada lembah yang paling karib; tak ada segan, tak ada sungkan, semuanya begitu cair dan menyenangkan. 

Seminggu setelah kemunculannya tiba-tiba Asan menghilang, meninggalkan group. “Hp gua error, ntar gua masuk lagi,” kilahnya. Namun anak-anak yang menunggu tak juga mendapatkan kabar. Kemudian muncul berita; dia hendak berlayar lagi, start dari Inggris tepatnya. Rupanya laut kembali memanggil alam bawah sadarnya. Foto terakhir adalah sebuah nomor antrian di kantor Imigrasi. Seorang kawan bertanya, “San, lu ke laut lagi?” Dan sebuah jawaban pendek, sangat pendek, “iya.”

Ada sebuah pertanyaan di pikiran, kenapa Asan pergi lagi ke batas geografis yang sangat jauh, sedangkan dia belum lama menjemput impian panjangnya; pernikahan. Kawan-kawan yang lain pun demikian pula pertanyaannya, “Rek neangan naon deui atuh si eta teh? Pan geus boga pamajikan, ngadon abur-aburan wae.” 

Pertanyaan tinggal pertanyaan, karena prinsip dan keputusan adalah hak orang yang menjalankan. Saya dan kawan-kawan yang lain hanya bisa mendo’akan. Melepas seorang kawan karib kembali ke batas jauh ujung dunia. Setiap orang, di group BB anak-anak SMA melangitkan do’a yang merambat ke biru langit dan laut, untuknya, untuk Asan yang barangkali tengah bersiap di bandara Soekarno-Hatta. 

Rahman menulis, “Bung, hati-hati di perjalanan, Inggris jauh. Banyak-banyaklah berdo’a.”

“Sia indit deui San? Kabina-bina. Tapi heug teu nanaon, nu penting sia salamet jeung bisa balik deui kadieu nyak, engke urang ngaliwet deui. Tong poho mun balik deui kadieu mawa oleh-oleh,” tulis Ryan dalam bahasa yang akan membuat pening J.S. Badudu.

Sementara komentar Haris pendek saja, “Selamat jalan Bung. Jaga nama baik!” Tipikal seorang militer, singkat dan padat.

Syukron yang tengah bertugas menjaga keamanan di TPS Ciaul tak ketinggalan, “Indit-inditan wae atuh sia teh San, pan geus boga pamajikan, ngajedog atuh di dieu, sing karunya ka kolot maneh!”

Dalam kondisi yang tengah hamil tua, Amie pun ikut mendo’akan, “San, hati-hati ya. Semoga berkah dan bisa secepatnya pulang kembali ke sini. Jangan lama-lama San, anak-anak bakal kangen. We love you heheh…”

Dari Balikpapan Yogi menulis, “Kang Asan bade angkat deui? Titi DJ nyak, tong hilap pesenan abdi; jersey Inggris tea heheh..”

Sementara pak guru Herlan berpesan, “San, omat sing rajin olahraga, beuteng tong budayut teuing, jaga kasehatan. Pido’ana we ti kami, sing salamet nepi ka Inggris.”

Dan saya menjadi pamungkas, “Bung, masih ingat kan kata Rumi? Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, terbentanglah sebuah tanah, aku akan menemuimu di sana. Semoga lancar dan sukses di sana. Jaga diri baik-baik.” 

***

Yang saya tahu, hidup selalu mengambil kawan-kawan terbaik, satu demi satu. Namun tak bisa ditampik, bahwa setiap orang niscaya berjalan pada setapak yang telah dipilihnya. Dan nasib hanyalah kesunyian masing-masing. Yang tersisa, paling hanya resonansi masalalu, dan silaturahmi yang terus berderap, itu pun jika mau menjaganya. 

Sekira sebulan yang lalu, reuni virtual berbuah kopi darat. Meskipun yang hadir tidak terlampau banyak, namun sudah lebih dari cukup untuk menghimpun bergalon-galon tawa. Setiap yang datang mengumbar masa jayanya waktu di SMA, dan juga yang pahit-pahit yang masih layak untuk dikenang. Sehari tenggelam dalam perbincangan masalalu, lumayan agar tidak masuk ke dalam jamaah orang-orang yang kurang piknik.

Di tengah keriuhan tiba-tiba muncul selenting kabar yang sangat mengagetkan: Asan telah sendirian! Berita itu mulanya datang dari seorang kawan perempuan yang sumbernya entah dari mana, namun dikategorikan A1, demikian info yang saya terima.

Sejenak saya termenung, begini rupa lakon hidup, tak dapat ditebak alur dan likunya. Kawan-kawan yang lain pun demikian, mereka kaget belaka. Tak ada sedikit pun sangka dan anggapan bahwa lembaga kehidupan Asan yang baru dibangunnya akan berakhir dengan begitu cepat. Belasungkawa memenuhi setiap kepala, karena kami yakin bahwa setiap perpisahan pada mulanya pasti menyakitkan. Sembuh dari luka batin adalah urusan waktu, yang melarung adalah saat dan pergantian jaman. 

Asan, kawan kami yang bersahaja-berkawan itu rupanya hendak mempercepat sembuh. Ditempuhnya jarak ribuan kilo demi menggapai penawar luka batin yang tengah merajah dan menjarah dirinya dengan semena-mena. Seketika saya teringat film The Curious Case of Benjamin Button. Dalam perjalanannya menghindari sang anak karena Benjamin terus beranjak menjadi muda, narasi muncul dengan lirih:

“For what it’s worth: it’s never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There’s no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see thing that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you’re proud of. If you find that you’re not, I hope you have the strength to start all over again.”

Saya dan kawan-kawan tak banyak komentar ihwal lembaga kehidupan yang hancur berantakan tersebut, namun seperti kata Kapten Mike (Jared Harris) kepada Benjamin, “Kamu bisa saja menghindari takdir, tapi akhirnya kau harus merelakannya.” [irf]

03 September 2012

Asan Pulang


Akan selalu ada jalan setapak untuk disusuri, menunggu siapa saja yang akan kembali. Liku-likunya senantiasa menuntun setiap jiwa yang berjalan ke sana, ke sebuah tempat di mana kedamaian seringkali bersemayam. Menanti mereka yang merindukan pulang. 

***

Asan telah memenangkan pertarungannya. Dia telah berhasil membunuh sedikit rasa ragu yang sempat hadir. Abi dan Ummi akhirnya melepaskan juga : dia berlayar lagi. Setelah melewati rupa-rupa birokrasi kenegaraan demi bisa melewati garis batas antar negeri, Asan akhirnya sudah siap dengan bekal beberapa koper yang disesaki : terutama oleh harapan. Ya, dia masih punya harapan itu, sebab manusia tanpa harapan adalah mayat berjalan. Dia tinggalkan lagi manusia-manusia yang dicintainya, hangat suasana keluarga, pertemuan singkat dengan beberapa kawan lama, juga berkerat-kerat pengalaman yang bertabur rasa : pahit, manis, kecewa, dan sesak. “Terimakasih, karena dengan itu, pengalamanku semakin kaya saja,” demikian gumamnya. 

Barangkali Asan sudah imun dengan yang namanya perpisahan. Dia telah menjalani semuanya : perpisahan dengan hujan tatapan kekhawatiran, atau bahkan perpisahan yang dilakukan sendirian, tanpa peluk cium orang-orang tercinta, tanpa lambaian tangan, tanpa jabat tangan yang menandai bahwa perpisahan itu telah terjadi. Asan telah melewati perpisahan yang paling sepi. Di langit Jakarta yang kelabu itu, Asan tak berminat melihat ke bawah, ke centang perenang kawasan semrawut ibukota, tempat bermukim para perampok uang negara. Asan melaju dengan deru burung besi, dia melesat meninggalkan sebagian sejarahnya yang tercecer di bawah.

Di depan, di tempat yang tengah dituju, dia akan menjalani lagi semuanya. Bertemu lagi dengan semesta dapur, gelombang, orang-orang asing lintas bangsa, dan sesekali menerima hujan mata uang asing dengan kurs berlipat-lipat lebih tinggi daripada rupiah yang tertatih-tatih penuh payah. Asan, dengan nadi yang masih berdenyut, darah yang masih mengalir di pembuluh dan arteri, nafas yang semakin tak terhitung, dan harapan yang tumpang tindih : bekerja kembali, memulai lagi apa yang dulu pernah diakhirinya. 

***

Dan waktu berlesatan laksana cahaya dhuha yang dijemput terik siang. Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan tercecer di belakang, meninggalkan siapa saja yang tak pernah benar-benar menghargai arus waktu yang tak pernah bisa difosilkan. Ya, waktu mengulang dirinya setepat-tepatnya. Semua yang telah terjadi, kadang-kadang tak pernah disadari bahwa semuanya akan terulang dalam selubung waktu yang bernama dejavu, atau jadwal yang rotasinya laksana perputaran jarum jam. Asan kembali merasa rindu. Semuanya bisa terdeteksi dari catatan-catatan kecil yang dia lempar di dunia digital jejaring social. Dia seperti sedang meresapi sisi humanisnya :
1.   Edun awak geus cape kieu, hayang geura balik vacation, "lelah menghitung hari"..... sabar-sabar, 20 days to go home ...... home sweet home !!!!!!!!!.
2.  Dua minggu menjelang pulang, waaaaaaaaaaaaaaaaaa, sabar,sabar,sabar, shopping, shopping, shoping. Teu karasa ieu tas opat geus pinuh kieu masih acan ka asup keun keneh ieu barang.
3.     9 hari lagi menuju Indonesia. Packing, packing, mudik, mudik, pulang kampung he he he Alhamdulillah bisa puasa and Ied Mubaraq with my family.
4.     Menghitung hari menuju tanah air, walaupun tak ada seseorang yang menungguku di sana, aku punya keluarga, teman-temanku yang senantiasa menungguku selalu.
Ternyata setelah berkali-kali dan bertahun-tahun dihantam gelombang samudera yang luas dan ganas, Asan tetaplah dia. Juga setelah beberapakali mengalami kegagalan di wilayah perasaan, Asan tetap tak bergeming, dia masih diterangi cahaya optimis dan keceriaan, walaupun waktu membaca yang poin empat, ada sedikit rasa getir yang menyelusup. Jejentik jam terus berputar, perlengkapan dapur terus berbunyi, kapal terus melaju di mahaluas samudera biru, dan Asan terus menghitung waktu, countdown.
Dalam denyut nadi yang larut beserta menu, hidangan, minuman, seragam putih, dan bumbu, Asan senantiasa rajin merawat jiwa, atau setidaknya menyambangi sisi terdalamnya itu. Beberapakali dia melontar rangkaian diksi beraroma guru kebijakan, tapi sepertinya bukan untuk menggurui, tapi lebih kepada menasehati dirinya sendiri. Dengan kata-katanya dia seperti sedang berdiri di depan sebuah cermin besar, dan bertemu dengan kembarannya. Ya, dia menutrisi jiwa dan kesadarannya :
1.  Jadilah seperti akar yang rajin mencari air, menembus tanah yang keras demi sebatang Pohon agar dapat hidup. Ketika pohon itu tumbuh berbunga indah, menampilkan elok pada dunia dan mendapatkan pujian, akar tak pernah iri hati, dia tetap sembunyi dalam tanah. Itulah makna dari sebuah "KETULUSAN dan KEIKHLASAN".
2.  Dalam suatu kesempatan hidup hanya sekali. Dosa janganlah ditambah lagi. Amal janganlah dikurangi. Cinta janganlah dibagi. Gugur bunga karena layu. Gugur iman karena nafsu. Bertaubat karena berdosa. Bersihkan hati sucikan jiwamu. Sholatlah lima waktu. Yang wajib tunaikan dahulu. Yang sunah menyusul selalu.
3.   Life will only come once, so make the most out of it. God didn't give us all things to enjoy life, but life to enjoy all things. A journey of a thousand miles begins with a single step. Mistakes are not intended to drown us; rather, they make us stronger.
***
Lalu tibalah hari itu. Dan memang sangat melelahkan. Kurang tidur karena takut kesiangan di imigrasi, Delay flight di Orlando, was-was takut ketingglan pesawat di Dallas, antrian panjang di LA, meluncur ke Hongkong, dan perjalanan darat ke Sukabumi, ke tempat di mana ari-arinya ditanam. Punggung dan tangannya dibebani semesta merek : Bvlgari, Escada, Elizabeth Arden, DKNY, Hugo Boss, Calvin Kevin, dan entah apa lagi. Makhluk-makhluk itu ikut menyusup pintu imigrasi, siap berpindah tangan kepada relasi-relasi sosialnya.
Kini Asan berdiri di depan pintu rumah, perlahan merasakan kembali suasana yang pernah dikenalnya. “Perasaan apa ini?,” tanyanya. Tapi semua tidak perlu definisi. Cinta terlalu meluap, tumpah, dari kedua orangtuanya yang setiap malam terjaga dalam do’a-do’a panjang demi keselamatannya. Kemudian hari semakin temaram, langit Sukabumi beranjak menjadi hitam. Asan menghirup dalam-dalam suasana keluarga. Dan ketika malam semakin larut, dia pergi ke balkon di lantai atas. Dalam pekat langit yang hanya menyisakan beberapa kelip, dia mulai mencoba melihat hari depan. Hari depan yang berjarak hanya dua bulan lagi. “Akankah semuanya terus berulang?,” bisiknya. Tapi apa pun dan kemana pun, dia akan selalu ingat jalan pulang. Asan tetap akan selalu merindukan orang-orang yang dicintai. Samar, dia mencoba lagi mengingat sepenggal puisi Rumi :
"Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah
Tersebutlah sebentang tanah
Aku akan menemuimu di sana." [ ]
 
---Dedicated to My friend : Ari Saptono