Showing posts with label taman siswa. Show all posts
Showing posts with label taman siswa. Show all posts

27 October 2017

Nashar Memasrahkan Hidupnya untuk Melukis


“Habiskanlah seluruh waktu hidupmu untuk melukis. Kalau cari uang, carilah sekadarnya saja, selebihnya serahkan hidupmu untuk seni lukis,” ujar Affandi, maestro seni lukis kelahiran Cirebon.

Dalam diri Nashar, pelukis yang berkali-kali dibilang tidak berbakat oleh Sudjojono (seniman Lekra), sikap hidup itu terpatri dan melembaga dalam dirinya, dipegang erat dan dibawanya sampai lampus. Khalayak seni rupa mengenal Nashar sebagai seorang pelukis dengan konsepsi Tiga Non dalam berkarya: nonestetik, nonkonsep, dan nonteknik. Karena itu -- pada masanya -- lukisannya jarang laku. 

Tapi apa pedulinya? Bagi Nashar melukis adalah bernapas.

“Aku melukis siang-malam. Memang meletihkan sekali, tapi aku tak peduli. Perasaan seperti sedang berburu, tapi tidak tahu apa yang diburu,” tulisnya dalam salah satu surat malam bertitimangsa 1968.

Dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain yang isinya kumpulan obituari, Ajip Rosidi menjelaskan, “Dia melukis terus, melukis apa yang dia suka menurut cara yang dianggapnya sendiri paling baik, tanpa mempedulikan apakah lukisannya akan dibeli orang ataukah tidak, disukai orang ataukah tidak. Bagi Nashar melukis adalah kebutuhan hidup seperti bernapas. Kalau tidak dilakukan dia merasa pegal-pegal dan ngilu seperti dia tulis dalam salah satu surat-surat malamnya.”

Masa remaja, ketika Jepang masuk dan keadaan menjadi gawat, Nashar berhenti sekolah. Tepatnya diberhentikan oleh ayahnya. Ia kemudian disuruh menjaga toko ayahnya. Kerjanya hanya menyapu lantai, membersihkan kursi-kursi dan meja-meja. Sesekali menerima telepon. 

Ia merasa bosan. Amat bosan. Ia mencoba mengadu kepada pamannya, mengutarakan keinginannya untuk sekolah lagi, namun pamannya menggeleng.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahmu terlalu keras dan tidak pernah mau mendengarkan kata orang, sekalipun oleh orang yang paling dekat seperti aku ini,” kata pamannya.

Dalam beberapa catatannya yang dihimpun di buku Nashar oleh Nashar, ia memberi contoh tentang betapa keras ayahnya. Sesekali Nashar membaca koran, namun dengan perasaan takut, sebab bentakan ayahnya selalu terngiang: “Anak kecil tidak boleh membaca koran!” 

Sikap keras itu tidak hanya dirasakan Nashar. Menurut Nashar sendiri, ibunya mengalami kelemahan saraf karena sikap ayahnya yang terlalu keras.

Nashar dilahirkan pada 3 Oktober 1928 di Pariaman, Sumatera Barat. Sejak kecil ia sudah dibawa orangtuanya merantau. Pada masa pendudukan Jepang, orangtuanya tinggal di Jakarta. Karena keadaan semakin gawat, ia sekeluarga kemudian pindah ke Yogyakarta. Di kota inilah Nashar mulai berkenalan luas dengan para pelukis.

Hasrat menjadi pelukis sebetulnya timbul ketika ia masih berada di Jakarta. Ketika ia tengah mengantuk menjaga toko ayahnya, tiba-tiba seorang kawannya yang bernama Taufik lewat, dan kawannya itu ternyata tengah belajar melukis. Detik itu pula, mungkin karena bosan yang terlampau mendera, Nashar menyatakan keinginannya untuk ikut belajar melukis.

Tempat belajar melukis Nashar dan kawannya dipimpin Sudjojono yang oleh murid-muridnya dipanggil Pak Jon. Mulanya Nashar tidak berani masuk ke sanggar lukis tersebut, ia hanya melihat kawannya belajar dari luar. Baru pada hari ke sembilan ia beranikan diri menemui Sudjojono.

“Cobalah bawa ke sini gambar-gambar kau yang di rumah, supaya saya bisa lihat,” ujar Sudjojono kepadanya.

Esoknya ia bawa beberapa gambarnya ke sanggar. Sudjojono menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Kau tidak punya bakat, Nas. Tapi cobalah bikin lagi,” ujarnya.

Dengan perasaan tidak menentu, Nashar pulang ke rumahnya dan segera menggambar lagi. Esoknya ia bawa lagi ke sanggar, dan jawaban Sudjojono sama seperti hari sebelumnya. Sama persis. Presisi di setiap kata, “Kau tidak punya bakat, Nas. Tapi cobalah bikin lagi.”

Pada kesempatan lain, Sudjojono berkata kepadanya, “Nas, lebih baik kau bekerja kantoran saja, atau mendaftar menjadi Heiho karena untuk menjadi pelukis harus punya bakat. Kau tidak punya bakat.”

Ucapan Sudjojono itu terus-menerus menimbulkan keberanian baginya untuk menggambar dan menggambar lagi. Meski di satu sisi kalimat “Kau tidak punya bakat, Nas” mematahkannya, namun di sisi lain kalimat “Tapi cobalah bikin lagi” mendorongnya untuk tak patah arang.

Apalagi setelah beberapa kali bolak-balik ke sanggar dan tetap dianggap tak berbakat, akhirnya Sudjojono berkata, “Kau memang tidak punya bakat, tapi kau boleh coba-coba ikut berlatih di sini.”

“Aku yang telah berulang kali datang menunjukkan kesanggupanku menggambar dan selalu ditolak oleh Sudjojono dengan alasan aku tidak punya bakat, tentu saja atas kesempatan yang diberikannya kepadaku itu, aku merasa bangga dan merasa menang atas perjuanganku, paling tidak perasaan itu untuk diriku sendiri. Aku merasa ada sebuah pintu terbuka untuk hari depanku,” tulis Nashar.

Di Yogyakarta, Nashar bertemu dengan Moh. Sahid, kawan belajar melukis ketika masih di Jakarta. Lewat kawannya inilah ia kemudian bergaul dengan Affandi. Ia juga bertemu dengan A. Wakidjan, Zaini, dan Trubus, kawan-kawannya yang sama-sama belajar melukis pada Sudjojono. Sementara dengan para pelukis senior, ia bertemu dengan Hariyadi S. Suromo, Surono, Sudarso, dan lain-lainnya.
Minggat dari Rumah dan Tinggal Nomaden
Karena sifat ayahnya keras, Nashar minggat dari rumah. Ia kemudian nomaden. Meski bukan seorang pamong atau guru sekolah Taman Siswa, namun Nashar pernah tinggal di Jalan Garuda 66, Jakarta—tempat tinggal guru-guru Taman Siswa yang sudah berkeluarga. Ia tinggal di rumah Sutiksna, salah seorang pamong yang tiap hari Ahad rumahnya digunakan sebagai tempat melukis para anggota GPI (Gabungan Pelukis Indonesia).

“Palukis Nashar meskipun bukan pamong, entah mengapa, tinggal di situ juga, kalau malam, ia menggelar tikar di ruang makan keluarga Sutiksna,” tulis Ajip dalam otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan.

Nashar juga pernah tinggal cukup lama bersama Ajip Rosidi. Meski usia keduanya terpaut 10 tahun—Ajip lebih muda, namun mereka mempunyai kecocokan dalam berkawan. Hal ini pula yang kemudian membuat keduanya terbuka dan tidak saling perhitungan.      

Ajip berkisah, bahwa banyak kawannya yang sering berkunjung ke rumahnya di Kramatpulo, kadang-kadang mereka menginap di atas tikar di lantai, dan kalau ngobrol sampai larut malam. Nashar malah kemudian tinggal di rumahnya, tidur menggelar tikar atau di atas ranjang bergantian dengan Ayatrohaedi (adik Ajip) dan Karsita (kerabat Ajip dari pihak ayah).

Sekali waktu ketika Ajip dan istrinya memutuskan untuk pindah ke Jatiwangi, Majalengka, rumah yang ia sewa tetap diperpanjang. Hal itu dimaksudkan untuk tempat tinggal Ayatrohaedi yang masih sekolah di SMA Muhammadiyah dan untuk keperluannya kalau sekali-kali ke Jakarta. Nashar juga terus tinggal di situ bersama Ayatrohaedi.
Ketika akhirnya Ajip Rosidi tidak memperpanjang sewa rumahnya yang di Kramatpulo, Nashar kemudian tinggal bersama pelukis Alimin di rumah petak di kawasan Setiabudi yang baru dibuka.

Selanjutnya Nashar tinggal di Balai Budaya. Ia selalu melukis pada malam hari. Kalau lelah mendera, ia tidur dekat lukisannya di atas sehelai tikar atau kertas koran sebagai alas di atas tegel yang dingin.

“Pelukis itu hidupnya tak bisa berpisah dari cahaya matahari. Tapi coba lihat Nashar, sekarang sudah pukul sebelas lewat, dia masih tidur!” ujar Sudjojono sekali waktu.

“Nashar dunia wisma. Tinggal di ruang-ruang budaya di Jakarta. Ada artikel yang menulis Nashar si pelukis miskin,” ujar Jeffrey Hadler (sejarawan dari University of California, Barkeley) dalam sebuah diskusi tentang Nashar di ruang pertemuan dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada 22 Juli 2014, dikutip oleh laman padangkita.com.

Sebagai salah satu kawan dekatnya, Ajip Rosidi berkomentar bahwa menurutnya Nashar adalah contoh yang monumental tentang dedikasi seniman terhadap keseniannya.

“Demi kesenian, Nashar bersedia mengurbankan apa saja: kesenangan duniawi, hidupnya sendiri, keluarganya... semua tak dia pedulikan, karena dia ingin memusatkan pengabdiannya pada melukis. Belasan tahun lamanya setelah bercerai dengan isterinya dia tinggal di Balai Budaya,” tulis Ajip.
Menikah dan Golok di Malam Pertama
Meski hidup dengan serba kekurangan, namun keinginan berumah tangga siapa yang bisa membendung? Begitu pula yang terjadi pada Nashar. Di usianya yang sudah lewat 30 tahun, sekali waktu ketika sudah tinggal bersama pelukis Alimin, Nashar menemui Ajip Rosidi dan mengutarakan rencananya untuk menikah.

“Dia dengan bangga menceritakan bahwa dia menemukan calon istrinya dengan cara yang luar biasa,” tulis Ajip.

Ajip menambahkan, menurut penuturan Nashar, ada seorang wanita tua tetangganya di Setiabudi, sering bertanya kepada Nashar dan Alimin ihwal mengapa mereka belum juga menikah. Nashar bergurau menjawab, “Belum ketemu calon yang cocok.” Wanita itu lalu menawari akan mencarikan calon yang cocok.

“Mereka akan datang satu demi satu dipertemukan dengan Nashar dan Alimin. Mereka akan pura-pura lewat depan rumah, sedang Nashar dan Alimin melihat dari dalam. Kalau ada yang cocok, baru akan diajak berkenalan. Maka Nashar dan Alimin yang bagaikan pangeran yang akan memilih puteri setiap hari duduk melihat ke luar memperhatikan wanita yang disuruh pura-pura lewat oleh wanita tua itu,” tulis Ajip.   

Setelah lama memilih, akhirnya Nashar ketemu yang cocok: janda, mantan istri seorang tukang becak.

Selain Ajip Rosidi, pernikahan Nashar juga dihadiri oleh Toto Sudarto Bachtiar (penyair kelahiran Cirebon) dan Wakidjan (pelukis). Menjelang salah asar, mereka pamit pulang. Ajip pulang ke rumah Dodong Djiwapradja untuk suatu keperluan. Sebelum subuh, pintu rumah Dodong diketuk dengan keras. Karena Ajip tidur di kamar depan, maka ia yang membukakan pintu.

Ketika pintu dibuka, Nashar berdiri di baliknya. Setelah diajak masuk, ia lalu bercerita bahwa iparnya bertengkar dengan ayahnya sampai mengamuk dan menenteng golok: menantang ayahnya berkelahi. Dalam suasana genting seperti itu, istri Nashar berbisik agar ia pergi menyelamatkan diri menuju Jakarta. Karena tahu Ajip menginap di rumah Dodong, maka ia menuju ke sana.

“Jadi, lu belum melaksanakan malam pertama, dong!” kata Ajip bergurau.

“Habis takut kena golok!” ujar Nashar sambil tersenyum kecut.

Sepanjang yang diketahui Ajip, Nashar tak pernah kembali ke rumah istrinya tersebut.
Tuna Uang dan Pencarian Diri
Selalu kekurangan uang, itulah hidup Nashar. Kondisi ini tentu hadir, salah satunya, dari sikapnya terhadap lukisan yang tidak dijadikan sebagai barang dagangan, melainkan sebagai jalan hidup, kebutuhan dasar yang mesti dipenuhinya. 

Menurut Jeffrey Hadler, yang menulis buku tentang Minangkabau, Nashar memang tak suka menjual lukisannya. Jika ia butuh uang, ia lemparkan ke mahasiswa untuk membeli lukisannya berapa pun duit adanya.

Sementara Ajip Rosidi, baik dalam otobiografinya (Hidup Tanpa Ijazah), maupun dalam buku kumpulan suratnya (Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002), menuturkan relasi kedekatan antara Nashar dengan dirinya sampai ke masalah keuangan.

Agar Nashar bisa terus melukis, selama di Jepang Ajip kerap mengirim uang kepada Nashar. Sebaliknya, jika Ajip sedang libur ke Indonesia ia sering membawa lukisan Nashar yang dianggapnya menarik hati. Suatu saat Ajip beberapa kali memimpikan kawan-kawannya yang telah meninggal. Dan Ajip teringat akan kematian. Lalu ia menulis surat dari Osaka untuk Nashar bertitimangsa 15 Januari 1992.

Inti dari surat itu adalah ajakan Ajip kepada Nashar untuk saling mengikhlaskan ihwal uang dan lukisan yang selama ini terkait di antara keduanya.  

“Teringat akan urusan kita berdua. Memang selama ini antara kita berdua tak pernah ada perhitungan. Gua kebetulan punya rejeki, dapat mengirimkan uang sekadarnya (hampir) saban bulan kepadamu. Dan kalau gua melihat ada lukisanmu yang menarik, gua ambil. Gua kira baik lu maupun gua sama-sama ikhlas. Karena dasarnya bukan mau jual-beli,” tulis Ajip di salah satu alinea.

Menurut Ajip, Nashar pun setuju dengan ajakannya. Bahkan Nashar berkata, “Lu ambil saja lukisan gua semua, gantungkan di dinding rumah lu!”

13 April 1994, Nashar meninggal di Jakarta di tengah kondisi keuangan yang sulit. Ia meninggalkan jejak sikap yang barangkali kontroversial. Namun jika menilik lagi catatan-catatannya di buku Nashar oleh Nashar, sidang pembaca akan bisa melihat dan mungkin meraba pedalaman kalbunya.

Melukis bagi Nashar bukan soal menuangkan cat di atas kanvas, namun lebih dalam dari itu. Ada pergolakan, kegelisahan, renungan, dan pencarian diri yang paling tersembunyi. Semuanya ia lakukan di titian waktu yang berparade dan berderap, dilumuri ragam peristiwa yang berkali-kali menghunjam jiwanya.     

Dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan, tepatnya surat keenam belas ia menulis: “Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Dan rasa-rasanya, pikiran tak mungkin bisa menjangkaunya. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya.” (tirto – irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 21 Oktober 2017

08 October 2017

Said Reksohadiprojo, Pamong nan Bersahaja di Taman Siswa


Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi

Setiap guru luar biasa akan menghasilkan murid yang luar biasa pula. Predikat itu bisa kita lekatkan pada mahaguru Ki Ageng Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara, juga guru seniman-seniman belia yang moncer di Jakarta: Said Reksohadiprojo.  

Pak Said, begitu panggilan akrabnya, adalah sosok pamong (sebutan untuk guru di Taman Siswa) yang berperan sentral menjadikan Taman Siswa Jakarta sebagai tempat istimewa pada periode 1950-an. Sekolah ini jadi uang berkumpul para seniman, sastrawan, dan budayawan kala itu: S.M. Ardan, Soekanto S.A., Sobron Aidit, Misbach Jusa Biran, Sjumandjaja, dan Achmad M.S. 

Bahkan, Ajip Rosidi memutuskan untuk pindah sekolah ke Taman Siswa setelah ia banyak mendengar cerita dari Ardan dan Soekanto tentang Taman Siswa. Cerita soal hubungan antara murid dengan pamong yang dekat dan akrab, kerap mementaskan pertunjukan kesenian, dan sosok Pak Said yang memiliki pergaulan luas di kalangan seniman. 

Khususnya seniman yang pernah dididik di Taman Siswa seperti Ramadhan K.H., Asrul Sani, dan Pramoedya Ananta Toer, seperti digambarkan La Fébre dalam bukunya mengenai Taman Siswa.

La Fébre menggambarkan bagaimana Taman Siswa Jakarta pada masa pendudukan Belanda tahun 1948 telah menjadi tempat bernaung kaum seniman kiblik pendukung Republik Indonesia. Affandi yang datang ke Jakarta saat Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda dalam "Aksi Polisionil" kemudian singgah dan bermukim bersama anak istrinya di bangunan bekas garasi di komplek Taman Siswa Jakarta di Jl Garuda. 

Pelukis ini tinggal selama kurang lebih satu tahun sambil mempersiapkan keberangkatannya ke Shantiniketan Art School di India yang didirikan penyair Rabindranath Tagore. Kemudian sering singgah pula penyair Chairil Anwar ke garasi tempat Affandi bernaung. Keduanya memang berkawan baik, setahun sebelumnya Chairil memang berkunjung ke Yogyakarta, dan bekerjasama membuat poster perjuangan "Bung Ayo Bung!" yang terkenal itu. 

Affandi yang menggambar poster, Chairil yang mencipatakan slogan perjuangannya. Di Taman Siswa Jakarta-lah Affandi membuat lukisan Chairil Anwar yang menurut Nasjah Djamin tarikan kuas terakhirnya diselesaikan saat penyair Angkatan ‘45 ini menghembuskan nafas terakhir tanggal 29 April 1949. Dan, Pak Said sebagai pamong Taman Siswa Jakarta, digambarkan oleh La Fébre dalam satu halaman penuh.

Sosok Sederhana dan Amikal

Pak Said yang sederhana dan amikal memang meninggalkan kesan bagi mereka yang pernah mendapat pendidikan di Taman Siswa Jakarta. Misbach Jusa Biran, senior Ajip di Taman Siswa menulis Said sebagai, "Pamong yang saya kagumi, saya benci, saya musuhi saya cintai, saya cintai..." dalam buku Mohammad Said Reksohadiprojo di Mata Sahabatnya. 

Kebersahajaan Pak Said itu dapat dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Menurut Misbach, Said berpakaian aneh, mengenakan kopiah, kemeja lengan pendek, bersarung dan tak beralas kaki. Mirip pakaian santri. Walaupun kemudian hari Said memilih mengenakan sandal dan sepatu sandal serta jas untuk acara yang lebih resmi. 

Sandal inilah yang mewakili kebersahajaan Said. Saat dilantik oleh Bung Karno sebagai Deputi Menteri P&K pada tahun 1966, Pak Said tak mengenakan sepatu tapi sandal, mengenakan jas sederhana tapi tak berdasi. Itu kali kedua ia diangkat sebagai pejabat negara oleh Presiden Sukarno setelah sebelumnya menjadi Sekretariat Kepemudaan Negara dan saat diambil sumpah hanya mengenakan celana pendek berbahan drill. 

Penyair Taufiq Ismail membuat puisi khusus dengan mengambil sandal sebagai simbol untuk menggambarkan Pak Said dalam puisinya yang berjudul "Sandal Mohammad Said Reksohadiprojo."

Ajip Rosidi mendengar anekdot tentang kesederhanaan Pak Said dari kawannya yang telah lebih dahulu bersekolah di Taman Siswa seperti Sobron dan Ardan. Suatu hari, datang seorang yang berpakaian mahal ke Taman Siswa dan menjumpai seorang berpakaian kaos oblong dan hanya bercelana pendek sedang mengurus tanaman. 

Rupanya sang tamu hendak menemui Pak Said dan bertanya kepada sosok yang dijumpainya itu menjawab, "Oh ingin bertemu Pak Said? Tunggu sebentar". 

Sosok itu kemudian masuk ke dalam bangunan sekolah dan kembali telah berpakaian kemeja katun dan celana drill yang biasa saja, sambil mengenalkan diri sebagai Pak Said.

Saat ia wafat pada 1979, Goenawan Mohamad menulis dalam Catatan Pinggir-nya, "Ada yang mengatakan sikap hidup Pak Said adalah sikap hidup yang ekstrem: seorang tokoh yang cuma bersandal, seorang anggota Dewan Pertimbangan Agung yang tak bermobil, seorang menteri (di waktu yang lampau) yang dari gedung departemennya keluar membeli rokok sendiri di tepi jalan." 

Meninggalkan Gelar Priyayi Demi Sebutan “Ki”

Pak Said yang lahir di Purworejo pada 21 Januari 1917 sebenarnya bisa saja memilih hidup mewah. Sosok yang ketika kecil bernama Bambang Sonyo Sudarmo ini merupakan cucu Bupati Semarang, R.M.T. Reksodirdjo. Ayahnya adalah R.M. Reksohadiprojo, wedana yang namanya harum sebagai pembela rakyat dan diberhentikan karena sering terlibat bentrok berbeda pendapat dengan seorang Residen Belanda. 

Sang Ayah kemudian membuka sekolah swasta di Purworejo pada tahun 1912 yang diberi nama Hollandsche Cursus de Vooruitgang. Sekolah yang membantu anak-anak ambtenar mempersiapkan diri masuk ke jenjang sekolah Belanda yang lebih tinggi ini sukses, sehingga dibuka cabangnya di beberapa kota seperti Kutoarjo, Wonogiri, Ponorogo, dan Sala. Hubungannya dekat dengan Sri Mangkunegaran VII yang masih terhitung kerabat.

Entah karena latar belakang keluarga, akhirnya Said memutuskan untuk menjadi pendidik dan mengabdikan dirinya sebagai pamong di Taman Siswa sepanjang hidupnya. Atau bisa jadi Pak Said mengikuti jejak idolanya di lingkungan Taman Siswa yaitu R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) yang juga mencampakkan gelar kebangsawanan untuk mengabdi menjadi seorang pendidik.

Said tadinya tak belajar di lingkungan Taman Siswa. Sebagai anak priyayi, ia menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS) pada 1929, kemudian melanjutkan sekolah menengah Hogere Burgerschool (HBS) Semarang. Tak mengherankan bila ia fasih berbahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. 

Saat di HBS, kepandaiannya mendorong beberapa orang gurunya, terutama Nyonya Franken yang tergerak untuk membiayai Said melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundinge Hoge School) di Jakarta. Karena tak ingin berutang budi dan khawatir tak mampu membalas kebaikan, Said memutuskan berhenti kuliah pada tingkat ketiga GHS. 

Keengganan untuk menyakiti mahkluk hidup lain seperti yang diajarkan filsuf India, Krishnamurti adalah alasan lain seorang Said Reksohadiprojo untuk meninggalkan sekolah kedokteran pada tahun 1937. Lagi-lagi hal ini menjadi kesamaan dengan Ki Hajar Dewantara yang memilih keluar dari Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia).

Menerapkan Falsafah Dasar Ki Hajar Dewantara

Selain sosok Pak Said yang sederhana dan amikal, daya pikat Taman Siswa Jakarta juga lahir dari metode pendidikan yang diterapkannya. Pada 1937, saat menganggur selepas memutuskan keluar dari sekolah kedokteran, Said diajak seorang kawannya yang bernama Adnan Dipodiputro untuk menjadi pamong di Taman Siswa Jakarta yang saat itu dipimpin oleh Ki Mangunsarkoro.

Di Taman Siswa Jakarta yang kemudian dipimpin oleh Pak Said menggantikan Ki Mangunsarkoro pada 1945. Menurut Misbach Jusa Biran, pada 1950-an kegiatan kesenian berkembang pesat di kalangan siswa sendiri. Setiap Ahad atau waktu luang di luar jam sekolah, berbagai kegiatan diselenggarakan. Mulai dari melukis, sandiwara, diskusi sastra, tari atau latihan paduan suara (koor). 

Pak Said selalu datang melihat, memberi semangat dan berdiskusi mengenai kegiatan yang dilakukan oleh siswanya. Misbach pernah berkesempatan menyelenggarakan diskusi seni rupa dengan mendatangkan pelukis S.Sudjojono atau mengundang sastrawan Iwan Simatupang sebagai pembicara. 

Sebenarnya kegiatan kesenian di lingkungan Taman Siswa Jakarta telah dimulai saat Affandi tinggal di bangunan garasi sekolah ini. Tak ingin hanya berdiam diri, Affandi dan Pak Said, serta beberapa pelukis yang bernaung di tempat yang sama, mendirikan organisasi Gabungan Pelukis Indonesia (GPI). 

Saat sekolah libur, sering diselenggarakan pameran lukisan terutama dari pelukis yang tergabung dalam GPI. Pak Said juga terkadang memberikan orderan kepada para pelukis untuk membuat lukisan tokoh-tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Thamrin, Kartini, Cahairil Anwar, Amir Hamzah, bahkan Gandhi dan Rabindranath Tagore yang merupakan tokoh panutannya.

Dorongan untuk aktif mengambil peran menyelenggarakan kegiatan sendiri juga dialami oleh Ajip Rosidi. Saat masuk bersekolah di Taman Siswa, Ajip meneruskan kegiatan yang sudah menjadi tradisi tadi. Ajip kemudian menyelenggarakan beberapa diskusi sastra dengan mengundang penulis Soedjatmoko. 

Acara diskusi itu turut dihadiri oleh beberapa pamong, di antaranya adalah Rusman Sutiasumarga, Abdurachman Surjomihardjo dan tentu saja Pak Said. Setelah itu, Ajip kemudian menyelenggarakan diskusi sastra dengan mengundang H.B. Jassin.

Bisa juga disimak pendapat pelawak Ateng Soeripto dalam buku Kompor Mleduk Benyamin mengenai peran Perguruan Taman Siswa, Kemayoran dalam membentuk dirinya: 

"Di sini setiap anak yang mempunyai kemampuan apa saja, diberi kesempatan berkembang. Tapi kalau dikatakan secara otodidak juga benar karena di situ kita belajar kesenian secara khusus. Yang ada hanyalah fasilitas tempat serupa satu ruangan yang didalamnya terdapat gumpalan tanah dan piano, yang dapat digunakan oleh siswa yang mau bikin patung atau apa saja yang bersifat kreasi seni. Saya pun melawak di situ. Mau ada yang nonton syukur, kagak ada gak apa-apa. Ya...paling sliwer gitu aja. Tahan bantinglah di situ." 

Ateng bersama-sama dengan kawan sekolahnya di Taman Siswa, Banyamin Sueb dan Baharudin (Diding) menampilkan lawakannya saat perayaan ulang tahun Perguruan Taman Siswa yang dilangsungkan di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 13 Juli 1958.

Pak Said juga selalu mengetahui saat tulisan siswanya dimuat di majalah dan membacakannya di muka kelas. Misbach yang mengalami kejadian saat cerpen Koesalah Toer dibacakan Pak Said di kelas sebelah, terdorong untuk melakukan hal yang sama. 

Akhirnya, setahun kemudian satu sajaknya dimuat majalah Siasat di lembaran kebudayaan "Gelanggang." Pak Said kemudian menyapanya dengan panggilan "Halo, Penyair!" sambil memujinya di hadapan teman-temannya.

Selain menyerap ajaran Ki Hadjar, Said mempelajari Voltaire, Rouseau, Kant, Hegel, Fichte,Schopenhauer, Tagore, Rama Krisna, Vivekananda, Gandhi, dan Khrisnamurti. Meski Said muslim yang taat, ia tak segan mempelajari inti ajaran agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. 

Walaupun Pak Said berorientasi ke Barat, ia tetap "orang Jawa." Ada satu semboyan yang meresap menjadi napas Pak Said dalam bertugas sebagai pendidik, yaitu ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram: "Mamayu hayu salira, mamayu hayu bangsa, mamayu hayu manungsa." Untuk kebahagiaan perorangan, untuk kebahagian bangsa dan untuk kebahagiaan manusia seluruhnya. (tirto - arw/msh)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 26 September 2017